NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Zenchi Zennou no Ou, Okotoba ga Kanchigai Sareru ~Tomodachi ga Hoshikute Gakuin ni Haitta dake nanoni, Sekaijuu de Hijou Jitai ga Sengen Sarete Shimatta~ V1 Chapter 16 - 20

 Penerjemah: Randika Rabbani

Proffreader: Randika Rabbani


Chapter 16

【Murid Pindahan yang Tidak Wajar】

"Aku adalah Matthew sang Ifrit yang pindah dari Negara Domdrad. Pria yang membara layaknya api! Sedang mencari teman! Semuanya, mohon kerja samanya!"

Itu adalah kejadian di Ruang Kelas 8 Akademi Noir keesokan harinya.

Dengan tujuan mencari perhatian Raja Pembantaian Chrono Granvephius, Matthew menyelesaikan perkenalan dirinya. 

Rencananya adalah langsung mengajak Chrono berbicara, dan menyalakan api persahabatan. Itu akan berkobar dengan cepat, dan membengkak menjadi api sahabat sejati.

Namun, Matthew sendiri pun tidak menyadari sampai saat ini kalau ada benda asing yang menyusup dan mengacaukan rencana sempurnanya.

"Kalau begitu, orang berikutnya."

Wali kelas Marco berkata.

"Fong Carmilla, manusia naga dari ras naga putih yang datang dari Desa Naga. Aku ingin mencari banyak teman."

Seorang pemuda dengan tanduk naga putih memperkenalkan dirinya. Dia juga murid pindahan.

Dan satu orang lagi──

"Saya Oddo Cariot, seorang biarawan dari Tanah Suci Arlon. Tipe teman yang saya sukai adalah orang yang bisa melakukan banyak hal."

Pemuda berwajah lembut dengan jimat di lehernya tersenyum manis. Dia juga murid pindahan.

Ditambah satu orang lagi.

"Aku Jay Armorte, manusia yang pindah dari Akademi Ladad di Corntzel. Aku nggak butuh banyak teman. Kupikir cukup punya satu orang sahabat sejati saja. Salam kenal!"

Tak disangka, murid yang baru pindah ke kelas ini ada 4 orang. Tentu saja, ini tidak mungkin kebetulan.

(Betapa bodohnya...! Raja Naga Putih, Paus Permulaan, Kaisar Singa, tiga raja idiot itu, menyelundupkan bawahan mereka tanpa pemberitahuan sebelumnya! Mana mungkin ada 4 murid pindahan datang bersamaan di waktu yang tidak tepat begini. Kita hanya akan ketahuan oleh Raja Pembantaian!)

Matthew mengutuk dalam hati. Fakta kalau tuannya sendiri juga tidak memberikan pemberitahuan sebelumnya kepada tiga raja lainnya benar-benar hilang dari kepalanya.

"Permisi. Saya ada sedikit urusan yang harus diselesaikan. Kalian semua silakan memperdalam keakraban untuk sementara waktu."

Setelah mengatakan itu, Marco keluar dari kelas.

Seketika, Matthew dan tiga orang lainnya melihat ke kursi paling belakang, yaitu ke arah Chrono.

Saat Chrono balas menatap mereka dengan santai, Matthew dan yang lainnya buru-buru memalingkan pandangan.

Kemudian, mereka saling bertukar kontak mata.

(Di level kita, kita bisa saling mengerti isi kepala satu sama lain hanya dengan bertatapan mata. Rasanya ingin menggunakan sihir komunikasi, tapi nanti akan dicurigai oleh Raja Pembantaian.)

Matthew menyampaikan maksudnya lewat pandangan. Tatapan tanda setuju dikembalikan dari tiga orang lainnya.

(Kalau sudah begini, mau tak mau kita harus melakukannya meskipun agak tidak wajar. Kita tentukan urutan untuk menyapanya. Tidak ada keberatan, 'kan?)

Ketiganya mengangguk kecil, dan mereka kembali bertukar kontak mata.

(...Yang menyapa pertama kali, adalah aku. Berikutnya Biarawan Oddo, ketiga Manusia Jay, terakhir Manusia Naga Fong. Oke, ya, aku mengerti. Keputusannya seperti itu. Dengar, ya? Jangan sampai menunjukkan gerak-gerik mencurigakan. Kalau sampai ketahuan sedikit saja, dia itu Sang Maha Tahu dan Maha Kuasa, semuanya akan berakhir.)

Setelah memberikan peringatan lewat pandangan, Matthew bergerak cepat.

Tiga orang lainnya juga melangkah secara natural menuju kursi siswa.

Setiap melangkah mendekati Chrono Granvephius, detak jantung semakin cepat. Napas tidak bisa diatur dengan baik. Bahkan pandangan pun terasa mengabur.

Raja Pembantaian yang Maha Tahu dan Maha Kuasa──hanya berhadapan dengannya saja sudah membuat rasanya seperti hampir mati.

(Tapi, aku harus pergi! Sesuai perintah Raja Iblis, aku harus menjadi teman Raja Pembantaian dengan cara apa pun, lalu membunuhnya dengan tanganku sendiri!!)

Dengan memantapkan tekad, Matthew melangkah maju dan meletakkan tangannya di atas meja Chrono.

""""Yo, salam kenal. Namamu siapa?""""

Suaranya sendiri bergema empat kali lipat. Bukan. Empat orang menyapa di waktu yang bersamaan. Oddo, Jay, dan Fong, semuanya tersenyum pada Chrono di saat yang sama persis dan dengan kata-kata yang sama persis seperti Matthew.

(Mereka salah mengartikan kontak mata, dan semuanya salah sangka mengira dirinya yang pertama!!!? Bodoh macam apa mereka ini!?)

Matthew mencaci maki mereka bertiga di dalam hatinya.

Namun, dia segera mengubah alur pikirannya.

(Tidak, belum. Jangan sampai dicurigai. Bertingkahlah seolah-olah empat orang tidak sengaja menyapa di saat yang bersamaan. Apaan, aku, Matthew ini, sedikit percaya diri dengan nyaliku.)

Kemudian, Chrono yang diam sejak tadi membuka mulutnya.

"Empat murid pindahan di waktu yang tidak tepat begini sangatlah langka. Pasti akan turun hujan."

Nadanya santai. Hanya basa-basi tanpa niat lain sama sekali.

Tapi, Matthew mendapat firasat.

(Hujan...!? Hujan darah, kah...!? Apakah Beliau sudah menyadari niat kami, dan berniat untuk mengotori tangannya...!? )

Kepada Matthew dan kawan-kawan yang gemetar ketakutan, Chrono berkata.

"Tidak perlu khawatir. Kalian akan segera berhenti merasa gugup."

(Akan dibunuh...!!!! Kita harus menjauh! Berlagak natural, tapi harus secepat mungkin! Cari ide brilian untuk itu!!)

Matthew dan yang lainnya secara reflek berteriak.

