NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Suki na Ko ni Kokuttara, Futago no Imouto ga Omake de Tsuitekita V3 Chapter 7

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Chapter 7

Si Kembar yang Kabur dari Rumah Tampaknya Telah Bangkit

Setelah menyelesaikan latihan drama dan pulang bersama para pelayan— Yuzuki dan Fuuka pun menyusul pulang belakangan. Begitu makan malam selesai, aku mulai merasa menganggur.


"Hei Yuzuki, apa tidak ada yang bisa kubantu?"


"Ah, tidak apa-apa, kok. Pekerjaan ini memang aku sendiri yang ingin melakukannya."


Yuzuki sedang berada di meja ruang tamu, menggunakan tablet berlayar lebar dan menuliskan sesuatu dengan pena digital. Sepertinya dia sedang menentukan desain kakivari—papan latar yang diletakkan di bagian belakang panggung untuk menggambarkan suasana. Sepertinya anggota klub seni di kelas kami menggambar sketsanya, lalu Yuzuki menambahkan detail berdasarkan imajinasinya sendiri.


Saat ini, yang sedang digambar Yuzuki adalah "Ruang Audiensi" istana yang menjadi panggung utama. Di dalam ruangan dengan karpet merah yang membentang itu, diletakkan takhta tempat raja duduk. Aku sempat berpikir bukankah itu seharusnya "Ruang Takhta", tapi sepertinya pengaturan di sini dibuat agak santai.


"Lho? Yuzuki, ternyata kau pintar menggambar, ya."


"Yah, waktu kecil aku sempat belajar menggambar sedikit."


Saat aku mengintip layar tablet yang sedang dikerjakan Yuzuki, terlihat coretan garis merah di atas sketsa kasar untuk memperbaiki bentuk. Dia menambahkan detail halus seperti dekorasi pada takhta dan permadani yang tergantung di dinding. Ketelitiannya tidak kalah dengan anggota klub seni; meski terlihat seperti coretan cepat, tingkat kejelasannya membuat siapa pun tahu apa yang sedang digambar.


"Yuzuki, kau benar-benar bisa melakukan apa saja, ya..."


"Omong-omong, Fuuka juga bisa menggambar, lho. Aku menyerahkan latar yang lain padanya."


"Iya, sekarang saya sedang dalam tahap revisi."


Fuuka duduk di lantai agak jauh dari Yuzuki sambil mengoperasikan ponselnya. Kupikir dia sedang berselancar di internet, tapi ternyata...


"Karena aku murid pindahan baru, rasanya kurang sopan jika aku langsung mencoret-coret gambar yang dibuat oleh teman-teman klub seni. Jadi, aku mengeceknya lalu mengusulkan saran revisi melalui teks."


"Fuuka, ternyata kau sangat perhatian pada hal seperti itu, ya..."


Tapi aku mengerti rasanya segan jika harus mengoreksi karya orang lain seperti guru yang mencoret naskah dengan tinta merah.


"Selain itu, ini adalah gambar rumah asli dari si kembar pemeran utama, tapi karena tidak terlalu sering muncul di panggung, gambarnya dibuat lebih sederhana saja."


"Ah, masuk akal. Wajar jika mempertimbangkan porsi tenaga yang dikeluarkan."


Lagipula, menyiapkan dua papan latar besar untuk panggung saja sudah berat. Tentu saja lebih baik mencurahkan tenaga untuk Ruang Audiensi yang paling lama digunakan.


"Tapi tunggu, aku hampir tidak punya dialog, pekerjaan di balik layar pun tidak bantu. Ini sih namanya aku terlalu makan gaji buta!"


"Ah, Masaki, apa jangan-jangan kau ingin diberi pekerjaan?"


Yuzuki mengalihkan pandangannya dari layar tablet dan menatapku.


"Kalau disuruh menggambar aku pasti bingung, tapi kalau tenaga fisik atau pekerjaan sederhana, aku siap melakukannya kapan saja."


"Sebenarnya bukan cuma Masaki, sih. Anak laki-laki yang lain—kecuali yang dapat peran kecil—memang belum melakukan apa-apa."


