Gadis Gal yang Harusnya Memenembakku
Sebagai Hukuman dalam Permainan, Tampaknya Jelas-Jelas Sangat Jatuh Cinta
Padaku Volume 12
[SS Bonus Khusus E-Book] Bagaimana Kalau Mencoba Mengubah Kata Ganti Orang Pertama?
Itu
adalah sebuah ucapan yang terlontar begitu saja.
"Ngomong-ngomong,
Youshin itu dari dulu selalu menyebut dirimu dengan sebutan 'Boku', ya?"
Kejadian
itu terjadi sedikit sebelum aku dan Nanami pergi berlibur ke pemandian air
panas berdua.
Saat
proses pemesanan penginapan sudah berhasil diselesaikan, ibu dan yang lainnya
sudah menyiapkan dokumen-dokumen yang diperlukan, dan persiapan liburan sedang
berjalan dengan lancar, ucapan yang terlontar begitu saja itu muncul.
Mendengar
ucapan Nanami tersebut, tanganku yang tadinya sedang bergerak mendadak terhenti
seketika.
Mengenai
apa yang sedang kami lakukan saat ini... jawabannya adalah mengerjakan tugas
sekolah.
Sebenarnya,
ada salah satu bagian dari rencana liburan... tidak, lebih tepatnya syarat
untuk berlibur. Sebagai syaratnya, ada ketentuan bahwa hampir seluruh tugas
sekolah harus diselesaikan sebelum berangkat berlibur... jadi dengan sangat
terpaksa kami sedang mengerjakan tugas sekolah.
Tidak,
tapi serius deh, jumlah tugas sekolahnya benar-benar terlalu banyak. Apakah
anak SMA memang selalu diberi tugas sebanyak ini? Bagaimana dengan sekolah
lain, ya?
Jika
dikerjakan secara bertahap mungkin jumlahnya tidak akan menjadi beban, tetapi
jika harus diselesaikan sekaligus dalam satu waktu, jumlahnya tergolong sangat
menyiksa.
Tugas
sekolah yang sebanyak ini pun, kalau dikerjakan bersama Nanami pasti bisa
diselesaikan dengan menyenangkan... diselesaikan... tidak, tetap saja rasanya
tidak bisa dibilang menyenangkan. Mau sebanyak apa pun aku bersama Nanami.
Tapi
yah, kita memang harus bertarung menghadapi kenyataan, kan. Berakit-rakit ke
hulu, berenang-renang ke ketepian. Jika berhasil menyelesaikan tugas sekolah
yang menyiksa ini, liburan yang menyenangkan bersama Nanami sudah menanti.
Kalau
berpikir begitu, aku pasti bisa berjuang. ...Harusnya.
Tapi
aku juga sudah jadi makin rajin, ya. Kalau dulu, tugas sekolah seperti ini
pasti cuma kukerjakan seadanya. Hanya mengerjakan soal yang kupahami, dan cuma
menyelesaikan sekitar separuh dari keseluruhan saja.
...Yah,
normalnya tugas sekolah itu memang harus diselesaikan semuanya, sih. Lagipula,
pada akhirnya aku merasa kalau diriku ini cuma sedang bergerak karena tergiur
oleh imbalan liburan ke pemandian air panas saja.
Mari
kita sisihkan dulu soal tugas sekolah, dan kembali ke topik pembicaraan.
Nah,
hal yang dipertanyakan oleh Nanami adalah mengenai kata ganti orang pertama
milikku. Karena aku tidak begitu paham apa yang ingin disampaikan oleh Nanami,
aku hanya bisa sedikit memiringkan kepala.
"Iya
ya, aku... aku selalu menyebut diriku 'Boku', ya..."
Karena
tidak tahu harus merespons seperti apa, aku merasa telah memberikan jawaban
yang bukannya aman, melainkan malah tidak jelas. Rasanya mirip seperti tata
bahasa yang aneh.
Atau
mungkin mirip prinsip aku berpikir maka aku ada.
Bagaimanapun
juga, itu jawaban yang agak aneh. Lagipula, bukannya selama ini aku sengaja dan
sadar menyebut diriku 'Boku', sih. Hal semacam ini kan biasanya mengalir begitu
saja dalam kehidupan sehari-hari, atau lebih mirip semacam kebiasaan.
Atau
mungkin agak sedikit berbeda dari itu?
"Sekali-kali
tidak mau mencoba bilang 'Ore'?"
'Ore'...
ya.
Meskipun
aku bisa saja langsung mengucapkannya di sini, entah mengapa ada rasa ragu
untuk melontarkannya secara lisan, jadi aku mencoba menyebut 'Ore' di dalam
hati saja. Aku... menyebut diriku 'Ore'?
"Bukankah
rasanya janggal sekali?"
"Eeh?
Masa sih?"
Entah
apa yang membuat Nanami merasa senang, tetapi dia tampak sangat menikmati hal
ini. Dari pihakku sendiri, pada dasarnya selama Nanami tampak senang aku akan
merestuinya, tetapi tetap saja aku merasa agak bingung.
