NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Inkya no Boku ni Batsu Game Volume 12 Chapter 1

Chapter 1

Perubahan yang Tak Disadari


Kalau begitu Youshin, aku berangkat dulu ya. Nanti aku hubungi lagi.

 

"Iya, hati-hati di jalan ya."

 

Aku belikan oleh-oleh ya. Mau apa? Jenis kue-kuean?

 

"Nanami bisa pulang dengan selamat saja sudah jadi oleh-oleh terbaik bagiku."

 

Kalau begitu, aku belikan gantungan kunci bentuk naga yang disukai anak laki-laki saja, ya?

 

"Dari mana kamu dapat pengetahuan seperti itu?!"

 

Aku sama sekali tidak menyangka kata "gantungan kunci naga" akan keluar dari mulut Nanami.

 

Melihatku yang refleks melontarkan sanggahan, Nanami tertawa gembira. Aku melambaikan tangan membalas Nanami yang melambaikan tangannya di balik layar ponsel. Karena Tomoko-san dan yang lainnya juga ada di sekitar sana, aku sudah menyapa mereka secara singkat tadi.

 

Sejak Natal... tidak, kemarin kan hari Natal. Saat itu kami juga bertemu, sih. Namun karena lewat layar ponsel, rasanya seolah-olah kami sudah lama sekali tidak bertemu.

 

Kakak Ipar (Onii-chan), tidak boleh selingkuh, ya. Onee-chan akan kuawasi, jadi tenang saja.

 

"Mana mungkin aku selingkuh, dan Nanami juga tidak akan melakukan hal itu, Saya-chan..."

 

Yah, benar juga, sih. Ngomong-ngomong, yang memberi tahu Onee-chan tentang gantungan kunci naga itu aku, jadi tenang saja ya.

 

"Sumber informasinya Saya-chan?!"

 

Antara lega dan makin khawatir, sungguh sumber informasi yang tidak terduga.

 

...Jangan-jangan Saya-chan punya pacar...? pikirku. Namun ternyata, Saya-chan juga mendengarnya dari seorang teman.

 

Meski terlihat layaknya anak perempuan pada umumnya, dia cukup tahu banyak soal hal seperti itu... Mungki temannya itu sudah punya pacar. Sepertinya mereka juga menghabiskan waktu Natal bersama.

 

Sa~ya~... Kamu ini... jangan bicara yang aneh-aneh ke Youshin...!!

 

Aduh, aduh, Onee-chan! Jangan cengkeram kepalaku, dong. Nah, tidak apa-apa memperlihatkan sisi kekerasanmu ke Kakak Ipar?

 

Kalau Youshin, seperti apa pun wujudku, dia pasti akan menerimaku.

 

Kenapa Onee-chan malah bicara seperti srikandi non-manusia begini?!

 

Oho, rasanya sudah lama aku tidak melihat mereka berdua bercanda seperti ini. Tapi, apakah gerakan Nanami itu disebut iron claw... walau dilakukan dari belakang?

 

Melihatnya melakukan hal itu terasa menyegarkan.

 

Mungkin ini yang dulu disebut sebagai srikandi tipe kekerasan, ya?

 

Yah, aku tidak tahu apakah ini bisa disebut kekerasan atau bukan. Namun dalam arti tertentu, ini juga akibat ulah Saya-chan sendiri...

 

Ah, dia mengetik pesan. Aku sama sekali tidak ragu, tapi dalam situasi seperti ini bukankah itu sudah jadi hal yang lumrah?! tulisnya, tanpa menunjukkan rasa bersalah sama sekali.

 

Nanami mengerahkan tenaga lebih besar sambil menegaskan bahwa dirinya tidak mungkin selingkuh, sehingga situasinya menjadi makin kacau.

 

Selingkuh... selingkuh, ya. Yah, kami pasti tidak akan melakukannya... masing-masing dari kami... Apakah memikirkan hal itu termasuk keangkuhan atau rasa percaya diri yang berlebihan?

 

Tindakan mempercayai itu sangat bagus, namun bersikap buta hingga tidak rasional akan dibenci... Menurutku, ini tergolong hal yang sulit untuk dinilai. Karena itulah, kurasa tidak ada cara lain selain terus membicarakannya.

 

"Nanami, setidaknya kasihanilah kepala Saya-chan yang bisa pecah, pelan-pelan saja..."

 

Untuk saat ini, mari kita mengkhawatirkan kepala Saya-chan terlebih dahulu. Mengatakan hal ini mungkin terdengar sangat tidak sopan, namun wajar saja jika secara fisik aku merasa khawatir.

 

Eeh~? Habisnya, Saya bicara hal yang aneh-aneh soal perselingkuhan...

 

"Yah, memang dia bicara hal yang aneh, sih... Tapi kita kan tidak akan saling berselingkuh, jadi tidak apa-apa, kan?"

 

Yah, memang begitu, sih...

 

"Tapi ngomong-ngomong, sebenarnya apa alasan orang berselingkuh, ya...? Kalau kita memikirkannya baik-baik, kekhawatiran kita mungkin akan berkurang drastis."

 

Memikirkan tentang perselingkuhan...?

 

Ada pepatah yang mengatakan, "Kenalilah musuhmu dan kenalilah dirimu sendiri, maka engkau dapat memenangkan 100 pertempuran tanpa bahaya”. Artinya, jika kita tidak takut dan tidak menjauhi perihal perselingkuhan, melainkan memahaminya secara langsung dari depan, maka kita tidak akan melakukannya.

 

Jika hanya menegaskan secara kalap bahwa kita tidak akan melakukannya, hal itu justru terasa seperti menutup-nutupi masalah... atau lebih tepatnya, sekadar memalingkan pandangan.

 

Sama halnya seperti makin kita menolak sesuatu dengan keras, terkadang justru makin tertarik pada hal tersebut. Jadi, memikirkannya sedikit juga merupakan hal yang penting.

 

Walau terdengar kontradiktif, aku sendiri menegaskan bahwa aku tidak akan pernah berselingkuh. Bahkan, orang yang kuperlakukan dengan sangat lembut dan istimewa hanyalah Nanami.

 

Kembali ke topik utama, meskipun dalam konteks nyata aku tidak memahami psikologi orang yang berselingkuh, aku masih bisa membayangkannya sampai batas tertentu. Imajinasi itu penting. Oleh karena itu, apa yang kupikirkan ini hanyalah sebatas penyebab perselingkuhan yang ada dalam imajinasiku.

 

Bukankah itu karena tidak diberi kesempatan untuk melakukan hal mesum?

 

SAYA?!

 

Aduuuuh! Onee-chan, itu bahaya! Aku sampai mengeluarkan suara yang tidak boleh dikeluarkan oleh seorang gadis!

 

Tiba-tiba... Saya-chan mengatakan hal yang sangat blak-blakan tanpa basa-basi. Dan Nanami yang bereaksi terhadap hal itu tampaknya secara refleks mengerahkan tenaga yang lebih kuat lagi. Dia terlihat sangat kesakitan.

 

Ah, seperti yang diduga, Nanami meminta maaf dan melepaskan tangannya. Saya-chan meraba bagian belakang kepalanya untuk memastikan apakah bagian belakang kepalanya masih ada atau tidak.

 

Tenang saja, masih ada, kok.

 

Namun, di dunia nyata, apa yang dikatakan Saya-chan mungkin memang bisa dianggap sebagai salah satu penyebabnya... yaitu tidak memenuhi perasaan pasangan... dengan kata lain, tidak memuaskan hasratnya itu dilarang. Tetapi jika terlalu dipuaskan pun tampaknya tidak baik, takarannya memang sulit... Namun, jika menggunakan cara berpikir seperti itu, setidaknya untuk kali ini...

 

"Kalau begitu, sepertinya akan baik-baik saja."

 

Ah, kedua orang di balik layar ponsel itu mendadak terdiam kaku.

 

Jika mengingat apa yang kami lakukan pada hari Natal, meskipun tidak ada kontak secara langsung... entah mengapa, aku merasa hal itu akan baik-baik saja.

 

Yah... benar juga, sih.

