Chapter 2
Pertama Kali dengan Kimono
Beberapa
hari setelah pulang ke kampung halaman, saat-saat dimulainya tahun yang baru
akhirnya sudah di depan mata.
Padahal
biasanya aku sudah terbiasa bangun sampai larut malam melewati pergantian hari,
tetapi hanya karena momen akhir tahun, entah mengapa perasaanku menjadi agak
sedikit ajaib.
Seiring
berjalannya waktu, tahun akan berganti menjadi tahun depan, menjadi tahun yang
baru. Padahal bukannya ada sesuatu yang berubah hanya karena tahun baru, tetapi
setidaknya perasaanku saja yang menjadi segar kembali.
Dulu,
aku selalu sesumbar berkata akan bangun sampai pergantian tahun, tetapi
kelihatannya aku malah selalu tertidur di tengah jalan. Sekarang, jadinya malah
seperti ini... begadang sampai larut malam sudah menjadi hal yang biasa.
Suara
hitung mundur mulai terdengar.
5...
4... 3... 2... 1...
Tepat
di saat hitungan menyentuh angka 0, suara dentingan gelas dan teriakan ucapan
selamat yang saling bersahutan dari para orang dewasa terdengar riuh.
Aku
sempat diajak untuk ikut merayakannya bersama, tetapi khusus untuk momen yang
satu ini... aku menolaknya secara halus.
Sebabnya
adalah...
"Selamat
Tahun Baru, mohon bantuannya lagi ya di tahun ini."
『Selamat Tahun
Baru, saya juga mohon bantuannya ya di tahun ini.』
Ke
arah Nanami yang berada di balik layar ponsel, aku menundukkan kepala perlahan.
Nanami pun ikut menundukkan kepalanya menyesuaikan denganku, lalu kami berdua
saling tertawa bersama.
Ya,
karena khusus untuk momen yang satu ini... aku ingin merayakannya berdua saja
darinya.
Saat
aku membenturkan gelas berisi teh oolong secara perlahan ke layar
ponsel, Nanami pun menyentuhkan cangkir di tangannya ke arah ponselnya. Meskipun
tidak ada suara yang terdengar, ini adalah dentingan gelas via balik layar.
『Tapi tetap
saja... tahun baru, ya...』
"Iya
ya, sungguh... waktu berlalu cepat sekali..."
Aku
sering mendengar orang berkata bahwa makin tua umur seseorang, makin cepat pula
1 tahun berlalu. Namun bagi kami yang masih berstatus siswa SMA pun, 1 tahun
terasa berlalu dalam sekejap mata.
Bukannya
berlalu dalam sekejap mata sih, tapi lebih tepatnya terasa seperti tahun yang
penuh gejolak...
"Tahun
ini... bukan, tahun lalu maksudnya. Tahun lalu itu rasanya tahun yang penuh
dengan banyak perubahan, ya."
『Benar sekali, aku
juga... mengalami banyak sekali... perubahan.』
Bagaimanapun
juga, sejak aku mulai berpacaran dengan Nanami, perubahan yang terjadi sungguh
sangat luar biasa banyak. Kalau diibaratkan seperti dalam permainan gim,
rasanya seperti sudah melampaui batas hingga wujud keberadaannya sendiri
berubah...
Aku
tidak tahu apakah ini ungkapan yang tepat atau tidak, tetapi singkatnya, itu
adalah tahun yang penuh dengan perubahan seperti itu.
『Perubahan yang
paling besar... apa coba?』
Mendadak
Nanami menanyakan hal itu padaku dengan mata yang sedikit berbinar-binar seolah
mengharapkan sesuatu. Dia menatap agak ke atas ke arah layar, terlihat sangat
menggemaskan dan sengaja dibuat-buat.
Jawaban
seperti apa yang sedang dia harapkan, rasanya aku tahu tapi juga ragu... Tapi
kemungkinan besar, dia ingin aku mengatakan hal semacam itu. Kalau sampai
tebakanku meleset, aku bakal minta maaf sedalam-dalamnya.
"Tentu
saja, fakta bahwa aku jadi memiliki wanita yang kusukai, kali ya..."
『Hee~... gitu~
ya~...?』
...Lho?
Padahal kukira dia bakal senang, tapi reaksinya di luar dugaan? Namun Nanami
bukannya terlihat kesal, melainkan tersenyum dan tampak dalam suasana hati yang
baik...
『Apakah wanita itu
orang yang cantik?』
"Ha...?
I-iya... dia orang yang sangat cantik."
Orangnya
jangankan ada di depanku, saat ini bahkan sedang berbicara denganku, lho.
Walaupun
aku tidak tahu apa maksudnya, Nanami terus-menerus membombardirku dengan
rentetan pertanyaan.
『Bagian mana dari
wanita itu yang kamu sukai?』
"Matanya,
mungkin... Matanya sangat indah, dan dia selalu menatapku dengan lurus."
『Apakah bagian
yang kamu sukai cuma matanya saja?』
"Bukan
cuma mata saja... Mari kita lihat, mungkin terdengar klise, tapi dia adalah
wanita yang penuh perhatian. Dia selalu memikirkanku, dan berada di sisinya
membuat perasaanku terasa hangat."
『Apakah
payudaranya besar?』
"Pertanyaannya
mendadak jadi mesum sekali, ya... Yah tapi, memang besar sih... Ya, besar
sekali..."
『Apakah kamu suka
payudara yang besar?』
"Ini
pertanyaan dengan maksud apa, sih?! Nggak maksudnya, iya... aku suka."
...Tolong
dong, jangan malah malu sendiri setelah bertanya begitu. Aku kan jadi merasa
mendadak dijatuhkan dari tangga.
Tuh
kan, wajahmu jadi merah padam begitu.
『Eee... anu...
apakah kamu punya keinginan buat melakukan hal yang tidak-tidak dengannya?』
"...Jujur
saja, iya."
Apa-apaan
ini? Ini semacam permainan gim begitu, ya? Dulu kan ada gim yang menebak dengan
mengajukan pertanyaan ke jin lampu. Maksudnya apa coba.
Aah,
tuh kan, kamu sendiri sudah sampai batasnya. Sudah ah, hentikan saja.
『...Apakah saat
ini kamu masih berbicara dengan orang tersebut?』
Setelah
berdeham sekali, Nanami mencoba menguasai dirinya kembali... meskipun daun
telinganya berubah menjadi merah padam saat mengajukan pertanyaan padaku.
Baiklah,
mari kita ikuti permainannya sedikit lebih lama lagi.
"Iya,
saat ini dia sedang membombardirku dengan rentetan pertanyaan."
『Apakah saat ini
kamu merasa rentetan pertanyaannya agak sedikit mengganggu?』
"Bukankah
itu jenis pertanyaan yang kalau aku jawab 'iya', kamu bakal langsung marah?
Tapi yah, bagian seperti itu darinya juga lucu, sih..."
Ah,
bibirnya sedikit cemberut. Lagipula kelihatannya dia sendiri juga menyadarinya.
Nah,
kalau begitu sekarang giliranku menyampaikan apa yang ingin kukatakan.
"Kadang
dia suka menggodaku, sangat tertarik dengan hal-hal mesum, tapi begitu tiba
saatnya dia malah merasa malu... Memiliki pacar yang luar biasa dan
menggemaskan seperti itu adalah kejadian terbaikku di tahun lalu."
Nanami
mengukir senyuman lebar nan berbinar penuh rasa bahagia. Melihat sosoknya yang
seperti itu, aku pun tanpa sadar ikut tersenyum.
『Ehehe, bagiku
juga memiliki pacar yang luar biasa seperti Youshin adalah hal terbaik di tahun
lalu, lho.』
...Kalau
dikatakan secara jujur dan polos begitu, ternyata rasanya jauh lebih membikin
malu dari dugaan. Padahal sewaktu memakai format tanya jawab tadi aku bisa
mengatakannya tanpa terlalu malu, kenapa bisa begitu, ya?
Seakan
menyadari kalau aku sedang merasa malu, Nanami terlihat jadi makin menikmati
suasana.
『Malam tahun baru
tahun ini, aku ingin kita melewatinya berdua saja, ya.』
"Ada
pepatah bilang kalau membicarakan hal tahun depan, iblis bakal tertawa,
lho....Eh? Atau bukan gitu, ya?"
『Gak apa-apa kan,
mari kita tertawa bersama-sama dengan semuanya dan menghabiskan waktu dengan
menyenangkan. Lagipula, ini kan pembicaraan soal tahun ini.』
Memang
benar, ada betulnya juga. Karena ini pembicaraan soal tahun ini, iblis pun
tidak akan tertawa dan pasti akan mengawasi kita dengan baik.
Ngomong-ngomong,
aku sempat diberi tahu oleh Kakek bahwa aku tidak perlu memaksakan diri untuk
datang dan boleh menghabiskan waktu bersama pacarku, tetapi bagaimana dengan
pihak Nanami? Mungkinkah pihak Nanami malah mendapat penolakan atau semacamnya?
『Aah, Kakek di
sini juga mengatakan hal yang serupa, lho.』
"Oh
ya? Tapi, kalau Nanami tidak pulang, bukankah mereka bakal merasa
kesepian?"
『Malah aku disuruh
menghabiskan malam tahun baru dan tahun baru bersama pacar, lalu menceritakan
pengalaman itu sebagai oleh-oleh cerita untuk beliau.』
Kalau
dipikir-pikir... sewaktu pertama kali mengobrol dengannya dulu, aku juga sempat
diberi tahu bahwa beliau menantikan oleh-oleh cerita dariku. Apakah beliau
memang menyukai hal-hal seperti itu? Tapi kalau begitu, akhir tahun ini berarti
kami bisa menghabiskan waktu bersama... hanya berdua saja...?
"Yoo~shi~n~...!!
Jangan asyik bermesraan saja dengan Nanami-chan, ke sini juga buat
sapa-sapaan~...!!"
Tiba-tiba
dari luar kamar terdengar suara Nee-chan.
Nanami
pun menoleh ke belakang, dan kelihatannya dia juga dipanggil untuk menyapa.
Bisa pas begitu timing-nya...
『Tidak disangka Youshin...
punya kakak perempuan yang secantik itu, ya...』
"Yah,
padahal sampai bertemu hari ini aku sempat lupa akan keberadaannya. Cuma
teringat, 'oh iya, dia ada ya'."
『Di satu sisi
rasanya lega, tapi di sisi lain, bukankah itu agak bagaimana gitu...?』
Ya
mau bagaimana lagi, habisnya dia orang yang hampir tidak pernah datang. Hari
ini pun setelah sekian lama... yah, karena penyebab dia datang adalah gara-gara
dicampakkan pacarnya, jadi aku tidak bisa berkomentar banyak, sih.
"Ngomong-ngomong,
tadi dia berterima kasih pada Nanami, memangnya kamu bilang apa padanya?"
『Hanya hal kecil,
tapi sepertinya itu hal yang sangat penting. Tahu sendiri kan, kalau tidak
dikatakan secara jujur, kesalahpahaman bisa saja terjadi.』
"Begitu,
ya..."
Bagi
diriku sendiri, karena aku tidak menyukai hal-hal seperti itu, aku selalu
berusaha membicarakannya secara jujur. Namun mungkinkah bagi orang lain hal
tersebut memiliki rintangan yang lebih tinggi dari dugaan?
Nah,
kalau begitu... mari pergi menyapa para kerabat yang lain. Meskipun masih berat
hati, aku harus mematikan panggilan telepon di ponsel...
Aku
juga bisa dapat uang tahun baru (otoshidama)... oh, kalau itu besok, ya.
『Youshin pulang
lusa, kan?』
"Iya,
lusa... bukan, kalau secara tanggal berarti besok, ya. Soalnya Ayah dan Ibu
juga harus bekerja..."
『Begitu, ya.
Karena aku terlambat sehari... mari kita berkencan di hari libur tahun baru,
ya. Aku ingin segera bertemu, tapi kita tahan sebentar dulu, ya.』
"Benar...
aku juga ingin bertemu dengannya. Hati-hati saat pulang nanti, ya."
Tepat
di saat aku hendak mematikan panggilan telepon di ponsel...
『Kalau begitu, ini
uang tahun barunya.』
"Heh?"
Nanami
melirik sedikit, lalu menyibakkan bagian kerah bajunya lebar-lebar hingga
memperlihatkan bagian dadanya secara jelas. Pakaian dalamnya tidak terlihat,
namun kulitnya yang menyilaukan tampak tersingkap.
Itu
pun hanya berlangsung sekejap, dan panggilan telepon di ponsel langsung
berakhir... meninggalkan wujudku dengan wajah dungu yang terpantul di layar
ponsel.
Awalnya
kupikir aku salah lihat sekejap... Tapi tidak, walaupun tidak terlihat
semuanya...
"Tidak
boleh melakukan hal seperti itu, tahu..."
Entah mengapa, dengan menggunakan bahasa formal aku menegur Nanami yang sudah tidak ada lagi di balik layar.
Apa-apaan
coba "uang tahun baru", bukankah itu cuma lelucon garing ala
bapak-bapak...
Sambil
berpikir, mungkin saja dia bakal mencoba hal-hal aneh seperti lelucon kue
mochi tahun baru (kagami mochi) juga, aku melangkah keluar kamar sambil
berjuang keras menahan wajahku yang merona panas.
◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇
Keluargaku...
atau lebih tepatnya, seluruh kerabat di keluargaku memiliki sebuah tradisi yang
agak unik. Tradisi tersebut adalah memberikan uang tahun baru bukan pada
tanggal 1 Januari saat hari pertama tahun baru (gantan), melainkan pada
tanggal 2 Januari.