"Kalau
Nanami sendiri, dari dulu selalu pakai 'Watashi'?"
Oleh
karena itu, untuk sementara aku mencoba mengalihkan pembicaraan dengan
mengarahkan topik ke kata ganti orang pertama milik Nanami. Meskipun rasanya
seperti menjawab pertanyaan dengan pertanyaan lagi, mau bagaimana lagi.
Atau
lebih tepatnya, di dunia ini rasa-rasanya ada lebih banyak kejadian di mana
sebuah pertanyaan direspon bukan dengan jawaban, melainkan dengan pertanyaan
baru. Yah, itu mungkin karena sebuah pertanyaan bisa memicu timbulnya
pertanyaan lain.
Jangan
berharap semua pertanyaan di dunia ini pasti ada jawabannya—kalimat
dari dialog apa ya itu tadi?
"Kalau
aku sih, waktu kecil dulu... rasanya pernah pakai 'Atashi' atau menyebut diri
dengan 'Nanami'."
"Pernah
menyebut dirimu 'Nanami'?"
"Iya.
Dulu tuh suka bilang, 'Nanami juga mau makan~' atau 'Nanami juga mau ikut
bikin~', kurang lebih seperti itu."
Bukankah
itu... lumayan imut?
Aku
mengingat kembali foto masa kecil Nanami yang sempat ditunjukkan padaku
beberapa waktu lalu, lalu membayangkan sosok Nanami dalam imajinasiku yang
menyebut dirinya sendiri menggunakan nama dipanggilnya.
Emm...
bukankah ini sangat boleh juga?
"Kapan
kamu mulai mengubahnya?"
"Sekitar
kelas 3 atau 4 SD, mungkin. Waktu itu ada yang bilang padaku kalau aku ini
sudah jadi kakak perempuan yang dewasa, terus aku jadi ingin kelihatan lebih
dewasa."
Ah,
begitu rupanya.
Memang
benar, menyebut diri menggunakan nama itu sering dilakukan oleh anak-anak
kecil, ya. Tidak, padahal anak kelas 3 SD pun menurutku masih tergolong anak
kecil.
Meski
begitu, apakah anak perempuan memang berkembang menjadi dewasa lebih cepat
ketimbang anak laki-laki? Waktu aku kelas 3 SD dulu rasanya aku cuma anak nakal
yang menyebalkan. Walau aku tidak terlalu ingat jelas, sih.
Nanami
yang menyebut dirinya dengan nama sendiri, ya...
"Sekarang,
sudah tidak pernah lagi?"
"Ya
tidak lah, tentu saja... Malu, tahu..."
Malu...
ya?
Karena
aku tidak pernah memikirkan soal kata ganti orang pertama secara mendalam, aku
jadi tidak begitu merasa kalau itu adalah hal yang memalukan.
Di
kalangan VTuber pun ada banyak orang yang kata ganti orang pertamanya
adalah nama mereka sendiri. Atau lebih tepatnya, selama orang yang bersangkutan
tidak merasa malu, menurutku sebutan untuk diri sendiri itu bebas-bebas saja...
Namun tetap saja, bagi orang yang merasa malu, hal itu akan tetap terasa
memalukan, ya.
Kata
ganti orang pertama adalah hal yang berubah seiring dengan perubahan zaman,
jadi pemikiran seperti itu mungkin memang ada. Ini topik pembicaraan yang cukup
menarik.
Yatsugare...
adalah cara penyebutan zaman dulu, sedangkan Shousei biasanya digunakan
dalam tulisan formal, kalau tidak salah. Hanya sebatas itu yang kuketahui.
Ya
ada juga pengetahuan dari manga, sih.
Nanami
tampak memalingkan pandangannya sedikit karena malu... tetapi melihat sosoknya
yang seperti itu, di dalam diriku malah muncul keinginan untuk memintanya
mencoba menyebut dirinya dengan nama lagi.
Mungkin
karena Nanami menunjukkan penolakan, timbul sedikit rasa kejahilan yang mirip
dengan sifat sadisme di dalam diriku yang ingin melihatnya melakukannya.
...Tapi
kalau aku bilang begitu, nanti dia malah bakal menyuruhku mengubah kata ganti
orang pertamaku juga, jadi itu sama saja seperti membangunkan macan tidur.
"Kalau
Youshin, dari dulu selalu pakai 'Boku'?"
"Iya
ya... Aku hampir tidak pernah mengucapkan kata selain 'Boku' untuk menyebut
diriku..."
"Aku
ingin dengar kamu bilang 'Ore' sekali saja..."
Waduh,
dia mendahuluiku. Padahal aku juga ingin mendengar Nanami menyebut dirinya
dengan namanya sendiri, jadi aku merasa senang karena kami memikirkan hal yang
mirip.
Tapi...
aku bilang 'Ore'... ya...
"Bagaimana
kalau coba diucapkan sedikit?"
