NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Imouto ga Gimai tte Koto wo Ore dake ga Shiranai ~ Futago no Bijin Shimai wa Nanimo Shiranai Ani wo Otoshitai~ V1 Chapter 3

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Chapter 3

"Potensi Sang Gyaru"

──Keesokan harinya, sepulang sekolah.


Sehari setelah membuat janji dengan Kairi, sesi bimbingan belajar untuknya pun resmi dimulai. Mengingat sekarang sudah bulan September, dan mengesampingkan fakta apakah Kairi—yang selama ini sama sekali tidak pernah belajar—bisa mengejar ketertinggalannya atau tidak... hal pertama yang harus kulakukan adalah menanggapi keseriusannya.


"Aku pulang—"


Saat aku kembali ke apartemen dan melongok ke ruang tamu, Kairi ternyata sudah pulang lebih dulu dariku. Dia sedang duduk dengan tenang di depan meja ruang tamu.


"Onii lama banget, sih!"


"Maaf, maaf. Tadi ada urusan sebentar di toko buku."


Sama seperti kemarin, Kairi mengenakan kaus tipis berkerah longgar (yang membuat belahan dadanya yang besar sesekali mengintip), serta celana hot pants yang super ketat di bagian bawah.


Baik belahan dada maupun pahanya, kulit gyaru Kairi yang sedikit kecokelatan akibat terbakar matahari itu mau tidak mau langsung tertangkap oleh mataku. Perkembangan tubuhnya benar-benar terlalu pesat sampai di tahap membuatku ragu apakah dia benar-benar seorang anak SMP... Tidak, tidak, daripada memikirkan hal itu sekarang.


"Baiklah, mari kita mulai belajarnya."


Aku meletakkan tas sekolahku di lantai, menggulung lengan seragamku, lalu duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan Kairi.


"Kairi, coba lihat ini."


"Ini apa?"


Aku mengeluarkan beberapa buku pelajaran dari dalam tas dan membentangkannya di atas meja.


"Supaya kamu yang kemampuan akademiknya hancur lebur ini bisa lulus ke SMA-ku dalam waktu beberapa bulan tersisa, aku sengaja membelikan satu set versi terbaru dari buku rangkuman materi yang dulu kugunakan saat ujian masuk."


"Hancur lebur itu keterlaluan banget tahu!"


"Tapi kenyataannya memang begitu, jadi mau bagaimana lagi? Daripada itu, ayo lihat."


Aku menata buku-buku pelajaran yang kubeli di toko buku tadi ke atas meja.


Semalam, setelah aku menceritakan kepada Ayah bahwa Kairi berniat masuk ke SMA yang sama denganku, Ayah langsung memberikan uang untuk membeli buku pelajaran. Oleh karena itu, sepulang sekolah hari ini aku mampir ke toko buku dan membeli beberapa buku referensi yang sekiranya bagus.


Bagi diriku yang setiap hari selalu kekurangan uang saku, sebenarnya aku ingin menyisihkan sedikit dari uang pemberian Ayah itu sebagai upah mengajar, tetapi sebagai seorang kakak, aku menahan keinginan itu sekuat tenaga.


"Pertama-tama kita mulai dari matematika dulu. Kita akan mengerjakan bagian yang sempat kuajarkan sedikit kemarin."


"U-Uh, iya... Tapi sebelum itu—Onii, mau makan camilan?"


Kairi menyodorkan sekotak camilan cokelat berbentuk jamur bermerek 'Kinoko no Numa' yang ada di atas meja ke arahku.


"Camilan? Tumben kamu perhatian sekali... Tapi aku sebenarnya lebih suka tim 'Takenoko no Kusa' (camilan berbentuk rebung) daripada 'Kinoko no Numa', lho."


"Kalau protes tidak akan kuberi."


"E-Eh, minta! Terima kasih ya, Kairi."


Aku menerima kotak camilan itu dari Kairi dan mengambil satu buah.


Hmm, perbandingan antara cokelat dan biskuitnya benar-benar pas—eh.


