NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Fantasy Sekai de Akuyaku na no ni Heroin-tachi ni Sukare tara Genjitsu Sekai demo Harem ni Natta Volume 1 Chapter 6

Bab 6: Haruru yang Menantang Sesuatu


◆◆◆

 

"Zeit-kun, bisa minta waktunya sebentar?"

 

Keesokan harinya saat jam pulang sekolah. Ketika aku sedang

melangkah di koridor dengan niat untuk pulang ke rumah, Kinto-sensei mendadak menghentikan langkahku.

 

"Ada apa, Guru?"

 

"Kamu tidak mengikuti kegiatan klub apa pun, kan?"

 

"Klub?"

 

Ah, kalau tidak salah hal sejenis itu memang eksis di dalam dunia “Magi-Ama”. Persis seperti sekolah menengah di dunia nyata, ada beberapa jenis kegiatan klub di sini. Aku mencoba menelusuri ingatan milik Zeit, tetapi pria ini memang nyata tidak mengikuti klub apa pun.

 

"Benar. Aku tidak ikut."

 

"Kalau begitu, maukah kamu datang untuk melihat-lihat?"

 

"Hah? Kenapa baru sekarang?"

 

"Iya. Dirimu yang dulu alih-alih ikut kegiatan klub, merupakan manusia yang sama sekali tidak memelihara gairah terhadap satu hal pun, sih."

 

Karena apa yang dikatakannya memang nyata sepenuhnya benar, aku tidak bisa meluncurkan bantahan sedikit pun.

 

"Namun karena belakangan ini kamu menjadi aktif, aku berpikir bagaimana jika kamu mencoba melakukan sesuatu di kesempatan kali ini."

 

Klub, ya…… Walaupun kedengarannya menarik, tetapi diriku tidak berada di posisi untuk menikmati kehidupan di dunia yang sebelah sini.

 

Karena target paling utama adalah membuat heroin bahagia, aku akan merasa kesulitan jika waktu milikku sampai tersita untuk hal yang lain.

 

"Sayang sekali, tapi……"

 

"Begitu, ya, kamu beneran bener-bener ingin melihat-lihat, toh. Kalau begitu, ayo kemari!"

 

"Nggak, tolong dengarkan perkataan orang sampai akhir, dong!"

 

Guru macam apa dia. Mengabaikan barisan kalimat orang lain, lalu menarik lengan secara paksa seperti ini.

 

Aku dibawa oleh Kinto-sensei menuju ke gedung olahraga. Di tempat

tersebut, pemandangan yang tertangkap olehku adalah para murid yang sedang melakukan olahraga yang menyerupai bola basket.

"Sekolah kami bukan murni hanya sebatas sekolah elitis sihir saja, melainkan terhitung kuat juga dalam bidang olahraga, lho. Terutama Birth-scat ini, sebuah olahraga sengit di mana pemain saling menembakkan bola yang sudah dimasukkan mana, and ini teramat sangat menyenangkan, lho. Karena itulah, bergabunglah ke dalam klub."

 

Begitu, ya. Birth-scat, toh. Ini jelas-jelas merupakan pelesetan dari basket. Menggelikan sekali.

 

Di dalam game, sang protagonis memelihara refleks motorik yang terhitung bagus, and hal itu menjadikannya aktif di bidang olahraga hingga menjadi elemen populer demi memikat murid perempuan.

 

Namun diriku yang sekarang murni hanya sebatas karakter figuran bernama Zeit belakangan ini. Aku payah dalam olahraga.

 

"Aku menolaknya saja, deh."

 

"Jangan mengatakan hal yang seperti itu, dong. Setidaknya sebatas melihat-lihat saja tidak apa-apa, kan. ……Tim yang dulunya merupakan tim ternama ini, semenjak diriku yang menjadi pembimbingnya justru menjadi semakin lemah secara bertahap, lho…… makanya aku ingin menambah jumlah anggota klub sebisa mungkin."

 

Ah, dihadapi dengan wajah yang tampak bagai mau menangis dari seorang guru perempuan bertubuh kecil and berwajah kekanak-kanakan seperti ini, tingkat mental milikku tidak sekuat itu untuk tega mengabaikannya begitu saja lalu melangkah pulang. Mau bagaimana lagi, aku berakhir melihat sesi pertandingan latihan dari klub Birth-scat sampai selesai.

