Chapter 22
Ekspresi Cinta yang Inovatif
Aku
benar-benar sedang dipermainkan.
Selama
ini, aku selalu mendekati cinta dengan penuh kesadaran dan niat yang jelas. Aku
tidak membiarkan diriku terbawa oleh bayangan cinta yang ada di masyarakat,
tidak pula melakukannya dengan asal-asalan, melainkan selalu memikirkan dan
melakukan tindakan dengan matang. Itu karena aku menganggap itulah bentuk
ketulusan yang sebenarnya.
Bagaimana
cara mencintai? Aku selalu membayangkan masa depan dan perasaan lawan bicara,
lalu menyusun rencana.
Metode
dan praktik, semacam perilaku hipotesis-verifikasi.
Namun sekarang,
aku tidak memiliki visi apa pun. Aku hanya didorong dan disudutkan oleh
Hayasaka-san dan Tachibana-san. Berusaha mengimbangi tindakan mereka berdua
saja sudah membuatku kewalahan, rasanya seperti pertahanan yang tak berujung.
Aku tidak
lagi memiliki inisiatif. Tidak
ada satu pun yang bisa kukendalikan. Dan, bukan hanya Hayasaka-san dan
Tachibana-san yang menyudutkanku. Ada satu orang lagi──.
"Tempat
kerjamu itu luar biasa sekali, ya."
Itu terjadi
setelah aku berurusan dengan Kunimi-san yang, seperti biasa, bekerja sambil
mengupas kulit kentang, menggosok gelas, dan meminum bir di balik meja bar di
bar musik tempat kami bekerja.
Setelah shift
selesai, aku keluar dari toko untuk membuang sampah ke lorong belakang sebelum
pulang.
Di sana, dia
sudah menungguku.
"Kirishima,
bisa bicara sebentar?"
Itu
Yanagi-senpai.
Kami naik kereta
kembali ke stasiun lokal kami, lalu masuk ke kedai donat yang buka sampai larut
malam. Sejak SMP, kalau aku, Maki, dan Senpai sedang merasa lapar saat bermain,
kami sering datang ke kedai ini. Dan sekarang, hanya kami berdua. Karena sudah
larut malam, pelanggan pun jarang terlihat.
"Kopi,
dan yang biasa, ya?"
"Aku
bayar bagianku sendiri saja. Aku kan juga kerja paruh waktu."
"Sudahlah,
tidak perlu."
Kami duduk
berhadapan di meja paling pojok. Aku mematahkan donat sederhana dengan jari,
lalu memasukkan sepotong ke dalam mulut.
"Mulutmu,
tidak apa-apa?"
"Tadi memang
sempat luka, tapi sudah sembuh."
"Waktu itu,
aku minta maaf, ya."
Di panggung festival budaya, aku berciuman dengan
Tachibana-san. Malam harinya, aku dipanggil oleh Yanagi-senpai. Saat aku pergi
ke jalan setapak di sepanjang sungai dengan sepeda, Yanagi-senpai sudah berdiri
di sana. Ekspresinya yang disinari lampu jalan terasa kering, seolah aku tak
tahu apa yang sedang ia pikirkan.
"Sejak kapan?"
Saat ditanya, aku mengaku bahwa kami sudah saling menyukai
sejak kamp musim panas. Setelah berkata "Begitu ya," Senpai
melayangkan tinjunya ke pipiku. Bagian dalam mulutku terluka, dan aku jatuh
terduduk ke belakang.
Mungkin Senpai memukul dan aku dipukul karena kami memiliki
harapan tak berdasar bahwa situasi yang tak menentu ini mungkin akan berubah
jika kami melakukan itu. Tapi pada
akhirnya, kami hanya melakukan sesuatu yang terkesan seperti itu tanpa makna
sedikit pun.
"Mungkin
tanganku yang memukulmu ini terasa lebih sakit……"
Senpai
bergumam sambil mengayun-ayunkan tangannya. Dengan wajah pahit, dia tampak
sangat membenci dirinya sendiri yang sudah memukul. Senpai bukanlah tipe orang
yang suka memukul orang lain, dan tak diragukan lagi, akulah yang membuat
Senpai sampai seperti itu.
Lalu, aku sempat
berpikir mungkin aku akan merasa lega setelah dipukul, tapi ternyata sama
sekali tidak. Pipiku hanya terasa nyeri berdenyut.
Setelah itu, kami
terdiam sejenak.
"Meski sudah
jadi begini, aku masih menyukai Hikari-chan."
Senpai
mengatakannya sambil tampak kebingungan.
"Aku bodoh,
ya."
Sejak saat itu,
aku sesekali berbicara dengan Senpai seperti ini.
Itulah kenapa,
aku sudah tahu sejak awal bahwa Tachibana-san menjalin komunikasi dengan
Senpai.
Saat aku sedang
makan donat, Senpai meminum kopinya dengan wajah lelah.
Di atas
kursi, ada tas yang tampak berat. Lembaga bimbingan belajar tempat Senpai
belajar letaknya dekat dengan bar musik tempatku bekerja. Karena itulah, Senpai
menungguku keluar dari toko.
