Penerjemah: Miru-chan
Proffreader: Miru-chan
Chapter 3
Permintaan dari Putri Mantan Pacar
Beberapa hari telah berlalu sejak aku diancam oleh Kamijou-san. Meskipun aku masih sedikit memikirkan tentang Mirei-chan, sekarang ada hal lain yang jauh lebih menyita perhatianku. Atau lebih tepatnya, ini adalah masalah yang tidak bisa diabaikan begitu saja.
"Hari ini Murakumo-san juga tidak masuk, ya......"
Di kelas yang kuajar, ada seorang murid yang sama sekali belum pernah kulihat sejak upacara pembukaan dimulai.
Anak itu bernama Murakumo Rumi. Meskipun pada hari pertama tidak ada kabar atau laporan apa pun, dia tetap tidak masuk, dan sejak saat itu dia tidak pernah sekalipun datang ke sekolah.
Pada hari pertama, saat aku merasa cemas karena Murakumo-san membolos tanpa keterangan, Wakil Kepala Sekolah sempat berkata, 'Ah~ tidak usah dipikirkan. Daripada itu, lebih baik kamu fokus memikirkan cara untuk menertibkan kelas itu saja.' Oleh karena itu, aku pun mencoba untuk tidak terlalu memikirkannya, tapi......
Jika terus dibiarkan seperti ini, kurasa kondisinya akan menjadi benar-benar gawat. Namun, mengingat Wakil Kepala Sekolah mengetahuinya, bisa jadi alasannya berkaitan dengan masalah keluarga. Ditambah lagi, sejak awal aku sama sekali tidak tahu murid ini merupakan tipe anak yang seperti apa.
Kemungkinan dia enggan datang karena tidak menyukai kelas 2-E yang tampaknya dipenuhi oleh anak-anak bermasalah, rasanya sangat kecil. Sebab, pembagian kelas untuk tahun ajaran baru baru diumumkan di sekolah pada pagi hari di hari pertama masuk, jadi dia tidak akan mengetahuinya jika tidak datang ke sekolah.
......Tidak, apakah ada kemungkinan dia sempat melihat kertas pengumuman kelas di pagi hari, lalu langsung memutuskan untuk pulang saat itu juga......?
Aku tidak tahu.
Untuk saat ini, aku membutuhkan informasi mengenai Murakumo-san. Berpikir demikian, saat jam istirahat makan siang tiba, aku pun memanggil Kamijou-san untuk pergi ke area belakang gedung sekolah.
"Ehm...... Jika Anda berpikir kita menjadi akrab hanya karena masalah orang itu, itu adalah sebuah kesalahpahaman yang besar, lho. Tidak peduli apa pun hubungan antara Sensei dengan orang itu, saya sama sekali tidak menaruh minat pada Anda."
Begitu tiba di belakang gedung sekolah, Kamijou-san langsung melayangkan protes dengan ekspresi wajah yang sedingin es, tetapi aku hanya menanggapinya dengan senyuman santai.
"Tidak, ada hal di luar urusan Mirei-chan yang ingin kutanyakan padamu."
"Memanggil seorang gadis ke tempat yang sepi begini, bukankah tindakan Anda sangat mencurigakan......?"
Begitu mendengar perkataanku, Kamijou-san langsung menyipitkan matanya dan mendekap erat tubuhnya sendiri. Seolah-olah dia sedang merasa cemas bahwa keselamatan dirinya sedang terancam.
"Kan kamu sendiri yang pertama kali membawaku ke tempat ini waktu itu!? Aku hanya mencoba penuh perhatian agar pembicaraan kita tidak terdengar oleh murid-murid yang lain......!"
"Artinya, Anda ingin menyatakan cinta? Sungguh merepotkan, ya. Apakah saya perlu melaporkannya ke pihak berwajib?"
"Kan sudah kubilang bukan itu tujuannya!? Aku kan bilang ada hal yang ingin kutanyakan padamu!"
Aku bergegas menghentikan Kamijou-san yang secara perlahan mulai mengeluarkan ponsel dari balik roknya.
Anak ini, padahal di dalam kelas dia adalah tipe anak pendiam yang jarang bicara dan selalu bersikap ketus, tetapi entah mengapa begitu kami sedang berdua saja, dia langsung berubah drastis menjadi suka menjahiliku.
"......Jadi, apa yang ingin Anda tanyakan kepada saya?"
Mungkin karena sudah merasa puas setelah melihat reaksiku yang panik, Kamijou-san langsung berubah kembali menjadi gadis yang ketus dalam sekejap.
Entah mengapa. Anak ini membuatku sangat kewalahan, sampai-sampai aku berpikir apakah dia benar-benar putri dari Mirei-chan.
......Ah, dia kan memang bukan putri kandungnya.
"Kamu pasti tahu murid yang bernama Murakumo-san di kelas kita, kan?"
Begitu aku menyebutkan nama tersebut, Kamijou-san langsung mengernyitkan dahinya seketika. Ekspresi wajahnya tampak seolah-olah aku baru saja melemparkan sebuah urusan yang sangat merepotkan kepadanya.
"Sejak naik ke kelas dua, dia belum pernah datang sekalipun. Apakah kamu tahu suatu alasan di balik hal itu?"
Dibandingkan denganku yang baru mengajar di sekolah ini pada tahun ajaran sekarang, Kamijou-san yang sudah berada di sini sejak tahun lalu pasti jauh lebih memahami situasi atau urusan seperti ini. Dia tampaknya adalah tipe anak yang di luar dugaan sangat memperhatikan keadaan di sekitarnya, jadi aku berharap setidaknya bisa mendapatkan sedikit petunjuk.
"Haaah...... Anak itu adalah murid yang tiba-tiba berhenti datang ke sekolah di pertengahan semester 3 pada tahun lalu. Sejak saat itu, dia sama sekali tidak pernah masuk sekolah lagi──singkatnya, dia membolos secara kronis."
Kamijou-san menghela napas panjang, lalu memberikan penjelasan dengan nada suara yang datar. Aku memang sempat mempertimbangkan kemungkinan itu, tetapi ternyata dugaanku benar......
Meskipun tatapan mata Kamijou-san seolah-olah sedang menghakimiku dengan berkata, 'Setidaknya periksalah buku absen tahun lalu untuk mengetahui hal semacam itu', tetapi maaf saja. Kupikir bertanya langsung kepadamu akan jauh lebih cepat.
Sebab, daripada fakta bahwa dia sudah sering absen sejak tahun lalu, hal yang sebenarnya paling ingin kuketahui adalah alasan mengapa dia tidak masuk sekolah.
"Kenapa dia tidak masuk sekolah?"
"Mana saya tahu hal seperti itu. Tidak mungkin saya mengetahuinya, kan. Atau lebih tepatnya, kurasa tidak ada satu orang pun yang tahu."
Kamijou-san menggelengkan kepalanya dengan malas. Namun, aku justru menangkap adanya kejanggalan dari jawaban tersebut.
"Bagaimana kamu bisa tahu kalau tidak ada satu orang pun yang tahu?"
Jika Kamijou-san tidak mengetahuinya, hal itu masih bisa dimaklumi. Bahkan, andai ada teman seangkatan yang berhenti sekolah tanpa diketahui alasannya oleh murid lain, itu adalah hal yang sangat lumrah. Namun, bagaimana bisa dia menyimpulkan bahwa tidak ada satu orang pun yang tahu? Bukankah kalimat seperti itu tidak akan keluar jika seseorang tidak mengetahui seluk-beluk situasinya sampai batas tertentu?
Karena berpikir demikian, aku pun mencoba mengulik bagian tersebut.
"Anak itu awalnya adalah tipe anak yang pendiam, dan lingkungan pertemanannya juga sangat sempit. Setelah dia tidak pernah datang lagi ke sekolah, guru-guru yang lain sempat bertanya kepada anak-anak yang dulu sering bergaul dengannya, tetapi mereka semua menjawab tidak tahu."
Ternyata dugaanku benar, meskipun dia selalu bersikap seolah tidak peduli dengan lingkungan sekitar, dia adalah anak yang sangat jeli dalam mengamati sekelilingnya. Jika situasinya seperti itu, wajar saja jika dia menjawab 'seharusnya tidak ada yang tahu'. Lagipula, jika teman-teman dekatnya saja tidak tahu, sangat kecil kemungkinan bagi murid lain yang hampir tidak pernah berinteraksi dengannya untuk mengetahui alasan yang sebenarnya.
Kalau sudah begini, apa yang harus kulakukan...... bahkan jika aku bertanya kepada anak-anak yang dulu akrab dengan Murakumo-san, mereka pasti hanya akan memberikan jawaban 'tidak tahu'.
Apakah aku harus mengunjungi rumahnya?
Tidak, mendatangi rumahnya secara tiba-tiba di saat aku belum mengetahui situasinya sama sekali adalah tindakan yang kurang bijak. Hal itu justru bisa memberikan tekanan tersendiri bagi Murakumo-san, dan ada kemungkinan juga jika masalah yang dihadapinya berkaitan dengan urusan internal keluarga.
Jika kondisinya demikian, tindakan tersebut justru berisiko memicu kewaspadaan dari pihak orang tua Murakumo-san. Oleh karena itu, jika ingin bertindak, setidaknya aku harus mengumpulkan informasi yang lebih banyak terlebih dahulu.
Kurasa masih ada bagian lain yang bisa kuselidiki, jadi sebaiknya aku tidak perlu terburu-buru──
Tepat di saat aku sedang berpikir demikian. Di saat aku sedang kebingungan sambil berpikir keras, Kamijou-san yang sejak tadi terus menatapku lekat-lekat, akhirnya membuka suara secara perlahan.
"Tapi...... ada rumor yang beredar seperti ini. Kabarnya, dia berhenti datang ke sekolah karena menjadi korban perundungan......"
"......Perundungan......"
Mendengar kata itu, aku langsung mengernyitkan dahi.
Masalah perundungan──sesuatu yang seharusnya tidak boleh terjadi, tetapi merupakan masalah yang seolah tidak bisa dipisahkan dari kehidupan sekolah.
Pada kenyataannya, meskipun hal ini sudah dianggap sebagai masalah serius sejak puluhan tahun yang lalu, kasus-kasus serupa masih sangat sering diangkat di dalam berita hingga sekarang. Terlebih lagi, berita-berita semacam itu biasanya baru mencuat setelah situasinya berkembang menjadi korosif dan tidak bisa diperbaiki lagi. Kemungkinan besar, masih banyak kasus perundungan lain yang tidak terungkap karena korbannya tidak bisa meminta bantuan, atau sengaja ditutup-tutupi oleh pihak sekolah agar tidak sampai diketahui publik.
Tidak hanya itu, meskipun pihak guru sudah mengawasi dengan jeli, murid-murid terkadang melakukannya secara sembunyi-sembunyi di belakang, sehingga sangat sulit untuk mendeteksinya. Jika ini memang benar-benar kasus perundungan, aku harus memikirkan sebuah strategi untuk mengatasinya.
"Karena sampai menjadi rumor, apakah sejak awal anak itu adalah tipe murid yang memang sering dijadikan bahan ejekan di kelasnya?"
"Tidak, bukan begitu."
Mendengar pertanyaanku, Kamijou-san menjawab dengan singkat lalu menggelengkan kepalanya.
"Ini benar-benar murni sebatas rumor saja. Saya sendiri belum pernah melihatnya dirundung secara langsung, dan murid-murid yang lain pun hanya mengira-ngira seperti itu karena dia tiba-tiba berhenti masuk sekolah. Lagipula, salah satu teman yang selalu bersamanya adalah seorang murid yang sangat populer di angkatan kami, sekaligus teman masa kecilnya. Jika ada yang merundung Murakumo-san, orang itu pasti akan dibenci oleh si murid populer tersebut. Jadi, rasanya tidak mungkin ada orang yang berani mengusiknya."
Seorang murid yang sangat populer di angkatan, ya......
Kalau begitu, apakah dia adalah tipe anak yang mirip dengan Mirei-chan dulu?
Memang benar, saat aku masih SMA dulu, ada banyak orang yang berkumpul di sekeliling Mirei-chan, dan cukup banyak anak yang berusaha keras mengambil hatinya agar bisa disukai olehnya.
Hal itu berlaku baik bagi murid laki-laki maupun perempuan. Mereka tidak hanya bersikap baik kepada Mirei-chan saja, tetapi juga memperlakukan teman-teman dekat Mirei-chan dengan sangat ramah.
Bisa dibilang, itu adalah fenomena kasta atas dalam lingkungan sosial sekolah. Jika situasinya mirip seperti itu, mengingat teman masa kecil Murakumo-san adalah orang yang populer dan hubungan mereka berdua sangat akrab, maka persis seperti yang dikatakan Kamijou-san, rasanya sulit dipercaya jika ada murid lain yang berani mengusiknya.
──Namun, itu hanyalah apa yang terlihat di permukaan. Justru karena dia berteman akrab dengan si murid populer tersebut, ada kemungkinan besar dia malah dijadikan musuh dalam selimut oleh orang lain, lalu dirundung secara sembunyi-sembunyi di tempat yang tidak diketahui oleh siapa pun.
"Kalau begitu, bolehkah aku tahu siapa nama teman masa kecilnya itu? Karena aku ingin mencoba berbicara dengannya terlebih dahulu."
"Boleh saja, sih──"
Setelah mendapatkan nama anak itu dari Kamijou-san, aku pun segera bergegas menuju ke tempatnya berada.
◆
"──Luar biasa......"
Saat aku pergi mengintip ke kelas 2-A, aku dibuat takjub oleh pemandangan murid-murid perempuan yang sedang merapatkan meja mereka dan makan bento bersama dengan sangat akrab.
Ada lebih dari sepuluh orang berkumpul di sana, dan pandangan mereka semua tertuju pada seorang gadis cantik. Setiap kali gadis cantik itu berbicara, murid-murid yang lain akan mengangguk setuju atau tertawa bersama sambil tersenyum ceria. Berdasarkan apa yang kulihat, tampaknya mereka semua sudah selesai menyantap bento masing-masing. Karena aku sering datang untuk mengajar mata pelajaran matematika di kelas ini, aku tahu bahwa gadis yang sedang menjadi pusat perhatian itu adalah teman masa kecil Murakumo-san, yang bernama Bidou Sayaka-san.
Masuk ke dalam lingkaran seperti itu dan memanggilnya, rasanya membutuhkan keberanian yang besar bahkan bagi seorang guru sekalipun......
Jika situasi ini terjadi saat aku masih berstatus sebagai murid dulu, aku pasti akan memilih untuk menghindari lingkaran pertemanan seperti itu. Sebab jika aku nekat memanggilnya, murid-murid perempuan di sekelilingnya pasti akan melemparkan tatapan mata dingin yang seolah-olah berkata, 'Siapa sih orang ini?'.
Sejujurnya, dalam artian yang berbeda dengan Kamijou-san, Bidou-san adalah tipe murid yang sangat sulit untuk diajak bicara secara tiba-tiba.