Katanya,
tradisi ini berasal dari kepercayaan takhayul bahwa jika mengeluarkan uang pada
tanggal 1 Januari, maka sepanjang tahun tersebut uang hanya akan terus-menerus
keluar.
Takhayul
dari mana coba itu? Bukannya aku memercayai takhayul tersebut, tetapi karena
tradisi ini sudah berlangsung sejak lama, pada tanggal 1 Januari aku pun sama
sekali tidak mengeluarkan uang sepeser pun. Bahkan untuk urusan pembelian dalam
gim ponsel saja aku tidak melakukannya.
Saat
menggunakan uang adalah dari tanggal 2 dan seterusnya... jadi kami diputuskan
menerima uang tahun baru tepat sebelum kami pulang.
"Ini
You-chan, uang tahun baru untukmu. Kakek dan Nenek agak merogoh kocek lebih,
jadi gunakanlah untuk tambahan biaya saat pergi berlibur, ya."
"Terima
kasih banyak, Kakek, Nenek."
Begitu
menerima amplop uang tahun baru yang berwarna-warni, aku langsung memasukkan
amplop tersebut ke dalam tas pakaian. Tentu saja rasanya tidak sopan jika
membukanya langsung di hadapan mereka, jadi aku akan membukanya nanti saja.
Setelah
itu, aku juga menerima uang tahun baru secara berurutan dari para kerabat yang
lain... akan tetapi, semuanya tanpa terkecuali menyerahkannya sambil memberikan
satu pesan, "Gunakan untuk perjalanan liburan bersama pacarmu,
ya."
Ya
ampun, tahu-tahu kabar itu sudah tersebar luas ke semua orang.
Yah
bagaimana tidak, kemarin kan aku sempat berdiskusi dengan Ayah dan Ibu, jadi
wajar saja kalau kabarnya menyebar dengan cepat.
Untuk
saat ini, kesimpulan dari kemarin adalah... mengenai perjalanan liburan yang
hanya dilakukan berdua antara aku dan Nanami, kami berhasil mendapatkan
pernyataan bahwa keputusan-keputusannya akan dipertimbangkan ke arah yang
positif.
Sepertinya,
menjadikan Kakek dan Nenek sebagai sekutu memang berdampak sangat besar.
"Astaga...
sampai menjadikan Ayah dan Ibu sebagai sekutu segala..."
Ibu
tampaknya masih belum sepenuhnya yakin, dan Ayah berusaha menenangkan Ibu yang
seperti itu.
"Bicara
apa kamu, Shinobu. Pergi berlibur cuma berdua saja kan masih tergolong wajar.
Waktu kamu masih sekolah dulu, kamu dan You-kun malah jauh lebih parah..."
"Jangan
katakan lebih dari itu...!!"
Memang
keberadaan orang yang mengetahui masa lalu itu benar-benar sangat membesarkan
hati. Tak disangka Ibu yang biasanya tegas itu bisa dibuat bungkam tak
berkutik.
Lagipula,
kalau perjalanan liburan kami dianggap sebagai hal yang masih wajar...
memangnya dulu Ibu pernah melakukan apa, ya?
Meskipun
penasaran, rasanya aku tidak ingin mendengar hal-hal semacam itu dari orang
tuaku sendiri.
"...Untuk
saat ini, rinciannya nanti saja setelah kita sampai di rumah, ya."
"Aku
mengerti. Bagaimanapun juga itu adalah syarat utamanya, kan."
Ini
adalah faktor terbesar mengapa kami tidak bisa mendapatkan persetujuan penuh
hanya dalam sehari kemarin. Walaupun ada dorongan dari Kakek dan Nenek, serta
dorongan dari seluruh kerabat, keputusan akhir tetap baru bisa diambil setelah
mendengar penjelasan dari pihak yang bersangkutan secara langsung.
Bagi
diriku sendiri, sebenarnya aku ingin mendapat persetujuan penuh kemarin. Namun,
aku juga bisa memahami perasaan mereka yang tidak bisa mengambil keputusan
dalam kondisi belum bisa berbicara secara langsung dengan Nanami dan
keluarganya.
Karena
sudah ada kejadian di hari Natal kemarin, Ibu dan Ayah seharusnya sudah
diyakinkan bahwa tidak akan terjadi hal-hal yang melampaui batas.... atau
jangan-jangan, waktu hari Natal itu karena mereka sedang minum alkohol makanya
mereka terkesan mendukung "hajar saja", sedangkan saat pikiran mereka
jernih ternyata mereka jadi seberat ini?
Apakah
akan lebih baik jika kemarin aku meminta persetujuan saat mereka sedang minum
alkohol sesuai rencana awal saja, ya...? Jika menggabungkan pengaruh alkohol
ditambah dorongan dari Kakek, rasanya rencana itu bisa saja berhasil.
Yah,
disesali pun tidak ada gunanya. Untuk saat ini, mari kita nikmati saja hasil
yang sudah dicapai.
Selain
itu, mengenai uang tahun baru, ada juga hal mengejutkan yang terjadi.
"Youshin,
ini uang tahun baru buatmu."
"...Eh?"
Itu
adalah uang tahun baru dari Nee-chan, sosok yang sama sekali tak terduga.
Seingatku, bukankah ini pertama kalinya aku menerima uang tahun baru dari
Nee-chan?
Yah,
karena dia masih berstatus pelajar, tentu saja itu hal yang wajar.
Tidak,
sekarang pun dia kan masih seorang mahasiswi. Tadi dia bahkan masih merengek
meminta uang tahun baru kepada Kakek.
"Jumlahnya
memang tidak banyak, tapi pakailah untuk tambahan biaya liburanmu bersama
Nanami-chan. Bersenang-senanglah, ya."
"...Kenapa
mendadak begini?"
"Tidak
apa-apa kok~... Kalau aku memberimu uang tahun baru sekarang, kelak saat anakku
lahir kamu pasti bakal memberi anakku uang tahun baru juga, kan~ Tentu saja,
aku juga bakal memberi anakmu dan Nanami-chan uang tahun baru nanti~"
Orang
ini bicara apa, sih?
Mendadak
membicarakan soal anak di masa depan. Lagipula, ini bukan sekadar terlalu cepat
lagi pemikirannya. Aku harus merespons bagaimana coba soal hal itu?
"Ah,
iya... kalau begitu dengan senang hati aku terima, ya."
"Sampaikan
salamku pada Nanami-chan, ya. Bilang padanya aku mengucapkan terima
kasih."
Saat
aku mengulurkan tangan dengan ragu-ragu untuk menerimanya, Nee-chan mengukir
senyuman yang entah mengapa tampak begitu cerah. Dari tadi, saat ditanyai oleh
para kerabat di sekitar mengenai Nanami, dia terus-menerus memujinya setinggi
langit...
Nanami...
sungguh, apa sih yang sudah kamu katakan padanya? Kamu benar-benar berhasil
merebut hati Kakak sepenuhnya. Ditambah lagi, para kerabat juga ikut
membicarakan banyak hal padaku.
"You...
tahun depan kamu tidak usah memaksakan diri untuk datang ke sini lagi,
ya."
"Kakek,
membicarakan hal itu lagi?"
"Bakal
Kakek katakan berkali-kali. Habiskanlah waktu pergantian tahun dengan benar
bersama pacarmu. Kamu kan sudah dewasa, tidak perlu repot-repot ikut orang
tuamu datang ke sini."
Kakek
juga keras kepala, ya. Kalau aku tidak datang, bukankah ini bakal jadi malam
tahun baru tanpa kehadiran cucu bagi mereka? Lagipula kali ini yang datang cuma
aku dan Nee-chan saja.
Tapi
bertengkar di sini pun tidak ada gunanya, jadi... mari kita lihat.
"Tahun
depan aku tidak akan menyapa lewat panggilan video lagi, tapi aku akan datang
langsung... untuk memperkenalkan Nanami secara tatap muka. Aku bakal mengambil
SIM dan membawa mobil ke sini."
"...Begitu,
ya."
Hanya
dengan mengatakan hal itu, Kakek tersenyum gembira.
Akhir
tahun kali ini aku akan menghabiskan waktu bersama Nanami, lalu setelah ujian
masuk perguruan tinggi selesai, aku akan mengambil SIM dan datang langsung ke
sini. Cara seperti itu pasti akan jauh lebih menyenangkan.
"Kalau
begitu, apakah saat itu cicit Kakek juga ikut bersamamu?"
"Kalau
itu sih terlalu cepat!"
Saat
aku menjawabnya secara instan, Kakek menghela napas sedikit kecewa lalu
tertawa. Melihat reaksi Kakek yang seperti ini terasa sangat segar bagiku.
Suara
Ibu dan yang lainnya yang memanggil sudah terdengar, sepertinya sudah waktunya
untuk berangkat. Kami harus masuk ke dalam mobil.
"Kalau
begitu sampai jumpa lagi, ya, Kakek."
"Ah,
hati-hati di jalan, ya."
Entah
mengapa lewat pulang kampung kali ini, rasanya aku bisa menjadi lebih akrab
dengan Kakek dibanding sebelumnya.
Setelah
itu, dengan diantar oleh seluruh kerabat, kami pun memulai perjalanan pulang ke
rumah.
Padahal
tahun lalu kami seharusnya diantar dengan cara yang sama, tetapi aku sama
sekali tidak mengingatnya... Sebaliknya, pulang kampung tahun ini menjadi
sesuatu yang tak akan pernah bisa kulupakan.
Karena
semua orang melambaikan tangan mengantar kami, begitu aku melambaikan tangan
balik ke arah mereka, mereka tampak agak terkejut. Mungkin, diriku di tahun
lalu tidak pernah melambaikan tangan balik seperti ini.
"...Youshin,
soal perjalanan liburan itu."
"Ah,
iya."
"Ibu
ingin kamu memberi tahu lebih awal sedikit..."
Aah...
iya, kalau soal itu maaf, ya. Habisnya situasi kemarin begitu menyita waktu
sampai-sampai aku tidak sempat mengatakannya. Padahal kami sudah sempat
membicarakan ingin pergi...
Sebagai
orang tua, wajar saja kalau Ibu memiliki pemikiran tersendiri soal ini.
"Kalau
sudah sejauh ini, Ibu tidak akan menentang kepergian kalian. Tapi, rinciannya
harus dipastikan kembali dengan melibatkan keluarga pihak sana juga, ya."
...Lho,
rasanya izin dari Ibu keluar dengan jauh lebih mudah dari dugaan.
Saat
aku melirik ke arah Ayah yang sedang menyetir, beliau tampak mengukir senyum
getir.
"Apakah
ada syarat tertentu?"
"Untuk
saat ini, tetaplah berada dalam batas-batas yang wajar sebagai siswa SMA... eh,
Kamu kenapa tertawa?"
"Tidak
ada, cuma kalau diingat-ingat lagi... mendengar kata 'wajar sebagai siswa SMA'
keluar dari mulut Shinobu itu terasa agak bagaimana gitu..."
Ibu
sedikit mencubit dan menarik pipi Ayah yang sedang menyetir.
...Malah
pasangan suami istri ini mulai bermesraan di depanku.
Sepertinya
alasan Ibu memberikan izin juga ada hubungannya dengan masa-masa SMA Ibu dan
Ayah yang dikatakan Kakek tadi, ya. Walau aku tidak akan menanyakannya, sih.
Nah,
orang tuaku sendiri memang sudah berhasil dibujuk... tapi bagaimana dengan
pihak Nanami?
Aku
ingin segera bertemu dengannya... pikirku sambil
menyandarkan tubuh ke kursi belakang mobil demi mengusir rasa bosan.
◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇
Hari
sudah benar-benar gelap saat kami sampai di rumah. Beruntung sepanjang
perjalanan tidak turun salju, tetapi di sekitar rumah salju sudah menumpuk
cukup tebal. Mungkin ini salju yang menumpuk selama kami pergi pulang kampung.
Karena
harus menyapu salju sedikit, aku dan Ayah bersama-sama membersihkan salju, lalu
masuk ke dalam kamar mandi untuk menghangatkan diri.
Sambil
berbaring di atas tempat tidur di kamarku sendiri setelah sekian lama, aku pun
menyalakan gim yang sudah lama tidak kumainkan. Soalnya selama pulang kampung,
entah kenapa aku tidak terlalu sempat memainkannya.
"Apakah
ada orang?"
『Oya, Canyon-kun.
Selamat Tahun Baru.』
"Selamat
Tahun Baru, Baron-san. Lho? Apakah cuma ada Baron-san saja?"
『Begitulah,
mungkin karena ini hari tahun baru, tidak terlalu banyak orang yang masuk.』
Walaupun
ada acara tahun baru di gim, tim kami berisi banyak casual player, jadi
selama 3 hari pertama tahun baru biasanya memang sepi. Peach-san pun hampir
cuma login sebentar saja.
Untuk
saat ini, aku juga berniat menyelesaikan acara tahun baru secukupnya saja.
"Ngomong-ngomong...
apakah Baron-san tidak pulang ke rumah orang tua atau semacamnya?"
『Hmm? Kami tidak pulang
kampung secara khusus, sih. Paling cuma aku yang pulang untuk menemui istriku.』
Aah,
begitu ya. Kalau dipikir-pikir Baron-san kan sedang bertugas sendirian di luar
kota. Berarti dalam arti tertentu, saat ini beliau sedang pulang ke rumahnya,
ya?
"...Boleh
aku melakukan voice chat sebentar?"
『Boleh kok. Ayo
mengobrol setelah sekian lama.』
Setelah
menghentikan gim sejenak, aku menekan tombol panggilan obrolan suara dari
aplikasi. Panggilan langsung terhubung, dan suara Baron-san terdengar.
