NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Inkya no Boku ni Batsu Game Volume 12 Epilog + Afterword

Epilog

Langkah Menuju Kedewasaan


Pagi hari anak-anak di hari Minggu biasanya datang sangat cepat. Sama halnya dengan anak-anak, pagiku di hari setelah menginap di penginapan pun datang sangat cepat.

 

Yah, walaupun aku sebenarnya tidak begitu sering menginap di penginapan, sih.

 

Persamaannya mungkin adalah keinginan untuk bangun lebih awal demi melakukan sesuatu.

 

Aku pun punya tujuan tersendiri, makanya bangun lebih cepat. Hal yang ingin kulakukan saat ini... adalah mandi di pagi hari (asaburo). Bukannya di pemandian umum, melainkan di pemandian terbuka (rotenburo) yang menyatu dengan kamar.

 

Menikmati paparan sinar matahari pagi sembari memandangi pemandangan berselimut salju, lalu membersihkan tubuh yang sedikit berkeringat setelah tidur...

 

Saat masuk berendam bersama Nanami kemarin malam, tiba-tiba saja timbul rasa penasaran di dalam diriku mengenai sejauh apa perbedaan pemandangan antara malam dan pagi hari.

 

Biasanya aku tidak akan punya rasa penasaran semacam itu, tetapi keberhasilan kami menginap di kamar ini adalah hasil dari sebuah insiden yang tak terduga, dan menginap di kamar yang tergolong sangat mewah adalah pengalaman yang teramat langka.

 

Makanya, aku ingin mencoba semua hal yang memungkinkan untuk dilakukan.

 

Meskipun sesi mandi bersama kemarin malam adalah hal yang terjadi tanpa direncanakan... yah, aku memang sempat membayangkannya, sih.

 

Hal-hal seperti bagaimana jadinya jika masuk berendam bersama Nanami. Bagaimanapun juga, aku ini kan laki-laki.

 

Hasilnya bayangan itu memang terwujud, tetapi untuk sesi mandi di pagi hari ini... aku mengelukannya secara diam-diam seorang diri. Fakta bahwa Nanami sedang tidur dengan nyenyak di sampingku memang menjadi salah satu alasannya, tetapi pada kenyataannya, melakukan pemandian bersama sejak pagi hari itu batasannya terlalu tinggi bagiku.

 

...Tidak, frasa "tidur di sampingku" sepertinya bisa memicu kesalahpahaman. Maksudnya Nanami sedang tidur di ranjang sebelahku. Tegasnya, di ranjang yang terpisah.

 

Bahkan bagiku sekalipun, untuk tidur seranjang setelah sesi mandi bersama kemarin malam adalah hal yang tidak mungkin. Tidak mungkin dalam berbagai macam arti. Aku pasti sudah tidak akan bisa menahan diri lagi.

 

Bisa mandi bersama saja sebenarnya sudah menjadi bonus yang sangat disyukuri... Yah, tepatnya momen paling berbahaya adalah saat kami akan keluar bersama dari pemandian, sih...

 

Saat itu, Nanami... kan... masuk sambil menempel padaku. Sampai di situ sebenarnya masih baik-baik saja. Namun saat mulai merasa pusing kepanasan, aku baru menyadari sesuatu. Bagaimana caranya kita keluar dari sini?

 

Kalau keluar bersama-sama, sudah pasti tubuh kami akan terlihat jelas, dan itu sangat berbahaya dalam berbagai arti...

 

...Yah, soal bagaimana cara kami keluar dari pemandian bersama-sama, mungkin akan kuceritakan di kesempatan lain. Hal itu adalah rahasia milik kami berdua saja.

 

Sembari mengenang kejadian kemarin malam, aku beranjak dari ranjang secara perlahan agar tidak membangunkan Nanami. Lalu dengan sangat, sangat pelan, aku mulai bersiap-siap.

 

Sebisa mungkin tanpa menimbulkan suara sedikit pun, perasaanku persis seperti seorang ninja. Khusus untuk saat ini saja, aku menghayati peran sebagai seorang ninja.

 

Karena handuknya sudah cukup kering, aku akan memakai handuk yang kemarin saja... asal jangan sampai tertukar dengan milik Nanami. Sisanya, tinggal menyiapkan minuman, mungkin.

 

Untuk mengantisipasi hal semacam ini, aku sudah mendinginkan minuman bersoda hingga sangat dingin di kulkas.