Apakah sebaiknya aku menunggunya sampai sepulang sekolah saja......?
Tidak, tipe anak seperti dia pasti akan tetap dikelilingi oleh teman-temannya bahkan setelah bel pulang berbunyi, dan biasanya mereka akan langsung pergi bermain bersama. Atau lebih tepatnya, bahkan di jam istirahat singkat setelah pelajaran berakhir pun, dia pasti akan langsung dikerumuni oleh murid-murid lain.
Jika kondisinya memang seperti itu, kapan pun aku memanggilnya rasanya akan sama saja──jadi, aku memutuskan untuk memantapkan tekadku.
"Permisi, apakah Bidou-san ada di dalam?"
Begitu aku memanggilnya dari luar pintu kelas, seperti pasukan tentara yang sudah terlatih, wajah murid-murid perempuan di sana langsung menoleh ke arahku secara serentak.
Ugh, menyeramkan sekali. Suasananya mendadak menjadi sangat canggung. Kenapa ya, di sekolah ini selalu saja ada beberapa murid perempuan yang memiliki kemampuan luar biasa untuk mengendalikan orang lain seperti ini......?
"Ah, Shirosaki-sensei. Iya, saya di sini, kok."
Di tengah atmosfer yang menegangkan itu, seperti setangkai bunga yang mekar di medan perang, Bidou-san bangkit dari tempat duduknya dengan senyuman yang sangat manis.
Sembari menahan teman-temannya yang berniat ikut menyusul dengan senyuman, dia melangkah ke arahku dengan gerakan kaki yang anggun.
"Maaf ya karena sudah mengganggu waktu makanmu."
"Tidak apa-apa, kok. Kami semua sudah selesai makan dan hanya sedang mengobrol biasa saja. Di samping itu, ada keperluan apa ya?"
Setelah memberikan jawaban ramah sambil tersenyum agar aku tidak merasa enak, dia memiringkan kepalanya sedikit dengan heran sembari bertanya. Ternyata dia benar-benar anak yang memiliki kepribadian yang sangat baik, persis seperti Mirei-chan dulu.
"Bidou-san, kamu adalah teman masa kecil Murakumo-san, kan?"
"......"
Tepat di saat aku menyebutkan nama Murakumo, ekspresi wajah Bidou-san sempat menegang sesaat.
──Atau setidaknya, begitulah yang tampak di mataku, sebelum dia akhirnya menundukkan kepalanya dengan tatapan mata yang terlihat sedih.
"Apakah ini mengenai Rumi-chan......? Kalau tidak salah, sekarang Rumi-chan masuk ke kelas 2-E yang diwawancarai oleh Shirosaki-sensei sebagai wali kelasnya, ya......"
Padahal ini bukan mengenai murid dari kelasnya sendiri, ditambah lagi murid yang bersangkutan bahkan tidak pernah datang ke sekolah, tetapi Bidou-san ternyata mengetahui dengan jelas di kelas mana Murakumo-san ditempatkan. Ternyata, mereka berdua memang benar-benar akrab.
Ketika anak sedekat itu berhenti sekolah, sangat wajar jika dia langsung memasang ekspresi sedih begitu nama temannya dibahas.
"Benar. Aku berharap mungkin kamu mengetahui suatu alasan atau situasinya, tapi......"
"Mohon maaf...... Saya sendiri juga tidak mengetahuinya...... Dia tiba-tiba saja berhenti datang ke sekolah, dan saat saya mencoba menghubunginya, sama sekali tidak ada balasan...... Bahkan ketika saya pergi mengunjungi rumahnya, dia tidak mau menemui saya......"
Tepat seperti yang sudah kuduga, dia memberikan jawaban 'tidak tahu'. Sampai di titik ini, semuanya masih sesuai dengan perkiraanku.
"Saya juga sempat mendengar rumor tentang perundungan, tetapi bagi saya hal itu sangat sulit dipercaya. Baik di sekolah maupun saat berangkat dan pulang sekolah, kami hampir selalu bersama. Saya tidak pernah sekalipun melihat Rumi-chan mengalami hal semacam itu......"
Bidou-san berinisiatif menceritakan hal itu sendiri, bahkan sebelum aku sempat menyinggung masalah perundungan.
Sebagai teman masa kecil, rute mereka menuju sekolah pasti hampir sama. Jika di sekolah pun mereka sering menghabiskan waktu bersama, maka apa yang dikatakannya memang masuk akal.
Jangan-jangan, karena orang-orang di sekitarnya telanjur menyimpulkan bahwa ini adalah kasus perundungan, Murakumo-san justru menjadi semakin sulit untuk menyuarakan alasan yang sebenarnya......? Jika dia bahkan menolak untuk menemui Bidou-san yang datang berkunjung, apakah ada kemungkinan terjadi kekerasan dalam rumah tangga atau penganiayaan, sehingga dia berada dalam kondisi yang tidak memungkinkan untuk menemui orang lain......? Atau skenario yang lebih ekstrem lagi, ada seseorang yang selalu mengawasinya di rumah dan mengancam Murakumo-san agar tidak mengatakan apa pun kepada Bidou-san......?
──Tidak, kalau itu rasanya aku sudah berpikir terlalu jauh...... namun, apa sebenarnya alasan yang membuatnya enggan menemui Bidou-san yang merupakan teman masa kecilnya sendiri?
Bukannya terpecahkan, misteri ini justru menjadi semakin membingungkan.
"Maaf ya, terima kasih banyak. Biar nanti aku coba pikirkan lagi sendiri."
Jika aku menahannya di sini lebih lama lagi, tatapan mata murid-murid perempuan yang sejak tadi mengawasiku dari kejauhan akan terasa semakin mengintimidasi. Oleh karena itu, aku memutuskan untuk menyudahi pembicaraan kami.
Meskipun teka-teki ini belum terjawab sama sekali, tampaknya tidak banyak informasi yang bisa kuulik darinya, jadi apa boleh buat. Kurasa tidak ada pilihan lain selain memikirkan hal ini baik-baik saat hari libur nanti untuk merapikan kembali situasinya.
◆
Hari Sabtu berikutnya──aku sedang duduk di bangku sebuah taman yang terletak di dekat apartemen tempat tinggalku, sembari tenggelam dalam pikiran.
"Pada akhirnya, tetap tidak ada petunjuk baru, ya......"
Aku sudah mencoba memanfaatkan waktu istirahat di sekolah untuk mencari informasi yang sekiranya berkaitan, bahkan sempat mencoba mengulik informasi secara tersirat dari guru-guru yang tahun lalu mengajar kelas satu serta dari Wakil Kepala Sekolah, tetapi hasilnya nihil.
Karena pada dasarnya dia adalah anak yang pendiam dan kurang menonjol, ditambah lagi dia hampir tidak pernah menjadi pusat perhatian jika sedang tidak bersama Bidou-san, tampaknya memang tidak ada informasi yang melebihi apa yang telah diketahui oleh Bidou-san.
"Merepotkan juga, ya......"
"──Apanya yang melepotkan?"
"──ッ!?"
Di saat aku sedang menatap ke langit sambil menghela napas panjang, tiba-tiba terdengar sebuah suara dari arah bawah.
Begitu aku menurunkan pandanganku, tampak seorang anak perempuan kecil berambut perak yang sedang memiringkan kepalanya sedikit sambil menatap wajahku. Bahkan, dia sudah menyusup masuk berdiri di antara kedua celah kakiku.
"Sana-chan...... Kenapa kamu bisa ada di sini......?"
"Seharusnya, itu adalah kalimat yang ingin saya ucapkan, bukan?"
"............"
Padahal aku bertanya kepada Sana-chan, tetapi kali ini sebuah suara terdengar dari arah serong atas. Ketika aku mendongak untuk melihatnya, tampak Mirei-chan yang sedang berdiri menatapku dengan pandangan sinis seolah sedang merajuk.
Ooo......
"Sana selalu main di taman ini, lho!"
Sana-chan yang tampaknya sama sekali tidak menyadari tatapan dingin dari Mirei-chan, langsung mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi dan memberi tahu dengan penuh semangat, seolah-olah sedang berseru 'Hadir!'.
Untuk sementara, sepertinya mulai besok aku harus menghindari taman yang satu ini.
"O-Oh, begitu ya."
"Onii-chan lagi ngapain di sini? Apakah sengaja nungguin Sana di sini biar bisa main bareng?"
Sana-chan menggoyangkan badannya ke kiri dan ke kanan dengan senyuman yang tampak gembira, lalu mendongak menatap wajahku dengan penuh harap.
Bagaimanapun aku memikirkannya, tidak mungkin aku sengaja menunggunya di tempat seperti ini, tetapi anak ini tampaknya memiliki dunianya sendiri.
Atau lebih tepatnya, apakah ini sebuah ajakan untuk bermain bersama?
"Bukan, Aku lagi mikir──"
"......Ugh, hiks."
"──ッ!? Oh, i-iya, benar! Aku sengaja nunggu di sini karena mau main bareng Sana-chan, kok!"
Begitu aku mencoba menyangkal, air mata Sana-chan mendadak mulai menggenang, membuatku panik dan langsung mengubah arah pembicaraan. Seketika itu juga, ekspresi wajah Sana-chan langsung berbinar gembira.
"Wah, asyik! Sana juga mau main sama Onii-chan!"
Sana-chan yang kembali tersenyum ceria langsung duduk mepet di sebelahku.
Anak yang sangat ekspresif dan berjiwa bebas, ya......
Sifat yang seperti itu mungkin memang menjadi salah satu daya tarik dari anak sekecil dia. Meski begitu, padahal aku sangat ingin menghindari interaksi apa pun dengan Mirei-chan karena atmosfer di antara kami yang canggung, siapa sangka aku justru berakhir harus bermain dengan putrinya......
Yah, mau bagaimana lagi. Di saat anak sekecil itu memasang wajah yang seolah akan menangis, aku sama sekali tidak bisa menolaknya...... Ditambah lagi, membuat Sana-chan menangis pada dasarnya adalah hal yang buruk, tetapi jika sampai Kamijou-san tahu kalau aku membuatnya menangis...... membayangkannya saja sudah membuatku ngeri.
Salah-salah, dia bisa saja menghasut teman-teman sekelasnya untuk memusuhi diriku.
"Onii-chan, kita mau main apa? Sana bebas kok, mau main apa saja boleh!"
Di saat tanpa sadar aku sedang menatap kosong ke langit, Sana-chan menarik-narik ujung bajuku beberapa kali.
Anak ini, berbeda dengan Kamijou-san, tampaknya adalah tipe anak yang sama sekali tidak memedulikan pandangan orang di sekitarnya...... Kira-kira, bagaimana pendapat Mirei-chan melihat aku dan Sana-chan bermain bersama, ya?
Berpikir demikian, aku melirik sekilas untuk membaca situasi dari ekspresi wajah Mirei-chan. Namun, dia justru tampak duduk dengan tenang di sebelah Sana-chan sembari menundukkan pandangannya, seolah-olah berpura-pura tidak melihat apa pun yang terjadi di dekatnya.
Apakah ini berarti dia memilih untuk menutup mata dan mengizinkan aku bermain dengan putrinya......?
"Aku juga bebas mau main apa saja. Biasanya kalau di sini kamu suka bermain apa?"
"Emm~? Biasanya Sana main perosotan, ayunan, atau main pasir......!"
Sana-chan meletakkan jarinya di bibir seolah sedang berpikir keras, lalu menunjuk ke arah fasilitas yang ada di taman untuk memberi tahu aktivitasnya. Variasi permainannya cukup banyak, ya......
Berbeda dengan kakaknya, dia tampaknya adalah anak yang sangat aktif dan penuh energi.
"Kalau begitu, bagaimana kalau kita bermain ayunan saja?"
"Mau!"
Bermain pasir agak membuatku ragu karena baju dan tangan pasti akan kotor──atau lebih tepatnya, aku cemas jika baju Sana-chan sampai kotor, Mirei-chan akan merasa risi karena berpikir 'mencucinya pasti akan merepotkan......!'. Oleh karena itu, aku memilih opsi aman dengan mengajaknya bermain ayunan.
Begitu aku bangkit dari bangku taman, Sana-chan langsung menggenggam tanganku. Di saat aku sedang terkejut karena tanganku tiba-tiba digandeng secara spontan, Sana-chan mendongak menatap wajahku sambil menyunggingkan senyuman manis 'ehehe' yang sangat menggemaskan.
Apakah dia seorang malaikat......!?
Dia benar-benar sangat manis, dan di luar dugaan adalah anak yang sangat mudah akrab dengan orang lain. Kemungkinan besar Mirei-chan mendidiknya dengan penuh limpahan kasih sayang dan perhatian yang besar. Tapi, kalau pemandangan ini sampai terlihat oleh ayahnya Sana-chan, tamatlah riwayatku......?
──Meskipun rasa cemas sempat melintas di benakku, aku tetap tidak bisa menolak keimutan dari anak perempuan kecil ini.
"Dorong, ya?"
"Iya......!"
Setelah mendudukkan Sana-chan di ayunan, aku melangkah ke arah belakang dan mulai menggerakkan ayunannya perlahan.
Sana-chan tidak mencoba mengayunkan kakinya sendiri; melainkan bersandar dengan nyaman di ayunan seolah-olah sedang bermanja kepadaku.
◆
"Ehehe...... Onii-chan, seru banget, ya!"
Sembari mendorong punggung Sana-chan dengan lembut agar ayunannya tidak bergerak terlalu kencang, Sana-chan yang sedang berayun tiba-tiba menoleh ke arahku dengan senyuman yang merekah lebar di wajahnya.
Aduh, aku harus bagaimana, nih. Anak ini benar-benar terlalu menggemaskan......
Sesuai dugaan, karena dia mewarisi darah dari Mirei-chan, fitur wajahnya memang terlihat sangat teratur dan cantik. Namun, di luar itu semua, sifat dan kepribadiannya jauh lebih menggemaskan.
Hal itu membuatku sangat ingin memanjakannya, hingga tanpa sadar aku membatin──apakah rasanya akan seperti ini jika kelak aku memiliki anak sendiri nanti?
Mengingat saat ini aku tidak memiliki kekasih, bahkan tidak ada gadis yang dekat denganku selain teman masa kecilku, masa depanku tampaknya akan berakhir sebagai seorang lajang, sehingga hari-hari menyenangkan seperti ini mungkin tidak akan pernah datang lagi untuk kedua kalinya.
"Iya, Aku juga merasa seru, kok."
"Ngg......!"
Saat aku membalas senyuman cerianya, Sana-chan mengangguk mantap dengan puas, lalu kembali menghadap ke depan.
Aku pun terus mendorong ayunan itu sampai Sana-chan merasa puas bermain.
"──Onii-chan, selanjutnya main perosotan......!"
Begitu selesai bermain ayunan dan merasa puas, alih-alih duduk beristirahat di bangku taman terlebih dahulu, Sana-chan justru langsung mengajakku bermain perosotan. Pemandangan itu kembali menyadarkanku bahwa stamina seorang anak kecil memang luar biasa besar meskipun mereka masih sangat muda.
