NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kanojo no Imouto to Kiss wo Shita Volume 1 Chapter 13

Chapter 13

Suram x Akhir Pekan


"Aku berangkat, ya."

"Iya, semoga berhasil, Kakak."

"...Hn."

Sambil mengangguk dengan ekspresi sedikit canggung, kakak angkatku pun berangkat. Aku melambaikan tangan mengantarnya sampai pintu tertutup.

Wajahnya terlihat agak mengantuk. Pasti karena telepon dari Kakak semalam.

Semalam aku tidak mendengar suara dengkurannya sampai sekitar pukul tiga dini hari. Dia pasti tidak bisa tidur karena terlalu tegang.

"...Nah, kalau begitu,"

Setelah melepas kepergian kakak, aku berdiri di dapur. Aku akan menyiapkan makan malam untuknya.

Karena dia bilang mau makan siang bersama Kakak, dia pasti bakal pulang untuk makan malam.

Dompetnya tidak cukup tebal untuk bisa makan di luar dua kali sehari. Menunya hari ini tumis sayuran. Karena tak ada daging, rasa gurihnya akan kugantikan dengan kaldu ayam bubuk.

"Haaaah..."

...Gawat. Sedang masak pakai api begini aku malah menguap. Sejujurnya, karena aku tahu kalau kakak baru tidur pukul tiga pagi, aku pun sebenarnya kurang tidur.

Alasannya adalah perdebatan kecil sebelum tidur semalam. Aku sadar betul kalau aku sudah kelewat batas dan tidak mundur di saat seharusnya mundur.

Aku juga sadar kalau aku telah melukai harga diri kakak.

Namun, aku merasa sedikit tamparan realita diperlukan bagi kakak yang terlalu meributkan hal tak penting sampai-sampai membiarkan Kakak yang meneleponnya lebih dulu; karena itulah aku sengaja tak mau mundur.

Mungkin dia bakal memukulku, atau menindihku.

Rencana antisipasi untuk itu pun sudah kusiapkan di kepalaku.

Biarpun begini aku rajin berlatih. Aku cukup jago kalau soal berantem. Namun──

Hebatnya, saat kakak menindihku, aku malah tidak bisa bergerak. Bukan karena ketakutan.

Melainkan karena perasaanku sendiri. Aku tak bisa menipunya. Ya, saat itu aku sebenarnya sedang berharap.

Kalau aku tidak melawan, sejauh apa dia akan melangkah? Begitulah pikirku.

"............"

Aku sadar kalau aku memiliki sedikit perasaan suka pada kakak tiriku, Sato Hiromichi. Kalau ditanya alasan spesifiknya, aku juga tak begitu tahu.

Mungkin pemicu pertamanya adalah saat kami pertama kali bertemu. Ketika aku menyindirnya agar dia tak seenaknya sendiri, dia memaksakan diri memanggil namaku sambil menampar pipinya sendiri.

Belum lagi, meski kapasitas dirinya tak seberapa, aku merasa senang melihat usahanya yang mati-matian agar tidak menyusahkan diriku yang notabene adiknya.

Setiap kali aku bermanja-manja, wajah ketakutannya yang berusaha keras menerimaku sebagai seorang kakak itu terlihat sangat menggemaskan, lucu, dan membuatku bahagia.

Biarpun disebut saudara, kami baru saling kenal sekitar sebulan.

Kalau ditanya apakah aku benar-benar bisa menganggapnya sebagai seorang kakak, kurasa itu terlalu dipaksakan.

Rasa suka ini lebih condong ditujukan pada orang asing ketimbang saudara sedarah.

Sungguh, jadi anak kembar itu mengerikan. Jangankan wajah atau postur tubuh, potongan rambut kesukaan, aroma sampo, sampai selera cowok pun bisa sama persis.

Namun, apakah perasaan ini akan berkembang menjadi cinta romantis? Tentu saja tidak. Sudah jelas.

Biarpun cuma saudara tiri, kakak tetaplah kakakku, dan yang paling penting, dia adalah pacar dari kakak kandungku.

Dari premis awalnya saja, hubungan asmara di antara kami sudah sangat mustahil. Mustahil diwujudkan.

Insiden semalam hanyalah dorongan rasa penasaran khas remaja yang terbawa suasana.

"Jangan-jangan, aku ini cuma lagi frustrasi, ya?"

Lagipula di ruang sempit ini mau gituan juga nggak bisa. Mulai sekarang aku harus lebih berhati-hati.

