Penerjemah: Miru-chan
Proffreader: Miru-chan
Chapter 3
Si Kembar dan Sang Sahabat Tampaknya Belum Bisa Menyelesaikan Masalah
Takaya Riina sedang menari dengan lincah. Ia menjejakkan kaki dengan tajam ke lantai, melompat dengan ketinggian yang luar biasa, serta mengayunkan lengan dan kaki jenjangnya mengikuti ritme. Sebuah senyuman tersungging di wajahnya, dan—
"Ooh..."
Tanpa sadar, aku menggumamkan kekaguman. Tatapan mata Takaya, guncangan dadanya, hingga ayunan pinggulnya, semuanya memancarkan daya tarik seksual yang seolah meruap harum. Terkadang bahkan terasa aura kemolekan yang memikat, membuatnya tampak seperti orang yang benar-benar berbeda dari Takaya yang biasa kulihat di kelas.
"Ooooh! Rii, kamu keren sekali!"
Saat musik berhenti dan Takaya melakukan pose terakhir sebagai penutup tariannya, Yuzuki yang sedari tadi menonton di sampingku bersorak riuh sambil berdiri dan bertepuk tangan.
"Luar biasa ya, tarian Rii-san... aku sampai terharu."
Fuuka yang berada di samping Yuzuki pun ikut berdiri dan bertepuk tangan dengan meriah.
Tempat ini adalah sebuah studio tari yang letaknya tidak begitu jauh dari apartemen mewah kami. Sebuah studio sederhana yang hanya berisi cermin besar di dindingnya, namun luasnya cukup memadai sehingga Takaya bisa menari sepuas hati.
Beberapa hari telah berlalu sejak hari di mana Takaya melakukan "hal itu" bersamaku karena saking inginnya mengasah daya tarik seksual—Takaya terus berlatih dengan penuh konsentrasi, dan hari ini di studio ini, ia menunjukkan hasilnya kepada kami.
Omong-omong, studio ini sepertinya dipesan dan disiapkan oleh keluarga Tsubasa—lebih tepatnya, melalui bantuan para pelayan kembar.
"Hah, hah, hah... haah, rasanya lega sekali! Menari sendirian di studio yang luas memang yang terbaik! Yuzu, Fuuka, terima kasih ya!"
Syukurlah Takaya tampak menikmati tariannya. Selain itu, bahkan di mata orang awam sekalipun, tarian Takaya sudah meningkat pesat dibandingkan beberapa hari yang lalu. Hal itu pasti bukan hanya karena dia telah melakukan "hal itu" bersamaku dan mendapatkan daya tarik seksual semata.
Selama beberapa hari menumpang di kediaman Tsubasa, dia benar-benar berlatih tari setiap kali ada waktu luang. Tidak hanya menari di koridor, di dalam ruangan pun dia tiba-tiba mengayunkan lengan atau mencoba langkah-langkah kaki secara spontan. Aku bahkan berpikir mungkin di dalam mimpinya pun dia sedang menari.
"Ah, Masaki-kun, bagaimana menurutmu?"
"Aku pikir sangat bagus. Secara keseluruhan gerakannya jadi lebih dinamis, dan entah bagaimana... jujur saja, aku sampai berpikir itu terlihat erotis. Maaf ya, kalau opiniku seperti ini."
"Tidak apa-apa, justru aku akan bingung kalau kamu tidak merasa begitu. Aku sudah berusaha keras melatih cara menari yang menebarkan daya tarik seksual, tahu."
Takaya tampak benar-benar senang. Jika dipikir secara jernih, merasa senang saat dibilang "erotis" oleh teman sekelas yang bukan pacar sendiri memang agak aneh... Namun bagi Takaya, hal itu sangat penting untuk tariannya dan merupakan saran dari pelatihnya, jadi wajar saja jika dia senang daya tarik seksualnya telah terasah.
"Hah... audisinya tinggal tiga hari lagi. Sudah tidak ada waktu lagi."
Takaya duduk bersimpuh di lantai studio. Sebenarnya, hari ini dia sudah menari tanpa henti selama satu jam. Meskipun pendingin ruangan menyala, aku kagum dia bisa terus bergerak aktif di musim panas yang terik seperti ini.
『Onee-chan, semangat! Terima kasih atas kerja kerasnya!』
"Ah, Naraka, terima kasih juga ya. Bagaimana? Bisa terlihat dengan jelas?"
『Iya, terlihat sangat jelas. Aku juga berpikir itu bagus. Onee-chan terlihat keren.』
"Ahaha, ini agak membuatku malu."
Di tengah studio, terdapat sebuah ponsel yang dipasang pada tripod. Melalui ponsel ini, video tarian tersebut dikirimkan kepada Naraka yang berada di salah satu kamar pelayan. Meskipun Naraka bisa saja keluar rumah meski dia seorang penyendiri, sepertinya hari ini ada sesuatu yang harus dia kerjakan. Jadi, dia menonton tarian kakaknya secara jarak jauh. Sementara itu, Asa dan Yuu juga tidak ikut ke sini karena harus mengerjakan tugas rumah tangga seperti bersih-bersih dan mencuci pakaian.
Untuk saat ini, sambungan dengan Naraka diputus terlebih dahulu, lalu aku memeriksa ponsel yang terpasang tadi. Tentu saja selain dikirimkan ke Naraka, videonya juga tersimpan dalam memori.
