NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Seito no Hogosha ga Moto Kano datta V1 Chapter 1

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Chapter 1

Pertemuan Kembali dengan Mantan Pacar

Semester baru telah dimulai, dan aku resmi menjadi wali kelas 2-E. Kabarnya, salah satu guru yang tahun lalu mengajar kelas 1 mengundurkan diri karena menikah, dan aku ditunjuk untuk mengisi kekosongan tersebut.


Tentu saja, semua murid di kelas ini adalah anak-anak yang baru pertama kali kutemui. Dalam situasi seperti ini, kesan pertama adalah hal yang sangat krusial. Oleh karena itu, aku membuka suara sambil tersenyum.


"Selamat pagi, semuanya. Seperti yang sudah diperkenalkan saat upacara pembukaan tadi, mulai hari ini saya yang akan mengajar kelas ini──"


"──Terus ya, dia beneran nembak dong, dan hasilnya ditolak mentah-mentah!"


"Serius!? Duh, harusnya ajak-ajak dong! Gue juga mau lihat!"


"Eh eh, pulang sekolah mampir ke Stabie, yuk! Mau nyoba menu barunya!"


"Boleh juga~ Tapi pas liburan musim semi kemarin gue kebanyakan jajan, jadi sekarang lagi bokek nih~"


"Mai-chan, kemarin gue nonton siaran langsungmu, lho! Cantik banget!"


"Ahaha, makasih ya."


"............"


Padahal pertemuan kelas singkat sudah dimulai, tetapi para murid malah asyik mengobrol sendiri-sendiri. Bahkan, mereka bertingkah sesuka hati seolah-olah kehadiranku sama sekali tidak terlihat oleh mereka. Baru kali ini aku menghadapi kelas yang sekacau ini......


"Ayo, ayo, semuanya tenang! Pertemuan kelasnya mau dimulai!"


Aku menepukkan kedua telapak tanganku dengan keras sambil tetap tersenyum, berusaha mengalihkan perhatian mereka agar melihat ke arahku.


“”"Cih......"””


Seketika itu juga, terdengar suara decakan lidah dari berbagai sudut kelas. Meski begitu, setidaknya mereka semua menjadi tenang dan mulai melihat ke arahku.


Hmm...... kelas yang cukup penuh energi, ya......


Tapi, karena mereka masih mau mendengarkan saat ditegur, kurasa kondisinya masih lumayan baik......


Aku mengedarkan pandangan ke seluruh ruang kelas. Saat aku hendak membuka suara perlahan sambil mencoba berinteraksi dengan mereka──tiba-tiba tatapanku tertuju pada satu titik.


Di barisan paling depan sebelah kanan, ada seorang gadis berambut bob perak yang sedang duduk dengan ekspresi wajah yang tenang.


"Ah, kamu......!"


"......っ!"


Begitu aku spontan bersuara karena mengenali anak itu──dia langsung melemparkan tatapan mata dingin yang seolah-olah berkata, 'Diam'.


Ya, tidak salah lagi. Dia adalah gadis yang sangat mirip dengan mantan pacarku yang kutemui saat liburan musim semi kemarin......


Astaga, yang benar saja. Tidak kusangka dia ternyata murid di kelas yang kuajar......


"Hmph......"


Gadis itu memalingkan wajahnya dariku dengan raut wajah yang tampak gusar. Sepertinya dia sangat tidak suka karena tindakanku membuatnya menjadi pusat perhatian. Meski begitu, dia benar-benar terlihat seperti anak yang berwatak keras......


Ehm, coba kuperiksa tempat duduknya di buku absen...... Kamijou Marin-san, ya──Kamijou!?


Eh, serius!?


Melihat nama yang sulit dipercaya itu, aku langsung mendongak dari buku absen dengan cepat dan kembali menatap Kamijou-san.


"............"


Namun, tampaknya dia menangkap pergerakan wajahku lewat sudut matanya, dan dia pun langsung memelototiku kembali tanpa sepatah kata pun. Anak ini, sifatnya ketus sekali......


Saat aku sedang membatin seperti itu──


"Oi, oi! Sensei langsung ditolak sama Kamijou-san, tuh!"


"Seriusan? Semuanya terjadi terlalu cepat, nih!"


"Sensei, emangnya segabut itu ya sampai haus belaian cewek~!?"


Tiba-tiba saja, beberapa murid laki-laki yang berpenampilan seperti anak gaul mulai ikut campur mencari gara-gara.


Memang selalu ada tipe anak seperti ini...... Tipe anak yang suka mencari bahan lelucon demi bisa bersenang-senang dengan kelompoknya sendiri.