"Maaf,
ya, sebenarnya ada sedikit konsultasi dan hal yang ingin kutanyakan."
『Sudah lama tidak
begini, ya. Tapi rasanya sekarang sudah tidak ada saran yang bisa kuberikan
padamu, deh.』
Tidak,
tidak, mana ada begitu... aku sangat mengandalkanmu, lho. Jadi, aku
berkonsultasi mengenai rencanaku untuk pergi berlibur ke onsen bersama Nanami
selama liburan musim dingin.
『Hee, bagus dong onsen!
Aku juga ingin mengambil libur dan pergi bersama istriku...』
"Lalu
soal itu... apakah ada hal yang perlu diperhatikan saat berlibur berdua saja
dengan pacar...? Jujur saja, ini pertama kalinya aku pergi berlibur berdua saja
dengannya..."
『Emmm... kalau
perjalanannya 2 hari 1 malam, rasanya seperti biasa saja sudah cukup, sih...
Tapi ya, yang paling utama adalah memastikan anggaran dan tempat penginapan,
kali ya.』
...Maksudnya
bagaimana, ya...?
Tepat
saat aku membatin begitu, suara erangan berat yang terdengar getir keluar dari
mulut Baron-san.
Mendadak
ada apa, nih...?
Setelah
suara erangan itu bergema beberapa saat, beliau mendadak mengecilkan suaranya.
『Reservasi tempat
penginapan itu... harus dipastikan dengan benar, lho... Mulai dari salah
tanggal, salah lokasi, atau apakah ada tempat dengan nama yang mirip...』
"...Jangan-jangan,
ini berdasarkan pengalaman pribadi?"
『Iya...
Percayalah, kalau soal rencana di lokasi atau hal-hal yang ingin dilihat,
sampai batas tertentu dibiarkan mengalir apa adanya pun tidak masalah. Masalah
utamanya itu sungguh ada di penginapan. Serius, cuma hal ini yang harus kamu
perhatikan baik-baik.』
Perkataan
yang benar-benar diresapi dari pengalaman nyata.
Reservasi
penginapan... memang benar, hal seperti itu sepertinya bakal sulit untuk
dijadikan bahan lelucon.
Ya,
aku harus benar-benar berhati-hati dalam banyak hal. Apakah reservasi lewat
telepon akan jauh lebih pasti dibanding reservasi daring... atau malah
dua-duanya...? Sebaiknya aku mulai mencarinya dari sekarang.
『Eh? Tapi bukankah
kalian berdua masih siswa SMA? Apakah kalian sudah mendapat izin dari orang
tua? Atau kalian pergi secara diam-diam?』
"Untungnya
sepertinya izin bisa didapatkan, jadi kami tidak pergi secara diam-diam,
kok."
『Ooh... tertib
sekali, ya. Dulu aku malah pergi secara diam-diam, jadi belakangan timbul
bermacam-macam masalah besar...』
Apa
yang telah Anda lakukan, sih? Lagipula, bukankah itu malah tergolong kegagalan
yang lebih berat?
Karena
itu kejadian zaman dulu makanya masih bisa terselamatkan... tapi ya, pergi
secara diam-diam itu memang tidak boleh.
Setelah
itu aku juga mendengar beberapa poin peringatan dan cerita kegagalan lainnya
dari Baron-san...
"Baron-san,
sewaktu tidak bisa bertemu dengan istri, dengan cara apa Anda menahannya?"
『Aku sama sekali
tidak bisa menahannya.』
Saat
aku menanyakan satu hal lagi yang ingin kuketahui, jawabannya keluar secara
instan. Tidak bisa menahannya... adalah hal yang sangat menarik bagiku.
『Bukan cuma aku
saja yang begitu, tapi waktu mendengar kalau istriku juga merasakan hal yang
sama, aku merasa sangat senang. Makanya kami menelepon setiap hari, mengirim
foto, dan kalau ada libur sesekali aku pergi menemuinya...』
"Seperti
biasa, naik mobil atau semacamnya?"
『Iya. Kalau
diingat-ingat sekarang, dulu aku memang melakukan hal yang cukup nekat, sih.
Kalau ada libur sehari saja, aku rela mengendarai mobil tengah malam demi bisa
bertemu di waktu fajar...』
Luar
biasa sekali apa yang dilakukannya. Cukup nekat... berarti beliau rela
mengabaikan rasa lelah dan semacamnya demi bisa bertemu, ya.
Perasaan
seperti itu aku bisa memahaminya. Soalnya saat aku pulang kampung kemarin pun,
kalau saja aku bisa menggunakan mobil, mungkin aku juga bakal pergi menemui
Nanami.
『Sering kan ada
pepatah yang bilang bahwa waktu saat tidak bisa saling bertemu itu menumbuhkan
rasa cinta?』
Mendengar
kata-kata itu, jantungku berdegup kencang. Kata-kata itu pernah diucapkan oleh
Nanami, dan itu adalah hal yang sempat kupikirkan juga. Tak disangka aku bakal
mendengarnya sekarang.
『Bukan soal
bertemu atau tidaknya, melainkan kalau tidak ada niat untuk menumbuhkannya,
rasa cinta itu tidak akan pernah tumbuh... Sungguh, aku benar-benar
merasakannya.』
"...Tidak
akan tumbuh, ya."
『Lagipula,
tindakan untuk 'menumbuhkan' itu sendiri harus dilakukan secara sadar, bukan
tanpa sadar. Makanya yah, Canyon-kun juga kalau sudah ingin bertemu, hargailah
masa-masa di mana kalian bisa saling bertemu, ya.』
Karena
hal itu hanya bisa dilakukan saat masih menjadi pelajar, Baron-san
mengucapkannya dengan nada yang terdengar sedikit kesepian. Beliau melanjutkan
bahwa karena itulah beliau mendukung rencana perjalanan liburan anak SMA
seperti kami.
Saat
mendapat dorongan dari orang dewasa, rasanya sangat melegakan karena membuatku
merasa tidak mengambil langkah yang salah.
Setelah
itu, aku juga berkonsultasi banyak hal kepada Baron-san mengenai persiapan
perjalanan liburan. Di tengah-tengah obrolan, aku sempat menyapa Peach-san yang
bergabung sebentar, menyelesaikan beberapa acara di dalam gim...
Baru
sekarang rasanya sensasi "akhirnya benar-benar sudah kembali ke
rumah" itu muncul.
...Ngomong-ngomong,
gara-gara membicarakan hal ini, aku jadi ingin bertemu Nanami.
Mari
meniru apa yang dilakukan Baron-san.
"Karena
aku jadi ingin bertemu pacarku, aku mau meneleponnya sebentar, ya."
『Ooh, bagus dong.
Lakukan saja sepuasnya.』
『Sampaikan salam
saya untuk Shichimi-chan, ya.』
Setelah
mematikan obrolan suara, aku menelepon Nanami.
Jam
segini... kurasa dia masih bangun. Karena besok dia sudah pulang, kalau bisa
bertemu aku ingin bertemu dengannya walau hanya sebentar.
Setelah
nada panggil berdering beberapa saat, Nanami mengangkat teleponnya.
『Halo? Ada apa, Youshin?
Sudah sampai rumah?』
"Ah,
iya. Baru saja sampai. Sekarang lagi santai-santai berbaring di tempat
tidur."
『Enaknya~... Kalau
sudah sampai rumah aku juga ingin santai-santai berbaring di tempat tidur...
bersama Youshin...』
"Berbaring
santai bersama...?"
Aku
mencoba membayangkannya, tetapi bagaimana ya cara santai berbaring bersama itu?
Apakah hanya berbaring sambil mengobrol, atau melakukan sesuatu?
Kami
memang pernah tidur bersama, tetapi belum pernah santai berbaring begitu.
Apakah itu berarti kami berdua tidur lalu melakukan kegiatan masing-masing,
ataukah melakukan sesuatu bersama-sama...
Tidak,
kalau melakukan sesuatu bersama-sama di tempat tidur, pikiranku cuma bisa
melayang ke hal semacam itu saja. Mari anggap saja santai berbaring di tempat
tidur itu bermakna bermalas-malasan tanpa melakukan apa-apa.
"Kalau
begitu, saat kamu sudah pulang nanti, mari santai-santai berbaring di tempat
tidur bersama, ya."
『Hiiweek?!』
Mendadak
terdengar suara yang aneh.
Tidak,
bukankah yang mulai membicarakan soal berbaring santai itu Nanami sendiri...
tepat saat aku membatin begitu, dari kejauhan terdengar berbagai macam suara
bersahutan.
Berani
sekali... atau semacamnya... itu adalah suara para
wanita.
Jangan-jangan,
ini...
"Nanami,
jangan-jangan... teleponnya dipasang moda speaker?"
『Iya, bukan...
itu... tanpa sengaja... itu...』
Aah...
aah, begitu ya.
Tidak
tahu secara pasti kondisi pihak sebelah memang hal yang menakutkan dari
telepon, ya. Tapi kalau begini, aku tidak salah kan...?
Karena
dipasang moda speaker di tengah-tengah kerumunan orang, suara Nanami yang
sedang digoda habis-habisan pun terdengar jelas. Mulai dari pasti belum
pernah sampai bohong ah... Tidak, itu memang beneran belum pernah,
kok.
『T-tidak apa-apa!!
Ayah dan yang lainnya sedang tidak ada, ini cuma acara kumpul-kumpul wanita
antar-kerabat di sesi akhir saja, kok!!』
Apakah
situasi seperti itu benar-benar bisa dibilang tidak apa-apa? Lagipula
kumpul-kumpul wanita macam apa itu? Aah, suara Saya-chan juga mulai terdengar,
tuh.
"Yah,
rinciannya nanti kutanyakan setelah kamu pulang saja, deh... Ngomong-ngomong,
besok kamu kira-kira sampai jam berapa, ya?"
『Besok? Mungkn...
sekitar jam 2 siang baru sampai. Soalnya kami berangkat lebih awal lagi.』
"Begitu,
ya. Tidak, maksudku kalau kamu tidak terlalu lelah, apakah kita bisa bertemu
sebentar..."
『Ayo bertemu!!』
Ooh...
responnya sangat bersemangat. Aku sendiri memang berpikir ingin bertemu, tetapi
tahu kalau Nanami juga berpikiran sama membuatku merasa senang.
Suara
sorak-sorai di belakangnya pun makin menjadi-jadi...
『Malah karena
lelah makanya aku ingin isi ulang energi dari Youshin. Ingin peluk erat-erat.
Ingin cium. Ingin melakukan hal yang lebih dari itu juga.』
Hawa
nafsunya... hawa nafsunya terlalu bocor ke mana-mana!! Apalagi diucapkannya
tanpa berteriak, melainkan dengan datar, tanpa intonasi, dan tanpa mengambil
napas sama sekali dalam satu tarikan.
"Kalau
begitu, aku bakal pergi buat mengucapkan 'selamat datang kembali'."
『Iya, aku
nantikan, ya.』
Di
saat Nanami sedang bersuka ria, dari belakang terdengar suara siulan menggoda
yang nyaring.
Ah,
suara Nanami yang mulai marah pun terdengar.
Saat
aku berpikir untuk mematikan telepon agar tidak mengganggu acara kumpul-kumpul
wanita mereka... mendadak rentetan pertanyaan dari para anggota yang ikut serta
beterbangan ke arahku.
Saat
aku menjawabnya satu per satu secara bertahap, Nanami yang sudah terlalu malu
mematikan telepon secara sepihak.
『Aku sangat
menantikan hari besok, ya!! Nanti aku hubungi lagi!!』
Astaga,
teleponnya sudah keburu dimatikan sebelum aku sempat menjawab.
"Aku
juga sangat menantikannya, kok."
Meskipun
kata-kata itu tidak sampai ke Nanami, aku tetap mengukir senyuman sambil
menatap layar ponselku.
◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇
Pada
hari di mana aku bisa bertemu kembali dengan Nanami setelah sekian lama, aku
bekerja paruh waktu sejak pagi hari.
Saat
hari tahun baru toko memang libur, tetapi mulai tanggal 3 dimulailah
operasional tahun baru sehingga toko menerapkan sistem operasional yang agak
khusus.
Yah,
walau yang khusus itu cuma Yuu-senpai saja, sih.
Pekan
promosi ini katanya bakal berlangsung sampai tanggal 7, dan aku pun bekerja
memakai semacam seragam bernuansa tradisional Jepang. Rasanya ini pertama
kalinya aku memakai pakaian tradisional Jepang lagi sejak kencan yukata waktu
itu.
Meskipun
merasa gelisah dan tidak sabar ingin segera bertemu Nanami, aku menekan
perasaan itu karena sedang bekerja.
Hanya
saja, tampaknya raut gembira di wajahku ketahuan jelas oleh orang-orang di
sekitar, sampai-sampai manajer toko dan para senior menyindirku sedikit.
Ah,
sebagai catatan, meskipun ini suasana tahun baru, tokonya sangat ramai
pengunjung. Mereka adalah para pelanggan yang mengincar wujud Yuu-senpai dan
Shouichi-senpai yang mengenakan pakaian tradisional Jepang.
"Kalau
begitu, saya permisi pulang duluan."
"Iya~,
sampaikan salam buat Nami-chan, ya~"
Karena
jam operasional makan siang sudah selesai, pekerjaan paruh waktuku untuk hari
ini cukup sampai di sini.
