Bab 4: Dunia Nyata yang Entah Mengapa Sedikit Berbeda dari Biasanya
◇◇◇
Saat terbangun, aku sudah berada di
kamarku sendiri. Di layar televisi, tampilan menu pembuka “Magi-Ama” tampak
bersinar.
Begitu memeriksa ponsel pintar, waktu
sudah menunjukkan pukul 4 lewat di sore hari. Hanya berselisih 10 menit saja
sejak terakhir kali aku masuk ke dalam dunia game. Seperti dugaan, sistemnya
memang membuatku kembali tepat setelah waktu perpindahan terjadi.
Sambil memegang ponsel pintar yang
tergeletak di atas meja, aku membuka media sosial. Kemudian dari jajaran
pengikut yang saling mengikuti (mutual), aku mencari akun "Sekiryu
Shizuku", lalu mengirimkan pesan singkat (DM).
■Haruto:
"Salah seorang temanku ada yang merelakan impiannya untuk menggambar
ilustrasi. Aku ingin Anda bersedia untuk memberikan suntikan semangat
kepadanya."
Setelah itu, aku menceritakan secara
singkat mengenai situasi Rena yang mengalami kegagalan dalam urusan ilustrasi.
Benar. Lawan bicaraku ini adalah
ilustrator dewa yang bertanggung jawab atas desain karakter (character design)
dari “Magi-Ama”.
Kenapa diriku bisa terhubung dengan orang
sehebat itu.
Sejak dulu aku memang sangat menyukai
ilustrasi light novel maupun game. Meskipun ada banyak ilustrator yang kusukai,
tetapi orang yang paling kupuja (oshikatsu) adalah Sekiryu Shizuku. Ilustrasi
gadis cantik yang memikat yang digambar dengan tarikan garis yang begitu
mendetail, pokoknya adalah yang terbaik!
Setelah menemukan akun media sosial
miliknya lalu mengikutinya, aku berkala memberikan komentar berisi kesan
terhadap ilustrasi yang diunggah olehnya, hingga aku mulai mendapatkan balasan
seperti,
"Pendapatmu sangat menjadi referensi
bagiku," sebuah balasan yang membuatku teramat gembira sampai rasanya mau
melompat. Ehem.
(Sungguh membanggakan).
Sejak saat itu, adakalanya aku dimintai
pendapat mengenai ilustrasi, membuat hubungan kami menjadi sedekat berkirim
kesan melalui pesan singkat.
Namun
meski begitu──hal yang kuminta kali ini sudah pasti merupakan tindakan yang
tidak sopan terhadap seorang profesional.
Rasa cemas kalau dia tidak akan mau
mengubris diriku lagi untuk ke depannya memang nyata ada. Namun demi Rena,
keinginan di dalam hati untuk bisa melakukan sesuatu untuknya jauh lebih
menang.
"Ah, sudah dibalas……"
Balasan pesan singkat dari Sekiryu-san
telah tiba.
■Sekiryu
Shizuku: "Jika itu adalah permohonan dari dirimu yang selalu memberikan
pendapat sebagai referensi karyaku, aku akan dengan senang hati bersedia
membantu."
Syukurlah. Jika dia bersedia menceritakan
kisah yang bisa menjadi referensi bagi Rena, aku akan sangat berterima kasih.
■Sekiryu
Shizuku: "Bagaimana jika kamu mengundang dirinya ke grup obrolan (open
chat) yang biasa itu. Kalau di sana, bukan hanya aku saja, tetapi semua orang
yang menyukai ilustrasi pasti akan membuat suasananya menjadi ramai."
Begitu, ya, itu adalah sebuah ide yang
bagus. Benar-benar patut disyukuri.
Grup obrolan yang dimaksud adalah
singkatan dari open chat, sebuah grup di media sosial di mana siapa saja bisa
bergabung untuk saling bertukar pendapat melalui obrolan.
Grup obrolan yang biasa itu adalah grup
bernama "Ayo Berkumpul,
Orang-Orang yang Ingin Menjadi Ilustrator
Profesional!" yang
dipelopori oleh Sekiryu-san, sebuah grup
di mana orang-orang yang menargetkan diri menjadi ilustrator berkumpul untuk
mengobrol dengan akrab.
Karena aku sangat suka melihat ilustrasi,
melihat obrolan para ilustrator dengan berpusat pada Sekiryu Shizuku yang
kupuja itu terasa sangat menyenangkan. Jika di tempat ini, Rena pasti akan bisa
berinteraksi dengan orang-orang sesama pencinta ilustrasi dengan menyenangkan
tanpa salah lagi.
"Ah, sudah jam segini, toh."
Saat menyadarinya, waktu sudah hampir
memasuki jam makan malam.
Aku harus turun ke ruang tengah di lantai
satu.
Karena kedua orang tua di rumah kami
sama-sama pergi bekerja, waktu makan malam selalu dihabiskan berduaan saja
antara aku dan adikku.
Meskipun persiapan makan hanya sebatas
menanak nasi dan menghangatkan lauk pauk yang sudah disiapkan oleh Ibu, tetapi
Yuika sang adiklah yang lebih sering menyiapkannya.
Jika aku telat memunculkan batang hidung
di ruang tengah, dia akan
menjadi masam dengan berkata kalau
urusannya menjadi tidak kunjung selesai.
……Maksudku, keparat Yuika itu memang
terhitung sangat sering memasang wajah masam tepat setelah melihat wajahku.
Mari segera pergi ke ruang tengah.
"Aduh, ya ampun, apa sih yang kamu
lakukan, Kakak. Lama banget, tahu……"
Adikku yang mengenakan pakaian rumah
berupa kemeja santai dipadukan dengan rok bermotif kotak-kotak sedang menata
lauk pauk makan malam di atas meja. Profil wajahnya tampak sangat masam dari
arah samping. Dia bahkan tidak sudi untuk melihat ke arah sini.
