NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Suki na Ko ni Kokuttara, Futago no Imouto ga Omake de Tsuitekita V3 Chapter 6

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Chapter 6

Para Pelayan Kembar Tampaknya Sangat Cocok Memakai Seragam

"Yee-ay, aku Asa. Begitulah, mohon bantuannya yaaa."


"Yappo, aku Yuu. Biasanya kami jadi pelayan lhoo."


"......Bahasa macam apa itu?"


Ruang kelas sepulang sekolah──


Sosok si kembar pelayan ada di sana, katanya karena mereka sudah mendapatkan izin resmi dari pihak sekolah.


"Tidak, kami pikir gaya bicara gal yang gaul dan kekinian akan lebih disukai."


"Karena kalau kami bersikap seperti pelayan setia seperti biasanya, orang-orang akan merasa canggung, jadi kami mencoba bersikap lebih santai."


"Mana mungkin begitu. Bersikaplah biasa saja, biasa."


Meskipun standar "biasa" bagi Asa dan Yuu sangat jauh dari standar orang pada umumnya, mereka tidak perlu berakting berlebihan. Padahal, yang akan mereka lakukan setelah ini memanglah berakting.


"Eeeh, padahal kami sudah berusaha keras mendalami peran ini—"


"Tidak apa-apa kan kalau kami jadi gyaru aktif—"


"Aku sangat paham kalau kalian berdua sedang bersenang-senang."


Kedua pelayan kembar itu berpose memberikan tanda W-peace secara bersamaan. Meskipun mereka tipe karakter tanpa ekspresi, ternyata mereka cukup mudah terbawa suasana...


Buktinya, mereka pernah seenaknya mengirimkan "foto pascabersetubuh" denganku kepada Fuuka hanya untuk iseng!


"Tapi, pakaian itu..."


"Menurut kami ini lumayan keren."


"Kami juga tidak mau kalah dari anak SMA asli."


"......Yah, secara usia kalian memang masih seumuran anak SMA, Asa, Yuu."


Benar, Asa dan Yuu tidak mengenakan seragam pelayan mereka yang biasanya, melainkan──mengenakan seragam sekolah SMA kami dengan sangat rapi.


Blus putih lengan pendek dengan pita, rompi rajut tanpa lengan yang serasi, dan rok mini bermotif kotak-kotak. Rambut perak mereka yang panjangnya sebahu—warna yang jarang ditemui—ternyata sangat cocok dengan seragam ini.


Dua pelayan kembar ini hanya setahun lebih tua dariku; secara usia, mereka seharusnya duduk di kelas tiga SMA. 


Jadi, tidak aneh jika mereka terlihat pantas memakainya. Asa dan Yuu kabarnya belajar secara mandiri di rumah dan telah mencapai tingkat kemampuan akademik setara lulusan universitas ternama luar negeri, sehingga saat ini mereka hanya bekerja sebagai pelayan dan tidak bersekolah. Itulah sebabnya ini pertama kalinya aku melihat mereka memakai seragam.


"Tapi, kalian sampai mau repot-repot ikut latihan segala."


Pekerjaan mereka adalah mengurus rumah tangga keluarga Tsubasa di apartemen, jadi mungkin mereka bisa meluangkan sedikit waktu.


"Jika Nona Muda dan Tuan Muda memanggil, maka ini juga bagian dari tugas."


"Kami datang ke sekolah tanpa menekan kartu absensi (time card)."


"Kalian mana pernah pakai kartu absensi segala."


Sepertinya pelayan kembar ini asal bicara saja, ya? Mana ada pelayan yang tinggal di rumah majikan bekerja dengan sistem upah per jam.


“"Kami sudah membaca naskahnya."”


"Lho, aku malah belum terima naskahnya."


"Katanya bagian Masaki-sama belum selesai ditulis."


"Yuzuki Ojou-sama ingin menyelesaikan dialog Masaki-sama dengan sangat teliti."


