NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Inkya no Boku ni Batsu Game Volume 12 Prolog

Prolog

Memupuk Cinta?


Ada sebuah ungkapan yang mengatakan, "Waktu yang tidak dihabiskan bersama akan memupuk cinta." Aku tidak ingat betul di mana pertama kali mendengar kalimat tersebut.

 

Konon, kalimat itu menjadi lirik lagu lama, jadi mungkin saja aku pernah mendengarnya dari sana. Namun, ketika dicari tahu lebih dalam, ungkapan ini ternyata berasal dari peribahasa kuno di Inggris.

 

Peribahasa Inggris itu pun rupanya memiliki kisah asal-usul yang lebih tua lagi. Semakin dicari tahu, semakin aku dibuat kagum oleh dalamnya makna di balik asal-usul sebuah kata.

 

Yah, meskipun aku sedang terhanyut dalam perenungan tentang ungkapan tersebut, apakah kalimat ini masih berlaku pada zaman modern sekarang? Apakah ungkapan ini lahir justru karena pada zaman dahulu orang-orang tidak dapat sering bertemu dengan kekasihnya?

 

Namun, aku berpikir, bisa jadi malah zaman sekarang lah yang memungkinkan orang-orang berkomunikasi dengan terlalu mudah. Bahkan di saat sulit untuk bertemu secara langsung, setiap orang memiliki perangkat komunikasi sendiri sehingga dapat berbicara kapan saja.

 

Kehadiran kamera juga membuat kita bebas melihat wajah satu sama lain kapan pun kita mau—meski tentu saja harus menyesuaikan dengan kesibukan pihak sebelah. Namun, setidaknya, sudah pasti bahwa kita hidup di zaman yang memudahkan kita untuk bertemu dengan orang yang disukai dibandingkan saat peribahasa itu lahir.

 

Akan tetapi, jika demikian, timbul pertanyaan lain: Apakah ini berarti zaman sekarang adalah masa di mana cinta tidak dapat dipupuk?

 

Jika "waktu yang tidak dihabiskan bersama akan memupuk cinta", maka secara logis timbul anggapan sebaliknya: "waktu yang dihabiskan bersama tidak dapat memupuk cinta". Lebih jauh lagi, jika diselaraskan dengan ungkapan ini, masa kini—di mana bertemu kekasih jauh lebih mudah dibandingkan masa lalu—akan dianggap sebagai zaman yang menyulitkan cinta untuk tumbuh.

 

...Tidak, ini sepertinya argumen yang terlalu dipaksakan atau sekadar tuduhan tidak berdasar. Bagaimanapun, inti dari ungkapan itu sendiri adalah memperkuat perasaan di saat tidak bisa bertemu, sehingga perasaan tersebut menjadi sangat istimewa ketika akhirnya berjumpa kembali. Oleh karena itu, pada masa sekarang, tampaknya kita harus memandangnya begini: sama halnya dengan waktu tanpa pertemuan yang dapat memupuk cinta, waktu yang dihabiskan bersama pun turut memupuk cinta tersebut. Lagipula, orang-orang pada zaman dahulu tidak bisa bertemu karena keterbatasan sarana komunikasi, yang pada akhirnya membuat rasa rindu mereka kian membara.

 

Jika mereka memiliki kesempatan untuk bertemu dengan mudah, orang-orang zaman dahulu pun pasti akan melakukannya. Sebaliknya, pada zaman modern ini, jika kita tidak memberikan kabar padahal ada sarana untuk berkomunikasi... bukankah hal itu justru akan membuat rasa cinta menjadi dingin? Mungin akan memicu pertengkaran seperti, "Mengapa kamu tidak mehubungiku?!"

 

Sebab itu, jika diungkapkan dengan gaya modern, bentuknya mungkin menjadi: mari pupuk cinta dengan saling memberi kabar di saat kita tidak bisa bertemu secara langsung.

