NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Seito no Hogosha ga Moto Kano datta V1 Chapter 4

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Chapter 4

Kencan di Taman Hiburan Bersama Para Mantan Pacar

"──Nah, semoga saja aku bisa berbicara baik-baik dengannya......"


Sepulang sekolah, aku melangkahkan kaki menuju ke rumah Murakumo-san. Tentu saja aku sudah meneleponnya saat jam istirahat makan siang tadi, dan pihak keluarga sudah mengizinkanku untuk berkunjung.


Sebenarnya, aku sempat berpikir bahwa segalanya akan terasa lebih mudah bagi Murakumo-san jika ada anak yang sekelas dengannya tahun lalu ikut menemaniku, daripada dia harus menemui wali kelas baru yang belum pernah ditemuinya sama sekali. Karena itu, aku sempat mencoba mengajak Kamijou-san, tetapi dia langsung menolaknya mentah-mentah.


Yah, jika mengingat kembali bagaimana sifat anak itu, sejak awal aku memang sudah menduga kalau mengajaknya akan sangat sulit, sih.


『──Iya.』


"Halo, selamat siang. Saya Shirosaki, guru wali kelas yang tahun ini bertanggung jawab atas kelas Rumi-san."


Aku menekan tombol interkom, lalu memperkenalkan diri begitu mendengar ada suara sahutan yang merespons dari dalam rumah.


『Ah, saya akan segera keluar......』


Sesuai perkataannya, tidak butuh waktu lama sampai ibunya Murakumo-san keluar dari dalam rumah untuk menyambutku.


"Selamat siang, Sensei. Terima kasih banyak karena sudah bersedia meluangkan waktu dan bersusah payah datang ke sini, saya benar-benar minta maaf jika telah merepotkan Anda."


Ibunya Murakumo-san memberikan kesan sebagai sosok wanita yang sangat lembut, ramah, dan pembawaannya cukup tenang.


Saat aku sedang sibuk mengorek informasi mengenai kasus Murakumo-san beberapa hari lalu, Wakil Kepala Sekolah sempat berkata padaku, 'Orang tua dari anak itu bukanlah tipe orang yang suka memprotes atau merepotkan, jadi dibiarkan saja juga tidak apa-apa kok'. Dan setelah melihatnya secara langsung, beliau memang sama sekali tidak terlihat seperti tipe orang yang akan datang ke sekolah untuk melayangkan tuntutan atau komplain.


Oleh karena itu, fakta bahwa dia bersikap pasrah mungkin menjadi salah satu alasan mengapa pihak sekolah selama ini memilih untuk mengabaikan kasus ini begitu saja...... 


Lagipula...... dalam kasus anak yang sampai berhenti masuk sekolah seperti ini, rasanya tidak mungkin di dalam kepala Wakil Kepala Sekolah yang sudah sangat berpengalaman itu tidak terlintas sedikit pun mengenai adanya indikasi masalah perundungan.


"Apakah Rumi-san ada di rumah?"


"Iya...... anak itu, dia sama sekali tidak mau keluar dari dalam rumah......"


Sebagai seorang ibu, beliau pasti merasa sangat mencemaskan kondisi putrinya. Meskipun fisiknya tidak sampai terlihat kurus kering atau merana, tetapi raut wajahnya menyiratkan bahwa dia sedang didera tekanan mental yang teramat berat. Kuharap aku bisa segera menyelesaikan masalah ini demi mereka berdua......


"Apakah saya boleh masuk ke dalam?"


"Tentu saja boleh, silakan masuk."


Ibunya Murakumo-san menyambut dan mempersilakanku masuk dengan senang hati. 


Melihat atmosfer ini, situasinya benar-benar mempertegas bahwa tidak ada masalah intern apa pun di dalam keharmonisan keluarga mereka.


"Hanya saja, anak itu...... sejak awal dia memang memiliki sifat yang sangat canggung dan kesulitan jika harus berbicara dengan orang lain...... Terlebih lagi untuk saat ini, bahkan ketika Ayaka-chan yang merupakan teman masa kecilnya datang berkunjung pun, dia sama sekali tidak mau memberikan respons atau menyahut...... Oleh karena itu......"


"Iya, saya rasa hal semacam itu sangat wajar terjadi. Untuk saat ini, mari kita coba menyapanya terlebih dahulu dan melihat bagaimana reaksinya nanti."


Jika dia mengurung diri di dalam rumah akibat dampak dari perundungan, maka wajar saja jika dia menjadi sangat kesulitan dan trauma untuk berinteraksi dengan orang asing. Apalagi, dia telah dicampakkan dan diabaikan oleh sosok guru wali kelas tahun lalu yang seharusnya paling bisa dia percayai dan andalkan.


Saat ini, dia mungkin sedang berada dalam kondisi mental di mana dia sudah tidak tahu lagi harus memercayai siapa di dunia ini.


"──Salam kenal, Murakumo-san. Mulai tahun ini, aku adalah Shirosaki, guru wali kelas yang akan bertanggung jawab atas Kelas E tempatmu bernaung."


Begitu aku melayangkan salam sapaan tersebut setelah diantarkan sampai ke depan pintu kamar Murakumo-san──


『Sensei......?』


Dari balik pintu, sayup-sayup terdengar sebuah suara imut yang kekanak-kanakan merespons ucapanku.


Mendengar hal itu, aku tanpa sadar langsung saling bertatapan mata dengan ibunya Murakumo-san karena terkejut.


Dia memberikan respons......!


Namun, rasa kegembiraan yang sempat membuncah itu ternyata hanya bertahan selama beberapa saat saja.


『Tidak ada...... yang ingin bicarakan. Tolong...... pulang saja......』


Secara sepihak, Murakumo-san langsung menolak mentah-mentah niatku untuk berbicara dengannya.


"──Ru-Rumi-chan, tindakanmu itu sangat tidak sopan kepada Sensei, lho......!"


『............』


Meskipun ibunya sudah berusaha keras untuk menegurnya dengan panik, Murakumo-san tetap bungkam dan tidak mau memberikan jawaban lagi.


Yah, tindakannya itu memang tidak bisa disalahkan. Setelah telanjur dikhianati dan diabaikan oleh guru wali kelas yang dia percayai sebelumnya, tentu mustahil baginya untuk bisa langsung membuka hati kepada seorang guru wali kelas baru yang bahkan belum pernah dia lihat wajahnya sekali pun.


"Aku datang ke sini karena benar-benar ingin membantumu. Jika kamu tidak keberatan, bisakah kamu memberikan waktu sebentar agar kita bisa mengobrol?"


『............』


Kini, sekeras apa pun aku mencoba memanggilnya, dia tetap tidak mau menyahut lagi.


Apakah karena ada sosok ibunya yang berdiri di dekatku, ataukah dia memang benar-benar enggan berbicara denganku. Aku tidak tahu pasti alasannya, tetapi memaksakan kehendak secara agresif kepada anak yang memiliki tipe kepribadian seperti ini justru hanya akan memberikan dampak yang buruk. Tidak ada jalan lain selain menunggu sampai dia sendiri yang bersedia membuka hatinya secara sukarela.


Mulai dari titik ini, segalanya akan berubah menjadi sebuah pertarungan adu kesabaran......


"Ibu, maaf, sepertinya untuk hari ini saya akan pamit pulang terlebih dahulu. Saya akan mencoba datang kembali lain kali untuk berbicara dengannya."


"Eh......"


Begitu aku menunjukkan gestur bersiap-siap untuk pamit pulang, ibunya Murakumo-san langsung tampak kebingungan. Beliau pasti tidak menyangka kalau aku akan mengalah dan mundur dari situasi ini dengan begitu mudahnya. Namun, dalam pertemuan pertama ini── terlebih lagi statusku di sini adalah seorang guru──dia pasti sedang memasang kewaspadaan yang sangat tinggi terhadapku. Jika aku tetap bersikeras untuk bertahan di depan kamarnya saat ini, hal itu justru hanya akan memperburuk citraku di matanya.


Di samping itu, tindakan tersebut dikhawatirkan malah akan memberikan beban psikologis tambahan yang tidak perlu bagi mental Murakumo-san. Oleh karena itu, untuk kunjungan hari ini, aku sengaja memutuskan untuk membatasi tujuanku hanya sebatas formalitas penyampaian salam sapaan saja.


"Ibu, apakah setelah ini kita bisa meluangkan waktu sebentar untuk berbicara berdua saja?"


Namun, hal itu bukan berarti aku akan langsung pulang begitu saja meninggalkan rumah ini. Sebab, meskipun aku belum bisa mendapatkan informasi langsung dari putrinya, masih ada satu sosok lagi di sini yang bisa kumintai keterangan.


"Ah, iya, tentu saja...... Kalau begitu, mari silakan menuju ke ruang keluarga......"


Mendengar bisikan lirihku, sang ibu langsung mengangguk patuh dengan ekspresi paham, lalu bergegas memandu langkahku menuju ke ruang keluarga.


Setelah kami berdua duduk saling berhadapan di meja makan, aku pun tanpa membuang waktu langsung mengutarakan inti dari permasalahannya.


"Berdasarkan pengamatan Ibu selama ini, apakah ada hal tertentu yang sekiranya Ibu curigai sebagai alasan utama yang membuat Rumi-san mendadak enggan keluar dari rumah?"


Meskipun aku sudah hampir bisa memastikan bahwa akar penyebab dari masalah ini adalah murni karena perundungan, aku tetap perlu mencari tahu seberapa jauh sang ibu telah berhasil menangkap situasi yang menimpa putrinya.


Dalam proses ini, jika aku langsung membeberkan informasi yang kumiliki, hal itu dikhawatirkan justru akan menciptakan sebuah opini bias di dalam kepala sang ibu, yang dapat membuat fokus pemikirannya teralihkan sepenuhnya ke arah sana dan malah berpotensi menutupi detail petunjuk lain yang seharusnya bisa kugali dari memorinya. Oleh karena itu, aku memilih untuk tidak menyinggung masalah perundungan terlebih dahulu, dan sengaja mengajukan pertanyaan yang bersifat umum tanpa membatasi ruang lingkup jawabannya.


"......Tidak, saya sama sekali tidak mengetahuinya......"


Setelah terdiam sejenak untuk merenungkannya kembali, sang ibu akhirnya menggelengkan kepalanya perlahan sembari menunduk lesu. Jika situasinya demikian, maka kemungkinan besar perubahan sikap putrinya terjadi secara mendadak begitu saja sejak dia melangkah kembali ke dalam rumah setelah bepergian dari luar, ya.


"Hanya sekadar untuk memastikan...... Ibu tadi sempat menyampaikan bahwa Rumi-san sama sekali tidak mau keluar dari rumah. Apakah perubahan sikap yang ekstrim ini sebenarnya sudah mulai terlihat sejak masa-masa di mana dia masih aktif pergi ke sekolah?"


"Hmm...... Sebenarnya, sejak awal dia memang bukan tipe anak yang suka bepergian atas kemauannya sendiri. Tetapi jika ada barang yang dia inginkan, dia pasti akan pergi membelinya sendiri...... Benar, Ayaka-chan juga sering sekali mengajaknya bermain, jadi dia terhitung sebagai anak yang cukup sering keluar rumah."


"Kalau begitu, ini bukan hanya tentang enggan pergi ke sekolah, melainkan dia memang mendadak berhenti melakukan aktivitas di luar rumah sama sekali, ya......"


Jika situasinya demikian, maka ada kemungkinan bahwa faktor penyebabnya juga berada di luar lingkungan sekolah, tetapi......


"Apakah Rumi-san sempat mengatakan sesuatu di masa-masa awal ketika dia mulai menolak untuk keluar dari rumah?"


Petunjuk sekecil apa pun tidak masalah.


Untuk saat ini, aku ingin mengumpulkan petunjuk sebanyak mungkin yang bisa mengarah pada sosok pelaku perundungan tersebut.


