NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Suki na Ko ni Kokuttara, Futago no Imouto ga Omake de Tsuitekita V3 Chapter 2

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Chapter 2

Si Kembar Tampaknya Ingin Menyelesaikan Masalah

"Masaki, aku dan Fuuka pergi belanja dulu ya."


"Eh?"


Dua hari setelah Takaya bersaudara menumpang di sini. Pagi itu situasi akhirnya mulai tenang. Saat aku sedang bersantai di ruang tamu setelah sarapan, tiba-tiba Yuzuki mengatakan hal itu. Yuzuki tampak modis dengan atasan putih yang lembut dan rok span hitam. Sebuah tas jinjing berwarna elegan tersampir di bahunya.


"Aku menyerahkan urusan Rii dan Naraka-chan padamu ya, Masaki."


"Menyerahkan katamu... maksudmu kau memintaku menyelesaikan masalah mereka yang kabur dari rumah?"


"Aku percaya padamu, Masaki. Hanya kau yang bisa kuandalkan untuk menjaga sahabatku."


"Tunggu dulu, soal urusan menari Takaya saja aku tidak tahu harus berbuat apa."


Dalam hal menari aku hanyalah orang awam, dan aku juga tidak punya hak untuk ikut campur dalam urusan keluarga Takaya. Meskipun aku berniat mendukung mereka, aku juga berpikir wajar saja jika orang tuanya marah. Sampai saat ini, aku sama sekali belum melihat adanya jalan keluar. Yuzuki pun seharusnya merasakan hal yang sama, tapi karena dia sahabatnya, dia lebih punya hak untuk memberi saran daripada aku...


"Daripada itu, Yuzuki. Sebenarnya aku ingin berterus terang, pada malam Takaya datang—"


"Ah, aku sudah dengar, sudah dengar. Hal semacam itu tidak apa-apa kok. Lagipula, dulu kau juga sudah pernah menyemprot Rii sekali."


"Ja-jangan bahas itu."


Belakangan ini aku terlalu sering merasa bingung. Atau mungkin, gadis-gadis di sekitarku saja yang terlalu bebas.


"Aku percaya padamu dan Rii, jadi aku tidak keberatan. Lagipula, kekasih Masaki hanya aku dan Fuuka saja, kan?"


"Itu sudah pasti."


Untuk bagian itu, aku bisa mengatakannya dengan tegas tanpa keraguan. Aku yang memiliki dua kepribadian—Double Mind—bisa mencintai dua orang secara bersamaan. Namun, hanya dua orang saja. Tsubasa Yuzuki dan Tsubasa Fuuka, hanya mereka berdua—


"Kalau begitu tidak masalah. Fuuka juga begitu, kan?"


"Iya, tentu saja."


Fuuka yang ternyata ada di dekat kami mengangguk mantap. Fuuka mengenakan gaun panjang berwarna merah muda pucat, benar-benar memancarkan aura nona muda di musim panas.


"Tapi tetap saja... bukankah lebih baik kalau kalian berdua ikut untuk menyelesaikan masalah ini?"


"Nanti kau malah tidak fokus kalau ada kami, kan?"


"Tentu saja fokus. Malah sebenarnya aku ingin ikut belanja. Aku bisa membantu membawakan barang."


"Belanja kami itu lama sekali, tahu. Hari ini kami mau beli baju, jadi akan memakan waktu lebih lama. Apalagi kami kembar, jadi galau pilih bajunya dua kali lipat."


"...Jadi berlipat ganda di bagian itu ya. Baiklah, mengganggu perempuan yang sedang belanja memang tidak sopan."


"Nah, itu kau tahu."


Aku belum pernah menemani gadis seusiaku belanja. Namun, anggapan bahwa perempuan belanja itu lama bukanlah sebuah prasangka belaka. 


Seperti yang kau lihat, Yuzuki dan Fuuka punya selera busana yang bagus. Mereka pasti akan sangat serius memilih barang, jadi sepertinya ini akan menjadi perjalanan panjang. Aku pun merasa gentar jika harus menemani mereka diam-diam tanpa boleh berkomentar.


"Maafkan kami, Masaki-san. Kami mohon bantuan untuk menjaga rumah. Kami juga akan menjaga Wakaba-san dengan baik."


"Tunggu! Wakaba juga ikut!?"


"Iya, kami sudah berjanji saat bertemu di kolam renang kemarin. Karena Wakaba-san tidak punya banyak baju, kami akan membantunya memilihkan pakaian."


"Wakaba itu... dia tidak bilang apa-apa padaku. Fuuka, apa kau yakin tidak apa-apa?"


Wakaba itu dasarnya hanya memikirkan belajar dan membantu di kedai ramen Shinryu. Dia seharusnya sama sekali tidak tertarik pada fashion. Yah, aku pun tidak jauh berbeda dengannya. Di kedai, Wakaba melayani pelanggan dengan memakai gaun cheongsam, tapi jika di luar, seragam sekolah adalah pakaian standarnya.


"Adikku itu tidak hanya kekurangan baju, tapi dia hampir tidak punya pakaian santai. Di rumah dia cuma memakai kaus atau kemeja bekas punyaku."


"Wah, itu membuatku iri. Aku juga ingin memakai 'kemeja pacar'."


"Ke-kemeja pacar... kalau kau ingin memakainya, aku akan meminjamkan kapan saja."


Karena aku cukup tinggi, baju itu pasti akan kedodoran di tubuh Fuuka, tapi itu pasti terlihat manis.


"Aku tidak sabar. Kami akan bertanggung jawab mendandani Wakaba-chan, jadi Masaki-san juga silakan menantikannya."


"Aku juga sangat bersemangat ♡ Wakaba-chan itu imut sekali, kan? ♡"


"Imut ya..."


Meskipun istilah yang digunakannya sedikit kuno, Yuzuki tampaknya sangat antusias. Yah, pelanggan tetap di kedai kami juga sangat menyayangi Wakaba, dan aku akui adikku memang punya keimutan seperti hewan kecil.


"Maaf, tolong bayarkan dulu uangnya. Nanti akan kuganti."


"Aku dan Fuuka ingin membelikannya untuknya. Jangan khawatir, kami tidak akan membeli merek mewah, tapi baju-baju yang biasa dipakai anak SMP."


"Sangat tidak baik jika dia bahkan tidak punya pakaian biasa yang layak."


"...Itu benar juga."


Aku sempat terpikir soal Wakaba yang sama sekali tidak modis, tapi aku membiarkannya saja. Lagipula aku sendiri juga tidak modis, dan rasanya aneh jika seorang kakak laki-laki memilihkan baju untuk adik perempuannya yang SMP. 


Kalau dipikir-pikir, bukan hanya aku, orang tuaku pun sangat menyayangi Wakaba tapi tidak peduli soal pakaian. Karena kami tidak memikirkan pakaiannya, mungkin itulah sebabnya Wakaba sendiri jadi tidak tertarik pada busana.


"Maaf ya Yuzuki, Fuuka, aku titip adikku. Dia sudah mulai beranjak remaja, jadi buatlah dia sedikit tertarik pada pakaian."


"Serahkan pada kami, kami akan mendandaninya sepuas hati! ♡"


"Hah hah, aku sudah tidak sabar menunggu saat itu tiba! ♡"


...Sepertinya mereka agak terlalu bersemangat.