Menghadapi anak-anak seperti ini, mengabaikan mereka adalah pilihan terbaik──tetapi sebagai seorang guru, aku tidak boleh melakukannya.


Aku harus menghadapi mereka dengan tegas dari depan dan meluruskan keadaan──atau begitulah rencanaku, sebelum.


"Diam."


“”””"Baik!!"””””


Bahkan sebelum aku sempat mengatakan apa pun, Kamijou-san berhasil membuat mereka bungkam dalam sekejap hanya dengan satu kata dan satu tatapan tajam. Bahkan, murid-murid yang tadinya duduk dengan posisi yang sangat tidak sopan itu, langsung membetulkan posisi duduk mereka menjadi tegak dan rapi.


Hebat juga anak ini. Apakah ini berarti dialah yang mengendalikan kelas yang isinya seperti kumpulan anak bermasalah ini......?


Setidaknya, aku tahu bahwa murid-murid laki-laki yang suka bercanda tadi merasa takut kepada Kamijou-san.


Sementara itu, murid-murid perempuan yang sejak tadi tidak ikut meramaikan suasana, hanya saling melempar senyum seolah sudah memaklumi hal tersebut. Sama sekali tidak ada gurat penolakan di wajah mereka.


Hmm...... luar biasa sekali anak ini......


"Jadi, sejak tadi Anda terus-menerus melihat ke arah saya, sebenarnya ada urusan apa?"


Saat aku sedang menatap Kamijou-san dengan rasa kagum bercampur ngeri, dia yang mengerutkan dahi dengan tidak senang akhirnya bertanya langsung kepadaku.


Karena dia sama sekali tidak terusik oleh reaksi teman-teman sekelasnya, tampaknya pemandangan seperti ini sudah menjadi hal yang biasa baginya. Karena dia sendiri yang bertanya, dan kebetulan aku juga penasaran, aku memutuskan untuk menanyakan hal yang mengganjal di pikiranku.


"Apakah kamu...... kebetulan punya kakak perempuan yang usianya sekitar 10 tahun lebih tua darimu?"


"......Hah?"


Tepat setelah itu, matanya sempat terbelalak sesaat, sebelum akhirnya dia memiringkan kepalanya sedikit sambil menatapku dengan pandangan yang teramat dingin, seolah-olah suhunya berada di titik nol mutlak. Padahal aku bertanya dengan nada santai seperti sedang mengobrol biasa, tetapi balasan yang kuterima sungguh mengerikan.


"Ah, tidak, saya tidak punya maksud lain kok......"


"Tidak punya, memangnya kenapa? Kalaupun ada, apa Anda berniat untuk merayunya? Tidak peduli seberapa cantiknya penampilan saya, bukankah pemikiran seperti itu menjijikkan?"


Ketika aku mencoba menenangkan situasi, dia langsung mencerca dengan rentetan kalimat yang cepat seolah tidak memberikan kesempatan bagiku untuk menyangkal. Intensitas bicaranya sangat tinggi sampai-sampai membuatku berpikir apakah dia benar-benar mengamuk, tetapi ekspresi wajahnya tetap terlihat sangat dingin.


Tampaknya, beginilah gaya makiannya bahkan saat dia sedang merespons dengan kepala dingin. Dia melontarkan kalimat pedas itu dengan begitu alami, seolah-olah itu hanyalah embusan napas baginya...... Lagipula, berani-beraninya dia memuji penampilannya sendiri cantik......


"Benar juga, tidak ada ya......! Tentu saja aku tidak berniat merayunya, tapi maaf ya kalau sudah membuatmu tidak nyaman......!"


Di tengah riuh suara tawa seisi kelas yang pecah akibat sikap ketus Kamijou-san, aku bergegas meminta maaf. Berkat hal itu, tatapan dingin Kamijou-san yang semula tertuju kepadaku, kini beralih ke teman-teman sekelasnya. Seketika itu juga, suasana kelas langsung hening senyap, persis seperti saat seorang dirigen mengepalkan tangannya kuat-kuat di akhir pertunjukan musik.


Benar-benar luar biasa anak ini, serius......


Hanya dalam waktu beberapa menit saja, aku sudah disadarkan tentang siapa orang yang paling tidak boleh dijadikan musuh di kelas ini.



"Haaah...... Hari ini aku melakukan sedikit kesalahan, ya......"


Sepulang kerja, aku menghela napas panjang seorang diri sambil berbelanja di supermarket dekat rumah.