"Hah, yah, asal bagian yang katanya 'sedikit dialog' itu tidak berubah, aku tidak keberatan."


Daya ingatku tidak buruk, jadi aku pasti bisa menghafalnya dengan cepat.


"Peran kami adalah muncul secara tiba-tiba di setiap kesempatan dan melontarkan dialog yang penuh teka-teki."


"Aku suka bagian di mana kami menghilang begitu saja tanpa mengungkap identitas asli kami."


"Skenarionya agak serampangan juga, ya."


Untuk pertunjukan panggung berdurasi sekitar lima belas menit, mungkin tidak bisa dihindari jika hanya menebar petunjuk lalu berakhir tanpa penyelesaian. Bagaimanapun juga, selama pemeran utamanya adalah gadis cantik seperti Yuzuki dan Fuuka, pertunjukan ini pasti akan sukses. Apalagi jika pelayan kembar ini juga ikut tampil, rasanya tidak butuh peran bos terakhir lagi.


Dua pelayan kembar ini memiliki kecantikan yang identik, ditambah lagi mereka memancarkan aura yang unik. Mereka pasti akan terlihat sangat menonjol di atas panggung. Teman-teman sekelas di sekitar tampak sangat penasaran dengan mereka, namun mungkin karena aura unik tersebut—ditambah keberadaanku—tidak ada yang berani mendekat.


"Bisa-bisa ini jadi trauma bagi yang menonton. Di cerita misteri pun, 'si kembar yang menyeramkan' sering kali menjadi motif yang umum."


"Trauma?"


"Menyeramkan?"


"Ah, bukan, itu cuma kiasan. Bukan maksud yang buruk."


Ditatap dengan mata datar oleh Asa dan Yuu—seperti mata mereka biasanya, tapi kali ini terasa sedikit tidak puas—aku buru-buru menggelengkan kepala.


"Begitu ya, jadi Anda memuji kecantikan kami."


"Sebagai ucapan terima kasih, malam ini kami akan memeras Anda sampai kering, Masaki-sama."


"Memeras sampai kering!?"


Mereka benar-benar datang untuk membalas dendam! Meskipun aku sendiri tidak yakin apakah akan ada saatnya aku bisa "kering".


"Ah, Masaki-sama. Dasinya miring."


"Memang biasanya aku tidak mengencangkannya dengan benar. Hei, Yuu, sudah cukup."


Yuu menjulurkan tangannya dan mulai membetulkan dasiku.


"Tidak bisa, meskipun ingin gaya santai, ada cara tersendiri untuk mengikatnya."


"Be-begitukah?"


Yuu membetulkan dasiku dengan gerakan tangan yang cekatan, lalu mengangguk puas. Akhirnya pelayan kembar ini mulai mencampuri urusan berpakaianku juga... lama-lama mereka pasti akan bilang mau membantuku berganti baju juga.


"Ah, Masaki-sama, sepertinya ukuran seragam Anda mulai tidak pas. Lain kali, mari kita ukur ulang seluruh tubuh Anda."


"Eh, benarkah? Apa aku masih tumbuh...? Hei, Asa, tidak perlu diukur sekarang."


Kali ini Asa mulai menyentuh area bahu dan pinggangku untuk memastikannya. Di tempat yang penuh dengan teman sekelas begini, kalau terlalu banyak disentuh──


"Eh, Masaki-kun bisa membedakan si kembar itu?"


"Serius? Apa karena dia pacaran dengan anak kembar, jadi dia punya kemampuan khusus?"


"Lagipula, mereka itu pelayan keluarga Tsubasa, kan? Apa dia juga sudah menaklukkan pelayan pacarnya? Dia itu raja atau apa?"


...Gara-gara wajah sangarku, bukannya hanya ditakuti, sepertinya malah muncul kesalahpahaman jenis lain. Siapa sangka bisa membedakan Asa dan Yuu akan berujung seperti ini.


