Penerjemah: Miru-chan
Proffreader: Miru-chan
Chapter 1
"Perubahan Sikap Adik-Adikku"
Liburan musim panas yang panjang telah usai, dan akhir September pun tiba, membawa serta langkah kaki musim gugur yang kian mendekat.
Aku, Otaru Yuuto, langsung bergegas pulang begitu jam pelajaran keenam berakhir. Karena semalam aku menonton siaran langsung VTuber hingga larut malam, rasa kantuk yang menyerangku saat ini luar biasa hebat. Lingkar hitam di bawah mataku tampak cukup parah, tetapi karena sudah terbiasa, aku tidak terlalu memedulikannya.
Baiklah, sesampainya di rumah nanti, aku mau bersantai sambil menonton video clipping para VTuber.
"Kalau dipikir-pikir, tengah malam tadi kamar sebelah berisik sekali, ya... Ah, mungkin cuma perasaanku saja. Huaaaah."
Sambil menguap lesu, aku berjalan melewati sebuah taman yang berada di rute jalan pulang. Di sana, tampak pemandangan anak-anak SD yang sedang bermain dengan ceria. Ada yang bermain kejar-kejaran, ada yang bermain di bak pasir; aktivitas mereka sangat beragam.
Dulu sewaktu SD, aku juga sering bermain dengan teman-teman di taman seperti itu, sekaligus menjaga adik-adikku.
"Waktu masih kecil... ya."
Mengingat kembali masa-masa itu, masa kejayaanku memang hanya bertahan sampai aku masih anak-anak.
Saat kecil dulu, baik dalam hal pelajaran maupun olahraga, aku selalu berada di peringkat teratas di angkatanku. Alhasil, tanpa perlu melakukan apa pun, aku sangat populer di kalangan anak perempuan. Temanku juga banyak, dan setiap hari rasanya begitu berkilau dan menyenangkan.
Andai saja kejayaan masa itu bisa bertahan selamanya... Namun sekarang, kenyataannya justru berbalik 180 derajat. Sekarang, posisiku dalam hal pelajaran maupun olahraga berada di papan bawah, dan mustahil bagiku untuk menjadi yang nomor 1. Hubunganku dengan teman-teman di sekitar pun perlahan semakin renggang, dan aku lebih sering menghabiskan waktu sendirian sambil menonton siaran langsung VTuber.
"Lagipula, waktu itu... hubungan kami sebagai kakak-adik masih sangat baik."
Aku termenung dan berdiri terpaku di pintu masuk taman.
Aku memiliki sepasang adik kembar perempuan. Kakaknya bernama Yuuri, dan adiknya bernama Kairi. Saat ini mereka sudah duduk di kelas 3 SMP, tetapi hingga beberapa waktu yang lalu, mereka masih menjadi adik kembar yang sangat menggemaskan. Namun, begitu mereka masuk SMP, keduanya tiba-tiba mengalami masa pertumbuhan yang luar biasa hingga pangling dibuatnya.
Dengan wajah dan proporsi tubuh yang sama-sama sempurna, mereka kini menjelma menjadi pemenuh tiga syarat kecantikan, dan kerap dijuluki sebagai "saudara kembar cantik" yang ramai diperbincangkan di lingkungan sekitar.
Sebagai kakak dari adik-adik seperti mereka, aku selalu dibanding-bandingkan oleh orang-orang di sekitar, membuatku menjalani hidup di bawah tekanan setiap hari. Meski begitu, demi menjaga harga diriku sebagai seorang kakak, aku memeras otak dan berhasil lulus ke SMA Swasta Shuugakuin, sekolah dengan nilai standar kelulusan tertinggi di daerah ini.
Awalnya aku mengira hal ini bisa mempertahankan harga diriku sebagai kakak. Namun, karena ini adalah sekolah dengan standar nilai yang tinggi, teman-teman seangkatanku di SMA ternyata jauh lebih pintar dari yang kubayangkan. Saat ini, mengejar ritme belajar mereka saja sudah membuatku kewalahan, dan nilai-nilai ujianku pun tergolong buruk.
"Dan sekarang, aku hanyalah seorang laki-laki kuper dan berandalan kasur yang gila siaran VTuber demi melarikan diri dari kenyataan... Benar-benar deh, aku ini manusia tidak berguna."
Sambil meratapi diriku yang menyedihkan, aku tiba di apartemen tempat tinggalku. Aku naik ke lantai 6 menggunakan lift apartemen, lalu membuka kunci pintu kamar nomor 604.
"A-Aku pulang... Hm?"
