NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Inkya no Boku ni Batsu Game Volume 12 Interlude II

Interlude 2

Kunjungan Kuil Tahun Baru Masing-Masing


Kejadian saat aku datang berkencan ke kunjungan pertama tahun baru (hatsumode) bersama Youshin dan kami menarik ramalan (omikuji), mendadak Youshin jadi tampak sangat merenung kebingungan.

 

Dia mendadak memegang kepalanya sambil bilang, "Eeh...? Ke arah sana?" dan semacamnya. Apakah dia mendapatkan hasil yang aneh?

 

Sementara itu, untuk hasil milikku sendiri...

 

[Percintaan] Kesempatan telah matang, melangkah maju adalah keberuntungan (Kichi).

 

Meskipun bukan Keberuntungan Sangat Baik (Daikichi), tulisan yang tertera di sana tetaplah hal yang sangat bagus. Kesempatan telah matang... ya, artinya karena sudah matang aku boleh terus melangkah maju.

 

Entah mengapa, rasanya aku seperti mendapatkan restu dan cap persetujuan langsung dari Dewa.

 

Hal yang kudoakan saat berdoa tadi adalah aku akan melanjutkan hubungan ke jenjang berikutnya bersama Youshin, jadi mohon awasi kami. Lalu, ya... soal banyak hal itu... kalaupun aku melakukan sedikit kesalahan, mohon ampuni dan jangan berikan karma/hukuman...

 

Atas dasar itulah doa yang kusampaikan.

 

Bagaimana jadinya nanti tentu tergantung pada usahaku sendiri ke depannya... Soal hukuman karma itu sungguh-sungguh harus kuperhatikan dengan serius agar tidak sampai kena...

 

Karena aku tidak akan melakukan hal yang membuatku malu di hadapan Dewa... mohon dengan sangat.

 

"Youshin, kamu dapat apa?"

 

"A... Aah, aku dapat Keberuntungan Menengah (Chuukichi)."

 

"Ooh, bagus dong. Kalau aku dapat Keberuntungan Kecil (Shoukichi). Semoga membawa berkah, membawa berkah..."

 

Mungkin, Keberuntungan Menengah itu lebih bagus, ya?

 

Agar aku bisa kecipratan keberuntungan Youshin, aku memegang tangannya lalu mengelus-elusnya dengan lembut.

 

Ah, dia kaget.

 

Saat aku mengelus-elus tangan Youshin untuk beberapa saat, telinganya mendadak berubah memerah. Alasan telinganya memerah itu pasti bukan cuma gara-gara cuaca dingin saja.

 

Setelah itu, kami mengikat kertas ramalan omikuji kami... lalu membeli jimat (omamori).

 

Tempat penjualan jimat... kalau tidak salah disebut juyosho, ya? Di sana berjejer berbagai macam jimat, dan beberapa miko sedang melayani para pembeli.

 

"Youshin mau beli jimat apa?"

 

"Untuk saat ini mungkin jimat kelulusan/akademik. Habisnya, aku kan sudah tidak boleh dapat nilai merah lagi... Harus belajar giat..."

 

"Begitu, ya... Kalau begitu, tolong yang ini satu."

 

"He? Tidak... bukankah ini yang... Nanami mau..."

 

"Aku ingin kita saling bertukar jimat..."

 

Entah mengapa rasanya hal itu bakal membawa berkah lebih banyak... karena selain ada doa dari Dewa, perasaan dariku juga akan menyertai jimat yang kuberikan pada Youshin.

 

Secara tata krama yang sebenarnya bagaimana ya, apakah hal semacam ini kurang baik?

 

Saat merasa cemas dan melirik pelan ke arah miko yang berjualan... dia malah tersenyum hangat.

 

Apakah ini artinya... tidak apa-apa, ya?

 

"Kalau begitu... Nanami mau jimat yang mana?"

 

"Emm... jimat percintaan boleh juga, atau jimat akademik dan kelulusan..."

 

Padahal baru saja selesai berdoa, tapi keinginanku rasanya tidak terbendung. Tapi jimat itu kelihatan menggemaskan dan membuat bingung memilihnya. Apalagi kalau memikirkan akan dibelikan oleh Youshin...

