Chapter 15
Immoral RPG
Tachibana-san sekarang sedang berendam di bathtub.
Bisa-bisanya, dia mandi di rumahku.
Kenapa bisa sampai begini?
Setelah kejadian aku ditampar oleh Tachibana-san, Ibu
pulang ke rumah. Saat melihat Tachibana-san, Ibu langsung berkata:
"Bagaimana kalau makan malam di sini saja?"
Adikku pun menyahut.
"Tachibana-san, menginap saja. Ayo kita main
bersama!"
Tak disangka, Tachibana-san mengangguk dengan semangat,
lalu dengan sigap menelepon rumahnya. Meski ada jam malam, kalau menginap di
rumah teman biasanya dianggap aman. Hal yang lumrah, bukan? Tentu saja,
statusnya di sana diatur sebagai teman perempuan.
Begitulah, akhirnya Tachibana-san menginap satu malam di
kediaman Kirishima dan kini sedang mandi di rumah kami.
Situasi yang aneh. Benar-benar sangat tidak lazim.
Siapa sangka, Tachibana-san berada di bawah atap yang
sama denganku──.
Aku sekarang sedang berada di dalam meja kotatsu
di ruang tengah. Kotatsu di akhir musim gugur memang punya daya tarik
tersendiri.
"Kita
akan begadang sambil main game dan girl talk!"
Adikku berkata begitu sambil menyiapkan konsol game.
Ibu sedang bersenandung riang di dapur.
Makan malam tadi dibuat oleh Ibu sambil mengajari
Tachibana-san cara memasak.
"Aku sudah lama ingin melakukan ini dengan pacar
anakku. Impianku akhirnya terwujud, terima kasih ya."
Di samping Ibu yang bicara begitu, Tachibana-san tampak
malu-malu saat mengupas kulit talas.
"Lain kali, ayo kita belanja bersama."
"Iya……"
Jawaban
Tachibana-san terdengar agak rumit. Dia merasa bersalah karena dirinya hanyalah
pacar dalam durasi terbatas. Namun, dia terlihat ingin ikut.
"Kita juga harus melakukan sesuatu dengan pakaian
Shiro. Tidak bisa dibiarkan kalau dia kencan dengan pakaian seperti itu,
kan?"
"Benar sekali. Kurasa dia perlu sedikit lebih
modis."
"Dia tidak punya selera, tidak ada sama
sekali."
"Shiro-kun itu tipe orang yang sok unik, dia pikir
tidak bergaya itu adalah gaya itu sendiri."
Mereka asyik mengobrol sambil menjadikan diriku sebagai
bahan pembicaraan.
Ibu tidak tahu tentang Hayasaka-san, jadi dia bisa
bersikap santai.
Di sisi lain, adikku sudah bertemu dengan keduanya
dan memahami situasinya secara utuh.
"Adikku tersayang."
Aku memanggil adikku yang sibuk menyiapkan game.
"Bagaimana
pendapatmu tentang Tachibana-san dan Hayasaka-san?"
"Keduanya
terlalu baik untuk Kakak."
"Ada salah satu yang ingin kamu jadikan kakak
ipar?"
"Wah, dasar pengecut! Meminta adik sendiri untuk
memilihkan karena tidak bisa memilih sendiri? Memalukan! Dasar sampah!"
Meskipun mengomel begitu, adikku yang perhatian pada
kakaknya ini bergumam sambil berpikir keras, "Hmm, hmmm."
"Tetap saja aku tidak bisa memilih. Kalau terpaksa,
aku ingin keduanya menjadi kakak iparku."
"Kamu serakah sekali. Dan ya, kamu memang
adikku."
Saat kami sedang mengobrol seperti itu, Tachibana-san
yang sudah selesai mandi kembali ke ruangan dengan kesan yang segar.
Dia memakai jersey-ku. Karena kakinya jenjang,
milik Ibu atau adikku tidak ada yang muat.
"Tachibana-san,
ayo main!"
"Iya."
Tachibana-san
menatapku sejenak. Namun, dia segera membuang muka. Sejak kejadian tamparan
itu, dia tidak mau bicara denganku. Dia benar-benar marah.
"Kakak
menghalangi, minggir, minggir!"
Karena
disuruh begitu, aku mengalah dari kotatsu dan mundur ke kamarku sendiri.
Aku merebahkan diri di tempat tidur dan membaca novel
misteri asing yang belum selesai. Malam pun menjadi seperti malam-malam
biasanya. Padahal Tachibana-san ada di bawah atap yang sama, tapi perhatiannya
sepenuhnya tersita oleh Ibu dan adikku. Yah, kalau mengingat apa yang kulakukan
tepat sebelum ini, memang tidak bisa disalahkan.
Sambil membalik halaman, rasa kantuk mulai menyerang.
Saat aku hampir terlelap, suara ketukan pintu membangunkanku.
"Masuk."
Tachibana-san yang masuk ke kamar.
"Bukankah tadi kamu sedang bermain dengan
adikku?"
"Dia sedang mandi."
Tachibana-san berdiri kaku dengan raut wajah sedikit
tidak senang, seolah ada sesuatu yang ingin dia katakan.
"Ada apa?"
"Tidak ada apa-apa……"
Sambil berkata begitu, dia menempelkan hidungnya ke
bahunya sendiri dan menghirup aroma tubuhnya dalam-dalam.
"Tidak perlu dihirup, jersey itu tidak bau
badanku. Isinya cuma wangi pelembut pakaian saja."
"Shiro-kun memang selalu membosankan, ya."
Ujarnya sambil meraih kantong kertas cokelat di atas
meja.
Itu adalah kondom yang ditinggalkan Hayasaka-san tadi.
"Ini, bagaimana cara pakainya?"