"Selesai! Ngobrolnya sampai di sini saja! Karena aktor dari luar sudah datang, ayo kita segera mulai latihannya!"


Yuzuki berdiri di podium sambil bertepuk tangan.


"Latihan ini akan direkam dan dibagikan ke semua orang! Jika ada yang mengganjal, silakan sampaikan pendapat kalian tanpa ragu! Karena ini direkam, jangan ada yang bermalas-malasan ya!"


Yuzuki benar-benar memimpin, ya. Bahkan sampai merekam suasana latihan segala. Kalau diperhatikan baik-baik, sudah ada ponsel yang terpasang di atas tripod. Jika direkam, aku tidak bisa main-main dan──


"Asa dan Yuu juga tidak bisa datang setiap hari. Kita tidak boleh membuang waktu."


Maka, latihan drama pun dimulai dengan sungguh-sungguh. Aku juga ikut berpartisipasi dengan naskah sementara, meski dialogku belum ada.


Drama berjudul 'Changeling!' karya Takaya Naraka ini menceritakan tentang pertukaran posisi sepasang anak kembar. Berlatar di dunia yang mirip Eropa abad pertengahan, pemeran utamanya adalah anak kembar yang lahir di keluarga bangsawan negara kecil. Meskipun sepasang kembar laki-laki dan perempuan, sang kakak perempuan yang berjiwa maskulin menyamar sebagai laki-laki untuk menjadi ksatria, sementara sang adik laki-laki yang lembut menyamar sebagai perempuan untuk menjadi dayang istana.


Sang kakak diperankan oleh Yuzuki, dan sang adik diperankan oleh Fuuka. Lebih tepatnya, Yuzuki memerankan gadis yang tomboi, sementara Fuuka memerankan laki-laki yang feminin. 


Di istana, ada perdana menteri jahat yang menjadikan raja sebagai bonekanya dan sedang menjalankan konspirasi untuk merebut kerajaan. Perdana menteri jahat itulah yang aku perankan; aku hanya muncul sesekali dengan tingkah laku yang penuh misteri, dan hampir tidak memiliki dialog.


Si kembar pahlawan, dalam posisi mereka sebagai ksatria dan dayang, akhirnya harus bertarung melawan perdana menteri jahat.


Meski begitu, peran perdana menteri jahat ini hanyalah pelengkap; sorotan utamanya adalah gerak-gerik si kembar yang bertukar posisi. Sang kakak perempuan yang menjadi ksatria melakukan duel pedang melawan anak buah perdana menteri, sementara sang adik laki-laki yang menjadi dayang terlibat dalam romansa mirip yuri dengan para dayang lainnya. Katanya, yuri atau hubungan asmara sesama perempuan sedang populer saat ini. Aku sendiri tidak tahu-menahu soal itu.


"Hmm... jadi Naraka yang memikirkan cerita ini."


Meski ceritanya singkat, dialog untuk si kembar laki-laki dan perempuan itu terasa hidup dan memberikan dampak yang kuat. Bahkan dialog pendek untuk karakter figuran pun dipikirkan dengan matang, memberikan kedalaman pada ceritanya. Siapa sangka dari otak Naraka yang terlihat lemah lembut itu bisa lahir cerita seperti ini... Maafkan aku, tapi memang benar bahwa orang tidak bisa dinilai dari penampilannya saja. Aku sendiri sering disalahpahami orang, jadi sebaiknya aku berhenti menghakimi berdasarkan tampang.


"Hei, Masaki! Apa yang kau lakukan!"


"A-ah, iya."


Aku menyahut saat dipanggil oleh Yuzuki. Sekarang giliranku──meski begitu, aku hampir tidak punya dialog. Aku hanya perlu memasang senyum licik, atau mendekati ksatria gadungan dan dayang gadungan itu lalu melakukan kabedon untuk memberikan tekanan. Biasanya aku tidak pernah menunjukkan ekspresi seperti itu, apalagi melakukan kabedon, tapi sayangnya, katanya keberadaanku di sana saja sudah cukup memberikan rasa tertekan.