Yuzuki dan Fuuka memang tipe orang yang tidak tahu caranya menahan diri. Wakaba mungkin akan merasa bingung, tapi adikku yang terlalu pendiam itu memang butuh paksaan dari orang-orang seperti Yuzuki dan yang lainnya.


"Kalau begitu, kami berangkat dulu ya ♡"


"Kami berangkat ♡"


Begitulah, Yuzuki dan Fuuka berangkat dengan riang gembira.


Setidaknya, aku sudah mengirim pesan LINE kepada Wakaba: "Jangan membantah kakak-kakak itu."


Wakaba membalas dengan stiker kelinci aneh yang ekspresinya hanya bisa digambarkan sebagai "hampa".


Karena sudah berjanji, Wakaba sepertinya tidak akan melarikan diri sekarang.


Urusan itu sudah beres, tapi—


"Hmm..."


Ditinggal sendirian memang terasa sepi, tapi aku tidak boleh hanya melamun kesepian. Aku sudah diberi tugas. Lagipula, Yuzuki dan yang lainnya sengaja pergi agar aku bisa bekerja tanpa gangguan.


"Lebih baik aku bergegas. Takaya juga punya jadwal audisi."


Apakah Takaya sedang menari lagi di koridor?


Anak itu sepertinya benar-benar menggerakkan tubuhnya setiap kali ada waktu luang...


Ada berapa banyak teman seangkatan di dunia ini yang begitu serius menekuni sesuatu?


Takaya benar-benar sangat bersungguh-sungguh, sampai-sampai aku merenung sedalam itu. Jika ada sesuatu yang bisa kubantu, aku merasa ingin mengulurkan tangan padanya meskipun dia bukan sahabat kekasihku.


Baiklah, ayo cepat bergerak. Meskipun aku tidak enak mengganggu latihannya, aku ingin membantu menyelesaikan konfliknya dengan orang tuanya sebelum audisi dimulai.


"...Eh, tunggu sebentar."


Aku sempat berasumsi bahwa masalah Takaya hanyalah konflik dengan orang tua dan fakta bahwa dia kabur dari rumah...


Benar begitu, kan?


Sebenarnya, aku belum mendengar langsung dari Takaya sendiri mengenai apa tepatnya kesulitan yang dia hadapi dan bagaimana dia ingin menyelesaikannya.


Sambil memikirkan hal itu, aku membuka pintu ruang tamu.


"Uoh!"


"Kyaa, maaf."


"Tidak..."


Tepat di balik pintu itu, di koridor, Takaya sedang berdiri. Sepertinya dia juga baru saja hendak membuka pintu, sehingga posisi kami sangat dekat sampai membuat terkejut.


"Maaf, aku tadi meminjam kamar mandi."


"Tidak perlu minta maaf soal itu."


Aku tersenyum kecut. Rambut hitam pendek Takaya masih basah; sepertinya dia baru saja selesai mandi.


"Iya sih, tapi kalau di rumah, ibu selalu menunjukkan wajah tidak senang jika aku mandi setelah latihan."


"Di musim begini, wajib mandi setelah olahraga, kan?"


Takaya tersenyum kecut, dan aku membalasnya dengan senyuman serupa. Tampaknya orang tua Takaya benar-benar sangat tidak menyukai kegiatan menari putri mereka.


"Eh? Takaya, kenapa kamu pakai seragam?"


"Pementasan besok temanya tarian berseragam sekolah," jawab Takaya sambil sedikit mengangkat rok seragamnya.


Seragamnya terdiri dari blus lengan pendek berwarna merah muda dan rok mini yang cukup berisiko. Karena kakinya jenjang, rok mini yang dipotong sangat pendek itu terlihat sangat cocok untuknya.


"Audisinya juga pakai seragam. Saat pementasan nanti memang pakai kostum seragam khusus, tapi untuk audisi, selama masih siswi SMA aktif, pakai seragam sekolah sehari-hari pun tidak apa-apa. Latihan biasanya pakai kaus, tapi sesekali aku ingin menari dengan perasaan yang mendekati saat pementasan nanti. Apalagi rasanya cukup berbeda antara memakai rok dan celana."


"Begitu ya. Memang aku sering melihat video orang menari pakai seragam sekolah."


Entah kenapa, sepertinya orang-orang di dunia ini memang menyukai siswi SMA berseragam. Aku tidak punya fetis khusus soal itu, tapi aku akui itu terlihat bagus secara visual.


"............"


Ini adalah sosok Takaya Riina, si gyaru populer yang biasa kulihat di kelas. Hanya saja, blus merah mudanya dibuka kancingnya lebih banyak dari biasanya, sehingga belahan dadanya—bukan, bra hitamnya terlihat sekilas.


Haruskah aku mengingatkannya... atau apakah memperlihatkan bra itu bagian dari mode? Sekali lagi, aku yang buta soal fashion tidak bisa memutuskannya.


"Ah, kamu melihat dadaku ya."


"............!"


"Ahaha, Masaki-kun, meski wajahmu seram ternyata kamu mesum juga ya. Tapi entah kenapa aku sudah mulai terbiasa."


"Apakah aku menatapmu dengan mata seaneh itu sampai kamu terbiasa... maaf ya."


Tidak hanya terbiasa dengan wajahku, dia bahkan mulai terbiasa dipandang dengan tatapan mesum. Di kelas, Takaya selalu tampak tangguh dan merupakan yang paling menyeramkan di antara geng gyaru Yuzuki, namun aslinya dia justru tak terduga bisa merasa malu atau tertawa lepas tanpa beban.


"Maaf ya. Oh, benar juga, Yuzuki dan Fuuka—"


"Pergi belanja, kan? Aku sudah dengar. Masaki-kun tidak ikut ya."


"Katanya mau belanja baju adikku. Menemani perempuan belanja itu agak..."


"Pilihan yang tepat. Kamu belum tahu kan gaya belanja Yuzu? Anak itu, menurutku saja sudah mengerikan."


"Mengerikan ya..."


Saat aku membeo ucapannya, Takaya mengangguk dengan wajah serius. Sepertinya dia sudah berkali-kali menemani Yuzuki belanja. Menilai dari ekspresinya, kata "mengerikan" itu pasti berarti belanja yang sangat lama. Tanpa aku sadari, sepertinya aku baru saja berhasil melarikan diri dari neraka...


"Oiya, kamu tadi sedang latihan, kan? Kamu harus minum. Mau minum sesuatu?"


"Tolong ya, ada minuman olahraga di kulkas."


Aku mengangguk pada Takaya, lalu pergi ke dapur untuk mengambil minuman olahraga dan teh untuk diriku sendiri dari kulkas. Setelah itu, kami duduk berdampingan di sofa.


"Haa, nikmatnya... minuman olahraga setelah mandi itu yang paling enak..."


"Semangat latihan itu bagus, tapi pastikan hidrasi terjaga. Jangan sampai pingsan sebelum audisi."


"Iya, aku tahu. Ternyata Masaki-kun perhatian juga ya."


Hmm, entah kenapa percakapannya terasa agak kaku. Bagaimanapun juga, aku dan Takaya memang tidak akrab sebelumnya... Jika tidak ada Yuzuki, Fuuka, Asa, Yuu, atau Naraka bersama kami, percakapan kami sulit mengalir.


"Coba kunyalakan TV saja ya."


