Penerjemah: Miru-chan
Proffreader: Miru-chan
Chapter 4
Si Kembar Ingin Menikmati Liburan Musim Panas
Liburan musim panas pun mulai mendekati akhir──
Dari sekian banyak liburan musim panas yang pernah kualami, tidak diragukan lagi bahwa kali ini adalah waktu yang paling berkesan. Di pertengahan liburan, aku sempat pulang ke rumah orang tuaku selama tiga hari untuk bertemu Ibu, Wakaba, dan juga Ayah.
Wakaba kini telah memiliki banyak sekali koleksi pakaian; gaun-gaun cantik dan rok mini tampak seolah hampir meluap dari lemari pakaiannya. Sepertinya Yuzuki dan Fuuka telah melonggarkan dompet mereka lebar-lebar untuk membelikan pakaian bagi Wakaba yang sangat mereka sayangi itu.
"Bukannya ini cocok untukku... atau aku suka baju imut begini, ini bukan seleraku, tahu..."
Meskipun Wakaba berkata dingin seperti itu, menurut cerita dari Ibu, Wakaba selalu mengenakan pakaian pemberian mereka setiap kali ia pergi keluar. Terlebih lagi di mata Ibu, meski Wakaba bersikap dingin seperti biasanya, ia sebenarnya terlihat sangat gembira.
Sebagai kakak, aku pun merasa senang melihat Wakaba menikmati liburan musim panasnya. Hanya saja, adikku yang dingin itu sepertinya tidak terlalu memedulikan ketidakhadiranku, yang jujur saja membuatku merasa sedikit kesepian.
"Wah, ternyata ramai sekali ya. Sepertinya banyak orang yang datang untuk bermain di saat-saat terakhir sebelum liburan musim panas usai."
"Tempat ini tidak bisa disebut taman hiburan kalau tidak seramai ini. Ah, Masaki-san, ayo cepat!"
"Hei, hei, Yuzuki, Fuuka, jangan terburu-buru begitu."
Pada suatu hari tepat sebelum liburan musim panas berakhir──
Aku datang ke taman hiburan bersama Yuzuki dan Fuuka. Si kembar mengajakku berkencan bertiga sebelum musim panas berakhir, dan tentu saja, aku tidak punya alasan untuk menolak. Lagi pula, belakangan ini terlalu banyak hal yang terjadi. Audisi Takaya Riina sudah selesai, dan sekarang kami sedang menunggu hasilnya.
Atas saran dari Riina jugalah kami bertiga pergi bersama. Riina sendiri merasa terlalu gugup untuk bermain, jadi ia menyuruh kami untuk bersenang-senang tanpanya.
Tentu saja, Naraka yang seorang penyendiri tidak mungkin mau datang ke taman hiburan; meskipun sudah diajak, dia menolak dengan sangat tegas. Kedua pelayan pun menolak dengan sopan karena merasa tidak enak jika harus mengganggu kami.
Sangat disayangkan saudari Takaya dan saudari pelayan tidak bisa ikut, tetapi aku senang bisa bermain bertiga bersama Yuzuki dan Fuuka. Kami diantar sampai ke depan taman hiburan dengan mobil keluarga Tsubasa, jadi perjalanannya terasa sangat mudah. Yah, meskipun setelah ini kami harus mengantre untuk masuk, tapi itu adalah hal yang tidak bisa dihindari.
"Sudah lama sekali aku tidak ke Fan-Pa. Terakhir kali sepertinya saat tahun pertama bersama Rii dan yang lainnya."
"Itu kan tidak terlalu lama," sahutku menanggapi Yuzuki yang berdiri di sampingku.
"Banyak juga orang yang datang lebih sering dari itu, tahu. Aku bahkan ingin datang ke sini sebulan sekali."
"Bukankah itu terlalu sering?"
Bukankah taman hiburan itu menyenangkan justru karena kita jarang mengunjunginya?
Fantasy Park──
Salah satu taman hiburan ternama di negeri ini. Sesuai namanya, tempat ini memiliki berbagai atraksi dengan motif dunia fantasi. Antrean panjang di depan gerbang masuk tampak sangat melelahkan, namun karena barisan bergerak dengan lancar, sepertinya tidak akan memakan waktu lama untuk masuk.
"Aku juga terakhir kali ke sini saat tahun pertama. Aku pergi bersama teman-teman Shuka, tapi tanpa direncanakan, aku datang di hari yang sama dengan Yuzu-nee."
"Benar-benar Kembar Takdir (Destiny Twins)..."
Ternyata dalam hal seperti itu pun, tindakan Yuzuki dan Fuuka bisa selaras. Saat tahun pertama, mereka bersekolah di SMA yang berbeda, dan meskipun mereka menentukan jadwal masing-masing bersama teman mereka, mereka tetap berakhir di taman hiburan yang sama pada hari yang sama pula. Sudah lama aku tidak mendengar contoh nyata dari fenomena si kembar ini, benar-benar luar biasa.
"Tapi, apa kalian yakin ingin memakai pakaian itu?"
Aku melirik ke arah Yuzuki dan Fuuka yang berada di kiri dan kananku. Fuuka mengenakan seifuku putih—seragam dari SMA Putri Shuka yang ia hadiri hingga beberapa waktu lalu.
"Tentu saja boleh, kan? Apa tidak cocok?"
Dan Yuzuki pun mengenakan Sailor fuku putih yang sama—seragam SMA Putri Shuka.
"Dalam artian tertentu, ini adalah gaya kembar (twin-code), ya."
"Faktanya, kami memang kembar," jawabku sambil tersenyum kecut, lalu memperhatikan kembali penampilan seragam Yuzuki.