"Saat hari H pun sepertinya tidak banyak pekerjaan fisik. Kalau stan makanan mungkin beda, tapi untuk drama sepertinya tidak perlu mengangkut barang-barang berat."


"Hmm," Yuzuki dan Fuuka menaruh tangan di dagu, berpikir keras dengan gestur yang benar-benar identik.


"Masaki itu anak laki-laki dengan jam tampil paling banyak, jadi beban kerjamu sebenarnya sudah termasuk besar, lho?"


"Peran Masaki-san juga tidak ada penggantinya. Anda adalah sumber daya yang berharga."


"...Rasanya seperti dibilang 'keberadaanmu saja sudah cukup berjasa'."


Jangan-jangan aku memang sedang sangat dimanja di sini. Atau mungkin, anak perempuan di kelas kami saja yang terlalu bersemangat. Kenyataannya, bukan hanya Yuzuki dan Fuuka, tapi semua siswi di kelas tampak menikmati persiapan ini, jadi aku merasa tidak enak jika harus mengganggu mereka... Memaksa minta pekerjaan pun rasanya kurang elok.


"Daripada itu, Masaki, tolong tengok Rii dan Nyara."


"Eh? Menengok saudari Takaya... apa ada sesuatu yang diperlukan?"


Belakangan ini, Yuzuki memanggil Naraka dengan nama panggilan "Nyara". Itu tidak masalah, tapi setahu saya sejauh ini saudari Takaya tidak punya masalah khusus selain fakta bahwa mereka kabur dari rumah. Sebenarnya kabur dari rumah itu masalah besar, tapi karena sudah terbiasa, sekarang rasanya sudah normal melihat mereka ada di sebelah kami.


"Tadi aku sudah mengirimkan video latihan hari ini ke Nyara. Bisa kau pergi ke sebelah dan tanyakan pendapatnya? Karena kalau ada bagian yang bermasalah, aku merasa itu ada pada bagiannya Masaki."


"...Benar juga."


Dialogku belum ditentukan, dan aktingku pun hampir sepenuhnya mengandalkan sifat asliku tanpa melakukan teknik apa pun. Aku memang perlu mendengar pendapat Naraka sebagai penulis naskah sekaligus kreator aslinya.


"Rii juga sepertinya sedang kewalahan karena latihan menarinya, jadi tolong beri dia perhatian sedikit."


"Baiklah, aku akan pergi tanya. Yuzuki dan Fuuka juga jangan terlalu memaksakan diri, ya."


Yuzuki dan Fuuka tersenyum sambil mengangguk, lalu melambaikan tangan dengan santai. Rasanya seperti anak kecil yang disuruh pergi belanja ke warung, tapi itu lebih baik daripada tidak melakukan apa-apa.


Waktu menunjukkan pukul sembilan malam, Riina seharusnya sudah pulang.


"Di sebelah sana..."


Aku melirik sebentar ke arah dapur. Sedari tadi, para pelayan kembar sedang sibuk menyiapkan bahan makanan untuk besok di dapur kamar saudari Tsubasa. Di kedai Shinryu pun, begitu kedai tutup, ayah langsung mulai menyiapkan bahan untuk besok, jadi ini adalah pemandangan yang sudah biasa bagiku. Orang yang memasak memang melakukan pekerjaan berat setiap harinya. Aku harus selalu berterima kasih atas setiap makanan yang mereka hidangkan.


Sambil memikirkan hal itu, aku membuka pintu kamar pelayan dengan kunci cadangan. Karena ini kamar yang ditinggali empat orang perempuan, rasanya agak sungkan untuk masuk... meskipun bukan hanya para pelayan, saudari Takaya pun sama sekali tidak keberatan jika aku masuk begitu saja. Mereka itu, apa tidak terlalu tidak waspada...?


"Uoah!?"


Begitu masuk ke kamar pelayan, aku refleks berteriak. Di depan pintu masuk, ada sesuatu yang tergeletak—


"Ri-Riina?"


"Aaah... Masaki-kun. Selamat datang..."


Yang tergeletak di sana adalah Takaya Riina. Dengan pakaian santai berupa kaus merah dan rok seragam sekolah, dia tampak seperti "baru sempat melepas sepatu lalu langsung ambruk di situ".