"...Bukan begitu! Malah membahas ini, ayo cepat belajar!"


"Onii, suapi aku juga, dong."


"...Hah?"


"Aku juga mau makan. Ayo cepat suapi."


Kairi membuka mulutnya lebar-lebar sambil berkata "aaahn" dengan tampang yang kelihatan bodoh. Ada yang aneh dengan sikapnya sejak kemarin, apa hari ini otaknya juga masih agak geser?


Tapi, sejak dulu Kairi memang punya kebiasaan bermanja-manja secara tidak langsung... Tidak, tidak, di usianya yang sekarang, rasanya tidak mungkin dia masih ingin bermanja-manja seperti itu. Entah apa yang sedang dia pikirkan, tapi karena aku ingin segera mulai belajar... ya sudahlah, mau bagaimana lagi.


Aku mengambil satu buah cokelat jamur, lalu mengarahkannya ke depan Kairi—eh?!


"Hap."


Tepat saat tanganku terulur ke arah Kairi, dia langsung menyambarnya bagai ikan yang mendapati umpan. Tidak hanya cokelat jamurnya, dia bahkan ikut mengulum jari tanganku.


"K-K-Kamu...!"


Sembari membuat suara kecapan basah, Kairi mengulum jariku dan menjilati ujung jariku secara sensual dengan lidahnya yang terasa sedikit kasar.


Wajah Kairi yang sedang mengulum dan mengisap jariku tepat di depan mataku terlihat terlalu erotis... Lagipula, kenapa aku harus mengalami hal seperti ini dari adik perempuanku sendiri, sih?


"...Haaah. Enak tidak?"


"A-Apa yang kamu lakukan, sih?!"


"Kemarin di restoran keluarga aku kesal karena Onii mengejekku bodoh dan amatir, makanya aku sudah belajar banyak hal! Erotis, kan?"


"Daripada membuang waktu untuk mempelajari hal seperti itu, lebih baik kamu menghafal satu kosakata bahasa Inggris!"


"Apaan sih, Onii? Kamu tersipu, ya? Cuma gara-gara jarinya diisap oleh adiknya sendiri langsung tersipu, Onii benar-benar kelihatan seperti perjaka."


Bocah ini, dia pasti asal bicara tanpa tahu apa arti kata "perjaka" yang sebenarnya.


"Aku mau cuci tangan dulu."


"Kok begitu! Padahal aku melakukannya sebagai hadiah untukmu, lho!"


"Apanya yang hadiah!"


"...A-Abisnya, aku dengar anak laki-laki bakal langsung terangsang kalau digituin."


Kairi mengerucutkan bibirnya sambil memainkan rambut pirangnya yang terurai di bahu dengan cara memutarnya dengan jari.


"Dasar gyaru polos..."


Aku bergumam pelan sambil mencuci tanganku di wastafel dapur.


Tak disangka, ternyata Kairi masih sangat murni. Mengingat dia seorang gyaru, citranya identik dengan gadis yang sering bermain dengan banyak laki-laki... tapi sepertinya kenyataannya tidak seperti itu.


Ketika aku kembali ke meja, Kairi tampak sedang membolak-balik halaman buku pelajaran yang baru kubeli dengan penuh rasa ingin tahu.


"Kairi, apa di SMP tidak ada anak laki-laki yang kamu sukai? Lagipula, karena kamu seorang gyaru, mungkinkah berandalan dari kelompok yang sama?"


"Aku tidak punya teman berandalan, kok... Tapi, p-punya kok anak laki-laki yang disukai."


"Heh..."


Ternyata Kairi memang punya anak laki-laki yang dia sukai. 


Yah, mengingat Kairi sudah berada di usia puber, itu adalah hal yang sangat wajar.


"A-Aku belajar mati-matian seperti ini juga demi anak laki-laki yang kusukai itu, tahu!"


Kairi berucap dengan nada sedikit panik sembari menggenggam kembali pensil mekaniknya.