Tachibana-san mulai mencari tahu cara pakai dan kegunaan
benda itu di ponselnya. Tentu saja, dia juga mulai mencari tahu tentang
aktivitas yang berkaitan dengannya. Inilah momen saat seorang anak kecil yang
baru mengenal cinta menapaki satu tangga menuju kedewasaan.
Mungkin dia berniat menonton videonya untuk memastikan
seperti apa aktivitasnya.
Suara desahan wanita mulai terdengar dari ponselnya.
Untuk beberapa saat, Tachibana-san menatap layar itu
dengan saksama.
"Tachibana-san,
hidungmu berdarah."
"……Ya."
Pada
akhirnya, dia menonton dengan serius dari awal sampai akhir.
Tachibana-san
bicara sambil mengeluarkan uap panas dari kepalanya.
"Tidak
mungkin…… ini…… aku tahu sih kalau ada yang lebih dari sekadar ciuman,
tapi……"
"Bahkan
di manga shoujo pun ada adegan seperti itu kalau yang agresif,
kan?"
"Aku
kan hanya membaca yang manis-manis saja!"
Dia
membesarkan suaranya dengan wajah memerah.
"Tidak
bisa dipercaya…… tadi kamu berniat melakukan hal ini dengan
Hayasaka-san……"
"Yah……"
"Aku pernah kena mount dari Hayasaka-san. Dia
bilang dia sudah melakukan hal-hal yang intim dengan Shiro-kun."
"Kami belum sampai tahap itu…… meskipun tadi situasinya memang begitu……"
Tachibana-san terus menonton video-video tidak senonoh
itu satu demi satu. Sambil berdiri, dia terus menekan layar ponsel dengan
jarinya, matanya berputar-putar, dan kakinya mulai gelisah.
"I, ini waktu kita berpelukan di game latihan
waktu itu, saat pinggulku terangkat, aku, a, aku tidak sadar sedang memikirkan
hal seperti ini, tahu! I, itu terjadi dengan sendirinya!"
"Soal itu, bagiku sendiri, yah───"
Saat aku bicara begitu, Tachibana-san melemparkan
ponselnya ke arahku.
Sepertinya lebih baik aku tidak membahas hal itu terlalu
dalam.
"I, ini…… hal yang dilakukan orang dewasa,
kan?"
Tachibana-san tampak sangat terguncang.
"Aku menyukai Shiro-kun, tapi ini…… masih sedikit…… aku belum siap
secara mental……"
"Tidak apa-apa, kok."
"Tidak apa-apa apanya. Aku memang malu dan tidak
bisa melakukannya, tapi Shiro-kun berniat melakukannya dengan Hayasaka-san,
kan? Itu artinya……
maaf, entahlah, aku tidak bisa menjelaskan perasaan ini dengan benar."
Tachibana-san
mengerutkan kening seolah sedang berpikir keras.
"Aku
tidak ingin mengakui kalau perasaan seperti ini ada di dalam diriku."
Tachibana-san
memasukkan kembali kondom itu ke dalam kantong kertas. Setelah
menarik napas panjang──.
"Hei Shiro-kun, bagaimana kalau begini."
"Apa?"
"Ayo
kita ikut kontes Best Couple di festival budaya nanti."
"Tiba-tiba
sekali?"
Itu
adalah masalah yang seharusnya sudah selesai setelah kami memainkan game
buku catatan percintaan sebelumnya.
"Maaf,"
ujar Tachibana-san.
"Aku
jadi ingin punya kenangan kalau aku dan Shiro-kun benar-benar berpacaran."
"Tachibana-san……"
"Aku
ingin sedikit egois."
"Tapi
bagaimanapun juga, rasanya masalah kalau aku dan kamu ikut kontes
pasangan."
"Kalau
hadiahnya adalah escape game, tidak masalah. Itu kan bagian dari acara,
dan aku pakai kostum hantu, jadi bisa dianggap lucu-lucuan saja."
Apa
benar bisa dianggap lucu-lucuan?
Yanagi-senpai
dan Hayasaka-san pasti akan merasakan sesuatu, meskipun itu acara festival.
"Aku hanya ingin sekali saja menjadi pacar Shiro-kun
dengan terang-terangan. Kalau bisa berperan sebagai kekasih di atas panggung
festival budaya, menurutku itu sangat indah. Dengan kenangan itu, aku merasa
bisa bersabar meski Shiro-kun melakukan hal-hal yang sangat vulgar dengan
Hayasaka-san."
"Tidak, tapi……"
"Aku sudah memutuskan," tegas Tachibana-san.
"Aku akan jadi hadiahnya. Kalau Shiro-kun tidak
datang, aku akan ikut dengan laki-laki lain yang tidak kukenal. Apa Shiro-kun
tidak masalah dengan itu?"
"Ya masalah, lah."
Aku mengerti perasaan Tachibana-san yang ingin punya
kenangan manis layaknya sepasang kekasih.
Kalau di panggung festival budaya, memang akan berkesan.
Namun, kalau melakukan itu, Hayasaka-san mungkin akan hancur, dan yang paling
penting, Yanagi-senpai tidak akan bisa dibodohi lagi.
"Aku mengerti, Tachibana-san. Kalau kamu sampai
bicara begitu──"
Aku mengambil sebuah buku catatan dari laci meja.
Itu adalah kitab terlarang Love Note, yang berisi
banyak game agar laki-laki dan perempuan jadi lebih akrab.
"Ayo kita bertanding sekali lagi lewat game.
Kalau aku menang, Tachibana-san harus menyerah. Kalau kamu menang, aku akan
ikut kontes pasangan itu."
Mendengar usul ini, Tachibana-san berpikir sejenak sambil
memegang dagunya, lalu berkata, "Baik."
"Kalau aku menang, kamu harus berdiri bersamaku di
panggung."
"Oke."
"Lalu, game apa yang akan kita mainkan?"