...Yah, kurasa kekhawatiranku ini terlalu berlebihan.

Kemarin pun, kalau kakak sampai berniat melangkah lebih jauh, aku pasti akan langsung sadar.

Karena bagaimanapun juga, ──aku sangat membenci segala hal yang berbau cinta dan asmara.

Aku sangat muak dengan hal bodoh semacam itu.

Kebingungan tak keruan cuma gara-gara emosi sesaat, dan kadang malah merepotkan orang-orang di sekitar. Benar-benar nggak berguna.

Terserah kalau orang lain mau antusias soal begituan, tapi aku sama sekali tak berniat menjadi tokoh utama dalam drama komedi konyol seperti itu.

Hubunganku dengan kakak yang sekarang ini adalah yang terbaik.

Dia mau mendengarkan keegoisanku di rumah ini.

Dia membiarkanku bermanja-manja padanya.

Dia memperhatikanku.

Dia bersedia menjadi kakak laki-lakiku yang manis. Itu saja sudah cukup. Baik untuk sekarang, maupun untuk seterusnya.

...Hanya saja,

"Sialnya, aku malah udah terlibat dalam komedi konyol ini, sih."

Aku bergumam sambil memindahkan tumis sayur ke piring. Ya, kalau dibiarkan seperti ini bakal muncul masalah besar. Yaitu soal Kakak.

Memulai hidup seatap dengan pacar kakak kembar yang terpisah sejak kecil melalui kebetulan dengan peluang setingkat fenomena astronomi. Ini benar-benar hal yang gila.

Terbongkar sekarang saat kami tinggal berdua jelas akan sangat fatal.

Bahkan kalau terbongkar setahun lagi setelah orang tua kami pulang, fakta bahwa gadis berwajah sama persis dengan dirinya tinggal seatap dengan sang pacar pasti takkan membuat Kakak tenang.

Hal itu pasti bakal membawa kekacauan besar pada komedi romantis yang dibintangi oleh Kakak.

Itu artinya, sebagai pemain figuran di balik layar, aku harus sangat berhati-hati dalam menangani latar panggung ini.

Sekali lagi aku sadar, terlibat dalam kekonyolan mabuk asmara orang lain itu benar-benar hal yang paling menyusahkan.

Tapi kalau mereka orang asing sih aku nggak peduli, masalahnya ini menyangkut Kakak. Jadi aku punya sedikit niat untuk membantunya. Bagaimanapun juga, aku sangat menyayangi kakak yang terpisah denganku itu sejak dulu.

Kalau potongan kueku lebih besar, dia pasti bakal protes.

Kalau aku menang terus saat main game, dia pasti bakal merengek.

Kakak memang agak merepotkan, tapi saat aku mengalah dan memberinya kue yang lebih besar, atau saat aku sengaja pura-pura kalah biar dia jadi juara satu, senyuman polosnya yang riang itu membuatku jauh lebih bahagia daripada saat aku yang makan kue besar atau jadi juara satu.

Aku, ...sangat menyukai wajah bahagia Kakak lebih dari apa pun. Perasaan itu tak berubah sampai sekarang.

"Nah, kalau begitu..."

Lalu, hal spesifik apa yang bisa kulakukan sebagai adik yang menyayangi kakaknya ini?

Sebenarnya aku punya satu cara ampuh untuk menyelesaikan semua kerumitan hubungan aneh yang ada saat ini, serta menghapus kekhawatiran tentang masa depan.

Ya, kakakku yang lamban itu sama sekali tak menyadarinya, tapi semua masalah yang ditimbulkan dari tinggal serumah ini bisa dibereskan hanya dengan satu langkah kecil.

Bahkan tak perlu menunggu setahun, mulai besok pun bisa beres.

Bagaimana caranya? Gampang saja.

Aku meletakkan piring tumis sayur, nasi, dan mangkuk sup di atas meja lipat, menutupnya dengan tudung saji, dan meletakkan memo yang menyuruhnya makan duluan karena aku bakal pulang telat di sebelahnya.

Kemudian, aku mengeluarkan smartphone-ku dan menghubungi seseorang.

"Halo, dengan Aizawa-san?"

× × ×

Pukul 2 siang. Menunggu di bawah jam stasiun, dia datang tepat waktu.

"Yaho~! Shigure-chaaan!"

