NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Zenchi Zennou no Ou, Okotoba ga Kanchigai Sareru ~Tomodachi ga Hoshikute Gakuin ni Haitta dake nanoni, Sekaijuu de Hijou Jitai ga Sengen Sarete Shimatta~ V1 Epilogue & Extra Chapter

 Penerjemah: Randika Rabbani

Proffreader: Randika Rabbani


Epilogue

【Teman Tidak Terwujud dalam Sehari】

Di akademi Noir. Ruang Kelas 8.

Saat pintu terbuka dan Chrono melangkah masuk, suara "Ah" penuh kegembiraan terdengar.

"Chrono-kun, pagi~"

Dari kursinya, Charl melambaikan tangan. Di sebelahnya, duduklah Lyca.

"Pagi."

Chrono berjalan ke arah mereka berdua.

"Kemarin, pas aku sadar, Chrono-kun udah pulang duluan aja. Kenapa nggak ngajak bareng?"

Dengan ekspresi cemberut, Charl berkata.

"Charl. Aku ingin bertanya satu hal."

Dengan wajah serius, Chrono bertanya.

"Apakah situasinya buruk?"

Karena ekspresinya yang sangat meyakinkan itu, "Ahaha~" Charl pun tertawa.

"Nggak usah pasang muka kayak gitu juga, 'kan. Cuma sedikit ngerasa sepi aja."

"Begitu, ya. Aku terselamatkan."

Melihat Chrono yang lega, Charl menyipitkan matanya dengan gembira.

"Oh iya. Aku belum ngenalin dia ke kamu dengan benar, ya."

Lalu, Charl memeluk erat lengan Lyca yang duduk di sampingnya.

"Sahabat baikku, Lyca. Dia imut, 'kan."

Chrono memandang Lyca. Gadis itu balas menatapnya dengan tatapan penuh arti, seolah menunggu jawaban darinya.

"Kita sekelas, ya."

"Bukankah di sini kamu seharusnya bilang imut, Onii-san?"

"...Eh? Loh?"

Dengan wajah bingung, Charl menatap Chrono dan Lyca bergantian.

"Itu bukan kalimat pujian. Imut itu──"

"Bisa dibuat, 'kan."

Sambil tersenyum, Lyca menimpali.

Tatapan Charl perlahan berubah menjadi penuh selidik.

"Soal hidup kembali itu. Kamu mau membantuku, 'kan?"

"Bantu? Aah..."

Seolah mengerti maksudnya, Lyca melirik Charl sekilas.

"Apa ini hal yang harus dilakukan oleh orang yang hidup kembali secara ajaib?"

"Tidak ada hal yang lebih penting dari ini."

"Bagi Onii-san memang begitu, ya."

Dengan tatapan tajam, Charl menatap mereka berdua.

"Hei. Kalian berdua, udah saling kenal, ya?"

Dengan suara rendah Charl bertanya.

"Yah, bisa dibilang begitu."

"Habisnya, nggak mungkin kalian bisa ketemu, 'kan? Selama setahun kamu 'kan udah mati."

"Dibilang, kami bertemunya setahun yang lalu."

Penjelasan Lyca malah membuat Charl bingung.

"Waktu aku cerita soal Lyca, Chrono-kun kelihatannya kayak nggak tahu, 'kan."

"Karena penasaran, aku pergi menemuinya di masa lalu."

"Masa lalu? Emangnya bisa pergi segampang itu?"

"Kalau lagi ingin, aku bisa pergi."

Lalu, Charl membesarkan pipinya.

"Kenapa cemberut begitu?"

"Soalnya, Chrono-kun nggak datang nemuin masa laluku, 'kan."

Charl menunjuk ke arah Chrono. Tapi, pria itu tidak terlalu mengerti maksudnya. Bahkan Lyca pun tidak terlalu memahaminya.

"Apakah situasinya buruk?"

"Bukan buruk, sih... Soalnya... curang, tahu... Padahal aku pikir aku yang ketemu duluan..."

Dengan suara pelan, gadis itu berkata seolah merajuk.

Lyca tertawa kecil, menahan tawanya.

"Apaan, sih, Lyca. Kenapa ketawa?"

"Mm, bukan apa-apa, kok."

"Eeh, nyebelin, tahu. Kasih tahu, dong. Kenapa ketawa?"

"Charl memang imut, ya."

"Mooou, aku benci Mama."