Ah, membuat depresi saja. Meskipun masih
mending karena dia tidak sampai menghujani diriku dengan kata-kata pedas yang
teramat sengit seperti Yuika di dunia game, tetapi saat sedang berduaan
dengannya hampir tidak pernah ada percakapan yang bermutu. Atmosfer yang
membuat canggung ini benar-benar bagai duduk di atas duri.
──Nggak,
tunggu sebentar. Adik perempuan di dunia game menunjukkan sikap yang jauh, jauh
lebih kejam lagi terhadap kakaknya.
Namun begitu diriku yang menjadi kakaknya
mengubah sikap dan
menghormati dirinya, hubungan kami bisa
mengalami perbaikan, kan.
Diriku di dunia nyata tentu saja bukan
merupakan pria yang sekejam Zeit. (Aku ingin memercayai hal itu).
Namun jika mengingat perlakuan terhadap
adikku sendiri, aku merasa diriku bukan merupakan sosok kakak yang lembut, sih.
"Maaf ya, Yuika. Karena sering kali
meminta bantuanmu untuk menyiapkan makanan. Terima kasih banyak."
"……Hah?"
Niatnya aku ingin mengatakannya dengan
menyertakan seluruh rasa terima kasih dari lubuk hati yang paling dalam, tetapi
adikku justru mengarahkan pandangan mata yang penuh keheranan. Wajar saja jika
dia terkejut melihat kakaknya yang biasanya selalu tidak ramah mendadak
menyampaikan rasa terima kasih seperti itu, ya.
Namun tepat pada saat mata kami saling
bertemu, Yuika menunjukkan sebuah respons yang aneh.
"Ah……"
"Apa maksudnya dengan kata 'ah'
itu."
Adikku yang memiliki raut wajah yang
tampak sedikit kekanak-kanakan and imut itu sedang memasang pandangan mata yang
kosong. Mulutnya sedikit terbuka dengan pipi yang merona sewarna bunga sakura.
Sebuah sosok menawan yang sempat membuat jantungku berdegup kencang meskipun
dia adalah adikku sendiri. Mendadak posisi pijakan kaki Yuika tampak limbung.
"Ada apa, kamu tidak apa-apa!?
Apakah kamu sedang demam?"
Aku terburu-buru berlari mendekat, lalu
menopang kedua bahu Yuika yang bertubuh kecil dan rapuh. Sudah berapa lama
sejak terakhir kali aku menyentuh tubuh adikku sendiri.
Aku sempat bersiap-siap kalau aku akan
dimarahi dengan kata apa yang kamu lakukan, tetapi tidak ada kata apa pun yang
dilontarkannya.
Apakah kondisi fisiknya memang nyata
sedang seburuk itu?
"Ah…… terima kasih, Kak."
Sambil mencengkeram siku tanganku
menggunakan salah satu tangannya, Yuika berdiri secara tegak. Tampaknya dia
sudah tidak apa-apa.
"Sebenarnya kamu kenapa, sih?"
Padahal biasanya dia hanya memanggilku
dengan sebutan 'Kakak' versi kasar saja, lho.
"Anu…… entah mengapa mendadak ada
bayangan video yang aneh mengalir masuk ke dalam kepalaku, membuat kepalaku
menjadi pusing berputar-putar."
"Hei, hei, kamu tidak apa-apa?
Bayangan video apa yang kamu maksud?"
"Hmm…… seolah-olah di sebuah dunia
yang rasanya bukan merupakan Jepang, aku saling mengobrol akrab mengenai hobi
bersama seorang kakak perempuan yang anggun……"
Dunia yang rasanya bukan merupakan
Jepang? Seorang kakak perempuan yang anggun?
"Di sana, Kakak juga ada."
Jangan-jangan hal ini…… apakah ingatan
tentang Magi-Ama mengalir masuk sampai ke dalam diri Yuika juga? Berkat adanya
ingatan milik Yuika di dunia game, apakah dia menjadi merasakan kedekatan
terhadap diriku?
"Lalu, entah kenapa Kakak di sana
menjadi orang yang sangat baik……"
"Jangan pakai kata entah kenapa,
dong."
"Nggak, itu kan murni hanya Kakak
yang ada di dalam halusinasi saja,
jadi itu bukan dirimu yang asli,
lho!"
Seolah panik, Yuika langsung melepaskan
tangannya dengan cepat, lalu membuat jarak sedikit dariku.
"Yah, tidak apa-apa juga, sih."
Namun hal itu, aslinya memang nyata
adalah diriku, lho. Meskipun kamu pasti tidak akan bisa memercayainya, sih.
"Auuugh…… hal yang ingin kukatakan
itu bukan bagian yang seperti itu, tahu."
"Apaan sih."
"Nggak, anu…… terima kasih karena
sudah mengkhawatirkanku."
Uwah…… sudah berapa tahun ya tidak
melihat Yuika menunjukkan sosok yang jujur dan imut seperti ini.
Ternyata jika pihak sebelah sini
memperlakukannya dengan lembut, pihak lawan pun akan membalas dengan lembut
pula. Benar-benar persis seperti bayangan yang terpantul di cermin.
Hal itu sama sekali bukan hanya terjadi
di dunia game saja, melainkan di dunia nyata pun berjalan dengan cara yang
sama.
"S-Sama-sama. Tapi kalau kondisi
fisik adikku sedang tampak buruk,
mengkhawatirkannya adalah hal yang
sewajarnya dilakukan sebagai seorang kakak, kan. Jika nanti kondisi fisikmu
memburuk lagi…… yah, katakan saja kapan pun."
"I-Iya."
Yuika menundukkan matanya dengan
malu-malu.
Selama ini aku telanjur berasumsi bahwa
pembawaannya sejak awal memang tidak ramah. Namun bukan begitu, melainkan aku
menjadi tersadar bahwa diriku sendirilah yang salah karena tidak
memperlakukannya dengan lembut selama ini.