"Iya, terekam dengan baik. Takaya, mau periksa sekarang?"
"Iya, coba perlihatkan."
Takaya bangkit berdiri dan segera mendekat ke sampingku. Dia mendekat hingga bahu kami bersentuhan, membuatku bisa merasakan kelembutan tubuhnya—
"Ah, maaf. Aku bau keringat, ya? Aku menjauh deh."
"Tidak, tidak apa-apa sama sekali. Aku ini anak pemilik kedai masakan Tiongkok yang biasa memasak sambil mandi keringat di dapur yang panas membara, tahu. Ah, tapi kedai kami sangat berhati-hati agar keringat tidak masuk ke masakan, ya?"
Kedai kami memang tidak bisa dibilang baru, tapi Ayah sangat memperhatikan kebersihan melebihi siapa pun. Di zaman sekarang, kedai masakan Tiongkok yang kotor tidak akan laku.
"Apa-apaan itu, aneh sekali. Tapi bau keringat itu kan nyata. Coba lihat videonya..."
Takaya mengambil ponsel itu dan mulai menontonnya dengan antusias. Melakukan evaluasi tarian seperti ini memang penting. Apalagi ini sudah mendekati waktu terakhir, dia harus memeriksa dan melakukan penyesuaian dengan saksama.
"Anu, Yuzu-nee..."
"Ah, iya. Aku tahu. Tapi..."
"Hmm? Fuuka, Yuzuki, ada apa?"
Di belakangku, si kembar sedang berbisik-bisik. Sangat jarang bagi mereka yang biasanya berkepribadian terbuka bersikap mencurigakan seperti itu.
"Jangan dipikirkan, Masaki. Cuma ada... sesuatu yang mengganjal saja."
"Iya, mungkin itu cuma perasaan kami saja..."
"............?"
Aku sama sekali tidak paham apa yang ingin mereka katakan. Apakah ada masalah dengan tarian Takaya? Bagiku tarian itu terasa sangat mahir, tapi apakah si kembar menyadari hal lain?
"Kami memang tidak punya pengalaman menari, tapi kami pernah dipaksa belajar tari tradisional Jepang."
"Dan dalam hal itu pun, kemampuan kami berada di tingkat yang benar-benar sama."
Yuzuki dan Fuuka adalah Destiny Twins (Kembar Takdir), emosi dan tindakan mereka selalu sinkron. Kemampuan belajar maupun olahraga mereka benar-benar seimbang, dan kemungkinan besar jika mereka belajar menari pun akan mencapai tingkat yang sama. Meskipun tari tradisional Jepang dan tarian Takaya adalah hal yang berbeda jauh... tetap saja, keduanya memiliki kesamaan sebagai sebuah tarian. Tidak aneh jika mereka menyadari sesuatu...
"...Ini, bagaimana sebaiknya ya?"
"Eh?"
Takaya duduk bersimpuh di lantai studio, matanya menatap tajam ke layar ponsel. Dia tampak bergumam pada diri sendiri, dan sepertinya dia tidak sepenuhnya puas dengan hasil tariannya. Yuzuki dan Fuuka menyadari sesuatu, dan Takaya pun sepertinya memiliki pemikiran sendiri setelah melihat tariannya secara objektif. Meskipun audisi sudah dekat, sepertinya akan ada keributan lain yang terjadi...
"Masaki-kun, ajari aku hal-hal yang lebih mesum lagi!"
"Lagi-lagi tiba-tiba sekali!?"
Setelah menyelesaikan latihan di studio tari, kami berempat kembali ke kediaman Tsubasa—
Begitu memasuki ruang tamu, tiba-tiba Takaya mendekatiku seolah hendak menyergap.
"Ka-kan tempo hari kita sudah melakukannya... sebanyak itu."
Gara-gara interupsi Naraka yang tak terduga, akhirnya aku melakukan hal itu bersama tiga orang sekaligus dengan si kembar tidak identik itu. Rasanya, tidak ada hal yang lebih mesum dari itu di dunia ini, kan?
"Tidak boleh, daya tarik seksualku masih kurang. Masih cuma sebatas samar-samar saja. Begitu sih sama saja dengan tidak ada. Tidak, daripada tidak punya sama sekali, punya daya tarik yang tanggung itu malah lebih buruk!"
"Hei, tenanglah dulu, Takaya."
Takaya masih mengenakan pakaian latihannya, kaus putih dan celana ketat legging hitam. Karena kerah kausnya longgar, saat dia dalam posisi mencengkeram kerah bajuku seperti ini, belahan dadanya jadi terlihat. Meskipun ukurannya C-cup, sepertinya itu sudah cukup untuk membentuk belahan.
"Tarianmu yang tadi menurutku sudah seksi kok. Lagipula, kalau kamu mengejar daya tarik seksual lebih dari itu, bukankah nanti malah jadi tarian yang berbeda?"
Maksudku, tarian seperti yang ada di tempat hiburan malam...
"Bagi aku, aku harus mengeluarkan ke-erotisan sampai-sampai tariannya terasa berbeda, kalau tidak mana bisa!"
"Ka-kalau kamu senekat itu, bukannya malah bahaya?"