 

Nanami yang tampaknya memikirkan hal yang sama, tersenyum kecil seolah merasa sedikit lega. Sementara itu, pandangan mata Saya-chan bergerak bolak-balik di antara kami berdua...

 

Eh... kalian berdua akhirnya sudah melakukannya?

 

Sebenarnya belum, lho. Namun seolah-olah memberi tahu bahwa apa yang terjadi adalah rahasia, aku dan Nanami saling bertatap muka dan tertawa.

 

"Bukan, tapi ini rahasia antara aku dan Nanami."

 

Iya, benar... ini rahasia, rahasia!

 

Dari arah Saya-chan terdengar suara cemberut yang berseru "Eeeh~", namun sayangnya, mengenai hal yang satu ini kami benar-benar tidak berniat untuk memberitahunya...

 

Kalau begitu Youshin, sampai jumpa lagi.

 

"Iya. Hati-hati di jalan... selamat bersenang-senang, ya."

 

Tanpa disadari, percakapan kami menjadi sangat panjang.

 

Karena mereka sudah harus mulai bergerak pindah, terlihat Saya-chan yang bergerak terburu-buru. Perasaan sedih dan haru seperti setelah menonton episode terakhir dari karya favorit, atau akhir dari film yang menyentuh hati, kini mengalir dan menggenang di dalam dadaku. Rasanya berat untuk berpisah...

 

Saat aku memikirkan hal itu dan belum sempat memutus sambungan telepon, seolah-olah sudah memperhitungkan momen tersebut...

 

Chuu!

 

Nanami memberikan kecupan jauh, dan tepat pada saat itulah sambungan telepon terputus.

 

Aku sangat terkejut hingga tidak sempat memberikan reaksi apa pun, dan seluruh perasaanku yang tadi seketika terbang melayang. Bahkan ketika aku hendak mengatakan sesuatu, sambungan telepon sudah terputus.

 

Karena terlalu terkejut hingga tubuhku membeku, aku tidak bisa bergerak untuk meneleponnya kembali. Lagipula, kalaupun aku meneleponnya kembali, mau bilang apa? Apakah aku harus memprotesnya dengan berkata, "Tadi kamu memberikan kecupan jauh, kan?" Hal seperti itu justru makin tidak masuk akal dan sangat memalu-malukan. Lagipula Nanami sendiri kemungkinan besar langsung mematikannya karena merasa malu.

 

...Uwah, entah mengapa pipiku mulai terasa panas. Padahal udara luar masih cukup dingin, tetapi tubuhku terasa hangat. Aku sampai keluar keringat dingin.

 

Padahal kami sudah sering berciuman, bahkan sudah melakukan hal-hal yang bisa dikatakan lebih dari sekadar ciuman, namun rasanya aneh jika baru sekarang aku merasa malu hanya karena kecupan jauh. Jika dilihat oleh orang lain, aku pasti akan diejek habis-habisan.

 

Ini mungkin terjadi karena hal yang tidak biasa dilakukan cenderung terasa memalu-malukan....Artinya, aku masih bisa merasakan perasaan yang segar dan baru, kan?

 

Saat aku menurunkan pandanganku, pada layar ponsel yang telah menghitam gulita, terpantul wajahku sendiri. Wajah itu benar-benar menunjukkan ekspresi yang sangat konyol...




"Haaah..."

 

Melihat wajah seperti itu di layar, kenyataan bahwa Nanami telah pergi terasa begitu menyengat.

 

Akhirnya, Nanami benar-benar sudah berangkat, ya...

 

Dengan begini, sudah dipastikan aku tidak bisa bertemu dengan Nanami untuk sementara waktu... sekitar seminggu?

 

Menggunakan perangkat kecil ini, aku memang bisa langsung melihat wajah Nanami kapan saja, jadi bukan berarti kami sama sekali tidak bisa bertemu dalam arti yang ekstrem.

 

Meski begitu, sungguh aneh bagaimana perasaan muram ini tidak bisa dihentikan.

 

Saat aku bekerja paruh waktu di liburan musim panas lalu, kami memang sempat berpisah, tetapi situasi kali ini berbeda cerita. Sungguh perasaan aneh yang tak tertuliskan dengan kata-kata.

 

Aku berguling di atas tempat tidur, bermalas-malasan sambil menatap layar ponselku kembali. Di sana tertera waktu saat ini...

 

"Lagipula, bukankah jam 4 pagi itu terlalu pagi...?"

 

Di luar masih gelap gulita. Masih terlalu dini untuk disebut fajar... namun sudah terlalu larut untuk disebut tengah malam. Aku memang sempat mendengar bahwa mereka akan berangkat lebih awal karena ada kemungkinan jalanan macet, tapi...

 

Apakah rasa dingin yang kurasakan ini karena suhu udara, ataukah karena masalah perasaanku saja?

 

...Tidak, ini memang beneran dingin. Mari pakai selimut sebentar.

 

Nah, karena aku sudah mengantar keberangkatan Nanami, aku berpikir apakah sebaiknya tidur lagi saja... tetapi sepertinya bangun terus begini juga tidak apa-apa. Atau lebih tepatnya, mataku justru jadi segar bugar gara-gara kecupan jauh dari Nanami tadi.

 

Untuk saat ini... kalau tubuhku sudah agak hangat, aku akan keluar dari selimut.

 

Sambil memikirkan hal itu, aku bergerak-gerak di dalam selimut seperti seekor ulat bulu.

 

◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇

 

Pada hari yang sama ketika kelompok Nanami pulang ke kampung halaman, kami pun memutuskan untuk pulang ke rumah orang tua Ibu.

 

Sebenarnya jadwal keberangkatan keluarga kami adalah besok, tetapi agar aku bisa bertemu Nanami sedikit lebih cepat, Ibu menunjukkan kepeduliannya dengan memajukan jadwal keberangkatan kami.

 

Tentu saja hari kepulangan kami tidak bisa pas bersamaan dengan Nanami... tetapi sepertinya aku akan pulang sedikit lebih awal darinya.

 

...Yah, walau begitu aku juga tidak bisa langsung bertemu dengannya begitu pulang, tetapi tetap saja bisa mengucapkan "selamat datang kembali" kepada Nanami adalah hal yang berarti besar bagiku.

 

Padahal dia juga bukan pulang ke tempatku, sih. Namun entah mengapa, rasanya menyenangkan bisa mengucapkan kata "selamat datang kembali".

 

Tujuan kepulangan keluarga kami adalah untuk memperlihatkan diri kepada Kakek dan Nenek, menyapa kerabat, serta menghadiri perjamuan. Sisanya mungkin membantu menyapu salju, dan kurasa ada juga pekerjaan fisik yang perlu dilakukan.

 

Ibu cukup sibuk selama kepulangan ini, mulai dari persiapan Tahun Baru hingga menyiapkan masakan osechi.

 

Kakek dan Nenek selalu berkata, "Karena kalian sudah pulang, santai-santai saja," tetapi Ayah dan Ibu merasa tidak tenang jika tidak melakukan apa-apa, jadi mereka selalu saja mengerjakan sesuatu.

 

Sementara kalau aku, makin banyak aku membantu, makin besar pula uang Tahun Baru (otoshidama) yang akan ditambahkan untukku, jadi aku membantu hampir semata-mata demi mengincar uang itu.

 

Yah, wajar saja, namanya juga anak muda.

 

...Anak SMA masih boleh menerima uang Tahun Baru, kan?

 

Yah, tahun lalu aku memang menerimanya dengan senang hati, sih. Tapi tahun ini aku bekerja paruh waktu dan mendapatkan gaji, jadi aku ragu apakah masih boleh menerima uang Tahun Baru atau tidak...

 

Untuk saat ini, lebih baik aku tidak bicara yang tidak-tidak. Kalau diberi, ya terima saja.

 

Ngomong-ngomong, tempat kami pulang ini adalah rumah orang tua Ibu, sedangkan rumah orang tua Ayah lokasinya lumayan dekat, jadi sampai tahun lalu aku lumayan sering berkunjung ke sana untuk membantu menyapu salju. Dari sana juga aku biasanya diberi uang saku. Karena itulah, bahkan tanpa bekerja paruh waktu pun aku bisa menabung dalam jumlah tertentu...