Berkat adanya pengalaman di dunia game,
aku lega karena perbaikan hubungan dengan adikku sepertinya bisa dilakukan.
***
Keesokan paginya. Sambil tubuhku
terombang-ambing di dalam kereta komuter menuju sekolah, aku memikirkannya.
Demi menyelesaikan trauma ilustrasi milik
Rena, Sekiryu-san sudah
bersedia untuk memberikan bantuan.
Sisanya, aku perlu mengundang
Rena untuk masuk ke dalam grup obrolan.
Saat sedang berjalan di jalan menuju
sekolah dari arah stasiun, kebetulan gadis cantik yang dimaksud sedang berjalan
di depanku. Ini adalah kesempatan untuk mengajaknya berbicara.
Nijouin Rena bukan hanya sekadar cantik
saja, melainkan kakeknya adalah mantan anggota parlemen dan dia merupakan
seorang nona muda yang merupakan keturunan bangsawan. Aura yang dipancarkannya
terasa berbeda dari murid perempuan yang lain.
Jika itu diriku yang sebelum-sebelumnya,
mengajak berbicara pun sudah pasti merupakan hal yang teramat mustahil.
Namun berkat adanya pengalaman
berinteraksi dengan Lena di dalam dunia game, aku merasa sekarang aku bisa
melakukannya. Aku mempercepat langkah kaki untuk memangkas jarak.
Tepat pada saat punggung Rena sudah
berada sangat dekat di depan mataku, mendadak posisi pijakan badannya tampak
limbung.
"Bahaya!"
Bukan waktunya untuk memikirkan rasa
malu. Secara refleks aku
melangkah maju beberapa langkah, lalu
menopang punggungnya dari arah belakang. Meskipun tampak ramping, punggung itu
terasa begitu lembut.
"A-Terima kasih banyak."
Sambil mengatakan hal itu, Rena
menegakkan tubuhnya lalu melihat ke arah wajahku.
"Hyaang, Tokitou-kun……"
Begitu menyadari bahwa orang yang
menopang tubuhnya dari arah belakang adalah diriku, dia mengeluarkan suara yang
aneh.
Respons yang seperti ini diperlihatkan
oleh Rena yang biasanya selalu keren. Apa-apaan ini, imut sekali.
"Kamu tidak apa-apa?"
"T-Tidak apa-apa, kok. A-Terima
kasih banyak……"
Sang nona muda terburu-buru menjauhkan
tubuhnya lalu berdiri secara
tegak. Punggungnya sudah lurus sempurna
dan dia sepertinya sudah tidak apa-apa. Apakah dia sempat terkena anemia, ya.
"Begitu, ya. Syukurlah."
Ini pasti berkat adanya pengalaman di
dunia game juga, ya. Kata-kata
bisa mengalir keluar dari mulutku dengan
lancar.
"Anu, Nijouin-san. Ada hal yang
ingin kubicarakan sedikit……"
"H-Haik!?"
Rena yang biasanya selalu tenang entah
mengapa mendadak menjadi panik.
"Kondisi fisikmu buruk? Pijakan
kakimu tadi sempat limbung, lho."
"N-Nggak, tidak apa-apa, kok. Yang
tadi itu, entah mengapa mendadak
ada semacam ingatan atau semacam bayangan
video yang mengalir masuk ke dalam kepala lagi, sehingga akibat hal itu aku
menjadi sedikit limbung."
"Kata lagi itu maksudnya,
pemandangan bergaya Eropa abad pertengahan yang kamu katakan sebelumnya?"
"Iya. Mengenai detailnya aku tetap
tidak bisa mengingatnya dengan jelas, sih, tetapi Tokitou-kun sedang melakukan
sesuatu untukku dengan bersungguh-sungguh, lalu aku berkunjung ke rumah milik
Tokitou-kun, dan karena hal itu aku, tentang dirimu……"
"Tentang diriku? Ada apa?"
"Ah, nggak, bukan apa-apa!"
"Meskipun kamu bilang bukan apa-apa,
wajahmu memerah pekat, lho.
Kondisi fisikmu memang nyata sedang
buruk, kan?"
"Nggak, tidak apa-apa! Tolong jangan
dipikirkan! Kalau begitu aku pergi duluan, ya."
Dengan gelagat yang tampak panik, dia
melangkah pergi dengan cepat.
Karena aku sempat menyentuh tubuhnya,
apakah aku dianggap
menjijikkan olehnya, ya.
Dibandingkan hal itu, yang lebih
membuatku cemas adalah kondisi
fisiknya. Apakah dia benar-benar tidak
apa-apa.
──Gawat.
Hal krusial yang ingin kusampaikan sama sekali belum sempat kubicarakan. Mau
bagaimana lagi. Mari kita ajak dia berbicara lagi saat jam istirahat makan
siang nanti.
***
Saat jam istirahat makan siang, aku
mencari kesempatan untuk mengajak Rena berbicara.
Dia memiliki hubungan yang akrab dengan
Kageura Haruru yang merupakan salah satu dari dua gadis tercantik, dan mereka
berdua selalu menyantap bekal bersama.
Sama seperti hubungan akrab antara Lena
dan Haruru di dunia game, hubungan antara Nijouin Rena dan Kageura Haruru pun
terhitung akrab.
Haruru Schatten memiliki rambut perak
yang berkilau, sedangkan Kageura Haruru memiliki rambut berwarna kastel yang
cerah. Meskipun ada perbedaan warna rambut, tetapi mata bulat yang besar, garis
hidung yang tegas, serta senyuman yang tampak lembut milik keduanya benar-benar
mirip. Terlebih lagi bagian bertubuh kecil dan berpayudara besar pun sama
persis.
Karena memiliki paket lengkap elemen
populer yang melimpah seperti ini, Kageura Haruru terhitung sangat populer
tingkat ekstrem. Namun rumornya, seluruh pernyataan cinta selalu ditolak
olehnya. Dalam poin itu pun dia sama persis dengan Haruru Schatten.