 

Yup, persiapan sudah sempurna. Kalau begitu... ayo lepas pakaian lalu masuk berendam.

 

Tepat saat tanganku meraih baju atasan, suara Nanami terdengar hingga membuat gerakanku terhenti seketika.

 

Apakah aku membangunkannya...? pikirku, namun tak lama kemudian dia balik menghempaskan tubuhnya ke posisi lain, jadi sepertinya itu cuma indigo (mumble) saat tidur.

 

Namun pada momen itulah, aku mendadak menyadari suatu hal. Melepas pakaian di samping Nanami yang sedang tidur... bukankah itu terkesan sangat mesum? Jika sampai dia terbangun, pemandangannya bakal kelihatan sangat gawat.

 

Bagaimana kalau lepas pakaian di luar saja? Seingatku ada tempat untuk meletakkan pakaian yang dilepas seperti area ganti pakaian... Kemarin aku melepasnya di kamar karena malas, tetapi sepertinya cara itu jauh lebih baik.

 

Saat tanganku memegang gagang pintu untuk keluar, embun pagi yang membeku menimbulkan suara renyah yang menyenangkan. Hal-hal semacam ini rasanya anehnya terasa sangat memuaskan.

 

Sembari menggemakan suara bernada ringan, pintu bergeser terbuka secara perlahan.

 

Ah, ternyata memang dingin banget, ya...

 

Angin yang menusuk kulit terasa lebih dingin ketimbang kemarin malam. Mungkin karena masih pagi jadi suhunya belum naik secara maksimal. Tidak, fakta bahwa ada paparan sinar matahari namun terasa lebih dingin ketimbang kemarin malam adalah hal yang agak mengherankan.

 

Apakah ini terkait dengan sains... aku sendiri tidak yakin, tetapi karena aku tidak terlalu paham soal begituan, mungkin lain kali aku bisa mencarinya tahu.

 

Saat aku menghela napas, napasku mengembun putih. Sambil memandangi helaan napas yang membumbung putih bagai asap, aku melepas pakaianku dengan gesit.

 

Tentu saja, makin banyak helai yang dilepas, rasa dinginnya makin menjadi-jadi. Angin luar tepat setelah bangun tidur rasanya tidak bagus untuk kesehatan tubuh. Sensasi kulit yang tertarik kencang mulai terasa dari bagian-bagian pakaian yang telah dilepas. Daripada dingin, ungkapan bahwa kulit terasa perih akibat hawa dingin sepertinya jauh lebih tepat.

 

Sembari menerima terpaan hawa dingin yang menusuk, aku bertelanjang bulat... lalu berlari-lari kecil menuju ke arah bak pemandian. Kecepatan gerakku justru membuat kulit terasa makin dingin. Atau lebih tepatnya, kakiku terasa sangat dingin. Air yang meluap dari bak pemandian langsung berubah menjadi air dingin akibat paparan udara luar. Bahkan lebih dingin daripada air di kolam renang.

 

Secara alami, kecepatan gerak kakiku pun makin cepat. Rasanya kaki ini mau membeku.

 

Dalam permainan video sering ada penggambaran karakter yang membeku saat terkena sihir elemen es, dan rasanya aku seperti sedang diterjang serangan sihir semacam itu. Walau ini air dan bukan es, tetapi suhu airnya sudah sangat memenuhi kriteria elemen es.

 

Sembari bergumam "dingin, dingin" seorang diri, aku menceburkan diri ke dalam pemandian air panas dengan penuh dorongan. Lalu, aku meletakkan botol minuman plastik di pinggiran bak mandi. Karena ada aliran air panas, kalau ditaruh terlalu lama minumannya mungkin akan memanas... Tapi kalau sebentar saja harusnya tidak masalah.

 

Sebentar, jarak yang singkat... Padahal jarak dari kamar menuju pemandian terbuka ini sangatlah singkat, namun dalam jarak sesingkat ini pun tubuhku rupanya telah mendingin secara luar biasa...

 

Tepat saat tubuhku masuk ke dalam pemandian air panas, hangatnya air perlahan-lahan meresap ke dalam tubuh.

 

Aah... hangatnya~... Karena tubuhku sangat dingin, awalnya kukira di dalam air panas pun bakal tetap terasa dingin, tetapi ternyata tubuhku perlahan-lahan menghangat dengan baik...

 

Meskipun begitu, bagian ujung-ujung anggota tubuhku masih terasa dingin, jadi aku harus menghangatkannya secara perlahan.