Meskipun mengenakan Sailor fuku putih yang sama dengan Fuuka, jika rok lipit Fuuka sepanjang lutut, Yuzuki mengenakan rok mini yang dipendekkan hingga batas maksimal. Tampaknya dalam hal gaya kembar pun, Yuzuki tidak bisa berkompromi soal panjang roknya.
"Lagi pula, 'Seifuku Fan-Pa' (Seragam di Fan-Pa) adalah hal mendasar, kan? Apalagi ini adalah sebuah kencan."
"Ini terakhir kalinya aku bisa memakai seragam Shuka ini. Aku meminjamkan seragam cadanganku kepada Yuzu-nee."
"Begitu rupanya..."
Rupanya bermain di Fantasy Park dengan mengenakan seragam sekolah disebut dengan "Seifuku Fan-Pa". Fuuka sempat mengenakan seragam Shuka saat awal kepindahannya, namun segera berganti ke seragam sekolah kami. Kecil kemungkinan ia akan pindah sekolah lagi, jadi memang benar Sailor fuku putih ini tidak akan memiliki kesempatan untuk dipakai lagi.
"Aku sangat menyukai Sailor fuku putih ini, jadi aku ingin memakainya sekali lagi. Karena ini 'Seifuku Fan-Pa', aku pikir lebih baik memakai ini."
"Jadi dalam hal ini, Yuzuki yang menyesuaikan diri dengan seragam Fuuka, ya."
"Yah, daripada dibilang menyesuaikan diri..."
Yuzuki menjawab dengan nada bicara yang tidak biasa, seolah ada yang mengganjal.
"Beberapa waktu lalu, kalian bertiga—Yuzu-nee, Riina-san, dan Masaki-san—bersenang-senang tanpa aku, kan?"
"Itu, bukannya Fuuka juga sudah memberikan izin..."
"Beberapa waktu lalu, kalian bertiga bersenang-senang tanpa aku, kan?"
"...Iya."
Senyum di wajah Fuuka terasa menakutkan. Tampaknya Fuuka masih menyimpan dendam karena kami bertiga menghabiskan malam dengan begitu liar untuk "memberi pelajaran" kepada Riina. Meski ia mungkin tidak benar-benar marah... sepertinya aku perlu berusaha untuk memperbaiki suasana hatinya.
"Hari ini semuanya terasa segar, ya. Jarang sekali kalian berdua mengubah gaya rambut."
"Ah, kau menyadarinya, Masaki?"
"Seterpuruk apa pun aku, tidak mungkin aku tidak menyadari hal itu."
Yuzuki mengikat rambut cokelatnya ke samping (side-tail), sementara Fuuka mengikat rambut hitamnya ke belakang (pony-tail).
"Cuacanya panas, dan hari ini kita akan banyak bergerak. Jadi aku memilih gaya rambut yang sejuk dan mudah untuk bergerak."
"Karena hari ini kami berniat untuk bermain dengan sungguh-sungguh, gaya rambut itu sangat penting."
"Begitu ya. Kalian berdua terlihat sangat cocok."
"Te-terima kasih. Aku sedikit terkejut."
"Rasanya malu ya kalau dipuji secara tiba-tiba begini."
"..........."
Apakah aku biasanya jarang memuji mereka berdua?
Meskipun situasi di mana sepasang anak kembar sama-sama menjadi kekasihku adalah hal yang tidak lazim, tidak diragukan lagi bahwa aku adalah pria yang beruntung. Rasanya memang bukan gayaku, tapi haruskah aku tidak pelit dalam melontarkan pujian?
Sambil mengobrol seperti itu, kami mengantre selama sekitar dua puluh menit. Tak disangka, kami bisa melewati gerbang Fan-Pa dan masuk ke dalam dengan cukup cepat.
"Wah, akhirnya masuk juga! Ayo, kita main sepuasnya!"
"Di dalam pun ternyata ramai ya. Kita harus memikirkan efisiensi dalam memilih wahana mana yang akan dinaiki terlebih dahulu."
"Kalian berdua suka tipe wahana yang seperti apa?"
""Wahana ekstrem!"" jawab mereka serempak.
"......Selera kalian pun sama, ya."
Yah, sebenarnya aku sudah tahu, sih.
"Kalau begitu, kalian berdua bersenang-senanglah. Aku akan mengawasi kalian dari sini."
Mendengar itu, mata Yuzuki seketika berbinar nakal.
"Hahaha~ Jangan-jangan, Masaki takut dengan wahana ekstrem ya?"
"Bu-bukan takut, hanya saja aku jarang menaikinya."
"Aneh sekali. Padahal ini adalah taman hiburan paling menyenangkan di dunia."
"Masalahnya bukan itu... tidak pantas rasanya orang sepertiku bersenang-senang di taman hiburan, kan?"
"Kami tidak akan membiarkanmu kabur ♡"
"Tidak akan kami lepaskan ♡"
"............"
Lengan kiri dan kananku langsung dicengkeram erat oleh Yuzuki dan Fuuka.
"Te-tapi dengar dulu, wahana ekstrem itu biasanya kursinya berpasangan, kan? Kalau bertiga, aku pasti akan sisa satu orang sendirian. Jadi lebih baik kalian berdua saja yang—"
"Aku dan Yuzu-nee bisa bergantian duduk di sebelah Masaki-san, kok."
"Benar, entah aku atau Fuuka, salah satu dari kami bisa duduk di baris belakang kalian.”
"............"