Bahkan setelah selesai menyantap bekal
pun, mereka berdua tetap melanjutkan obrolan santai di sana. Rena hampir tidak
pernah berada seorang diri. Umu, tidak ada waktu yang pas untuk mengajaknya
berbicara.
Pada akhirnya selama jam istirahat makan
siang pun kesempatan untuk mengajaknya berbicara tidak kunjung ada. Dan saat
jam pulang sekolah.
"Hei Rena. Ayo kita pulang
bersama."
"Ah, iya."
Karena dia pulang berduaan bersama
Haruru, hari ini aku tidak bisa mengajaknya berbicara sampai akhir. Jika ini
adalah game romansa, pergi ke lokasi di mana heroin berada pada peta saja
biasanya sudah membuat kita bisa mengobrol, sih. Adakalanya kejadian khusus
(event) terpicu hingga pihak lawanlah yang mendadak mengajak berbicara, lagi.
Meskipun dibilang jika di dalam game pun,
mau bagaimana lagi. Tempat ini adalah dunia nyata. Mari kita cari waktu yang
pas untuk mengobrol besok saja. Sambil memikirkan hal itu, aku melangkah pulang
seorang diri.
***
"Tokitou-kun."
Di tengah jalan pulang menuju stasiun,
entah mengapa Rena sedang berada seorang diri di sana.
"Are? Bukankah tadi kamu pulang
bersama Kageura-san?"
"Karena aku bilang kepada Haruru
kalau ada urusan, aku memintanya untuk pulang duluan."
"Urusan?"
"Karena tadi pagi Tokitou-kun bilang
kalau ada hal yang ingin dibicarakan, jadi aku menunggumu di sini."
Eh? Kejadian khusus terpicu……? Sebuah
perkembangan yang menyerupai game romansa membuatku terkejut.
"Sampai sengaja meluangkan waktu
begitu. Aku merasa tidak enak,
tahu."
"Nggak. Tadi pagi karena kesalahanku
kita tidak bisa mengobrol, kan. Padahal diberi tahu kalau ada hal yang ingin
dibicarakan, mohon maaf karena aku malah melarikan diri untuk pergi begitu
saja. Kamu menjadi tidak senang, kan?"
"Nggak, sama sekali tidak ada hal
seperti itu, kok. Karena tadi kamu tampaknya sedang terburu-buru juga,
sih."
"Alih-alih terburu-buru…… setelah
tahu bahwa orang yang menopang punggungku adalah Tokitou-kun, tanpa sengaja aku
malah menjadi panik. Karena itulah aku merasa malu……"
Mendengar seorang Nijouin Rena yang
biasanya selalu keren dan tenang bisa menjadi panik adalah hal yang tidak
biasa.
"Terlebih lagi saat jam istirahat
makan siang pun kamu sempat berniat untuk mengajakku berbicara, kan."
Ternyata ketahuan olehnya, ya. Memalukan
sekali.
"Namun jika di dalam kelas aku yang
mendadak mengajak Tokitou-kun berbicara, aku sempat berpikir kalau hal itu akan
menjadi konsumsi publik nanti."
Benar juga. Menjadi sasaran pandangan
mata yang penuh rasa ingin tahu dari sekeliling mengenai apa yang sedang
terjadi, sudah pasti akan menjadi akhir ceritanya.
"Karena itulah aku menunggumu di
sini."
"Nijouin-san ternyata tahu adat
sekali, ya."
"Nggak, alih-alih tahu adat, rasanya
aku murni hanya ingin mengobrol bersama Tokitou-kun saja, sih…… apakah hal itu
merepotkanmu?"
"Nggak, nggak, mana mungkin
merepotkan, hal seperti itu sama sekali tidak ada!"
"Kalau begitu syukurlah."
Saat menyadarinya secara tiba-tiba, di
sekeliling kami ada beberapa orang yang sedang memperhatikan interaksi kami
dengan penuh rasa ingin tahu. Hanya sebatas mengobrol di jalan menuju sekolah
saja, besok hal ini pasti akan menjadi gosip yang besar.
Eksistensi dari gadis bernama Nijouin
Rena memang nyata berada di tingkat di mana hal seperti pria mana yang akrab
dengannya, atau di mana dan bersama siapa dia mengobrol, akan langsung menjadi
bahan pembicaraan sekeliling.
"Kalau begitu mari kita berpindah
sampai ke taman lagi, yuk."
"Baik."
Kaki yang jenjang dipadukan dengan
pinggang yang ramping. Proporsi tubuh yang luar biasa. Wajah mungil yang
teratur persis seperti sosok yang baru saja keluar dari majalah cetak. Dan
kemudian pembawaannya yang anggun.
Sebuah visual yang dengan sangat mudah
melampaui level murid SMA pada umumnya. Hanya sebatas berdiri di jalan menuju
sekolah dengan mengenakan seragam saja sudah membuatnya terlihat teramat
mencolok hingga mau bagaimana lagi.
Berniat untuk berduaan bersama gadis
semenawan ini, jika itu diriku yang sebelumnya tentu saja tidak akan pernah
bisa secara mutlak.
Pengalaman di dunia game memang
memberikan pengaruh yang besar sekali.
Kami tiba di taman bermain anak-anak yang
sama seperti sebelumnya.
Saat berhadapan langsung dengan Rena,
proporsi tubuhnya yang ramping serta wajahnya yang teratur langsung meluncur
masuk ke dalam indra penglihatanku secara lurus dari arah depan. Dia memang
nyata sangat cantik.
"Anu, Nijouin-san."
"H-Haik!"
Ada apa dengan dia, ya. Dia tampak
teramat sangat gugup. Apakah dia sedang waspada terhadap hal apa yang akan
kuucapkan nanti, ya.
"Tidak apa-apa, kok. Persiapan di
dalam hatiku sudah sepenuhnya matang."
"Hmm?"
……Pembicaraan masalah apa yang dimaksud,
ya? Ya sudahlah, tidak
apa-apa. Mari masuk ke topik utama saja.