Di area pintu masuk, sudah ada 2 pasang sepatu loafer yang tertata. Tampaknya adik-adikku sudah pulang lebih dulu daripada aku. Meskipun kembar, kedua adikku memiliki kepribadian dan penampilan yang berbeda.
Otaru Yuuri, si kembar sulung yang diakui semua orang sebagai murid teladan, dan Otaru Kairi, si kembar bungsu yang merupakan seorang gyaru. Masing-masing adalah gadis cantik berambut hitam dan pirang. Penampilan dan sifat mereka memang bertolak belakang, tetapi dulu mereka adalah sepasang saudara kembar menggemaskan yang wajahnya bak pinang dibelah dua.
Sampai masa-masa itu, kurasa mereka berdua sangat menghormatiku sebagai kakak mereka. Setiap kali bermain mereka selalu bersamaku, dan saat pergi keluar, mereka selalu bermanja-manja dan ingin menggandeng tanganku. Namun, begitu menginjak bangku SMP, mereka memasuki masa puber dan pemberontakan. Jangankan kepada orang tua, belakangan ini mereka juga bersikap sangat ketat dan ketus kepadaku.
Beberapa hari yang lalu, saat Ibu sedang mencuci baju, Kairi sengaja mengeraskan suaranya agar terdengar olehku, "Jangan satukan cucian bajuku dengan baju Onii!"
Yang membenciku bukan hanya Kairi, si gyaru yang sedang dalam masa pemberontakan. Yuuri, yang biasanya ramah kepada siapa saja, bahkan sengaja datang ke kamarku hanya untuk memperingatkanku, "Onii-chan. Setelah aku keluar dari toilet, tolong jangan masuk ke sana sampai minimal 30 menit berlalu. Harus, ya."
Kairi dan Yuuri sudah berada di usia gadis remaja, jadi aku bisa memaklumi jika mereka berada di fase di mana mereka merasa risi terhadap kakak laki-lakinya. Namun, jika dibandingkan dengan cara mereka menempel dan bermanja-manja padaku saat SD dulu, sikap dingin mereka yang sekarang terasa sangat menyakitkan.
Kami yang dulu begitu rukun tanpa memedulikan hal-hal semacam itu, tampaknya telah berubah drastis setelah memasuki masa pubertas.
"Haaah..."
Saat aku mengalihkan pandangan ke arah kaki bersamaan dengan helaan napas, aku menyadari keberadaan suatu benda.
Itu adalah loose socks yang tampaknya dilemparkan begitu saja oleh Kairi asal-asalan. Kaos kaki itu tergeletak di sudut genkan, seolah sengaja ditinggalkan agar seseorang membereskannya.
Jika itu diriku yang dulu, sebagai kakak, aku pasti akan menegurnya, "Kairi! Kalau sudah dilepas, bawa bajumu ke mesin cuci!" Namun, sekarang situasinya berbeda...
"...Ya sudahlah, mau bagaimana lagi."
Bagaikan sedang memungut benda kotor, aku menjepit loose socks Kairi menggunakan ibu jari dan telunjuk, lalu melemparkannya ke dalam mesin cuci di ruang bersuci.
Berbeda dengan dulu, diriku yang sekarang tidak bisa lagi menegur adik-adikku. Di tengah sikap dingin yang mereka tunjukkan, menegur mereka dengan cara yang salah justru berisiko memperburuk hubungan kami. Ditambah lagi, aku tidak memiliki penampilan khusus atau bakat luar biasa seperti mereka; aku hanyalah orang biasa dengan tampang yang biasa-biasa saja.
Aku merasa, apa pun yang dikatakan oleh orang biasa yang menyedihkan ini kepada dua orang yang memiliki keistimewaan, mereka tidak akan mau menurut begitu saja...
"Yah, sudahlah, terserah saja."
Setelah mengembuskan napas panjang untuk kesekian kalinya hari ini, aku segera mencuci tangan dan berkumur di wastafel, lalu melangkah menuju ruang keluarga. Karena lampunya menyala, kemungkinan besar ada Yuuri atau Ibu di sana.
"Aku pulang... Lho, eh?"
Di meja besar yang berada di tengah ruang keluarga, tampak sosok Kairi dengan rambut pirang terangnya yang mencolok sedang sibuk menggoreskan pensil mekaniknya.
Kairi mengenakan pakaian yang sangat santai, berupa kaus berukuran longgar dan hot pants. Dari kerah bajunya yang longgar, belahan dadanya sedikit mengintip, dan pahanya yang berisi pun terekspos jelas. Kairi yang seorang gyaru memang sering mengenakan pakaian dengan tingkat eksposur tinggi seperti ini di rumah, meskipun ada aku yang seorang laki-laki, walaupun statusku adalah kakaknya.