Tentu saja, di saat dia memintanya dengan senyuman semanis malaikat, mana mungkin aku tega untuk menolaknya.
"Boleh, yuk."
Sembari tersenyum, aku pun melangkah menuju perosotan dengan tangan yang ditarik erat oleh Sana-chan. Kemudian, setelah menaiki anak tangga perosotan, Sana-chan berdiri di atas sembari menatap ke arahku dari atas dengan memiringkan kepalanya sedikit.
"Onii-chan, nggak naik ke sini?"
"Eh......?"
Aku yang semula berniat menunggunya turun di bagian bawah perosotan langsung merasa agak bingung.
Perosotan yang ada di taman ini memang memiliki bidang seluncuran yang cukup lebar, sehingga orang dewasa pun tampaknya bisa ikut meluncur. Namun, di usiaku yang sekarang, bermain perosotan rasanya agak membuatku merasa canggung.
"Sana mau meluncur bareng Onii-chan......"
Mendengar jawabanku, Sana-chan langsung menatap wajahku lekat-lekat dengan mata yang berkaca-kaca.
Gawat, anak ini......
Karena dia adalah tipe anak yang jika permintaannya ditolak akan langsung terlihat seperti mau menangis lewat tatapan matanya, aku pun menyadari bahwa menolak permintaan anak ini adalah sebuah kemustahilan yang mutlak.
Terlebih lagi, karena aku sama sekali tidak ingin dibenci oleh Sana-chan, aku pun segera bergegas menaiki tangga perosotan.
"Kalau meluncur bersama itu......"
"Ngg, gendong!"
Sana-chan yang menyadari aku sudah berada di belakangnya langsung meminta digendong. Namun, tubuhnya tidak berbalik ke arahku. Tampaknya dia ingin aku menggendongnya dari belakang untuk meluncur bersama.
Aduh, kalau posisi seperti itu, sebenarnya agak berbahaya jika tanganku sampai terpeleset......
"Tidak boleh......?"
Melihatku yang malah mematung, Sana-chan kembali menoleh ke arahku dengan ekspresi wajah yang memelas seolah sedang bersandar penuh harap.
Anak ini, besarnya nanti kayaknya bakal jadi titisan penyihir kecil deh...... gumamku dalam hati, karena dia benar-benar sangat pandai memicu insting protektifku.
Yah, dari sudut pandang anak seusianya, dia pasti melakukan hal ini secara alami tanpa ada maksud terselubung atau dibuat-buat. Namun, justru karena kepolosan alaminya itulah, aku seperti bisa melihat masa depan di mana dia akan tumbuh menjadi sosok gadis lihai yang dengan mudah bisa membolak-balikkan hati pria di dalam genggaman tangannya.
Kakaknya, Kamijou-san, melakukan hal serupa dengan perhitungan yang matang, dan anak itu juga sangat pandai mengendalikan orang lain di bawah kendalinya, sih......
"Emm, boleh kok. Tapi karena ini agak berbahaya, kamu jangan banyak tingkah saat meluncur nanti, ya?"
"Iya......!"
Begitu aku mengangkat tubuhnya dengan lembut dari belakang, Sana-chan langsung melemaskan seluruh otot tubuhnya. Berkat hal itu, entah mengapa bobot tubuhnya terasa menjadi lebih berat dari sebelumnya, tetapi aku tidak memedulikannya dan langsung duduk di atas seluncuran sambil mendudukkan Sana-chan di atas pangkuanku. Kemudian, begitu kami meluncur bersama──
"Waaaaaaa!"
──Sana-chan langsung berteriak dengan suara melengking yang terdengar sangat gembira.
Tentu saja, sudah bisa dipastikan jika Sana-chan tidak akan langsung merasa puas hanya dengan sekali meluncur, sehingga kami berakhir harus mengulanginya berkali-kali secara terus-menerus.
Sudah lama sekali rasanya aku tidak pernah bermain perosotan lagi, tetapi karena Sana-chan yang berada di dalam dekapanku tampak sangat menikmati permainan ini, perasaanku pun ikut menjadi senang.
......Meski begitu, jika dipikir-pikir kembali, anak ini rasanya terlalu manja kepadaku padahal kami baru saja saling mengenal...... Apakah dia memang murni tipe anak yang sangat mudah akrab dengan orang baru? Meskipun aku menaruh curiga akan hal itu, aku memilih untuk menyimpannya sendiri dan tidak mengucapkannya dengan lantang.
◆
"Onii-chan, tadi seru nggak?"
Saat matahari sudah mulai tenggelam di ufuk barat.
Sembari duduk di bangku taman bersama Sana-chan yang tampak kelelahan setelah puas bermain, Sana-chan memiringkan kepalanya sedikit sambil mendongak menatap wajahku. Dari senyumannya yang merekah lebar, aku bisa tahu jika hari ini adalah hari yang sangat memuaskan dan berkesan baginya.
"Tentu saja seru sekali. Kalau menurut Sana-chan sendiri bagaimana?"
"Sana juga merasa seru baaaanget!"
Begitu aku bertanya balik, Sana-chan langsung memelukku erat-erat dengan senyuman yang sangat ceria. Padahal kami baru pertama kali bertemu dan hanya menghabiskan waktu bermain selama setengah hari saja, tetapi dia tampaknya sudah menjadi sangat lengket denganku.
......Kira-kira, apakah ayahnya Sana-chan tidak akan marah jika melihat hal ini, ya......
Mengingat hubungan masa laluku dengan Mirei-chan yang rumit, hal semacam itu mau tidak mau terus terlintas di dalam kepalanya.
Sebagai informasi, Mirei-chan sejak tadi hanya duduk diam di bangku taman sembari terus mengawasi kami bermain. Duduk diam di bangku taman selama setengah hari tanpa melakukan aktivitas apa pun pasti terasa sangat melelahkan, tetapi seperti yang sudah kuduga sejak dulu, tingkat kesabaran wanita ini memang luar biasa besar. Dan sekarang, dia sedang menatap ke arah kami lekat-lekat dengan ekspresi wajah yang datar tanpa emosi. Karena aku tidak bisa menebak apa yang sedang berkecamuk di dalam pikirannya, hal itu justru membuatku merasa agak ngeri.
Di saat aku sedang sibuk membatin seperti itu──
"Onii-chan, kalau hari libur nanti, main bareng Sana lagi, ya......!"
──Sana-chan yang sedang memelukku tiba-tiba menarik-narik ujung baju di bagian dadaku, lalu melayangkan ajakan dengan senyuman manisnya yang menggemaskan seperti biasa.
"Eh......?"
"Sana senang banget bisa main sama Onii-chan, jadi Sana mau main yang jauh lebih banyak lagi! Besok main lagi, ya! Minggu depan juga main lagi!"
Waduh, sepertinya tingkat kedekatan anak ini denganku sudah melampaui apa yang kubayangkan sebelumnya.
Sejujurnya, jika harus menuruti permintaannya untuk bermain bersama setiap kali hari libur tiba, batasan itu rasanya terlalu tinggi bagiku. Jika ini murni hanya tentang menemani Sana-chan saja, aku sama sekali tidak keberatan. Namun, masalahnya adalah Mirei-chan pasti akan selalu ikut mendampinginya, dan aku ragu apakah dia akan memberikan izin untuk hal tersebut.
"Maaf ya, Sana-chan. Kalau hal itu──"
"Uh, hiks......"
"──ッ!?"
Tepat di saat aku berniat untuk menolak ajakannya, Sana-chan kembali memasang wajah yang seolah-olah akan langsung menangis saat itu juga. Akibatnya, rasa bersalah yang teramat besar langsung menghantam diriku dengan telak.
Membuatku rasanya ingin langsung mengiyakan permintaannya detik itu juga. Namun, karena ini adalah sebuah topik yang agak sulit untuk langsung kusutujui begitu saja tanpa pertimbangan, aku pun melirik ke arah Mirei-chan dengan bingung untuk meminta bantuan.
Bagaimanapun juga, dia pasti tidak akan suka jika harus bertemu denganku setiap hari Sabtu dan Minggu di setiap pekan, kan......?
Atau begitulah pikirku, sebelum──
『Apakah Anda berniat untuk membuatnya menangis?』
Mirei-chan justru melemparkan tatapan mata tajam yang seolah sedang menghakimiku dengan kalimat seperti itu.
Eh, jadi dia malah menyuruhku untuk mengiyakan permintaan anaknya!?
Di tengah rasa terkejutku yang mendalam, air mata Sana-chan sudah mulai menggenang di pelupuk matanya, bahkan dia sudah mulai terisak 'hiks...... hiks......' dan berada di ambang batas sebelum tangisnya benar-benar pecah.
"Ba-baik, aku mengerti! Kita bakal main bareng setiap kali hari libur tiba kok, boleh banget!"
Karena cemas dia akan benar-benar menangis──ditambah lagi dengan fakta bahwa seiring dengan semakin dekatnya Sana-chan ke ambang tangis, tekanan intimidasi yang dipancarkan oleh Mirei-chan pun terasa semakin menguat dengan drastis, aku pun terpaksa mengangguk mantap dengan sekuat tenaga.
"Hiks...... Beneran......?"
Mengingat dia sudah sempat berada di ambang batas sebelum menangis, Sana-chan tidak langsung menunjukkan senyuman lebar di wajahnya seperti saat di perosotan tadi. Dia justru menatapku dengan pandangan dari bawah seolah sedang memelas penuh harap. Tampaknya, dia juga sedang memastikan kesungguhan dari jawabanku.
"Iya, Aku biasanya selalu punya banyak waktu luang di hari libur kok, lagipula rumahku juga dekat dari sini, jadi tidak apa-apa."
"Horeee......!"
Begitu aku mengangguk sembari tersenyum, kali ini ekspresi wajah Sana-chan langsung berubah menjadi sangat cerah dan bersinar layaknya matahari pagi.
Syukurlah kalau begitu. Namun...... dalam artian yang berbeda, apakah keputusan ini benar-benar sudah tepat......?
Meskipun tujuannya adalah murni untuk menemani Sana-chan bermain, fakta bahwa Mirei-chan sudah memiliki seorang suami berarti dia akan berakhir harus bertemu dengan pria lain di setiap akhir pekan. Apalagi statusku di sini adalah mantan pacarnya.
Hal ini pasti akan menimbulkan kesalahpahaman yang tidak perlu, dan jika suaminya sampai tahu, dia pasti akan sangat murka, bukan?
Oleh karena itu, aku melirik ke arah Mirei-chan dengan tatapan mata yang menyiratkan pertanyaan, 'Apakah ini benar-benar tidak apa-apa?'. Namun, Mirei-chan justru membalas dengan senyuman penuh arti──seolah-olah ingin berkata, 'Memangnya ada masalah?'.
Itu adalah jenis senyuman yang tidak pernah sekalipun kulihat saat kami masih di masa sekolah dulu.
Wanita ini, dalam kurun waktu hampir 10 tahun kami tidak bertemu, benar-benar sudah berubah menjadi seperti orang yang berbeda, ya...... Meskipun aku yakin pasti ada suatu pemicu di balik perubahan ini......
"Kalau begitu, aku pamit pulang sekarang, ya."
Mengingat hari sudah mulai gelap, tentu tidak baik membiarkan anak sekecil dia tetap berada di luar. Ditambah lagi, jika aku terus berada di sini, Sana-chan pasti tidak akan mau pulang-pulang. Berpikir demikian, aku pun bangkit berdiri dari bangku taman. Namun──
"Tidak boleh......!"
──Detik itu juga, aku langsung ditahan oleh Sana-chan. Atau lebih tepatnya, dia memeluk tubuhku erat-erat dan menolak untuk melepaskannya saat aku mencoba bangkit berdiri.
"Tapi, kita sudah harus pulang, lho......"
"Ayo makan malam di rumah Sana saja......! Sana mau makan malam bareng Onii-chan......!"
Alih-alih hanya sekadar menahanku agar tidak pulang, siapa sangka aku justru diundang untuk berkunjung ke rumahnya.
Tindakan seperti ini memiliki risiko yang terlalu tinggi. Terlebih lagi, mengingat keberadaan sosok ayahnya Sana-chan serta Kamijou-san, aku pasti akan berakhir merasa sangat canggung dan tersudut di sana, sehingga aku pun menjadi sangat kebingungan. Lagipula, kurasa Mirei-chan pasti akan melarangnya──atau begitulah yang kupikirkan, sebelum......
"Ara ara...... Repot sekali, ya?"
Meskipun mulutnya berkata demikian, ekspresi wajahnya justru menyunggingkan senyuman yang sedikit usil, seolah-olah dia sedang menikmati melihat diriku yang sedang dibuat kelimpungan oleh Sana-chan.
Eh, tunggu dulu...... Apakah ini artinya aku benar-benar akan langsung menuju ke rumah mantan pacarku......?
Aku tidak bisa menghilangkan perasaan cemas bahwa diriku, hanya karena ulah satu anak perempuan kecil, akan segera dihadapkan pada situasi pelik yang teramat kacau.
◆
"Aku pulang!"
Dengan kondisi tangan yang terus ditarik oleh Sana-chan, aku pun akhirnya tiba di rumah Mirei-chan. Berbeda denganku yang tinggal di apartemen, dia tampaknya tinggal di sebuah rumah tapak yang berukuran cukup besar. Kemudian, setelah Mirei-chan membuka kunci dan mendorong pintu depan, Sana-chan langsung berseru dengan lantang memberikan salam──
"Selamat datang kembali~!"
──Dan tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki terburu-buru dari Kamijou-san yang sedang melangkah turun dari tangga dengan senyuman lebar yang tampak sangat memanjakan adiknya.
Yah...... Seperti dugaan, di rumah dia benar-benar berubah menjadi orang yang berbeda dibandingkan saat di sekolah.
Namun──
"Eh!?"
Muridku yang wajahnya semula tampak meleleh saking gemasnya melihat adik kecilnya yang imut, langsung membeku seketika begitu dia menyadari keberadaanku.
Apakah karena sosok yang seharusnya tidak berada di sini tiba-tiba muncul di dalam rumahnya, ataukah karena wajahnya yang sama sekali tidak ingin diperlihatkan kepada orang lain baru saja kepergok olehku...... Kurasa kedua alasan itu ada benarnya.
"Onee-chan, Sana pulang!"
Sana-chan menyapa Kamijou-san dengan senyuman ceria──lalu setelah melepaskan genggaman tangannya dariku, dia langsung menggelayut manja di lenganku seolah-olah sedang memamerkan kedekatan kami.
"Ke ke ke, Kenapa Anda bisa ada di sini!?"
"Yah...... Kurasa jika kamu melihat situasi ini, kamu pasti akan langsung paham......"
Melihat Kamijou-san yang wajahnya memerah padam saking paniknya sembari melayangkan pertanyaan 'Kenapa Sensei bisa ada di rumahku!?', aku hanya bisa mengarahkan pandanganku ke arah anak kecil yang sedang bergelayutan di lengan kananku.