"Selamat siang, Aizawa-san. Maaf mendadak mengajakmu keluar. Apa aku mengganggumu?"

"Nggak, nggak sama sekali! Lagian, dari kemarin-kemarin kan emang aku yang terus ngajakin kamu kencan."

Aizawa Akira tersenyum memamerkan giginya yang putih berseri akibat whitening.

Playboy nomor satu dari kelas unggulan Seiun.

Sejak hari pertamaku pindah, dia sudah terus-terusan mengajakku kencan setiap hari.

Penampilannya hari ini lebih kasual dibanding seragam blazer yang biasa kulihat di sekolah.

Berbalut kaus putih bermotif dan celana skinny jeans, dia menonjolkan siluet ramping dan kesan segar dari paduan warna yang sejuk.

Untuk menghindari kesan terlalu simpel, dia menambahkan aksesori di leher dan pergelangan tangan dengan porsi pas yang tidak terlihat berlebihan.

...Beda banget dengan kakakku yang cuma mikir 'asal pakai kemeja kotak-kotak pasti udah keren'.

Jangankan begitu, dia bahkan nggak punya gelang.

Omong-omong, dandananku hari ini juga lebih rapi dari biasanya.

Gaun pink berpotongan princess line yang jarang kupakai karena malas mencucinya, dipadukan dengan outer kasual ringan yang cocok dipakai di musim panas, ditambah makeup secukupnya.

Memakai sandal heels yang mengekspos kakiku, dan tak lupa mengoleskan gel nail tipis pada kuku kaki dan tangan.

Singkatnya, ini adalah gaya anggun nan feminin. Mengingat sifat asliku, style ini memang yang paling pas, dan yang terpenting: ini sangat ampuh buat narik perhatian cowok!

...Yah, berhubung cowok di depanku ini adalah tipe pemain speedrun urusan ranjang yang sudah rahasia umum, mungkin mau semanis apa pun usahaku nggak bakal ada pengaruhnya selama aku ini berjenis kelamin perempuan.

Meski begitu, aku tak mungkin datang pakai baju olahraga, kan. Karena ini adalah sebuah kencan.

"Sumpah aku seneng banget, lho! Nggak nyangka Shigure-chan bakal ngajakin duluan~"

"Soalnya kamu terus-terusan ngajakin, sih. Berhubung UTS juga udah kelar, jadi aku pikir kenapa nggak. Syukurlah kamu lagi kosong."

"Ada tempat yang pengen kamu tuju? Kalau nggak ada, serahin aja padaku! Aku hafal banget seluk-beluk kota ini, lho."

"Kalau begitu aku serahkan padamu saja, Aizawa-san. Lagian aku baru saja pindah ke mari, jadi belum tahu banyak."

"Sip! Kalau gitu, kita ngeboba dulu, yuk! Ada tempat yang bagus di dekat sini."

Setelah berkata begitu, Aizawa langsung menggenggam tanganku dengan gerakan yang sangat natural dan mulai berjalan.

Ketangkasannya untuk menyingkirkan rasa jijik dan bertindak seolah-olah tindakannya itu adalah hal yang sangat lumrah jelas membuktikan betapa berpengalamannya cowok ini.

Benar-benar beda jauh dengan pasangan bodoh yang butuh waktu sebulan penuh buat sekadar pegangan tangan itu!

...Nah, begitulah ceritanya aku bisa kencan dengan Aizawa. Tentu saja, ini bukan berarti aku naksir sama Aizawa.

Melainkan karena inilah solusi paling jitu untuk menyelesaikan masalah besar antara aku, Kakak, dan kakak tiri kami dalam sekejap!

Intinya, aku harus punya pacar. Kalau aku sudah punya pacar, syok yang bakal diterima Kakak pasti bakal berkurang drastis.

Bahkan jika semuanya terbongkar besok, tingkat keterkejutannya bakal jauh berbeda.

Dengan begitu, takkan ada celah retak yang muncul di antara persaudaraan kami hanya gara-gara urusan remeh semacam romansa.

Makanya... ini sudah pasti opsi terbaik. Bagi kakak tiriku, bagi Kakak, dan juga bagiku yang terjepit di antara mereka berdua. Cara ini adalah yang paling damai.

Alasanku memilih Aizawa adalah karena aku takkan merasa bersalah walau memanfaatkannya.

Menjadikan cowok baik-baik seperti si otot raksasa itu sebagai pacar tanpa perasaan cinta sedikit pun jelas bakal bikin hatiku sakit.