"............"
Kairi terus menulis sesuatu dalam keheningan yang senyap. Karena sangat fokus, sepertinya ia tidak menyadari kedatanganku yang baru saja pulang.
Ternyata seorang gyaru pemberontak seperti Kairi bisa juga memegang pensil mekanik di rumah. Padahal di dalam hati, aku sempat meremehkaannya dan mengira dia tidak bisa apa-apa selain bermain ponsel pintar jika sedang berada di rumah.
Sambil menghampirinya dalam hati yang sedikit mencibir, aku melihat Kairi sedang menatap sebuah buku pelajaran berjudul [Pengantar Matematika SMP untuk Orang Bodoh]. Buku panduan yang judulnya memang terdengar konyol.
"...K-Kairi?"
"!?"
Begitu aku memanggilnya, tubuh Kairi langsung tersentak kaget dari punggung hingga ke bahunya—persis seperti adegan di film-film Ghibli—lalu ia menoleh ke arahku yang berada di belakangnya dengan wajah gusar.
"O-Onii!? Jangan tiba-tiba memanggil begitu dong, bikin kaget saja!"
Sembari mengekspresikan rasa terkejutnya, Kairi dengan cekatan menggunakan tubuh sintalnya untuk menyembunyikan buku pelajaran di atas meja dengan panik.
Dada besar Kairi tanpa ampun tertekan ke atas meja, membuat halaman buku pelajaran yang sedang terbuka menjadi terlipat dan kusut.
"Ah...! Ih, menyebalkan! Gara-gara Onii, buku pelajaranku jadi kusut, kan!"
"M-Maaf..."
Kairi membentakku dengan emosi yang meledak-ledak, seolah rambut pirangnya hampir berdiri karena marah.
"Aku sudah mengganggumu, ya. Setelah minum teh mugi, aku akan langsung kembali ke kamar, jadi belajarlah tanpa memedulikanku. Benar-benar maaf, ya."
"Eh... B-Bukan begitu! Aku... anu... maksudku..."
Wajah Kairi yang semula gusar berubah menjadi sendu, dan sejak tadi ia terus bertingkah serbasalah.
Aneh sekali. Jika itu Kairi yang biasanya, ia pasti akan melontarkan kata-kata ketus seperti, 'Sana cepat dogeza dan taruh uang ganti rugi di situ.' Namun, sekarang Kairi tampak ingin mengatakan sesuatu tetapi bibirnya hanya berkomat-kamit.
Meskipun ia sendiri yang menghentikan langkahku, pembicaraan ini sama sekali tidak ada kemajuan.
Suasana apa ini? Aku merasa canggung. U-Untuk sementara, sebaiknya aku saja yang membuka suara...
"Oh ya. Kaus kakimu yang tergeletak di genkan tadi sudah kumasukkan ke dalam mesin cuci."
"Eh, kaus kakiku?"
"Iya. Kalau dibiarkan tergeletak begitu saja di sana, bisa berbahaya kalau ada yang menginjaknya lalu terpeleset."
"—kasih."
"Hm?"
"...T-Terima kasih."
T-Terima kasih? Dia bilang terima kasih!?
Kairi yang sedang berada di puncak masa pemberontakannya mengucapkan terima kasih... Bagaimana pun aku memikirkannya, ini sangat aneh. Apakah telah terjadi sesuatu?
Ia belajar di rumah—hal yang tidak akan pernah ia lakukan dalam keadaan normal, dan sekarang ia bersikap sangat jujur... Meskipun perubahan sikap Kairi ini sangat mengusik pikiranku, untuk saat ini sebaiknya aku pura-pura tidak tahu saja.
"A-Aku kembali ke kamar dulu, ya."
"......Ya."
Aku pun meninggalkan ruang keluarga. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tetapi melihat Kairi si gyaru berambut pirang yang sudah menjadi langganan nilai merah itu belajar dengan sangat tekun, bagaimanapun juga terasa tidak wajar.
Ada apa dengannya...? Apa dia salah makan sesuatu?
Aku kembali ke kamarku sendiri. Sambil berganti pakaian dari seragam sekolah ke pakaian rumah, aku mencoba mencerna situasi yang baru saja terjadi.
Meskipun kedua adik kembarku memiliki kesamaan dalam hal penampilan fisik yang jauh lebih menonjol dibandingkan orang-orang di sekitar mereka, kepribadian mereka tidak sepenuhnya sama. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri.