Aku melirik ke arah Yuzuki dan Fuuka yang ada di samping, bermaksud meminta bantuan. Namun, mereka berdua sepertinya tidak berniat ikut campur dan sepenuhnya mengambil sikap sebagai penonton.
"Audisi kali ini juga diikuti oleh orang dewasa. Malah, sebagian besar pesertanya adalah orang dewasa, dan aku rasa aku yang paling muda."
"Oh, begitu ya."
Berarti dalam audisi yang diikuti oleh orang-orang yang benar-benar mengincar karier profesional ini, sedikit sekali siswi SMA yang masa depannya belum pasti.
"Penari lain itu orang dewasa jadi pengalamannya banyak, semuanya cantik dan punya bentuk tubuh yang bagus. Me-mereka mungkin juga sudah paham soal laki-laki, jadi isinya penari-penari seksi semua."
"Bagaimana kalau Takaya bertaruh dengan kemudaan saja..."
"Jangan asal bicara."
"Baik."
Aku langsung ciut begitu dia menatapku dengan tajam. Apakah Takaya malah lebih menyeramkan daripada aku yang dikenal punya wajah garang?
"Dari awal aku sudah merasa aneh."
"Hmm? Maksudnya?"
"Su-sudah lewat beberapa hari sejak aku dan Naraka melakukan... ha-hal seperti itu dengan Masaki-kun, kan?"
"...Lalu kenapa memangnya?"
Rasanya malu kalau masalah itu dibahas-bahas lagi. Aku sampai merasa seolah-olah telah memanfaatkan Takaya yang sedang putus asa demi memuaskan nafsuku sendiri.
"Padahal waktu itu cuma sekali saja! Kalau aku ini gadis yang erotis, Masaki-kun pasti sudah berkali-kali nafsu padaku setelah itu, kan!?"
"Jangan bicara yang tidak-tidak! Dengar ya, begini-begini aku ini punya pacar, tahu!"
Aku kembali melirik Yuzuki dan Fuuka yang masih menonton. Aku sudah diberi kemewahan untuk memacari dua gadis cantik sekaligus, bahkan diizinkan melakukan hal mesum dengan pelayan kembar mereka dengan alasan tertentu. Di atas semua itu, tidak mungkin aku terus-menerus melakukan hal erotis kepada sahabat dari pacarku sendiri.
"Biar tidak masuk akal pun, kalau tidak dilakukan aku tidak akan lulus!"
"Ka-kalau begitu, bagaimana kalau dengan laki-laki lain... eh, tidak mungkin ya."
"Menurutmu mungkin?"
"...Tidak."
Entah kenapa, mengusulkan hal itu rasanya tidak sopan kepada Takaya. Benar juga, Takaya bukan tipe gadis yang mau melakukan hal semacam itu dengan sembarang orang. Aku adalah pacar sahabatnya, dan karena aku sudah mendapat izin dari sahabatnya itulah dia bisa melakukan hal seperti tempo hari. Tidak mungkin dia bisa langsung mencari laki-laki lain begitu saja.
"Ka-kalau mau dilakukan pun... kalau hanya mengulang hal yang sama seperti kemarin, mungkin akan sia-sia."
"Aku tahu."
Takaya mengangguk mantap. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana cara menambah daya tarik seksual seorang gadis, tapi apakah Takaya punya suatu ide—?
"Tidak cukup kalau cuma melakukan hal mesum. Harus lebih... itu... bagaimana kalau Masaki-kun melihatku menari dengan gaya yang sepenuhnya erotis!"
"Hei, audisi itu cuma butuh daya tarik seksual, bukan berarti kamu harus menampilkan tarian erotis, kan? Sadarlah, Takaya!"
"Riina."
"Eh?"
"Panggil aku Riina. Aku rasa sebaiknya kita hilangkan kesan 'teman sekelas' yang ada di antara aku dan Masaki-kun."
"Mau dihilangkan bagaimana pun, kenyataannya kita memang teman sekelas, kan?"
Meskipun sekarang aku sudah bisa menyebutnya teman, tapi fakta bahwa kami teman sekelas itu tidak bisa dibantah.
"Masaki, kenapa tidak panggil nama saja? Aku dan Fuuka tidak akan marah karena hal sepele begitu kok."
"Iya, meskipun tinggal bersama, kalau masih memanggil dengan nama keluarga rasanya ada jarak ya."
"...Kalian berdua juga memanggilku dengan nama keluarga, kan."
Aku melirik tajam ke arah Tsubasa bersaudara yang akhirnya mulai ikut bicara.
"Hmm, kalau Masaki ya rasanya memang 'Masaki'."
"Dasar tidak punya logika sama sekali."
Hanya saja, aku sendiri sudah terlalu terbiasa dipanggil Masaki, sampai-sampai kalau dipanggil Nakaba oleh orang selain Naraka, aku mungkin akan lupa menyahut.
"Pertama, panggil aku Riina. Lalu—aku yakin, dengan tarian yang setengah-setengah seperti sekarang, aku pasti gagal audisi. Ditambah lagi, waktunya sudah mepet."
Takaya bergumam sendiri seolah sedang berbicara pada dirinya sendiri.
"Meskipun kamu bilang begitu, aku juga sudah tidak bisa lebih dari itu..."
"Kalau begitu, bagaimana kalau aku membantu?"
