Prolog
Memupuk Cinta?
Ada sebuah ungkapan yang mengatakan, "Waktu yang tidak dihabiskan bersama akan memupuk cinta." Aku tidak ingat betul di mana pertama kali mendengar kalimat tersebut.
Konon,
kalimat itu menjadi lirik lagu lama, jadi mungkin saja aku pernah mendengarnya
dari sana. Namun, ketika dicari tahu lebih dalam, ungkapan ini ternyata berasal
dari peribahasa kuno di Inggris.
Peribahasa
Inggris itu pun rupanya memiliki kisah asal-usul yang lebih tua lagi. Semakin
dicari tahu, semakin aku dibuat kagum oleh dalamnya makna di balik asal-usul
sebuah kata.
Yah,
meskipun aku sedang terhanyut dalam perenungan tentang ungkapan tersebut,
apakah kalimat ini masih berlaku pada zaman modern sekarang? Apakah ungkapan
ini lahir justru karena pada zaman dahulu orang-orang tidak dapat sering
bertemu dengan kekasihnya?
Namun,
aku berpikir, bisa jadi malah zaman sekarang lah yang memungkinkan orang-orang
berkomunikasi dengan terlalu mudah. Bahkan di saat sulit untuk bertemu secara
langsung, setiap orang memiliki perangkat komunikasi sendiri sehingga dapat
berbicara kapan saja.
Kehadiran
kamera juga membuat kita bebas melihat wajah satu sama lain kapan pun kita
mau—meski tentu saja harus menyesuaikan dengan kesibukan pihak sebelah. Namun,
setidaknya, sudah pasti bahwa kita hidup di zaman yang memudahkan kita untuk
bertemu dengan orang yang disukai dibandingkan saat peribahasa itu lahir.
Akan
tetapi, jika demikian, timbul pertanyaan lain: Apakah ini berarti zaman
sekarang adalah masa di mana cinta tidak dapat dipupuk?
Jika
"waktu yang tidak dihabiskan bersama akan memupuk cinta", maka secara
logis timbul anggapan sebaliknya: "waktu yang dihabiskan bersama tidak
dapat memupuk cinta". Lebih jauh lagi, jika diselaraskan dengan ungkapan
ini, masa kini—di mana bertemu kekasih jauh lebih mudah dibandingkan masa
lalu—akan dianggap sebagai zaman yang menyulitkan cinta untuk tumbuh.
...Tidak,
ini sepertinya argumen yang terlalu dipaksakan atau sekadar tuduhan tidak
berdasar. Bagaimanapun, inti dari ungkapan itu sendiri adalah memperkuat
perasaan di saat tidak bisa bertemu, sehingga perasaan tersebut menjadi sangat
istimewa ketika akhirnya berjumpa kembali. Oleh karena itu, pada masa sekarang,
tampaknya kita harus memandangnya begini: sama halnya dengan waktu tanpa
pertemuan yang dapat memupuk cinta, waktu yang dihabiskan bersama pun turut
memupuk cinta tersebut. Lagipula, orang-orang pada zaman dahulu tidak bisa
bertemu karena keterbatasan sarana komunikasi, yang pada akhirnya membuat rasa
rindu mereka kian membara.
Jika
mereka memiliki kesempatan untuk bertemu dengan mudah, orang-orang zaman dahulu
pun pasti akan melakukannya. Sebaliknya, pada zaman modern ini, jika kita tidak
memberikan kabar padahal ada sarana untuk berkomunikasi... bukankah hal itu
justru akan membuat rasa cinta menjadi dingin? Mungin akan memicu pertengkaran
seperti, "Mengapa kamu tidak mehubungiku?!"
Sebab
itu, jika diungkapkan dengan gaya modern, bentuknya mungkin menjadi: mari pupuk
cinta dengan saling memberi kabar di saat kita tidak bisa bertemu secara
langsung.