Setelah
diantar oleh Yuu-senpai dan yang lainnya, aku meninggalkan toko lalu melangkah
menuju rumah Nanami. Mungkin karena sudah lama tidak bertemu Nanami, langkah
kakiku terasa begitu ringan. ...Justru di saat seperti inilah aku harus
berhati-hati, karena lengah bisa memicu kecelakaan.
Aku
benar-benar sedang melayang, ya.
Saat
aku memberi kabar bahwa aku akan langsung menuju ke sana karena pekerjaan sudah
selesai, dia membalas kalau dia sudah sampai di rumah. Hanya saja...
『Aku mau
bersiap-siap dulu sekarang, jadi datangnya santai saja, ya~』
Bersiap-siap
untuk apa, ya? pikirku. Namun, aku tetap menuruti
perkataannya dan berjalan santai menuju rumah Nanami....Tidak ada barang yang
ketinggalan, kan?
Oleh-oleh
yang akan kuberikan pada Nanami sudah kubawa, dan pakaianku pun... sudah rapi.
Ya,
tidak ada masalah. Kalau ada yang tertinggal aku sempat berpikir untuk kembali
ke rumah dulu, tapi kalau begini sepertinya sudah aman. Karena ini musim
dingin, waktu matahari terbit memang singkat, tetapi di luar masih cukup
terang... anggap saja berjalan ke rumah Nanami ini sekalian jalan-jalan santai.
Tidak
lama setelah itu, pesan dari Nanami pun masuk.
『Persiapan
selesai, kamu boleh datang kapan saja』
Saat
pesan itu masuk, rumah Nanami sudah sangat dekat. Bisa dibilang ketepatan
waktunya sangat pas.
Akhirnya
bisa bertemu Nanami lagi setelah sekian lama, ya...
Begitu memikirkan hal itu, mendadak bagian dadaku terasa agak sesak.
Aku
kenal betul dengan perasaan ini. Ini adalah rasa tegang yang sama seperti saat
aku pertama kali bekerja paruh waktu.
Kenapa
juga aku malah merasa tegang sekarang?
Bukankah
kami cuma tidak bertemu sekitar seminggu saja...pikirku,
tetapi di sisi lain ada perasaan bahwa seminggu itu terasa begitu lama.
Setiap
kali melangkah maju, detak jantungku terasa makin kuat. Perasaan mengenai suhu
tubuh yang makin menurun ini sepertinya bukan cuma disebabkan oleh udara luar
saja.
Saat
berdiri di depan rumah Nanami, detak jantungku berpacu paling kencang. Namun,
setelah itu detak jantungku perlahan-lahan kembali tenang.
Setelah
menarik napas dalam-dalam sekali, aku menekan tombol bel pintu perlahan.
『Ara Youshin-kun,
selamat datang. Pintunya tidak dikunci kok, ayo masuk~』
Dari
bel pintu terdengar suara Tomoko-san.
Lho?
Padahal kukira Nanami yang bakal menyahut...
Saat
kuletakkan tangan di pintu lalu menekan gagangnya, suara klik terdengar
dan pintu pun terbuka.
"Permisi."
Tidak
ada balasan khusus atas sapaan itu, tetapi begitu aku melangkah masuk ke area genkan...
mataku terbelalak kaget.
"...Nanami?"
"Selamat
datang."
Di
sana, Nanami sedang duduk seiza, menyejajarkan punggung tangannya
menghadap ke arahku dengan hanya menempelkan jari telunjuk, jari tengah, dan
jari manisnya ke lantai sambil membungkukkan badan memberi hormat.
Sampai
di titik itu, hal tersebut masih tergolong salam menyambut yang sangat sopan,
tetapi yang membuatku terkejut adalah pakaian Nanami hari ini.
Dia
mengenakan kimono berwarna merah menyala. Meskipun warnanya terkesan berani,
entah mengapa ada kesan anggun yang tenang.
Kimono
bermotif warna putih dan kuning tersebut benar-benar terlihat sangat cocok
dikenakan oleh Nanami. Rambutnya disanggul rapi ke belakang, dan dia memakai
hiasan rambut berbentuk bunga dengan warna yang serasi dengan kimono-nya.
Sambil mengukir senyuman yang memancarkan keanggunan, dia sedikit memiringkan
kepalanya menyambut kedatanganku.
"...Permisi."
"Ehehe,
kamu kaget, ya?"
Tanpa
sadar aku malah mengulangi ucapan permisi sekali lagi.
Ya
jelas kaget! Kaget setengah mati, malah! Mana pernah kukira bakal disambut
dengan cara seperti ini.
Nanami
berdiri perlahan, lalu memperlihatkan seluruh penampilannya padaku. Jika
dilihat lebih dekat, kimono tersebut juga memiliki sedikit sentuhan warna
keemasan, serta dipenuhi motif kupu-kupu dan bunga di beberapa bagian.
Seolah
ingin pamer padaku, Nanami mengangkat sedikit kedua lengannya lalu berputar
perlahan di tempat. Seirama dengan gerakannya, ujung lengan kimono-nya
bergoyang lembut, tampak persis seperti kupu-kupu asli yang sedang terbang di
udara.
Tampak
menggemaskan sekaligus anggun, dan walau terdengar klise, kimono itu
benar-benar sangat cocok untuk Nanami.
"...Bagaimana
menurutmu?"
Dengan
tatapan sedikit mendongak ke atas, Nanami meminta pendapat padaku.
Gawat,
dia terlalu menggemaskan sampai-sampai aku ingin memeluknya. Tapi karena dia
memakai kimono yang bisa berantakan kalau dipeluk, aku tidak tahu apakah boleh
melakukannya atau tidak.
"Luar
biasa, cocok sekali, dan... cantik."
"Kenapa
bicaranya agak patah-patah begitu...?"
Itu
karena kamu terlalu menggemaskan sampai-sampai aku kehilangan kosakata, dan
kalau aku bicara seperti biasa, aku pasti bakal langsung memelukmu saat ini
juga, makanya aku sedang berusaha keras menahannya, tahu.
Jangan-jangan,
apakah semua anggota keluarga Barato hari ini mengenakan kimono? Karena cuma
aku yang memakai pakaian biasa, rasanya aku bakal terlihat sangat mencolok
sendiri.
Tepat
saat aku membatin begitu...
"Sedang
apa di pintu masuk? Cepat suruh dia masuk."
"Kakak
ipar~, selamat tahun baru~"
Lho,
Tomoko-san memakai pakaian biasa yang dilapisi celemek. Saya-chan juga
berpakaian biasa...
Lho?
Berarti yang memakai kimono cuma Nanami saja?
Saat
aku sedikit memiringkan kepala kebingungan, Tomoko-san melirik Nanami lalu
mengerutkan alisnya dengan raut agak heran. Mendapat tatapan seperti itu,
Nanami sedikit memalingkan pandangannya.
"Nanami
itu, gara-gara mendapat hadiah kimono dari Neneknya, dia jadi kelewat
bersemangat ingin memperlihatkannya pada Youshin. Padahal Ibu sudah bilang
kalau mau dipakai sebaiknya saat kencan saja."
"Aku
juga ikut membantu mengenakannya, lho~"
"Ihh!
Tidak usah mengatakan hal yang tidak perlu, deh!!"
Saya-chan
membusungkan dada dengan wajah bangga, sementara Nanami menyuarakan protesnya
pada mereka berdua.
Yah...
interaksi seperti biasa ini memberikan rasa aman yang luar biasa.
Rasa
tegang yang kurasakan sampai beberapa saat lalu mendadak luntur dan membuatku
merasa rileks, seolah-olah ketegangan tadi cuma kebohongan belaka.
"Sekali
lagi, Selamat Tahun Baru. Mohon bantuannya lagi ya di tahun ini."
Menyapa
itu penting, justru kepada orang-orang terdekatlah salam sapaan tidak boleh
terlewatkan. Walaupun tadi sempat tertunda gara-gara terkejut melihat Nanami,
niat untuk menyapa ini jelas bukan hal yang salah. Oleh karena itu meskipun
urutannya jadi agak aneh, aku pun menyapa keluarga Barato sekali lagi untuk
menyambut tahun baru. Mereka semua menyambutku dengan senyuman hangat sambil
mengucapkan kalimat mohon bantuannya juga untuk tahun ini.
...Lho?
Bukankah ada satu orang yang kurang?
"Hari
ini, Genichiro-san ke mana?"
"Dia
sedang pergi sebentar, tapi kurasa sebentar lagi juga pulang, kok."
Begitu
rupanya. Kalau begitu, nanti setelah beliau pulang saja aku menyapa
Genichiro-san secara resmi.
"Ini
ada sedikit oleh-oleh. Ini kue dari kampung halamanku..."
"Ara
ara, terima kasih banyak, ya. Nanti akan Ibu bawakan ke kamar."
Setelah
menyerahkan oleh-oleh, aku dan Nanami langsung beranjak menuju kamarnya. Aku
berjalan mengekor di belakang Nanami yang melangkah lebih dulu, tetapi berada
di dalam rumah sambil melihat seseorang memakai kimono memberikan perasaan yang
agak unik.
Saat
menaiki tangga menuju kamar Nanami di lantai 2... karena ada undakan,
jadinya... area tubuh bagian bawahnya tepat berada di dalam jangkauan
pandanganku.
Anu...
bagian pantatnya... dan semacamnya. Tidak, ini benar-benar tidak sengaja. Aku
tidak ada niat untuk mengintip, sungguh.
Setiap
kali dia melangkah, bagian itu bergoyang-goyang dengan gemas, dan mungkin
karena memakai kimono, garis pakaian dalamnya jadi tidak terbayang sama sekali.
Untuk
saat ini, karena sepertinya dia tidak sadar, aku berniat terus berjalan menuju
kamar Nanami... Namun mendadak, dia memutar tubuhnya ke belakang dengan cepat.
"Mesum."
Dia
tertawa menyeringai memperlihatkan giginya, membuat wajahku seketika memerah
panas.
Saat
dia dengan sengaja menutupi bagian pantatnya memakai tangan, kenapa rasanya
malah terlihat makin menggoda, ya? Lagipula Nanami, kamu pasti sengaja
melakukan ini sambil sudah tahu reaksimu bakal begini, kan?
"Ah,
iya. Sama seperti waktu pakai yukata dulu, aku pakai pakaian dalam kok~"
"Aku
tidak mengkhawatirkan hal itu, kok..."
Sambil
membatin bahwa aku tidak membutuhkan informasi trivia semacam itu, karena
tangganya tidak terlalu panjang, kami pun sampai di kamar Nanami dalam sekejap.
...Aku
sama sekali tidak merasa kecewa, lho, ya?
"Ayo,
masuk, masuk~"
"Permisi~"
Ini
sudah ketiga kalinya aku mengucapkan kata permisi untuk hari ini. Setiap kali
masuk ke kamar Nanami aku selalu mengucapkannya, tetapi tak peduli berapa kali
pun diucapkan, rasanya tetap saja membuat perasaanku agak sedikit tegang.
Kamar
Nanami yang sudah seminggu tidak kudatangi ini masih terlihat seperti kamar
Nanami yang biasanya. Sangat menenangkan hati.
Nanami
masuk ke kamar masih dengan mengenakan kimono-nya, dan saat kukira dia akan
duduk di tepi tempat tidur seperti biasa... ternyata dia tidak duduk, melainkan
langsung melambaikan tangan memanggilku.
"...Tidak
duduk?"
"Habisnya
kalau di dalam rumah pakai kimono terus rasanya lumayan merepotkan... makanya
aku mau melepasnya saja..."
Yah
wajar saja, sih. Begitu dikatakan, jawaban itu terasa sangat masuk akal dan tak
bisa dibantah. Kimono kan bahannya cukup kaku dan pas di tubuh, jadi kalau
bergerak sedikit saja lipatannya bisa langsung berantakan.
Hmm?
Lalu kalau begitu kenapa Nanami dari tadi tetap memakai kimono-nya?
"Kalau
begitu, aku keluar sebentar, ya."
"Tidak,
sebenarnya... sebelum melepasnya, ada satu hal yang ingin kucoba..."
Hal
yang ingin dicoba? Apakah hal yang cuma bisa dilakukan saat memakai kimono?
Pakai kimono... berarti semacam permainan tradisional Jepang, kah? Kan ini
masih suasana tahun baru.
Padahal
aku sudah membayangkan hal-hal yang menghangatkan hati seperti itu, tetapi
kata-kata yang keluar dari mulut Nanami malah di luar dugaan.
"Kamu
tidak ingin mencoba memutar sabuk obi sampai berputar-putar?"
...Memutar
sabuk obi sampai berputar-putar?
Karena
mendengar istilah yang asing dari mulut Nanami, aku pun memiringkan kepala
kebingungan. Melihat itu, Nanami menunjukkan ekspresi terkejut seolah tak
menyangka kalau aku tidak tahu.
"Lho?
Kamu tidak tahu? Itu lho, yang ditarik sabuk obinya terus orangnya jadi
berputar-putar."
"...Aah,
hal yang biasa ada di pertunjukan komedi zaman dulu itu?"
"Nah,
benar! Yang sambil teriak 'Aaargh~' itu."
Rasanya
aku pernah melihatnya di televisi waktu sudah lama sekali. Adegan di mana
seseorang menarik sabuk obi kimono wanita lalu membuatnya berputar-putar
seperti gasing. Di anime tertentu juga rasanya pernah ada, kayaknya.
Jadi,
demi melakukan hal itu Nanami sengaja tetap memakai kimono-nya...
Tunggu
dulu.
"Kenapa
Nanami malah yang mau melakukan hal itu?"
"Waktu
pulang kampung kemarin Kakek lagi menonton acara tv jadul, terus aku berpikir
sepertinya bakal seru kalau Youshin yang menariknya."