Terutama dalam hal pelajaran, terdapat perbedaan yang sangat mencolok di antara keduanya. Kairi, si gyaru berambut pirang yang berada di ruang keluarga tadi, sangat tidak suka belajar, berbanding terbalik dengan kakaknya, Yuuri, yang merupakan murid teladan.
Berdasarkan cerita dari Ibu, Kairi selalu mendapat nilai merah dalam setiap ujian di SMP dan peringkatnya selalu berkisar di urutan terbawah. Dari segi penampilan, ia mewarisi gen Ibu yang mantan model fesyen sehingga memiliki standar yang tinggi sama seperti kembarannya. Namun, isi kepalanya jangankan berstandar rendah, mungkin sudah menjadi fosil.
Melihat Kairi belajar dengan serius saja sudah membuatku heran, apalagi ditambah dengan sikapnya yang mendadak sangat penurut.
"Aku bahkan sampai diberi ucapan terima kasih karena telah membereskan kaus kakinya... Hal seperti ini belum pernah terjadi lagi sejak kami masih SD."
Saat masih SD dulu, Kairi memiliki sisi kepribadian yang keras kepala dan tomboi, bahkan ia sering membuat Yuuri menangis. Namun, ia sangat manja dan selalu bersikap jujur kepadaku sebagai kakaknya.
"Meskipun sekarang dia sudah berubah menjadi seorang gyaru yang suka membangkang..."
Sambil berganti pakaian, aku terus memikirkan tentang Kairi. Tiba-tiba, pintu kamarku diketuk. Mendengar ketukan itu, aku yang sudah selesai berganti pakaian langsung menyahut, "Masuk saja, tidak apa-apa."
Pintu pun terbuka, dan Yuuri yang masih mengenakan seragam sekolah masuk dari lorong.
"Selamat datang kembali, Onii-chan. Aku berangkat ke tempat bimbingan belajar sekarang, ya."
"Ah, iya. Begitu ya, ternyata sudah jam segini."
Yuuri adalah adik perempuanku yang sangat cocok digambarkan sebagai gadis manis yang anggun, polos, dan berambut hitam panjang bergelombang. Yuuri mengikuti bimbel di dekat rumah kami. Setiap kali jam menunjukkan waktu seperti sekarang, ia selalu mendatangi kamarku untuk berpamitan sebelum meninggalkan rumah.
Benar juga. Sebaiknya aku menanyakan perihal Kairi kepada Yuuri. Siapa tahu dia mengetahui sesuatu.
"Yuuri, anu..."
"Ada apa, Onii-chan?"
"Bagaimana ya mengatakannya... Menurutmu, apakah sikap Kairi hari ini agak aneh?"
"Aneh?"
Yuuri mengerutkan alisnya dan memiringkan kepala. Tampaknya ia merasa bingung karena aku menanyakannya secara abstrak.
"Dia yang biasanya hampir tidak pernah belajar, tadi sedang mengerjakan buku latihan matematika di ruang keluarga, lho!"
"Kairi belajar menggunakan buku latihan di ruang keluarga...? Lho? Aneh ya. Padahal dia bilang kepadaku, 'Aku mau menelepon temanku, jadi jangan ke ruang keluarga, ya.'"
Hah? Apa yang dikatakan Kairi ternyata berbeda dengan apa yang dilakukannya.
Kenyataan ini membuatku semakin tidak mengerti. Mengapa dia harus sembunyi-sembunyi untuk belajar? Padahal kalau memang mau belajar, bukankah lebih baik jika dia meminta Yuuri untuk mengajarinya?
"Daripada memikirkan hal itu, ada sesuatu yang ingin kubicarakan dengan Onii-chan. Apa boleh?"
"Tentu saja boleh. Kenapa mendadak formal sekali?"
"Anu... Soal masalah toilet beberapa waktu lalu, maaf ya karena aku sudah berbicara dengan nada yang kasar?"
"Masalah toilet...? Oh, itu."
Aku teringat kembali saat Yuuri memperingatkanku agar tidak langsung masuk ke toilet setelah dirinya selesai menggunakan fasilitas tersebut.
"Setelah kupikirkan lagi, berbicara dengan nada seperti itu pasti akan membuat Onii-chan merasa sakit hati... Makanya, aku minta maaf!"
"Tidak apa-apa, kok. Lagipula menurutku apa yang Yuuri katakan itu ada benarnya, dan aku akan lebih berhati-hati mulai sekarang."
