NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Zenchi Zennou no Ou, Okotoba ga Kanchigai Sareru ~Tomodachi ga Hoshikute Gakuin ni Haitta dake nanoni, Sekaijuu de Hijou Jitai ga Sengen Sarete Shimatta~ V1 Chapter 11 - 15

 Penerjemah: Randika Rabbani

Proffreader: Randika Rabbani


Chapter 11

【Satu Tahun yang Lalu】

Sambil mengintervensi masa lalu, Chrono juga mendengarkan cerita Charl.

Hal selanjutnya yang dia ceritakan adalah kejadian tepat satu tahun yang lalu. Itu adalah kejadian yang terjadi beberapa saat setelah Charl dan Lyca masuk ke Akademi Noir.

"Ketetemuu~"

Dari belakang Lyca yang sedang asyik membaca buku di perpustakaan, Charl tiba-tiba memunculkan wajahnya.

"Belajar lagi, ya. Kalau terus-terusan baca buku kayak gitu, kepalamu bisa meledak, lho."

"Charl juga sesekali belajar, dong? Nanti aku ajarin, deh."

"Ahahaha."

Lalu, Charl tertawa ambigu untuk mengalihkan pembicaraan.

"Lagi baca apa?"

Charl menundukkan pandangannya pada judul buku yang sedang dibaca Lyca.

"Etto, Mansion Owl si Penyihir? Bukan buku tentang Pengadilan Sihir, ya. Tumben banget."

"Kalau dibilang bukan tentang Pengadilan Sihir ya memang bukan, sih, tapi ini lebih kayak asal mula Pengadilan Sihir, atau mungkin ini yang dijadiin referensi.."

"Penjelasan itu aja udah bikin pusing, tahu."

Seolah melarikan diri, Charl menjauh dari buku tersebut.

"Nggak mau pergi main, Lyca? Katanya di distrik perbelanjaan ada bar yang namanya Perjamuan Peri, arena pertarungan bawah tanahnya lagi rame banget lho! Denger-denger itu tempat kencan yang lagi populer banget buat para pasangan!"

"Di tempat kencan yang lagi populer buat pasangan, kamu dan aku?"

"Nggak apa-apa, kan. Kita berdua juga sama-sama nggak punya pasangan."

"Aku kurang nyaman di tempat yang terlalu ramai."

"Yah~ Ku mohon, Mama~"

Dengan manja Charl menempelkan tubuhnya dan memeluk Lyca.

"Jangan panggil aku Mama."

"Habisnya kan, kamu Mama-ku. Aku satu-satunya kerabatmu, kan."

"Charl."

Dengan wajah datar, Lyca memberikan tatapan menegur.

"Tidak boleh. Kamu tahu kan kalau tidak ada orang lain yang boleh mengetahuinya."

"...Iyaaaa."

Sambil memonyongkan bibirnya, Charl menjauh dengan ekspresi merajuk.

Kemudian, Lyca menutup buku yang sedang dibacanya.

"Mau pergi sekarang?"

"Eh?"

"Katanya arena pertarungan bawah tanahnya lagi ramai, kan?"

"Boleh?"

Sambil memajukan tubuhnya, Charl langsung menggenggam kedua tangan Lyca.

"Sesekali main berdua juga nggak buruk."

"Hore! Ayo ayo~!"

Sambil melompat-lompat di tempat, Charl menunjukkan kegembiraannya.

"Saintess-sama."

Bersamaan dengan suara itu, beberapa biarawati masuk beriringan ke dalam perpustakaan.

Begitu tiba di depan Charl, mereka menundukkan kepala dengan sopan. Orang yang ada di depan adalah Milia, yang dulu merundung Charl saat mereka masih kecil.

"Tolong segera kembali ke gereja. Kami membutuhkan kekuatan Saintess-sama."

Dengan penuh hormat Milia mengatakannya.

"Ada yang terluka?"

"Saya tidak diberitahu, tapi sepertinya begitu."

"Begitu, ya..."

Dengan raut wajah bingung Charl menatap Lyca.

Lalu, Milia berkata.

"Kalau berkenan, teman sekolah Anda juga boleh ikut. Kami akan memberikan pelayanan yang terbaik."

"...Katanya begitu, lho?"

"Ayo kita pergi sama-sama."

Karena Lyca berkata seperti itu, "Un~!" Charl pun tersenyum dengan gembira.

 

 

Dipandu oleh Milia dan para biarawati, mereka berdua tiba di sebuah gereja.

"Oh. Saintess-sama, terima kasih sudah sudi datang kemari."

Yang menyambut mereka adalah seorang pendeta tua.

"Hm? Bukannya gereja di sini diurus sama Pendeta Oran, ya?"

"Pendeta Oran sedang tidak ada di tempat. Saya yang menggantikannya, nama saya Morris. Mohon kerja samanya."

Pendeta Morris menundukkan kepalanya dalam-dalam.

"Sebenarnya ada jemaat kami yang terkena kutukan. Sepertinya kutukan yang sangat kuno, mungkin dari 1000 atau 2000 tahun yang lalu, atau bahkan lebih tua dari itu. Kutukan ini di luar kemampuan kami, kami sangat mengandalkan bantuan Saintess-sama."

"Aku tidak bisa janji kalau belum dicoba, tapi kalau soal kutukan mungkin masih bisa diakali. Orangnya ada di mana?"

"Di ruangan sebelah sana."

Kemudian, sang pendeta menunjuk sebuah ruangan di bagian belakang gereja.

"Milia. Tolong antarkan teman sekolah Saintess-sama."

"Dimengerti. Mari, lewat sini."

Lyca mengikuti Milia dari belakang dan meninggalkan tempat itu.

"Lyca. Nanti aku selesain cepat, kok. Tunggu sebentar, ya."

"Hati-hati, ya."

"Pastinya~ Sampai nanti, ya."