"Pengecut
sekali, ya," ujar Senpai sambil tersenyum lemah.
"Aku
hanya marah padamu, tapi tidak pada Hikari-chan. Karena aku masih ingin menyisakan sedikit saja
kemungkinan untuk disukai oleh Hikari-chan. Sambil memarahimu, di sudut
pikiranku, aku terus memikirkan bagaimana cara merebut Hikari-chan dari
Kirishima. Licik sekali, ya."
Kurasa itu adalah
pilihan yang sangat rasional setelah menekan emosinya.
"Berkat itu,
beberapa waktu lalu, aku berpegangan tangan dengan Hikari-chan."
"……Aku
tahu."
"Hikari-chan
yang bilang?"
"Senior
di tempat kerjaku yang tidak sengaja melihatnya."
"Bukan
berarti Hikari-chan mau berselingkuh, kok."
Aku hanya
menjawab, "Iya." Senpai yang ada di depanku memang tampak sedikit
lesu, tapi dia tetaplah pria tampan. Membayangkan Tachibana-san berpegangan
tangan dengan orang seperti itu membuat dadaku sesak. Aku ingin segera
menghubungi Tachibana-san dan mengonfirmasi hal itu. Aku merasa cemas karena
keegoisan diriku sendiri.
"Aku
memanfaatkannya. Rasa bersalahnya," ucap Senpai.
"Setelah
kejadian itu, aku tahu jika aku memaafkannya dan memohon, 'Biarkan aku tetap
menjadi tunanganmu', keadaan akan perlahan runtuh dan jadi seperti ini.
Lagipula ada urusan keluarga. Aku merasa diriku licik dan menyedihkan. Tapi
berkat itu, Hikari-chan mengakuiku bukan sebagai salah satu dari sekian banyak
pria, bukan pula sebagai tunangan yang ditentukan keluarga, melainkan pertama
kalinya sebagai manusia bernama Yanagi Shun."
Tachibana Hikari
itu lembut, ujar Senpai.
"Itu rasa
kasihan. Karena aku ini pengecut yang memohon padanya untuk tetap di sisiku
seolah sedang bergantung, Tachibana Hikari tidak bisa menolak
permintaanku."
Seperti kata
Senpai. Jika Senpai benar-benar orang yang kuat, menyegarkan, dan hanya keren
saja, Tachibana-san seharusnya tetap memperlakukan Senpai hanya sebagai
"tunangan yang ditentukan keluarga" seperti biasanya.
"Aku
tahu Hikari-chan sedang bingung dan menderita. Antara perasaannya yang menyukaimu, rasa bersalah,
dan rasa kasihan padaku. Tapi aku harus lebih mengguncang Hikari-chan lagi.
Meskipun itu pengecut, dan meskipun itu akan membuat Hikari-chan lebih
menderita."
Benar. Jika
Senpai ingin menjadikan Tachibana-san miliknya, hanya itu caranya. Jika
perasaan Tachibana-san stabil dalam kondisi saat ini, anak panah kesukaannya
tidak akan pernah mengarah kepada Senpai.
"Kirishima
dan Hikari-chan itu cinta pertama, kan?"
"Iya."
"Dan karena
janji masa kecil, Hikari-chan jadi tidak bisa disentuh oleh pria selain
Kirishima, kan?"
"……Benar."
"Hei
Kirishima, menurutku begini. Apakah pria yang datang belakangan tidak punya
kesempatan? Apakah cinta pertama tidak bisa dikalahkan? Haruskah aku menyerah?
Aku tidak berpikir begitu, dan aku tidak mau begitu."
Hati manusia itu
bisa berubah, ujar Senpai.
"Aku
berencana merebut Tachibana Hikari darimu."
"……Senpai."
"Akhir pekan
nanti, aku mengajak Hikari-chan bermain futsal."
"Apakah Tachibana-san menjawab akan datang?"
"Tidak, dia
menggelengkan kepala. Pasti karena dia segan padamu."
Namun, saat
Senpai mendesak, dia menjawab dengan terpaksa, "Kalau Shirou-kun datang,
maka……"
"Kirishima,
datang dan lihatlah."
"Melihat
Tachibana-san yang mulai membuka hati pada Senpai?"
Melihat itu pasti
akan sangat menyakitkan hati, pikirku. Namun──.
"Bukan."
Senpai
mencondongkan tubuh ke atas meja.
"Datang
dan lihatlah aku."
"Eh?"
Mengabaikan
diriku yang kebingungan, Senpai menatap mataku dengan lurus dan berkata.
"Datang
dan lihatlah diriku yang telah menjadi sangat menyedihkan ini, Kirishima
Shirou."
◇
Hari
Sabtu, aku menuju atap sebuah gedung toko elektronik besar untuk berpartisipasi
dalam kegiatan futsal yang diselenggarakan oleh Yanagi-senpai. Setelah berganti
pakaian olahraga di ruang ganti dan keluar, ada beberapa lapangan futsal yang
dikelilingi jaring hijau.
