NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Fantasy Sekai de Akuyaku na no ni Heroin-tachi ni Sukare tara Genjitsu Sekai demo Harem ni Natta Volume 1 Interlude I

Interlude 1: Sang Bunga di Puncak Gunung yang Keren, Nijouin Rena


"Haaah~……"

 

Aku melihat ke arah pesan dari Tokitou-kun yang berada di layar ponsel pintar secara berulang kali.

 

Meskipun meskipun terus dilihat pun, isinya tidak akan mengalami perubahan. Namun semakin dilihat, barisan pesan itu terasa semakin berharga bagiku.

 

Selama dua bulan semenjak menduduki kelas 2. Meskipun berada di kelas yang sama, hampir tidak pernah ada interaksi di antara diriku bersamanya.

 

Namun kemarin, sebuah pemandangan mengenai interaksi bersama seorang murid laki-laki yang mirip seperti Tokitou-kun di sebuah dunia yang menyerupai fantasi mendadak mengalir masuk ke dalam kepalaku.

 

Dia melakukan berbagai macam hal demi diriku.

 

Mengenai detailnya aku tidak bisa mengingatnya kembali. Namun fakta bahwa dia adalah orang yang teramat lembut, bisa diandalkan, menawan…… murni hanya perasaan kuat yang kurasakan pada saat itulah yang mendekam secara jelas di dalam dadaku.

Begitu mencoba untuk mengobrol secara akrab bersama Tokitou-kun yang asli, kepribadian yang dimilikinya ternyata benar-benar sama persis.

 

Fakta bahwa aku akhirnya mengumpulkan niat untuk membongkar masalah ilustrasi yang sudah menjadi luka di hatiku selama bertahun-tahun adalah berkat kepribadian yang dimilikinya. Dan kemudian, dia berhasil menyembuhkan luka tersebut dalam sekejap mata.

 

Alih-alih memberikan penilaian terhadap diriku berdasarkan hal-hal di permukaan saja, dia bersedia memahami sampai ke lubuk hatiku yang paling dalam, memikirkannya dengan sekuat tenaga demi diriku, bahkan sampai benar-benar mengambil tindakan nyata secara langsung.

 

Tokitou-kun adalah orang yang teramat lembut, bisa diandalkan…… aaakh, benar-benar orang yang sangat menawan, ya.

 

"Tokitou-kun……"

 

Saat memanggil namanya, lubuk hatiku terasa berdegup kencang.

 

"Tokitou-kun……"

 

Padahal waktu yang dihabiskan sejak kami mulai berinteraksi secara akrab baru berjalan selama dua hari saja, apakah aneh jika aku memelihara perasaan yang seperti ini.

 

"Tokitou-kun……"

Bagi seorang murid, belajar adalah tugas yang utama. Memelihara perasaan yang melayang-layang seperti ini adalah hal yang tidak boleh dilakukan.

 

Ayahku yang merupakan mantan petinggi kepolisian adalah orang yang teramat keras. Jika fakta mengenai diriku yang memelihara perasaan seperti ini sampai ketahuan olehnya, dia pasti akan langsung meledak marah tanpa salah lagi. Terlebih lagi pihak Tokitou-kun pun pasti akan merasa kesulitan jika mendadak dibilang kalau aku menyukainya, kan.

 

Karena itulah, hal ini sama sekali bukan merupakan cinta. Ini murni hanya sebatas kepandiran dari isi pikiranku saja. Secara mutlak ini bukan merupakan cinta.

 

Aku akan menyimpan perasaan ini jauh ke dalam lubuk hatiku yang paling dalam, dan mulai besok aku akan menghabiskan kehidupan sehari-hari seperti biasa seperti yang sudah-sudah. Menyumbangkan tenaga untuk kegiatan hobi menggambar ilustrasi yang sudah dibantu oleh Tokitou-kun sepertinya mungkin merupakan hal yang bagus juga, sih.




Ya, itu pasti adalah pilihan yang terbaik.

 

“Baiklah. Mari kita coba menggambar ilustrasi yang baru sekarang juga.”

 

Jika sudah selesai, aku ingin Tokitou-kun menjadi orang nomor satu yang melihatnya.

 

Saat memiliki sebuah target, gairah di dalam diri menjadi semakin meluap melebihi yang sudah-sudah.

 

Aku mengeluarkan buku catatan, lalu menghadap ke arah meja.

 

***

 

“Ah, Tokitou-kun……”

 

Keesokan paginya, saat sedang berjalan di jalan menuju sekolah, aku menemukan sosok punggungnya berada di arah depan.

 

Meskipun sempat ragu-ragu apakah harus menyapanya atau tidak, pokoknya keinginan di dalam hati untuk bisa mendekat walau hanya sedikit saja mulai bertunas, membuat langkah kakiku bertambah cepat secara alami.

 

"Selamat pagi, Nijouin-san."

 

Seorang murid laki-laki memberikan sapaan kepadaku. Saling bertukar sapaan bersama berbagai macam orang di jalan menuju sekolah adalah hal yang biasa terjadi sehari-hari.

Saat melihatnya, dasi miliknya tampak longgar dan berantakan. Jika itu diriku yang sampai sekarang, aku pasti akan berdiri diam untuk menegurnya, tetapi jika melakukan hal seperti itu, Tokitou-kun akan

pergi mendahuluiku. Sekarang, waktu terasa teramat berharga.

 

"Iya, selamat pagi."