Setelah Charl melambaikan tangan kepada Lyca, dia berjalan menuju ruangan di bagian belakang gereja bersama sang pendeta.

Saat dia masuk, udara yang lengket terasa mengusap kulitnya. Ruangan itu dipenuhi dengan sihir yang sangat tidak menyenangkan.

Di bagian terdalam ruangan terdapat sebuah tempat tidur, dan di atasnya ada seorang pria yang sedang berbaring. Di perutnya, tertancap sebuah belati pendek dengan ukiran tengkorak.

"S-Saintess-sama..."

Saat dia melihat Charl, pria itu membuka mulutnya sekuat tenaga.

"Tidak apa-apa, kok. Jangan gerak-gerak dulu."

Charl mengeluarkan bola kaca biru dari saku seragamnya. Lalu, dia menatap belati pendek itu melalui bola kaca tersebut.

"Penyucian (Risia)."

Saat sihir terkumpul di dalam bola kaca biru itu, secara bersamaan belati kutukan itu diselimuti cahaya. Cahaya itu terus bersinar semakin terang. 

Saat cahaya meledak hingga membengkak dalam satu tarikan napas, disertai dengan suara lembut, belati kutukan itu hancur berkeping-keping. 

Seolah-olah semuanya disucikan, kepingan-kepingan itu pun berubah menjadi cahaya, dan menghilang dengan halus.

"Berhasil. Bagaimana keadaanmu?"

Tanya Charl pada pria itu.

Pria itu perlahan-lahan menegakkan tubuhnya. Kemudian, setelah memastikan kalau tangan dan kakinya bisa bergerak, dia menatap Charl dan meneteskan air mata.

"Keajaiban yang luar biasa. Seperti dugaan saya dari Saintess-sama, tindakan yang pantas dilakukan oleh seorang anak Tuhan. Menyaksikan iman yang dalam dari Anda, ini akan menjadi harta karun dalam hidup saya."

"A-Ahaha, berlebihan tahu. Lagian aku tidak punya iman sekuat itu, kok."

"Anda sangat rendah hati. Sihir Suci itu adalah sihir yang menghasilkan keajaiban dari keimanan. Tidak ada orang yang berani meragukan keimanan Saintess-sama, yang mampu menghilangkan kutukan yang tidak bisa disembuhkan oleh siapa pun."

"Hmm..."

Dengan bingung Charl menggaruk kepalanya.

"Kutukannya memang sudah hilang, tapi kamu jangan gerak dulu. Luka di perutnya kan belum sembuh total."

"Baik. Terima kasih banyak."

"Dadah."

Kepada jemaat yang menundukkan kepalanya dalam-dalam, Charl melambaikan tangannya sekilas dan meninggalkan ruangan tersebut.

"Etto."

Setelah kembali ke aula utama, Charl mengedarkan pandangannya ke sekeliling.

"Ada apa, Saintess-sama?"

Dari belakangnya, Pendeta Morris menyapanya.

"Aku lagi cari Lyca, ada di mana, ya."

"Ah, kalau dia, sudah tidak ada di sini lagi."

"Eh?"

Sambil memiringkan kepalanya dengan heran, Charl berbalik.

"Kami menerima permintaan kerja sama dari Pengadilan Sihir. Bahwa dia, Lyca Endymion, telah membunuh Pendeta Oran."

Seberapa keras pun Charl memprotes kalau hal itu tidak mungkin terjadi, Lyca sudah terlanjur dibawa paksa ke Pengadilan Sihir.


Chapter 12

【Putusannya】

Kota netral Corntzel. Pengadilan Sihir Pusat.

Di dalam penjara batu, Lyca meringkuk sambil memeluk lututnya. Tidak ada jendela, dan lampu yang digantung di dinding hanya memancarkan sedikit cahaya.

Dia tidak bergerak. Sambil menunduk, dia menatap lurus ke lantai batu.

Kesunyian menyelimuti. Sama sekali tidak ada tanda-tanda keberadaan orang di sekitarnya.

"Apa yang sedang kamu lakukan?"

Mendengar suara yang seharusnya tidak terdengar, Lyca perlahan mengangkat wajahnya.

Di dalam penjara, yang berdiri di depan matanya adalah Chrono Granvephius.

"Onii-san ini, bisa muncul dan hilang di mana saja, ya."

Dengan nada bicara yang lembut Lyca mengungkapkan kesannya.

"Apa yang sedang kamu lakukan?"

Chrono kembali bertanya.

"Seperti yang kamu lihat. Aku sedang menunggu Pengadilan Sihir dimulai."

"Pelaku pembunuhan pendeta itu, bukan Lyca, 'kan?"

Sambil membulatkan matanya karena sedikit terkejut, kemudian dia tersenyum gembira.

"Kamu percaya padaku?"

"Kalau kamu melakukan hal semacam itu, tidak akan ada pasak yang tertancap di jantungmu."

Chrono berpikir kalau gadis itu tidak mungkin melakukan kejahatan.

"Kamu akan dinyatakan bersalah."

"...Padahal sama sekali tidak ada bukti, tapi mereka bahkan tidak menginterogasiku, lho. Mereka cuma memeriksa darahku saja."

Entah salah paham, atau disengaja. Apapun itu, tidak lain karena keputusan untuk menyatakan Lyca bersalah sudah ditetapkan.

"Kalau kamu tahu hal itu, kenapa tidak melarikan diri? Dindingnya memang kokoh, tapi ini tidak akan bisa menjadi belenggu bagi Vampir Leluhur."

"Lari juga buat apa?"

"Mencari pelaku aslinya."

Sudah pasti ada orang yang membunuh pendeta itu di suatu tempat di kota ini.

"Kalau bisa melakukan itu, namaku akan bersih, ya."

"Tidak bisa?"

"Menurutku, yang namanya mustahil itu bukanlah saat kita tidak punya kekuatan, melainkan saat kita berpaling dari hati nurani kita sendiri."