Sana-chan tampak sangat senang karena telah berhasil membawaku ke rumahnya, dan sekarang dia sedang bermanja-manja sambil menggosok-gosokkan pipinya dengan nyaman di lenganku. Melihat pemandangan ini, bahkan tanpa perlu tahu kronologi kejadian di tengahnya pun, siapapun pasti sudah bisa membayangkan apa yang sebenarnya telah terjadi.
"Tapi, sejak awal kenapa Anda berdua bisa saling bertemu......!?"
Namun, mengingat hal ini tidak akan terjadi jika kami tidak bertemu terlebih dahulu, Kamijou-san masih belum bisa menerima kenyataan ini begitu saja. Meskipun jika dipikir secara objektif, kecurigaan yang dia miliki memang sangat masuk akal.
"Tadi saat aku sedang melamun di taman, Sana-chan tiba-tiba datang menyapaku......"
"Tampaknya rumah kita saling bertetangga, lho."
Di tengah interogasi dari Kamijou-san, Mirei-chan tiba-tiba ikut menimpali sembari melepas sepatunya, lalu melangkah masuk ke dalam rumah dengan ekspresi yang seolah tidak peduli.
Seperti yang dikatakan oleh Mirei-chan, jarak antara rumahnya dengan apartemen tempat tinggalku ternyata memang sedekat ujung hidung dengan mata. Pantas saja kami bisa saling berpapasan di supermarket dan taman......
Selain itu, Mirei-chan. Saat berbicara dengan putrimya, nada suaramu terdengar sangat lembut dan manis persis seperti dulu, ya? Lalu kenapa setiap kali berbicara denganku, nada suaramu selalu terdengar sangat ketus dan tajam?
──Meskipun aku sangat ingin menanyakan hal itu, aku memilih untuk menahan diri dan tidak mengatakan hal-hal yang tidak perlu, karena aku tahu dia pasti akan marah besar jika aku menanyakannya.
"Jangan-jangan, Anda masih belum bisa melupakan masa-masa SMA dulu, lalu sengaja membuntuti kami, ya......?"
"Aku tahu aku tidak punya reputasi yang baik di matamu, tapi aku tidak akan bertindak sejauh itu kok...... Kali ini pun, seperti yang kukatakan tadi, Sana-chan yang terlebih dahulu menyapaku. Lagipula, sejak awal aku sama sekali tidak tahu di mana Mirei-chan tinggal sekarang."
Bagaimanapun juga, kami sudah tidak saling bertemu selama hampir sepuluh tahun. Rumah ini pun berbeda dengan tempat tinggal Mirei-chan yang dulu, dan tempat ini sama sekali bukan berada di area sekitar lingkungan tempat tinggal kami semasa SMA.
Mengingat teman masa kecilku adalah sahabat karibnya, aku mungkin bisa saja mengetahui keberadaannya jika aku berniat mencari tahu. Namun, aku bukanlah tipe pria yang sebegitu menyedihkannya hingga terus terikat pada masa lalu seperti itu.
"......Lagipula, yang belum bisa melupakan masa lalu itu justru orang itu sendiri, sih......"
Mendengar perkataanku, Kamijou-san mendadak menundukkan kepalanya sambil menggumamkan sesuatu secara lirih. Namun, karena jarak di antara kami agak renggang ditambah lagi volume suaranya yang terlalu kecil, aku tidak bisa mendengar perkataannya dengan jelas.
"Maaf, kamu bicara apa?"
"Bukan apa-apa, hanya sedang bicara sendiri. Saya hanya sedang berpikir bagaimana cara menyingkirkan Sensei yang selalu saja melihat sisi memalukan dari diri saya ini."
"Pemikiranmu ekstrem banget!?"
Kenapa juga aku harus sampai diincar nyawanya oleh muridku sendiri......!
Sejak memutuskan untuk melangkah kaki ke dalam rumah mantan pacarku ini, aku memang sudah setengah menyerah untuk bisa menghindari situasi pelik. Namun, aku sama sekali tidak menyangka jika situasi rumit ini justru akan terjadi antara aku dengan putri dari mantan pacarku sendiri.
"Onee-chan, tidak boleh nakal sama Onii-chan!"
Di saat aku sedang dibuat kewalahan oleh Kamijou-san, Sana-chan yang sejak tadi diam menyimak interaksi kami tiba-tiba menggembungkan pipinya sambil memarahi Kamijou-san. Tampaknya, anak kecil yang satu ini sepenuhnya berada di pihakku.
"Sana...... membenciku......!?"
Dan siapa sangka, kalimat itu memberikan hantaman mental yang jauh lebih besar daripada dugaan bagi Kamijou-san.
Anak ini, benar-benar berbeda dengan saat di sekolah──atau lebih tepatnya saat di kelas. Di kehidupan pribadinya, dia ternyata bisa menjadi anak yang cukup menggelikan, ya......
Saat sedang berdua saja denganku pun, dia di luar dugaan suka melontarkan candaan.
......Itu candaan, kan? Tidak mungkin dia mengatakannya dengan serius, kan......?
Mengingat aku masih belum bisa sepenuhnya memahami kepribadian Kamijou-san, aku pun menjadi agak khawatir.
"Sana sudah menjadi sangat lengket dengan Shirosaki-san, jadi kalau kamu tidak berhati-hati, dia bisa berbalik memusuhimu, lho?"
Di tengah situasi itu, Mirei-chan kembali ke area genkan sembari membawa sebuah tote bag dan tas kecil wanita.
"Memikat anak kecil yang masih polos, apakah tindakan seperti itu pantas dilakukan oleh seorang guru......!?"
Begitu mendengar nasihat dari Mirei-chan, Kamijou-san malah menjadi semakin marah kepadaku. Bukannya menjadi lebih tenang, dia justru tampak semakin naik pitam.
"Bisa tidak, jangan bicara seolah-olah aku ini orang jahat!? Aku sama sekali tidak melakukan hal semacam itu!"
Ini murni karena tanpa kusadari, dia tiba-tiba saja menjadi sangat lengket kepadaku!
Di saat aku sedang sibuk melayangkan protes seperti itu, Mirei-chan mulai memakai kembali sepatunya.
"Kamu mau pergi keluar?"
"Saya belum membeli bahan-bahan untuk makan malam, kan."
"Ah...... Kalau begitu, biar kubantu membawakan barang belanjaannya......"
"Bagaimana jika orang-orang salah paham melihat kita berjalan bersama? Shirosaki-san, tolong jaga Sana dan yang lainnya saja di sini."
Memang benar, jika aku ikut pergi bersamanya, hal itu bisa memicu kecurigaan perselingkuhan. Apalagi posisi kami saat ini sebagai seorang guru dan wali murid juga terbilang kurang etis. Oleh karena itu, aku sangat memahami maksud dari perkataan Mirei-chan──tapi tetap saja, wanita ini benar-benar sangat ketus kepadaku.
Di samping itu, selain karena Kamijou-san baru saja memperlihatkan sisi memalukannya di depanku, fakta bahwa Sana-chan sekarang malah berpihak kepadaku tampaknya membuat Kamijou-san menjadi sangat dendam. Ditinggalkan berdua bersamanya di rumah ini adalah hal yang benar-benar ingin kuhindari, sungguh.
──Namun tentu saja, Kamijou-san sama sekali tidak berniat untuk ikut pergi berbelanja. Dan dengan kondisi Sana-chan yang terus menempel erat padaku, aku pun akhirnya digiring oleh Kamijou-san menuju ke ruang keluarga.
◆
"Ehehe."
Begitu tiba di ruang keluarga, aku langsung duduk di sofa sesuai dengan instruksi dari Kamijou-san. Dan sesaat setelahnya, Sana-chan langsung mengambil posisi duduk di atas pangkuanku.
Anak ini benar-benar bertindak sesuka hatinya, ya. Meskipun karena dia sangat imut, aku sama sekali tidak keberatan, sih.
"............"
Ah, tidak, ternyata ini tidak baik. Karena merasa Sana-chan telah direbut olehku, Kamijou-san terus melemparkan tatapan mata penuh dendam dan rasa benci yang teramat sangat ke arahku.
Kamijou-san, kamu benar-benar sangat menyayangi adikmu ini, ya......
Yah, mengingat dia memang seimut malaikat, aku bisa sangat memahami perasaanmu, sih.
"Ngg......"
"Eh?"
Di saat aku sedang melemparkan senyum ramah yang canggung untuk membalas tatapan mengerikan Kamijou-san──jenis ekspresi yang seharusnya tidak boleh diperlihatkan oleh seorang gadis, Sana-chan tiba-tiba mengubah posisi tubuhnya menjadi menyamping terhadapku. Kemudian, dia merebahkan seluruh tubuh beserta wajahnya ke arah dadaku, seolah-olah sedang menyandarkan profil wajahnya di sana.
Dia mendadak menjadi sangat tenang seakan-akan baterainya baru saja habis, bahkan kedua matanya pun kini telah terpejam rapat.
"Ah...... Posisiku direbut......"
Dan sembari menatap ke arah Sana-chan yang seperti itu, Kamijou-san langsung tertunduk lesu dengan bahu yang merosot jatuh. Tampaknya, tugas menjabat sebagai pengganti kursi──atau lebih tepatnya pengganti kasur tempat bersandar ini, biasanya adalah hak milik dirinya.
"Apakah biasanya dia memang suka tiba-tiba langsung tidur seperti ini?"
"Ya, mungkin karena masih kecil, dia adalah tipe anak yang selalu mengeluarkan seluruh energinya sampai habis, dan begitu tenaganya habis, dia akan langsung tertidur seolah baterainya mati. Meski begitu, biasanya ada tanda-tandanya terlebih dahulu, tetapi jika dia sudah terlalu asyik bermain seperti tadi, dia pasti akan langsung tiba-tiba tertidur seperti ini."
Artinya, karena dia sudah puas bermain di luar, rasa lelahnya menumpuk dan membuatnya tertidur, ya.
Tadi dia memang bermain dengan sangat lincah dan berenergi, sampai-sampai aku heran dari mana dia mendapatkan stamina sebesar itu......
Orang dewasa sepertiku saja merasa kelelahan, jadi tidak mungkin anak sekecil ini tidak merasa lelah.
Sembari merasa tenang melihat wajah tidurnya yang menggemaskan, aku mengusap kepala Sana-chan dengan sangat lembut.
"──Jadi, berkunjung ke rumah mantan pacar yang sekaligus merupakan rumah murid sendiri, bahkan sampai berniat ikut makan malam di sini, apakah Sensei sebenarnya memiliki mental sekuat baja di balik penampilan Anda yang seperti itu?"
Mungkin karena adik perempuan yang tidak ingin dia buat benci kini sudah tertidur. Kamijou-san menopang dagunya dengan pergelangan tangan, lalu mulai menyudutkanku dengan tatapan sinis yang sangat jahil.
"Soalnya kalau kutolak, Sana-chan sepertinya akan langsung menangis, jadi aku tidak bisa melawannya......"
"Haaah...... Anak itu, meskipun masih kecil, dia sangat cerdik, lho? Sekali Anda menuruti permintaannya, dia tidak akan pernah membiarkan Anda lolos lagi, tahu?"
"Apa-apaan itu, seram sekali."
Apakah aku baru saja terjerat oleh perangkap yang aneh?
Peringatan yang diberikannya terasa begitu mengerikan, hingga membuatku sempat berpikir demikian. Atau lebih tepatnya, kalimat seperti itu rasanya kurang pantas ditujukan untuk tindakan seorang anak kecil.
"Apakah Anda berpikir ini hanya untuk hari ini saja? Begitu makan malam selesai nanti, dia pasti akan menyuruh Anda untuk datang lagi besok, dan datang lagi lusa. Percayalah."
"Haha, mana mungkin──"
Aku sempat tertawa menanggapi ucapannya, tetapi saat itu aku sama sekali tidak menyangka jika situasi seperti itu nantinya benar-benar akan menjadi kenyataan.
"Di samping itu, apakah benar-benar tidak apa-apa......?"
Karena Sana-chan sudah tertidur ditambah lagi Mirei-chan sedang tidak ada di tempat, aku memutuskan untuk menanyakan hal yang mengganjal di pikiranku sejak sebelum menapakkan kaki di rumah ini kepada Kamijou-san.
"Apanya yang tidak apa-apa......?"
"Maksudku, kalau suaminya pulang nanti, bukankah situasinya akan menjadi gawat......? Dia bisa saja salah paham, dan situasi pelik tidak akan bisa dihindari lagi, kan......?"
Meskipun alasannya adalah demi menemani putrinya yang masih kecil, suami mana pun pasti akan merasa risi jika ada pria yang seumuran dengan istrinya bertamu dan masuk ke dalam rumah. Apalagi, jika sampai dari mulut Kamijou-san bocor fakta bahwa aku adalah teman seangkatan sekaligus mantan pacar ibunya semasa SMA, hal itu sudah pasti akan memicu kesalahpahaman yang luar biasa besar.
Setidaknya, aku harus memastikan Kamijou-san berada di pihakku terlebih dahulu. Namun──
"Haaah......"
──Kamijou-san justru melemparkan tatapan mata ke arahku yang seolah-olah menyiratkan rasa kecewa yang teramat mendalam dari lubuk hatinya.
"A-Ada apa......?"
"Tidak, saya hanya merasa heran sampai tidak tahu harus berkata apa lagi. Atau lebih tepatnya, saya heran karena Anda ternyata masuk ke rumah ini tanpa mengetahui situasinya sama sekali...... Sensei, Anda adalah tipe orang yang suka mengantarkan nyawa sendiri, ya."
"Maksudnya bagaimana!?"
Mendengar rentetan kalimat ketus yang menyudutkanku itu, aku tanpa sadar langsung melayangkan protes dengan suara yang agak keras. Tampaknya suaraku terlalu bising, karena ekspresi wajah Sana-chan yang baru saja tertidur lelap mendadak mengerut tidak nyaman, membuatku refleks langsung membekap mulutku sendiri dengan kedua tangan.
"Bukankah waktu itu saya sudah memberi tahu Anda? Bahwa saya bukan anak dari orang itu."
"Eh? Aku memang mendengarnya waktu itu...... Tapi, bukankah itu hanya tentang dirimu saja......? Apakah Sana-chan juga bukan anak kandung dari Mirei-chan......?"
Mengingat dia sengaja mengangkat topik ini, tampaknya ada sesuatu yang telah salah kupahami selama ini. Oleh karena itu, aku mencoba menanyakan kejelasan status Sana-chan yang belum sempat dia jelaskan secara mendetail sebelumnya. Namun, pertanyaan itu tampaknya adalah pilihan yang salah, karena tatapan mata Kamijou-san langsung berubah menjadi sangat tajam.
"Siapa yang pernah mengatakan hal seperti itu? Sana adalah adik kandung saya sendiri yang sah demi hukum. Jarak usia kami memang terbilang jauh. Oleh karena itu, orang itu bukanlah orang tua kandung Sana, dan sejak awal dia bahkan belum pernah menikah sekalipun."
