NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Seijitsu Sugiru Shounen no Tsuihou-saki ga, Otokogiraina Bishoujo Shika Inai Saikyou Butaidattara? V1 Chapter 5

 Penerjemah: Flykitty

Proffreader: Flykitty


Chapter 5

Pertarungan Nyata Pertama

Bayangan musuh rupanya terlihat di garis depan yang berada di balik hutan tempat semua orang berlatih kemarin.


Karena itu. Kami sekarang berlari melewati hutan yang sebagian besar sudah kuhancurkan kemarin.


"Finn-kun."


"Ya!"


Elena-san memanggilku.


"Karena ini mungkin pertarungan nyata pertamamu, hari ini jangan ikut bertarung dulu ya. Perhatikan saja bagaimana semua orang bertarung."


"Baik……! Aku ingin belajar banyak dari pertarungan kalian semua!"


"Yup! Semangat itu bagus, Finn-kun!"


"Lucu banget……!"


"Dia bilang mau belajar banyak dari pertarungan kita……!"


"Padahal ini pertarungan sungguhan, tapi suasananya malah jadi menenangkan……"


"Tapi ini kesempatan buat nunjukkin sisi keren kita ke Tera-kun, jadi harus semangat!"


"Benar! Lagi pula mereka sudah mengganggu momen kita melihat Tera-kun makan!"


"Yang itu benar-benar tidak bisa dimaafkan……!"


Aku bisa menyaksikan langsung pertarungan pasukan terkuat Kekaisaran Luvankrum.


Tak perlu dikatakan lagi betapa berharganya kesempatan itu.


Aku harus belajar sesuatu dari pertarungan hari ini, lalu suatu hari nanti……


Akulah yang akan melindungi mereka semua.


Dengan tekad itu di dalam dada, aku terus berlari.


Dan akhirnya kami keluar dari hutan.


Setelah berlari sebentar di padang rumput, kami melihat pasukan musuh──tentara Kerajaan Granzania.


"……"


Orang-orang di sana semuanya adalah prajurit terlatih. Mereka mampu menggunakan sihir tempur dengan baik.


Kalau hidup di lingkungan militer, melihat kumpulan orang terlatih bukanlah hal aneh.


Tapi melihat kelompok musuh seperti itu hanya mungkin di medan perang sungguhan.


Karena ini pertama kalinya aku berada di medan tempur nyata, aku merasakan sesuatu yang belum pernah kurasakan sebelumnya.


"Sepertinya mereka masih belum menyadari keberadaan kita…… Sephia-chan, boleh kuserahkan padamu?"


"Dipahami."


Sephia-san mengangguk lalu melangkah maju.


"Mulai sekarang kita akan menyerbu mereka dan menaklukkan mereka sekaligus. Semuanya, ikuti aku."


"Siap!"


"Sebelum masakan Sephia-senpai dingin, ayo kita selesaikan pertarungan ini!"


"Tera-kun! Lihat kami baik-baik ya!"


"Baik!"


Dari suasana mereka, aku sama sekali tidak merasakan ketegangan pertarungan nyata. Namun bertolak belakang dengan suasana itu, gerakan mereka sangat mantap.


Bahkan gerakan berlari mereka sama sekali tidak memiliki celah.


"Itu……!"


"Me, mereka datang!"


"Tenang! Lawan kita cuma lima puluh perempuan! Jangan gentar, hadapi mereka!!"


"Ooooooooooooo!!"


Pasukan musuh menaikkan semangat mereka.


"Api!!"


"Petir!!"


Sesuai ucapan mereka, serangan mulai menghujani semua orang. Namun tak satu pun dari mereka terkena serangan itu, semuanya menghindar dengan sempurna.


"Brengsek! Gerakan apa itu!? Ka, kalian, bidik lebih tepat lagi!!"


Menerima serangan dengan sihir pertahanan saja sudah hebat, tapi menghindari serangan dari sebanyak itu orang hampir mustahil tanpa pengalaman tempur nyata.


Saat aku terpaku melihat gerakan mereka, tanpa sadar jarak kedua pasukan sudah memendek.


Pasukan musuh tampak mulai panik.


"Ke, kenapa tidak ada yang kena!? ……Tidak, kalau sudah sedekat ini sihir tidak penting lagi! Kita juga maju menyerbu dan hancurkan mereka dengan jumlah kita!!"