Dengan ekspresi yang tenang, dan tatapan mata yang lurus, gadis itu mengatakannya dengan lembut.

"Aku tidak akan pernah melanggar hukum Corntzel lagi."

"Sekalipun kamu tahu kalau hukum itu melakukan kesalahan?"

Kalau mereka mengadili Lyca, Pengadilan Sihir akan menciptakan tuduhan palsu. Bagi gadis yang terpikat oleh hukum kota netral ini pun, itu adalah hasil yang tidak diinginkan.

"Sekalipun putusan Pengadilan Sihir itu salah, menerimanya adalah tindakan yang benar. Meskipun aku dijebak dengan tuduhan palsu, suatu hari nanti hari di mana hal itu diluruskan pasti akan datang. Suatu hari nanti, hukum Corntzel pasti akan menciptakan kota di mana semua orang bisa hidup berdampingan dengan rukun."

Sambil menatap masa depan yang jauh, Lyca menegaskan hal itu.

"Aku akan melakukan hal yang benar."

"Kenapa Lyca──"

Saat itu, terdengar suara langkah kaki. Menuju penjara ini. Sepertinya orang dari Pengadilan Sihir.

"Pergilah. Jangan sampai ketahuan."

Lyca berkata dengan suara pelan.

"Kalau berkenan, maukah kamu datang lagi besok?"

"Aku janji."

Saat Chrono mengatakan itu, gadis itu mengangguk dengan gembira.

Saat itu juga, sosok Chrono menghilang secara tiba-tiba. Seolah-olah dia memang tidak ada di sana sejak awal.

"Lyca Endymion. Keluar. Sidang akan segera dimulai."

Sipir yang datang memborgol Lyca, lalu membawanya pergi.

Tempat dia diberdirikan adalah ruang sidang utama Pengadilan Sihir Pusat. Sidang dibuka oleh Sage Hukum yang menjadi kepala pengadilan.

Setelah melalui berbagai persidangan, Sage Hukum menjatuh-kan putusan. Hukuman yang jauh lebih berat daripada yang dia bayangkan.

"──Terdakwa Lyca Endymion dijatuhi hukuman mati."

Lyca punya kekuatan untuk melarikan diri.

Aku akan melakukan hal yang benar, begitu kata gadis itu.

Sekalipun dijatuhi hukuman yang paling berat, Lyca tidak mengubah tekadnya, dan mempertahankan hukum Pengadilan Sihir sampai akhir.

(TL/N : Mau didunia manapun pengadilan memang menjijikan.)


Chapter 13

【Tujuan Charl】

"Lyca bilang aturan tetaplah aturan, dan menerima hukuman matinya. Padahal dia pasti bisa melarikan diri, tapi dia nggak lari. Sahabat yang paling aku sayangi adalah anak yang seperti itu. Dia membenci hal-hal pengecut lebih dari siapa pun."

Sambil menggertakkan gigi gerahamnya dengan kuat, Charl berkata.

"Nggak mungkin Lyca. Nggak mungkin Lyca ngebunuh pendeta, itu mustahil!"

Amarah yang tak punya tempat untuk dilampiaskan, tumpah dari mulutnya.

"Makanya, aku terus nyari pelaku aslinya."

"Kalau sudah ketemu, mau kamu apakan?"

Chrono bertanya.

"Aku sudah janji. Aku pasti bakal menemukan pelaku aslinya sebelum Lyca dieksekusi mati."

Air mata sedikit menggenang di mata Charl. Janji itu tidak pernah terwujud.

"Aku mau bersihin nama baik Lyca."

"Apa kamu punya petunjuk?"

"Raja arena pertarungan bawah tanah yang tadi. Katanya dia saksi mata pembunuhan pendeta itu."

Akhirnya alasan Charl ingin pergi ke arena pertarungan bawah tanah terungkap.

"Waktu mau pulang tadi, kamu membicarakan sesuatu, 'kan?"

"Un. Aku bikin janji buat dengerin ceritanya waktu itu. Mungkin aja dia tahu informasi tentang pelaku aslinya."

Kalau dia benar-benar melihat pelakunya, itu pantas untuk didengarkan.

"Walau agak cemas juga, sih."

"Apanya?"

"...Ada rumor yang nggak terlalu bagus. Katanya dia anggota organisasi mencurigakan."

"Organisasi macam apa?"

"Tahu tentang Pasukan Petarung Rosetta?"

"Tidak."

Chrono langsung menjawab.

"Sepertinya itu tempat buat melatih petarung arena bawah tanah, tapi aslinya mereka punya hubungan sama Raja Iblis Golroars, dan mau ngegulingin Corntzel."

Di sini, sama seperti Raja Iblis, ada iblis-iblis lain yang juga tinggal. Fakta kalau Corntzel adalah tempat netral juga diakui oleh Raja Iblis, dan ada perjanjian kalau dia tidak akan menyerang kota ini. Usaha untuk menggulingkannya bukanlah masalah sepele.

"Wajah Charl terlihat seperti akan tetap melakukannya meskipun itu berbahaya."

"Un."

Charl mengangguk.

"Makanya, makasih."

"Terima kasih untuk apa?"

"Berkat Chrono-kun, aku bisa ngobrol sama raja itu, 'kan."

Sambil menunjukkan senyuman yang ramah, dia berkata seperti itu.

 

 

Dua bayangan berjalan berdampingan.

Keluar dari distrik perbelanjaan, mereka terus berjalan lurus menyusuri jalan utama di area perumahan. Suara langkah kaki menggema dengan ritme yang teratur.

Tanpa sepatah kata pun, kedua bayangan itu masih belum berpisah.

Charl melirik Chrono sekilas.

(Hmm. Gawat, nih. Chrono-kun diam terus dari tadi.)

Profil wajah tampannya tidak mengatakan apa-apa, dan hanya menatap lurus ke depan. Charl tidak bisa membayangkan apa yang sedang dipikirkannya.

