NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Fantasy Sekai de Akuyaku na no ni Heroin-tachi ni Sukare tara Genjitsu Sekai demo Harem ni Natta Volume 1 Prolog

Prolog: Di Sekolah Kami, Ada Dua Gadis Cantik yang Menjadi Bunga di Puncak Gunung


Pagi ini, kebetulan aku terbangun lebih awal. Karena langsung bersiap-siap dan berangkat, aku tiba di sekolah sekitar 15 menit lebih cepat dari biasanya.

 

Padahal hanya berbeda 15 menit, tapi orang-orang yang berjalan berbondong-bondong di jalan menuju sekolah benar-benar berbeda.

 

Rasanya aneh.

 

Di tengah suasana itu, ada seorang siswi yang memancarkan kilau yang sangat mencolok, hingga tanpa sadar menarik perhatianku.

 

"Selamat pagi, Nijouin-san."

 

"Ya, selamat pagi."

 

"Ah, lihat. A-Aku... hari ini memakai dasi dengan benar, lho."

 

"Benar juga. Bagus sekali."

 

"A-Ah, terima kasih banyak."

 

Siswa laki-laki yang menunjuk kerah bajunya sendiri itu tersenyum gembira meskipun tampak gugup. Sepertinya, dasi cowok itu sempat ditegur karena longgar olehnya beberapa waktu lalu.

Dia adalah──satu dari dua gadis tercantik di sekolah kami, Nijouin Rena.

 

Selain sangat cantik, dia adalah gadis genius yang menduduki peringkat pertama di angkatannya dan menjabat sebagai ketua kelas. Dia adalah orang yang luar biasa sampai-sampai rasanya seperti ada bug dalam pengaturannya.

 

Wajah rupawan yang memberikan kesan keren. Pinggang yang ramping, serta cara berjalan yang anggun sekaligus tegas. Rambut hitam selembut sutra yang berkibar ditiup angin. Setiap bagian dari dirinya terlihat begitu pas dan indah, persis seperti lukisan.

 

Menurut rumor, dia adalah keturunan bangsawan. Benar atau tidaknya tidak pasti, tapi dia memang memiliki aura yang membuat orang-orang memercayainya. Bunga di puncak gunung yang sulit didekati. Sosok cantik yang sangat cocok dengan julukan itu.

 

Kepada gadis seperti itu, kali ini siswa laki-laki lain ikut menyapanya.

 

"S-Selamat pagi, Rena-sama. Pagi ini Anda juga terlihat cantik."

 

Karena terlalu menghormatinya, sampai ada orang yang memanggilnya dengan sebutan "Rena-sama".

 

"Tidak perlu bermulut manis."

 

"Ah, m-maaf. Ini sama sekali bukan rayuan, tapi benar-benar dari lubuk hatiku."

"Ah, kalau begitu, terima kasih banyak."

 

Mungkin karena ingin mengambil hati sang bunga di puncak gunung, ada banyak orang yang mengajaknya bicara. Seperti dugaan, dia memang sangat populer──pikirku. Namun meski begitu, ada satu hal yang sedikit mengusik perhatianku....

 

Tidak. Rena-sama adalah orang yang hebat. Bukan urusan cowok biasa sepertiku untuk memikirkannya.

 

Setelah meyakinkan diri kembali, aku memutuskan untuk berhenti memikirkan tentang dirinya.

 

"Ah, kamu yang di sebelah sana."

 

"Hyaikh!?"

 

Karena mendadak dipanggil, suaraku sampai meninggi. Memalukan sekali. Rasanya aku ingin bersembunyi di dalam lubang saja.

 

"Kerah bajumu tertekuk, lho."

 

"Ha, baik...."

 

Saat meraba kerah baju dengan ujung jari, bagian itu memang terpelintir, jadi aku segera merapikannya.

 

Karena aura bunga di puncak gunung miliknya terlalu kuat, pada akhirnya aku tetap tidak bisa menatap wajahnya, lalu pergi meninggalkan tempat itu seolah-olah sedang melarikan diri. Ah, mengenaskan sekali, bahkan tidak bisa bicara dengan becus.

 

──Tidak. Selain cantik, dia memiliki rasa keadilan yang tinggi, sangat serius, serta tegas terhadap peraturan dan penampilan.

 

Di hadapan gadis genius yang keren seperti itu, banyak murid yang pasti akan merasa gugup. Jadi, bukan berarti aku penakut yang berlebihan....

 

Yah, tapi bisa dibilang begitu juga, sih. Sudahlah, jangan mencari alasan.