""""TOOOOILEEEEEEEEEEEEEEEEEEET───────────────────────!!!""""

Berlari dengan kecepatan penuh, mereka menerobos masuk ke toilet. Sudah tidak ada lagi niat untuk melenyapkan Raja Pembantaian, Matthew hanya bisa gemetar di dalam bilik.

(TL/N : LOL)


Chapter 17

【Sabda di Jam Istirahat Siang】

Jam istirahat siang di hari itu.

Chrono meletakkan kantong kertas di atas meja. Dia membukanya, dan memasukkan tangannya. Yang dikeluarkannya dari sana adalah roti gandum hitam.

Sebuah teko besi melayang di udara, dan apinya dinyalakan menggunakan sihir. Saat air di teko mendidih bergolak, sebuah teko teh kaca melayang menghampirinya. Di dalam teko kaca itu berisi daun teh hitam. Teko besi itu miring, dan menuangkan air panas ke dalam teko kaca.

Setelah diseduh sebentar, Chrono memegang teko kaca dan menuangkan teh ke cangkir.

"Kamu melakukan hal yang terampil, ya."

Yang datang adalah Carlo. Dia terlihat sangat penasaran melihat teh buatan Chrono.

"Mau minum?"

"Oh. Boleh?"

Chrono menggambar lingkaran sihir, dan mengeluarkan satu cangkir lagi. Saat teh dituang ke dalamnya, cangkir itu terbang perlahan ke tangan Carlo.

Carlo mengambil kursi dari bangku kosong, lalu duduk.

"Empat orang itu, belum kembali, ya."

"Dengar-dengar sih mereka ngurung diri di toilet. Sakit perut, sepertinya."

"Empat orang secara bersamaan?"

"Iya, ya."

Carlo tidak mengubah ekspresinya, tapi di dalam hati dia merasa sakit kepala.

(Apa yang terjadi? Mereka itu bawahan Konferensi Empat Raja, 'kan? Kalau pakai cara mencolok kayak gini, aku juga bisa ikut dicurigai.)

Chrono menyobek roti gandum hitam, dan memasukkannya ke dalam mulut.

"Ngomong-ngomong mereka berempat, bilang kalau mereka ingin teman. Kebetulan yang aneh."

Ucap Chrono.

Lambung Carlo ikut terasa sakit.

"Tidak, mungkin tidak juga."

Deg, jantung Carlo berdegup kencang.

(Gawat. Apa dia sudah sadar...!? Bagaimana nih? Kalau nggak diakali, nyawa empat orang itu akan melayang...)

(Karena semua orang pasti menginginkan teman.)

Itulah filosofi Chrono.

"Bisa dibilang itu hal yang pasti."

"...Berarti, empat orang itu ada hubungannya, kah?"

Carlo dengan instan langsung membuang Matthew dan yang lainnya.

(Kalau aku melindungi mereka, aku akan ikut dicurigai. Maaf saja, tapi matilah kalian.)

"Hubungan? Kamu membicarakan hal yang aneh."

"Eh?"

Saking kagetnya mata Carlo membulat.

Kalau dibuang di sini, bahkan kalau kesimpulannya Matthew dan kawan-kawan mencurigakan, percikan apinya tidak akan sampai kepadanya. Begitulah yang dia pikirkan, tapi percakapan mereka ternyata tidak nyambung.

"Bukannya tadi bilang pasti."

"Itu bukan berarti ada hubungannya. Kenapa kamu berpikir begitu?"

"........."

Carlo merasa jantungnya diremas dengan kuat. Kalau dia salah jawab satu kata saja, jantungnya akan langsung diremas hancur. Bahkan dia berpikir seperti itu.

(Gimana ini? Tentu saja, di situasi ini karena aku tahu hubungan orang-orang itu, dia pasti mikir makanya aku ngomong gitu, 'kan? Apa aku coba beralasan saja kalau novel yang aku baca kemarin ceritanya begitu? Bodoh, aku! Sama saja seperti minta dicurigai!)

(Apa di novel yang dibacanya kemarin ada cerita semacam itu, ya?)

Begitulah pikir Chrono.

Anehnya Carlo hampir mendekati jawaban yang benar, tapi dia tidak bisa memilih alasan itu.

(Kalau sudah dicurigai sampai sejauh ini, sedikit banyak aku harus bicara kebenarannya biar bisa dipercaya!)

Carlo memantapkan tekad untuk mengorbankan sesuatu yang tidak perlu dikorbankan.

"Sebenarnya, aku tidak sengaja dengar."

Carlo berbisik seolah-olah sedang membicarakan rahasia.

"Apa?"

"Di ruang kepala sekolah, ada yang bicara. Katanya bakal nyusupin orang yang punya kekuatan besar ke kelas ini."

"Hoo."

Chrono sama sekali tidak tertarik.

(Apanya yang 'Hoo'..!? Kalau tidak kasih reaksi, aku mana mengerti!)

Carlo tersudutkan dengan sendirinya.

"Apaan, sih. Kamu tidak percaya?"

"Hanya tidak tertarik."

"Aneh, deh. Ini 'kan soal kelas kita. Normalnya──"

Saat berbicara sampai di sana, Carlo tersentak.

(Benar. Normalnya pasti tertarik. Apalagi dia Raja Pembantaian, kemungkinan besar dirinyalah yang jadi target. Artinya, fakta kalau dia tidak tertarik berarti dia sudah tahu──)

"Carlo mau makan juga?"

"O, ou..."

Carlo menerima roti gandum hitam yang disodorkan oleh Chrono.

"Nikmatilah. Ini roti yang terakhir."

"Apa...!!!"

Napasnya tidak bisa diatur dengan baik.

(Apa dia barusan bilang kalau roti gandum ini itu roti terakhir yang bakal kumakan seumur hidup...?)

Chrono sama sekali tidak mengatakan hal itu. Roti yang dibelinya itu hanyalah sisa yang terakhir. Tapi, bagi Carlo yang sudah tersudut, dia tidak bisa mendengarnya selain dari arti itu.

(Artinya, dia tahu kalau aku ini bawahan Kaisar Singa... Waktu yang tersisa untukku, cuma sampai aku selesai makan roti ini...)

Dengan mata kosong, Carlo menatap roti gandum hitam itu.

"Ah, rotinya keliatan enak. Minta, dong."

Entah sejak kapan, Charl yang berdiri di belakangnya mengambil roti gandum hitam itu, dan melahapnya dalam satu gigitan.

"Hei, bodoh! Kembalikan──"

Dengan kecepatan luar biasa Charl menghabiskan roti gandum hitam itu.

"A, ka... ki... e, a, kau... e, a, barubebaba...!"

Suara menyedihkan yang tidak berbentuk kata-kata keluar dari mulut Carlo.

"N-Nggak usah sebegitu syoknya... Nih, aku kasih ini sebagai gantinya~"

Charl meletakkan sebatang cokelat di telapak tangan Carlo, lalu duduk di kursi sebelah Chrono.