 

"Kalau begitu, bagaimana kalau yang ini?"

 

Mendengar percakapan kami, miko tersebut merekomendasikan sebuah jimat berbentuk gantungan tali. Di ujungnya terdapat hiasan kristal dan semacamnya.

 

Jimat itu konon katanya bisa membawa keberuntungan, dan bentuknya pun sangat menggemaskan.

 

"Boleh juga itu, kalau begitu... tolong yang itu satu."

 

Menerima pesanan Youshin, miko tersebut memasukkan jimatnya ke dalam kantong kecil yang cantik.

 

Miko... sebutannya benar begitu, kan? Pakaian gadis kuil itu menggemaskan sekali, ya. Baju putih (hakui), dipadu rok celana merah menyala (hakama)... bagian dalaman merah yang mengintip dari ujung baju putihnya pun terlihat menggemaskan.

 

Rambutnya diikat satu di belakang, dan pita warna merah muda mendekati putih mengintip sedikit dari sana. Sederhana tapi sangat menggemaskan.

 

Baju lengan panjang (furisode) memang megah dan anggun, tetapi pakaian miko pun sederhana dan menggemaskan, ya. Mungkin karena aku sedang memakai pakaian tradisional, aku jadi ingin mencoba memakai pakaian itu juga...

 

Apakah Youshin suka pakaian miko, ya? Pada perjalanan liburan nanti... bagaimana kalau kubawa? Tapi nanti menambah barang bawaan, jadi tidak boleh, ya.

 

"Nanami, ada apa?"

 

Gawat, aku malah melamun sedikit. Youshin menatap wajahku dengan raut agak cemas.

 

"Tidak, aku cuma berpikir kalau pakaian miko itu menggemaskan sekali."

 

Sang miko tampak senang mendengarnya, sementara Youshin melirik sebentar ke arah pakaian sang miko. Saat Youshin mengarahkan pandangan seperti itu ke gadis lain... dadaku mendadak terasa sedikit sesak ganjal.

 

Tidak, kenapa juga aku malah merasa ganjal begini. Kan aku sendiri yang mengatakannya duluan.

 

"Memang benar, sepertinya bakal cocok juga kalau dipakai Nanami."

 

"...Kalau begitu lain kali bagaimana kalau kucoba pakai?"

 

...Ehehe, begitu dipuji, rasa ganjal di dadaku langsung melayang hilang entah ke mana. Tapi lain kali, boleh juga ya mencoba memakai pakaian seperti itu... saat kerja paruh waktu, mungkin?

 

Aduhai, sang miko menatap kami dengan pandangan mata seolah sedang melihat sesuatu yang sangat hangat dan menggemaskan.

 

Uwah, bukankah pasangan-pasangan kekasih lain di sekitar juga ikut memperhatikan kami?

 

Karena merasa agak malu, kami berdua terburu-buru beranjak pergi dari tempat tersebut...

 

Setelah saling tatap, kami berdua secara resmi saling menukarkan jimat yang kami belikan satu sama lain.

 

"Sekali lagi... Nanami, mohon bantuannya lagi ya di tahun ini."

 

"Iya, aku juga mohon bantuannya."

 

Rasanya benar-benar seperti tahun baru baru saja dimulai secara resmi. Tidak, padahal salam ucapan akhir tahun dan awal tahun sudah kami lakukan, tetapi tetap saja saat-saat hari ini rasanya seperti sebuah awal yang baru (re-start)...

 

"Nah... kalau begitu, bagaimana kalau kita istirahat sebentar sambil makan yang manis-manis? Katanya ada makanan yang cuma bisa dimakan di sini, lho."

 

"Ah, sepertinya aku pernah melihatnya."

 

Seingatku itu kue Mochi panggang hangat, kan? Bisa makan yang baru matang tentu menyenangkan. Sepertinya tempatnya ada di dekat sini, cocok sekali untuk tempat beristirahat... tepat saat aku berpikir begitu...

 

"...Lho? Bukankah itu Hatsumi dan yang lainnya?"

 

"He? Ah, benar."

 

Hatsumi dan yang lainnya yang mengenakan furisode tampak sedang berjalan bersama Oto-nii dan yang lainnya.

