Penerjemah: Randika Rabbani
Proffreader: Randika Rabbani
Chapter 21
【Sang Maha Tahu dan Maha Kuasa yang Bersarang di Hati】
Malam itu.
Demi menepati janjinya dengan Lyca, Chrono memutuskan untuk kembali ke masa satu tahun yang lalu.
Di dalam penjara Pengadilan Sihir Pusat, Lyca meringkuk sambil memeluk lututnya.
Tiba-tiba dia merasakan kehadiran seseorang, dan mengangkat wajahnya. Di sana berdiri Chrono.
"Aku tidak menyangka akan dihukum mati."
Lyca membuka pembicaraan seperti itu.
Hari ini adalah hari setelah dia dijatuhi hukuman mati.
"Apa yang akan kamu lakukan?"
"Begitulah, ya. Bagaimana kalau kita mengobrol saja. Mumpung Onii-san sudah datang jauh-jauh ke sini."
Dengan ekspresi tenang Lyca berkata.
Menurut cerita Luke, dia berusaha menjadikan Sage Hukum Dumell sebagai kerabatnya untuk membatalkan hukuman matinya, tapi kalau hal itu benar, dia pasti akan segera bertindak setelah ini.
Tapi, Chrono tidak melihatnya seperti itu.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?"
"Onii-san ini datang dari masa depan, 'kan? Bagaimana caranya kamu bisa datang ke mari?"
"Aku adalah Sang Maha Tahu dan Maha Kuasa."
Dengan wajah bingung Lyca menatap Chrono. Ekspresinya sangat serius, hingga tanpa sadar gadis itu tertawa.
"Kalau begitu, maukah kamu menghidupkanku kembali setelah aku dieksekusi mati? Kalau begitu 'kan, hukum Corntzel juga tidak akan dilanggar."
Lyca berkata dengan nada bercanda.
Gadis itu sendiri pun pasti tidak percaya kalau hal itu benar-benar bisa dilakukan. Kekuatan seperti kemahatahuan dan kemahakuasaan, adalah hal yang di luar akal sehat.
"Menurutmu, orang mati yang dihidupkan kembali itu artinya apa?"
Tanpa menjawab apakah dia akan membangkitkannya atau tidak, Chrono mengajukan pertanyaan seperti itu.
"Meskipun konflik besar terjadi, sebanyak apa pun orang yang meninggal, menurutku itu artinya akan selalu ada harapan yang tersisa untuk bisa mendapatkannya kembali."
"Artinya, orang akan menjadi tidak takut lagi untuk membunuh orang."
Sesaat, Lyca kehabisan kata-kata.
"Kalau kita bisa menghidupkan orang dengan mudah, orang-orang akan mulai membunuh dengan mudah. Mengatasi kematian sepenuhnya, artinya kematian menjadi hal yang tidak penting lagi."
"Benarkah begitu? Manusia yang bisa hidup kembali, bukankah itu dunia yang menakjubkan."
Chrono perlahan mengulurkan tangannya, dan menyentuh rambut Lyca.
"Ada ap──"
Lyca membulatkan matanya dengan heran.
Chrono memotong sehelai rambut panjangnya dengan ujung jarinya.
"Ano... kamu sedang apa?"
"Kamu tidak marah?"
"Aku tidak akan marah, cuma gara-gara sehelai rambut. Nanti juga panjang lagi."
"Begitulah maksudku."
"...Begitu?"
Rambut yang terpotong itu dengan cepat memanjang, dan dalam sekejap kembali ke panjang aslinya. Kemampuan regenerasi Vampir Leluhur tidak bisa dibandingkan dengan manusia.
"Bagi Sang Maha Tahu dan Maha Kuasa, kematian seseorang itu sama halnya seperti memotong sehelai rambut. Kalau mengganggu, tinggal potong saja. Kalau dibutuhkan, tinggal panjangkan saja. Tidak ada penolakan sama sekali terhadap kematian seseorang. Bukan, aku tidak tertarik. Lagipula, apa pun bisa diatur. Apa kamu mau berteman dengan orang yang seperti itu?"
Lyca samar-samar mulai mengerti apa yang dikatakan Chrono.
"...Itu, mungkin agak menyeramkan."
"Maha Tahu dan Maha Kuasa itu, bisa melakukan apa saja itu, pada akhirnya berarti apa pun yang terjadi tetap saja sama. Hidup atau mati itu sama saja. Punya teman atau tidak punya teman juga sama saja. Disukai atau dibenci juga sama saja. Tinggal hidupkan kembali, tinggal buat teman, tinggal buat agar disukai. Tidak ada satu pun hal yang tidak bisa dikembalikan. Satu tahun yang lalu, sepuluh tahun yang akan datang, atau sepuluh ribu tahun yang akan datang, semua waktu itu sama, jadi kita tidak perlu langsung bertindak."
Mendengar kata-kata yang diucapkan Chrono dengan terbata-bata, Lyca merasakan kebenaran yang aneh.
"Kalau hati ini juga ikut menjadi Maha Tahu dan Maha Kuasa, itu sudah tidak bisa dibilang hidup lagi."
"Kenapa bisa begitu?"
"Alasan Lyca menganggap hukum Corntzel itu berharga, karena kamu menganggapnya sebagai satu-satunya cara agar berbagai ras bisa hidup berdampingan."
Lyca mengangguk kecil.
"Kalau kamu punya kekuatan untuk mendamaikan semua ras secara sepihak, satu dari prinsip tindakan Lyca akan menghilang."
"Itu, memang benar, ya."
"Kalau kamu punya kekuatan untuk menyelamatkan Charl yang masih kecil dari ketidakadilan secara sepihak, kamu tidak perlu menjadikannya kerabatmu, dan satu dari hubungan Lyca akan menghilang."
Chrono berkata.
"Sisanya hanyalah pengulangan dari hal itu. Satu kekuatan, akan menghapus satu hati. Kekuatan Maha Tahu dan Maha Kuasa, akan menghapus semua hati. Pada akhirnya, manusia memiliki hati karena ada hal yang tidak bisa mereka lakukan."
"...Aku tidak pernah berpikir sampai ke sana. Menarik, ya. Selama ini aku pikir tidak bisa melakukan sesuatu itu isinya hal-hal buruk saja."
Lyca berkata dengan nada kagum.
"Makanya, aku tidak akan menghidupkan Lyca. Kalau aku melepaskan belenggu yang kutetapkan pada diriku sendiri, hati ini pada akhirnya tidak akan merasakan apa-apa lagi. Aku akan menjadi Sang Maha Tahu dan Maha Kuasa yang sesungguhnya."
Pada kata-kata itu, dia menambahkan satu kalimat lagi dengan suara pelan.
"Seperti Raja Pembantaian itu."
──Begitu katanya.
"Entah kenapa, Onii-san benar-benar mengatakan hal yang seperti Sang Maha Tahu dan Maha Kuasa, ya."
"Aku benar-benar Sang Maha Tahu dan Maha Kuasa."
Saat Chrono berkata dengan wajah datar, Lyca tertawa kecil.
"Kalau begitu, bolehkah aku minta tolong satu hal lain?"
"Apa?"
Setelah menatap Chrono cukup lama, Lyca berkata.
"Aku ingin pergi ke akademi sekali lagi."
Chapter 22
【Masa Depan yang Diimpikan】
Tengah malam.
Cahaya bulan menyinari gedung Akademi Noir. Di lorong, ada dua bayangan yang mengenakan seragam berdiri berdampingan. Itu adalah Chrono dan Lyca.
Keduanya berbincang dengan hangat sambil berjalan di dalam gedung akademi.
"Lalu, Charl bilang karena dia juga vampir, dia pasti bisa berubah jadi kabut, dan setiap hari dia mendaki Gunung Tomro yang kabutnya tebal."
"Kenapa mendaki gunung?"
"Katanya kalau kabutnya banyak, akan lebih gampang menyatu dan berubah jadi kabut. Padahal itu sama sekali nggak ada hubungannya, lho."
Gadis itu bercerita dengan setengah tercengang, tapi juga penuh kasih sayang pada Charl.
"Dia kadang punya pemikiran yang agak ekstrim, ya. Tapi, mungkin karena itu juga dia tetap bisa menggunakan Sihir Suci meskipun sudah jadi vampir."
Vampir dan Sihir Suci dikatakan menggunakan kekuatan sihir yang berlawanan. Namun, bahkan setelah menjadi kerabat, Charl tetap bisa menggunakan Sihir Suci. Bahkan, levelnya sampai dipanggil Saintess.
"Lagi pula, aneh juga kenapa dia bisa sebegitu hebatnya memakai Sihir Suci, ya."
"Kenapa bisa begitu?"
"Sihir Suci itu 'kan meningkatkan kekuatan sihir melalui tingkat keimanan yang dalam pada Tuhan. Tapi, Charl malah bilang kalau dia sama sekali tidak percaya pada Tuhan."
Bahkan setelah masuk ke akademi, hal yang dibicarakan Lyca hanyalah tentang Charl. Lyca pasti sangat menyayanginya.
"Apa bilang tidak percaya Tuhan itu cuma untuk menutupi rasa malunya, padahal sebenarnya dia percaya, ya?"
"Cerita kalau Sihir Suci bisa meningkatkan kekuatan sihir dengan memercayai Tuhan itu, hanyalah alasan yang disebarkan oleh gereja."
"Eh? Benarkah begitu?"
"Cara seperti itu lebih mudah untuk mendapatkan jemaat."
Lyca menunjukkan ekspresi seolah baru pertama kali mendengarnya.
"Lalu, sebenarnya itu sihir yang seperti apa?"
"Objek yang dipercaya bisa siapa saja. Hati yang memercayai itulah yang memunculkan keajaiban, itulah Sihir Suci."
Lalu, Lyca menundukkan pandangannya dan berpikir keras.
"...Kalau bukan Tuhan, apa yang Charl percayai, ya?"