 

Di sekolah kami──SMA Swasta Makiya, ada dua gadis cantik dengan tipe yang sepenuhnya berbeda. Keduanya memiliki kecantikan yang luar biasa dan menjadi sosok terkenal di sekolah.

 

Yang pertama adalah Nijouin Rena yang tadi. Gadis menawan berambut hitam, seorang rasi bintang yang berada di atas awan, anggun, dan keren.

 

Sedangkan yang satunya lagi memiliki citra yang berkebalikan; ceria dan menjadi matahari kelas yang disukai oleh siapa saja.

 

Fitur wajahnya yang tegas terlihat anggun dan imut layaknya idol papan atas, ditambah lagi dengan senyumannya yang sangat berkilau, seorang gadis cantik yang polos dan ceria.──Namanya adalah Kageura Haruru.




"Ahahaha, kamu baik dan sangat ramah, ya!"

 

Lihat itu. Di ruang kelas saat jam istirahat. Kepada cowok berpenampilan suram yang memungutkan pensil mekaniknya yang jatuh, dia mengucapkan terima kasih dengan senyum yang sangat lebar hingga tidak bisa lebih lebar lagi. Benar-benar seperti matahari.

 

Saat pembagian kelas di kelas dua, entah bagaimana bisa, aku berakhir di kelas yang sama dengan kedua gadis itu. Karena terlalu terkejut, sesaat aku bahkan meragukan kenyataan. Perkembangan seperti ini hanya terpikirkan olehku dalam komedi romantis atau game romansa gadis cantik (galge).

 

Namun pada kenyataannya, meski berada di kelas yang sama dengan dua gadis tercantik nomor satu dan dua di sekolah, aku sama sekali tidak ada hubungan dengan mereka.

 

"Dunia tempat mereka tinggal berbeda dengan duniaku."

 

Sambil memandangi mereka dari kejauhan di dalam kelas, tanpa sadar suara hatiku lolos bergumam. Mendengar itu, cowok otaku di bangku depanku, Maeno-kun, langsung bereaksi dengan sensitif.

 

"Tapi tetap saja, Tokitou-uji. Bukankah mengagumi kecantikan seperti itu dari dekat setiap hari saja sudah merupakan sebuah kebahagiaan?"

 

Uwah, monolog anehku terdengar. Wajahku rasanya membara karena terlalu malu.

 

Maeno-kun berkata begitu, tapi sejujurnya, hal seperti itu sama sekali bukan kebahagiaan atau apa pun.

 

Gadis-gadis dengan spesifikasi super tinggi seperti mereka itu bagaikan selebritas di balik layar televisi. Aku tidak terlalu tertarik pada idol.

 

Walaupun penampilannya imut, siapa tahu sifat aslinya buruk.

 

Aku adalah orang yang tahu diri akan realitas. Aku tidak akan memelihara angan-angan pada hal fiktif.

 

Lagipula, apa itu kebahagiaan? Memandangi gadis yang tak tergapai dari kejauhan?

 

Bukan, bukan itu, kan. Bisa tenggelam dalam hal yang disukai sesuka hati.

 

Bagi eksistensiku, itulah yang disebut kebahagiaan──begitulah pikirku.

 

──Aku, Tokitou Haruto, murid kelas dua SMA Swasta Makiya.

 

Apakah aku punya pacar? ──Tidak punya.

 

Apakah aku ingin punya pacar? ──Tidak juga.

 

Bahkan sekarang setelah memasuki bulan Juni di kelas dua,

Jangankan pacar, teman perempuan yang dekat pun aku tidak punya.

 

Walau begitu, tidak ada bagian yang merepotkan.

Kehidupan sekolah memang sama sekali tidak menarik, tapi karena aku bisa meluangkan waktu untuk tenggelam dalam hal yang kusukai, ini justru bisa dibilang sangat menguntungkan.

 

Menghabiskan hari-hari sambil mencemaskan hal seperti bisa mendapatkan pacar atau tidak, itu hanya melelahkan saja.

 

──Aku benar-benar berpikir begitu.

 

Tanpa perlu memaksakan diri untuk berpacaran di dunia nyata pun, begitu pulang ke rumah dan menghadap mesin game, aku sebenarnya adalah seorang master romansa.

 

Tunggulah aku, para heroin yang imut.

 

Setelah tiba di rumah. Begitu selesai makan malam, aku langsung mengurung diri di kamar. Itu adalah rutinitasku selama satu tahun terakhir ini.

 

Saat menekan tombol daya untuk menyalakan mesin game, layar pembuka pun muncul.