Aku mengangkat remote yang tergeletak di meja depan sofa, lalu menyalakan TV.


Acara talk show sedang ditayangkan.


Aku tidak terlalu tertarik, tapi karena suasana hening juga terasa tidak nyaman, ini saja sudah cukup.


"Masaki-kun, kok kamu terlihat gelisah? Ada yang mau kamu bicarakan?"


"...Aku dititipi tugas soal Naraka, tapi soal anak itu, aku masih belum paham apa-apa."


Saat ini aku lebih mengkhawatirkan sang kakak Takaya, tapi pertama-tama aku harus mencari pembuka percakapan.


"Ah... tidak perlu terburu-buru. Dia kan anak rumahan yang tidak sekolah. Masalahnya tidak akan selesai dalam sekejap. Berbeda dengan audisiku."


"Audisimu juga penting. Jadi, jujur saja, pertama-tama aku ingin mendengar ceritamu. Kamu punya batasan waktu, kan?"


"Ceritaku, ya..."


Takaya menenggak minuman olahraganya sampai habis. 


Aku sudah memaksakan pembicaraan ke arah urusan Takaya, tapi untungnya dia tidak tampak tersinggung.


"Kamu sedang bertengkar dengan orang tua, kan? Apakah orang tuamu benar-benar tidak mau mengakui bakat menarimu?"


Memang Takaya mungkin terlalu terobsesi dengan menari... tapi melihat seorang anak yang berjuang sekeras ini, bukankah seharusnya orang tua punya keinginan untuk mendukungnya?


"Ah, Masaki-kun belum tahu tentang ibu kami, ya?"


"Ibu Takaya? Sama sekali tidak tahu."


Sampai beberapa hari yang lalu saja aku hampir tidak pernah mengobrol dengan Takaya sendiri. Akan aneh kalau aku sampai tahu tentang ibunya.


"Kukira kamu menyalakan TV karena sudah tahu."


"TV? Apa maksudmu?"


Aku melirik ke layar TV.


Tema acara bincang-bincang yang sedang tayang adalah "Pendidikan untuk Siswa SMP dan SMA Masa Kini". Seorang komentator wanita paruh baya sedang berbicara dengan lancar.


"Lihat, orang ini."


"Orang ini... memangnya dia kenapa?"


Wanita yang sedang berbicara di TV itu mengikat rambut hitam panjangnya ke belakang, mengenakan kacamata berbingkai hitam, dan memakai setelan jas berwarna krem muda. Usianya mungkin sekitar empat puluh sampai lima puluh tahun. Dia cantik, tapi terlihat sebagai orang yang sangat kaku dan serius.


Papan nama yang diletakkan di depannya tertulis jabatan: "Profesor Universitas Putri Shuka - Pengamat Pendidikan". Nama yang tertera di bawahnya adalah—Takaya Kana.


"Takaya Kana—Takaya? Eh, tunggu, orang ini ibunya kalian!?"


Tanpa sadar aku langsung berdiri dari sofa.


"Iya, pekerjaan utamanya memang profesor universitas, tapi beberapa tahun belakangan sepertinya dia menghasilkan banyak uang dari pekerjaan sebagai komentator."


"Orang ini... ibu kalian."


Ini benar-benar kebetulan yang luar biasa. Aku menyalakan TV tanpa maksud tertentu, dan aku sama sekali tidak peduli siapa yang muncul di acara itu.


Di layar TV, seorang pria tua yang tampaknya adalah pembawa acara berbicara dengan wajah serius.



"Bagi saya, saya merasa khawatir karena anak-anak zaman sekarang terlalu pendiam. Anak-anak yang bebas seperti dulu semakin berkurang, dan saya rasa anak-anak yang tidak punya individualitas semakin bertambah. Bagaimana menurut Anda, Profesor Takaya?"


"Ya, saya juga berpikiran sama."


Pembawa acara melemparkan pertanyaan, dan ibu Takaya mulai menjawab.


"Meski dunia meneriakkan pentingnya individualitas, kenyataannya pendidikan yang seragam dan hanya mengikuti arus tetap terjadi. Walaupun pihak sekolah memang berada di zaman di mana mereka harus sangat berhati-hati dalam setiap ucapan kepada murid, sehingga pendidikan yang mengikuti panduan manual adalah hal yang tidak terelakkan. Oleh karena itu, kita harus ingat fakta bahwa pendidikan bukan hanya dilakukan di sekolah, melainkan peran keluarga adalah yang paling krusial."


"Hoo, begitu ya. Maksudnya adalah bagaimana orang tua mendisiplinkan anaknya, ya?"


"Mendisiplinkan mungkin terdengar seperti citra yang keras. Saya rasa boleh saja lebih luwes. Tugas orang tualah untuk memberikan identitas pada anak. Dan ketika orang tua membesarkan anak dengan membiarkan mereka berkembang bebas, barulah individualitas itu terpupuk."


"...Mementingkan individualitas?"



Ibu Takaya bicara dengan sangat hebat, tapi—bukankah orang ini marah karena putrinya terlalu antusias menari, sampai-sampai putri yang satunya lagi ikut kabur dari rumah?


"Membesarkan dengan bebas...?"


"Yah, aku tahu apa yang ingin kamu katakan, Masaki-kun."


Takaya kembali tersenyum kecut.


"Ibuku itu menjalankan profesi pengamat pendidikan sebagai bisnis. Dulu dia sering berpidato berapi-api bilang: 'Orang tua yang membiarkan anaknya bebas dengan alasan individualitas adalah orang tua yang tidak bertanggung jawab. Anak harus didisiplinkan dengan keras'."


"Omongannya cepat sekali berubah ya... Dalam artian tertentu, dia memang profesional."


Zaman sekarang pernyataan lama sering kali digali kembali di internet, apa dia baik-baik saja?


"Hanya saja, Ibu itu konsisten bersikap keras kepada kami di rumah. Kalimat favoritnya adalah 'Jadilah seperti aku'. Dia menyuruhku dan Naraka untuk menempuh jalan yang sama dengannya; masuk ke SMA bagus lalu ke universitas, jadi dosen, sampai bisa muncul di TV."


"Bukankah itu permintaan yang tidak masuk akal?"


"Dia memang tidak punya hak untuk mengatur sejauh itu."


"Ma-maaf."


Tapi Takaya Riina, seperti yang terlihat, adalah seorang gyaru. Rambut hitam pendeknya diberi highlight merah, dia memakai seragam sekolah dengan gaya berantakan, dan dia termasuk dalam kelompok gyaru Yuzuki. Selain itu, menurut cerita Yuzuki, nilai-nilainya juga tidak terlalu bagus.


Dilihat dari sisi mana pun, dia sudah lama keluar dari jalur yang diinginkan ibunya.


"Tentu saja bukan cuma aku, Naraka pun tidak menginginkan masa depan seperti itu."


"Itu bukan jalur yang bisa dilalui dengan mudah."


Aku sendiri lumayan pintar dalam belajar, tapi aku sama sekali tidak bisa melihat masa depan di mana aku bisa tampil di TV dengan kecerdasan sebagai senjataku.


"Hanya saja, meski apa yang dia bicarakan di TV itu cuma bisnis, kita tidak tahu di mana letak isi hatinya yang sebenarnya. Mendisiplinkan anak dengan keras itu hal yang wajar jika dipikir secara umum."