Berkat Kamijou-san, situasinya memang tidak sampai menjadi keributan besar. Namun, salah langkah sedikit saja, bisa-bisa timbul rumor yang tidak-tidak tentangku. Tindakanku tadi memang bisa dibilang sangat ceroboh.


Meski begitu...... anak itu benar-benar ketus, seperti es saja. Sepanjang hari ini──tentu saja di luar jam pelajaran──Kamijou-san terus-menerus memancarkan aura dingin yang membuat orang enggan mendekat.


Sepertinya aku sudah diserahi tanggung jawab untuk mengajar kelas yang cukup bermasalah, dan khusus untuk anak itu, tampaknya butuh waktu lama sampai kami bisa akrab.


"──Onee-chan, ada camilan......!"


"Oh ya, baguslah. Kamu mau beli yang mana?"


......Hmm?


Sebuah percakapan yang lumayan sering terdengar saat sedang berbelanja di supermarket. Seorang kakak perempuan yang memperlakukan adik kecilnya dengan lembut──hanya interaksi biasa yang sangat lumrah. Namun, karena suara itu terdengar tidak asing, tanpa sadar aku menoleh ke arah lorong camilan.


"Ini......!"


"Fufu, Sana beneran suka banget sama cokelat, ya."


Di sana berdiri Kamijou-san──yang sedang menemani seorang anak kecil dengan wajah yang tersenyum begitu lebar dan manja, sampai-sampai membuatku sangsi apakah dia adalah sosok yang sama dengan si gadis es di sekolah.


"Kalau Onee-chan?"


"Punya Onee-chan tidak usah, jadi bagianku boleh dibeli untuk Sana saja, bagaimana?"


"Benaran!? Horeee! Aku sayaaang banget sama Onee-chan!"


Anak perempuan kecil yang dipanggil Sana itu memeluk Kamijou-san dengan senyuman yang sangat ceria. Sementara itu, Kamijou-san sendiri tampak tersenyum begitu manis; sebuah ekspresi yang rasanya mustahil akan dia perlihatkan di sekolah. Tampaknya Kamijou-san adalah sosok kakak yang sangat penyayang bagi adiknya.


Hmm......


"Sebelum ketahuan, mending kabur saja deh......"


Ini adalah jenis pemandangan yang tidak boleh kulihat. Kalau sampai ketahuan melihatnya, bisa-bisa keberadaanku akan dilenyapkan dari dunia ini......


Setelah melihat sisi lain──atau bisa dibilang wajah kedua──dari si gadis cantik yang dingin itu, aku pun segera bergegas meninggalkan tempat tersebut. Dalam hidup, kemampuan menghindari krisis adalah hal yang sangat penting untuk bertahan hidup.


"──Baiklah, segini kurasa sudah cukup."


Setelah memasukkan mi instan cup dalam jumlah banyak ke dalam keranjang, aku memastikan tidak ada belanjaan yang terlupa, lalu ikut mengantre di kasir.


Tepat setelah itu──


"Ugh......!"


──Punggungku terkena hantaman yang cukup keras.


"A-Ada apa......?"


Sembari memegangi punggungku yang terasa sakit, aku berbalik── dan di sana, anak perempuan kecil yang tadi, Sana-chan, terduduk di lantai karena terjatuh. Sudah jelas dan tidak salah lagi, anak ini baru saja menubruk punggungku.


"Sakit......!"


"K-Kamu tidak apa-apa?"


Sana-chan memegangi dahinya dengan kedua tangan, matanya berkaca-kaca seolah-olah akan langsung menangis saat itu juga. Aku pun panik, lalu berjongkok untuk memeriksa keadaan Sana-chan.


"Apakah dahimu sakit?"


"Ngg, sakit......"


Mungkin karena aku mengajaknya bicara, Sana-chan menahan tangisnya dan mengangguk kecil.


Aduh kasihan, rasanya aku ingin mengelus kepalanya, tetapi tentu saja tidak sopan melakukan hal itu kepada anak yang baru pertama kali kutemui. Akan bagus jika dia bisa tenang begini, tetapi jika perhatiannya tidak dialihkan, dia pasti akan segera menangis.


Camilan──tentu saja tidak boleh diberikan sebelum dibayar...... 


Tepat saat aku sedang berpikir demikian.


"Ah, ketemu......! Kan sudah dibilang berkali-kali, jangan tiba-tiba berlari begitu......!?"


Sosok yang paling ingin kuhindari saat ini, Kamijou-san, akhirnya muncul.


......Tidak, karena dia sedang berbelanja bersama Sana-chan, tentu saja dia akan datang ke tempat adiknya berada......


Tapi, kenapa harus di waktu yang tidak tepat begini......