"Kenapa
bisa-bisanya kamu terpikir hal semacam itu coba?"
"Emm...
cuma spontanitas saja?"
Apakah...
hal semacam itu boleh dilakukan? Soalnya kalau dipikir-pikir, bukankah itu
artinya sama saja dengan melucuti pakaian wanita? Kimono, lho?
Nanami
tampak bersuka ria sibuk menguraikan ujung sabuk obinya untuk mempersiapkan
semuanya.
Tidak,
seriusan ini boleh dilakukan?
Saat
tidak ingin lipatannya berantakan malah gampang berantakan, tapi saat mencoba
membukanya sendiri ternyata malah lumayan susah... Nanami membelakangiku, lalu
membisikkan satu kalimat yang terdengar begitu menggoda.
"Kamu
tidak ingin mencobanya?"
...Jujur
saja, rasanya aku juga ingin mencobanya.
Bukan,
bahkan tanpa melibatkan makna seksual pun, bukankah hal ini kelihatan seru?
Bagaimana ya bilangnya... ada kadar kebodohan yang pas di dalamnya. Lagipula
sampai dipakai di pertunjukan komedi, kan.
Habisnya
secara normal, mana ada orang yang sengaja memegang sabuk obi lalu memutarnya
saat ingin melakukan hal seperti itu. Mau dilihat dari sudut mana pun tujuannya
jelas berbeda.
Maka
dari itu, aku memutuskan untuk menyambut godaan Nanami tersebut.
"Ayo
kita lakukan."
"Nah,
begitu dong."
Entah
mengapa Nanami mengukir senyuman tipis yang terkesan agak sedikit dingin. Aku
pun mengukir senyuman penuh semangat untuk membalasnya.
Aku
mencari-cari di mana letak ujung sabuk obinya, dan begitu menemukannya, aku
menggenggam bagian tersebut erat-erat.
"Ah,
waktu menariknya kamu harus bilang 'Bukankah ini hal yang bagus~', ya."
"Apa-apaan
itu...?"
"Katanya
itu bagian dari keindahan estetika klasiknya, lho."
Begitu
ya, kalau begitu meskipun agak malu mari kulakukan saja.
Walau
malu sih. Tapi kalau sudah menyangkut keindahan estetika klasik, mau bagaimana
lagi.
"B...
Bukankah ini hal yang bagus~"
Gawat,
suaraku malah jadi agak pelan. Nanami pun tampak sedikit tidak puas, dan saat
aku menarik sabuk obinya, tubuhnya sama sekali tidak bergeming.
Tunggu
dulu, kalau cuma mengandalkan tenagaku sendiri, tanpa mengeluarkan tenaga yang
sangat besar dia tidak akan bisa berputar-putar. Ini pasti membutuhkan kerja
sama dari pihak wanitanya juga. Dia harus ikut memutarkan tubuhnya sendiri.
...Mau
bagaimana lagi, mari kita ulang sekali lagi.
"Bukankah
ini hal yang bagus~"
"Aa~rgh~"
Karena
bakal berbahaya jika dilakukan secara mendadak, aku menariknya dengan agak
perlahan, dan Nanami pun mulai bergerak perlahan seirama dengan tarianku.
Rasa
perlawanan seperti tadi sudah tidak ada lagi, dan sabuk obinya bisa ditarik
dengan lancar.
Seolah-olah
mengaku kalah, dia mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi, lalu memutarkan
tubuhnya perlahan mengikuti gerakan tarikanku.
Meskipun
kalimat yang diucapkan terdengar agak konyol, sosok Nanami yang berputar-putar
tampak sungguh gembira.
Ya,
aku juga merasa agak senang. Tidak, ini sebenarnya seru sekali, sih.
Seirama
dengan putaran tubuh Nanami, aku menarik sabuk obinya lagi. Perasaannya persis
seperti sedang menarik tali saat lomba tarik tambang...
Dalam
arti tertentu, jika tidak menyelaraskan tempo bersama, hal ini tidak akan bisa
berjalan dengan lancar. Terkadang ada sensasi agak tersangkut, membuat
putarannya sedikit tersendat. Lagipula gerakan menarik seperti ini jarang
sekali dilakukan sehari-hari, jadi dari segi olahraga pun rasanya lumayan
menguras tenaga tangan.
Walaupun
aku rutin latihan otot, sepertinya masih banyak bagian otot yang belum
terlatim.
Saat
aku mulai merasa makin seru dan berniat menariknya sekali lagi... lho?
"Lho?
Sudah selesai?"
Setelah
berputar sekitar 3 kali, sabuk obinya sudah benar-benar terlepas dari tubuh
Nanami. Yang tersisa di tanganku hanyalah selembar kain yang lumayan panjang...
yaitu sabuk obi tersebut.
Sepertinya
Nanami sendiri juga tidak menduga hal ini, sehingga dia tampak agak tercengang.
Karena
di balik sabuk obi masih ada tali yang terikat, kimono-nya sama sekali tidak
berantakan dan tetap menutupi tubuh Nanami dengan rapat. Hal itu membuatku
merasa sedikit kecewa...
Tidak,
tidak kok. Aku sama sekali tidak merasa kecewa, lho. Lagipula, bagaimana aku
harus menghadapi suasana seperti ini? Soalnya adegan berputar-putarnya selesai
jauh lebih cepat dari dugaan.
"Lho~"
Tepat
saat aku membatin begitu, Nanami mulai berputar kembali. Padahal sabuk obinya
sudah tidak ada, tetapi dia berputar secara sukarela.
Ini
aku harus bagaimana, ya... pikirku, lalu Nanami
yang berputar itu langsung berpindah menuju tempat tidur...
Lalu
dengan ringan dia merebahkan diri di atas tempat tidur.
"Lho?
Kamu tidak kemari?"
"Eeh...?
Bukankah kamu mau berganti pakaian?"
Nanami
yang mengenakan kimono di atas tempat tidur melambaikan tangan memanggilku.
Bagi diriku sendiri, aku tidak tahu harus melakukan apa lagi selain ini, tetapi
untuk saat ini aku mendekat ke samping Nanami sambil membawa sabuk obinya.
Karena
Nanami yang mengenakan kimono menepuk-nepuk area di sampingnya, aku menghela
napas sekali lalu ikut merebahkan diri di samping Nanami yang mengenakan
kimono.
Rasa
bersalah karena melakukan hal seperti ini dalam kondisi memakai kimono sedikit
menyeruak dalam diriku. Namun... melihat senyuman Nanami membuatku merasa hal
semacam itu tidak masalah, sungguh sebuah perasaan yang ajaib.
"Ehehe,
akhirnya bisa santai-santai berbaring di tempat tidur~"
"Apakah
itu hal yang kamu katakan kemarin?"
"Iya...
karena sudah lama tidak begini... aku ingin merasakan kehadiranmu secara dekat
seperti ini."
Aku
menyentuh pipi Nanami dengan tanganku secara perlahan.
...Meskipun
aku menyentuhnya tanpa sadar, kalau dia sedang berdandan, apakah sebaiknya aku
tidak menyentuh pipinya, ya?
Tanpa
menghiraukan kekhawatiranku itu, Nanami memegang tanganku lalu menggesekkan
pipinya dengan manja. Sensasi kelembutan dan kelembapan pipinya terasa menyalur
ke tanganku.
Kalau
dipikir-pikir, kemarin dia sempat mengatakan hal lain yang ingin dia lakukan
juga, ya...
"Mau
coba memelukku?"
"Emm...
kalau itu... nanti saja setelah berganti pakaian, deh..."
Nanami
menegakkan tubuh bagian atasnya, lalu melonggarkan tali yang mengikat kimono-nya.
Kalau melakukan hal itu, bukankah kimono-nya bakal terlepas...?
Nanami
tidak sampai melepas kimono-nya... melainkan hanya membuatnya agak sedikit
berantakan dan tersingkap. Karena penasaran ada apa dengannya, aku pun ikut
bangun dan memperhatikan Nanami yang seperti itu.
"Ada
apa...? Nanti bajumu terlepas, lho...?"
"Habisnya,
di gim yang pernah dimainkan Youshin dulu, ada karakter perempuan yang memakai
kimono dengan gaya agak tersingkap begini... tapi ternyata kalau dipraktikkan
secara nyata susah juga, ya..."
Aah...
memang benar, dulu ada karakter yang mengenakan kimono dengan bagian dada
terbuka lebar atau bergaya agak seksi begitu.
Melihat
Nanami yang sekarang, aku jadi paham betul kalau hal semacam itu secara nyata
memang sulit dilakukan.
"Yah,
padahal aku berniat memberimu kelanjutan uang tahun baru untuk Youshin."
"...Soal
hal itu tidak usah repot-repot, ya."
Tampaknya
dia memang berniat memberiku pelayanan khusus. Namun karena terasa sulit
makanya dia menyerah, Nanami pun berdiri sambil membiarkan kimono-nya tetap
agak tersingkap.
"Aku
mau berganti pakaian dulu, jadi tunggu sebentar, ya~"
Sambil
berkata begitu, Nanami melangkah menuju luar kamar... dan tepat di saat dia
membuka pintu, dia berpapasan langsung dengan Tomoko-san.
Tomoko-san
yang mematung dalam posisi hendak mengetuk pintu, Nanami yang berada dalam
kondisi kimono terbuka lebar, ditambah lagi diriku yang sedang memegang sabuk
obi...
...Aku
lupa mengembalikan sabuk obinya pada Nanami.
Tomoko-san
menatap Nanami, menatapku, dan setelah menunjukkan gestur seolah berpikir
sejenak... beliau tersenyum lebar sambil menegakkan jari telunjuknya.
"...Ritual
malam pertama (himehajime)?"
"Bukan!!"
Tepat
di saat mendengar teriakan itu, entah mengapa secara mendadak aku benar-benar
menyadari bahwa aku telah kembali ke kehidupan sehari-hari seperti biasanya.
◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇
Meskipun
mungkin terdengar sebagai ungkapan yang kontradiktif, kemarin aku mengalami
pengalaman pertama bagiku, yaitu bertemu kembali dengan Nanami setelah sekian
lama.
Meskipun
penyampaiannya sangat rumit, hampir setiap hari aku selalu bertemu dengan
Nanami, dan kalaupun ada hari di mana kami tidak bertemu, itu hanya sehari atau
paling lama 2 hari.
Bertemu
kembali dengan seseorang yang biasa kutemui dalam rentang waktu seperti itu
setelah 1 minggu tidak bertemu memberikan perasaan yang sangat segar. Hal itu
membuatku bisa kembali merasakan secara mendalam betapa aku menyukai Nanami.
Yah,
meskipun awalnya aku sangat terkejut gara-gara kejutan sambutan berpakaian
kimono, sih...
Mana
pernah kutersirat pikiran kalau aku bakal disambut dengan cara duduk bersimpuh
menyentuhkan jari ke lantai begitu.
Dan
hari ini adalah hari berkencan.
Saat
membicarakan apa yang ingin dilakukan untuk kencan setelah sekian lama, karena
selama pulang kampung kami belum pergi melakukan kunjungan pertama ke kuil di
awal tahun (hatsumode), kami memutuskan untuk melakukan kencan hatsumode
bersama.
Sudah
lama sekali aku tidak pergi ke kuil... Sepertinya sejak kencan terakhir di masa
batas waktu hukuman permainan deklarasi cinta waktu itu. Di sini pun muncul
kata "setelah sekian lama" lagi. Akhir-akhir ini rasanya sering
sekali ada kejadian di mana aku mengalami kembali pengalaman masa lalu seperti
itu.
Jika
dipikir-pikir, kata "setelah sekian lama" ini memang ajaib. Walaupun
merupakan hal yang sudah pernah dialami, terkadang rasanya bisa menjadi sama
persis seperti saat pertama kali melakukannya.
Oleh
karena itu, kencan kali ini adalah parade dari hal-hal yang dilakukan
"setelah sekian lama" tersebut. Dan bagian akhir dari parade tersebut
adalah janji bertemu.
Kencan-kencan
kami akhir-akhir ini lebih sering diisi dengan saling menjemput atau
beraktivitas bersama sejak awal. Maka dari itu, kami memutuskan untuk saling
menunggu di titik pertemuan setelah sekian lama. Dan ada satu hal baru lagi.
Hal itu adalah kencan hari ini... merupakan kencan mengenakan pakaian
tradisional kimono.
Ada
sedikit alasan di balik hal ini, yaitu karena selama pulang kampung kemarin...
secara tidak terduga aku mendapatkan seperangkat kimono. Saat menceritakan hal
itu pada Nanami, dia bilang ingin melakukannya.
Kakek
dan Nenek memberikanku seperangkat kimono sebagai hadiah karena aku sudah
memiliki pacar. Katanya itu adalah kimono yang dulunya pernah dipakai oleh
Kakek.
Tak
disangka aku bakal menerima barang seperti itu... ditambah lagi karena beliau
tidak sempat mengirimkan hadiah ulang tahun, beliau memberiku seperangkat
barang lainnya sekaligus...
Jujur
saja, awalnya aku sempat berpikir tidak boleh menerima barang semahal ini,
tetapi pada akhirnya aku disuruh membawanya setengah dipaksa. Meskipun sangat
bersyukur, jujur aku merasa agak ragu dan sungkan.
Siapa
sangka, barang ini malah bisa berguna dengan cara seperti ini... Kakek, lain
kali aku bakal menelepon untuk mengucapkan terima kasih.