 

Lho? Apakah mereka sedang double date?

 

Karena takut mengganggu, aku sempat bingung harus bagaimana... tetapi mereka berdua menyadari keberadaan kami.

 

"Oho, Nanami sama Misumai, kan! Apa nih? Lagi kencan?"

 

"Kimono Nanami cantik banget, ya~..."

 

Dua orang itu berlari-lari kecil menghampiri kami, diikuti oleh Oto-nii dan yang lainnya yang berjalan perlahan dari belakang...

 

Hatsumi dan yang lainnya mengenakan furisode, sedangkan Oto-nii dan yang lainnya mengenakan pakaian biasa (kasual).

 

"Yo, kalian berdua sudah lama tidak ketemu! Sehat-sehat, kan?"

 

"Sudah lama tidak berjumpa, ya... Apakah sejak musim panas lalu?"

 

"Kalian berdua, sudah lama tidak bertemu."

 

Oto-nii dan Shu-nii rasanya sudah sangat lama sekali tidak kujumpai. Dulu di saat-saat seperti ini, aku biasanya selalu menempel pada Hatsumi dan ikut bermain bersama mereka.

 

...Kalau dipikir-pikir sekarang, apakah dulu aku ini mengganggu kencan mereka berdua, ya?

 

"Hatsumi dan Ayumi, kimono kalian menggemaskan sekali, lho."

 

Hatsumi mengenakan kimono berwarna merah dan hitam yang mencolok dan indah, sementara Ayumi mengenakan kimono warna kuning dengan bunga-bunga yang bermekaran serta beberapa sentuhan warna hitam. Dua-duanya benar-benar sangat cocok mengenakannya.

 

Lalu, untung saja hari ini aku tidak memakai kimono merah. Soalnya bakal samaan dengan Hatsumi, dan Hatsumi terlihat jauh lebih cocok memakai kimono warna merah.

 

"Cocok? Beneran cocok? Terima kasih, ya!"

 

"Aku sih ingin yang sedikit lebih terbuka~... Kalau begini kan tidak ada bagian yang tersingkap..."

 

Hatsumi sedikit malu-malu saat dipuji, sementara Ayumi tampak seperti... ingin segera melepas kimono-nya saat itu juga.

 

Tidak, memang benar sih kalau kimono itu tingkat keterbukaannya sangat rendah. Tapi rasanya akhir-akhir ini Ayumi makin lama makin ingin tampil terbuka saja, ya.

 

Ah, bagian bajunya tersingkap!

 

Tepat saat aku membatin begitu, dengan serangan kilat Shu-nii langsung membenarkannya. Cepat sekali!

 

"Hayo, Ayumi... hentikan ya..."

 

"Buh... padahal aku ingin bergaya seperti Oiran~..."

 

Gaya Oiran itu, bukankah gaya pakaian tradisional seksi yang memperlihatkan bagian bahu yang tadi juga sempat kucoba? Sekarang kan sedang turun salju... dingin, tahu?

 

Nanti bisa masuk angin, lho?

 

"Kalian semua juga sedang berkencan?"

 

"Aah, iya. Karena aku dan Shu baru kembali, kami membawa Hatsu dan Ayu. Kalau kalian?"




"Kami juga baru kembali dari pulang kampung, jadi hari ini kencan pertama di tahun baru."

 

Kencan pertama... benar juga, kencan hatsumode adalah kencan pertama di tahun ini. Pantas saja tadi perasaanku rasanya seperti diperbarui kembali.

 

Kami tadi datang lebih awal dan baru saja selesai saling menukarkan jimat, sedangkan Oto-nii dan yang lainnya sepertinya berkendara dengan mobil dan baru hendak berdoa. Karena naik mobil, makanya Oto-nii memakai pakaian biasa (kasual), ya.

 

"Tapi tetap saja, kalian berdua mengenakan pakaian tradisional, ya... Bagus banget..."

 

"Iya nih~... Kami juga... seandainya Onii-chan mau memakai kimono kan enak~..."

 

...Ah, mereka berdua melirik-lirik ke arah Oto-nii dan Shu-nii. Oto-nii dan yang lainnya... entah berpura-pura tidak sadar atau bagaimana, mereka malah memuji penampilan Youshin yang mengenakan kimono.