"Kira-kira apa, ya?"
"Hm loh? Onii-san, kamu tertarik, ya?"
Sambil menatap wajah Chrono dari dekat, Lyca bertanya.
"Aku ingin berteman dengan Charl."
"Eh? Bukannya kalian sudah berteman?"
Sambil memiringkan kepalanya dengan heran, Lyca bertanya.
"Aku sedang berusaha agar bisa seperti itu."
"Onii-san ini mencurigakan. Bagian mananya dari Charl yang kamu suka?"
"Waktu pertama kali bertemu, dia mencoba melindungiku yang orang asing dengan mempertaruhkan nyawanya. Orang yang seperti itu jarang ada."
"Ternyata alasannya lebih jelas dari dugaanku, ya. Aku kira karena Charl itu imut."
Lyca mengutarakan pemikirannya seperti itu.
"Aku adalah Sang Maha Tahu dan Maha Kuasa. Imut itu bisa dibuat."
"Tolong berhenti ngomong kayak anak perempuan begitu."
Meskipun Chrono mengatakannya dengan serius, Lyca langsung memberikan reaksi cepat.
"Charl itu kelihatan saja seperti itu, tapi dia sebenarnya lumayan lemah kalau terus dibujuk. Jadi, gimana kalau Onii-san mengajaknya bermain sesering mungkin?"
"Akan kucoba. Tapi..."
"Kenapa?"
"Meskipun kita sering bermain bersama, mungkin bukan hal sederhana di mana itu berarti kita sudah berteman."
"Hmm. Onii-san ngomong hal yang sulit, ya."
Sambil memandang ke luar jendela, Lyca menunjukkan gelagat berpikir.
"Charl itu suka hal-hal yang kecil, detail, dan berbunyi gemerincing, loh."
"Maksudmu, seperti bola kaca atau kerang?"
"Apaan, Onii-san tahu juga rupanya."
"Karena dia selalu membawanya."
Dia selalu membawa bola kaca sebagai katalis sihir, dan ada kerang yang diletakkan di mejanya di kelas.
"Selain itu, batu kerikil kecil atau hal-hal kayak biji ek juga dia suka. Tapi, kayaknya dia nggak terlalu suka barang mahal seperti perak atau permata."
"Kalau begitu, mengumpulkan biji ek sepertinya bukan ide yang buruk."
"Onii-san suka?"
"Tidak, sama sekali tidak tertarik."
"Itu sih nggak bisa, dong."
Mendengar kata-kata jujur Chrono, Lyca tertawa dan berkata.
"Kalau dicoba, mungkin aku akan tertarik."
"Kalau Onii-san nggak benci, mungkin itu juga ide yang bagus, ya. Ah, omong-ngomong soal itu, Charl punya satu sisi yang aneh, tahu."
"Apa?"
"Dia sering bilang kalau teman itu nggak bisa jadi pacar."
Sesaat, Chrono terdiam.
"Aku tidak paham hubungan sebab akibatnya."
"Katanya, pacar dan teman itu hal yang sama sekali berbeda. Genre-nya beda, katanya. Makanya, kalau sudah sekali jadi teman, dia bakal di luar dari target pacar, katanya."
"Lalu sebelum jadi pacar, akan jadi apa?"
"Hmm..."
Lyca meletakkan tangan di mulutnya, menunduk, dan berpikir keras.
"Pasti ada. Sesuatu seperti semi-pacar."
"S-Semi-pacar...? Ampun, deh. Onii-san, tolong jangan ngomong yang aneh-aneh."
Sepertinya itu tepat mengenai titik tawanya, Lyca terkikik pelan.
"Apakah orang asing bisa tiba-tiba jadi pacar?"
"Hnn... Mungkin, bakal jadi orang yang disuka sebelah pihak, atau semacamnya, kupikir..."
"Begitu, ya."
"Iya. Pokoknya, kalau Onii-san mau jadi pacarnya, menurutku lebih baik jangan jadi temannya dulu."
"Itu cocok denganku. Teman adalah hubungan yang paling mulia di dunia ini, tapi pacar itu sampah!"
Chrono menyatakannya dengan penuh tenaga.
"S-Sampah, ya? Begitukah?"
"Hubungan sebagai pacar itu terkadang bisa menghancurkan hubungan pertemanan. Parasit yang bersarang dalam persahabatan, itulah cinta."
"...Etto, ya, memang benar sih kalau ada teman di satu sirkel yang hubungan pertemanannya hancur karena masalah cinta."
Lyca menerjemahkan argumen Chrono dengan akurat.
"Onii-san ini juga agak aneh ya. Bukannya itu agak berlebihan?"
"Karena aku Sang Maha Tahu dan Maha Kuasa."
"Onii-san langsung aja menyalahkannya pada kemahatahuanmu itu. Itu nggak baik, loh."
Dengan lembut Lyca menegurnya.
Chrono menjawab dengan senyum kecil.
Di gedung sekolah yang gelap itu, hanya langkah kaki mereka berdua yang terdengar dengan nyaman.
Tak lama kemudian, gadis itu berkata.
"Aah~ Aku ... ternyata ingin bisa lulus dari sini ya."
Suaranya memudar seolah tertelan kesunyian.
"Aku mengerti."
"Maksudnya mengerti, lalu bagai──"
Di tengah kalimatnya, ruang di sekitar mereka mulai berubah bentuk dan terdistorsi.
Seketika, yang terdengar adalah keramaian dan tepuk tangan. Ucapan selamat bersahut-sahutan, dan tidak sedikit orang yang menangis.
Lalu yang mulai terlihat adalah aula utama Akademi Noir. Di sana murid-murid berseragam berbaris rapi.
Di barisan Lyca, berdirilah teman-teman sekelasnya.
"Lyca, selamat, ya."
Yang tersenyum dan menyapanya adalah Charl.
"Hebat banget, ya, Lyca. Perwakilan lulusan, lho. Aku ikut seneng, deh."
"...Charl, merasa senang?"
Meskipun kebingungan, Lyca bertanya.
"Un. Habisnya, aku tahu Lyca selalu berusaha keras selama ini."
Dia mengatakannya dengan nada bangga.
Lyca menoleh ke arah Chrono yang berdiri di sebelahnya dengan wajah tanpa dosa.
"Ini... apa yang terjadi...?"
"Masa depan."
Dia menjawab seperti itu.
"Masa depan...?"
"Nah, semuanya harap tenang."
Saat Lyca mengalihkan pandangannya ke depan, terlihat sosok Kepala Sekolah di atas mimbar.
"Kalau begitu, dari sekarang kita akan menyerahkan ijazah kelulusan. Perwakilan lulusan, Lyca Endymion."
"... Baik!"
Saat namanya dipanggil, Lyca membalas secara reflek. Dia naik ke mimbar dan menerima ijazah kelulusannya.
"Nilaimu di bidang hukum adalah yang tertinggi sepanjang sejarah. Kamu pasti akan menjadi Sage Hukum yang hebat. Selamat."
"Terima kasih... banyak..."
Air mata mengalir jatuh dari mata Lyca.
Lalu, seolah telah memantapkan tekadnya, dia berkata begini.
"Aku ….. mencintai hukum kota ini, dan aku pasti akan melindunginya."
Kemudian, ruang di sekitarnya kembali terdistorsi. Mimbar, aula besar, serta sosok murid-murid menghilang.
Sebagai gantinya, yang muncul adalah penjara batu yang dingin. Dia berdiri di sana. Entah kejadian di sekolah maupun di aula besar tadi, terasa seperti mimpi belaka.
Tapi, Lyca tahu bahwa itu bukan sekadar mimpi.
"Terima kasih banyak. Sejujurnya, aku sedikit, hanya sedikit sekali merasa takut, loh."
Kepada Chrono yang berada di sisinya, gadis itu berkata.
"Dengan ini, aku tidak takut lagi."
Chapter 23
【Temannya】
Keesokan harinya.
Tempat itu adalah Pegunungan Rowdy yang diselimuti kabut tebal. Itu adalah daerah terpencil di pinggiran Corntzel yang jarang didatangi orang.
Di jalan pegunungan yang bahkan tidak terlihat satu inci pun di depannya karena warna putih itu, ada tiga bayangan orang yang sedang berjalan. Mereka adalah Chrono, Charl, dan Carlo.
"Tapi, apa benar ada orang yang tinggal di tempat kayak gini?"
Sambil melihat kabut yang tidak ada habis-habisnya meskipun mereka terus berjalan, Carlo mengeluh.
"Kita nggak punya petunjuk lain. Mau nggak mau kita harus jalan terus."
Charl berkata dengan penuh semangat, lalu berjalan mendahului.
"Hei, jangan jalan sendirian di depan begitu, dong. Bahaya, tahu." kata Carlo.
"Aku tahu, tapi kan kita harus nyari di dalam kabut kayak gini. Kalau nggak cepat, kita nggak bakal bisa nemuin hari ini."
Tepat ketika dia menoleh dan mengatakan hal itu, kaki Charl tersandung sesuatu dan dia terjatuh dengan keras.
"Aduhh..."
"Baru juga dibilang, hati-hati dong."
"Kamu tidak apa-apa?"
Chrono mengulurkan tangannya kepada Charl yang terjatuh.
"Makasih, Chrono-kun. Walaupun kabutnya tebal banget, aku nggak nyangka bakal jatuh di tempat yang nggak ada apa-apanya begini."
"Tempat yang tidak ada apa-apa?"
Chrono mengalihkan pandangannya ke tanah tempat kaki Charl tersandung tadi. Di sana sama sekali tidak ada batu, lubang, atau benda lain yang bisa membuat orang tersandung, tempat itu hampir rata sepenuhnya.
"Ada apa?"
"Ruangannya terdistorsi."
Chrono berjongkok di sana, lalu menggenggam ruang tersebut dan menariknya.