"Eh?"
Aku terperangah mendengar ucapan Yuzuki yang tiba-tiba.
"Masaki merasa bersalah karena menganggap ini seperti selingkuh dari kami, kan?"
"Ini memang selingkuh."
"Kau sudah bisa menerima soal Asa dan yang lainnya, kan? Itu hanya soal pola pikir. Karena kau menganggap Asa dan Yuu sebagai 'bonus' dariku dan Fuuka, makanya kau bisa melakukan berbagai hal pada mereka. Mungkin, kau belum bisa menganggap Takaya sebagai bonus dariku?"
"Biarpun tampangku begini, aku masih punya hati nurani. Menganggap Fuuka dan dua pelayan itu sebagai bonus saja sudah cukup berat, menambah daftar bonus lagi cuma akan membuat hatiku sakit."
Aku tidak sedang bercanda, ini adalah analisis yang dingin. Seperti yang Yuzuki katakan, aku memang belum bisa menganggap Takaya sebagai sekadar "bonus".
"Tidak apa-apa kalau kau menganggapku sebagai bonus. Tidak, aku justru ingin dianggap sebagai bonus."
"Takaya, kau terlalu nekat."
Seberapa serius pun dia soal menari, bukankah seharusnya dia sedikit lebih menghargai dirinya sendiri? Namun, mengatakan hal itu pada Takaya yang sekarang mungkin akan sia-sia saja.
"Tentu saja aku harus nekat!"
Mata Takaya berkilat tajam.
"Maaf, Yuzu! Tolong pinjamkan kekuatanmu padaku! Dan sekalian, pinjamkan Masaki-kun juga!"
"Aku dirental sebagai barang sekalian!?"
Dari tadi Takaya benar-benar sudah terlalu putus asa!
"Omong-omong, aku pastikan sekali lagi, Rii, kau serius tidak apa-apa? Kau kan punya harga diri tinggi, masa mau jadi bonus dariku?"
"Gagal audisi itu jauh lebih menghancurkan harga diriku! Kalau dibanding itu, jadi bonus Yuzu malah sesuatu yang kunantikan!"
"Kalau begitu, sudah diputuskan ya. Masaki, siap?"
"Ma-mau apa?"
Kalau dia sampai mempertunjukkan tarian yang sepenuhnya erotis, aku akan bingung. Lagipula, melihat hal seperti itu padaku tidak akan tiba-tiba membuatnya punya daya tarik seksual.
"Aku juga pernah menari iseng-iseng bersama Rii. Biarkan Yuzuki Tsubasa yang memimpin kali ini."
"Eh? Yuzu mau memimpin? Kamu kan tidak bisa menari?"
"Asal-asalan saja tidak apa-apa. Ini kan bukan audisi. Lagipula, tarian yang serius kan baru saja dia lakukan tadi. Sudahlah, serahkan padaku. Baik Rii maupun Masaki."
“"Eh?"”
Aku dan Takaya berseru serempak dengan nada yang sama.
"Pertama, Masaki. Panggil dia Riina. Dan—Takaya, biar aku yang menanggalkan pakaianmu."
"Tu-tunggu sebentar, Yuzu?"
Aku baru sadar kalau Fuuka sudah tidak ada di sini. Sepertinya dia menyerahkan urusan ini pada kakaknya dan keluar ruangan.
"Ak-aku bisa buka sendiri tanpa perlu dibuka...!"
"Masaki, bukankah melihat sesama gadis saling menanggalkan pakaian itu sedikit erotis dan bikin bersemangat?"
"Ya-yah..."
Kalau dipikir-pikir, selama ini aku yang menanggalkan pakaian Yuzuki atau para pelayan, tapi aku belum pernah melihat si kembar saling menanggalkan pakaian.
"Karena itulah, Rii. Silakan saja kalau mau melawan ♡"
"Yuzu, matamu seram!"
"Hehehe, tubuhmu bagus juga ya, nona muda ♡"
"Nona mudanya itu kamu!"
Yuzuki dan Takaya.....Riina—dua sahabat dekat itu saling bergumul di depanku. Tidak, lebih tepatnya Yuzuki yang menyerang Riina secara sepihak.
"Kyaa! Tunggu, Yuzu...!"
"Tapi karena pakaianmu tipis, menanggalkan baju di musim panas jadi kurang menantang ya. Kita simpan keseruan ini untuk musim dingin nanti."
Yuzuki terus melucuti pakaian Riina sambil melontarkan kalimat-kalimat tadi. Dengan gerakan yang berlebihan, dia berputar ke depan dan belakang Takaya sambil memaksa pakaiannya lepas. Gerakannya memang terlihat seperti sedang menari.
Lincah sekali kau, Yuzuki.
Karena Riina baru selesai latihan, dia hanya memakai kaus putih dan legging hitam yang sangat kasual. Begitu kausnya dilepas, dia hanya menyisakan satu lapis legging hitam yang ketat. Sementara itu, Yuzuki sudah melepas luaran yang ia pakai tadi, kini ia hanya mengenakan kamisol hitam dan rok mini denim—gaya khas seorang gyaru.
"Ah, jadi bra dan celana dalammu model begini ya? Kadang kamu pakai ini ke sekolah juga kan, Rii?"
"Jangan membongkar rahasiaku di depan Masaki-kun!"