 

Karena alasan itulah, liburan musim dingin kali ini kami hanya pulang ke rumah orang tua dari pihak Ibu.

 

Ngomong-ngomong, aku belum memberi tahu Kakek maupun Nenek dari kedua belah pihak bahwa aku sudah punya pacar. Alasan tidak memberi tahunya adalah karena aku merasa malu...

 

"...Jangan-jangan Ibu sudah memberi tahu Kakek dan Nenek?"

 

"Soal kamu punya pacar? Karena ditanya, ya Ibu jawab saja."

 

Ibu menjawabnya dengan santai tanpa beban. Tapi yah, wajar saja, sih. Mana mungkin Ibu tidak memberi tahu mereka...

 

Tidak, masalahnya begini... sejak sekitar tahun lalu Kakek dan Nenek sudah sering bertanya, "Kamu sudah punya pacar belum?"...

 

Padahal sampai masa SMP, mereka hanya menanyakan hal-hal seperti apakah aku sehat, berkata senang karena aku datang, atau menyuruhku bersantai karena tidak ada apa-apa... Hanya hal-hal seperti itu saja yang mereka katakan.

 

Tapi begitu aku jadi anak SMA, hal itu langsung berubah drastis. Waktu itu aku sempat berkata, "Mana mungkin aku punya pacar," eh tahu-tahu satu tahun berlalu aku benar-benar sudah punya pacar. Apalagi saat aku mulai melakukan pergerakan dengan mengubah jadwal kepulangan dari biasanya... tentu saja Ibu harus mejelaskannya, kan...

 

Karena aku tidak bisa marah pada Ibu sambil menyuruhnya jangan sembarangan bicara, untuk saat ini mari kita konfirmasi poin yang bikin penasaran saja.

 

"Kakek sama Nenek bilang apa?"

 

"Mereka bilang, apakah tahun depan sudah bisa melihat cicit atau belum. Terus, mereka juga bilang tidak usah khawatir soal biaya pernikahan, serahkan saja semuanya pada mereka."

 

Cepat banget mikirnya!! Lagipula fakta bahwa topik uang langsung keluar begitu saja terasa terlalu serius sampai bikin takut. Jalan pikiran Kakek dan Nenek melompat terlalu jauh.

 

...Soal urusan cicit dan semacamnya, aku bisa paham karena mereka adalah orang tua dari Ibu, sih.

 

"Sepertinya mereka sangat menanti-nantikannya, lho."

 

"...Mau bagaimana lagi, ya. Eh, tunggu dulu, apakah kerabat yang lain juga akan datang tahun ini?"

 

"Tentu saja. Tapi Kakek dan Nenek sangat bersemangat dan bilang bahwa bintang utama tahun ini adalah Youshin."

 

Kakek, Nenek... jangan terlalu bersemangat begitu, dong... Aku malah jadi risih.

 

Kerabat yang hanya kutemu setahun sekali, yang wajah dan namanya bahkan tidak kuingat dengan baik pun bakal datang...

 

Yah, mereka memang selalu datang, sih. Rasanya tidak mungkin kalau hanya tahun ini saja mereka tidak datang. Satu-satunya hal yang menyelamatkan adalah... fakta bahwa kerabat seumuran denganku jumlahnya sedikit.

 

"...Yah, untuk saat ini jalani saja seadanya lah."

 

Padahal Nanami sedang tidak ada di sini, tapi kenapa aku malah memusingkan hal ini, ya...

 

Paling buruk, aku tinggal menghabiskan waktu dengan main gim saja. Tahun lalu juga para kerabat sibuk mengobrol dengan Ayah dan Ibu, sementara aku asyik main gim seadanya.

 

Orang dewasa punya obrolan sesama orang dewasa, dan mereka juga bukan lagi di usia yang bakal antusias mendengarkan obrolan asmara ala anak SMA...

 

Setelah menjelaskan kepada Kakek dan Nenek, sepertinya setelah itu tidak akan ada pembicaraan yang terlalu berarti lagi.

 

Yah, kalau dipikir-pikir seperti itu, rasanya bakal baik-baik saja, kan?

 

Mungkin terkesan agak dingin, tapi mari selesaikan apa yang harus dilakukan lalu cepat-cepat pulang...

 

...Saat itu, aku menyederhanakan masalah.

 

Aku telah salah menilai.

 

Orang dewasa itu jauh lebih antusias dengan cerita cinta generasi anak-anak daripada yang kubayangkan... dan jika mereka adalah kerabat, rasa penasaran itu bertambah berlipat ganda.

 

Saat itu aku yang tidak tahu apa-apa tentang hal tersebut, hanya bisa pasrah dan santai menikmati goncangan mobil.

 

◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇

 

Perjalanan jauh menggunakan mobil itu cukup menyiksa tubuh. Rasanya seperti tubuh dibuat kaku dan terkunci...

 

Begitu turun dan menggerakkan badan ke sana kemari, terdengar suara gemeretak dari sendi-sendiku, mungkin karena sudah lama tidak digerakkan.

 

Apakah tidak akan sesakit ini jika menggunakan mobil yang sedikit lebih besar, ataukah semua mobil akan memberikan efek yang sama...? Aku ingin mempertimbangkannya saat nanti memiliki mobil sendiri di masa depan.

 

Aku ingin coba jalan-jalan berkendara bersama Nanami... tapi untuk awal-awal mungkin sewa mobil dulu, ya.

 

Dengan demikian, kami telah tiba di tujuan... rumah Kakek dan Nenek.

 

Tepat pada saat mobil berhenti, Kakek dan Nenek keluar untuk menyambut kami seolah-olah sudah memperhitungkan waktunya. Salju sudah menumpuk, jadi aku sedikit cemas takut mereka terpeleset.

 

Ini pertama kalinya aku bertemu Kakek dan Nenek lagi setelah sekian lama, tetapi mereka berdua tidak banyak berubah. Punggung mereka tidak bungkuk, dan langkah kaki mereka masih mantap.

 

...Aku baru sadar sekarang, mereka berdua memakai sweter seragam yang tanpa disadari terlihat seperti baju pasangan. Apakah itu tanda kalau mereka tetap rukun meski sudah lanjut usia?

 

Karena aku mengenali sweternya, berarti dulu aku saja yang tidak menyadarinya.

 

Keduanya menyambut kami dengan senyuman lebar. Sudah lama tidak bertemu, aku senang melihat mereka berdua tampak sehat bugar.

 

Karena mobil sudah parkir sempurna, aku turun dan melakukan peregangan ringan ketika Kakek tiba-tiba mengajakku bicara.

 

Langkah yang tak biasa, padahal biasanya beliau selalu menghampiri Ayah terlebih dahulu.

 

"Sudah sampai, You?"

 

"Iya, Kakek. Aku datang."

 

Meskipun nada bicaranya terdengar agak ketus, ekspresi wajahnya terlihat sangat gembira.

 

Kakek memang dasarnya pendiam, sih.

 

"...Padahal tidak perlu repot-repot datang, lho."

 

"?!"

 

Begitu kupikir, kalimat pertama yang keluar dari mulut Kakek yang tersenyum gembira itu ternyata malah perkataan bahwa aku tidak perlu datang. Ekspresi dan kalimatnya sama sekali tidak cocok.

 

"Ke... kenapa, Kakek? Kok mendadak bilang begitu?"

 

Saat aku sedang kebingungan, Kakek langsung berpaling begitu saja dan berjalan ke arah Ayah. Padahal aku mendengar beliau sangat menanti-nantikan kedatanganku, jadi rasanya sedikit agak konyol.

 

Ayah... ah, ternyata sedang mengeluarkan barang-barang dari bagasi. Kakek pergi untuk membantunya. Ya, aku juga harus ikut membantu.

 

Nenek sedang mengobrol dengan Ibu. Ayah menyerahkan beberapa barang bawaan kepada Kakek. Kelihatannya cukup berat, tetapi Kakek membawanya dengan tampak begitu ringan.