(Apa aku tiba-tiba kebanyakan ngomong soal topik yang berat, ya. Kalau dia jadi nggak nyaman, gimana, dong...?)

Memikirkan hal itu, dia tersentak, lalu menggelengkan kepala-nya kuat-kuat seolah ingin menepis pikirannya sendiri.

(Sebenarnya nggak apa-apa juga sih kalau dia jadi nggak nyaman. Bukan berarti aku ada maksud apa-apa. Lagian aku sendiri yang mikir kalau lebih baik diomongin. Mikir begitu sih, tapi...)

Kesunyian berlanjut, dan mereka berdua berjalan.

(Hmm. Udaranya berat banget. Chrono-kun, sekarang lagi mikirin apa, ya?)

Sekali lagi, dia melirik wajah Chrono sekilas.

(Sama sekali nggak ketebak. Ekspresi macam apa itu? Kosong banget, kosong!)

Wajah tanpa ekspresi Chrono yang tidak seperti manusia biasa itu, membuat Charl hampir sama sekali tidak bisa membaca emosinya.

(Aku nggak mau pisah dengan suasana kayak gini. Oke. Harusnya jalan pulangnya sebentar lagi beda, jadi waktu pisah nanti aku bakal senyum, dengan semangat, bilang makasih sekali lagi, terus bilang sampai besok. Un, rencana yang sempurna banget, 'kan.)

Charl memantapkan tekadnya, dan mengepalkan kedua tangannya dengan kuat.

Kemudian, dia menunggu saat itu tiba. Tapi, berjalan, dan terus berjalan, seberapa jauh pun mereka berjalan, rute pulang Chrono dan Charl sama sekali tidak berpisah.

"Ano, Chrono-kun."

Charl memberanikan diri untuk angkat bicara.

"Aku, arahnya ke sana."

Sambil menunjuk ke arah belokan, Charl berkata. Kemudian, dia menunjukkan senyuman yang penuh semangat.

"Hari ini bener-bener maka──"

"Aku juga ke sana."

Chrono menunjuk ke jalan yang tadi ditunjuk oleh Charl.

"Eh? Tapi, di depan sana itu 'kan..."

Di ujung belokan itu jalannya buntu, dan hanya ada satu bangunan besar di sana.

Asrama siswa Akademi Noir.

"Chrono-kun tinggal di asrama juga, ya!"

Di depan asrama siswa yang direnovasi dari kastel tua, Charl berseru dengan suara keras.

"Belum kubilang, ya?"

"Belum bilang, tahu...!"

"Tapi, apa aku pernah dengar kalau Charl tinggal di asrama?"

Seolah menyadari sesuatu, Charl tersentak, dan menunjuk Chrono.

"Aku nggak bilang...!"

"Memang begitulah."

Charl menjadi lemas dan kehilangan tenaga.

"Jangan-jangan, kamu sedang kebingungan akan sesuatu?"

"Bukan bingung, sih, tadi 'kan, aku cerita soal Lyca."

"Aa."

"Kupikir aku dianggap kayak cewek yang ngebawa beban berat gara-gara tiba-tiba ngomongin hal itu, tapi kalau nggak diomongin juga kayaknya kurang pas, terus Chrono-kun dari tadi diem aja."

Dengan nada sedikit merajuk Charl mengatakannya.

"Bikin aku kepikiran kemana-mana, tahu."

"Aku sedang mencari topik pembicaraan."

Chrono mengatakannya dengan percaya diri.

"Tapi aku tidak memikirkan apa pun."

Sesaat, mata Charl membulat, dan setelah itu dia tidak bisa menahan tawa yang meluap dan mengeluarkan suara "Ahahaha".

"Apaan, sih. Lucu banget."

Udara yang berat sebelumnya menjadi ringan seolah-olah bohong, dan kata-kata meluncur dari mulut Charl.

"Padahal waktu kencan tadi sempurna banget, tapi ternyata bisa sampai nggak kepikiran apa-apa, ya."

"Waktu itu kita pura-pura jadi sepasang kekasih, 'kan?"

"Kalau nggak pura-pura, kamu itu nggak jago ngomong, ya?"

"Aku tidak bisa mengatakan hal yang tidak ada di dalam hatiku."

Dengan wajah yang sangat serius Chrono menjawab.

"Tinggal ngomongin apa yang ada di hatimu aja, 'kan?"

"Apa yang ada di hatiku ini tidak mahakuasa."

Dengan wajah bingung, Charl menatap wajah Chrono dari dekat.

"Emang nggak bisa?"

"........"

Setelah ragu sejenak, Chrono tertawa lembut. Seolah-olah, es telah mencair.

"...Charl, setelah ini, mau ke kamarku?"

"...Eh?"

Charl mematung. Pikirannya tidak bisa mengejar perkataan itu. Ekspresinya terlihat seperti itu.

"Etto..."

Sambil mewarnai pipinya menjadi merah, dengan malu-malu dia bertanya.

"P-Pura-puranya bukannya udah selesai...?"

"Ya. Karena itu, ini bukan pura-pura."

Kebingungan yang aneh menyebar di wajah Charl.

(Apa ini? Apa ini apa ini? Padahal ini nggak ada di situasi kencan idamanku...!)

Terdengar suara yang besar. Dari dalam tubuhnya, seolah-olah mengeluhkan sesuatu dengan kuat.

(Kenapa jadi deg-degan begini?)

Charl seolah menahan dadanya, dan sedikit menundukkan pandangannya.

"B-Boleh aja kok, pergi ke kamarmu...?"

Mendengar kata-katanya sendiri, dia sendiri merasa terkejut.

(Kenapaaaa!? Aku ini nggak jujur banget, dah. Tinggal pergi biasa aja, 'kan. Kenapa...!?)

Charl mengecilkan tubuhnya, dan menatap Chrono dengan pandangan ke atas.

