Interlude 2: Monolog Lena Anhalt
Berkat Haruto-kun, diriku yang sekarang
merasa teramat sangat bahagia. Bisa menjalin interaksi hari demi hari bersama
orang yang teramat kusukai adalah kebahagiaan yang tiada taranya.
'Tugas utama seorang murid adalah
belajar, dan bukan waktunya untuk membicarakan masalah asmara ataupun cinta.'
Diriku yang sebelum ini sempat berpikir
demikian. Aku bahkan pernah mengatakan hal itu untuk menegur Sonne-san di dalam
kelas.
Ada satu hal yang ingin kusampaikan
kepada diriku yang pada saat itu.
──Diriku
bodoh.
Jatuh cinta itu adalah hal yang luar
biasa menakjubkan. Aku menjadi mengetahui hal tersebut adalah berkat
Haruto-kun.
Alih-alih menegakkan keadilan, ataupun
menuruti didikan dari Ayah, aku justru lebih memprioritaskan perasaan cinta
ini. Mohon maaf, Ayah.
Aku adalah anak yang nakal.
Omong-omong, ada satu hal yang teramat
mengganjal di dalam hatiku.
Hal itu adalah mengenai bagaimana
sebenarnya perasaan dia terhadap diriku.
Dia selalu memperlakukanku dengan teramat
lembut. Apakah hal itu berarti dia juga menyukaiku?
Jika memang menduduki kondisi yang
seperti itu, kebahagiaan yang kumiliki pasti akan menjadi semakin bertambah
besar lagi. Aku benar-benar berharap agar segalanya memang demikian.
Saat memikirkan hal yang seperti itu,
dadaku terasa berdegup kencang hingga terasa sesak.
Ah, Haruto-kun. Aku…… dirimu…… teramat
sangat kusukai.



Post a Comment