Sepasang saudara kembar ini bahkan tidak keberatan jika salah satu dari mereka harus duduk sendirian. Sial, sejujurnya aku benar-benar tidak ingin naik wahana ekstrem... Mengapa aku harus sengaja menaiki kendaraan berbahaya seperti itu?
Saat aku sedang kebingungan di dalam hati—
"Wah, gadis-gadis Sailor fuku itu manis sekali ya."
"Aku pernah melihat seragam itu. Bukankah itu seragam sekolah elit?"
"Kalau dilihat baik-baik, wajah mereka mirip sekali. Anak kembar?"
Ternyata ada juga orang-orang yang jeli. Yuzuki dan Fuuka memang bak pinang dibelah dua, namun karena perbedaan warna rambut dan aura mereka, terkadang orang tidak menyadari kemiripan itu.
"Tapi, pria berwajah menyeramkan di tengah itu siapa? Apa dia sedang menculik si kembar? Perlu lapor polisi tidak ya?"
"............"
Padahal jelas-jelas Yuzuki dan Fuuka yang mencengkeram lenganku erat-erat dan tidak mau melepaskannya, tapi mengapa justru aku yang dikira sedang menculik mereka? Manusia memang pada akhirnya hanya menilai dari penampilan, ya...
"Jangan dipikirkan, jangan dipikirkan. Kita tidak akan bisa bersenang-senang di taman hiburan kalau terus memikirkan pandangan orang lain."
"Benar sekali. Cukup kita saja yang tahu bagaimana hubungan kita sebenarnya."
"......Kau benar."
Mau bagaimana lagi kalau orang-orang melihat kami dengan tatapan aneh. Dengan wajahku yang sangar ini, ditambah dua gadis kembar cantik di sisi kiri dan kanan, wajar saja jika pihak ketiga merasa curiga. Namun, Yuzuki dan Fuuka adalah kekasihku—itu adalah fakta, dan kami semua menyadarinya.
"Ah, benar juga, Fuuka! Kita harus membeli itu dulu!"
"Ah, benar sekali, Yuzu-nee! Mari kita beli itu dulu!"
Ucap Yuzuki dan Fuuka bersamaan, lalu mereka mulai berjalan dengan langkah cepat. Karena keduanya memiliki kemampuan atletik yang tinggi, aku merasa seolah sedang diseret oleh mereka.
Tujuan mereka adalah toko cendramata yang terletak di dekat gerbang masuk Fan-Pa.
"Hm? Bukankah terlalu awal untuk membeli oleh-oleh?"
"Bukan oleh-oleh—jangan-jangan Masaki baru pertama kali ke Fan-Pa?"
"Ugh......"
Tadi aku sempat merasa lega karena mereka tidak menyinggungnya, tapi ternyata ketahuan juga.
"Memangnya kenapa? Aneh rasanya kalau orang berwajah seram sepertiku kegirangan di taman hiburan, kan?"
"Tidak, sama sekali tidak. Biarkan kami mengajari Masaki-san cara menikmati Fan-Pa."
"A-apa maksudnya itu?"
Di tengah kebingunganku, Yuzuki dan Fuuka yang masih merangkul lenganku menarikku paksa masuk ke dalam toko. Berada di toko yang dipenuhi barang-barang berkarakter imut dan fantastis membuatku merasa sangat salah tempat.
"Permainan belum dimulai kalau tidak membeli ini," kata Yuzuki.
"Rasanya belum sah ke Fan-Pa kalau tidak memakai ini," tambah Fuuka.
"......Itu maksudnya,"
Belanjaan mereka selesai dalam sekejap. Saat kami keluar dari toko, Yuzuki dan Fuuka mengeluarkan barang yang baru saja mereka beli.
"Jadaaa! Bagaimana, Masaki?"
"Fufufu, bagaimana menurutmu, Masaki-san?"
"A-ah, bukankah itu terlihat manis."
Aku menjawab dengan sedikit ragu. Yuzuki dan Fuuka kini mengenakan bando dengan telinga kucing di kepala mereka. Tak tanggung-tanggung, ada juga ekor yang terjuntai dari bagian belakang rok seragam mereka. Sepertinya itu adalah pernak-pernik yang meniru telinga dan ekor dari karakter populer Fan-Pa bernama "Kemo-Neko".
"Kan, kan! Berkeliling sambil memakai ini adalah cara yang benar untuk menikmati Fan-Pa!"
"Imut, ya? Hampir semua gadis di sini memakainya."
"......Memang benar."
Meski tidak semuanya, banyak gadis remaja seusia Yuzuki dan Fuuka yang memakai telinga kucing. Ekornya pun entah bagaimana mekanismenya, bergerak-gerak lucu mengikuti gerakan orang yang memakainya.
"Lalu...... milikku ini apa maksudnya?"
Tentu saja aku tidak memakai telinga kucing maupun ekor. Yuzuki dan Fuuka tidak sejahat itu sampai menyuruhku memakai benda-benda seperti itu hanya untuk menertawakanku.
Hanya saja—
"Ahaha, ini sangat cocok untukmu. Dalam artian tertentu, kau terlihat imut!"
"Fufufu, benar-benar cocok. Kau terlalu menggemaskan!"
"............"
Yah, mungkin saja mereka memang agak jahat.
Barang yang mereka belikan untukku adalah masker yang menutupi area mulut secara luas. Warnanya hitam, dengan ilustrasi deretan gigi dan taring tajam yang digambarkan mirip seperti bagian dalam mulut serigala. Saat masker itu dipadukan dengan tatapan mataku yang tajam──
"Kalau begini, apa pengunjung yang mengantre di depanku tidak akan lari ketakutan?"
"Hahaha, kalau begitu bagus dong, jadi hemat waktu antrean!"