Oh, begitu rupanya. Aku sempat heran kenapa dia mendadak ingin mengubah sekolah pilihannya ke SMA-ku... Ternyata alasannya karena dia ingin masuk ke SMA yang sama dengan anak laki-laki yang dia sukai. Mengingat targetnya adalah masuk ke sekolahku, berarti anak laki-laki itu adalah murid yang cukup berprestasi. Kisah cinta antara murid teladan dan seorang gyaru... Heh, boleh juga untuk didukung.


"Kalau begitu, ayo berjuang keras. Demi anak laki-laki yang kamu sukai itu, kan?"


"~~~gh!"


Kairi mendadak menatap tajam ke arahku dengan wajah memerah.


☆☆


Dua jam telah berlalu sejak kami mulai belajar.


Suasana di ruang tamu begitu hening hingga hanya terdengar suara ujung pensil mekanik Kairi yang menggores kertas. Konsentrasi Kairi benar-benar sangat tinggi. Sama seperti kemarin saat dia tidak menyadari kedatanganku di ruang tamu, tampaknya Kairi adalah tipe orang yang akan tenggelam sepenuhnya begitu memasuki mode konsentrasi.


Menjelang jam 6 sore, pintu ruang tamu terbuka, dan Yuuri yang masih mengenakan seragam sekolah melongokkan kepalanya ke dalam.


"Onii-chan, aku berangkat ke tempat bimbingan bel—eh, kalian sedang belajar?"


Yuuri memandangi sosok Kairi yang sedang belajar dengan serius seolah melihat sebuah pemandangan yang langka, lalu dia mengalihkan pandangannya kepadaku.


"Kalau begitu, aku berangkat ke tempat bimbingan belajar dulu, ya. Tolong sampaikan juga pada Kairi agar dia semangat belajarnya!"


Setelah menitipkan pesan itu kepadaku, Yuuri mengedipkan sebelah matanya lalu berbalik pergi. Aku mengangguk kecil dan mengantarkan kepergian Yuuri dari ruang tamu dengan pandanganku. 


Yuuri benar-benar sosok adik perempuan yang dapat diandalkan. Dia sudah tumbuh menjadi sangat dewasa, sampai-sampai aku tidak bisa membayangkan kalau dulu kami selalu bertengkar saat masih kecil. Dia tidak hanya memiliki kepribadian yang baik, tetapi juga berwajah sangat cantik. Dia benar-benar kebalikan dari kakaknya yang berwajah pas-pasan dan biasa saja ini. Dia adalah adik yang membanggakan.


"Hei Onii, tolong ajarkan bagian yang ini."


"Ah, iya."


Kairi bertanya sambil menunjuk ke bagian soal yang tidak dia pahami. Padahal tadi Yuuri sempat datang, tetapi dia sama sekali tidak menoleh sedikit pun... Konsentrasinya benar-benar luar biasa. Padahal dia adalah seorang siswi SMP berandalan yang berambut pirang, memakai kuteks, serta berdandan dan memakai parfum dengan sangat mencolok...


Mempunyai semangat untuk belajar memang hal yang bagus, tetapi apakah Kairi sebegitu menyukai anak laki-laki incarannya itu sampai-sampai bisa menjadi seserius ini? Jika dia memang se-bertekad itu... daripada aku yang mengajarinya...


"Dengar, Kairi. Kalau kamu bisa seantusias ini dalam belajar, kurasa aku bisa meminta orang tua kita untuk memasukkanmu ke tempat bimbingan belajar yang sama dengan Yuuri... Bagaimana?"


"Tidak usah! Aku tahu biaya tempat bimbingan belajar itu sangat mahal. Lagipula di waktu-waktu sekarang, mana ada tempat bimbingan belajar yang mau mengajari materinya dari nol dengan sabar? Oleh karena itu, bagiku cukup di 【Bimbingan Belajar Onii】 saja."


"Apa-apaan 【Bimbingan Belajar Onii】 itu."


"Lagipula... kasusku ini punya kemungkinan gagal yang sangat tinggi, jadi aku tidak tahu diri kalau sekarang harus meminta hal yang muluk-muluk kepada Ayah dan Ibu."