 

Aku ikut membawa barang bawaan dari bagasi dan masuk ke rumah Kakek....Rumah yang besar, ya. Dulu beliau pernah bilang kalau ini di desa, jadi masih banyak tanah yang tersisa.

 

Begitu melangkah masuk, aku merasakan rasa rindu pada area pintu masuk rumah Kakek yang baru kulihat lagi setelah satu tahun.

 

Aku teringat saat pertama kali masuk dulu, aku sempat menjelajahi rumah ini karena ukurannya yang luas. Saat itu kalau tidak salah aku tidak sendirian. Waktu itu kalau tidak salah...

 

Saat aku sedang tenggelam dalam perasaan nostalgia, tiba-tiba sebuah suara memanggil dari dalam rumah. Itu bukan suara Kakek ataupun Nenek, melainkan suara seorang wanita muda.

 

"Ooh, Youshin rupanya. Kamu datang juga, ya."

 

Saat aku mendongakkan kepala terkejut, seorang wanita sudah berdiri di sana. Tubuhnya jangkung dan ramping, membuatku yang sedang sedikit membungkuk ditatap dari atas tanpa mempedulikan posisiku. Tubuhnya tinggi, tangan dan kakinya pun sama panjang dan rampingnya.

 

Dilihat sekilas dari tingginya, dia tampak seperti pemain bola basket, tetapi pembawaannya sama sekali tidak berotot melainkan memberikan kesan yang anggun dan ramping. Namun meskipun secara fisik terlihat ramping, tidak ada kesan lemah sedikit pun dari sorot matanya yang tajam dan memancarkan tekad kuat.

 

Malah, karena dia menatapku secara lurus seolah sedang mengincar mangsa... untuk sekejap aku hampir memasang sikap pasang kuda-kuda karena merasa akan diserang.

 

...Siapa, ya?

 

Itulah kata-kata yang membanjiri otakku pada saat mata kami saling bertatap. Tidak, tunggu dulu, mata seperti burung pemangsa ini rasanya pernah kulihat sebelumnya.

 

Ya, itu benar-benar... saat aku mencoba mengingat-ingat petualangan menjelajahi rumah yang tadi...

 

"Aah... iya, aku datang, Nee-chan."

 

Setelah berhasil mengingatnya, aku memanggil wanita itu dengan sebutan "Nee-chan".

 

Tentu saja, meskipun aku memanggilnya Nee-chan, dia bukanlah kakak kandungku. Karena dia berada di rumah Kakek, tentu saja dia adalah kerabatku.

 

Kalau tidak salah, dia adalah anak perempuan dari adik perempuan Ibu? Usianya sedikit lebih tua dariku, kalau tidak salah dia sudah mahasiswa... atau mungkin sudah bekerja.

 

Kapan terakhir kali kami bertemu, ya...? Setidaknya tahun lalu kami tidak bertatap muka, dan karena beberapa tahun terakhir aku tidak pernah melihat wajahnya, ini sudah lama sekali.

 

Orang yang kupanggil "Nee-chan" itu menyipitkan matanya gembira mendengar jawabanku.

 

Jika dilihat lebih dekat, dia sedang mengulum sesuatu seperti rokok, dan dari sana keluar sedikit asap. Aku sempat berpikir apakah itu rokok elektronik atau semacamnya, tetapi aku tidak mencium bau asap rokok sama sekali.

 

"Wah-wah, ternyata kamu masih ingat, toh. Onee-chan jadi senang, nih."

 

"Yah, jujur saja... sebelum tatap muka begini aku sempat lupa, sih. Sudah lama tidak bertemu, ya."

 

"Kamu ini masih saja jujur tanpa tanding, ya. Dalam situasi seperti ini, kalau kamu bilang 'mana mungkin aku lupa', pihak sebelah bakal senang-senang saja, tahu."

 

Dia mengatakan hal yang tidak jelas apakah itu bentuk ketidakjujuran atau kebaikan. Tapi yah, tidak ada gunanya juga berbohong. Lagipula, dengar ya, memang aku ingat kalau harus memanggilnya "Nee-chan", tapi aku belum berhasil mengingat namanya sampai sekarang.

 

Tentu saja aku tidak bisa menanyakan siapa namanya, dan selama aku memanggilnya "Nee-chan", tidak akan ada masalah dalam komunikasi, jadi mari kita lanjutkan saja seperti ini.

 

"Apakah kerabat yang lain sudah pada datang? tahu berapa banyak yang bakal datang?"

 

"Tahun ini sih ada yang datang, ada juga yang tidak. Banyak yang tidak datang karena anak-anak mereka sudah pada besar."

 

Apakah memang begitu, ya? Kalau begitu, bukankah Kakek dan Nenek akan merasa kesepian? Jangan-jangan perkataan "tidak perlu datang" tadi diucapkan dalam artian seperti itu?

 

Kalau memang begitu, sebaliknya justru anak sepertiku yang sebaiknya tetap datang. Setidaknya, agar Kakek dan Nenek tidak merasa kesepian...

 

Sambil tetap membawa barang bawaan, aku melangkah masuk ke dalam. Di sana ada beberapa kerabat yang sedang membicarakan sesuatu.

 

...Nee-chan terus mengikutiku, apakah dia sedang tidak ada pekerjaan?

 

Tapi ya sudah lah. Karena aku jarang mengobrol dengan para kerabat, aku merasa agak canggung harus bagaimana dalam situasi seperti ini...

 

Yah, menyapa mereka dulu saja sudah cukup.

 

"Halo, beberapa hari ke depan mohon bantuannya."

 

Begitu aku menyapa... entah kenapa mereka tampak terkejut?

 

Eh? Kenapa, ya?

 

Sementara itu, Nee-chan malah tersenyum penuh arti seolah menikmati situasi.

 

Aku tidak begitu paham, tetapi karena khawatir telah memotong pembicaraan mereka, aku membungkukkan badan sekali lagi lalu meletakkan barang bawaan sekenanya.

 

Ayah dan Ibu... sepertinya sedang mengobrol dengan Kakek.

 

Kalau seperti biasanya... dulu aku melakukan apa, ya? Tahun lalu begitu sampai, apakah aku langsung main gim, ya? Aku tidak terlalu ingat...

 

Untuk saat ini, aku mendudukkan diri di situ lalu mengeluarkan ponsel untuk memeriksa dan mengabari Nanami bahwa aku sudah sampai dengan selamat, namun...

 

"...Gawat, sinyalnya hampir tidak ada."

 

Bukannya sama sekali tidak ada sinyal atau di luar jangkauan. Hanya saja, sinyalnya lemah tanggung dan membuat akses internet menjadi sangat lambat.

 

Aku jadi teringat, tahun lalu aku juga main gim dalam kondisi sinyal yang lemah begini. Rasanya lambat sekali dan bikin stres, sampai-sampai di paruh akhir aku tidak terlalu banyak memainkannya...

 

...Yah, meski tidak bisa main gim, selama masih bisa berkirim pesan rasanya sudah cukup.

 

Setelah mengabari Nanami, sisanya aku juga bisa coba menghubungi Baron-san dan yang lainnya...

 

"Kenapa You, sinyalnya lemah, ya?"

 

Uwah, kaget aku! Tanpa disadari Kakek sudah berdiri di belakangku. Atau lebih tepatnya, sungguh di luar dugaan Kakek menanyakan apakah sinyalnya lemah.

 

Padahal aku punya kesan kalau Kakek itu gagap teknologi soal hal-hal seperti ini...

 

"Aah... iya, sepertinya sinyalnya lemah. Yah, karena cuma beberapa hari, aku bisa tahan..."

 

"Kalau begitu, pakai saja Wi-Fi milik Kakek. Lumayan cepat, lho."

 

"ADA WI-FI?!"

 

Satu kata yang berada di peringkat atas daftar "kata-kata yang rasanya tidak mungkin keluar dari mulut Kakek" mendadak terlontar.

 

Apakah Kakek tahu apa itu Wi-Fi? Atau lebih tepatnya, saat aku memiringkan kepala kebingungan memikirkan kenapa barang seperti itu bisa ada di sini... Kakek melancarkan serangan balasan.