Sebenarnya, jika aku bisa menggali informasi ini langsung dari Rumi-san, itu akan menjadi jalan yang paling cepat dan akurat...... Namun melihat kondisinya yang seperti tadi, tampaknya akan sangat sulit untuk mengajaknya bicara.


"Tidak...... karena sejak saat itu, dia mendadak menjadi sangat pendiam...... Sejak kecil dia memang anak yang pemalu dan canggung di depan orang asing, sehingga dia selalu irit bicara jika sedang berada di luar. Namun, dia biasanya adalah anak yang sangat ceria dan banyak bicara jika sudah berada di dalam rumah, tetapi sekarang......"


Hal itu kemungkinan besar terjadi karena beban mental yang dideritanya membuat kondisi psikologisnya menjadi sangat jatuh. Terlebih lagi, setelah dikhianati oleh sosok yang dia percayai, dia mungkin berada dalam situasi di mana dia bahkan tidak bisa memercayai anggota keluarganya sendiri.


Jika menimbang hal tersebut, wajar saja jika anak yang dari suaranya terdengar sangat lembut ini sampai tega mengabaikan teguran ibunya tadi......


"Hanya saja...... Benar juga, dia sering sekali menegaskan kalau dirinya tidak mau pergi ke sekolah. Yah, hal itu mungkin terjadi karena pada awalnya saya hampir setiap hari mendesaknya secara sepihak untuk tetap pergi ke sekolah......"


Di saat aku sedang sibuk memutar otak memikirkan kondisi Murakumo-san, sang ibu tiba-kira menggumamkan satu kalimat yang sangat menarik perhatianku.


"Maaf, apakah dia secara spesifik menegaskan kata 'ke sekolah'?"


"I-Iya...... saya benar-benar tidak salah dengar......"


Mendengar konfirmasiku, sang ibu sempat agak terbata-bata sejenak sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya dengan tegas.


Begitu ya. Hal ini mempertegas bahwa alasan utamanya mengurung diri di rumah adalah murni karena masalah di sekolah. Persis seperti dugaan dan analisis yang kubuat bersama Kamijou-san, pelakunya memang berada di dalam lingkungan sekolah ini. Jika pelakunya adalah orang luar, dia tidak akan menunjukkan penolakan yang begitu kuat yang secara spesifik ditujukan hanya untuk pergi ke sekolah.


Sejak awal, fakta bahwa dia sempat berkonsultasi kepada guru wali kelasnya sebenarnya sudah memperbesar kemungkinan bahwa pelakunya adalah orang sekolah──tetapi dengan ini, aku sudah bisa meyakininya secara mutlak.


"Terima kasih banyak atas informasinya. Untuk hari ini saya akan pamit pulang terlebih dahulu, tetapi apakah Ibu tidak keberatan jika mulai besok dan untuk beberapa waktu ke depan saya akan rutin berkunjung ke sini?"


"Sebaliknya, apakah benar-benar tidak apa-apa......? Tindakan ini pasti akan sangat menyita waktu dan merepotkan bagi Sensei yang sibuk......"


"Sama sekali tidak masalah. Meskipun kami belum sempat bertatap muka secara langsung, Rumi-san tetaplah seorang murid yang sangat berharga bagiku. Tentu saja, berkunjung di hari libur pasti akan mengganggu waktu istirahat keluarga Ibu, jadi saya hanya akan datang pada hari kerja saja."


Aku tidak tahu bagaimana dengan ibunya Murakumo-san, tetapi ayahnya pasti bekerja pada hari biasa. Jika aku mendadak memunculkan diri di hari libur yang berharga bagi mereka, mereka pasti tidak akan bisa beristirahat dengan tenang.


Oleh karena itu, aku berpikir dengan cara meluangkan sedikit waktu sepulang sekolah pada hari kerja untuk memperlihatkan wajahku secara rutin, lambat laun Murakumo-san akan mulai melunakkan kewaspadaannya dan bersedia membuka hati kepadaku.


"Sensei...... Terima kasih banyak......"


Kedua mata ibunya Murakumo-san tampak berkaca-kaca menahan tangis, sembari beliau membungkukkan badannya secara mendalam ke arahku.


Melihat reaksinya, aku langsung menjadi panik seketika.


"T-Tolong jangan seperti ini......! Saya bahkan belum berhasil melakukan apa pun, dan bertindak demi kebaikan murid adalah sebuah kewajiban yang sudah semestinya dilakukan oleh seorang guru......!"


Meskipun aku sudah membalasnya demikian, ibunya Murakumo-san tetap berulang kali membungkukkan badannya demi menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam.


Kemungkinan besar, selama ini pihak keluarga sudah sering mencoba berkonsultasi dengan pihak sekolah, tetapi sama sekali tidak pernah ditanggapi dengan serius.


Mengingat bagaimana perangai dan sikap yang ditunjukkan oleh Wakil Kepala Sekolah tempo hari, aku bisa dengan sangat mudah membayangkan bagaimana situasi pelik yang sempat dihadapi oleh keluarga ini sebelumnya. Jika pihak orang tua yang menghadapi kasus ini adalah tipe orang yang agresif dan gigih──atau dengan kata lain, tipe orang tua yang berisik dalam menuntut haknya, Wakil Kepala Sekolah yang oportunis itu pasti akan terpaksa mengambil tindakan. Namun, ibunya Murakumo-san tampaknya sama sekali tidak memiliki tipe kepribadian yang keras seperti itu......


Padahal aku hanya mencoba menjalankan tanggung jawabku sebagai seorang guru secara total, jadi beliau benar-benar tidak perlu sampai merasa berutang budi kepadaku seperti ini......


Setelah itu, aku pun memutuskan untuk pulang. Namun, persis seperti dugaanku, ketika aku kembali mendatangi rumah Murakumo-san keesokan harinya, dia tetap bungkam dan sama sekali tidak mau menanggapi panggilanku.



"Fuuuh...... Bagaimana cara menyiasati situasi ini, ya?"


Hari libur kembali tiba.


Aku kembali duduk di bangku taman sembari menatap kosong ke arah langit, sembari menunggu kedatangan Sana-chan. Baru memasuki hari kedua saja, Murakumo-san sudah langsung berhenti memberikan respons sama sekali.


Meskipun aku berniat untuk tetap rutin mendatangi rumahnya pada hari kerja di minggu depan, aku benar-benar sedang dibuat pusing memikirkan metode apa yang paling tepat untuk bisa membuatnya bersedia membuka hati kepadaku.


"......Ehh?"


Di tengah asyiknya aku menatap langit, aku mendadak merasakan sebuah bobot yang cukup berat mendarat di atas kakiku. Begitu aku menurunkan arah pandanganku──


"Ehehe...... Selamat pagi, Onii-chan!"


──Sana-chan sudah duduk dengan nyaman di atas pangkuanku, sembari memamerkan senyuman cerianya yang teramat menggemaskan. Tampaknya, dia sengaja mengendap-endap mendekatiku di saat aku sedang sibuk melamun, lalu langsung mengambil posisi duduk di sini. Benar-benar anak yang sangat berjiwa bebas seperti biasanya.


"Selamat pagi, Sana-chan."


"Ngg......!"


Begitu aku membalas sapaannya, Sana-chan menganggukkan kepalanya dengan ekspresi yang tampak sangat puas. Dia benar-benar anak yang sangat manis.


"Anda ternyata kembali melamun lagi di sini, ya?"


Mengingat ada Sana-chan di sini, tentu saja sosok Mirei-chan selaku wali muridnya juga ikut mendampinginya. Saat ini, Mirei-chan sedang menatap wajahku dengan ekspresi yang seolah-olah menyiratkan bahwa ada sesuatu yang ingin dia sampaikan.


"Ah, selamat pagi......"


"Selamat pagi."


Setelah membalas sapaanku secara formal, dia dengan bersikap acuh tak acuh langsung mengambil posisi duduk tepat di sebelahku.


Jujur saja, hubunganku dengan Mirei-chan saat ini masih belum bisa dikatakan mencair sepenuhnya, atau lebih tepatnya masih terbilang cukup canggung. Akibatnya, setiap kali harus berhadapan langsung dengannya seperti ini, aku otomatis menjadi agak sedikit gugup.


"Sana, bukankah ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan kepada Onii-chan?"


Entah karena dia menyadari kecanggunganku atau memang sama sekali tidak memedulikannya, Mirei-chan langsung mengalihkan perhatiannya untuk mengajak Sana-chan berbicara.


Mendengar instruksi dari ibunya, ekspresi wajah Sana-chan langsung berubah seketika layaknya sebuah bola lampu yang mendadak menyala terang di atas kepalanya, memancarkan raut wajah dari seseorang yang baru saja berhasil mengingat sesuatu.


"Ngg-!!"


Seolah-olah ingin mempertegas kalimat 'Benar, hal itu!', Sana-chan mengangguk mantap ke arah Mirei-chan. Kemudian, sembari memancarkan binar penuh harap di kedua matanya, dia mendongak menatap wajahku.


"Emm, ada apa?"


Anak ini terhitung cukup sering melontarkan permintaan yang sangat tiba-tiba. Mulai dari membuat janji untuk bermain di taman setiap hari libur, menyeretku ke rumahnya agar kami bisa makan bersama, hingga puncaknya membuat janji agar aku selalu menyantap makan malam di rumah Mirei-chan setiap akhir pekan. 


Karena dia sering kali memintaku melakukan hal-hal yang luar biasa, aku pun tanpa sadar langsung memasang sikap waspada. Jujur saja, sosok yang paling sukses membuat hidupku pontang-panting selama beberapa tahun terakhir ini sudah pasti adalah anak ini. 


Tentu saja, bukan berarti aku membenci hal tersebut, dan aku pun menganggap Sana-chan adalah anak yang sangat menggemaskan. Hanya saja──situasi ini membuatku merasa teramat sangat canggung di hadapan Mirei-chan. Ditambah lagi, Kamijou-san yang merupakan seorang siscon akut juga selalu melemparkan tatapan mata yang sangat mengerikan kepadaku, gara-gara dia merasa posisi Sana-chan telah direbut olehku. 


Di tengah kewaspadaanku yang mendalam seperti itu──


"Sana...... mau pergi ke taman hiburan bersama Onii-chan......!!"


──Sesuai dugaan, dia kembali melayangkan sebuah permintaan yang sangat berat bagiku. Jika aku sampai ikut pergi bersama mereka, situasinya pasti akan langsung terlihat seperti sebuah kencan keluarga kecil bersama mantan pacar yang sudah berpisah denganku sepuluh tahun lalu──karena itu, bukankah permintaan semacam ini seharusnya dia ajukan kepada Mirei-chan selaku wali muridnya saja......? Aku tanpa sadar membatin demikian.


"Taman hiburan? Kenapa mendadak ingin ke sana......?"


Meskipun ada banyak sekali pertimbangan yang berkecamuk di dalam benakku, aku mencoba menahannya sekuat tenaga dan memilih untuk menanyakan alasannya terlebih dahulu kepada Sana-chan. Namun, respons pertanyaanku tampaknya terdengar seperti sebuah penolakan di telinganya, karena sedetik kemudian raut wajah Sana-chan langsung berubah menjadi sangat lesu.


"Mau pergi, ke taman hiburan......"


"──ッ!? A-Ah, tentu saja! Mari kita pergi ke sana bersama-sama, ya!"


Begitu melihat genangan air mata yang sudah mulai membendung di pelupuk mata Sana-chan, kalimat persetujuan tersebut langsung terlontar begitu saja secara refleks dari mulutku.


Ah, aku kembali melakukannya......


Tampaknya aku memang benar-benar tidak berdaya jika sudah berhadapan dengan tangisan anak kecil.


──Atau lebih tepatnya, ketika melihat seorang anak sekecil itu sudah berada di ambang tangis, jangankan orang tuanya sendiri, orang asing sekalipun pasti akan langsung merasa panik dan kebingungan dibuatnya.


"Benarkah......!?"