Secara tidak terduga, Kairi melontarkan argumen yang cukup realistis. Padahal sampai kemarin dia masih bersikap sok santai meskipun nilai hensachi-nya tidak mencukupi...


"Seperti yang kukatakan di restoran keluarga kemarin, kalau aku lulus ke SMA itu, aku akan melakukan apa saja untukmu sebagai tanda terima kasih. Jadi, Onii juga harus semangat."


"Ta-Tanda terima kasih... ya."


"Kamu boleh menyentuh tubuhku, dan juga... ciuman juga boleh, kok!"


Kairi menunjuk ke arah belahan dadanya yang lembut, meraba-raba pahanya yang kenyal, dan terakhir menunjuk ke arah bibirnya sendiri.


"A-Aku tidak akan meminta hal-hal seperti itu!"


"Pembohong. Aku tahu ya kalau Onii selalu mencuri pandang ke arah dadaku?"


"Aku tidak melihatnya! Mana mungkin aku m-melihat dada adik perempuanku sendiri!"


"Astaga... Onii, asal tahu saja, perempuan itu adalah makhluk yang sangat sensitif terhadap pandangan mata, lho? Kami bisa tahu semuanya, jadi berhentilah membuat alasan."


"B-Berisik. Kamu sendiri yang salah karena memakai kaus seperti itu."


Aku langsung menyindir bagian kerah kausnya yang longgar sehingga membuat belahan dadanya tampak mengintip samar-samar.


"Ah, kalau begitu kapan-kapan ayo kita pergi berbelanja bersama? Aku akan membeli baju yang ingin Onii lihat saat aku memakainya."


"Iya, iya. Itu nanti saja setelah ujianmu selesai."


"Eeeh..."


"Asal kamu tahu, Kairi dilarang keras 'bermain' sampai ujian selesai."


"...B-Benaran?"


"Bukankah sudah kubilang kalau aku akan mendampingimu dengan tegas? Hari libur pun kamu harus belajar di sini bersamaku dari pagi sampai malam."


"Bersama Onii... di hari libur juga?"


"Kenapa? Kalau keberatan, aku mundur saja."


"B-Bukan begitu! Terima kasih... Onii."


Kairi mengucapkan rasa terima kasihnya dengan sudut bibir yang melengkung canggung. Gaya bicaranya yang tidak terbiasa mengucapkan terima kasih itu benar-benar mencerminkan kepribadian Kairi yang biasanya.


"Kalau begitu, mari kita lakukan tes kecil untuk menguji materi sejauh ini."


"Baiikk."


Dari sana, mereka melakukan tes kecil selama beberapa menit untuk mengukur tingkat pemahaman materi. Kairi mengerjakannya dengan tingkat konsentrasi yang sama tingginya seperti sebelumnya, menyelesaikan soal demi soal satu demi satu.


"Selesaaai. Onii, tolong koreksi, ya."


Bagian mengoreksi adalah tugasku. Beberapa waktu yang lalu dia dengan percaya diri mengatakan nilai hensachi-nya 40, tapi mari kita lihat seberapa banyak materi yang sudah melekat di otaknya.


"...Hmm?"


Pena merah di tanganku terus-menerus memberikan tanda centang benar. Tes kecil matematika ini diambil dari materi yang baru kuajarkan kemarin, dan hasilnya: dari 30 soal, semuanya terjawab dengan benar. Bahkan soal pembuktian yang rumit—yang kuyakin pasti akan salah dia kerjakan—jawabannya hampir persis sama dengan kunci jawaban...


"Hei, Kairi. Kamu tidak sedang menyontek kunci jawabannya secara bulat-bulat, kan?"


"Kunci jawaban...? Aku sama sekali tidak melihat hal seperti itu, lagipula dari tadi kan Onii yang terus memegangnya."


"B-Benar juga, sih."