"Anu…… beberapa waktu lalu,
Nijouin-san sempat bilang kalau dulu kamu ingin menjadi seorang ilustrator,
tetapi kamu tidak tahu bagaimana cara agar gambarmu bisa menjadi bagus, dan
sekarang pun hatimu tidak bisa digerakkan untuk memulai sebuah tantangan,
kan."
"Eh? Yang dimaksud dengan ada hal
yang ingin dibicarakan itu, pembicaraan mengenai hal itu?"
"Iya, benar."
"Ternyata begitu."
Entah kenapa raut wajahnya mendadak
berubah menjadi tampak lesu seperti kehilangan tenaga.
"Ada apa? Kamu mengira kita akan
membicarakan masalah apa?"
"Kukira Tokitou-kun berniat untuk
menemb……"
"Menemb……?"
"Ah, anu…… kukira kamu punya
pertanyaan mengenai pelajaran Bahasa Jepang, begitu."
"Pertanyaan mengenai pelajaran
Bahasa Jepang?"
"Ah, nggak…… b-benar-benar bukan
apa-apa jadi tolong jangan dipikirkan, ya!"
Meskipun berkata demikian, entah kenapa
dia memajukan mulutnya
lalu memasang wajah yang tampak ketus
seperti sedang merajuk.
Apakah aku baru saja mengucapkan hal yang
salah?
Rena berdeham sekali untuk berdehem, lalu
mengembalikan pembawaannya menjadi tenang seperti biasa.
"Lalu, ada apa dengan pembicaraan
mengenai ahli ilustrator tersebut?"
"Ada orang yang ingin kuperkenalkan
kepada Nijouin-san, lho."
"Tipe orang seperti apa?"
"Seorang ilustrator. Serta
orang-orang yang sedang menargetkan diri untuk menjadi ilustrator."
"Tokitou-kun ternyata memiliki
banyak teman, ya."
──Sedikit,
tahu! Temanku sedikit tingkat akut!
Tanpa sadar aku berteriak di dalam hati.
Tampaknya aku sempat sedikit kehilangan kendali. Maaf.
"Bukan teman di dunia nyata, sih,
melainkan orang-orang yang terhubung melalui grup obrolan media sosial,
begitu."
"Terhubung melalui…… grup
obrolan?"
Rena tampak kebingungan. Dia sepertinya
tidak memahami artinya.
Keluarga Nijouin adalah silsilah keluarga
terpandang yang merupakan keturunan bangsawan pada masa sebelum perang, dan
ayahnya yang merupakan mantan petinggi kepolisian konon menerapkan didikan yang
teramat keras. Rena bilang bahwa penggunaan ponsel pintar miliknya dibatasi
secara ketat, hingga dia hampir tidak pernah menggunakan media sosial. Berkat
hal itu, dia memiliki tingkat kegagapan digital yang tidak mencerminkan gadis
SMA modern pada umumnya.
Aku menjelaskannya dengan telaten bahwa
grup obrolan yang dimaksud adalah sebuah layanan internet di mana berbagai
macam orang berkumpul berdasarkan tema tertentu untuk bisa menjalin komunikasi
melalui obrolan teks.
"Aku kebetulan sedang bergabung di
dalam grup obrolan para ilustrator yang menargetkan diri untuk menjadi
ilustrator, lho. Karena di sana orang-orang yang memiliki kekhawatiran yang
sama dengan Nijouin-san sedang saling bertukar pendapat, bagaimana jika kamu
ikut bergabung di sana untuk melakukan sesi konsultasi."
"Nggak, lagipula aku kan tidak
sedang menargetkan diri untuk menjadi ilustrator sekarang, sih."
"Meskipun begitu pun tidak apa-apa,
kok. Diriku sendiri kan tidak bisa menggambar ilustrasi, tetapi karena aku suka
melihatnya jadi aku ikut bergabung. Hanya sebatas menjalin interaksi bersama
orang-orang sesama pencinta ilustrasi saja sudah terasa menyenangkan,
lho."
"Begitu, ya……"
Rena meletakkan tangannya di dagu sambil
berpikir. Gerak-geriknya yang intelektual semakin meningkatkan daya tarik yang
dimilikinya.
"Terlebih lagi, pelopor dari grup
tersebut adalah Sekiryu Shizuku-san, seorang ilustrator dewa yang menyediakan
ilustrasi untuk novel maupun game yang terkenal, lho."
"I…… Ilustrator dewa?"
Aku membuka akun media sosial milik
Sekiryu-san di ponsel pintar lalu memperlihatkannya kepada Rena. Di dalam
layar, jajaran ilustrasi yang indah tampak berderet.
"Lihat ini."
"Uwah, hebat! Gambarnya teramat
sangat indah."
Mata Rena tampak berkilat-kilat karena
berbinar. Paket mana pun jika
dilihat, ini memang nyata merupakan wajah
dari orang yang sangat menyukai ilustrasi.
"Bagaimana? Kamu bisa menjalin
interaksi secara langsung bersama ilustrator dewa seperti ini, lho. Ayo
bergabunglah."
"Terima kasih banyak. Jika
Tokitou-kun sampai menyarankannya sejauh itu, aku ingin bergabung."
Bisa dibilang jika diriku yang
menyarankannya…… dia mengucapkan hal yang membuatku senang.
"Baiklah. Kalau begitu aku akan
mengundangmu ke dalam grup obrolan, ya."
"Baik, mohon bantuannya."
Demi mengundangnya ke dalam grup obrolan,
kami saling bertukar akun media sosial. Tampaknya jajaran "teman"
milik Rena hanya sebatas kedua orang tuanya dan Kageura Haruru saja, hingga
secara mengejutkan akulah yang menjadi "teman" pria pertama untuknya.
Di antara jajaran murid laki-laki di
seluruh dunia, fakta bahwa akun LINE milikku menjadi teman nomor satu bagi
Nijouin Rena benar-benar membuatku malu.