"Mungkin saja nanti ada yang memotretmu lalu mengunggahnya ke media sosial."
"Kalian ini, ya..."
Tentu saja, aku tahu Yuzuki dan Fuuka hanya sedang bercanda. Hanya saja, mereka berdua tampaknya sedang sangat bersemangat karena berada di Fan-Pa.
"Tapi serius, masker 'Dokuro' ini yang paling cocok untuk Masaki."
"Tidak ada orang lain yang punya mata yang begitu pas dengan masker ini selain dirimu."
"......Itu pujian, bukan?"
Dokuro adalah karakter yang cukup fanatik di Fan-Pa, berupa seekor serigala yang sudah menjadi kerangka. Dia adalah satu-satunya karakter bertema horor di Fan-Pa. Memang benar, barang ini jauh lebih cocok untukku daripada barang-barang karakter imut lainnya, tapi tetap saja...
"Yah, sudahlah. Lagipula akan terasa canggung kalau hanya kalian yang memakai pernak-pernik sedangkan aku polos sendiri."
"Ahaha, Masaki ternyata orangnya asyik juga ya."
"Fufu, aku ingin Masaki-san juga ikut bersenang-senang."
"Tentu saja aku akan menikmatinya. Baiklah, mau itu wahana fantasi atau wahana ekstrem, bawa saja semuanya ke sini. Aku akan menemani kalian sampai akhir."
Bermain di taman hiburan memang bukan gayaku, tapi aku tidak peduli selama itu bisa membuat Yuzuki dan Fuuka senang. Bagiku, tidak ada yang lebih berharga daripada senyuman mereka berdua.
Karena itulah──
Dengan lengan kiri dan kananku yang masih dipeluk oleh mereka, kami berkeliling mendatangi wahana satu per satu.
"Kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!"
"Huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!"
Sambil mendengarkan jeritan ceria Yuzuki dan Fuuka, kami menaiki roller coaster paling menakutkan di Fan-Pa, "Dragon Rider". Meskipun aku sempat berpikir, 'Baru mulai saja sudah begini?', aku tidak sanggup berkata "Aku mau turun saja" saat melihat wajah ceria Yuzuki yang duduk di sebelahku. Yah, meskipun begitu wahana mulai berjalan, kau tidak akan bisa turun meski kau mau.
Aku menemani mereka berdua yang ternyata jauh lebih menyukai wahana ekstrem daripada dugaanku──
Kami menaiki "Leviathan", roller coaster yang melaju di atas air, lalu "Wyvern" yang menjatuhkan kami tegak lurus dari ketinggian yang sulit dipercaya. Setelah menikmati beberapa wahana lagi, kami memutuskan untuk berjalan-jalan santai di dalam area taman hiburan. Sepertinya, mereka mengkhawatirkanku yang nyaris mati setelah dipaksa menaiki wahana ekstrem yang tidak biasa kucicipi.
"Wah, ada kastelnya juga ya."
Sebuah kastel putih bersih yang dikelilingi kanal air berdiri tegak di bagian dalam area taman. Kalau hanya sekadar melihat pemandangan seperti ini, aku bisa menikmatinya dengan normal.
"Baiklah, Yuzuki, Fuuka, ayo aku fotokan kalian berdua."
"Ah, ide bagus!"
"Iya, mari lakukan itu."
Yuzuki dan Fuuka mengangguk lalu berdiri di depan pagar kanal. Dengan latar belakang kastel di balik pagar dan sepasang gadis kembar cantik di depannya──ini akan menjadi foto yang sangat bagus.
"Oke, aku ambil fotonya ya, Yuzuki, Fuuka."
"Siap—"
"Siaaap—"
Yuzuki dan Fuuka berdiri berdampingan sambil merentangkan tangan mereka membentuk simbol hati. Aku menekan tombol rana pada ponselku tepat saat mereka berdua tersenyum identik secara sinkron.
"Oh, fotonya bagus sekali."
"Coba lihat, coba lihat!"
"Wah, hasilnya bagus ya."
Yuzuki dan Fuuka merapat ke kiri dan kananku untuk melihat foto yang baru saja kuambil. Entah kenapa, meski aku sendiri yang memotretnya, pose mereka yang benar-benar simetris itu terlihat terlalu sempurna...
"Saking sempurnanya sampai terlihat seperti CGI..."
"Duh, bicara apa sih. Sekarang ayo kita foto bertiga. Permisi—boleh minta tolong fotokan kami?"
Yuzuki menyapa seorang wanita muda yang kebetulan lewat dan menyerahkan ponselnya. Kalau aku yang menyapa, wanita itu pasti sudah lari ketakutan, tapi kemampuan komunikasi Yuzuki memang luar biasa.
"A-ah, dengan pria yang memakai masker itu... bertiga?"
"Iya, dia pacarku! Dan yang ini adikku!"
"O-oh, begitu ya. Baiklah, saya ambilkan fotonya."
Wanita muda itu tampak bingung, namun ia tidak berdaya menghadapi desakan Yuzuki. Aku pacarnya, dan Fuuka adiknya──tidak ada kebohongan dalam ucapan itu. Rasanya tidak perlu menambahkan fakta bahwa aku juga pacar Fuuka. Jika aku mengatakannya, wanita muda ini pasti akan mengira sepasang gadis kembar cantik ini sedang dipaksa oleh pria bermasker Dokuro, lalu dia akan melapor ke polisi.
""Terima kasih banyak!""
Setelah selesai berfoto, si kembar mengucapkan terima kasih kepada wanita itu. Aku memeriksa foto yang baru saja dikirim dari ponsel Yuzuki ke ponselku.