Biarpun begini aku masih punya hati nurani, lho. Aku masih tahu batas mana yang tak boleh dilewati.

Lagi pula, hubungan yang dilandasi oleh perasaan cinta palsu takkan bisa ditebak kapan hancurnya. Buatku juga repot kalau hubungannya tak bisa bertahan minimal setahun.

Sebaliknya, asalkan aku menyerahkan tubuhku, Aizawa pasti mau bekerja sama dalam kebohonganku ini.

Karena aku juga tak peduli mau dia playboy atau apa, hubungan kami bisa berjalan seadanya.

Demi melancarkan skenario kebohongan untuk kakak dan Kakak, tak ada cowok lain yang se-convenient dirinya!

"Di sini kita bisa request ekstra boba gratis, lho! Pemiliknya mantap banget, kan?"

"Ternyata ada cowok yang doyan boba juga, ya."

"Doyan banget, dong! Malah aku udah nerapin aturan sehari sekali wajib minum boba, lho!"

Sambil saling melempar lelucon receh yang rasanya diucapkan tanpa mikir, aku memesan Matcha Latte dan Aizawa memesan Milk Tea, lalu kami duduk di teras kafe. Ini spot kencan klasik cewek-cewek, pilihan yang tak pernah salah.

Yah... padahal aku benci banget sama minuman boba ini. Bukannya benci bobanya, sih, aku cuma benci sistem bisnisnya.

Berhubung keluargaku miskin, mengonsumsi makanan yang persentase harga aslinya kelewat murah itu bikin gigiku bergemeretak sebal.

"Ngomong-ngomong, Shigure-chan pakai baju kasual gini kelihatan seger banget, ya~. Vibes-nya kayak anak orang kaya, cocok banget sama pesona anggunmu!"

"Aha, pujianmu berlebihan, tahu~ Biarpun kelihatannya begini, aslinya aku ini lumayan jahil, lho."

"Wah bahaya nih, pengen dong lihat sifat jahilmu itu~ Gelangmu juga lucu, tuh! Pasti harganya lumayan mahal, kan?"

"Nggak kok, ini cuma barang murah yang kubeli di lapak kaki lima."

"Masa, sih? Jangan-jangan kamu ini pencari harta karun, ya? Kapan-kapan temenin aku milih aksesori perak juga, dong!"

"Top kalung Aizawa-san juga bentuknya unik, tuh. Itu bentuk baut, ya?"

"Iya, ini baut otakku. Kemarin sempat jatuh, jadi kupakai terus biar nggak hilang. Kalau baut ini nggak sempat hilang, nilaiku pas UTS pasti bisa lebih bagus lagi, tahu~"

"Bisa aja kamu, ahaha!"

Kami berdua duduk di kursi dan mulai berbasa-basi. Topik pertama yang diangkat Aizawa dengan agresif adalah soal pakaianku.

Kalau sesama murid dari sekolah yang sama, topik paling umum pasti soal sekolah; tapi sayangnya itu bukan pilihan topik yang bagus buat kencan.

Soalnya, obrolan soal sekolah itu 'seru', tapi nggak bikin 'senang'.

Sebaliknya, saat fashion-mu dipuji, atau saat kamu berbagi cerita soal detailnya dan mendapat persetujuan, itu bakal bikin kamu 'senang'.

Kedua rasa ini mungkin terasa mirip, tapi aslinya beda jauh. 'Seru' lebih gampang berubah jadi rasa pertemanan, sedangkan 'senang' lebih mudah berkembang jadi rasa cinta.

Kalau kamu nggak paham soal ini dan cuma ngejar keseruan doang, ujung-ujungnya kamu bakal terjebak di zona mandek di mana kalian kelihatan akrab tapi jaraknya nggak kunjung mengecil.

Tukang pickup yang satu ini bener-bener paham betul soal psikologis semacam itu!

Lalu, di saat obrolan tanpa henti namun sama sekali tak melelahkan yang diselingi humor ringan itu berlangsung sekitar dua puluh menit,

"Lhoooo~? Ai, nih! Tumbenan lagi asyik nge-boba bareng cewek, nih~"

"Awas gendut lho~, minuman itu kan ibarat katsudon cair!"

Empat orang muda-mudi mendekat ke meja kami.

Kelihatannya mereka pecinta lagu-lagu EDM banget, deh.