Dan kemudian, aku mengirimkan pesan
undangan untuk masuk ke dalam grup obrolan "Ayo Berkumpul, Orang-Orang
yang Ingin Menjadi Ilustrator Profesional!".
"Kalau dipikir-pikir, tadi
Tokitou-kun bilang kalau kamu tidak menggambar ilustrasi, kan. Kenapa kamu
bersedia bergabung di dalam grup obrolan ini?"
"Meskipun aku tidak menggambar
ilustrasi, karena aku sempat menjalin interaksi di media sosial bersama
Sekiryu-san, aku berakhir diajak olehnya, sih. Aku bergabung sebagai manusia
dari pihak penikmat karya.
Karena semua orang di sana lembut dan
merupakan orang yang baik, orang sepertiku pun bisa menjalin interaksi tanpa
ada masalah."
"Begitu, ya. Karena Tokitou-kun
adalah orang yang memikat, makanya dalam interaksi yang seperti ini pun kamu
pasti bisa memikat orang lain, ya."
"Nggak, nggak, Nijouin-san pandai
sekali berbicara, ya. Meskipun hanya rayuan pun terima kasih."
"Ini bukan rayuan, lho. Aku
benar-benar berpikir bahwa kamu adalah
orang yang memikat."
Rena mengatakannya dengan pandangan mata
yang serius.
"A-Terima kasih."
Dibilang memikat adalah hal yang baru
pertama kali kudengar sepanjang hidupku. Malu sekali. Tapi aku senang.
Kalau dipikir-pikir, di dunia game status
Charm milikku sempat naik sampai dua kali, apakah hal itu memiliki keterkaitan
tertentu, ya. Nggak, mana mungkin, sih.
"Nah kalau begitu Nijouin-san.
Cobalah lakukan registrasi untuk bergabung ke dalam grup obrolan."
"Registrasi…… anu…… eits! Apakah
begini? Wah, layarnya terbuka!"
Dia mengoperasikan ponsel pintar sambil
mengeluarkan suara untuk setiap tindakannya. Padahal biasanya dia selalu
terlihat sangat dewasa, sosoknya yang seperti anak SD seperti ini terlihat
sangat imut. Sosok yang tidak akan pernah diperlihatkannya sama sekali saat di
sekolah.
Aku baru saja menyaksikan sisi lain yang
tidak disangka dari seorang Nijouin Rena.
──Di
dalam layar grup obrolan, sebuah pesan berisi "Renarena telah
bergabung" ditampilkan.
Nama panggilannya ternyata Renarena, toh.
Celah kepribadian dengan gadis cantik anggun yang berada di depan mataku
benar-benar terasa nyata.
"Nah kalau begitu, pertama-tama
bisakah kamu menuliskan sapaan kepada para anggota? Setelah itu aku juga akan
memasukkan pesan demi mengarahkan alur percakapannya."
"Aaakh, maafkan aku karena menjadi
anak yang merepotkan dalam segala hal!"
Rena menekan layar ponsel pintarnya
berulang kali lalu menuliskan kata
"salam kenal".
Di layar ponsel pintarku, pesan dari
Renarena muncul.
■Renarena:
"Salam kenal, nama saya Renarena. Saya memutuskan untuk bergabung di sini
karena ingin mengobrol bersama semua orang sesama pencinta ilustrasi. Mohon
bantuannya."
"Hore! Berhasil!"
"Kerja bagus. Di layar sebelah sini
pun pesan milik Nijouin-san sudah ditampilkan dengan benar, lho."
Sesi perkenalan diri yang kaku dan rapi,
benar-benar mencerminkan dirinya sekali.
"Terima kasih banyak atas bimbingan
Anda yang teramat lengkap ini. Seperti dugaan, Tokitou-kun ternyata benar-benar
orang yang lembut."
"Nggak, itu terlalu berlebihan.
Karena aku tidak terbiasa dipuji sejauh itu, aku bisa jadi besar kepala nanti,
lho."
"Jadilah besar kepala. Silakan
menjadi besar kepala saja. Tidak apa-apa, kok."
Sampai-sampai suara hembusan napasnya
yang penuh semangat rasanya bisa terdengar, sebuah hal yang tidak biasa bagi
sang gadis cantik yang keren yang kini sedang dalam kondisi sedikit
bersemangat.
"Nah kalau begitu aku juga akan
memasukkan pesan sekarang, ya."
■Haruto:
"Renarena ini teman sekolahku di dunia nyata jadi mohon bantuannya, ya!
Dulu dia sempat menggambar ilustrasi, lho."
Dengan melempar umpan bahan pembicaraan
sejauh ini, para anggota grup obrolan pasti akan ikut menyambarnya nanti.
"Hal-hal yang sedang dipikirkan oleh
Nijouin-san mengenai ilustrasi, atau hal-hal yang ingin kamu tanyakan kepada
sesama pencinta hobi, silakan utarakan saja dalam obrolan teks kapan pun.
Karena semua orang di sana ramah, mereka pasti akan mendampingimu."
"Aku mengerti. Terima kasih
banyak."
■Shizuku:
"Oh, sudah datang, ya. Jika itu adalah teman dari Haruto, aku akan
menyambutnya dengan tangan terbuka. Namaku Sekiryu Shizuku. Salam kenal,
ya."
Dalam sekejap mata, sang ilustrator dewa
langsung memberikan sambutan hangat. Patut disyukuri.
"Aduh Tokitou-kun, bagaimana ini.
Eksistensi orang yang luar biasa sudah memunculkan diri."
"Yah, tidak perlu sepanik itu juga
tidak apa-apa, kok. Balas saja menggunakan ritme kecepatanmu sendiri."
"Ah, ternyata begitu, ya. Iya.
Terima kasih banyak."
■Renarena:
"Mohon bantuannya."