 

...Ngomong-ngomong, perubahan suhu secara mendadak bukankah tidak terlalu bagus untuk tubuh, ya?

 

Kepalaku mendadak terasa sedikit pusing...

 

Sembari berpikir bahwa seharusnya aku masuk secara lebih perlahan, tubuhku yang kian menghangat secara refleks merintih puas. Duh, gaya bicaraku seperti bapak-bapak saja saat ini... Namun karena rasa nikmat yang tiada tara, aku tidak sanggup menahan suara yang meluncur keluar begitu saja. Walau ini pemandian air panas yang sama seperti kemarin, mungkin karena suasana pagi hari, aku bisa berendam dengan perasaan yang menyegarkan kembali.

 

Apakah karena suhunya yang rendah, ataukah karena tingkat kelembabannya yang rendah, udara di pagi hari seperti ini terasa sangat murni dan bersih.

 

Dibalut oleh udara yang terasa menyucikan ini, aku memandangi pemandangan yang disinari matahari pagi... lalu meneguk minuman bersoda yang dingin.

 

Minuman bersoda yang dingin mengalir masuk ke dalam tubuh yang memanas, dan sensasi gelembung yang tajam memenuhi mulut lalu meluncur turun secara perlahan melewati tenggorokan.

 

Sensasi gelembung yang meletup-letup seolah bergaung dari dalam tubuhku...

 

Aku menikmati sensasi cairan dingin yang mengalir melewati tenggorokan hingga masuk ke dalam lambung. Meskipun bagian luar tubuh terasa hangat, bagian dalamnya justru perlahan-menerus mendingin.

 

Rasanya aku seperti berubah menjadi jenis masakan seperti itu... Dulu pernah ada kan, masakan yang bagian luarnya panas tetapi bagian dalamnya tetap dingin... walau aku tidak begitu tahu detailnya.

 

Padahal aku sedang sangat menikmati waktu menyendiri di pagi hari, tapi aku harus keluar sebelum Nanami terbangun.

 

Jika dia bangun dan tidak menemukanku, apakah dia akan panik, atau justru dia juga akan menikmati waktu menyendirinya...?

 

Yah, untuk jaga-jaga aku sudah mengirimkan pesan bahwa aku sedang mandi di pemandian air panas, jadi kurasa dia tidak akan sampai mencariku.

 

Aah... tapi menyenangkan sekali... mandi pagi... hangatnya meresap perlahan ke dalam tubuh.

 

Ini sudah melewati batas gaya bapak-bapak, malah cenderung seperti kakek-kakek. Tapi ya mau bagaimana lagi, hal yang terasa nyaman itu memang tetap terasa nyaman.

 

Entah mengapa aku jadi merasa lapar... Apakah karena sirkulasi darah menjadi lebih lancar saat tubuh menghangat?

 

Setelah itu, aku melanjutkan menikmati pemandian air panas secara santai untuk beberapa saat. Betapa mewahnya menikmati minuman bersoda sendirian. Namun sepertinya... aku mulai merasa sedikit pusing kepanasan. Rasanya suhu tubuhku tidak kunjung turun, baik oleh minuman maupun oleh suhu udara di sekitar. Akan tetapi, ada satu masalah.

 

...Sangat berat rasanya untuk keluar dari air panas.

 

Untuk saat ini, aku merendam tubuh hingga batas bahu untuk menaikkan suhu tubuh sampai batas maksimal, lalu berlari cepat masuk ke dalam kamar. Soal mengeringkan badan, bisa dilakukan setelah tiba di dalam.

 

Pokoknya, jika sudah bisa mencapai area pembatas antara kamar dan pemandian terbuka, itu sudah merupakan sebuah kemenangan. Mari bergegas agar tidak terpeleset.

 

...Baiklah!!

 

Byurr! Aku mengangkat tubuh keluar dari air panas, lalu bergerak secepat mungkin dari tempat itu. Angin pagi memang terasa dingin, tetapi tetap saja suhu tubuhku masih... tidak, ternyata memang dingin banget!!

 

Apakah karena adanya perbedaan suhu yang ekstrem sehingga rasanya jadi jauh lebih dingin? Jika tidak segera masuk ke dalam kamar dan mengeringkan badan, aku bisa-bisa terkena flu.

 

Tadinya aku berpikir untuk mengeringkan badan di luar sebelum memakai pakaian, tapi niat itu kubatalkan saja. Lagipula Nanami sepertinya juga belum bangun.