Tanpa memikirkan hal-hal yang tidak perlu, aku mencoba berakting secara alami. Mungkin dengan begitu, semuanya akan berjalan lancar──



"Akting yang luar biasa, melebihi apa yang kami bayangkan, Masaki-sama."


"Bahkan sampai ada siswi yang menangis hanya karena melihat Anda dari dekat, sungguh mengagumkan."


"............"


Latihan drama berakhir dalam waktu sekitar satu jam──


Aku belum ingin langsung pulang, jadi aku mengikuti kedua pelayan kembar ini ke ruang kelas kosong. Itu adalah ruang kelas kosong yang biasa, yang sudah mendapatkan izin resmi dari Yuzuki untuk digunakan. Yuzuki sendiri masih harus mendiskusikan masalah kostum bersama Fuuka di ruang kelas mereka.


"Tidak, ini benar-benar... menyadarkanku kembali setelah sekian lama betapa menyeramkannya diriku."


Aku duduk di kursi ruang kelas kosong itu sambil menjatuhkan bahu, menunjukkan rasa lesu yang nyata. Alasan kenapa aku tidak ingin segera pulang sudah disebutkan oleh kedua pelayan kembar tadi. 


Hanya ada satu siswi yang menangis, tapi teman sekelas lainnya──bahkan para laki-laki pun──tampak gemetar melihat aktingku. Padahal aku hanya memancarkan aura "ingin membantai semua orang" dan memasang senyum yang katanya licik.


Sudah tidak perlu dikatakan lagi, aku tidak punya kemampuan akting sama sekali. Padahal aku hampir menunjukkan sifat asliku, tapi ternyata itu sudah cukup untuk menakuti teman-teman sekelas yang hanya menonton.


"Kurasa struktur wajahku tidak seseram itu... entahlah, apa karena suasananya?"


"Sebenarnya, kami pun terkadang dibilang menyeramkan."


"Karena wajah kami memang miskin ekspresi seperti yang Anda lihat, bagi kami itu pun karena suasana."


"......Tidak, kalau dalam kasus Asa dan Yuu, kalian itu hanya 'sangat cantik sampai terasa mengerikan'."


Kurasa tidak ada orang yang benar-benar takut pada Asa dan Yuu. Hanya saja, wajah mereka terlalu rupawan dan tanpa ekspresi sehingga orang merasa sulit untuk mendekat, tidak seperti aku yang sampai membuat orang menangis. Malah, kebanyakan orang pasti akan terpesona melihat pelayan kembar ini. Berbeda denganku.


"Apa sebaiknya aku mundur saja? Lagipula dialogku sedikit, siswa lain pun pasti bisa..."


"Jangan bercanda. Melepaskan pemeran antagonis yang sanggup membuat siswi menangis hanya dengan melihatnya adalah langkah yang buruk."


"Masaki-sama, peran antagonis itu justru lebih sulit. Bisa melakukannya secara alami adalah sebuah bakat."


"......Aku tidak tahu harus senang atau tidak."


Namun, apa yang dikatakan Asa dan yang lainnya adalah sebuah kebenaran. Sayangnya, tidak diragukan lagi kalau aku memang sangat cocok menjadi penjahat. Lagipula Naraka menulis peran perdana menteri jahat itu dengan metode ate-gaki, memang sudah membayangkan aku sebagai pemerannya...


"Mau tidak mau aku harus melakukannya, ya..."


“"Masaki-sama."”


"Eh?"


Asa dan Yuu berdiri tepat di hadapanku yang sedang duduk di kursi. Mereka berdua memancarkan suasana yang misterius──dan aku sudah bisa menebak apa yang sedang mereka pikirkan.


"He-hei, tunggu sebentar. Asa, Yuu, jangan bilang di tempat seperti ini?"