"Ooooooooooooo!!"


Karena serangan jarak jauh gagal, pasukan musuh menyerbu mendekat.


Menghadapi seribu orang dengan hanya sekitar lima puluh orang biasanya mustahil.


Namun──


"Gelombang Angin!"


"Apa!?"


"Gwaaaaaaaahhh!"


"Angiinnnnn……!"


Salah satu dari mereka menciptakan gelombang kejut angin yang sangat kuat dan menyapu musuh.


"Panah Es!"


"Gyaaaaaaahhh!"


"Ha, hati-hati! Ada sesuatu mendekat da── guaaaaahhh!"


"Pa, panah es!? Dari mana da── aaaahhh!"


Yang lain melepaskan panah es yang terus menembus musuh tanpa kehilangan daya hancurnya. Dan selain itu, semua orang mengubah sifat sihir mereka sesuai situasi.


Padahal begitu banyak serangan dilepaskan, konsumsi sihir mereka nyaris tidak terlihat.


Inilah kekuatan sebuah pasukan, bukan individu.


"Ti, tidak mungkin……! Meskipun mereka pasukan garis depan Kekaisaran Luvankrum, kita menyerang dengan seribu orang dan malah──! Kalau begitu……! Kalian, berkumpul di satu titik! Kita hancurkan perempuan-perempuan ini dengan serangan terpusat!!"


Di antara semua orang yang kemampuan fisik, sihir, dan penilaian situasinya luar biasa itu.


Ada satu orang yang benar-benar memancarkan kehadiran berbeda.


"Menembus dengan jumlah, ya."


Orang itu──Sephia-san, bergumam menanggapi komandan musuh.


"Benar! Dengan jumlah sebanyak ini, bahkan kalian tak akan bisa menghenti──"


Saat pria itu belum selesai bicara.


Sephia-san menggenggam gagang pedang di pinggangnya.


Detik berikutnya──


"Teknik Pedang Aliran Chevalier…… Wave Blade."


Dengan kecepatan luar biasa, ia mencabut pedangnya.


Ia menuangkan sihir ke pedang itu lalu melepaskannya sebagai tebasan jarak jauh berskala luas.


Dan akibatnya, para tentara musuh tumbang satu demi satu dengan kecepatan yang sulit dipercaya.


Aku sendiri biasanya menggunakan sihir langsung dari tubuhku, bukan menyalurkannya ke pedang.


Karena itu aku tahu betapa mustahilnya menuangkan sihir ke pedang secepat itu lalu melepaskannya sebagai tebasan.


"Finn-kun. Kamu bisa melihat gerakan Sephia-chan tadi?"


"Ya…… itu gerakan luar biasa yang mustahil kulakukan sekarang."


"Bisa melihat gerakan Sephia-chan sejak pertama kali saja sudah luar biasa, Finn-kun! Kebanyakan tentara selain pasukan ini bahkan tidak bisa melihatnya lho?"


"Be, benarkah……?"


"Yup!"


"Te, terima kasih……"


Sampai kemarin, aku merasa semua usahaku selama ini seperti disangkal. Tapi sekarang berbeda.


Elena-san…… semua orang mengakui diriku.


……Aku ingin terus berusaha lebih keras di tempat ini.


Saat aku memikirkan itu, Sephia-san yang sudah menyarungkan pedangnya berkata.


"Keunggulan jumlah kalian tampaknya sudah hilang. Jadi, apa yang akan kalian lakukan sekarang?"


"Guh…… kuh……!"


Pasukan musuh melihat ke sekeliling. Namun mereka sudah tak punya kekuatan untuk menyusun strategi lagi.


"Kalian! Habisi musuh di depan kalian! Bunuh mereka!!"


Pasukan musuh yang sudah putus asa itu diserang balik oleh semua orang──


"Gwaaaaaahhh!"


"Ugaaaaaahhh!"


"Aaaaaaahhh!"


Dan pertarungan kali ini berakhir dengan kemenangan telak di pihak kami. Gerakan mereka benar-benar tanpa pemborosan. Dilihat dari stamina maupun sihir, semuanya masih menyisakan banyak tenaga.


Inilah pasukan garis depan Kekaisaran Luvankrum.


Inilah pasukan terkuat Kekaisaran Luvankrum.