"Selamat pagi, Chrono-kun. Kursinya bersebelahan, ya."

"Kerang-kerang itu ternyata milik Charl, ya. Aku paham sekarang."

"Eh~ Apaan sih, maksudnya apa, coba?"

Seakan menggoda, Charl mendekatkan tubuhnya.

"Maksudnya? Hmm, ya... Kupikir kamu kelihatan seperti orang yang menyukai kerang murahan."

"Itu sih jelas-jelas ejekan!"

Seolah keceplosan, Charl protes.

"Cocok, 'kan."

"Makanya, itu juga ejekan yang kejam!"

Mereka berdua saling melempar lelucon.

"Ngomong-ngomong, Corntzel lagi diberlakukan keadaan darurat, ya."

Saat Charl memulai pembicaraan itu, Carlo yang tadi linglung langsung bereaksi.

"Kudengar perintah itu dikeluarkan dari Kastel Emas Heartia atas titah Yang Mulia Kaisar. Bukan cuma Corntzel, tapi seluruh negeri."

Carlo menjelaskan.

"Tapi, keadaan darurat apa sih, aku sama sekali nggak ngerti. Entah ada negara mana yang nyerang, atau ada segel yang lepas, gitu."

"Yah, mungkin ada hal yang nggak bisa dibilang. Atau mungkin kejadian buruk yang lebih dari itu."

"Maksudnya kayak, orang berbahaya, gitu?"

"Kalau dipikir secara normal, ya begitu."

"Begitu, ya."

Charl menelungkupkan badannya di atas meja.

"Banyak banget penjaga keamanan. Semoga cepat beres, deh."

"Lagian itu hal yang percuma."

Mendengar perbincangan mereka berdua, Chrono untuk pertama kalinya angkat bicara.

"...Percuma?"

Dengan berusaha sehati-hati mungkin, Carlo bertanya.

"Ya."

"Apakah itu, Kata-kata Anda...?"

Carlo yang berpikir kalau identitasnya sudah ketahuan, berusaha menggali informasi sebanyak-banyaknya di saat-saat terakhir.

"Selain kata-kata, apa lagi?"

(Kata-kata!!)

Carlo sudah sepenuhnya yakin, tapi Chrono hanya sekadar mengobrol biasa. Tentu saja, Chrono tidak tahu kalau Carlo adalah bawahan dari Konferensi Empat Raja.

"Lalu, yang kamu bilang percuma itu?"

"Maksudnya akan sia-sia."

Chrono menjawab dengan singkat.

(Keadaan darurat yang dideklarasikan secara bersamaan di seluruh dunia. Mungkin itu untuk persiapan menghadapi pembantaian besar Raja Pembantaian. Tapi, aku sama sekali tidak berniat melakukan hal itu.)

(Konyol... Bahkan deklarasi keadaan darurat di seluruh dunia, Beliau bilang kalau itu akan sia-sia sepenuhnya...)

Percakapan mereka berdua terus meleset jauh tanpa ujung.

"Kalau kubilang percuma, sedikit bohong, ya? Berbohong itu tidak baik."

"...D-Deklarasi keadaan darurat itu, terlalu membosankan, 'kan?"

"Ya, tentu saja."

Chrono menjawab dengan singkat lagi.

(Setelah jam pulang sekolah tidak bisa diam di akademi, dan toko-toko juga tutup lebih awal. Membosankan.)

(Tidak salah lagi...! Beliau bilang kalau level deklarasi keadaan darurat itu terlalu membosankan!! Aku harus melapor! Secepat mungkin!)

Carlo langsung berdiri, dan bergegas keluar dari kelas.


Chapter 18

【Tanya Jawab Empat Raja】

Konferensi Empat Raja.

Di tengah meja bundar, proyeksi sihir Carlo baru saja selesai memberikan laporan.

"Apa kau yakin, Carlo. Beliau benar-benar bilang kalau itu terlalu membosankan?"

Kaisar Singa Landuke bertanya dengan tajam.

"Mohon maaf, tapi saya, Carlo, dengan mempertaruhkan nyawa, telah memastikan kalau itu adalah Sabda Beliau. Saya tidak mungkin salah."

Dengan ekspresi tegang dan serius, Carlo menegaskannya.

"Muu."

"Nuu."

"Sabda... kah..."

Suara erangan meluncur dari para Empat Raja.

"Intinya, bahkan persiapan perang yang sedang kita, Empat Raja, lakukan di seluruh dunia pun, tidak ada apa-apanya di mata raja itu."

Raja Iblis Golroars berkata.

Kalau laporan Carlo diterima mentah-mentah, memang begitulah kesimpulannya.

"Bukan pertanda yang bagus, ya."

"Maksudmu?"

Kepada Paus Permulaan Sol, Landuke bertanya.

"Coba pikirkan. Tujuan Raja Pembantaian seharusnya adalah menghancurkan dunia bersama-sama dengan gembira. Untuk itu, beliau sedang berusaha mengumpulkan rekan."

Kepada Landuke dan yang lainnya, Sol menjelaskan dengan saksama.

"Tapi, kalau deklarasi keadaan darurat saja dirasa membosankan, apa beliau masih berniat mengumpulkan rekan?"

"Itu..."

"Masuk akal. Contohnya saja, pria yang ingin mencapai puncak jalan bela diri pun, tidak akan bisa menikmati pertarungan kalau musuhnya terlalu lemah. Mengumpulkan rekan pun jadi terasa merepotkan."

Agad, Raja Naga Putih, berkata menyetujui pendapat Sol.

"Kalau dibiarkan begini, apa Raja Pembantaian tidak akan repot-repot mencari rekan, dan malah pergi menghancurkan dunia sendirian?"

Udara di ruangan itu langsung menegang.

"Kalau begitu, tidak aneh kalau beliau mulai bertindak hari ini. Sekarang, saat ini juga, raja itu bisa memulai pembantaian besarnya."

Yang mengatakan hal itu adalah Golroars.

"Bagi raja yang Maha Tahu dan Maha Kuasa, mengumpulkan rekan hanyalah sekadar permainan. Tapi, justru itulah satu-satunya celah bagi kita. Kalau raja itu sedang asik bermain, kita masih punya cara. Tapi, kalau beliau sudah bosan, maka dunia ini..."

"Menurutku, ini bukan cuma soal hal-hal buruk saja..."

Saat Sol mengatakan itu, keempat raja lainnya menoleh kepadanya.

"Merasa bosan itu, kalau dibalik, artinya ada keinginan untuk bersenang-senang. Bukankah Raja Pembantaian itu mengharapkan keberadaan orang yang bisa menghiburnya?"

"Muu..."

"Memang benar..."

Agad dan Landuke mengerang, tapi menunjukkan persetujuannya.