Mendengar jawabanku, ekspresi wajah Sana-chan langsung berubah menjadi sangat ceria seketika, persis seperti yang sering terjadi sebelumnya. Dia tampak merayakannya dengan begitu gembira, hingga aku yakin jika aku sampai berani meralat ucapanku dan berkata 'Sepertinya lebih baik kita batalkan saja', dia pasti akan langsung menangis histeris di tempat saat ini juga.


"Tampaknya salah satu teman di tempat penitipan anak sempat bercerita bahwa pada hari libur minggu lalu dia pergi bermain ke taman hiburan bersama kedua orang tuanya. Setelah mendengar cerita itu, Sana jadi terus-menerus merengek ingin pergi ke taman hiburan juga."


Sembari mengusap puncak kepala Sana-chan dengan lembut dan penuh kasih sayang, Mirei-chan berinisiatif memberikan penjelasan padaku untuk mewakili putrinya. Jadi situasinya karena dia mendengar cerita pamer dari temannya, lalu menjadi ingin pergi ke sana juga, ya.


Di saat Sana-chan sedang sibuk menyandarkan dan menggosokkan pipinya dengan manja ke arah dadaku karena saking gembiranya, aku pun mendekatkan mulutku ke arah telinga Mirei-chan.


"Tapi, apakah tidak masalah jika aku ikut pergi bersama kalian......?"


Aku mengajukan pertanyaan tersebut dengan volume suara yang sangat lirih agar tidak sampai terdengar oleh Sana-chan, sembari menyisipkan maksud tersirat berupa, 'Bukankah agak kurang etis jika seorang guru dan wali murid pergi berlibur bersama......?'.


Bagaimanapun juga, tergantung dari sudut pandang orang yang melihat, aktivitas kami nanti pasti akan terlihat persis seperti sebuah kencan keluarga kecil yang sedang membawa anak. Jika sampai ada kenalan kami yang melihatnya, situasinya benar-benar akan langsung tamat seketika.


Terlebih lagi dalam kasusku, jika sampai ada pihak dari sekolah yang memergoki kami, tindakan ini pasti akan langsung dicap sebagai pelanggaran profesional karena menjalin hubungan pribadi yang terlalu dekat dengan wali murid, dan aku mungkin harus bersiap-siap untuk segera angkat kaki dari tempat kerja baruku ini.


Bagaimanakah pun aku memikirkannya, keputusan untuk pergi ke taman hiburan bersama mereka berdua memiliki risiko yang teramat besar bagi posisiku. 


Namun──


"Jika kondisinya sudah menjadi seperti ini, Sana tidak akan mau mendengarkan perkataan siapa pun lagi, jadi kita sudah tidak memiliki pilihan lain...... Lagipula, tolong jangan salah paham. Bukan berarti saya yang ingin pergi bersama Anda, ya. Kita pergi murni hanya karena Sana yang bersikeras ingin pergi bersama Anda."


──Entah mengapa, dia dengan sangat tegas memberikan penekanan pada kalimat 'Bukan berarti saya yang ingin pergi bersama Anda', sebelum akhirnya menyimpulkan bahwa 'kita tidak memiliki pilihan lain selain pergi bersama'.


Begitu ya......jadi karena Sana-chan bersikeras ingin pergi bersamaku, Mirei-chan pun terpaksa harus ikut pergi mendampingi kami......


Tetapi jika situasinya memang terpaksa, lalu mengapa kedua pipinya mendadak merona merah samar seperti itu? Ditambah lagi, dia juga langsung memalingkan wajahnya dengan ketus ke arah lain.


Yaaa, meskipun sikap yang ditunjukkan oleh Mirei-chan cukup membuatku penasaran...... mengingat aku sendiri juga tidak mungkin tega membuat Sana-chan menangis, sejak awal aku memang sama sekali tidak memiliki opsi untuk menolak, sih......


"Sebagai informasi tambahan, sebenarnya saya sudah sempat mengajak Marin juga, tetapi anak itu menegaskan bahwa dia sama sekali tidak mau ikut pergi."


Di saat aku sedang tersenyum kecut meratapi nasibku, Mirei-chan melayangkan informasi pelengkap tersebut kepadaku.


Jelas saja, wajar saja kalau dia menolak!


Meskipun batinku berteriak demikian, aku tidak bisa melayangkan protes tersebut secara langsung demi menjaga perasaan anak perempuan kecil yang sedang duduk di atas pangkuanku saat ini.


Bagi anak yang sangat menyayangi adiknya seperti dia, fakta bahwa dia melewatkan kesempatan untuk bisa bermain bersama sang adik di taman hiburan pasti didasari oleh keengganannya untuk terlibat dalam kesalahpahaman jika sampai ada orang lain yang melihat kami, serta rasa gengsinya yang menolak keras ide untuk pergi berlibur bersama dengan guru wali kelasnya sendiri. Lagipula, aku pun sebenarnya pasti akan langsung menolak ajakan ini jika saja Sana-chan tidak berada di ambang tangisnya tadi......


Sementara itu, di sepanjang perjalanan kami menuju ke taman hiburan──


"Ta-man~ hi-bu-ran! Ta-man~ hi-bu-ran!"


──Sana-chan yang berjalan di posisi tengah sembari menggandeng tanganku dan tangan Mirei-chan tampak mengayunkan kedua lengannya dengan penuh energi dan suasana hati yang sangat gembira.


Sosoknya terlihat begitu dipenuhi oleh rasa kebahagiaan, hingga aku yakin siapa pun yang melihat kami di jalan pasti akan langsung mengira bahwa kami adalah sepasang suami istri yang sedang membawa anak kandung mereka.


Yaa...... jika hal ini bisa membuat anak ini merasa bahagia, kurasa tidak ada salahnya sesekali begini......


Satu-satunya hal yang bisa kulakukan untuk menjaga profesionalitas dan rasa hormatku kepada muridku, Kamijou-san, adalah dengan memastikan diriku tidak melakukan kesalahan atau melewati batas apa pun bersama Mirei-chan selama perjalanan ini...... Aku terpaksa harus menguatkan tekadku sedemikian rupa.


──Anak kecil, ternyata benar-benar makhluk terkuat yang tidak bisa dilawan, ya......



Mengingat perjalanan menuju ke taman hiburan akan jauh lebih praktis jika ditempuh menggunakan mobil──kami awalnya berniat untuk berjalan menuju ke area parkir apartemen tempat tinggalku. Namun, karena Sana-chan membutuhkan car seat, kami pun akhirnya memutuskan untuk berangkat menggunakan mobil milik Mirei-chan saja.


Sembari berjalan menuju ke rumahnya, aku sempat sibuk memutar otak memikirkan kalimat apa yang sekiranya harus kuucapkan jika sampai berpapasan dengan Kamijou-san nanti. Dan benar saja, begitu kami tiba di depan rumahnya, Kamijou-san yang tampaknya mendengar suara Sana-chan langsung menjulurkan kepalanya dari balik jendela lantai atas. Dia menatap ke arah kami dari ketinggian sembari menyunggingkan sebuah senyuman sinis yang seolah-olah ingin mengejekku, 'Wah, indahnya ya hidup Anda?'.


Meskipun itu sudah menjadi pemandangan yang biasa, tetap saja situasi ini bukanlah sesuatu yang bisa kukendalikan atas kehendakku sendiri. Sebaliknya, aku justru membatin bahwa dialah yang seharusnya berinisiatif untuk membawa Sana-chan pergi bermain ke taman hiburan......


"──Lho, Anda malah duduk di kursi belakang, bukan di kursi penumpang depan?"


Setelah mendudukkan Sana-chan di car seat yang terpasang di kabin belakang, aku bermaksud memutari mobil untuk masuk dan duduk di sisi kursi belakang yang satunya. Namun, tepat saat tanganku baru saja memegang gagang pintu, Mirei-chan mendadak menatap wajahku dengan ekspresi yang seolah-olah menyiratkan bahwa ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya.


Terlebih lagi, fakta bahwa dia sengaja berjalan menghampiriku ke sisi kursi penumpang depan membuatku yakin kalau dia pasti ingin melayangkan protes. Kedua pipinya juga tampak agak sedikit menggembung, dan tatapan matanya terlihat seperti orang yang sedang merajuk......


"Ah...... aku berpikir mungkin aku tidak bisa menyetir karena masalah klaim asuransi mobilnya. Tetapi jika ketentuan asuransinya tidak bermasalah meski orang lain yang mengemudi, biar aku saja yang menyetir bagaimana?"


Karena merasa seperti sedang disalahkan, aku pun menjadi panik dan bergegas menawarkan diri untuk menyetir sembari mengulas sebuah senyuman.


Namun──


"Saya tadi kan bilang, 'bukan di kursi penumpang depan', bukan?"


──Dia membalas ucapanku dengan kalimat yang menyiratkan maksud tegas bahwa tidak ada seorang pun yang menyuruhku untuk menyetir.


Ya, hal itu memang benar, sih...... tapi, sebentar dulu. Jika ini bukan tentang masalah urusan menyetir, lalu kenapa aku harus disalahkan dan dipelototi seperti ini......!?


Aku benar-benar tidak habis pikir dan tidak bisa menyembunyikan rasa tercengangku karena sama sekali tidak memahami alasan di balik sikap ketusnya itu.


"Ya sudah, jika Anda memang begitu ingin duduk di samping Sana, saya tidak keberatan kok."


──Sembari melontarkan kalimat yang sama sekali tidak terdengar seperti sedang 'tidak keberatan', Mirei-chan langsung membalikkan badannya dan berjalan kembali menuju ke sisi kursi kemudi.


Apakah ini semacam sindiran? Apakah dia ingin memperingatkanku agar tidak terlalu menempel pada putrinya, atau menyuruhku untuk bisa lebih menjaga jarak aman?


Yaaa...... meskipun Sana-chan memang sangat lengket kepadaku, mereka berdua saat ini memang terlihat selalu menempel tanpa jarak, jadi aku bisa memahami apa yang ingin disampaikan oleh Mirei-chan.


Untuk saat ini, karena aku sudah tahu bahwa duduk di samping Sana-chan akan membuat suasana hati Mirei-chan menjadi buruk, aku pun akhirnya memutuskan untuk duduk di kursi penumpang depan saja.


──Yah, atmosfernya memang terasa sangat canggung, sih. Itulah sebabnya mengapa sejak awal aku berniat untuk duduk di kursi belakang saja tadi......


"Sana, tolong bersabar sebentar sampai kita tiba di taman hiburan, ya? Begitu sampai di sana nanti, kamu bisa bermain sepuasnya kok."


"Ngg......!"


Aku sempat khawatir Sana-chan akan merengek protes karena aku tidak duduk di sampingnya. Namun, tampaknya isi kepalanya saat ini sudah sepenuhnya dipenuhi oleh bayangan tentang taman hiburan, karena dia justru terlihat sangat gembira setelah mendengar kalimat penenang dari Mirei-chan yang langsung menyapanya begitu mobil mulai berjalan.


Bagi diriku pribadi, aku justru akan sangat terbantu jika saja Sana-chan mau sedikit egois dan merengek protes di situasi seperti ini──namun sayangnya, realitas di dunia ini sering kali tidak berjalan sesuai dengan apa yang kita harapkan.


"──Ssuuh...... ssuuh......"


"Lho, Sana-chan sudah tertidur?"


Sesaat setelah mobil mulai melaju di jalanan. Sayup-sayup terdengar suara napas halus yang teramat menggemaskan dari arah kabin belakang. Begitu aku memalingkan badannya untuk menengok, Sana-chan ternyata sudah terlelap dengan kepala yang bersandar nyaman di kursi khususnya.


Padahal tadi dia tampak begitu bersemangat dan ceria, tetapi sekarang dia mendadak menjadi sangat tenang seolah-olah daya baterai di dalam tubuhnya baru saja habis total.


"Anak kecil memang biasanya akan langsung tertidur pulas begitu naik ke dalam mobil. Tapi ya sudahlah, mengingat dia pasti akan bermain dengan sangat heboh di taman hiburan nanti, bisa dikatakan kalau sekarang dia sedang mengisi ulang daya tubuhnya."