 

...Sengaja ingin kuberitahukan di sini, area antara pemandian terbuka dan kamar hampir seluruhnya dibatasi oleh dinding kaca, sehingga bagian luar dan dalam pada dasarnya bisa terlihat dengan sangat jelas.

 

Hanya saja, khusus pada bagian pintu bahannya cukup buram... sehingga dari sudut itu bagian dalam agak sulit untuk terlihat. Bahkan hingga pada tingkat di mana kita tidak akan menyadari jika ada seseorang yang sedang berdiri di balik pintu.

 

Jikalau aku bertindak sedikit lebih tenang, aku pasti akan mengamati situasi di dalam kamar dengan cermat... dari dalam pemandian air panas sekalipun.

 

Justru karena aku tidak melakukannya, hal tersebut akhirnya terjadi.

 

Tanganku meraih pintu, lalu membukanya dengan dorongan kuat untuk masuk ke dalam. Pintu yang seharusnya terasa berat, terbuka begitu saja tanpa ada hambatan.

 

Aku tidak menyadari adanya kejanggalan dari hal tersebut. Aku hanya berpikir bahwa aku melemparkan tenaga terlalu kuat karena terburu-buru. Bagaikan pintu yang ditarik dari dalam, pintu itu terbuka dengan sangat cepat, dan kemudian...

 

"He...?"

 

Suara imut yang kebingungan terdengar di telingaku.

 

Mengenai lima indra manusia, ada hierarki urutan prioritas dan persentasenya tersendiri. Pendengaran diprioritaskan melebihi penglihatan, dan di atas hal itu, informasi visual memegang porsi sebesar delapan puluh persen.

 

Dengan kata lain untuk diriku saat ini, pertama-tama telingaku menangkap suara tersebut, lalu disusul oleh mataku yang menangkap sosoknya. Sebaliknya, meskipun mataku sudah melihatnya, ada jeda waktu sampai informasi tersebut dapat dicerna oleh otak.

 

...Singkatnya, aku tidak sanggup memahami apa yang terjadi secara seketika.

 

Di sana, ada Nanami.

 

Mungkin karena hendak masuk ke pemandian terbuka, tidak seperti kemarin malam yang melilitkan handuk mandi di tubuhnya... dia yang berdiri di sana hampir telanjang bulat, hanya memegang sehelai kain lap kecil seperti handuk tangan.

 

Dan karena aku sendiri baru saja keluar dari bak mandi dan berlari cepat untuk kembali, tentu saja aku pun tidak melilitkan handuk apa pun.

 

Dua orang yang berada dalam kondisi tersebut, tidak dalam posisi saling membelakangi, tidak pula menghadap ke arah yang sama, melainkan untuk pertama kalinya... saling berhadapan.

 

"----------------------?!"

 

Kami berdua melontarkan jeritan tanpa suara, dan mengenai apa yang terjadi setelahnya... adalah rahasia milik kami berdua saja.




Pada akhirnya, aku malah mengulang ketiadaan yang klasik seperti tidak sengaja berpapasan di pemandian air panas.

 

◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇

 

Waktu yang menyenangkan selalu terasa berlalu secepat kilat—hal yang selalu kufikirkan setiap kali sebuah momen berharga berakhir.

 

Liburan kali ini pun tidak terkecuali. Rasanya seperti seluruh kejadian dari awal hingga akhir hanya berlangsung selama beberapa jam saja... walau kalau dibilang begitu sepertinya agak berlebihan, sih.

 

Menyebut rangkaian acara sepadat ini hanya terasa beberapa jam memang agak tidak masuk akal. Lagipula, ada begitu banyak hal yang terjadi sampai-sampai rasanya membuat kepalaku penuh. Namun tetap saja, liburan ini terasa sangat menyenangkan dan berlalu dalam sekejap mata.

 

Perjalanan menginap 2 hari 1 malam...

 

Padahal liburan 2 hari 1 malam itu tergolong perjalanan singkat, tetapi bagi kami berdua, perjalanan ini terasa sangat bermakna dan berkesan.

 

Bagaimana mencetuskan maknanya, ya... sebuah perjalanan penuh dengan hal baru yang membuahkan banyak hal indah...

 

Tunggu, saat menyebut kata "membuahkan banyak hal", aku malah mendadak teringat kejadian tadi pagi. Jangan mengaitkan frasa itu dengan hal tadi pagi dong, diriku yang sekarang benar-benar parah.

