NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Seito no Hogosha ga Moto Kano datta V1 Chapter 2

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Chapter 2

Putri Mantan Pacar yang Cerdik

Pada kenyataannya, apakah ada orang yang tidak akan merasa canggung saat bertemu kembali dengan mantan pacar yang sudah putus? Apakah jika sepuluh tahun telah berlalu, hal itu tidak lagi menjadi masalah?


Yah, itu mungkin tergantung masing-masing orang. Namun bagiku──ini adalah kejadian yang teramat sangat canggung. Terlebih lagi, siapa sangka dia sudah punya anak! Artinya, dia sudah menikah!


Karena kami sudah putus, aku tidak punya hak untuk ikut campur, dan tentu saja dalam kurun waktu sepuluh tahun seseorang sangat wajar jika sudah menikah──memang begitulah seharusnya, tetapi entah mengapa...... ada bagian dari diriku yang merasa cukup terkejut......


Meski 10 tahun telah berlalu, aku rupanya masih belum bisa sepenuhnya melupakannya.


"Anda sudah kembali ke kota ini ya, Shirosaki-san?"


Mirei-chan yang tadinya terbelalak, kini menyipitkan matanya begitu kembali tersadar. Aku sempat menjadi guru di luar daerah, dan tampaknya Mirei-chan mengetahui hal tersebut. Kemungkinan besar dia mendengarnya dari teman masa kecilku. Sebab, mereka berdua memang sudah berteman akrab sejak zaman sekolah dulu. 


Namun──meski begitu, kenapa dia sepertinya terlihat marah, ya......!? Soalnya, kedua pipinya tampak sedikit menggembung......!


Aku tidak bisa menyembunyikan kebingunganku di hadapan Mirei-chan yang memasang ekspresi seolah-olah sedang tidak puas akan sesuatu.


Dulu, dia tidak hanya selalu tersenyum ramah, tetapi juga memancarkan senyuman yang hangat dengan tatapan mata yang sangat lembut. Bahkan saat zaman sekolah dulu pun, aku hampir tidak pernah melihat gadis sepertinya marah. Atau lebih tepatnya, kurasa aku memang belum pernah melihatnya marah sama sekali.


Lho, aneh sekali......seingatku kami tidak putus karena bertengkar......? Sebaliknya, kami berpisah dengan cara yang sebisa mungkin baik-baik...... Aku benar-benar tidak mengerti mengapa sekarang dia terlihat marah.


"──Sensei, Anda ternyata saling kenal dengan orang ini......? Tapi, sebenarnya apa yang sudah Anda lakukan......?"


Di saat aku sedang kebingungan, Kamijou-san mendekatiku dengan ekspresi yang sama-sama heran. Mungkin dia juga baru pertama kali ini melihat Mirei-chan memasang ekspresi wajah yang seperti itu.


Sedangkan untuk Sana-chan, karena dia sedang memeluk Mirei-chan erat-erat sambil membenamkan wajahnya di perut sang ibu, tampaknya dia tidak menyadari perubahan ekspresi ibunya.


"Jangankan kamu, aku sendiri pun ingin menanyakan hal itu......"


"Ini pasti karena ulah Sensei, kan......? Kenapa Anda tidak mengert──"


"──Jadi Anda saling kenal dengan putri saya, ya. Begitu, rupanya Anda sudah menjadi guru di SMA tempat Marin bersekolah."


“"──っ!?"”


Sembari menatap kami yang sedang berbisik-bisik santai sambil menutupi mulut dengan tangan, Mirei-chan memiringkan kepalanya sedikit.

Entah mengapa, ekspresi wajahnya kini telah berubah menjadi sebuah senyuman. Namun, meski dari sudut pandang mana pun itu terlihat seperti senyuman, ada tekanan tak kasat mata yang teramat kuat terpancar darinya, hingga membuatku dan Kamijou-san spontan menahan napas bersamaan.


Mirei-chan memang sudah cerdas sejak dulu, sih...... Mengingat aku bekerja sebagai guru dan tampak akrab dengan putrinya yang masih SMA, tentu saja dia bisa langsung menebak situasinya......


"Iya, saya menjadi wali kelas Marin-san...... Saya sama sekali tidak menyangka kita akan bertemu kembali dengan cara yang seperti ini......"


Karena situasinya menjadi semakin canggung, aku memutuskan untuk menjawab dengan jujur tanpa mencoba mengelabui keadaan. Lagipula, jika wanita ini adalah orang tua dari Kamijou-san, berbohong pun tidak ada gunanya karena hal ini pasti akan segera ketahuan saat pertemuan orang tua murid nanti. 


