Chapter 13.5
Ujian Bakat
Sakai Fumi
Ini adalah jam istirahat setelah pelajaran ketiga
berakhir.
"Lagi baca apa?"
Saat aku menyapa, Hayasaka Akane buru-buru menyembunyikan
buku yang sedang dibacanya ke bawah meja.
"A-Ah,
Aya-chan. Bukan apa-apa kok, cuma manga biasa."
"Oh,
ya sudah."
Mungkin
dia pikir dia berhasil mengelabuhiku, tapi buku yang dibaca Akane adalah manga shoujo
yang lumayan ekstrem.
"Habis ini olahraga, ayo cepat ke ruang
ganti."
"O-Oke, ayo."
Di ruang ganti, Akane melepas pakaiannya. Pakaian
dalamnya terasa sangat dewasa.
Itu adalah pakaian dalam yang dipilih dengan kesadaran
bahwa akan ada orang lain yang melihatnya. Dia pasti sedang memikirkan hal-hal
yang biasa dilakukan oleh pasangan kekasih.
Ya ampun. Sebagai teman, biar aku saja yang
memeriksa kualifikasi Akane sebelum si kacamata Kirishima itu melakukannya.
Sambil berpikir begitu, aku melangkah keluar menuju lapangan.
"Akane-chan, ayo pemanasan bareng."
"Un, oke."
"Kalau begitu, mulai dari sendi panggul ya. Buka
kakimu, lalu berbaring telentang."
"Telentang!?"
Aku membaringkan Akane di tanah, lalu memegang kedua paha
bagian dalamnya dan menekannya hingga terbuka lebar ke arah tubuhnya.
Ternyata tidak hanya paha, sendi panggulnya pun lentur,
kakinya bisa terbuka dengan sangat sempurna.
"Aya-chan,
ini…… entah kenapa memalukan sekali……"
"Aku
cuma melakukan peregangan, kan?"
"I-Iya
juga, sih……"
Karena
Akane menganggapku sebagai gadis yang membosankan dan tidak tahu menahu soal
hal-hal seperti itu, sepertinya dia tidak menyadari kalau aku sengaja
membuatnya melakukan pose ini dengan mengasumsikan hal-hal yang dilakukan
pasangan kekasih.
Aku pun terbawa suasana dan mencoba menyisipkan tubuhku
di antara kaki Akane, lalu menindihnya.
"Eh, Aya-chan, ini……"
"Kalau ditambah berat badan, efeknya jadi lebih
bagus."
"Tidak
boleh…… entah kenapa, ini…… rasanya aneh……"
Tubuh
Akane terasa lembap, lembut, dan bahkan saat berbaring telentang pun, lekuk
dadanya masih terlihat jelas.
Pasti pria mana pun tidak akan tahan melihat ini,
pikirku.
Kesenjangan antara wajahnya yang kekanakan dengan daya
pikat seksualnya sangat luar biasa.
Kalau sampai mereka benar-benar
"melakukannya"…… pria itu pasti akan tergila-gila dengan tubuh ini.
"Maaf-maaf, entah kenapa situasinya jadi sedikit
nakal, ya."
"Eh,
Aya-chan, e-ehh!?"
"Kamu
pasti sudah membayangkan hal-hal yang aneh, kan?"
"Bukan,
bukan begitu maksudku!"
Akane
bangkit dari posisi berbaring, lalu duduk bersimpuh dan menyembunyikan wajahnya
di balik lutut.
Namun,
tak lama kemudian dia mengangkat wajahnya yang memerah dan menatapku dengan
ekspresi merajuk.
"Entah
kenapa, aku kaget. Ternyata Aya-chan bisa bicara hal seperti itu."
"Aku cuma punya ilmunya saja."
Padahal itu bohong.
"Tapi, Akane-chan, apa kamu memang ingin melakukan
hal itu?"
Saat aku bertanya langsung, Akane mengeluarkan suara
aneh, "Duehh!"
"Mana mungkin! Kamu kan tahu sendiri aku payah dalam
hal seperti itu?"
"Kalau lawan bicaranya pria sembarangan mungkin iya.
Tapi bagaimana kalau orang yang kamu sukai?"
"Itu……"
Setelah kakinya gelisah tidak karuan, Akane bergumam,
"Mungkin mau……"
Syukurlah, Kirishima. Lawannya pasti kamu, tidak
diragukan lagi.
"Kalau melakukannya, menurutmu akan jadi seperti
apa?"
"I-Itu mana aku tahu."
"Coba bayangkan."
Saat aku mendesaknya, kepala Akane mulai mengeluarkan
uap.
Dia cukup jujur karena mau membayangkannya dengan serius
saat diminta, atau mungkin dia memang mudah sekali dipengaruhi.
"Bagaimana?"
"Bagaimana
apanya…… menurutku, aku akan sangat mencintainya. Kalau kita melepas pakaian,
kulit bertemu kulit, dan merasakan dia dengan seluruh tubuhku, aku pasti akan
mencintainya sampai rasanya hampir hancur……"
"Bukan cuma kulit, tapi kamu juga bisa merasakannya
dari dalam, kan?"
"D-Dalam!?"
Akane terkejut dan tubuhnya sedikit tersentak. Namun,
dia segera melamun, matanya perlahan tampak sayu.
"Kalau aku menerima orang yang
kusukai—Kirishima-ku—sampai ke bagian terdalam, aku pasti tidak akan bisa
melepaskannya lagi. Aku pasti berpikir ingin terus seperti itu selamanya, ingin
terus menempel padanya."
Akane memasang wajah yang penuh dengan ekstasi.
"Tapi, bagaimana kalau Kirishima ternyata melakukan
hal itu duluan dengan Tachibana-sa—, maksudku, dengan gadis lain selain
Akane?"
"Eh, mana mungkin……"
Sepertinya dia juga membayangkannya, ekspresi Akane
perlahan menjadi suram dalam sekejap.
"Tidak
boleh…… itu tidak boleh…… sama sekali tidak boleh……"
"Hei,
Akane──"
Air
mata mulai menggenang di mata Akane dengan cepat.
"Maaf,
aku bicara hal aneh ya. Itu cuma kemungkinan saja, jadi pasti tidak apa-apa kok.
Yah, mungkin sih……"
Meskipun aku berkata begitu, Akane sudah tidak
mendengarkan lagi.
Dengan wajah yang hampir menangis, dia terus
bergumam.
"Harus melakukannya sebelum Tachibana-san…… kalau tidak, Kirishima-kun…… akan direbut…… Kirishima-kun……"



Post a Comment