"Kau tadi pergi latihan menari, kan? Sampai kelelahan begini dan tumbang di depan pintu..."


"Yah, begitulah... ini kesempatan yang sudah susah payah kudapatkan, tidak boleh kusia-siakan, kan?"


Riina akhirnya bangkit dan duduk di lantai.


"Fuu, istirahat sebentar begini sudah cukup memulihkan tenaga. Aku harus mengulas kembali materi latihan hari ini."


"Tunggu, tunggu, tunggu! Kau sudah secapek itu masih berniat latihan lagi?!"


"Tenang saja, aku sudah melatih fisikku. Aku tidak selemah itu. Kalau tidak mengulasnya hari ini juga, gerakannya tidak akan melekat di tubuh."


"I-iya, meski begitu, setidaknya istirahatlah sebentar."


Sepertinya aku mulai paham apa maksud Yuzuki....


Riina memang tipe yang suka memaksakan diri secara berlebihan. Bagi para pelayan kembar, mungkin sulit untuk menegurnya karena posisi mereka, jadi akulah yang harus bicara.


"Bukan, bukan begitu, Nakaba-kun!"


"Eh?"


"Eh, Naraka?"


Entah sejak kapan Naraka muncul dan berdiri tepat di samping kami.


Seperti biasa, ia hanya memakai sehelai kaus tanpa bra, dan hari ini pun ujung putingnya terlihat menonjol.


"Bukan begitu, Nakaba-kun!"


"Hah? Apanya yang bukan begitu?"


"Bukan begitu! Di saat seperti ini, seharusnya kau menindih Kakak yang sedang lemah, lalu memperkosanya sambil melontarkan kata-kata kasar yang merendahkan, kan?!"


"Kau ini sebenarnya bicara apa, sih?!"


Itu sih namanya murni tindak kriminal!


Tentu saja aku bukan tipe pria yang akan memaksa dan mengasari gadis yang sedang tidak berdaya.


"Ah—Naraka sudah masuk ke mode 'berbahaya'-nya ya..."


"Hei Riina, jangan bicara seolah itu urusan orang lain! Kau kakaknya, kan, lakukan sesuatu!"


"Kalau dia sudah asyik sendiri, dia tidak bisa dihentikan. Aku juga tadi begitu, makanya sampai tumbang."


"Jangan bicarakan dirimu sendiri seolah itu urusan orang lain juga dong..."


Benar juga, tadinya aku berniat menegur Riina. Tapi kalau adiknya ikut-ikutan dan mulai meracaukan hal yang tidak masuk akal, aku jadi repot.


"Ada apa, Naraka? Terjadi sesuatu?"


"Tadi Yuzuki-san mengirimkan video latihan hari ini."


"Ah, benar juga. Aku datang ke sini memang untuk menanyakan pendapatmu soal itu."


Gara-gara melihat Riina terkapar saat masuk tadi, urusan utamaku jadi hilang dari kepala.


"Nakaba-kun, aktingmu sebagai perdana menteri jahat tadi bagus sekali. Aku tidak menyangka kau bisa memasang wajah sejahat itu. Jangan-jangan, kau pernah membunuh orang?"


"Mana mungkin, bodoh!"


Aku memang sudah hidup dengan wajah sangar sejak lahir, tapi ini pertama kalinya dalam hidupku ada yang bertanya sefrontal itu.


"Jadi itu wajah asli tanpa akting, ya. Aku menyadari kalau kemampuanku sebagai novelis masih belum seberapa."


"Apa yang kau pikirkan, Naraka...? Aku hanya bersikap sewajarnya dengan wajahku yang begini."


"Justru itu yang hebat! Sejujurnya, aku paling payah kalau harus menulis karakter antagonis, tapi melihat akting Nakaba-kun, mataku jadi terbuka!"


"Ma-mataku terbuka?"


"Orang jahat harus ditulis lebih jahat lagi agar terasa realistis. Aku ingin menulis tentang penjahat yang akan langsung memperkosa kakaknya sendiri saat melihatnya sedang lemah!"


"Kau ini sehat, tidak?!"


Objek yang ingin dia buat "diperkosa" itu kan kakaknya sendiri!