Aku membuka halaman buku tersebut dan memilih sebuah game.
"Bagaimana kalau yang ini? RPG Amoral."
Tentu saja, itu bukan RPG yang dibayangkan orang awam.
Tachibana-san melihat isi catatannya dan berkata,
"Ini saja."
"Untuk hal-hal yang vulgar, aku, yah, terlalu malu
untuk melakukannya, tapi kalau lewat game, aku bisa menjadikannya
sebagai alasan……"
Ini bukan lagi pertandingan, bukankah ini hanya ajang
bermesraan?
Bagaimanapun juga──.
"Ya sudah, mari kita coba."
"Mari
kita coba."
Immoral
Role-Playing Game.
Itulah
alurnya.
◇
Jika
RPG diterjemahkan secara harfiah, artinya Role-Playing Game, permainan
peran.
Banyak
orang mengasosiasikan RPG dengan memainkan karakter yang diberi peran sebagai
pahlawan di dunia fantasi. Sekarang──.
Immoral
RPG yang ada di
dalam Love Note adalah permainan di mana dua orang memerankan peran
masing-masing. Singkatnya, bermain sandiwara.
Peran seperti kepala pelayan dan nona muda, atau pelayan
dan majikan bisa dilakukan. Tapi, kunci dari permainan ini adalah semakin
amoral perannya, semakin seru permainannya.
"Yang pertama kali merasa malu dan tidak sanggup
memerankan perannya sampai akhir, dialah yang kalah."
"Karena sadar saat bermain sandiwara itu merusak
suasana, ya."
Misalnya, saat aku menjadi kepala pelayan dan
Tachibana-san jadi nona muda, kalau aku malah memanggilnya
"Tachibana-san" alih-alih "Nona Muda", itu artinya kalah.
"Lalu, peran apa yang mau kita pakai?"
Kepala pelayan dan pelayan mungkin gampang karena
perannya sudah umum. Tapi itu sepertinya tidak cukup untuk menentukan pemenang.
"Bukankah yang dicari peran yang punya kesan
amoral?"
"Memang, tapi──"
Kami mengeluarkan beberapa ide. Presiden
dan sekretaris, anak laki-laki dan kakak perempuan, pelatih dan atlet, ratu dan
mata-mata……
Namun, semuanya terasa kurang pas. Saat aku sedang
berpikir, pandangan Tachibana-san tertuju ke atas meja. Di sana ada kalung
anjing. Itu adalah benda yang disiapkan untuk anjing Shiba Inu-ku, Hikari, saat
dia sudah besar nanti.
"Tachibana-san, jangan-jangan……"
"Sudah diputuskan."
"Ayo lakukan," ujar Tachibana-san.
"Anjing dan pemiliknya."
Aku menelan ludah.
Tachibana-san memang jenius. Ini pasti akan jadi sesuatu
yang luar biasa. Firasatku
berkata begitu.
"Lalu……
siapa yang jadi anjingnya?"
"Aku."
"Tidak,
tidak mungkin aku membiarkanmu melakukan itu."
"Lagipula,
waktu itu aku sudah membuatmu menjilat kakiku. Kali ini, giliranku yang jadi
anjingnya."
Karena
pakai jersey tidak terasa suasananya, dia pun keluar ruangan.
Saat kembali, Tachibana-san sudah berganti memakai
seragam sekolah.
Suasana macam apa ini? Kurang
lebih begitulah rasanya.
Tachibana-san memakaikan kalung itu sendiri ke lehernya,
dan aku memasang talinya.
Sebuah komposisi luar biasa tercipta: siswi SMA yang
memakai kalung anjing dan aku yang memegang talinya.
"Pertama, ayo coba sedikit saja sebagai
percobaan."
"Ya, mari kita coba perlahan."
Dengan ragu-ragu, aku menarik tali itu dan berjalan satu
putaran di dalam kamar. Tachibana-san berjalan dengan merangkak di belakangku
seperti anjing. Aku merasa seolah sesuatu dalam diriku bangkit.
Ekspresi Tachibana-san yang sedikit malu itu juga manis.
Selanjutnya, aku duduk di tempat tidur dan berkata.
"Duduk."
Namun, Tachibana-san malah mendengus dan memalingkan muka
sambil tetap merangkak.
"Tachibana-san?"
Tanpa menjawab, dia melompat ke arahku dari posisi itu.
Saat aku terjatuh ke tempat tidur, dia menindihku. Lalu, dengan tangan yang
dikepalkan seperti kaki depan anjing, dia menekan pipiku.
"H, hei!"
"Aku anjing yang nakal, tahu."
Dia terus menekan pipiku. Rasanya seperti anak kecil yang
sedang disayang oleh anjing besar sampai terjatuh dan menangis.
"Tenanglah!"
"Tidak mau."
Sambil berkata begitu, Tachibana-san menggigit leherku.
Itu adalah tempat yang tadi ditandai oleh Hayasaka-san.
"Aduh, aduh, aduh!"
Itu bukan gigitan manja. Dia
benar-benar menggigit sampai berdarah dan meninggalkan bekas gigi.
"Anjing
nakal!"
"Memang,"
ujar Tachibana-san.
"Karena
aku anjing nakal, kamu harus memukul, memarahi, dan mendidikku. Kalau
begitu, aku akan jadi anjing penurut yang akan melakukan semua perintah
tuannya."
Mata Tachibana-san terlihat sedih, seolah mengharapkan
sesuatu.
Aku mengerti. Kami sedang berada di garis tipis.
Garis tipis di mana hubunganku dengan Tachibana-san benar-benar berubah menjadi
pemilik dan anjing.
"Kalau tidak segera dididik, aku akan jadi
anjing egois yang hobi menggigit."
Tachibana-san mencoba menggigit leherku lagi.