"......Kalau dilihat secara objektif begini, penampilanku gawat juga ya. Bukankah aku terlihat lebih menyeramkan daripada Dokuro yang asli?"
"Bukannya itu bagus? Kami kan cantik, kalau kami jalan sendirian pasti banyak pria hidung belang yang mendekat. Tapi kalau jalan bersamamu, tidak ada seorang pun yang berani mendekat."
"Sangat nyaman, lho. Kalau aku dan Yuzu-nee jalan berdua saja, mungkin kami tidak akan bisa maju satu langkah pun karena terus-menerus digoda pria."
"Kalian ini..."
Yuzuki dan Fuuka hari ini memang sedang sangat bersemangat. Biasanya mereka tidak akan memuji kecantikan diri sendiri sedrastis itu. Yah, sesekali melihat sisi mereka yang seperti ini juga tidak buruk. Ini pun terasa imut.
"Daripada itu, ayo kita ke wahana berikutnya! Selanjutnya──"
"Ah, bagaimana kalau yang ini? 'Mad Village'. Desa yang tertutup kegelapan tempat para monster berkeliaran. Singkatnya ini rumah hantu, ya. Kelihatannya menarik."
“"............"”
"Kalau begitu sudah diputuskan, ayo ke sana."
"Belum diputuskan, tahu!"
"Sama sekali belum diputuskan!"
Mata Yuzuki dan Fuuka seketika berkaca-kaca, dan mereka langsung memelukku erat dari sisi kiri dan kanan.
"I-itu satu-satunya tempat yang kami hindari! Masaki, apa kau tidak tahu tentang 'Mad Village' di Fan-Pa?!"
"Ini pertama kalinya aku ke sini, mana mungkin aku tahu."
"Mad Village itu rumah hantu yang paling mengerikan dan paling buruk! Bukan cuma anak kecil atau wanita, bahkan pria dewasa pun bisa menangis meraung-raung sambil memanggil ibunya karena saking takutnya!"
"Bukankah rumah hantu itu menarik justru karena menakutkan?"
Rumah hantu yang tidak menakutkan hanyalah sebuah lorong remang-remang yang membosankan.
"Padahal tadi kau sangat membenci wahana ekstrem... Masaki, kau tidak apa-apa dengan rumah hantu?"
"Biasa saja. Apa pun yang melompat keluar nanti, aku tahu di balik mekanisme itu ada manusia yang mengoperasikannya."
"I-ini adalah efek samping dari Double Mind... Ada dirimu yang merasa takut, tapi ada juga dirimu yang menganalisisnya dengan tenang."
"Begitu ya, mungkin saja. Aku tidak terpikir sampai ke sana."
Ternyata Double Mind, yang tadinya kukira tidak punya kegunaan selain untuk mencintai Yuzuki dan Fuuka secara bersamaan, memiliki efek yang tak terduga.
"Kalau begitu, ayo berangkat. Ah, lihat, tempatnya kelihatan dari sini. Sepertinya tidak terlalu mengantre."
Ada sebuah area yang dikelilingi pagar besi tinggi, dan di dalamnya berjajar beberapa bangunan bergaya Barat. Memang benar, atraksi ini terlihat seperti sebuah desa di Eropa. Di dekat pintu masuk, hanya ada beberapa orang saja yang sedang mengantre.
"Orang-orang tidak mengantre karena mereka semua tahu tempat ini terlalu menakutkan..."
"Rumornya, banyak pengunjung yang pingsan dan diangkut keluar satu per satu lewat pintu belakang..."
"Tenang saja, kalau Yuzuki dan Fuuka pingsan, aku akan mengangkut kalian berdua sekaligus."
Mungkin si kembar ini akan pingsan di saat yang bersamaan pula. Aku tinggal menggendong salah satu di depan dan memanggul yang lainnya di punggung.
"B-baiklah! Ayo kita hadapi!"
"B-baik, mari kita tunjukkan kalau kita bisa!"
"......Bagus, tekad yang mantap."
Bagaimanapun juga, Yuzuki dan Fuuka memang mudah terbawa suasana. Lagipula, aku hanya perlu menopang mereka agar tidak benar-benar pingsan dan jatuh.
"GYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA—!!"
Konon, jeritan harmonis mereka berdua yang bergema di seluruh Mad Village layaknya paduan suara menjadi buah bibir di taman hiburan tersebut untuk waktu yang lama...
"Haa, hari ini benar-benar melelahkan ya..."
"Iya, aku tidak akan menyebutkan namanya, tapi ini semua gara-gara wahana tertentu..."
Setelah seharian puas bermain di Fantasy Park──
"Tapi, kamar ini mewah sekali ya."
Kami berada di salah satu kamar hotel yang ada di dalam area taman hiburan. Sepertinya ini aslinya adalah kamar tipe twin, tapi mereka menambahkan extra bed agar kami bertiga bisa menginap bersama.
Kamar tidurnya masih terasa sangat luas meski diisi tiga tempat tidur, dan di sebelahnya terdapat ruang tamu dengan sofa dan meja. Meski tidak ada hubungannya dengan kami yang masih di bawah umur, di sana bahkan ada meja bar kecil. Selain itu, dari balkon kami bisa menikmati pemandangan malam taman hiburan yang dihiasi lampu-lampu.
"Hei, bukankah kamar ini sangat mahal?"
"Mendapatkan reservasinya lebih sulit daripada memikirkan harganya. Aku meminta bantuan departemen pariwisata Grup Tsubasa untuk memesankannya."
"Awalnya, Grup Tsubasa kabarnya juga ikut membantu pembangunan Fan-Pa. Sepertinya mereka punya sedikit hak istimewa."