 

Hal mendasar yang melandasinya adalah perasaan terhadap pasangan... dan bagian itu tidak pernah berubah sejak zaman dahulu. Mungkin pemikiran ini sedikit berbeda dari konsep Onko Chishin—mempelajari masa lalu untuk memahami masa kini—tetapi menyelaraskan ungkapan lama dengan kondisi saat ini adalah hal yang sangat penting. Selama akar pemikirannya sama, makna yang terkandung akan tetap sama meskipun disampaikan dengan ekspresi yang berbeda.

 

"Maka dari itu, meskipun nanti berada di sana, aku akan tetap rutin memberimu kabar, kok "

 

"Ya... Aku tidak menyangka Nanami akan membicarakan hal seperti itu."

 

Biasanya, hal-hal rumit berbau logika seperti ini keluar dari mulut aku. Namun, perenungan kali ini muncul justru setelah aku mendengar perkataan dari Nanami. Pemikiran ini terasa segar karena sudut pandang tersebut tidak lahir dari diri aku sendiri.

 

Mungkinkah sifat aku yang terlalu analitis ini telah menular kepada Nanami?

 

Sambil membusungkan dada dengan bangga, Nanami mengaduk kuah di dalam panci yang berada di sampingku. Sementara aku sendiri berada di sebelahnya, sibuk mengocok telur. Dapur di rumah aku cukup luas dan lega, bahkan untuk digunakan oleh dua orang sekaligus.

 

Kami sedang membuat sarapan. Walaupun disebut membuat sarapan, kami tidak memasak dari awal, melainkan hanya menyiapkan satu hidangan ringan.

 

Saat ini adalah pagi hari setelah Nanami menginap di rumahku... Pagi di hari setelah Natal, di mana kami berhasil melewati momen bersejarah: tidur di ranjang yang sama.

 

Karena merasa cukup emosional, aku kembali menegaskan fakta bahwa dia menginap di sini. Padahal kenyataannya, kami hanya tidur berdampingan dan tidak melakukan apa-apa. Lebih tepatnya, aku harus mengatakan bahwa aku tidak berani melakukannya.

 

...Wajahku kembali memerah ketika mengingatnya.

 

Ya, ini adalah pagi setelah hari yang bersejarah itu. Lagi-lagi aku menekankan kata "bersejarah". Rasanya hal ini mulai terdengar sedikit berlebihan. Dalam arti lain, ini juga merupakan hari yang memalukan karena aku tidak bisa berbuat apa-apa padahal tidur bersama. Jadi, sebaiknya aku menahan diri sampai di sini saja.

 

Singkat cerita, setelah menyambut pagi bersama, kami memutuskan untuk berjalan-jalan kecil menerobos tumpukan salju menuju minimarket untuk membeli sarapan—sebagian besar atas permintaan aku.

 

Setelah membeli berbagai macam makanan di minimarket dan tiba di rumah, saat kami hendak menyantapnya, Nanami mendadak mengangkat tangannya.

 

"Mumpung sedang di sini, aku buatkan sup saja, ya."

 

Makanan yang kami beli di minimarket hanyalah roti lapis dan semacamnya. Sup dari semalam pun sudah habis tak bersisa, jadi memang benar kami tidak memiliki makanan berkuah saat itu. Namun, merasa tidak enak jika harus merepotkannya memasak, aku mencoba menyampaikannya kepada Nanami...

 

"...Soalnya, mulai besok aku akan berpisah jauh dari Youshin, kan. Bagaimanapun juga, aku ingin kamu memakan masakan buatanku."

 

Nanami tersenyum malu-malu seraya menambahkan bahwa ini bukanlah perpisahan untuk selamanya. Melihat senyum malunya itu, aku malah merasa disergap oleh rasa penyesalan yang mendalam.

 

Ah... Benar juga. Mengapa aku bisa melupakan hal sepenting itu? Daripada merasa segan atau merepotkannya, harusnya pikiran itulah yang terlintas di kepalaku. Dia benar, mulai besok aku tidak akan bisa memakan masakan Nanami lagi... Jadi, tidak ada salahnya memanfaatkan kesempatan ini.