Namun di samping itu, kenapa sekarang aku malah merasa seperti sedang diinterogasi......? Padahal aku tidak melakukan kesalahan apa pun. Dia juga sudah memiliki keluarga sendiri, jadi kalaupun dia tidak ingin hubungan masa lalu kami ketahuan, bukankah bersikap ketus seperti ini justru akan memberikan efek yang sebaliknya......?


Untuk saat ini, tekanan yang diberikan Mirei-chan benar-benar menakutkan, kuharap seseorang bisa menolongku......!


Tepat di saat aku berharap demikian, seolah-olah mendengar permohonanku, anak kecil itu──Sana-chan──mulai bergerak. Sana-chan melangkah kecil kembali ke arah kakiku.


"Onii-chan, Anda gurunya Onee-chan!? Tapi, Anda juga temannya Mama!?"


Entah mengapa, Sana-chan bertanya dengan mata yang berbinar-binar ceria. Tampaknya dia menyimpulkan hal itu setelah mendengar percakapanku dengan Mirei-chan, tetapi aku tidak tahu mengapa dia tampak begitu bersemangat.


"I-Iya, begitulah......"


Tentu saja mana mungkin aku menjawab, 'Aku ini mantan pacar Mamamu!!', jadi aku memilih mengangguk saja dan membenarkan kalau kami adalah teman.


"Wah, Onii-chan ini sebenarnya siapa, sih!?"


Bagi Sana-chan, hal itu tampaknya menjadi sesuatu yang sangat baru, sehingga energinya semakin meluap-luap. Dia mendekatkan wajahnya ke arahku dari jarak yang sangat dekat, seolah-olah sedang melihat suatu barang yang langka. Bahkan, dia sampai bersusah payah menjinjitkan kakinya.


"Apanya yang siapa, kan tadi Sana sendiri yang sudah bilang kalau ini Sensei......"


Kamijou-san yang merupakan kakak dari Sana-chan hanya bisa tersenyum kecut di sebelahku. 


Sesuai dengan teguran yang dilayangkannya, Sana-chan sebenarnya sudah mengucapkan sendiri jawabannya meskipun dia sedang bertanya kepadaku.


Sejujurnya, aku tidak memiliki jawaban lain selain apa yang telah dikatakan oleh Sana-chan.......Sebab, aku sama sekali tidak bisa mengatakan kalau aku adalah mantan pacar ibunya. Jika aku sampai salah bicara, hal itu pasti akan membuat Mirei-chan──yang saat ini sedang tersenyum penuh arti di depan kami──menjadi semakin marah.


Tentu saja itu hal yang wajar. Mengenai sosok orang yang pernah dikencani selain sang suami, siapa pun pasti tidak ingin hal tersebut diketahui oleh anak-anak mereka.


Saat zaman SMA dulu, dia adalah gadis cantik yang dijuluki bagai seorang saint, bahkan disebut sebagai perwujudan dari kebaikan itu sendiri. Namun sekarang, jika aku sampai kelepasan bicara, dia pasti tidak akan memaafkanku.


Meski begitu, sebenarnya kenapa Mirei-chan bisa semarah itu......?


"Haaah...... Sensei, bagaimana kalau Anda mengantre di kasir saja?"


Di saat aku sedang mematung seperti seekor katak yang diincar oleh ular, Kamijou-san tiba-tiba menghela napas dan mendesakku.


Secara tersirat, dia seolah sedang menyuruhku, 'Cepatlah mengantre di kasir dan kabur dari sini'.


Sembari merasa terkejut karena menyadari bahwa dia ternyata anak yang cukup penuh perhatian, aku menyahut, "Maaf, benar juga ya......!" Lalu, aku memanfaatkan kebaikannya untuk segera melangkah pergi menuju barisan antrean kasir seperti orang yang sedang melarikan diri.


Tentu saja, aku memilih kasir yang berada di paling ujung, yang letaknya sejauh mungkin dari mereka.


"Aaa~! Aku masih mau mengobrol~!"


"Jangan, nanti mengganggu."


"Nggak mau~! Onii-chan~!"


"Di dalam toko harus tenang, ya."


Dari arah belakang, samar-samar masih terdengar suara Sana-chan yang mencoba memanggilku untuk menyuruhku berhenti, tetapi tampaknya Kamijou-san sudah berhasil menangkapnya.


Membekap mulut adiknya dengan rapat agar tidak membuat kegaduhan di dalam toko dan mengganggu orang lain juga merupakan tindakan yang sangat patut diacungi jempol.