"............"
Mendengar fakta yang teramat mengejutkan itu, aku langsung kehilangan kata-kata. Satu-satunya alasan kenapa aku tidak berteriak histeris saat ini adalah karena aku masih sadar ada Sana-chan yang sedang tertidur di pangkuanku.
"Orang tua kami meninggal akibat kecelakaan, dan kami berdua hanya diadopsi oleh orang itu yang berstatus sebagai bibi kami."
"Jadi, begitu ceritanya......"
Aku benar-benar kebingungan untuk memberikan respons, dan hanya kalimat itulah yang mampu kukeluarkan dari mulutku. Kehilangan kedua orang tua dalam sebuah kecelakaan pasti meninggalkan luka batin yang sangat mendalam, tetapi dia bersedia menceritakannya kepadaku dengan baik...... pantas saja Mirei-chan tampak biasa saja dan tanpa beban saat mengizinkanku masuk ke dalam rumahnya......
Tentu saja, jika memang tidak ada sosok suami di rumah ini, tidak ada hal apa pun yang perlu dia takuti, kan...... ternyata selama ini hanya aku sendirian yang ketakutan setengah mati seperti orang bodoh.
"Sebaliknya, padahal Anda mengira ada sosok suami di rumah ini, Anda berani sekali ya tetap melangkahkan kaki masuk ke sini? Apakah mental Anda memang benar-benar sekuat baja?"
Mungkin karena menyadari aku sedang kebingungan untuk memberikan respons, Kamijou-san langsung berinisiatif untuk mengalihkan topik pembicaraan.
"Ugh......! Soal itu, kan sudah kubilang berkali-kali kalau aku tidak bisa menolak permintaan dari Sana-chan......! Lagipula, setiap kali aku mencoba menolaknya, dia selalu memasang wajah yang seolah-olah mau langsung menangis......!"
"Meskipun begitu, orang normal pasti akan tetap menolaknya, tahu? Lagipula, tindakan itu sama saja seperti dengan sengaja menceburkan diri ke dalam situasi pelik."
Hantaman kalimat logis dari Kamijou-san sukses membuatku kembali kehilangan kata-kata dalam artian yang berbeda. Definisi dari orang bodoh yang sesungguhnya tampaknya adalah orang seperti diriku ini...... Kepalaku mendadak menjadi terasa pening......
"Lagipula, jika Anda memeriksa dokumen yang ada di sekolah, Anda pasti akan langsung tahu dengan mudah kalau di rumah ini tidak ada sosok suami."
"Mana mungkin aku sengaja memeriksa hal semacam itu......"
"Bukannya bagi seorang pria, hal mengenai mantan pacar adalah sesuatu yang selalu ingin dicari tahu?"
"I-Itu...... kalau dipikir sebagai sesama pria, hal seperti itu memang terkadang terlintas di pikiran, sih. Tapi, mengorek informasi pribadi murid demi memuaskan rasa penasaran pribadi adalah tindakan yang sama sekali tidak boleh dilakukan oleh seorang guru......! Aku tidak akan pernah melakukan hal itu......!"
Persis seperti yang dikatakan oleh Kamijou-san, jika aku memeriksa dokumen sekolah, aku pasti akan langsung mengetahui kebenarannya saat itu juga. Namun, tindakan tersebut terhitung sebagai bentuk penyalahgunaan wewenang demi memuaskan kepentingan pribadi, dan merupakan sesuatu yang ilegal serta tidak bisa dimaafkan. Oleh karena itu, selama ini aku selalu menahan diri.
"Anda ternyata penakut, ya."
"Setidaknya, sebutlah aku sebagai orang yang profesional, dong......!?"
Melihat Kamijou-san yang menyunggingkan senyuman usil di wajahnya, aku langsung melayangkan protes tanpa membuang waktu sedetik pun.
Anak ini, benar-benar terlihat sangat gembira setiap kali menjahiliku di luar lingkungan sekolah, ya......!? Tapi yah, mengingat aku sudah berulang kali menunjukkan sikap yang memalukan di depannya, mungkin wajar saja jika aku berakhir dijadikan bahan ejekan olehnya......!!
Kesimpulannya, aku benar-benar harus berhati-hati terhadap anak ini. Namun, jika dipikir-pikir kembali──begitu ya, ternyata Mirei-chan masih lajang......
Tapi tetap saja...... statusnya sebagai wali murid tidak akan berubah, jadi pada akhirnya aku tetap tidak boleh menjalin hubungan apa pun dengannya......
◆
"Ngg-nghh......!"
Beberapa waktu telah berlalu sejak saat itu, tepatnya setelah Mirei-chan yang baru pulang berbelanja mulai memasak makan malam. Karena hidangan di dapur sudah hampir selesai matang, aku pun mencoba membangunkan Sana-chan. Namun, dia justru menggeliat tidak nyaman sembari menggosok-gosokkan wajahnya dengan gusar ke arah dadaku. Tampaknya itu adalah gestur protes karena dia masih ingin melanjutkan tidurnya.
Wajar saja sih, orang yang baru bangun tidur memang biasanya masih didera rasa kantuk yang teramat sangat.
"Licik sekali......"
Sementara itu, di depanku, Kamijou-san masih terus menatap wajahku dengan pandangan penuh rasa iri dan dendam seperti sebelumnya. Anak ini juga benar-benar tidak pernah berubah, ya......
"Sana-chan biasanya baru mau bangun kalau diiming-imingi apa, ya?"
Sebagian karena ingin melarikan diri dari tatapan matanya yang penuh tuduhan, aku pun memutuskan untuk mengalihkan fokus pemikiran Kamijou-san ke arah lain.
"Jika kesadarannya sudah terkumpul sampai di titik itu, sisanya dia akan langsung bangun sendiri karena terpancing oleh aroma masakan."
"Jangan bercanda, deh......?"
Namun, jawaban Kamijou-san yang di luar dugaan itu sukses membuatku tercengang.
Sebenarnya Kamijou-san menganggap adik kandungnya ini makhluk apa sih──begitulah yang sempat kubatinkan, sebelum......
"Makan......!"
Tepat sesaat setelah Mirei-chan membawa salah satu piring lauk ke atas meja makan, Sana-chan yang semula masih menempelkan wajahnya di dadaku tiba-tiba langsung berbalik ke arah belakang dengan penuh semangat. Ternyata dia benar-benar langsung tersadar total karena terpancing oleh aroma masakan.
Di saat aku sedang dibuat melongo oleh tingkah Sana-chan, Kamijou-san melemparkan tatapan mata ke arahku yang seolah-olah ingin berkata, 'Kan? Apa saya bilang juga apa?'.
Benar-benar sosok kakak yang luar biasa......
"Sana-chan, bisa turun dari pangkuan Onii-chan sebentar? Onii-chan juga mau membantu menata makanan."
"Nggak mau! Tidak boleh......!"
Karena makanannya sudah matang, aku berpikir harus ikut membantu menyiapkannya──jadi, aku mencoba mengangkat Sana-chan dari belakang untuk menurunkannya. Namun, sebelum aku sempat bangkit berdiri, dia sudah memelukku erat-erat. Dan tak lama kemudian, dia langsung memanjat kembali ke atas pangkuanku.
Astaga, yang benar saja......
"Dia sepertinya sudah benar-benar sangat lengket dengan Anda, ya......"
"Iya, makanya...... tolong jangan menatapku dengan wajah penuh kecemburuan seperti itu, dong. Bagaimanapun juga, aku ini kan guru wali kelasmu, tahu......?"
"Benar, padahal status Anda adalah guru wali kelas saya, tetapi Anda justru berani bermain gila dengan adik perempuan saya yang teramat berharga, bukan?"
"Kan sudah kubilang jangan bicara dengan kalimat yang memicu kesalahpahaman seperti itu......! Awas ya, jangan sampai kamu mengatakannya di dalam kelas!?"
Jika sampai dia membocorkan hal semacam itu di sekolah, aku bisa-bisa akan dituduh melakukan tindakan asusila yang mengerikan tanpa bukti. Lagipula, jika anak-anak lelaki di kelas sampai tahu kalau aku bertamu ke rumah Kamijou-san, mereka pasti akan menjadi sangat iri setengah mati.
Berdasarkan apa yang kuamati di sekolah, bagi mereka Kamijou-san tampaknya dianggap sebagai sosok kasta tertinggi yang tidak tersentuh layaknya bunga di puncak gunung.
Selain itu, jika pihak sekolah sampai tahu aku masuk ke rumah murid tanpa adanya urusan formal yang jelas, aku pasti akan habis dimarahi oleh Wakil Kepala Sekolah. Setidaknya, aku yakin dia akan menceramahiku dengan sindiran yang sangat menusuk.
"Sana yang sudah berada dalam mode seperti itu tidak akan mau mendengarkan perkataan siapa pun lagi. Jadi, bagaimana jika Anda duduk manis saja di sana? Biar saya dan Marin yang membereskan makanannya."
Melihatku yang sedang kelimpungan menghadapi Sana-chan yang kembali duduk nyaman di pangkuanku sambil memelukku erat-erat, Mirei-chan menyunggingkan senyuman tipis sembari melayangkan instruksi tersebut kepadaku dengan nada maklum.
Tidak hanya itu, ekspresi wajah yang digunakannya saat menatap kami berdua entah mengapa terlihat begitu hangat dan meneduhkan── melihat wajahnya yang seperti itu, aku tanpa sadar sempat terpana sesaat. Namun, begitu menyadari arah pandanganku, kedua pipi Mirei-chan langsung merona merah samar sebelum dia akhirnya memalingkan wajahnya dengan ekspresi cemberut seolah ingin berkata 'Ih!'. Reaksinya itu sukses membuatku menjadi salah tingkah.
──Hanya saja, ekspresi wajahnya yang kekanak-kanakan itu entah mengapa justru terlihat sedikit manis di mataku, membuatku kembali menyadari dengan jelas bahwa aku masih belum bisa merapikan kembali perasaan pribadiku terhadapnya.
◆
"Aaa~m."
Tepat setelah kami semua selesai menyerukan 'Selamat makan'. Sana-chan sama sekali tidak berniat untuk turun dari pangkuanku, dan justru membuka mulutnya lebar-lebar ke arahku seolah-olah sedang menuntut, 'Suapi aku!'.
Anak ini, benar-benar tipe anak yang sangat manja, ya......
"Sana, bagaimana kalau Onee-chan saja yang menyuapimu?"
"Ngg, tidak mau."
Tanpa membuang waktu, Kamijou-san yang sejak tadi terus mencari kesempatan untuk merebut kembali Sana-chan dari dekapanku langsung menawarkan diri, tetapi Sana-chan justru menggelengkan kepalanya menolak.
Akibatnya, Kamijou-san langsung terlihat sangat syok seolah baru saja tersambar petir. Anak ini, benar-benar tidak berdaya jika sudah berhadapan dengan adiknya, ya......
Jika aku benar-benar menuruti permintaannya untuk menyuapinya sekarang, Kamijou-san pasti akan menatapku dengan pandangan yang penuh dengan rasa benci yang mendalam, tapi──aku tetap tidak akan pernah bisa menang melawan senyuman penuh harap dari Sana-chan.
"Fufu......"
Di saat aku sedang sibuk menyuapi Sana-chan dengan masakan rumahan buatan Mirei-chan, Mirei-chan tiba-tiba melayangkan senyuman tipis dengan suasana hati yang tampak sangat baik.
Entah mengapa, hanya dengan melihatnya tersenyum seperti itu saja, ada bagian dari diriku yang seketika merasa sangat lega. Bagaimanapun juga, dia memang adalah sosok wanita yang sangat cocok dengan senyuman. Namun──begitu dia menyadari jika aku sedang menatap ke arahnya, dia kembali melemparkan tatapan sinis yang tampak tidak bersahabat ke arahku.
Aduh, kenapa lagi, sih......!?
"Benar-benar deh, apa sih yang sudah Anda lakukan kepada anak itu......"
Sementara itu, Kamijou-san sendiri tampak mulai menyantap makanannya kembali setelah berhasil menenangkan diri. Namun, dia menggumamkan sesuatu secara lirih yang hanya bisa didengar olehku.
Yaaa, meskipun Sana-chan yang berada di atas pangkuanku seharusnya bisa mendengarnya dengan jelas, dia tampak terlalu asyik menikmati makanannya sehingga tidak terlalu memperhatikan sekitar. Melihat sosoknya yang sedang makan dengan rapi dan terlihat begitu bahagia, hatiku rasanya menjadi sangat tenang.
"Onii-chan juga harus makan. Aaa~m."
Setelah selesai mengunyah makanannya dengan lahap, Sana-chan kali ini mengambil sebuah garpu khusus anak-anak, memotong daging bistik, lalu mengarahkannya ke depan mulutku. Karena merasa agak malu disuapi oleh anak perempuan sekecil itu, aku sempat ragu-ragu sejenak──
"Aaa~m?"
Seolah-olah sedang menuntutku untuk segera makan, Sana-chan memiringkan kepalanya sedikit sembari menatap tajam ke arah wajahku.
Anak ini, benar-benar curang karena selalu saja menyerangku menggunakan keimutannya.
Tentu saja, tepat di arah belakangnya, Kamijou-san sedang menatapku dengan pandangan yang penuh rasa iri yang teramat sangat. Namun, bahkan jika dia marah kepadaku pun, aku sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa. Sebaliknya, aku justru membatin agar dia segera menghentikan ulah adiknya ini. Namun tentu saja, dia sama sekali tidak berniat untuk menghentikannya, sehingga aku pun terpaksa pasrah dan menerima suapan dari garpu Sana-chan.
Setelah itu, Sana-chan menunggu sampai aku selesai menelan makananku, lalu dia kembali membuka mulutnya lebar-lebar. Tampaknya, dia berniat agar kami saling menyuapi secara bergantian.
Tingkat kedekatannya denganku memang sudah sangat luar biasa, tetapi sampai saat ini aku masih belum bisa memahami alasan mengapa dia bisa menjadi selengket ini kepadaku.
Jangan-jangan, dia memandang diriku sebagai sosok pengganti ayahnya......? Namun jika situasinya memang seperti itu, aku justru merasa bersalah karena tahu aku tidak akan pernah bisa memenuhi ekspektasi dari Sana-chan.
Hingga akhirnya, setelah sesi makan malam selesai──
"Ngg, mau tidur......"
──Sana-chan langsung bersiap-siap untuk mengambil posisi tidur. Tampaknya perutnya yang sudah kenyang membuat rasa kantuknya langsung menyerang.
"Sana, langsung tidur setelah makan itu tidak baik untuk kesehatan tubuh, lho? Kamu mau berubah menjadi sapi, ya?"
"Mau tidur......"
"Aduh, anak ini......"
Meskipun Mirei-chan sudah memberikan teguran dengan lembut, Sana-chan sama sekali tidak mendengarkannya dan langsung tertidur begitu saja di atas pangkuanku.