"Makanya Nakaba-kun, tunjukkan wajah yang lebih jahat lagi padaku."


"Mana bisa aku memasang wajah yang lebih kejam dari ini..."


"Bayanganku tentang 'perdana menteri jahat' itu adalah sosok 'Raja Iblis'!"


"Raja Iblis? Ah, begitu. Yah, memang imejnya seperti itu, sih."


Karena itu kata yang jarang kudengar di kehidupan nyata, aku sempat tidak konek sebentar. Aku tidak main game dan jarang baca manga, tapi setidaknya aku tahu apa itu Raja Iblis. Apa Naraka memintaku untuk bersikap seperti Raja Iblis?


"Yuzuki-san bilang dia sedang kesulitan memperbaiki dialog perdana menteri jahat. Aku juga akan ikut memikirkannya. Untuk itu, aku ingin melihat Nakaba-kun yang lebih menyeramkan."


Naraka mengatakannya dengan wajah serius sambil mendekatkan wajahnya ke arahku. Ini pertama kalinya aku melihat Naraka sefokus ini....


"Jadi, beri aku perintah! Seperti seorang Raja Iblis!"


"Meski kau bilang begitu... aku tidak punya kenalan Raja Iblis, tahu."


"Ah, Nakaba-kun versi Raja Iblis... mungkin boleh juga. Akhir-akhir ini aku hanya fokus latihan menari terus, rasanya aura seksiku mulai memudar lagi..."


"Riina, kau juga ikut-ikutan?! Jadi Raja Iblis itu harus bagaimana, sih?"


Aku mengalihkan pandanganku pada mereka berdua; Riina yang masih duduk di lantai, dan Naraka yang menatapku lekat-lekat.


"Onee-chan, kita harus bagaimana?"


"Kau melemparkannya padaku? Tapi benar juga. Hal seperti ini memang harus aku yang memikirkannya."


Riina bergumam, lalu wajahnya langsung menunjukkan kalau dia baru saja mendapat ide.


"Benar juga... aku ingin berkeringat sedikit."



Kamar di apartemen mewah ini memang luas, tapi ukuran kamar mandinya tidak terlalu besar. Jika dibandingkan dengan kamar mandi di kediaman utama keluarga Tsubasa, ini bahkan bisa dibilang sempit. 


Ukurannya agak sesak untuk tiga orang pelajar SMA──tapi faktanya, ini masih lebih luas dari kamar mandi rumah biasa, jadi bukan berarti tiga orang tidak bisa masuk ke dalam.


"Se-sebenarnya aku agak malu kalau harus telanjang..."


"O-Onee-chan tidak perlu memaksakan diri kalau memang tidak sanggup..."


"............"


Aku refleks terdiam. Di area bilas kamar mandi ruang pelayan, aku duduk di kursi kecil sambil menunggu. Tak lama kemudian, saudari Takaya masuk perlahan dengan handuk yang menutupi bagian depan tubuh mereka.


"Ja-jangan terlalu dilihat ya, Masaki-kun. Di kamar mandi begini rasanya benar-benar memalukan..."


Riina menutupi dada dan bagian bawahnya dengan handuk, tapi hanya dengan melihat pahanya yang ramping dan lentur saja sudah terasa terlalu erotis bagiku.


"Ka-kalau aku... si-silakan lihat sesukamu. Tidak, aku ingin kau memerintahku untuk memperlihatkannya."


"Jangan minta yang aneh-aneh!"


Naraka juga menutupi tubuhnya dengan handuk, tapi payudara cup H miliknya terlalu besar untuk disembunyikan sepenuhnya, seolah-olah gumpalan daging itu meluap keluar. Putingnya yang agak terbenam dan areolanya yang lebar terlihat sangat erotis, ditambah lagi semuanya berguncang dengan kenyal.


"Lagipula, yang bilang 'ayo mandi bareng' itu kan Riina, dan Naraka juga langsung setuju, kan?"


Jangan sampai seolah-olah aku yang memaksa saudari Takaya untuk mandi bersama.


"Ha-habisnya, ini bukan cuma demi pementasan 'Changeling!' saja. Aku merasa ini adalah titik penentuan jika aku ingin terus bertahan hidup sebagai seorang penulis."