Dengan melihat pemandangan ini, aku kembali benar-benar menyadari tempat seperti apa yang sedang kutempati sekarang.


Setelah semua orang memenangkan pertarungan melawan seribu tentara Kerajaan Granzania.


Aku langsung menyampaikan apa yang kupikirkan kepada mereka.


"Semuanya! Pertarungan tadi benar-benar luar biasa!"


"Be, benarkah?"


"Iya!"


"Menurut Teraword-kun, bagian mana yang bagus?"


Bagian mana…… semuanya, semuanya luar biasa.


Mungkin aku tidak bisa menjelaskan semuanya dengan sempurna. Tapi setidaknya bagian yang bisa kupahami akan kucoba ungkapkan.


"Pertama, serangan jarak jauh kalian di awal pertarungan itu, sihir semua orang sama sekali tidak keruh. Aku belum pernah melihat begitu banyak orang menggunakan sihir tanpa sedikit pun gangguan aliran sihir, jadi aku benar-benar terkesan!"


"Gangguan aliran sihir……"


"Kamu benar-benar memperhatikan sampai sejauh itu ya, Tera-kun!"


"Te, terima kasih! Lalu──"


Setelah itu aku terus menjelaskan apa yang kupelajari dari pertarungan singkat tadi.


Seperti mengatur jumlah penggunaan sihir dengan mempertimbangkan kemungkinan pertarungan panjang.


Atau cara berlari agar formasi bisa dibentuk seketika.


Saat mendengarnya, semuanya tersenyum senang.


"Te, Teraword-kun, kamu terlalu banyak memuji kami……!"


"Aku tidak menyangka akan dipuji sebanyak ini……"


"Lagipula Tera-kun yang bicara dengan semangat begitu lucu……"


"Hebat ya, kamu bahkan bisa menjelaskan hal-hal yang sudah tidak kami sadari lagi……"


"Teraword-kun! Nanti saat latihan kami akan mengajarimu lebih banyak lagi ya!"


"Bo, bolehkah!?"


Meskipun ke depannya mungkin akan ada lebih banyak pertempuran sungguhan dan semuanya jadi semakin sibuk.


Di tengah semua itu, mereka masih mau meluangkan waktu untukku yang bahkan belum benar-benar memahami pertempuran nyata…….


"Tentu saja!"


"Malah, kami yang ingin mengajarimu!"


"Semuanya……."


Mereka benar-benar orang yang sangat baik.


Kalau begitu.


"Aku ingin menerima kebaikan kalian……! Mulai sekarang, mohon bimbingannya!"


"Un!"


"Kapan pun kami bisa melatihmu kok~!"


"Anak baik banget……."


"Dia bilang mau bergantung pada kita……!"


"Cara Teraword-kun memakai kata ‘bergantung’ itu imut banget……."


Mulai sekarang, aku bisa berlatih bersama mereka semua…….


Memikirkannya saja sudah membuatku sangat menantikannya.


……Benar juga.


"Sephia-san!"


"Ya, ada apa?"


"Tebasan pedang tadi benar-benar luar biasa! Kau langsung menuangkan sihir ke pedang bersamaan dengan gerakan cabut pedang yang begitu cepat, kan!? Aku jarang melihat orang bertarung dengan menyalurkan sihir ke pedang mereka, tapi dengan menjadikan sihir sebagai tebasan, kau bisa menyebarkan serangan ke area luas hanya dalam sekejap!"


"……Jangan-jangan, kau bisa melihat teknik Wave Blade milikku?"


"Aku memang bisa melihatnya! Tapi justru karena aku bisa melihatnya, aku jadi semakin kagum dengan gerakanmu yang sudah diasah sedemikian rupa…… Aku jadi benar-benar mengerti kenapa Sephia-san disebut sebagai salah satu kekuatan tempur terkuat Kekaisaran Luvankrum."


"……Orang-orang di pasukan ini memang selalu mengakuiku, tapi tetap saja, rasanya menyenangkan ketika seseorang bukan hanya melihat hasil dan reputasiku, melainkan benar-benar melihat ilmu pedangku lalu mengatakan hal seperti itu…… terlebih lagi jika itu dikatakan oleh orang seperti Finn-san."


"……Sephia-san?"