"Lalu bagaimana? Bocah Manusia. Apa raja itu mengatakan hal lain?"

Golroars bertanya pada Carlo.

"Selain itu... Tidak ada hal lain yang terlihat seperti itu..."

"Apa saja boleh. Kalau berkaitan dengan raja itu, hal sekecil apa pun penting. Peras otakmu yang tidak berguna itu dan pikirkan. Di ingatanmu itulah, nasib dunia dipertaruhkan."

Carlo berpikir keras.

Dia terus memikirkan dan memikirkan dengan putus asa apakah ada sesuatu yang bisa menjadi petunjuk sedikit pun dalam interaksinya dengan Chrono, lalu dia tersentak.

"Oh iya, Raja Pembantaian pernah bilang begini. Berbohong itu tidak baik, katanya. Tentu saja, itu mungkin bukan Sabda, melainkan hanya kebetulan dari alur pembicaraan──"

Di tengah kalimat, Carlo menelan ludahnya.

Semua Empat Raja berkeringat deras, dan memancarkan aura yang tidak biasa.

"A... Ada apa? Yang Mulia Kaisar."

Karena tidak sanggup menahan ketegangan yang luar biasa itu, Carlo bertanya pada tuannya seolah memohon bantuan.

"Di antara kita ada yang berbohong. Itulah yang menyentuh amarah Raja Pembantaian."

Kaisar Singa Landuke menegaskan hal itu dengan ekspresi penuh keyakinan.

"T-Tidak, tunggu sebentar, Yang Mulia. 'Berbohong itu tidak baik', belum pasti kalau itu adalah Sabda yang ditujukan untuk Konferensi Empat Raja..."

"Bodoh. Beliau itu Maha Tahu dan Maha Kuasa, raja itu. Tidak mungkin beliau mengatakan kata-kata yang tidak ada artinya. Bocah. Fakta kalau kau baru saja mengingat kata-kata itu adalah buktinya. Beliau sudah tahu. Semuanya sudah berada di telapak tangan raja itu."

Raja Iblis Golroars menegaskannya.

"Tuan Agad. Kudengar Raja Naga Putih memiliki pelindung terkuat yang disebut Ksatria Naga Hitam, bukan begitu?"

Dengan nada santai tapi menusuk langsung ke inti masalah, Sol berkata.

"...Tentu saja."

Dengan nada waspada, Agad menjawab.

"Tapi kenapa, Anda tidak memasukkan pelindung terkuat itu ke dalam unit penyergap Raja Pembantaian. Padahal Anda sudah mendeklarasikan keadaan darurat. Kalau kekuatan utama Raja Naga Putih tidak ada, wajar saja kalau raja itu merasa bosan, 'kan."

"Prasangka buruk! Ksatria Naga Hitam sedang sakit parah, jadi dia tidak bisa bertarung, hanya itu saja alasannya!"

Saat Agad membela diri seperti itu, Sol menatapnya dengan tatapan seolah sudah melihat segalanya.

"Ksatria Naga Hitam Gilm Voser itu, adalah putra Anda, 'kan. Anda menjauhkannya dari panggung perang suci yang mempertaruhkan nasib dunia. Padahal dia masih bisa bertarung!"

"Jangan konyol! Pasukan manusia naga kami tidak selemah itu sampai harus menyuruh anakku yang sedang sakit untuk bertarung!!"

"Sayangnya, yang menilai hal itu adalah Raja Pembantaian. Bukankah beliau mengharapkan pahlawan yang tetap bertarung meskipun sedang sakit?"

"...Apa...!"

Agad sejenak tidak bisa berkata-kata.

(...Jadi, karena itu, beliau bilang membosankan... Pria yang benar-benar punya selera buruk, Chrono Granvephius sang Raja Pembantaian...!!)

Agad membakar amarahnya yang menggebu-gebu pada Chrono. Tentu saja, Chrono sama sekali tidak berpikiran seperti itu. Sol-lah yang mengatakannya seenaknya.

"Kalau begitu, izinkan aku mengatakan hal ini juga!"

Agad memalingkan wajahnya dari Sol, dan memelototi Landuke.

"Bahkan sampai saat ini, sepertinya pasukan manusia tidak bersatu padu, ya. Melakukan konflik internal di saat krisis dunia ada di depan mata, itu menunjukkan kapasitas rajamu, ya. Hei, Landuke."

"...Dari mana kau tahu hal itu?"

"Entahlah. Walau begitu, tidak mungkin Raja Pembantaian tidak mengetahui apa yang aku ketahui. Pasti beliau sangat kecewa dengan konflik internal yang bersembunyi di balik nama keadaan darurat, bukan?"

Begitulah Agad menatap rendah pada Landuke.

"Kalau kau menyerang sampai sejauh itu, aku juga punya pembelaan."

Landuke memelototi Sol dengan tajam.

"Kudengar Gereja Saint Harkemas mengajarkan kalau pembantaian besar itu adalah cobaan dari Tuhan, ya."

"Semua cobaan, berasal dari kehendak Tuhan. Oleh karena itu, kami tidak takut mati. Selama masih bernyawa, kami akan terus bertarung, dan kami pasti akan menghibur raja itu."

"Apakah itu tidak menyentuh amarah Raja Pembantaian?"

"...Kenapa begitu? Setidaknya kami tidak melakukan apa pun yang menentang kehendak raja itu."

Dengan sikap tegas Sol berkata.

"Bagaimana kalau beliau berpikir kalau pembantaian besar itu bukan kehendak Tuhan? Jadi, 'Jangan berbohong!', begitu maksudnya!"

"Itu... Tapi, dunia ini diciptakan oleh Tuhan. Tidak berlebihan kalau dibilang semua hal yang terjadi, adalah perbuatan tangan Tuhan."

"Apa kau lupa, Sol. Raja Pembantaian itu Maha Tahu dan Maha Kuasa. Setidaknya setara dengan Tuhan, atau mungkin beliau merasa berada di atas-Nya."

Mendengar poin yang ditunjukkan Landuke, Sol tidak bisa berkata-kata.

" 'Berbohong itu tidak baik', bukankah Sabda itu ditujukan padamu!"

Sol tidak bisa memberikan bantahan yang layak.

Sebagai gantinya, seolah ingin mengalihkan sasaran, dia memelototi Agad. Agad memelototi Landuke, dan Landuke memelototi Sol. Pertarungan segitiga telah terbentuk.

"Dasar orang-orang bodoh."

Satu-satunya orang yang tidak diserang, Raja Iblis Golroars, angkat bicara.

"Alasan raja itu merasa kesal, bukanlah karena hal sesepele itu. Kalian, menyelundupkan bawahan ke Akademi Noir, 'kan?"

Ketegangan yang berbeda dari sebelumnya, menyelimuti meja bundar.

Landuke dan yang lainnya tidak menjawab. Tapi, tingkah laku mereka sudah menjelaskannya dengan fasih.