 

Aku membalas sapaan dengan tenang, lalu melangkah maju ke depan tanpa memperlambat ritme jalan sama sekali.

 

"Selamat pagi, Rena-sama. Pagi ini Anda juga terlihat cantik."

 

Jika biasanya, aku pasti menjadi ingin berkata 'tolong jangan bermulut manis', tetapi sekarang hal semacam itu sama sekali tidak penting bagiku.

 

"Selamat pagi."

 

Aku kembali membalas sapaan dengan tenang, lalu melangkah maju ke depan tanpa memperlambat ritme jalan.

 

Siapa pun orangnya, tidak akan ada satu orang pun yang bisa menghentikan langkah majuku.

 

Dan kemudian, punggung Tokitou-kun sudah berada sangat dekat di depan mataku. Punggung miliknya yang berjalan dengan menegakkan tubuh terlihat besar, bisa diandalkan, dan tampak semakin menawan.

Sebentar lagi kami akan tiba di sekolah. Apakah sebaiknya aku menyapanya, atau tetap diam dan berjalan dengan berpura-pura tidak tahu seperti ini saja. Nah, sebaiknya apa yang harus kulakukan.

 

──Ah, aku ingin memeluk punggung itu dari arah belakang.

 

Ah, tidak…… sebenarnya apa yang sedang kupikirkan.

 

Di hadapan publik seperti ini, mana mungkin hal seperti itu bisa dilakukan, kan.

 

Nggak, nggak, meskipun bukan di hadapan publik pun, bahkan jika hanya berduaan saja hal seperti itu tetap tidak boleh dilakukan.

 

Benar-benar perempuan mesum yang keterlaluan. Aku bisa dibenci olehnya nanti.

 

Terlebih lagi karena aku tidak sedang jatuh cinta, tidak mungkin aku memelihara keinginan untuk memeluknya, kan.

 

Tepat pada saat itu, mendadak pemandangan mengenai 'dunia yang menyerupai dunia lain' itu kembali mengalir masuk ke dalam kepalaku.

 

Tokitou-kun yang menolongku dengan pembawaan sikap yang seolah mendekapku dengan lembut.

 

"Aaakh……"

──Seperti dugaan, dia menawan sekali. Diriku menjadi merasa semakin menganggap dia yang sedang berjalan di depan mataku ini sebagai orang yang berharga.

 

"Eh? Nijouin-san?"

 

Karena aku mengeluarkan suara yang aneh, Tokitou-kun menjadi berbalik. Mata kami saling bertemu dengan telak.

 

Fuwahuuuuuuuuuakh, bagaimana ini! Memalukan sekali tingkat akut!

 

"A, aaakh…… ehem, ehem. Kondisi tenggorokanku…… are? Bukankah ini Tokitou-kun. Kebetulan sekali, ya."

 

Sambil menyembunyikan pergolakan emosi di dalam hati, aku berusaha sebisa mungkin untuk memasang wajah tenang.

 

"Benar juga. Kebetulan, ya. Kondisi tenggorokanmu buruk? Tidak apa-apa?"

 

Dia tampaknya sama sekali tidak memelihara rasa curiga. Kemampuan beraktingku benar-benar sempurna dan tanpa cela.

 

"Ah, iya. Terima kasih banyak atas kekhawatiran Anda. Tidak apa-apa, kok."

 

"Begitu, ya. Syukurlah."

Senyumannya saat menyipitkan mata terlihat sangat menawan…… aaakh, jantungku kembali tertembak dan dibuat berdegup kencang lagi. Namun aku tetap melanjutkan aktingku untuk bersikap tenang.

 

"Mengenai urusan grup obrolan kemarin, aku beneran sudah sangat dibantu olehmu. Berkat hal itu, aku menjadi memelihara niat untuk menggambar ilustrasi lagi."

 

"Iya, baguslah kalau begitu."

 

"Aku hanya memelihara rasa terima kasih saja kepada Tokitou-kun. Izinkan aku untuk membalas budi ini nanti, ya."

 

"Nggak, nggak, pembalasan budi seperti itu tidak perlu, kok."

 

Ah, Tokitou-kun yang tersenyum lembut dengan sikap rendah hati pun sangat menawan.

 

"Hal itu tidak bisa dilakukan, hatiku tidak akan bisa tenang jika tidak memberikan semacam pembalasan budi."

 

"Kalau begitu, jika Nijouin-san sudah menggambar ilustrasi yang baru, maukah kamu memperlihatkannya kepadaku sebagai orang nomor satu? Anggap saja hak akses melihat paling utama itu sebagai pembalasan budinya."

 

Sebuah perhatian yang diberikan tanpa memberikan beban kepadaku, tetapi tetap tidak mengabaikan keinginan di dalam hatiku untuk membalas budi. Ah, seberapa lembutnya dirimu ini.

Terhadap Tokitou-kun yang mengatakan hal seperti itu dengan lancar seraya memasang wajah serius, hatiku kembali dibuat berdegup kencang lagi.

 

Nggak, ini secara mutlak bukan merupakan cinta.

 

"Aku mengerti. Dengan senang hati."

 

Aku berjalan berdampingan bersama Tokitou-kun menuju ruang kelas

2-A.

 

Meskipun merupakan pemandangan yang sama seperti biasanya, entah mengapa dunia ini terasa terlihat jauh lebih cerah dan berkilau sewarna tujuh pelangi dibandingkan yang sudah-sudah.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close