NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Fantasy Sekai de Akuyaku na no ni Heroin-tachi ni Sukare tara Genjitsu Sekai demo Harem ni Natta Volume 1 Chapter 1

Bab 1: Masuk ke dalam Dunia Game yang Sedang Kumainkan


◆◆◆

 

Saat terbangun, aku berada di tengah hutan belukar. Aku berbaring telentang di semak-semak. Langit tampak bersih dan biru.

 

"Di mana ini? Ini... bukan kamarku, kan?"

 

Kondisi fisikku... sepertinya tidak ada masalah. Tidak ada yang sakit, dan kepalaku juga terasa jernih.

 

Aku berdiri lalu melihat sekeliling. Tepat di sebelahku ada sebuah kuil kecil kuno berwarna putih. Pintu kayunya dihiasi ukiran yang rumit, memberikan kesan yang agak misterius. Saat mengalihkan pandangan ke arah berlawanan, aku melihat sebuah bangunan berlantai empat di antara pepohonan hutan belukar.

 

"Di mana sebenarnya ini?"

 

Begitu berjalan sedikit ke arah bangunan itu terlihat, hutan segera berakhir, dan aku keluar ke sebuah tempat yang luas.

 

Di sekeliling tempat itu, berdiri beberapa bangunan bergaya bata mirip

Eropa abad pertengahan, dan di antaranya tampak pemuda-pemudi yang mengenakan seragam seperti pelajar berjalan lalu lalang.

Sebuah pemandangan yang menyerupai sekolah di dunia fantasi lain terbentang di sana.

 

"Apa ini sejenis taman hiburan? ...Bukan, ini mirip seperti... Akademi

Sihir Magia yang muncul di 'Magi-Ama'?"

 

Para murid laki-laki mengenakan setelan jas biru tua, sedangkan murid perempuan mengenakan jas merah marun, sebuah seragam yang modis.

 

Terlebih lagi saat melihat tubuhku sendiri, aku mengenakan seragam yang sama dengan murid laki-laki lainnya. Seragam ini maupun bangunan bergaya bata ini benar-benar persis seperti yang ada di dalam game. Bedanya, baik orang maupun bangunannya bukanlah ilustrasi, melainkan ada sebagai wujud nyata yang semestinya.

 

Jangan-jangan aku telah berpindah ke dalam dunia game?

 

──Nggak, nggak mungkin. Mana ada hal konyol begitu. Ini pasti mimpi, kan.

 

"Aduuuuh!"

 

Saat mencubit pipiku, rasa sakitnya terasa sangat nyata. Ini bukan mimpi. Sepertinya aku benar-benar masuk ke dalam dunia game.

 

...Kalau begitu, artinya aku bisa bertemu dengan para heroin yang menawan itu?

 

Aduh, tunggu sebentar, ini gawat. Mereka pasti sangat cantik di luar imajinasi, ya. Aku benar-benar ingin mencoba bertemu dengan heroin.

 

──Di saat aku sedang berpikir dengan polosnya seperti itu.

 

"Zeit-kun! Sebentar lagi pelajaran akan dimulai, apa yang sebenarnya kamu lakukan di tempat seperti ini?"

 

Tiba-tiba suara seorang gadis menggema dari arah belakang. Saat berbalik, seorang gadis berambut merah yang cantik telah berdiri di sana.

 

Seorang gadis yang sangat cantik dengan raut wajah tegas yang tampak sangat berpendirian kuat. Seragam modis Akademi Sihir Magia terlihat sangat cocok dikenakannya.

 

"Kalau tidak segera masuk ke kelas, wali kelas pagi akan dimulai. Kamu bisa terlambat."

 

Aku dilesat pandangan tajam yang sangat ketat. Padahal dia sangat cantik, tapi menakutkan.

 

……Eh, sebentar? Orang ini, mirip dengan orang itu.

 

Orang itu berambut hitam sedangkan orang ini berambut merah, tetapi selain warna rambut, mereka berdua bagai pinang dibelah dua.

 

"Anu... Nijouin-san? Kamu juga datang ke dunia ini? Lihat, aku

Tokitou."

"Hah? Apa yang kamu bicarakan dengan berpura-pura bodoh begitu? Aku adalah ketua kelas di kelas yang sama denganmu, Lena Anhalt!"

 

Eh? Memang mirip sekali, tapi bukankah dia Nijouin Rena?

 

"A-Anu... Lena Anhalt-san. S-Salam kenal."

 

"Salam kenal, kamu bilang? Kita berada di kelas yang sama, dan aku sudah berulang kali memperingatkanmu seperti ini, tapi apa-apaan cara bicaramu yang seperti meremehkan orang itu. Orang sepertimu selalu saja membolos, meremehkan orang lain, dan benar-benar tidak bisa ditolong. Tolong hentikan sikapmu itu, Zeit-kun!"

 

……Eh? Tunggu sebentar. Barusan, dia memanggilku "Zeit"?

 

Zeit itu adalah murid berandalan yang memiliki paket lengkap berupa mesum, kasar, dan berotak udang, bahkan sampai dipanggil "Gesota" oleh murid-murid lain dan menjadi karakter figuran murid laki-laki yang dibenci, kan?

 

*TL/Note: Geosta merupakan gabungan dari kata "Geso" (ゲソ) yang berarti tentakel cumi-cumi dan nama belakang "Zeit" (ツアイト). Panggilan ejekan ini digunakan oleh murid-murid lain untuk menggambarkan sifat Haruto Zeit yang mesum dan suka menggoda perempuan bagaikan cumi-cumi yang melilitkan tentakelnya.

 

Pada saat itu, aku merasakan ingatan tentang diriku di dunia game ini mengalir deras ke dalam otakku sekaligus.

Aku bisa meyakini bahwa aku benar-benar telah masuk ke dalam dunia game.

 

──Nama asliku adalah "Tokitou Haruto", tetapi di dunia ini aku adalah "Haruto Zeit".

 

Berumur 17 tahun dan merupakan murid kelas dua tingkat atas di

Akademi Sihir Magia. Karakter sampingan berandalan yang tidak serius dan tidak punya motivasi.

 

Karakter anjing penggonggong yang kalah setelah menggoda heroin hingga dibenci, dan pada akhirnya diberi pelajaran oleh protagonis.

 

Singkatnya, karakter yang bertugas menonjolkan kehebatan protagonis.

 

──Eeeeh!? Tunggu sebentar!! Aku bukan protagonisnya!?

 

Dari sekian banyak pilihan, kenapa harus menjadi Zeit si pria yang dibenci. Diriku sendiri menjadi karakter yang paling kubenci... yah, mau bagaimana lagi mengatakannya... ini yang terburuk!

 

Kalau dipikir-pikir, aku──maksudku bukan Tokitou Haruto, melainkan──Haruto Zeit, juga telah melakukan hal buruk kepada Lena kemarin. Ingatan itu mendadak terlintas dalam benakku.

 

Kemarin saat berpapasan di koridor, aku mengarahkan pandangan mesum padanya, lalu tiba-tiba berkata, "Ayo kencan denganku." Tentu saja aku ditolak mentah-mentah dengan ketus, "Tidak mau!" Menjijikkan. Wajar saja kalau dibenci.

Meskipun di dunia nyata temanku sedikit, setidaknya aku tidak sampai dibenci seburuk ini. Walaupun ini dunia game, menjadi peran yang dibenci itu rasanya terlalu menyedihkan.

 

"Kenapa kamu malah terdiam? Kamu sangat sering membolos pelajaran dan merusak fasilitas akademi. Namun, kamu sama sekali tidak merenungkannya. Kamu terlalu tidak serius. Bisakah kamu mulai bersikap benar? Apakah tidak ada kata keadilan di dalam kamusmu?"

 

Gadis cantik yang ada di hadapanku ini adalah salah satu dari main heroin, Lena Anhalt. Tipe gadis yang menegakkan keadilan dengan gagah berani. Sangat serius dan agak sulit didekati. Mengingat sifat karakternya itu, tipe kepribadiannya sudah pasti adalah Tipe Putri yang Agung.

 

Berkat keberhasilanku memainkan "Magi-Ama" dengan sangat mendalam, aku bisa menebak tipe kepribadian heroin dari sedikit tindakan atau perkataan mereka dengan tingkat akurasi yang terhitung tinggi.

 

Lena adalah seorang putri bangsawan yang sangat cantik dan keren. Dia sangat serius dan tegas kepada orang lain, tetapi dia jauh lebih tegas lagi kepada dirinya sendiri. Kenyataannya, nilai akademisnya sangat luar biasa, dan dia adalah bunga di puncak gunung yang membuat masyarakat biasa merasa segan bahkan hanya untuk mengajaknya bicara.

 

Ingatan yang mengalir masuk memberitahuku demikian.

Di antara permainan game yang kulakukan di masa lalu, ada juga heroin dengan Tipe Putri yang Agung yang sama.

 

Tipe ini memiliki atribut tsundere dingin yang kuat. Sosok gadis cantik keren yang tegas pada diri sendiri maupun orang lain, saat perlahan-lahan menunjukkan sisi manisnya, terlihat sangat imut nomor satu.

 

Namun meski begitu, melihat tokoh permainan berdiri di hadapanku sebagai manusia nyata benar-benar mengejutkan. Ilustrasi karakter oleh ilustrator dewa memang luar biasa, tetapi Anhalt yang ada di depanku ini juga sangat cantik hingga terasa gawat.