 

Nanami kemudian menyemangatiku yang sempat murung, lalu mulai memasak sup menggunakan bahan-bahan yang dibeli dari minimarket. Namun, aku tidak boleh terus-terusan merasa murung.

 

Aku tidak bisa membiarkan Nanami berdiri sendirian di dapur tanpa melakukan apa pun. Bukankah ada pepatah yang mengatakan bahwa di balik kesulitan selalu ada kesempatan? Maka dari itu...

 

"Kalau begitu, aku akan membuat telur gulung saja..."

 

Aku pun memutuskan untuk memasak menggunakan bahan makanan yang tersisa sedikit di dalam kulkas... yaitu telur. Melihat hal itu, Nanami tersenyum senang...

 

Dan begitulah hingga sampai pada situasi saat ini.

 

Lantas, apakah pergi berbelanja ke minimarket menjadi sia-sia jika pada akhirnya kami tetap memasak? Jawabannya adalah tidak.

 

Bagaimanapun juga, ketika aku memeriksa isi kulkas tadi, tidak ada banyak bahan makanan yang tersisa. Stok roti pun sudah habis. Pada akhirnya, kami memang tetap harus pergi ke minimarket. Setidaknya masih ada bahan yang tersisa untuk sekadar membuat telur gulung, sungguh beruntung.

 

Sambil menambahkan bumbu, aku mengocok telur lalu menuangkan adonan yang dibuat agak manis itu ke dalam wajan khusus telur gulung. Suara desisan jshhh... terdengar dari wajan, dan adonan telur yang merata mulai meletup-letup kecil seperti mendidih.

 

Aku mengaduknya sedikit, membiarkannya matang, lalu mulai melipatnya dari depan ke belakang hingga membentuk gulungan. Menggunakan wajan khusus ini memang membuat prosesnya terasa relatif lebih mudah.

 

Setelah gumpalan kecil terbentuk di bagian depan wajan, aku menuangkan kembali adonan telur tambahan dan melipatnya lagi dengan cara yang sama.

 

"Youshin, kamu jadi makin mahir, ya."

 

Setelah mengulang gerakan tersebut beberapa kali, Nanami mengintip ke arah tangan aku sambil memberikan pujian.

 

Aku memang berlatih agar bisa menjadi sedikit lebih mahir, tapi apakah gerakan aku benar-benar terlihat semahir itu?

 

"Terima kasih. Aku bisa jadi makin mahir begini juga berkat Nanami, lho."

 

"Eh, kalau soal ini, aku benar-benar tidak melakukan apa-apa, tahu..."

 

Nanami tampak sedikit bingung.

 

Padahal bagiku, alasannya bekerja keras memasak adalah karena ingin menyajikannya untuk Nanami, jadi ini memang murni berkat dirinya.

 

Ketika aku menyampaikan hal tersebut kepadanya, dia tampak sangat gembira. Dengan wajah merona, dia menangkup kedua pipinya lalu menggoyangkan tubuh bagian atasnya perlahan.

 

Ya ampun, menggemaskan sekali.

 

Aku mengulang proses merapatkan telur yang sudah matang lalu menuangkan adonan baru beberapa kali, hingga akhirnya sepotong telur gulung yang sempurna terbentuk di dalam wajan.

 

Karena adonan telur sudah habis, terakhir aku memperbesar apinya sedikit. Ini bukan trik memasak khusus atau semacamnya; aku hanya lebih suka jika permukaannya memiliki sedikit bekas panggangan yang agak kecokelatan.

 

Idealnya, telur gulung yang sempurna memang tampil polos dengan warna kuning yang bersih tanpa bekas panggangan sama sekali, sih... Tapi entah mengapa, aku merasa tampilannya yang agak terpanggang sedikit justru terasa lebih lezat daripada yang polos mulus.

 

Nah, kelihatannya sudah bagus. Kali ini berhasil dengan baik. Terkadang, permukaan telurnya suka gosong saat proses memperbesar api di bagian akhir ini. Aku memindahkannya ke atas tisu dapur dan membiarkannya istirahat sejenak.