 

"Akhir-akhir ini Kakek main gim FPS untuk mencegah pikun. Berinteraksi dengan anak-anak muda ternyata cukup menyenangkan juga."

 

Kakek main gim FPS?!

 

Saat aku sedang ternganga keheranan, Kakek memberi tahu kata sandi dan detail lainnya seolah menyuruhku untuk menyetelnya, jadi aku bergegas menyambungkannya melalui pengaturan di ponsel.

 

Ooh... tentu saja sambungannya berhasil terhubung dengan baik. Bahkan jika dibandingkan, jangan-jangan ini jauh lebih cepat daripada yang ada di rumah?

 

Sensasi tersendat yang sedikit terasa saat terhubung di rumah sama sekali tidak ada di sini. Sangat mulus. Sama sekali tak disangka, setelah pulang ke kampung halaman aku malah menemukan lingkungan internet yang lebih nyaman daripada di rumah sendiri...

 

Mari berkirim pesan ke Nanami... memberitahunya bahwa aku sudah sampai dengan selamat di sini. Tadi Nanami juga sempat berkirim pesan, tetapi karena di sana ada kerabatnya juga, dia jadi tidak bisa menelepon.

 

Ah, langsung dibalas. Nanti malam kita ngobrol sebentar, ya, tulisnya.

 

Ya, aku menanti-nantikannya.

 

"...Dengar-dengar kamu sudah punya pacar, ya."

 

"Aah... iya, sudah punya."

 

Setelah terhubung dengan Nanami, saat aku sedang mengukir senyuman yang sedikit konyol... tanpa disadari Kakek yang sudah duduk di sampingku menatapku dengan senyuman yang lembut.

 

Entah kenapa Nee-chan berseru kaget, "Eh?! Youshin punya pacar?!". Situasinya jadi sedikit agak bising, tetapi Kakek mengabaikan Nee-chan begitu saja.

 

"...Apakah dia gadis yang baik?"

 

"Iya, dia anak yang sangat baik. Seorang wanita yang luar biasa."

 

"Begitu, ya..."

 

Kakek tidak banyak bicara, tetapi beliau bergumam seolah meresapi setiap kata.

 

Aku tidak menyangka beliau akan sebahagia ini... Atau lebih tepatnya, kalau mendengar cara bicara Ibu tadi aku kira Kakek bakal bertanya secara gencar dan antusias, tetapi ternyata Kakek tidak seperti itu.

 

Jangan-jangan yang gencar itu Nenek...?

 

"...Padahal tidak perlu repot-repot datang, kamu bisa menghabiskan waktu bersama pacarmu saja."

 

"Heh?"

 

"Daripada datang ke desa yang tidak ada apa-apanya begini, bukankah lebih menyenangkan menghabiskan waktu bersama pacarmu?"

 

Meskipun berkata demikian, Kakek memasang raut wajah yang sedikit kesepian.

 

Aah, begitu rupanya. Jadi maksud perkataan tadi itu dalam artian begini.

 

Bukannya aku tidak disambut, melainkan setelah memikirkanku... beliau mencoba memberikan perhatiannya padaku.

 

"Cucu Kakek yang paling tua di belakang itu saja, jangankan berkunjung, baru datang ke sini setelah dicampakkan sama pacarnya."

 

"Bocorannya mendadak banget, mana kena imbas pula?!"

 

Nee-chan yang tadinya heboh di belakang langsung melayangkan protes, tetapi Kakek bersikap acuh tak acuh bagaikan angin lalu.

 

Begitu, ya... jadi itu alasan kenapa dia tidak pernah bertemu selama beberapa tahun ini...

 

Uwah... yang benar saja...

 

Saat aku menatapnya dengan pandangan penuh rasa kasihan, dia berteriak menyuruhku jangan merasa kasihan lalu pergi entah ke mana.

 

Nee-chan... ternyata kamu dicampakkan, ya...

 

"Jangan-jangan, alasan kerabat yang lain tidak datang juga...?"

 

"Benar. Sebagian besar tidak datang karena menghabiskan Tahun Baru bersama kekasih mereka masing-masing."

 

"Jadi begitu... Apakah Kakek tidak merasa kesepian?"

 

Wajah tersenyum Kakek yang tampak kesepian tadi terngiang di kepalaku, hingga tanpa sadar aku menanyakannya. Namun Kakek justru tertawa terbahak-bahak lalu menepuk kepalaku pelan.

 

"Bagi Kakek dan Nenek, selama cucu-cucu kami bahagia, itu saja sudah cukup. Mulai besok-besok kamu tidak usah memaksakan diri datang, ya."

 

Rasanya agak malu karena jarang sekali diperlakukan seperti ini.

 

Tangan Kakek terasa sangat kasar dan besar. Fakta bahwa tangannya penuh dengan bekas luka membuatku merasakan sebuah perjalanan sejarah... tetapi terasa sangat hangat.

 

"Tapi ya, You sekarang sudah bisa memberikan perhatian seperti ini, ya... Apakah kamu berkembang setelah bertemu dengan gadis yang baik?"

 

"Apakah aku berubah sebanyak itu...?"

 

Entah mengapa rasanya aku senang seperti Nanami yang dipuji, tetapi aku sendiri tidak terlalu memahami perubahan pada diriku. Kakek tertawa sambil berkata aku sudah berubah, sih.

 

Tetapi benar juga... mungkin dalam hal semacam itu pun aku memang telah berubah.

 

"Sekarang Kakek dan Akira-kun mau melelehkan salju yang menumpuk, You santai-santai saja."

 

"Tidak, mumpung ada di sini, aku akan bantu."

 

"Begitu, ya... Kalau begitu, nantikan saja uang Tahun Barumu."

 

"Apakah anak SMA tidak apa-apa jika menerimanya...?"

 

"Gadis mahasiswa itu saja berniat menerimanya, jadi tidak usah dipikirkan."

 

Nee-chan... ternyata seorang mahasiswa, ya. Dan dia berniat mengambil uang Tahun Baru itu tanpa ragu. Bisa dibilang dia sangat tangguh atau semacamnya.

 

Sambil berdiri perlahan, aku secara diam-diam bersemangat... berniat menunjukkan lebih jauh sosok diriku yang telah berubah ke arah yang lebih baik.

 

◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇

 

"Youshin~... Perlihatkan foto pacarmu ke Nee-chan, dong~..."

 

"Diamlah, dasar pemabuk."

 

"Youshin dingin sekali?!"

 

Tidak, sungguh, bau alkoholnya menyengat sekali.

 

Ada apa dengan mahasiswa tidak beres ini? Lagipula berapa usianya? Fakta bahwa dia minum alkohol berarti dia sudah dewasa, kan?

 

Aku tanpa sadar memakinya dengan kata-kata kasar, tetapi ucapan Nee-chan tampaknya mewakili perasaan orang-orang yang ada di sini, karena mereka semua terlihat sangat penasaran.

 

Nee-chan mengoceh hal-hal seperti, Padahal dulunya... tidak bisa dibilang imut-imut amat sih, tapi Youshin malah berubah jadi orang biasa.... Bukankah kerabat yang satu ini terlalu tidak sopan?

 

"Benar sekali, Tante sampai kaget waktu Youshin-kun menyapa tadi."

 

"Dari tahun ke tahun, dia tumbuh jadi anak yang makin pendiam dan jarang bicara, jadi bisa mengobrol banyak hal seperti ini membuat kami senang."

 

"Memang ya, anak laki-laki itu kalau sudah punya pacar pasti bakal berubah."

 

Sepertinya mereka sudah masuk ke mode sangat suka bergosip. Lebih baik aku tidak usah ikut campur sembarangan.

 

Tampaknya alasan mereka terkejut saat aku menyapa tadi adalah karena responsku berbeda dari tahun lalu. Memangnya seburuk apa diriku yang tahun lalu?

 

Meski begitu, tidak sulit membayangkan seberapa buruknya diriku saat itu, walau aku tidak terlalu ingat.