(Kenapa, bisa malu banget gini, ya...?)

"Kalau begitu, ayo pergi bersama."

"Eh? K-Ke mana!?"

"Ke kamarku."

"Ah... I-Iya, ya. Soalnya caramu ngomong sama sekali nggak kerasa kayak ngajak ke kamar, aku jadi bingung sendiri."

Seolah menutupi rasa malunya, Charl tertawa.

 

 

Membuka pintu, Chrono masuk ke dalam ruangan.

"Maaf mengganggu~"

Mengikuti dari belakangnya, Charl juga masuk ke dalam.

"Luas banget!"

Begitu melihat kamar Chrono, Charl berseru.

"Apaan nih? Bukannya ini luas banget? Kayaknya ini lima kali lipat lebih besar dari kamarku, deh!"

"Katanya tidak ada kamar lain yang kosong."

Meskipun penyebab kamar yang tidak kosong adalah karena Chrono pindah di luar waktu penerimaan, tapi keputusan untuk memberikan kamar khusus tamu kehormatan kepadanya adalah bentuk perhatian khusus dari Kepala Sekolah Lotus. 

Dia mungkin berpikir kalau Chrono akan merasa tersinggung karena asrama yang kumuh, dan itu bisa menghancurkan kota netral ini.

"Begitu, ya. Eh~ Enak banget, ya."

Berkata demikian, Charl melihat-lihat ke sekeliling ruangan dengan penuh ketertarikan.

"Ah, ada dapurnya juga!"

Di arah yang ditunjuk Charl, terdapat dapur dengan peralatan sihir untuk memasak yang berjejer.

"Ngomong-ngomong, aku belum makan malam."

Ucap Chrono.

"Mau makan di sini?"

"Chrono-kun, kamu bisa masak?"

"Tentu saja."

"Hebat! Kalau gitu, omelet bisa?"

"Itu masakan andalanku."

Bagi Chrono, semua masakan adalah masakan andalannya.

"Kamu suka omelet?"

"Suka banget! Biarpun mulai besok aku kena kutukan yang bikin aku cuma bisa makan satu jenis masakan aja, aku nggak masalah selama ada omelet!"

Karena dia dipanggil sebagai Saintess, sepertinya ketahanan Charl terhadap kutukan sangat tinggi.

"Kebetulan ada telur."

Chrono mengeluarkan telur dari kulkas sihir.

"Kalau gitu, aku juga mau masak. Ayo masak bareng."

"Itu ide yang bagus. Charl mau masak apa?"

"Omelet!"

Dia menjawabnya dengan instan.

"Tapi bukannya akan jadi omelet semua?"

"Tambah enak, kan?"

Dengan mata berbinar, Charl tertawa seolah-olah ada bunga yang bermekaran.

"Nggak boleh?"

"Boleh. Kalau telur, aku punya banyak."

Buk, Chrono meletakkan kotak berisi banyak telur dengan keras.

Dia dengan cepat menyalakan api di tungku sihir, lalu mengeluarkan wajan besi, talenan, dan dua bilah pisau dapur. Dia menyiapkan bahan-bahan yang dibutuhkan seperti mentega, garam dan merica, lalu mulai memasak.

"Chrono-kun, kamu tipe yang masak pakai berapa telur?"

"Berapa pun tidak ada masalah sih, tapi Charl sukanya pakai berapa?"

"Berapa aja boleh!?"

Charl bertanya dengan sangat antusias.

"Karena aku Sang Maha Tahu dan Maha Kuasa."

"Sepuluh! Aku mau sepuluh!"

Jumlah yang tidak terlihat seperti porsi untuk satu orang.

"Baiklah."

Chrono menjawab dengan ringan, lalu dengan cepat membuat omelet dengan sepuluh telur. Di saat yang bersamaan, dia memanggang roti menggunakan oven batu.

Di sisi lain, Charl──

"G-Grrh..."

Dengan ekspresi tegang, dia memelototi telur yang mulai mengeras di dalam wajan seakan sedang melihat musuh bebuyutan orang tuanya.

"G-grrh...!"

Suara yang sama sekali tidak terdengar seperti sedang membuat omelet meluncur dari mulut Charl.

"Charl, kamu tidak apa-apa?"

"J-Jangan diajak ngomong! Sekarang ini kondisinya udah bener-bener kritis tahu!"

Charl menggenggam wajannya kuat-kuat dengan kedua tangannya.

"Hmph!"

Kemudian, dia membalikkan omeletnya.

 

 

Di atas meja makan telah tersaji roti yang sudah matang dipanggang, omelet, salad, dan teh hitam.

Sambil memakan omelet buatannya sendiri, Charl menunjukkan ekspresi bingung.

"Omeletku ini, entah kenapa nggak bisa matang dengan baik, ya. Agak kering, dan ada gosongnya sedikit."

Sambil berkata demikian, dia menatap omelet buatan Chrono.

"Ngomong-ngomong, omelet buatan Chrono-kun terlalu sempurna, 'kan? Hebat banget bisa ngebentuk sebagus ini pakai sepuluh telur. Dilihat dari bentuknya aja udah kelihatan enak, 'kan!"

"Untuk membuat omelet yang bagus, butuh keyakinan yang teguh. Dengan begitu, bentuknya tidak akan hancur."

Itu adalah teori berbasis mental.

"Bukan masalah pengaturan apinya?"

"Hal semacam itu cuma trik dangkal. Yang benar-benar penting itu niat di dalam hati."

"Niat di dalam hati, ya."

Seolah puas mendengarnya, Charl berkata.

"Tapi, aku ngerasa udah punya keyakinan, sih. Aku juga masukin banyak cinta, loh. Gimana caranya biar bisa masak dengan baik, ya?"

"Dilihat dari kondisinya, ada satu kekurangan yang fatal."

Dengan nada bicara yang serius Chrono berkata.

"Tunggu. Aku tebak. Etto... Mimpi atau harapan, 'kan?"