"Ah,
asyik~" serunya sambil mengangkat kedua tangan dengan gembira. Padahal aku
hanya perlu mengubahnya sedikit saja, tetapi dikagumi sejauh ini membuatku
merasa agak malu.
Yah,
kalau sudah diucapkan sekali, Nanami juga pasti bakal merasa puas.
"Kalau
begitu..."
Tepat
saat aku hendak mengucapkannya, Nanami mendadak mendekat secara perlahan. Eh,
apakah ini sesuatu yang perlu dilihat dari jarak sedekat ini? Terlebih lagi,
dia menatapku dengan mata yang sangat berbinar-binar.
Padahal
ini bukan hal yang begitu menarik, tapi kenapa dia sampai... Ah ya sudahlah,
mari kita lontarkan saja secara perlahan...
"Aah..."
Perlahan...
perlahan...
Masih
belum? Masih belum?—dengan gestur seperti itu, Nanami sedikit
memiringkan kepalanya. Namun saat menerima tatapan mata darinya, kata-kata itu
anehnya tidak kunjung meluncur keluar. Malahan, keringat dingin mulai
bercucuran dari tubuhku.
"Batal
deh, tidak jadi."
"Eeeh~?"
Dengan
ekspresi yang jelas-jelas terlihat kecewa... tidak, Nanami yang memang
benar-benar kecewa kini melengkungkan alisnya ke bawah dan memasang raut wajah
muram.
Aku
tidak menyangka dia akan sekecewa ini, jadi aku merasa agak terkejut.
"Ternyata,
mengubah kata ganti orang pertama itu mendatangkan rasa malu yang lebih besar
dari dugaan, ya."
Padahal
tadi aku sempat mempertanyakan apakah hal itu memalukan atau tidak, tetapi saat
giliran menimpa diri sendiri, pemikiranku rasanya sangat egois atau
semacamnya...
Ada
pepatah yang bilang bahwa membayangkan dan merasakan langsung itu berbeda, jadi
aku harap dia bisa memaklumiku.
"Padahal
cuma mengubah cara memanggil sedikit saja, kan..."
"Kalau
begitu, apakah Nanami juga bisa menyebut diri sendiri menggunakan nama?"
"...Sepertinya
tidak bisa."
Meskipun
terkesan seperti mengalihkan topik pembicaraan, Nanami pada akhirnya bisa
menerima hal itu. Namun kasus Nanami kan terjadi karena dia sendiri yang merasa
malu lalu mengubahnya secara sukarela. Jadi sebenarnya situasinya agak berbeda
dengan kasusku... Apakah dia tidak menyadarinya karena kujadikan sebagai syarat
pertukaran?
Jujur
saja, aku merasa caraku ini agak sedikit licik. Akan tetapi, seperti yang
kukatakan tadi, aku tidak menyangka akan seragu ini untuk mengubah kata ganti
orang pertama. Kukira aku bisa mengucapkannya dengan jauh lebih mudah.
Ore...
Ore, ya...
"Tapi
tunggu, bukankah kasusku dan kasus Youshin itu agak sedikit berbeda...?"
Ah,
dia menyadarinya.
Kukira
dia tidak bakal menyadarinya sampai akhir, tetapi yah, kalau Nanami sih tentu
saja bakal sadar. Pengalihan topik: gagal.
Sambil
memanyunkan pipinya dengan imut seakan menyuarakan protes, Nanami memegang
bahuku lalu perlahan menggoyang-goyangkan tubuhku dengan posisi seperti sedang
memijat bahu.
Leherku
yang hanya bisa pasrah mengikutinya bergoyang ke depan dan ke belakang secara
patah-patah.
"Duh,
padahal aku ingin sekali mendengar kamu bilang 'Ore'..."
"...Ke-Kenapa
sih kamu ingin sekali membuatku bilang 'Ore'?"
"Sebaliknya,
kenapa sih kamu enggan sekali mengucapkannya~?"
Yah,
kalau ditanya begitu, aku memang jadi kehabisan kata-kata untuk membalasnya.
Bukannya aku memiliki penolakan yang jelas, melainkan cuma merasa agak malu
saja.
Selain
itu, mungkin karena aku merasa interaksi seperti ini terasa cukup menyenangkan.
Debat kecil saling mendesak seperti 'mau' dan 'tidak mau' begini bukankah
terasa menyenangkan?
Apakah
cuma aku saja yang berpikiran begitu? Tapi entah mengapa, aku merasa hal ini
hanya berlaku khusus saat berinteraksi dengan Nanami saja, sih.
"...Memang
sih, interaksi seperti ini terasa agak menyenangkan."
Ah,
semuanya malah terucap keluar dari mulutku.
Tidak,
aku sungguh tidak sengaja mengucapkannya.
Sambil
meluncurkan tangannya yang tadinya memegang bahuku ke arah depan, Nanami
melingkarkan tangannya di leherku lalu memelukku dari belakang. Sebuah posisi
yang biasa disebut back hug.