"Maaf, sepertinya anak ini menubruk──eh?"


Mungkin karena fokusnya hanya tertuju pada Sana-chan, Kamijou-san langsung meminta maaf begitu mendongak dari adiknya...... namun, dia langsung mematung saat menyadari bahwa orang itu adalah aku.


Menghadapi sikapnya yang seperti itu, aku pun spontan membuka suara.


"Tidak apa-apa, aku tidak melihat apa-apa, kok......!"


Pemandangan sepasang kakak-beradik yang sedang berbelanja dengan akrab tadi mendadak terlintas kembali di benakku, membuatku melontarkan kebohongan yang sebenarnya tidak perlu.


Mendengar hal itu, Kamijou-san sempat memasang ekspresi melongo sesaat, sebelum akhirnya tampaknya dia menyadari apa maksud perkataanku, dan seketika itu juga wajahnya berubah menjadi merah padam. Kemudian, dengan mata yang menatap tajam, dia langsung angkat bicara dengan nada tinggi.


"J-Jadi Anda melihatnya, ya......!? Saat aku dan Sana sedang mengobrol......!"


"Tidak, kan sudah kukatakan kalau aku tidak melihatnya......!"


"Kalau benar-benar tidak melihat apa-apa, Anda tidak akan berkata, 'Tidak apa-apa, aku tidak melihat apa-apa, kok......!'!"


Ya, apa yang dikatakan Kamijou-san sepenuhnya benar.


Seharusnya di sini aku bersikap seolah-olah ini adalah pertemuan pertama kami di supermarket, tetapi karena aku malah melontarkan kalimat yang tidak perlu, aku justru membongkar rahasiaku sendiri.


Tampaknya dia benar-benar tidak ingin sisi manjanya di depan sang adik ketahui oleh orang lain, sehingga Kamijou-san sampai kehilangan ketenangannya. Bahkan, entah karena sosok sang kakak yang sedang marah itu menakutkan bagi sang adik atau bagaimana, Sana-chan justru berlari menyelamatkan diri ke arahku dan memeluk kakiku erat-erat. Karena sudah telanjur ketahuan sampai sejauh ini, rasanya percuma saja jika aku terus mengelak.


"Maaf, sebenarnya aku memang melihatnya...... tapi tenang saja, aku tidak akan mengatakannya kepada siapa pun......!"


"Anda pikir saya bisa percaya......!?"


Ya, sepertinya tidak mungkin, sih. Terutama karena dia tampaknya adalah tipe orang yang penuh curiga, mana mungkin dia bisa memercayai diriku yang baru saja dikenalnya. Namun, di situasi ini, aku tidak punya pilihan selain meyakinkannya agar dia percaya.


"Onii-chan, kasihan ya?"


Mungkin karena itu adalah kosakata yang baru saja dipelajarinya, begitu menyadari bahwa Kamijou-san tidak sedang marah kepadanya, Sana-chan memiringkan kepala kecilnya dengan wajah cuek seolah-olah hal itu bukan urusannya.


Namun, karena dia tetap terlihat menggemaskan, rasanya anak kecil itu egois sekali.


"──Kalian berdua~? Jangan jalan duluan dong~?"


Di saat aku sedang teralihkan oleh Sana-chan sembari terus dipelototi oleh Kamijou-san, menyusul di belakang Kamijou-san, muncullah seorang wanita dewasa yang memancarkan kesan tenang dan lemah lembut, dengan rambut perak yang panjang dan lurus.


Dari gaya bicaranya yang santai, dia terlihat seperti orang yang sangat baik──tetapi begitu melihat wajahnya, aku sontak mematung. Bahkan, wanita di seberang sana pun ikut mematung begitu melihat wajahku.


"......Y-Yuuto, kun......?"

Setelah beberapa detik saling bertatapan, dia akhirnya membuka suara perlahan. Sembari matanya terbelalak, dia memanggil namaku dengan suara yang bergetar.


Wanita cantik yang baru saja muncul itu──tidak lain adalah mantan pacarku saat zaman SMA dulu, Kamijou Mirei-chan.


"Mama~!"


Sana-chan melepaskan pelukannya dariku, lalu berlari kencang untuk memeluk Mirei-chan.


Sana-chan memancarkan aura 'aku sayang sekali sama Mama' dari seluruh tubuhnya, yang membuatnya terlihat sangat menggemaskan.

Pemandangan ini tentu bisa dibilang sebagai momen yang menyejukkan hati. Namun, sambil memandangi ibu dan anak tersebut, aku──justru merasa sangat canggung akibat pertemuan kembali yang tak terduga ini.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close