"Karena itulah, aku tidak tahu bagaimana cara melawan Ibu."


Sejujurnya, ibu ini sepertinya lawan yang sangat berat. Melawan orang yang menjadikan kata-kata sebagai senjata untuk berdagang di TV, aku berdebat dengannya pun tidak akan ada peluang menang.


"Yah, ayahku pun galak, tapi dia mengizinkanku keluar dari rumah dengan mudah. Pikiran orang tua memang terkadang sulit dimengerti."


"Apa ayahmu orang yang menakutkan, Masaki-kun?"


"Bukan menakutkan, tapi dia punya watak pengrajin yang keras. Rumahku itu kedai ramen biasa, dan aku sudah lama mencoba membantu di dapur, tapi dia sama sekali tidak mengizinkanku. Padahal setidaknya aku merasa sanggup kalau cuma mengiris daun bawang."


Ayahku hanya mengizinkan kami melayani pelanggan; dia tidak pernah membiarkan aku maupun Wakaba membantu memasak.


"Oh iya, bagaimana dengan ayahmu, Takaya?"


"Dia itu bukan ayah, lebih tepatnya dia adalah 'anak buah nomor satu' ibuku."


"...Yah, aku paham. Di rumahku juga kurang lebih mirip seperti itu."


Pemilik kedai Shinryu memang Ayah, tapi penguasa aslinya adalah Ibu. Justru karena Ibu mengelola segalanya dengan tegas, mulai dari stok barang sampai urusan keuangan, Ayah bisa fokus mengejar cita rasa masakan yang lezat. Jika Ibu mogok kerja, Shinryu pasti akan bangkrut besok pagi.


"Berarti membujuk lewat ayahmu juga mustahil ya..."


Sepertinya strategi membujuk ayahnya agar ia bisa menenangkan ibunya tidak bisa digunakan.


"Yah, begitulah situasiku. Intinya, ibuku yang kaku dan otoriter itu tidak suka melihat putrinya menghabiskan waktu untuk menari yang dianggapnya 'centil', lalu dia memaksaku untuk berhenti. Tapi aku ingin lulus audisi yang akan segera diadakan dan berdiri di atas panggung. Selesai."


"Singkat padat ya..."


Kalau sudah dikatakan begitu, rasanya tidak ada celah bagiku untuk ikut campur. Tentu saja Takaya sendiri tidak menganggap tariannya "centil" atau "membuang waktu". Terlepas dari apakah ibunya benar-benar mengucapkan kata-kata itu, sepertinya nuansa kalimat yang dilontarkan kepada putrinya mirip seperti itu.


"Untuk saat ini, tidak ada pilihan selain mengikuti audisi sambil tetap kabur dari rumah... soal pengakuan ibumu, urusan belakangan saja."


"Aku memang kabur supaya bisa begitu. Tapi sebenarnya, ada sesuatu yang aku ingin Masaki-kun bantu."


Takaya mengatakannya sambil menatap langsung ke mataku. Tatapannya sangat serius, sama seperti saat dia sedang menari di koridor tadi.


"Aku? Yuzuki juga bilang begitu... tapi memangnya ada yang bisa kulakukan?"


"Iya, aku sudah dapat izin dari Yuzu. Izin agar Masaki-kun membantuku—juga dari Fuuka."


"Eh? He-hei...!"


Tiba-tiba, sambil tetap duduk di sofa, Takaya mengangkat rok mini seragamnya. Celana dalam hitam yang tersembunyi di baliknya pun terlihat sekilas. Ditambah dengan bra hitam yang mengintip dari kerah blus merah mudanya—kini pakaian dalam atas dan bawahnya terlihat.


"Anu, Masaki-kun. Aku... ingin kamu melakukan hal mesum padaku."


"Haa!?"



Setelah teriakan refleksku, waktu seolah berhenti.


Tentu saja waktu tetap berjalan, tapi Takaya tetap dalam posisi mengangkat roknya, dengan celana dalam hitam yang masih terlihat jelas. Seolah bukan hanya aku, tapi waktu Takaya pun ikut membeku. Aku jadi bingung jika dia sendiri yang memulainya malah ikut terdiam.


"Hei, Takaya. Apa maksudmu dengan—"


Untuk sementara, aku membuka mulut tanpa rencana hanya demi memecah keheningan.


"Masaki-kun, kemarin kamu sempat menanyakan pendapatmu tentang tarianku, kan?"


"A-ah, iya."


"Ingat apa yang kamu katakan?"


"Aku ingat... tapi aku ini benar-benar awam soal tari. Aku bahkan jarang sekali menontonnya di TV. Pendapat dari orang sepertiku tidak akan ada gunanya, kan?"


"Justru itu yang bagus. Malah mungkin lebih baik karena kamu tidak punya prasangka. Aku sudah sering menunjukkannya pada Yuzu, dan Fuuka itu terlalu baik jadi dia hanya akan memujiku."


"Yah, itu... ada benarnya juga."


Jika Yuzuki sudah terlalu sering melihat tarian Takaya, dia mungkin bingung jika diminta pendapat baru. Dan Fuuka, meskipun dia menyadari sesuatu, pasti hanya akan mengatakan hal-hal yang positif.


"Jadi, maaf ya, bisa tolong katakan sekali lagi?"


"Aku agak lupa kata-kata tepatnya... tapi, yah, rasanya ringan dan gerakannya sangat lincah. Aku pikir itu tarian yang tidak akan bisa dilakukan tanpa latihan yang sangat keras."


"Terima kasih. Ada lagi?"


"Sisanya... yah, bisa dibilang 'sehat'. Tariannya cerah dan membuat orang yang melihat merasa nyaman. Aku rasa itu mencerminkan kepribadianmu."


"............"


"A-ada apa? Apa aku salah bicara lagi?"


Tentu saja aku bermaksud memujinya dan itu adalah pendapat jujurku, tapi apakah cara penyampaianku salah?


"Tidak, Masaki-kun tidak salah sama sekali. Malah, syukurlah aku bertanya padamu... Jadi benar ya, di matamu terlihat seperti itu."


"............?"


Takaya tampak mengerti sendiri, tapi aku sama sekali tidak paham apa maksudnya. Jangan-jangan, ungkapan "tarian yang sehat" itu bukan hal yang bagus?


"Guru tariku bilang begini. Tarianku itu—kurang daya tarik seksual."


"Da-daya tarik seksual?"


Kata yang tak terduga itu muncul, membuatku menyilangkan tangan sambil memiringkan kepala.


"Apa menari butuh daya tarik seksual? Kalaupun butuh, bukankah itu tergantung situasinya?"


"Sudah kubilang sebelumnya, kan? Tarian tanpa daya tarik seksual itu membosankan. Tarianku sering dibilang 'bersemangat' atau seperti kata Masaki-kun tadi, 'sehat'. Singkatnya, aura daya tarik yang merembes keluar dari dalam diri itu sama sekali tidak ada."


"Hmm, aku mengerti maksudnya, tapi..."


Aku sama sekali tidak tahu tentang tari. Namun, jika dipikirkan lagi, aku bisa paham bahwa "tarian" sering kali tidak bisa dipisahkan dari elemen seksual. 