 

……Hmm? Namanya Lena. Nama Nijouin-san juga Rena. Bukan hanya penampilannya saja, bahkan namanya pun sama. Terlebih lagi, sifatnya yang sangat serius, tegas pada peraturan, dan berkepribadian keren benar-benar mirip dengan Nijouin Rena.

 

Lena Anhalt yang seperti itu, kini sedang mengarahkan pandangan yang seolah memandang rendah sesuatu yang buruk dan tidak tertolong kepadaku.

 

Padahal aku sudah bersusah payah masuk ke dunia "Magi-Ama" yang sangat kusukai... tolong hentikan tatapan mata yang sedingin es seperti itu. Ditatap dengan mata seperti itu oleh heroin yang sangat kusukai rasanya terlalu menyedihkan.




Ah…… aku harus segera menjawabnya dengan benar, tetapi suaraku tidak mau keluar.

 

Bukan bermaksud sombong, tapi aku memang payah dalam berbicara dengan perempuan. Apalagi menghadapi gadis secantik ini, aku tidak pernah bisa berbicara dengan lancar. Aaah, apa yang harus kulakukan?

 

……Tidak, tunggu sebentar. Ini adalah dunia game yang sudah

kumainkan dengan menghabiskan waktu yang sangat banyak.

 

Pengalamanku berdialog dengan heroin sudah sangat kaya, jadi kalau aku bisa membaca karakter atau pola lawan bicaraku, harusnya aku bisa mengobrol dengan cukup baik. Percayalah pada diri sendiri.

 

"Maaf. Aku yang salah."

 

"……Eh?"

 

Lena mematung dengan mulut sedikit terbuka. Reaksi jujur dari diriku yang merupakan karakter berandalan sepertinya benar-benar di luar dugaannya.

 

"Aku merenungkannya dan akan bersikap serius."

 

Persis seperti perkiraanku. Selain karena sudah sering bertukar dialog dengan para heroin di dalam game, warna rambut dan desain seragam yang tidak realistis ini membuatku tidak terlalu gugup meskipun berhadapan dengan gadis cantik.

 

"Ah, ti-tidak…… kalau kamu sudah paham, baguslah."

 

Syukurlah. Tampaknya dia memercayaiku.

 

"Tapi selama ini, kamu sudah berulang kali bilang akan bersikap benar, tapi nyatanya tidak. Jadi, aku tidak bisa memercayaimu begitu saja."

 

*Gufakh*, ternyata sama sekali belum dipercaya. Jatuh bebas dari harapan membuat kerusakan mentalku cukup besar.

 

Ingatan di dunia game ini memang menunjukkan bahwa diriku melakukan tindakan tepat seperti yang dikatakan Lena. Wajar saja jika tidak bisa langsung dipercaya.

 

Karena aku hanya karakter figuran, tidak mungkin aku disukai oleh heroin. Namun, terus-menerus dibenci oleh heroin yang sangat kusukai itu rasanya terlalu menyedihkan. Karena itu, aku akan bertobat dan menjadi orang yang serius.

 

Maksudku, meski sebenarnya kepribadian di dalamnya sudah tertukar, sih.

 

"Kenapa malah melamun? Ayo cepat pergi ke kelas."

 

"Ah, iya, maaf."

 

Aku berjalan di belakang Lena menuju ruang kelas.

 

Saat memasuki gedung sekolah dan berjalan di koridor, ada cermin besar yang terpasang di dinding, dan tanpa sengaja mataku melirik ke sana. Sosok yang terpantul di sana adalah diriku yang dibalut setelan jas biru tua Akademi Sihir Magia…… namun, dia adalah pria dengan warna kulit yang tampak tidak sehat dan ekspresi wajah yang penuh ketidakpuasan.

 

──Uwah, benar-benar Zeit si karakter yang dibenci. Kalau punya wajah seperti ini, pantas saja tingkat kesukaannya rendah.

 

Saat melihat ke depan, rambut merah indah Lena yang berjalan mendahuluiku tampak bergoyang-goyang, meninggalkan kesan yang mendalam. Apakah hari di mana aku tidak dilesat pandangan tajam oleh gadis cantik yang serius ini akan tiba?

 

Hmm…… sepertinya masa depanku akan penuh rintangan.

Di dunia ini, sihir itu ada. Penyihir yang hebat sering kali menjadi pusat di dalam masyarakat dan mengumpulkan rasa hormat dari orang-orang.

 

Akademi Sihir Magia adalah sekolah berorientasi super elit, sebuah lembaga negara yang dibangun untuk mendidik penyihir-penyihir berbakat yang jumlahnya sangat terbatas di seluruh negeri. Anak-anak bangsawan dan orang penting di negara ini juga banyak yang bersekolah di sini.

 

Murid dengan nilai akademis peringkat atas di angkatannya disebut sebagai "Top 10", dan konon jika bisa lulus sebagai Top 10, masa depan mereka akan terjamin.

Aku dan Lena adalah murid kelas dua tingkat atas, sebuah tahun ajaran di mana persaingan demi masa depan menjadi semakin sengit. Di permukaan, teman-teman seangkatan menjalani kehidupan sekolah yang tenang, tetapi di balik layar, mereka saling menganggap satu sama lain sebagai rival.

 

Saat aku masuk ke kelas bersama Lena, mata para teman sekelas serentak tertuju ke arah sini. Semuanya mengenakan seragam yang sama dan sudah duduk di bangku masing-masing.

 

Bagaimana mengatakannya, itu adalah pandangan dingin yang seolah memandang rendah. Aku kembali menyadari dengan nyata bahwa aku adalah orang yang dibenci. Berada di sini rasanya benar-benar tidak nyaman, tetapi jika aku membolos pelajaran, reputasiku akan semakin merosot. Aku menahan diri dan duduk di bangkuku.

 

Sesaat kemudian, bel tanda masuk berbunyi. Sebelum guru wali kelas datang, Lena berdiri dan berbicara kepada semua orang di kelas.

 

"Aku akan mengumpulkan laporan tugas untuk Teori Sihir Terapan yang diberikan sebelumnya."

 

Kalau dipikir-pikir, memang ada tugas yang harus dikumpulkan

pagi-pagi sekali hari ini. Sebagai ketua kelas, Lena tampaknya diminta oleh guru untuk mengumpulkannya terlebih dahulu dari semua murid.

Begitu ya, tugas. Saat menelusuri ingatan Zeit…… seperti dugaan, aku belum mengerjakan tugas! Ah, Zeit benar-benar orang yang tidak berguna, ya. ……Yah, itu adalah diriku sendiri, sih.

Tidak. Diriku yang di dunia nyata, Tokitou Haruto, meskipun merupakan murid yang tidak bersemangat, setidaknya aku akan mengerjakan tugas dengan serius.

 

Sambil berjalan di antara deretan meja, gadis cantik berambut merah itu mengumpulkan laporan dari para teman sekelas. Akhirnya, dia tiba di sampingku. Mata sipitnya yang indah menatapku dari atas dengan keren. Menakutkan sekali, Lena-san.

 

"Maaf. Aku belum mengerjakannya."

 

Aku sudah bersiap-siap akan dimarahi oleh Lena lagi, tetapi dia hanya mengembuskan napas panjang, "Haaah~". Reaksi itu terasa sedingin tundra. Diperlakukan seperti ini oleh heroin yang sangat kusukai rasanya sungguh berat.

 

"Sudah kuduga."

 

"Iya."

 

Aku benar-benar telah membuatnya kecewa. Tidak mungkin mengerjakan tugas sekarang, jadi kali ini mau bagaimana lagi. Aku hanya bisa mengerjakannya dengan benar di kesempatan berikutnya untuk merebut kembali kepercayaannya.

 

Setelah beranjak dari sampingku, sang ketua kelas memanggil murid-murid lain secara berurutan dan mengumpulkan tugas mereka.

 

Hingga akhirnya, dia berdiri di samping seorang cowok yang memancarkan senyuman teramat menyegarkan.

 

"Terima kasih atas kerja kerasmu, Lena! Ini tugasku."

 

"Ah, iya."

 

Cowok yang tersenyum itu adalah Dunkel Sonne. Pemuda tampan berambut pirang yang menyegarkan.

 

Begitu melihat wajahnya, aku langsung tersadar. ──Orang ini adalah karakter protagonis di dunia ini.

 

Karakter protagonis tidak memunculkan penampilannya di dalam game

asli, dan namanya pun bisa ditentukan sesuka hati oleh pemain. Namun, Sonne adalah pria yang memiliki seluruh ciri-ciri protagonis game.

 

Berkat ingatan Zeit, aku bisa mengetahuinya.

 

Dia adalah anak seorang bangsawan, tetapi demi melatih kekuatan sihirnya, orang tuanya memaksanya untuk masuk ke akademi sihir…… begitulah pengaturannya. Dari sana dia akan terus berkembang, kelak menjadi penyihir yang hebat, dan menjadi populer di antara para heroin, yang merupakan rute jalur utama──namun untuk saat ini, tampaknya dia belum sampai ke tahap itu sama sekali.

 

"Selalu terima kasih, Lena. Selain cantik, kamu juga serius dan nilai

akademismu luar biasa. Aku menghormatimu."

 

"Tolong jangan bermulut manis, Sonne-san."

 

"Ini bukan rayuan. Ini benar-benar tulus dari lubuk hatiku. Aku ingin menjalin cinta yang penuh gairah dengan orang yang cantik sepertimu."