"Jadi kau ingin aku memerankan sosok bajingan... baiklah, aku mengerti."


Benar juga, seperti yang dikatakan Yuzuki dan Fuuka, sisi baikku adalah aku tipe orang yang mudah terbawa suasana. Dalam situasi gila seperti ini pun, bukan gayaku kalau hanya terus bimbang—


"Naraka, jepit milikku dengan dadamu lalu kocok—lakukan."


"I-iya."


"Riina, busakan sabun cair di payudaramu, lalu cuci punggungku dengan dadamu dari belakang."


"Ba-baik!"


Apa sih yang sedang aku katakan.


Si kembar fraternal itu masing-masing mengangguk dengan wajah memerah. Saat mereka menuruti perintahku dengan begitu penurut, rasanya malah jadi canggung—tapi kalau ini bisa membuat Naraka puas dan membantu Riina mendapatkan aura seksinya, aku harus melakukannya.


"Ka-kalau begitu, aku akan menjepitnya dengan payudaraku dan mengocoknya..."


"Ohh..."


Naraka berlutut di depanku yang sedang duduk di kursi, lalu menjepit penisku yang sudah menegang keras dengan dadanya. 


Tentu saja Naraka sudah melepas handuknya dan tampil tanpa sehelai benang pun. Payudara cup H dengan volume yang luar biasa itu membungkus seluruh penisku dan menggosoknya dengan gerakan gesek yang mantap.


"Ugh, dada Naraka memang hebat... go-gosok lebih kuat lagi."


"Ba-baik... a-aku mengerti. Kalau begini, sudah cukup...?"


Naraka seolah menggulung penisku dengan payudaranya, membungkusnya, lalu menggosoknya. Kelembutan dan rangsangan gesekan yang datang bersamaan ini terasa terlalu nikmat...!


"A-aku juga... apa begini saja sudah cukup?"


"Ah, payudara cup C milik Riina juga terasa enak..."


Riina memelukku dari belakang, menempelkan payudaranya yang kenyal dan lembut, lalu menggerakkan punggungku ke atas dan ke bawah. Karena sudah diolesi sabun cair, payudaranya seolah meluncur dengan mulus saat mencuci punggungku.


"Pe-pelayanan erotis seperti ini... ka-kami kan bukan pelayan."


"Padahal bukan pelayan, tapi aku melayani dengan payudaraku... ngh, rasanya luar biasa..."


Bahkan para pelayan kembar pun belum pernah memberiku pelayanan seperti ini di kamar mandi. 


Siapa sangka aku bisa dicuci punggungnya oleh teman sekelas, Takaya Riina, menggunakan dadanya, dan mendapatkan paizuri dari payudara Takaya Naraka yang baru saja kukenal.


"Ngh, punya Nakaba-kun besar sekali... berdenyut-denyut... ah, fuah... se-sedikit keluar... ah, kena wajahku ♡"


"Be-belum, ya..."


Sedikit cairan yang meluap sudah mengenai wajah Naraka. Wajar saja kalau aku sedikit "bocor" saat diserang dari depan dan belakang secara bersamaan oleh payudara cup H dan cup C milik si kembar cantik ini.


"Ngh, ini malah jadi kelihatan imut... nchuu ♡"


"Kh!"


Naraka mengecup ujung penisku yang sedang terjepit erat di antara payudaranya. Berani-beraninya dia menambah rangsangan di saat seperti ini—


"Da-dadaku juga terasa enak, kan... fuah, ah, ngh ♡"


"Ah, payudara Riina juga hebat... tidak menyangka aku bisa merasakan kenikmatan seperti ini..."


Riina memelukku erat dari belakang dan menggosok punggungku dengan dadanya. Gadis gal cantik di kelas, Takaya Riina, melayaniku di kamar mandi menggunakan dadanya... hal semacam ini bahkan tidak pernah terlintas dalam mimpiku.


"Kh, pe-pertama untuk satu ronde ini... boleh ya, Naraka!"


"I-iya, di dadaku... keluarkan saja...!"


"............!"