Lalu, di balik kabut tebal itu, sebuah bayangan muncul. Bentuknya seperti sebuah mansion besar.
"Sepertinya kita sudah menemukannya."
Dengan Chrono yang berjalan di depan, ketiganya berjalan ke balik kabut. Tak lama kemudian, sebuah mansion tua mulai menampakkan diri.
Charl menyentuh pintunya. Tidak mau terbuka. Sepertinya pintunya dikunci.
"Pergilah dari sini."
"...!?"
Entah dari mana suara itu bergema, lalu Charl melihat ke sekelilingnya.
Tapi, tidak ada sosok siapa pun.
"Ini mansion milikku. Cepat pergi dari sini."
Lagi-lagi suara itu terdengar.
Chrono mengarahkan pandangannya ke arah patung batu yang terletak di dekat pintu.
"Suaranya dari sini."
"Apa Anda Sage Hukum Michelle Cryton?"
Ke arah patung batu itu, Charl bertanya.
Namun, tidak ada balasan.
"Kami mencari Pengadilan Sihir Semesta, sampai-sampai kami datang ke sini. Tuan Michelle tahu di mana letak Pengadilan Sihir Semesta itu, 'kan?"
"...Tidak ada yang perlu dibicarakan. Pergilah."
Dengan dinginnya, suara itu menjawabnya.
"Kumohon. Tolong dengarka──"
"Petir Iblis (Zelfa)."
Langit seketika bercahaya dengan ganasnya, lalu kilat menyambar diiringi dengan suara gemuruh. Kilat itu hampir menyerempet kepala Charl dan menembus ke dalam tanah.
Sebuah lubang dalam terbuka. Kalau sampai mengenai dirinya, sudah pasti tidak akan berakhir dengan baik.
"Jangan membuatku mengulanginya berkali-kali. Selanjutnya akan kujatuhkan di kepalamu."
Itu adalah suara yang sangat dingin. Itu pasti bukan cuma ancaman kosong.
Dengan cepat Carlo berlari mendekati Charl.
"Sayang sekali, tapi sepertinya kita harus mundur dulu. Kalau nggak punya informasi apa-apa, kita nggak bisa negosiasi."
"Aku punya satu rencana."
"...Apa yang mau kamu lakukan?"
Dengan setengah ragu Carlo bertanya.
"Ketulusan!"
(Hah!? Itu sih bukan rencana namanya!!)
Teriakan di dalam hati Carlo sama sekali tidak ada artinya, Charl lalu berlutut di tempat itu, dan menundukkan kepalanya hingga dahinya menempel di tanah.
"Kumohon, Tuan Michelle! Aku ingin membersihkan nama baik temanku yang sudah mati dari tuduhan palsu! Katanya, kalau aku bisa ke Pengadilan Sihir Semesta, aku bisa tahu kebenarannya──"
Seakan ingin menenggelamkan kata-kata Charl, suara guruh menggelegar. Kilat yang memancarkan cahaya hingga mewarnai langit menjadi satu warna pun dijatuhkan ke arah kepala Charl.
Kilat itu──
"A, pa...?"
Telah dicengkeram erat oleh tangan yang diulurkan Chrono. Di dalam genggamannya, kilat itu mengamuk dan mengeluarkan suara gemeretak. Lalu, Chrono meremas kilat itu dengan sekuat tenaga hingga hancur.
"Beraninya kau menangkap Petir Iblis (Zelfa) milikku dengan tangan kosong. Kekuatan itu, aku merasa tidak asing lagi."
Terdengar suara benda berat bergeser dengan keras.
Saat Charl mengangkat wajahnya, patung batu itu perlahan bergeser ke samping. Di bawahnya, terdapat sebuah tangga.
"Ada yang naik ke atas."
Carlo berkata seolah-olah waspada.
Tak lama kemudian, suara langkah kaki menaiki tangga batu terdengar. Orang yang memunculkan wujudnya adalah seorang kakek tua dengan jenggot panjang.
"Ah!"
Seketika, seolah baru menyadarinya Charl langsung menunjuk kakek tua itu.
"Itu 'kan Kakek Berjenggot!"
"Hohoho. Kebetulan sekali, Nona kecil."
Dengan tertawa riang, kakek tua itu berkata. Chrono dan Charl-lah yang menolongnya saat dia diserang oleh penjahat di distrik perbelanjaan Corntzel.
"Etto, jadi, Kakek ini Sage Hukum Michelle, ya?"
"Benar. Meskipun, sudah mantan Sage Hukum."
"Mantan?"
"Aku diusir dari Corntzel. Gelar sebagai Sage Hukum juga sudah kulepas."
"Hm loh? Tapi, waktu itu, 'kan kamu ada di Corntzel?"
"Aku masuk secara diam-diam. Kalau pakai sihir, aku akan ketahuan seketika. Aku bahkan tidak bisa melindungi diriku sendiri dari penjahat."
Hohoho, Michelle tertawa pelan.
"Anu. Kenapa Anda diusir dari Corntzel?"
Carlo bertanya. Dia menduga kalau pertanyaan itu akan mengarah langsung ke inti masalah.
"Karena Pengadilan Sihir Semesta. Aku berhasil menemukan lokasinya, tapi aku tidak memberi tahu Pengadilan Sihir. Oleh karena itu, aku dijatuhi hukuman."
"Kenapa kamu nggak kasih tahu?" Tanya Charl.
"Karena itu terlalu berbahaya. Di dalam Pengadilan Sihir Semesta, terdapat segala pengetahuan di dunia ini, dan pengadilan itu bisa memberikan putusan yang benar-benar adil. Tapi, untuk membuka persidangannya, kita harus melewati pengadilan jiwa terlebih dahulu."
"...Pengadilan jiwa itu apa?"
"Konon katanya, hanya orang yang memiliki jiwa yang murni saja yang bisa diterima di Pengadilan Sihir Semesta. Tapi, bagi orang selain itu yang melewati pintunya, mereka tidak akan pernah bisa kembali lagi. Sejauh yang aku tahu, tidak ada satu pun orang yang pernah kembali."
Michelle menjelaskannya dengan perlahan.
"Orang yang nggak bisa kembali itu, jadinya gimana?"
"Aku tidak tahu. Tapi, kemungkinan besar mereka mati. Kalau Pengadilan Sihir tahu di mana Pengadilan Sihir Semesta berada, demi bisa mengungkap misteri itu, mereka akan terus memasukkan banyak orang ke dalam pengadilan jiwa. Aku tidak tahu berapa banyak orang yang akan jadi korban. Oleh karena itu aku menyembunyikannya."
"Benar juga."
Carlo mengangguk.
"Kalau sihir yang bisa kasih putusan yang benar-benar adil itu benar adanya, Pengadilan Sihir pasti sangat menginginkannya. Kalau sihir itu jatuh ke tangan orang lain, hal itu bisa meruntuhkan otoritas mereka."
"Etto...? Kenapa?"
Charl bertanya seolah-olah dia bahkan tidak mengerti 10 persennya.
"Dalam pengadilan macam apa pun, selama masih manusia yang melakukannya, pasti akan ada kesalahan, dan pasti akan ada perasaan yang dilibatkan. Kamu mengerti 'kan, kalau salah tangkap atau tuduhan palsu tidak bisa dibuat menjadi nol persen?"
"Un."
Kenyataannya, karena Charl percaya kalau Lyca tidak bersalah-lah dia mulai bertindak.
"Pengadilan Sihir Semesta bisa mengungkap semua tuduhan palsu itu. Sejak Pengadilan Sihir terbentuk, jumlah orang yang jadi korban tuduhan palsu tidak mungkin cuma 10 atau 20 orang. Kalau hal semacam itu terungkap ke publik, tidak akan ada orang yang mau menerima putusan dari Pengadilan Sihir lagi. Mereka pasti akan minta diadili di Pengadilan Sihir Semesta saja, 'kan."
"Ah, bener juga. Iya, ya."
"Pengadilan Sihir Semesta itu sihir yang melampaui kendali manusia. Sihir yang kuat, pasti menuntut bayaran yang sepadan. Mengetahui kebenaran itu memang penting. Tapi, hal itu tidak sebanding dengan mengorbankan nyawa."
Ucap Michelle. Oleh karena itu, dia pasti mengusir semua orang yang datang ke sini.
"Maafkan aku, Nona kecil. Bisakah kau pulang saja?"
Charl menunduk, lalu memejamkan bibirnya dengan kuat.
"...Tapi."
Dia menggumam pelan, lalu kembali mengangkat kepalanya.
"Walaupun begitu, aku mau tahu kebenarannya."
"T-Tunggu dulu, Charl-chan."
Dengan panik, Carlo menarik tubuh Charl.
"Kamu dengar dia, kan. Untuk buka Pengadilan Sihir Semesta, kamu harus melewati pengadilan jiwa dulu."
"Un."
Charl menjawab dengan cepat.
"Un, katamu... Belum ada satu pun orang yang bisa kembali lho."
"Siapa tahu aku bisa, 'kan."
"Ini bukan masalah yang bisa diputusin dengan gampang, tahu. Hei, Chrono, kamu juga ngomong apa kek ke dia."
Carlo mungkin tahu kalau Charl keras kepala. Dia mengatakannya dengan nada seolah menyerah.
Tapi, Chrono tidak mencoba untuk berbicara dengan Charl, dan melangkah maju perlahan. Dia berjalan hingga tiba di depan mansion tua itu, dan mengetuk pelan dengan kepalan tangannya.
"Ini Pengadilan Sihir Semesta-nya?"
"Hah...!?"
Setelah berseru karena terkejut, Carlo menoleh ke arah Michelle.
Pria itu juga melebarkan matanya.
"...Kenapa, kamu bisa tahu?"
Chrono tidak menjawabnya.
Sebagai gantinya, Carlo yang berbicara.
