NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Suki na Ko ni Kokuttara, Futago no Imouto ga Omake de Tsuitekita V3 Chapter 8

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Chapter 8

Bahkan Bagi Si Kembar pun, Ada Hal yang Tidak Bisa Dikompromikan

"Ahahaha, ceritanya benar-benar berubah total ya."


"Fufufu, dua karakter utamanya jadi terasa seperti orang yang berbeda."


"Hei, hei, ini bukan bahan tertawaan! Kalau begini latihannya harus diulang dari awal!"


Tiga hari setelah aku mandi bersama saudari Takaya. Naraka menyerahkan "naskah revisi" darinya. Benar-benar ditulis ulang sama anak itu....


Sekarang jam sembilan malam setelah makan malam, di ruang tamu keluarga Tsubasa. Naraka yang berada di kamar sebelah mengirimkan draf revisinya melalui surel, dan kami bertiga sedang membacanya setelah mencetaknya. Yuzuki memakai kamisol dan celana pendek, sementara Fuuka memakai kaus lengan panjang dan legging—keduanya mengenakan pakaian santai rumah mereka.


"Tidak apa-apa, kan? Dialog kami memang berubah total, tapi untuk karakter lain, dialog dan pergerakannya tidak banyak berubah kok."


"Benar-benar hebat, ya, penulis yang sudah menerbitkan buku. Dia 

melakukan penyesuaian tanpa memberi beban berat pada para aktor."


"Tunggu dulu lah. Beban untuk Yuzuki dan Fuuka itu lumayan besar... eh, tidak juga ya. Bagi kalian berdua, menghafal ulang dialog pasti perkara sepele."


Dialog di naskah sebelumnya saja bisa mereka hafal dalam sehari tanpa dilebih-lebihkan. Karena ada beberapa bagian dialog lama yang masih dipertahankan, mungkin dalam waktu setengah hari saja mereka sudah bisa menghafalnya.


"Baiklah, anggap saja soal menghafal dialog tidak masalah. Tapi, isi ceritanya—"


"Ada apa, Masaki?"


"Masaki-san, ada bagian yang mengganjal?"


"Bagian yang mengganjal... ya pasti ada lah."


Aku menepuk naskah hasil cetakan itu dengan keras.


"Karakter si kembar kakak-beradik ini memang berubah, tapi yang terpenting adalah──"


Bahkan hanya dengan membaca sekilas, ada perubahan yang terlalu mencolok.


"Padahal di naskah awal jumlah dialog si kakak dan si adik benar-benar seimbang seolah ditimbang dengan timbangan, tapi di sini jelas sekali kalau si kakak yang jadi fokus utama."


Meskipun awalnya direncanakan sebagai peran utama ganda, sangat jelas bahwa sekarang protagonisnya mengerucut ke satu orang. Sosok kakak perempuan yang menyamar menjadi ksatria dan menantang perdana menteri jahat──di akhir cerita, dia menghadapi perdana menteri itu sendirian.


Pada naskah sebelumnya, kakak perempuan yang menjadi ksatria dan adik laki-laki yang menjadi dayang bekerja sama melawan sang perdana menteri. Namun sekarang, si adik laki-laki malah gugur di tengah jalan, dan hanya si kakak yang berdiri menghadapi serta mengalahkan perdana menteri itu. Bukannya bukan pemeran utama lagi, si adik laki-laki malah cuma jadi sekadar pelengkap untuk menonjolkan si kakak....


"Tunggu sebentar. Telepon saja ya. Eh... halo, Naraka?"


Naraka ada di kamar sebelah, tapi karena malas bergerak, aku meneleponnya saja.


『Ada apa, Nakaba-kun?』


"Naraka, aku sudah baca naskah revisinya. Ini ceritanya berubah jauh, kan?"


『Alur ceritanya tidak banyak berubah kok. Cuma peran utamanya saja yang sekarang fokus ke ksatria penyamar.』


"Itu dia masalahnya. Kenapa tiba-tiba berubah jadi begini..."


『Aku merasa telah membuka 'pintu baru' setelah melihat Onee-chan ditundukkan dan diperlakukan begitu rupa oleh sang Raja Iblis.』


"Pintu baru...?"


Dia mulai meracau hal aneh lagi. Apa ini gara-gara aku memaksa dan melakukan macam-macam pada Riina di kamar mandi kemarin?