 

Apa-apaan yang dikatakannya, orang ini. Hebat juga dia berani merayu secara tiba-tiba di dalam kelas. Yah, karena ini adalah galge, hal seperti itu mungkin saja terjadi.

 

"Sonne-san. Kewajiban seorang pelajar adalah menuntut ilmu. Bukan waktunya untuk membicarakan tentang cinta atau asmara."

 

Lena tampaknya belum menaruh rasa suka padanya. Namun, lambat laun dia pasti akan menyukainya, kan.

 

Sebab, menaklukkan gadis dengan cara seperti itulah yang disebut galge.

 

Sebaliknya, aku adalah peran pembantu yang bertugas menonjolkan kehebatannya. Sifatku tidak serius, suka mengganggu heroin hingga dibenci, dan pada akhirnya menjadi peran yang diberi pelajaran oleh protagonis. Saat kenyataan itu terlintas di kepala, rasa sedih yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata merambat ke seluruh tubuhku.

 

Aku tidak mau peran seperti ini. Namun, jatuh cinta dengan heroin adalah tugas dari protagonis. Karakter figuran tidak boleh memiliki harapan yang terlalu muluk seperti ingin disukai oleh heroin.

 

Aku mengandalkanmu, Tuan Protagonis. Tolong buat Lena bahagia.

 

"Zeit-kun. Apa yang sedang kamu lihat dengan melotot begitu?"

 

Gawat, ceroboh sekali. Tanpa sadar aku malah memandangi Lena dengan linglung.

 

Haruto Zeit adalah pria yang mesum dan tidak keruan. Bagi Lena yang sangat serius, ditatap saja pasti akan terasa seperti sebuah tindakan yang tidak senonoh.

 

"Ah, tidak, bukan apa-apa. Mohon maaf."

 

Meskipun begitu, tampaknya sifat Lena yang tegas sudah dipahami dengan sangat baik oleh semua orang di kelas. Saat dia berbicara, suasana ruang kelas seketika menjadi tegang. Melihatnya secara objektif, aku bisa merasakan adanya jarak antara Lena dan teman-teman sekelasnya.

 

Tipe Putri yang Agung di dalam game asli yang kumainkan juga memang terasa seperti itu. Di dalam game, dengan dicintai secara mendalam oleh protagonis, perlahan-lahan dia menjadi bisa menunjukkan sikap yang lembut kepada orang lain.

 

Dan pada akhirnya, dia menjadi disukai oleh semua orang di akademi, hingga saat ending tiba, aku bisa menaikkan tingkat kebahagiaannya hingga mendekati nilai sempurna.

 

Senyuman bahagia yang diperlihatkan oleh heroin yang keren di bagian ending terlihat sangat imut, dan bahkan sampai sekarang masih terukir dalam di dalam benakku.

Lena terus mengumpulkan tugas dari teman-teman sekelas yang lain.

 

Dan setelah selesai mengumpulkan semuanya sampai akhir, dia meletakkannya di atas meja guru. Tepat pada saat itu, seorang guru perempuan bertubuh kecil masuk ke dalam kelas.

 

"Oh, terima kasih sudah mengumpulkan tugasnya, Anhalt-san."

 

"Sama-sama."

 

"Baiklah, kalau begitu mari kita mulai wali kelasnyaaa~"

 

Ingatanku memberikan pengenalan. Orang ini adalah guru wali kelas,

Kaoru Co Kinto-sensei.

 

Hmm? Kinto-sensei benar-benar mirip dengan Koyasu Kaoruko-sensei

yang merupakan guru wali kelas di kelasku saat di SMA Makiya.

 

Bertubuh kecil dan berwajah kekanak-kanakan. Padahal begitu, payudaranya besar. Omong-omong, dia masih lajang. Umu, tidak disangka bisa semirip ini.

 

Mengingat hal itu, bukan hanya heroin saja, tetapi bahkan guru wali kelas pun mirip dengan orang di dunia nyata. Sebenarnya bagaimana

struktur dunia ini. ……Dipikirkan seperti apa pun, aku tidak tahu.

 

Aslinya ini pasti menjadi hal yang membuatku sangat penasaran hingga tidak bisa menahannya, tetapi entah mengapa, aku merasa tidak apa-apa jika membiarkannya begitu saja.

Karena ingatan dari dunia ini sudah mengakar dengan kuat di dalam otakkku, aku tidak merasakan keanehan apa pun terhadap lingkungan

ini.

 

Lagipula dipikirkan pun tidak akan paham, jadi mari kita kesampingkan pencarian jawaban itu untuk sementara. Daripada itu──

 

"Tentu tidak ada orang kurang ajar yang tidak mengerjakan tugasnya,

kan?"

 

Krisis kehilangan kepercayaan dari orang-orang di sekitarku kembali mendekat di depan mata. Hal ini adalah tugas yang lebih mendesak.

 

Untuk saat ini, mari kita menyerahkan diri lebih awal.

 

"Saya belum mengerjakannya. Mohon maaf."

 

"Haaahh? Dasar anak kurang ajar!"

 

Aku dilesat pandangan ketat yang sangat sengit. Apa-apaan pilihan kata

itu. Seperti zaman Edo saja.

 

Tampaknya satu-satunya orang yang tidak mengerjakan tugas hanyalah diriku, jadi aku dimarahi habis-habisan oleh guru. Sungguh berat.

 

Melihat diriku yang dimarahi, Lena menatap dengan mata penuh penghinaan, membuat rasanya menjadi dua kali lipat lebih berat.

 

Umu…… satu demi satu perkembangan yang membuatku dibenci oleh

Lena terus terjadi. Ini benar-benar menunjukkan unjuk gigi yang semestinya dari seorang karakter figuran penggonggong yang kalah…… tapi tetap saja, ditatap dengan mata penuh penghinaan oleh heroin yang sangat kusukai adalah hal yang tidak bisa kutahan.

 

……Benar juga. Mari kita selesaikan tugas ini selama jam istirahat makan siang lalu mengumpulkannya kepada guru.

 

Istirahat makan siang. Sambil membawa buku catatan untuk tugas, aku berjalan di koridor menuju kantin.

 

Di tengah jalan, ada seorang gadis berkacamata yang berjalan sambil bergumam sendiri dengan wajah yang tampak tidak percaya diri. Dia adalah murid perempuan di kelas yang sama.

 

"Orang sepertiku melakukan apa pun pasti gagal, tidak ada gunanya juga kalau hidup……"

 

Meskipun bertubuh kecil dan berpenampilan imut, sifatnya sangat negatif.

 

Dia adalah──kemungkinan besar gadis dengan tipe kepribadian Kucing Kecil yang Pemalu.

 

Sesuai arti katanya, dia pemalu dan pendiam. Evaluasi terhadap dirinya sendiri rendah dan memiliki pembawaan yang negatif. Tampaknya dia tidak terbiasa diperlakukan dengan lembut oleh orang lain, dan jika kita bersikap lembut padanya, dia akan menjadi jinak.

Melihat kondisinya yang sekarang, sepertinya tidak ada orang di sekitarnya yang memperlakukannya dengan lembut. Karena rasanya terlalu kasihan, aku mengumpulkan keberanian, menyadari suaraku agar terdengar selembut mungkin, lalu menyapanya.

 

"Tidak apa-apa. Tidak mungkin seperti itu. Aku tahu seberapa tulusnya dirimu. Semangatlah."

 

Aku tidak tahu apakah kata-kata ini akan membekas jika dikatakan oleh Zeit yang biasanya memiliki tindakan dan perkataan yang tidak keruan.

 

Namun, aku tidak bisa membiarkan begitu saja seorang gadis yang tampak tidak percaya diri dan terlihat seperti akan jatuh sakit secara mental.

 

"Ah…… terima kasih. Ka-Kamu…… ternyata orang yang cukup lembut, ya."

 

Di wajahnya, sedikit sinar matahari mulai terbit. Syukurlah. Tampaknya aku bisa sedikit menyemangatinya.

 

Aku berbicara dengannya dengan sikap yang selembut dan setulus mungkin. Sifat itu tampaknya tersampaikan dengan baik, dan aku lega karena dia menerimanya dengan jujur.

 

Seperti dugaan, di dunia ini pun tipe kepribadian heroin sama seperti yang ada di dalam "Magi-Ama". Kalau begitu, pengetahuan game milikku mungkin bisa dimanfaatkan untuk sesuatu.

Sambil memikirkan hal itu, saat aku mempercepat langkah kaki menuju kantin, aku berpapasan dengan Lena yang sedang menegur seorang murid laki-laki yang lewat.

 

"Lihat, kamu yang di sebelah sana. Bagian belakang kemejamu keluar, lho."

 

"Eh? Ah, maaf. Aku hanya tidak menyadarinya."

 

"Tidak perlu mencari alasan. Merapikan penampilan sudah ditetapkan di dalam regulasi sekolah kami. Berantakannya pakaian adalah berantakannya hati. Tidak menyadarinya adalah bukti bahwa kesadaranmu tidak diarahkan ke sana dengan benar. Tolong pakai dengan rapi."

 

Uwah, seperti biasa dia sangat ketat terhadap aturan. Murid laki-laki yang ditegur sampai ketakutan. Padahal hanya ujung baju yang keluar sedikit, harusnya dilepaskan saja tidak apa-apa.

 

"Ba…… baik. Mohon maaf."

 

Murid laki-laki itu dengan tergesa-gesa memasukkan ujung kemejanya ke dalam celana dengan rapi, lalu buru-buru pergi meninggalkan tempat itu seolah sedang melarikan diri.