Di lapangan paling depan, ada Yanagi-senpai dan
Tachibana-san. Tachibana-san mengenakan baju olahraga putih dengan rambut yang
diikat satu. Karena aku tidak memiliki kesan dia sering berolahraga, sosoknya
yang berdiri di lapangan itu entah mengapa memberikan kesan yang agak konyol.
Selain itu, banyak juga orang yang terhubung dengan
Yanagi-senpai melalui sepak bola. Ada orang-orang yang tampak seperti
mahasiswa, dan tidak sedikit pula anak perempuan. Di antara mereka, tentu saja
ada Hayasaka-san yang berpartisipasi setiap minggu.
Dan satu orang lagi──.
"Kenapa!"
teriak Hamanami.
"Kenapa aku
ada di tempat seperti ini!?"
"Karena ada
kemungkinan kurang orang, jadi aku diminta mengajak kenalan."
Pada akhirnya,
karena semua orang membawa kenalan, jumlah orangnya malah jadi lebih banyak.
"Padahal
aku tidak ingin terlibat lagi……"
"Aku
sebenarnya memanggil Yoshimi-kun, sih. Dia bisa berolahraga."
"Makanya
aku datang menggantikannya! Yoshimi-ku! Di tempat yang seperti titik ledakan
ini! Aku tidak bisa membiarkannya terpapar aura tidak sehat kalian!"
"Yoshimi-ku,
ya. Kamu bicara seperti
Tachibana-san."
"JA-JANGAN
DISAMAKAN~!!"
Waktu berkumpul
tiba, kami pun masuk ke lapangan.
Tachibana-san
yang berada di samping Yanagi-senpai menunduk dengan perasaan canggung, dan
saat Hayasaka-san melihatku, dia melambaikan tangan kecil dari jauh.
Tachibana-san
diperkenalkan kepada semua orang sebagai putri dari rekan bisnis perusahaan
milik orang tua Senpai.
Bukan sebagai
tunangan Senpai, bukan pula sebagai pacarku.
Ini seperti
perjanjian pria secara diam-diam. Tachibana-san pasti memahami konteks
tersebut, tapi dia tidak sedikit pun mengubah ekspresinya, jadi tidak diketahui
apa yang dia pikirkan tentang hal itu.
Dipimpin oleh
Yanagi-senpai, pertama-tama kami melakukan peregangan. Memanfaatkan posisinya
sebagai pemimpin, Senpai berpasangan dengan Tachibana-san. Melihat keputusasaan
yang tidak seperti Senpai biasanya, aku merasakan keseriusan Senpai.
"Baru
pertama kalinya saya melihat Tachibana-senpai disentuh oleh pria selain
Kirishima-senpai," ucap Hamanami yang menjadi pasanganku.
"Sampai
sekarang rasanya seperti Kirishima-senpai dan orang-orang biasa, tapi ternyata
Yanagi-senpai benar-benar muncul dalam kesadarannya sebagai seorang
manusia."
Tachibana-san
sedang melakukan peregangan kaki dengan kikuk, berusaha keras menjulurkan
tangan ke depan, dan punggungnya didorong oleh Senpai.
"Kirishima-senpai,
tidak apa-apa?"
"Eh, kenapa?
Aku sama sekali baik-baik saja, kok?"
"Meskipun
Anda mengatakannya dengan wajah seperti kiamat dunia."
Melakukan
peregangan antara pria dan wanita bukanlah hal yang besar. Itu biasa saja.
Kenyataannya, aku pun melakukannya bersama Hamanami. Namun, manusia adalah
makhluk yang lebih merasakan ketakutan psikologis terhadap kehilangan apa yang
sekarang dimiliki daripada apa yang tidak dimiliki sejak awal. Ini
disebut Endowment Effect. Tertulis begitu di buku catatan cintaku.
"Dan,
di sana juga populer, ya." Hamanami mengarahkan pandangan ke arah
Hayasaka-san.
Hayasaka-san
sedang melakukan peregangan dengan pria yang tampak seperti mahasiswa. Itu
gerakan punggung yang saling menempel sambil melipat lengan dan membusungkan
dada. Mereka tampak akrab,
dan dia menunjukkan ekspresi saat tertawa "hehehe".
"Bukan,
Hayasaka-san kan berpartisipasi terus. Jadi itu hanya karena mereka jadi
akrab."
"Tapi, entah
mengapa Hayasaka-senpai tampak lebih membuka hati pada pria daripada biasanya,
bukan? Dulu hanya di permukaan saja, entah mengapa ada tembok, tapi sekarang
terasa anehnya lembut, kualitas keakrabannya berbeda……"
"Memangnya
kamu berpikiran begitu!?"
"Kirishima-senpai,
tensimu hancur, lho."
Ya ampun, jangan
buat aku lebih bingung lagi.
"Sebenarnya
apa yang akan Anda lakukan? Yanagi-senpai turun tangan dan semuanya jadi
kacau."
"Apa yang
harus dilakukan pun, aku tidak tahu."
"Hanya
saja," lanjutku.
"Aku pikir
ada petunjuk dalam pemikiran Zen."
"Sudut
pandang yang luar biasa."