 

"Ah, itu raut wajah orang yang lagi mikirin hal-hal mesum."

 

"Bukan, tahu! Aku cuma lagi mengingat-ingat pemandangan tadi pagi!"

 

Karena dilontarkan secara spontan, cara bicaraku malah terdengar sangat kekanak-kanakan. Ditambah lagi, padahal niatnya mau bilang "pemandangan di luar", aku malah menyebut "pemandangan tadi pagi".

 

Itu sama sekali tidak terdengar seperti alasan yang... tidak, hal yang kuingat itu benar-benar pemandangan indah yang diwarnai oleh fajar pagi dari pemandian terbuka kok...

 

"Tuh kan, ujung-ujungnya tetap mikirin hal mesum..."

 

"...Iya deh, maaf ya."

 

"Kumaafkan "

 

Sembari diguncang oleh laju kereta, Nanami menumpukkan tangannya di atas tanganku dengan raut wajah yang tampak gembira. Kami sudah menyelesaikan proses check-out penginapan, dan saat ini sedang berada di dalam kereta perjalanan pulang.

 

Dari sini masih memakan waktu beberapa jam lagi... Saat kami tiba di rumah nanti, sepertinya hari sudah berganti malam.

 

"Kalau sudah begini, bisa dipastikan di liburan kali ini Youshin makin wajib bertanggung jawab padaku, kan?"

 

"Kenapa sih setiap kali ada liburan atau acara tertentu, jumlah hal yang menuntutku bertanggung jawab makin bertambah terus?"

 

"Memangnya kamu tidak suka...?"

 

Bukannya aku keberatan... atau lebih tepatnya aku sama sekali tidak merasa benci akan hal itu. Tapi yah, kejadian kali ini memang bisa dibilang cukup krusial, sih...

 

Tidak, apakah sudah terlambat untuk memikirkannya? Lagipula, frasa "kali ini juga" mungkin jauh lebih tepat untuk menggambarkan situasinya.

 

"Lagipula, hal-hal yang terjadi di Hawaii dulu... terus waktu Natal juga..."

 

"Dan kali ini, kita malah berlibur cuma berduaan saja..."

 

Ah, Nanami juga mendadak memandangi ruang hampa dengan tatapan jauh.

 

Sebenarnya, alasan kenapa kami berdua mendadak memandangi ruang hampa seperti ini juga dipengaruhi oleh hal yang terjadi saat check-out tadi. Aku kembali mengenang momen tersebut...

 

Nanami juga sempat mandi di pagi hari, kami menyantap sarapan berdua, memastikan tidak ada barang yang tertinggal saat bersiap-siap pulang... Dan aku mengingat kembali ucapan yang disampaikan oleh nakai-san saat proses check-out.

 

"Pelanggan sekalian, kami benar-benar memohon maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi kemarin."

 

"Ah, tidak apa-apa kok. Kamarnya sangat bersih, makanannya pun sangat enak... Kami sangat menikmati liburan ini. Terima kasih banyak."

 

"Benarkah demikian? Jika begitu, kami merasa sangat lega... Ke depannya kami akan berusaha keras agar kejadian serupa tidak terulang kembali..."

 

Melihat nakai-san yang membungkuk penuh rasa bersalah, kami berdua justru jadi merasa sungkan.

 

Memang benar pada awalnya sempat ada kendala, tetapi mereka telah melayani kami dengan sangat baik setelahnya.

 

Kamar yang kami tempati kali ini pun berada di lokasi yang sangat bagus, dan saat kucari tahu harganya, ternyata kamar itu tergolong sangat mahal... Setidaknya, itu bukan kamar yang biasa ditempati oleh anak SMA.

 

Meski begitu, para nakai-san di sini tidak memperlakukan kami seperti anak kecil dan melayani kami dengan sangat wajar. Pelayanannya benar-benar patut disyukuri...

 

"Banyak dari tamu yang menginap di sini berkenan untuk berlangganan kembali dalam jangka panjang. Terutama pasangan kekasih..."

 

"Apakah itu semacam mitos keberuntungan?"

 

"Bisa dibilang begitu. Ada yang kembali berkunjung setelah menikah, ada juga yang datang bersama anak mereka beberapa tahun kemudian... jadi mungkin bisa dibilang semacam mitos keberuntungan."

 

Nakai-san menyunggingkan senyum hangat sembari menatapku dan Nanami secara bergantian.

 

Melihat senyumannya yang memancarkan kebahagiaan itu, aku dan Nanami tanpa sadar ikut tersenyum.