"Terima kasih, Onii-chan. Sebenarnya saat itu... hari pertamaku (menstruasi) sudah dekat, jadi perasaanku agak sensitif dan mudah kesal."
"Oh... B-Begitu ya."
O-Oh, jadi yang dimaksud dengan 'hari pertama' itu... adalah hal itu, ya.
"Aku juga minta maaf karena kurang peka, ya."
"Tidak apa-apa... Tapi, dengan begini kita sudah berbaikan, kan?"
"I-Iya."
Yuuri tersenyum manis lalu berkata, "Kalau begitu, aku berangkat bimbel dulu, ya!" setelah itu ia berlari kecil menyusuri lorong.
Gawat. Meskipun dia adik kandungku sendiri, harus kuakui kalau Yuuri itu sangat imut. Namun, selama beberapa tahun terakhir ini, rasanya Yuuri yang itu pun bersikap dingin kepadaku. Tidak mungkin juga setiap hari adalah 'hari pertamanya'...
Saat aku sedang memikirkan berbagai hal di dalam kamar, tiba-tiba ponselku berdering. Ada panggilan masuk dari Ibu.
"Halo?"
『Ah, Yuuto? Maaf ya, sepertinya pekerjaan Ibu akan selesai agak larut malam ini. Jadi, untuk makan malam, tolong belikan makanan di restoran keluarga atau tempat lain sewajarnya, ya?』
"Iya. Nanti akan kusampaikan juga pada Kairi."
『Terima kasih ya~』
Setelah memutuskan panggilan telepon, aku keluar dari kamar dan kembali menuju ruang keluarga untuk menemui Kairi.
"Kairi, hari ini Ibu pulang larut malam, jadi..."
Begitu aku melangkah masuk ke ruang keluarga, Kairi lagi-lagi terkejut melihat kedatanganku dan langsung menggunakan tubuhnya untuk menyembunyikan buku pelajaran di atas meja.
"K-Ketuk pintu dulu dong! Onii bodoh!"
"Biasanya juga tidak ada orang yang mengetuk pintu ruang keluarga! Lagipula, kenapa kamu harus sembunyi-sembunyi saat belajar begitu? Bukankah lebih baik kalau kamu meminta Yuuri untuk mengajarimu?"
"...Berisik!"
Dengan ekspresi kesal, Kairi menyisir rambut pirangnya ke belakang menggunakan jari-jari tangan. Ia lalu mengambil buku pelajarannya, bangkit berdiri, dan berniat berjalan melewatiku begitu saja untuk pergi dari sana.
"Tunggu dulu, Kairi! Hari ini sikapmu benar-benar aneh dalam banyak hal. Lagipula, kenapa kamu memakai buku pelajaran yang kekanak-kanakan seperti itu—"
Tepat saat aku mencengkeram bahu Kairi, ia langsung membalikkan badan dan menatapku dengan pandangan mata yang tajam.
"Hah? Kamu bilang aku kekanak-kanakan?"
Gawat—aku akan dipukul.
Di saat aku memejamkan mata karena ketakutan—sebuah sentuhan lembut terasa di bibirku. Rasanya begitu kenyal, empuk, dan lembut. Jangan-jangan ini, ci—
Saat aku membuka mata, ternyata jari telunjuk Kairi sedang menempel di bibirku.
"Mulut yang berisik harus diginiin tahu."
"K-Kairi?"
Kairi membawa jari telunjuk yang baru saja digunakannya untuk mengusap bibirku ke mulutnya sendiri, lalu menempelkannya begitu saja di bibir bawahnya yang berwarna merah muda.
Hei, astaga... itu kan, kecupan tidak langsung...
Melihat jarinya yang mengusap bibirnya sendiri dengan begitu sensual tepat di depan mataku, tubuhku seketika merinding meresponsnya.
"K-K-Kamu ini!"
"Apa? Jangan-jangan gugup, ya? Kita kan kakak-adik, sewajarnya hal seperti ini tidak perlu dimasukkan ke dalam hati, kan?"
Sembari berkata demikian, kali ini ia dengan sengaja menempelkan dadanya yang montok ke perutku.
Sensasi yang lebih menggoda hati pria dibanding apa pun yang pernah kusentuh selama ini langsung tersalurkan ke tubuhku. Teksturnya lebih lembut daripada bantal manik-manik, lebih kenyal daripada kue mochi di hari tahun baru, dan yang terpenting, kehangatan suhu tubuh manusianya terasa sangat nyata...