 

Kurasa salah satu alasannya juga karena tidak ada kerabat yang seumuran. Aku hampir tidak pernah bicara dan hanya main gim saja... sisanya paling membantu Kakek.

 

"Kalian sudah pacaran berapa bulan, sih~...?"

 

Uwah, si pemabuk mulai menggangguku lagi. Lagipula, padahal orang dewasa lainnya tenang-tenang saja saat minum alkohol, kenapa cuma orang ini yang mabuknya aneh begini? Anggap saja ini... latihan untuk masa depan?

 

"Kira-kira... sekitar 9 bulan. Karena kami mulai berpacaran sekitar musim semi tahun ini."

 

"Bagus, bagus... Tapi kalau sudah terlalu lama nanti rasanya bakal jadi hambar... seperti aku ini."

 

"...Terus aku harus merespons apa soal hal itu?"

 

Nee-chan mengacungkan kedua ibu jarinya dengan mantap ke atas, lalu menunjuk ke arah dirinya sendiri. Karena tangannya diangkat tinggi-tinggi, dia terlihat seperti sedang memperagakan pose kemenangan.

 

Ah, Nee-chan yang sedang mabuk diketiaki dan dipapah oleh tante-tante lalu dibawa pergi. Tampaknya tahun ini dia baru saja dicampakkan oleh pacarnya yang sudah dikencaninya selama 4 tahun.

 

Aah... padahal dia sedang ditenang-tenangkan dan menangis tersedu-sedu, tapi tangannya sama sekali tidak melepaskan botol minuman keras. Sepertinya dia akan lanjut minum terus.

 

...Akan tetapi, ternyata hubungan yang sudah berjalan selama 4 tahun pun masih bisa putus, ya. Rasanya hanya informasi yang satu ini saja yang agak menakutkan.

 

Untuk mengubah suasana hati, aku menyeruput teh Oolong sambil menyantap hidangan di hadapanku.

 

Hari ini disajikan hasil laut lokal... hidangan laut musim dingin berjejer rapi. Ada ikan berkuah dan gorengan ikan yang jenisnya jarang kulihat... serta olahan yang segar berupa sashimi. Tampaknya ini makanan khas musim dingin, daging ikannya terasa padat dan sangat lezat. Bahkan ada nama ikan yang belum pernah kudengar sebelumnya.

 

Apa itu Yanagi no Mai? Kenapa ada kata "no" pada nama ikan?

 

Kelompok orang dewasa menikmati hidangan ini bersama bir atau sake Jepang, sementara aku yang masih di bawah umur minum teh Oolong seorang diri. Kakek juga terlihat menikmati sake Jepang sedikit demi sedikit. Ayah dan Ibu juga minum alkohol.

 

Aah... sepertinya mereka sedang dihujani berbagai pertanyaan.

 

"You-chan, ini juga enak, lho. Cobalah makan."

 

"Ah, Nenek... terima kasih."

 

Tanpa kusadari, Nenek sudah duduk di sampingku.

 

Mangkuk yang diserahkan terasa hangat, di dalamnya berisi hidangan berkuah yang mengepulkan uap putih. Daging dan tulang ikan... apakah ini sup ara-jiru?

 

Kelihatannya lezat.

 

Saat kucicipi, cairan hangat memenuhi mulutku, rasa miso dan aroma manis dari ikan menyeruak ke hidung. Sama sekali tidak ada bau amis, aromanya begitu harum hingga terasa segar.

 

"Wah, lezat."

 

Sayuran di dalamnya ada wortel dan lobak... lalu apakah itu konjak? Kalau menggunakan kuah miso begini, apakah disebut sup Sanpei-jiru? Atau kalau sup ara-jiru itu rasanya asin...?

 

Yah, selama lezat, apa saja tidak masalah. Nanti aku mau minta Nenek mengajariku cara membuatnya, agar aku bisa memasakkannya untuk Nanami lain kali.

 

Melihatku makan dengan nikmat, Nenek tersenyum senang.

 

Karena tadi siang aku membantu Kakek dan Ayah, aku tidak begitu banyak mengobrol dengannya. Hanya saja, Nenek yang duduk di dekatku sambil tersenyum begini terasa agak tidak biasa...

 

Dulu seingatku beliau lebih sering mengobrol dengan Ibu dan yang lainnya...

 

"Jadi, pacarmu itu orangnya seperti apa?"

 

Ternyata topik itu lagi, ya...

 

Tangan yang memegang mangkuk refleks terhenti. Nenek tidak bertanya lebih jauh dan sepertinya hanya menungguku yang mulai bercerita.

 

Ini... sepertinya beliau berniat mengejarku sampai aku mau angkat bicara. Yah, kalau cuma memperkenalkan Nanami sedikit... kurasa tidak apa-apa.

 

"Dia orang yang sangat luar biasa... dan sangat manis... Sangat luar biasa sampai terasa terlalu baik untukku, tapi aku bahkan tidak bisa membayangkan ada orang yang lebih baik daripada dia."

 

"Wah, wah, apakah dia seluar biasa dan semanis itu?"

 

Kata-kata seperti ini sebenarnya tidak cukup untuk menggambarkan Nanami, tetapi tetap saja, ucapan yang terlontar berakhir menjadi ungkapan yang pasaran.

 

Aku meratapi keterbatasan kosakataku, sekaligus bingung bagaimana cara mengekspresikannya dengan tepat.

 

Apakah sebaiknya tadi aku bilang saja kalau dia adalah wanita nomor satu di dunia bagiku?

 

Meski begitu, Nenek terlihat sangat senang. Beliau tampak gembira dan menikmati suasana, memancarkan aura layaknya seseorang yang akhirnya mendapatkan sesuatu yang sudah lama ditunggu-tunggu.

 

Bagi diriku sendiri, melihat Nenek gembira tentu bukan hal yang buruk. Apakah Nenek sangat suka gosip percintaan? Tapi kalau soal cerita patah hati Nee-chan, sepertinya beliau kurang... berminat, ya.

 

"Tidak ada foto di ponselmu? Atau malah, kamu tidak mau coba panggilan video? Apa kamu tidak main media sosial?"

 

"Foto sih ada... tapi, Nenek bisa pakai ponsel pintar?"

 

Kata "panggilan video" membuat jantungku berdegup kencang.

 

Itu karena aku berniat melakukannya diam-diam nanti. Lagipula, Nenek tahu hal-hal seperti itu, ya.

 

Saat aku dibuat terkejut oleh kata "media sosial" yang tak disangka-sangka, keluar lagi satu kalimat yang jauh lebih mengejutkan.

 

"Tentu saja, ponsel pintar kan barang wajib untuk oshi-katsu (kegiatan mendukung idola)."

 

...Gimana? Kata oshi-katsu yang mendadak muncul membuatku refleks mematung.

 

Eh, Nenek melakukan oshi-katsu? Mendukung siapa?

 

Karena rasanya agak menakutkan jika bertanya lebih jauh, mari kita tidak usah membahas hal itu.

 

"Nenek ingin bicara dengan pacarnya You-chan, lho~"

 

Meskipun tertawa dengan terbahak-bahak secara anggun, pergerakannya terasa sangat gencar.

 

"...Kenapa Nenek ingin sekali bertemu dengannya?"

 

"Tentu saja, kalau You-chan sampai bisa berubah, bukankah dia pasti seorang gadis yang sangat luar biasa? Nenek ingin bertemu dengannya tapi karena sulit, setidaknya lewat panggilan video saja..."

 

Seperti yang dikatakan tadi, apakah aku benar-benar berubah sebanyak itu...?

 

"You-chan itu memang anak yang baik, tapi karena terlalu pendiam Nenek jadi khawatir... Nenek pikir tidak apa-apa kalau kamu sedikit lebih agresif dalam urusan lawan jenis."

 

"Agresif..."

 

Itu adalah kata yang jarang didengar dalam urusan percintaan, tetapi tampaknya karena Ibu dulu seperti itu, Nenek berpikir aku pun mungkin akan sama.

 

Asmara seperti apa yang dijalani Ibu di masa lalu... sejujurnya aku benar-benar tidak ingin mendengarnya, jadi untuk saat ini aku mengembalikan pembicaraan ke topik Nanami.