Sambil memonyongkan bibirnya, Charl memalingkan wajahnya.

Di sela-sela itu, Lyca memberikan isyarat kecil memanggil Chrono. Saat Chrono mendekatkan wajahnya, gadis itu berbisik di telinganya.

"Sepertinya Charl ingin akrab dengan kamu, loh?"

Chrono mengangguk.

(Artinya sekarang waktu yang tepat untuk maju)

Begitulah dia menafsirkannya, dan segera bertindak.

"Charl."

Gadis itu hanya mengarahkan pandangannya pada Chrono.

"Hmph. Chrono-kun main aja sana sama Lyca~"

"Ada hal penting yang ingin kubicarakan."

"Eh? ...I-Iya."

Melihat ekspresi Chrono yang serius tidak seperti biasanya, Charl entah kenapa menjadi gugup.

"Sejak pertama kali bertemu, aku selalu memikirkan hal ini."

"...Iya..."

Charl bermaksud membalas seperti biasa, tapi suaranya begitu kecil hingga hampir menghilang.

(Gimana ini...! Ini, momennya dateng...? Momennya dateng, 'kan... Ini beneran dateng, 'kan...!)

Gadis yang panik di dalam hati itu, menunggu kata-kata selanjutnya sambil meronakan pipinya menjadi merah. 

Jantungnya berdebar sangat keras hingga dia pikir suaranya bisa didengar oleh lawannya.

"Aku ingin berteman denganmu."

"......................................................................................................Eh?"

"Hmm?"

Ekspresi Chrono diwarnai kebingungan. Dia memutar otaknya dengan kecepatan tinggi, dan tiba pada satu jawaban.

"Salah, ya. Kita sudah berteman, ya."

Dengan senyuman menyegarkan yang langka, Chrono berkata.

"Ah~... Etto..."

Charl menunduk, dan memalingkan wajahnya.

"Sama Chrono-kun, kayaknya nggak mau kayak begitu..."

"A............pa............?"

Mendapat jawaban yang sama sekali tidak diduganya, Chrono menerima guncangan yang luar biasa.

(Ah~ Ternyata Charl, ke Onii-san itu...)

Sambil melihat ekspresi Charl yang malu-malu, Lyca meletakkan tangan di mulutnya seolah sedang berpikir.

(Ini gawat, ya. Dia 'kan tipe yang bilang teman nggak bisa jadi pacar...)

"Aku mengerti. Tapi, aku akan membuatmu menoleh padaku. Aku pasti akan berteman denganmu. Pasti."

Mendengar kata-kata Chrono yang penuh tenaga, Charl memelototinya dengan kesal.

"Anu, Onii-san, sini sebentar, ya?"

Lyca berdiri, dan dengan paksa menarik tangan Chrono.

"Charl. Bisa tunggu sebentar──"

"A, aku, nggak bakal mau berteman sama Chrono-kun sampai kapan pun!"

Tiba-tiba melontarkan hal itu, Charl berdiri, dan langsung berlari keluar dari kelas dengan penuh semangat.

"Sepertinya aku ditolak."

"Hmm, agak sedikit berbeda, sih."

"Apa yang berbeda?"

"Hmm~"

Lyca menunjukkan gelagat berpikir. Charl menolak berteman dengan Chrono karena perasaannya pada pria itu, tapi Lyca merasa kalau dia yang menjelaskannya itu tidak pantas. Setelah memikirkan apakah ada alasan yang bagus,

"Onii-san berjuang lagi saja."

Gadis itu menyerah untuk menjelaskannya.

"Begitu, ya. Aku juga tidak berpikir bisa mendapatkan teman semudah itu. Tapi, aku pasti akan mencapainya sebelum lulus. Tunggu saja, Charl Arlian."

Cerita yang butuh waktu lama. Tapi, dia serius.

Raja Pembantaian Chrono Granvephius yang Maha Tahu dan Maha Kuasa, sosok yang bahkan ditakuti oleh Empat Raja yang berdiri di puncak setiap ras dan memimpin pasukan besar. 

Meskipun beliau adalah sosok yang bisa dengan bebas pergi ke masa lalu dan dengan mudah membalikkan kematian sekalipun, dia tetap tidak mengerti isi hati seorang gadis yang sedang jatuh cinta.


Ekstra Episode

【Keajaiban】

Ini adalah keajaiban yang seharusnya tidak pernah terjadi.

 

 

Pengadilan Sihir Pusat. Penjara.