『Aku ingin perdana menteri jahat itu melakukan segala kejahatannya sampai batas maksimal. Tapi, kalau yang disiksa adalah si adik yang menjadi dayang feminin, suasananya bakal jadi terlalu kelam. Tidakkah kau pikir perkembangan cerita di mana ksatria penyamar yang kuat dan mulia disudutkan oleh perdana menteri, lalu dia melakukan serangan balik yang gagah itu sangat membakar semangat?』


"Y-yah, aku paham maksudmu, tapi... apa tidak bisa si dayang penyamar diberi peran yang lebih besar juga, biar peran utama gandanya tetap jalan?"


『Bisa saja sih, tapi aku ingin menonjolkan ksatria penyamar itu. Bagiku, rasanya lebih pas begitu. Lagipula, Kakak adalah 'Tuhan' bagiku.』


"...Sepertinya hari di mana kau bisa lepas dari kakakmu masih jauh ya."


Bagi Naraka yang sangat memuja kakaknya, menjadikan si kakak sebagai pemeran utama memang sudah seperti takdir.... Sepertinya sulit untuk membuat Naraka mengembalikan naskah ini ke versi semula.


"Ah, Masaki, biar aku bicara sebentar di telepon."


"Eh?"


"Nyara, naskah barunya menarik. Terima kasih, ini bakal jadi drama yang lebih bagus."


"Ini Fuuka. Menurutku juga ceritanya menarik. Luar biasa ya, Naraka-san."


『I-iya. Maaf ya kalian berdua atas perubahan mendadaknya. Aku juga menantikan pertunjukannya.』


Panggilan dengan tetangga sebelah pun berakhir.


Revisi naskah di saat seperti ini memang bermasalah—tapi aku harus mengakui kalau ceritanya jadi lebih menarik. Hanya saja, jika ingin memakai naskah ini, ada hal yang harus kupastikan dulu.


"Aku paham alasan Naraka, tapi... sekarang karakter ksatria penyamar yang diperankan Yuzuki jadi satu-satunya pemeran utama. Apa tidak apa-apa kalau Yuzuki tetap jadi pemeran utamanya?"


"Ah, kalau itu tidak boleh."


"Fuuka?"


Mendengar penolakan yang begitu santai dan mendadak itu, aku hanya bisa tertegun melongo.


"Jika ksatria penyamar sang kakak yang menjadi tokoh utama, aku juga ingin memainkan peran itu."


"Yah, benar juga."


Yuzuki pun mengangguk setuju.


"Fuuka juga awalnya adalah pemeran utama, jadi dia tidak akan terima begitu saja jika tiba-tiba diubah menjadi pemeran pendukung tanpa ada kesalahan apa pun. Kalau aku berada di posisi Fuuka, aku juga pasti tidak akan terima."


"Benar, aku tidak bisa menerimanya."


"............"


Karena Fuuka terlihat pendiam, kupikir dia akan menerima saja dengan biasa meski batal jadi pemeran utama. Ternyata Yuzuki memahami perasaan adiknya──atau lebih tepatnya, karena mereka adalah Dual Twin, Yuzuki bisa merasakan perasaan Fuuka tanpa perlu penjelasan khusus.


"Jadi maksudnya, mulai sekarang kalian akan menentukan ulang siapa antara Yuzuki atau Fuuka yang akan jadi pemeran utama...?"


Saat aku bertanya dengan ragu-ragu, Yuzuki dan Fuuka mengangguk bersamaan tanpa beban sedikit pun.


Oi, oi, kalian berdua serius, kan...?


"Sekadar mengingatkan, festival sekolah tinggal seminggu lagi, lho."


Benar, waktu terus berjalan tanpa ampun, dan bisa dibilang hari H sudah di depan mata. Jadwal festival sekolah kami yang diadakan di bulan September—tak lama setelah libur musim panas usai—memang agak tidak masuk akal. Tapi percuma saja mengeluh sekarang.


"Satu minggu itu malah terasa terlalu lama."


"Satu hari saja sudah cukup untuk menghafal ulang dialog."


"Sekali latihan menyeluruh, gerak-gerik di panggung pun pasti bisa langsung dihafal."


"Kami ingin Masaki-san menemani latihan sekali saja. Karena akan banyak interaksi dengan Anda."


"Kalau cuma itu, aku akan menemani kalian berapa kali pun... tapi apa benar-benar tidak apa-apa?"


Rasanya tidak pantas aku bicara begitu, padahal dialogku sendiri sedikit dan aktingku pun belum matang. Tapi, kurasa waktu seminggu itu tidak bisa dibilang cukup....


"Hei, Fuuka. Tidak apa-apa begitu, kan?"


"Iya, Yuzu-nee. Tidak ada cara lain."


"............?"


Yuzuki dan Fuuka saling menatap, lalu mengangguk bersamaan. Apa-apaan, apa yang kalian pahami hanya berdua saja?