Aku penasaran karena Sephia-san seperti sedang bergumam sesuatu, jadi aku memanggilnya. Namun Sephia-san hanya menggelengkan kepala.


"Tidak, bukan apa-apa. Daripada itu, masakan di ruang tamu mungkin masih belum ding──"


Saat Sephia-san hendak melanjutkan perkataannya.


Aku melihat ke belakang mereka semua.


Dengan kata lain, aku melihat sekitar puluhan orang lagi yang sedang mendekat dari sisi pasukan Kerajaan Granzania.


Aku melihat orang-orang yang hendak menghancurkan senyum semua orang yang ada di depanku saat ini.


……Menghancurkan senyum mereka?


Hal seperti itu…… tidak akan pernah kumaafkan.


Aku akan melindungi mereka semua.


Bukan berarti aku berpikir mereka akan kalah dari orang-orang itu.


Tapi begitu memikirkannya, aku langsung memperkuat tubuhku dengan sihir dan spontan melompat maju menghadapi seratus musuh.


Orang-orang itu langsung menatapku dengan ekspresi terkejut.


"Apa……!? Siapa kau……!?"


"Prajurit Kekaisaran Luvankrum……?"


"Tapi bukankah katanya garis depan itu hanya diisi wanita……?"


"Sudahlah! Tujuan kita adalah pasukan garis depan Kekaisaran Luvankrum! Tinggal singkirkan pria tak dikenal ini dalam sekejap!"


"Ooooooooo!!"


Mereka berteriak sambil menyerbu ke arahku.


Orang-orang ini benar-benar berniat menyakiti mereka semua…….


"……."


Aku menyingkirkan seluruh emosiku. Lalu mengarahkan tangan ke arah mereka dan melepaskan sihir.


"Badai Petir."


Seketika, langit di sekitar berubah gelap. Lalu pusaran angin besar tercipta, disusul petir yang mulai menghujani area itu.


"A-Apa sih sih── aaaghhh!"


"Tubuhku tersedot pusaran ang── guaaahhh!"


"Guaaaaaaaaaahhh!"


Angin terus mengamuk seolah ingin menelan tubuh mereka.


Petir terus menyambar hebat menyelimuti pusaran itu.


Dan ketika akhirnya aku menghentikan sihirku.


Orang-orang yang tadi menyerbu ke arahku sudah terkapar di padang rumput.


Saat itu.


"Finn-kun!!"


Aku mendengar suara Elena-san dari belakang, jadi aku menoleh dan melihat seluruh anggota pasukan garis depan berdiri di sana.


Lalu Elena-san dan yang lainnya menghampiriku.


"Barusan itu kombinasi sihir super tingkat tinggi angin dan petir, kan!? Jadi kau bahkan bisa melakukan hal seperti itu!"


"Gerakanmu waktu melompat maju tadi juga cepat banget……!"


"Keren banget!"


"T-Terima kasih! Saat itu aku memang tidak berpikir kalian akan kalah dari mereka, tapi ketika kupikir ada orang-orang yang hendak menyakiti kalian semua, tubuhku langsung bergerak tanpa sempat berpikir……."


"Itu berarti kau mengkhawatirkan kami, kan……!?"


"Teraword-kun……!"


"Tera-kun……!"


Setelah itu, mereka semua mengucapkan terima kasih sekaligus memujiku.


Aku merasa semakin menjadi bagian dari pasukan garis depan ini.


Saat aku benar-benar merasakan hal itu, Sephia-san berkata dengan ekspresi lembut.


"Melanjutkan pembicaraan tadi, kurasa makanan di ruang tamu masih belum dingin, jadi bagaimana kalau kita segera kembali ke markas? Dan silakan nikmati masakannya sepuas hati."


"Sephia-san……! Terima kasih! Aku jadi semakin menantikannya!"


Sambil membayangkan masakan buatan Sephia-san dan yang lainnya yang hanya dengan mengingatnya saja sudah membuatku lapar.


Aku kembali ke markas garis depan bersama semua orang.


◆ ◇ ◆


Markas pasukan garis depan Kerajaan Granzania.


Seorang pria berambut cokelat sedang duduk di kursi menunggu akhir pertempuran.


"A-aku kembali!"


Seorang pengintai kembali dengan tergesa-gesa ke hadapan pria itu. Pria itu lalu menyeringai dan berkata.