 

Judul "Kehidupan Sekolah yang Manis di Akademi Sihir Magia" mengapung, diikuti dengan munculnya ilustrasi bergaya anime yang menampilkan para pemuda tampan dan gadis cantik mengenakan seragam sekolah yang modis.

 

Ilustrasi indah yang digambar oleh ilustrator yang dijuluki ilustrator dewa, Sekiryū Shizuku. Ilustrasi ini benar-benar luar biasa.

Game ini adalah galge sekolah berlatar akademi sihir di dunia lain, tempat pemain bisa menikmati asmara dengan para gadis cantik. Ini adalah judul yang membuatku sangat kecanduan selama setahun terakhir, dengan singkatan "Magi-Ama".

 

Walau berlatar dunia bersihir, elemen RPG seperti pertarungan, atau elemen yang berfokus pada menaikkan level karakter gadis cantik dengan menyelesaikan banyak *quest*, tergolong tipis.

 

Sifatnya sebagai game simulasi romansa yang meningkatkan tingkat kesukaan para heroin dengan cara terlibat dan berinteraksi dengan mereka dalam kehidupan sekolah sehari-hari sangatlah kuat, tetapi game ini memiliki dua poin yang revolusioner.

 

Yang pertama adalah "Fitur Pembuatan Karakter Otomatis", di mana heroin akan dibuat secara otomatis oleh AI pada setiap permainan.

 

Hanya dengan menentukan preferensi penampilan dan tipe kepribadian, heroin yang memikat akan tercipta. Dari tipe kepribadian saja sudah ada lebih dari 20 jenis, dan jika digabungkan dengan variasi penampilan, lebih dari 10.000 jenis heroin bisa diciptakan. Karena itulah, kita bisa menikmati romansa dengan heroin orisinal buatan sendiri.

 

Yang kedua adalah percakapan dengan heroin tidak menggunakan sistem pilihan dialog, melainkan pemain bisa bebas mengetik kalimat percakapan untuk mengobrol.

 

AI akan menganalisis kalimat kita di sini, lalu membalasnya sesuai dengan kepribadian si heroin. Karena percakapan yang semestinya bisa terjalin dan bukan dialog yang itu-itu saja, rasanya benar-benar seperti sedang berhadapan dengan manusia asli.

 

Seiring dengan berhasilnya menaklukkan heroin dan membuat mereka menyukai kita, kata-kata yang mereka ucapkan akan berubah menjadi semakin manis. Karena itu, rasa sayang terhadap heroin dalam game ini akan tumbuh jauh lebih dalam.

 

Evolusi AI itu luar biasa, ya, serius.

 

Berkat efek sinergi dengan daya tarik karakter gadis cantik yang digambar oleh ilustrator dewa, entah bagaimana mengatakannya, pokoknya heroin "Magi-Ama" itu yang terbaik! ...Begitulah. Para heroin sekalian... ah, sudah, mereka terlalu berharga hingga membuatku sesak.

 

Tergantung orangnya, mungkin ada yang menganggap murid SMA laki-laki yang tenggelam dalam *galge* itu menjijikkan. Namun bagiku, karena ini adalah hobi yang sangat, sangat, sangat kusukai, aku tidak peduli.

 

Dibandingkan kehidupan SMA di dunia nyata yang tidak terlalu menarik, game jauh lebih menyenangkan secara mutlak.

 

Aku ingin tetap menyukai apa yang kusukai. Bukankah begitu saja sudah bagus?

 

"Nah, ayo pergi menemui mereka."

 

Sambil memutar-mutar bahu untuk mengumpulkan semangat, aku memulai game-nya.

 

"Ah, Haruto-kun. Aku sangat menyukaimu."

 

Bagus, heroin yang ini pun akhirnya berhasil kutaklukkan.

 

Yang berhasil kutaklukkan kali ini adalah heroin dengan tipe kepribadian Pangeran yang Menawan. Gadis berambut pendek yang tomboi, yang mana rasanya tidak tahan saat dia berangsur-angsur menunjukkan wajah gadis feminin seiring kemajuan penaklukan.

 

Sampai sekarang, aku sudah memainkannya berpuluh-puluh kali, dan telah menaklukkan heroin nona muda tsundere yang dingin hingga heroin iblis kecil yang imut alami. Semuanya adalah heroin-heroin yang sangat imut.

 

Keindahan desain karakter oleh ilustrator dewa sudah tidak perlu dipertanyakan lagi, kepribadian para heroin, perubahan sikap mereka di dalam game, keimutan dialog serta gerak-gerik mereka. Bagian mana pun benar-benar luar biasa.

 

Berkat sistem percakapan bebas oleh AI dan bukan pilihan dialog seperti game lain, tingkat kesulitan penaklukannya terhitung cukup tinggi.