"Jangan bilang, ada orang kurang ajar yang berniat pura-pura jadi teman raja itu, lalu berpikir untuk membunuhnya?"

Golroars menatap tajam ke arah ketiga orang itu dengan mata yang dipenuhi niat membunuh.

"...A-Apa dasar tuduhanmu..."

Dengan suara yang jelas terguncang, Agad berkata.

Segera, Landuke menyusul.

"Padahal raja itu akan melakukan pembantaian besar, kenapa repot-repot mengumpulkan bawahan untuk bersenang-senang. Bukan-kah rencana pembunuhan seperti itu malah akan disambut baik?"

"Naif. Pikiranmu lebih naif dari sirup madu, Manusia."

Golroars membantahnya secara langsung.

"Kenapa beliau repot-repot mengumpulkan bawahan? Karena beliau tahu beliau terlalu Maha Tahu dan Maha Kuasa kalau sendirian, makanya beliau tidak bisa menikmati permainannya, bukan?"

"Ugh... I, itu..."

"Kalau begitu, mengincar nyawa raja itu secara langsung adalah kebodohan tingkat tinggi. Kalau lawan mainnya sangat bodoh, beliau bahkan tidak akan punya keinginan untuk bermain."

Entah karena tidak bisa berkata-kata, Landuke hanya bisa menggertakkan gigi gerahamnya dengan kuat.

"Kalau ada yang merencanakan pembunuhan raja itu, dia harus segera bunuh diri! Sekarang juga!! Kalau kalian melakukannya, mungkin beliau akan memberikan kesempatan tak terduga."

Tapi, menanggapi kata-kata Raja Iblis, mereka bertiga hanya menundukkan kepala, dan terus menatap meja bundar.

"Dasar pengecut tidak berguna yang tidak punya harga diri sama sekali. Ya sudahlah."

Klik, Golroars menjentikkan jarinya.

Lingkaran sihir tergambar di meja bundar, dan sebuah proyeksi muncul di sana. Bawahan Golroars, Matthew yang menyusup ke Akademi Noir.

"Anda memanggil saya, Raja Iblis."

"Penyelidikan tentang tiga orang yang menyusup ke Akademi Noir sudah selesai, 'kan?"

"Siap."

"Orang-orang itu pura-pura berteman dengan Raja Pembantaian, dan berniat untuk membunuhnya, 'kan?"

"Bukan! Murid-murid pindahan itu mungkin ketakutan melihat Raja Pembantaian, mereka cuma gemetaran di toilet! Sangat tidak mungkin mereka melakukan pembunuhan! Tapi, tolong tenang saja! Saya, Matthew, sesuai perintah Raja Iblis, pasti akan membunuh Raja Pembantaian dengan tangan saya sendiri!!!"

Proyeksi sihir terputus, dan sosok Matthew menghilang. Golroars dengan cepat mematikan sihir komunikasi itu.

"Golroars..."

"Kau..."

"Fumu..."

Tatapan Landuke, Sol, dan Agad menusuk Golroars dengan menyakitkan.

Raja yang menguasai ras iblis, mengambil keputusan dengan cepat.

"Nuuuoooryaaaa!!!"

Dia memotong perutnya sendiri.

Meja bundar itu berlumuran darah, tapi dia hampir tidak selamat.


Chapter 19

【Cara Membuat Teman】

Di kademi Noir. Ruang Kelas 8.

Sepulang sekolah, sambil duduk di kursinya, Carlo menatap ke arah langit. Dia merasa depresi. Pada akhirnya, di Konferensi Empat Raja, Golroars hanya memotong perutnya, dan mereka tidak bisa mencari tahu maksud asli Chrono.

(Firasat buruk tidak mau berhenti. Apa yang sebenarnya dipikirkan oleh Raja Pembantaian?)

"Carlo."

Terkejut hingga tubuhnya terlempar ke belakang, Carlo mendongak ke depan. Entah sejak kapan, Chrono sudah berdiri di sana.

"Ada apa?"

Melihat keadaan Carlo, Chrono bertanya.

"O, oh. Aku lagi mikir aja. Mau pulang?"

Dia bertanya demikian, tapi Chrono tidak mengangguk.

"Ada orang yang ingin kujadikan teman. Bisa bantu aku?"

"Apa...!! T, teman...!!!?"

Mendengar kata-kata itu, Carlo bahkan tidak bisa berpura-pura, dan sangat terguncang.

"Apakah itu hal yang sangat mengejutkan?"

"A, aa. Nggak, maaf. Terus──"

Carlo menatap sekilas ke sekeliling kelas yang masih banyak dipenuhi siswa, lalu bertanya dengan suara kecil seolah membicarakan rahasia.

"D-dengan siapa?"

"Charl."

Sesaat, Carlo mengerutkan kening.

"Kalian bukannya sudah akrab."

"Itu salah."

Chrono langsung menjawab.

"Teman yang kucari bukanlah yang seperti itu. Kau mengerti?"

Carlo menggertakkan gigi gerahamnya dengan kuat. Dia merasakan tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

(Artinya.….. dia benar-benar akan merekrut bawahan untuk melakukan pembantaian besar...!!)

(Yang kuinginkan bukan cuma teman sekelas biasa, tapi sahabat sejati yang bisa berbagi masalah...!)

Pikiran mereka berdua, fatalnya, benar-benar tidak nyambung.

Tapi,

"...Maksudnya, kamu mau teman yang spesial, ya?"

"Benar, teman yang spesial."

Anehnya percakapan mereka menjadi nyambung.

(B-Brengsek...! Dia membicarakan soal pembantaian besar dengan wajah seperti membicarakan cuaca dengan teman sekelas...! Apa yang ada di kepala orang ini!?)

(Carlo benar-benar mengerti aku, ya. Sangat membantu.)

Terhadap Carlo yang ekspresinya menegang, Chrono menunjukkan senyum yang lembut. Carlo merasakan hawa dingin yang luar biasa hingga membekukan seluruh tubuhnya karena melihat senyuman itu.

"Lalu?"

"L-Lalu, maksudnya?"

Dengan hati-hati, Carlo kembali bertanya.

"Aku ingin meminjam kebijaksanaanmu. Menurutmu, bagaimana caranya supaya aku bisa berteman dengan Charl?"

Dia bingung harus menjawab apa. Dia tidak begitu mengerti maksud Chrono.

"Kenapa... tanya ke aku?"

Kemudian, seolah itu adalah hal yang wajar Chrono berkata.

"Kau akrab dengan Charl, 'kan?"

"Aah. Yah."

Saat itu juga, Carlo memutar otaknya dengan kecepatan tinggi.

(Apa dia berniat merekrut Charl tanpa menggunakan kekuatan kemahatahuan? Tentu saja, kalau Raja Pembantaian serius, mengumpulkan bawahan itu terlalu mudah. Bagi beliau, ini hanyalah sebuah permainan. Artinya, beliau menetapkan semacam aturan, ya.)