“"Bukankah Anda biasa bersenang-senang dengan Nona Muda di sini?"”


"......Kalian kan bukan murid sekolah ini. Melakukannya di ruang kelas kosong itu──"


"Tidak ada hubungannya apakah kami murid di sini atau bukan."


"Kami sudah mendapat izin dari Nona Muda untuk menggunakan tempat ini."


"......Apa Yuzuki punya wewenang untuk memberi izin?"


Tapi, memang benar kalau status murid atau bukan itu tidak ada hubungannya. Mau murid atau bukan, dilarang melakukan hal mesum di sekolah. Itu sudah pasti dilarang.


"Selain itu──kami ingin Masaki-sama mencicipi kami yang sedang mengenakan seragam ini."


"Kesempatan seperti ini di sekolah tidak akan datang berkali-kali. Silakan──sesuka Anda."


"............"


Asa dan Yuu menyingkap rok mini mereka dengan perlahan. Celana dalam pelayan kembar cantik yang sudah sering kulihat itu──hari ini telah berubah menjadi celana dalam gadis berseragam sekolah kembar yang cantik. Gadis-gadis cantik berambut perak sebahu ini sangat cocok mengenakan seragam SMA Jepang. Ditambah lagi, mereka memperlihatkan apa yang ada di balik rok mereka, celana dalam berwarna biru muda──


"Tidak, hari ini mari kita bersenang-senang dengan cara yang berbeda."


"Benar, karena hari ini spesial... bagaimana kalau seperti ini?"


Asa melepas rompi rajutnya, membuka kancing blusnya hingga memperlihatkan bra berwarna biru muda. Kemudian, Yuu menjatuhkan rok mini kotak-kotaknya ke lantai, sekali lagi memamerkan celana dalam biru mudanya.


"Bagian atas ditunjukkan oleh Asa..."


"Bagian bawah akan ditunjukkan oleh Yuu..."


"Ugh..."


Mereka berdua mendekat ke arahku, memamerkan dada yang terbungkus bra dan celana dalam mereka. Siapa sangka mereka akan berbagi tugas, Asa memamerkan bra dan Yuu memamerkan celana dalam, menunjukkan pakaian dalam yang berbeda satu sama lain.


Daya hancur dari gadis kembar cantik yang mengenakan seragam sekolah memang benar-benar luar biasa....


“"Ini demi membuat Masaki-sama kembali bersemangat. Silakan, jangan sungkan."”


Asa dan Yuu mengucapkannya secara serempak──dan aku sudah berada di batas kesabaranku.


"Kyat!"


"Annh!"


Aku menyentak bra Asa ke atas, membiarkan payudara cup F miliknya yang kenyal terpampang sepenuhnya. Puting merah mudanya terekspos, dan aku segera mengulum puting itu lalu mulai mengisapnya dalam-dalam. Di saat yang sama, aku menjulurkan tangan ke arah bokong Yuu, menyusupkan tanganku ke dalam celana dalamnya──lalu mulai mengelus bokong polosnya.


"L-luar biasa... Anda langsung mengisap putingku tanpa peringatan... haah ♡"


"Bokongku juga... ngh, Anda mencengkeramnya dengan begitu kasar... aanh ♡"


Aku mengisap puting Asa dengan kuat sambil meremas bokong Yuu dengan kasar──kemudian aku menjilat-jilat puting tersebut, melepaskan tangan dari bokong Yuu, dan kali ini ganti mengelus bagian intimnya dari balik celana dalam.


"Hah, ah... annh ♡"

"Ah, ngh... nngh ♡"


Si kembar mengeluarkan desahan nikmat yang manis saat puting dan bagian intim mereka diserang. Aku semakin bersemangat dan menjilati puting mereka lebih jauh, lalu kembali menyusupkan tangan ke dalam celana dalam──


“"Haah, aanh... Masaki-sama... ♡"”


Setelah puas menikmati puting dan bagian dalam celana dalam mereka, aku melepaskan bibir dan tanganku dari tubuh keduanya. Ternyata sosok mereka dalam balutan seragam terasa sangat segar dan berbeda dari biasanya, tubuh ini seolah bisa kunikmati sepuasnya.