 

"Kami sangat menantikan kedatangan Anda berdua kembali di lain waktu."

 

Seberapa banyak harapan yang tertuang dalam kalimat tunggal tersebut?

 

Melihat sosok nakai-san yang membungkuk hormat membuat dadaku terasa hangat. Kurasa, Nanami pun merasakan hal yang sama.

 

Makanya secara alami, kami memberikan jawaban.

 

"Kami pasti akan datang lagi, jadi mohon bantuannya saat saat itu tiba."

 

"Saat saat itu tiba... aku ingin kita menginap di kamar itu dengan hasil usaha kita sendiri, ya."

 

"Baik, kami akan selalu menunggu kedatangan Anda berdua."

 

Begitulah cara kami meninggalkan penginapan dengan diiringi senyuman hangat dari nakai-san.

 

Kilas balik selesai. Dan saat ini... kami sedang diguncang oleh laju kereta perjalanan pulang. Sama halnya seperti perjalanan berangkat, perjalanan pulang pun memakan waktu yang sangat panjang...

 

Meski merasa agak lelah dengan panjangnya perjalanan, kenyataan bahwa tempat itu kini bertambah ke dalam daftar lokasi yang ingin kukunjungi lagi bersama Nanami membuatku merasa jujur bahagia.

 

Apakah begini caranya kenangan manis bertambah satu per satu?

 

...Tapi tunggu, soal pembahasan tentang pernikahan dan anak di akhir tadi, tidak ada maksud terselubung kan?

 

Nanami yang tadinya memandangi ruang hampa sepertinya ikut kembali ke realitas sama seperti diriku... Dia menghembuskan napas panjang.

 

"Aah... rasanya masih belum mau pulang..."

 

"Aku juga... tidak lama lagi sudah harus sekolah lagi..."

 

"Jangan diomongin dong... Uwah~..."

 

Secara refleks kami saling menyandarkan tubuh satu sama lain membentuk huruf (orang).

 

Bukannya aku benci sekolah, tetapi kata-kata negatif meluncur begitu saja dari mulutku.

 

Seperti yang dikatakan Nanami, perasaan enggan untuk pulang memang masih menggantung kuat di dalam dada. Saat melangkah keluar dari penginapan tadi, aku benar-benar menyadari bahwa setelah ini kami akan kembali ke kehidupan sehari-hari.

 

Mungkin karena adanya perasaan inilah, aku jadi ingin pergi berlibur lagi bersama Nanami. Justru karena ada momen-momen menyenangkan seperti inilah, kita bisa bertahan menghadapi hal-hal berat dalam rutinitas harian...

 

Yah, bukannya kehidupan sekolah itu berat juga, sih.

 

Karena liburan sudah berakhir, saatnya menghadapi kenyataan kembali.

 

Dalam cerita mana pun, bagian akhir adalah kunci utamanya. Sama halnya seperti hidangan berurutan (course meal), jika hidangan penutupnya berantakan, seluruh urutan hidangannya pun akan ikut berantakan. Mungkin hal serupa juga berlaku untuk bab terakhir dari sebuah manga.

 

Sebaliknya, jika bagian akhir berakhir dengan indah... kesan yang ditinggalkan pun akan menjadi jauh lebih baik secara drastis. Aku pernah mendengar pembicaraan semacam itu.

 

Kalau begitu, bagaimana dengan perjalanan liburan kami kali ini?

 

Kejadian-kejadian yang terjadi selama liburan berputar kembali di dalam benakku. Mulai dari saat perjalanan kemarin, kejadian tadi malam, hingga kejadian tadi pagi. Dan saat ini, pada momen paling akhir, kami sedang diguncang oleh laju kereta perjalanan pulang.

 

Meskipun bilang tidak mau pulang, apakah saat tiba di rumah nanti kami bakal berucap "rumah sendiri memang yang terbaik"? Ataukah kami justru makin ingin pergi berlibur lagi?

 

Setidaknya untuk saat ini... perasaan tidak mau pulang ini adalah bukti nyata bahwa liburan kali ini sangatlah menyenangkan.

 

Sembari menatap pemandangan luar yang berlalu, walau terkesan klise, aku bisa mengatakan dengan sejujurnya bahwa ini adalah perjalanan yang sangat berkesan.

 

"Nanami... aku ingin pergi berlibur lagi."