Jadi, aku tidak punya pilihan lain──akhirnya aku
melampaui garis itu.
"Hei!"
Sambil berkata begitu, aku memukul pinggulnya. Tubuh Tachibana-san sedikit
gemetar.
"Wuf."
Tachibana-san
mengeluarkan suara yang sensual.
Karena
dia masih mencoba menggigit leherku lagi, aku memukulnya sekali lagi.
"Wuf."
Dia
menggonggong lagi. Pipi Tachibana-san memerah.
"Jadi
anjing Hikari ingin menghapus bau anjing Hayasaka?"
"Wuf,
wuf."
"Aku
mengerti perasaanmu, tapi tidak baik menyakiti pemilikmu, bukan?"
Untuk mendidiknya dengan benar, aku memukul
pinggulnya lagi. Tachibana-san kembali mengeluarkan suara yang sensual.
Suara itu membuatku merasa aneh, jadi kupukul lagi. Lalu, Tachibana-san
bersuara lagi dengan campuran rasa senang.
Tachibana-san
bukan lagi siswi SMA. Dia adalah anjing nakal.
Jadi,
aku memukulnya berkali-kali. Setiap kali aku melakukannya, pipi Tachibana-san
makin memerah dan napasnya makin tidak beraturan. Mungkin cuma perasaanku saja
kalau suara gonggongannya terdengar seperti desahan manis seperti
"Ah" atau "Aah".
Dan──.
"Kuuun."
Tachibana-san
yang sudah terdidik mulai menjilati bekas gigitannya di leherku.
"Kamu juga memukul pipi pemilikmu tadi. Itu juga tidak boleh, ya."
"Kuuun, kuuun."
Seolah meminta maaf, dia menjilati sudut bibirku yang
robek akibat tamparan tadi.
"Maaf karena sudah memukulmu berkali-kali."
Aku mendekap Tachibana-san.
"Jangan berbuat nakal lagi, ya."
"Wuf! Wuf!"
Tachibana-san berada dalam pelukanku, menggoyangkan
tubuhnya kegirangan seolah mengibaskan ekor.
Anjing betina yang lucu, bukan?
"Pintar, pintar, kamu sudah jadi anak baik."
Aku
mengusap kepala Tachibana-san. Tachibana-san bersuara riang, "Wuf,
wuf!" Dia sudah benar-benar masuk ke dalam perannya. Dan, entahlah,
meskipun aku tahu ini tidak benar──tapi rasanya sangat menyenangkan.
"Nah, sekarang mari kita mulai yang
sesungguhnya."
"Wuf!"
"Siapa pun yang kembali ke sikap aslinya, dia
kalah."
"Wuf!"
Begitulah, Immoral RPG antara anjing dan
pemiliknya dimulai.
◇
Aku mencoba berkeliling kamar lagi. Anjing Hikari yang merangkak mengikuti dengan patuh.
Lalu, aku duduk di kursi dan berkata.
"Duduk."
Anjing Hikari kali ini duduk dengan benar. Sepertinya
pendidikannya berhasil.
"Tangan."
Tangan kanan yang terkepal disodorkan.
"Ganti."
Tangan kiri yang terkepal disodorkan.
"Guling!"
Tachibana-san memperlihatkan perutnya dan berguling
di lantai. Aku mengusap perutnya dan mengacak-acak rambutnya sambil berkata,
"Pintar, pintar, pintar." Tachibana-san bersuara riang.
"Wuf wuf!"
Tachibana-san bangkit dan mulai menjilati wajahku. Aku
pun menjilati balik mulut anjing Hikari.
Ada pecinta binatang yang melakukan hal semacam ini ke
singa dan akhirnya wajahnya digigit, tapi anjing Hikari bukan singa bodoh.
Dia adalah anjing betina yang patuh dan manis. Aku harus
menyayanginya dengan sungguh-sungguh.
Setelah puas saling menjilat dan bermain, aku
berpikir.
"Anjing Hikari, mungkinkah kamu sedang haus?"
"Wuf!"
"Tunggu sebentar."
Aku pergi ke dapur, mengabaikan Ibu yang memiringkan
kepalanya dengan heran. Aku memilihkan piring ceper agar Anjing Hikari lebih
mudah meminum susunya, lalu menuangkannya. Saat kembali ke kamar, Anjing Hikari
masih menunggu dengan posisi yang sama.
"Kamu benar-benar menungguku karena aku bilang untuk
menunggu?"
"Wuf!"
"Anjing Hikari memang anjing yang baik!"
"Wuf wuf!"
Begitu piring diletakkan, Anjing Hikari mulai menjilat
susunya. Aku mengelus punggungnya. Kaki dan tangannya yang jenjang, bulunya
yang halus; Anjing Hikari benar-benar cantik. Aku didorong oleh impuls untuk
menjadikan Anjing Hikari ini lebih menjadi milikku.
Meskipun dia sudah sangat patuh, aku ingin membuatnya
menjadi milikku sepenuhnya.
Aku mendekap Anjing Hikari.
"Lihat, susunya belepotan di sekitar mulutmu."
Aku menjilati sisa susu di sekitar mulut Anjing Hikari. Dia pun dengan senang hati menjilati balik wajahku. Terbawa dorongan
untuk mendidik Anjing Hikari, aku terus bermesraan dengan seluruh tubuh dan
bergurau dengannya. Sesekali, Anjing Hikari mengeluarkan suara rengekan yang
terdengar pilu.
Namun, tidak baik jika aku hanya melampiaskan kasih
sayangku saja. Anjing Hikari pun pasti punya hal yang ingin dia lakukan
sebagai anjing. Karena itu, aku berkata:
"Mau jalan-jalan?"
"Wuf!"
"Ke luar."
Anjing Hikari sedikit memerah, bersikap malu-malu, lalu
menggonggong pelan.