 

Sambil memandangi punggung murid itu, Lena menggumamkan kata-kata yang tidak terduga dari mulutnya.

 

"Nah. Lagipula pakaian yang rapi kan membuat terlihat lebih keren. Hal itu juga membuat citramu menjadi lebih baik, jadi bagus, kan."

 

Memang benar murid laki-laki tadi, yang sampai barusan memancarkan atmosfer berantakan, setelah merapikan pakaiannya menjadi terlihat

cukup bagus.

 

Pada saat itu, Lena berbalik dan mata kami saling bertemu.

 

"Fuwakh!"

 

Tampaknya dia sama sekali tidak menyangka tindakannya akan dilihat oleh orang lain. Lena menunjukkan ekspresi wajah yang panik hingga tidak bisa dibayangkan dari pembawaannya yang biasanya keren.

 

"Kamu berkata tegas kepada orang lain, tapi bukan sekadar cerewet soal aturan, melainkan sebenarnya karena alasan kepedulian terhadap lawan bicara, ya."

 

"Fuguk…… ti-tidak. Mematuhi aturan itu sendiri juga sangat penting. Karena itulah yang disebut keadilan. Da-Daripada membicarakan hal itu, Zeit-kun. Orang yang terus-menerus melanggar aturan sepertimu tidak bisa diterima. Kita adalah murid dari sekolah super elit bernama 'Akademi Sihir Magia'. Kita harus menjadi sosok yang bisa menjadi panutan bagi semua orang."

 

Aku dilesat kata-kata yang diucapkan dengan sangat cepat. Gawat, aku malah membangunkan ular yang sedang tidur, ya.

 

"Ah, soal itu aku merenungkannya, kok. Aku akan bersikap benar."

 

"Aku mengandalkanmu. Kalau begitu, Zeit-kun, selamat tinggal."

 

Sambil memutar tumitnya, Lena melangkah pergi dengan cepat.

 

Aku melihat sisi lain yang tidak terduga dari dirinya. Semua orang salah paham terhadapnya, tapi dia pasti sebenarnya adalah orang yang lembut, ya. Namun, dia memiliki kepribadian yang tidak bisa mengucapkan hal seperti itu dengan jujur. Benar-benar Tipe Putri yang Agung. Rasanya begitu.

 

Aku tiba di kantin. Setelah memesan sepiring menu makan siang di

konter sistem kafetaria, aku membawa nampan dan duduk di bangku.

 

Aku membuka buku catatan di atas meja. Karena tidak ada waktu, sambil menyantap makanan menggunakan sendok di tangan kiri, aku menyelesaikan tugas secara diam-diam menggunakan pena di tangan kanan.

 

"Fiuh~"

 

Tepat saat pekerjaanku selesai satu tahap, dari bangku di belakangku terdengar suara pria yang berbicara dengan berbisik.

 

"Apakah Sonne-san menyukai Lena?"

 

Di dalam kantin yang bising suara kecil itu sulit didengar, tetapi karena

tertarik oleh kata "Lena", aku memasang telinga.

 

"Yah, aku menyukainya. Perempuan yang imut semuanya aku suka."

 

──Sonne…… Sonne yang di kelas yang sama? Tidak, tidak mungkin protagonis mengucapkan kalimat sampah seperti ini, kan?

 

Saat melirik sekilas untuk memastikan situasinya, tidak disangka itu benar-benar Sonne sendiri.

 

"Apakah Lena memiliki perasaan suka terhadap Sonne-san, ya?"

 

Lawan bicaranya adalah Monto, murid laki-laki yang menjadi kaki tangan Sonne.

 

"Entahlah. Untuk saat ini aku belum tahu, tapi aku pasti akan membuatnya jatuh hati."

 

"Dia itu perempuan kaku, lho. Apakah akan berjalan lancar?"

 

"Perempuan itu, kalau diberikan kalimat yang tampaknya membuat mereka senang beberapa kali, pasti akan jatuh hati juga. Gampang sekali, gampang."

 

"Tapi kalau begitu, bukankah murid perempuan itu tidak bisa bahagia? Aku tidak terlalu paham, sih, tapi lihat, kudengar murid perempuan semuanya ingin dihargai oleh pacarnya."

 

"Apa yang kamu katakan seperti anak kecil begitu. Apakah isi otakmu itu ladang bunga? Perempuan itu paling cepat dijatuhkan menggunakan teknik. Selama ini aku sudah menjatuhkan banyak murid perempuan dengan cara seperti itu, jadi sudah pasti tidak salah."

 

"Begitu, ya. Seperti dugaan dari Sonne-san! Hebat sekali."

 

Sikap Monto yang menjilat itu terasa menjijikkan.

 

"Lagipula, Lena itu sifatnya galak dan tampaknya merepotkan, dadanya juga tidak bisa dibilang besar. Rasanya target utamaku lebih baik perempuan lain saja. Gadis cantik satunya lagi di kelas, Haruru. Anak itu dadanya besar dan seksi. ……Membayangkannya saja membuatku terangsang. Aku ingin menidurinya."

 

Sonne menyeringai mesum. Monto adalah anak pelayan yang mengabdi di keluarga Sonne, sekaligus pria yang paling ia percayai. Karena itulah

Sonne menunjukkan sifat aslinya. Di permukaan dia adalah putra bangsawan yang tulus, tapi ternyata sifat aslinya sekotor ini.

 

Murid lain maupun guru tidak ada yang menyadari bahwa Sonne adalah orang yang bajingan. Bagi aku yang bermain dengan sangat mementingkan tingkat kebahagiaan heroin, ini adalah sikap yang sangat keterlaluan dan tidak pantas dilakukan oleh seorang protagonis.

 

"Tingkat kebahagiaan heroin tidak penting. Yang penting bisa menjatuhkan murid perempuan dengan cepat dan melakukan hal seksi,"

jika ditaklukkan oleh pria dengan pemikiran seperti itu, aku hanya bisa melihat masa depan di mana heroin menjadi tidak bahagia. Aku harus melakukan sesuatu.

──Tidak, tunggu. Di game ini aku adalah karakter figuran yang dibenci. Karakter figuran tidak boleh ikut campur secara aneh kepada protagonis.

 

"Tidak, sepertinya aku akan tetap mengincar Lena saja. Membuat perempuan berpendirian kuat bertekuk lutut itu terasa menggairahkan. Hehehe."

 

Tawa menjijikkan Sonne tersampaikan ke telingaku sebagai sensasi tidak menyenangkan yang meremang. Jika membiarkan pria ini, dipikirkan seperti apa pun aku tidak merasa heroin bisa bahagia.

 

Rasanya sangat menyebalkan hingga membuatku mual.

Persetan dengan aku yang merupakan karakter figuran atau bukan.

 

"Oi, Sonne. Apa-apaan yang kamu katakan. Agar murid perempuan

(heroin) bisa bahagia dengan benar, kamu harusnya memperlakukan mereka dengan lebih tulus, kan."

 

Saat menyadarinya, aku sudah berdiri di hadapan Sonne.

 

"Hah? Apa, Zeit. Kamu menguping, ya?"

 

"Kebetulan aku duduk di bangku belakang dan percakapan kalian terdengar. Daripada itu, bertindaklah dengan benar agar parameter Tingkat Kebahagiaan heroin bisa naik dengan pasti. Tolong."

 

Jika Sonne yang merupakan protagonis bertobat dan membuat heroin bahagia, itu adalah rencana terbaik.

"Hah? Heroin? Parameter tingkat kebahagiaan? Apa yang kamu bicarakan."

 

"Ah, tidak……"

 

Mengucapkan istilah game tentu saja tidak akan tersampaikan, ya. Aku melakukan kesalahan.

 

"Intinya, tempatkan kebahagiaan murid perempuan di urutan nomor satu, begitu."

 

"Berisik. Tidak ada hubungannya orang mesum, kasar, dan bodoh sepertimu mengaturku. Apa kamu punya niat terselubung?"

 

"Tidak ada niat terselubung. Aku hanya mengatakan apa yang jujur

kupikirkan. Tolong hargai murid perempuan dan naikkan tingkat

kebahagiaan mereka."

 

"Tingkat kebahagiaan? Apa-apaan itu. Aku tidak akan menerima perintahmu. Intinya aku hanya ingin menjatuhkan perempuan dan meniduri mereka. Kebahagiaan atau apa, aku tidak tahu. Hehehe."

 

Meskipun aku menundukkan kepala dalam-dalam untuk memohon, dia sama sekali tidak berniat mendengarkan. Pria bajingan yang tidak tertolong.

 

"Tunggu sebentar, Sonne-san. Kalau kamu berkata begitu, si keparat Zeit ini bisa mengadu kepada Lena atau Haruru, lho. Bukankah itu gawat?"

"Tidak apa-apa. Apa pun yang dikatakan Zeit, orang-orang hanya akan berpikir dia sedang berusaha menjebakku."

 

"Benar juga."

 

"Tunggu, Sonne. Kamu itu protagonis, kan. Tolonglah, tempatkan kebahagiaan heroin di urutan nomor satu."

 

"Cih…… cerewet sekali. Aku tidak tertarik dengan kebahagiaan perempuan. Aku tidak akan menerima perintahmu sedikit pun. Aku akan menjatuhkan perempuan dengan caraku sendiri. Dah."

 

"Meskipun aku sudah memohon sebanyak ini tetap tidak bisa, ya?"

 

Sonne bahkan tidak membalas lagi, dia tertawa meremehkan dari hidung lalu berlalu pergi.