"Ada pepatah
Shinto Mekkyaku sureba hi mo mata suzushi (Jika pikiran dimusnahkan, api
pun terasa sejuk), kan? Semua orang menafsirkan itu sebagai arti bahwa jika
melakukan latihan mental, maka kita tidak akan merasakan panas, tapi arti
aslinya tidak begitu."
"Begitukah?"
Jika sedang
panas, menafsirkan bahwa kita harus menerima situasi panas itu apa adanya
adalah penafsiran yang lebih tepat. Seseorang merasa tidak nyaman karena
menilai situasi panas itu sebagai "sesuatu yang tidak menyenangkan".
Jadi, jika seseorang tidak menilai baik atau buruk situasi tersebut dan hanya
pasrah, maka tidak ada rasa nyaman maupun tidak nyaman.
"Jika Anda
menilai sendiri, 'Ini benar, ini salah', hati Anda akan menderita. Anda akan
berpikir, 'Mengapa saya yang melakukan hal benar tidak diakui?' atau 'Mengapa
dia yang melakukan hal salah tidak dihukum?', bukan? Karena itulah jika Anda
mengakui hal yang ada di depan mata apa adanya, mengakui bahwa hal itu memang
ada, hati Anda tidak akan terganggu. Zen memiliki pemikiran seperti itu."
Karena terjebak
dalam benar-salah dan baik-buruk, serta berusaha melakukan sesuatu yang tidak
bisa dilakukan oleh kekuatan sendiri, itulah sebabnya seseorang menjadi marah
atau cemas.
"Karena
itulah aku berniat menerima keadaan saat ini apa adanya. Apakah hubungan kami
berempat ini benar atau salah, aku tidak akan mengatakannya. Hal itu jelas ada
di depan mata, dan jika aku merasakan cemburu, hal itu sendiri pun bukanlah
masalah apakah itu baik atau buruk. Aku hanya berniat pasrah pada emosi
itu."
"Anu,
Senpai, boleh saya bicara satu hal?"
Hamanami menatap
wajahku, membuka matanya lebar-lebar, dan mengatakannya dengan ekspresi yang
penuh penekanan.
"Bolehkah
saya minta Anda meminta maaf kepada semua orang beragama Buddha di seluruh
dunia sekarang juga?"
Saat latihan bola
dimulai, situasinya tidak berubah. Yanagi-senpai menempel ketat pada
Tachibana-san, mengajarinya cara menendang bola.
Secara objektif, itu adalah langkah yang bagus.
Yanagi-senpai adalah seorang pemimpin, dan dalam situasi ini, dia bisa
menunjukkan sisi bisa diandalkan serta kerennya kepada Tachibana-san
sepenuhnya.
Hayasaka-san tetap populer sebagai maskot tim. Dan
Hayasaka-san pun tampak menikmati hal itu entah mengapa. Hayasaka-san saat ini
mengenakan seragam berupa baju lengan pendek dan celana pendek, mengekspos
lengan atas dan pahanya dengan lebar. Jelas para pria terus melirik kulit putih yang berisi itu. Namun,
Hayasaka-san tidak terlihat risih. Itu adalah perubahan yang berbeda dari
sebelumnya.
Akhir-akhir ini,
bahkan di sekolah, dia tampak memperlakukan para pria dengan lebih lembut
daripada sebelumnya.
"Kirishima-senpai,
jangan merajuk."
"Aku tidak
merajuk."
Aku
menendang bola mengincar kaki Hamanami.
Dan jika
aku mengarahkan mata ke sisi jaring belakang agar tidak melihat Hayasaka-san
dan Tachibana-san, aku melihat seorang gadis sedang menendang bola sendirian di
sudut lapangan.
Gadis
dengan perasaan tidak ramah dan tanpa ekspresi. Wajahnya tampak muda, terlihat lebih muda dari
Hamanami.
Aku
mendekati gadis itu dan berkata.
"Mau latihan
operan bersama?"
Gadis itu menoleh
ke arahku. Dengan
tubuh ramping dan rambut panjang diikat ekor kuda dengan kuncir biru.
"Terima
kasih. Saya baru pertama kali berpartisipasi hari ini……"
"Kami juga.
Kamu suka futsal?"
"Tidak, saya
selalu di klub atletik, tapi pensiun di musim panas dan terus bermalas-malasan
di rumah, jadi hari ini saya dibawa oleh kakak saya karena katanya coba saja
futsal."
Sepertinya anak
kelas tiga SMP.
Sambil
mendengarkan ceritanya, Hamanami memiringkan kepala sambil berkata, "Saya
merasa dia mirip dengan seseorang."
Saat aku
menyebutkan namaku, dia pun menyebutkan namanya.
"Saya
Tachibana Miyuki. Adik dari Tachibana Hikari yang ada di sana."
◇
Setelah latihan
menggunakan bola, kami memutuskan untuk istirahat sebelum bermain mini-game.
Aku masuk ke
ruang istirahat, membeli minuman olahraga dari mesin penjual otomatis, dan
meminumnya.
Saat melihat
lapangan dari jendela, Yanagi-senpai dan Tachibana-san masih berdiri dan
mengobrol seperti sebelumnya.