Hal
mendasar yang melandasinya adalah perasaan terhadap pasangan... dan bagian itu
tidak pernah berubah sejak zaman dahulu. Mungkin pemikiran ini sedikit berbeda
dari konsep Onko Chishin—mempelajari masa lalu untuk memahami masa
kini—tetapi menyelaraskan ungkapan lama dengan kondisi saat ini adalah hal yang
sangat penting. Selama akar pemikirannya sama, makna yang terkandung akan tetap
sama meskipun disampaikan dengan ekspresi yang berbeda.
"Maka
dari itu, meskipun nanti berada di sana, aku akan tetap rutin memberimu kabar,
kok ♡"
"Ya...
Aku tidak menyangka Nanami akan membicarakan hal seperti itu."
Biasanya,
hal-hal rumit berbau logika seperti ini keluar dari mulut aku. Namun,
perenungan kali ini muncul justru setelah aku mendengar perkataan dari Nanami.
Pemikiran ini terasa segar karena sudut pandang tersebut tidak lahir dari diri aku
sendiri.
Mungkinkah
sifat aku yang terlalu analitis ini telah menular kepada Nanami?
Sambil
membusungkan dada dengan bangga, Nanami mengaduk kuah di dalam panci yang
berada di sampingku. Sementara aku sendiri berada di sebelahnya, sibuk mengocok
telur. Dapur di rumah aku cukup luas dan lega, bahkan untuk digunakan oleh dua
orang sekaligus.
Kami
sedang membuat sarapan. Walaupun disebut membuat sarapan, kami tidak memasak
dari awal, melainkan hanya menyiapkan satu hidangan ringan.
Saat
ini adalah pagi hari setelah Nanami menginap di rumahku... Pagi di hari setelah
Natal, di mana kami berhasil melewati momen bersejarah: tidur di ranjang yang
sama.
Karena
merasa cukup emosional, aku kembali menegaskan fakta bahwa dia menginap di
sini. Padahal kenyataannya, kami hanya tidur berdampingan dan tidak melakukan
apa-apa. Lebih tepatnya, aku harus mengatakan bahwa aku tidak berani
melakukannya.
...Wajahku
kembali memerah ketika mengingatnya.
Ya,
ini adalah pagi setelah hari yang bersejarah itu. Lagi-lagi aku menekankan kata
"bersejarah". Rasanya hal ini mulai terdengar sedikit berlebihan.
Dalam arti lain, ini juga merupakan hari yang memalukan karena aku tidak bisa
berbuat apa-apa padahal tidur bersama. Jadi, sebaiknya aku menahan diri sampai
di sini saja.
Singkat
cerita, setelah menyambut pagi bersama, kami memutuskan untuk berjalan-jalan
kecil menerobos tumpukan salju menuju minimarket untuk membeli sarapan—sebagian
besar atas permintaan aku.
Setelah
membeli berbagai macam makanan di minimarket dan tiba di rumah, saat kami
hendak menyantapnya, Nanami mendadak mengangkat tangannya.
"Mumpung
sedang di sini, aku buatkan sup saja, ya."
Makanan
yang kami beli di minimarket hanyalah roti lapis dan semacamnya. Sup dari
semalam pun sudah habis tak bersisa, jadi memang benar kami tidak memiliki
makanan berkuah saat itu. Namun, merasa tidak enak jika harus merepotkannya
memasak, aku mencoba menyampaikannya kepada Nanami...
"...Soalnya,
mulai besok aku akan berpisah jauh dari Youshin, kan. Bagaimanapun juga, aku
ingin kamu memakan masakan buatanku."
Nanami
tersenyum malu-malu seraya menambahkan bahwa ini bukanlah perpisahan untuk
selamanya. Melihat senyum malunya itu, aku malah merasa disergap oleh rasa
penyesalan yang mendalam.
Ah...
Benar juga. Mengapa aku bisa melupakan hal sepenting itu? Daripada merasa segan
atau merepotkannya, harusnya pikiran itulah yang terlintas di kepalaku. Dia
benar, mulai besok aku tidak akan bisa memakan masakan Nanami lagi... Jadi,
tidak ada salahnya memanfaatkan kesempatan ini.