 

"Siaaal……"

 

Ah, tidak bisa. Seberapa busuknya orang itu. Jika dibiarkan begini, Lena pasti akan menjadi tidak bahagia.

 

Jika aku protagonisnya, aku pasti akan membuat Lena bahagia. Aku tidak tahan melihat heroin "Magi-Ama" yang sangat kusukai dirusak oleh pria seperti itu.

 

Namun, apa yang bisa dilakukan oleh Zeit si karakter yang dibenci. Meskipun aku yang sekarang memperingatkan Lena, "Hati-hatilah terhadap Sonne," dia pasti tidak akan memercayaiku. Ini menyebalkan, tapi yang dikatakan orang itu benar.

 

Tidak. Terus-menerus bilang tidak bisa juga tidak ada gunanya. Aku ingin membuat Lena bahagia. Kalau begitu, apa yang harus kulakukan.

 

Memang benar Zeit adalah karakter figuran, jadi dia tidak akan bisa menjadi kekasih heroin dan membuatnya bahagia. Namun, menolongnya atau melindunginya dari pendekatan Sonne yang bajingan

itu bisa dilakukan.

 

Benar sekali. Aku tidak peduli meskipun tidak disukai oleh heroin.

 

──Aku yang akan membantu agar heroin bisa bahagia. Bukankah begitu

saja sudah cukup?

 

Untuk itu, pertama-tama aku perlu mengubah citra diriku di mata Lena dari minus menjadi plus. Jika tetap seperti sekarang, memperingatkan

Lena tentang sifat asli Sonne pun tidak akan dipercaya.

 

Pertama-tama, membalikkan reputasi buruk Zeit dan membuatnya berpikir aku adalah orang yang bisa dipercaya. Itulah hal pertama yang harus kulakukan.

 

***

 

Tugas itu tidak bisa kuselesaikan hanya dalam waktu makan saja. Aku berpindah dari kantin ke perpustakaan untuk melanjutkan sisanya. Dan menggunakan waktu sampai detik-detik terakhir berakhirnya jam istirahat makan siang──

 

"Fiuh…… sempat juga."

 

Tugas akhirnya selesai. Aku bergegas membawa buku catatan yang

sudah dirangkum ke ruang guru.

 

Saat membuka pintu ruang guru, mata dari lima atau enam orang guru yang berada di dalam ruangan serentak tertuju kepadaku. Gawat.

 

Rasanya agak tegang.

 

Guru wali kelas, Kaoru Co Kinto-sensei, ada di sana. Begitu melihat sosoknya yang bertubuh kecil dan berwajah kekanak-kanakan itu, ingatan tentang dia yang sedang mencari pasangan nikah…… mendadak muncul di kepala. Begitu ya. Dia sedang mencari pasangan nikah.

 

Aku mendekati meja guru itu, lalu memanggil punggungnya yang sedang menghadap meja.

 

"Kinto-sensei."

 

"Hiekh……!"

 

Guru itu sedang memandangi foto yang dikeluarkan setengah dari dalam amplop, lalu mengeluarkan suara yang terdengar seperti akan terjungkal karena suaraku. Kinto-sensei dengan tergesa-gesa memasukkan kembali foto itu ke dalam amplop.

Foto pria yang tampaknya untuk perjodohan terlihat sekilas. Pria yang lumayan jantan.

 

Begitu ya, pria tipe seperti itu rupanya seleramu. Sampai di ruang guru pun, kamu sangat bersemangat ya, Guru.

 

"Ah, Zeit-kun. A-A-Ada apa, ya!? Ja-Ja-Jarang sekali kamu datang ke ruang guru. Mau mengajak berantem?"

 

──Kenapa malah mengajak berantem, sih.

 

"Tidak. Saya membawa tugas yang tidak bisa dikumpulkan tadi pagi. Tadi saya mengerjakannya dengan memanfaatkan waktu istirahat makan siang. Mohon maaf karena terlambat."

 

"Eh? Kamu?"

 

"Iya. Saya."

 

"Mengerjakan tugas?"

 

"Iya, saya mengerjakannya."

 

"Bohong, kan?"

 

"Benaran, kok."

 

Guru ini orangnya baik dan penampilannya imut, tapi kecerobohannya terlalu berlebihan. Padahal muridnya sudah bersusah payah bilang mengerjakan tugas, tapi responsnya malah "Bohong, kan". Aku tahu dia tidak bermaksud buruk, jadi tidak apa-apa, sih.

 

Tidak, tapi membuat guru sampai mengatakan hal seperti itu adalah karena perbuatan sehari-hari dari diriku…… maksudnya Haruto Zeit

yang terhitung sangat buruk, sih.

 

"Kamu mengerjakannya sendiri?"

"Tentu saja."

 

 

"Begitu, ya. Bagus sekali. Sengaja mengorbankan waktu istirahat makan siang demi mengerjakan tugas, Guru sampai terharu, lho."

 

Sesuatu yang berkilau tampak mengambang di mata guru.

Jangan-jangan dia berkaca-kaca?

 

……Oho, sepertinya dia benar-benar terharu. Dia memang orang baik, ya.

 

Karena tiba-tiba dia mengulurkan tangan untuk meminta jabat tangan, aku membalasnya dengan erat. Guru menjabat tanganku untuk beberapa saat. Guru masih terus menjabat tanganku. Terlebih lagi guru menjabat tanganku──

 

"Guru. Tolong lepaskan."

 

"Ah, maaf, Zeit-kun. Tidak disangka hari seperti ini akan tiba selama aku hidup. Guru tanpa sengaja sampai gemetar karena terharu demi tei."

Gaya bicara apa itu. Guru terlalu lucu, tahu.

 

"Kalau begitu, saya permisi."

 

Setelah membungkuk kepada Kinto-sensei, saat berbalik untuk keluar dari ruang guru──

 

"Uwah, mengagetkan saja!"

 

Seorang gadis cantik berambut merah berdiri di depanku. Lena Anhalt.

 

Tampaknya dia datang karena ada urusan dengan Kinto-sensei.

 

"Zeit-kun. Apakah benar kamu mengorbankan waktu istirahat makan siang untuk mengerjakan tugas?"

 

Ternyata kedengaran, ya. Memalukan sekali.

 

"Iya. Begitulah."

 

"Kenapa?"

 

"Kenapa, ya…… karena aku sudah berulang kali membuatmu merasa tidak nyaman, jadi kupikir aku harus mengerjakannya dengan agak serius."

 

"Mengerjakan tugas dengan serius itu bukan untukku, Zeit-kun, tapi untuk dirimu sendiri."

"Memang benar begitu, sih. Tapi yang membuatku menjadi memiliki perasaan harus mengerjakannya itu adalah kamu."

 

"…………"

 

Lena terdiam, menatap mataku seolah sedang mencari tahu

ketulusanku.

 

Karena kalimatku terlalu seperti murid teladan, mungkin terkesan mencurigakan. Namun, aku hanya mengatakan apa yang jujur kupikirkan.

 

"Begitu, ya. Kalau begitu, mari kita anggap saja demikian. Mulai sekarang berjuanglah terus."

 

Meskipun nada bicaranya tetap dingin. Raut wajahnya yang biasanya keren tampak sedikit melunak untuk sesaat. Mungkinkah dia sedikit memercayai diriku…… kuharap begitu.

 

──Sambil memikirkan hal itu, aku keluar dari ruang guru.

 

***

 

Pelajaran siang berakhir dan waktu pulang sekolah pun tiba. Pelajaran berpusat pada hal-hal yang berkaitan dengan sihir, tetapi ada juga pelajaran sejarah negara ini dan matematika.

 

Pengetahuan Zeit seharusnya ada di dalam kepala, tetapi mengenai belajar, keparat ini pasti bermalas-malasan. Khususnya pelajaran sihir, aku tidak terlalu memahaminya. Meskipun begitu, satu hari di akademi sihir terasa segar dan menstimulasi, serta terhitung cukup menyenangkan──hal seperti itu kupikirkan dengan linglung seorang diri di dalam kelas yang murid-muridnya sudah pulang semua.

 

Karena ingatan Zeit mengalir ke dalam kepala, keanehan menghabiskan waktu di dunia ini hampir tidak ada. Malahan, dibandingkan kembali ke dunia nyata yang damai tanpa ada satu pun stimulasi, berada di sini bisa dibilang lebih menyenangkan.

 

Terlebih lagi, mendapatkan kepercayaan Lena, melindunginya dari Sonne, dan kemudian membuatnya bahagia──tujuan itu telah tercipta.

 

Bagus. Pertama-tama untuk mendapatkan kepercayaan Lena, sesuai dengan hukum tindakan game romansa, mari pergi ke tempat di mana heroin berada dan menjalin interaksi dengannya.

 

Meskipun dibilang begitu, di sini tidak ada peta, tidak bisa juga berpindah tempat secara instan ke lokasi heroin berada.

 

Sama seperti kehidupan di dunia nyata, aku tidak punya pilihan selain berjalan memindahkan kaki sendiri, mencari Lena, memanggilnya, lalu mengobrol. Uwah, tidak praktis sekali. Tapi mau bagaimana lagi. Sambil mendekap tas, aku keluar dari kelas.

 

Saat berjalan di koridor menuju jalan keluar, aku melihat Lena berjalan sedikit di depanku. Tepat di saat aku berpikir untuk mengejarnya dan menyapanya, Sonne dari arah samping mengajak dirinya berbicara. Sial, aku didahului.