Aku meringkuk dan menundukkan wajah seperti biasanya.

Sekarang setelah putusan hukuman mati dijatuhkan, yang bisa kulakukan hanyalah menunggu saat itu tiba.

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki.

Langkah kaki yang seakan berlari, perlahan-lahan mendekat.

Merasa ada yang berbeda dari biasanya, aku mengangkat wajahku.

"Lyca!!"

Yang muncul di balik jeruji besi adalah Charl.

Dengan ekspresi terkejut aku berdiri, dan melangkah mendekati jeruji besi.

"Hebat kamu bisa datang ke sini..."

"Aku minta tolong sama orang penting di gereja. Kelihatannya memang begini, tapi aku 'kan Saintess."

Aku dengan lembut menggenggam tangan yang diulurkan dari sela-sela jeruji besi itu.

Aku tidak tahu apakah dia akan percaya padaku atau tidak...

Memantapkan tekad, aku membuka mulutku.

"Charl. Aku ingin kamu tahu. Aku tidak membunuhnya."

"Itu sih udah pasti!"

Seakan sedikit marah Charl mengatakannya.

"...Kamu percaya padaku?"

"Habisnya, nggak ada alasan, 'kan. Aku yang paling tahu dari siapa pun kalau Lyca nggak bakal ngelakuin hal itu."

Dengan tatapan lurus Charl menjawab.

"Begitu, ya. Syukurlah kalau begitu."

"Nggak syukur!"

"Eh?"

"Bukannya nggak syukur! Soalnya Lyca bukan pelakunya! Ini tuduhan palsu, tuduhan palsu! Hal kayak gini benar-benar aneh!"

Meluapkan amarahnya, Charl berbicara dengan cepat.

"Begitulah. Tapi, putusannya sudah dijatuhkan. Sudah tidak bisa diubah lagi."

"Tinggal cari pelaku aslinya aja, 'kan!"

Aku sedikit membulatkan mataku.

"Pasti ada seseorang yang ngebunuh pendeta, 'kan. Tinggal temuin orangnya, hajar sampai babak belur, terus seret dia ke sini! Kalau gitu, Pengadilan Sihir juga pasti bakal batalin hukuman matinya Lyca, 'kan!"

"...Untuk ukuran Charl, kamu ngomong hal yang cukup ekstrim, ya."

Sambil tersenyum tipis, aku berkata.

"Habisnya, ini nggak masuk akal! Ada orang jahat yang sama sekali nggak ada hubungannya ngelakuin hal kejam, terus gara-gara itu Lyca jadi dikurung di tempat kayak gini. Bener-bener nggak masuk akal!!"

"Aku senang dengan perasaanmu itu, tapi sudah tidak ada waktu lagi sampai eksekusi dilakukan. Kurasa pelaku aslinya sudah tidak ada di kota ini."

"Kalau gitu."

Sedikit menurunkan nada suaranya, Charl berkata.

"Kabur aja."

Dengan ekspresi terkejut, aku menatap Charl.

"Bisa kabur, 'kan? Seluruh penjara ini memang dipasangi anti-magic, tapi kalau pakai kekuatan Vampir Leluhur pasti bisa. Aku juga bakal bantu."

Aku menatap Charl lamat-lamat, lalu perlahan menggelengkan kepala.

"Kenapa...?"

"Aku ingin melindungi hukum Corntzel."

"Tapi 'kan hukumnya salah. Padahal Lyca bukan pelakunya!"

"Meskipun itu salah, aturan tetaplah aturan."

Dengan tenang, tapi dengan nada yang tak tergoyahkan aku memberitahunya.

"Charl. Sebuah kesalahan harus diluruskan dengan prosedur yang benar. Kalau aku menggunakan kekuatanku untuk melanggar hukum ini dan meluruskan kesalahan, itu bisa menciptakan celah yang fatal bagi hukum ini."

Aku terus menjelaskan dengan datar.

"Kalau merasa itu tuduhan palsu, tinggal gunakan kekuatan untuk melawannya. Kalau preseden seperti itu sampai terjadi, Pengadilan Sihir akan kehilangan kepercayaan, dan pada akhirnya tidak akan ada lagi orang yang mematuhi hukum. Putusan kepadaku mungkin saja salah. Meskipun begitu, hukum ini pasti akan menyelamatkan lebih banyak orang."

Charl dengan wajah seperti mau menangis, menahan air matanya dengan kuat, dan mendengarkan kata-kataku.