Naraka menggosokkan dadanya ke penisku dengan lebih kuat, dan aku sudah tidak bisa menahannya lagi—aku memuntahkan semua yang sudah kubendung sekaligus. Cairan kental yang menyembur itu mengotori wajah Naraka yang imut dan tampak pemalu.


"Ha-ah... ini lebih panas dari yang tadi... punya Nakaba-kun, banyak sekali sampai begini..."


"Na-Naraka..."


Riina yang tadi berada di belakang kini berpindah ke depan dan menatap wajah adiknya yang kotor dengan cemas.


"Belum berakhir, Riina, Naraka."


Benar juga, saat ini aku adalah sang Raja Iblis. Peranku tidak akan tuntas kalau hanya selesai dengan menyembur wajah adiknya sekali saja.


"Apa selanjutnya..."


"Anu, Masaki-kun."


"Hm?"


Riina duduk di depanku dan mengelus pahaku dengan lembut.


"Aku penasaran dengan matras besar di sana itu..."


"Ugh... aku tadi mencoba pura-pura tidak menyadarinya. Sepertinya itu persiapan dari Asa dan Yuu."


Sebuah matras besar berwarna perak bersandar di sudut kamar mandi. Aku pernah melihatnya di internet jadi aku tahu cara pakainya—tapi apa mungkin para pelayan kembar itu sudah menyiapkan ini karena sudah menduga situasi seperti ini? 


Tidak, kemungkinan besar mereka berniat menggunakannya sendiri untuk melayaniku.


"Uooo..."


Kini aku berbaring telentang—dan sepasang kembar fraternal yang tidak mirip, Takaya Riina dan Naraka, menempelkan payudara cup H dan cup C mereka ke dadaku. Empat buah payudara lembut itu menggosok dadaku dengan gerakan geser yang kenyal.


Aku sudah mencicipi payudara Naraka dengan penisku, dan payudara Riina dengan punggungku, tapi digosok dari depan seperti ini pun rasanya tak tertahankan. 


Yang terpenting, melihat dua wajah cantik milik Riina dan Naraka—kakak yang terlihat kuat dan adik yang terlihat pemalu—berada sangat dekat denganku membuatku merasa sangat senang. Saudari Takaya ini memang luar biasa cantik....


"Ba-bagaimana, Masaki-kun? A-apa yang seperti ini juga terasa enak...?"


"A-ah... dicuci punggungnya memang enak, tapi saling berhadapan begini juga... luar biasa."


"Bu-bukannya semua memang terasa enak bagimu. Kalau begitu, lebih lagi... annh ♡"


"Padahal hanya payudara sepertiku, tapi kau senang menerimanya... ngh ♡"


Riina dan Naraka menggosokkan dada mereka ke dadaku dengan lebih cepat. Sensasi dari kedua payudara mereka yang terlalu lembut itu...!


"Se-sepertinya gerakan Riina memang lebih bagus..."


"Tentu saja... ngh ♡"


"O-Onee-chan punya latihan fisik yang berbeda... kalau begitu aku akan menang dengan kelembutan dan ukuran."


"Itu curang, kan?! Aku tidak akan pernah bisa menang melawan Naraka dalam hal itu meski sudah berusaha keras...!"


Setelah mengatakan itu, Riina semakin mempercepat gerakannya, dan terkadang ujung payudaranya mengenai wajahku. Riina ini sepertinya terlalu hanyut dalam suasana...!


"Kh, Takaya... ah bukan, Riina ya."


"Benar, Riina... kita sudah melakukan hal sejauh ini, jangan kembali memanggilku dengan nama keluarga sekarang. Satu-satunya laki-laki yang memanggilku dengan nama depan cuma Masaki-kun, lho?"


"Be-benar juga. Riina..."


"Kyat!"


Aku mencengkeram payudara cup C Riina dan meremasnya dengan kuat.


"Naraka juga..."


"Kyanh ♡ Ah, payudaraku diremas dengan sangat kuat...! ♡"


Aku juga mencengkeram payudara Naraka, mengangkat bebannya yang berat sambil meremasnya. Sementara tubuhku digosok oleh payudara cup C dan cup H si kembar, tanganku pun sibuk meremas dada mereka. Kenikmatan seperti ini—apa boleh terjadi!


"Kh, sudah... lebih dari ini...! Riina!"