"Hai, Lena. Apa kamu mau pulang sekarang?"

 

"Ya, benar."

 

"Seperti biasa kamu cantik, ya."

 

"Meskipun rayuan, terima kasih banyak."

 

"Ini bukan rayuan. Aku hanya jujur mengatakan hal yang indah itu indah. Hanya sebatas itu saja."

 

"Seperti dugaan dari Sonne-san. Mulutmu pandai sekali, ya."

Sambil berjalan berdampingan, Lena membalas dengan keren.

 

Melihat situasi ini, seperti dugaan, heroin ini belum jatuh cinta terhadap protagonis.

 

Syukurlah. Jika Lena sudah terpikat kepada Sonne, maka segalanya akan terlambat.

 

Seperti dugaan, Sonne salah dalam cara memperlakukan Lena. Karena pemikirannya adalah menjatuhkannya dengan cepat, dia tidak memahami perasaan heroin.

 

Lena adalah Tipe Putri yang Agung yang memiliki rasa keadilan yang tinggi dan menjaga jarak dari sekitarnya. Heroin tipe ini tidak akan percaya hanya dengan dipuji penampilannya saja. Alih-alih begitu, dia justru akan kehilangan minat karena menganggapnya sebagai pria yang pandai bicara tetapi tidak bisa dipercaya.

Berdasarkan pengalaman memainkan "Magi-Ama" dengan mendalam, untuk membuka hati karakter tipe ini adalah──"bersimpati dengan tulus terhadap cara berpikir dan tindakannya".

 

Meskipun Lena percaya apa yang dilakukannya adalah benar, dia memelihara pergolakan batin karena jarak yang dibuat oleh sekitarnya.

 

Karena itu, alih-alih memuji hal yang ada di permukaan, hal yang penting adalah bersimpati terhadap prinsip dan tindakannya. Jika melakukannya, dia akan memercayai kita dan menaruh rasa suka.

 

Padahal begitu, Sonne justru melakukan hal yang berkebalikan. Karena itulah dia gagal.

 

──Padahal di dunia nyata aku adalah pria yang bahkan tidak bisa berbicara dengan becus kepada perempuan, entah kenapa aku bisa berbicara besar begini, sih.

 

"Kalau begitu, Sonne-san. Karena saya terburu-buru, saya permisi pergi duluan. Selamat tinggal."

 

Setelah Lena mengatakannya dengan dingin, dia mempercepat kecepatan berjalannya lalu pergi dengan langkah cepat. Lihat itu, dia ditolak.

 

Sonne yang ditinggalkan berdiri diam, menggumamkan sesuatu dari mulutnya.

"Kalau perempuan biasa, dengan yang tadi saja pasti sudah mengibaskan ekor dan menjilat. Sial, perempuan itu. Lihat saja nanti. Bagaimana pun caranya akan kujatuhkan."

 

Sorot mata Sonne yang berkilat membuatku merinding.

 

Untuk saat ini Lena memang tidak terpikat kepada Sonne, tetapi membalikkan keadaan dari sana dan membuat heroin menyukainya adalah hal yang sewajarnya dari game romansa. Jika Lena sampai menyukai Sonne tanpa menyadari bahwa dia adalah pria yang bajingan, itu adalah hal yang terburuk.

 

Tadinya aku berpikir untuk memperingatkannya setelah mendapatkan kepercayaan Lena, tetapi jika begitu, mungkin semuanya akan terlambat. Mari pergi memperingatkannya sekarang. Agar dia bisa memercayai diriku, aku tidak punya pilihan selain menjelaskannya dengan sepenuh hati.

 

Aku bergegas keluar dari gedung sekolah lalu melihat ke kiri dan ke kanan, tetapi sosok Lena tidak terlihat.

 

Jika ke kanan adalah gerbang utama, jika ke kiri adalah arah belakang gedung sekolah. Karena sekarang adalah waktu pulang sekolah, kemungkinan yang tinggi tentu saja kanan, ya. Setelah menilai begitu, aku berlari menuju arah kanan.

 

Hasil dari hal itu adalah…… salah. Aku pergi sampai ke gerbang utama tetapi tidak bisa menemukan Lena.

 

Di sebelah gerbang utama, ada Kinto-sensei yang sedang mengantarkan murid-murid pulang.

 

"Guru. Apakah Anda melihat Lena Anhalt?"

 

"Tidak melihatnya, tuh. Kalau dia yang biasanya, dia akan menyiram tanaman di bak bunga belakang gedung sekolah sebelum pulang. Dia bilang itu sebagai ucapan terima kasih kepada bunga-bunga yang selalu memperlihatkan pemandangan indah. Padahal itu bukan tugasnya, tapi dia menyiramnya secara sukarela, lho."

 

"Heh, begitu ya."

 

Seperti dugaan, Lena adalah orang yang lembut, ya.

 

"Itu yang dinamakan menanam kebaikan secara sembunyi-sembunyi."

 

"Menanam kebaikan secara sembunyi-sembunyi?"

 

"Iya. Artinya menumpuk perbuatan baik tanpa diketahui oleh orang lain.

Luar biasa, kan."

 

"Luar biasa, ya. Aku juga baru saja berpikir demikian."

 

Tadinya aku mengira guru ini adalah karakter yang ceroboh, tapi dia memang pantas menjadi seorang guru. Aku benar-benar telah meremehkannya, mohon maaf.

 

"Heh, tidak disangka kamu mengatakan hal seperti itu, ya. Kamu juga sudah berubah 360 derajat, ya."

 

"Guru, kalau 360 derajat, artinya berputar satu putaran dan kembali seperti semula, lho?"

 

"Hoeikh…… ya-yadah, Zeit-kun! Lihat, ini kan lelucon yang sering ada! Ya, ini adalah lelucon!"

 

Kutarik kembali ucapan sebelumnya. Dia memang karakter yang ceroboh.

 

"Terima kasih, Guru."

 

"Sa-Sama-sama."

 

Setelah meninggalkan guru perempuan yang memiliki wajah seperti anak kecil yang hendak menangis itu, aku kembali ke jalan yang kulalui tadi.

 

Halaman belakang berada di arah sebelah kiri setelah keluar dari gedung sekolah. Artinya, penilaianku yang tadi benar-benar berkebalikan.

 

Memilih pilihan yang salah dari probabilitas setengah…… umu, dasarnya aku bodoh.

 

──Tunggu sebentar. Aku pernah mengalami hal yang sangat mirip dengan ini di dalam game.

Sama-sama mencari heroin dengan tipe kepribadian Tipe Putri yang Agung yang memiliki rasa keadilan terlalu tinggi, dan di saat aku pergi ke arah yang berkebalikan, heroin terlibat ke dalam masalah──

 

──Gawat. Aku harus segera mencari Lena!

 

Aku berlari dengan tergesa-gesa. Karena biasanya hampir tidak pernah berolahraga, baru berlari sedikit saja napasku sudah habis, jantungku mengamuk hebat, dan kakiku saling tersangkut. ──Ini yang terburuk.

 

Begitu akhirnya tiba di dekat bak bunga, aku mendapati situasi di mana seorang pria bertubuh besar yang berdiri tegak sedang saling melotot dengan Lena.

 

"Hentikan merundung adik kelas. Minta maaflah kepada anak ini."

 

"Berisik! Aku tidak sedang merundungnya!"

 

Melihat warna dasinya, pria itu adalah murid kelas tiga. Wajahnya yang memerah seperti gurita rebus dan bahunya yang bergetar menunjukkan

besarnya kemarahan yang ia miliki.

 

"Tidak, aku melihatnya sendiri dengan mata kepalaku."

 

"Kamu ini, Anhalt kelas dua, kan? Kamu punya reputasi sebagai orang yang menyebalkan karena sok pahlawan dan menegur siapa saja, lho.

Apa kamu begitu ingin menjilat akademi demi menaikkan nilai?"

 

Mengatakan hal yang terlalu benar secara berlebihan, hal ini adalah sesuatu yang kutakutkan suatu saat nanti akan mendatangi dirinya.

 

Lena memang membusungkan dadanya, tetapi suaranya bergetar dan riak kepanikan jelas terlihat di wajahnya.

 

Di belakangnya, seorang murid laki-laki kelas satu yang tampak bernyali kecil terlihat ketakutan.

 

"Aku tidak sedang sok pahlawan. Aku hanya menegakkan keadilan yang semestinya. Pokoknya, tolong minta maaf kepada anak ini."

 

"Hah? Sok mengatur saja, kamu benar-benar menyebalkan, tahu!"

 

Kemarahan murid laki-laki itu tampaknya sudah mencapai titik didih, dia mengulurkan kedua tangannya dengan kuat ke arah Lena.

 

──Gawat!

 

Sebelum berpikir, tubuhku sudah melompat lebih dulu dan masuk ke depan Lena.

 

Pria itu sepertinya berniat mencengkeram kerah seragam Lena. Karena aku memasukkan wajahku sebelum hal itu terjadi, kepalan tangan pria

yang kelebihan momentum itu menghantam hidungku dengan telak.

 

"Aduuuuh!"

 

Aku berteriak sambil menekan hidung menggunakan tangan.

Di dalam game tidak ada adegan seperti ini. Diriku yang merupakan protagonis, hanya dengan satu tatapan saja sudah bisa membuat pria yang mengganggu kocar-kacir. Namun di sini aku adalah karakter figuran. Hal itu tidak akan berjalan semulus itu. Kejadian di luar perkiraan telah tercipta.