 

Bahkan setelah kegiatan klub berakhir pun, aku tetap dilesat barisan kalimat bujukan mengenai ini and itu, hingga tanpa disadari waktu nyata sudah teramat sangat larut.

 

"Guru…… aku beneran sudah ingin pulang."

 

Meskipun dihujani ajakan secara antusias, gairah untuk mengikuti kegiatan klub sama sekali tidak terlahir di dalam diriku. Karena itulah, berada di tempat ini lebih lama lagi benar-benar terasa menyiksa.

 

"Ah, mohon maaf ya, Zeit-kun. Kalau begitu jika nanti kamu sudah memelihara minat, tolong pertimbangkan masalah bergabung ke dalam klub, ya."

 

"Aku mengerti."

 

Karena memberikan harapan berlebih pun merupakan hal yang buruk, aku murni memberikan balasan seadanya lalu melangkah pergi meninggalkan gedung olahraga.

 

"Aaakh, waktu ternyata sudah sampai selarut ini, toh."

 

Langit sudah merona sewarna merah padam. Bangunan bergaya bata yang dihujani oleh cahaya mentari senja terlihat menawan. Ini adalah pertama kalinya aku berjalan menyusuri dunia yang sebelah sini pada waktu yang selarut ini, and rasanya terhitung segar.

──Sambil melangkah di jalan menuju ke rumah, aku memikirkannya.

 

Lena sudah bilang kalau dirinya merasa teramat bahagia. Dengan ini, target milikku untuk "membuat heroin bahagia" bisa dibilang sudah berhasil dicapai untuk sementara waktu.

 

"……Nggak, masih belum, toh."

 

Di dalam game “Magi-Ama”, aku selalu berhasil menembus angka tingkat kebahagiaan di atas 95% pada saat bagian akhir (ending).

 

Berbeda dengan game, di dunia yang sebelah sini jendela status tidak bisa dilihat. Karena itulah jika menggunakan kepekaan rasa belakangan ini, tingkat kebahagiaan milik Lena paling-paling baru berada di kisaran 70 sampai 80% saja. Aku merasa masih bisa meningkatkan tingkat kebahagiaan milik Lena lebih tinggi lagi.

 

──Mari kita berjuang sedikit lagi, deh.

 

Terlebih lagi, satu hal yang terhitung mengganjal di hatiku adalah mengenai Haruru. Karena dia memelihara sifat yang polos and ramah kepada siapa saja, aku selama ini selalu berpikir bahwa tipe kepribadian miliknya adalah Malaikat.

 

Namun jika aslinya memelihara sifat Malaikat, dia tidak akan meluncurkan siasat untuk menjebak orang lain seperti itu. Tingkat keraguan dan rasa cemburu yang pekat itu. Haruru…… dia kemungkinan besar adalah sesosok Malaikat Kegelapan.

Sembari memikirkan hal yang demikian, aku kebetulan melangkah melewati bagian samping dari sebuah kolam yang besar. Kolam ini memiliki nama beken 'Kolam Bunuh Diri'. Sampai sekarang konon ada banyak orang yang menjatuhkan diri ke dalam kolam ini.

 

Meskipun biasanya permukaan air yang berwarna hijau pekat memberikan impresi yang mendalam, tetapi di saat kondisi sekitar yang sudah mulai menggelap seperti sekarang, warnanya terlihat hitam legam. Rasanya seolah ada sesuatu yang sanggup menelan segala hal tanpa sisa, membuat bulu kudukku sedikit berdiri karena ngeri.

 

"Nggak, nggak, nggak, ini terlalu menakutkan, kan."

 

Kenyataannya, area di sekeliling kolam sudah dipasangi pagar pembatas yang kokoh sehingga tidak memelihara risiko bahaya khusus, sih, padahal.

 

"Hmm……?"

 

Sambil menyandarkan tubuh bagian atasnya ke pagar pembatas, ada seorang murid perempuan yang sedang menatap lekat ke arah permukaan air kolam yang hitam legam. Sembari mengenakan seragam

 

Akademi Magia, dia tampak menggumamkan sesuatu secara berulang kali.