Mung.
Sensasi
yang seakan menyuarakan efek suara empuk tersebut terasa saat Nanami menekankan
tubuhnya... atau lebih tepatnya, dua tonjolan berlimpah miliknya ke punggungku.
Entah
dia melakukannya secara sadar atau tidak, yang jelas punggungku terasa sangat
empuk.
Empuk
dan hangat.
Meskipun
terhalang pakaian, kelembutan yang kenyal itu meresap jelas ke punggungku.
Rasanya seolah-olah ada sesuatu yang terpancar dan merembes masuk ke dalam
diriku dari titik tersebut.
Uwah,
luar biasa.
Siapa
ya dulu yang bilang kalau kata tiruan bunyi 'mung' itu kalau diubah ke huruf
kanji artinya 'tanpa dada'? Efek suara dan sensasinya sama sekali tidak
cocok... tidak, lagipula kanji itu kan tidak pernah digunakan dan hal itu cuma
lelucon belaka, kan?
Karena
terlalu panik dari yang kubayangkan, hal-hal semacam itu malah berputar-putar
di dalam kepalaku. Isinya cuma pikiran kacau belaka.
"Tiba-tiba
kenapa...?"
"Emm...?
Mendadak ingin memeluk saja..."
"Nempel,
lho."
"Memang
kusengajakan nempel, kok."
Terima
kasih banyak.
Bukan,
jangan berterima kasih, diriku! Atau lebih tepatnya, sudah lama sekali aku
tidak mendengar kalimat itu. Kapan terakhir kali, ya? Dulu juga pernah kan, dia
bilang kalau dia memang sengaja menempelkannya.
Nanami
kali ini sepertinya sama sekali tidak berniat menjauh setelah mengatakan bahwa
dia sengaja menempelkannya, justru dia malah makin menekan bagian yang menempel
di punggungku itu lebih dalam lagi. Tekanan itu terasa begitu kuat seolah-olah
hendak amblas masuk ke dalam tubuhku.
Apakah
tidak sakit, ya... aku sempat khawatir, tetapi Nanami memakai pakaian dalam,
kan? Kenapa rasanya anehnya... sangat lembut? Tidak, dia pasti memakainya, kan?
Eh?
"Alasanku
ingin kamu menyebut dirimu 'Ore' itu ya~"
"Eh...?!"
Padahal
diriku sudah tidak fokus lagi pada topik tersebut, namun tanpa memedulikannya,
Nanami mulai berbicara sehingga fokusku terpaksa ditarik kembali ke sana.
Tidak, serius deh, ini benar-benar kelebihan informasi.
"Bukannya
ada alasan yang sangat besar atau bagaimana sih... Tapi begini, sebentar lagi
kita kan bakal pergi berlibur ke pemandian air panas, kan?"
"Iya.
Benar, kita bakal pergi... cuma berdua saja, tapi apa hubungannya dengan kata
ganti orang pertama...?"
"...Aku
kan terkadang memakai gaya pakaian (style) yang agak kalem, kan? Seperti
memakai kacamata, atau gaun terusan (one-piece). Pakaian yang tingkat
keterbukaannya rendah."
Kalau
dipikir-pikir, saat pertama kali kita bertemu di luar dulu pun penampilannya
memang seperti itu, ya. Waktu itu kalau tidak salah... aku menyelamatkannya
dengan gaya yang sangat tidak keren dari pria pemuda penggoda.
Tingkat
keterbukaan... kalau dipikir-pikir, saat dia berpakaian gaya gal pun
sebenarnya tidak bisa dibilang terlalu terbuka, tetapi tetap saja bagian
bahunya terlihat atau bagian pusarnya kelihatan... Cukup berani, sih.
Fakta
bahwa aku berpikir tingkat keterbukaannya tidak seberapa menunjukkan kalau
kepekaanku sendiri mungkin sudah sedikit tumpul.
Lalu,
apa hubungannya gaya pakaian seperti itu dengan kata ganti orang pertamaku?
"Nanami
memakai pakaian apa pun tetap cocok dan kelihatan imut, kok. Walau akhir-akhir
ini memang lebih sering pakai gaya gal, sih."
Akhir-akhir
ini saat kencan, dia memang cukup sering memakai pakaian gaya gal, dan
kesempatan untuk melihatnya memakai gaya pakaian yang anggun dan santai seperti
waktu itu memang jadi lebih jarang.
Beberapa
waktu lalu aku sempat bertanya, "Kenapa?"... dan sepertinya pakaian
gaya gal membuat pria-pria penggoda tidak terlalu berani mendekat
dibanding pakaian yang anggun.
Bagi
diriku sendiri, aku berpikir kalau penampilan gaya gal justru bakal
lebih sering digoda, tetapi bagi Nanami tampaknya malah sebaliknya; gaya
pakaian yang anggun justru yang lebih sering mengundang pria penggoda mendekat.