Mereka yang penampilannya ngasih impresi begitu itu menyapa Aizawa dengan akrab sambil curi-curi pandang padaku.

"Aah~, Ai-chan bawa cewek baru lagi~"

"Beneran, dong! Gonta-gantinya cepet banget, sih!"

"Ai ini sebenernya laku apa enggak, sih, nggak jelas banget."

"Woi, ngapain kalian pada di sini?! Terus Mio, jangan panggil dia 'cewek baru' napa!"

"...Apa mereka teman Aizawa-san?"

"Aduh, maaf ya Shigure-chan. Malah ketahuan gerombolan berisik ini. Mereka ini temen-temenku sejak SMP. Berhubung pada bego semua, mereka pada nggak keterima di Seiun. Ejek aja sepuasnya, nggak apa-apa."

"Dih, jahat bangeeet!"

"Namanya Shigure-chan? Denger omongannya barusan? Cowok ini jahat banget, jadi mending jangan deket-deket deh~"

"Makanya kubilang diiiaaaaam!"

Rupanya dia tak sengaja bertemu kenalannya saat kencan. Aizawa memasang wajah pasrah berusaha mengusir mereka berempat, tapi keempatnya sama sekali tak berniat pergi seolah baru saja menemukan mainan baru yang seru.

Pada akhirnya Aizawa menyerah dan mengajakku main bareng berenam sekalian.

Karena aku juga nggak punya alasan khusus buat ngotot kencan berduaan aja sama Aizawa, aku langsung setuju.

Setelah mengatur ini-itu dengan cepat, kami berenam akhirnya memutuskan main bowling di pusat hiburan dekat situ.

"KYAA! Shigure-chan jago bangeeeet! Strike lagi dooong!"

"Yeeey! Tos dulu dong, tos!"

"Bentuk tubuh pas ngelemparnya bagus banget, ya. Shigure-chan pasti pernah ikut olahraga, ya? Itu mah bukan core orang biasa, kan?"

"Iya, dari kelas 3 SD sampai pindah ke sini aku ikut karate full contact."

"BELA DIRI?! GILA, NGGAK NYANGKA BANGET! Padahal penampilannya kayak anak konglomerat kalem gitu, lho!"

"Ai, kalau kalian berantem, kamu pasti kalah telak, deh~"

"Nggak mungkin, lah. Gini-gini aku juga punya perut six-pack, tahu!"

"Itu mah otot pajangan doang, kan~ Kamu mah kerjaannya nge-gym mulu tanpa pernah olahraga beneran. Otot kayak gitu mah mana bisa menang lawan orang yang bisa bela diri!"

Grup ini rusuh banget sampai bikin capek cuma dengan barengan mereka. Setiap kali ada apa-apa, mereka selalu bereaksi heboh dengan tensi setinggi langit.

Kalau ada yang dapat strike, suasananya udah kayak lagi pawai festival!

Entah apa yang bikin mereka sebahagia ini.

Seberapa banyak sih hal yang bisa bikin mereka jingkrak-jingkrak kegirangan dalam hidup ini?

Tapi biarpun aku kebingungan, mereka terus-terusan memosisikanku di pusat kehebohan mereka.

Kedua cewek itu agresif menempel padaku dan terus-terusan mengajak ngobrol, sementara kedua cowoknya heboh lebay dari jarak agak jauh buat bikin suasana makin rame.

Aizawa sendiri tetap berada di sisiku—yang (seharusnya) merasa canggung karena masuk ke grup orang asing—layaknya seorang ksatria yang melindungiku dari cewek-cewek dominan, dan terus memperhatikan agar aku bisa membaur dengan suasana grup ini. Melihat formasi yang begitu sempurna, aku pun sadar.

Ini kemungkinan besar adalah jebakan. Pertemuan di kafe tadi bukanlah kebetulan; Aizawa pasti sudah merencanakan pertemuan ini sejak awal.

Atau mungkin, jadwal awal mereka hari ini memang janjian main berlima, lalu dia mengubahnya.

Kalau ini benar-benar disengaja, cowok ini benar-benar bak seorang host profesional kelas atas!

Bicara soal kencan, kebanyakan cowok pasti mikir kencan harus dilakukan berduaan saja.

Itu pandangan sempit, padahal bagi cewek, seberapa luas relasi sosial yang dimiliki pasangannya terkadang jauh lebih penting daripada wajah gantengnya.

Aizawa tidak hanya menunjukkan dirinya sendiri, tapi juga dunia di mana dia menjadi pusatnya.