 

Sebelumnya, aku pernah kapok karena memotongnya saat masih panas membara hingga tangan aku terkelupas... Sejak saat itu, aku selalu mendinginkannya sedikit sebelum dipotong.

 

Sup buatan Nanami sepertinya juga sudah hampir matang. Setelah selesai, kami bisa langsung sarapan... Perut aku rasanya sudah sangat lapar.

 

"Tapi ya... aku masih belum bisa memecahkan telur dengan satu tangan seperti Nanami, jadi kemampuanku masih jauh..."

 

"Ya ampun, memangnya Youshin mau mengejar level apa, sih... Lagipula, tidak bisa memecahkan telur dengan satu tangan itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan rasa masakan. Aku sendiri baru bisa melakukannya belakangan ini, kok."

 

"Eh? Begitu, kah? Kurasa kamu sudah bisa melakukannya sejak dulu..."

 

Saat dia memperlihatkannya kepadaku dulu, gerakannya tidak terlihat seperti pamer keahlian, melainkan sangat alami seolah-olah itu hal yang biasa.

 

Justru karena itulah terlihat keren.

 

Aku pikir itu adalah kebiasaan yang melekat karena dia sudah memasak sejak lama, jadi cukup mengejutkan mengetahui fakta bahwa dia baru memelajarinya belakangan ini. Tetap saja, bisa melakukannya itu hebat...

 

Eh... Tunggu dulu?

 

"...Ada apa, Nanami?"

 

Mendadak Nanami menghindari kontak mata denganku. Dia tampak agak bersalah atau mungkin panik. Karena reaksinya yang terbilang langka ini, aku tanpa sadar menatapnya lekat-lekat.

 

Nanami tampaknya salah mengartikan tatapan tersebut... Tanpa melihat wajahku, dia membuka suara sambil menatap ke arah kanan atas.

 

"Sebenarnya... aku berlatih karena ingin dibilang keren oleh Youshin..."

 

Alasan macam apa itu, imut sekali. Alasannya terdengar sangat khas anak laki-laki Sekolah Dasar. Wajah Nanami berangsur-angsur memerah, dan sebanding dengan itu, senyuman aku kian melebar.

 

Merasa sudah tertangkap basah, Nanami akhirnya menatap wajahku, lalu sedikit mengerucutkan bibirnya karena kesal.

 

"Tapi memang benar-benar kelihatan keren, kok."

 

"Aduh, kenapa malah bilang begitu sekarang, sih... Dasar bodoh..."

 

Nanami yang terlalu malu menepuk dadaku tanpa tenaga. Melihat reaksinya yang amat jarang terjadi ini, aku tidak bisa menahan cengiran di wajah. Namun begitu, ya... Keren, toh...

 

Memang benar, aku sering menyebutnya imut, tetapi rasanya aku jarang sekali bilang dia "keren". Jika Nanami menginginkannya, aku akan mengatakannya sebanyak apa pun.

 

"Tapi Nanami, kamu memangnya ingin terlihat keren, ya?"

 

"Lho? Kamu tidak ingat? Waktu kita berdua sedang bersantai di rumah sambil menonton video masak-memasak, Youshin kan pernah mengatakannya."

 

"...Eh? Aku pernah bilang begitu?"

 

Aku sama sekali tidak mengingatnya, tetapi tampaknya memang benar bahwa dia berlatih karena perkataan aku. Percakapan saat sedang bersantai di rumah memang jarang teringat secara utuh, ya...

 

Nanami sendiri paham kalau aku tidak ingat, jadi dia tidak memprotesnya. Namun, jika aku benar-benar pernah mengatakannya... melupakannya terasa begitu tidak bertenggang rasa.

 

"Kalau begitu, aku harus lebih sering bilang kalau Nanami itu keren..."

 

"Tidak perlu sampai begitu, aku juga tidak memikirkannya secara berlebihan, kok... Itu cuma obrolan santai, jadi aku tidak terlalu terkejut kalau kamu lupa."