Sebagai siswa SMA aku memang tidak seharusnya tahu, tapi katanya ada tarian di tempat hiburan malam. Apalagi menari dengan pakaian terbuka—bukankah hal seperti itu ada di mana-mana sejak zaman dahulu, baik di Jepang maupun luar negeri?


"Aku punya rasa percaya diri pada teknik menariku karena aku sudah berlatih keras untuk itu. Tapi, masalahnya ada pada bagian mental."


"Mental ya... tapi soal mengeluarkan daya tarik seksual, apa yang harus dilakukan secara konkret?"


Seandainya masalahnya sesederhana "menari dengan pakaian terbuka", urusannya tentu akan lebih mudah. Tapi, karena Takaya juga seorang siswi SMA, dia tidak bisa melakukan hal-hal yang terlalu berisiko.


"Eh, tunggu dulu. Jadi, karena itulah kamu bilang soal 'hal mesum'!?"


"Iya... Masaki-kun, biarkan aku mengasah daya tarik seksualku."


"Tu-tunggu sebentar!"


"Aku belum pernah berpacaran dengan laki-laki, dan selama ini aku tidak pernah tertarik. Tapi, kalau mau memunculkan aura itu dengan cepat... aku harus melakukan hal seperti ini."


"Be-belum tentu begitu, kan! Lagipula, aku tidak sedang berpacaran denganmu atau apa pun—"


"Karena sahabatku, Yuzu, sangat memercayaimu, aku pun... bisa melakukan hal ini padamu."


Takaya melepas satu per satu kancing blus merah mudanya yang sedari awal memang sudah banyak yang terbuka. Bagian depan blusnya kini tersingkap lebar, memperlihatkan bra hitam dan belahan dadanya.


"Memang sih, dadaku tidak sebesar milik Yuzu atau Naraka, tapi..."


"I-ini bukan masalah ukuran!"


Memang benar, dada Takaya tidak terlalu besar.


"Begini-begini aku punya C-cup, lho. Untuk menari, ini bahkan sedikit terlalu besar. Kalau aku punya dada sebesar Naraka, mungkin aku sudah menyerah jadi penari."


"Ja-jangan sebut-sebut ukuran C-cup segala!"


Kenapa dia bisa dengan mudahnya menyebutkan ukuran dada... Padahal aku bukan pacarnya, bukan juga kekasih majikan yang dia layani. Memperlihatkan pakaian dalam atas-bawah saja sudah tidak lazim, apalagi sampai memberi tahu ukuran dada.


"Pokoknya, aku paham kalau menari butuh daya tarik seksual! Jadi, tolong rapikan pakaianmu!"


"Mana mungkin aku mundur setelah melangkah sejauh ini. Aku serius, tahu."


Tatap mata Takaya tampak mantap. Meski wajahnya memerah karena malu, matanya menunjukkan keseriusan yang hampir terasa mengerikan.


"Soal meminta bantuanmu, aku sudah dapat izin dari Yuzu dan yang lainnya. Para pelayan pun sudah mengizinkanku."


"Izin dari Asa dan Yuu... yah, memangnya perlu...?"


Aku memang diperbolehkan melakukan hal mesum dengan Asa dan Yuu dengan alasan "mempelajari teknik untuk memanjakan Yuzuki dan Fuuka". Rasanya tidak enak jika melakukan sesuatu tanpa memberi tahu para pelayan yang telah menyerahkan tubuh mereka padaku.


"Tidak, kalau Asa dan Yuu aku masih bisa paham... tapi apa benar Yuzuki dan yang lainnya mengizinkan?"


"Kamu tidak dengar ceritanya dari Yuzu?"


"Secara spesifik sih tidak, tapi jadi begini ya ceritanya..."


Baru saja Yuzuki bilang kalau dia memercayakan sahabatnya padaku. Aku tidak pernah membayangkan dalam mimpi sekalipun kalau alurnya akan jadi seperti ini. Dan jika Yuzuki sudah memberi lampu hijau, itu berarti sama saja dengan izin dari Fuuka. 


Ini sudah menjadi hal yang lumrah, tapi tidak boleh dilupakan: Yuzuki dan Fuuka adalah dua orang dalam satu jiwa, satu jiwa dalam dua orang; si kembar dual twin yang berbagi perasaan—


"Ah, sebagai bukti, aku punya ini."


"Bu-bukti? Apa itu?"


Takaya memegang ponselnya dan mengarahkannya padaku. Layar itu menampilkan riwayat percakapan LINE.


Yuzuki: “Yah, aku memang punya sedikit pemikiran sendiri sih, tapi aku percaya pada Masaki, dan aku juga percaya pada Rii dan yang lainnya.”


Fuuka: “Karena Masaki-san sedang mengasah tekniknya bersama kami, dia pasti akan memberikan 'pengembangan' dan 'pelatihan' yang menyeluruh untuk kalian.”


"Pengembangan! Pelatihan!?"


Lawan bicaranya adalah Yuzuki dan Fuuka. Ini pasti percakapan yang sengaja dilakukan untuk ditunjukkan kepadaku. Meski pemilihan kata-kata Fuuka yang agak "nyeleneh" itu sudah biasa bagiku.


"Jadi mereka benar-benar memberi izin ya..."


Rasanya ngeri juga melihat mereka begitu pengertian... atau justru, ini agak mengecewakan? Apakah aku terlalu egois karena ingin Yuzuki dan yang lainnya merasa cemburu?


"Lagipula ya, kalau boleh jujur sekali."


"Bukannya dari tadi kamu sudah sangat jujur, Takaya?"


"Biar saja! Aku mau lebih jujur lagi! Begini, malam itu saat di rumah ini, Yuzu dan Fuuka... me-menjepit milikmu dengan dada mereka, kan?"


"Iya, pernah ada kejadian seperti itu."


Aku mencoba menjawab dengan datar, padahal itu adalah peristiwa besar yang sangat mengejutkan bagiku.


"Waktu itu, jantungku berdebar kencang sekali. Selama ini aku cuma memikirkan tari dan tidak pernah peduli soal laki-laki, apalagi soal hal mesum... tapi karena debaran itu terlalu kuat, aku tidak bisa melupakan kejadian hari itu."


"...Yah, wajar kalau tidak bisa lupa."


Melihat teman sekelas dipijat payudara oleh gadis kembar, lalu wajahmu terkena semprotannya; kalau sampai bisa lupa, berarti ada masalah dengan daya ingatnya.


"Aku sama sekali tidak percaya diri bisa terlihat erotis. Tapi, kalau bersamamu, mungkin aku bisa mengeluarkan... semacam aura daya tarik itu..."


"Baiklah. Aku akan bantu."


"Eh, ternyata kamu gampang dibujuk ya!?"


Takaya tampak terkejut, tapi bagiku ini tidak terlalu mengejutkan. Selama ini aku sudah mengalami banyak hal yang benar-benar di luar nalar. Berpacaran dengan si kembar yang cantik, dilayani oleh pelayan kembar yang menawan, dan sekarang ada pasangan kembar ketiga yang kabur dari rumah dan menumpang di sini. Tawaran Takaya memang aneh—tapi dibandingkan dengan memacari dua gadis kembar sekaligus, alasannya justru terasa sangat jelas dan mudah dipahami.


"Karena tujuanmu sudah jelas. Kamu ingin jadi penari. Kamu ingin lulus audisi. Dan untuk itu, kamu ingin memicu daya tarik seksual dalam dirimu. Benar, kan?"