Mengingat ini adalah Kairi, aku mengira dia akan langsung melupakan rumus matematika dalam sekejap. Dan untuk soal pembuktian, aku sengaja baru mengajarkannya sekilas karena berniat membahasnya secara mendalam nanti.


"Jangan-jangan kamu terkejut karena soal pembuktiannya benar semua? Sebenarnya hari ini aku sempat diajari triknya oleh guru di sekolah. Begitu aku menerapkannya, soal-soal ini jadi langsung bisa kukerjakan dengan lancar."


"Kairi, kamu..."


"Apa? Ayo puji aku, Onii~"


Memiliki daya konsentrasi, daya ingat, dan bahkan kemampuan aplikasi materi... jangan-jangan adik gyaru-ku ini sebenarnya sangat pintar?


☆☆


Beberapa hari telah berlalu sejak Kairi dan Onii-chan mulai belajar bersama di ruang tamu. Sesi belajar berdua itu kini telah menjadi pemandangan yang biasa bagi keluarga kami. Mereka terus melakukannya sampai sekitar jam 9 malam saat aku pulang dari tempat bimbingan belajar. Seiring berjalannya hari, aku bisa merasakan jarak di antara mereka berdua—baik secara psikologis maupun fisik—menjadi semakin dekat.


Cuma Kairi saja, curang...


Aku menjadi satu-satunya di antara saudara kandung yang sepenuhnya dicampakkan ke luar.


Pada suatu hari libur. Biasanya jika hari libur tiba, Kairi akan berada di kamar sambil menelepon teman-temannya dengan suara berisik yang bodoh. Namun akhir-akhir ini, karena dia belajar dengan Onii-chan di ruang tamu, aku jadi bisa belajar mandiri sendirian di kamar pada hari libur.


Sebenarnya, di hari libur seperti ini aku juga ingin ikut bergabung ke dalam sesi belajar mereka berdua... Tapi, jika aku melakukan itu, entah mengapa rasanya aku seperti kalah dari Kairi. 


Ikut serta dalam sesi belajar yang diprakarsai oleh Kairi terasa seperti sedang meminta bagian sisa, dan itu hanya memberiku rasa kekalahan. Namun, karena mengkhawatirkan kondisi mereka berdua sampai-sampai tidak bisa berkonsentrasi pada belajarku sendiri, aku sesekali melongok ke ruang tamu. Berpura-pura meminum teh gandum yang ada di dalam kulkas, aku mengamati gerak-gerik mereka berdua dari arah dapur.


"Hei, hei, Onii. Apa kalimat bahasa Inggris yang ini sudah benar?"


"Hmm? Coba kulihat."


Tampaknya sekarang mereka sedang belajar bahasa Inggris, mengerjakan soal-soal latihan persiapan ujian yang baru-baru ini dilakukan di sekolah.


Kairi itu, mendadak berlagak sok serius... sebegitu sukanya ya kamu dengan Onii-chan. Padahal baru minggu lalu kamu menyebut koleksi pakaian dalam Onii-chan milikku sebagai benda kotor, dan merundung Onii-chan dengan kata-kata kasar seperti menyuruh memisahkan pakaiannya saat dicuci...


Onii-chan juga sama saja. Bisa-bisanya dia memaafkan apa yang telah dilakukan Kairi kepadanya dengan semudah ini... Padahal daripada gyaru berandalan yang tsundere seperti itu, aku yang anggun ini pasti akan menerima segala hal tentang dirinya.


"Bagus, kalimat bahasa Inggris ini sudah benar. Tidak ada kesalahan ejaan juga."


"Ehehe, kemampuan serapku mantap banget, kan?"


Bisa bermesraan dengan Onii-chan dalam jarak sedekat itu, membuatku iri...


Meskipun aku merasa cemburu kepada Kairi yang bisa menghabiskan waktu bersama Onii-chan, aku berusaha sekuat tenaga untuk menahan perasaan ini.