 

Tapi... bagaimana ya, aku tidak bisa membayangkan mereka berdua mau mengenakan kimono secara sukarela. Bagaimanapun juga mereka berdua itu tipe yang pemalu...

 

"Kami mau jalan-jalan sebentar naik mobil setelah ini. Kalian berdua mau ikut?"

 

"Hatsumi sama Oto-nii mau mengurung diri di hotel, kok."

 

"Mana ada, woi!!"

 

Ah, teriakan Hatsumi dan Oto-nii mendadak harmonis bersamaan. Ayumi sendiri sibuk menggoda Shu-nii seperti "kalau kita bagaimana~...", membuat Shu-nii memalingkan pandangannya...

 

"Terima kasih atas ajakannya, tapi hari ini saya ingin menghabiskan waktu berdua saja dengan Nanami setelah sekian lama... jadi tolong ajak kami di lain kesempatan saja, ya."

 

"Oho~... Begitu rupanya..."

 

Mendengar penolakan dari Youshin, Oto-nii menempelkan tangan di dagunya seolah agak kagum, lalu mengarahkan pandangannya ke Hatsumi.

 

"Hatsu juga lebih suka berdua saja denganku?"

 

"...Tidak juga, tuh."

 

...Ooh, Hatsumi menunjukkan sisi kekanak-kanakannya (otome).

 

Sosoknya yang memalingkan pandangan sambil memerah mendadak terlihat sangat menggemaskan...

 

Eh tunggu, jangan menendang Oto-nii buat menutupi rasa malumu dong!

 

Kenapa saat memakai kimono kamu bisa melayangkan tendangan yang bersuara sejelas itu? Oto-nii juga malah tertawa lagi.

 

"Ngomong-ngomong kalau Ayumi... tidak masalah tidak berdua saja dengan Shu-nii?"

 

"Aman kok~ Nanti malam aku mau menginap di tempat Onii-chan~"

 

...Ooh, dia memberikan tanda peace dengan ekspresi wajah yang sangat tenang. Payudaranya yang tidak bisa tersembunyi meski mengenakan kimono tampak menonjol... Dalam arti tertentu, mungkin pasangan ini yang melangkah paling jauh.

 

Lagipula Ayumi, dadanya makin lama makin besar saja, ya.

 

Jangan-jangan malah lebih besar dariku?

 

"Mau melakukan ritual malam pertama (himehajime) lho~"

 

Ah, Shu-nii sampai tersedak menyemburkan air. Mereka bertanya apakah aku dan Misumai tidak melakukannya, tetapi kami berdua secara serentak langsung membantahnya saat itu juga.

 

Tapi... fakta bahwa Shu-nii tidak membantahnya malah terasa sedikit mengerikan.

 

Eh? Beneran mau melakukan hal itu?

 

◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇

 

"Kalau begitu, kapan-kapan kita main lagi, ya!"

 

Mumpung bertemu, kami sempat beraktivitas bersama sebentar dengan mereka berempat, dan begitu ibadah selesai kami memutuskan untuk berpisah. Kami melambaikan tangan mengantar mereka sampai sosok Oto-nii dan yang lainnya tidak terlihat lagi.

 

Rasanya sudah lama sekali tidak mengobrol dengan mereka berempat. Padahal dulu kami selalu bersama-sama... aku jadi benar-benar menyadari bahwa jalan kehidupan itu memang bertahap berubah.

 

"Memang rasanya ingin punya mobil sendiri, ya..."

 

Wah, sepertinya semangat Youshin soal mobil sedang membara, nih. Soalnya tadi dia sempat dipompa berbagai hal soal "mobil itu enak lho~" oleh Oto-nii.

 

Meskipun belakangan ada istilah "anak muda makin menjauhi mobil"... tentu saja orang yang menginginkannya tetap ada...

 

"Kalau sudah dapat SIM, mari kita jalan-jalan naik mobil."

 

"Boleh banget! Drive date pun sepertinya bakal seru."

 

Aku duduk di kursi penumpang, lalu Youshin yang mengemudi... Pergi ke berbagai tempat rasanya pasti menyenangkan. Kalau aku juga ambil SIM, kita bisa bergantian mengemudi, kan.