"Aku ke minimarket sebentar."
Aku berpamitan pada Ibu di dapur, lalu keluar agar Anjing
Hikari tidak terlihat. Tentu saja, dia kembali berjalan dengan dua kaki, tapi
kalung dan talinya tetap terpasang rapi.
"Di dekat sini ada taman besar, bagaimana kalau kita
ke sana?"
Saat aku hendak melangkah, Anjing Hikari mengendus-endus
dan mencoba pergi ke arah sebaliknya. Aku menarik talinya, tapi dia terus
bersikeras menuju arah yang berlawanan.
"Sepertinya kamu jadi anjing nakal lagi, ya."
Aku menepuk pantat Anjing Hikari. Dia pun kembali patuh
dan berjalan tepat di sampingku dengan manja.
Mungkin hanya perasaanku saja kalau dia terlihat senang
saat kupukul.
"Pintar, pintar, anak baik."
Saat aku mengacak-acak bagian lehernya, Anjing Hikari
menyipitkan matanya dengan nyaman.
Seekor anjing manis yang memakai seragam sekolah,
mengenakan kalung, dan terikat tali.
Kami berjalan menyusuri jalan raya kota di malam hari.
Karena sudah larut, lalu lintas pejalan kaki pun sepi.
Sesekali mobil melintas.
Aku sama sekali tidak terpikir untuk merasa takut kalau
ada yang melihat. Karena aku adalah pemilik yang 100 persen, dan Hikari adalah
anjing yang 100 persen. Kami hanya sedang melakukan kegiatan alami seperti
jalan-jalan. Tidak ada yang perlu dimalukan.
Anjing Hikari sedikit pendiam. Di rumah dia sangat
enerjik, tapi di luar dia pemalu. Anjing yang berani di rumah tapi penakut di
luar.
Saat berpapasan dengan orang mabuk, Anjing Hikari
bersembunyi di balik punggungku.
"Benar-benar manis, ya."
Saat aku mengusap kepalanya, dia menyipitkan mata dengan
bahagia dan menyodorkan kepalanya, meminta untuk dielus lebih banyak. Aku pun
memanjakannya sampai dia puas.
Kami tiba di taman olahraga.
Karena ada gedung olahraga dan lapangan bisbol, tempat
ini ramai di siang hari, tapi karena malam, tidak ada orang sama sekali. Paling
hanya ada satu pelari yang lewat.
Aku berjalan menyusuri jalan setapak yang rimbun dan
membawanya ke lapangan rumput di bagian dalam. Anjing Hikari kembali merangkak
dengan empat kaki. Aku melepas talinya agar dia bebas.
"Mau main bola?"
"Wuf!"
Aku melemparkan bola yang kubawa dari rumah dengan
gerakan pelan. Anjing Hikari mengejar bola yang menggelinding itu. Namun, saat
hendak menggigitnya, dia memiringkan kepalanya.
Anjing Hikari adalah tipe anjing bermulut kecil yang
makan burger dengan cara menghancurkannya terlebih dahulu. Setelah ragu
sejenak, dia mendorong bola itu dengan hidungnya agar menggelinding ke arahku.
Pintar sekali, bukan?
"Pintar! Bagus, bagus, bagus!"
"Wuf! Wuf! Wuf! Wuf!"
Aku mengelus Anjing Hikari ke mana-mana, lalu memberinya
cokelat bayi sebagai hadiah. Anjing Hikari dengan cekatan menjilat cokelat yang
ada di telapak tanganku.
Melempar bola, lalu dia membawanya kembali. Kami
mengulanginya berkali-kali. Aneh sekali.
Padahal Anjing Hikari hanyalah seekor anjing, tapi
sosoknya yang berjalan merangkak sambil mengibaskan ekor terlihat begitu
sensual.
Karena asyik memikirkan hal itu, aku terlalu jauh
melempar bolanya.
"Ayo kita ambil bersama."
"Wuf!"
Kami berjalan di atas rumput, masuk lebih dalam ke area
taman. Begitu menemukan bolanya, suara orang-orang
terdengar. Saat aku menoleh, ada sepasang pria dan wanita muda yang sedang
berpelukan di bangku. Begitu menyadari keberadaan kami, mereka tampak canggung
dan segera merapikan pakaian mereka yang berantakan.
Pasangan muda itu menatap kami sekali lagi, lalu berseru
kaget.
"Eh, bukankah itu pet play?"
"Benar juga, dia pakai kalung…… apalagi pakai
seragam……"
"Pasti dia biarkan gadis itu merangkak seperti itu
dan menjilati berbagai tempat, ya."
"Temanku pernah coba, katanya sensasinya luar biasa.
Hasrat untuk mendominasi dan keinginan untuk didominasi terus membuncah. Sang
pemilik ingin mencurahkan banyak kasih sayang, dan si anjing hanya ingin patuh.
Katanya sih, seru sekali."
"Kamu tahu banyak, ya. Jangan-jangan kamu pernah
melakukannya?"
"Mana mungkin! Tapi, ayo kita coba juga."
Sambil berkata begitu, pasangan muda itu bergegas
pergi.
Pet play? Astaga, pantas saja pasangan tidak
sehat seperti itu ada di taman pada malam hari.
Aku hanya sedang mengajak anjingku jalan-jalan sebagai
pemiliknya. Aku hanya mencurahkan kasih sayang penuh sebagai pecinta anjing.
Ini adalah bentuk indah hubungan manusia dan anjing yang
sudah ada sejak dulu sebagai teman, jangan disamakan dengan hal-hal lancang
seperti pet play atau semacamnya!
Hubungan aku dan Anjing Hikari adalah hubungan pemilik
dan anjing yang murni.
"Benar-benar, apa yang dikatakan anak muda tadi, ya?
Lagipula, apa yang mau mereka lakukan di sini!"