Dia
sempat bilang, mungkin karena kelihatan gampang diintimidasi, atau mereka
berpikir bisa memaksakan kehendak walau agak kasar sekalipun. Apa memang
seperti itu, ya?
Para
pria penggoda itu juga harusnya punya nyali lebih dong. Cobalah dekati yang
kelihatannya lebih sulit... walau ya, menuntut keberanian dari seorang pria
penggoda juga tidak ada gunanya, sih.
Atau
lebih tepatnya, kalau mereka malah makin tertantang, upaya Nanami memakai
pakaian gaya gal bakal jadi sia-sia, kan. Ya, intinya aku berharap tidak
ada yang menggoda secara paksa.
Terakhir
kali Nanami digoda saat berpakaian gaya gal itu... kalau tidak salah
waktu di night pool, kan?
Tapi
waktu itu kan situasinya memang khusus karena berada di night pool. Meskipun
begitu, kalau pembicaraan soal pria penggoda ini diungkit, aku jadi sedikit
cemas untuk pergi berlibur. Aku jadi teringat kejadian saat di night pool
dulu.
Aku
harus berusaha sebisa mungkin untuk tidak membiarkan Nanami seorang diri.
Lagipula ini liburan kami berdua.
"Untuk
liburan kali ini, aku berpikir untuk memakai gaya yang itu. Soalnya, ketimbang gal
yang sangat mencolok, anak yang kelihatan anggun pasti bakal membuat pihak
penginapan lebih tenang, kan?"
"Aah...
begitu rupanya..."
Sering
ada pepatah yang bilang jangan menilai seseorang dari penampilannya, namun
sayangnya, di dunia ini lebih banyak kesempatan di mana kita dinilai
berdasarkan penampilan.
Bagi
orang-orang yang sudah mengenal kita dengan baik, penampilannya seperti apa pun
mereka pasti paham sifat asli kita, tetapi hal itu tidak berlaku bagi orang
yang baru pertama kali bertemu. Apalagi untuk perjalanan liburan antaranak di
bawah umur, mata yang mengawasi pasti bakal jauh lebih ketat, jadi penampilan
yang memberikan kesan aman adalah hal yang sangat penting.
"Kalau
soal pria penggoda, kamu tidak apa-apa?"
"Yah,
karena kita berlibur bersama, aku tidak akan sering sendirian juga. Lagipula,
kalaupun sampai terjadi hal terburuk dan aku digoda..."
"Calon
digoda pun...?"
Atas
pertanyaan ulang yang kulontarkan seperti burung beo, Nanami makin mempererat
pelukan tangannya di leherku. Dia kelihatan agak malu-malu.
"Aku
berpikir, apakah Youshin bakal dengan keren membantuku sambil bilang, 'Jangan
sentuh wanitaku'..."
Rasanya
aku baru saja memahami alasan kenapa dia ingin aku menyebut diriku 'Ore' lewat
kalimat tadi.
Keinginan
yang ternyata jauh lebih dipenuhi hawa nafsu daripada dugaanku muncul ke
permukaan. Situasi apa itu, benar-benar seperti adegan di shoujo manga.
Tidak, atau malah shounen manga?
"...Jangan-jangan,
belakangan ini kamu lagi suka baca manga seperti itu?"
"Belakangan
ini, di manga yang dibeli Saya..."
...Saya-chan,
ya. Seperti biasa, Saya-chan yang sangat ingin punya pacar dikabarkan sedang
rajin membeli dan memborong berbagai jenis manga remaja putri untuk dibaca. Dan
Nanami ikut membacanya lalu terpengaruh oleh hal tersebut.
"Jadi
alasan kamu ingin aku bilang... 'Ore' itu karena hal itu, ya..."
"Ya
habisnya, aku ingin melihat sosok Youshin yang bertipe pemaksa seperti itu,
tahu. Makanya, kubikir tidak ada salahnya kalau pas berduaan kamu coba bilang
'Ore'."
Bukan
hal yang besar sih~—dengan raut malu-malu Nanami membenamkan
wajahnya di punggungku. Memang benar sih, ini bukan masalah besar, tapi...
Meskipun
begitu, kalimat 'Wanitaku', ya... Bukankah itu berada di peringkat pertama
sebagai kalimat yang paling tidak cocok denganku? Bukankah pada dasarnya di
dunia nyata tidak ada orang yang benar-benar mengucapkan kalimat seperti itu?
"Bukankah
kita jadi ingin melihat berbagai macam sisi dari orang yang kita sukai?"
"Begitu,
ya..."
Meskipun
aku masih kurang paham soal keinginan agar aku menyebut diriku 'Ore', tetapi
perasaan ingin melihat berbagai macam sisi dari orang yang disukai bisa
kupahami dengan sangat baik.
Bagaimanapun
juga, aku selalu bisa melihat berbagai macam sosok Nanami.
Nanami
versi gal, Nanami versi anggun, Nanami yang ber-cosplay... Nanami yang
memakai baju renang, atau yang terkesan... seksi... dan masih banyak lagi.