"I-iya ♡"


Aku bangkit dan berdiri di atas matras.


"Naraka, berdiri juga. Sambil mengisap payudaramu, biarkan aku memasukkan milikku ke mulut Riina—tidak, masukkan ke mulutnya."


Benar juga, aku harus memerintah saudari Takaya layaknya seorang Raja Iblis.


"Uunnh! Ah, ah... ♡"


Aku memeluk Naraka──


Memasukkan milikku ke dalam mulut Riina, lalu membiarkannya mengocoknya dengan liar di dalam mulutnya.


"Gu-gunakan juga payudaraku sesukamu... silakan."


"Kenapa jadi pakai bahasa formal begitu? Ya sudahlah... Payudara Naraka memang luar biasa...!"


Sambil menggoyangkan pinggang dan mengocoknya dengan kasar di dalam mulut Riina, tanganku meremas dada Naraka yang berdiri di depanku. Aku mengulum putingnya yang terbenam, sedikit menariknya keluar, lalu mulai mengisapnya dalam-dalam. Menikmati dada sang adik sambil dikocok oleh mulut sang kakak──ini juga benar-benar kenikmatan puncak. Lagipula, tubuh saudari Takaya ini terasa terlalu nikmat, tak peduli bagaimana pun cara menikmatinya.


"Ngh, nmmuhh... ngh, chupp, nmmuhh...! ♡"


"O-Onee-chan hebat sekali mengisapnya ♡ Ah, payudaraku juga, dijilat dan diisap-isap sampai berbunyi ♡"


Aku sengaja membuat suara isapan yang nyaring sambil melahap seluruh bagian dada Naraka ke dalam mulutku. Tentu saja, aku juga sangat menikmati kehangatan di dalam mulut Riina──


"Kh... kali ini, benar-benar...!"


"Nnhh, nnhh... nnhh! ♡"


Aku memuntahkan segalanya sekaligus di dalam mulut Riina. Penisku berdenyut-denyut kencang saat menyemburkan isinya tanpa ampun ke dalam rongga mulut Riina.


"Ha, haah... ngh, nngh... nkh, kh... fuah."


Begitu aku menarik keluar milikku, Riina membuka mulutnya lebar-lebar dan menjulurkan lidahnya. Di sana tampak sedikit kotor──tapi sepertinya dia sudah menelan semuanya.


"Terakhir... Riina, Naraka, kalian berdua bersihkan sampai bersih."


"Ba-baik ♡"


"I-iya... ♡"


Riina dan Naraka mendekatkan wajah mereka ke penisku, lalu menjilati ujungnya dengan kedua lidah mereka secara bergantian. 


Bentuk dan warna lidah mereka terlihat sangat identik──membuatku berpikir bahwa meski mereka kembar yang sama sekali tidak mirip, ternyata mereka punya kemiripan di bagian yang tak terduga.


"Fuu... kalian hebat, Riina, Naraka."


"Te-terima kasih... tapi, sudah cukup kan! Jantungku sampai berdebar gila-gilaan tahu ♡"


"Nakaba-kun versi Raja Iblis tadi keren sekali... aku jadi bisa melihat ekspresi Kakak yang belum pernah kulihat sebelumnya..."


"Syukurlah kalau begitu..."


Riina mungkin sudah berhasil menjadi lebih seksi lagi, dan semoga ini juga membantu proses penulisan Naraka. Begitu gairahku sudah tuntas, rasanya memang agak konyol, tapi karena aku sudah dibuat merasa sangat nikmat, aku tidak punya alasan untuk mengeluh. Setelah dibersihkan dengan teliti oleh ujung lidah saudari Takaya──


Kami mencoba berendam bertiga di bak mandi, meski sejujurnya terasa sangat sempit. Kami tidak bisa berendam lama karena berdesakan, tapi Riina dan Naraka memelukku dari kedua sisi, membuat kelembutan payudara mereka kembali terasa di kulitku.


"Hei, Nakaba-kun."


Naraka memelukku erat, lalu ia tersenyum lebar, hal yang jarang ia lakukan.


"Aku sudah memutuskan."


"Memutuskan apa?"


"Aku akan menulis ulang naskah dramanya!"


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close