Saat aku sedang bingung──


"Aku dan Fuuka ingin Masaki yang memutuskan siapa yang akan jadi pemeran utama."


"Masaki-san, tolong putuskan siapa yang sebaiknya jadi pemeran utama, aku atau Yuzu-nee."


"Aku!?"


Saking terkejutnya, aku refleks berdiri dari sofa. Meski begitu, si kembar tidak tampak terusik, malah mereka berdua tersenyum lebar secara serempak.


"Aku tidak ingin menyerahkan posisi pemeran utama."


"Aku juga tidak berniat menyerahkan posisi pemeran utama, lho."


Yuzuki dan Fuuka tersenyum manis dan nada bicara mereka terdengar ceria, tapi apa yang mereka katakan sangat agresif.


"Kami memang kembar yang selalu rukun dan selalu bisa saling memahami."


"Tapi bukan berarti kami tidak pernah bersaing sama sekali."


"......Kupikir Yuzuki dan Fuuka selalu berbagi apa saja."


Tidak, mana mungkin begitu. Mau itu Dual Twin, kembar takdir, atau prinsip "dua dalam satu, satu dalam dua" sekalipun. Tsubasa Yuzuki dan Tsubasa Fuuka tetaplah dua individu yang berbeda. Hal itu sebenarnya sudah sangat jelas tanpa perlu dipikirkan lagi.


Tapi aku sempat benar-benar berasumsi bahwa Yuzuki dan Fuuka tidak akan pernah memperebutkan satu hal yang sama. Aku mengira saat di mana aku dipaksa memilih itu masih sangat lama──


Aku tidak akan pernah melepaskan Yuzuki maupun Fuuka. Tapi itu bukan berarti aku tidak perlu memilih apa pun. Tidak mungkin ada urusan yang semudah itu.


Aku mengencani dua gadis, dan hari di mana aku harus memilih siapa yang akan kulakukan "sampai akhir" lebih dulu──hari itu pasti akan datang. Sebelum hari itu tiba, kesempatan untuk memilih di antara si kembar pasti akan datang lebih dari sekali. Karena itulah, si kembar menyerahkan tugas padaku untuk memilih pemeran utama drama panggung ini. Mungkin bagi Yuzuki dan Fuuka, pilihan ini hanyalah sebuah "latihan".


"Kalau begitu, Fuuka."


"Iya, Yuzu-nee."


Mereka berdua bangkit dari sofa dan berjalan menuju pintu kamar.


"Yuzuki, Fuuka, apa yang mau kalian lakukan...?"


"Ah, benar juga. Kalau tidak dijelaskan, Masaki tidak akan paham ya."


Yuzuki mendadak berhenti dan menoleh, Fuuka pun melakukan hal yang sama.


"Kami akan menunggu di kamar kami masing-masing."


"Jika Masaki sudah memutuskan siapa di antara kami yang sebaiknya menjadi pemeran utama,"


“"Datanglah ke kamar dia yang kau pilih──mari kita buat keputusan akhirnya, Tuan Perdana Menteri."”


Mereka berdua mengucapkannya secara serempak tanpa ada kesan sedih sedikit pun, memberikan senyuman padaku, lalu mereka keluar dari ruang tamu bersama-sama.


"............"


Aku menyandarkan tubuhku dalam-dalam ke sofa. Tiba-tiba saja Naraka menulis ulang naskah, dan sekarang malah jadi perkembangan yang mendadak begini. Aku belum siap mental──tapi hal yang tidak terduga memang bisa terjadi kapan saja tanpa peringatan. Aku pun tiba-tiba menyatakan cinta pada Yuzuki sepulang sekolah hari itu. Yuzuki dan Fuuka pun pasti tidak pernah membayangkan kalau hari itu mereka akan tiba-tiba mengungkapkan perasaan masing-masing.


Aku harus memberikan jawaban atas pilihan yang disodorkan padaku. Seperti saat Yuzuki dan Fuuka memberiku jawaban hari itu.


"Siapa yang harus kupilih, Yuzuki atau Fuuka...?"


Hanya sebuah peran utama dalam drama festival sekolah, tapi ini adalah peran utama. Bagiku, memilih antara Yuzuki atau Fuuka adalah pilihan yang terlalu besar. 


Situasinya benar-benar berbeda dengan saat Fuuka tertinggal sendiri di kediaman utama keluarga Tsubasa dan aku pergi menjemputnya. Saat itu Yuzuki juga membantuku, dan itu adalah perjuangan untuk membawa mereka berdua kembali ke sisiku. Tapi hari ini, ini adalah tentang aku memilih salah satu di antara mereka berdua──secara berlebihan bisa dibilang ini adalah sebuah "ujian".