"...Oh, begitu, ya. Kalau dipikir-pikir baik-baik, benar juga, sih. Susah juga menyembunyikan ini dari Pengadilan Sihir kalau jauh-jauh. Jadi, lebih aman kalau diawasi dari dekat, ya."
"Berarti, ini..."
Charl menatap tajam ke arah mansion di depannya.
Kebenaran yang selama ini terus dicarinya ada di sana.
"Tuan Michelle. Selama ini aku berjuang demi membersihkan nama Lyca. Kalau aku bisa tahu kebenarannya, aku rela mempertaruhkan nyawaku!"
Michelle menghela napas dengan ekspresi seolah sedang dalam masalah.
"...Dasar. Kalau kalian terlalu lama di sini dan Pengadilan Sihir sampai curiga, nanti bakal tambah repot. Baiklah."
Michelle menggambar lingkaran sihir di pintunya.
"Kuharap, perasaanmu itu bisa menarik perhatian Pengadilan Sihir Semesta."
Lingkaran sihir itu memancarkan cahaya terang. Tubuh Charl pun ikut memancarkan cahaya seolah beresonansi dengan lingkaran sihir itu.
Saat gadis itu memberikan isyarat melalui matanya, Michelle menganggukkan kepalanya dengan pelan.
Mengulurkan tangannya, Charl menyentuh pintunya dengan pelan.
Lalu, pintu pun terbuka tanpa suara.
Di dalamnya diselimuti oleh cahaya putih yang terang benderang, sehingga tidak ada apa pun yang terlihat.
"Kalau gitu, aku berangkat, ya."
Dia melangkah masuk ke dalam mansion. Saat itu juga, ada seseorang yang menarik tangannya.
Itu adalah Chrono.
"Etto... Aku ngerti kok kalau kamu khawatir..."
"Aku juga akan ikut. Kalau sendirian, Charl mungkin tidak bisa kembali lagi."
"Eh...? T-Tapi, apa nggak apa-apa...?"
Dengan raut wajah bingung, Charl bertanya. Chrono menganggukkan kepalanya pelan.
Melihat tingkah laku mereka berdua, Carlo menjadi panik.
(...Bagaimana ini? Apa aku tunggu di sini saja? Pengadilan Sihir Semesta itu sesuatu yang sangat gila. Nggak ada jaminan kita bisa kembali. Tapi...)
Carlo melihat ekspresi Chrono. Pria itu sepertinya sama sekali tidak merasa takut.
(Kalau Raja Pembantaian pergi... aku mana bisa membiarkan-nya pergi tanpa diawasi...!)
Menyusul Charl dan Chrono yang sudah masuk ke dalam mansion, Carlo pun berlari mengikuti mereka.
"Tunggu. Aku ikut juga!"
"...Tapi, tadi kamu..."
"Nggak mungkin juga aku ngebiarin kalian berdua saja yang pergi. Biarkan aku kelihatan keren juga, dong."
"Makasih ya, Carlo."
Charl tertawa dengan santai tanpa beban.
Kemudian, mereka bertiga melangkah masuk ke dalam mansion tersebut. Seluruh tubuh mereka pun diselimuti oleh cahaya putih.
Chapter 24
【Pengadilan Sang Maha Tahu】
Tempat itu adalah ruang sidang utama berbentuk bola.
Terdapat jalan setapak di tengah area kursi penonton, tempat Chrono dan yang lainnya berjalan.
Di bagian tengah, terlihat sebuah timbangan raksasa. Timbangan itu melayang di udara.
"Beneran ini Pengadilan Sihir Semesta, 'kan?"
Sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling, Charl berkata.
"Yah, dari kelihatannya saja sudah bentuk ruang sidang, mungkin benar tempatnya di sini."
Saat dia mengatakan hal itu, Carlo terkesiap.
"Tunggu!"
Menghentikan langkah Chrono dan Charl, dia mengarahkan pandangannya ke ujung ruang sidang utama.
Di sana terdapat meja hakim yang mewah, dan sesosok tengkorak menyeramkan mengenakan jubah hakim hitam duduk di atasnya.
"...Apa itu...? Udah mati, kah...?"
Charl bersiaga mengamati sekelilingnya. Tidak ada tanda-tanda keberadaan siapa pun. Hanya ada satu tengkorak itu di hadapan mereka.
"Akulah eksekutor dari Pengadilan Sihir Semesta ini. Yang telah membuka pintunya adalah kau, Charl Arlian."
Sang eksekutor menunjuk Charl.
"...Namaku..."
"Semua pengetahuan berada di sini."
Mungkin maksudnya, dia sudah tahu nama Charl dari awal.
"Wahai pembuka pintu. Apa yang kau cari di pengadilan ini?"
Sang eksekutor bertanya padanya.
Tanpa keraguan sedikit pun, Charl menjawab.
"Satu tahun yang lalu, aku ingin membuktikan bahwa temanku Lyca Endymion, yang dihukum mati karena tuduhan palsu, tidak bersalah!"
"Kau ingin melewati pengadilan jiwa?"
"Kalau anda benar akan memberi tahu kebenarannya padaku, mau itu pengadilan jiwa atau apa pun, akan kulewati."
"Baiklah."
Kemudian, sang eksekutor mengulurkan jari tangannya, dan menggambar sebuah lingkaran sihir di atas timbangan di tengah ruangan.
"Timbangan kebenaran. Berikan jawabanmu pada orang yang membuka pintu ini."
Cahaya sihir yang besar membubung dari timbangan tersebut. Perlahan-lahan, cahaya itu terbelah, dan membentuk beberapa gumpalan cahaya. Semuanya berjumlah sembilan buah cahaya.
Dalam sekejap mata, cahaya-cahaya itu meletus. Dari sana, ada sesuatu yang jatuh ke lantai.
"A, apa itu?"
"Mayat."
"Eh?"
Mendengar perkataan Chrono, mata Charl membulat.
Benar saja, di ruang sidang utama, terdapat sembilan mayat yang terbaring.
"Tunggu sebentar. Aku nggak minta barang kayak gini."
"Cobalah cium bau darahnya."
Ucap sang eksekutor.
"Kenapa aku harus lakuin itu. Aku nggak ngerti."
"Kalau kau tidak butuh kebenaran, terserah kau saja."
"........"
Sepertinya sang eksekutor tidak berniat menjelaskan lebih dari itu. Sambil menutup mulutnya, dia hanya menatap kosong ke udara.
"...Oke. Aku cuma perlu nyiumnya, 'kan."
Charl melangkah menuju mayat itu, lalu dengan ringan mencium aromanya dengan hidungnya. Ekspresinya langsung berubah.
"Bohong... Nggak mungkin... Nggak mungkin begini..."
Dengan wajah pucat, dia berlari menghampiri mayat itu.
Dia menyeka darah yang menempel di lengan mayat dengan ujung jarinya, lalu menjilatnya.
Carlo menunjukkan keterkejutannya.
"Charl-chan? Apa yang kamu──"
"...Kerabat..."
"...Hah?"
"Sembilan-sembilannya, sama. Semuanya kerabat Lyca..."
Meski mengatakannya sendiri, seolah tidak percaya Charl setengah tercengang.
Lyca seharusnya tidak membuat kerabat. Hukum Corntzel melarangnya. Demi melindungi hukum, dia bahkan menerima hukuman matinya.
Tapi, mayat di depannya tak dapat disangkal lagi adalah kerabat yang dibuat oleh Lyca. Sebagai sesama kerabat, Charl tidak mungkin salah mengenalinya.
"Mengapa Lyca Endymion yang seharusnya mati demi hukum, melakukan kontradiksi dengan membuat kerabat. Itulah kebenaran yang ingin kau ketahui, wahai pembuka pintu."
Dengan penuh wibawa, sang eksekutor menjelaskannya.
"Lyca Endymion memperbanyak kerabatnya, dan bermaksud menguasai negara manusia Harestia, dimulai dari Corntzel."
"Bohong!"
"Itulah kebenarannya. Membawamu menjadi kerabatnya, dan membuat dirinya dipercaya juga merupakan bagian dari alasan itu."
"...Nggak mungkin... Habisnya, itu nggak mungkin... bener..."
Dengan suara lemah Charl bergumam pelan.
"Apakah Lyca Endymion yang kau kenal adalah tipe orang yang melanggar hukum dan membuat kerabat?"
"........."
Dengan lemas, Charl menggelengkan kepalanya dari sisi ke sisi.
"Nggak mungkin bikin... Lyca, nggak mungkin lakuin hal begitu..."
"Artinya, mayat-mayat ini adalah bukti bahwa Lyca Endymion berpura-pura di depanmu. Dia merencanakan pemberontakan terhadap negara, dan terus memperbanyak kerabat sambil mengincar kesempatan. Sama sepertimu, dia berbohong dengan cerdik untuk memenangkan kepercayaan para kerabatnya."
Kata-kata sang eksekutor yang diucapkan dengan datar itu, hampir tidak terdengar oleh telinga Charl. Sesuatu yang selama ini dia percayai, tiba-tiba runtuh begitu saja di depan matanya.
"Oleh karena itulah, hukuman mati dijatuhkan kepadanya oleh Pengadilan Sihir. Karena konspirasi ini berkaitan dengan kelangsungan hidup negara, informasinya dirahasiakan dari publik. Namun, dia sama sekali tidak dihukum karena tuduhan palsu."
Kepada Charl yang hanya bisa tercengang, sang eksekutor melemparkan kenyataan pahit.
"Inilah, kebenaran yang kau cari."
Tubuh Charl gemetar hebat. Suara giginya yang bergemeletuk terdengar, dan seolah menunjukkan rasa dingin, dia memeluk tubuhnya sendiri.
"Kalau kau punya pertanyaan lain, aku akan menjawab semuanya. Kalau kau butuh bukti, aku akan menunjukkan semuanya."
Sang eksekutor berkata demikian.
Tapi, selama apa pun mereka menunggu, Charl tidak membuka mulutnya.