Nanami
kemudian menyemangatiku yang sempat murung, lalu mulai memasak sup menggunakan
bahan-bahan yang dibeli dari minimarket. Namun, aku tidak boleh terus-terusan
merasa murung.
Aku
tidak bisa membiarkan Nanami berdiri sendirian di dapur tanpa melakukan apa
pun. Bukankah ada pepatah yang mengatakan bahwa di balik kesulitan selalu ada
kesempatan? Maka dari itu...
"Kalau
begitu, aku akan membuat telur gulung saja..."
Aku
pun memutuskan untuk memasak menggunakan bahan makanan yang tersisa sedikit di
dalam kulkas... yaitu telur. Melihat hal itu, Nanami tersenyum senang...
Dan
begitulah hingga sampai pada situasi saat ini.
Lantas,
apakah pergi berbelanja ke minimarket menjadi sia-sia jika pada akhirnya kami
tetap memasak? Jawabannya adalah tidak.
Bagaimanapun
juga, ketika aku memeriksa isi kulkas tadi, tidak ada banyak bahan makanan yang
tersisa. Stok roti pun sudah habis. Pada akhirnya, kami memang tetap harus
pergi ke minimarket. Setidaknya masih ada bahan yang tersisa untuk sekadar
membuat telur gulung, sungguh beruntung.
Sambil
menambahkan bumbu, aku mengocok telur lalu menuangkan adonan yang dibuat agak
manis itu ke dalam wajan khusus telur gulung. Suara desisan jshhh...
terdengar dari wajan, dan adonan telur yang merata mulai meletup-letup kecil
seperti mendidih.
Aku
mengaduknya sedikit, membiarkannya matang, lalu mulai melipatnya dari depan ke
belakang hingga membentuk gulungan. Menggunakan wajan khusus ini memang membuat
prosesnya terasa relatif lebih mudah.
Setelah
gumpalan kecil terbentuk di bagian depan wajan, aku menuangkan kembali adonan
telur tambahan dan melipatnya lagi dengan cara yang sama.
"Youshin,
kamu jadi makin mahir, ya."
Setelah
mengulang gerakan tersebut beberapa kali, Nanami mengintip ke arah tangan aku sambil
memberikan pujian.
Aku
memang berlatih agar bisa menjadi sedikit lebih mahir, tapi apakah gerakan aku benar-benar
terlihat semahir itu?
"Terima
kasih. Aku bisa jadi makin mahir begini juga berkat Nanami, lho."
"Eh,
kalau soal ini, aku benar-benar tidak melakukan apa-apa, tahu..."
Nanami
tampak sedikit bingung.
Padahal
bagiku, alasannya bekerja keras memasak adalah karena ingin menyajikannya untuk
Nanami, jadi ini memang murni berkat dirinya.
Ketika
aku menyampaikan hal tersebut kepadanya, dia tampak sangat gembira. Dengan
wajah merona, dia menangkup kedua pipinya lalu menggoyangkan tubuh bagian
atasnya perlahan.
Ya
ampun, menggemaskan sekali.
Aku
mengulang proses merapatkan telur yang sudah matang lalu menuangkan adonan baru
beberapa kali, hingga akhirnya sepotong telur gulung yang sempurna terbentuk di
dalam wajan.
Karena
adonan telur sudah habis, terakhir aku memperbesar apinya sedikit. Ini bukan
trik memasak khusus atau semacamnya; aku hanya lebih suka jika permukaannya
memiliki sedikit bekas panggangan yang agak kecokelatan.
Idealnya,
telur gulung yang sempurna memang tampil polos dengan warna kuning yang bersih
tanpa bekas panggangan sama sekali, sih... Tapi entah mengapa, aku merasa
tampilannya yang agak terpanggang sedikit justru terasa lebih lezat daripada
yang polos mulus.
Nah,
kelihatannya sudah bagus. Kali ini berhasil dengan baik. Terkadang, permukaan
telurnya suka gosong saat proses memperbesar api di bagian akhir ini. Aku memindahkannya
ke atas tisu dapur dan membiarkannya istirahat sejenak.