"Ka-kalau dirangkum orang lain begini aku jadi terdengar seperti orang bodoh... tapi, ya, itu benar. Kamu benar-benar mau membantuku...?"


"Tentu, aku akan lakukan apa pun yang kubisa. Tapi, kamu yakin tidak apa-apa?"


Aku memegang pundak mungil Takaya dengan mantap. Memang dada Takaya lebih kecil dibanding milik Yuzuki atau para pelayan, tapi dia memiliki kecantikan yang luar biasa, dan dadanya pun tidak bisa dibilang kecil-kecil amat. Tidak mungkin seorang pemuda SMA yang normal tidak bergairah menghadapi gadis secantik ini.


"Kalau begitu... apa aku harus melakukan ini...?"


"Ooh..."


Takaya menarik bra hitamnya kuat-kuat ke arah atas. Payudara itu menyembul keluar sambil berguncang kenyal.


"Ka-kan, dugaanku benar, kecil ya? Ta-tapi dengar ya, Yuzu dan para pelayan itu saja yang dadanya kelewat besar, sedangkan punyaku ini termasuk yang membanggakan di kelas!"


"I-iya, aku mengerti. Bentuknya bagus, kulitnya kencang, dan warna putingnya juga indah."


"Bi-bisa tidak usah dijelaskan sedetail itu...?"


"Memuji pun tidak boleh ya."


Padahal aku memujinya karena Takaya tiba-tiba mulai marah. Tentu saja itu pendapat jujurku. Dada berukuran C-cup itu memang terlihat kecil bagi mataku yang sudah terbiasa dengan payudara besar. Namun, seperti yang kukatakan tadi, bentuknya indah dan kencang. 


Lebih tepat disebut payudara cantik. Putingnya berwarna merah muda transparan dan sedikit meruncing—mungkin karena dia sudah mulai bergairah.


"Uuuh... a-agak memalukan ya... aku tidak menyangka akan dilihat oleh Masaki-kun. Ka-kamu boleh melakukan apa saja, tapi kalau terus-menerus dilihat..."


"A-anu... kalau begitu Masaki Nakaba-san, kalau kamu melihat ke arahku saja..."


“"Naraka!?"”


Seketika, aku dan Takaya berteriak berbarengan dengan suara yang melengking. 


Tanpa disadari, Naraka sudah duduk bersimpuh di bawah sofa tempat aku dan Takaya duduk. Terlebih lagi, entah mengapa dia mengenakan sailor fuku. Lengan pendek, rok setinggi lutut, seragam yang seluruhnya berwarna putih bersih dan memberikan kesan elegan. Seharusnya ini adalah seragam SMA Putri Shuka yang dulu juga pernah dipakai oleh Fuuka...


"A-aku juga... ingin menjadi gadis mesum seperti Onee-chan!"


"Aku bukan gadis mesum! Aku cuma sedang berusaha mencari daya tarik seksual!"


"Apa poin protesmu harus di bagian itu?"


Aku pun merasa pertanyaanku sendiri agak aneh.


"Eh tunggu, Naraka pun tidak perlu mencari... daya tarik seksual, kan?"


"Punya daya tarik bagi seorang gadis itu bukan hal yang merugikan... kan?"


"Begitu ya...?"


"Lagipula, Naraka dari awal sudah punya daya tarik seksual, kan. Malah terlalu berlebihan," kata Takaya sambil menurunkan pandangannya—dan aku pun ikut melihat ke arah sana. 


Benar juga, Naraka sudah memiliki daya tarik yang lebih dari cukup... Memiliki dada berukuran H-cup dan masih menginginkan daya tarik seksual rasanya terlalu serakah.


"A-anu, kamu boleh melihat punyaku sesukamu... tapi bolehkah aku ikut bergabung?"


"Tunggu dulu, kalau itu aku pun merasa tidak mungkin! Takaya—si Kakak punya alasan yang jelas, tapi Naraka tidak punya...!"


"Aku juga punya alasan kok."


Naraka meletakkan kedua tangannya di lantai, lalu merangkak mendekat ke arah kakiku.


"A-alasannya tidak bisa kukatakan, tapi aku juga ingin menjadi mesum."


"Kenapa harus begitu..."


Meski aku bisa memahami keinginan seorang gadis untuk tampil menarik, tapi tetap saja...


"La-lagi pula, Masaki Nakaba-san, sebenarnya kamu tidak semenakutkan itu."


"Eh, benarkah?"


Tanpa sadar aku mengeluarkan suara senang. Yuzuki dan yang lainnya serta para pelayan memang tidak takut padaku, tapi sampai sekarang mayoritas orang masih takut melihat wajahku. Tidak ditakuti oleh Naraka yang tampak sangat penakut ini—jujur saja, membuatku senang.


"Benar juga, memanggil nama lengkap pasti merepotkan, kan. Karena aku memanggilmu dengan nama depan, panggil saja aku tanpa embel-embel."


"Ka-kalau begitu, Nakaba-kun..."


"...Yah, bolehlah."


Meski dipanggil dengan nama depan oleh gadis selain Yuzuki dan Fuuka terasa agak canggung... tapi karena Naraka sepertinya sulit dihadapi, dan karena dia sudah mengumpulkan keberanian untuk memanggil nama depanku, aku akan menerimanya.


"Ngomong-ngomong, Naraka. Kenapa kamu pakai seragam pelaut?"


"La-latihan untuk berhenti menjadi anak rumahan... Onee-chan sudah berjuang keras, jadi aku juga..."


"Ah, benarkah? Kalau begitu aku sangat mendukungmu memakai seragam itu. Bagus, Naraka, semangat ya!"


"............"


Entah mengapa kakak beradik ini jadi bersemangat sendiri. Yah, karena memang seharusnya dia berhenti menjadi anak rumahan yang membolos sekolah... mungkin memakai seragam agar bisa keluar rumah adalah hal yang diperlukan.


"A-aku akan berusaha. Aku tidak mau membuat Onee-chan khawatir..."


Naraka mengepalkan tangannya dengan kuat.


"Kalau aku sudah terbiasa dengan Nakaba-kun yang seram, aku merasa bisa berbicara dengan siapa saja tanpa harus mengurung diri. Kesempatan bisa melakukan hal seperti ini bersama Onee-chan tidak akan datang dua kali seumur hidup."


"Mana mungkin ada lagi... Eh, hei, Naraka?"


"Pertama-tama... aku harus mencoba seperti yang Onee-chan lakukan..."


Naraka melepas pita di bagian kerah seragam pelautnya, lalu menyingkap bagian depannya.


Purun! Sepasang payudara raksasa berukuran H-cup pun menyembul keluar. Tampak sangat lembut namun kencang, dengan area puting yang sedikit masuk ke dalam namun memiliki lingkaran merah muda yang cukup lebar.


"Wah, Naraka. Kamu tidak pakai bra lagi!?"


"Aku sudah berusaha keras untuk memakai seragam, tapi memakai bra itu merepotkan..."


"Kamu itu punya ukuran sebesar ini, kalau tidak pakai bra nanti bisa kendur, lho...?"


"Be-benarkah? Aku tidak mau punya tubuh yang berantakan..."


"Apalagi kamu, Naraka, setiap hari kerjamu cuma makan dan tidur."