Alasan kenapa dia bertanya padanya juga karena itu, pikir Carlo. Setidaknya, karena dia sudah bertanya, dia pasti akan mendengarkan sarannya, menurutnya begitu.

(Kalau begitu, apa yang harus kulakukan? Apa aku harus meminta petunjuk pada Kaisar Singa? Tidak──)

Apa yang terlintas di kepala Carlo adalah pemandangan Raja Iblis yang memotong perutnya sendiri.

(Berbahaya kalau percaya buta pada Konferensi Empat Raja yang sekarang. Mereka dibebani masalah Raja Pembantaian, tekanan yang mereka tanggung benar-benar luar biasa. Kalau bukan karena itu, mustahil hasilnya sebodoh tadi!)

Carlo berpikir kalau mengandalkan Empat Raja sepenuhnya adalah hal yang buruk.

(Aku harus melakukannya. Sendirian! Aku akan memberikan saran yang konyol kepada Raja Pembantaian, dan dengan cara apa pun aku akan mencegah Charl menjadi bawahannya!!)

Begitulah tekadnya.

"Susah, ya?"

"... Tidak."

Menjawab pertanyaan Chrono, Carlo tertawa kecil, lalu berkata.

"Aku punya cara yang paling ampuh."

 

 


"Aah, bener-bener nggak ngerti sama sekali!"

Sambil memegang kepalanya sendiri, mengacak-acak rambutnya, Charl sedang bertarung dengan kertas perkamen di atas mejanya.

Di sana tertulis pertanyaan tentang teori sihir dan hal lainnya.

"Kelihatannya sulit, ya."

Berdiri di depan Charl, Chrono menyapanya.

"Susah banget, tahu~ Ini tugas karena aku bolos, jadi mau gimana lagi. Tapi beneran repot banget. Aku tuh nggak suka belajar."

"Begitu, ya. Kalau begitu."

Beberapa waktu yang lalu, Carlo memberikan saran ini kepada Chrono.

"──Rebut tugas Charl dengan gaya yang keren, dan tanpa banyak basa-basi robek saja tugas itu!"

Biri, Chrono merobek kertas perkamen itu, dan membakarnya menggunakan sihir.

"Eeeeeeeeeh!!!!"

Melihat perkamen yang berubah menjadi abu dalam sekejap mata, Charl berteriak kaget.

"A, apa yang kamu lakuin, Chrono-kun!?"

Carlo mengangguk setuju. Chrono benar-benar memercayai sarannya yang konyol itu.

(Bagus! Benar! Lalu, katakan!)

Saat itu juga, setelah Carlo berteriak di dalam hatinya, Chrono berkata kepada Charl yang sedang terguncang.

"Jangan buang waktumu untuk hal konyol seperti ini, Charl. Aku akan mengajarkan padamu alasan kenapa kamu dilahirkan."

Carlo mengepalkan tangannya dengan kuat.

(Menjijikkan. Dialog yang terlalu menjijikkan! Dengan begini Charl pasti akan menghindari Chrono. Setidaknya, tidak mungkin dia mau jadi bawahannya atas kemauannya sendiri!)

Melihat wajah Charl yang tercengang, Carlo semakin yakin.

Seolah sebagai sentuhan akhir, Chrono mengulurkan tangannya dengan santai.

"Apa itu?"

Dengan wajah cemberut Charl bertanya.

"Mau ngajarin apa, Chrono-kun?"

Lalu, Charl tersenyum merekah seperti bunga yang mekar.

(Gila! Kenapa!? Bagian mana dari cowok menjijikkan ini yang kamu suka!?)

Sebenarnya yang menjijikkan itu adalah dialog karangan Carlo, bukan Chrono, tapi karena situasi di luar dugaan ini, dia menjadi sangat terguncang.

(Tidak, belum! Dialog menjijikkanku ini punya dua tahap serangan!)

Seakan didorong oleh teriakan di dalam hatinya itu, Chrono berkata.

"Maukah kamu menaiki tangga kedewasaan bersamaku, melompat dua anak tangga sekaligus?"

Mendengar kata-kata Chrono, Charl membalas dengan suara manja.

"Un. Boleh, kook."


 (Kenaaaaaapaaaaaaaaaaaa!!!!?)

Yang berteriak di dalam hatinya, tentu saja adalah Carlo.

(Apa-apaan ini? Maksudnya apa? Jangan-jangan kalian berdua sudah jadian? Kalau gitu, udah bukan teman lagi, 'kan!? Teman atau apa pun itu udah nggak penting lagi, 'kan!?)

Carlo mengalami kepanikan ringan.

"Ngomong-ngomong, tangga kedewasaan itu jelasnya apa?"

Sambil memiringkan kepalanya, Charl bertanya.

"Ada hal yang ingin kulakukan."

"Hal yang ingin dilakukan?"

(Hal yang ingin dibunuh!?)

Hanya Carlo saja yang salah tangkap dengan sangat jauh.

"Aku ingin pergi ke berbagai tempat. Ingin berkeliling melihat seluruh Corntzel ini."

"Etto... Sama aku?"

Charl menunjuk dirinya sendiri dengan malu-malu.

(Jangan-jangan... Di Corntzel ini, melakukan pembantaian besar...!? Tidak, tidak mungkin! Charl itu umat yang sangat taat sampai dipanggil Saintess. Demi nama Tuhan, tidak mungkin dia menerima ajakan seperti itu!!)

Carlo menggelengkan kepalanya, dan memperbaiki pikirannya.

"Kelihatannya menyenangkan, 'kan."

"Un!"

(Nama Tuhannya ke maanaaaaaaaaaa!!!?)

Membuka mulutnya lebar-lebar, Carlo hampir saja berteriak.

"Kalau gitu, pertama Chrono-kun mau pergi ke mana?"

Charl tersenyum ramah.

"Di mana tempat wisata paling terkenal di kota ini?"

"Paling terkenal? Hmm, ruang sidang utama Pengadilan Sihir Pusat, kali, ya? Soalnya itu tempat yang langka, dan kalau lagi hari buka untuk umum, banyak banget orang dari luar yang datang buat lihat-lihat."

"Kalau begitu, di sana saja."

"Ah~ Tapi, kalau hari biasa nggak boleh masuk, tahu. Dipakai buat Pengadilan Sihir, sih."

"Kapan kita bisa ke sana?"

"Etto, ya, kalau nggak salah, dua bulan lagi──"

Saat Charl dan Chrono sedang berdiskusi tentang tempat yang akan mereka kunjungi, Carlo sendirian, memasang ekspresi yang sangat serius.

(Tunggu sebentar, Barusan, apa dia bilang mau menghancurkan Pengadilan Sihir?)

Dia tidak bilang begitu.