Jika tidak ditegur dengan nada yang sedikit lebih tegas, anak ini tampaknya memang tidak akan mau menurut...... Namun, kelonggaran ini kemungkinan besar terjadi karena sifat Mirei-chan yang terlalu lembut.
"Baiklah...... Aku harus merapikan peralatan makan dulu."
"Ah, biar kubantu."
"Anda duduk manis saja di sana, silakan."
Saat aku berniat memindahkan Sana-chan agar bisa tidur di tempat lain lalu bangkit berdiri untuk membantu, Mirei-chan langsung melayangkan penolakan yang tegas seketika. Seperti dugaan, aku merasa dia memang agak sedikit lebih galak jika berhadapan denganku.
"......Ngomong-ngomong, mangkuk yang sedang dipakai Sensei sekarang seingatku sebelumnya tidak ada di rumah kita, kan? Apakah Ibu sengaja membelinya yang baru?"
Di saat aku sedang tersenyum kecut, Kamijou-san yang sejak tadi terus memperhatikanku tiba-tiba melayangkan pertanyaan itu kepada Mirei-chan.
"Eh, jadi ini maksudnya kamu sengaja membelikan mangkuk baru ini untukku......!? Maaf ya, biar kuganti uangnya......!"
Karena mengira mangkuk yang kugunakan tadi adalah mangkuk sisa yang kebetulan ada di rumah, aku pun menjadi panik dan bergegas mengeluarkan dompet. Bagaimanapun juga, setelah dijamu makan malam dengan gratis, rasanya sangat tidak tahu diri jika aku sampai membiarkan mereka menanggung biaya pembelian mangkuk ini juga. Atau lebih tepatnya, setidaknya aku harus membayar uang pengganti untuk bahan-bahan makanannya......
"Tidak usah, tidak perlu! Lagipula ini terjadi murni karena Sana yang sudah memaksa Anda untuk ikut ke sini......!"
Begitu aku mencoba menyodorkan uangnya, Mirei-chan langsung menggelengkan kepalanya dengan panik, lalu bergegas membawa tumpukan piring kotor itu kabur ke arah tempat cucian piring.
Aku sempat mengira dia akan kembali lagi untuk mengambil sisa piring yang lain jika aku menunggunya di sini──namun, dia justru langsung mulai mencuci beberapa peralatan makan yang berhasil dibawanya tadi. Tampaknya, dia berniat membiarkan sisa piring lainnya dibawakan oleh Kamijou-san.
"Padahal tidak perlu sampai menolaknya dengan sekuat tenaga begitu...... Maaf ya, Kamijou-san. Bisakah kamu tolong memberikan uang ini kepadanya nanti?"
Karena tidak tahu berapa nominal yang sekiranya dibutuhkan, untuk sementara aku mencoba menyodorkan selembar uang pecahan lima ribu yen kepada Kamijou-san.
"Sensei, padahal Anda memiliki otak yang pintar, tetapi kenapa kepekaan Anda benar-benar seburuk ini, ya......"
Dan tak lama kemudian, sepasang mata yang seolah sedang memandang rendah seorang pria yang sangat menyedihkan langsung diarahkan kepadaku.
"M-Maaf, apakah nominalnya masih kurang? Kalau begitu──"
Tepat di saat aku berniat menyodorkan selembar uang pecahan sepuluh ribu yen yang lain.
"Tolong jauhkan uang itu dari saya......! Ya ampun, padahal saya sudah bersusah payah untuk──"
"Marin~? Ibu akan sangat terbantu jika kamu bisa segera membawakan sisa piring kotornya ke sini, lho~?"
""──ッ!? ""
Di tengah percakapanku dengan Kamijou-san, Mirei-chan tiba-tiba membalikkan badannya ke arah kami sembari memancarkan aura hitam yang pekat di balik senyuman manisnya. Akibat hal itu, Kamijou-san langsung melemparkan tatapan mata ke arahku yang seolah-olah ingin memprotes, 'Kenapa malah aku yang harus ikut dimarahi sih......'.
Yaa, maaf. Aku sendiri juga sebenarnya tidak terlalu paham situasi ini...... ucapku meminta maaf di dalam hati.
◆
"Kalau begitu, setelah membantu Sana menyikat gigi dan menidurkannya, saya akan langsung pergi ke kamar untuk belajar."
Setelah urusan merapikan peralatan makan selesai, Kamijou-san langsung mengangkat tubuh Sana-chan dari atas pangkuanku.
Entah mengapa, penjelasannya barusan terdengar seperti sebuah skenario yang sengaja dibuat-buat, atau mungkin lebih tepatnya, apakah dia benar-benar perlu menjabarkan rencana aktivitasnya selanjutnya secara mendetail seperti itu?
Sebuah pertanyaan sempat terlintas di benakku. Namun ya sudahlah, mengingat Sana-chan yang menjadi alasan utamaku terdampar di rumah ini sekarang sudah tertidur lelap, rasanya kurang bijak jika aku terus berlama-lama di sini. Apalagi, atmosfer saat berada berdua saja dengan Mirei-chan pasti akan terasa sangat canggung, jadi sebaiknya aku juga bersiap-siap untuk pamit pulang saja.
"Kalau begitu, aku juga──"
Tepat di saat aku hendak melontarkan kalimat tersebut. Sebuah kaleng bir tiba-tiba diletakkan dengan bunyi klang yang pelan di atas meja yang berada tepat di hadapanku.
"Eh......?"
Tanpa memedulikan diriku yang sedang kebingungan, Mirei-chan meletakkan satu kaleng bir lain di hadapannya sendiri, lalu duduk di sofa dengan gerakan yang sangat anggun. Kemudian, sembari masih memancarkan aura hitam pekat yang misterius di sekelilingnya, dia menyunggingkan sebuah senyuman manis ke arahku.
"Anda tidak berniat untuk langsung pulang begitu saja setelah dijamu makan malam dengan gratis, kan, Shirosaki-san?"
Mirei-chan seolah sedang memberikan tekanan yang sangat kuat, seakan-akan ingin berkata, 'Apakah Anda berpikir saya akan membiarkan tindakan tidak tahu diri seperti itu begitu saja?'. Sebaliknya, aku sendiri bahkan tidak mengerti mengapa aku ditahan di sini. Padahal dia sendiri pun seharusnya tidak ingin menghabiskan waktu lama-lama bersamaku......
"......Yah, karena sudah telanjur diseret masuk ke dalam rumah, mana mungkin dia dilepaskan begitu saja dengan mudah...... Tapi, apakah tidak apa-apa dia meminum minuman keras yang biasanya tidak pernah dia sentuh itu......?"
Saat hendak melangkah keluar dari ruang keluarga, Kamijou-san yang sempat menengok ke arah kami tampak menggumamkan sesuatu secara lirih seperti sedang berbicara sendiri. Namun, dia sama sekali tidak berniat untuk mengulurkan bantuan kepadaku, dan justru langsung melenggang pergi meninggalkan ruangan sembari menggendong Sana-chan.
Yah, anak yang sangat tidak punya perasaan...... Meskipun sebenarnya aku sudah menduga hal itu, sih.
"Emm......"
"Besok kan hari Minggu, ditambah lagi rumah Anda juga dekat dari sini, jadi tidak ada masalah sama sekali, bukan?"
Sembari tersenyum manis, Mirei-chan memberikan tekanan kuat yang seolah-olah sedang menyuruhku untuk 'diam dan minum saja'. Sebenarnya apa yang sedang dia incar......?
Tindakannya begitu memaksa hingga membuatku sangat ingin menyelidiki maksud di balik perilakunya itu. Lagipula, aku bahkan tidak pernah mendengar dari teman masa kecilku──Akari──kalau Mirei-chan adalah seorang peminum......?
"Aku tidak bisa minum minuman keras......"
"Fufu, tega sekali ya Anda berbohong seperti itu? Saya sudah mendengar dari Akari-chan kalau semasa kuliah dulu Anda sangat sering minum bersama dengannya, lho?"
Hei......!? Tunggu sebentar, Akari! Kenapa seluruh informasi pribadiku bisa bocor total sampai ke telinga Mirei-chan!? Kenapa juga kamu harus menceritakan perihal sesi minum-minum kita kepadanya! Kamu kan tahu kalau dia itu mantan pacarku......!
Sembari sibuk memaki teman masa kecilku di dalam hati, aku langsung merasa sangat salah tingkah karena usahaku untuk kabur menggunakan kebohongan baru saja ketahuan.
Mengingat niatku untuk melarikan diri sudah telanjur basah, kurasa dari titik ini apa pun yang kuucapkan tidak akan bisa membuatku lolos lagi.
Ugh...... Skenario terburuknya, jika situasinya sudah mulai berbahaya, aku tidak punya pilihan lain selain memanggil Akari ke sini......
Bagaimanapun juga, aku bisa terdesak sampai seperti ini adalah akibat dari ulahnya yang menceritakan tentang diriku. Jadi jika terjadi sesuatu, aku pastikan dia harus ikut terseret ke dalam masalah ini......
"Anda termasuk tipe yang kuat minum, kan?"
Mirei-chan menyipitkan kedua matanya seolah sedang memprovokasiku, lalu menyodorkan kaleng bir tersebut ke dalam genggaman tanganku. Rasanya aku sangat ingin mengeluh mengapa situasinya bisa berkembang menjadi sekacau ini.
Sungguh, bertamu ke rumah mantan pacar yang sudah berkeluarga saja sebenarnya sudah merupakan tindakan yang sangat berbahaya. Apalagi statusnya di sini juga merupakan seorang wali murid. Jika sampai ada orang lain yang tahu aku sedang minum berdua saja dengannya di dalam rumah, masalah ini pasti akan langsung berubah menjadi sebuah skandal yang teramat besar.
"Apakah aku benar-benar harus meminumnya......?"
"Terkadang ada hari di mana seseorang merasa ingin minum bersama dengan orang lain, kan? Ataukah Anda memang berniat langsung pulang begitu saja setelah kenyang menyantap makanan gratis? Anda ternyata sudah berubah menjadi sosok pria yang sangat tidak punya perasaan, ya?"
"I-Iya, terima kasih hidangannya......"
Karena tidak mampu melawan tekanan intimidasi yang tidak menerima penolakan tersebut, aku pun akhirnya pasrah dan membuka segel kaleng bir itu. Jangan-jangan, alasan mengapa dia menolak mentah-mentah uang pengganti bahan makanan dan mangkuk tadi adalah agar aku tidak memiliki alasan untuk menolak permintaannya di titik ini.
Jika lawan bicaraku saat ini adalah seorang teman perempuan biasa, tindakan ini mungkin bisa dianggap sebagai taktik untuk mengunci pergerakanku, atau semacam usaha untuk menciptakan sebuah fakta yang tak terbantahkan. Namun, orang yang berada di hadapanku saat ini adalah mantan pacarku, yaitu Mirei-chan yang bahkan sudah tidak menaruh rasa suka lagi kepadaku.
Benar-benar deh, sebenarnya apa sih yang sedang berkecamuk di dalam pikirannya......
Di saat aku sedang sibuk kebingungan seperti itu, aku sama sekali tidak menyadari bahwa membiarkannya meminum minuman keras adalah sesuatu yang seharusnya aku cegah dengan sekuat tenaga, sebuah keputusan yang nantinya akan sangat kusesali di kemudian hari.
◆
"Fuuuh......"
"Emm, Mirei-chan...... Kamu tidak apa-apa......?"
Padahal belum ada 10 menit berlalu sejak kami mulai minum, aku sudah dibuat tercengang melihat Mirei-chan yang telah menyelesaikan kaleng bir ketiganya.
Dia tidak meminumnya secara terburu-buru atau meneggaknya dengan kasar. Dia tetap menjaga citra anggunnya dengan meminumnya secara perlahan dan elegan, hanya saja dia melakukannya secara terus-menerus tanpa jeda sedikit pun hingga tandas. Dan sekarang, di tangannya sudah tergenggam kaleng bir yang keempat.
"Fufu, saya tidak apa-apa kok~? Sepertinya saya cukup kuat minum, ya~?"
Sejak menyelesaikan kaleng bir pertamanya, suasana hati Mirei-chan tampak menjadi sangat gembira. Atau lebih tepatnya, tubuhnya sudah mulai tampak lunglai dan lemas.
Dia memang berkata kalau dirinya kuat minum, tetapi dia jelas-jelas adalah tipe orang yang sangat lemah terhadap alkohol. Sebab, baru habis satu kaleng saja dia sudah sepenuhnya mabuk total.
Meskipun begitu, ritme minumnya terbilang sangat cepat, sehingga tidak mungkin aku tidak merasa cemas melihat kondisinya.
"Ah~ tapi, hawanya mendadak terasa agak panas, ya~?"
"──ッ!?"
Secara tidak terduga, Mirei-chan tiba-tiba melepas baju lengan panjang yang dipakainya, menyisakan selembar baju tangtop tipis yang mengekspos kulit putih mulusnya tanpa sisa. Ditambah lagi, bagian kerah dadanya juga terbuka cukup lebar──hingga memperlihatkan sesuatu yang seharusnya tidak boleh terlihat secara sekilas.
"Kenapa Anda malah memalingkan wajah~?"
"I-Iya, habisnya......"
Melihatku yang langsung membuang muka, Mirei-chan menggembungkan pipinya sedikit dengan tidak puas, lalu melemparkan tatapan sinis ke arahku. Mana mungkin aku bisa menatapnya secara langsung, pemandangan itu benar-benar terlalu merangsang tahu......! Lagipula, bahkan saat kami masih berpacaran dulu pun, hubungan kami selalu murni dan terjaga dengan sangat suci, lho......!?
"Muuuh......"
"Emm, bukankah sifatmu sekarang malah menjadi agak kekanak-kanakan......?"
Melihat Mirei-chan yang semakin menggembungkan pipinya dengan gusar, aku pun tanpa sadar langsung mengutarakan isi pikiranku. Seketika itu juga, Mirei-chan tiba-tiba bangkit berdiri──lalu mengubah posisi duduknya menjadi sangat dekat denganku, hingga lengan kami saling menempel rapat tanpa jarak.
"Apakah tubuh saya terlihat kekanak-kanakan di mata Anda~?"
Sembari mengucapkan kalimat itu, dia langsung menekankan sesuatu ──yang tidak perlu kujelaskan secara mendetail apa itu──secara erat ke arah lenganku.
Gara-gara tindakannya itu, suhu tubuhku rasanya langsung meningkat drastis hingga seolah-olah mau mendidih. Lagipula, kalau sampai situasi ini kepergok oleh Kamijou-san, riwayatku benar-benar akan tamat......!?
"Si-Siapa juga yang sedang membicarakan masalah bentuk tubuh......!"
Sembari melayangkan bantahan tersebut, aku bergegas menggeser posisi dudukku untuk mengambil jarak darinya. Namun, Mirei-chan justru bertumpu dengan kedua tangannya di atas lantai, lalu mencondongkan badannya ke depan untuk kembali mengikis jarak di antara kami. Akibat posisinya itu, sesuatu yang seharusnya tidak boleh terlihat kini malah menjadi semakin terekspos jelas.