"Hei, Charl-chan. Kamu tidak apa-apa? Apa tidak ada hal lain yang mau kamu tahu?"
Dengan cemas Carlo bertanya padanya.
"...Gimana ini?"
Dengan suara yang begitu pelan hingga hampir putus, dia berkata.
"...Aku, harus nanya apa lagi...?"
"Bodoh. Sadarlah! Kita sudah sampai sejauh ini, jangan sampai ada penyesalan."
"Supaya nggak ada... penyesalan..."
Dengan mata kosong, dia menatap darah yang menempel di tangannya sendiri.
Bukti bahwa Lyca telah berbohong.
"...Aku... sama Lyca......"
"Waktunya habis."
Bersamaan dengan kata-kata sang eksekutor, lima buah pasak besar memanjang dari lantai, dan menusuk tubuh Charl.
"Ah...! Kyaaa...!"
Darah menetes mengalir melalui pasak itu. Dalam sekejap, sebuah genangan darah terbentuk di sana.
"Kenapa...?"
Sambil memutar wajahnya karena rasa sakit, Charl memaksakan suaranya keluar.
"Ada ketidakmurnian yang muncul di dalam jiwamu. Pengadilan Sihir Semesta telah menolak jiwamu. Karena itu, hukuman mati dijatuhkan."
"...Tunggu... Aku, masih...!"
"Eksekusi akan dilakukan tanpa penundaan."
Saat sang eksekutor mengarahkan jari tangannya pada Charl, sosok hitam muncul di belakangnya. Itu adalah Carlo. Dengan kecepatan kilat yang tidak bisa diikuti mata, dia mengambil posisi di belakang eksekutor dan mengayunkan belatinya. Kepala sang eksekutor dipenggal.
"Jangan jadi arwah penasaran, ya."
"Sayangnya, serangan terhadapku sia-sia."
Mata Carlo membulat kaget.
Sang eksekutor yang kehilangan kepalanya masih bergerak, dan menggambar lingkaran sihir di tubuhnya.
Seketika, ledakan hebat terjadi, dan Carlo terlempar jauh.
"Gah...!"
Menabrak dinding dengan keras, Carlo jatuh tersungkur di tempatnya.
Meskipun dia mencoba berdiri, sepertinya lengannya kehilangan tenaga.
Di tubuh sang eksekutor, tergambar lingkaran sihir, dan kepalanya yang hilang telah pulih kembali. Dia mengarahkan ujung jarinya pada Charl, lalu mengumpulkan kekuatan sihirnya.
"Sekali ini, aku akan benar-benar mengekseku──"
Eksekutor itu mencoba menggunakan sihir, tapi tidak bisa.
Dari arah depan, lengan eksekutor telah dicengkeram erat oleh Chrono.
"Ada apa? Siapa kau... apa yang sedang kau lakukan?"
Merasa ada yang aneh, sang eksekutor bertanya. Sihir yang akan dia keluarkan, sepenuhnya ditahan oleh sebelah tangan kanan Chrono.
"Charl. Sekarang ini, untuk pertama kalinya aku bisa memberikanmu dua pilihan."
Sambil menahan sang eksekutor, Chrono berkata pada Charl yang ada di belakangnya.
"Satu. Kalau kau menginginkannya, aku bisa mengalahkan orang ini sekarang juga. Dua. Kalau kau memiliki tekad untuk mengorbankan jiwamu, kau bisa mendapatkan kebenaran dan keadilan yang sesungguhnya. Namun, kalau Lyca memang bukan dihukum karena tuduhan palsu, kematian abadi akan mendatangimu."
"...Chrono-kun...? Apa... yang kamu bicarain...?"
Charl berseru dalam kebingungan.
"Aku punya kekuatannya. Yang memilih adalah dirimu."
"...Aku... yang memilih..."
"...Jangan, Chrono!"
Sambil memaksa tubuhnya bangun dengan mengumpulkan tenaga terakhirnya, Carlo berteriak.
"Ini bukan waktunya buat ngomong santai begitu! Lihat lukanya Charl-chan!"
Darah mengalir deras dari tubuh Charl, dan menetes dari pasak yang menancapnya. Fokus matanya bahkan sudah menghilang.
"Aku yang... memilih... Aku...?"
"Charl-chan,. dia sudah tidak tahan lagi! Dengan pendarahan sebanyak itu, buat tetap sadar saja susah. Ayo kita mundur dan kembali lagi! Cepat kalahkan orang itu sekarang juga!"
Karena tertancap pasak, kemampuan regenerasi vampirnya tidak bisa bekerja. Kalau dibiarkan begini, Charl akan kehilangan nyawanya.
Tapi, Chrono berkata.
"Diam kau, Carlo."
Carlo melebarkan matanya karena terkejut.
"T, tapi, Charl-chan itu...!"
"Apa kau yang akan menentukan hidup Charl? Itu terlalu sombong."
Mendengar satu kalimat itu, Carlo merasa tertekan. Tubuhnya menegang, dan mulai gemetar dengan sendirinya. Selama ini dia merasa sudah cukup memahaminya. Namun, pada saat inilah, dia baru benar-benar merasakannya secara langsung.
Chrono Granvephius adalah Raja Pembantaian yang Maha Tahu dan Maha Kuasa, tingkatannya sebagai makhluk hidup sungguh berbeda.
(...Jangan bercanda! Apa yang dia mau...!? Dengan kekuatan sebesar ini, kenapa dia tidak langsung menolong Charl? Apa untuk orang ini, hal semacam ini cuma sekadar permainan...!?)
Bahkan saat mereka diam begini, perlahan-lahan nyawa Charl semakin menghilang.
"Charl-chan. Bilang ke Chrono! Suruh kalahkan eksekutor itu!"
Chrono menyuruh Charl untuk memilih. Kalau itu keputusan gadis tersebut, Chrono pasti akan langsung melaksanakannya.
Namun, Charl tidak segera membuka mulutnya.
"...Charl-chan... Bertahanlah!! Satu kata saja cukup!"
"...Aku..."
Di tengah nyala kehidupannya yang hampir padam, dengan susah payah mempertahankan kesadarannya yang mulai memudar, gadis itu berkata.
"...Aku mau tahu... kebenarannya..."
Carlo memasang raut wajah tidak percaya.
(Gawat...! Charl-chan, bahkan sudah tidak sadar kalau dirinya terluka parah...! Sialan!!)
Seperti orang mengigau, Charl berkata.
"...Aku yang harus... bersihin nama Lyca..."
"Bukan! Charl-chan! Bukan begitu!"
Dengan kuat, sangat kuat, seolah ingin menjangkau hati Charl, Carlo berkata.
"Kalaupun kamu berhasil membersihkan nama temanmu, apa temanmu itu benar-benar mengharapkan kematianmu?"
Mendengar kata-kata itu, Charl yang kesadarannya mulai memudar menunjukkan sedikit reaksi.
"Kebenaran itu tidak sebanding sama nyawamu yang harus dibuang. Temanmu pasti sudah merasa diselamatkan karena Charl-chan percaya padanya sampai akhir."
Seakan mencoba memberinya nasihat, Carlo berkata.
"...Diselamatkan...?"
"Ya, tentu saja! Lyca-chan itu sudah diselamatkan sejak lama. Charl-chan tidak perlu mengorbankan nyawamu untuk apa pun!"
"...Nggak..."
"Apa...?"
Dengan tenang, Charl berkata.
Kata-kata itu seperti igauan, tapi penuh dengan perasaannya sendiri.
"...Lyca... sama sekali nggak diselamatkan... Hal kayak begitu, aneh...!"
Berteriak seolah mengikis sisa-sisa nyawanya, darah meluap dari mulut Charl. Meskipun begitu, dia tidak peduli dan terus melanjutkan kata-katanya.
"...Mimpi Lyca itu, jadi Sage Hukum... Setiap hari dia belajar ilmu hukum, dan nilainya selalu yang terbaik... Katanya hukum Corntzel itu hebat... karena berbagai ras bisa hidup berdampingan di tempat yang sama..."
Bahkan untuk mengeluarkan suara saja pastilah sangat menyiksa baginya. Meskipun begitu, kata-kata gadis yang sedang di ambang kematian itu bergema lebih kuat dari apa pun.
"...Katanya dia harus ngelindungin hukum itu... Lyca bilang, walaupun salah, kita harus tetap nurut sama hukum... Kalau dia cuma karena aku percaya lalu merasa diselamatkan, mending dia kabur aja sekalian...! Harusnya dia abaiin aja semua kata-kata Pengadilan Sihir itu...!!"
Seakan melepaskan semua perasaannya, Charl berteriak.
"Tapi, nggak kayak begitu...! Lyca mati buat ngelindungin masa depan hukum Corntzel... Katanya suatu saat nanti bakal jadi lebih baik...! Kalau gitu, kita harus bikin jadi lebih baik, 'kan! Kesalahan itu harus diakuin sebagai kesalahan...!"
Segala perasaannya pada Lyca yang telah meninggal, disuarakan Charl dengan sepenuh hati dan jiwanya.
"...Lyca pasti ngerasa kesal, sedih, kesepian... dan takut... Biarpun gitu, dia tetap nerima hukuman matinya...! Kalau aku yang masih hidup di kota ini bilang dia diselamatkan padahal itu tuduhan palsu, buat apa Lyca mati, coba...!!"
Air mata berlinang dari mata Charl dan berjatuhan, menciptakan riak di genangan darah.
"Aku... mau tahu kebenarannya...! Sebanyak apa pun kerabat yang nggak aku tahu... aku tetap yakin banget kalau Lyca nggak ngelakuin hal itu...!!"
Perasaan Charl, bergema di seluruh penjuru ruang sidang utama.
"Sidang Dibuka."
Tepat saat Chrono mengucapkan kata-kata itu, celah retakan menjalar di timbangan tengah.