Terus berbicara
dengan satu gadis itu sangat mencolok, memalukan, dan tidak biasa dilakukan.
Yanagi-senpai melakukannya dengan sadar akan hal itu. Dan Tachibana-san tidak
menolaknya.
Ada banyak hal
yang kupikirkan.
Namun, diriku
sendiri pun memiliki rasa bersalah terhadap Yanagi-senpai sehingga tidak bisa
mengatakan apa-apa.
Senpai
yang selalu terlihat tenang dan jujur, terus-menerus melakukan hal-hal yang
kotor.
Ada keinginan
untuk membenarkan Senpai, dan ada pula keinginan agar dia segera berhenti.
Saat sedang
berada dalam dilema itulah.
"Adik
Tachibana-san itu manis, ya," ujar Hayasaka-san yang masuk ke ruang
istirahat sambil tersenyum lebar.
Adik
Tachibana-san, Miyuki-chan, sekarang pun masih berlari di sudut lapangan.
Karena mantan anggota klub atletik, posturnya indah, dan selain saat menendang
bola, dia terus berlari dengan wajah tenang. Seperti ikan yang terus berenang
selama hidupnya.
"Ah, yang
diperhatikan Kirishima-kun kan kakaknya, ya."
Hayasaka-san
berdiri di sampingku dan bersama-sama melihat lapangan dari jendela.
"Populer
sekali, ya."
Di sekitar
Tachibana-san, tidak hanya ada Yanagi-senpai, tetapi juga orang-orang yang
tampak seperti siswa kelas tiga atau mahasiswa yang berkumpul.
"Gadis yang
tampak dewasa seperti itu punya citra disukai oleh pria yang lebih tua."
Sepertinya saat
Hayasaka-san duduk di bangku SMP, ada orang seperti itu di antara teman
sekelasnya.
"Gadis yang
dewasa, sulit didekati, dan sepertinya tidak terlalu tertarik dengan cinta. Tapi itu hanya karena dia tidak
menganggap orang seumuran sebagai lawan, dan dia berciuman dengan guru
praktikum yang keren di dalam mobil, kan?"
Tentu
saja, bukan berarti Hayasaka-san ingin mengatakan bahwa Tachibana-san adalah
gadis seperti itu. Hanya pembicaraan tentang tipe sistem penampilan luarnya.
"Kirishima-kun,
entah mengapa, kamu tidak bisa menikmati dirimu sendiri yang cemburu seperti
biasanya, ya."
"Kenapa,
ya?"
"Kamu
terlalu banyak menahan diri, secara sepihak. Kamu harus lebih emosional dan
melakukan apa saja. Karena bagiku dan Tachibana-san, itu tidak masalah."
Pahit, ya. Aku
mengerti saat Tachibana-san mulai meladeni Senpai dengan benar. Aku akan
menghiburmu, katanya. Sambil berkata begitu, Hayasaka-san pindah ke tempat yang
tidak terlihat dari jendela, merentangkan kedua tangan ke arahku. Aku mendekati
Hayasaka-san dan memeluk tubuhnya. Namun, itu sama sekali tidak cukup.
"Kirishima-kun,
masih tampak menderita. Kenapa?"
"Itu karena
aku, pada Hayasaka-san juga……"
Belum merasa
puas. Saat aku ragu untuk mengatakannya, Hayasaka-san berbisik dengan manis,
"Hei, katakanlah." Seolah terpancing oleh suhu tubuh Hayasaka-san,
aku menyadarinya tidak keren, tapi aku tetap mengatakannya.
"Hayasaka-san,
entah mengapa, bukankah kamu sedang akrab dengan pria? Secara
keseluruhan……"
Setelah
mengatakannya begitu, Hayasaka-san tertawa menggoda, "Hehehe."
"Aku, lho,
sedang berusaha mengatasi rasa tidak suka pada anak laki-laki. Karena, bukankah
aku selalu dibantu Kirishima-kun dan merepotkanmu dengan itu? Jadi, aku ingin
menjadi biasa saja. Karena itulah aku mulai bekerja paruh waktu di tempat yang
banyak pria datang."
Dia bilang kalau
pun dilihat tubuhnya atau digoda karena hal itu, dia mencoba berpikir tentang
hal itu sebagai daya tariknya sendiri dan menikmatinya.
"Lalu,
sedikit demi sedikit aku jadi bisa berpikir kalau anak laki-laki itu sederhana
dan manis. Saat aku tertawa dan menyentuh balik bahu mereka, mereka sangat
bersemangat."
"Bagaimana
mengatakannya, itu……"
"Benar.
Mungkin berbahaya, ya. Mungkin aku akan diperlakukan dengan baik oleh
seseorang. Hei, coba bayangkan saat itu?"
Aku membayangkan
Hayasaka-san dipaksa minum alkohol oleh pria yang lebih tua dan dipeluk.
"Hei, tidak
mau? Kalau aku ada apa-apa dengan pria lain, tidak mau?"
Aku hampir
berpikir apakah aku, yang berada di posisi kedua, punya kualifikasi untuk
mengatakan tidak mau, tetapi mungkin fase kekanak-kanakan untuk memikirkan
penambahan dan pengurangan benar-salah seperti itu sudah lama berlalu.