"Cepat juga kau kembali. Kukira sekarang mereka masih dalam tahap melancarkan serangan susulan…… jangan-jangan seribu pasukan saja sudah cukup buat menghancurkan mereka? Kalau begitu, pasukan garis depan Kekaisaran Luvankrum ternyata nggak seberapa juga."


"Ti-tidak, soal itu……."


"Apa?"


Meski tampak panik, sang pengintai tetap menjalankan tugasnya dan berkata.


"Seribu pasukan itu dihancurkan secara telak oleh pasukan garis depan Kekaisaran Luvankrum…… dan dalam waktu singkat berubah menjadi nyaris musnah total."


"Apa……!? M-Musnah total!?"


"Ya. Aku memutuskan mundur dan kembali ke markas karena sebagai pengintai aku tak boleh sampai mati sia-sia…… tapi kemungkinan besar serangan susulan juga sudah gagal……."


Mendengar laporan itu, wajah pria tersebut dipenuhi keterkejutan. Lalu dengan nada marah ia berkata.


"Padahal baru ditunjuk aku mau langsung bikin prestasi…… sialan!"


Menjadi komandan pasukan garis depan Kerajaan Granzania yang harus menghadapi pasukan garis depan Kekaisaran Luvankrum adalah tugas yang sangat berat.


Karena mereka mustahil dikalahkan.


Mereka tidak bisa menang, tetapi atasan terus memerintahkan agar garis depan ditembus. Karena itulah tidak ada yang mau mengambil posisi itu.


Namun pria tersebut justru melihatnya sebagai kesempatan. Ia berpikir kalau berhasil menembus garis depan ini, ia bisa cepat naik jabatan, sehingga ia sendiri yang mengajukan diri menjadi komandan pasukan garis depan.


Dan hasilnya adalah kehancuran seribu pasukan.


Meski tercengang mendengar laporan itu, pria tersebut tetap memaksa membuka mulut.


"Memangnya nggak ada informasi baru!? Kehilangan seribu prajurit sia-sia begini bisa jadi bahan tertawaan!"


"Ka-kalau soal informasi…… ya, mereka memang sangat kuat…… a-ah, tunggu sebentar, ngomong-ngomong……."


Pengintai itu tiba-tiba menghentikan perkataannya seolah teringat sesuatu.


Lalu berkata sambil mencoba mengingat.


"Di belakang mereka…… ada seorang anak laki-laki."


"Anak laki-laki……? Bukannya pasukan itu isinya cuma wanita?"


"Seharusnya begitu…… tapi Elena Endyheart terlihat seperti sedang melindunginya, jadi kemungkinan besar dia non-kombatan……."


"Begitu ya…… kalau non-kombatan, mungkin selama ini dia cuma berdiam di markas. Tapi sampai rela membagi salah satu kekuatan tempur utama demi melindunginya? Berarti mereka nggak boleh kehilangan bocah itu, ya?"


Masih terlalu banyak hal yang belum jelas.


Namun.


"Ini bagus…… laporan sebelumnya nggak pernah menyebut ada pria seperti itu, tapi baru saja aku ditugaskan, malah muncul orang semacam itu. Dan lagi, non-kombatan…… kuhuh, bukankah ini seperti mereka menyiapkan umpan demi kenaikan pangkatku?"


"Y-Ya, mungkin begitu……."


"Kemarin hutan tiba-tiba terbuka dan pandangan jadi luas juga begitu. Akhirnya keberuntungan mulai berpihak padaku. Setelah kubuat bocah itu menyesal sudah datang ke garis depan padahal bahkan nggak bisa memakai sihir tempur sedikit pun, aku akan menjadikannya sandera dan menembus garis depan Kekaisaran Luvankrum yang belum pernah ditembus siapa pun! Hahahahaha!"


Karena jalan menuju kenaikan pangkat terbuka lebar, pria itu tertawa keras.


Dan itu memang wajar.


Pasukan garis depan Kekaisarannya Luvankrum yang dianggap terkuat ternyata memiliki kelemahan berupa seorang non-kombatan.


Dan hanya dengan menangkap non-kombatan itu, ia bisa naik jabatan.


Merasa tak ada tawaran yang lebih menguntungkan dari ini, pria itu terus tertawa keras.