■Shizuku:
"Iya, sama-sama. Jika ada hal yang sedang dikhawatirkan oleh Renarena
mengenai ilustrasi, silakan tanyakan saja apa pun, ya."
"Hei Tokitou-kun. Apa yang harus
kulakukan sekarang?"
Kepada Rena yang memancarkan atmosfer
cemas, aku memberikan nasihat seperti "utarakan saja hal yang ingin kamu
ketahui secara jujur".
Setelah Rena sempat sibuk mengoperasikan
ponsel pintar untuk melakukan obrolan teks selama beberapa saat, dia
membungkukkan kepalanya secara takzim sambil berkata, "Hari ini
benar-benar terima kasih banyak."
Dari atmosfer cemas yang diperlihatkannya
sampai barusan, entah mengapa sekarang suasananya sudah berubah menjadi tampak
sedikit menyenangkan. Aku lega karena tampaknya aku sudah bisa sedikit
membantunya.
Lagipula, ini benar-benar di luar dugaan.
Sampai sekarang aku selalu berpikir kalau para gadis kasta atas yang diberkahi
penampilan menawan adalah makhluk dari dunia yang sepenuhnya berbeda. Namun
pada kenyataannya, dia juga memelihara kekhawatiran yang sama sepertiku, serta
bisa merasa sedih atau gembira karena hal-hal sepele.
Aku merasa senang karena bisa menjadi
semacam penopang hatinya, walau hanya sedikit.
Selain Sekiryu-san, para anggota grup
obrolan yang lain pun pasti akan membicarakan hal-hal yang bisa membuat rasa
percaya diri dan semangatnya kembali. Karena semua anggota di sini benar-benar
hanya memelihara orang-orang baik yang ramah dan sangat suka menggambar
ilustrasi.
"Hari ini benar-benar terima kasih
banyak. Aku teramat sangat kagum karena Tokitou-kun sampai bersedia memikirkan
dan mengambil tindakan sejauh ini demi diriku."
Mata Rena tampak sedikit berkaca-kaca.
Dia benar-benar merasa berterima kasih.
"Aku merasa kalau diriku menjadi
semakin su…… anu, menganggap Tokitou-kun sebagai orang yang menawan."
"Nggak, nggak, itu terlalu
berlebihan."
"Hal seperti itu tidak benar, kok.
Tokitou-kun menjadi semakin memikat setiap kali kita bertemu, dan kamu adalah
orang yang menawan. Aku akan merasa senang jika mulai sekarang kita bisa terus
berhubungan baik. Mohon bantuannya, ya."
"Iya."
──Tanpa
sengaja aku langsung menjawab "iya" secara refleks, sih…… tapi apa
maksudnya dengan terus berhubungan baik?
Jangan-jangan, aku sedang disukai
olehnya?
Sampai beberapa waktu lalu, dia adalah
bunga di puncak gunung yang seharusnya tidak akan pernah saling bersinggungan
denganku. Mengetahui bahwa gadis seperti dirinya memberikan pengakuan
terhadapku sebagai teman yang akrab, rasanya sungguh aneh.
"Aku juga, mohon bantuannya,
ya."
"Baik."
Meskipun Rena memiliki impresi yang keren
dan dewasa, sosoknya yang tersenyum malu-malu dengan wajah gembira terlihat
sangat manis.
Ah, ternyata dia juga bisa memasang raut
wajah yang seperti gadis remaja sewajarnya di usia yang sepadan, ya……
mengetahui penemuan baru seperti itu membuatku merasa mendapat keuntungan.
***
Malam harinya. Di rumah, tepat setelah
selesai mandi, aku membuka grup obrolan "Ayo Berkumpul, Orang-Orang yang
Ingin Menjadi Ilustrator Profesional!" di ponsel pintar lalu dibuat
terkejut. Padahal biasanya dalam sehari hanya ada beberapa pesan yang masuk,
tetapi sekarang jumlah pesan yang belum dibaca sudah menembus angka 100 pesan.
Saat menelusuri isi percakapannya, para
anggota ternyata mengarahkan bahan pembicaraan kepada Rena dengan sangat baik.
Di antara semuanya, Sekiryu-san adalah orang yang mengarahkan topik dengan
luwes agar Rena bisa membaur dengan cepat. Rena pun membalasnya sehingga
obrolan bisa berputar dengan semestinya.
Para anggota menceritakan seberapa
sukanya mereka terhadap kegiatan menggambar ilustrasi dengan nada bicara yang
tampak gembira. Apakah karena tersengat oleh hal itu, perkataan Rena yang pada
awalnya tampak ragu-ragu, berangsur-angsur menjadi semakin aktif.
──Tampaknya
menyenangkan, ya. Dia sepertinya sudah cukup membuka hati kepada semua anggota
grup.
Karena semua orang bilang kalau mereka
sangat ingin melihat ilustrasi hasil karya miliknya, secara mengejutkan Rena
berakhir mengunggah foto ilustrasi yang digambarnya saat masih zaman SMP.
Sebuah ilustrasi bergaya anime yang digambar menggunakan pensil mekanik di atas
buku sketsa, lalu diwarnai menggunakan pensil warna.
"Oooh……"
Tanpa sengaja aku menahan napas. Gambar
seorang gadis yang mengenakan seragam pelaut (sailor suit) kira-kira sewaktu
usia anak SMP. Seorang gadis cantik dengan pembawaan anggun yang entah mengapa
terlihat mirip dengan diri Rena sendiri.
Gambarnya tidak bisa dibilang teramat
sangat bagus. Namun proporsi anatominya tidak hancur, dan digambar dengan
tarikan garis yang telaten. Jika dilihat secara biasa, tingkat kemampuannya
terhitung cukup tinggi untuk ukuran anak SMP.
Terlebih lagi, meskipun sulit untuk
diungkapkan dengan kata-kata, pokoknya gambar itu memiliki daya tarik yang
memikat.