"Ini adalah ujian yang sulit, tapi Masaki-sama pasti bisa menyelesaikannya."


"Karena Masaki-sama memiliki Double Mind."


"Muncul juga kalian..."


Seolah bergantian, kali ini Asa dan Yuu muncul di ruang tamu.


Benar juga, aku memiliki dua kepribadian yang bisa memikirkan hal berbeda di saat bersamaan──singkatnya, aku bisa melakukan rapat di dalam otakku sendiri. Aku bisa mengadu argumen yang saling bertentangan di dalam diri untuk menarik sebuah kesimpulan.


"Bagi orang lain mungkin ini hal sepele. Tapi, ini bukan masalah sederhana."


"Dengan segala hormat, kami memahaminya. Namun, bukankah Masaki-sama sudah bisa memberikan jawaban?"


"Mohon maaf jika lancang, tapi saya dan Asa telah memperhatikan Masaki-sama dan para Ojou-sama sepanjang musim panas ini."


"......Sebenarnya akhir-akhir ini, aku merasa lebih menyukai Yuu."


Aku mengatakannya tanpa menatap kedua pelayan itu. Mungkin tidak perlu dikatakan sekarang, tapi pikiran itu tiba-tiba melintas dan keluar begitu saja dari mulutku. Perasaan yang sedikit condong ke arah Yuu ini bukan karena alasan yang spesifik. Hanya saja, entah kenapa aku menghabiskan waktu sedikit lebih banyak dengan Yuu, dan saat "latihan" waktu itu pun, aku menikmati tubuh Yuu dengan lebih teliti. Kemarin aku sempat menyangkalnya, tapi sebenarnya aku memang memiliki kesadaran akan hal itu.


"Saya rasa itu hal yang wajar."


Yang membungkuk dan mengatakan itu adalah Asa.


"Berbeda dengan para Nona Muda, kami bukanlah Dual Twin maupun Destiny Twins."


"Selama kami adalah dua keberadaan yang berbeda, wajar saja jika kasih sayang Anda cenderung berat sebelah kepada salah satu dari kami."


"Ka-kasih sayang...?"


Memangnya aku ini siapa sampai bicara soal kasih sayang begitu?


"Di satu sisi, saya merasa senang karena dimanjakan lebih banyak daripada Asa."


"Namun di sisi lain, saya merasa sedih karena tidak mendapatkan kasih sayang sebanyak Yuu."


"Meskipun begitu, memberikan peringkat pada kami adalah hal yang wajar."


"Ini hanyalah soal Yuu yang menang, dan saya yang kalah."


"Hanya soal itu, katamu..."


Padahal ini adalah fakta yang kuberanikan diri untuk diucapkan, tapi Asa dan Yuu sama sekali tidak tampak goyah.


"Ke depannya, silakan manjakan Yuu yang menjadi favorit Anda lebih banyak lagi. Tentu saja, silakan gunakan tubuh Asa ini kapan pun untuk latihan."


"Benar, saya sendiri pasti tidak akan cukup. Silakan manjakan Asa juga sepuasnya."


"Bagiku, Asa maupun Yuu, aku masih membutuhkan kalian berdua."


Hanya itu yang sanggup kuucapkan untuk saat ini. Rasanya menyedihkan karena aku bahkan tidak bisa membela Asa, tapi──


”"Masaki-sama, Anda sudah menemukan jawabannya, kan?"”


"Kalian cepat sekali menyadarinya. Benar, sebenarnya sebelum bicara dengan kalian pun jawabannya sudah ada, dan tadi aku bicara sambil merapikan pikiranku."


Bisa melakukan rapat dengan dua kepribadian itu benar-benar praktis. Tidak perlu merasa bimbang itu ada bagusnya, tapi terasa sedikit kesepian juga....


"Karena jawabannya sudah ada, aku tidak boleh membiarkan mereka menunggu lebih lama."


Begitu aku berdiri, Asa dan Yuu berdiri di sisi kiri dan kanan pintu ruang tamu. Mereka mengangkat ujung rok dan membungkuk hormat, menuntunku menuju pintu tersebut. Sisanya, aku hanya perlu melewati Asa dan Yuu, lalu pergi menuju kamarnya.



Aku membuka pintu tanpa ragu dan melangkah masuk ke dalam ruangan. Kamar di balik pintu itu temaram, hanya lampu di samping tempat tidur yang menyala.


"Jadi kau benar-benar memilihku?"


"......Sejak awal, yang memerankan ksatria itu kan Yuzuki."