"Tapi, meski aku cuma makan dan tidur, aku tidak gemuk sama sekali, kan..."


Percakapan Takaya bersaudara ini benar-benar tidak menyisakan celah bagiku untuk menyela. Mungkin alasan Naraka tidak menjadi gemuk adalah karena semua nutrisi yang ia makan terserap ke satu bagian tubuhnya itu. Terlalu banyak terserap sampai tumbuh sesubur ini—ah, memikirkan hal ini saja sudah termasuk pelecehan seksual, aku harus berhati-hati.


"Kami ini kembar tidak identik, tapi setidaknya kami mirip dalam hal metabolisme yang tidak gampang gemuk." 


"Untung sekali... kalau aku jadi anak rumahan yang gemuk, itu akan sangat mengenaskan."


"Meski membicarakan diri sendiri, jangan berkata sekasar itu, Naraka."


"Anak ini memang bahasanya agak kasar. Jangan terlalu diambil hati."


"Bahasanya kasar pun masih terlihat imut kok."


Karena aku sendiri sering ditakuti karena wajahku yang menyeramkan, kata-kata pedas rasanya bukan masalah besar bagiku.


"Ah, bukan itu. Takaya, apa kamu tidak berniat menghentikan Naraka?"


"Karena akhirnya Naraka berani melangkah maju atas kemauannya sendiri... aku tidak ingin menghentikannya."


Takaya menggelengkan kepalanya dan berkata—


"Sama pentingnya dengan menari, pemulihan sosial Naraka juga sangat krusial. Naraka, kamu tidak apa-apa, kan?"


"Iya, aku akan berusaha. Lagipula..."


"Benar juga ya, hal seperti ini sebenarnya membuatku malu, tapi..."


“"Kalau berdua, sepertinya kita bisa melakukannya."”


"............"


Mungkin karena mereka kembar tidak identik, wajah dan bentuk tubuh mereka tidak terlalu mirip—meski begitu, mereka tetaplah saudara kembar.


"Selain itu, aku bisa menutupi kekurangan Onee-chan." 


"Jangan bilang 'kekurangan' dong," protes Takaya sambil melirik tajam adiknya.


"A-apakah seperti ini? Sebenarnya aku ingin mencoba ini, tapi rasanya mustahil kulakukan sendirian."


"I-ini...? A-aku akan mencobanya..."


"Takaya, Naraka, kalian tidak perlu tiba-tiba melakukan hal se-uoh!"


Di hadapanku yang masih duduk di sofa, Takaya dan Naraka—si kembar yang tidak mirip itu—berlutut. Dada berukuran C-cup milik Takaya yang mungil dan payudara raksasa H-cup milik Naraka ditekan satu sama lain—lalu mereka menjepit kemaluanku yang sudah dikeluarkan dengan erat.


"Dulu Yuzu dan Fuuka melakukannya seperti ini, kan...?"


"A-aku pun setidaknya tahu caranya... karena selama mengurung diri aku sering melihat internet."


"He-hei, apa yang kamu tonton? Internet itu buruk bagi pendidikan adik... annh, miliknya berdenyut-denyut!"


Tentu saja, dengan ukuran C-cup Takaya, akan sulit untuk menjepit kemaluanku sendirian. Namun, dengan menjepitnya bersamaan dengan ukuran H-cup adiknya, milikku terbungkus sepenuhnya—mereka menggeseknya seolah sedang memerasnya dengan kuat.


"Tapi ini luar biasa, terutama milik Naraka... uoh!"


Sebagai percobaan, aku mencoba meremas payudara Naraka sambil mengangkatnya. Terasa beban yang sangat berat dan luar biasa dari sana.


"Luar biasa, payudara macam apa ini...!"


"A-apakah sehebat itu, payudaraku...?"


"Maaf ya, meskipun aku kakak kembarnya tapi ukuranku kecil," ucap Takaya dengan wajah yang tampak sedikit kesal.


"I-tidak, tunggu sebentar."


Aku pun bergegas meremas payudara C-cup milik Takaya juga.


"Ah, sudahlah, sampai seperti itu... ka-kamu tidak perlu meremas punyaku juga..."


"Payudara Takaya pun sangat hebat. Payudara indah seperti ini jarang sekali ada, tahu."


"Ja-jangan bilang 'payudara indah' dong! Tapi... terima kasih. Bagaimanapun juga, seorang penari memang harus terlihat cantik."


"Begitu ya..."


Dada C-cup yang menyembul dari balik blus yang terbuka itu memiliki bentuk yang terlalu sempurna. Bahkan dari balik kain pakaian pun keindahan bentuknya sudah terlihat jelas.


"Karena kamu sudah memujiku... aku akan melakukannya lebih intens lagi, Masaki-kun."


Takaya menyeringai, lalu menekan payudaranya dengan kuat dan menggeseknya dengan keras.


"Uooooh, kalau dilakukan seperti itu...!"


"Wah... Masaki-kun, kamu terlihat sangat menikmatinya ya..."


"Nakaba-kun, miliknya jadi semakin besar... nnh, nnnh... ♡"


Dijepit oleh empat payudara adalah hal yang sudah sering kulakukan bersama Tsubasa bersaudara maupun Nagami bersaudara—namun, dijepit oleh payudara kembar yang ukurannya sangat berbeda memberikan sensasi yang benar-benar baru. Kemaluanku digesek berkali-kali, sementara Takaya dan Naraka terus menekan dada mereka dengan penuh konsentrasi.


"M-mungkin ini juga bagus... ♡"


"Wah, Onee-chan berani sekali... erotis sekali... ♡"


Takaya menggesekkan ujung dadanya yang berukuran C-cup, yaitu ujung putingnya yang cantik, ke bagian ujung kemaluanku. Tentu saja, di saat yang sama payudara Naraka tetap menyerang—memeras dan menjepitnya mulai dari pangkal hingga bagian tengah kemaluanku.


"Nnh, masih bertambah besar..."


"Ternyata ini bisa jadi sebesar ini ya... hebat sekali..."


Takaya dan Naraka bersaudara sepertinya benar-benar bergairah karena ini adalah pertama kalinya mereka melakukan paizuri dan pertama kalinya menjepit kemaluan pria.


"Ta-Takaya, kalau kamu bisa memasang wajah seerotis ini... bukankah kamu bisa menebarkan daya tarik seksual saat menari?"


"Bo-bodoh, aku tidak bisa memasang wajah mesum kalau tidak sedang melakukan hal seperti ini... mungkin aku masih belum paham sepenuhnya..."


"Ka-kalau begitu... haruskah kita mencoba hal yang lebih jauh lagi, Onee-chan?"


"Eh, hal seperti apa..."


"Mencoba hal yang benar-benar memalukan... mungkin?"


"Ka-kalau Naraka tidak keberatan... aku mau saja. Aku tidak akan bisa menjadi gadis yang erotis jika tidak melakukan hal yang sangat memalukan..."


"............"


Percakapan terus berlanjut di antara Takaya bersaudara. Aku rasa tidak banyak hal yang lebih memalukan daripada melakukan paizuri berdua sebagai saudara, tapi...


"He-hei, Masaki-kun?"


"Tu-tunggu, apa kamu akan bertanya padaku?"


"Habisnya... aku tidak punya banyak pengetahuan soal itu. Misalnya saja..."


Takaya melirik ke arah adiknya.