"Katakan
dengan jujur."
"……Sama
sekali tidak mau."
"Kalau
begitu, buat saja aku lebih menyukaimu. Buatlah aku menyukai Kirishima-kun
sampai aku hancur. Kamu tahu caranya, kan?"
Aku tahu. Semakin
dalam kontak fisik Hayasaka-san denganku, dia akan semakin menyukaiku dengan
gaya yang cenderung lepas kendali.
"Jangan
sungkan, lakukan saja. Lakukan saja sesukamu."
Dia
berjinjit dan berbisik di telingaku, "Di ruangan ini, tidak ada orang lain
lagi, kan?"
Aku
memasukkan tangan kananku yang melingkar di punggungnya dari belakang ke dalam
celana pendek Hayasaka-san, lalu mengelusnya dari atas pakaian dalam.
"Tidak
apa-apa kok. Karena aku bodoh, hanya dengan berciuman untuk pertama kalinya,
hanya dengan berpegangan tangan, aku jadi sangat menyukai Kirishima-kun. Jika
dilakukan seperti ini, aku akan menyukaimu sampai gila."
Di sana
mulai terasa basah bahkan hanya dari balik pakaian dalam, yang bisa langsung
diketahui.
Tubuh
Hayasaka-san yang lembap karena keringat menjadi semakin panas dan mulai
dipenuhi kelembapan.
Sama seperti pria
lainnya, aku pun melihat Hayasaka-san dengan tatapan mesum. Tubuh yang memerah
saat berolahraga, paha yang terbuka, seragamnya adalah racun bagi mata.
"Kirishima-kun
bisa melakukannya. Apa yang kamu pikirkan, kamu bisa lakukan padaku
sepenuhnya."
Aku terus
menyentuh tempat di mana tubuh Hayasaka-san gemetar. Hayasaka-san menekan
wajahnya ke dadaku, menahan suara desahannya sambil berjinjit.
"Kirishima-kun,
kamu suka ini, ya. Kenapa?"
"Karena aku
menganggapnya sebagai bukti bahwa Hayasaka-san menyukaiku."
Bodohnya. Namun,
aku pikir mengizinkan kontak fisik memiliki nuansa seperti itu.
"Kalau
begitu, ini, harus diperlihatkan dengan benar pada Tachibana-san juga, ya.
Harus membuatnya cemburu dengan benar. Kita kan hubungan seperti itu."
Hayasaka-san
dengan ekspresi meleleh, melepaskan tangan dari tanganku, dan berdiri di depan
jendela lagi.
Aku pun
mengerti apa yang harus dilakukan.
Aku
berdiri di samping Hayasaka-san, dan lagi-lagi memasukkan tangan ke dalam
celana pendek dari belakang.
Dari
luar, aku dan Hayasaka-san pasti terlihat berdiri berjajar menatap lapangan.
Namun, dengan ekspresi meleleh Hayasaka-san, Tachibana-san pasti bisa tahu apa
yang sedang terjadi.
Benar
saja, aku bisa melihat dari kejauhan bahwa dia melirik ke sini, lalu segera
memasang ekspresi garang.
Dan meskipun
sedang berbicara dengan Yanagi-senpai, dia menoleh ke sini berkali-kali.
"Kirishima-kun,
jangan, mengeluarkan suara…… memalukan……"
Sambil menatap
Tachibana-san, aku terus menyentuh Hayasaka-san. Suara percikan air terdengar,
dan perlahan-lahan Hayasaka-san membungkukkan tubuhnya. Aku menyusupkan jariku
lewat celah pakaian dalamnya.
Hayasaka-san
mendesah panjang. Tachibana-san terus memperhatikan kami sejak tadi.
Setelah melakukan
itu untuk beberapa saat──.
"Kirishima-kun!
Tidak, ah, sudah, jangan, tidak boleh, ya, ya!"
Hayasaka-san
akhirnya menggigil hebat di seluruh tubuhnya, lalu menumpukan kedua tangannya
ke jendela seolah hendak memukulnya.
Seketika itu
juga, Tachibana-san yang berada di lapangan dengan kasar menendang bola yang
menggelinding ke arahnya, lalu membuang muka seolah sedang marah. Orang-orang
di sekitar tampak terkejut.
"……Begitu
ya, sudah cukup."
Hayasaka-san
jatuh terduduk di sana, sehelai rambutnya menempel di pipi karena keringat,
sementara ia memasang ekspresi lembut.
"Hei
Kirishima-kun, berbagi itu menyenangkan, ya."
"Ah."
Ucapku.
Dan saat itu, aku
berpikir bahwa mungkin diriku sendiri juga mulai rusak.
◇
Aku sedang
berjalan menuju stasiun bersama Tachibana-san untuk pulang.
Setelah jeda
istirahat dan satu pertandingan mini-game, Tachibana-san berkata,
"Aku ada les piano dari sore…… jadi aku pulang……"
Karena aku juga
ada kerja paruh waktu di malam hari, kami memutuskan untuk pulang pada saat
yang sama.