Aku menyapa Yuzuki yang sedang duduk di tempat tidur. Ia mengenakan pakaian santai yang sama seperti tadi, kamisol dan celana pendek. Bahu, belahan dada, dan pahanya terlihat jelas──pakaian yang sangat tidak waspada, dan mungkin melihatnya dalam sosok seperti ini saja sudah merupakan keberuntungan besar.


"Yuzuki-lah yang harus melakukannya. Drama ini adalah acara kelas, sebaiknya kita tidak merepotkan teman sekelas yang lain sebisa mungkin. Revisi naskah Naraka pasti akan mengejutkan semua orang, jadi lebih baik Yuzuki yang melakukannya demi menghemat tenaga."


"Alasan jujurnya?"


"Aku ingin melihat sosok Yuzuki yang menjadi pemeran utama."


"............"


Yuzuki tersenyum tipis dan mengangguk pelan. Alasan formal yang panjang itu bukanlah bohong, tapi kejujuran yang singkat itulah yang lebih penting. Aku tidak bimbang berhari-hari. Malahan, aku hanya memikirkannya selama beberapa menit. Jawabannya sangat sederhana, dan bisa dibilang bukan sesuatu yang perlu dipusingkan. Jawaban yang ada dalam diriku benar-benar sesuai dengan apa yang baru saja kukatakan.


"Aku juga akan berdiri di panggung itu. Saat aku membayangkan ksatria wanita yang menantangku sebagai bos terakhir yang jahat, hanya sosok Yuzuki yang muncul di pikiranku..."


"Begitu ya."


Yuzuki hanya menjawab singkat. Untuk Yuzuki yang biasanya ceria dan berisik, reaksi ini terasa terlalu tenang. Persis seperti Fuuka──


"Ah, benar juga. Aku harus bicara pada Fuuka dulu..."


"Tidak perlu. Fuuka sudah keluar kamar. Sepertinya dia pergi ke kamar pelayan."


"Eh? Kenapa kau tahu?"


"Dinding kamar ini memang tebal, tapi setidaknya aku tahu kalau pintu dibuka. Kau tidak menyadarinya?"


"......Aku tidak sadar."


Mungkin aku terlalu tegang. Padahal aku juga tinggal di rumah ini, aku tahu suara pintu yang terbuka pasti akan menggema. Seharusnya aku menyadari suara langkah kaki di lorong juga.


"Aku... telah menyakiti Fuuka, ya."


"Masaki tidak perlu memikirkannya. Kamilah yang memaksamu untuk memilih."


"Meskipun begitu...!"


Aku melangkah mendekati Yuzuki dan memegang bahunya yang ramping.


"Lagipula... yang terluka bukan hanya Fuuka."


"Apa maksudmu──o-oh, benar juga! Dual Twin...!"


Si kembar ini berbagi emosi. Orang yang dicintai Yuzuki juga dicintai oleh Fuuka, dan orang yang dicintai Fuuka juga dicintai oleh Yuzuki. Yuzuki dan Fuuka masing-masing membawa beban perasaan saudara kembarnya di saat yang bersamaan. Sama halnya dengan itu. Jika Fuuka terluka, maka Yuzuki pun akan ikut merasa terluka──


"Karena itu, jika kau bersikap lembut padaku, Fuuka juga akan merasa diperlakukan dengan lembut."


"Lalu aku... harus bagaimana...?"


"Tadi kan sudah kubilang. Bersikaplah lembut... padaku?"


Yuzuki masih duduk di tepi tempat tidur, mendongak menatap wajahku sambil melemparkan senyum penuh arti. Aku tidak sebodoh itu sampai tidak paham makna di balik senyumannya. Tidak, awalnya aku memang tidak paham sedikit pun soal perasaan wanita, tapi aku tidak boleh terus-menerus tidak peka. Karena aku mengencani si kembar yang berbagi emosi ini, dan aku ingin terus bersama mereka berdua selamanya. Kejadian yang menyakiti perasaan mereka seperti ini pasti tidak akan berhenti di sini saja.


Meski begitu, agar tidak kehilangan mereka, aku harus melakukan apa yang harus kulakukan──


"Ngh..."


Sambil merangkul bahu Yuzuki, aku menempelkan bibirku ke bibirnya. Hanya ini yang bisa kulakukan──tapi bagiku, inilah satu-satunya cara untuk menyampaikan perasaanku kepada mereka.


"Freya, pencahayaan Moonshine."


【Dimengerti, mengubah pencahayaan ke Moonshine.】


Speaker pintar itu merespons suara Yuzuki, dan seketika lampu berubah menjadi cahaya temaram yang lembut, seolah cahaya bulan menyelinap masuk seperti malam itu.


"Kesedihan Fuuka tersampaikan padaku. Tapi, rasa bahagia karena dipilih oleh Masaki yang sedang kurasakan ini, Fuuka pun juga merasakannya."