"Be-benar juga... Nakaba-kun, misalnya, apakah ada sesuatu yang terlalu memalukan sehingga kamu tidak berani memintanya kepada Yuzuki-san dan Fuuka-san, atau kepada para pelayan itu?"


"Hal semacam itu..."


Aku memang belum melewati batas akhir dengan Yuzuki dan yang lainnya, dan dengan para pelayan pun aku hanya menikmati dada dan bokong mereka. 


Sebagai pemuda SMA yang normal, aku juga punya sedikit pengetahuan seksual. Tentu ada hal-hal yang ingin kucoba, tapi karena Yuzuki dan yang lainnya sangat berharga bagiku, aku tidak bisa meminta mereka melakukan hal yang terlalu memalukan. Jika aku harus menyebutkan "hal yang terlalu memalukan" itu—


"I-ini bukannya agak mustahil ya...?"


"Tapi, kalau tidak sampai begini...Onee-chan, ayo semangat..."


"Meski aku sendiri yang memintanya, apa kalian serius...?"


Takaya dan Naraka sama-sama berbaring di lantai ruang tamu. Namun, mereka berbaring dengan posisi kaki diangkat tinggi-tinggi hingga tubuh mereka tampak terlipat. Mereka memegang paha sendiri dan mengangkatnya sampai ujung kaki berada di dekat kepala—


Rok mini dan rok sebetis mereka tersingkap lebar, memperlihatkan celana dalam hitam milik Takaya serta celana dalam motif garis-garis merah muda dan putih milik Naraka dengan sangat jelas. Posisi semalu ini mungkin tidak pernah mereka lakukan sekali pun seumur hidup.


"A-aku sering melakukan posisi seperti ini saat peregangan, jadi aku sudah terbiasa, tapi tetap saja..."


"Kalau dipikir-pikir... Takaya memang melakukannya dengan sangat ringan."


"A-aku mungkin agak kesulitan... karena tidak seperti Onee-chan, tubuhku kaku..."


Sebagai seorang penari, Takaya memang bisa melakukan posisi sempit ini dengan sangat mudah. Namun bagi Naraka yang tampaknya jarang berolahraga karena mengurung diri, ini mungkin terasa berat dalam arti yang berbeda.


"Kalau begitu... tidak apa-apa, kan?"


"I-iya... karena sudah kepalang basah..."


"A-aku juga tidak apa-apa... fuaa ♡"


Aku segera menjangkau bagian bawah tubuh Takaya dan Naraka yang sedang terangkat—tepat ke arah celana dalam mereka. Tentu saja aku tidak melepas celana dalam itu, melainkan menyentuh bagian sensitif tersebut dari balik kain. Tadi mereka sudah memuaskanku dengan payudara mereka yang luar biasa, jadi sekarang giliranku.


"Sekarang giliranku melakukan ini pada Takaya dan Naraka..."


"P-panggil aku... khusus sekarang, panggil Riina saja..."


"Kalau begitu Riina... Naraka... aku akan membelai kalian dari balik celana dalam."


"Ja-jangan dikatakan dengan gamblang begitu! ♡"


"Bo-boleh... belai saja... ♡"


Aku menyentuh bagian itu dari balik celana dalam mereka, menggunakan ujung jari untuk mengusap dan memainkannya. Bagian itu sudah sangat basah, hingga suara becek terdengar pelan.


"Ah, ah... ini m-memalukan sekali, Masaki-kun...!"


"Aku juga... nnh, memalukan sekali... annh ♡"


Riina maupun Naraka sepertinya sangat menikmatinya, tubuh mereka menggeliat hebat. Dada C-cup Riina berguncang kenyal, sementara dada H-cup Naraka bergoyang lebih dahsyat lagi. Melihat pemandangan itu membuatku semakin bergairah, dan gerakan jariku pun semakin intens. Aku terus membelai mereka dengan gencar dari balik kain celana dalam itu—


"Ha-hanya sampai di sini, kan... Tidak boleh sampai akhir... ♡"


"Bi-biar kami yang... melakukan milik Nakaba-kun... ♡"


Riina dan Naraka memutar tubuh menghadapku, lalu mengulurkan tangan untuk menggenggam kemaluanku. Kemaluanku digesek oleh tangan si kembar, sementara aku pun terus membelai mereka dengan liar dari balik celana dalam.


"Ah... aahhh ♡"


"Annh... aku sudah tidak tahan ♡"


Sret! Tanpa sengaja tanganku tergelincir masuk ke dalam celana dalam Riina dan Naraka secara bersamaan. Di saat yang sama, tangan mereka menggenggam erat dan menggesek kemaluanku dengan kuat ke atas—


"Su-sudah tidak tahan lagi...! Riina, Naraka...!"


"To-tolong, Masaki-kun! Be-berikan di wajahku...!"


"A-apakah tidak apa-apa?"


"Nakaba-kun, berikan di wajah Onee-chan...!"


"Bahkan Naraka pun ikut-ikutan... kh!"


Aku bergegas berdiri dan mengarahkan ujung kemaluanku yang menegang hebat ke wajah cantik Riina. Seketika itu juga, aku membiarkan hasratku meledak—


"Kyaa, ah... nnh... a-airnya panas...!"


Cairan kental yang menyembur deras itu mengotori wajah Riina.


"Hebat, banyak sekali di wajah Onee-chan..."


"Ah, sudahlah, Naraka..."


Naraka bangun perlahan, lalu mulai menjilati cairan yang ada di wajah Riina.


"Entah kenapa, akhirnya selalu berakhir dengan menyemprot wajah Riina dan dijilati oleh orang lain..."


"Haa... luar biasa... Masaki-kun, terima kasih..."


"T-tidak, aku yang seharusnya berterima kasih..."


Meskipun aku bukan pacarnya, aku bukan saja merasakan kenikmatan sehebat ini, tapi malah diberi ucapan terima kasih. Rasanya ada sedikit rasa bersalah yang mengganjal, tapi...


"Riina... ah, aku harus memanggilmu Takaya lagi."


"Ti-tidak apa-apa kalau tidak diubah, tapi... tidak, bagaimanapun juga aku melakukan ini demi tarian, dan Masaki-kun adalah pacar Yuzu dan Fuuka..."


"Benar, aku kan cuma bonus dari Onee-chan..."


"Dengan ini, untuk sementara selesai ya... cup ♡"


"Iya, mari kita akhiri... cup ♡"


"............"


Riina dan Naraka bangun dan mencium pipiku secara bersamaan. Suara kecupan ringan terdengar, dibarengi dengan sensasi lembut yang meresap. Benar, aku melakukan ini demi Riina, sahabat dari kekasihku, Yuzuki. Sedangkan Naraka hanyalah "bonus" dari sahabat tersebut—


Aku sebenarnya tidak ingin menganggapnya sebagai bonus, tapi mau bagaimana lagi kalau mereka sendiri yang mengatakannya.


"Haa, tadi benar-benar hebat..."


"Onee-chan, kamu terlihat sangat mesum lho..."


Riina duduk bersimpuh di lantai dengan sisa cairan kental yang masih tertinggal di wajahnya. Di sampingnya, Naraka juga tampak terbuai—keduanya kini memancarkan daya tarik seksual yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Namun, apakah hal ini benar-benar akan menyelesaikan masalah yang ada—aku sendiri masih belum tahu.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close