 

"Aku juga ingin... Berikutnya musim panas mungkin... Ah, tapi kan ada persiapan ujian masuk juga..."

 

"Mendadak langsung menyodorkan kenyataan banget..."

 

Mendengar kata-kata Nanami yang membawaku kembali ke realitas... sebuah notifikasi yang makin menegaskan kenyataan masuk ke ponselku.

 

Tanpa sadar kata "Geh!" meluncur keluar dari mulutku. Mungkin ini karena aku sempat mengirim pesan berkala bahwa kami sedang perjalanan pulang tadi...

 

"...Sepertinya, Ayah mengirim pesan menanyakan apakah perlu dijemput di stasiun."

 

"Youshin juga? Di tempatku juga ada pesan masuk..."

 

Ini jelas-jelas terasa seperti hal yang sudah mereka rencanakan bersama. Dan hal itu membuatku teringat pada kejadian saat dijemput sewaktu kencan ulang tahun dulu.

 

Waktu itu ada pembahasan soal jam malam dan semacamnya, dan karena lokasi tujuan kami juga sudah ketahuan, akhirnya kami diantar pulang menggunakan mobil.

 

Yah, saat itu harinya memang sudah larut jadi mau bagaimana lagi. Namun waktu itu kami tidak punya pilihan dan rasanya setengah dipaksa. Kali ini pun, hari pasti sudah gelap gulita saat kami tiba di stasiun nanti. Makanya mereka mengirim pesan menawarkan jemputan. Itu murni bentuk perhatian dari mereka.

 

Namun untuk kali ini...

 

"Bagaimana kalau kita tolak saja?"

 

"Boleh, kali ini kita tolak saja yuk."

 

Baik aku maupun Nanami sama-sama langsung mengirimkan pesan penolakan saat itu juga. Dipercayakan untuk dijemput memang jauh lebih praktis, tetapi kepraktisan itu rasanya bakal membuat perjalanan liburan ini berakhir lebih cepat.

 

Dan kemudian...

 

"...Bagaimana kalau stasiun pemberhentiannya kita geser sedikit?"

 

"...Mumpung lagi begini, boleh juga tuh?"

 

"Sekalian, bagaimana kalau kita makan malam di suatu tempat sebelum pulang? Sisa anggaran kemarin juga masih ada sedikit dari porsi makan malam."

 

"Boleh banget~! Ayo kita agak manjakan diri sedikit. Youshin mau makan apa?"

 

"Enaknya makan apa, ya... Kemarin kan sudah makanan Jepang... Secara garis besar, daging mungkin?"

 

"Waktu kita masih sangat banyak, ayo kita cari tahu!"

 

Tepat di momen paling akhir, meskipun aku dan Nanami merasa seperti sedang melakukan sedikit kenakalan, kami tetap menikmati kepopuleran topik pembahasan rencana selanjutnya.

 

Pengalaman berlibur adalah hal yang mendewasakan seseorang. Dalam artian tertentu, hal itu mengubah seseorang menjadi lebih dewasa. Karena kami berdua sudah selangkah lebih dewasa... pilihan kecil seperti ini tentu boleh-boleh saja, kan.

 

Orang dewasa adalah mereka yang mengambil keputusan dan menanggung sendiri hasil serta tanggung jawabnya.

 

Yah, meskipun melontarkan alasan semacam itu, kami sama sekali tidak berniat melakukan hal yang buruk, kok.

 

Lagipula, bukankah sering ada pepatah yang bilang?

 

Sebelum tiba di rumah, perjalanan liburan belum berakhir.


Afterword

 

Saat menulis jilid sebelumnya, musim sedang berlangsung di musim dingin dengan suhu di bawah nol derajat. Namun, saat menulis jilid ini, cuacanya sangat panas dan sudah sepenuhnya memasuki musim panas... di tengah suasana itulah saya menulis kisah bertema musim dingin.

 

Rasanya seperti mendahului musim, atau malah sebaliknya, seperti tertinggal musim... saya merasakan sensasi yang cukup unik ini. Halo semuanya, sudah lama tidak berjumpa, saya Yuishi.

 

Nah, saya sangat senang bisa menerbitkan Jilid 12 ini dengan selamat. Fakta bahwa karya ini bisa berlanjut hingga sejauh ini sepenuhnya adalah berkat dukungan dari Anda sekalian para pembaca.

 

Terima kasih banyak.

 

Angka dua belas (12) memiliki arti tersendiri bagi saya, karena secara pribadi angka 12 merupakan angka yang memiliki banyak keterkaitan dengan saya.