"Wuf wuf!"
Jika pemandangan seorang gadis berseragam yang memakai
kalung dan melakukan ini-itu terlihat tidak senonoh, itu karena hati orang yang
melihatnya saja yang kotor. Namun──.
"Anjing Hikari, apakah kamu punya keinginan untuk
didominasi olehku?"
Tanyaku. Ini untuk berjaga-jaga. Kalau seandainya, hanya
seandainya, Anjing Hikari punya keinginan seperti yang dikatakan pasangan tadi,
aku harus memenuhinya sebisa mungkin. Itulah tugas seorang pemilik.
"…………Wuf."
Anjing Hikari mengiyakan dengan malu-malu.
"Kamu ingin kupukul, dimarahi, dan dididik?"
"Wuf."
"Kamu ingin menjadi apa yang kuinginkan?"
"Wuf!"
"Aku boleh melakukan apa saja padamu? Boleh
menyayangimu sampai berantakan?"
"Wuf! Wuf! Wuf!"
"Guling!"
Anjing Hikari memperlihatkan perutnya sambil berguling
dengan pipi merona. Matanya penuh dengan harapan. Dia benar-benar pasrah, ya.
Ini, ini──.
"Anjing nakal!"
Perasaan itu membuncah, aku menindih Tachibana-san yang
ada di bawahku dan membaringkannya.
Kepalaku sudah tidak beres. Aku tidak bisa membedakan
apakah yang ada di bawah tubuhku adalah anjing manis yang patuh, atau
Tachibana-san yang sedang memakai kalung. Batasannya menjadi kabur.
Namun, mengikuti impuls, aku menahan tangan Anjing Hikari
dan menyelipkan paha di antara kakinya.
Anjing Hikari merintih cemas, "Kuuun," tapi itu
hanyalah akting.
Dari tubuh yang bertumpuk, detak jantungnya yang berdebar
kencang terasa.
Tatapan matanya kosong, Anjing Hikari pun sudah
kehilangan akal.
Sebagai permulaan, aku menjilati bagian dalam mulut
Anjing Hikari dengan kasar.
Dari balik gigi hingga ke tenggorokan. Anjing Hikari
menggeliat seolah kesulitan bernapas, tapi ekspresinya tampak ekstasi, bernapas
dengan desahan.
"Aku harus mendidikmu dengan benar."
Aku membalas semua yang telah dilakukan Anjing Hikari
padaku. Menyelipkan lidah ke telinganya, meninggalkan bekas ciuman di lehernya.
Semuanya kulakukan sedikit kasar. Anjing Hikari
menunjukkan gerakan resistensi kecil, tapi aku tahu dia sangat menikmatinya di
balik ekspresi yang tersiksa itu.
Aku ingin melakukan apa pun pada Anjing Hikari, dan dia
ingin menjadi apa pun yang kuinginkan. Namun, aku ingin menjadikannya lebih
milikku, dan dia ingin lebih menjadi milikku.
Merasakan perasaan itu, aku menekan pahaku lebih kuat di
antara kakinya. Lalu aku mengunci wajah Anjing Hikari dengan tanganku.
"Aku akan menyayangimu sampai berantakan."
"Wu, wufuuun……"
"Tidak boleh ada anjing yang memakai pakaian."
Aku melepas pita dasinya. Napas Tachibana-san menjadi
kasar. Aku melepas kancing blusnya.
Kulitnya tersingkap, dan aku menjilati tulang selangkanya
yang putih bersih. Tachibana-san merintih pilu, "Wuf." Aku melepas
kancingnya lebih jauh.
Roknya pun kusingkap. Paha putihnya terekspos, dan
Tachibana-san menggeliat malu. Tapi karena kakiku masih di antara pahanya, dia
tidak bisa lari.
Malam ini dia tidak memakai camisole, pakaian
dalamnya berwarna biru muda, sosoknya yang berantakan terlihat begitu indah.
"Wuf, wuf."
Entah karena ingin menutupi rasa malunya atau karena
insting anjingnya, Tachibana-san mulai menjilatiku.
Dia memasukkan lidah ke dalam mulutku, membelitnya dengan
penuh gairah, dan setelah menghisap lidahku, dia mulai menjilati leherku.
Mungkin dia teringat kembali, dia menancapkan giginya di
tempat bekas ciuman tadi.
Sepertinya dia sangat benci karena bau "Anjing
Hayasaka" masih tertinggal. Dia menggeram pelan, grrrr. Karena itu,
aku──.
"Jadilah anak baik!"
Karena Tachibana-san sedang telentang, aku memukul
samping pantatnya. Seketika itu juga, pinggul Tachibana-san terangkat.
Dan karena pinggulnya terangkat, tubuhnya justru
bergesekan dengan kakiku yang ada di antara pahanya.
"Wu……
ah, aaanh."
Tachibana-san
mendesah dengan suara yang sangat manis.
"Kalau
tidak jadi anak baik, akan kubuat begini terus."
Aku memukulnya sekali lagi.
"Ah, aaannh."
Tachibana-san kembali menekan pinggulnya ke kakiku dan
mendesah manis. Tatapan matanya hilang.
Dia benar-benar kehilangan rasionalitasnya.
Sensitivitas Tachibana-san sangat tinggi.
Artinya, indranya sangat tajam, dan itu bukan sekadar
soal observasi, melainkan cara indra kulitnya merasakan sesuatu pun sangat
peka.
Jadi, hanya dengan sedikit pukulan saja, dia bisa
merasakan sensasi yang tidak bisa dirasakan orang biasa.
"Kuuun, kuuun."
Bahkan setelah aku berhenti, dia kembali menggigit
leherku dengan manja. Seolah-olah, dia memang ingin dipukul──.
"Kamu ingin dididik lebih lagi?"
"……Wuf."