Dia sedang menjajakan hal yang tidak biasa, 'Kalau kamu bareng aku, pasti bakal seseru ini, lho.'

Sayangnya jurusnya ini sama sekali tak mempan padaku karena aku sama sekali tak tertarik padanya.

Tapi bagi cewek yang menyukainya... maksudku, bagi cewek sok petualang yang nekat mendekati pria berlabel playboy terburuk; Aizawa pasti terlihat seperti pangeran berkuda putih yang siap menariknya keluar dari hari-harinya yang membosankan!

Seingatku peringkat UTS-nya nggak terlalu bagus, tapi biarpun begitu dia tetap anak kelas unggulan Seiun.

Dia pasti bakal masuk ke universitas yang lumayan.

Kalau dia masuk perusahaan perdagangan, dia pasti bakal jadi sales yang luar biasa andal.

"..............."

Menatap sosok Aizawa yang sangat lincah dan berwibawa itu, aku... ah, aku......mendadak dilanda perasaan yang luar biasa menjijikkan.

Tentu saja, Aizawa sama sekali tak bersalah. Dia adalah cowok idaman wanita yang persis seperti yang kubayangkan.

Bagiku, dia adalah cowok yang paling menguntungkan di dunia ini.

Aku sama sekali tak punya keluhan soal dirinya.

Hanya saja... taktik busuk ini, dulu sekali, aku pernah melihatnya. Sekitar sepuluh tahun yang lalu.

Aku jadi tak bisa berhenti memikirkannya. Intinya... aku teringat akan selingkuhan ibuku yang menjadi biang kerok di balik perpisahanku dan Kakak.

× × ×

Ibu dan ayah kandungku memiliki selisih umur 10 tahun. Ibu adalah mantan aktris gravure.

Sedangkan ayah kandungku... kalau tidak salah, dia adalah editor di sebuah penerbitan berskala menengah.

Entah di mana mereka berkenalan, tapi mereka bertunangan saat ibu berusia 22 tahun dan ayah berusia 32 tahun.

Ibu berhenti dari pekerjaannya setelah menikah, lalu melahirkan aku dan kakak kembarku.

Dalam potret keluarga di ingatanku, terlukis pemandangan keluarga yang sangat harmonis.

Saat itu, aku sama sekali tak pernah ragu bahwa kebahagiaan itu bakal bertahan selamanya.

Namun... kalau dipikir-pikir lagi, pernikahan mereka berdua mungkin memang tidak seimbang sejak awal.

Bahkan saat kami sudah beranjak besar, kecantikan dan kemudaan ibu masih memancar kuat.

Dulu itu adalah hal yang sangat kubanggakan; dan setiap kali dibilang mirip ibu, aku pasti akan merasa sangat senang.

Sebaliknya, wajah ayah sama sekali tak istimewa.

Mungkin karena dia pekerja kantoran yang selalu duduk, tubuhnya mulai tidak terawat; dan di usianya yang sudah menginjak 30-an, rambutnya mulai rontok perlahan.

Kurasa ayah sendiri juga memikirkannya.

Dia pasti selalu merasa minder saat melihat ibu yang terus tampil menawan.

Entah demi menebus rasa mindernya dengan materi atau apa, dia terus-terusan memfokuskan dirinya pada pekerjaan.

Bukan cuma sering pulang telat, aku merasa dia lebih sering tak pulang sebelum hari berganti.

"Kapan Ayah pulang?"

"Ayah lagi sibuk kerja. Ayah berjuang demi kita, lho."

Alasan kenapa percakapan di meja makan tanpa kehadiran ayah itu begitu membekas kuat di ingatanku, pasti karena obrolan itu diulang berkali-kali.

Lalu... seiring dengan semakin seringnya ayah tak ada di rumah, pria yang kemudian sering muncul di hadapan keluarga kami sebagai gantinya adalah──pria bernama Takao Takashi.

"Hee, jadi kalian ini Haruka-chan dan Shigure-chan, ya. Dua-duanya cantik mirip ibunya, ya."

Takao Takashi.

Aktor berbakat yang sampai sekarang masih sering wara-wiri di drama TV.

Seingatku, pertama kali kami bersaudari diperkenalkan padanya adalah saat pesta BBQ yang diadakan oleh teman masa aktif ibu di dunia hiburan.

Akhir pekan tanpa ayah.