 

"...Kalau begitu, jika dia bilang tidak apa-apa..."

 

"Wah, wah, wah, begitu saja sudah cukup. Kalau dia tidak mau, jangan dipaksa, ya."

 

Nenek yang menangkupkan kedua tangannya gembira langsung berdiri dan kembali ke tempat Kakek dan yang lainnya.

 

Mungkinkah beliau hendak melaporkan percakapan tadi?

 

Jika Nanami bilang tidak apa-apa... ya...

 

Entah mengapa, aku merasa dia tidak akan menolak dan kami pasti akan melakukan panggilan video... pikirku sambil menyuapkan sashimi ke dalam mulut.

 

◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇

 

Boleh kok! Aku juga ingin mengobrol dengan Kakek dan Neneknya Youshin!!

 

"Sudah kuduga, Nanami pasti akan bilang begitu..."

 

Pesta sedang berada di puncak keramaian... atau begitulah istilahnya. Untuk saat ini, aku menyelinap keluar dari pesta dan masuk sendirian ke kamar yang dialokasikan untuk keluarga kami untuk menelepon Nanami.

 

Sesuai dugaan, Nanami menyetujuinya tanpa ragu sedikit pun. Di satu sisi aku bersyukur dia mau mengobrol, tetapi di sisi lain, sejujurnya aku merasa sangat malu.

 

Tidak, tolong jangan salah paham, bukannya aku malu karena Nanami.

 

Ngomong-ngomong, keluargaku di sini juga bilang ingin mengobrol dengan Youshin, lho.

 

"Bercanda, kan? Di sana juga begitu...?!"

 

Meski berpikir itu hal yang wajar, kalimat itu membuatku sedikit memegang kepala. Habisnya, ini perkenalan yang mendadak, kan...? Bukankah rintangannya terlalu tinggi?

 

"...Lagipula, kenapa Kakek di sana sampai ingin bertemu?"

 

Katanya, karena kamu bisa mengubahku yang dulu membenci laki-laki, berarti kamu pasti pria yang sangat hebat, jadi beliau ingin bertemu langsung untuk mengucapkan terima kasih.

 

"Pria hebat... lagipula itu bukan sesuatu yang perlu diberi ucapan terima kasih..."

 

Aku sudah bilang ke beliau kalau kamu adalah pria paling luar biasa di dunia.

 

"Bicara apa kamu ini?!"

 

Aku memprotes bahwa rintangannya jadi dinaikkan terlalu tinggi, tetapi Nanami malah menepuk dadanya bangga sambil menegaskan bahwa itu memang kenyataan.

 

Sebagai orang yang tadi bahkan tidak bisa mengutarakan kata "nomor satu di dunia", betapa indahnya jika aku bisa menyatakannya tanpa rasa malu seperti itu...

 

Untuk saat ini karena izin sudah didapat, mari kita panggil Nenek dan yang lainnya...

 

"Kalau begitu yang aku pertemukan cukup Kakek dan Nenek saja, ya... Kerabat yang lain kita kecualikan saja..."

 

Eeh? Padahal kalau bisa, aku ingin bilang "Saya Nanami, tunangannya Youshin" di hadapan seluruh kerabat Youshin.

 

"Kamu berniat menjatuhkan bom yang mengerikan, ya. Itu pasti hanya akan berakhir jadi bahan pembicaraan para kerabat, jadi tolong kasihanilah aku."

 

Nah, saat aku baru saja berdiri berniat memanggil Nenek dan yang lainnya, pintu kamar mendadak terbuka secara tiba-tiba.

 

"Yoo-shin, lagi apa kamu~? Kenapa meninggalkan Nee-chan di sini~? Sedang menelepon pacar, ya~? Aku mau punya pacar yang lebih muda, tolong kenalkan anak SMA dong~"

 

...Nee-chan rupanya.

 

Dia membuka pintu sambil mengocehkan perkataan yang penuh dengan hawa nafsu semata. Tampaknya dia datang mencariku sambil membawa botol minuman keras di satu tangannya.

 

Eh?! Youshin punya kakak perempuan?!

 

"Bukan, dia kakak sepupuku."

 

Sepupu... tidak apa-apa dipanggil sepupu, kan? Karena selama ini aku hanya menyebutnya kerabat, aku tidak tahu sebutan pastinya, tetapi untuk saat ini dipanggil sepupu saja sudah cukup.

 

"Aah... ternyata benar-benar lagi ngobrol sama pacar. Panggilan video? Aku mau sapa, dong."

 

"Tidak ah, kalau Kakek sama Nenek sih aku bilang boleh, tapi kalau Nee-chan..."

 

A-anu... saya Barato Nanami yang berpacaran dengan Youshin-kun, salam kenal.

 

"Iyaaa, Nanami-chan, ya~ Suaranya imut banget~ Anak seperti apa dia, ya..."

 

Mendengar suara yang keluar dari ponsel, Nee-chan mengukir senyuman lunglai dengan sudut mata yang menyipit maksimal.

 

Senyumannya persis seperti seorang nenek yang melihat cucu keponakannya. Tapi kalau kukatakan itu, aku bisa dibunuh, jadi lebih baik diam saja.

 

Karena tidak ada pilihan lain, aku mengubah panggilan telepon menjadi panggilan video lalu memperlihatkannya kepada Nee-chan. Nee-chan yang tadinya tersenyum lebar mendadak membelalakkan matanya terkejut begitu menangkap sosok Nanami di layar.

 

Lalu, pandangannya bergerak bolak-balik di antara aku dan Nanami, sambil mengatup-ngatupkan mulutnya persis seperti ikan koi di kolam.

 

Saat aku memiringkan kepala heran melihat reaksinya, Nee-chan mengeluarkan suara luar biasa berat dari tenggorokannya, seolah-olah bergema dari dasar neraka.

 

"...Bukankah dia ini gadis yang sangat cantik jelita? Kamu melakukan apa, bagaimana bisa...... eh? Seriusan? Pacar? Eh? Sosok yang benar-benar nyata? Nanami-chan ini orang beneran...?!"

 

Jangan meragukan keberadaan pacar orang, dong.

 

Sama seperti petinju yang terkena pukulan telak, Nee-chan dengan kepala yang sempoyongan langsung duduk perlahan di tempatnya berada. Lalu, dia melihat ke arah Nanami, memperbaiki sikap duduknya menjadi posisi seiza. Botol minumannya diletakkan di samping.

 

"Aku Toubetsu Touka, sepupunya Youshin. Salam kenal, ya."

 

Masih dalam posisi bersimpuh, dia menundukkan kepalanya dalam-dalam. Nanami yang merasa segan pun ikut menundukkan kepalanya dengan sopan.

 

Tidak, ada apa dengannya, sih?

 

"...Nee-chan mabuk, ya?"

 

"Rasa mabukku langsung hilang seketika, tahu! Menghadapi gadis secantik ini tanpa memperbaiki sikap duduk itu bisa kualat!"

 

Logika macam apa itu? Nee-chan yang tadinya mabuk sekarang tampak begitu segar bugar seolah-olah tidak memperlihatkan rasa mabuknya sedikit pun.

 

Apakah orang dewasa memang bisa berganti mode secepat ini, ataukah ini hanya kemampuan khas milik Nee-chan saja?

 

Sekali lagi, saya Barato Nanami. Salam kenal, Touka-san.

 

"...Namaku dipanggil oleh gadis cantik."

 

Dia tampak tersentuh dari lubuk hati.

 

Ya, kan, ternyata dia memang masih mabuk!

 

Setelah itu, saat aku berpikir mereka berdua akan saling memperkenalkan diri dan mengobrol santai...

 

Eh... padahal sudah pacaran selama 4 tahun?

 

"Benar... aku dicampakkan... katanya gara-gara aku tidak pernah mau diajak melakukan hal mesum... padahal... padahal..."

 

Malah jadi sesi curhat perjalanan hidup.

 

Tidak, apakah ini konsultasi asmara? Rasanya ini jenis pembicaraan yang kurang baik jika kudengar, mungkin sebaiknya aku keluar kamar dulu...