 

Di tengah kondisi yang remang-remang seperti ini, seorang gadis SMA menatap kolam hitam legam and berbicara seorang diri, tingkat kecurigaannya benar-benar berada di angka penuh.

Tunggu sebentar. Orang itu adalah Haruru.

 

"Lagipula orang sepertiku ini…… mau bagaimana pun tidak apa-apa, kan…… mau bagaimana lagi, ya. Segalanya sudah terlambat."

 

Sebuah suara yang teramat gelap dan tidak memancarkan gairah hidup.

 

Meskipun isinya tidak dipahami secara rinci, tetapi jika mencoba membayangkannya dari barisan kalimat yang lolos terdengar, itu adalah sebuah gumaman yang teramat negatif. Seperti dugaan, tipe kepribadian milik Haruru memang nyata 100% adalah seorang Malaikat Kegelapan, aku memantapkan keyakinan.

 

Bisa-bisanya diriku sampai melesat dalam menilai tipe kepribadian dari heroin “Magi-Ama”, benar-benar memalukan. Di dalam game orisinalnya, heroin dengan tipe Malaikat Kegelapan sudah pasti memelihara bayang-bayang kegelapan di suatu tempat di dalam dirinya.

 

Namun karena keceriaan milik Haruru terlampau menembus batas, aku sampai tidak berhasil mendeteksinya. Diriku ini ternyata masih belum seberapa, ya.

 

──Malaikat Kegelapan. Itu adalah tipe karakter yang di permukaan bertingkah ceria, tetapi aslinya mendekam kegelapan di dalam lubuk hatinya yang paling dalam.

 

Memelihara rasa cemburu yang pekat, and jika dirinya sampai diperlakukan secara kasar dia akan menjadi cemas lalu berujung meluncurkan tindakan yang aneh. Sebuah kepribadian yang teramat sensitif.

 

Di dalam game, pada awalnya aku tidak memahami cara untuk menangani tipe kepribadian yang satu ini, membuat sang heroin berakhir jatuh ke dalam kegelapan and menuju ke arah Bad End.

 

Namun setelah melewati serangkaian kegagalan berulang kali, aku akhirnya berhasil menyelesaikan sesi penaklukan rute jalur miliknya.

 

Tipe heroin yang paling membuatku menderita selama sesi penaklukan.

 

Itulah sesosok Malaikat Kegelapan ini.

 

Namun justru karena alasan itulah. Keinginan di dalam hati untuk menyelamatkan Haruru dari jerat kegelapan mendadak bertunas and meluap secara masif.

 

Nah, sebaiknya apa yang harus kulakukan? Tepat di saat aku sedang dilanda sedikit keraguan, dia mendadak memalingkan wajah ke belakang.

 

"Sudah waktunya pulang, nih…… eh?"

 

Mata kami saling bertemu. Fakta bahwa diriku berada di tempat tersebut sepertinya sama sekali tidak berada di dalam perkiraannya, membuat dia membulatkan matanya secara lebar.

 

"Are, Haruto-kun. Ada apa?"

"Nggak, justru Haruru sendiri sedang ada apa di sini. Apakah baru saja terjadi sesuatu?"

 

"Nggak, tidak ada apa-apa, kok. Diriku ini selalu bersemangat kapan pun!"

 

Sembari mengangkat kedua kepalan tangannya sampai ke batas bahu, dia memamerkan senyuman lebar. Sebuah semangat yang jelas-jelas murni hanya buatan belaka.

 

"Begitu, ya…… kalau begitu syukurlah."

 

"Iya…… ah, nggak, anu, etto……"

 

Sembari pandangan matanya tampak beralih, Haruru seolah sedang memikirkan suatu hal. Dan setelah mengumpulkan niat pendek dengan berkata "baiklah", dia menatap ke arah mataku lalu membuka mulut.

 

"Omong-omong, apakah Haruto-kun dan Lena-chan sedang berpacaran?"

 

"Eh? Nggak…… hubungan kami berdua bukan hubungan yang seperti itu, kok."

 

"Tidak perlu disembunyikan, tahu."

 

"Mau disembunyikan bagaimana pun, kami beneran memang nyata tidak pacaran."

Benar. Aku ingin membuat Lena bahagia, tetapi hal itu tidak memelihara arti yang sama dengan menjadi sepasang kekasih.