"Hukum Corntzel ini baru saja dibuat. Suatu hari nanti, pasti akan menjadi lebih, jauh lebih baik. Aku tidak ingin memetik tunas itu."

Charl menggenggam tangannya dengan erat.

Aku merasa perasaan gadis itu tersampaikan kepadaku.

"Charl. Apa kamu ingat? Malam bulan purnama saat aku pertama kali bertemu denganmu."

Mengangguk kecil, Charl berkata.

"Aku ingat."

"Karena aku ingin menyelamatkanmu, aku menjadikanmu kerabatku. Tapi, mungkin saja ada cara lain yang lebih baik."

Aku berbicara padanya dengan lembut.

"Membuang kampung halaman, meninggalkan teman-teman, dan datang sendirian ke tempat yang jauh, kalau kutanya apakah aku merasa kesepian, jawabannya pasti bohong kalau kubilang tidak. Mungkin sebenarnya, akulah yang ingin diselamatkan."

Sambil menatap Charl lamat-lamat, aku berkata.

"Di dalam tubuhku, masih ada sisa darahmu. Darahmu saat masih menjadi manusia."

"...Itu, maksudnya apa?"

"Kalau ada darah ini, aku bisa mengembalikanmu menjadi manusia."

"...Eh?"

Mungkin karena sama sekali tidak menduganya, Charl kehabisan kata-kata karena terlalu terkejut.

"Maaf, aku menyembunyikannya selama ini. Aku sedikit takut. Kalau aku mengatakannya, aku merasa kamu akan langsung kembali ke dunia yang disinari cahaya matahari. Tapi, karena ini yang terakhir."

Tanganku dengan lembut menyentuh pipi Charl. Saat aku hendak memeluknya...

"Nggak mau!"

Charl menepis tanganku.

"Charl?"

"...Aku, nggak pernah bilang... Kalau aku mau balik jadi manusia..."

Sedikit menundukkan pandanganku, aku berkata.

"Aku senang dengan perasaanmu. Tapi, kalau aku mati, kamu tidak punya alasan lagi untuk tetap menjadi vampir. Bahkan, kalau sampai ketahuan, gereja pasti akan membakarmu hidup-hidup."

"Ada maknanya. Ada, kok."

Charl mengatakannya dengan tegas.

"Soalnya, ini bukti kalau Lyca udah nyelamatin aku. Bukti kalau kamu udah jadiin aku keluarga! Daripada harus mutusin ikatan ini, mending aku dibakar hidup-hidup!!"

Terdesak oleh semangat Charl, aku tertawa sedikit kebingungan.

"Kenangan, dan ikatan kita, semuanya ada di dalam hati Charl. Aku cuma ingin mengambil bebanmu. Kalau kamu, kamu pasti mengerti perasaanku──"

"Nggak mau! Aku nggak ngerti!"

Diiringi isak tangis, Charl membantahku.

Bersamaan dengan kata-katanya, air mata mengalir jatuh membasahi pipinya.

"...Nggak mau. Aku nggak bakal ngembaliin apa pun. Semua yang aku dapat dari Lyca, adalah harta karunku yang berharga... Aku nggak mau ngembaliinnya...!"

Sambil menangis, Charl terduduk lemas di sana.

Melihat anakku yang meluapkan emosinya tanpa memedulikan logika, aku merasa dia begitu sangat manis.

Aku mengulurkan tangan, dan memeluk Charl dari balik jeruji besi.

"...Aku janji. Sebelum eksekusinya dilakukan, aku pasti bakal nemuin pelaku aslinya..."

Kali ini aku tidak mengatakan kalau waktunya tidak akan cukup.

"Anak yang benar-benar merepotkan... egois, dan sama sekali nggak mikirin perasaanku. Anak yang lurus, dan gegabah──"

Aku hanya bisa memeluknya dengan lembut.

"──Putriku yang manis."

Aku yakin, aku pasti tertarik pada hatinya yang memancarkan cahaya menyilaukan ini.

"Selama darahku mengalir di dalam tubuhmu, aku akan selalu ada di sisimu. Tolong perlihatkan padaku masa depan Corntzel, ya."

"Un. Aku janji. Pasti."

Sekali lagi, aku memeluknya dengan erat, dan berdoa.

Kumohon, semoga anak yang sangat gegabah ini saja, bisa menjalani hari-hari yang damai.