◆ ◇ ◆


Saat kami kembali ke markas dan masuk ke ruang tamu.


"Ah! Akhirnya kalian balik juga~"


Di sana, berbeda dari sebelumnya.


Norn-san kini mengenakan seragam militer dengan rapi.


"Norn!"


"Norn-senpai!"


"Selamat pagi!"


"Un, pagi~. Jadi, kalian semua ke mana setelah ninggalin makanan begitu saja?"


"Pertempuran sungguhan! Katanya ada musuh muncul di garis depan dekat hutan, jadi sekalian kami membawa Finn-kun untuk melihat pertempuran nyata! Dan tentu saja, hasilnya kemenangan!"


Setelah Elena-san menjelaskan, Norn-san tampak terkejut.


"Eh? Jadi semuanya sudah menunjukkan cara bertarung kalian ke Finn-kun?"


"Yup."


"Ya!"


"Teraword-kun bahkan banyak memuji kami!"


"Eeh~! Aku juga ingin Finn-kun melihatku bertarung."


……Cara bertarung Norn-san.


Dilihat dari sikapnya sehari-hari, aku sulit membayangkan dirinya bertarung seperti yang lain hari ini.


Sebenarnya seperti apa gaya bertarungnya?


"Pertarungan Norn-senpai……."


Mereka semua mulai bergumam pelan.


"Cara bertarung Norn-senpai bukannya agak terlalu merangsang buat Teraword-kun……?"


"Benar juga. Tapi kalau tinggal satu pasukan, cepat atau lambat dia pasti bakal lihat juga……."


"Karena dia bisa mengubah gaya bertarungnya sesuka hati, mungkin nanti bisa disesuaikan……."


Aku hanya mendengar sebagian percakapan mereka.


Sepertinya mereka sedang membahas cara bertarung Norn-san.


Aku tidak bisa membaca maksud mereka dari ekspresi wajahnya. Mungkin gaya bertarung Norn-san memang sedikit berbeda dari yang lain.


Kalau begitu, aku jadi semakin penasaran seperti apa caranya bertarung.


Saat aku memikirkan itu, Elena-san berkata kepada semua orang.


"Semuanya! Kita sudah susah payah menyelesaikan pertempuran sebelum makanannya dingin, jadi sebelum ngobrol panjang lebar, ayo makan dulu~! Duduk semuanya~!"


Mendengar itu, termasuk aku, semua orang pun duduk di tempat masing-masing.


Dan aku kembali berhadapan dengan omelet yang tadi sempat kutinggalkan.


"Kalau begitu, Finn-san. Kali ini silakan benar-benar dinikmati."


"Baik……!"


Karena Sephia-san berkata begitu.


Aku mengambil sendok. Lalu menyendok sebagian omelet itu, memasukkannya ke mulut, menikmati rasanya di lidahku, lalu menelannya.


"……Bagaimana rasanya?"


"Enak sekaliii!!"


"!? Benarkah……?"


"Ya! Rasanya benar-benar begitu enak sampai aku ingin terus memakannya selamanya!!"


"……Tentu saja aku senang dipuji siapa pun, tapi ketika Finn-san yang mengatakan itu, aku merasakan sesuatu yang belum pernah kurasakan sebelumn──"


Saat Sephia-san hendak mengatakan sesuatu.


"Dia ngomong begitu ya……!"


"Pengen banget dibilang begitu……!"


"Kapan ya giliranku masak……."


"Eh, kalian lihat nggak cara dia makan tadi!?"


"Lihat lihat! Ekspresi makan enaknya imut banget……!"


"Itu!"


"Lihat wajah itu aja bikin makanannya terasa dua kali lebih enak……."


Karena semuanya tiba-tiba ribut, suara Sephia-san pun tenggelam.


Aku tidak bisa mendengar apa yang mereka katakan, tapi mungkin mereka juga sedang membicarakan betapa enaknya masakan ini?


Sambil memikirkan itu, aku menikmati masakan buatan Sephia-san dan yang lainnya hingga habis tanpa tersisa.


Lalu aku menghabiskan waktu bersama mereka sambil membicarakan pertempuran hari ini.


Dan ketika kembali ke kamarku, aku menyusun teori versiku sendiri sambil merangkum semua yang kupelajari hari ini ke dalam catatan dengan rapi.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close