Mirei-chan tampaknya sudah sangat terbiasa menghadapi situasi seperti ini. Sembari tetap fokus menyetir menatap jalanan di depan, dia menyunggingkan sebuah senyuman lembut yang tampak pasrah. Raut wajah sampingnya saat ini benar-benar memancarkan aura dari sosok seorang ibu yang sangat luar biasa.


Sejak lulus dari bangku SMA dulu, hubungan kami memang sudah terputus total tanpa kabar. Namun, persis seperti diriku yang telah melewati banyak rintangan hidup, dia pun pasti telah melalui banyak hal hingga bisa berada di titik ini.


Sebagai pria yang di masa lalu gagal memberikan kebahagiaan untuknya, aku berpikir selama dia bisa hidup dengan bahagia seperti sekarang, maka hal itu sudah lebih dari cukup bagiku.


"Apakah merepotkan bagi Anda ketika anak itu terus-menerus menempel kepada Anda?"


"Eh?"


Di tengah rasa haru sekaligus legaku setelah melihat raut wajah bahagianya, Mirei-chan tiba-tiba melayangkan sebuah pertanyaan yang sama sekali tidak terduga.


"Tugas sebagai seorang tenaga pendidik pasti sangat melelahkan dan menyita waktu, bukan? Ditambah lagi sekarang waktu libur Anda yang berharga malah habis terbuang hanya untuk menemani Sana bermain. Sejak dulu, Anda memang memiliki kebiasaan buruk di mana Anda selalu menyembunyikan isi hati yang sebenarnya di balik ekspresi wajah Anda. Jadi, apa yang sebenarnya Anda rasakan di dalam hati?"


Mirei-chan sempat melirikkan pandangannya ke arahku selama sekilas.


Menyembunyikan isi hati di balik ekspresi wajah......? Tidak, seingatku aku tidak pernah melakukan hal semacam itu, dah......


Saat merasa senang, aku yakin aku selalu memperlihatkan wajah yang gembira, begitu pula saat aku sedang menikmati sesuatu, aku pasti akan menunjukkan ekspresi yang ceria. Tentu saja, jika pertanyaannya adalah apakah aku akan langsung menunjukkan ekspresi kesal atau marah saat menghadapi hal yang tidak menyenangkan, jawabannya mungkin tidak. Namun masalahnya adalah──sejak zaman SMA dulu, aku sama sekali tidak pernah merasakan emosi negatif semacam itu setiap kali sedang berhadapan dengan Mirei-chan.


Begitu pula saat berada di sekolah...... yah, meskipun itu tergantung situasi dan kondisinya, seingatku aku hampir tidak pernah menyimpan emosi yang buruk...... Jadi, mengapa Mirei-chan bisa sampai memiliki kesalahpahaman yang begitu besar seperti itu, ya?


──Meskipun hal itu cukup mengusik pikiranku, aku segera mengalihkan fokus dan mengulas sebuah senyuman hangat.


"Sana-chan adalah anak yang sangat imut, jadi mana mungkin ada orang yang tidak merasa senang saat dimanja oleh anak sekecil itu. Lagipula, aku sendiri kan tidak memiliki seorang adik perempuan, jadi menghabiskan waktu bersamanya membuatku merasa seolah-olah memiliki seorang adik yang sangat menggemaskan dan menyenangkan."


Mirei-chan adalah sosok gadis yang sangat lembut dan selalu memikirkan perasaan orang lain, jadi dia mungkin merasa tidak enak hati karena telah membiarkan putrinya menyita waktu liburku untuk menemaninya bermain. Karena pemikiran itulah, aku sengaja memilih kata-kata yang bernada ceria agar dia tidak perlu merasa terbebani atau sungkan lagi.


Meskipun pada kenyataannya, perasaan yang kurasakan saat bersamanya sebenarnya jauh lebih dekat pada sosok seorang anak perempuan daripada seorang adik, tetapi karena aku berpikir hal itu agak kurang sopan jika diucapkan, aku pun memutuskan untuk mengibaratkannya sebagai seorang adik saja. Namun, tepat di saat mobil menghentikan lajunya karena lampu merah──


"Adik perempuan...... jika menimbang dari faktor usia kalian berdua, bukankah perbandingan itu terdengar terlalu dipaksakan?"


──Mirei-chan langsung melemparkan tatapan mata yang penuh selidik ke arahku.


Aku tahu apa yang ingin dia sampaikan. Aku sangat tahu dan paham, tetapi──meskipun kami tidak memiliki hubungan darah, mana mungkin aku bisa dengan lantang berkata, 'Dia sudah kuanggap seperti anak kandungku sendiri' tepat di hadapan ibu kandungnya langsung, kan......?


Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak membatin demikian atas situasiku yang serba salah ini.



"Sana-chan, kita sudah sampai, lho. Ayo bangun."


Begitu kami tiba di taman hiburan bertemakan dunia mainan yang sengaja dipilih karena sangat ramah untuk anak-anak, aku menepuk pundak Sana-chan yang sedang tertidur lelap di kursi khususnya secara perlahan dan lembut.


Seketika itu juga──


"Anda melakukannya secara alami sekali, seolah-olah hal itu adalah sesuatu yang biasa dilakukan oleh seorang ayah, ya......"


"Eh? Ah......"


Melihat tindakanku yang sedang berusaha membangunkan Sana-chan, Mirei-chan mendadak melayangkan sebuah senyuman kecut ke arahku.


Memang benar, hal-hal seperti ini mungkin sudah semestinya menjadi tugas dari ibunya sendiri. 


Entah mengapa, karena dia sudah bersusah payah menyetir untuk kami sepanjang jalan, aku berpikir akan lebih baik jika aku yang berinisiatif untuk membangunkan Sana-chan, tetapi...... sepertinya tindakanku ini memang agak kurang tepat.


"Ngg......"


Di tengah tubuhku yang mendadak kaku, Sana-chan yang mendapatkan sedikit stimulus akhirnya membuka kedua matanya secara perlahan──atau lebih tepatnya, baru hampir terbuka. 


Tampaknya kesadarannya sudah mulai perlahan-lahan terkumpul. Namun, kedua matanya yang baru terbuka setengah itu tidak kunjung terbuka sepenuhnya. Sepertinya stimulus tadi masih belum cukup kuat untuk memulihkan kesadarannya secara total.


"Sana-chan, bisa bangun?"


"Ngg...... mau tidur......"


Begitu aku memanggilnya, Sana-chan menggelengkan kepalanya sedikit, lalu kembali menyandarkan kepalanya dengan nyaman di kursi khusus anak. Dia benar-benar telah kalah telak oleh rasa kantuknya.


"Kita sudah sampai di taman hiburan, lho?"


"Ngg......?"


Jika dia sampai lanjut tertidur di tempat ini, maka tujuan awal kami datang ke sini akan menjadi sia-sia. Oleh karena itu, aku mencoba memancingnya dengan mengungkit topik tentang taman hiburan yang sangat dia nanti-nantikan sejak kemarin, demi membuatnya bersedia untuk bangun.


"Taman...... hi-bu-ran......?"


Sesuai dengan target dugaan awal, Sana-chan langsung memberikan respons begitu mendengar kata taman hiburan. Sembari menahan rasa kantuknya yang masih berat, dia mengusap kedua matanya dengan lembut menggunakan punggung tangannya. Dia tampak sedang berusaha keras sekuat tenaga untuk bangun.


"Kamu sangat ingin pergi ke taman hiburan, kan? Kita sudah sampai, lho?"


"Ngg......"


Aku bergegas melepas segel sabuk pengaman pada kursi khususnya, lalu mengangkat dan menggendong tubuh Sana-chan ke dalam pelukanku.


Seketika itu juga──


"Ah......"


──Mirei-chan mendadak melayangkan sebuah erangan pelan yang seolah-olah ingin berkomentar, 'Aduh, orang ini malah membuat masalah baru lagi......'.


"Eh, a-apakah ada tindakanku yang salah?"


"Bukan masalah salah atau tidak lagi, jika Anda malah menggendongnya di saat kondisi kesadarannya masih seperti ini...... lihat saja sendiri......"


Mirei-chan menunjuk ke arah Sana-chan yang kini sudah berada di dalam dekapan lenganku dan menyandarkan seluruh wajahnya di atas pundakku. Dan di sanalah, Sana-chan──


"Ssuuh...... ssuuh......"


──Kembali mengembuskan napas halusnya yang teratur dengan ekspresi wajah yang tampak sangat nyaman dan pulas.


"Dia malah tidur lagi......"


"Sudah pasti."


Sembari menatap senyuman pasrah dari Mirei-chan yang seolah-olah ingin mengejekku, 'Jika anak yang sedang berjuang melawan rasa kantuk malah diberikan kenyamanan dalam gendongan, tentu saja dia akan langsung tertidur pulas kembali, dasar bodoh!', aku...... tidak memiliki pilihan lain selain membalas ucapkannya dengan senyuman yang tak kalah kecut. Namun untungnya, setelah membelikan tiket masuk dan terus-menerus mencoba mengajaknya berbicara di sepanjang langkah kami menuju ke dalam area, aku pada akhirnya berhasil memaksa kesadaran Sana-chan untuk bangun sepenuhnya.



"Gendooong......!!"


Kejadian ini berlangsung sesaat setelah Sana-chan berhasil bangun sepenuhnya. Mengingat dia sudah terjaga, aku berpikir tidak ada salahnya untuk membiarkannya berjalan sendiri di atas tanah. Namun begitu aku menurunkannya, kedua pipinya langsung menggembung bulat dengan sangat padat, sembari melemparkan tatapan mata yang teramat tidak puas ke arahku.


Dia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, memasang posisi siap siaga untuk menunggu digendong kembali.


"Fufu...... Anda sepertinya sudah telanjur memanjakannya dengan gendongan, ya. Anda tidak boleh menolak permintaan dari anak sekecil itu, lho?"


Di samping kami, Mirei-chan justru tampak sangat menikmati situasi ini entah karena alasan apa. Meskipun aku merasa senang melihat suasana hatinya membaik, aku tetap tidak bisa menahan diri untuk tidak mempertanyakan apakah situasi ini benar-benar tidak apa-apa jika dibiarkan begitu saja......?


Yaaa, tapi bagaimanapun juga, aku memang pihak yang bersalah di sini karena telah gegabah menggendongnya di saat dia masih terkantuk-kantuk tadi. Iya, aku mengaku salah.


"──Ehehe......"


Begitu tubuhnya kembali kuangkat ke dalam dekapan, Sana-chan langsung menyandarkan wajahnya di atas pundakku dengan ekspresi yang sangat gembira. Tidak hanya itu, dia bahkan langsung menggosok-gosokkan pipinya yang mungil ke arah pipiku dengan sangat manja.


Anak ini, benar-benar sudah menjadi sangat lengket kepadaku, ya......


"Sana-chan ingin mencoba naik wahana apa?"


"Hmm~? Mau semuanya......!!"


Sebelum Mirei-chan sempat menimpali, aku bergegas mengalihkan fokus pembicaraan. Namun, Sana-chan justru langsung meneriakkan jawabannya dengan penuh energi tepat di samping lubang telingaku.


Aduh, gendang telingaku rasanya mau pecah, tolong lain kali kondisikan volume suaramu sedikit lebih lembut ya, Nak.


"Mau naik semuanya, ya......"


Mengingat hari ini adalah hari libur, atmosfer di dalam taman hiburan tentu saja terhitung sangat padat dan ramai dikunjungi orang. Jumlah wahana permainan di tempat ini juga tergolong banyak, sehingga jika menimbang panjangnya durasi waktu antrean yang harus kami lalui, target untuk menaiki seluruh wahana sepertinya akan menjadi agenda yang sangat sulit untuk diwujudkan. Ditambah lagi, di dalam taman hiburan ini tampaknya juga menyediakan berbagai macam fasilitas menarik lainnya yang dijamin akan sangat disukai oleh anak-anak selain wahana permainan utama...... Benar-benar teka-teki yang sulit.