Legging hitam Riina pun dilepas—pakaian dalamnya ternyata berupa bra olahraga abu-abu dan celana dalam berwarna senada. Benar-benar pakaian dalam untuk olahraga—yah, wajar saja karena dia baru selesai latihan.
"Model begini memang polos dan kurang erotis, tapi kalau dipakai oleh gyaru sepertimu, malah jadi terasa makin seksi."
"Te-terbalik?"
Yuzuki sepertinya sangat tertarik dengan pakaian dalam sahabatnya, dia menatapnya seolah ingin menjilat.
"Ngomong-ngomong, setelan tank top dan celana ketat pendek yang kulihat pertama kali di ruang ganti juga lumayan..."
"Aku sudah memaafkan soal itu, jangan diungkit lagi!"
"Ma-maaf."
Dulu, saat aku menyusup ke ruang ganti putri bersama Yuzuki, aku memang sempat mengintip Riina saat berganti baju. Itu benar-benar sebuah kesalahan...
"Ah, tidak adil kalau cuma aku yang begini. Ayo, Rii. Tanggalkan pakaianku."
"Ka-kamu serius? Aduh, padahal aku yang memulai ini, tapi apa sih yang kulakukan..."
Riina menarik kamisol Yuzuki hingga lepas, lalu menanggalkan rok mini denimnya juga. Dua gadis gyaru cantik kini saling bergumul, seolah sedang menari, menanggalkan dan ditanggalkan pakaiannya. Ini pemandangan yang aneh, tapi pada titik ini pun sudah terasa sangat erotis...
Yuzuki mengenakan bra dan celana dalam berwarna hitam, pakaian dalam yang sangat khas gyaru. Di hadapanku sekarang berdiri dua gadis gyaru sekelasku yang hanya mengenakan pakaian dalam—pemandangan macam apa ini?
"Freya, putar musik yang romantis."
『Dimengerti, memutar musik romantis secara acak.』
Speaker pintar itu merespons suara Yuzuki, dan musik pun segera mengalun.
Meskipun instruksinya sangat umum, AI zaman sekarang tidak bisa diremehkan; dia benar-benar memilih musik yang pas seolah sebuah adegan percintaan akan segera dimulai.
"Nah, dansanya sampai di sini saja. Sekarang kita mulai bagian utamanya. Ayo, Rii."
"Ka-kamu serius mau melakukannya... Ah, persetan, akan kulakukan! Aku tidak kabur dari rumah hanya untuk main-main! Demi menari, aku rela melakukan apa saja!"
Riina berteriak dengan nada nekat, lalu dalam kondisi hanya mengenakan pakaian dalam, dia memelukku erat. Tubuhnya yang menerjang membuatku jatuh terduduk di sofa.
"Ba-bagaimana? Apa kamu merasa bergairah?"
"Kalau disuruh tidak merasa bergairah dalam kondisi begini, itu namanya mustahil."
Gadis gyaru cantik yang hanya memakai pakaian dalam sedang duduk di pangkuanku, melingkarkan tangannya di leherku, dan memelukku. Terlebih lagi, dadanya yang berukuran C-cup menekan lenganku dengan kuat—
"Aah, selingkuh ya, selingkuh. Masaki, berani sekali kamu bermesraan dengan wanita lain di depan pacarmu sendiri."
"Yuzuki, kan kamu yang menyuruhnya!"
Yuzuki yang sedang memprovokasiku juga hanya mengenakan pakaian dalam hitam, memperlihatkan payudaranya yang berukuran G-cup dan paha putihnya yang mulus.
"Mmh, cup ♡"
Yuzuki duduk di sampingku dan memberiku kecupan singkat.
Benar-benar gila, apa yang sebenarnya terjadi dengan situasi ini... Dua gadis gyaru tercantik di kelasku sedang bergumul denganku di ruangan yang mengalunkan musik romantis.
"Fufun, Masaki... kamu sangat bergairah, kan? Merasa terangsang karena perselingkuhanmu dilihat oleh pacar sendiri, nakal sekali ya."
"Ugh...!"
Yuzuki menyentuh kemaluanku dari balik celana, mengusap-usap miliku yang sudah menegang sejak tadi.
"Ja-jadi benar ya... Kyaa! Bukannya ini lebih besar dari yang sebelumnya...?"
Bahkan Riina pun ikut menyentuh kemaluanku dengan ragu-ragu bersama Yuzuki.
"Kh... bolehkah aku menyerang balik juga?"
"Te-tentu saja. Boleh kan, Riina?"
"Ka-kalau aku tidak diapa-apakan... itu artinya aku memang tidak punya daya tarik, kan?"
"............"
Kehadiran Yuzuki di sini membuatku merasa seperti mendapat izin untuk menyentuh Riina, namun di saat yang sama rasa bersalahku juga berlipat ganda. Aku pun tidak mengerti diriku sendiri, tapi kalau sudah begini...!
"Kyaa! Hauu... ♡"
Aku menarik bra olahraga abu-abu milik Riina ke arah atas. Sepasang payudara C-cup yang mungil dan cantik langsung muncul di depan mataku. Tanpa membuang waktu, aku langsung melahap payudaranya yang masih berguncang itu.
"Annh...! Ka-kamu langsung menghisapnya begitu saja!?"