Diriku memang tidak bisa menggambar
ilustrasi, tetapi karena aku sangat menyukai anime maupun manga, aku merasa
diriku setidaknya memiliki pandangan mata dari pihak penggemar. Menggunakan
sensitivitas itu saat melihatnya, aku merasa dia memiliki potensi yang teramat
cukup untuk menargetkan diri menjadi profesional jika terus menempa diri mulai
sekarang.
Kenyataannya, para anggota yang lain pun
melontarkan pujian secara berturut-turut.
■Shizuku:
"Renarena hebat, ya. Bisa menggambar begini saat SMP itu luar biasa bagus.
Ini jauh lebih keren sepuluh ribu kali lipat dibandingkan hasil karyaku saat
zaman SMP dulu."
■Renarena:
"Terima kasih banyak!"
Fakta bahwa dia merasa teramat gembira
karena dipuji oleh sang ilustrator dewa, bisa tersampaikan bahkan hanya lewat
tulisan teks saja.
■Anggota
Grup: "Setuju."
■Anggota
Grup: "Aku bisa merasakan adanya bakat dari cara penggambaran ekspresi
wajah yang satu ini, lho. Ini adalah sensitivitas yang tiada duanya."
■Anggota
Grup: "Benar banget. Aku sampai cemburu terhadap bakat milik
Renarena."
Para anggota yang lain pun bergantian
memuji ilustrasi milik Rena. Di mataku pun gambar ini memang nyata luar biasa,
dan aku tahu kalau semua orang mengatakannya bukan sebagai rayuan belaka.
Berkat hal ini, aku bisa memantapkan
keyakinan bahwa fakta mengenai Rena yang dihujani kritik tajam saat zaman SMP
dulu bukan disebabkan karena tingkat kemampuan menggambarnya, melainkan murni
hanya karena orang tersebut ingin mencari-cari kesalahannya saja.
Dan hal yang paling membuatku gembira
melebihi apa pun adalah karena Rena yang sudah dipuji dan diberikan suntikan
semangat oleh semua anggota grup menuliskan pesan seperti ini.
■Renarena:
"Teman-teman, terima kasih banyak. Aku menjadi ingin mencoba menggambar
ilustrasi yang baru lagi. Jika sudah selesai menggambarnya, nanti akan kuunggah
di sini."
"Ah, syukurlah. Baguslah kalau kamu
bisa mengembalikan rasa percaya dirimu kembali, Nijouin-san. Dan juga untuk
semua orang di grup obrolan, terima kasih."
Padahal tidak ada satu orang pun di depan
mataku, tanpa sengaja aku malah berbicara sendiri ke arah layar ponsel pintar.
Menjijikkan sekali diriku ini.
Tepat pada saat itu, suara notifikasi
LINE berbunyi. Bukan dari grup obrolan, melainkan pesan masuk dari obrolan
pribadi (PC).
■Renarena:
"Tokitou-kun. Benar-benar terima kasih banyak."
Apakah karena dia belum terbiasa
menggunakan LINE, pesannya murni hanya berupa tulisan teks saja. Tidak ada
stiker ataupun emoji yang disertakan.
Namun teks tulisan tersebut terlihat
seolah sedang menari-nari karena meluap oleh perasaan gembira.
■Haruto:
"Semua orang ramah, kan?"
■Renarena:
"Iya. Terutama Shizuku-san, padahal dia adalah seorang
ilustrator dewa tetapi pembawaannya
sangat santai dan ramah, aku benar-benar bersyukur."
■Haruto:
"Kan, kan! Dia memang nyata merupakan orang yang sangat baik, tahu."
■Renarena:
"Shizuku-san adalah anak perempuan yang usianya tidak jauh berbeda dengan
kita, ya? Mungkin karena itulah dia menjadi mudah untuk diajak mengobrol."
──Eh?
Apa kamu bilang?
■Haruto:
"Nggak. Karena profil Sekiryu-san tidak dipublikasikan, aku tidak
mengetahui detailnya secara rinci, sih, tetapi dia kemungkinan besar adalah
seorang paman-paman, lho. Kata ganti orang pertama yang digunakannya saja
adalah 'Boku', kan."
■Renarena:
"Apakah memangnya begitu?"
Eksistensi bernama Sekiryu Shizuku itu
mendesain karakter untuk “Magi-Ama”, dan terhitung sering menggambar gambar
yang cukup mesum. Jadi paket mana pun jika dipikirkan, dia sudah pasti adalah
seorang paman-paman, kan. Meskipun dasar pemikiran yang seperti ini tidak akan
pernah bisa kukatakan kepada Rena, sih.
■Renarena:
"Omong-omong mengenai diriku yang menuliskan pesan ingin menggambar lagi
tadi…… setelah dipikirkan kembali, aku mendadak menjadi cemas apakah aku bisa
menggambarnya dengan benar atau tidak. Sebaiknya apa yang harus kulakukan,
ya."
Ah, begitu ya. Perasaan cemas memang
tidak akan bisa sirna begitu saja dengan mudah, ya. Kalau begitu, sebaiknya
kalimat seperti apa yang harus kukirimkan sebagai balasan…… Karena jika dihiasi
menggunakan banyak kata-kata justru akan terdengar seperti kebohongan, aku
memutuskan untuk mengirimkan hal yang paling kupikirkan ke dalam bentuk tulisan
teks.
■Haruto:
"Jika itu Nijouin-san pasti akan baik-baik saja. Diriku sendiri pun
beneran sangat tidak sabar untuk melihat ilustrasi barumu nanti."
Bisa melihat ilustrasi baru yang akan
digambarnya menggunakan mataku sendiri, pokoknya beneran teramat sangat
kunantikan.
Suara notifikasi berbunyi dari ponsel
pintar, memperlihatkan adanya balasan pesan simpel berisi, "Aku merasa
senang. Terima kasih banyak."
Di balik balik barisan kalimat simpel
tersebut, sosok Rena yang sedang tersenyum malu-malu tampak terbayang di dalam
benakku.



Post a Comment