Maka
dari itu, saat ini aku sedang menunggu Nanami sambil mengenakan kimono. Aku
tidak memakai celana rok hakama, melainkan mengenakan kimono berwarna
abu-abu tua dengan sabuk obi berwarna mendekati putih dan luaran haori
berwarna biru gelap. Karena jika hanya memakai itu saja akan terasa dingin, aku
menambahkan mantel gaya Jepang (wasei coat) dan sandal jerami musim
dingin (setta)...
Tak
disangka, pada pulang kampung kali ini aku bisa mendapatkan seluruh set pakaian
lengkap dari atas sampai bawah. Namun tetap saja... pakaian tradisional yang
belum terbiasa kupakai ini terasa agak sedikit sulit untuk digunakan bergerak,
atau lebih tepatnya membuat bahu terasa pegal...
Nanami
hebat juga ya, kemarin bisa bergerak dengan lancar saat memakai pakaian
tradisional.
Yah,
walau di tengah jalan sempat dilepas juga, sih.
Nah,
walaupun aku sampai di titik pertemuan sedikit lebih awal dari waktu yang
dijanjikan... sepertinya Nanami belum datang.
Ya
baguslah, jadi tidak perlu khawatir dia bakal digoda orang lain.
Akhir-akhir
ini rasanya situasi makin marak dengan hal-hal yang meresahkan, jadi makin
sedikit faktor yang membuat cemas akan makin baik. Meskipun ini janji bertemu
di dalam stasiun, laki-laki dan perempuan yang mengenakan kimono tampak
terlihat di sana-sini, membuatku terpikir apakah mereka semua juga berniat
melakukan kencan kimono yang sama seperti kami.
Pergi
ke tengah kota dengan memakai kimono sempat membuatku agak khawatir apakah aku
bakal terlihat mencolok dengan cara yang aneh atau tidak, tetapi melihat
situasi ini sepertinya tidak akan ada rasa canggung.
Memang
benar, ini adalah kencan yang tidak akan bisa dilakukan di hari-hari biasa...
kencan yang hanya bisa dilakukan saat ini saja.
Nah,
apakah Nanami bakal segera datang?
Tepat
saat aku membatin begitu... seorang wanita yang sangat menarik perhatian
orang-orang di sekitar melangkah mendekat ke arahku. Dia mengenakan kimono
warna biru bermotif bunga yang berbeda dengan yang kulihat kemarin, sabuk obi
yang agak keputihan, serta syal bulu-bulu warna putih yang melingkar di
lehernya.
Mungkin
karena sudah memakai pakaian penghangat di balik kimono-nya, dia tampak tidak
mengenakan mantel.
Nanami
menata rambut panjangnya menjadi satu kepangan tunggal, dihiasi ornamen bunga
dan dibiarkan terurai di samping bahunya. Ditambah lagi, dia memakai kacamata
bulat besar yang biasanya tidak pernah dia pakai.
Kacamata
bulat besar tanpa bingkai itu terasa sangat serasi dengan kimono-nya, kian
menonjolkan kecantikan Nanami.
Dia
menatap sekelilingnya dengan santai, sekilas tampak seperti sosok gadis cantik
yang berkesan dingin. Namun, gadis tersebut mendadak mengubah ekspresi wajahnya
sepenuhnya begitu menemukan keberadaanku.
Melihat
dirinya tersenyum seperti mentari dan bungkar yang bermekaran membuat jantungku
berdegup kencang. Aku hanya mampu mengangkat sebelah tangan perlahan untuk
membalasnya dengan sekuat tenaga.
Berlari-lari
kecil mendekatiku dengan sandal setta, Nanami memegang tanganku dengan
raut wajah penuh haru.
"Youshin,
kimono-nya cocok sekali buatmu, lho. Keren sekali."
Karena
sama sekali tidak menyangka bakal dipuji sejak langkah awal, aku dibuat
terperangah. Malah rasanya peranku yang seharusnya memuji lebih dulu justru
disalip olehnya.
"Nanami
juga, cantik sekali. Kimono-nya... beda dengan yang kemarin, kan?"
Saat
aku memujinya terlambat, Nanami mengatupkan kedua tangannya di depan dada
sambil tersenyum gembira. Karena mengenakan baju lengan panjang (furisode),
ujung lengannya bergoyang lembut mengikuti gerakan tangannya itu.
Padahal
kukira rambutnya bakal disanggul ke atas lagi, tetapi ternyata hari ini dikepang
dua, ya. Kepangan itu pun ikut bergoyang lembut seirama dengan gerakan tubuh
Nanami.
"Iya,
aku dapat beberapa stel, kok. Karena mumpung ada, aku ingin mencoba memakai
berbagai macam jenisnya..."
Warna
merah kemarin memang cocok untuk Nanami, tetapi kimono warna biru hari ini pun
benar-benar sangat cocok padanya. Kalau barang-barangnya... apakah itu selera
Nanami?
Melihat
Nanami memakai kacamata juga rasanya sudah lama sekali tidak kulihat. Di sini
pun muncul kata "setelah sekian lama"... ya.
"Ngomong-ngomong
Youshin, sudah lama menunggu?"
"Tidak
terlalu lama, kok. Aku juga baru saja sampai..."
"Eeh?
Tapi kalau baru sampai... tanganmu dingin sekali begini, lho?"
Nanami
mengangkat tangan yang dipegangnya, lalu menyilangkan jari-jemarinya ke jariku.
Di depan mataku, jari-jemari kedua tangan kami saling tertaut dengan jari
Nanami, bergerak seolah-olah menjadi makhluk hidup yang berbeda. Tangan Nanami
terasa lembap sekaligus halus, membuat jari-jemari kami bergeser mulus tanpa
ada halangan sedikit pun. Apakah mungkin dia mengoleskan sesuatu ke tangannya?
"Tuh
kan, telingamu juga dingin."
"I-iya
sih, tapi aku tidak menunggu lama-lama amat, kok."
Nanami
yang melepaskan jarinya langsung menyentuh telingaku.
Saat
suhu tubuh Nanami menyalur dari telingaku, aku sedikit bergeliat.
Nanami
mendekat padaku sambil terus menyentuh telingaku. Karena perbedaan tinggi badan
antara aku dan Nanami tidak terlalu jauh, secara otomatis wajahnya berada
sangat dekat di sampingku.
Jika
dilihat dari jarak dekat... dia benar-benar cantik... Apakah hari ini bulu
matanya agak sedikit dipoles lebih tebal? Rasanya tampak sedikit lebih panjang
dari biasanya.
Kacamata
itu seharusnya cuma kacamata gaya. Manik matanya yang indah dan sangat kusukai
itu menatapku dengan ukuran yang sama persis seperti biasanya.
Tampaknya
dia memakai riasan tipis, dan saat pandanganku jatuh ke bibirnya yang berwarna
merah muda ke-merah-aprikot itu, tampak ada sedikit kilapan di sana....Begitu
menyadari bahwa aku selalu berciuman dengan bibir ini, pipiku mendadak terasa
panas.
Mungkin
menyadari pandanganku itu, manik mata Nanami saling bertemu dengan pandanganku.
Nanami melepaskan tangannya dari telingaku, lalu menempelkan jarinya ke
bibirnya sendiri.
Kepada
diriku yang matanya terbelalak lebar, dia berbisik dengan volume suara yang
tidak akan terdengar oleh orang-orang di sekitar.
"Nanti
saja, ya?"
Padahal
sampai beberapa saat lalu dia mengukir senyuman seperti gadis polos tanpa dosa,
tetapi sekarang dia malah mengukir senyuman anggun nan menggoda seolah sedang
merayu.
Rentang
perubahan daya pikatnya luar biasa sekali... Lagipula, perempuan itu
benar-benar bisa berubah total hanya lewat ekspresi wajah. Mungkin ada pengaruh
dari penggunaan kimono juga. Entah mengapa kimono itu terasa sangat menggoda
padahal bagian tubuh yang tersingkap sangat sedikit, ya.
"...Maksudnya
bicara soal apa, ya?"
"Emm?
Tidak ada apa-apa, kok~"
Kepada
diriku yang memberikan jawaban pura-pura tidak tahu, Nanami pun membalas sambil
berpura-pura tidak tahu apa-apa. Kalau soal hal seperti ini, sepertinya aku
tidak akan pernah bisa mengalahkannya seumur hidup...
Yah
tapi, kalau melakukannya berlebihan dia sendiri bakal terkena dampaknya, sih.
Seperti saat diungkit soal ritual malam pertama (himehajime) kemarin.
Kemarin
masalah itu menguap begitu saja gara-gara Nanami panik sendiri, tetapi kalau
dipikir-pikir kembali, dibilangi hal seperti ritual malam pertama oleh
Tomoko-san itu rasanya berat sekali, lho.
...Yah,
kalau diungkit Nanami bakal panik lagi, jadi mari jangan dibahas saja.
"Kalau
begitu, ayo kita berangkat."
Saat
aku mengulurkan tangan pada Nanami seolah sedang mengawalnya, Nanami
menggenggam tangan itu dengan raut wajah penuh kegembiraan. Orang-orang di
sekitar yang orang tujuannya sudah sampai pun mulai bergerak berjalan bersama
kami.
Mungkin,
tempat tujuan semua orang sama... yaitu pergi melakukan kunjungan pertama ke
kuil di awal tahun (hatsumode).
Begitu
melangkah keluar dari stasiun tempat janji bertemu, langit biru membentang luas
di atas kami. Di sekeliling pun salju tampak menumpuk, dan di tengah udara yang
dingin menusuk, ada rasa hangat yang menyelimuti.
"Untunglah
cuacanya cerah, ya."
"Benar
juga, sinar mataharinya terasa nyaman sekali."
Dengan
perasaan seperti sedang jalan-jalan santai, kami menyusuri jalanan musim
dingin. Walaupun kusekira permukaan jalannya membeku, ternyata saljunya memadat
sehingga tidak terlalu licin.
Yah,
karena memakai sandal setta khusus musim dingin rasanya akan baik-baik
saja, sih... tapi tetap tidak boleh lengah. Tolong sekali jangan sampai
terpeleset di jalan bertepuk salju lalu membuat kimono-ku berantakan.
"Ngomong-ngomong,
soal perjalanan liburan itu... di pihakmu tidak ada masalah, kan?"
"Iya,
Ibu dan Ayah memberikan izin, kok. Tapi tetap saja, beliau bilang ingin
berbicara dulu termasuk dengan keluarga Nanami."
"Aah,
ternyata di sana begitu juga, ya? Di rumahku Ayah dan Ibu juga mengatakan hal
yang sama."
"Mungkin
karena mereka saling berhubungan... jadi sudah saling berkompromi dulu."
Sambil
mengucapkan "benar juga ya", Nanami mengukir senyum getir.
Memang
benar sih, kalau dipikir-pikir lagi karena mereka saling tahu kontak
masing-masing, pasti sudah saling bertukar informasi.
"...Ngomong-ngomong,
di saat kapan kamu membicarakan soal perjalanan liburan itu?"
"Aku?
Begitu Kakek dan yang lainnya bilang mau membantu, aku langsung
membicarakannya..."
Ini
juga hal yang sempat terlewat olehku, kami ternyata tidak menyelaraskan waktu
saat mengatakannya. Nanami langsung membicarakannya hari itu, sedangkan aku
baru membicarakannya keesokan harinya.
Gara-gara
hal itu, timbul ketidakselarasan informasi. Malah dari pihakku, Ibu sampai
bertanya padaku duluan seperti, "Kamu... mau pergi berlibur dengan
Nanami-san?"
Karena
baru menjelaskan setelah ditanya begitu... yah, aku jadi dimarahi. Dimarahi
kenapa tidak bilang lebih awal...
"Sudah
lama sekali aku tidak dimarahi orang tuaku... tidak, tapi ini murni kesalahanku
sih."
"Kalau
bicara soal itu, aku juga salah kok... karena terlalu terburu-buru..."
Mengingat
kejadian saat itu membuatku merasa agak menyedihkan.
Tidak,
dimarahi sih sesekali pernah, tapi kalau sampai sejauh itu rasanya agak...
Melihat
diriku yang termenung lesu mengingat hal itu, Nanami mengelus-elus kepalaku
dengan lembut untuk menenangkan.
...Diperlakukan
seperti ini sambil berjalan memang membikin malu, tapi rasanya lumayan
menyenangkan.
"Yosh
yosh, Youshin tidak salah kok... aku yang salah..."
"Tidak,
tidak, kalau menyalahkan Nanami di sini tentu saja tidak benar..."
Aku
hampir saja jadi manja padanya, tetapi dengan sisa-sisa kendali diri yang
tersisa di dalam hati, aku berusaha menahannya. Bagaimanapun juga, karena kita
tidak bisa terus-menerus menyesali diri, mari kita ubah suasana hatinya.
"Untuk
saat ini, mari kita gembira secara jujur karena izin liburannya sudah
keluar."
"Benar
juga, ya. Untuk tempat penginapannya bagaimana?"
"Aku
sudah memilih beberapa pilihan, nanti mari kita tentukan bersama-sama, ya. Aku
sudah memastikan kalau di paruh kedua liburan musim dingin masih banyak yang
bisa dipesan."
"Kamu
sudah memastikan sampai sejauh itu?"
Yang
pertama adalah tempat penginapan. Berkat saran dari Baron-san juga, aku
bergerak lebih awal untuk hal-hal yang bisa disiapkan. Selain itu yah, alasan
besarnya adalah karena aku memang sangat menantikannya, sih.
Setelah
itu masih banyak hal yang harus ditentukan seperti kemudahan akses
transportasi, ada apa saja di sekitarnya, atau hal apa yang ingin dilihat, tapi
hal-hal itu bisa dipastikan perlahan-lahan nanti. Menyusun perencanaan seperti
ini juga merupakan salah satu kesenangan dari perjalanan liburan.