Sebaliknya,
bagiku yang dilihat oleh Nanami, aku selalu menjadi diriku yang biasa. Karena
aku tidak begitu paham soal fesyen, penampilanku tidak banyak berubah dan
cenderung begitu-begitu saja.
Jika
dia ingin melihat berbagai sisi baru, mungkin mengubah penampilan secara
drastis bakal membuat orang yang melihatnya tidak merasa bosan.
Jika
di liburan berikutnya dia memakai pakaian seperti itu... tapi tunggu, kalau
Nanami memakai fesyen tipe anggun dan aku memakai fesyen bertipe pemaksa
(meskipun aku sendiri tidak yakin apakah cocok disebut begitu)...
Yup,
kalau dibayangkan pemandangannya bakal kelihatan parah banget. Mengesampingkan
apakah fesyen semacam itu cocok untukku atau tidak, kami malah bisa-bisa
ditolak secara halus saat mau menginap.
Yah,
walau penampilanku tidak berubah dan terkesan biasa saja, untuk liburan nanti
pakai pakaian normal saja deh...
Mmm?
Tapi tunggu dulu, bukankah itu artinya?
"Apakah
itu artinya, kamu mulai bosan denganku yang biasa ini?"
Kata-kata
itu meluncur begitu saja dari mulutku tanpa sengaja.
Sebenarnya
tidak ada maksud yang begitu mendalam dari kalimat itu. Kata 'bosan' hanya
kebetulan terlintas di dalam kepalaku, dengan maksud sekadar ingin mencoba
variasi suasana baru saja.
"Eh...?"
Padahal
cuma kata-kata sependek itu, namun Nanami memperlihatkan raut wajah yang sangat
syok... seolah-olah dunia baru saja kiamat.
Tangan
yang tadi melingkar memelukku kini terlepas, dan kehangatannya menghilang
seketika.
Saat
aku menoleh... Nanami sedang menutupi wajahnya sendiri dengan kedua tangannya.
Padahal
baru beberapa saat yang lalu dia tersenyum gembira, tetapi perubahan drastis
itu justru membuatku ikut ketakutan. Wajah seseorang yang benar-benar bisa
berubah pucat pasi kini memenuhi benakku.
Perubahan
drastis itu membuat dadaku terasa amat sakit.
"Bu...
Bukan! Bukan, bukan, bukan begitu!! Sama sekali bukan...!!"
Mendengar
nada suaranya yang seperti itu, dadaku makin terasa makin sakit lagi. Bukan
suara bahagia yang biasa kudengar, melainkan suara yang mengekspresikan
keputusasaan mendalam meluncur seketika sebagai bantahan dari Nanami.
Belum
pernah ada kata "Bukan" dari Nanami yang merasuk begitu dalam ke
dalam hatiku sampai seperti ini.
Biasanya
saat Nanami melakukan kesalahan sendiri atau saat dia bertingkah imut,
bantahannya terkesan menggemaskan... namun kali ini nadanya terdengar sangat
pilu.
Kata
bantahan yang terucap bertubi-tubi... Ini pertama kalinya aku mendengar suara
Nanami yang begitu terdesak seperti ini. Nada suaranya pun jauh lebih rendah
dari biasanya. Dia benar-benar sedang membantahnya dengan sungguh-sungguh.
Hanya
karena aku mengucapkan hal yang tidak perlu...
"Maaf,
bukan begitu, bukannya aku bosan pada Youshin... bukan begitu... Walau ini
terdengar seperti alasan, tapi..."
Suara
Nanami yang kian mengecil perlahan-lahan mulai terdengar bergetar.
Apakah
dia mendadak mau menangis? Tidak, aku paham, aku paham kok. Jangan mengeluarkan
suara sesedih itu, dong.
Aku
pun jadi ikut merasa sedih. Mengapa suara sedih dari orang yang kita sukai bisa
membuat dada kita sendiri terasa begitu sesak dan teremas?
Oleh
karena itu, aku... merengkuh dan memeluknya secara perlahan.
Guna
menangkannya, bagaikan menenangkan seorang anak kecil, kubawa tubuhnya ke dalam
pelukanku. Entah hanya perasaanku saja atau bukan, tubuh Nanami terasa sangat
dingin.
Meskipun
aku sudah mengatakan tidak apa-apa, sepertinya kata-kataku tadi jauh lebih
mengejutkan baginya dari dugaanku sehingga suaranya masih tetap lesu. Tubuhnya
pun sedikit bergetar.
Padahal
aku tidak memikirkannya sama sekali, tetapi Nanami sampai secemas ini... Atas
perbedaan persepsi tersebut, aku sendiri pun merasa agak sedikit terkejut.
Padahal
aku selalu berusaha menyampaikan segala hal lewat kata-kata dengan sebaik
mungkin, tak disangka justru ada jebakan semacam ini. Sungguh, sekali lagi
kutegaskan, aku memang sudah mengucapkan hal yang tidak perlu.