 

Di hadapan Lena yang keren, diriku terlihat sangat tidak keren hingga ingin menangis. Ditambah lagi, hidungku sakit sekali.

 

"Uwah, mendadak muncul dari mana si keparat ini, kamu siapa, sih!?"

 

"Orang ini bukan tipe orang yang suka bicara sembarangan. Minta maaflah."

 

"Hah? Bajingan ini cuma sok jadi anak baik demi nilai akademisnya sendiri tahu, makanya dia suka mencari-cari kesalahan orang lain."

 

"Tidak mungkin begitu! Orang ini selalu memikirkan kebaikan lawannya setiap kali dia mengatakan hal yang tegas!"

 

Aku mengetahui hal itu karena telah melihatnya sendiri secara nyata dengan mata kepalaku. Aku tahu seberapa lembutnya seorang Lena.

 

Karena terlanjur kesal, tanpa sadar aku balas membentaknya dengan emosional.

 

"Lena selalu tegas pada dirinya sendiri dan berusaha keras, dia mendapatkan nilai bagus dengan kemampuannya sendiri. Jangan bicara sembarangan padahal kamu tidak tahu apa-apa tentang dia!"

 

"Z-Zeit-kun. Terima kasih. Kamu tidak apa-apa!?"

 

Mendengar kata-kataku, Lena membelalakkan matanya. Dia yang seharusnya merupakan heroin yang membenciku, sekarang justru sedang mengkhawatirkan si karakter yang dibenci ini.

 

"Apa-apaan sih kamu, jangan mendadak muncul begitu, dong! Padahal

aku sama sekali tidak berniat memukulmu!"

 

"Harudo Duado. Adid dead dua."

 

Niatnya aku ingin bilang "Haruto Zeit. Murid kelas dua", tetapi hidungku tersumbat. Ada rasa besi di pangkal hidungku.

 

──Dan dari hidung itu, sesuatu yang terasa hangat mulai mengalir keluar dengan perlahan.

 

"Uwah, maaf! Memang benar aku merundung adik kelas. Tadi aku sedang kesal karena ada hal yang membuatku kesal. Aku yang salah!

Dah!"

 

Eh? Kenapa dia mendadak lari terbirit-birit begitu?

 

"Zeit-kun, kamu tidak apa-apa!?"

 

Dengan wajah yang memucat, Lena menempelkan saputangannya ke hidungku.

Aku terkejut karena wajah cantiknya mendadak mendekat dalam jarak yang teramat dekat. Hanya saja untuk saat ini, detak jantungku sedang meningkat drastis.

 

"Uwah, apa-apaan ini!?"

 

Saputangan putih milik Lena dalam sekejap mata langsung ternoda oleh warna merah pekat.

 

Uwah, ternyata mimisanku keluar sebanyak ini. Pantas saja pria tadi panik dan langsung melarikan diri.

 

"Jangan, nanti saputanganmu jadi kotor."

 

Rasanya tidak enak hati karena ini adalah saputangan yang disetrika dengan sangat rapi, seolah mencerminkan kepribadian pemiliknya yang sangat serius.

 

"Kamu terluka karena melindungiku, jadi aku sama sekali tidak berpikir ini kotor. Terima kasih banyak. Tolong gunakan ini sampai darahnya berhenti."

 

"Terima kasih."

 

Raut wajah Lena akhirnya tampak sedikit melunak karena lega.

 

"Terima kasih karena telah menolongku, Zeit-san."

 

Murid laki-laki adik kelas yang tadi dirundung ikut bersuara.

"Bukan aku yang menolongmu. Tapi Lena Anhalt ini."

 

"Ah, benar juga. Terima kasih banyak. Tadi aku sangat takut karena dicari-cari kesalahannya oleh kakak kelas yang bertubuh besar. Berkat Anhalt-san, aku benar-benar terselamatkan."

 

"Tidak, pada akhirnya aku sama sekali tidak bisa diandalkan. Ini semua

berkat Zeit-kun."

 

"Tidak mungkin begitu, kok."

 

Padahal Lena sendiri sangat ketakutan sampai tubuhnya bergetar, tetapi dia memang tipe orang yang tidak bisa membiarkan orang yang kesusahan begitu saja, ya.

 

Adik kelas itu sekali lagi membungkukkan badannya dengan sopan kepada diriku dan Lena, lalu berjalan pergi.

 

"Namun meski begitu, Zeit-kun, kenapa kamu menolongku?"

 

"Yah, bagi orang yang biasanya memiliki perilaku buruk sepertiku, menolong orang lain mungkin terdengar aneh, tapi──"

 

"Bukan, bukan begitu maksudku. Bagi orang sepertiku yang selalu mengatakan hal-hal yang tegas, bukankah aku ini menyebalkan, dan harusnya tidak akan ada keinginan di dalam hatimu untuk menolongku."

 

"……Eh? Menyebalkan? Aku sama sekali tidak berpikir demikian, lho."

"Kamu boleh jujur, kok. Aku tahu kalau semua orang berpikir begitu tentang diriku."

 

Aku terkejut. Ternyata Lena menyadari bahwa dirinya dijauhi oleh semua orang.

 

"Aku sama sekali tidak berpikir kamu menyebalkan. Ini benar-benar

tulus dari lubuk hatiku."

 

"Apakah itu benar?"

 

Lena masih menunjukkan wajah yang setengah percaya dan setengah ragu. Karena orang yang menganggap dirinya mengganggu memang nyata dan banyak, mungkin dia tidak bisa memercayainya dengan mudah. Namun bagi aku yang mengetahui kelembutannya, ini adalah isi hatiku yang jujur.

 

"Kamu memang ketat jika berkaitan dengan aturan. Tapi kepada siapa pun, kamu selalu bersikap adil dengan menganggap hal yang baik itu baik, dan hal yang buruk itu buruk, kan."

 

Benar. Bahkan kepada berandalan sepertiku pun, dia memarahiku bukan karena aku seorang berandalan, melainkan karena aku memang nyata sedang melakukan hal yang tidak baik. Orang ini tidak akan pernah berkata buruk karena sebuah prasangka.

 

"Terlebih lagi, alasanmu mengatakan hal yang tegas kepada lawan bicara adalah karena kamu selalu memikirkan kebaikan mereka. Aku tahu kalau sebenarnya kamu adalah orang yang sangat lembut."

Tampaknya dugaanku tepat sasaran. Lena membelalakkan matanya lebar-lebar seolah terkejut dalam tingkat yang tidak bisa lebih terkejut lagi.

 

"Padahal sampai kemarin Zeit-kun sama sekali tidak mau mendengarkan apa pun yang kukatakan dengan benar, tapi kenapa mendadak kamu mengatakan hal seperti itu?"

 

Wajar saja dia bingung. Jika diriku yang sampai sekarang memiliki perilaku yang teramat buruk mendadak berubah drastis──

 

"Seperti dugaan, apa yang kukatakan tidak akan bisa dipercaya, ya."

 

"Ah, tidak. Maaf. Aku bukan sedang mencurigaimu. Kamu sudah mempertaruhkan tubuhmu untuk melindungiku, dan sekarang pun kamu menunjukkan sikap yang sangat tulus. Aku sama sekali tidak berpikir kamu sedang berbohong. Hanya saja secara murni, aku merasa aneh kenapa mendadak kamu mengatakan hal seperti itu kepadaku."

 

Tentu saja itu karena diriku, Tokitou Haruto, telah bereinkarnasi ke sini──namun hal itu tidak mungkin kukatakan.

 

Jika mengatakan hal aneh seperti itu, kepercayaan yang sudah bersusah payah mulai kudapatkan akan menguap menjadi busa.

 

"Hari ini saat kamu memarahiku, aku bisa merasakan adanya kepedulian terhadapku di dalamnya. Lalu saat di koridor ketika kamu menegur murid yang pakaiannya berantakan, kamu juga menunjukkan kepedulian terhadap dirinya. Sekarang pun demi adik kelas, kamu menahan rasa takutmu dan menolongnya, kan. Benar, kamu adalah orang yang sangat penuh perhatian. Terhadap dirimu yang seperti itu, aku justru menghormatimu, jadi mana mungkin aku menganggapmu menyebalkan."

 

"Zeit-kun……"

 

"Alasan kenapa kamu disalahpahami oleh semua orang adalah karena kamu tidak bisa mengucapkan bagian yang lembut dari dirimu itu secara jujur dengan kata-kata. Padahal kalau kamu mengucapkannya dengan lebih jujur agar bisa didengar langsung oleh orang yang bersangkutan, itu akan lebih baik."

 

"Aku tidak bisa melakukannya."

 

Langsung dijawab instan, ya. Kaku sekali.

 

──Begitulah pikirku pada awalnya. Namun, Lena menggumamkan sesuatu dengan suara yang sangat kecil hingga hampir tidak terdengar.

 

"Kalau aku bisa melakukannya, aku tidak akan sekesulitan ini……"

 

Begitu, ya. Dia sendiri pun ternyata mengkhawatirkannya. Ini adalah pola di mana aku tidak boleh memaksanya. Agar dia bisa mengeluarkan kelembutannya secara jujur, dia sendiri perlu menerima lebih banyak kelembutan dari orang lain.

 

Jika melakukannya, hatinya akan menjadi lebih lapang, dan harusnya dia bisa menjadi sedikit lebih jujur.

Itulah hal yang kupelajari dari berinteraksi dengan heroin Tipe Putri yang Agung di dalam "Magi-Ama".