Meskipun sudah sangat jelas jika dilihat dari luar, aku tidak menyangka dada Kairi telah tumbuh sebesar ini... Perkembangannya yang sangat pesat ini benar-benar tidak terlihat seperti siswi kelas 3 SMP, dan ukurannya mungkin hampir tidak berbeda dengan dada para gravure idol berpayudara besar yang sering kulihat di majalah.
"Onii, kalau kamu mau mendengarkan keluh kesahku, mau aku lakukan hal yang lebih hebat lagi...?"
Hal yang... lebih hebat lagi.
Glek, aku menelan ludah dalam-dalam.
"Setelah ini kita mau pergi ke restoran keluarga, kan? Kalau begitu, kita mengobrol di sana saja, yuk?"
Saat itu, tatapan mata Kairi tampak seperti seseorang yang sedang merencanakan sesuatu. Sembari merasakan tekanan dada montok Kairi, aku mengangguk pelan.
"B-Baiklah. Aku akan mendengarkan keluh kesahmu, jadi sekarang cepat menjauh dan bersiap-siaplah."
"Hore! Kalau begitu, aku akan bersiap-siap dengan kecepatan penuh sekarang juga!"
Selesai dengan urusan itu, aku dan Kairi memutuskan untuk pergi ke restoran keluarga yang berada di sebelah apartemen kami untuk makan malam sekaligus mendengarkan keluh kesahnya.
☆☆
Namun, omong-omong... apa yang dimaksud dengan "hal yang lebih hebat lagi" yang dikatakan Kairi tadi, ya?
Selama menunggu Kairi berganti pakaian, perkataannya itu terus saja mengusik pikiranku. Semakin aku memikirkannya, imajinasi liar yang mesum kian membanjiri otakku.
Apakah aku boleh melakukan apa saja pada dadanya yang besar dan lembut itu sesukaku?
Kairi adalah seorang gyaru, dan meskipun masih kelas 3 SMP, dia tampaknya punya banyak pengalaman, jadi hal seperti itu bukan tidak mungkin terjadi...
"Tidak! Kairi itu adik perempuanku. Secara akal sehat, hal seperti itu sama sekali tidak boleh dilakukan... Ini kan bukan Ero Doujin!"
TLN : Bukan Fanpage ya bujang
Sambil menunggu persiapan Kairi di genkan, aku menggeleng-gelengkan kepala untuk mengusir segala pikiran kotor yang terus bermunculan. Di saat itulah, terdengar suara derap langkah kaki Kairi yang berlari menyusuri lorong.
"Maaf menungguuu."
Di atas kaus berkerah longgar yang dipakainya tadi, Kairi kini mengenakan jaket luar berbahan kulit warna hitam, dan di atas rambut pirangnya bertengger sebuah topi bermerek warna hitam pula. Gaya berpakaiannya yang santai namun tetap modis dan jeli dalam memadukan poin-poin busana ini benar-benar mencerminkan gaya khas seorang gyaru. Busana hitam memang sangat cocok dipadukan dengan rambut pirang, membuatnya terlihat sangat modis.
Berjalan di samping orang seperti dia dengan hanya mengenakan pakaian rumah yang lusuh rasanya agak...
"M-Maaf, sepertinya aku juga harus berganti pakaian dulu."
"Eh? Oh, ya sudah. Tidak apa-apa, sih."
Awalnya aku berniat pergi ke restoran keluarga dengan pakaian rumah saja. Namun, melihat adikku berpakaian semodis itu, aku jadi sedikit gengsi.
Aku kembali ke kamar, memakai celana skinny hitam, kaus putih, serta jaket kulit yang terbaring lama di dalam lemari pakaian, lalu keluar dari kamar.
"Maaf sudah membuatmu menunggu. Yok, berangkat."
Sembari meminta maaf kepada Kairi yang sudah menunggu di genkan, aku mengeluarkan kunci dari dalam saku.
"Heh. Onii... padahal kamu laki-laki kuper yang tidak populer, tapi punya juga ya baju seperti itu."
Kairi menunjuk ke arah pakaianku sembari membelalakkan matanya seolah merasa heran.
"J-Jangan meremehkanku, ya! Begini-begini juga aku pernah punya pacar sewaktu SMP dulu."
"Ah, yang itu, ya? Yang waktu Onii dijadikan dompet berjalan oleh siswi satu sekolah, lalu dicampakkan begitu saja setelah 2 minggu?"
"Ugh... Bagaimana kamu bisa tahu soal itu?"