Saat
aku melingkarkan tangan ke punggungnya dan memberi sedikit tekanan, Nanami
memelukku erat sembari menggesekkan tubuhnya ke dadaku. Kelihatannya dia tidak
menangis, tetapi meski begitu dia tetap bergeming tanpa suara.
Saat
kami saling memeluk satu sama lain, tenaga Nanami yang tadinya memeluk secara
lemah lembut perlahan-lahan mulai makin menguat... makin kuat... tidak,
cengkeraman tangan Nanami mendadak jadi kuat banget?!
Eh,
apa-apaan ini? Ada tenaga yang amat dahsyat di punggungku... Uwoh... ini
rasanya agak sesak. Sebesar itulah rasa syok yang dialami Nanami, tapi kan...?!
Eh?
Dibandingkan dipeluk, bukankah ini malah lebih mirip kuncian saba-ori (kuncian
mematahkan pinggang)?! Apakah ini yang dinamakan rasanya dijepit ragum...?!
Ba-Bahaya...
Per... Pertama-tama aku harus menenangkan Nanami dulu...
Entah
mengapa, saat punggung ditahan seperti ini, seluruh tubuh jadi amat sulit untuk
digerakkan. Bergeraklah, tubuhku... bergeraklah... buat Nanami merasa tenang...
Aku
menggerakkan tanganku secara perlahan, mengangkat sedikit tangan yang melingkar
di punggungnya. Lalu dengan tangan itu, aku... menepuk-nepuk punggung Nanami.
Bagaikan menidurkan anak kecil, aku menepuknya pelan.
Ba...
Baiklah, kalau cuma sejauh ini masih bisa kugerakkan. Sisanya, aku harus
mengucapkan sesuatu untuk menenangkannya... tapi... suaraku... sulit sekali
keluar... Lagipula napasku... tidak bisa dihirup...?
Tunggu
dulu, seberapa kuat kamu mengerahkan tenaga, Nanami? Padahal aku merasa sudah
lumayan melatih fisikku, tapi ini seriusan bahaya banget. Perasaanku saja atau
memang ada suara krek-krek dari tulangku? Apakah cuma ilusi?
Lagipula...
kenapa napasnya bisa dihembuskan tapi tidak bisa dihirup? Bagaimana maksudnya
ini? Jangan-jangan, titik vital tertentu di tubuhku sedang ditekan secara
tepat?!
Berjuanglah,
diriku...!!
Sembari
menyemangati diri sendiri dan menepuk-nepuk pelan punggung Nanami... aku
mengucapkan kata-kata guna menenangkannya, membisikkan bahwa semua baik-baik
saja, sungguh tidak apa-apa.
Suaraku
sendiri memang berubah menjadi sangat lemah, tetapi hal itu justru memberikan
efek positif hingga tenaga di tangan Nanami perlahan-lahan mulai mengendur. Dan
tepat saat tenaga Nanami terlepas sepenuhnya... aku tanpa sadar ambruk
terduduk.
"Eh?!
Youshin?!"
Ti-Tidak
apa-apa. Aku memberi isyarat bahwa aku baik-baik saja dengan melambaikan tangan
tanpa bisa mengeluarkan suara untuk menenangkan Nanami. Tapi serius deh, kenapa
aku sampai berlutut seperti karakter di komik pertarungan begini, sih?
Mungkin
karena aku tadi kurang waspada... mari anggap saja begitu.
Nanami
yang panik melihatku mendadak berlutut langsung mengambilkan teh dingin dan
merawatku, tetapi karena dia juga penyebab utamanya, rasanya jadi seperti
tindakan pahlawan kesiangan...
Yah
walau bagaimanapun, ini memang berawal dari kesalahanku juga, sih.
Setelah
agak tenang, kami duduk berdampingan di atas ranjang. Nanami sepertinya juga
sudah mulai tenang dan tampak jauh lebih berpikir jernih dibanding tadi.
"Benar
juga ya, ucapan tadi memang bisa ditangkap seperti itu..."
"Tidak,
maaf ya. Aku juga mengucapkannya terlalu santai tanpa berpikir panjang."
"Bukan,
aku yang salah... Lagipula mana mungkin aku bisa bosan pada Youshin."
"Kalau
soal itu, aku juga sama..."
Baik
aku maupun Nanami, begitu sudah mulai meminta maaf pasti tidak akan bisa
berhenti. Kami saling melemparkan permohonan maaf... perang permohonan maaf
seolah-olah telah dimulai.
Untuk
beberapa saat kami terus saling meminta maaf, namun di sini pun sisi buruk
kami—atau lebih tepatnya ketidakterbiasaan kami—jadi makin terlihat jelas.
Kami
berdua tidak punya pengalaman bertengkar yang wajar, jadi kami sangat lemah
dalam situasi seperti ini. Meskipun sudah saling meminta maaf dan memaafkan,
kami jadi bingung di mana harus menyelesaikannya.