 

"Begitu, ya. Yah, soal itu, baguslah kalau kamu bisa mengeluarkannya secara berangsur-angsur. Tapi setidaknya aku tahu bahwa sebenarnya kamu adalah orang yang lembut dan menawan. Kuharap kamu tidak melupakan hal itu."

 

"Z-Zeit-kun……"

 

Matanya yang menatapku tampak sedikit berkaca-kaca, dan pipinya merona sewarna merah muda tipis. Apa dia sedang demam?

 

"A…… terima kasih banyak. Ahfuh……"

 

Lena mengeluarkan suara yang terdengar terharu. Suara itu mengandung sedikit rona basah, terdengar seperti helaan napas yang agak seksi hingga membuatku menelan ludah.

 

Pada saat itu, tubuhnya mendadak bersinar dengan cahaya berwarna merah muda samar.

 

──A-Apa-apaan ini!? Kalau dipikir-pikir. Di dalam game "Magi-Ama" ini, tampaknya ada pengaturan di mana jika heroin merasakan perasaan suka terhadap protagonis, tubuhnya akan bersinar merah muda dan kekuatan sihirnya akan meningkat drastis secara tiba-tiba.

 

Terlebih lagi, di saat itu ada pengaturan seksi di mana seluruh tubuh heroin akan merasakan sensasi yang nikmat. Padahal ini game untuk semua umur, apa tim pengembang game aslinya tidak apa-apa membuat yang seperti itu. Tidak, sebagai pemain aku justru senang, sih. Lakukan lebih banyak lagi.

 

Merasanya perasaan suka oleh heroin terhadap protagonis adalah syarat mutlak yang paling minimal, dan karena ada beberapa syarat lain yang diperlukan juga hingga membuat hal ini jarang sekali aktif, ini disebut-sebut sebagai pengaturan fantasi. Aku sendiri hanya pernah membacanya di papan buletin strategi saja, dan belum pernah melihatnya secara nyata.

 

Tunggu sebentar. Kalau begitu, artinya sekarang, tingkat kesukaan Lena terhadapku telah meningkat?

 

Di dunia ini, parameter dari karakter heroin tidak bisa terlihat. Karena itulah aku tidak terlalu memahaminya, tetapi karena aku bukan protagonis, hal seperti itu tidak mungkin terjadi. Namun kalau begitu, fenomena yang baru saja terjadi ini apa? Sambil memandangi wajah

Lena yang menatapku dengan malu-malu, aku menjadi kebingungan sendiri.

 

"Benar. Tolong izinkan aku mengucapkan satu patah kata saja.

Mengenai Zeit-kun, selama ini aku selalu salah paham dan menganggapmu sebagai orang yang tidak keruan. Namun hari ini, aku bisa mengetahui dirimu yang sebenarnya. Kamu adalah orang yang tulus, dan benar-benar bisa dipercaya. Terima kasih."

 

Mengingat hal itu, pujian itu rasanya terlalu berlebihan untukku.

 

Tepat pada saat itu, entah dari mana terdengar suara mekanis.

 

Status Haruto Zeit Pesona (Charm) telah meningkat dari level 0 ke level 1.

 

Ah, yang ini. Ini adalah pengaturan dari "Magi-Ama". ──Maksudku, mengetahui kalau orang figuran sepertiku ternyata memiliki status saja sudah membuatku terkejut.

 

Aku tidak terlalu paham pengaruh apa yang akan diberikan oleh hal ini, tetapi kuharap ini bisa memberikan sedikit nilai plus agar Lena bisa memercayai diriku.




"Anu…… kalau begitu, aku permisi dulu. Maaf, saya permisi."

 

"Iya. Sampai jumpa lagi."

 

Lena membungkukkan badannya berkali-kali, lalu pergi dengan wajah yang masih memerah. Jantungku berdegup kencang melihat sosok anggunnya yang tampak sedikit seksi. Punggungnya yang berjalan menjauh memperlihatkan rambut merah indah yang bergoyang.

 

Proporsi tubuhnya benar-benar luar biasa. ……Saat sedang terpesona begitu, aku mendadak melupakan hal yang sangat penting. Padahal itu adalah tujuanku mengejar Lena.

 

"Tunggu sebentar!"

 

Aku bersuara ke arah punggung Lena untuk menghentikannya.

 

"Ya?"

 

Kaki jenjangnya seketika berhenti melangkah, dan gadis cantik itu pun berbalik. Rambut panjang merahnya yang berkilau membentuk lengkungan lembut di udara, membuatku merasa seolah waktu sempat berhenti berputar.

 

──Ah, cantik sekali.

 

Aku mendadak teriso terpesona, tetapi aku tidak boleh melupakan tujuan utamaku menghentikannya.

 

"Hati-hatilah terhadap Sonne."

 

Lena sempat tertegun sesaat, sebelum akhirnya raut wajahnya melunak.

 

"Baik. Terima kasih banyak."

 

Tanpa bertanya apa maksud dari ucapanku, Lena kembali menghadap ke depan dan mulai berjalan lagi.

 

Mungkin saja dia berpikir bahwa Zeit si berandalan hanya sedang

menjelek-jelekkan Sonne yang populer.

 

Tidak. Mengingat ekspresi wajah Lena barusan, aku merasa niatku telah tersampaikan kepadanya.

 

Setelah mengantarkan kepergian punggung Lena dengan pandanganku, tanpa sengaja aku melirik ke samping dan melihat cermin di tempat minum. Wajahku yang terpantul di sana sudah jauh lebih tenang dibandingkan sebelumnya.

 

Sebelumnya, wajahku tampak tidak sehat dan penuh ketidakpuasan.

 

Namun sekarang berbeda.

 

Berkat bertobat, bertindak benar, dan diterima oleh sang heroin, meskipun rasanya agak narsis jika mengatur kata sendiri, raut wajahku sekarang terlihat cukup bagus. Dengan penampilan seperti ini, sepertinya orang-orang bisa memercayai diriku secara normal.

Kenyataannya, Lena sudah bilang bahwa aku adalah orang yang bisa dipercaya.

 

Target untuk mendapatkan kepercayaan Lena memang sudah tercapai, tetapi berikutnya aku ingin menghilangkan perasaan cemas yang ada di dalam hatinya. Dengan begitu, aku ingin menaikkan Tingkat Kebahagiaan miliknya. Pendekatan dari Sonne juga mungkin masih akan ada, jadi aku tidak boleh tenang dulu.

 

"Hal yang harus dilakukan masih sangat banyak. Tidak mungkin menyelesaikannya sekaligus."

 

Benar. Di dalam permainan game pun, tingkat kebahagiaan heroin baru akan meningkat setelah kita meluangkan waktu untuk berinteraksi dengannya secara perlahan dan konsisten. Berpikir untuk menjatuhkannya dengan cepat justru tidak akan berjalan lancar. Itulah "Magi-Ama".

 

Meskipun harus memakan waktu, aku memantapkan hati bahwa akulah yang akan membuat Lena bahagia.

 

Pada saat itu, hal tentang dunia nyata mendadak terlintas di dalam kepala.

 

Orang tuaku pasti sedang cemas, dan bagaimana kalau aku dianggap membolos sekolah lalu tidak bisa naik kelas. Hal seperti itu mulai mengusikku. Namun, bagaimana sebenarnya cara agar aku bisa kembali ke dunia nyata?

Lagipula, apakah aku benar-benar bisa kembali. Perasaan cemas mendadak merayap di dalam kepala.

 

……Benar juga. Jika pergi ke hutan belukar tempat pertama kali aku

terbangun di dunia ini, mungkin aku bisa mengetahui sesuatu.

Begitu berjalan masuk ke bagian dalam hutan belukar, di sana ada sebuah kuil kecil kuno berwarna putih. Kenapa bisa ada kuil kecil di tempat seperti ini. Rasanya terasa tidak alami.

 

Aku menyadari adanya gagang kecil yang terpasang di pintu yang dihiasi ukiran rumit tersebut. Saat mencoba memegang lalu menariknya, pintu terbuka dengan mengeluarkan suara derit. Cahaya kuat yang sama seperti saat diriku tersedot ke dalam mesin game tiba-tiba meluap keluar dari balik pintu.

 

"Uwah, silau sekali!"

 

Mataku silau dan kesadaranku menjauh. Kemudian, aku merasakan sensasi seolah-olah diriku tersedot ke dalam kuil kecil tersebut.

 

***

 

Saat terbangun, aku sudah berada di dalam kamarku sendiri. Di televisi yang ada di hadapanku, layar pembuka dari game "Magi-Ama" sedang

ditampilkan.

 

"Eh…… aku kembali?"

 

Saat melihat jam, waktu menunjukkan pukul 10 lewat di malam hari.

Waktu yang hampir sama persis saat layar game di kamar ini menjadi aneh dan membuatku kehilangan kesadaran.

 

"Syukurlah. Aku bisa kembali."

 

Bersamaan dengan rasa lega, rasa bising yang tergesa-gesa juga merebak di dalam dada.

 

Demi membuat Lena bahagia, masih ada hal yang harus kulakukan.

 

Apakah aku bisa pergi lagi ke dunia itu──dunia "Magi-Ama"?

 

Meskipun hal itu mengusik perhatianku, tubuhku rasanya teramat lelah melebihi apa pun. Aku mengantuk. Saat ini, pokoknya aku ingin berbaring.

 

Aku menjatuhkan diri ke atas kasur. Dan dalam posisi telungkup──kesadaranku langsung terenggut dalam sekejap mata.



Prolog | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close