Aku mencicipi seluruh bagian payudaranya seolah sedang menikmatinya, lalu menggigit kecil putingnya dan menariknya perlahan.
"Wah, erotis sekali... Rii, kamu sedang diperlakukan luar biasa lho...? Putingmu sudah meruncing dan berdenyut-denyut begitu...!"
"A-aku sudah tahu, tidak usah dijelaskan pun... Aaannh ♡"
Kali ini aku menjilati puting Riina sebelum menghisapnya kuat-kuat. Rasanya berbeda dengan milik Yuzuki maupun para pelayan, tapi aku tetap bisa merasakan sensasi manis di sana.
"Ah, sekarang giliranku... Annh, ternyata kamu tidak melupakan pacarmu sendiri ya ♡"
"Tentu saja tidak..."
Sambil menghisap kuat puting Riina, satu tanganku meremas dada Yuzuki dengan mantap. Aku meremas payudaranya dari balik bra, menikmati sensasi berat dan padat dari sana.
"Ooh... Menghisap puting Riina sambil menikmati dada Yuzuki. Ini benar-benar luar biasa..."
"Aah, nnh... ♡ Putingku dihisap dalam-dalam...! Nnh ♡"
"Se-serangan ganda ini hebat, kan...! Masaki, kamu terlalu keras meremas dadaku ♡"
Meskipun dibilang begitu, aku sudah tidak bisa berhenti sekarang.
"Riina, tidak cukup kalau kamu hanya diserang olehku saja, kan?"
"A-aku tahu... ta-tapi... apakah begini saja sudah cukup ♡"
"Uooh...!"
Riina memeluk leherku dengan erat, lalu menggesek-gesekkan selangkangannya yang berada di atas pahaku dengan gerakan yang kuat. Aku bisa merasakan kehangatan dari sana meskipun terhalang kain celana dalam abu-abunya.
"He-hei, apa yang kamu lakukan pada kakiku... ooh."
Rasanya bagian di balik celana dalam itu sudah sangat basah—Sambil payudaranya dihisap, Riina terus menggesekkan bagian sensitifnya ke pahaku—dia sepertinya sudah sangat merasa terangsang.
"Fuu..."
Aku melepaskan mulutku dari puting Riina, lalu mulai menjepit putingnya dengan jari dan memutarnya perlahan. Seperti yang Yuzuki katakan tadi, putingnya sudah keras dan meruncing.
"Hei, Masaki... kalau mulutmu sudah kosong... ke sini ♡"
"A-ah, iya..."
Aku langsung melahap bibir Yuzuki, menghisap lidahnya dalam-dalam. Selama itu pula, tanganku terus meremas dada Yuzuki dan memainkan puting Riina.
"Ah, haah ♡ ...Ci-ciuman Yuzu dan Masaki-kun terlalu erotis ♡"
"Ri-Riina... gerakan pinggulmu bukannya terlalu hebat...?"
Riina terus memutar dan meliukkan pinggulnya, menekan selangkangannya ke pahaku tanpa henti. Bagian itu sudah basah kuyup, hingga cairannya terasa mengalir di pahaku.
"Ma-mana mungkin aku bisa tahan... Annh, sudah tidak kuat lagi ♡"
"Rii, kamu menikmatinya sekali ya... Masaki, kamu sudah terlalu jauh mengembangkan sisi mesum Riina ♡"
"Bu-bukan aku yang mengembangkannya... Yuzuki, lihat."
"Mnh, iya... ♡"
Saat aku mendekatkan wajahku lagi, Yuzuki menjulurkan lidahnya dan menciumku. Sambil bertukar ciuman dalam yang saling membelitkan lidah—Aku menyerang payudara Yuzuki dan Riina secara bersamaan, sambil menikmati sensasi yang merambat di pahaku.
"Kh, sekarang... bolehkah?"
"Ah... Masaki-kun, putingku lagi ♡ Ah, hebat... dihisap-hisap kuat begitu, auunh ♡"
"Ri-Rii, ayo kita saling menempelkan puting... m-memang memalukan, tapi Masaki harus merasakannya lebih banyak lagi... Kyan! Milikku juga dihisap-hisap ♡"
Tepat di depan wajahku, ujung payudara G-cup milik Yuzuki dan ujung payudara C-cup milik Riina—kedua puting mereka—saling menempel dan ditekan satu sama lain. Aku meraup kedua puting itu sekaligus ke dalam mulutku dan menghisapnya kuat-kuat.
Aku benar-benar tidak menyangka bisa menikmati puting dari dua primadona kelas sekaligus—Yuzuki Tsubasa dan Takaya Riina, yang sebelum kedatangan Fuuka pastinya merupakan dua gadis tercantik di sekolah—apalagi mereka berdua adalah para gyaru.
"Aaaah, ka-kalau begini, gerakan pinggulku malah jadi semakin liar ♡ Maaf ya, Yuzu, aku melakukan hal seperti ini dengan pacarmu ♡"
"Ti-tidak apa-apa, melakukannya bersama Rii juga terasa sangat menyenangkan ♡ Akhh, puting kita dihisap bersamaan, aku merasa terlalu bergairah ♡"
Yuzuki dan Riina sama-sama melengkungkan punggung mereka, sangat menikmati sensasi saat aku menghisap puting mereka secara bersamaan.