Sebelumnya,
aku pernah kapok karena memotongnya saat masih panas membara hingga tangan aku terkelupas...
Sejak saat itu, aku selalu mendinginkannya sedikit sebelum dipotong.
Sup
buatan Nanami sepertinya juga sudah hampir matang. Setelah selesai, kami bisa
langsung sarapan... Perut aku rasanya sudah sangat lapar.
"Tapi
ya... aku masih belum bisa memecahkan telur dengan satu tangan seperti Nanami,
jadi kemampuanku masih jauh..."
"Ya
ampun, memangnya Youshin mau mengejar level apa, sih... Lagipula, tidak bisa
memecahkan telur dengan satu tangan itu sama sekali tidak ada hubungannya
dengan rasa masakan. Aku sendiri baru bisa melakukannya belakangan ini,
kok."
"Eh?
Begitu, kah? Kurasa kamu sudah bisa melakukannya sejak dulu..."
Saat
dia memperlihatkannya kepadaku dulu, gerakannya tidak terlihat seperti pamer
keahlian, melainkan sangat alami seolah-olah itu hal yang biasa.
Justru
karena itulah terlihat keren.
Aku
pikir itu adalah kebiasaan yang melekat karena dia sudah memasak sejak lama,
jadi cukup mengejutkan mengetahui fakta bahwa dia baru memelajarinya belakangan
ini. Tetap saja, bisa melakukannya itu hebat...
Eh...
Tunggu dulu?
"...Ada
apa, Nanami?"
Mendadak
Nanami menghindari kontak mata denganku. Dia tampak agak bersalah atau mungkin
panik. Karena reaksinya yang terbilang langka ini, aku tanpa sadar menatapnya
lekat-lekat.
Nanami
tampaknya salah mengartikan tatapan tersebut... Tanpa melihat wajahku, dia
membuka suara sambil menatap ke arah kanan atas.
"Sebenarnya...
aku berlatih karena ingin dibilang keren oleh Youshin..."
Alasan
macam apa itu, imut sekali. Alasannya terdengar sangat khas anak laki-laki
Sekolah Dasar. Wajah Nanami berangsur-angsur memerah, dan sebanding dengan itu,
senyuman aku kian melebar.
Merasa
sudah tertangkap basah, Nanami akhirnya menatap wajahku, lalu sedikit
mengerucutkan bibirnya karena kesal.
"Tapi
memang benar-benar kelihatan keren, kok."
"Aduh,
kenapa malah bilang begitu sekarang, sih... Dasar bodoh..."
Nanami
yang terlalu malu menepuk dadaku tanpa tenaga. Melihat reaksinya yang amat
jarang terjadi ini, aku tidak bisa menahan cengiran di wajah. Namun begitu,
ya... Keren, toh...
Memang
benar, aku sering menyebutnya imut, tetapi rasanya aku jarang sekali bilang dia
"keren". Jika Nanami menginginkannya, aku akan mengatakannya sebanyak
apa pun.
"Tapi
Nanami, kamu memangnya ingin terlihat keren, ya?"
"Lho?
Kamu tidak ingat? Waktu kita berdua sedang bersantai di rumah sambil menonton
video masak-memasak, Youshin kan pernah mengatakannya."
"...Eh?
Aku pernah bilang begitu?"
Aku
sama sekali tidak mengingatnya, tetapi tampaknya memang benar bahwa dia
berlatih karena perkataan aku. Percakapan saat sedang bersantai di rumah memang
jarang teringat secara utuh, ya...
Nanami
sendiri paham kalau aku tidak ingat, jadi dia tidak memprotesnya. Namun, jika aku
benar-benar pernah mengatakannya... melupakannya terasa begitu tidak
bertenggang rasa.
"Kalau
begitu, aku harus lebih sering bilang kalau Nanami itu keren..."
"Tidak
perlu sampai begitu, aku juga tidak memikirkannya secara berlebihan, kok... Itu
cuma obrolan santai, jadi aku tidak terlalu terkejut kalau kamu lupa."