"Kenapa Anda malah kabur~?"
"Tunggu, ini benar-benar bahaya tahu......!"
Dia mungkin tidak menyadarinya karena sedang dalam kondisi mabuk, tetapi bagi seorang pria yang seumur hidupnya baru pernah berpacaran sekali dengan wanita, mana mungkin bisa tetap bersikap tenang setelah disuguhi pemandangan seprovokatif ini. Saat dia mengajakku minum tadi, seharusnya aku menolaknya dengan sekuat tenaga tanpa peduli apa pun......!
Tanpa bisa berkutik, aku terus terdesak hingga akhirnya tersudut di dekat dinding.
Begitu punggungku membentur dinding dengan bunyi puk yang pelan, Mirei-chan menyunggingkan sebuah senyuman memikat seolah ingin berkata 'Fufu......'.
Eh, tunggu dulu. Jangan-jangan, aku...... akan segera diterkam olehnya......?
"Sekarang Anda sudah tidak bisa kabur lagi, kan~?"
Mirei-chan langsung memelukku erat-erat dari depan, seakan-akan sosok dirinya di masa lalu yang sangat anggun dan teramat polos mengenai hubungan pria dan wanita hanyalah sebuah kebohongan belaka. Padahal dulu, hanya untuk sekadar bergandengan tangan saja dia sudah merasa sangat malu......!
"E-Emm, hal semacam ini rasanya kurang baik, atau lebih tepatnya......!"
"──Jadi, sebenarnya apa yang sedang Anda risaukan selama ini~?"
Meskipun dia sedang mabuk, aku berpikir tetap tidak etis membiarkan diriku menempel sedekat ini dengan wanita yang sudah bersuami, sehingga aku pun berniat untuk mendorongnya menjauh── namun, dia justru melontarkan pertanyaan yang sama sekali tidak terduga.
"Eh......?"
"Melamun sendirian di bangku taman sambil menatap kosong ke arah langit~ Anda pasti sedang memikirkan suatu masalah, kan~? Ceritakanlah kepada saya~"
Jangan-jangan, Mirei-chan sebenarnya telah menyadari kegelisahanku, lalu sengaja membuatku minum agar aku mau mencurahkan isi hatiku? Dan situasi berantakan ini murni terjadi hanya karena kapasitas minum dirinya sendiri yang ternyata terlalu lemah──tepat di saat pemikiran itu terlintas di benakku......
"──Uwah......"
Pintu ruang keluarga mendadak terbuka, memperlihatkan Kamijou-san yang sedang menatap ke arah kami dengan ekspresi wajah yang tampak sangat jijik dari lubuk hatinya.
"Ka-Kamijou-san......!?"
"Maaf mengganggu~"
Begitu aku memanggil namanya, Kamijou-san langsung menutup kembali pintu ruangan dengan bunyi klek yang tegas. Rasanya karierku sebagai seorang guru──atau lebih tepatnya kehidupan pribadiku sendiri──baru saja menemui ajalnya saat ini juga.
"Tu-Tunggu dulu......!"
Aku bergegas menggeser tubuh Mirei-chan menjauh, lalu berlari keluar untuk mengejar Kamijou-san.
"Aduh~ padahal saya pergi memeriksa ke sini karena mencemaskan Sensei demi mengantisipasi skenario terburuk, lho~ Ternyata kebaikan saya justru menjadi hal yang sia-sia dan mengganggu, ya~"
Begitu berhasil menyusulnya di koridor, Kamijou-san langsung melemparkan senyuman formal yang terasa sangat asing sebelum aku sempat membuka mulut untuk menjelaskan.
Dia sudah pasti salah paham total.
"Aku sama sekali tidak melakukan hal-hal yang tidak senonoh, kok......!?"
"Dalam situasi seperti tadi, bagian mananya yang tidak senonoh?"
Yaa, masuk akal sih!
Wali muridnya sendiri sedang berpakaian minim dengan kerah dada terbuka lebar sambil memeluk erat gurunya, dan guru tersebut juga terlihat seolah-olah pasrah menerima pelukan itu! Tapi maaf, itu benar-benar hanya kesalahpahaman!
──Meskipun aku sangat ingin meneriakkan kalimat itu, kata-kata rasanya tersangkut di tenggorokanku dan tidak bisa keluar dengan baik. Melihat diriku yang seperti itu, Kamijou-san tidak lagi melemparkan tatapan menghina──melainkan justru mengembuskan napas panjang yang terasa sangat berat.
"Haaah...... Sensei, wanita itu sebenarnya jauh lebih menakutkan daripada yang Anda bayangkan, tahu? Terlebih lagi, jika sosok yang biasanya tidak pernah menunjukkan ketertarikan pada apa pun tiba-tiba terobsesi pada sesuatu──dia pasti akan melakukan segala cara demi bisa mendapatkannya. Sebaiknya Anda mulai bisa menjaga diri dengan sedikit lebih baik lagi."
"Eh, maksudnya bagaimana......?"
"......Benar-benar tidak peka. Sebaiknya Anda segera pulang sekarang, biar sisanya saya sendiri yang urus di sini."
Dia berucap dengan nada ketus yang seolah-olah ingin berdecak kesal, lalu kembali ke ruang keluarga sebentar untuk mengambil dompetku sebelum akhirnya mendorong punggungku agar segera keluar dari rumah.
Yah, meskipun mereka tidak memiliki hubungan darah, melihat wali murid dan gurunya sendiri berada dalam posisi mesra seperti itu pasti akan membuat siapa pun ingin mengusirnya......
Aku melangkah gontai di jalan pulang dengan bahu yang merosot lesu, sembari meratapi penilaian muridku terhadap diriku yang tampaknya baru saja merosot setingkat lagi...... namun yang pasti──mulai sekarang, jika Mirei-chan terlihat berniat untuk minum alkohol lagi, aku bersumpah akan menghentikannya dengan sekuat tenaga......
◆
Keesokan harinya, pada hari Minggu.
Mengingat aku sudah memiliki janji dengan Sana-chan, aku pun duduk menunggu di bangku taman setelah selesai menyantap makan siangku.
"──Onii-chan, keeetemu~!"
Tak lama kemudian, Sana-chan yang berhasil menemukanku langsung berlari menghampiri sembari memamerkan senyuman cerianya yang khas. Wajahnya masih terlihat begitu energik dan sangat menggemaskan seperti biasa.
"Halo, Sana-chan."
"Halo juga~!"
Saat aku menyapanya, Sana-chan membalas salamku dengan senyuman yang merekah lebar. Kemudian──seolah-olah hal itu adalah sesuatu yang sudah semestinya dilakukan, dia langsung mengambil posisi duduk dengan nyaman di atas pangkuanku.
"Ehehe♪"
Sana-chan menggoyang-goyangkan tubuhnya dengan riang di atas pangkuanku.
Anak ini, benar-benar sosok yang sangat berjiwa bebas, ya. Tapi ya sudahlah, karena dia sangat imut, aku pun membiarkannya begitu saja.
"......Halo."
"Ah, halo──eh?"
Mirei-chan yang berjalan menyusul di belakang Sana-chan ikut menyapaku, sehingga aku pun membalas sapaannya──namun, entah mengapa dia terus menundukkan kepalanya. Dia kemudian duduk di sebelahku tanpa mengucapkan sepatah kata pun──tetapi dari profil wajah sampingnya yang terlihat, kedua pipinya tampak merona merah padam.
Kenapa wajahnya bisa semerah itu, ya......?
Di saat aku sedang didera kebingungan seperti itu──
"Emm...... perihal kejadian tadi malam...... tolong lupakan saja, ya......"
──Mirei-chan melayangkan permohonan tersebut kepadaku dengan nada suara yang teramat lirih.
Mendengar hal itu, aku pun langsung paham alasan mengapa wajahnya merona merah. Tampaknya, meskipun dia mabuk seberat itu, dia tetap mengingat dengan jelas apa saja yang telah dilakukannya semalam.
Yaaa, mengingat dia telah melakukan hal yang sangat berani dan tak terduga seperti itu...... wajar saja jika sosok dirinya yang biasanya anggun dan polos menganggap hal ini sebagai sesuatu yang teramat memalukan hingga rasanya ingin mati saja.
Hanya saja...... meskipun dia memintaku untuk melupakannya, hal seperti itu bukanlah sesuatu yang bisa dilupakan begitu saja dengan mudah, kan......?
"Aku akan berusaha sebaik mungkin......"
Pada akhirnya, hanya kalimat itulah yang mampu kuucapkan kepadanya.
"Berusaha sebaik mungkin itu apa?"
Sana-chan, yang semalam sudah tertidur lelap sehingga tidak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi, tiba-tiba memiringkan kepalanya sedikit dengan penasaran sambil bertanya kepadaku. Langsung menanyakan hal yang tidak diketahuinya dengan jujur seperti ini menunjukkan kalau dia adalah anak yang pintar. Atau setidaknya aku ingin memujinya begitu, walaupun kemungkinan besar dia sebenarnya hanya sekadar penasaran dengan obrolan kami saja.
"Artinya kurang lebih, melakukan yang terbaik sekuat tenaga."
"Ooh, begitu ya! Sana juga mau berusaha sebaik mungkin!"
Begitu memahami arti dari kata tersebut, Sana-chan langsung memasang wajah bangga ke arah Mirei-chan seolah-olah sedang meniru reaksiku. Aku sempat heran mengapa dia harus memasang wajah menantang seperti itu, tetapi kemungkinan besar tidak ada arti mendalam di baliknya.
"Fufu."
Melihat senyuman Sana-chan yang begitu menggemaskan tampaknya berhasil mengobati rasa malu Mirei-chan. Karena meskipun ada aku di dekatnya, dia tetap melayangkan sebuah senyuman manis yang sangat tulus.
Setiap kali melihat pemandangan hangat seperti ini, hatiku rasanya menjadi sangat tenteram. Syukurlah kalau Mirei-chan sekarang bisa hidup dengan bahagia......
"Onii-chan, hari ini kita mau main apa?"
"Terserah Sana-chan saja, main apa pun yang kamu suka boleh kok."
"Kalau begitu, main petak umpet~!"
Setelah dibuat merasa tenang oleh interaksi manis antara Mirei-chan dan Sana-chan, aku pun menghabiskan waktu dengan menemani Sana-chan bermain sepuas hatinya. Dan tentu saja, setelah permainan selesai──aku sama sekali tidak diizinkan untuk langsung pulang ke rumah. Karena atas desakan dari Sana-chan, aku kembali diseret ke rumah mereka dan berakhir dijamu makan malam lagi.
Pada saat itu, Mirei-chan sempat melayangkan protes dengan berkata, 'Jika Anda selalu mengonsumsi makanan instan setiap hari, itu tidak baik untuk kesehatan tubuh, lho?'. Mendengar kalimatnya, tampaknya saat kami tidak sengaja berpapasan di supermarket waktu itu, dia benar-benar telah memperhatikan seluruh isi keranjang belanjaanku dengan saksama......
◆
Setelah melewati hari libur yang menyenangkan bersama Sana-chan, hari kerja di mana aku harus kembali berjuang menjalankan tugasku sebagai seorang guru pun tiba. Di sela-sela waktu mengajar, aku terus menghabiskan hari-hariku dengan mencoba mengorek informasi untuk mencari tahu apakah ada petunjuk mengenai kasus Murakumo-san. Namun, seolah-olah seluruh informasi telah ditutupi dan dikendalikan dengan sangat ketat, aku sama sekali tidak berhasil mendapatkan petunjuk apa pun.
Karena benar-benar sudah menemui jalan buntu, aku sempat berpikir bahwa tidak ada pilihan lain selain langsung mendatangi rumah Murakumo-san──tepat di saat pemikiran itu terlintas,
"Sensei."
Pada saat jam istirahat makan siang, Kamijou-san tiba-tiba memanggil dan menghentikan langkahku yang baru saja selesai mengajar dan hendak kembali menuju ke ruang guru seperti biasanya.
"Eh, ada apa?"
Mengingat lusa sudah memasuki hari Sabtu, aku sempat mengira dia datang untuk memberikan peringatan keras kepadaku perihal jadwalku bermain bersama Sana-chan──namun, ekspresi wajah yang ditunjukkan oleh Kamijou-san saat ini terlihat sangat serius.
Jika ini hanya tentang Sana-chan, dia pasti akan melayangkan protes dengan sikapnya yang dingin seperti biasa. Karena dia memasang wajah yang begitu serius, aku pun langsung sadar bahwa ini adalah topik pembicaraan yang penting dan mulai mempersiapkan diri.
Dia kemudian membalikkan badannya seolah-olah sedang mengisyaratkan agar kami pindah ke tempat lain. Aku pun berjalan mengikutinya dari belakang──hingga akhirnya kami tiba di area belakang gedung sekolah, tempat yang kini tampaknya sudah resmi beralih fungsi menjadi area rahasia bagi kami berdua untuk saling bertukar informasi. Di sana, dia mulai membuka mulutnya dengan nada suara yang teramat berat──
"Dia adalah anak yang sebenarnya tidak terlalu dekat dengan saya, dan saya juga berpikir kalau Sensei pasti akan langsung menyerah dan mengabaikannya begitu saja, jadi sebenarnya saya sama sekali tidak berniat untuk menceritakan hal ini...... Namun, pada tahun lalu, saya tidak sengaja melihat Murakumo-san sedang ditegur oleh guru wali kelasnya saat itu. Dengan helaan napas panjang dan ekspresi wajah yang tampak jengkel, guru itu berkata, 'Dengar ya, Murakumo-san. Dalam kasus perundungan, pihak yang dirundung pun sebenarnya juga memiliki masalah, tahu?'. Dan tepat sejak keesokan harinya, anak itu sudah tidak pernah masuk sekolah lagi. Jadi, saya rasa sudah hampir bisa dipastikan bahwa......"
──Dan di sanalah, dia akhirnya menyuarakan informasi yang paling ingin kuketahui selama ini.
"Kenapa......?"
Tanpa kusadari, kata itu langsung terlontar begitu saja dari mulutku. Kata tersebut mengandung banyak arti; mulai dari pertanyaan mengapa dia menyembunyikan hal ini dariku selama ini, mengapa guru wali kelasnya sampai tega mengucapkan kalimat sekata itu, dan ──mengapa dia baru memutuskan untuk memberi tahuku sekarang.
"Saya tahu pasti ada banyak hal yang ingin Anda tanyakan, tetapi informasi yang saya miliki memang benar-benar hanya sebatas itu saja. Karena saya tidak memiliki bukti yang kuat, saya memilih untuk menghindari menyebarkan rumor secara sembarangan. Ditambah lagi, jika Sensei ternyata adalah tipe orang yang tidak bisa dipercaya ──risiko yang harus saya tanggung akan menjadi terlalu besar. Oleh karena itu, sejak awal saya memang sama sekali tidak berniat untuk menceritakannya kepada Anda."