"I-itu luar biasa..."
Kalau dipikir-pikir, si kembar ini memang putri dari keluarga kaya raya yang luar biasa...
Belakangan ini, aku mulai merasa tinggal di apartemen mewah dan bahkan mengamankan kamar di sebelahnya adalah hal yang wajar, mungkin indraku sudah mulai tumpul.
"Aku jadi penasaran berapa harga per malam kamar ini."
"Entahlah. Sepertinya harga menginapnya tidak dipublikasikan untuk umum."
"Dicari di internet pun tidak muncul. Ada rumor kalau harganya mencapai tiga digit."
Fuuka mengoperasikan ponselnya sambil memiringkan kepala. Tiga digit tentu saja berarti satu juta yen atau lebih.
Aku ingin percaya kalau harganya tidak semahal itu... tapi melihat kamarnya yang luas, pemandangan yang luar biasa, dan lokasinya yang prestisius di dalam taman hiburan, rasanya itu mungkin saja terjadi.
"Benar-benar luas... eh, tempat tidur ini juga besar sekali."
Terlepas dari extra bed-nya, tempat tidur yang sudah ada sejak awal memang sangat besar. Jangan-jangan, ini yang dinamakan ukuran King Size...?
"Benar, besar sekali ya. Wah, rasanya seperti memeluk tubuh kita."
"Kyaa, ini terlalu empuk. Rasanya seperti akan tenggelam."
Yuzuki dan Fuuka duduk di tempat tidur yang sama untuk memastikan keempukannya. Meski mereka berdua duduk berdampingan, tempat tidur itu masih menyisakan banyak ruang kosong.
"Sini, sini, Masaki."
"Silakan, Masaki-san."
"Eh?"
"Tadi siang kita sudah puas bermain dengan sehat, kan?"
"Malam ini, mari kita lakukan permainan yang tidak sehat."
"............"
Yuzuki dan Fuuka duduk berdampingan di atas tempat tidur sambil saling menggenggam tangan dengan erat. Sekilas mereka tampak tidak mirip, namun sebenarnya mereka berdua yang bak pinang dibelah dua itu kini membentuk posisi yang simetris.
"T-tapi, bukankah kalian berdua lelah?"
"Justru karena itulah. Tolong manjakan kami berdua."
"Dimanjakan oleh Masaki adalah obat yang paling menenangkan bagi kami."
"A-apakah itu benar-benar bisa menenangkan...?"
Memang benar siang tadi kami melakukan aktivitas yang sangat sehat selayaknya anak SMA—kecuali fakta bahwa pelakunya adalah satu laki-laki dan dua perempuan. Namun, itu bukan berarti kami harus memulai "permainan tidak sehat" sekarang juga.
"Lagipula mumpung ada tempat tidur besar begini..."
"Ini terakhir kalinya aku memakai seragam Shuka, lho...?"
"Ugh......"
Yuzuki dengan rambut cokelat side-tail, Sailor fuku putih, dan rok lipit mini.
Fuuka dengan rambut hitam pony-tail, Sailor fuku putih, dan rok lipit sebatas lutut. Bermain dengan mereka berdua yang berpenampilan seperti itu dalam kegiatan yang sehat──jika berakhir begitu saja, rasanya memang akan ada sesuatu yang mengganjal.
"Baiklah, hari ini biarkan aku memanjakan kalian berdua yang memakai Sailor fuku ini secara bersamaan. Yuzuki, Fuuka, kalian siap?──Aku tidak akan menahan diri, ya."
"Kyaa, ini dia! Sifat asyikmu yang seperti inilah yang paling aku suka dari Masaki."
"Benar, ini yang kami tunggu. Aku senang kau mau mengabaikan etika maupun norma demi kami."
Mendengar deklarasi kasarku, Yuzuki dan Fuuka sama sekali tidak gentar, mereka justru menyambutnya dengan gembira.
Benar, aku memiliki dua kepribadian dan aku bisa memanjakan dua kekasihku sekaligus. Kami sudah menikmati kencan yang menyenangkan, sebagai penutupnya, meski mungkin kami tidak melakukannya sampai akhir seperti biasanya──kami harus bersenang-senang di atas tempat tidur lebih dari biasanya.
"Kalau begitu, apa pun yang ingin Masaki lakukan... lakukan saja sesukamu ♡"
"Kami akan melayani permintaan apa pun darimu ♡"
"Kalau begitu..."
Aku memutuskan untuk tidak sungkan dan menerima tawaran si kembar.
"Beberapa waktu lalu, aku sudah bersenang-senang dengan Yuzuki dan Riina. Sekarang giliran Fuuka yang..."
"I-iya ♡ Itu baru namanya adil, kan? ♡"
"Enaknya jadi Fuuka. Kalau begitu, aku akan membantu di bagian pendukung ya ♡"
Aku duduk berlutut di atas tempat tidur, dan meminta Fuuka untuk duduk di hadapanku. Aku mengeluarkan penisku yang sudah menegang sejak tadi──
"Kyaa, sudah sehebat ini ♡ Jadi kau memang bersemangat melihatku memakai Sailor fuku setelah sekian lama ya... Kalau begitu, mari kita mulai ♡"
Fuuka membuka kancing Sailor fukunya, melepas bra putihnya dengan cepat, dan poyon! payudaranya pun menyembul keluar. Dengan payudara berukuran cup G tersebut, ia menjepit penisku dengan erat.
"Ha, ah... ngh, begini ya... Masaki-san, apakah terasa enak...?"
"A-ah... Fuuka, jepit lebih kuat lagi."