"Kalau
aku sih... asal bersama Youshin pergi ke mana saja pasti menyenangkan."
"Bagi
diriku juga tentu saja begitu..."
"Lagipula
coba bayangkan, kalau pergi berlibur ke onsen bersama kekasih..."
Lanjutan
dari kalimat "kalau pergi..." tidak lagi terdengar dari mulut Nanami.
Lho?
Ada apa ya? Saat aku membatin begitu, dia malah menundukkan kepalanya. Apakah
aku mengatakan sesuatu yang aneh?
"Waktu
kunjungan pertama ke kuil, Youshin ingin melakukan apa?"
"Terang-terangan
sekali mengalihkan topik pembicaraannya, ya..."
Tanpa
sadar aku menyindirnya. Habisnya, kalau mendadak ditanya ingin melakukan apa
saat hatsumode, tentu saja bakal kusiapkan sindiran begitu.
Nanami
yang menyadari hal itu juga tertawa seolah sedang memendam sesuatu untuk
mengelabui keadaan. Meskipun penasaran dengan apa yang ingin dikatakannya, jika
Nanami tidak ingin mengatakannya, apakah sebaiknya aku tidak memaksanya untuk
bertanya?
Tepat
saat aku berpikir demikian, Nanami menghela napas pasrah seolah menyerah.
"Ano
ne... tadi kan aku sempat ikut kumpul-kumpul wanita antar-kerabat, kan?
Kumpul-kumpul wanita yang melibatkan sepupu yang sedikit lebih tua dan para
ibu-ibu..."
"Aah,
yang tadi itu, ya. Aku juga sempat ikut bergabung sebentar sih..."
Apakah
terjadi sesuatu di sana?
Saat
aku memiringkan kepala kebingungan, Nanami menunjukkan gestur memegang
kepalanya ringan.
Apakah
terjadi hal yang seaneh itu...?
"Saat
itu tuh... sepupuku yang mahasiswi... bilang kalau pergi berlibur ke onsen
sebagai pasangan kekasih, bukankah hampir tidak pernah keluar kamar? begitu..."
"Eh?
Kenapa...?"
"Itu...
anu..."
Dengan
nada yang terkesan enggan, patah-patah, dan terputus-putus, Nanami
mengucapkannya perlahan.
"Di
penginapan onsen cuma berdua saja... bukankah bakal terus-menerus... melakukan
hal itu tanpa henti..."
Kata-kata
yang tak terduga keluar dari mulutnya.
Hal
semacam itu kan bukan sesuatu yang bisa kuberi komentar!
Eh,
tunggu dulu. Sepupu yang mahasiswi tadi bilang begitu, kan...? Apakah bagi
mahasiswa hal semacam itu sudah jadi hal yang biasa?
Mengerikan
sekali...
"Setelah
itu juga, anu..."
"Masih
ada lanjutannya lagi?!"
Kukira
hal itu sudah berakhir sampai di situ saja, tetapi setelah itu rentetan ucapan
terus keluar tanpa henti... sampai-sampai Nanami yang sedang berbicara mulai
gemetaran sendiri.
Kondisinya
sudah bercampur antara kasihan dan menggemaskan, hingga di tengah-tengah aku
tidak sanggup lagi melihatnya dan berkata, "Bagaimana kalau kita hentikan
saja pembicaraan ini?"
Jujur
saja kalau boleh jujur aku masih ingin mendengarnya sedikit lagi, tetapi
pembicaraannya sudah mulai mengarah ke hal-hal yang bahaya jika diucapkan di
tempat umum seperti ini.
"Yah,
kalau pembicaraan semacam itu terdengar sampai ke orang tua, izin liburannya
bisa-bisa dipastikan melayang... jadi mari kita segel saja pembicaraan
itu."
"B-benar
juga, ya... benar juga. Ya ampun, untung saja Ibu dan yang lainnya tidak ikut
mendengarkannya."
Itu
benar-benar hal yang sangat disyukuri. Kalau sampai menjurus ke arah sana
sungguh perjalanan liburannya... tidak, kalau Tomoko-san mungkin saja beliau
tetap memberikan izin meski begitu...?
Yah...
jangan memicu masalah yang tidak perlu, dah.
"Ngomong-ngomong
kembali ke topik tadi, kalau bagiku hatsumode itu pada dasarnya cuma
berdoa lalu selesai... kalau Nanami apakah ada hal lain yang biasanya
dilakukan?"
"Benar
juga ya... pada dasarnya memang berdoa sih, tapi yang paling kunantikan itu
adalah pergi berbelanja setelahnya, mungkin ya."
"Berbelanja,
ya... Tapi bukankah acara obral awal tahun (hatsuuri) itu biasanya
tanggal 2? Nanami tidak pergi ke acara seperti itu?"
"Aah...
karena obral awal tahun itu sangat ramai, aku tidak begitu sering pergi, sih...
Yah, lagipula bertepatan dengan waktu pulang kampung juga makanya jadi tidak
bisa pergi."
Begitu
rupanya.
Memang
benar sih, dia kan tidak terlalu suka dengan keramaian. Saat hari Natal kemarin
memang sangat ramai, tetapi karena waktunya singkat dia masih bisa
menahannya...
Jika
dipikir-pikir seperti itu, keputusan untuk pergi melakukan hatsumode
sekarang adalah timing yang pas. Kelihatannya orang-orang tidak begitu ramai
juga.
Setelah
berjalan beberapa saat, gerbang kuil (torii) yang menjadi tujuan kami
pun mulai terlihat.
Saat
datang ke sini sebelumnya adalah musim semi... sebelum musim panas, jadi di
pohon-pohon bunga sakura sedang bermekaran, dan aku ingat betapa indahnya
gerbang torii yang tersiram sinar matahari waktu itu. Di bawah naungan
bunga sakura tersebut, kami berdua berjalan perlahan sambil berdoa. Sungguh
kenangan yang merindukan.
Siapa
sangka setelah lewat beberapa bulan, pemandangannya bisa berubah menjadi sangat
berbeda seperti ini. Mungkin datang saat musim panas atau musim gugur juga
bagus, ya.
"Nee,
Youshin... kamu masih ingat?"
"Hmm?
Masih ingat, kok. Jalan ini kan jalan yang kita lewati waktu datang berkencan
ke kuil dulu, kan?"
"Nah,
benar. Waktu itu kita pergi ke kebun binatang, mampir ke taman, terus Youshin
sampai hampir jatuh ke kolam... ada banyak kejadian, ya."
"Ingat
saja kamu, ya... Aku dulu hampir jatuh, ya? Sama sekali tidak ingat, tuh."
Aku
ingat betul kejadian waktu itu kok, kata Nanami
sambil menyipitkan matanya sedikit dengan pandangan jauh yang tampak
bernostalgia. Di ujung pandangannya... gerbang torii terlihat berdiri
tegak.
Waktu
itu pun, kami melewati gerbang torii ini, ya.
"Seingatku,
ini gerbang torii pemutus hubungan (engiri), kan?"
Benar,
saat melewati gerbang torii itu kita harus berhati-hati. Gerbang torii
pemutus hubungan... ada legenda yang mengatakan bahwa jika tidak melewatinya
secara terpisah, maka hubungan (takdir ikatan) akan terputus.
Maka
dari itu, saat lewat di sana orang-orang akan melewatinya secara terpisah...
dan karena sepertinya cukup terkenal, pasangan-pasangan kekasih lain pun
melewatinya sendiri-sendiri secara bergantian.
Orang
yang melewatinya berdua sekaligus... sejauh mata memandang tidak ada.
"Karena
sebelumnya mulai dari Youshin dulu, kali ini aku dulu ya yang lewat."
"Lho?
Sebelumnya dari aku duluan, ya? Kalau begitu, kali ini kuserahkan padamu."
Saat
sampai di depan gerbang torii lalu mendongak ke atas, di bagian atasnya
salju menumpuk tebal. Salju putih yang menumpuk di atas gerbang torii
merah tersebut memantulkan cahaya pada gerbang yang berselimut salju.
Saat
kulihat di musim semi dulu gerbang ini memang tersinari cahaya, tetapi sekarang
gerbang ini tampak berkilau berkilauan diterpa salju.
Begitu
sampai di depan gerbang torii, Nanami melepaskan diri dariku lalu
mengambil satu langkah maju. Dia berjalan perlahan melewati bagian pinggir
gerbang torii, lalu setelah melangkah beberapa langkah dia menghentikan
langkahnya.
Di
tempat itu dia memutar tubuhnya perlahan, lalu melambaikan tangan memanggilku
dari balik gerbang torii.
Momen
dipanggil dari balik gerbang torii tersebut entah mengapa terlihat
seperti suasana di luar dunia nyata, ditambah lagi dengan pakaian tradisional
yang dikenakannya, menciptakan atmosfer yang begitu fantastis.
Seandainya
ini saat sore hari atau saat matahari hampir terbenam... mungkin akan terlihat
jauh lebih misterius lagi, ya.
Seolah-olah
aku sedang melangkah menuju dunia yang tak kukenal, aku melangkah masuk ke
gerbang torii. Saat melewatinya, rasanya ada perasaan sakral yang ajaib
menyeruak dalam diriku.
Ini
kedua kalinya aku melewati gerbang torii ini, semoga lewat ini hubungan
buruk di sekitar kami bisa terputus lagi.
Seandainya
ini kisah reinkarnasi ke dunia lain, apakah setelah melewati gerbang torii
seperti ini bakal jadi perkembangan cerita fantasi seperti berpindah ke dunia
lain, ya?
Namun
ini adalah dunia nyata, dan setelah melewati gerbang torii aku tidak
berpindah ke dunia lain... melainkan di depanku ada Nanami. Sosok gadis yang
sedang merentangkan kedua tangannya menunggu kedatanganku.
Saat
aku menggenggam tangan itu, Nanami menunjukkan ekspresi yang agak heran.
"Lho?
Ini aneh?"
"Eh?
Ada apa...?"
Karena
dia mendadak bilang anomali, kukira tata kramaku atau semacamnya ada yang
aneh... ternyata bukan. Nanami malah meraba-raba area di sekitar kakiku.
"Eeh...?"
Saat
aku dibuat kebingungan, Nanami bergumam,
"Ternyata
tidak jatuh terpeleset, ya."
Tampaknya
Nanami merentangkan kedua tangannya menunggu karena mengira aku bakal jatuh
terpeleset. Tidak, tapi kalaupun begitu, bukankah bakalan berat bagimu untuk
menahanku?
Memang
karena ini jalanan musim dingin jadi tidak menutup kemungkinan bakal licin dan
jatuh terpeleset, tapi kalau di sini sih masa iya...
Bukan,
tunggu. Kalau dipikir-pikir lagi, aku baru ingat.
"Waktu
dulu itu Nanami yang jatuh terpeleset, kan? Gara-gara tersandung sesuatu."
"Iya,
benar! Waktu itu aku berpikir apakah Dewa melakukan hal itu demi membuat kita
berpelukan... tapi ternyata hari ini tidak ada kejadian begitu, ya?"
"Kondisinya
kan berbeda dengan waktu itu, dan karena ini tahun baru mungkin Dewa juga agak
segan?"
"Kalau
begitu mau bagaimana lagi, ya," kata Nanami sambil tampak sedikit kecewa.
Setelah
itu kami berdua berjalan menuju bangunan utama kuil (haiden), tetapi di
sana terhampar pemandangan yang berbeda dari saat kami datang sebelumnya.
Jalan
lurus yang membentang menuju haiden memang tidak berubah dari
sebelumnya, tetapi daun dan bunga yang seharusnya ada di pohon-pohon sekitarnya
telah lenyap, menyisakan ranting-ranting saja.
Di
ranting-ranting tersebut salju menumpuk, membuat salju-salju itu terlihat
persis seperti dedaunan bunga. Sesekali salju tersebut gugur ke tanah, tampak
persis seperti kelopak bunga yang berguguran.
Salju
yang gugur seperti kelopak bunga itu memantulkan sinar matahari, membuat jalan
setapak menuju kuil (sando) berkilau berkilauan. Karena hari ini
cuacanya sangat cerah, langit biru tanpa awan sedikit pun yang membentang luas
juga berdampak besar akan keindahan ini.
Pemandangan
yang diwarnai oleh warna biru, putih, dan warna pepohonan ini memancarkan
atmosfer yang mirip seperti lukisan keagamaan yang fantastis, atau lukisan
pemandangan yang megah.
Saat
datang sebelumnya... bunga sakura sedang bermekaran, ya. Padahal ini musim
dingin, tetapi pemandangannya terlihat seperti dipenuhi oleh bunga-bunga...
Di
tengah pemandangan tersebut, aku dan Nanami berjalan perlahan.
Pasangan-pasangan kekasih yang lain pun berjalan perlahan sambil melihat
sekeliling, walau alasan lainnya adalah karena jalanan bersalju juga, sih.
"Kalau
tampilannya sebeda ini, seharusnya saat musim panas atau musim gugur kita
datang ke sini juga, ya."
"Aku
juga sempat terpikir hal itu tadi. Tahun ini mari kita coba datang beberapa
kali."
Mungkin
agak terlalu klasik untuk ukuran kencan, tetapi saat musim panas atau musim
gugur... karena ada banyak hal seperti ujian masuk sekolah dan lain-lain,
datang ke sini untuk berdoa memohon keberhasilan sepertinya bagus juga.
Di
tengah jalan, sama seperti yang dilakukan pasangan kekasih lainnya, kami
mengambil foto dengan latar belakang pemandangan salju... lalu berjalan menuju haiden.