Aku sangat berterima kasih kepada Kamijou-san──meski begitu, fakta bahwa Mirei-chan masih terus menatapku dengan tajam dari kejauhan seolah sedang merajuk, sukses membuat keringat dingin mengucur di tubuhku.



Keesokan harinya──


"Sensei."


Saat jam istirahat makan siang tiba, aku yang baru saja selesai mengajar dan hendak kembali ke ruang guru tiba-tiba dipanggil oleh Kamijou-san di koridor. Siapa sangka, dia sendiri yang akan datang mengajakku bicara......


──Padahal saat pertemuan kelas singkat kemarin, dia selalu memalingkan wajahnya agar tidak melihat ke arahku.


"Ada apa?"


"Di sini terlalu mencolok, mari lewat sini."


Dia memberi isyarat tangan yang mengartikan 'ikut aku', dan aku pun menurutinya tanpa perlawanan. Lalu──aku dibawa ke area belakang gedung sekolah.


Eh...... aku tidak akan dipalak, kan......?


Meskipun kupikir hal itu tidak mungkin terjadi, anak ini setidaknya memiliki posisi yang tampak seperti bos di kelas, jadi kemungkinan seperti itu tetap tidak bisa sepenuhnya diabaikan.


"Ehm...... Apakah ada hal yang tidak ingin kau bicarakan di depan orang lain?"


"Anda pasti sudah tahu, kan?"


Ketika aku bertanya dengan mencoba tetap tersenyum, dia justru balik bertanya dengan mata menyipit yang menatapku dengan pandangan sinis.


Yah, aku memang tahu apa yang ingin dia bicarakan, sih...... sebagian besar kemungkinan adalah untuk menyuruhku tutup mulut mengenai kejadian kemarin. Mengingat memanggilku di dekat ruang kelasnya sendiri akan mengundang perhatian, tampaknya dia sengaja mengincar waktu di saat tidak ada orang lain di sekitar kami.


"Kamu tidak perlu khawatir, aku tidak akan menyebarluaskannya, kok. Tidak ada keuntungan apa pun bagiku jika melakukan hal itu, dan lagipula, sebagai seorang guru, sangat tidak boleh bagiku untuk menyebarkan rumor tentang murid sendiri."


Karena percuma saja jika aku terus mengelak, aku memilih untuk langsung membuka poin utama yang kemungkinan ingin dia bahas. Berkat hal itu, intimidasi yang dipancarkan oleh Kamijou-san tampak sedikit mereda.


"Apakah itu benar?"


"Tentu saja."


Aku mengangguk sembari mempertahankan senyumanku. Dalam situasi seperti ini, sangat penting untuk tidak memberikan jeda waktu yang mencurigakan.


Kamijou-san sempat menatapku lekat-lekat seolah masih menaruh curiga, tetapi tidak lama kemudian dia mengangguk kecil, tampaknya sudah mulai percaya.


"Jika Anda melanggar janji, saya akan mengadu kepada orang itu."


"Ahaha...... Kalau itu, ya. Menakutkan juga, ya."


Sosok yang dia maksud dengan 'orang itu' sudah pasti adalah Mirei-chan. Meski begitu, caranya memanggil ibunya dengan sebutan yang terasa berjarak agak membuatku penasaran, apakah hubungan mereka berdua kurang harmonis?


Mirei-chan yang kukenal dulu adalah sosok yang sangat lembut dan sangat pandai mengasuh anak kecil, jadi kurasa seharusnya tidak ada masalah dalam cara dia mendidik anak... tapi, Mirei-chan yang kutemui kemarin memang memiliki aura yang berbeda dari yang dulu, sih......


"Sebenarnya, dia bukan tipe orang yang biasa memancarkan aura hitam yang menyeramkan seperti itu, lho. Hari ini aku juga ingin menanyakan hal itu. Sebenarnya, apa yang sudah Anda lakukan kepada orang itu?"


Tampaknya pembicaraan kami belum selesai, Kamijou-san kembali menatap wajahku dengan pandangan yang seolah sedang menyelidiki.


Yah, jika ibu kandungmu dan wali kelasmu ternyata saling kenal, ditambah lagi mereka memancarkan atmosfer yang penuh teka-teki, wajar saja jika dia menjadi penasaran.


"Kemarin juga sudah kukatakan, aku benar-benar tidak ingat pernah berbuat salah......"


"Dia bukan tipe orang yang akan marah tanpa alasan, lho. Atau lebih tepatnya, dia adalah orang yang tidak akan mudah marah hanya karena masalah sepele."


Ya, benar juga, sih. Aku juga berpikir demikian.