Oleh karena itu──

 

 

Saat momen terakhir itu tiba,

"Konyol...! Kau berniat mengubah dirimu menjadi tentakel yang tidak bisa bicara...!!"

"Dengan begini, kamu tidak akan bisa menyerap kekuatan Vampir Leluhur untuk mengendalikan Charl."

Tubuhku dengan cepat berubah menjadi tentakel, dan hanya menyisakan bagian dadaku ke atas.

"Valbarodde! Bunuh dia! Selama wanita itu masih memiliki sisi vampir!"

Valbarodde mengarahkan kelima jarinya. Kekuatan sihir gelap berkumpul di sana. Lengannya memanjang seolah dipantulkan, dan menembus jantungku.

"...Charl... jaga dirimu baik-baik, ya..."

Ikatanku terlepas, dan tubuhku jatuh ke lantai layaknya bunga yang berguguran.

Kesadaranku perlahan memudar.

──Ah, semuanya sudah berakhir.

Meskipun aku tidak bisa melenyapkan monster-monster ini, tapi dengan ini aku tidak akan menjadi beban bagi Charl.

Apakah mereka akan mengincar Charl? Dia adalah seorang Saintess. Selama Gereja Saint Harkemas berdiri di belakangnya, mereka tidak akan bisa menyentuhnya semudah itu.

Charl sendiri juga bukan orang yang bisa dengan mudah ditaklukkan dengan paksaan.

Makanya, dia pasti akan baik-baik saja.

Lagipula, dia bukan lagi anak kecil seperti saat pertama kali kami bertemu.

Aku merasa ini benar-benar cerita yang lucu.

Aku percaya kalau mengembalikanmu menjadi manusia adalah hal yang benar.

Keputusanmu untuk hidup sebagai vampir, adalah satu-satunya hal yang kucemaskan.

Tapi, sekarang, di saat-saat terakhir ini, yang kupikirkan adalah──

Bahwa aku akan terus hidup di dalam dirimu.

Bahwa kamu ada di dalam diriku.

Kita telah selalu bersama.

Dan mulai sekarang pun kita akan tetap bersama.

Oleh karena itu, aku tidak takut.

Malam itu, bisa bertemu denganmu yang dibimbing oleh bulan purnama, adalah keajaiban yang tidak tergantikan oleh apa pun di dalam hidupku.

Selamat tinggal, Charl.

Hanya tidak bisa menghapus air matamu saja-lah penyesalanku satu-satunya──

 

 

Di dasar kegelapan yang pekat, aku mendengar sebuah suara.

"Putusan Pengadilan Sihir Semesta, dieksekusi dengan kemahakuasaan."

Cahaya menyinari kegelapan. Cahaya matahari yang hangat. Meskipun seharusnya cahaya itu melemahkan kekuatan vampir, tapi cahaya itu malah membukakan jalan di hadapanku.

Membuka kelopak mata, aku menatap lurus ke arah cahaya itu.

Di sana──kamu berada.

"...Charl?"

"Lyca!!"

Seolah ada sesuatu yang menggerakkannya, anak itu berlari. Dengan napas terengah-engah dan mata yang berkaca-kaca karena air mata, dia melompat dan memelukku erat.

"Charl. Apa yang terjadi padaku...? Kupikir aku sudah mati setelah bertarung melawan Valbarodde...?"

Aku melontarkan pertanyaan yang reflek terlintas di kepalaku. Tapi, tidak ada jawaban.

"Charl..."

"...Uuh... hiks... Aah... Lyca... Lyca...!!"

Dengan wajah yang basah oleh air mata, Charl menangis tersedu-sedu layaknya anak kecil. Suaranya hampir tidak berbentuk kata-kata, dia hanya terus memanggil namaku dengan manja.

Aku merasa aku mulai memahaminya.

Anak ini tidak pernah menyerah, dan benar-benar berusaha untuk memperlihatkan masa depan Corntzel kepadaku.

Aku memeluk Charl dengan erat.

"Aku tidak terlalu paham situasinya, tapi kamu pasti sudah berjuang keras, ya, Charl."

Aku dengan lembut mengusap kepala Charl yang membenamkan wajahnya di dadaku, dan terisak.

Berkali-kali, berulang kali, putriku yang sangat, sangat kucintai.

"Tidak ada hari yang lebih membahagiakan dari hari ini."

Lalu, aku dengan lembut menghapus air mata Charl yang mengalir jatuh dengan ujung jariku.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close