"Rasa bahagia..."


"Hapuskan kesedihanku. Penuhi aku hanya dengan kebahagiaan. Jika kau melakukannya, hati Fuuka pun akan ikut terpenuhi."


"Begitu ya... jika memang itu yang kau inginkan."


"Tentu saja. Tapi, aku punya satu permintaan."


Di bawah cahaya temaram, Yuzuki melepas kamisolnya, lalu melepas celana pendeknya. Kini ia hanya mengenakan sehelai celana dalam merah muda yang imut. Yuzuki berdiri di atas lantai, merentangkan kedua tangannya seolah ingin memamerkan kulitnya yang putih bersih itu. Meski rasanya sangat tidak cocok dengan karakterku dan terdengar seperti gombalan murahan yang bahkan tidak sudi kuucapkan sebagai candaan sekalipun. Namun, saat ia berdiri di bawah cahaya lembut yang menyerupai sinar bulan itu, ia benar-benar terlihat bagaikan seorang dewi──


"Malam ini, lihatlah seluruh bagian tubuhku. Manjakanlah aku sambil memandangi semuanya, ya."


"...Kau sangat manis, Yuzuki."


Aku merebahkan Yuzuki yang tubuhnya sudah terekspos itu ke atas tempat tidur. Aku menciumnya, memeluknya erat, lalu membiarkan bibirku menjalar di lehernya.


"Ha... haah ♡"


Saat aku menjilat lehernya dan memberikan isapan kecil, Yuzuki mengeluarkan desahan manis.


"Kalau dipikir-pikir, melakukannya hanya dengan Yuzuki seorang... sudah lama sekali sampai aku lupa kapan terakhir kali."


"Habisnya Masaki selalu melakukannya dengan dua orang atau lebih, sih."


"Itu juga sebenarnya situasi yang gila, ya..."


"Bukan hal yang buruk, kok. Ngh ♡"


Yuzuki melingkarkan lengannya di punggungku, dan kami saling mendekap satu sama lain. Kami berpelukan sangat erat seolah ingin melebur menjadi satu, hingga sensasi dada telanjang kami saling bersentuhan. Setelah berpelukan erat, aku sedikit menjauhkan tubuh──


"Lagi, seperti biasanya... isap payudaraku lebih dari biasanya ♡"


"Tanpa kau minta pun akan kulakukan."


Aku meremas payudara cup G milik Yuzuki, lalu mengulum putingnya dengan bibir dan mulai mengisapnya. Aku menghisap putingnya hingga mengeluarkan suara, sambil meremas dadanya dengan gerakan yang nyaris kasar. Meski dalam posisi berbaring, payudaranya tetap kencang dan tidak melorot ke samping; aku meremasnya, lalu memberikan gigitan kecil yang menggoda pada putingnya yang imut.


"Ngh, haah... ka-kalau kau melakukannya sekasar itu... Fu-Fuuka juga akan merasakannya... ♡"


"Saat ini aku sedang membuat Yuzuki merasakannya. Rasakanlah... lebih dalam lagi."


"Ma-mau tidak mau aku pasti merasakannya... hah, aah ♡"


Aku melepaskan mulutku dari puting Yuzuki, lalu meremas kedua payudaranya dengan kasar menggunakan kedua tangan. Dua gumpalan besar itu berubah bentuk mengikuti gerakan tanganku, dan saat kulepaskan, semuanya membal dengan kenyal.


"Yuzuki, aku ingin lebih menempel lagi..."


"I-iya... lakukan sesukamu padaku ♡"


Aku membimbing tubuh Yuzuki untuk bangun, lalu aku duduk bersila di atas tempat tidur. Kemudian, aku memangkunya, membiarkan tubuhnya yang sangat ringan itu berada di atas lututku sambil terus berpelukan.


"Yuzuki..."


"Ngh ♡ Ngh, nchuu, nmmuhh ♡"


Sambil berpelukan dalam posisi duduk, kami saling melumat bibir dalam ciuman yang sangat intens.


"Fuah, Masaki... ngh, cium aku lagi... ♡"


Yuzuki memelukku erat, melingkarkan kedua kakinya di pinggangku. Tubuh kami menempel sempurna hingga sensasi kulitnya yang halus tersampaikan padaku──aroma manis dari rambut Yuzuki pun mulai tercium.


"Yuzuki, dadamu lagi..."


"I-iya. Isaplah sesukamu ♡"


Yuzuki sedikit menarik tubuhnya ke belakang, membuat payudaranya bergoyang pelan. Dengan lengan yang masih melingkar di punggungnya, aku mendekatkan wajah ke sisi payudara yang berbeda dari sebelumnya, lalu mengisap putingnya kuat-kuat.