Benar, seperti yang dikatakan Kairi, aku memang pernah berpacaran dengan seorang gadis cantik seangkatanku dulu... selama 2 minggu saja. Namun pada akhirnya, dia hanya menjadikanku dompet berjalan yang bisa dimanfaatkan, lalu mencampakkanku begitu saja setelah 2 minggu berlalu.
Sejak saat itu, aku mengidap rasa minder dan tidak percaya diri terhadap anak perempuan. Di SMA pun, aku sebisa mungkin menghindari percakapan dengan mereka. Pengalaman itu telah menjadi trauma mendalam bagi diriku, dan mungkin saja telah memicu gejala yang mirip dengan fobia terhadap wanita.
"Lagipula, kenapa cerita tentang aku yang dijadikan dompet berjalan bisa diketahui olehmu yang 1 tingkat di bawahku!?"
"Aku tahu segala hal tentang Onii tahu."
"Hah? Segala hal tentangku?"
"...I-Ih, sudahlah! Daripada membahas itu! Sekarang kita ke restoran keluarga dan lakukan sesi konsultasi masalahku!"
Sambil membuka pintu genkan, Kairi menarik lenganku dengan kuat. Setelah ditarik keluar, aku mengunci pintu dengan rapat, lalu masuk ke dalam lift berdampingan dengan Kairi.
Ada apa dengan Kairi, kenapa mendadak jadi se-agresif ini... Apa dia selapar itu?
Pada cermin vertikal yang terpasang di dinding lift, terpantul bayangan kami berdua yang sedang berdiri bersisian.
"Onii juga memakai jaket kulit, jadi kita berdua kelihatan seperti sedang memakai baju kembaran, ya?"
"Benarkah? Tapi kalau kasusnya di aku, karena postur tubuhku tidak sebagus dirimu, mungkin kelihatannya malah jadi norak."
"Ahaha! Kalau itu sih memang benar sekali."
"Bela aku sedikit dong."
Sudah berapa tahun ya, sejak terakhir kali aku bisa mengobrol santai seperti ini dengan Kairi?
Meskipun Kairi telah menjelma menjadi seorang gyaru berambut pirang, sosoknya yang sedang tertawa terbahak-bahak di sampingku ini tetaplah adik perempuanku yang dulu. Sebanyak apa pun penampilannya berubah, sifat aslinya ternyata tidak berbeda dengan masa-masa itu...
Sejak Kairi masuk SMP dan memulai masa pemberontakannya, ia menjadi sangat dingin kepadaku, dan percakapan di mana kami bisa saling tertawa bersama telah lenyap sepenuhnya. Aku bisa memaklumi sikap membangkangnya, dan hal itu mungkin merupakan sesuatu yang lumrah terjadi. Namun, penyebabnya bukan hanya Kairi semata. Aku juga... mungkin secara sadar telah berusaha menjaga jarak dengan Kairi dan Yuuri.
Rasa minder karena memiliki adik-adik yang cantik jelita sedangkan penampilanku sendiri selalu biasa-biasa saja, telah menciptakan jurang pemisah antara diriku dan kedua adik perempuanku.
"Enak ya jadi Kairi dan Yuuri. Kalian mewarisi standar ketampanan wajah dan proporsi tubuh yang luar biasa dari Ibu."
"Hah? Tentu saja itu sudah semestinya! Kecantikanku ini adalah bakat alami sejak lahir, dan fakta bahwa wajah Onii itu pas-pasan juga hal yang sama, kan? Yah, meskipun mungkin dulu waktu kecil Onii sempat dikira sebagai anak ajaib, sih?"
"Ugh..."
"Onii beruntung ya punya adik perempuan cantik seperti kami? Biasanya, laki-laki berwajah pas-pasan tidak akan bisa berdiri di samping gadis secantik dan semodis ini tahu~"
Kairi membusungkan dadanya yang besar itu dengan lebih menonjol lagi, sembari berbicara dengan angkuh dan penuh kebanggaan diri.
Sejak dulu, Kairi memang seorang narsisis akut yang sangat mencintai dirinya sendiri, dan tingkat kepercayaan dirinya jauh lebih tinggi daripada siapa pun di sekitarnya. Karena fakta bahwa dia adalah seorang gadis cantik tidak bisa dibantah... hal itu rasanya agak menyebalkan.
"M-Memangnya kalau gadis dengan penampilan mencolok seperti kalian adalah orang asing, aku juga tidak akan sudi untuk mendekat tahu!"
"Eh..."
Tepat saat aku menyelesaikan kalimatku, lift tiba di lantai satu. Begitu pintunya terbuka, aku langsung melangkah menuju lobi.
"...Hm?"