 

Karena itu, ada banyak pemain yang pokoknya memprioritaskan untuk

"membuat jatuh hati" si heroin terlebih dahulu.

 

Namun, tunggu sebentar. Jika begitu, mereka tidak bisa disebut sebagai "penggemar asli 'Magi-Ama'". Meningkatkan Tingkat Kebahagiaan heroin hingga batas maksimal. Itulah logika tindakan dari orang yang benar-benar mencintai game ini──begitulah menurutku.

 

Apa itu Tingkat Kebahagiaan?

 

Dalam game romansa, parameter paling penting dari heroin tentu saja adalah Tingkat Kesukaan terhadap protagonis. Hal itu sama di dalam "Magi-Ama". Jika tidak menaikkan ini, penaklukan tidak akan berhasil.

 

Akan tetapi, ada beberapa parameter lain yang khas dari game ini. Di antaranya, yang paling kuanggap penting adalah Tingkat Kebahagiaan. Ini adalah parameter yang nilainya sangat sulit naik, di mana jika dalam kondisi normal, bahkan setelah mencapai happy end pun paling-paling hanya akan berada di sekitar 70%.

 

Selain itu, Tingkat Kebahagiaan ini tidak memiliki pengaruh langsung terhadap penaklukan. Tanpa memaksakan diri untuk menaikkan nilainya pun, asalkan tingkat kesukaan naik, heroin akan menyukai protagonis.

 

Karena itulah, aku yang sekarang sedang bicara besar begini pun, pada beberapa kali pertama, pokoknya berfokus pada penaklukan, tidak terlalu memedulikan parameter selain tingkat kesukaan, dan mencapai bappy end.

 

Namun, seiring seringnya memainkannya, aku menyadarinya.

Terhadap heroin yang telah menjalin interaksi lewat percakapan alami, rasa sayang itu ada, dan tentu saja aku ingin dia bahagia. Tidak, dia harus bahagia.

 

Lebih jauh lagi, kalau di sana ada angka metriknya, menaikkannya adalah kewajiban seorang gamer sejati, kan?

 

Sejak saat itu, aku menggunakan waktu yang sangat banyak untuk berusaha menaikkan tingkat kebahagiaan hingga batas maksimal. Di papan buletin strategi pun informasinya sedikit, membuat hari-hari penuh uji coba terus berlanjut.

 

Dan akhirnya, aku menjadi bisa mencetak Tingkat Kebahagiaan 95% atau lebih di setiap akhir permainan.

 

Sebagai hasilnya, bagaimana bagian akhirnya berubah?

 

──Kesimpulannya, tidak berubah begitu besar. Ending khusus juga tidak muncul.

 

Namun, aku menyadari bahwa heroin yang digambar pada ilustrasi still adegan terakhir memiliki ekspresi wajah yang jauh lebih bahagia daripada sebelumnya.

 

Hanya begitu saja, jika dibilang begitu ya memang hanya begitu.

 

Tergantung orangnya, ada juga pendapat bahwa mereka tidak ingin membuang usaha besar hanya untuk hal seperti itu, dan aku pun bisa memahami hal itu.

──Namun, walau demikian, tetap saja.

 

Jika bisa melihat ekspresi yang diselimuti kebahagiaan tertinggi dari si heroin, itu memiliki nilai yang sepadan untuk meluangkan waktu dan berusaha. Bagiku, rasanya begitu. Aku menjadi sangat ingin membuat si heroin bahagia.

 

Berpikir bahwa asalkan bisa menaklukkannya maka Tingkat Kebahagiaan heroin rendah pun tidak apa-apa, menurutku adalah pemikiran dari cowok yang rendah.

 

Sejak saat itu, aku pasti selalu menyambut ending dengan Tingkat Kebahagiaan 95% atau lebih.

 

Yah, kalau mau menertawakannya sebagai kepuasan pribadi seorang otaku, tertawakan saja.

 

Meski tahu pada akhirnya ini adalah game, aku tetap berpikir bahwa senyuman yang terlihat tulus dan bahagia dari para heroin game ini

memiliki nilai yang sepadan.

 

Sebagai catatan, karakter figuran selain heroin akan memunculkan karakter yang sama setiap kali.

 

Misalnya, ada karakter siswa laki-laki sekelas bernama "Zeit". Orang ini adalah murid berandalan yang memiliki paket lengkap berupa mesum, kasar, dan berotak udang, hingga dibenci oleh murid-murid di sekitarnya.

Padahal begitu, setiap kali dia selalu menggoda heroin yang menjadi target penaklukan, atau mencoba menjebak protagonis.