"Hah, ah ♡ Kalau kau mengisapnya selembut itu, ah, annh ♡"


Rambut Yuzuki terurai berantakan seiring dengan desahan manis yang lolos dari bibirnya. Suara itu semakin membuatku bergairah; dalam puncak gairah itu, aku menggigit kecil putingnya dan menjilati ujungnya dengan ujung lidah.


"Nngh ♡ He-hebat sekali ♡ Kalau kau melakukan itu, aku ♡"


"A-aku juga sudah... tidak bisa menahannya lagi...!"


Aku mengeluarkan penisku yang sudah menegang maksimal, lalu menggosokkannya dengan kuat ke bagian intimnya dari balik celana dalam. Uooh, berkat ciuman dan permainan payudara tadi, aku sudah sangat terangsang sampai-sampai rasanya tidak puas kalau hanya lewat celana dalam begini...!


"Yu-Yuzuki, sebentar saja...!"


"La-lakukan apa pun sesukamu, tubuhku ini, lakukanlah sesukamu ♡"


Sebelum Yuzuki selesai berteriak, aku mencengkeram penisku dan menyusupkannya ke dalam celana dalamnya──membuatnya bersentuhan langsung dengan bagian intimnya, lalu mulai menggosoknya ke atas dan ke bawah. Di sana terasa hangat dan basah; setiap kali aku menggosoknya, sensasi nikmat yang menyengat menjalar ke seluruh tubuh.


"Hah, la-langsung di situuu ♡ Di-dia menyentuhnya, kalau kau melakukannya seperti itu, annh, jangan, jangan... ah, beraninya kau menggunakan bagian itu sesukamu, jangan ♡"


Meski berkata "jangan", Yuzuki sendiri ikut menggoyangkan pinggangnya, seolah sedang menikmati sensasi dari penisku.


Kami menyelaraskan ritme satu sama lain, saling menggosokkan bagian intim, dan cairan mulai meluap dari sana.


"I-ini sungguh memalukan ♡ Pa-padahal Fuuka juga pasti tahu kalau aku sedang melakukan hal sehebat ini ♡"


"Jadilah lebih hebat lagi, biar Fuuka juga tahu..."


"Bo-bodoh ♡ Masaki, kau mesum sekali ♡ Beraninya kau menjahili Fuuka sampai seperti itu, ah, adikku sayang, kau membuatnya jadi sehebat ini ♡"


"Karena kalian kembar, mendesahlah dengan hebat yang sama...!"


Aku terus menggerakkan pinggangku dengan liar sementara penisku masih terselip di dalam celana dalamnya. Aku menjilati putingnya dengan kasar, lalu melahap seluruh payudaranya ke dalam mulutku. Sambil terus memanjakan dadanya, aku merengkuh punggung halus Yuzuki, dan membiarkan tanganku menjalar ke bokongnya.


"Su-sudah tidak kuat, aku sudah... karena itu, ci-cium... cium aku lagi ♡"


"A-ah, ya..."


"Hmph, ngh, nngh— ♡"


Aku melepaskan mulutku dari payudaranya dan menyatukan bibir kami, memeluk Yuzuki erat-erat hingga tubuh kami menempel sempurna, lalu menghentakkan pinggangku seolah sedang menyodok dari bawah. Tubuh Yuzuki berguncang hebat ke atas dan ke bawah, dan payudara cup G miliknya membal dengan kenyal.


Tubuh yang luar biasa, suara yang sangat manis, gadis yang paling cantik...! Sosok Tsubasa Yuzuki yang dulu hanya bisa kupuja dari jauh, kini ada dalam pelukanku dan menyerahkan segalanya untukku. Hanya bagian yang tersembunyi di balik celana dalam merah muda itu saja yang masih tersisa sebagai──wilayah suci.


"Hah, aah ♡ Boleh saja, Masaki, tekan milikmu lebih kuat lagi ke tubuhku, di bagianku itu... berikan aku lebih banyak lagi ♡"


"Yuzuki...!"


"Se-sebut juga nama Fuuka... panggillah dia juga."


"Ya, aku mencintai Yuzuki maupun Fuuka! Meskipun aku memilihmu, tidak ada yang berubah!"


"Lakukan lebih kuat! Jika kau melakukannya dengan kuat dan kasar, Fuuka juga akan merasakannya lebih dalam ♡"


Aku menuruti permintaannya dan memberikan hentakan kuat dari bawah. Jika aku melakukan satu kesalahan saja, aku mungkin akan merampas wilayah suci itu──tapi untuk saat ini, aku masih belum bisa melakukan apa-apa di sana.