"Tapi
rasanya aku jadi terkesan agak tidak bertanggung jawab, kan?"
"Kalau
sampai harus merasa bertanggung jawab atas obrolan santai pun, kamu nanti malah
capek sendiri, tahu...?"
Yah,
ada benarnya juga kata-katanya... Lagipula aku memang benar-benar lupa. Nanami
pun sepertinya hanya melakukannya tanpa maksud yang terlalu berat.
Tanggung
jawab mungkin harus ditunjukkan dalam bentuk lain... yaitu pada momen-momen
krusial yang benar-benar membutuhkan keberadaanku. Jika setiap saat bersikap
begitu, aku malah bisa melewatkan hal-hal yang justru lebih penting. Namun,
jika dibilang "keren" bisa membuatnya senang, aku harus
menyampaikannya secara jujur pada saat-saat seperti itu...
"Lagipula,
ada hal yang baru kusadari begitu Youshin benar-benar bilang kalau aku
'keren'."
Nanami
menegakkan jari telunjuknya, lalu mengatupkan bibirnya sejenak seolah-olah
sedang membangun ketegangan.
Pencerahan
apa yang didapatkannya? Walau penasaran, aku tetap menunggu dengan tenang
sampai Nanami sendiri yang angkat bicara.
Seakan
mengetahui perasaanku, Nanami sengaja menahannya cukup lama... Kemudian, sambil
tetap mengarahkan jari telunjuknya ke arahku, dia berbisik dengan ekspresi yang
sangat serius.
"...Dibanding
dibilang keren, aku ternyata lebih senang kalau dibilang imut."
Baiklah,
mari kita katakan "imut" lebih sering lagi mulai sekarang.
Itulah
keputusan yang aku buat di pagi hari itu.
◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇
Setelah
itu, kami berdua menyantap sarapan bersama. Tak lama kemudian Ayah dan Ibu
pulang, dan entah mengapa Tomoko-san serta Genichiro-san juga ikut datang
bersama mereka. Tampaknya mereka datang untuk menjemput Nanami, dan mobil
Genichiro-san sudah terparkir di luar.
Selebihnya
adalah... konfirmasi dari para orang dewasa. Mereka memastikan apakah semalam
tidak terjadi apa-apa di antara kami. Karena memang tidak terjadi apa-apa, aku menjawab
dengan dada terbusung tegak bahwa semuanya baik-baik saja.
Beruntung,
rombongan orang dewasa mempercayai perkataan kami... Maka dari itu, perayaan
Natal kami berakhir sampai di sini.
"Kalau
begitu, Youshin, sampai jumpa lagi, ya."
"Iya.
Hati-hati di jalan. Sampai jumpa lagi... setelah masa pulang kampungmu
selesai."
"Benar...
Selanjutnya, kita akan menginap di penginapan pemandian air panas, ya."
Dia
melemparkan senyuman yang memancarkan betapa dia sangat menantikan hal
tersebut...
Ah,
benar juga. Kami memang berencana pergi berlibur. Aku harus menyiapkan berbagai
hal dengan benar.
Begitu
Nanami melambaikan tangannya, mobil perlahan-lahan mulai melaju. Aku membalas
lambaian tangannya, dan bahkan setelah mobilnya tidak terlihat lagi, perasaan
enggan berpisah menguasai diri aku hingga aku terus menatap ke arah kejauhan.
Dengan
begini... aku tidak akan bisa bertemu Nanami untuk sementara waktu. Aku merasakan
kehampaan seolah-olah ada lubang menganga di dalam dada. Ini adalah lubang yang
rasanya tidak akan mudah untuk diisi kembali.
Hari-hari
tanpa kehadiran Nanami... akhirnya dimulai juga.
"Youshin...
Kamu ini merenung secara dramatis seolah-olah bakal berpisah untuk selamanya,
padahal kalian cuma tidak bertemu sekitar satu minggu, tahu? Waktunya sama
sekali tidak lama, lho?"
Teguran
dari Ibu untuk sementara aku abaikan saja.



Post a Comment