 

Jangkauan aktivitas kami bakal makin luas, dan pilihan kencan pun pasti akan bertambah.

 

"Nah, walau sudah agak kesorean... bagaimana kalau kita minum teh sebentar?"

 

"Ayo, ayo~! Menurutmu ada anak-anak sekelas yang datang juga tidak, ya?"

 

"Entahlah? Bukankah sebagian besar orang sudah berdoa di 3 hari pertama tahun baru (sanganichi)?"

 

Youshin sepertinya berpikir kami tidak akan bertemu siapa-siapa lagi selain ini, tapi perkataan itu... jangan-jangan merupakan pertanda bakal ketemu orang lain?

 

Entah kenapa aku merasa begitu... apakah aku terlalu berlebihan memikirkannya, ya? Tidak, bukan berarti aku tidak ingin bertemu orang lain sih.

 

Sambil berjalan begitu... berbanding terbalik dengan dugaanku, kami sampai di tempat tujuan tanpa bertemu dengan siapa pun.

 

Lho, ternyata bukan pertanda, ya.

 

Sebuah bangunan kayu sederhana dengan bentuk atap segitiga... berdiri secara tersembunyi di sana.

 

Tampilan luarnya memperlihatkan warna kayu yang lembut, memberikan nuansa bangunan bergaya antik yang kaya rasa. Dindingnya terbuat dari kaca, sehingga situasi di dalam toko bisa terlihat dengan sangat jelas.

 

Di bagian atap dan selasar toko, salju menumpuk tebal memberikan sentuhan hiasan salju putih. Padahal kudengar biasanya banyak orang mengantre, tetapi hari ini kebetulan kami bisa langsung masuk ke dalam bangunan.

 

"Ooh, rasanya ada aroma yang sangat harum."

 

"Benar, wangi banget... harum dan agak gurih..."

 

Aromanya harum gurih dan ada manis-manisnya... apakah ini aroma kue Mochi panggang?

 

Di dalam toko berjejer berbagai macam kue, tetapi di mana mereka memanggang Mochinya... Ah, ada orang yang sedang memanggangnya di bagian dalam. Saat ini juga sedang ada pembeli yang membelinya.

 

"Pesan dua buah, ya."

 

"Baik, mohon tunggu sebentar, ya."

 

Saat kami memesan, Mochi bulat berwarna putih yang diletakkan di atas panggangan besi dibalikkan sekali oleh penjualnya. Warna putihnya yang agak kusam dihiasi warna cokelat panggangan yang pas.

 

Begitu menerimanya, sensasi Mochi yang hangat membara dan kenyal terasa langsung di ujung jari. Ooh... panas banget... isian selai kacang merah (anko) di dalamnya pasti panas membara juga...

 

"Kalau yang begini... tidak bisa pakai gaya suap-suapan, ya..."

 

"Kalau nekat melakukan itu bisa-bisa lidah kita terbakar, lho."

 

Isinya ternyata selai kacang merah kasar (tsubuan). Daya hancur selai kacang merah yang panas membara itu luar biasa sekali, lho. Bisa-bisa langsung melepuh. Jadi makanan ini benar-benar harus... dimakan dengan ritme diri sendiri.

 

Karena pelayan toko memberitahu bahwa ada layanan teh gratis, mumpung ada kami menuangkan teh lalu duduk di kursi yang tersedia di depan toko.

 

Meja dan kursinya cuma ada 3 set, tetapi beruntung ada satu yang kosong sehingga kami berdua duduk di sana, meletakkan teh... lalu secara perlahan mulai menggigit mochi tersebut.

 

Meskipun katanya daya tahan kelezatannya cukup singkat... Mochi yang masih panas membara ini bagian luarnya terasa renyah, sedangkan bagian dalamnya memperlihatkan perpaduan yang pas antara kelembutan Mochi dan kelembutan selai kacang merah (anko).

 

Mungkin karena disajikan hangat, rasa manisnya yang tidak bikin mual menyebar di dalam mulut, disusul dengan aroma wangi gurih dari panggangan Mochi.