"Pengaturan api."

"Tuh, pengaturan api, 'kan!!"

Setelah melontarkan reaksi protes yang besar, Charl saling bertatapan dengan Chrono, dan mereka berdua tertawa.

 

 

"Hm loh? Udah jam segini?"

Menatap jam yang tergantung di dinding, Charl berkata dengan terkejut.

Setelah menyantap omelet, mereka berdua larut dalam perbincangan ringan yang seru.

"Hmm, rasanya udah lama banget aku nggak ketawa sebanyak ini. Akhir-akhir ini, aku agak capek."

Untuk membersihkan nama Lyca dari tuduhan palsu, Charl mengambil risiko yang sangat berbahaya. Mungkin dia tidak punya cukup waktu untuk bersantai.

"Setelah bekerja keras, kamu harus beristirahat dengan baik."

"Bener banget. Tapi, mau gimana lagi, 'kan?"

Sambil menelungkupkan badannya di atas meja, Charl berkata.

"Haaah. Tapi, hari ini aku nggak mau pulang~"

Menutup matanya seperti orang yang mulai terlelap tidur, Charl mengatakan hal itu. Saat itui juga, seolah terkejut, dia membuka matanya seketika.

"A-Ano, bukan begitu maksudnya."

"Charl."

Chrono berkata.

"Hari ini mau menginap?"

"...Ah."

Karena ajakan yang dilontarkan dengan sangat terang-terangan itu, jantung Charl berdegup dengan kencang.

"...K-Kalau diajak mendadak begini... 'kan harus siap-siap dulu...?"

"Mau bagaimana lagi. Aku tiba-tiba terpikirkan hal itu. Karena bersama dengan Charl itu menyenangkan."

Berkata demikian, Chrono tertawa lepas.

"Cara ngomong kayak gitu curang banget, tahu."

"Apa Charl tidak merasa senang?"

Menjawab pertanyaan terus terang itu, Charl bergumam pelan sambil meronakan pipinya.

"...Aku juga seneng, kok..."

"Syukurlah kalau begitu."

Seolah merasa lega, Chrono berkata.

"Tapi, aku 'kan baru kenal Chrono-kun."

"Apa waktu ada hubungannya?"

"...Nggak ada, sih..."

"Tapi?"

"Nggak ada, kok..."

Setelah menjawab begitu, Charl sedikit menunduk.

"...A-Ano..."

Dengan malu-malu Charl bertanya.

"...Kalau aku menginap, k-kita... mau ngapain...?"

"Charl."

"Eh, ah, etto, habisnya, aku agak penasaran..."

"Kamu bertanya hal yang tidak peka. Di malam yang menyenangkan, hal yang akan kita lakukan hanya ada satu, 'kan."

Dengan perubahan drastis, Chrono memancarkan kilatan tajam dari matanya yang ganas bagaikan binatang buas karnivora.

(Main kartu!)

Bermain kartu sepanjang malam dengan teman. Itu adalah mimpinya.

"Ayo kita bersiap-siap."

Chrono berdiri. Charl memegangi lengannya dengan lemas.

Dengan ekspresi bingung, pria itu menoleh.

"Ano... Chrono-kun... Aku seneng sih, tapi, hari ini aku pulang aja, ya..."

"Begitu, ya."

Chrono berkata seakan memakluminya.

"...Soalnya, ini belum selesai... Lyca jadi kayak gitu, sementara aku sendirian bisa bahagia, kalau mikir gitu, itu namanya nggak benar..."

Seolah menekan isi hatinya yang sedang tertekan, Charl tersenyum dengan lemah.

"Kalau semuanya belum beres, aku nggak bisa melangkah maju."

"Aku mengerti."

Chrono mengantar Charl yang sudah bersiap-siap untuk pulang ke pintu masuk.

"Maaf ya buat hari ini, Chrono-kun. Kamu mungkin mikir aku terus-terusan terbelenggu oleh masa lalu... tapi..."

"Charl, aku beritahu satu hal padamu."

Chrono memotong perkataan Charl di tengah kalimat dan berkata.

"Meskipun teman mati, bukan berarti persahabatan itu hilang. Tidak mungkin hal itu berlalu. Kamu bertarung di masa sekarang demi persahabatan itu. Itulah faktanya."

Setelah sesaat melebarkan matanya, sambil menahan sekuat tenaga air mata yang hampir menetes, Charl pun tersenyum.

"Terimakasih banyak, Chrono-kun."



Chapter 14

【Deklarasi Keadaan Darurat】

Konferensi Empat Raja.

Mengelilingi meja bundar, Kaisar Singa Landuke, Raja Iblis Golroars, Paus Permulaan Sol, dan Raja Naga Putih Agad telah duduk di kursi mereka.

Mereka terdiam. Sebagai gantinya, udara tegang yang dipenuhi rasa frustrasi memenuhi ruangan. Sol mengetuk-ngetuk meja bundar dengan ujung jarinya, dan Agad berdecak.

Rasa frustrasi semakin bertumpuk dari waktu ke waktu, lalu dengan suara hantaman keras, Golroars memukul meja bundar dengan tinjunya.

"Mau sampai kapan kau diam saja, Manusia! Bukankah kau sudah mendapatkan informasi penting tentang raja itu!?"

Golroars membentak Kaisar Singa Landuke.

"Jangan terburu-buru, Iblis. Tanpa kau perlu meninggikan suara, dia akan segera menceritakannya."

Kaisar Singa mengangkat tangannya. Kemudian, lingkaran sihir tergambar di meja bundar, dan sebuah proyeksi muncul di sana. Seseorang yang mengenakan seragam Akademi Noir──Carlo Ryan.

"Mohon maaf saya terlambat, Yang Mulia Kaisar."

Carlo berlutut dengan satu lutut ditekuk, dan menundukkan kepalanya.