"A-Anda terlihat jauh lebih bergairah dari yang kubayangkan, Masaki-sama..."


"Sepertinya hari ini gairah Anda tidak akan mereda dengan mudah ya..."


Asa membiarkan dadanya yang montok terekspos, sambil menyingkap roknya untuk memperlihatkan celana dalam biru mudanya. Yuu pun membuka kancing blus seragamnya, menggeser bra biru mudanya, dan membiarkan payudaranya terbuka lebar.


"......Bukankah tadi kalian bilang akan memperlihatkan bagian atas dan bawah secara terpisah?"


"Anda kan sudah cukup menikmatinya tadi."


"Selanjutnya... silakan gunakan 'milik Anda' pada kami."


"A-ah, ya..."


Tentu saja penisku sudah menegang hebat hingga rasanya mau pecah. Selama aku belum menenangkan gairah ini menggunakan tubuh gadis kembar cantik Asa dan Yuu, aku tidak akan bisa pergi ke mana-mana.


"Hari ini... bagaimana jika Anda menggunakan paha kami?"


"Paha, ya... tempo hari aku sudah menggunakan bokong kalian."


"Itu adalah pengalaman pertama bagi kami... kali ini silakan gunakan paha kami."


Asa memberi usul, dan Yuu pun menyetujuinya. Digosok oleh bokong kedua pelayan kembar ini memang terasa sangat nikmat. Tapi melakukannya terus-menerus itu membosankan──lagipula, aku membiarkan kedua pelayan ini memanjakanku juga demi mempelajari teknik untuk memanjakan Yuzuki dan Fuuka nanti.


"Paha siapa yang ingin Anda gunakan? Rasanya pasti akan sama saja, tapi..."


"Kalau begitu... Yuu, boleh? Sepertinya lebih mudah melakukannya dengan Yuu karena dia sudah melepas roknya."


"Baik, tentu saja silakan..."


Yuu berputar membelakangiku, memperlihatkan bokongnya yang masih terbalut celana dalam biru muda. Aku berdiri, memegang pinggang ramping Yuu, lalu menyusupkan penisku yang menegang di sela-sela pahanya.


"Haah ♡"


Desahan manis lolos dari bibir Yuu. Aku menggosokkan penisku kuat-kuat di antara paha Yuu. Ugh, sensasi halus dan kelembutan yang empuk ini benar-benar tidak tahan...!


"Asa, kau juga..."


"Baik... silakan gunakan bagian mana pun dari tubuhku sesuka Anda... ah ♡"


Aku mulai kembali mencicipi puting Asa yang tadi sempat kuisap sepuasnya. Menikmati sensasi paha adik kembar dengan penisku sambil mengisap puting kakak kembar──bolehkah aku mendapatkan kemewahan seperti ini?


"Aah, berbeda dengan bokong... annh, pahaku terasa geli... rasanya aneh sekali...!"


"Masaki-sama... Yuu terlihat benar-benar merasa nikmat... terima kasih banyak."


"Tidak perlu berterima kasih... ugh, untuk hal begini...!"


Aku menggerakkan penisku yang tadinya berada di sela paha ke arah atas──lalu menggosoknya tepat di bagian intim itu dari balik celana dalam.


"Hauu, di situ, s-stimulasinya terlalu kuat... ah, aah...!"


"Nngh! Tu-Masaki-sama, Anda mengisap putingku terlalu kuat...!"


Aku terus menggosok bagian itu dengan gigih dari balik celana dalam Yuu, sambil menjilati dan mengisap payudara cup F milik Asa seolah sedang melahapnya.


"Fuah, ah, uaaah...!"