 

Benar juga, mumpung ada waktu, mari kupanggil Kakek dan Nenek saja sekarang. Meskipun merasa agak segan karena meninggalkan si pemabuk bersama Nanami, aku melangkah keluar kamar dengan tenang lalu memanggil Kakek dan Nenek.

 

Saat itu pesta sudah hampir selesai, dan orang-orang sedang bersih-bersih sedikit demi sedikit. Awalnya kupikir lebih baik memanggil mereka nanti saja, tetapi...

 

"Eh?! Sekarang kamu lagi terhubung dengan pacarmu?!"

 

"Sana pergi, sana!! Urusan bersih-bersih serahkan pada kami saja!!"

 

"Yah, yang tenang, ya!! Jangan sampai tidak sopan!!"

 

Seluruh kerabat ternyata sangat kooperatif. Kakek dan Nenek yang sepertinya juga ingin mengobrol dengan Nanami, akhirnya menerima kebaikan mereka. Entah kenapa mereka tampak berseri-seri gembira.

 

Saat aku mengantar Kakek dan Nenek menuju kamar... Nee-chan baru saja keluar dari sana. Wajahnya tampak cerah, segar, dan dipenuhi dengan rasa harapan. Mata yang tadinya tampak mati seperti orang tak berdaya kini terlihat hidup kembali.

 

"Youshin, terima kasih banyak, ya... Semoga hubunganmu dengan Nanami-chan langgeng sampai akhir hayat..."

 

Dengan memperlihatkan senyuman yang berseri-seri, Nee-chan mengangkat satu tangannya dengan mantap lalu pergi berlalu.

 

Sungguh, sebenarnya ada apa dengannya?

 

"...Kenapa dia? Ada apa dengannya?"

 

Kakek dan Nenek tampak kebingungan, tetapi kemungkinan... konsultasi asmaranya dengan Nanami membuahkan hasil yang baik. Walaupun seorang mahasiswa (pemabuk) yang berkonsultasi pada anak SMA itu sendiri sudah terasa agak bagaimana, ya.

 

Saat masuk ke dalam kamar, layar ponsel masih dalam keadaan terhubung. Nanami melemparkan senyuman padaku... lalu, begitu melihat Kakek dan Nenek, raut wajahnya berubah sedikit tegang.

 

"Nanami, maaf mendadak, tapi ini Kakek dan Nenekku. Kakek, Nenek... ini Barato Nanami-san yang berpacaran denganku."

 

Se... selamat malam, saya Barato Nanami yang berpacaran dengan Youshin-kun.

 

Mendengar perkenalan diri Nanami, Kakek dan Nenek tersenyum gembira. Senyuman Kakek adalah jenis senyuman yang tidak pernah diperlihatkan sebelumnya. Biasanya beliau hanya tersenyum dengan mengubah bentuk bibirnya saja, tetapi sekarang seluruh wajahnya ikut tersenyum.

 

Melihat mereka sebahagia itu, aku pun merasa ikut senang.

 

"Barato Nanami-san... terima kasih atas salamnya yang begitu sopan. Saya Shinori, kakek dari Youshin."

 

"Saya Nobuka, neneknya. Wah, wah, gadis yang sungguh luar biasa... salam kenal, ya."

 

Kakek dan Nenek yang duduk bersimpuh menyapa Nanami dengan ramah... dan di saat itulah aku teringat, "Oh iya, ternyata nama Kakek dan Nenek begitu, ya", lalu diam-diam mencatatnya ke dalam ingatan.

 

Habisnya, aku hanya memanggil mereka Kakek dan Nenek...

 

Jujur saja, tingkat kesadaran namaku terhadap mereka sangat tipis. Apakah orang-orang pada umumnya selalu mengingatnya?

 

"Aah... tidak menyangka You bisa mendapatkan pacar seluar biasa ini, ya... Pantas saja dia tumbuh pesat dalam waktu 1 tahun tak bertemu..."

 

"Benar sekali. Waktu mendengar You-chan punya pacar saja Nenek sudah kaget, tapi begitu melihat pacarnya langsung, Nenek dibuat kaget untuk kedua kalinya..."

 

...You-chan.

 

...Gawat, aku lupa mewanti-wanti Kakek dan Nenek soal panggilan itu. Karena tidak banyak orang yang memanggilku dengan sebutan "You" saja, aku jadi tidak menyadarinya.

 

Aah, sesuai dugaan... Nanami melirikku sambil tersenyum geli. Ini sudah pasti saat bertemu berikutnya aku bakal dipanggil "You-chan".

 

Kakek dan Nenek mengobrol hal-hal ringan dengan Nanami untuk beberapa saat, tetapi karena belum terlalu akrab satu sama lain, percakapan terkadang terhenti sejenak di sana-sini.

 

Kakek memang tidak pandai bicara... namun rasanya beliau sudah berbicara cukup banyak dengan Nanami.

 

Beberapa saat kemudian percakapan terhenti... dan entah mengapa suara Kakek serta Nenek mulai bergetar.

 

"Baguslah, You... Sekarang sudah ada orang yang bisa melihat kebaikan dalam dirimu dengan jelas..."

 

"Benar... sampai bisa mendapatkan gadis seluar biasa ini..."

 

"Tung... tunggu, kalian berdua... jangan menangis, dong."

 

Keduanya yang mendadak menangis secara kompak berkata, "Kalau sudah tua memang jadi gampang terharu, ya."

 

Sambil berpikir apakah ini sesuatu yang bisa sampai membuat mereka menangis, aku jadi ingin menyalahkan diriku di masa lalu agar lebih banyak bergaul dengan orang lain.

 

Pasti... mereka berdua sangat mengkhawatirkanku selama ini.

 

Kakek memegang erat lututnya sendiri, lalu menundukkan kepalanya dalam-dalam di tempat kepada Nanami.

 

"Nanami-san, You... tolong jaga dia baik-baik, ya."

 

"Saya juga... mohon bantuannya, ya."

 

Nenek pun ikut menundukkan kepalanya dalam-dalam.

 

Diperlakukan seperti itu, aku berpikir Nanami pasti akan panik... tetapi ternyata Nanami jauh lebih tenang dari dugaan.

 

Lalu, sambil tersenyum lembut, Nanami pun menundukkan kepalanya dalam-dalam.

 

Sama-sama, mohon bantuannya untuk jangka waktu yang sangat panjang.

 

...Ada apa dengan kata-kata itu, ya? Rasanya seperti ditujukan kepada Kakek dan Nenek, namun di saat yang sama juga ditujukan kepadaku.

 

Saat mendongakkan kepalanya, Nanami mengedipkan sebelah matanya padaku. Rasanya seperti benteng pertahanan Kakek dan Nenek pun akhirnya sudah berhasil ditaklukkan... Itulah yang kurasakan. Dari awal aku memang sudah berserah diri, tetapi rasanya hal ini makin maju satu langkah ke depan.

 

Kakek yang terharu menepuk-nepuk punggungku dengan keras. Rasanya lumayan sakit, sih.

 

"You, jangan sampai melepaskannya, ya... Gadis sebaik ini... sangat jarang ada."

 

"Kalau ada yang bisa kami bantu, katakan saja apa pun, ya. Kami pasti akan membantu. Ah, tadi bilang tidak main media sosial, ya? Padahal Nenek main, lho..."

 

Aku tidak menyangka Kakek akan memujinya setinggi ini. Rasa gembira karena Nanami dinilai tinggi dan rasa terkejut datang secara bersamaan. Nenek bahkan malah berniat saling bertukar kontak.

 

Meskipun Nenekku sendiri, bukankah beliau ini terlalu aktif?

 

Untuk saat ini, bisa dibilang sesi perkenalan berjalan dengan sangat lancar...

 

Meski begitu, perkataan Nenek... soal membantu, ya...

 

"Aah... kalau begitu, bisakah aku minta tolong satu hal sekarang?"

 

Kakek, Nenek, dan juga Nanami yang memiringkan kepala penasaran... dengan tenang mendengarkan apa yang baru saja terlintas di dalam benakku.



Prolog | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close