"Su-sudah tidak kuat lagi kalau begini... ♡ Ma-Masaki-kun, sekarang biarkan aku melakukannya dengan... mulutku, boleh?"
"Ka-kalau begitu, aku mau berciuman lebih lama lagi dengan Masaki ♡"
"Iya, Yuzuki, Riina, tolong ya..."
Aku mendekap punggung Yuzuki dan melumat bibirnya. Sementara itu, Riina turun dari sofa dan berlutut di lantai—dia mengeluarkan kemaluanku lalu langsung melahapnya.
"Mmh, nnh... Menikmatinya sendirian mungkin ide bagus juga... ♡ Nnh, rasanya beda jauh dengan menjepitnya pakai dada... nnh, nnnh ♡"
"Aduh, Masaki ini... Padahal sudah puas bersenang-senang denganku dan Fuuka, bahkan sudah menikmati dada dan bokong Asa serta Yuu, sekarang malah berciuman denganku sambil disuapi oleh sahabatku sendiri... ♡"
"Ini benar-benar terlalu mewah... nnh."
Yuzuki berciuman denganku sambil tersenyum nakal, sementara di bawah sana Riina dengan gigih menghisap kemaluanku seolah sedang melahapnya. Teknik hisapan Riina punya ritme yang bagus, terdengar suara kecapan basah saat dia menghisap dengan cepat dan kuat.
Berciuman dengan Yuzuki yang hanya mengenakan pakaian dalam saja sudah membuatku sangat bergairah, apalagi ditambah Riina yang berlutut di bawahku dan menghisapnya dengan penuh konsentrasi.
"Kh, Riina, apa boleh... aku memberikannya di wajahmu lagi...?"
"I-iya... se-semuanya di wajahku... ka-kasih semuanya, yang banyak! ♡"
Tanpa ampun, aku kembali menyemburkan cairan kental yang panas ke wajah Riina. Wajah cantik Riina perlahan dipenuhi dan dikotori oleh cairan kental tersebut.
"Ha-haah... panas lagi... nnh, sisa yang masih keluar pun... akan kuhisap ya..."
"Ooh..."
Sluuurp, Riina menghisap habis bagian terakhir yang tersisa dan menelannya.
"Ra-rasanya hebat sekali... Tapi, apa ini benar-benar membuatmu punya daya tarik seksual...? Jujur saja, Riina yang sekarang... terlalu erotis sampai aku rasanya tidak ingin melepaskanmu."
"Be-benarkah?"
Riina melepaskan kemaluanku dari mulutnya dengan suara kecapan pelan, wajahnya tampak terkejut. Wajahnya yang masih kotor oleh cairan itu terlihat sangat erotis lagi—
"Hei, Masaki. Mau aku beri tahu satu hal yang bagus?"
"Apa itu, Yuzuki?"
Yuzuki yang masih mendekapku terus memberiku kecupan singkat dan menjilati pipiku. Setelah puas berciuman, dia duduk di sampingku sambil bersandar mesra.
"Rii itu aslinya keras kepala, tahu."
"Ke-keras kepala?"
"Awalnya, waktu kita baru kenal di sekolah kelas satu dulu, dia kan sering menantangku."
"Ja-jangan bahas soal itu dong! Itu kan, anu..."
Riina menjawab dengan malu-malu sambil menjilat kemaluanku yang masih menegang hebat. Sepertinya dia masih ingin terus menghisapnya.
"Ha-habisnya, aku pikir Yuzu itu tipe yang sama denganku... tapi kamu imut, dan dadamu lebih besar dariku... wajar saja kan kalau aku merasa tersaingi... mmh, nnh ♡"
"Kh... jadi begitulah kalian bisa jadi sahabat."
"Setelah aku berhenti mencoba menang darinya, semuanya jadi lebih mudah... meski kalau soal menari aku tidak akan mau kalah."
"Aku bahkan tidak pernah terpikir untuk bersaing soal itu. Mana mungkin aku bisa menang melawan Rii," Yuzuki terkekeh sambil menciumku lagi.
"Tapi lihat sendiri kan, Riina itu tipe yang tidak mau terus-terusan kalah dari aku yang temannya sendiri. Dia masih berpikir 'kalau soal menari aku bisa menang'."
"I-itu kan... tidak apa-apa kan, aku memang orangnya tidak mau kalah! Makanya... aku akan membuat milik Masaki-kun... keluar lebih banyak lagi ♡"
"Rasanya itu tidak ada hubungannya... uoh!"
Aku berteriak pelan saat Riina menghisap kemaluanku dengan sangat kuat.
"Lihat, dia keras kepala banget kan? Masaki, buatlah dia... lebih 'paham' lagi."
"Dibuat paham...?"
"Iya, tunjukkan padanya siapa yang berkuasa."
Yuzuki menjauh dariku dan duduk di lantai sejajar dengan Riina.
"Anak ini, dilihat dari mana pun, sebenarnya adalah gadis yang mesum sejak awal. Tapi dia sendiri tidak mau mengakuinya. Dia terlalu jauh dari hal-hal erotis sampai dia tidak sadar kalau aslinya dia punya daya tarik itu. Makanya..."
"Annh ♡"
Yuzuki meremas payudara Riina yang terbuka dengan kasar.