"Kalau bersama Onii-chan, pasti bisa kok......!"


"Iya deh, tapi omong-omong dari mana datangnya rasa kepercayaan diri yang misterius itu......?"


Anak perempuan kecil ini menatap lurus ke arah wajahku dari jarak yang sangat dekat, sembari memamerkan sebuah senyuman yang terkesan sangat bangga.


Memangnya kamu pikir aku ini adalah seorang manusia super yang memiliki kekuatan ajaib......? Lagipula, sosok utama yang akan menaiki wahana itu kan adalah dirimu sendiri, jadi jika fisikmu sendiri yang tidak sanggup bertahan, maka segalanya akan menjadi sia-sia saja, tahu......?


Meskipun batinku sibuk mengeluh demikian, aku memilih untuk mengurungkan niatku karena tahu akan sangat sulit bagi anak seusianya untuk bisa memahami logika tersebut secara logis.


Untuk sementara waktu, aku memutuskan untuk mengarahkan langkah menuju ke area antrean wahana kereta api mini yang terletak di dekat pintu masuk, sebuah wahana legendaris yang ingatan masa kecilku sendiri bahkan masih merekam eksistensinya dengan jelas. Pikiranku sederhana, anak sekecil dia pasti akan sangat menyukai jenis wahana yang seperti ini.


Namun──


"Ooh, jadi Onii-chan ternyata sangat menyukai wahana yang seperti ini, ya......!"


──Entah bagaimana ceritanya, Sana-chan justru malah salah paham dan mengira bahwa kami mengantre di tempat ini murni karena keinginan pribadiku yang sangat ingin menaiki wahana tersebut.


Aku bisa memahami dengan sangat baik mengapa jalan pikiran Sana-chan bisa sampai berujung pada kesimpulan bahwa aku menyukai wahana ini. Hal itu pasti terjadi karena wahana inilah yang pertama kali kupilih sebagai target antrean kami, bukan?


Tapi, sebentar dulu...... bukankah tadi kamu sendiri yang dengan lantang berkata ingin menaiki seluruh wahana permainan di tempat ini? Apakah kamu sudah melupakan ucapanmu sendiri secepat itu......?


Rasanya aku benar-benar ingin melayangkan protes tersebut kepadanya saat ini juga. Meskipun di sisi lain, pemandangan raut wajah samping dari Mirei-chan yang sedang terkekeh geli melihat interaksi kami tampak memberikan kesan yang sangat mendalam di dalam hatiku.



"Onii-chan, lihat itu! Mau naik yang itu!"


Saat kami sedang asyik berjalan-jalan di dalam area, Sana-chan mendadak menunjuk ke arah sebuah wahana berupa kapal besar yang sedang berayun dengan heboh.


Itu adalah wahana berbentuk kapal bajak laut, jenis permainan yang dulu juga pernah kunaiki saat aku masih kecil.


"Sana-chan ternyata suka jenis wahana yang gerakannya besar dan heboh seperti itu, ya?"


"Ngg......!"


Bagi Sana-chan yang citra dirinya memang sangat cocok digambarkan sebagai anak yang super energik, wahana yang menantang dan memicu adrenalin seperti ini tampaknya jauh lebih menarik ketimbang wahana permainan yang santai dan tenang. Karena itu, kami pun segera memosisikan diri di dalam barisan antrean.


"Masih lama, ya?"


"Sebentar lagi kok, ayo bersabar sedikit ya."


"Ngg."


Meskipun Sana-chan terus menggoyang-goyangkan tubuhnya seolah ingin berkata 'Ayo cepat, cepat!', dia sama sekali tidak rewel atau membuat keributan. Dia pasti sudah paham kalau berisik di tempat seperti ini hanya akan mengganggu kenyamanan orang-orang di sekitar.


"Sana, tolong diam sebentar dan jangan banyak bergerak, ya?"


Namun, Mirei-chan tampaknya menangkap situasi ini dari sudut pandang yang berbeda denganku. Fakta bahwa Sana-chan terus menggoyangkan badannya di dalam dekapanku ternyata dinilai sebagai tindakan yang kurang sopan di mata Mirei-chan.


Akibat teguran ibunya, Sana-chan langsung memanyunkan bibirnya hingga kedua pipinya menggembung bulat karena kesal.


"Muuu......!"


"Mau pasang wajah cemberut seperti apa pun tetap tidak boleh, lho. Tindakanmu itu bisa mengganggu orang lain."


"Iyaaa."


Meskipun sempat mencoba melayangkan protes lewat ekspresi cemberutnya, Sana-chan langsung menurut dan menyerah begitu saja setelah dinasihati dengan lembut oleh Mirei-chan.


Bagaimana, ya...... anak ini benar-benar sosok yang sangat penurut dan baik hati, atau lebih tepatnya, pola didikan yang diterapkan oleh Mirei-chan memang sudah tertanam dengan sangat sempurna pada dirinya......


Aku membatin bahwa anak ini kelak pasti akan tumbuh menjadi sosok wanita yang sangat mandiri dan bisa diandalkan. 


Tak lama kemudian, begitu giliran kami tiba, Sana-chan langsung mengambil posisi duduk tepat di sebelahku.


"Ngg......!"


Entah mengapa dia mendongak menatap wajahku dari jarak dekat sembari memamerkan ekspresi yang terkesan sangat bangga, tetapi karena sosoknya terlihat begitu menggemaskan, aku pun membalasnya dengan anggukan kepala sembari tersenyum hangat. Dan begitu kapal mulai mengayun tinggi──


"Waaaaaa!"


──Sana-chan langsung berteriak histeris dengan ekspresi yang tampak sangat gembira.


Untuk ukuran anak sekecil dia, wajar saja jika dia merasa ketakutan menghadapi wahana ekstrem seperti ini, tetapi anak ini ternyata memiliki mental yang sangat kuat.


"──Seru tidak?"


"Ngg......! Mau naik lagi......!"


Setelah turun dari wahana kapal, Sana-chan memamerkan sebuah senyuman puas yang merekah sangat lebar. Tampaknya dia benar-benar sudah telanjur jatuh cinta pada wahana tersebut.


"Nanti kita ke sini lagi untuk naik itu lagi, ya."


"Ngg......!"


Sana-chan menganggukkan kepalanya dengan mantap. Namun, tuntutan dari petualangannya hari ini tampaknya masih belum berakhir sampai di situ.


"Gendooong......!"


Dia kembali merentangkan kedua tangannya lebar-lebar ke arahku.


Yaaa, aku sebenarnya sudah bisa menebak hal ini bakal terjadi, sih. Bagiku pribadi, aku justru merasa sangat senang karena bisa dimanja oleh Sana-chan, dan aku pun tidak mungkin tega untuk menolak permintaan dari anak seimut dia.


"Fufu......♪"


Melihat Mirei-chan yang juga ikut menatap interaksi kami sembari tersenyum geli, aku pun menyimpulkan bahwa situasi ini sepertinya memang baik-baik saja untuk dinikmati.



"Onii-chan, yang itu apa?"


Target berikutnya yang berhasil memicu rasa penasaran Sana-chan adalah sebuah wahana berbentuk kursi panjang yang dihiasi dengan dekorasi gambar katak. Di bagian tengahnya terdapat tiang besi yang menjulang tinggi lurus ke atas, membuat siapa pun bisa langsung paham bahwa mekanisme utama dari permainan ini adalah bergerak vertikal ke atas.


"Itu wahana yang bakal membawamu naik tinggi ke atas, lalu menjatuhkanmu ke bawah."


"Penjelasan macam apa itu......?"


Begitu mendengar penjelasan singkat dan super padat yang kulontarkan, Mirei-chan langsung melayangkan sebuah senyuman kecut ke arahku. Aku tahu apa yang ingin dia sampaikan, tetapi sayangnya aku memang bukanlah tipe orang yang memiliki perbendaharaan kata yang luas, sehingga menjelaskan mekanisme wahana secara puitis adalah hal yang sangat sulit bagiku.


Untuk urusan wahana permainan seperti ini, kurasa merasakan sensasinya secara langsung jauh lebih penting daripada sekadar teori.


──Meskipun jika aku berani menyuarakan isi pikiran ini dengan lantang, aku pasti akan langsung dimarahi habis-habisan karena dinilai telah melontarkan pernyataan yang sangat tidak pantas bagi profesi seorang guru.


"Onii-chan, Sana mau naik yang itu......!"


Di saat aku sedang didera kebingungan, Sana-chan tiba-tiba menarik-narik ujung bajuku dengan gemas, mengisyaratkan bahwa dia benar-benar ingin menaiki wahana katak tersebut.


Sejak dia menunjukkan ketertarikan tadi, aku memang sudah menduga kalau dia pasti akan merengek ingin naik, dan tampaknya intuisi yang kumiliki kali ini kembali terbukti akurat.


"Mirei-chan tidak ingin ikut naik juga?"


"Sepertinya tidak usah...... biar saya melihat dari bawah saja."


Dia mungkin berpikir bahwa wahana tersebut murni merupakan jenis permainan yang dikhususkan hanya untuk anak-anak setelah melihat dekorasinya. Padahal pada kenyataannya, orang dewasa pun sebenarnya sah-sah saja jika ingin ikut naik. Namun untuk kali ini, membiarkan Sana-chan menikmatinya sendirian mungkin memang pilihan yang terbaik.


"Sana-chan, ayo pergi ke sana."


Mengingat area antreannya kebetulan sedang kosong melompong, aku pun menurunkan tubuh Sana-chan ke atas tanah secara perlahan, lalu menyuruhnya untuk segera berjalan menghampiri kakak petugas yang berjaga di depan wahana. Namun sesaat setelah kakinya menapak tanah──dia langsung mendongak menatap wajahku dengan sorot mata yang teeeeramat sangat kesepian.


"............"


"Ugh......!"


"Tentu saja dia akan berekspresi seperti itu...... Bagi Sana, sudah menjadi hal yang mutlak kalau dia ingin menaiki wahana tersebut bersama dengan om kesayangannya, bukan......?"


Di saat aku sedang dibuat panik dan kebingungan menghadapi tatapan mata berkaca-kaca dari Sana-chan, Mirei-chan yang berdiri di sampingku justru mengembuskan napas panjang dengan ekspresi yang tampak sangat jengkel.


Kalau memang sejak awal sudah tahu situasinya bakal begini, seharusnya kamu menghentikan tindakanku sebelum aku menurunkannya tadi, dong......! Atau lebih tepatnya, padahal kamu sendiri yang memicu situasi ini, tapi kenapa sekarang malah berpura-pura tidak tahu dan bersikap acuh tak acuh begitu......!?


Rasanya aku benar-benar ingin meneriakkan protes tersebut kepadanya. Namun bagaimanapun juga, alasan mengapa Sana-chan mendadak terlihat sangat sedih adalah murni karena aku tidak ikut menemaninya naik, sehingga bagi Mirei-chan hal itu bukanlah urusannya.


"Onii-chan...... tidak mau ikut naik bersama Sana, ya......?"


"Ah, tidak, bukan begitu! Maafkan aku, ya! Ayo kita naik bersama-sama!"


Panik setengah mati begitu mendengar nada suara dan melihat raut wajah Sana-chan yang tampak sangat terpukul, aku pun bergegas mengulas sebuah senyuman lebar sembari buru-buru melayangkan ajakan untuk menenangkannya.


Mendengar kalimatku, ekspresi wajah Sana-chan langsung berubah menjadi sangat cerah seketika. Namun, alih-alih merengek minta digendong, kali ini dia justru langsung menggenggam erat tanganku.


Mengingat jarak ke wahana sudah sangat dekat, dia mungkin berpikir lebih baik kami berjalan sembari bergandengan tangan saja daripada harus digendong.


Setiap gerak-gerik yang ditunjukkan oleh anak ini benar-benar selalu terlihat teramat menggemaskan di mataku. Meskipun tadi aku hampir saja membuatnya merasa sedih, kini hatiku justru mendadak terasa begitu hangat dibuatnya.