Tubuh Yuu gemetar hebat, tampaknya ia berusaha menahan kenikmatan yang datang. Asa yang dadanya sedang kuelus pun tampak sangat terangsang, tapi Yuu mengeluarkan desahan manis yang jauh lebih keras.


"Ngh, ngh, aah... Tu-Masaki-sama...!"


"Kh, pertama untuk Yuu dulu... ugh!"


Aku sudah tidak bisa menahannya lagi, dan memancarkan cairanku tepat ke bokong Yuu yang masih mengenakan celana dalam.


"Ah, aaah... r-rasanya panas... sebanyak ini... bokongku, penuh dengan milik Masaki-sama..."


"Kalau begitu... m-sekali lagi... biarkan kami melayani Anda dengan bokong kami..."


"Eh, a-hei, Asa..."


Asa mendudukkanku kembali di kursi, lalu kedua gadis berseragam itu merapatkan bokong mereka satu sama lain──menjepit penisku di tengahnya, dan menggosoknya dengan kuat. Sensasi daging bokong itu benar-benar luar biasa... berbeda dengan paha, bagian ini pun terasa sangat nikmat.


"Hah, ah, 'itu' membesar lagi... ngh ♡"


"Apakah bokong kami terasa nikmat juga ♡"


"A-ah... hebat sekali..."


Stimulasi pada penis dari bokong pelayan kembar ini memang benar-benar kuat dan tak tertahankan. Setelah paha, sekarang digosok lagi oleh bokong itu... kalau begini, ronde kedua pun akan berakhir dalam sekejap...!


"Kh... ka-kali ini paha Asa juga...!"


"I-iya... si-silakan... ♡"


Aku kembali berdiri, menarik tubuh ramping Asa dan memeluknya dari depan──kali ini sambil saling berhadapan, aku menyisipkan penisku di sela pahanya, dan membiarkannya menggosok bagian intimnya dari balik celana dalam biru muda itu.


"Ah, i-ini ya... Yu-Yuu, ternyata kau sudah merasakan hal senikmat ini lebih dulu ya."


"Maafkan aku, Asa... ngh, ah, sekarang ganti payudaraku... ♡"


Sambil menikmati bagian intim Asa dari balik celana dalamnya, aku meremas dada Yuu, menjepit putingnya dengan jari dan memelintirnya perlahan. Aku meremas dan menikmati volume payudara cup F itu, sambil terus membiarkan penisku digosok oleh sela paha dan bagian intim Asa yang panas.


"Hah, ah, aku... kalau yang ini... t-tidak bisa menahannya lagi. Mohon maaf, Masaki-sama, aku adalah pelayan yang tidak sopan...!"


"Ah, Asa... annh, aku pun pelayan yang tidak sopan... ngh!"


Yuu berteriak keras saat putingnya dipelintir kencang. Sepasang pelayan kembar yang tidak sopan──mungkin akulah yang telah membuat mereka menjadi begitu mesum seperti ini.


Aku menggerakkan pinggangku semakin kencang dan meremas dada Yuu dengan kasar.


Aku menggosok bagian intim itu berulang kali, menggerakkan penisku secara liar seolah sedang menyentak dari bawah──


"Ah, ah, stimulasinya terlalu kuat, Masaki-sama...!"


"Bagian Asa yang ini juga terasa sangat panas...! Kh, aku akan... lagi...!"


"Di, di mana saja yang Anda suka...! Ma, mau padaku atau Yuu, silakan saja...!"


"Oh... di mana saja boleh, ya..."


Aku menggosok sela-sela paha Asa dengan lebih hebat, menekan ujungnya kuat-kuat dari balik celana dalam──


"Ti, tidak boleh, Masaki-sama, kalau begitu... bi, bisa ma—aaah ♡"


Tubuh Asa gemetar hebat, lalu ia jatuh terduduk di tempat. Secara refleks, aku merengkuh Yuu yang masih berdiri di dekatku──


"Hauu ♡"


Aku mencengkeram pinggang Yuu yang sangat ramping, memeluknya erat-erat──lalu kembali menekan ujung penisku kuat-kuat ke arah sana dari balik celana dalam Yuu.