 

Di saat itulah... aku meminum tehnya. Saat meminum teh dengan kelezatan bersahaja dan aroma yang wangi gurih tersebut, rasanya benar-benar menenangkan hati.

 

Baik Youshin maupun aku, setelah meletakkan cangkir ke atas meja, kami berdua menghela napas hangat berisi kebahagiaan.

 

Cuacanya sangat bagus, dan sinar mataharinya terasa hangat menyejukkan. Di tengah suasana seperti ini, kami berdua duduk berdampingan... menikmati Mochi dan teh.

 

Tepat saat aku mendongak menatap langit sambil berpikir betapa indahnya cuaca hari ini, angin mendadak berembus. Rambutku terayun oleh angin tersebut hingga terurai mengenai wajahku.

 

Youshin merapikan kembali rambutku itu, lalu sambil mengukir senyum tipis, kami berdua kembali mendongak menatap langit seraya menggigit Mochi satu suapan lagi. Rasanya persis seperti sedang minum teh di teras rumah gaya tradisional (engawa), atau seperti sedang bersantai santai di rumah Nenek.

 

Sama sekali tidak ada percakapan, kami berdua hanya bersantai perlahan dalam ketenangan... tetapi entah mengapa ada rasa kebahagiaan yang sangat ajaib.

 

"Entah kenapa... rasanya bahagia banget, ya..."

 

Youshin bergumam perlahan seolah kata-kata itu terlepas begitu saja dari mulutnya.

 

Merasa gembira karena memikirkan hal yang sama, aku bergeser sedikit mendekatinya dalam posisi tetap duduk, lalu menempel rapat di sisinya.

 

Saat kami sedang menikmati waktu santai seperti itu...

 

"Ah, Nanami-chan."

 

"Lho, Shishou."

 

Mendadak Kotoha-chan muncul dengan mengenakan furisode sambil memegang es krim soft cream di satu tangannya.

 

Saat aku dan Youshin dibuat kaget, mereka berdua melambaikan tangan sambil berjalan mendekat ke arah kami. Kotoha-chan, di cuaca sedingin ini malah makan soft cream...?

 

Sedangkan Teshikaga-kun tampak membawa sesuatu yang besar... semacam kerupuk beras senbei ukuran besar.

 

"Kalian berdua habis berdoa?"

 

"Iya, tadi sempat menulis papan doa ema di kuil yang berbeda..."

 

Saat Youshin dan Teshikaga-kun mulai berbincang, aku mengamati penampilan furisode yang dikenakan Kotoha-chan. Kimono-nya memiliki paduan warna hijau segar dan putih, dengan poni rapi serta rambut yang diikat ke samping (side-tail).

 

Tanpa ada bagian yang tersingkap, penampilannya yang rapi dan pas itu memberikan kesan anggun sekaligus memancarkan sedikit daya pikat. Hiasan bunga besar di rambutnya juga mungkin ikut memperkuat kesan tersebut.

 

"Kotoha-chan, kimono-nya cocok banget buatmu, ya."

 

"Terima kasih. Tapi, bukankah Nanami-chan yang kelihatan lebih cocok...?"

 

"Masa sih? Tidak kelihatan gemuk, kan? Padahal aku sudah memakai kimonoku sedemikian rupa supaya tidak kelihatan begitu..."

 

"Aah, kalau dadanya besar memang repot, ya... Bagaimana kalau sekalian pakai gaya penataan yang menonjolkan bagian itu?"

 

Gaya yang menonjolkan... itu maksudnya memperlihatkan dada? Eh, apakah yang dimaksud itu gaya Oiran lagi? Ayumi juga sempat mengatakannya, tapi apakah gaya itu sangat terkenal?

 

...Entah mengapa, mata Kotoha-chan tampak berbinar-binar berkilat...? Seolah-olah ingin menyembunyikan hal itu, dia menjilat es krimnya. Tidak, tunggu, apakah cara menjilatnya sengaja dibuat menonjolkan sesuatu...?

 

Saat aku mengikuti arah pandangan Kotoha-chan, di sana ada Teshikaga-kun. Kotoha-chan yang kini telah berubah menjadi sosok pemangsa... ngomong-ngomong...

 

"Waktu Natal kemarin... bagaimana?"