(Itu pusat dari kota netral Corntzel, lembaga tertinggi yang mengatur hukum. Kalau Pengadilan Sihir dihancurkan, Corntzel akan berubah menjadi wilayah tanpa hukum. Kalau hal itu terjadi di kota tempat berbagai ras hidup berdampingan ini, pasti akan ada pertikaian yang pecah di suatu tempat. Dan pada akhirnya akan berkembang menjadi kerusuhan──)

Carlo yang tersentak, menatap Chrono.

(Itukah tujuanmu, Raja Pembantaian!! Menghancurkan keteraturan, dan ingin melihat warga Corntzel berjalan sendiri menuju jalan kehancuran!)

Lalu, Chrono menoleh kepadanya, dan menunjukkan senyum yang akrab. "Kelihatannya menyenangkan, 'kan."

Carlo menggertakkan gigi gerahamnya dengan kuat, dan mengepalkan tangannya erat-erat. Kukunya menancap ke dalam dagingnya, dan darah menetes.

(Orang ini... Sama sekali tidak memiliki darah yang hangat...!!)

Tentu saja, yang dibicarakan Chrono adalah tentang rencana bermain yang sedang didiskusikannya dengan Charl, tapi Carlo yang sudah kehilangan ketenangannya tidak mendengarkan hal itu.

"Nah. Udah waktunya, aku harus pergi."

Setelah mengatakan itu, Charl berdiri.

"Mau pergi ke mana?"

"Ah~..."

Sambil menempelkan ujung jarinya ke bibirnya, Charl menunjukkan gerakan imut seperti sedang berpikir.

"Mm, Chrono-kun, mau ikut juga?"


Chapter 20

【Petunjuk】

Chrono, Charl, dan Carlo berjalan berdampingan di distrik perbelanjaan Corntzel.

"──Jadi, untuk membersihkan nama temanmu yang meninggal karena tuduhan palsu, kamu mau minta keterangan dari saksi."

"Un. Kurang lebih begitu."

Dalam perjalanan, Charl menjelaskan situasinya kepada Carlo.

"Dan, saksinya adalah raja arena pertarungan bawah tanah, Luke Avidee."

Carlo sedikit mengerutkan kening.

Melihat hal itu, Charl berkata.

"Carlo, kamu khawatir soal Pasukan Petarung Rosetta tempat Tuan Luke bernaung, 'kan? Soalnya ada rumor kalau mereka punya hubungan dengan Raja Iblis Golroars, 'kan."

"...Begitulah."

Carlo menjawab dengan nada tidak enak.

(Pasukan Petarung Rosetta sudah pasti ada di bawah kendali Golroars. Tapi, kami sudah menempatkan pengawasan untuk mereka. Kami sedang membiarkannya bergerak bebas dulu.)

Karena posisinya, Carlo tidak bisa membicarakan hubungan antara Pasukan Petarung Rosetta dan Raja Iblis.

(Tapi, mengkhawatirkan. Sejujurnya, lebih baik tidak berurusan dengan Luke.)

"Nggak usah pasang wajah kayak gitu, nggak apa-apa, kok. Kelihatannya memang santai begini, tapi Chrono-kun ini kuat banget, loh."

Carlo akhirnya mengarahkan pandangannya pada Chrono, seolah baru menyadarinya.

(Oh, iya. Kalau ada Raja Pembantaian yang Maha Tahu dan Maha Kuasa, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kalau dia ingin merekrut Charl-chan jadi bawahannya, dia pasti akan membantu kalau ada apa-apa.)

Begitulah pikir Carlo.

"Kalau gitu, pas ketemu Luke nanti, kamu wajib bawa Chrono, ya."

"Eh?"

Charl mengerjapkan matanya.

Lalu, dia bergeser mendekati Carlo dan berbisik pelan.

"...M-Mungkin kamu niatnya mau kasih aku kesempatan, tapi kita belum sampai tahap itu, tahu."

Dengan malu-malu Charl mengatakannya dengan suara pelan.

"Ngomong apaan, sih?"

"Eh?"

Sesaat terlihat bingung, perlahan wajah Charl merona menjadi merah.

"A, ah~ Bener juga. Berbahaya, 'kan! Buat jaga-jaga, 'kan! Bener banget! Aku ngerti, aku ngerti!"

Seolah menutupi rasa malunya, Charl berkata begitu.

Carlo merasa curiga melihat reaksi aneh teman sekelasnya itu.

"Kalau begitu, saat pergi menemui Luke, aku akan selalu menemanimu."

Ucap Chrono.

"T-Tapi, Chrono-kun juga punya urusan, 'kan?"

"Tidak ada."

Mata Charl membulat. Kemudian, dia mengecilkan tubuhnya dan berkata dengan suara lirih.

"K-Kalau gitu... boleh aku minta tolong?"

"Dengan senang hati."

Setelah mengatakan itu, Chrono tersenyum.

Tepat saat itu, mereka tiba di bar tujuan──Perjamuan Peri.

 

 

Arena pertarungan bawah tanah. Ruang tunggu.

"──Yang membunuh Pendeta Oran adalah Lyca Endymion. Karena aku benar-benar melihatnya dengan mataku sendiri."

Sang raja arena pertarungan bawah tanah, Luke, menceritakan hal tersebut.

Tapi, Charl tidak terlihat goyah. Mungkin dia sudah menduga jawaban itu. Kalau tidak begitu, dari awal Lyca tidak mungkin dinyatakan bersalah.

"Tapi, waktu itu, Tuan Luke belum kenal sama Lyca, 'kan."

"Ya."

"Berarti kamu menyimpulkan kalau dia pelaku yang ngebunuh pendeta setelah lihat proyeksi sihir Lyca di Pengadilan Sihir, 'kan?"

"Benar."

"Apa ada bukti kalau itu beneran Lyca? Pakai sihir juga bisa bikin penampilan yang mirip Lyca, lagian di Corntzel 'kan ada banyak ras yang keluar masuk."

"Pedangku menyayat bahu Lyca. Kalau itu sihir, penyamaran-nya pasti lepas saat itu juga."

"...Tapi, Lyca nggak punya alasan buat ngebunuh pendeta..."

Charl menggumam pelan seperti bicara pada dirinya sendiri.

"Tuan Luke, waktu itu, apa kamu sempat ngobrol sama Lyca?"

"........."

Mungkin karena sulit untuk dijawab, sesaat Luke memalingkan pandangannya.

"Sempat ngobrol, ya? Dia bilang apa?"

Sambil menghela napas kecil, Luke berkata.

"Sebaiknya kamu jangan terlalu ikut campur lebih dari ini. Walaupun kamu bisa membuktikan dia nggak bersalah, temanmu yang sudah mati juga tidak akan kembali. Kalau Saintess-sama percaya padanya, itu saja sudah cukup, 'kan."

"Karena udah mati, makanya cukup sampai di sini?"

Di mata Charl yang menatap lurus pada Luke, tersulut amarah yang tenang.