"Lakukan hal-hal mesum yang lebih banyak lagi, sampai Riina mau mengakui kalau dia itu gadis yang erotis. Buat dia sadar."
"Aku mengerti."
"Ka-kamu mengerti!? Masaki-kun dan Yuzu benar-benar gampang sekali sepakat ya!"
"Kalau begitu, pertama-tama... Memberikannya di wajah memang bagus, tapi sebenarnya..."
"A-apa?"
Riina menatap wajahku dengan cemas sambil menjilati kemaluanku dari pangkal hingga ujung, lalu melahapnya lagi. Sambil menikmati kenikmatan itu, aku berkata—
"Aku pikir memberikannya semua ke dalam mulut Riina untuk ditelan bagus juga... boleh?"
"Mau... menyuruhku menelannya? Kalau dipikir-pikir, setiap kali kamu keluar di depanku, selalu di wajah..."
"Iya, karena dua kali sebelumnya terjadi secara tidak sengaja. Entah kenapa, melihat wajahmu membuatku merasa harus menyemprotnya di sana... tapi aku pikir menelannya juga ide bagus."
"Ha-hal seperti itu... yah, boleh saja sih..."
Riina menghisap-hisap kemaluanku sejenak, lalu melepaskannya—
"Be-begini sudah benar? ♡"
Riina membuka mulutnya lebar-lebar dan mendekatkan wajahnya di depan kemaluanku.
"Kalau begitu, biar aku yang bantu pakai tangan ya. Rii, tunggu sebentar ♡"
"Ugh, Yu-Yuzuki...!"
Yuzuki menggenggam kemaluanku, lalu menggeseknya ke atas dan ke bawah dengan cepat. Kalau dipikir-pikir, jarang sekali Yuzuki melakukannya dengan tangan seperti ini...
"U-wah, miliknya berdenyut-denyut hebat... Pa-padahal tadi baru saja menyemprot sebanyak itu di wajahku, tapi sekarang... sudah mau keluar lagi? ♡"
"A-ah, Riina...!"
"Rii, dia mau keluar. Riina, buka mulutmu lebih lebar lagi ♡"
"Ah, aaahh... annh ♡"
Aku pun mencapai klimaks dengan mudah di bawah permainan tangan Yuzuki—dan cairan yang kusumburkan langsung kutumpahkan ke dalam mulut Riina.
"Ah, nnh, nmmhh... nnh ♡"
Riina menelan cairan yang tertuang ke mulutnya itu dalam satu tegukan besar.
"Ha-haah... ♡ Ra-rasanya aneh ♡ Se-semuanya... sudah kuminum, tahu?"
"Ooh..."
Riina tetap membuka mulutnya lebar-lebar sambil menjulurkan lidahnya. Meski masih ada sedikit sisa cairan kental yang tertinggal, dia benar-benar telah meminum semuanya. Menghabiskan seluruh isinya di dalam mulut sahabat pacarku sendiri...
"Riina, kamu benar-benar erotis... Dengan begini, tarian yang penuh daya tarik seksual pasti bisa kamu lakukan dengan mudah."
"Bo-bodoh ♡ Mes-meskipun aku bisa melakukan hal seperti ini, kalau tarian mesum aku masih belum..."
Riina menegakkan tubuhnya, lalu kembali duduk di atas pahaku. Ia melingkarkan lengannya erat-erat di leherku dan memelukku.
"Tidak, entah kenapa aku merasa sepertinya aku bisa melakukannya sekarang... ♡ Tapi, mungkin masih belum cukup. Bisa bantu aku agar... lebih 'paham' lagi secara menyeluruh? ♡"
"Tentu, akan kubuat kamu lebih paham lagi. Akan kubuat tubuh Takaya Riina yang keras kepala ini benar-benar menyadarinya."
"I-iya... tidak apa-apa kan, Yuzu?"
"Asalkan aku juga ikut ya ♡"
Yuzuki kembali duduk di sofa dan memelukku. Dipeluk oleh dua gadis gyaru cantik, dengan payudara mereka yang menekan tubuhku—aku melingkarkan tanganku di punggung mereka berdua.
Jika itu aku, aku bisa memanjakan dua gadis gyaru cantik ini secara bersamaan. Yuzuki dan Fuuka, Asa dan Yuu—meski kali ini berbeda karena mereka bukan saudara kembar—aku tetap bisa mendekap para gyaru yang bersahabat ini sekaligus, membelai mereka, dan memberi mereka kenikmatan.
"Masaki, cup... ♡"
"Masaki-kun... aaahh! ♡"
Aku menyatukan bibirku dengan Yuzuki, dan setelah itu—
Aku mengulurkan tanganku ke bagian sensitif Riina yang masih berada di atas pahaku. Aku ingin melihat lebih banyak lagi sisi erotis dari teman sekelasku yang imut ini. Sesuai keinginannya, akan kubuat dia lebih paham lagi.
Kepada Takaya Riina yang telah terbebas setelah mendapat izin dari sahabatnya, aku yakin aku bisa melakukannya. Sambil berciuman dengan liar bersama Yuzuki, tanganku yang terjulur ke bagian sensitif Riina—bibir dan tanganku yang sedang menikmati tubuh kedua gyaru ini sudah tidak mungkin bisa dihentikan lagi.




Post a Comment