"I-iya ♡ Akan kujepit erat-erat dan kugesekkan untukmu... ♡"
Meski wajahnya memerah, Fuuka membungkus penisku dengan payudaranya yang luar biasa besar, lembut, dan empuk. Ia menjepitnya kuat-kuat dan menggerakkannya naik turun dengan ritme yang mantap. Fuuka yang berambut hitam pony-tail dan memakai Sailor fuku putih ini terlihat begitu polos, namun ia sedang melakukan paizuri dengan payudara cup G miliknya──hanya aku yang bisa memonopoli kenikmatan setinggi ini sendirian.
"Annh, berdenyut-denyut... ah, Masaki-san... aku akan membuatnya terasa lebih enak lagi ♡"
"Aanh, tadinya aku mau membiarkan Fuuka melakukannya sedikit lebih lama lagi, tapi aku sudah tidak tahan!"
"He-hei, Yuzuki."
Yuzuki yang sedari tadi hanya menonton dalam diam, tiba-tiba merayap masuk ke samping Fuuka. Lalu──
"Hamuu ♡"
"Uwoh!"
Yuzuki langsung mengulum ujung penisku yang sedang dijepit oleh payudara Fuuka. Kemudian, mengikuti gerakan gesekan Fuuka, Yuzuki juga mulai mengisap ujung penisku dengan lembut.
"He-hei, dipijat dengan payudara si kembar sambil diisap oleh salah satunya...!"
"I-ini hanya bisa dilakukan karena kami kembar... hamuu, ngh ♡"
"Karena kami kembar, kami bisa menyamakan napas untuk membuatmu merasa enak... hah, ngh... ♡"
Fuuka membungkus penisku lebih erat lagi dengan gundukan besar cup G miliknya, menekan kedua payudaranya dari sisi kiri dan kanan seolah ingin menghimpitnya. Sementara itu, Yuzuki menjulurkan lidahnya yang mungil, menjilat ujungnya, lalu memberikan ciuman manis di sana.
"Ohh, sudah... kalau dilakukan sampai seperti itu...!"
"Ti-tidak apa-apa, kapan pun kau mau... silakan ♡"
"Ka-karena ini yang pertama... keluarkan untuk Fuuka ♡"
"A-ah..."
Penisku terbungkus sangat erat oleh payudara Fuuka dan diisap dengan nikmat oleh mulut Yuzuki──
Tepat saat Yuzuki melepaskan kulumannya dan Fuuka menggesek penisku dengan kuat dari pangkal hingga ke ujung, aku pun mencapai klimaks seketika.
"Ah, aah! Aaaah... pa-panas sekali, di payudaraku dan... wa-wajahku ♡"
"Kyaa, se-semburannya kuat sekali... ah, kena wajahku juga... ♡"
Cairan kental yang menyembur deras itu mengotori payudara besar Fuuka──dan karena semburannya yang terlalu kuat, cairan itu bahkan mengenai wajah Yuzuki dan Fuuka.
"Ma-maaf. Aku tidak menyangka akan keluar sebanyak ini..."
"Ti-tidak apa-apa... itu artinya kau merasa sangat puas, kan? ♡"
"Duh, kau jadi terlalu puas gara-gara payudara adikku ya ♡"
Yuzuki dan Fuuka tertawa meski wajah mereka kotor oleh cairan putih tersebut.
Gawat, perpaduan antara paizuri dan isapan dari sepasang saudara kembar ini benar-benar terlalu nikmat... diserang dengan kombinasi mereka berdua sungguh tak tertahankan.
"Tapi, mumpung ini pertama kalinya kita bisa bersenang-senang hanya bertiga setelah sekian lama..."
"Kami ingin kau lebih memanjakan kami lagi..."
Yuzuki dan Fuuka bergantian memberikan ciuman ringan padaku.
"Kau benar. Sayang sekali kalau tempat tidur sebesar ini tidak dimanfaatkan..."
"Kalau begitu, selanjutnya... di sini tidak apa-apa, kan? ♡"
"Meskipun saat ini kami hanya bisa membiarkanmu menggeseknya saja di sini ♡"
"............"
Aku menelan ludah. Yuzuki dan Fuuka berbaring menyamping di tempat tidur, lalu menyingkap rok mini dan rok sebatas lutut mereka. Celana dalam hitam dan paha Yuzuki, serta celana dalam putih dan paha Fuuka kini terpampang nyata di depan mataku.
"Ooh... kalau begitu, biarkan aku... menggeseknya di sini."
"I-iya, silakan ♡"
"Lakukan sesukamu ♡"
Aku mengarahkan penisku yang kembali menegang──ke sela-sela bagian intim mereka berdua yang masih terhalang celana dalam.
"Ooh...!"
Aku menggesekkan penisku, terjepit di antara bagian intim mereka yang terbungkus celana dalam.
"Kyaa, annh ♡ Ra-rasanya aneh saat digesek di situ... yaanh ♡"
"Haa, ah, hebat ♡ Terus-menerus digesek, ah, ah, haanh ♡"
Sepertinya Yuzuki dan Fuuka juga merasa nikmat karena bagian tersebut dirangsang melalui celana dalam mereka. Kalau begitu, aku akan melakukannya lebih lagi──
"Haah, payudaraku juga... annh ♡"
"Pa-payudaraku dan Yuzu-nee, lakukan bersamaan ♡"
Aku membuka bagian depan Sailor fuku Yuzuki dan melepas bra hitamnya. Aku mulai meremas payudara si kembar yang kini telah terbuka. Meremas kasar dada berukuran cup G dari sepasang gadis kembar cantik sambil menjepitkan penis di antara bagian intim mereka meski terhalang celana dalam adalah sebuah pengalaman yang benar-benar luar biasa... rasanya terlalu nikmat!