"Lebih dari segalanya, aku ingin menyampaikannya padamu. Betapa aku sangat mencintaimu...! Betapa aku sangat memuja Tsubasa Yuzuki, dan betapa aku masih mencintaimu sampai sekarang!"


"A-aku mengerti! Perasaan Masaki, sama seperti perasaan Fuuka, semuanya tersampaikan padaku, jadi lebih lagi... cium aku, akhiri ini sambil berciuman ♡"


"A-ah, ya."


Aku menyatukan bibirku dengan Yuzuki, mengisap lidahnya yang panas, dan saling melilitkan lidah di dalam mulut. Sambil bertukar ciuman yang sangat intens, aku menekan penisku kuat-kuat di dalam celana dalamnya.


"Ah, ujungnya... ngh, di situ jangan ♡"


"A-ah... kh, tapi ini sudah...!"


Rasanya terlalu nikmat hingga aku hampir saja menusuknya begitu saja, tapi untungnya hanya ujungnya saja yang sedikit masuk──seharusnya ini masih aman....


"Ngh ♡ Ngh, aah, sudah... tidak kuat ♡ Tidak boleh ♡"


"Yuzuki...!"


Terakhir, aku menggosokkan penisku dengan kuat menyusuri bagian itu, lalu aku mengeluarkan segalanya sekaligus, memuntahkan cairan itu ke atas perut putih Yuzuki.


"A-ah... rasanya panas, mengenai perutku...!"


"Ya, inilah milikku untuk Yuzuki..."


"Ehm... mmuach ♡"


Aku dan Yuzuki bertukar kecupan ringan, lalu kembali berpelukan erat. Setelah itu, aku menarik keluar penisku dari dalam celana dalamnya──dan kami berbaring berdampingan.


"Yuzuki... apakah tidak apa-apa aku begini?"


"Apa maksudmu...?"


"Aku mencintai Yuzuki. Aku juga mencintai Fuuka. Tapi kali ini, aku telah membuat urutan di antara kalian. Rasanya seolah aku hanya memeluk Yuzuki untuk menutupi hal itu──meskipun aku tidak melakukannya sampai akhir."


"Kau tidak menutupi apa-apa kok... kami senang karena kau menikmati tubuh kami."


"Begitukah...?"


Rasanya seolah hanya aku yang merasa nikmat....


"Benar begitu, aku pun sekarang... sudah tidak sanggup berdiri lagi."


"Fuuka!?"


Aku langsung bangkit di atas tempat tidur. Tanpa kusadari, pintu kamar Yuzuki telah terbuka, dan Fuuka sudah masuk ke dalam. Fuuka pun sudah melepas kaus lengan panjang dan legging yang dipakainya tadi, kini ia hanya mengenakan sehelai celana dalam putih yang anggun. Berdiri di samping tempat tidur dalam ruangan yang temaram, Fuuka pun tampak bagaikan seorang dewi──


"Ra-rasanya luar biasa sekali... aku mungkin merasakannya lebih dalam daripada saat kita melakukannya bertiga..."


Fuuka berjalan dengan langkah gontai, lalu menjatuhkan dirinya di samping Yuzuki di tempat tidur. Yuzuki dan Fuuka kini berbaring saling bertumpang tindih di atas ranjang.


"Lihat, Fuuka pun jadi seperti ini karena terlalu merasakannya ♡"


"Iya, rasanya semua pikiran seolah terbang melayang ♡"


"Fuuka, apakah kau... memaafkanku?"


"Jika melakukan hal yang tidak tegas seperti tidak memilih siapa pun, mungkin aku akan marah."


Fuuka tersenyum manis, mengambil tanganku, lalu mengecup punggung tanganku dengan lembut.


"Ini sudah benar... karena Anda juga sudah membuatku merasa sangat nikmat."


"Karena ini Dual Twin, kan. Aku menjamin kalau Fuuka tidak berbohong." 


"Begitu ya..."


Aku berbaring di antara sepasang kembar yang terlalu imut itu, yang masing-masing hanya mengenakan celana dalam merah muda dan putih.


"Aku sudah memutuskan, Yuzu-nee, Masaki-san."


"Hm...? Apa itu, Fuuka?"


"Aku ingin menang. Aku juga ingin dipilih."


Fuuka menyandarkan kepalanya di bahuku. Aroma rambutnya yang manis menggelitik hidungku──Fuuka tersenyum, dan sambil menatapku dengan tatapan sayu, ia membuka suaranya.


"Karena itu, aku akan lulus dari status sebagai 'pelengkap' Yuzu-nee."


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close