Pada
saat itu, Nanami menemukan foto suasana kuil pada hari pertama tahun baru (gantan)
dari ponselnya.
"Wah...
kalau waktu hari pertama tahun baru, sepertinya orang yang datang jumlahnya
luar biasa banyaknya, lho..."
"Iya,
jalannya sampai tertutup oleh lautan manusia, ya... Kalau dipikir-pikir begitu,
keputusan datang hari ini sepertinya sangat tepat..."
Dibandingkan
dengan hari tersebut, jumlah peziarah hari ini jauh lebih sedikit, dan area
sekitarnya dipenuhi oleh ketenangan yang menyejukkan.
Saat
salju menumpuk, rasanya emang terasa jauh lebih hening, ya.
Aku
pernah mendengar kalau itu karena salju menyerap suara, mungkin gara-gara hal
itu, ya.
Bukan
berarti benar-benar tanpa suara sama sekali, melainkan suara angin, desiran
pepohonan, serta suara salju yang gugur masih terdengar. Meskipun di sekeliling
ada pasangan-pasangan lain, suara mereka tidak sampai ke telinga kami. Artinya,
suara kami pun sepertinya tidak terdengar oleh mereka.
Saat
terus melangkah maju, di tengah salju putih tampak terlihat bangunan utama kuil
(haiden) yang anggun dan sakral. Haiden di tengah hamparan salju
pun memiliki daya pikat tersendiri, ya.
"Ngomong-ngomong...
waktu berdoa dulu, kita sempat saling memberitahukan permintaan masing-masing,
ya."
"Aah,
benar juga. Waktu itu memang kita saling memberitahu..."
Seingatku
saat itu, kami berdoa agar bisa terus bersama selamanya... kalau tidak salah
bilang begitu. Lebih tepatnya... mohon awasi kami karena kami akan berusaha
untuk saling membahagiakan. Apakah berkat sumpah saat itulah, hingga kini
aku bisa terus bersama Nanami seperti ini...?
"Sebenarnya
kan, katanya kalau permintaan kita diucapkan, konon tidak akan terkabul,
lho."
Masa
sih?!
Saat
aku terbelalak kaget, Nanami pun mengukir senyum getir. Tampaknya dia baru
mengetahui hal tersebut setelah mencari tahu usai mengucapkannya waktu itu.
Waktu
itu aku sibuk mencari tahu tentang tata cara dan langkah-langkah beribadah,
jadi tidak sempat memikirkan sampai ke sana... tapi, eh?
"Lho?
Tapi permintaan kita bukankah terkabul?"
Permintaan
waktu itu adalah agar kami berdua bisa terus bersama selamanya. Permintaan itu
terkabul, dan kini kami berdua berada di sini bersama-sama. Berarti
permintaannya terkabul, tetapi apakah itu artinya diucapkan pun tetap bisa
terkabul? Ataukah pada dasarnya hal semacam itu memang cuma mitos belaka...?
"Sebenarnya...
permintaan aku waktu itu secara tepatnya agak berbeda, sih."
"Begitu?"
"Iya.
Kalau aku waktu itu berdoa... aku akan mengatakan semuanya pada Youshin,
menyatakan cinta sekali lagi, dan berusaha agar bisa terus bersama, jadi mohon
awasi aku."
Sambil
tertawa kecil "ehehe", Nanami mengerutkan alisnya sedikit, mungkin
karena sedang mengenang masa-masa itu. Dia mungkin sedang mengingat kembali
perasaan saat itu.
Aku
pun mengalihkan pandanganku kembali ke arah haiden. Saat itu, yang
kudoakan di sini adalah...
"Kalau
artinya begitu, aku pun... sama saja. Aku berdoa mohon dorong keberanianku
karena aku akan menyatakan cinta sekali lagi pada Nanami."
Benar
juga, ya. Waktu itu aku sedikit salah ingat kalau aku berdoa agar bisa
bersama... padahal secara tepatnya bukan begitu.
Aku
teringat kembali bahwa aku ingin memulai kembali hubungan kami dari awal.
Teringat perasaan saat itu membuat dadaku terasa agak sedikit sesak.
Sebab
waktu itu, rasanya seperti sedang mempertaruhkan segalanya apakah pernyataan
cinta ulang itu bakal berhasil atau tidak.
Bukan
hal yang rumit, ternyata kami berdua sama-sama menyimpan doa yang sebenarnya di
dalam hati masing-masing. Makanya bisa terkabul... walau mungkin alasannya
bukan cuma karena itu saja, sih.
"Yah,
memang ada perdebatan antara kubu yang bilang lebih baik diucapkan dan kubu
yang bilang lebih baik tidak diucapkan. Jadi mungkin tidak perlu terlalu
dipikirkan pusing-pusing."
"Begitu
rupanya, aku baru tahu sampai ke situ... tapi, kalau begitu kenapa kamu malah
sengaja mengatakannya?"
"Yah,
begitu teringat kejadian waktu itu... aku jadi ingin mengatakannya. Lagipula
kali ini kita juga bakal berdoa lagi, kan..."
"Sebelum
berdoa... mungkin kita perlu menyampaikan ucapan terima kasih dulu, ya."
Apakah
Dewa benar-benar mendorong keberanian kami atau tidak, aku tidak tahu pasti,
tetapi aku merasa perasaan itulah yang sangat penting. Lewat cerita Nanami
barusan, aku jadi paham betul bahwa terkabul atau tidaknya suatu permintaan itu
tergantung pada diri sendiri. Permintaan kali ini pun pasti akan seperti itu.
Entah
diucapkan atau tidak, hasilnya pasti tidak akan berubah.
Tidak
sombong dengan lingkungan sekitar dan terus berusaha... itu hal mendasar tetapi
sangat penting. Karena sudah teringat kembali perasaan waktu itu, mulai
sekarang aku harus terus berjuang dengan sungguh-sungguh.
Begitu
aku memantapkan tekad tersebut, haiden memantulkan sinar matahari dan
berkilau terang. Cahaya pantulan itu menyinari wajahku, seolah-olah sedang
mengamini perasaan yang ada di dalam hatiku.
Seingatku
waktu itu pun, pantulan cahayanya datang dengan cara seperti ini, ya....Karena
ini kuil, apa pun yang terjadi rasanya selalu ditafsirkan secara mistis dan
sakral. Padahal aku bukan tipe orang yang sangat taat beragama, sih.
"Kalau
begitu, kali ini bagaimana? Apakah kita saling mengungkapkan permintaan
masing-masing lagi?"
"Emm...
kali ini jangan diucapkan... bagaimana kalau nanti saat kunjungan tahun baru
berikutnya kita saling memberitahu apakah permintaannya terkabul atau
tidak?"
Memang
benar, memberi variasi seperti itu rasanya akan lebih menyenangkan, ya. Itu
juga bisa jadi janji bahwa tahun depan kami akan datang berdua lagi ke sini.
Ya,
mari kita lakukan seperti itu.
Sekali
lagi, kami melanjutkan langkah kaki yang sempat terhenti. Mungkin karena salju
turun sampai kemarin, di area sekitar terbentuk bagian salju baru yang halus
dan bagian yang menumpuk padat karena tertapak jejak kaki. Tanpa berpikir
panjang, aku melangkahkan kaki ke bagian salju yang belum tersentuh siapa pun.
Saat
menginjak salju tebal tersebut, suara unik yang mirip seperti gesekan kain
berkualitas tinggi menggema dari sandal setta dan terdengar di
telingaku.
Sedikit
salju mengenai bagian kaki, dan salju yang meleleh oleh suhu tubuh perlahan
meresap masuk. Kain basah yang dingin menempel ketat di kaki.
"Sedang
melakukan apa, sih~?"
"Yah...
rasanya mendadak ingin mencoba menginjaknya..."
"Kalau
begitu, aku juga ah~... Uwah, dinginnya! Lho, kaus kakiku jadi agak
basah..."
Sama
halnya denganku, Nanami melangkah ke dalam salju tebal lalu meringis sedikit
sambil tertawa.
Kaus
kaki... kalau saat memakai kimono apakah tetap disebut kaus kaki, ya? Atau kaus
kaki tradisional (tabi)?
Sebagai
informasi, kami berdua sama-sama memakai sandal jerami khusus pelindung dingin
(fuyuyou zouri), yaitu sandal zouri biasa yang bagian ujung
jarinya dilengkapi penutup. Namun karena bagian belakangnya terbuka, jika
diterjunkan ke dalam salju tebal tentu saja bakal basah.
Tepat
saat aku berpikir seharusnya hal ini dilakukan saat memakai sepatu saja, Nanami
mengalihkan pandangannya ke arah kaki. Ada apa dengannya, ya...?
"Kaus
kaki yang basah ini... nanti Youshin mau coba melepaskannya?"
"Bicara
apa, sih...?"
Nanami
mengatakannya seolah-olah sedang memberikan penawaran kecil, tetapi melepaskan
kaus kaki itu... apakah aku pernah melakukannya sebelumnya...?
Tidak,
salah. Jangan coba-coba berniat melakukannya, wahai diriku.
"Tapi
kan... kalau basah begini nanti bisa berbau aneh... kalau begitu malu sekali,
jadi aku benar-benar tidak mau, ah..."
"Berarti
kalau soal melepaskannya sendiri tidak masalah, dong...?"
Aneh
sekali, tapi kalau dipikir-pikir dulu juga pernah ada kejadian seperti itu, ya.
Dibandingkan bagian dada, dia lebih tidak suka jika bagian perutnya disentuh...
apakah ini yang dinamakan keajaiban gadis? Lagipula kita ini, padahal sudah
sampai di kuil tapi hawa nafsunya masih luar biasa sekali, ya. Apakah ini sudah
agak keterlaluan...?
Tepat
saat aku berpikir demikian, salju yang menumpuk di pohon mendadak jatuh dan
menimbulkan suara letupan yang keras.
...Rasanya
seperti sedang dimarahi oleh Dewa. Maafkan saya.
Setelah
menenangkan diri dan melihat ke depan, antrean untuk beribadah ternyata sedikit
mengular... Kami pun menyucikan diri, mengantre giliran, hingga akhirnya
giliran kami pun tiba.
Sambil
memejamkan mata dan mengatupkan kedua telapak tangan, aku terlebih dahulu
menyampaikan rasa terima kasih kepada Dewa.
Berkat
perlindungan darimu, aku bisa tetap bersama Nanami. Terima kasih banyak telah
mengawasi kami... Karena ke depannya aku akan terus melanjutkan hubungan ini
bersama Nanami... mohon terus awasi kami.
Lalu... supaya akal sehatku tetap terjaga... mohon dengan sangat... mohon
terus awasi aku agar bisa menahan hawa nafsu ini. Akhir-akhir ini,
keadaanku benar-benar cukup bahaya. Mohon bantuanmu. Untuk setidaknya
satu tahun ke depan... tidak, sampai lulus SMA... aku akan berusaha keras...!!
Aku
berdoa penuh harap...
Yah,
walaupun hal seperti ini pada dasarnya tergantung pada perasaanku sendiri, sih.
Namun tetap saja, rasanya aku ingin memohonnya kepada Dewa.
Agar
aku bisa terus bertahan ke depannya, aku harus selalu menanamkan perasaan bahwa
Dewa sedang mengawasiku.
"...Lega
rasanya."
Aku
membuka mata, lalu... mengarahkan pandanganku ke Nanami yang ada di sampingku
hanya lewat pergerakan mata.
Apakah
Nanami juga melakukan hal yang sama? Pandangan kami saling bertemu dalam
kondisi kedua tangan yang masih terkatup.
Jantung
kami sedikit berdegup kencang, lalu kami melepaskan katupan tangan dan beranjak
dari tempat tersebut demi memberikan giliran kepada pasangan di belakang kami.
Keluar
dari area dalam kuil, aku menarik napas dalam-dalam sekali.
"Khusyuk
sekali berdoanya tadi?"
"...Kamu
memperhatikan, ya?"
Cuma
mengintip sedikit kok, kata Nanami sambil
membuka sedikit celah di antara jari-jarinya. Ketahuan, ya... rasanya jadi agak
sedikit malu.
"...Yah,
aku cuma berdoa memohon agar terus diawasi dalam banyak hal."
"Hee,
begitu ya. Aku juga... berdoa memohon agar terus diawasi, kok."
Kami
berdua sama-sama tidak menyebutkan secara spesifik hal apa yang ingin diawasi
tersebut.
Kira-kira,
apa yang didoakan oleh Nanami, ya? Soal hal itu... pasti akan terungkap saat
kunjungan awal tahun berikutnya satu tahun lagi.
Pembocoran
rahasia sangat dilarang keras.
"Kalau
begitu mumpung di sini... bagaimana kalau kita mengambil ramalan (omikuji)?"
"Boleh
juga. Nah, kira-kira siapa ya yang bakal dapat Keberuntungan Sangat Baik (Daikichi)...?"
"Kenapa
malah jadi seperti pertandingan begini?"
Malah
rasanya aku ingin coba mendapat Keberuntungan Buruk (Kyou) juga deh,
ucapannya itu agak bisa kupahami. Karena belum pernah mendapatkannya, sesekali
ingin juga coba mendapatkannya, ya.
Kemudian,
kami pun menarik ramalan omikuji masing-masing, tetapi...
[Percintaan]
Sekarang adalah saatnya bertindak, jangan ragu-ragu.
Tulisan
itulah yang tertera di dalam ramalan omikuji-ku.
...Dewa?
Eh?
Dorongan keberanian yang dimaksud itu mengarah ke sana, ya?



Post a Comment