"Annh, ah, kau menggesek bagian yang ini dengan kuat! ♡"
"I-iya, rasanya enak sekali, Yuzu-nee... Ah, di sini juga...! ♡"
Aku menekan penisku kuat-kuat ke arah bagian intim Yuzuki dan menggeseknya, lalu segera melakukan hal yang sama ke arah Fuuka. Selama proses itu, tentu saja aku terus meremas dan merasakan kelembutan payudara besar mereka berdua dengan tanganku.
"Luar biasa... ah, ah...! Ma-Masaki... ♡"
"Aaah, Yuzuki...!"
Aku membungkuk di atas Yuzuki, menciumnya, dan mengisap lidahnya dalam-dalam.
"A-aku juga... tolong cium aku ♡"
"Aku mengerti, Fuuka...!"
Tentu saja, aku segera beralih mencium Fuuka, memasukkan lidahku ke sela bibirnya, dan mengaduk isi mulutnya.
Setelah puas merasakan bibir si kembar, aku menegakkan tubuh──kembali meremas dada mereka sambil menggesek bagian intim keduanya secara bersamaan.
Celana dalam hitam dan putih mereka berdua tampak sudah sangat basah. Sepertinya Yuzuki dan Fuuka benar-benar terangsang karena dicium, diremas payudaranya, dan digesek kuat-kuat oleh penisku dari balik celana dalam. Aku merasa lega karena bukan hanya aku yang menikmatinya──lalu aku kembali menikmati tubuh si kembar lebih jauh lagi.
"Ah, tidak mungkin, baru begini saja sudah terasa hebat sekali, aku sudah tidak tahan lagi! ♡"
"A-aku juga... tubuhku rasanya seperti mati rasa, ini terlalu luar biasa! ♡"
Yuzuki dan Fuuka mengeluarkan suara yang melengking tinggi seperti jeritan namun terdengar manis. Mereka melengkungkan tubuh, sementara rambut cokelat dan hitam mereka terurai berantakan. Payudara cup G mereka membal dengan kencang, dan kulit putih mereka tampak merona kemerahan, terlihat sangat menggoda.
"Yuzuki, Fuuka, ini yang kedua kalinya... aku akan keluar!"
"I-iya, kali ini... berikan kepada aku dan Yuzu-nee, kami berdua bersamaan...!"
"Da-datanglah, keluarkan... untukku dan Fuuka bersama-sama!"
Yuzuki dan Fuuka menekan bagian intim mereka yang terhalang celana dalam dengan kuat ke arahku, sambil menggerakkan pinggul mereka sendiri untuk menggeseknya. Aku sudah tidak mungkin bisa menahannya lagi──
"Kh... Yuzuki, Fuuka...!"
Setelah satu gesekan kuat terakhir di sana, aku pun melepaskan semuanya sekaligus──
Cairan kental dalam jumlah banyak membanjiri celana dalam hitam milik Yuzuki dan celana dalam putih milik Fuuka.
"Ha, haah... ini benar-benar nikmat, Yuzuki, Fuuka..."
"A-aku juga... rasanya nikmat sekali... payudaraku, bagian bawahku... semuanya terasa terlalu enak sampai aku tidak tahu lagi apa yang terjadi ♡"
"Aku baru pertama kali merasakan hal yang sehebat ini... payudaraku, di dalam celana dalamku... semuanya terasa begitu nikmat sampai pikiranku menjadi kosong..."
Saat aku menjatuhkan diri di antara Yuzuki dan Fuuka, mereka berdua segera memelukku.
"Hari ini, mungkin aku sudah merasa terlalu bahagia... cup ♡"
"Hari ini adalah kencan yang terbaik... cup ♡"
Yuzuki dan Fuuka menciumi pipiku dari kiri dan kanan saat aku berbaring di antara mereka. Setelah mendapatkan paizuri, isapan mulut, dan gesekan sehebat tadi, ciuman lembut seperti ini terasa sangat menyenangkan. Aku memegang bahu ramping Yuzuki dan Fuuka, lalu menarik mereka mendekat. Tubuh lembut si kembar pun bersandar di atas tubuhku dari kedua sisi.
Bisa memiliki sepasang gadis kembar cantik yang mengenakan Sailor fuku putih seperti ini, rasanya masih seperti mimpi...
"Hei, selanjutnya... kita apa lagi? Pakailah tubuhku dan adikku sesukamu, di mana pun boleh ♡"
"Silakan gunakan sesuka hati... aku ingin kau memakai tubuhku dan kakakku semaumu ♡"
"Aaah..."
Sambil merangkul bahu si kembar, aku memikirkan cara apalagi untuk memanjakan mereka selanjutnya. Setelah seharian berkencan secara sehat di Fan-Pa, dan di malam hari bisa menikmati tubuh si kembar sepuasnya di atas tempat tidur seperti ini.
Tentu saja, aku masih belum bisa memutuskan dengan siapa aku akan melakukannya sampai akhir, namun── bagi kami yang masih memiliki segunung masalah, waktu untuk bersenang-senang bertiga tanpa memikirkan apa pun seperti ini adalah hal yang sangat diperlukan.
"Mngh— ♡"
"Chup ♡"
Kali ini, Yuzuki dan Fuuka kembali mencium bibirku secara bergantian.
Aku merasa senang karena si kembar yang manis ini bersikap manja padaku. Benar juga, aku harus lebih memanjakan mereka berdua yang sedang bermanja-manja ini, dan membuat mereka merasa lebih senang lagi──




Post a Comment