 

Krak! cone es krimnya mendadak patah... Genggamannya terlalu kuat, ya...

 

Yah, dari reaksi itu saja aku sudah bisa agak menebaknya. Ternyata tidak terjadi apa-apa yang berarti, ya.

 

Meskipun es krim yang digenggamnya secara tak sadar mulai meleleh menetes, Kotoha-chan dengan sigap memakannya agar tidak kena ke pakaiannya, dengan gaya yang entah mengapa terlihat sedikit dibuat-buat.

 

Duh, apa maksudnya sengaja makan dengan gaya menggoda begitu?

 

"...Si berengsek penakut itu, padahal di tengah-tengah... di akhir... padahal sudah masuk..."

 

Karena bisikan gumamannya terdengar agak tidak aman, aku pun buru-buru mengalihkan topik pembicaraan.

 

"K-Kotoha-chan hari ini mau berdoa? Atau sudah selesai?"

 

"...Ah, anu... kami berdua menulis papan doa ema yang menggemaskan di kuil lain, lalu setelah itu datang ke sini untuk berdoa. Soalnya kudengar kuil di sana lebih manjur untuk urusan percintaan."

 

Tuh lihat ini, kata Kotoha-chan sambil memperlihatkan foto di ponselnya padaku. Di sana tampak ada papan doa ema berbentuk hati, dengan tulisan doa masing-masing di sisi kiri dan kanannya.

 

Apa-apaan ini, menggemaskan sekali!

 

"Jaraknya tidak terlalu jauh kok, kalau setelah ini kalian tidak ada acara lagi, bagaimana kalau kalian berdua pergi ke sana?"

 

"Boleh juga..."

 

Ah, Teshikaga-kun juga sedang memperlihatkan ponselnya ke Youshin, apakah mereka sedang melihat hal yang sama?

 

Saat kami saling tatap lalu mengendap-endap mendekati mereka berdua... benar saja, mereka sedang melihat foto yang sama.

 

"Papan doa ema-nya sangat menggemaskan, lho. Kotoha juga senang..."

 

"Hee... bentuknya hati, ya. Doa apa yang kamu tulis?"

 

"...Anu... doa soal Kotoha... semoga aku bisa jadi sedikit lebih berani."

 

Melihat Youshin merespons "Aah~" seolah sangat memahami perasaannya itu rasanya lucu sekali. Teshikaga-kun sendiri mengukir senyum getir sambil melemparkan pandangan jauh.

 

Ah, Kotoha-chan mendadak cemberut.

 

"Taku-chan... aku kan sudah bilang kalau aku siap kapan saja?"

 

Punggung Teshikaga-kun mendadak gemetar kaget, lalu dia memutar tubuhnya perlahan ke arah sini. Ekspresi wajahnya itu bagaimana ya... ketimbang seperti siswa nakal, dia malah terlihat seperti anak nakal yang sedang dimarahi...

 

Rasanya dia benar-benar sudah dikendalikan penuh oleh pasangannya... tidak bisa tidak berpikiran begitu.

 

Ya walau cara mengendalikannya agak sedikit khusus, sih.

 

Setelah itu, mereka berdua bergandengan tangan dan berpamitan karena hendak berdoa kembali. Setelah mengantar kepergian mereka, Youshin bergumam perlahan.

 

"Kalau begitu, bagaimana kalau kita coba pergi ke kuil tempat mereka tadi?"

 

"Eh? Boleh? Youshin tidak capek?"

 

"Tidak apa-apa, kok. Kamu... ingin mencoba menulis papan doa ema bentuk hati juga, kan?"

 

"Lagipula aku masih ingin bersamamu lebih lama lagi," kata Youshin padaku... Karena aku pun masih ingin bersamanya, secara alami senyuman mengembang di wajahku.

 

Tapi sungguh tak disangka Youshin sendiri yang menawarkan hal itu...

 

Melihat Youshin yang tampak agak malu-malu terasa sangat menggemaskan, hingga di saat dia baru saja hendak berdiri... aku langsung memberi kecupan kecil cup di area dahinya.

 

Melihat Youshin yang matanya terbelalak polos membuatku merasa lucu sekaligus malu, hingga akhirnya aku berlari kecil mendahuluinya.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close