──Sembari terus dibuat merasa tenang oleh keimutan Sana-chan yang sedang asyik bermain dengan penuh energi, kami pun kembali menaiki beberapa wahana permainan setelah itu. Tanpa terasa, waktu kini sudah beranjak siang.


"Lapaar......!"


"Iya, aku sudah membelikan mi udon, yuk kita makan."


Begitu kami duduk di salah satu kursi fasilitas taman yang dilengkapi dengan meja, Sana-chan langsung menunjukkan gestur 'Mau makan!' dengan penuh semangat. Aku pun meletakkan semangkuk mi udon di hadapannya sembari mengulas sebuah senyuman.


Melihat hal itu, Sana-chan sempat menatap lurus ke arah mangkuk mi udon tersebut selama beberapa saat, sebelum akhirnya memalingkan wajah dan menatapku lekat-lekat dalam diam.


Apa yang sedang dia inginkan saat ini benar-benar terpancar dengan sangat jelas dari ekspresinya.


"Sabar ya, Sana-chan. Onii-chan siapkan dulu──"


"Sana, karena ini mi udon, ayo coba makan sendiri, ya?"


Tepat di saat aku baru saja hendak mematahkan sumpit kayu sekali pakai, Mirei-chan mendadak menyela sembari menyerahkan sepasang sumpit yang sudah dipatahkannya sendiri kepada Sana-chan.


"Kenapaaa......?"


Biasanya kan Onii-chan selalu menyuapiku, lalu kenapa sekarang Sana harus makan sendiri?


Sana-chan melayangkan pertanyaan tersebut kepada Mirei-chan dengan tatapan mata yang menyiratkan maksud demikian.


"Karena ini mi udon. Kalau harus menyuapi Sana dulu, mi milik Shirosaki-san nanti keburu mengembang dan lembek. Kalau sudah begitu, rasanya kan jadi tidak enak lagi. Makanya, ayo makan sendiri ya?"


Mirei-chan memberikan penjelasan dengan senyuman lembut yang menenangkan, mencoba menasihati putrinya secara baik-baik.


Secara objektif, apa yang dikatakan oleh Mirei-chan memang sepenuhnya benar. Hanya saja, aku pribadi sebenarnya sama sekali tidak keberatan jika mi milikku sedikit mengembang, atau lebih tepatnya, aku memang murni ingin menyuapi Sana-chan......


"Iyaa......"


Karena Sana-chan adalah anak yang sangat pengertian, dia tampaknya langsung bisa menerima kenyataan bahwa tindakannya dapat membuatku tidak bisa menikmati makanan dengan lezat. Meskipun usianya masih sangat belia, dia mulai menggerakkan sumpit kayunya dengan cukup terampil dan menyantap mi tersebut sedikit demi sedikit──namun, caranya makan terlihat sangat lesu dan sama sekali tidak berenergi.


"............"


Melihat pemandangan tersebut, raut wajah Mirei-chan seketika langsung tampak mendung. Meskipun kalimat larangan tadi keluar dari mulutnya sendiri, melihat Sana-chan yang masih kecil tampak begitu murung tentu saja ikut menyayat hatinya sebagai seorang ibu.


Masalah utama dari anak ini adalah, setiap kali Mirei-chan mencoba menyuapinya di saat ada aku di dekat mereka, dia pasti akan menolak keras dan bersikeras hanya ingin disuapi olehku saja. Jika dia memang tipe anak yang manja dan suka disuapi, seharusnya dia tinggal meminta tolong kepada Mirei-chan saja daripada harus terpaksa makan sendiri dengan lesu seperti itu, tetapi dia memilih tidak melakukannya.


Namun anehnya, berdasarkan cerita yang kudengar, setiap kali aku sedang tidak ada di dekatnya, dia selalu mau-mau saja disuapi oleh Mirei-chan──tampaknya, dia memiliki semacam prinsip atau ketetapan tersendiri di dalam hatinya.


Sebagai catatan, Kamijou-san pun kabarnya terkadang mendapatkan giliran langka tersebut, dan setiap kali momen itu tiba, dia pasti akan menyuapi Sana-chan dengan penuh rasa sukacita yang meledak-ledak. Atau dengan kata lain, karena kesempatan berharga itu teramat jarang menghampirinya, Kamijou-san tampaknya agak sedikit menaruh dendam kepadaku yang selalu sukses mendapatkan peran eksklusif untuk menyuapi Sana-chan setiap hari libur tiba.


──Yaa, mari kita kesampingkan dulu masalah yang satu itu untuk sekarang.


"Sana-chan, coba pinjam sumpitnya sebentar."


"Ngg......?"


Saat aku mengulurkan tanganku, Sana-chan memiringkan kepalanya sedikit dengan ekspresi yang masih terlihat kurang bersemangat.


"Shirosaki-san......"


Berbeda dengan Sana-chan, Mirei-chan yang bisa langsung menangkap maksud dan tujuanku seketika itu juga langsung menatapku dengan tatapan mata yang dipenuhi rasa sungkan sekaligus tidak enak hati.


Menghadapi reaksinya, aku hanya melemparkan sebuah anggukan mantap sembari tersenyum hangat. Bagi diriku, kehilangan sedikit cita rasa akibat mi udon yang mengembang bukanlah masalah besar, aku jauh lebih tidak suka jika harus melihat Sana-chan kehilangan keceriaannya seperti ini.


Terlebih lagi, agenda kami pergi ke taman hiburan hari ini murni ditujukan demi kebahagiaan anak ini, jadi aku ingin dia bisa membawa pulang kenangan yang sepenuhnya menyenangkan sepanjang hari tanpa ada celah sedikit pun.


"Boleh......?"


Sana-chan menatap wajahku dengan ekspresi yang tampak ragu dan bimbang. Karena dia sudah telanjur memahami alasan mengapa dirinya dilarang disuapi tadi, hal itu kini justru membuatnya merasa sungkan untuk meminta tolong lagi. Meskipun dia adalah anak yang berjiwa bebas dan selalu suka mengikuti keinginannya sendiri, tampaknya di saat-saat yang diperlukan, dia tetap bisa menjadi sosok anak yang sangat memikirkan kondisi orang lain.


"Tentu saja boleh. Justru aku sendiri yang sangat ingin menyuapi Sana-chan, kok."


"............"


Begitu aku mengangguk sembari melemparkan senyuman hangat, Sana-chan kali ini melirikkan pandangannya ke arah wajah Mirei-chan selama sekilas. Karena larangan tadi dipicu oleh ucapan ibunya, dia pasti berpikir kalau tindakannya kali ini akan kembali dihentikan oleh Mirei-chan.


"Maaf ya, Sana. Sekarang tidak apa-apa kok, mintalah Shirosaki-san untuk menyuapimu."


Mirei-chan, yang tampaknya berhasil memahami perasaan yang terjalin antara diriku dan Sana-chan, akhirnya memberikan persetujuan sembari menyunggingkan sebuah senyuman yang teramat lembut.


Seketika itu juga, ekspresi wajah Sana-chan langsung berubah menjadi sangat cerah hingga pancarannya terlihat begitu menyilaukan──


"Ngg......!"


──Sembari memamerkan raut wajah yang teramat gembira, dia bergegas menyodorkan sepasang sumpit beserta mangkuk mi udonnya ke arahku.



Setelah momen makan siang tersebut, kami kembali melanjutkan petualangan dengan memutari berbagai macam wahana permainan lainnya. Mungkin karena usianya yang masih sangat muda, Sana-chan memiliki rasa ingin tahu yang teramat besar. Dia terus-menerus menaiki satu wahana ke wahana berikutnya tanpa menunjukkan rasa takut sedikit pun.


Berkat energi yang sudah diisi ulang lewat tidurnya di dalam mobil tadi, dia benar-benar menghabiskan waktunya dengan bermain seheboh mungkin menikmati atmosfer taman hiburan. Namun──tepat di saat matahari mulai tenggelam, daya baterai di dalam tubuhnya kembali habis total hingga membuatnya jatuh tertidur pulas sekali lagi.


Benar──dia tertidur pulas tepat sesaat sebelum acara pertunjukan kembang api, yang paling sangat dia nanti-nantikan sejak awal, dimulai......


"Sana-chan, kalau kamu tidak bangun sekarang, kembang apinya sebentar lagi akan mulai diluncurkan, lho?"


"Ssuuh...... ssuuh......"


Seberapa sering pun aku mencoba menggoyang badannya untuk membangunkannya, Sana-chan tetap bergeming dalam kondisi yang persis seperti yang terlihat saat ini.


Karena dia sudah bersenang-senang dan bergerak dengan begitu energik sepanjang hari, dia tampaknya telah benar-benar menguras habis seluruh stamina yang ada di dalam tubuh mungilnya.


"Jika kondisinya sudah menjadi seperti ini, saya rasa dia tidak akan bisa bangun lagi sampai besok pagi, lho."


Mendengar penuturan dari Mirei-chan yang berbicara sembari tersenyum pasrah, aku hanya bisa membalasnya dengan senyuman yang tak kalah kecut.


Kenyataannya, jika bukan karena anak ini sempat merengek menegaskan bahwa dirinya sangat ingin melihat pertunjukan kembang api, aku dan Mirei-chan pasti sudah memilih untuk pulang ke rumah sejak sebelum matahari tenggelam tadi. Namun, karena kebiasaan burukku yang selalu tidak tega untuk menolak permintaan dari anak kecil, kami pada akhirnya berakhir bertahan di tempat ini hingga larut malam...... ya sudahlah, mau bagaimana lagi.


"Kalau begitu, bagaimana jika kita pulang sekarang saja? Untuk saat ini areanya mungkin belum terlalu padat, karena jika kita baru bergerak pulang setelah pertunjukan kembang api selesai, kita pasti akan langsung terjebak dalam kemacetan yang luar biasa parah."


Tampaknya ada banyak sekali pengunjung yang datang ke tempat ini dengan tujuan utama murni hanya demi menyaksikan pertunjukan kembang api. Terbukti dari fakta bahwa meskipun hari sudah gelap, area di dalam taman hiburan justru terlihat semakin dipadati oleh lautan manusia.


Begitu pertunjukan kembang api berakhir nanti, seluruh massa dalam jumlah masif ini dipastikan akan langsung bergerak keluar secara bersamaan, yang mana hal itu otomatis akan membuat perjalanan pulang kami berubah menjadi perjuangan yang teramat berat.


Oleh karena itu, aku berinisiatif menanyakan pendapatnya apakah sebaiknya kami memanfaatkan momentum saat ini untuk mencuri start pulang lebih awal, namun──


"............"


──Entah mengapa, Mirei-chan justru langsung melemparkan tatapan mata yang sangat sinis ke arahku. Tidak hanya itu, jika mataku tidak salah lihat, kedua pipinya bahkan tampak agak sedikit menggembung bulat karena kesal.


"Eh, emm......?"


"Shirosaki-san, Anda ini benar-benar tidak pernah berubah sejak dulu, ya?"


"Apanya yang tidak berubah......?"


"A──ah, tidak ada apa-apa."


Sembari memalingkan wajahnya dengan ketus ke arah lain, Mirei-chan menunjukkan gestur yang dengan sangat jelas menyiratkan bahwa ada sesuatu yang sedang mengganjal di dalam hatinya.


Bukan apa-apa, tapi kenapa kata-kata dan sikap yang kamu tunjukkan rasanya bertolak belakang begitu, ya......?


Meskipun batinku ingin melayangkan protes tersebut, aku tahu jika aku sampai berani menyuarakannya saat ini, tindakan itu hanya akan menjadi pemicu yang sukses membuat dirinya benar-benar marah besar.


"Kamu...... sebenarnya juga sangat ingin melihat pertunjukan kembang apinya, kan? Ya sudah, kalau begitu mari kita bertahan di sini sebentar lagi."