Namun, justru karena itulah aku sama sekali tidak mengerti. Sebab aku benar-benar tidak memiliki ingatan pernah membuatnya marah......


"Kalau begitu, sebenarnya apa hubungan antara Sensei dengan orang itu?"


Di saat aku sedang terdiam sambil berpikir keras, Kamijou-san melangkah maju selangkah lagi untuk mendesakku. Sama seperti saat dia bersama adiknya kemarin, anak ini mungkin sebenarnya tidak sedingin dan sekaku penampilan atau sikap yang biasa dia tunjukkan di dalam kelas.


"Hanya teman sekelas biasa, kok. Saat zaman SMA dulu."


Karena berpikir bahwa fakta bahwa kami pernah berpacaran adalah hal yang sama sekali tidak boleh diketahui oleh putri dari mantan pacarku, aku pun mencoba berbohong. Namun──


"Begitu, ya. Berarti Anda memang benar mantan pacarnya orang itu."


──Entah bagaimana ceritanya, kebohonganku langsung terbongkar dalam hitungan detik.


"──!? T-Tunggu dulu! Kan tadi sudah kukatakan kalau kami hanya teman sekelas biasa!?"


Ketahuan sebagai mantan pacar adalah hal yang sangat gawat. Terlebih lagi karena aku benar-benar tidak ingin melihat Mirei-chan memasang ekspresi wajah seperti kemarin lagi, aku pun bergegas menyangkalnya dengan panik. Namun, Kamijou-san justru menyunggingkan senyuman tipis yang tampak jahil.


"Hal yang sebenarnya ingin kupastikan hanyalah di masa kapan Sensei dan orang itu saling terhubung. Aku senang karena Anda memberi tahu kalau itu terjadi di masa SMA. Soalnya, aku tahu kalau orang itu punya pacar saat dia masih duduk di bangku SMA."


Tampaknya, aku baru saja dijebak.


Sembari berpura-pura tidak tahu apa-apa, dia ternyata datang hanya untuk mencocokkan jawaban yang sudah diketahuinya.


Anak ini, dari penampilannya saja sudah terlihat pintar, dan lagipula, karena dia adalah putri dari Mirei-chan, akan terasa aneh jika dia tidak cerdas. Seharusnya aku bisa bersikap dengan jauh lebih berhati-hati tadi.


"Tunggu, tunggu dulu! Saat zaman SMA, ada banyak sekali murid laki-laki yang menjadi teman sekelasnya, tahu!? Lagipula, ibumu itu sangat populer dulu, jadi rasanya terlalu berlebihan jika kamu langsung menyimpulkan kalau akulah mantan pacarnya!?"


"............"


Meskipun aku kembali menyangkalnya──begitu aku mengucapkan kata 'ibumu', tatapan mata Kamijou-san langsung berubah menjadi tajam. Tampaknya, aku baru saja menginjak ranjau daratnya.


"Saya bukan putri dari orang itu."


Karena hal itu tampaknya sangat menyinggung perasaannya, dia mengabaikan sanggahanku dan menegaskan bahwa dirinya bukanlah anak kandung Mirei-chan.


"Eh? Tapi...... dia orang tuamu, kan......?"


Mendengar ucapanku, Kamijou-san menepuk dahinya dengan tangan seolah-olah sedang merasa pusing. Kemudian, dia mulai menghentak-hentakkan kakinya sedikit dengan kesal.


"Begini ya, tolong pikirkan faktor usianya. Kalau saya adalah putri dari orang itu, memangnya dia melahirkan saya di usia berapa?"


"Ah......"


Benar juga, apa yang dikatakannya sepenuhnya tepat. Aku baru menyadarinya setelah dia menunjukkan hal itu. 


Usia Mirei-chan sama denganku, yaitu 27 tahun. Secara logika, sangat tidak mungkin baginya untuk memiliki seorang putri yang sudah berusia 16 tahun. Kemarin aku terlalu terintimidasi oleh ekspresi marahnya, ditambah lagi dengan rasa terkejut karena mengira dia sudah menikah, sehingga aku tidak sempat berpikir sampai ke sana.


Kalau begitu, artinya──Kamijou-san adalah anak bawaan dari suami Mirei-chan......! Apakah karena itu dia tidak bisa menerima ibu barunya, sehingga dia berbicara dengan sebutan yang terasa berjarak?


──Tidak, itu juga aneh. Sebab, selain bentuk matanya, Kamijou-san benar-benar sangat mirip dengan Mirei-chan saat zaman SMA dulu. Kalau begitu, hal itu berarti......