"Tidak apa-apa. Kau sedang mencoba menyelidiki keadaan internal Raja Pembantaian. Tentu saja itu bukan hal yang mudah."

Dengan tenang Landuke berkata.

"Jadi, apa yang kau dapatkan?"

Ketegangan melanda Konferensi Empat Raja. Para raja memusatkan perhatian sambil memancarkan aura yang tidak biasa tentang apa yang akan dikatakan Carlo.

"Raja Pembantaian berkata begini. Beliau datang ke Akademi Noir untuk mencari teman."

Raja Iblis Golroars memasang wajah serius, dan berpikir keras.

"Teman."

Paus Permulaan Sol memiliki tatapan tajam layaknya seorang cendekiawan yang menghadapi masalah tersulit abad ini.

"Untuk mencarinya."

Raja Naga Putih Agad memancarkan semangat seolah-olah pasukan besar musuh telah menyerang negaranya.

"Ke Akademi Noir."

Udara yang berat menyelimuti meja bundar.

"Pasti bukan begitu."

"Ya, bukan."

Agad berkata seolah menunjukkan persetujuannya pada Golroars.

"Raja Pembantaian itu sama sekali tidak mungkin sampai repot-repot memaksakan diri hanya untuk mencari teman. Raja itu Sang Maha Tahu dan Maha Kuasa. Kalau beliau menginginkan teman, beliau bisa membuatnya dalam dua detik!!"

"Setidaknya, sepertinya itu bukan sekadar teman biasa... Pasti ada makna mendalam yang tersembunyi di baliknya."

Sol juga berpikir demikian.

"Raja itu juga berkata begini. Tentu saja, akan lebih bagus kalau pandangannya sejalan, katanya."

"P-Pandangannya sejalan...!!?"

Dengan guncangan hebat yang terlihat jelas, Landuke berseru.

"Dengan Raja Pembantaian itu! Dengan Sang Maha Tahu dan Maha Kuasa itu!! Beliau mencari orang yang pandangannya sejalan!? I-Itu...!! Itu artinya──"

"Bawahan, kah."

Mendengar kesimpulan yang diucapkan Agad, sesaat Konferensi Empat Raja diselimuti keheningan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

"Sepertinya beliau sedang menginginkan bawahan yang menyetujui ideologinya."

"Menyetujui... ideologi Raja Pembantaian..."

Terlihat jelas keputusasaan menutupi ekspresi Landuke.

"Selain itu? Apa lagi yang dikatakan oleh raja itu!?"

Saat Raja Iblis bertanya demikian, Carlo juga menjawab dengan suara seolah sudah menyerah.

"Kalau bisa, lebih baik yang kuat, katanya."

"Kuat!? Konyol...! Yang kuat, katamu!? Apa pendengaranmu tidak salah...!!? Apa beliau benar-benar bilang lebih baik yang kuat...!!!?"

Meski setengah panik, Landuke bertanya seakan memohon.

"Sayangnya, Yang Mulia. Telinga ini mendengarnya dengan jelas."

"Berapa orang!? Berapa teman yang beliau bilang inginkan!? 5 orang kah? 10 orang kah!?"

"...100 orang."

"Sera... tus... orang...!"

Landuke menelan ludah.

"...100 orang yang dianggap kuat oleh Raja Pembantaian yang Maha Tahu dan Maha Kuasa... Apa sebenarnya yang ingin beliau lakukan dengan kekuatan tempur gila semacam itu...?"

Tanpa bisa menyembunyikan keadaannya yang tercengang, Landuke bertanya demikian.

"Raja itu, mengatakan kata-kata ini. Kalau kita semua bermain bersama, pasti menyenangkan, katanya."

Seketika para Empat Raja terdiam.

Baik Landuke maupun Golroars tidak mengatakan apa-apa, dan Sol serta Agad juga terdiam dengan ekspresi serius.

"Fuh."

Suara tawa yang memecah keheningan terdengar. Itu adalah Raja Iblis Golroars.

"Fufufu, fuhahaha, fua-hahahahahaha!!! Rupanya beliau berniat menghancurkan dunia ini setengah bermain dan untuk bersenang-senang, ya!! Tidak, tidak, lelucon raja itu benar-benar merepotkan. Ya 'kan, Agad."

"Orang kuat memang sombong, kahahaha!!!"

"Benar-benar, kalau hidup panjang umur hal-hal menarik memang bisa terjadi, ya. Fuh, fufufufu!"

Menyusul Agad, Paus Permulaan Sol juga tertawa,

"Padahal hal ini tidak harus terjadi selagi aku masih hidup. Hahahaha!!"

Sambil mendesah, bahkan Landuke pun ikut tertawa.

Semua Empat Raja tertawa, dan tawanya bergema di seluruh ruangan meja bundar.

(TL/N : aowkoawk)

Dan──saat itu juga, suara tawa berhenti seketika.

Ada tekad bertarung yang kuat di mata mereka berempat.

"Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi! Betapapun raja itu Maha Tahu dan Maha Kuasa, kita tidak bisa hanya diam dan hancur!!"

Dengan penuh wibawa Landuke berkata.

"Atas nama kita, Empat Raja, untuk bersiap menghadapi serangan Raja Pembantaian, kita deklarasikan keadaan darurat di seluruh wilayah!!"

Konferensi Empat Raja adalah aliansi militer terbesar di muka bumi ini.

Keempat raja itu semuanya adalah tokoh luar biasa yang dipuji sebagai yang terhebat dalam sejarah.

Tanpa kebijaksanaan mereka, tidak akan ada yang menyadari tujuan Raja Pembantaian.

Tanpa keberanian mereka, tidak mungkin bisa bersatu untuk melawan Raja Pembantaian.

Pada saat Raja Pembantaian mulai bergerak, keberadaan keempat raja ini adalah cahaya harapan yang tak tergantikan bagi semua makhluk hidup di bumi ini.