Fakta bahwa dia mendadak menunjukkan ekspresi tidak puas tepat di momen-momen seperti ini, memberikan petunjuk jelas bahwa pihak yang sebenarnya sangat ingin melihat pertunjukan kembang api sejak awal bukan hanya Sana-chan seorang, melainkan dirinya sendiri juga memiliki keinginan yang sama besar.


Jika mengingat kembali masa-masa sekolah dulu, dia memang sosok gadis yang sangat menyukai hal-hal yang indah.


Mengingat sifatnya yang demikian, maka sama sekali tidak mengherankan jika dia sebenarnya juga ingin bertahan di sini untuk menyaksikan pertunjukan kembang api.


"Benar-benar deh, Anda tetap saja tidak berubah sejak dulu......"


Namun, Mirei-chan tampaknya masih menyimpan rasa tidak puas di dalam hatinya. 


Aduh, aku benar-benar tidak paham apa sebenarnya yang membuat suasana hatinya menjadi buruk. Seingatku, dulu dia bukanlah tipe gadis yang sekaku dan sesulit ini untuk dipahami...... Dulu, dia adalah sosok yang selalu memamerkan senyuman ceria di wajahnya......


Di tengah kebingunganku yang mendalam, tiba-tiba terdengar suara dentuman keras yang menggelegar, disusul dengan mekarnya bunga-bunga cahaya yang sangat indah di langit malam. Kembang api tersebut terus-menerus diluncurkan tanpa henti, membuat pandangan mataku secara tidak sadar langsung tersedot untuk menatap ke arahnya.


"Indah sekali......"


"Iya, kamu benar."


Mendengar gumaman pelan dari Mirei-chan yang terdengar seperti sedang berbicara pada dirinya sendiri, aku menganggukkan kepalaku sembari mengulas sebuah senyuman hangat.


Sudah berapa lama ya aku tidak menyaksikan pertunjukan kembang api seperti ini?


Sejak memasuki dunia kerja, aku hampir tidak pernah memiliki kesempatan untuk menikmatinya lagi, dan bahkan saat masih berstatus sebagai pelajar dulu pun, aku bisa dibilang tidak terlalu akrab dengan momen-momen seperti ini.


Seingatku, momen terakhir kali aku melihatnya adalah saat masih duduk di bangku sekolah dasar, ketika orang tuaku mengajakku dan Akari pergi ke festival bersama.


Kalau dipikir-pikir, saat zaman SMA dulu kami memang sempat──


"──Zaman SMA dulu...... pada akhirnya kita sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk pergi ke taman hiburan bersama, ya...... Siapa yang menyangka, setelah kita berpisah...... dan setelah kita tumbuh dewasa seperti sekarang, kita justru bisa berada di tempat ini bersama-sama...... Hal ini benar-benar tidak pernah terlintas sedikit pun di dalam benak saya......"


Tepat di saat aku sedang bernostalgia tentang masa lalu, jalan pikiran kami tampaknya saling tersinkronisasi dengan ajaib, karena Mirei-chan mendadak menggumamkan kalimat yang memiliki makna yang sangat mirip dengan apa yang sedang kupikirkan.


Secara tidak sadar aku langsung memalingkan wajahku ke arahnya. Di sana, dia tampak sedang menyunggingkan sebuah senyuman tipis yang terkesan sangat rapuh, sebuah senyuman yang menyiratkan rasa rindu sekaligus kesedihan yang mendalam. Kata 'pada akhirnya' yang dia ucapkan tadi, mungkin saja mengandung maksud terselubung untuk menyalahkan ketidakberdayaanku di masa lalu.


Saat kami masih menjalin hubungan asmara dulu, kami berdua memang sempat membuat janji untuk pergi berkencan ke taman hiburan bersama. Namun, sebelum janji manis itu sempat kami wujudkan...... hubungan kami berdua sudah telanjur kandas di tengah jalan.


Fakta bahwa hari di mana janji itu akhirnya terpenuhi baru datang setelah sepuluh tahun berlalu...... memang merupakan sebuah takdir yang sama sekali tidak pernah kubayangkan sebelumnya.


"Yaa, kamu benar juga, sih......"


Karena atmosfer di antara kami mendadak berubah menjadi sangat canggung, aku tidak memiliki pilihan lain selain memberikan respons singkat yang sama dengan kalimatku sebelumnya.


Alasan utama mengapa janji berharga itu gagal terpenuhi di masa lalu adalah murni karena ketidakberdayaan dan kelemahanku sendiri.


Andai saja saat itu aku bisa menjadi sosok pria yang jauh lebih menarik──sosok yang dinilai pantas dan sepadan untuk bersanding dengan gadis sesempurna Mirei-chan, mungkin aku masih akan terus berdiri di sampingnya sejak sepuluh tahun yang lalu hingga saat ini.


......Memaksakan diri untuk tampil keren di luar kapasitas diri saat zaman SMA dulu, mungkin memang merupakan akar kesalahan dari segalanya.


"──Jadi, apa yang sebenarnya sedang mengganggu pikiran Anda saat ini?"


Tepat di saat aku sedang tenggelam dalam penyesalan meratapi betapa menyedihkannya diriku di masa lalu, Mirei-chan yang seharusnya sedang fokus menatap kembang api di langit mendadak memalingkan wajah dan menatap lurus ke arahku.


Apakah dia berhasil menyadari perubahan ekspresiku......?


Pikiranku sempat menduga demikian, namun──


"Anda sedang memikirkan suatu masalah besar, bukan? Hari ini, dan juga pertemuan kita sebelumnya saat berada di taman, Anda selalu menunjukkan ekspresi wajah yang tampak sangat terbebani oleh pikiran. Anggap saja ini sebagai bentuk balas budi saya karena Anda sudah sudi menemani kelakuan egois putri saya sepanjang hari, jadi silakan ceritakan masalah Anda."


Mirei-chan melemparkan sebuah senyuman hangat yang dipenuhi dengan ketulusan dan kelembutan, sebuah ekspresi yang sangat mengingatkanku pada sosoknya di masa-masa SMA dulu.


Saat dia sedang berada dalam kondisi mabuk pada pertemuan kami sebelumnya, dia juga sempat menanyakan hal yang sama. Ternyata meskipun statusku hanyalah seorang mantan kekasih yang sudah lama berpisah, dia tetap menaruh rasa kepedulian yang sangat besar terhadap kondisiku. Fakta bahwa dia mengungkit masalah Sana-chan sebagai alasan, pasti hanyalah sebuah taktik cerdas agar aku tidak perlu merasa sungkan atau terbebani untuk bercerita.


Secara etika profesi, membicarakan masalah privasi murid kepada orang luar sebenarnya adalah tindakan yang sangat tidak dibenarkan. Namun untuk saat ini, kasus yang sedang kuhadapi memang benar-benar mengalami jalan buntu tanpa ada tanda-tanda akan membaik sedikit pun.


Mirei-chan adalah sosok wanita yang sangat cerdas dan memiliki intuisi yang tajam, jadi aku berpikir mungkin saja dia bisa memberikan sebuah sudut pandang atau solusi yang bagus──oleh karena itu, aku memutuskan untuk menceritakan garis besar masalahnya dengan menyamarkan seluruh nama asli dari pihak yang terlibat.


Berkat suara dentuman kembang api yang menggelegar dengan sangat keras di sekitar kami, aku juga tidak perlu merasa khawatir kalau obrolan kami akan sampai terdengar oleh orang lain.


"──Jadi, begitu ceritanya...... Baru saja Anda dipindahkan ke sekolah yang baru, Anda sudah harus langsung dihadapkan pada situasi yang teramat pelik, ya......"


Mirei-chan meletakkan salah satu tangannya di depan mulut sembari berpose layaknya orang yang sedang berpikir keras, namun nada suaranya sama sekali tidak terdengar seterkejut kata-kata yang diucapkannya. Tampaknya dia sudah bisa memprediksi garis besar masalahnya sejak awal.


"Aku pribadi sebenarnya sangat ingin mendengar penjelasan langsung dari mulut anak itu, tetapi sampai saat ini dia masih enggan untuk mengucapkan sepatah kata pun kepadaku. Kurasa tidak ada pilihan lain bagi diriku selain terus berjuang sekuat tenaga sampai dia benar-benar mau membuka hatinya kembali......"


Secara jujur, aku merasa ini akan menjadi sebuah pertempuran batin yang murni menguji tingkat ketabahanku. Jika aku memilih untuk menyerah hanya karena dia menolak untuk berbicara kepadaku, maka benang kusut dari masalah pelik ini dipastikan tidak akan pernah bisa terurai selamanya.


Satu-satunya opsi yang tersisa di kepalaku saat ini hanyalah terus maju dan bertahan dengan gigih sampai Murakumo-san bersedia untuk membuka mulutnya.


Namun──


"Apakah situasinya memang benar-benar seperti itu......?"


──Mendengar argumen yang kulontarkan, Mirei-chan justru tampak menangkap adanya sebuah kejanggalan yang meragukan.


"Eh?"


Karena dia melontarkan respons yang sama sekali tidak terduga, aku sampai refleks menatap wajah Mirei-chan sebanyak dua kali untuk memastikan pendengaranku.


Menghadapi reaksiku, Mirei-chan membuka mulutnya secara perlahan sembari berkata──


"Mungkin saja...... kondisinya bukan karena dia 'tidak bisa' berbicara, melainkan dia sengaja memilih untuk 'tidak mau' berbicara kepada Anda......"


──Dia melayangkan sebuah hipotesis yang jauh lebih mengejutkan lagi ke hadapanku.


"Yaa, kalau dipikir-pikir hal itu memang benar, sih...... Karena dia menolak berbicara murni atas dasar keinginan pribadinya sendiri untuk menjauhiku selaku guru, jadi penggunaan istilah 'tidak mau berbicara' mungkin memang jauh lebih tepat untuk menggambarkan situasinya ketimbang 'tidak bisa berbicara'......"


Berdasarkan realitas yang ada saat ini, Murakumo-san memang sedang berada dalam fase di mana dia secara sadar menutup diri dan menolak keberadaan guru mana pun yang mencoba mendekat.


Meskipun alasan di balik sikap skeptisnya tersebut dipicu oleh trauma psikologis akibat dikhianati oleh wali kelas yang sangat dia percayai dulu, fakta bahwa penolakan saat ini didasarkan pada keinginan pribadinya sendiri adalah sebuah kebenaran yang tidak bisa diganggu gugat. Namun──Mirei-chan justru menggelengkan kepalanya dengan tegas.


"Bukan, bukan itu maksud saya. Katakanlah dia memang pernah mengandalkan seorang guru di masa lalu dan berakhir dengan kegagalan yang tragis, tetapi saat ini Anda yang berstatus sebagai wali kelas barunya sudah menunjukkan keseriusan yang sangat besar untuk menyelesaikan kasus perundungan tersebut, bukan? Meskipun saat ini hubungan kepercayaan di antara kalian berdua memang belum terbangun secara sempurna, jika anak tersebut murni memiliki keinginan kuat di dalam hatinya untuk menyelesaikan masalah perundungan yang menimpanya, bukankah seharusnya dia sah-sah saja untuk langsung membeberkan nama-nama dari para pelaku yang telah merundungnya kepada Anda? Lagipula, anak tersebut saat ini kan posisinya sedang mengurung diri di dalam rumah, jadi sekalipun dia membocorkan nama para pelaku saat ini, kondisi yang dia alami tidak akan mungkin bisa berubah menjadi lebih buruk lagi dari sekarang, kan?"


Sembari menatap lurus ke arah manik mataku dengan tatapan yang sangat serius, Mirei-chan menjabarkan analisis logisnya dengan untaian kata yang sangat mudah untuk dipahami.


Apa yang dikatakan oleh Mirei-chan memang sepenuhnya logis. Bagaimanapun caranya aku memandang situasi Murakumo-san saat ini, rasanya kondisinya memang sudah tidak mungkin bisa beranjak ke titik yang lebih buruk lagi.


Jika situasi ini terus dibiarkan tanpa ada tindakan dan dia tetap bersikeras untuk tidak masuk sekolah, jangankan untuk bisa lulus, dia bahkan dipastikan tidak akan bisa naik kelas dan berakhir dikeluarkan dari sekolah. 