...Bisa
dibilang ini adalah akibat dari diriku yang selama ini tidak pernah melakukan
komunikasi yang benar dengan orang lain. Kapan terakhir kali aku mengalami hal
yang mirip pertengkaran seperti ini... apakah sejak pertama kali aku bekerja
paruh waktu?
Tidak,
ini bahkan tidak bisa disebut pertengkaran. Kondisi di mana kami saling
melempar maaf seperti ini... jujur saja sulit disebut sebagai kondisi yang
sehat.
Karena
setelah itu kami masih terus saling meminta maaf...
"Yup,
mari kita hentikan sampai di sini saja."
Sembari
tetap dipeluk olehnya, aku menepuk kedua tanganku dengan nyaring untuk
menghentikan perang permohonan maaf ini secara setengah memaksa. Aku bisa
merasakan cengkeraman tangan Nanami yang memelukku mendadak makin erat.
"Aku
sudah paham kalau kamu ingin melihat berbagai macam sisi dari orang yang kamu
sukai, dan karena kita berdua sama-sama punya kesalahan... ke depannya mari
kita lebih berhati-hati lagi, ya."
Nanami
sepertinya masih belum sepenuhnya merasa puas, tetapi jika membahas masalah ini
lebih lanjut, ujung-ujungnya kami cuma akan kembali saling melempar maaf lagi.
Aku
jadi sangat paham bahwa sepatah kata yang terlontar begitu saja bisa melukai
perasaan satu sama lain. Dan aku juga paham bahwa menjaga agar tidak melukai
itu adalah hal yang sangat sulit.
"Yah,
kalau sampai melukai, mari kita berusaha untuk memperbaikinya..."
"Benar,
aku juga akan lebih berhati-hati..."
"Lalu
soal... aku yang ambruk tadi, itu murni karena pelukanmu terlalu kuat saja,
kok..."
"Eh...
apakah tenagaku sekuat itu...?"
"Luar
biasa kuatnya... Aku sampai mengira organ dalamku mau melompat keluar..."
Tidak,
serius deh, dari bagian mana pada tubuh kurus ini tenaga sebesar itu berasal?
Kenyataan bahwa dirinya memiliki tenaga yang begitu kuat membuat Nanami tampak
agak malu.
Saat
aku sedang menenangkan Nanami yang menutupi wajahnya dengan kedua tangan dan
menunduk malu, tiba-tiba saja dia berguling dan berbaring telentang di tempat
itu.
Lalu,
bagaikan seekor anjing yang menyerah, dia memperlihatkan perutnya dan
membiarkan keempat anggota tubuhnya terhampar sembari bergumam pelan.
"...Kalau
begitu, tolong beri aku hukuman."
"Dari
mana kamu belajar kata-kata seperti itu?"
Awalnya
kubilang aku tidak akan memberinya hukuman, tetapi karena dia kelihatan belum
puas... aku pun menaruh tanganku di perutnya bagaikan memperlakukan seekor
anjing... lalu mulai mengusap-usap perutnya.
"Uhyaa...?!"
"Kalau
begitu, aku akan... memberimu hukuman, ya."
Aku
menyentuh perut Nanami dari luar pakaiannya, mengusapnya, memijatnya... dan
bermain-main dengan lembut di perut Nanami bagaikan mengelus anjing ras besar.
Sembari
memprotes bahwa itu geli, Nanami menerima hal tersebut sambil tertawa
terbahak-bahak dengan gembira.
Aku
pun tanpa sadar jadi ikut gembira, dan terus bermain-main di perut Nanami tanpa
memedulikan meskipun Nanami sudah berteriak, "Sudah, ampuni aku!".
Aku
benar-benar sudah kelewat batas karena kesenangan.
"Duh!!
Padahal aku sudah bilang hentikan, tahu!!"
"?!
"
Nanami
yang mengamuk mendadak menerjang ke arahku. Padahal sampai tadi aku berpikir
dia mirip anjing ras besar, tetapi wujudnya saat ini adalah kucing... seekor
kucing yang sangat besar...
Ngomong-ngomong,
harimau atau singa itu kan juga tergolong kucing besar, ya. Dalam wujud Nanami
yang seperti itu, aku memikirkan hal tersebut secara samar-samar.
Diriku
pada saat ini sama sekali tidak punya cara untuk mengetahuinya. Bahwa di
perjalanan liburan pemandian air panas yang akan kami jalani nanti... dari
sekian banyak kemungkinan, justru dirikulah yang malah digoda oleh wanita lain
seperti di topik pembicaraan tadi, dan Nanami akan ngamuk... ngamuk secara
tenang.
Jika
cara mengamuknya saat itu disebut sebagai amukan secara dingin, maka yang kali
ini adalah amukan secara panas.
Aku
yang tidak tahu apa-apa ini, bagaikan hewan herbivora yang tidak bisa melarikan
diri... akhirnya dimangsa oleh Nanami yang telah berubah menjadi seekor
harimau.
〈Tamat〉



Post a Comment