Tidak hanya pada timbangan, retakan juga menjalar di kursi penonton, meja hakim, dinding, pasak yang menusuk tubuh Charl, langit-langit, dan di setiap bagian bangunan, lalu seketika semuanya hancur berkeping-keping.
Ruang sidang utama telah menghilang tanpa jejak, namun tempat mereka berada sekarang bukanlah Pegunungan Rowdy.
Hamparan tanah yang seluruhnya dilapisi batu putih. Lempengan batu setinggi menara berdiri tak terhitung jumlahnya.
Sekalipun mendongak, tak terlihat ujungnya, bahkan langit pun tak tampak. Hamparan lempengan batu tersebut memanjang tanpa batas.
"Di mana ini?"
Eksekutor menengok sekeliling dengan ekspresi bingung.
Chrono menjawab.
"Pemilik kekuatan Maha Tahu dan Maha Kuasa, bisa melakukan apa saja. Karena itu, dia bahkan tidak bisa membedakan antara menghancurkan dunia atau sekadar sarapan pagi. Kalau kekuatan itu terus digunakan sesuka hati, perlahan tapi pasti hati akan mati rasa, dan berakhir menjadi fenomena kemahatahuan itu sendiri. Karena itu butuh belenggu. Belenggu yang disebut aturan."
Semua orang di tempat itu mendengarkan penjelasan Chrono dalam diam. Tidak ada satupun yang mengetahui alasan di balik kejadian membingungkan ini selain dirinya.
"Saat seseorang yang mencari kebenaran dan mengharapkan keadilan yang sebenarnya siap mengorbankan jiwanya sendiri, barulah pengadilan ini dibuka. Itulah wujud kekuatan Maha Tahu dan Maha Kuasa yang telah menjadi aturan──"
Tulisan cahaya yang terukir di lempengan batu mulai menampakkan wujudnya. Tulisan dalam jumlah sangat banyak menutupi tempat dengan ketinggian tak terbatas tersebut.
"──Pengadilan Sihir Semesta."
Seketika, sang eksekutor kehilangan kata-katanya. Meskipun wajah tengkoraknya tidak menunjukkan emosi, tapi jari tangannya yang bergerak dengan kikuk memperlihatkan dengan jelas guncangan batinnya.
"...Apa maksudnya ini? Chrono-kun?"
Sambil perlahan bangkit berdiri, Charl bertanya.
Karena pasaknya telah hancur berkeping-keping, luka Charl perlahan-lahan sembuh. Meskipun penyembuhannya lebih lambat dibandingkan luka yang diakibatkan pisau biasa, nyawanya sudah tidak lagi terancam.
"Bukannya tempat yang tadi itu Pengadilan Sihir Semesta?"
"Itu palsu. Akan kutunjukkan buktinya."
Chrono berkata.
"Panggil Mimbar Saksi Pengadilan Sihir Semesta."
Bagian tengah lantai terangkat perlahan-lahan, membentuk sebuah mimbar yang luas. Itulah mimbar saksi.
"Aku memanggil saksi yang mengetahui kebenaran kasus pembunuhan pendeta di mana Lyca dituduh sebagai pelakunya."
"Saksi? Memangnya ada saksi seperti itu di mana...?"
"Di masa lalu."
Tak terhitung banyaknya huruf bercahaya yang muncul dan terukir di mimbar saksi. Huruf-huruf itu melayang di udara dan membentuk sosok seseorang. Lalu, sosok itu secara bertahap berubah menjadi manusia sungguhan. Itu adalah Lyca Endymion.
Berikutnya, huruf-huruf yang bersinar tersebut berubah bentuk menjadi sebuah sel. Lyca tengah meringkuk terduduk di dalamnya.
"...Lyca..."
Lyca yang seharusnya sudah mati, sekarang hidup dan bergerak. Pemandangan itu saja sudah membuat mata Charl berlinang air mata.
"Ini cuma ilusi belaka. Pasti cuma boneka tiruan yang dibuat sangat mirip dengan Lyca Endymion. Apa buktinya kalau ini benar-benar kejadian di masa lalu?"
Tunjuk sang eksekutor.
Kemudian, Chrono menunjuk ke arah kepala Lyca.
"Jepit rambut itu, Charl yang menyimpannya sebagai kenang-kenangan dari Lyca."
"...Kenapa kamu bisa tahu...? Hal kayak gitu..."
Tentang jepit rambut itu, dia sama sekali belum pernah menceritakannya pada Chrono. Tak heran jika Charl sangat terkejut.
"Coba saja kau ganggu, Eksekutor."
"........."
Sang eksekutor menjulurkan jarinya dan menggambar sebuah lingkaran sihir.
"Cuma hal sekecil ini."
Lalu, jepit rambut Lyca memancarkan cahaya dan berubah bentuk menjadi bentuk bintang. Seolah saling terhubung, jepit rambut yang Charl pakai, meskipun tanpa menggunakan sihir sama sekali, ikut berubah menjadi bentuk bintang yang persis sama.
"Bohong..."
"Bohong murahan, ya."
Ucap eksekutor dengan senyuman mengejek.
"Pasti kamu hanya meniru perubahan bentuk pada jepit rambut Lyca Endymion lalu mengubahnya menggunakan sihir. Coba kau buka isi di dalam jepit rambut itu, Charl Arlian."
"Di dalamnya? Ini kan cuma jepit rambut, mana ada isinya..."
"Benar. Tapi, aku sudah merombak jepit rambut Lyca Endymion itu agar bisa dibuka. Sesuatu yang kumasukkan ke sana adalah mataku."
Kepala sang eksekutor adalah sebuah tengkorak. Mata itu tadi memang bercahaya, tapi saat ini, cahaya di mata kanannya sudah redup.
"Meskipun tampilannya kalian tiru, bukan berarti itu benar-benar kejadian di masa la──"
"Ah, kebuka."
Charl membuka jepit rambut itu. Dari dalamnya, keluar sebuah mata milik eksekutor yang memancarkan cahaya. Chrono menerimanya dari tangan Charl.
"Ini benar-benar matamu."
Chrono menggenggam mata itu dengan sangat kuat.
"Gaah!! Guaaaaaaaaaaaaaaa!!"
Eksekutor tersebut berteriak sambil memegangi rongga mata kanannya yang kosong. Mata yang dia letakkan itu memang ada di dalam jepit rambut Lyca yang berada di mimbar saksi.
Fakta mata tersebut bisa dikeluarkan dari jepit rambut Charl, jelas membuktikan kalau mimbar saksi itu merupakan masa lalu.
"...Tidak masuk akal...! Bagaimana...! Hal seperti ini...!"
Seakan tidak percaya, eksekutor tersebut menatap Lyca di atas mimbar saksi.
Chrono melempar mata itu kembali ke arah eksekutor.
"Apa kau ingat, Eksekutor. Apa yang terjadi pada Lyca setahun yang lalu, di hari eksekusinya."
"........."
Eksekutor tidak memberikan jawaban. Tapi, satu matanya yang tersisa bergetar hebat.
"Tak perlu menjawab. Mimbar saksi ini akan mengungkap kebenarannya."
Langkah kaki berbunyi tik, tok, menggema. Itu adalah suara langkah kaki dari setahun yang lalu. Di sel penjara pada mimbar saksi tersebut, datanglah seorang lelaki tua dengan jenggot panjang yang mengenakan jubah hakim.
"...Kakek...? Kenapa..."
Charl mengeluarkan suara terkejut. Sosok yang berdiri di depan Lyca adalah Sage Hukum Michelle.
Sambil duduk mematung tanpa sedikitpun pergerakan, dia terus menatap Lyca.
"...Apakah sudah waktunya?" tanya Lyca.
"Maukah kau membuat kesepakatan denganku?"
Di situlah untuk pertama kalinya Lyca memandang wajah Michelle. Dia lalu menundukkan pandangannya kembali dan berbicara.
"Sepertinya ini bukan sesuatu yang bagus."
"Paling tidak, nyawamu ini bisa diselamatkan."
"...Apa yang harus kulakukan?"
Dengan nada datar Lyca bertanya.
"Saintess. Charl Arlian, aku butuh kamu memanipulasinya. Sebagai Vampir Leluhur, mengontrol kerabatmu sendiri itu pasti sangat mudah."
"Oh, begitu ya."
Sambil mengangguk paham, Lyca berkata.
"Sage Hukum Michelle. Ternyata Anda adalah dalang dari pembunuhan Pendeta Oran, ya."
Setelah sesaat terlihat terkejut, Michelle segera menyeringai. Sebuah seringai yang memuakkan dan mementingkan diri sendiri.
"Tepat sekali."
Michelle mengakuinya dengan mudah. Meski Lyca tahu yang sebenarnya, dia sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Tentu dia dengan sengaja membongkarnya sendiri agar kenyataan itu menyiksa Lyca.
"Kenapa Anda, penjaga keadilan, malah berani melanggar hukum Corntzel? Padahal dengan mengutamakan hukum di kota ini, semua suku bangsa bisa bersatu dan menjalin persahabatan!"
Sambil meluapkan amarah, Lyca memelototi Michelle.
"Penjaga keadilan? Persahabatan? Jangan konyol. Kaisar Singa sama sekali tidak berniat menjadikan kota ini sebagai dunia utopia semacam itu, dan Empat Raja lainnya juga secara terang-terangan mengirim pasukannya ke mari. Yang Agung, Dewa ras Iblis kita, Tuan Raja Iblis Golroars juga, tentu saja!"
Dari sebuah lingkaran sihir, Michelle mengambil sebatang tongkat. Dia lalu mengetuk lantai sel tersebut. Lantai batu tersebut hancur berantakan dengan suara benturan keras, dan iblis berpenampilan mengerikan muncul dari bawah tanah.
Tubuhnya yang tebal diselimuti sisik-sisik sehitam arang. Di kepalanya berkerumun banyak tentakel yang menjadi pengganti rambut, dan taring-taring yang tajam menyembul dari mulutnya yang besar.