 

"Tapi rasanya aku jadi terkesan agak tidak bertanggung jawab, kan?"

 

"Kalau sampai harus merasa bertanggung jawab atas obrolan santai pun, kamu nanti malah capek sendiri, tahu...?"

 

Yah, ada benarnya juga kata-katanya... Lagipula aku memang benar-benar lupa. Nanami pun sepertinya hanya melakukannya tanpa maksud yang terlalu berat.

 

Tanggung jawab mungkin harus ditunjukkan dalam bentuk lain... yaitu pada momen-momen krusial yang benar-benar membutuhkan keberadaanku. Jika setiap saat bersikap begitu, aku malah bisa melewatkan hal-hal yang justru lebih penting. Namun, jika dibilang "keren" bisa membuatnya senang, aku harus menyampaikannya secara jujur pada saat-saat seperti itu...

 

"Lagipula, ada hal yang baru kusadari begitu Youshin benar-benar bilang kalau aku 'keren'."

 

Nanami menegakkan jari telunjuknya, lalu mengatupkan bibirnya sejenak seolah-olah sedang membangun ketegangan.

 

Pencerahan apa yang didapatkannya? Walau penasaran, aku tetap menunggu dengan tenang sampai Nanami sendiri yang angkat bicara.

 

Seakan mengetahui perasaanku, Nanami sengaja menahannya cukup lama... Kemudian, sambil tetap mengarahkan jari telunjuknya ke arahku, dia berbisik dengan ekspresi yang sangat serius.

 

"...Dibanding dibilang keren, aku ternyata lebih senang kalau dibilang imut."

 

Baiklah, mari kita katakan "imut" lebih sering lagi mulai sekarang.

 

Itulah keputusan yang aku buat di pagi hari itu.

 

◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇

 

Setelah itu, kami berdua menyantap sarapan bersama. Tak lama kemudian Ayah dan Ibu pulang, dan entah mengapa Tomoko-san serta Genichiro-san juga ikut datang bersama mereka. Tampaknya mereka datang untuk menjemput Nanami, dan mobil Genichiro-san sudah terparkir di luar.

 

Selebihnya adalah... konfirmasi dari para orang dewasa. Mereka memastikan apakah semalam tidak terjadi apa-apa di antara kami. Karena memang tidak terjadi apa-apa, aku menjawab dengan dada terbusung tegak bahwa semuanya baik-baik saja.

 

Beruntung, rombongan orang dewasa mempercayai perkataan kami... Maka dari itu, perayaan Natal kami berakhir sampai di sini.

 

"Kalau begitu, Youshin, sampai jumpa lagi, ya."

 

"Iya. Hati-hati di jalan. Sampai jumpa lagi... setelah masa pulang kampungmu selesai."

 

"Benar... Selanjutnya, kita akan menginap di penginapan pemandian air panas, ya."

 

Dia melemparkan senyuman yang memancarkan betapa dia sangat menantikan hal tersebut...

 

Ah, benar juga. Kami memang berencana pergi berlibur. Aku harus menyiapkan berbagai hal dengan benar.

 

Begitu Nanami melambaikan tangannya, mobil perlahan-lahan mulai melaju. Aku membalas lambaian tangannya, dan bahkan setelah mobilnya tidak terlihat lagi, perasaan enggan berpisah menguasai diri aku hingga aku terus menatap ke arah kejauhan.

 

Dengan begini... aku tidak akan bisa bertemu Nanami untuk sementara waktu. Aku merasakan kehampaan seolah-olah ada lubang menganga di dalam dada. Ini adalah lubang yang rasanya tidak akan mudah untuk diisi kembali.

 

Hari-hari tanpa kehadiran Nanami... akhirnya dimulai juga.

 

"Youshin... Kamu ini merenung secara dramatis seolah-olah bakal berpisah untuk selamanya, padahal kalian cuma tidak bertemu sekitar satu minggu, tahu? Waktunya sama sekali tidak lama, lho?"

 

Teguran dari Ibu untuk sementara aku abaikan saja.



Illustrasi | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close