Ketika aku mulai berjalan, entah mengapa Kairi justru tertegun dengan wajah tercengang dan menghentikan langkah kakinya di dalam lift.
"Kairi? Ada apa? Ada yang ketinggalan? Atau mau ke toilet?"
"...T-Tidak ada apa-apa, kok!"
Kairi menarik topinya sedikit lebih dalam untuk menutupi wajahnya, lalu melangkah keluar dari lift. Karena sejak tadi sikapnya terus-menerus aneh, aku tidak menganggap hal ini sebagai sesuatu yang ganjil. Namun, jika dibandingkan dengan sikapnya yang begitu bersemangat beberapa saat lalu, kini wajah Kairi tampak muram dan masam.
☆☆
Sesampainya di restoran keluarga, kami diarahkan menuju meja bersofa yang berkapasitas empat orang. Aku dan Kairi pun duduk saling berhadapan.
"Aku pesan set hamburger saus demi-glace. Onii mau pesan apa?"
"Kalau begitu, aku set steak dengan saus ponzu parutan lobak (oroshi ponzu)."
"Baik, dimengerti."
Setelah menyelesaikan pesanan dengan cepat, aku langsung mengalihkan pembicaraan pada topik utama yang sedari tadi mengusikku.
"S-Sebelum mendengarkan keluh kesahmu... anu, bisa jelaskan lebih perinci tentang 'hal hebat' yang kamu katakan tadi?"
Benar, dibandingkan dengan masalah atau keluh kesahnya, hal itulah yang membuatku penasaran setengah mati. Sebagai seorang kakak, jika Kairi merencanakan sesuatu yang aneh, aku harus memperingatkannya dengan benar.
"Ahaha! Aduh, Onii ini tidak sabaran sekali, sih."
"Aku tidak tidak sabaran, kok."
Kairi yang duduk di hadapanku tertawa sembari menyentil ujung hidungku dengan kuku panjangnya yang berwarna merah muda.
"Yang dimaksud dengan 'hal hebat' olehku itu adalah..."
"I-Iya."
Aku menelan ludah dalam-dalam, lalu menenggak habis air putih dingin yang ada di hadapanku. K-Kira-kira hal seperti apa...
"Aku bakal pakai mulut untuk..."
"M-Mulut?"
Jangan-jangan... hal itu! Fu, Fufufufu!
"Mengecupmu."
"......Hah?"
Pikiranku seketika langsung lumpuh. Padahal aku mengira hal itu adalah sesuatu yang jauh lebih mesum, tapi... apa? Kecupan?
Di tengah keheningan yang mendadak ini, suara es batu yang berdenting di dalam gelas air putih yang baru saja diantarkan pelayan terdengar jelas di telingaku.
...Tunggu sebentar.
"Jangan-jangan, yang kamu maksud dengan 'hal hebat' itu cuma itu?"
"Apa? keberatan? K-Kalau yang tadi kan pakai jari! Maksudku, kali ini aku akan mengecupmu langsung dengan bibirku sendiri! Jangan membuatku mengatakan hal memalukan seperti ini sampai dua kali dong!"
Mengecup adik perempuan sendiri... Haaah.
"Reaksi macam apa itu! Ka-Kalau begitu! Jika masalahku sudah selesai nanti, aku akan melakukan hal yang ingin Onii lakukan. Bagaimana, setuju tidak?"
Meskipun dia bertanya begitu...
"Y-Yah... soal permintaan itu akan kupikirkan nanti saja. Untuk saat ini, mari kita dengar dulu apa keluh kesahmu."
"Eh, benarkah? Kamu mau mendengarkan masalahku!?"
"Iya, lagipula kita datang ke restoran keluarga ini kan memang untuk itu. Ayo, katakan saja."
"Eh, kalau begitu, anu... begini..."
Sembari menundukkan pandangannya ke arah meja dengan malu-malu, tubuh Kairi tampak bergerak serbasalah. Entah mengapa, ia terlihat jauh lebih malu daripada sebelumnya.
Apakah masalahnya ini merupakan sesuatu yang jauh lebih sulit untuk dikatakan daripada sekadar sebuah "kecupan"...? Lagipula, merasa malu hanya karena sebuah kecupan saja sebenarnya sudah terdengar kekanak-kanakan.
"Ah! Aku..."
Kairi yang semula cenderung menunduk kini menatap langsung ke mataku, lalu akhirnya membuka suara dengan mantap.
"A-Aku... ingin masuk ke SMA yang sama dengan Onii."
"Eh...?"




Post a Comment