Karena dia mengiyakan sambil menahan malu, aku memukul
Tachibana-san lagi.
Tachibana-san kembali mengangkat pinggulnya,
menggesekkannya ke kakiku, dan mendesah dengan suara manis.
Berkali-kali dia menggesek, berkali-kali dia
mendesah. Terus berulang.
Seragam Tachibana-san semakin berantakan, suara
desahannya hampir sepenuhnya berubah menjadi erangan.
"Wuf,
wuf…… Ti, tidak, Shiro-kun…… Aku, ada yang aneh…… wu, tidak……"
Pinggulnya
melonjak.
Bagaimana
jadinya kalau aku menyentuh langsung area sensitif Tachibana-san yang peka ini?
Aku
didorong oleh keinginan untuk melihat Tachibana-san dalam keadaan seperti itu,
dan tanganku menjangkau pakaian dalamnya.
"A……
ja…… jangan, jangan Shiro-kun, itu……"
Sepertinya
dia benar-benar sudah tidak tahan, Tachibana-san mencengkeram tanganku.
Namun, di saat yang sama, pinggul Tachibana-san terus
menekan kakiku secara berirama. Seolah gerakan saat kupukul tadi sudah menjadi
kebiasaannya.
"Eh? Kenapa…… bu, bukannya…… aku tidak berpikir ingin melakukan hal
seperti di video, tubuhku bergerak sendiri…… tidak mau…… kenapa? Eh, ti,
aa……"
Meski
aku sudah berhenti memukul, pinggul Tachibana-san tetap tidak berhenti
bergerak.
Lambat
laun, interval tekanannya semakin pendek. Dan──.
"Tidak
mungkin…… ada sesuatu yang datang…… Shiro-kun, jangan lihat, malu, tidak mau,
suka, Shiro-kun!"
Tachibana-san
menjerit keras, tubuhnya melengkung, dan dia bergetar berkali-kali.
Pada
saat yang sama, bahkan dalam kegelapan ini, aku bisa melihat warna pakaian
dalamnya berubah karena basah.
Itu
adalah pemandangan erotis yang membuat kepalaku hampir gila. Seorang nona muda
yang berantakan, seperti seekor anjing.
Tachibana-san
terengah-engah, tubuhnya lemas tak bertenaga.
"Shiro-kun, sudah, jangan lebih dari ini, sudah
tidak bisa…… nanti
aku jadi aneh…… masih, jangan dulu……"
Tachibana-san
berkata dengan suara yang nyaris hilang. Tangannya masih mencengkeram tanganku.
"Bukan,
bukannya tidak bisa…… memang benar aku ingin menjadi anjing patuh yang
dihancurkan oleh Shiro-kun, tapi kalau lebih dari ini masih terlalu malu, atau
lebih tepatnya, aku belum punya persiapan mental seperti Hayasaka-san…… aku
harus belajar lebih banyak lagi……"
"Kamu
kalah, Tachibana-san."
"Eh?"
"Sejak
tadi kamu terus berbicara. Kamu tidak sedang memerankan
anjing."
Kalau sadar, berarti kalah. Immoral RPG
dimenangkan olehku.
"………………Shiro-kun memang licik."
Wajahnya tetap merah, dia membuang muka dengan
ekspresi cemberut. Ya, ini semua hanyalah game bernama Immoral RPG.
Hanya karena sedikit kehilangan akal, bukan berarti
semuanya sungguhan. Benar, itu sungguhan. Memperlakukan gadis sebagai anjing
dan memukul pantatnya, itu sudah keterlaluan.
Dengan perasaan seperti itu, kami mencoba pulang
dengan tenang seperti biasanya. Namun──.
"Permainannya sudah selesai, sih."
Tachibana-san berkata dengan sikap yang masih sedikit
merajuk.
"Meskipun kita tidak bisa melakukan hal yang terlalu
jauh, kurasa tidak apa-apa kalau kita berciuman dan berpelukan seperti ini. Hal
yang tidak senonoh, tidak perlu."
Kami memang masih anak-anak, hanya bisa bermain di
permukaan.
Tapi──.
"Kalau cuma sedikit, itu, boleh saja kalau mau
dipukul."
"Kamu yakin?"
"……………………Wuf."
◇
Larut malam, aku berpikir di atas tempat tidur.
Tentang melakukan 'hal itu' dengan seorang gadis.
Ada banyak pandangan; harus dilakukan sebelum usia
dua puluh, hanya boleh dengan orang yang benar-benar dicintai, kalau belum
melakukan itu dianggap kuno, atau kalau sudah melakukan dengan banyak orang itu
tidak bermoral.
Banyak orang menganggapnya sebagai tindakan yang
istimewa, dan aku pun salah satunya.
Mungkin saat dewasa nanti aku akan menganggapnya
lebih ringan, tapi di usia belasan tahun ini, hal itu masih memiliki makna yang
sangat besar.
Aku merasa itu adalah ekspresi pamungkas untuk
mengatakan cinta, dan juga terasa seperti bukti hubungan sepasang kekasih.
Saat memutuskan untuk berpacaran dengan Hayasaka-san
sebagai orang kedua, kami membuat aturan hanya sampai berciuman saja.
Itu karena kami berdua melihat makna khusus dalam
tindakan tersebut.
Tapi sekarang, Hayasaka-san ingin melakukannya.
Sampai bolos sekolah dan pergi ke apotek untuk bersiap-siap.
Apa yang akan terjadi jika aku melakukannya dengan
Hayasaka-san?
Aku merasa jika melakukannya, itu akan membawa perubahan
besar pada emosi dan hubungan antarkeluarga.
Perubahan yang sangat besar. Aku merasa sedikit takut
akan hal itu.
Lalu, bagaimana jika aku melakukannya dengan
Tachibana-san?