Hayasaka-san
tertawa riang sambil berkata, "Sampai jumpa!"
Saat kami
berganti pakaian di ruang ganti dan tiba di depan lift, tanpa sengaja aku
berbarengan dengan Tachibana-san. Kami tidak membuat janji apa pun.
Aku dan
Tachibana-san memiliki kecenderungan untuk sinkron secara aneh, dan kali ini
pun begitu.
Saat pembagian
tim untuk mini-game, kami menggunakan cara suit
(batu-gunting-kertas), dan tentu saja kami berakhir di tim yang sama.
Entah karena
faktor genetik atau apa, adiknya, Miyuki-chan, juga berada di tim yang sama.
"Miyuki-chan
tadi larinya cepat sekali."
"Itu karena
dia selalu berlatih lari."
"Tadi saat
kalah di mini-game, dia tampak menyesal sekali."
"Sejak kecil
dia memang tidak mau kalah. Kepalanya juga keras, jadi agak merepotkan."
"Tampaknya
dia anak yang serius, ya."
"──Cukup
bicara tentang adikku!"
Tiba-tiba,
Tachibana-san meninggikan suaranya.
"Jangan
bicarakan wanita lain saat kita sedang berduaan!!"
Tachibana-san
tampak terkejut dengan ucapannya sendiri, lalu segera memegang keningnya seraya
berkata, "Maaf, aku, sepertinya sedang agak aneh." Dia menghela napas
panjang dan menggelengkan kepalanya.
Setelah itu, kami
berjalan dalam diam untuk sementara waktu.
Tachibana-san
benar-benar sedang tidak stabil.
Namun, aku merasa
sedikit senang karena Tachibana-san bersedia meluapkan kemarahannya padaku.
Aku senang dia
merasa cemburu setelah melihat apa yang kulakukan dengan Hayasaka-san, dan dia
menunjukkan padaku sisi dirinya yang tidak pernah dia perlihatkan—bahwa dia
masih benar-benar mencintaiku. Aku senang dia marah padaku.
Dan di sini, ada
satu orang lagi yang ingin dimarahi.
"Shirou-kun,
bukankah ada sesuatu yang ingin kamu katakan padaku?"
Begitu sampai di
jalan yang sepi, Tachibana-san membuka suara.
"……Jujurlah
padaku. Jangan berlagak keren."
Meski aku tetap
diam, Tachibana-san berkata "Kenapa?" dengan nada yang tidak sekasar
tadi, namun tetap terdengar kesal dan tidak senang. Dan Tachibana-san
dengan ekspresi penuh kebencian itu terlihat sangat cantik.
"Aku sedang akrab dengan Shun-kun, tahu? Aku tidak tahu
kenapa, tapi aku tidak bisa menolaknya…… Sebelumnya aku pernah bilang, kan? Kalau aku bingung karena punya perasaan
suka pada dua orang, yaitu kamu dan Hayasaka-san? Tapi, tiba-tiba aku jadi agak
mengerti perasaan itu sekarang!?"
Tachibana-san adalah sosok yang polos dalam urusan cinta.
Setelah mengalami berbagai hal, akhirnya dia menemukan bahwa pria selain aku
pun memiliki sisi yang baik.
Dan kemungkinan besar, perasaan yang dia miliki terhadap
Yanagi-senpai adalah emosi "orang kedua yang disukai".
Tachibana-san merasa bingung dan kacau dengan perubahan
dalam dirinya sendiri.
"Jadi, sekarang kamu sudah bisa berpegangan tangan
dengan Senpai, ya."
"……Kamu
sudah tahu?"
Tapi kamu tidak
mengatakan apa-apa, bukan? Ucap Tachibana-san dengan api biru yang
menyala di pupil matanya.
"Apakah tidak apa-apa? Aku ini pacarmu, Shirou-kun,
tapi aku hampir menjadi gadis nakal yang berselingkuh dengan pria lain, tahu?
Kenapa kamu tidak marah padaku? Apa itu artinya keberadaan Hayasaka-san sudah
cukup bagimu!?"
Aku tahu apa yang ingin Tachibana-san dengar. Namun──.
"Yanagi-senpai yang memberitahuku."
Saat meninggalkan lapangan futsal, Senpai mengatakannya
dengan ragu-ragu namun tampak menderita.
“Kirishima, kaulah yang membuat Hikari-chan menjadi
bengkok.”
Selama bermain futsal, karena pengaruh aliran komunikasi
dengan Yanagi-senpai, Tachibana-san memang sempat bercakap-cakap dengan pria
lain.
“Dia
sebenarnya gadis yang pandai bersosialisasi.”
Mungkin
memang benar begitu.
Karena
janji masa kecil denganku, Tachibana-san jadi tidak bisa disentuh oleh pria
lain.
Jika
disentuh, dia akan merasa tidak enak badan dan muntah. Itu tidak normal.
Apa yang
dilakukan Yanagi-senpai, dalam arti tertentu, bisa dibilang menuntun
Tachibana-san ke arah yang benar. Tapi──.
"Bengkok
atau tidak, itu tidak penting."