Pantas saja meskipun aku sudah terus mencoba menyelidikinya selama beberapa hari terakhir ini, informasi mengenai fakta bahwa dia mengalami perundungan sama sekali tidak pernah muncul ke permukaan.
Pada umumnya, kasus perundungan memang merupakan sesuatu yang sangat sulit dideteksi oleh guru jika mereka tidak memperhatikannya secara saksama. Namun, jika guru tersebut mulai menaruh perhatian, mereka pasti setidaknya akan menyadari tanda-tanda awal atau mencurigai beberapa murid yang sekiranya berpotensi melakukan tindakan tersebut. Fakta bahwa indikasi sekecil itu pun tidak ada, menunjukkan adanya kemungkinan besar bahwa laporan korban tidak dipercayai oleh guru, atau guru tersebut sengaja mengabaikannya karena malas berurusan dengan masalah yang merepotkan.
Jika Kamijou-san salah menceritakan hal ini kepada guru yang tipe seperti itu, posisinya sendiri justru akan berada dalam bahaya. Lebih jauh lagi, Kamijou-san pasti merasa takut jika sampai ada guru yang bertindak ceroboh hanya bermodalkan informasi dari dirinya, hal itu justru akan membuat para pelaku perundungan──yang selama ini berhasil menyembunyikan aksi mereka dengan sangat rapi dari lingkungan sekitar──berbalik mengincar dirinya sebagai target baru.
Lagipula, secara objektif Kamijou-san memang hanya tidak sengaja menguping percakapan tersebut dan menyimpulkan sendiri bahwa Murakumo-san telah menjadi korban perundungan. Dia tidak tahu siapa pelakunya, dan dia juga tidak memiliki bukti fisik apa pun untuk memperkuat dugaannya. Namun──jika menimbang kembali kalimat balasan yang dilontarkan oleh guru wali kelasnya saat itu, sudah tidak perlu diragukan lagi bahwa Murakumo-san pasti telah datang menemui guru tersebut untuk berkonsultasi mengenai masalah perundungan yang dialaminya. Dan setelah dicampakkan serta diabaikan oleh sosok wali kelas yang seharusnya paling bisa dia percayai dan andalkan, Murakumo-san pasti langsung merasa putus asa total, hingga akhirnya dia tidak sanggup lagi untuk melangkahkan kakinya ke sekolah.
"Terima kasih karena sudah mengumpulkan keberanian untuk menceritakan hal ini kepadaku. Berkat informasi darimu, sekarang aku akhirnya bisa mulai bergerak."
Aku memilih untuk tidak mengungkit fakta bahwa dia sempat menyembunyikan hal ini dariku, dan dengan tulus menyampaikan rasa terima kasihku kepada Kamijou-san sembari tersenyum hangat.
Di dunia ini, sering kali ada pepatah yang mengatakan bahwa orang yang melihat aksi perundungan namun hanya diam saja dan berpura-pura tidak tahu adalah komplotan dari pelaku perundungan itu sendiri. Namun, kalimat idealis seperti itu hanyalah omong kosong belaka yang keluar dari mulut orang-orang yang posisinya aman dan tidak terlibat di dalam masalah.
Kenyataannya, jika keselamatan atau posisi diri sendiri ikut terancam oleh risiko yang berbahaya, hanya ada sedikit sekali orang yang benar-benar memiliki keberanian untuk mengambil tindakan.
Oleh karena itu, meskipun terbilang terlambat, aku tetap merasa sangat menghargai dan berterima kasih atas niat baik serta kejujuran yang telah ditunjukkan oleh Kamijou-san kepadaku. Terlebih lagi, dalam masalah perundungan seperti ini, bukanlah hal yang aneh bagi pihak sekolah untuk mencoba menutup-nutupi kasusnya.
Oleh karena itu, tindakan Kamijou-san yang memilih untuk mengamati dan menilai situasinya terlebih dahulu adalah langkah yang sangat tepat. Dan yang paling penting, fakta bahwa dia bersedia menceritakannya kepadaku sekarang adalah bukti bahwa dia telah memercayai diriku dan merasa tidak ada masalah untuk berterus terang kepadaku. Tentu saja, aku ingin bisa menjawab kepercayaan yang telah dia berikan tersebut.
"──. Menyampaikan rasa terima kasih untuk hal seperti ini, Anda benar-benar orang yang aneh......"
Meskipun setelahnya, Kamijou-san justru mencengkeram lengannya sendiri dengan tangan yang lain, lalu menundukkan kepala dengan ekspresi yang tampak agak serba salah. Dia pasti mengira kalau aku akan menyalahkannya karena sempat diam saja selama ini, ya.
"Apakah guru wali kelasnya yang dulu itu...... adalah tipe orang yang dingin dan tidak terlalu memedulikan murid-muridnya?"
Karena ada satu hal yang mengganjal di pikiran, aku pun mencoba menanyakannya kepada Kamijou-san.
"Tidak...... sebaliknya, dia justru adalah seorang guru perempuan yang sangat lembut, tulus memedulikan muridnya, dan dicintai oleh banyak murid di sini......"
Begitu ya...... karena alasan itulah Murakumo-san akhirnya bisa mengumpulkan keberanian untuk berkonsultasi kepada guru tersebut. Namun, jika setelah berjuang mengumpulkan keberanian dia justru mendapatkan jawaban yang seketus itu...... aku bisa sangat memahami mengapa dia langsung merasa putus asa total.
Meski begitu, aku juga merasakan adanya kejanggalan di sini. Jika guru tersebut benar-benar sosok yang lembut dan tulus memedulikan muridnya, tidak mungkin dia akan mengabaikan masalah perundungan begitu saja. Dia seharusnya akan mendengarkan keluh kesah muridnya dengan penuh perhatian......
Jadi, ada kemungkinan jika guru tersebut adalah tipe orang yang pandai memainkan peran antara di depan umum dan di belakang layar......
"Sekadar memastikan, mengingat dia adalah wali kelas tahun lalu, berarti dia adalah guru yang jabatannya kugantikan sekarang, kan? Apakah ada kemungkinan jika dia memilih berhenti mengajar karena telah melakukan sesuatu kepada si pelaku perundungan?"
"Kurasa tidak mungkin. Soalnya dia mengundurkan diri karena alasan pernikahan."
Meskipun aku mencoba menanyakannya sebagai salah satu kemungkinan yang ada, tampaknya aku memang sudah berpikir terlalu jauh. Jika situasinya demikian, maka kemungkinan besar dia memang sengaja mengabaikan dan menelantarkan kasus perundungan tersebut begitu saja tanpa mau mendengarkan penjelasan korbannya dengan saksama...... Dan hal itulah yang menjadi alasan mengapa guru-guru lain di sekolah ini tidak ada yang mengetahui masalah tersebut.
"Saat sedang berkonsultasi dengan guru tersebut, apakah ekspresi wajah Murakumo-san memang terlihat sangat tertekan?"
"Iya...... di mata saya, anak itu sama sekali tidak terlihat seperti sedang berbohong. Namun, karena tidak ada seorang pun yang melihat dan mengetahuinya──aksi ini pasti merupakan ulah dari seseorang yang berotak sangat licik dan kejam."
Meskipun hubungan kami terbilang masih baru, aku tahu bahwa Kamijou-san adalah tipe anak yang memiliki kemampuan observasi yang sangat baik terhadap orang-orang di sekitarnya. Jika anak seteliti dirinya saja merasa bahwa korban tidak sedang berbohong, maka tidak akan ada masalah jika aku mengonfirmasi bahwa kasus ini memang murni merupakan masalah perundungan. Dan persis seperti yang dikatakannya──jika masalah ini benar-benar merupakan kasus perundungan, maka pelaku yang kami hadapi adalah sosok yang teramat kejam, licik, sekaligus berotak cerdas.
Aku benar-benar harus mempersiapkan mental dengan matang sebelum mulai bertindak......
"Kamu benar. Dan orang yang melakukan hal ini sudah pasti merupakan salah satu warga dari sekolah ini sendiri. Biasanya, jika tidak ada seorang pun di sekolah yang melihat aksi tersebut, orang-orang akan cenderung mencurigai kenalan lama dari masa sebelum masuk SMA yang kebetulan bersekolah di tempat lain...... Namun jika situasinya begitu, tidak ada alasan bagi Murakumo-san untuk berkonsultasi kepada guru di sekolah ini, dan hal itu juga tidak akan menjadi alasan utama yang membuatnya sampai tidak mau masuk sekolah lagi."
Aku mencoba merapikan kembali garis besar dari informasi yang kami miliki untuk sementara waktu. Karena saat ini masih ada terlalu banyak hal yang belum kami ketahui, bertindak secara gegabah dan membabi buta hanya akan membuat kami kesulitan untuk menemukan jawaban yang sesungguhnya. Di titik ini kami harus tetap tenang, agar bisa mempersempit ruang lingkup masalah tanpa melewatkan petunjuk sekecil apa pun.
"Yah, meskipun pelakunya tidak berada di dalam lingkungan sekolah, kita juga bisa melihatnya dari sudut pandang bahwa dia sengaja mengurung diri di rumah karena enggan bertemu dengan orang yang merundungnya...... Namun, mengingat pihak yang dia mintai tolong bukanlah orang tuanya melainkan guru wali kelas, saya rasa pelakunya memang sudah pasti orang dalam sekolah ini. Selain itu, mengapa dia bersedia menceritakan hal ini kepada guru wali kelas, tetapi sama sekali tidak mengatakannya kepada Bidou-san yang merupakan teman masa kecil sekaligus sahabat karibnya?"
Tampaknya Kamijou-san memiliki pemikiran yang sejalan denganku, karena dia bersedia ikut membantu merapikan garis besar masalah ini. Pertanyaan yang dia ajukan memang sangat masuk akal.
Dalam kondisi normal, seseorang pasti akan lebih memilih untuk bercerita kepada sahabat karibnya sendiri, yaitu Bidou-san, daripada kepada guru wali kelas. Namun kenyataannya, Murakumo-san sama sekali tidak membisikkan apa pun kepada Bidou-san.
"Mungkin karena dia tidak ingin melibatkannya, ya......"
"Sebab jika Bidou-san sampai membelanya, ada risiko kalau Bidou-san juga akan ikut dijadikan sebagai target perundungan berikutnya. Mengingat tingkat popularitas yang dimiliki Bidou-san di sekolah, skenario seperti itu memang agak sulit dibayangkan, tetapi kemungkinannya tetap tidak bisa dicoret begitu saja. Terlebih lagi, Murakumo-san juga merupakan anak yang sangat baik hati. Jadi, sangat wajar jika dia memilih untuk menghindari skenario yang dapat melibatkan teman masa kecilnya. Lagipula dalam kondisi mental yang tertekan, seseorang pasti akan kesulitan untuk bisa mengambil keputusan secara logis."
"Benar, aku juga berpikir demikian. Kesimpulannya, karena tidak ada seorang pun yang mengetahui detail masalahnya, pada akhirnya jalan satu-satunya adalah dengan menemui dan berbicara langsung secara empat mata dengan yang bersangkutan......"
Setelah menelusuri akar masalahnya secara mendalam, kami pada akhirnya tetap akan berujung pada kesimpulan yang satu ini. Bagaimanapun juga, pihak yang bersangkutanlah yang paling mengetahui detail kejadiannya secara menyeluruh, jadi hal ini memang tidak bisa dihindari lagi.
"Sebaliknya, mengapa sejak awal Anda tidak langsung mencoba untuk menemui anak itu saja? Bukankah dalam kasus seperti ini, hal pertama yang biasa dilakukan adalah berbicara langsung dengan yang bersangkutan?"
Kamijou-san melayangkan pertanyaan itu dengan ekspresi heran, tetapi tentu saja bukan berarti aku tidak pernah memikirkan opsi tersebut sebelumnya.
Hanya saja......
"Jika ada seorang guru wali kelas baru yang bahkan belum pernah dia temui tiba-tiba datang menjenguknya secara mendadak, dia pasti akan merasa ketakutan, bukan? Oleh karena itu, aku ingin merapikan situasinya terlebih dahulu sebelum datang berbicara baik-baik dengannya. Opsi untuk menemui dan berbicara dengan orang tuanya memang ada, tetapi hal itu pasti akan langsung tersampaikan kepada Murakumo-san. Dan yang paling kutakutkan adalah pergerakanku justru berpotensi memicu pihak orang tua untuk memberikan tekanan psikologis tertentu kepada Murakumo-san......"
"......Di luar dugaan, Anda ternyata memikirkan kondisi di sekitar dengan sangat matang, ya."
Setelah mendengar penjelasanku, Kamijou-san tampak membelalakkan kedua matanya karena terkejut.
Ah, iya sih......
"Memangnya selama ini kamu menganggap diriku ini sebagai guru yang seperti apa, sih!?"
"Habisnya, untuk ukuran orang yang bisa membuat wali murid kami yang selembut itu sampai marah besar, Anda pasti bukanlah orang yang biasa, kan."
"Ugh......"
Begitu dia menyentil masalah yang satu itu, aku langsung kehilangan kata-kata untuk membalasnya.
Kenyataannya, Mirei-chan memang adalah sosok gadis yang sangat lembut, penuh perhatian kepada orang lain, dan tidak pernah memarahi siapa pun. Namun, aku justru berhasil membuatnya marah besar...... Sungguh, apa sih yang sebenarnya telah kulakukan selama ini......
Meskipun begitu, terus-menerus disudutkan oleh murid sendiri seperti ini tentu akan membuat harga diriku sebagai guru menjadi jatuh. Oleh karena itu, aku mencoba menenangkan diri kembali sembari menyunggingkan sebuah senyuman hangat──
"Kamijou-san sendiri juga begitu, kan? Di balik sikapmu yang selalu terlihat dingin dan tidak acuh kepada orang-orang di sekitarmu, kamu sebenarnya adalah anak yang sangat baik hati, lho. Buktinya, sekarang kamu mau ikut memikirkan masalah Murakumo-san dengan sangat tulus seperti ini, padahal kamu sendiri tadi bilang kalau kalian tidak terlalu dekat."
──Dan di sanalah, aku akhirnya menyuarakan apa yang selama ini sejujurnya kupikirkan tentang dirinya.
Seketika itu juga, seluruh wajahnya langsung merona merah padam dalam sekejap mata.
"A, A-A-A......!"
Tidak hanya itu, seluruh tubuhnya bahkan sampai gemetaran saking malunya. Tampaknya kalimatku barusan memberikan hantaman telak yang jauh di luar dugaannya.
Sembari berusaha keras untuk menutupi rasa salah tingkahnya, dia pun berseru──
"H-Hal seperti itu sama sekali tidak benar......! Tindakan saya saat ini murni hanya karena sedang ingin melakukannya saja, kok......!"
──Dan terus mencoba mencari alasan demi menyembunyikan rasa malunya.
Anak ini, ternyata di luar dugaan bisa memperlihatkan reaksi yang sangat menggemaskan juga, ya......





Post a Comment