Tidak apa-apa... tidak apa-apa, Yuuri. Ini adalah saatnya untuk bersabar. Saat di mana Onii-chan merasa kecewa pada Kairi adalah saatnya bagiku untuk menyerang. Kairi tidak mungkin bisa lulus ke SMA Shuugakuin, jarak yang dekat ini pun hanya untuk sementara waktu, dan yang akan tertawa paling akhir adalah aku. Oleh karena itu, daripada memikirkan urusan asmara untuk saat ini, aku harus berkonsentrasi pada pelajaran di hadapanku. 


Pada akhirnya, setelah perasaan Onii-chan berubah menjadi, "Memang Yuuri lah yang terbaik daripada Kairi," barulah aku akan mendesaknya dengan posisi yang jauh lebih unggul.


"Jika sudah begitu... aku akan berada di posisi puncak yang tak tertandingi."


Orang yang akan merebut keperjakaan Onii-chan adalah aku sendiri. Pergi berkencan dengan Onii-chan, pergi ke hotel, pergi ke hotel, pergi ke hotel...


"H-Hei, Yuuri?"


Tidak... daripada melakukannya di tempat seperti hotel, bagaimana ya jadinya Onii-chan kalau aku sengaja melakukannya di atas tempat tidur Kairi? Perasaan bersalah kepada Kairi yang bercampur aduk dengan kenikmatan yang luar biasa pasti akan membuat pikirannya melayang karena terlalu bersemangat~?


"Yuuri!"


"Eh?"


Saat aku sedang tenggelam dalam khayalan di depan kulkas dapur, Onii-chan memanggilku.


"Anu, Onii-chan?"


"Sejak tadi kamu terus berdiri mematung di depan kulkas, aku jadi bertanya-tanya ada apa."


Memikirkan diriku yang ada di dapur bahkan sampai rela repot-repot beralih dari ruang tamu... Onii-chan, kamu pasti menyukaiku.


"Hei, Yuuri?"


"D-Daripada memikirkan hal itu! Onii-chan, bagaimana perkembangan Kairi?"


"Ah, dia berjuang keras, kok. Anak itu di luar dugaan ternyata cukup pintar belajar."


"H-Hee."


Karena Onii-chan itu orang yang baik, aku yakin dia hanya sedang berbasa-basi.


"Yuuri juga harus semangat belajar untuk ujiannya, ya? Kalau ada materi yang tidak kamu pahami, bilang saja padaku."


"Onii-chan... terima kasih. Kalau begitu, aku kembali ke kamar dulu, ya?"


"Oh, ya."


Aku meletakkan gelas teh gandum di wastafel, lalu melangkah keluar ke koridor melalui pintu ruang tamu.


“Aku begitu bahagia sampai rasanya bisa basah, Onii-chan... ♡”


☆☆


Keesokan harinya, saat jam istirahat makan siang.


Setelah menghabiskan makanan jatah sekolah dengan cepat, aku segera melangkah menuju ruang OSIS seperti biasanya. Di SMP ini, aku menjabat sebagai ketua OSIS. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa ruang OSIS adalah kamar pribadiku sendiri.


Yah, secara teknis kepengurusanku akan dibubarkan dan digantikan oleh generasi baru pada bulan Oktober bulan depan. Namun sampai saat itu tiba, tempat ini adalah ruang privasiku sebagai ketua OSIS.


Begitu tiba di ruang OSIS, aku mendudukkan diri di kursi empuk berdesain mewah layaknya kursi seorang direktur, lalu mengembuskan napas panjang.


"Haaah... Onii-chan."


Ucapan penyemangat dari Onii-chan kemarin membuat perasaan cintaku kepadanya menjadi semakin membara. Kuikir dia hanya memperhatikan Kairi saja... tapi ternyata memang dasar Onii-chan kesayanganku. Dia tetap peduli dan memberikan dukungannya kepadaku.


Hanya dengan memikirkan hal itu saja, tubuh bagian bawahku sudah terasa berdenyut menegang—eh.


Di tengah pikiran mesumku itu, tiba-tiba pintu ruang OSIS terbuka lebar dengan suara dentuman yang keras.


"Onee-chan! Ketemu!"