Tachibana-san
menatap tajam ke arahku.
"Kamu
melakukan hal seperti itu dengan Hayasaka-san di depan mataku. Jangan lakukan
itu, katakan saja langsung padaku. Kamu marah, kan? Tunjukkan padaku. Aku tidak
masalah kalau harus dipukul oleh Shirou-kun. Kalau kamu kesal, pukul saja aku
sepuasnya. Meskipun kamu menjambak rambutku, aku tidak akan protes."
Dia
benar-benar bicara yang tidak-tidak, pikirku.
Tapi soal
perasaanku, apa yang dikatakan Tachibana-san benar adanya. Aku memang kesal.
Aku hanya tidak ingin mengakuinya. Tidak ingin mengakui bahwa aku marah, bahwa
aku cemburu secara kekanak-kanakan.
Namun, terdesak
oleh ekspresi Tachibana-san yang begitu intens, aku memuntahkan perasaan yang
selama ini kusembunyikan.
"Kenapa kamu
jadi bisa disentuh pria lain?"
"……Maaf."
"Kenapa kamu
diam saja soal berpegangan tangan dengan Senpai?"
"…………Aku
takut dibenci oleh Shirou-kun. Makanya, aku tidak bisa bilang."
Tachibana-san mencengkeram lengan mantelku.
"Hei, apakah
kamu benci kalau aku jadi bisa disentuh pria lain?"
"Ya."
"Apakah kamu
benci kalau aku akrab dengan Shun-kun?"
"Ya."
"Padahal
kamu punya Hayasaka-san, egois sekali, ya."
Tapi itu, aku
sangat menyukainya, ucap Tachibana-san sambil meruntuhkan ekspresinya dan
tersenyum.
Suasana yang
tadinya tegang berubah total menjadi sangat ceria.
"Apakah kamu
ingin memilikiku sepenuhnya? Ingin membuatku menjadi gadis milik Shirou-kun
seorang?"
Aku mengangguk.
Sejak futsal tadi perasaanku terus diaduk-aduk, aku sudah tidak bisa berpikir
apa-apa lagi, dan akhirnya aku mengulang kata-kata yang pernah kuucapkan dulu.
"Aku tidak
ingin kamu disentuh satu jari pun oleh pria lain."
Mendengar itu, Tachibana-san memancarkan senyum penuh
kebahagiaan. Dia memelukku dan mengekspresikan kegembiraannya dengan seluruh
tubuhnya.
"Shirou-kun yang tidak punya ruang untuk bernapas itu
luar biasa, aku sangat menyukai Shirou-kun yang sampai tidak bisa melihat
sekelilingnya."
Sambil
berkata begitu, Tachibana-san mengangkat tangannya. Dia mengenakan sarung
tangan yang tampak hangat.
"Hei
Shirou-kun, sekarang musim dingin, tahu? Benar-benar deh, kamu tidak lihat ya."
"Jangan-jangan……"
"Iya, saat
kami berpegangan tangan tadi, aku dan Shun-kun sama-sama memakai sarung
tangan."
"Dan sebutan
Shun-kun itu juga……"
"Begitu, ya.
Baiklah, mulai sekarang aku akan memanggilnya Yanagi-kun. Hanya Shirou-kun yang
boleh memanggilku dengan nama depan. Aku akan semakin menjadi gadis kesukaan
Shirou-kun, lho. Semua karena Shirou-kun."
Tachibana-san
berkata sambil tertawa senang.
Ngomong-ngomong,
alasan mereka berpegangan tangan adalah karena Yanagi-senpai berkata padanya
bahwa pasti tidak nyaman jika tidak bisa disentuh oleh pria selain Kirishima,
jadi mereka mencobanya sebagai eksperimen.
"Tidak, tapi
saat futsal……"
Saat melakukan
peregangan, seharusnya kulit mereka memang bersentuhan. Mengetahui bahwa aku
cemburu hingga ke detail sekecil itu membuat semangat Tachibana-san semakin
meluap.
"Benar juga,
aku jadi banyak disentuh, ya."
Tachibana-san,
dengan suasana hati yang sangat baik, beralih ke depanku, membuka mantelku,
lalu melepas kancing kemejaku. Kemudian, sambil menatap ke dalam kemejaku,
dia──.
Muntah.
Sambil
terbatuk-batuk dan menahan air mata di sudut matanya, tapi dengan bahagia, dia
muntah berkali-kali sampai perutnya benar-benar kosong.
Sesuatu
yang hangat menyebar dari dada hingga ke perutku.
"Syukurlah,"
ucap Tachibana-san sambil menyeka mulutnya.
"Antara
orang pertama dan kedua bagiku, ada perbedaan yang luar biasa besar."
Pada
akhirnya, Tachibana-san masih belum bisa disentuh oleh pria selain aku.
Apa yang
terlihat baik-baik saja tadi hanyalah usahanya untuk menahan diri, dan pada
akhirnya, dia tetaplah gadis yang akan muntah.
Aku menghela
napas, menatap bagian dalam kemejaku, lalu berkata.
"Cara ekspresi cintamu itu benar-benar inovatif, ya."



Post a Comment