"Aaah... ti, tidak boleh, sekarang giliran punyaku yang akan ma—aaaaaaaaah!"


Seolah sedikit menggeser celana dalam Yuu, ujung penisku langsung bersentuhan dengan bagian intimnya. Saat itu juga, aku memuntahkan segalanya sekaligus. Bukan dari balik kain, melainkan seolah-olah menyiramkan cairan itu langsung ke sana──


"Ha, haah... Masaki-sama... yang tadi itu berbahaya, tahu."


"I-iya, rasanya hampir masuk... baik ke punyaku maupun ke punya Yuu..."


"Ma-maaf... aku terlalu hanyut dalam suasana."


Padahal aku belum memutuskan akan menerima "segalanya" dari siapa lebih dulu, Yuzuki atau Fuuka. Tidak mungkin aku malah mengambil kesucian salah satu dari pelayan kembar ini, Asa atau Yuu, lebih awal.


"Ha, haah... bagian depan dan belakangku... ja, jadi lengket semua..."


Benar saja, celana dalam Yuu sudah benar-benar kotor di depan dan belakang oleh cairan yang kumuntahkan. Meski terjadi karena aku terlalu bersemangat mengikuti alur, ternyata dua kali berturut-turut aku mengakhirinya pada Yuu...


"Ti, tidak apa-apa... kami ini pelayan. Kami tidak pernah lalai dalam hal persiapan..."


"Kami sudah menyiapkan pakaian dalam cadangan yang rapi untuk Yuu... jika Anda mau, Anda boleh membuangnya sekali lagi ke bagian Yu yang itu... tidak apa-apa, lho?"


"Kenapa malah Asa yang memberi izin?"


Karena aku sudah mengeluarkannya di depan dan di bokong Yuu, seharusnya sekarang giliran Asa──begitu pikirku, tapi jujur saja aku merasa tidak enak jika terus melanjutkannya di sekolah.


"Tidak, sudah cukup. Aku sudah sangat menikmatinya... Asa dan Yuu dalam balutan seragam sangatlah manis. Kalian luar biasa."


"Tidak... bagi Masaki-sama, yang paling luar biasa selamanya adalah para Nona Muda."


"Kami hanyalah melayani Masaki-sama demi kepentingan para Nona Muda... ah ♡"


Yuu, yang berbicara menyambung kalimat Asa, mengeluarkan suara kecil. Cairan kental itu mengalir turun melalui paha putih Yuu dan menetes jatuh.


"Tapi... sepertinya Masaki-sama lebih menyukai Yuu, ya."


"Eh? Ti-tidak, bukan begitu..."


Apakah tidak sopan pada Yuu jika aku menyangkalnya? Aku sudah cukup menikmati tubuh Asa, dan kebetulan saja dua kali terakhir berakhir pada Yuu. Namun, sebenarnya aku bisa saja mengakhirinya pada Asa jika aku mau...


"Tu-Masaki-sama... aku tidak keberatan jika harus... melayani Anda lebih banyak lagi, lho?"


"............"


Yuu kemudian menurunkan celana dalam biru mudanya yang sudah kotor. Bagian yang sangat sensitif itu terlihat jelas olehku──aku menelan ludah dengan berat. Kalau diingat-ingat, yang iseng mengirimkan foto pascabersetubuh denganku kepada Fuuka adalah Yuu...


Padahal aku sama sekali tidak berniat memberikan perlakuan istimewa kepada salah satu dari pelayan kembar ini. Aku adalah seorang Double Mind, seharusnya aku bisa menyayangi dua gadis secara adil dan bersamaan. Namun──apakah hubungan antara aku dan kedua pelayan kembar ini mulai berubah...?


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close