Sosok yang muncul dari balik pintu itu adalah Kairi. Seperti biasa, dia mengenakan seragam sekolah dengan berantakan, melangkah masuk ke ruang OSIS sambil menggoyang-goyangkan dadanya yang kancing atasnya sengaja dilepas.


"...Kairi, ada urusan apa? Tempat ini tidak boleh dimasuki oleh orang selain anggota OSIS—"


Kairi berjalan mendekat ke hadapanku, lalu tiba-tiba menggebrak meja dengan keras.


"Waktu itu aku sudah menerima taruhan yang Onee-chan usulkan, kan?"


Taruhan yang kuusulkan... maksudnya kesepakatan yang kami buat saat Rapat Saudara Tiri tentang 'siapa pun yang berhasil memikat Onii-chan lebih dulu, dialah yang boleh memberi tahu fakta bahwa mereka adalah saudara tiri', ya.


"E-Eh, iya..."


"Kalau begitu, sekarang giliran aku yang mengusulkan taruhan, boleh kan?"


"Hah?"


Kairi melontarkan perkataan yang tidak jelas, lalu mengarahkan jari telunjuknya tepat ke ujung hidungku.


"Ayo kita bertaruh dengan taruhan 'Kencan Natal' bersama Onii, Onee-chan!"


Bertaruh demi mendapatkan kencan Natal? Kairi yang menyelonong masuk ke ruang OSIS tanpa izin ini tiba-tiba saja melontarkan ide yang sangat aneh.


"K-Kencan Natal? Natal itu kan masih dua bulan lebih dari sekarang?"


"Memang sih, tapi..."


"Tapi apa?"


Kairi memalingkan pandangannya sedikit, namun tetap melanjutkan bicaranya.


"Onee-chan... diam-diam kamu berniat memanfaatkan celah saat aku sedang sibuk belajar mati-matian untuk menghabiskan malam Natal berduaan dengan Onii, kan?"


Sebuah kejutan instan menusukku, rasanya bagaikan ditikam oleh pisau yang sangat tajam. Tepat seperti yang Kairi katakan, salah satu rencana dalam program "Perebutan Onii-chan" milikku memang melibatkan rencana untuk mengajak Onii-chan pergi ke suatu tempat pada hari Natal.


Namun... bagaimana bisa Kairi mengetahui hal itu?


"...A-Apa buktinya?"


"Di dalam laci meja belajarmu ada banyak sekali brosur tentang acara-acara perayaan Natal, tahu."


Apa...?! Benda-benda itu sampai ketahuan olehnya.


"Kairi! Membongkar barang milik orang lain secara sembarangan itu melanggar kesopanan, meskipun kita ini saudara!"


"Aku tidak sudi diceramahi oleh Onee-chan sesat yang suka mencuri dan mengendus celana boxer milik Onii!!"


Sanggahan Kairi terlalu kuat, hingga untuk pertama kali dalam hidupku, aku kalah dalam adu argumen dengan adik perempuanku sendiri.


T-Tidak, aku sama sekali tidak salah. Seorang adik perempuan yang mengambil celana dalam kakaknya untuk dinikmati adalah tindakan wajar yang sudah diwariskan sejak zaman purba, dan merupakan fenomena yang sangat mungkin terjadi pada masa pubertas. Hanya saja orang-orang tidak menyuarakannya, tapi aku yakin seluruh adik perempuan di negara ini pasti mengoleksi celana dalam kakak laki-laki mereka, pasti.


Benar sekali... Kairi lah yang aneh di sini.


"Mengingat ini adalah Onee-chan, kamu pasti berniat melakukan sesuatu pada Onii di hari Natal, kan? Seperti membiusnya dengan obat lalu melakukan hal-hal yang aneh."


"Hal aneh apa maksudmu? Contohnya?"


"I-Itu..."


Wajah Kairi merona merah, lalu dia memalingkan pandangannya perlahan.


"P-Paling... seperti ciuman, kan?"


"Hah...?"