 

Diriku murni hanya berada di posisi untuk memberikan dukungan kepada Lena sampai akhir, and peran untuk menjadi pacar pria miliknya kelak pasti akan diisi oleh murid laki-laki tampan yang lain.

 

"Tapi sebentar lagi kalian pasti akan pacaran, kan? Geli-geli."

 

Tolong hentikan tindakan menusuk-nusuk bagian pinggangku menggunakan jari seperti itu.

 

Dihujani tindakan yang seperti itu oleh seorang gadis yang teramat sangat cantik, alih-alih murni hanya merasa geli, hal itu bisa memicu lahirnya perasaan aneh, tahu. Kenyataan yang ada, sebuah kenikmatan terlarang tampak menyebar dari arah ketiak menuju ke bagian bawah tubuhku.

 

"Nggak…… aku and Lena bukan hubungan yang seperti itu, kok. Bagaimana ya mengatakannya…… sebuah hubungan di mana aku memberikan dukungan untuknya, begitu?"

 

"Apakah memangnya begitu?"

 

Gadis cantik itu mengintip ke arah bagian dalam mataku menggunakan matanya yang bulat besar. Jika dilihat dari jarak sedekat ini, dia memang nyata teramat sangat imut, ya.

 

"Iya, benar. Tidak ada kebohongan ataupun kepalsuan di dalam barisan kalimatku."

 

"Begitu, ya. Begitu melihat wajah Haruto-kun, hal itu sepertinya memang nyata murni fakta yang serius, ya."

 

Baguslah kalau bisa dipercayai olehnya. Jika tetap berada di dalam kondisi dicurigai, tingkat kemungkinan Haruru dilesat rasa cemas akibat salah paham bahwa aku sudah merebut Lena darinya terhitung tinggi.

 

Sebuah trik untuk menangani tipe heroin yang satu ini, yang berhasil kudapatkan setelah melewati serangkaian kegagalan berulang kali. Hal itu adalah mengutarakan perasaan bahwa kita menganggap dirinya berharga ke permukaan secara jelas demi menyampaikannya kepada dia.

 

Hal seperti berpikir 'tanpa perlu dikatakan pun dia pasti paham' sama sekali tidak akan berlaku terhadap tipe kepribadian yang satu ini.

 

"Kalau begitu, kalau begitu! Tolong berikan dukungan untuk diriku juga, dong."

 

"Hmm? Apakah kamu sedang menantang suatu hal?"

 

"Hmm…… yah, benar, sih. Alih-alih sedang melakukan, aku baru saja memantapkan hati untuk menantangnya sekarang."

 

"Heh, menantang masalah apa?"

 

"Rahasia, lho."

Haruru memamerkan kedipan mata (wink) dan senyuman jahil.

 

Padahal meminta diberikan dukungan, tetapi kenapa malah dirahasiakan, sih.

 

"Namun aku akan berjuang keras. Apakah Haruto-kun bersedia memberikan dukungan untukku?"

 

Mengenai tantangan terhadap hal apa, hal itu memang nyata tidak dipahami secara jelas. Namun hal itu pasti memelihara keterkaitan tertentu dengan sosok lesu yang diperlihatkannya barusan tanpa salah lagi.

 

Begitu melihat ke arah pandangan matanya yang seolah memohon, sebuah intuisi di dalam diriku bekerja bahwa jika Haruru berhasil memenangkan tantangan tersebut, kejatuhan dirinya ke dalam kegelapan (dark drop) bisa dicegah.

 

……Jika kondisinya demikian, aku ingin memberikan bantuan.

 

Heroin yang harus kubuat bahagia bukan murni hanya sebatas Lena saja. Haruru juga merupakan salah satu heroin di dunia yang sebelah sini. Sesosok objek yang ingin kubuat bahagia juga.

 

"Aku mengerti. Aku akan memberikan dukungan untukmu."

 

"Hore, terima kasih! Seperti dugaan, Haruto-kun memang nyata merupakan orang yang baik."

Haruru memamerkan ekspresi senyuman yang paling terbaik untuk hari ini.

 

Ah, syukurlah. Tampaknya diriku sudah berhasil menyampaikan perasaan bahwa aku menganggap dirinya berharga ke permukaan secara jelas dengan cara yang semestinya.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close