 

Namun pada akhirnya, dia adalah peran yang akan diberi pelajaran oleh protagonis yang digerakkan oleh pemain. Singkatnya, tipe karakter anjing penggonggong yang kalah bagi protagonis. Aku juga sangat membenci orang ini.

 

Saat bisa mengalahkan Zeit sebagai protagonis, rasanya benar-benar melegakan dada.

 

Selain itu, teman sekelas di akademi sihir maupun guru, selain para heroin, merupakan karakter yang sudah tetap.

 

"Nah, saatnya waktu bersenang-senang."

 

Di layar, kunci akses untuk mengunduh "Data Tambahan (Append Data)" yang akan terbuka setelah menaklukan heroin telah ditampilkan.

 

Aku mengakses situs resmi "Magi-Ama", menggunakan kunci akses, dan mendapatkan data tambahan tersebut. Kemudian memainkan adegan tambahan setelah penaklukan. Aku bisa menikmati waktu bahagia berduaan dengan si heroin.

 

"Ooooh...!"

 

Gadis berambut pendek tomboi yang biasanya tampak bermartabat.

Gadis seperti itu, saat berkencan dan hanya di hadapanku saja, menunjukkan wajah gadis feminin yang sangat imut. Dan kemudian adegan layanan yang sedikit seksi.

 

Ya. Tidak ada kata lain yang terpikirkan selain yang terbaik.

 

Momen kebahagiaan tertinggi yang hanya bisa dinikmati oleh orang yang telah melampaui kepedihan demi kepedihan hingga mencapai akhir. Ini benar-benar bisa disebut sebagai inti sari dari game romansa.

 

"Fiuh~"

 

Setelah menyelesaikan adegan tambahan, aku beristirahat sejenak. Saat melihat jam, waktu menunjukkan pukul 22:00. Masih ada sedikit waktu.

 

Bagus.

 

"Nah, selanjutnya heroin seperti apa yang harus kutaklukkan, ya..."

 

Dari layar pembuka, aku memilih "NEW GAME". Dan pada saat aku berpikir layarnya akan beralih──jendela di luar mendadak bersinar dengan teramat terang, lalu suara gemuruh yang besar berdentum. Pada saat itu, layar game di televisi berkedip-kedip, dan suara musik latarnya mendistorsi.

 

──Bersamaan dengan itu, di dalam kepalaku, entah bagaimana deretan angka dan huruf alfabet terlintas.

 

"uA2wY2eC8"

Apa-apaan ini? Saat memejamkan mata, huruf-huruf itu mengapung sebagai bayangan di balik kelopak mata. Karena penasaran, aku bergegas mencatatnya di secarik kertas memo.

 

"Mengagetkan saja..."

 

Sepertinya petir baru saja menyambar di dekat sini. Saat mengarahkan pandangan ke layar, kedipannya sudah reda. Namun──

 

"Uwah, gawat!"

 

Apakah karena petir tadi yang membuatnya mengalami bug, tampilan layarnya menjadi berantakan dipenuhi karakter asing.

 

Satu-satunya teks yang bisa dibaca hanyalah "NEW GAME". Di bagian

"SAVE DATA" yang biasanya ditampilkan di bawahnya, tidak ada teks apa pun. Jangan-jangan data para heroin yang sudah kutaklukkan sampai sekarang dengan menghabiskan waktu yang sangat banyak telah terhapus?

 

Seketika, pandanganku terasa gelap gulita.

 

Sial, ceroboh sekali. Harusnya aku menggunakan colokan listrik yang dilengkapi pelindung lonjakan arus petir. ...Menyesal seperti itu pun sekarang sudah terlambat. Apakah program game-nya sendiri masih hidup?

 

Untuk memastikannya, aku mengarahkan kursor ke "NEW GAME" lalu menekannya. Kemudian, entah mengapa jendela masukan kata sandi muncul. Sampai sekarang, saat memulai game, aku tidak pernah diminta memasukkan kata sandi.

 

"Apa-apaan ini... program game-nya juga rusak, ya?"

 

Ah, benar juga. Deretan huruf yang kucatat tadi.

 

Sambil berpikir tidak mungkin, karena tidak ada hal lain yang terpikirkan, aku mencoba memasukkannya. Lalu menekan tombol OK.

 

Tepat setelah itu, layar bersinar dengan hebat dan cahaya yang menyilaukan meluap keluar.

 

"...Uwah!"

 

Mataku silau dan kesadaranku menjauh. Dan──ada sensasi seolah-olah diriku tersedot ke dalam layar.



Illustrasi | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close