"Itu sama saja. Entah dia masih hidup, atau udah mati. Aku sahabat Lyca. Nggak ada yang berubah. Beritahu aku apa yang kamu tahu."

Kepada Charl yang sama sekali tidak berniat mundur, Luke menghela napas. Kemudian, dia mengatakannya dengan nada seolah tidak ada pilihan lain.

"Lyca Endymion berusaha menambah kerabatnya di kota ini."

"...Eh?"

Mungkin karena itu adalah kata-kata yang sama sekali tidak diduganya, keguncangan terlihat di wajah Charl.

Charl tidak bisa membantahnya sepenuhnya. Karena, dia sendirilah kerabat Lyca.

"Untuk menjadikan Pendeta Oran sebagai kerabatnya, dia mengisap darahnya. Untuk mencegah hal itu, dia bunuh diri."

"...Kenapa, dia mau nambah kerabat?"

"Katanya dia ingin menambah kerabat di gereja, dan mengambil alih kekuasaan dari balik layar. Ada beberapa jemaat yang jadi korban."

"Nggak mungkin!!"

Secara refleks, Charl berteriak.

"Nggak ada alasan buat Lyca ngelakuin hal kayak gitu!"

"Aku juga bakal repot kalau kau mengamuk padaku. Aku cuma dengar cerita itu. Alasannya aku tidak tahu."

Nada bicaranya seolah mengatakan kalau dia tidak bisa meladeni rengekan anak kecil.

"...Dengar dari siapa?"

"Dari Sage Hukum Dumell, yang menjatuhkan putusan sidang itu. Ya, walaupun si bajingan Dumell itu juga sudah mati, sih."

"Katanya meninggal karena sakit...?"

"Itu kebohongan buat mencegah kepanikan. Dia dibunuh, oleh Lyca."

Mata Charl membulat.

"Kekuatan Vampir Leluhur itu sepertinya luar biasa. Dia kabur dari penjara yang kokoh, dan mencoba menjadikan Sage Hukum Dumell sebagai kerabatnya supaya hukuman matinya dibatalkan. Yah, karena Dumell juga bunuh diri, pada akhirnya dia tetap dieksekusi mati."

"...Tuan Luke, kenapa kamu bisa tahu soal itu?"

"Hah?"

Dengan kesal Luke mengancam.

"Kamu datang nanya padaku karena kamu pikir aku tahu, 'kan. Orang-orang di belakang Pasukan Petarung Rosetta (kami) ini bukan orang sembarangan. Kalau bawahan kami terlibat, sudah pasti kami akan menyelidikinya."

Rumor kalau mereka berada di bawah kendali langsung Raja Iblis Golroars sepertinya tidak salah, pikir Charl.

"Tujuan kalian apa? Kalau Saintess-sama yang gerak, kupikir ini ada hubungannya sama gereja, tapi aku nggak kenal sama cowok di sebelahmu itu."

Luke menatap Chrono.

"Aku nggak kenal, tapi aku tahu dia bukan orang biasa. Apa yang mau kalian lakukan dengan menyelidiki kejadian setahun yang lalu?"

"Aku cuma──"

"Di dunia ini, tidak ada yang lebih diprioritaskan daripada teman."

Chrono mengatakannya dengan lantang dan percaya diri.

"...Kau pikir aku bakal percaya kebohongan semacam itu? Kalian berdua berasal dari organisasi mana, dan atas perintah sia──"

"Kebohongan semacam itu?"

Luke kehabisan kata-kata.

Hanya ada sedikit, ya, benar-benar hanya ada sedikit amarah yang tersirat dalam kata-kata itu. Meskipun begitu, tubuhnya terasa berat seperti timah. Seluruh bulu kuduknya berdiri, dan dia merasa merinding. Seolah-olah ada pedang yang ditodongkan di depan hidungnya, dia sama sekali tidak merasa sedang hidup.

"Jawab. Apa yang lebih kamu prioritaskan daripada teman?"

Kalau salah jawab akan dibunuh, firasat semacam itu menyerang Luke. Seolah menunjukkan kalau dia menyerah dengan mengangkat kedua tangannya, dia menjawab.

"M, maaf aku curiga. Tentu saja, teman yang paling utama."

"Begitulah seharusnya."

Setelah mengatakan hal itu, Chrono tersenyum.

(Waktu itu juga begitu, tapi orang ini, kenapa dia terlalu terobsesi pada teman. Tidak kelihatan seperti pura-pura. Jangan-jangan, dia serius ngomong begitu?)

Luke menatap kembali Chrono yang memasang wajah sangat serius.

(Aku tidak percaya kalau orang yang punya kekuatan seperti monster ini, tidak ada hubungannya dengan salah satu dari Empat Raja...)

Luke masih setengah tidak percaya. Karena kata-kata Chrono, sangat sulit dipercaya menurut akal sehatnya.

"Charl hanya ingin membersihkan penyesalan temannya. Tidak ada tujuan lain selain itu."

"...Baiklah, aku percaya. Walaupun begitu, aku tidak salah lihat, dan sisanya semua hanya cerita yang kudengar. Sekalipun kita ingin memastikan kebenarannya, Sage Hukum Dumell sudah tidak ada."

Jawab Luke.

"Kalau kau ingin tahu kebenarannya, hanya ada satu cara. Tapi, aku tidak menyarankannya."

"Apa?"

Tanya Charl.

"Kamu tahu soal Pengadilan Sihir Semesta?"

"Apaan tuh?"

Carlo bertanya seolah baru pertama kali mendengarnya.

"Semesta, artinya pengadilan yang bisa mengetahui segalanya. Konon tidak ada orang yang tidak bisa diadili di sana."

"Hah? Mana mungkin ada tempat seenak it──"

"Aku tahu."

Ucap Charl.

"Aku juga terus mencari tempat itu. Kupikir kalau aku bisa menemukannya, aku bisa membersihkan nama Lyca."

"Ada orang yang tahu di mana letak Pengadilan Sihir Semesta itu. Namanya Sage Hukum Michelle Cryton."

Luke menggerakkan pena bulu di atas kertas perkamen. Yang digambarnya adalah peta sederhana.

"Dia sudah pensiun, dan tinggal di daerah terpencil ini. Kalau mau pergi, hari ini tidak mungkin."

"Kenapa?"

"Kamu hanya bisa sampai ke tempat ini saat kabut pagi turun. Besok pagi-pagi sekali datanglah ke sana."

"Baiklah. Terimakasih."

Menerima kertas perkamen itu, Charl menundukkan kepala.

"Yah, jangan terlalu berharap, ya. Michelle itu orangnya eksentrik. Bahkan ada rumor yang bilang kalau kamu harus menyerahkan jiwamu supaya dikasih tahu lokasi Pengadilan Sihir Semesta."

Sesuai dengan perkataan Luke, mereka memutuskan untuk pergi ke daerah terpencil di peta tersebut besok pagi, dan Chrono beserta yang lainnya pun pulang.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close