Sejak dulu aku memang sudah menduganya, tapi apakah pengetahuan seksual Kairi memang sedangkal ini? Padahal pilihan aktivitas yang dilakukan saat hari Natal itu cuma ada dua, kalau bukan ●●●Z-Kyun ya ●●●B-Kyun.


"J-Jangan membuatku mengatakan hal yang memalukan, dong!"


"Lalu, bagaimana detail taruhannya?"


"Jangan mendadak jadi tenang begitu, dong!"


Kairi terengah-engah sampai pundaknya naik turun. Setelah berdeham sekali, dia mulai menjelaskan perihal taruhannya.


"Taruhannya akan ditentukan pada ujian berikutnya!"


"Ujian berikutnya... maksudmu ujian bulan November?"


"Mata pelajarannya matematika."


"Kairi yang menentukan mata pelajarannya? Bukankah itu sedikit licik?"


Saat aku menunjukkan hal itu, wajah Kairi tampak menjadi agak masam.


"T-Tentu saja tidak apa-apa. Anggap saja ini sebagai handicap untukku."


"Tapi rasanya itu tidak adil."


"Jangan-jangan... Onee-chan merasa takut, ya?"


"Hah?"


"Takut kalah dari aku yang sampai beberapa waktu lalu sama sekali tidak pernah belajar? Wah, payah sekali."


Jika itu terjadi di situasi biasa, aku pasti bisa mengabaikan provokasi tersebut dengan tenang. Namun, harus kuakui bahwa provokasinya kali ini benar-benar memicu emosiku. Ditambah lagi dengan rasa cemburu karena belakangan ini Onii-chan dimonopoli olehnya, rasa stresku terhadap Kairi akhirnya meledak.


"...Sebaiknya kamu jangan terlalu melonjak, Kairi. Onii-chan itu hanya terpaksa menemanimu belajar karena merasa kasihan, karena bagaimanapun juga, orang yang ada di hati Onii-chan sudah jelas adalah aku."


"Khayalan Onee-chan berat banget, sih. Padahal cuma bisa mengendus celana dalam saja tanpa bisa melakukan pendekatan apa pun ke Onii~"


Aku menjadi sangat tersulut emosi. Aku langsung bangkit berdiri dari kursi direktur yang kududuki, lalu menubrukkan dadaku ke dada Kairi.


Kami berdua saling menubrukkan dada—yang ukurannya terbilang besar untuk ukuran anak SMP—dan saling melempar tatapan tajam yang sengit.


"Kasih sayang dari Onii-chan hanya milikku seorang. Seorang gyaru seperti Kairi sama sekali tidak pantas mendampingi Onii-chan."


"Hah? Onii itu sangat suka gyaru, dan yang paling penting, dia terpikat oleh dadaku yang indah. Onii tidak akan pernah tertarik dengan dada busuk milik perempuan sialan seperti Onee-chan yang sok anggun dan selalu menyembunyikan sifat aslinya!"


Menahan sekuat tenaga kepalan tanganku yang nyaris melayang karena rasa stres, aku menyipitkan mata.


"Baiklah. Kalau begitu mari kita buat semuanya jelas lewat taruhan yang Kairi usulkan tadi. Jika Kairi menang, aku akan membatalkan semua rencana Natalku, dan aku akan pasrah belajar dengan tenang di kamar saat hari Natal nanti."


"Aku juga setuju dengan syarat itu. Kalau aku kalah, aku akan belajar di kamar saat hari Natal."


Kairi mengangguk dengan wajah yang penuh rasa percaya diri.


Aku sudah mendengar dari Onii-chan bahwa kemampuan Kairi terus meningkat berkat bimbingannya. Aku tidak boleh lengah. Namun, jika aku berhasil memenangkan taruhan ini, Onii-chan mungkin saja akan merasa kecewa pada Kairi. Jika hal itu terjadi, aku bisa bermesraan sepuasnya dengan Onii-chan di hari Natal.


Aku akan menang mutlak atas Kairi di sini, dan meruntuhkan seluruh rasa percaya dirinya.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close