Di sisi lain, sekalipun aku melakukan blunder yang fatal dalam menangani kasus ini, kecil kemungkinan bagi para pelaku perundungan untuk bisa mendatangi dan mencelakai dirinya yang saat ini sedang mengurung diri dengan aman di dalam rumah. Kecuali jika para pelaku perundungan itu sampai nekat mendatangi rumahnya, barulah hal buruk bisa terjadi. Namun, rasanya tidak mungkin tipe orang yang terbiasa melakukan aksi terselubung dan licik seperti mereka akan dengan sukarela membongkar dosa dan kesalahan mereka sendiri.


Bagian yang sempat mengganjal di dalam benak Mirei-chan, setelah dipikirkan kembali, memang sepenuhnya benar.


"Tetapi, jika situasinya memang demikian, alasan mengapa dia tetap memilih bungkam murni karena keinginan pribadinya sendiri...... apakah itu berarti dia sedang berusaha melindungi sosok yang telah merundungnya......? Padahal, dia kan sempat berniat untuk membeberkan masalah perundungan ini kepada wali kelas yang sebelumnya......?"


Meskipun aku menyetujui analisis dari Mirei-chan, di sisi lain sebuah keraguan baru mendadak muncul di kepalaku.


Jika dia memang berniat melindungi pelaku perundungan sejak awal, seharusnya dia tidak akan pernah mencoba menceritakan masalah itu kepada wali kelas yang lama, bukan?


"Mengingat Anda baru mengunjungi rumahnya sebanyak dua kali, saya memang tidak bisa menjamin analisis ini akurat seratus persen...... Jika Anda baru datang sekali, bisa saja dia bungkam karena belum mengumpulkan cukup keberanian untuk berbicara. Namun, jika Anda sudah berulang kali datang dan dia tetap menolak untuk berterus terang──mungkin ada baiknya Anda mulai mempertimbangkan kemungkinan bahwa dia memang sedang melindungi seseorang. Mengenai alasannya sempat bercerita kepada wali kelas yang lama, saya pribadi juga tidak tahu pasti. Hanya saja...... mungkinkah dia merasa dirinya juga memiliki andil kesalahan, sehingga pada awalnya dia terpaksa menerima perundungan tersebut? Akan tetapi, karena aksi perundungan itu terus terjadi berulang kali hingga di luar batas kemampuannya, dia akhirnya kehilangan kesabaran dan memilih untuk mengandalkan sang guru. Dan di saat──uluran tangannya justru ditolak mentah-mentah hingga membuatnya jatuh dalam keputusasaan...... saya sangat bisa memahami jika dia akhirnya memilih melarikan diri dari situasi perundungan itu dengan mengurung diri di rumah, sembari terus-menerus merenungi bagian kesalahannya sendiri......"


Mirei-chan menundukkan pandangannya dengan ekspresi yang tampak sedikit pedih. Karena dia adalah sosok wanita yang sangat lembut, dia pasti bisa ikut merasakan kepedihan yang dialami oleh Murakumo-san meskipun mereka belum pernah saling bertatap muka.


Sembari mempertahankan atmosfer yang berat tersebut, dia kembali membuka suaranya secara perlahan.


"Kasus ini memang bukan perundungan, tetapi saya pribadi pernah memiliki pengalaman yang serupa. Dulu, saya sempat mencoba menerima dan merelakan segalanya dengan memaksa diri berpikir bahwa situasi itu terjadi karena kesalahan saya sendiri. Namun pada akhirnya, saya tetap tidak bisa menerimanya──dan perasaan tidak berdaya yang menyesakkan itu, masih terus saya pikul di dalam hati hingga saat ini."


Tampaknya, Mirei-chan mencoba memaparkan kemungkinan tersebut berdasarkan kilas balik dari pengalaman pribadinya sendiri.


Apa yang baru saja dia sampaikan memang hanyalah sebatas hipotesis teoretis yang lahir setelah mendengar garis besar ceritaku. Namun──argumennya barusan benar-benar terasa sangat logis dan masuk akal, sampai-sampai aku tidak akan pernah bisa mengabaikannya begitu saja dengan pemikiran 'kamu hanya terlalu berlebihan memikirkannya'.


Meskipun sorot matanya yang sempat menatapku dengan sedikit nada mencela agak mengusik pikiranku──dia mungkin hanya gemas karena menganggap seharusnya aku bisa menyadari hal tersebut sendirian tanpa perlu diberi tahu. Akan tetapi, kalau dipikir-pikir kembali, hipotesis ini benar-benar membuka pandanganku......


"Artinya, sosok pelaku tersebut adalah seseorang yang membuat Murakumo-san merasa memiliki semacam utang budi atau beban moral──dan mungkin saja, di saat dia sudah tidak mampu lagi menahan semuanya, dia sebenarnya sudah membeberkan identitas pelaku tersebut kepada wali kelas yang lama......"


"Kemungkinan bahwa dia sudah membicarakannya sangatlah besar. Justru jika dalam kondisi terdesak dan kehilangan kesabaran seperti itu dia sampai tidak menyebutkan nama pelakunya, hal itu malah akan terdengar sangat tidak natural karena di dalam hatinya dia pasti sangat berharap untuk diselamatkan. Lalu, mengenai alasan mengapa 'sosok guru wanita yang dikenal sangat ramah dan berhasil memenangkan kepercayaan para murid' tersebut justru memilih untuk mencampakkannya, mungkinkah......"


"Bagi guru tersebut, sosok Murakumo-san justru terlihat sebagai pihak yang bersalah ketimbang orang yang telah merundungnya......?"


Di saat kami sedang saling bertukar argumen demi menyelaraskan persepsi, Mirei-chan memberikan anggukan kecil yang mantap.


Benar juga...... kalimat 'pihak yang dirundung pun sebenarnya memiliki masalah' adalah frasa klise yang paling sering dilontarkan oleh para guru dalam menanggapi kasus perundungan, sehingga selama ini aku langsung menghakiminya sebagai bentuk ucapan lepas tanggung jawab dari seorang guru yang tidak kompeten. Namun, bagaimana jika alasan kalimat itu keluar bukan karena sang guru enggan menghadapi masalah perundungan, melainkan karena dia justru sudah menghadapi masalah tersebut secara mendalam dan mendapati kenyataan yang sesuai dengan arti dari kalimatnya......?


Ditambah lagi, jika pelakunya adalah anak itu, maka melakukan aksi perundungan secara rapi tanpa disadari oleh anak-anak lain tentu saja merupakan hal yang sangat mudah untuk diwujudkan......?


Segala kejanggalan yang selama ini menyelimuti pikiranku, kini mendadak saling terhubung satu sama lain layaknya sebuah kepingan puzzle terakhir yang baru saja ditemukan, memperlihatkan satu jawaban yang utuh.


Tentu saja, belum ada jaminan bahwa analisis ini adalah kebenaran yang mutlak. Namun, aku harus mengakui bahwa seluruh rangkaian kronologinya terasa sangat sinkron dan masuk akal. Setidaknya, setelah berdiskusi dengan Mirei-chan, kini aku sudah bisa membayangkan dengan jelas profil dari sosok yang kemungkinan besar merupakan dalang utama di balik kasus perundungan ini.


Melihat reaksiku, Mirei-chan mendongak menatap wajahku dengan ekspresi yang tampak sangat puas.


"Saya sama sekali tidak mengenal anak-anak yang terlibat. Semua ini murni hanyalah sebatas spekulasi yang lahir dari cerita yang Anda bagikan. Karena itu, langkah apa yang akan Anda ambil setelah ini sepenuhnya berada di tangan Anda sendiri──namun, jika Anda kembali menemui jalan buntu, silakan andalkan Marin. Anak itu memang sering kali disalahpahami oleh orang-orang di sekitarnya, tetapi dia adalah gadis yang sangat baik dan selalu mengamati kondisi sekelilingnya dengan cermat."


Mirei-chan benar-benar menaruh rasa kepercayaan yang sangat besar terhadap Kamijou-san. Terbukti dari bagaimana dia secara terang-terangan menyuruhku untuk mengandalkan sahabatnya tersebut. Menghadapi penuturannya, aku──


"Ah, sebenarnya aku sudah terlanjur mengandalkannya, atau lebih tepatnya, aku sudah menerima banyak sekali bantuan darinya. Mengenai awal mula terungkapnya kasus perundungan ini pun, aku baru bisa mengetahuinya murni berkat informasi yang diberikan oleh Kamijou-san──maksudku, Marin-san."


──Secara refleks langsung menjawabnya sembari mengulas sebuah senyuman. Tadinya, aku sepenuhnya berpikir bahwa Mirei-chan akan ikut merasa senang mendengar kekompakan kami...... namun ternyata......


"............"


Entah mengapa, dia justru langsung melemparkan tatapan mata yang teramat sinis dan menusuk ke arahku.


"Eh......?"


Karena merasa sama sekali tidak melakukan kesalahan apa pun yang pantas mendapatkan tatapan sedingin itu, aku sampai refleks mengambil langkah mundur. Namun, tepat di saat aku melangkah mundur, Mirei-chan langsung memangkas jarak satu langkah yang sempat tercipta di antara kami tanpa membuang waktu sedetik pun.


"A-Ada apa, ya......?"


Karena merasa terintimidasi oleh tekanan aura intimidasi yang dia pancarkan dalam diam, aku tanpa sadar langsung mengubah gaya bicaraku menjadi sangat formal.


Seketika itu juga──


"Tolong jangan pernah berani-berani menyentuh putri saya, ya? Jika Anda sampai berani melakukannya, sampai kapan pun saya tidak akan pernah memaafkan Anda, paham?"


Dia semakin mengikis jarak di antara kami sembari melayangkan sebuah peringatan mutlak yang tidak menerima bantahan sedikit pun. Wajahnya yang teramat jelita kini berada di posisi yang begitu dekat hingga embusan napas kami saling bersentuhan, membuatku sampai refleks menahan napas karena terkejut.


Namun, Mirei-chan tampaknya sama sekali tidak memedulikan atau menyadari hal tersebut, karena dia hanya terus diam terpaku di posisinya sembari menunggu jawaban setuju keluar dari mulutku.


Tentu saja, masih dalam jarak yang sangat dekat.


"Ti-Tidak mungkin aku berani menyentuhnya, dong...... Lagipula, jika seorang guru sampai berani macam-macam dengan muridnya, dia pasti akan langsung dipecat saat itu juga......"


Yaaa, pembelaan tersebut sebenarnya juga berlaku jika diaplikasikan kepada orang tua murid. Mengingat fakta bahwa kami pergi ke taman hiburan bersama seperti ini pun sebenarnya bisa berakibat buruk jika sampai terlihat oleh pandangan orang lain. Namun, karena aku tidak mungkin tega membiarkan Sana-chan menangis, aku terpaksa melakukannya karena tidak punya pilihan lain......


"Anda sudah berjanji, ya?"


"I-Iya......"


Meskipun aku sudah melayangkan bantahan dengan tegas, dia entah mengapa tetap kembali memberikan tekanan aura yang kuat, membuatku secara tidak sadar langsung menganggukkan kepala patuh.


Untungnya, setelah mendengar jawabanku dia tampaknya sudah bisa menerima alasan tersebut, karena Mirei-chan akhirnya bersedia memalingkan wajahnya dan kembali fokus menatap ke arah pertunjukan kembang api──meski demikian, rasanya tidak perlu dijelaskan lagi betapa atmosfer di antara kami mendadak berubah menjadi sangat canggung, tidak hanya di sepanjang sisa jalannya pertunjukan kembang api, melainkan terus bertahan hingga di dalam mobil selama perjalanan pulang ke rumah.


Saking hebatnya rasa sesak dan canggung yang mendera dadaku saat itu, aku bahkan sampai membatin, 'Aduh, kenapa Sana-chan tidak bangun sekarang saja ya untuk merusak atmosfer mencekam ini......?'


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close