Meskipun itu adalah jenis iblis yang belum pernah dilihat, namun Lyca merasakan ada bagian-bagian yang tidak asing.
"...Anda... mencampuradukkan iblis...!"
Dengan tatapan jijik Lyca mengutuk.
"Sayangnya. Iblis-iblis itu tidak bisa tercampur dengan baik. Hanya iblis saja."
Kata-kata Michelle yang penuh maksud terselubung langsung dipahami Lyca.
"Jangan-jangan... Anda...!"
"Manusia juga. Manusia yang berdaya magis kuat adalah agen perekat terbaik untuk menyatukan sesama iblis. Tetapi itu masih belum cukup. Kalau aku bisa mendapatkan agen perekat yang jauh lebih kuat, aku bisa menggabungkan iblis tanpa batas."
"Sekarang aku paham. Mengapa Anda mengincar Charl."
Kukuku, Michelle tertawa kecil.
"Tuan Raja Iblis menitahkan. Ciptakan makhluk pamungkas yang serba bisa. Dan kekuatan seorang Saintess seperti Charl Arlian, akan memungkinkannya terjadi."
"Syukurlah."
Tubuh Lyca perlahan berubah menjadi kabut berwarna merah.
"Takkan kubiarkan kau kabur!"
Tentakel di kepala iblis aneh itu melesat cepat ke arah Lyca. Nyaris saja, dalam hitungan detik setelah tubuhnya sepenuhnya menjadi kabut, tentakel itu menembus tubuh Lyca dan malah menghujam dinding penjara.
"Aku tidak akan kabur, kok."
Kabut merah yang menghilang kemudian muncul kembali berkumpul di belakang sang iblis, lalu wujudnya kembali seperti semula, Lyca. Memanjangkan kukunya yang tajam, dia menebas leher si iblis tersebut.
"Aku harus menangkapmu, supaya aku bisa membersihkan namaku."
"Apakah kau bisa?"
Batang tubuh iblis yang kehilangan kepalanya itu kembali memunculkan tentakel-tentakel. Tak peduli dengan hal itu, tepat sesaat sebelum Lyca menancapkan kukunya pada tentakel-tentakel tersebut, gerakannya tiba-tiba terhenti.
"Untuk kerabatku."
Ujung tentakel yang memanjang itu berubah menjadi iblis anak kecil. Menjadi vampir, monster abadi yang memiliki taring tajam dan darah khusus.
Ditambah lagi, dari vampir itu, Lyca mencium aroma kerabatnya sendiri.
"...Apa, yang kamu lakukan?"
"Oh, ini hal yang mudah. Saat interogasi, aku mengambil darah darimu, 'kan. Selama aku memilikinya, aku bisa membuat kerabat sebanyak apa pun."
Kerabat itu maju ke depan, dan berusaha menangkap Lyca.
"Nah, apa kau bisa melakukannya? Membunuh anak sendiri."
Lyca dengan cepat menghindari tangan itu, dan mengayunkan kukunya yang tajam.
(Bahkan kerabat yang memiliki darahku, jika dicampuradukkan seperti ini, dia bahkan tidak diberikan kesadaran. Kalau begitu, setidaknya biarkan aku yang──)
"──Tolong aku, Mama..."
Kuku yang hendak ditusukkannya, terhenti lagi.
"Bohoong~"
Anak kerabat itu tertawa, dan menancapkan kukunya ke perut Lyca. Darah mengalir deras.
"Ah...!"
Kerabat itu kembali menjadi wujud tentakel aslinya, melilit tubuh Lyca, dan sepenuhnya mengikatnya.
"Nah, mari kita bertransaksi."
Michelle berkata dengan penuh kebanggaan.
"Kalau kau kucampurkan ke dalam makhluk serba bisa Valbarodde ini, aku akan mendapatkan kekuatan Vampir Leluhur. Memang butuh waktu. Cepat atau lambat, aku akan bisa mengendalikan Charl."
Itu pasti bukan kebohongan. Dia berhasil membuat kerabat dari darah Lyca. Pasti mudah baginya untuk menyerap kekuatan Lyca yang asli.
"Kalau begitu? Kau tidak perlu ragu, 'kan? Kalau kau menerima kesepakatan ini, kau bisa menghindari hukuman mati. Kau ingin melindungi hukum Corntzel, 'kan? Kalau aku yang seorang Sage Hukum, aku bisa membatalkan hukuman matimu tanpa perlu membengkokkan hukum itu."
"...Kalau aku bekerja sama denganmu, pada akhirnya aku tetap melanggar hukum."
Michelle menggelengkan kepalanya dari sisi ke sisi.
"Tentu saja, itu juga bukan masalah. Hukum itu selalu punya celah. Oleh karena itulah, meskipun aku menciptakan Valbarodde, aku tetap seorang Sage Hukum."
Mendengar hal itu, Lyca menutup mulutnya.
Mungkin karena menganggap tinggal sedikit lagi Lyca akan setuju, Michelle kembali berkata.
"Kalau kau bekerja sama denganku, aku akan menjadikanmu Sage Hukum."
Mata Lyca membulat.
"Itu adalah mimpimu, 'kan? Kau setuju atau tidak, Charl tetap akan mati. Ini juga hal yang tak bisa dihindari demi kelangsungan hidupmu. Bukankah lebih baik jumlah korbannya sedikit, itu juga baik untuk temanmu, bukan? Kalau gadis yang dipanggil Saintess itu, dia pasti akan mengerti."
"...Saintess, ya."
Sedikit saja, Lyca tertawa.
Kemudian, dia mulai berbicara dengan tenang.
"Gadis itu, sebenarnya mudah sekali menangis, tahu. Mudah merajuk, mudah cemburu, padahal dia selalu bersikap imut di depan orang lain, tapi kalau di depanku dia itu egois. Lagipula, meskipun dipanggil Saintess, dia bahkan sama sekali tidak percaya dengan Tuhan."
Karena tidak mengerti maksud Lyca, Michelle menunjukkan ekspresi kebingungan.
"Makanya, dia pasti bakal marah. Dasar gadis yang benar-benar merepotkan... egois, dan sama sekali tidak mikirin perasaanku. Gadis yang lurus, dan gegabah──"
Lyca menggerakkan kepalanya yang masih bisa bergerak sedikit, lalu membuka mulutnya.
"──Putriku yang manis."
Taring Vampir Leluhur menancap ke tentakel itu, dan darah pun menetes.
"Percuma. Kau berniat menjadikannya kerabatmu, tapi benda itu sudah menjadi kerabatku. Meskipun kau mengisap darahnya, kau tak akan bisa mengendalikannya."
"Apa kamu tahu? Semua Vampir Leluhur, selain untuk memperbanyak vampir, bisa menggunakan kekuatan khusus dengan mengisap darah."
Perlahan-lahan perubahan terjadi pada tubuh Lyca. Keempat anggota tubuhnya perlahan-lahan berubah menjadi tentakel.
"Kau, itu..."
"Kekuatanku adalah, menyerap karakteristik dari target yang darahnya ku isap. Tapi, darah yang diisap hanya boleh beberapa tetes. Kalau mengisap lebih dari itu, karakteristik vampirku akan tertimpa, dan aku akan kehilangan kemampuan mengisap darahku."
Michelle tersentak.
(Beberapa tetes? Tidak, wanita ini... Darah yang dia isap dari Valbarodde tadi, jelas lebih dari beberapa tetes──)
Seluruh tubuh Lyca dengan cepat berubah menjadi tentakel, seakan-akan tubuhnya sedang digerogoti. Makhluk serba bisa Valbarodde adalah campuran dari berbagai ras iblis dan manusia. Namun, mereka bukanlah satu spesies, melainkan makhluk-makhluk yang berbeda yang disatukan secara paksa.
Artinya, meskipun dia mengisap darah tentakel itu, dia tidak akan menjadi makhluk serba bisa. Lyca hanya akan berubah menjadi tentakel biasa. Dan kehilangan seluruh kekuatan Vampir Leluhurnya.
"Konyol...! Kau berniat mengubah dirimu menjadi tentakel yang tidak bisa bicara...!!"
"Dengan begini, kamu tidak akan bisa menyerap kekuatan Vampir Leluhur untuk mengendalikan Charl."
Tubuh Lyca dengan cepat berubah menjadi tentakel, dan hanya menyisakan bagian dadanya ke atas.
"Valbarodde! Bunuh dia! Selama wanita itu masih memiliki sisi vampir!"
Valbarodde mengarahkan kelima jarinya. Kekuatan sihir gelap berkumpul di sana. Lengannya memanjang seolah dipantulkan, dan menembus jantung Lyca.
"...Charl... Kamu tetap jaga dirimu, ya..."
Ikatan Lyca terlepas, dan tubuhnya jatuh ke lantai layaknya bunga yang berguguran.
Michelle berlari menghampirinya, dan diam menunggu.
"...Sial... Sudah tidak ada kekuatan vampir yang tersisa..."
Vampir Leluhur memiliki kekuatan keabadian. Kalau tidak memenuhi kondisi tertentu, dia tidak bisa dibunuh.
Meskipun penampilannya masih menyisakan ciri-ciri Lyca Endymion, dia telah sepenuhnya menjadi tentakel, dan kemudian mati.
Valbarodde memungut kepalanya, dan menempelkannya ke tubuhnya. Kemudian, saat menatap Michelle, dia membuka mulutnya.
"Punggung... racun."
Di punggung Michelle, tertancap sebuah belati pendek yang terbuat dari darah. Itu pasti perbuatan Lyca. Saat bertarung dengan Valbarodde, dia juga menyerang Michelle.
Daging di punggungnya seakan membusuk, meleleh dan jatuh dengan kental.
"Hmph. Benar-benar wanita yang bodoh."
Seluruh dagingnya telah membusuk dan jatuh, tapi Michelle tetap berdiri di sana dengan santai.