 

Salah satunya karena ulang tahun saya jatuh pada tanggal 12, tetapi selain itu, entah mengapa angka 12 sering sekali muncul di sekitar kehidupan saya.

 

Nomor ponsel saat pertama kali membelinya memiliki sangat banyak angka satu dan dua yang tersebar di mana-mana, pekerjaan pertama yang dipercayakan kepada saya adalah tugas yang diresmikan setiap tanggal 12 tiap bulannya...

 

Plat nomor mobil saya pun berkaitan dengan angka 12, dan begitulah seterusnya, angka ini sangat sering hadir di sekeliling saya. Akhir-akhir ini kisah baru yang berkaitan dengan angka 12 memang agak berkurang, tetapi...

 

Dengan terbitnya jilid ini, kisah mengenai angka 12 di dalam diri saya rasanya berhasil diperbarui.

 

Mengenai Jilid 12 ini sendiri, seperti yang telah saya sampaikan di awal, saya menuliskannya di tengah puncak musim panas untuk kisah di pertengahan musim dingin. Lokasi tujuannya adalah... area Doto (Hokkaido Timur).

 

Kali ini, untuk pertama kalinya saya memberi isyarat bahwa mereka berdomisili di Hokkaido... Walau sebenarnya sejak Jilid 1 saya sudah menuliskannya dengan nuansa seperti itu, tetapi menjadikannya sejelas ini mungkin baru pertama kalinya di Jilid 12, ya?

 

Namun mohon menganggapnya sebagai lokasi fiktif yang menggunakan lokasi nyata sebagai motifnya... Walaupun saya telah menuliskan tempat-tempat yang mungkin bisa langsung dikenali oleh orang yang mengetahuinya...

 

Karena ada banyak perbedaan dengan kondisi di dunia nyata, mohon anggap tempat tersebut murni sebagai motif saja.

 

Bagi Anda yang menyadarinya, saya akan sangat senang jika Anda mengetahuinya, dan jika ada kesempatan, saya harap Anda bisa menikmati perbedaan dengan lokasi aslinya.

 

Jika hal tersebut dapat menjadi salah satu pemicu Anda untuk melakukan perjalanan liburan, tidak ada hal lain yang bisa membuat saya lebih bahagia dari itu.

 

Youshin dan yang lainnya kali ini berlibur ke pemandian air panas berduaan... Awalnya saya sempat khawatir apakah anak SMA bisa menikmatinya, tetapi begitu dijalani, mereka justru tampak menikmatinya melebihi biasanya.

 

Menurut saya, kalian berdua sebaiknya terus saja bermesraan seperti itu selamanya.

 

Untuk Jilid 12 ini juga, Kagachisaku-sensei kembali bertanggung jawab dalam pembuatan ilustrasinya.

 

Ilustrasi kimono yang sangat indah, serta ilustrasi liburan pemandian air panas yang sedikit seksi, tentu menjadi hal yang sangat menyenangkan bagi para penggemar Sensei, bukan?

 

Adaptasi manga oleh Kanna Nagomi-sensei juga berjalan dengan sangat lancar. Saya sendiri sudah memeriksa draf manuskripnya (name) terlebih dahulu, dan ceritanya saat ini hampir menyelesaikan bagian dari novel asli Jilid 2...

 

Besar harapan saya agar serialisasinya bisa terus berlanjut seperti ini. Adaptasi komiknya pun sangat didukung oleh semangat dari Anda sekalian para pembaca, jadi mohon terus dukungannya.

 

Serta kepada Editor S-sama, pihak-pihak yang terlibat dalam desain, penyuntingan (proofreading), hingga para penerjemah edisi luar negeri... Saya ingin menggunakan kesempatan ini untuk menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Anda sekalian.

 

Seperti yang telah saya tulis sebelumnya, keberlanjutan karya ini adalah berkat Anda sekalian para pembaca. Berkat dukungan Anda, sepertinya Jilid 13 pun akan dapat terbit dengan selamat... jadi mohon terus dukungannya.

 

Mengenai kapan Jilid 13 akan terbit... Anda dapat memastikannya pada pratinjau jilid berikutnya yang ada setelah bagian ini.

 

Nah, berikutnya adalah hari Valentine pertama bagi mereka.

 

September 2025

 

Dari Yuishi, yang merasa cemas dan gelisah menghadapi panasnya sisa musim panas di Hokkaido tahun ini.

 


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close