Hanya satu, satu-satunya hal yang disayangkan adalah, ya, diskusi mereka tidak lain hanyalah badai kesalahpahaman yang luar biasa.


Chapter 15

【Strategi Iblis】

Kastil Raja Iblis. Ruang Singgasana.

"Naif."

Raja Iblis Golroars bergumam pelan. Bawahan-bawahan yang bersiaga di dekatnya gemetar ketakutan.

"Hei. Bukankah begitu menurutmu, Matthew."

"...I, iya."

Matthew dengan susah payah mengeluarkan suaranya yang gemetar.

Dia adalah iblis yang diselimuti api, kepala suku Ifrit.

(Raja Iblis sedang marah...! Konferensi Empat Raja yang disebutkan tadi, pasti sangat naif layaknya permen gula...!)

Matthew mencoba menebak penyebab amarah tuannya.

(Itu hal yang wajar. Dingin dan tak kenal ampun, iblis pemakan manusia, sosok yang sangat kejam hingga membuat orang yang berjalan di jalan kegelapan terlihat seperti orang baik, itulah Raja Iblis!)

Bahkan garam pun terasa manis di hadapan Raja Iblis, begitulah pepatah yang menggambarkan kekejaman Golroars yang tidak ada tandingannya.

"Dengan cara Konferensi Empat Raja, kali ini raja itu pasti akan benar-benar melaksanakan pembantaian besarnya. Dunia akan berakhir. Termasuk kampung halaman kita para iblis, Domdrad ini."

Begitulah yang dikhawatirkan Golroars.

"A, apakah Raja Iblis memiliki sebuah strategi?"

Saat Matthew bertanya, Raja Iblis menyunggingkan senyum.

(A, wajah itu...! Sama seperti saat Beliau menyandera 7000 manusia tanpa senjata, dan membantai 60.000 Pasukan Kaisar Singa... Setelah itu, Raja Iblis tanpa ragu membakar 7000 warga tersebut...)

Matthew merasa yakin.

(Ada...! Raja Iblis punya strategi iblis untuk melenyapkan bahkan Raja Pembantaian yang Maha Tahu dan Maha Kuasa itu...!)

Dia tidak bisa untuk tidak merasa kagum sekaligus ketakutan pada tuannya yang ada di depan mata.

"Raja itu pun, memiliki hal yang tidak akan pernah bisa beliau bantai. Sama sekali tidak bisa. Ini adalah strategi yang memanfaatkan titik buta psikologisnya."

Matthew menelan ludah.

Mengambil napas dalam-dalam, Golroars berkata.

"Strategi Besar Kita Berteman!"

"Hah?"

Tanpa sadar, Matthew merespons dengan reaksi aslinya.

"Apa kau tidak puas, Matthew."

Dengan mata dingin seolah menatap serangga kecil, Golroars memelototi bawahannya.

"T-Tidak, itu... Nama strateginya terlalu... bagaimana, ya... Bisa dibilang tidak seperti gaya Raja Iblis..."

Seolah ketakutan, Matthew mencoba membela diri dengan terbata-bata.

"Memangnya gayaku itu apa? Kekuatan? Kekejaman? Atau, harga diri sebagai iblis?"

"I-Itu, emm..."

"Naif. Karena terus memikirkan gengsi bodoh semacam itu, makanya kalian semua naif. Matthew, kau tidak akan mengecewakanku, 'kan?"

Ditanya dengan nada seolah sedang dinilai, Matthew menahan napasnya.

Dia merasa kalau memberikan jawaban yang ceroboh, dia akan dibunuh saat itu juga.

(Benar. Aku yang tertipu oleh nama strateginya, aku yang dangkal. Raja Iblis tidak mungkin memiliki pemikiran naif seperti berteman.)

Mendapatkan kembali ketenangannya, Matthew memutar otaknya.

"Saya sangat memahaminya. Artinya, dengan menjadi teman Raja Pembantaian──"

"Tepat sekali, Matthew. Otakmu memang bisa berputar cepat."

Bagaikan napas yang seirama, mereka berdua saling mengangguk.

(Benar. Aku akan mendekati Raja Pembantaian sebagai teman──)

(Benar, kau akan mendekati Raja Pembantaian sebagai teman──)

(Dan melenyapkannya...!)

(Dan memperkenalkan diriku sebagai teman dari teman. Lalu, aku akan menjadi bawahan raja itu, dan aku akan berada di pihak yang membantai. Ini baru yang namanya kedamaian sejati.)

Keiramaan mereka berdua benar-benar meleset total.

(Lagi pula orang-orang di Konferensi Empat Raja itu, apa mereka paham? Beliau itu Maha Tahu dan Maha Kuasa, tahu, Maha Tahu dan Maha Kuasa. Pemikiran naif kalau kita bisa memikirkan jalan keluar dengan bertarung melawannya benar-benar membuatku muak. Sudah jelas satu-satunya pilihan adalah menyatukan hati dan menjadi teman. Ya, menjadi teman sejati yang bisa menghabiskan waktu sambil tertawa bersama!)

(Seperti dugaan saya dari Raja Iblis, sambil merencanakan strategi pelenyapan yang keji, Beliau bisa tersenyum dengan sangat menyegarkan seperti ini. Meskipun majikan saya sendiri, ini sangat mengerikan...)

Latihan senyum menyegarkan yang ditujukan untuk teman itu, bagi Matthew terasa sangat mengerikan hingga membuatnya merinding.

"Matthew. Kau juga, tersenyumlah. Jangan pikir kau bisa mencapai tujuanmu dengan hal semacam itu. Bahkan kalau harus menjilat sepatunya, jadilah teman raja itu!"

"Dimengerti! Saya, Matthew, demi kehormatan suku Ifrit, pasti akan memenuhi ekspektasi Raja Iblis!"

Memancarkan kilatan tajam dari matanya yang penuh niat membunuh, Matthew tertawa dengan penuh percaya diri.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close