"Racun tidak mempan terhadap undead."
Tengkorak bergerak tanpa otot maupun organ tubuh. Itulah wujud asli dari Sage Hukum Michelle.
"Eh...?"
Saat itu juga, Charl yang sedari tadi diam melihat masa lalu yang diceritakan oleh mimbar saksi, mengeluarkan suaranya. Dia melihat ke arah eksekutor yang pandangannya juga mengarah ke mimbar saksi.
Mereka sama persis, tanpa ada perbedaan sedikit pun. Bukan hanya karena sama-sama undead. Michelle dan sang eksekutor, adalah orang yang sama.
"Bohong... semuanya? Kamu yang jadi pelakunya!?"
"Hmph."
Eksekutor──tidak, Michelle mendengus.
"Benar sekali. Aku mendekatimu untuk mencampurkanmu ke dalam Valbarodde. Padahal kalau kau tertipu sedikit lebih lama lagi, makhluk serba bisa ini akan selesai dengan sempurna."
Berpura-pura diserang oleh iblis di gang sempit, dan membuat raja arena pertarungan bawah tanah menceritakan tentang Pengadilan Sihir Semesta, itu semua adalah rencana Sage Hukum Michelle.
"Yah, memang sedikit merepotkan, tapi pada akhirnya sama saja."
Michelle menyentuh jubah hakimnya, lalu merobeknya dari tengah. Di dalam tubuhnya yang telanjang itu, terdapat ruang dimensi hitam.
Dari sana, sebuah kepala perlahan merangkak keluar. Sosok yang menampakkan diri adalah iblis aneh──makhluk serba bisa Valbarodde.
Ukurannya hampir dua kali lipat lebih besar dibandingkan yang dilihat di masa lalu.
"Valbarodde sudah delapan 80% selesai. Tubuh abadi, kekuatan lengan tanpa batas, dan kekuatan sihir yang tak habis-habis. Khusus untuk pertempuran, dia sudah menjadi makhluk yang serba bisa!"
Valbarodde mengarahkan pandangannya yang penuh niat membunuh ke arah Charl.
"Nah, Charl Arlian. Aku akan menyerap dan mempersembah-kanmu. Pada Tuan kita yang agung, Tuan Raja Iblis Golroars!!!"
Menendang lantai, Valbarodde melompat lurus ke arah Charl.
"Harap tenang."
Bersamaan dengan kata-kata Chrono, Valbarodde yang melesat tadi berhenti seakan waktunya telah berhenti.
"Ada apa, Valbarodde. Maju, majulah!!"
Atas perintah Michelle, Valbarodde mencoba bergerak dengan sekuat tenaga. Tapi, seberapa besar pun tenaga yang dia kerahkan, dia sama sekali tidak bisa bergerak. Berbagai lingkaran sihir tergambar, tapi semua sihir itu berakhir gagal.
"Konyol...! Valbarodde yang serba bisa tidak bisa menggerakkan satu jarinya pun...!? Bahkan sihirnya...! Hal seperti ini tidak mungkin terjadi...!!"
"Putusan telah dijatuhkan."
Ucap Chrono.
Kemudian, huruf-huruf bercahaya berkumpul di belakang Michelle dan Valbarodde, berubah menjadi tiang salib kayu.
"Apa...!"
Di depan mereka berdua, huruf-huruf bercahaya kembali berkumpul, dan berubah menjadi pasak.
Valbarodde membuat penghalang untuk menahan pasak yang ditembakkan, tapi pasak itu dengan mudah menembusnya. Kedua tangan dan kaki mereka berdua ditusuk dengan pasak, dan dipaku pada tiang salib kayu itu.
"...Kekuatan yang melampaui segala sesuatu ini... Pengadilan yang bahkan mengendalikan masa lalu ini... Jangan-jangan... Ini adalah... yang pernah dibicarakan Raja Iblis sejak lama..."
"Teks Putusan. Sage Hukum Michelle telah membunuh Pendeta Oran, dan menjatuhkan tuduhan itu pada Lyca Endymion untuk dieksekusi mati. Selain itu, kau juga menggunakan sihir sejenis fusi biologis yang merupakan mantra terlarang di Corntzel, dan menciptakan Valbarodde. Oleh karena itu, semua dosa dan hukuman dijatuhkan kepada pelaku yang sesungguhnya."
Huruf-huruf bercahaya kembali berkumpul, lalu berubah menjadi dua buah tombak.
"Kau adalah... Chrono... bukan... engkau...!! Tuan──"
"Kau dihukum salib."
Kedua tombak itu melesat lurus, dan menembus Michelle dan Valbarodde.
Darah mengalir keluar dari mulut Michelle.
"Raja Pembantaian... Sang... Maha Tahu dan Maha Kuasa...!!"
Tubuh Michelle dan Valbarodde berubah menjadi huruf-huruf bercahaya, dan perlahan menghilang sepenuhnya.
Di saat yang bersamaan, tiang salib itu juga kembali menjadi huruf-huruf aslinya.
Charl menatap pemandangan itu dengan terpaku. Karena kejadiannya begitu tiba-tiba, dia sepertinya belum bisa memahami apa yang terjadi. Begitulah kelihatannya.
Chrono berjalan menghampiri Charl.
"Sesuai dengan apa yang kamu percayai. Teman Charl tidak bersalah."
Kepada Charl yang menunduk, Chrono berkata.
"Jiwa Charl yang penuh kebanggaanlah yang telah membersih-kan namanya. Kamu telah menyelamatkan temanmu."
"...Benarkah begitu?"
Chrono berhenti melangkah.
Gadis itu masih menunduk dengan wajah suram.
"...Padahal Lyca... bisa saja melarikan diri, 'kan..."
Sambil mengingat masa lalu yang dia lihat di mimbar saksi, dia berkata.
"Kalau saja dia nggak berusaha melindungiku... dia nggak perlu bertarung dengan monster semacam itu, 'kan... Kalau saja aku nggak ada──"
"Kamu ada di sana. Dan Lyca berusaha untuk melindungimu."
Bukan untuk menghiburnya, tapi Chrono hanya mengatakannya dengan terus terang.
"Itu karena dia ingin kamu tetap hidup. Bahkan setelah kematiannya... sampai sekarang pun."
Perlahan, setetes air mata jatuh dari mata Charl.
"Kau telah mewujudkan apa yang diharapkannya di saat-saat terakhirnya."
"...Un..."
Air mata mengalir tanpa henti, dan suaranya terdengar basah.
"Chrono-kun... Aku, ya... Waktu Lyca mati, aku nggak nangis... Aku bertekad, aku pasti akan bersihin namanya..."
Dengan goyah, Charl menundukkan kepalanya lemas, dan bersandar di dada Chrono.
"Sekarang, aku udah nggak usah nahan diri lagi, 'kan?"
"Belum."
Sesaat terjadi jeda yang kosong. Dengan tenang dan perlahan, Charl menatap Chrono.
"Semua dosa dan hukuman dijatuhkan kepada pelaku yang sesungguhnya. Hukuman mati Lyca telah dibatalkan, dan dieksekusikan kepada Michelle. Putusannya telah diubah. Apa kamu mengerti?"
"...Berarti, nama baik Lyca, sudah dilindungi, 'kan...?"
Chrono menatap Charl lamat-lamat.
"...Habisnya, kalau lebih dari itu... mau gimana lagi, 'kan...?"
"Charl."
Dia berkata.
"Putusan Pengadilan Sihir Semesta, dieksekusi dengan kemahakuasaan."
Chrono mengarahkan pandangannya ke tempat tiang salib itu berada sebelumnya. Seakan terdorong oleh hal itu, Charl pun ikut menoleh ke arah yang sama.
Kabut mulai muncul. Kabut merah yang semerah darah. Di tengah kabut yang terlihat mengerikan namun memancarkan keindahan itu, dia berdiri.
Lyca Endymion.
"Lyca.………."
Tok, Charl mengambil satu langkah maju.
Lyca perlahan membuka matanya yang tadinya tertutup. Kemudian, dia benar-benar menatap gadis itu.
"...Charl?"
"Lycaa!!!!"
Seolah ada sesuatu yang menggerakkannya, Charl berlari. Dengan napas terengah-engah dan mata yang berkaca-kaca karena air mata, gadis itu melompat dan memeluk Lyca erat.
"Charl. Apa yang terjadi padaku...? Kupikir aku sudah mati setelah bertarung melawan Valbarodde...?"
Dengan kebingungan Lyca bertanya. Tapi, tidak ada jawaban.
"Charl..."
"...Uuh... hiks... Aah... Lyca... Lyca...!!"
Dengan wajah yang basah oleh air mata, Charl menangis tersedu-sedu layaknya anak kecil.
Suaranya hampir tidak berbentuk kata-kata, dia hanya terus memanggil nama Lyca, seperti anak yang bermanja pada ibunya.
Lyca yang kebingungan pun, perlahan melembutkan ekspresinya, dan memeluk Charl dengan erat.
"Aku tidak terlalu paham situasinya, tapi kamu pasti sudah berjuang keras, ya, Charl."
Dia dengan lembut mengusap kepala Charl yang membenamkan wajah di dadanya, dan terisak.
"Tidak ada hari yang lebih membahagiakan dari hari ini."
Tempat di mana semua pengetahuan terkumpul, tempat yang memberikan putusan yang adil──Pengadilan Sihir Semesta. Tempat yang bahkan bisa membalikkan kesalahan di masa lalu, dan hanya membiarkan kebenaran mendapatkan kekuatan.
Kali ini, kunci untuk membuka pengadilan itu adalah jiwa yang murni dari seorang gadis yang tegar.
Pengadilan Sihir Semesta memberikan putusan yang terbaik bagi gadis yang terus memercayai ketidakbersalahan sahabatnya tanpa memedulikan nyawanya sendiri.





Post a Comment