"Bagi saya, asalkan Anda sudah paham kalau dia bukan ibu kandung saya, itu sudah cukup. Di samping itu, Anda bilang Sensei bukan mantan pacarnya orang itu? Tidak, itu tidak mungkin."


Sembari mengabaikan diriku yang sedang tenggelam dalam pikiran, Kamijou-san mengalihkan kembali topik pembicaraan ke hal yang tadi. Bagi anak ini, topik tentang keluarganya mungkin adalah hal yang tidak terlalu ingin dia bahas.


Yah, aku juga mengerti jika dia tidak ingin membicarakan urusan internal keluarganya. Fakta bahwa Mirei-chan bertindak sebagai wali murid dan bukan sebagai ibu kandungnya saja sudah menunjukkan bahwa pasti ada suatu alasan di balik semua ini......


Selain itu, perbedaan usia yang cukup jauh antara Sana-chan dan Kamijou-san sempat membuatku penasaran, tetapi sekarang hal itu menjadi masuk akal.


Kamijou-san memang bukan putri kandung Mirei-chan, tetapi karena Sana-chan adalah putri kandung Mirei-chan, maka Kamijou-san dan Sana-chan adalah saudara tiri dengan perbedaan usia yang cukup jauh.


"Kenapa kamu bisa bilang tidak mungkin......?"


Setelah bagian yang mengganjal di pikiranku terjawab, aku mengalihkan fokus dan mengikuti alur pembicaraan Kamijou-san.


"Yuuto-kun──itu adalah nama depan Sensei, kan?"


"............"


Begitu rupanya, jadi karena itu......


Anak ini hebat juga karena tidak melewatkan detail sekecil itu......


"Kenapa Anda malah diam? Yah, tidak apa-apa. Aku sudah mengenali orang itu sejak lama, tetapi hampir tidak ada laki-laki yang memanggilnya dengan nama depan. Seingatku, hanya ada satu orang ──dan nama orang itu adalah Yuuto-kun."


Aku dan Kamijou-san belum pernah bertemu dulu. Kemungkinan besar...... saat Mirei-chan masih berpacaran denganku dulu, dia pernah menceritakan tentang diriku kepada Kamijou-san.


Aduh, situasinya malah menjadi semakin rumit......


"Nama Yuuto itu sama sekali tidak langka, kok. Jadi, bisa saja ini hanya salah paham karena nama yang mirip......"


Karena sangat tidak ingin menjadikan Mirei-chan sebagai musuh, aku berusaha keras mencari jalan untuk mengelak.


"Anda benar-benar tidak mau menyerah, ya. Di saat orang itu memanggil Anda dengan nama depan, tidak ada kemungkinan lain selain fakta bahwa kalian berdua memiliki hubungan yang sangat dekat. Lagipula, setelah itu orang itu langsung meralatnya dan memanggil Anda kembali dengan sebutan Shirosaki-san."


Namun, jalan untuk melarikan diri itu langsung ditutup rapat-rapat oleh Kamijou-san. Anak ini benar-benar memiliki ingatan yang kuat, atau mungkin dia mendengarkan percakapan kemarin dengan sangat saksama......


Karena itulah, sejak awal dia sudah menduga bahwa aku adalah mantan pacar Mirei-chan. Atau lebih tepatnya, bisa dibilang dia menghadapi diriku dengan keyakinan penuh yang sudah dipegangnya.


Gawat juga...... Kalau begini caranya, bukankah aku akan membuat Mirei-chan marah......?


"Kalau aku menyangkalnya, apakah kamu mau percaya?"


"Tentu saja tidak. Atau, bagaimana kalau kita tanyakan saja pertanyaan yang sama langsung kepada orang itu?"


"......Maaf, tolong jangan lakukan hal yang satu itu......"


Aku tidak tahu reaksi seperti apa yang akan diberikan oleh Mirei-chan, tetapi dia pasti akan mengira bahwa akulah yang menceritakan hal ini kepada anaknya. Jika hal itu sampai terjadi, aku akan benar-benar menjadikan Mirei-chan sebagai musuhku, jadi aku sangat berharap dia tidak melakukan hal tersebut.


"Kalau begitu, urusannya menjadi mudah, kan? Bagaimana kalau kita anggap saja ini sebagai kesepakatan untuk saling tutup mulut?"


Kamijou-san menyatukan kedua telapak tangannya sambil menyunggingkan senyuman manis yang menggemaskan. Tampaknya, karena dia tidak bisa memercayai sebuah janji biasa, dia sengaja datang untuk memegang kelemahanku.


Anak ini benar-benar sangat cerdik...... meski aku membatin demikian, tentu saja pada akhirnya aku menerima kesepakatan tersebut.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close