Tachibana-san
adalah gadis yang paling kusukai.
Tapi,
aku juga memiliki hubungan lain seperti Hayasaka-san dan Yanagi-senpai, jadi
aku merasa takut dengan perubahan emosi yang mungkin terjadi setelah melakukan
tindakan itu.
Saat
aku sedang memikirkan hal itu dan hendak tidur, pintu diketuk pelan.
"Sudah
tidur?"
"Belum."
Yang
masuk ke kamar adalah Tachibana-san.
Setelah
pulang dari taman, dia sempat tidur di kamar adikku, tapi ternyata dia
menyelinap keluar.
"Boleh masuk?"
"Silakan."
"Shiro-kun, menghadap ke sana saja."
Tachibana-san masuk ke tempat tidur dan berbaring
membelakangiku.
"……Untuk sementara waktu, jangan lakukan game
seperti itu lagi, ya."
"Karena kita akan segera kehilangan akal."
"Aku tidak mau jadi diriku yang seperti itu
lagi. Lupakan kejadian malam ini."
Setelah mengakhiri peran anjing dan pemilik, kami merasa
sangat menyesal.
"Mungkin aku tadi bersaing dengan
Hayasaka-san."
Tachibana-san berkata.
"Di luar dugaan, aku bertindak tidak seperti diriku
biasanya."
"Jarang sekali. Padahal kamu bukan tipe orang yang
peduli pada orang lain."
"Karena aku diperlihatkan hal seperti itu di dalam
lemari."
"……Maaf."
Tachibana-san berkata bahwa dia baru menyadarinya.
"Aku selalu menjadi yang kedua. Berpegangan tangan,
berciuman, semuanya Hayasaka-san yang duluan."
"Itu……"
"Aku juga ingin melakukan sesuatu yang pertama
dengan Shiro-kun. Kurasa itulah kenapa aku mencoba melakukan hal yang nekat.
Tapi sepertinya aku masih anak-anak. Aku belum bisa melewati garis batas
terakhir."
Tapi, Tachibana-san berkata lagi.
"Kalau dibiarkan seperti ini, hal pertama itu juga
akan diambil oleh Hayasaka-san, ya."
Tachibana-san tidak tahu.
Bahwa hubunganku dengan Hayasaka-san didasarkan pada
Tachibana-san. Bahwa sebenarnya Tachibana-san adalah gadis nomor satu bagiku.
Apa yang akan dilakukan Tachibana-san jika dia tahu kebenarannya?
Namun saat ini adalah masa yang sulit bagi hubungan kami,
dan aku tidak bisa mengatakannya.
Dan Tachibana-san merasakan stres dalam situasi ini.
Tachibana-san yang biasanya tidak peduli, kini sedang
merasa stres.
"Festival budaya, aku ingin berkeliling dengan
Shiro-kun."
"Tidak, itu sulit karena ada Yanagi-senpai."
"Hei Shiro-kun."
"Apa?"
"Aku ingin memukulmu."
Keheningan memenuhi kamar. Memikirkan perasaan
Tachibana-san, aku rasa itu wajar.
"Jadi, kamu mau berkeliling festival budaya dengan
Hayasaka-san?"
"Bukan begitu, kita tidak sedang membicarakan
itu."
"Bagaimanapun juga, itu akan terjadi."
Shiro-kun itu baik, kata Tachibana-san.
"Sudahlah, teruskan saja hubunganmu dengan
Hayasaka-san."
Tachibana-san perlahan keluar dari tempat tidur.
"Aku tetap akan menjadi hadiah escape game.
Kalau Shiro-kun tidak datang, aku akan tampil di kontes pasangan dengan orang
pertama yang berhasil melarikan diri, dan aku akan menang."
"Tidak, bukankah janjinya kalau kalah di
pertandingan tadi, kamu tidak akan melakukan itu?"
"Aku tidak tahu itu. Pokoknya, aku tidak suka hal
seperti ini."
Aku juga keluar dari tempat tidur, berhadapan dengan
Tachibana-san.
"Aku harus bagaimana?"
"Mari berkeliling festival budaya bersama, dan ikut
kontes pasangan. Aku ingin kenangan. Hanya itu saja. Aku tidak meminta
kemewahan lain. Selebihnya aku akan bersabar. Aku akan jadi anak baik."
"Sudah kubilang, itu…… tidak mungkin."
"Kalau begitu, lakukan sesuatu yang belum pernah
kamu lakukan dengan Hayasaka-san. Itu…… hal mesum pun tidak apa-apa."
"Tachibana-san
sendiri yang bilang kalau kamu malu dan tidak bisa melakukannya, kan?"
"Tapi, aku tidak mau kalah dari Hayasaka-san. Jadi,
lakukan saja secara paksa. Mungkin aku akan melawan karena malu, tapi bukan
berarti aku tidak suka. Aku sedikit…… suka kalau dipaksa……"
Tachibana-san jarang sekali kehilangan ketenangannya.
Mungkin karena ini pertama kalinya seumur hidup dia sadar
sedang bersaing dengan orang lain. Juga, karena sisa-sisa efek menjadi 'anjing'
tadi masih ada.
"Tidak,
kalau dipaksa…… lagipula hal seperti itu harus dipikirkan matang-matang……"
"Benar,
ya. Shiro-kun pasti bilang begitu. Tadi saat aku bilang berhenti karena malu
pun, wajahmu terlihat lega."
Pengecut,
kata Tachibana-san.
"Tidak
apa-apa kalau licik, tapi kalau sesekali saja kamu berani melangkah maju, aku
akan bisa jadi anak baik, tidak akan marah-marah seperti ini──"
Dan
akhirnya, aku dipukul.
Tachibana-san
menyembunyikan kesedihan di balik ekspresi tidak senangnya, lalu kembali ke
kamar adikku.



Post a Comment