Kami diajak ibu menghadiri pesta itu, dan ibu memperkenalkannya pada kami.

Saat itu, usia Takao mungkin baru saja menginjak dua puluh tahun, atau bahkan belum sampai segitu.

Wajah androgini dengan kulit yang sangat terawat.

Rambut mash kemerahan yang memberi kesan lembut, dipadukan dengan anting-anting yang modis.

Dia bahkan tak lupa melakukan perawatan kulit dan kuku. Kesan pertamaku padanya adalah, 'Ternyata ada cowok secantik ini di dunia, ya.'

Pembawaannya pun selembut penampilannya, dan Kak Haruka sangat akrab dengannya.

Tapi, sejak pertama kali bertemu, aku sama sekali tak menyukainya.

Aku tak bisa menyukainya.

Mungkin karena insting anak kecilku merasakan kejanggalan pada kedekatan ibu dan Takao.

Rasa janggal itu perlahan menguat sejak Takao mulai sering menginap di rumah kami.

Saat bersama pria itu, di mata ibu yang tadinya begitu menyayangi kami, eksistensi kami tak lagi terlihat.

...Tentu saja, pertemuan gelap sebegitu mencoloknya takkan bertahan lama.

Perselingkuhan ibu tak butuh waktu lama untuk sampai ke telinga ayah.

Namun, aku tak punya banyak ingatan tentang pertengkaran mereka.

Mungkin ayah terlalu merasa bersalah pada ibu sampai-sampai dia tak bisa benar-benar marah.

Kalau saja saat itu ayah berani menunjukkan emosinya, atau bahkan memakai kekerasan untuk menyadarkan ibu, mungkin akhir ceritanya bakal berbeda.

Jangan-jangan, ibu terus mengulangi perselingkuhannya secara terang-terangan karena dia mengharapkan reaksi seperti itu dari ayah?

...Karena sekarang aku sudah dewasa, banyak hal yang kupikirkan tentang kejadian itu.

Tapi, semua itu hanyalah masa lalu yang sudah terlewat.

Mencari kebenarannya sekarang pun sudah percuma.

Pada akhirnya, mereka berdua bercerai.

Keluarga yang kuyakini takkan pernah berubah itu hancur berantakan; aku tinggal bersama ibu, dan Kakak bersama ayah.

Tentu saja setelah itu ibu bergantung pada selingkuhannya, Takao; tapi──sudah jadi rahasia umum bahwa pria yang merayu wanita bersuami dengan dua anak untuk selingkuh, mustahil punya moral yang waras.

"Kamu itu menarik pas masih jadi istri orang, tahu. Begitu cerai, kamu cuma janda tua bawa anak, kan. Ngaca dikit, napa."

Itulah kata-kata terakhir yang dilontarkan Takao pada ibu.

Melihat ibu menangis tersedu-sedu selama berhari-hari, aku menatapnya dengan perasaan yang teramat dingin.

Setelah menghancurkan keluarga, memisahkanku dari Kakak, dan mengacaukan hidup semua orang di sekitarnya, inikah akhir dari semuanya?

Benar-benar tindakan yang kelewat bodoh.

Sejak saat itu, aku tak pernah lagi memendam secuil pun ilusi ala gadis remaja soal romansa atau cinta.

Hal itu tak berubah hingga sekarang.

Aku juga tak berniat mengubahnya.

Menjadi bintang utama dalam komedi bodoh semacam itu? Sumpah aku sama sekali nggak sudi!

× × ×

"Aaaah, seru banget~"

"Shigure-chan tadi bener-bener gila skornya~"

"Nggak nyangka aku bakal kalah main bowling. Kesel bangeeet~!"

"Hahaha. Ai emang selalu kuat banget sih kalau olahraga bareng cewek~"

Setelah selesai main bowling, kami keluar dari pusat hiburan dan berjalan melintasi jembatan penyeberangan yang terhubung ke stasiun.

Waktu menunjukkan pukul 7 malam.

Mendekati titik balik matahari musim panas, sisa cahaya hari yang memanjang tampak membara kemerahan di tengah senja.

Tak lama lagi tirai malam akan turun sepenuhnya.

Tapi tentu saja, buat orang-orang macam mereka, nggak mungkin ada kata 'bubar' cuma gara-gara langit gelap.

Sudah pasti topik obrolannya bakal menjurus ke 'Gimana kita bakal menghabiskan malam ini?'.

"Eh, eh. Abis ini kita mau ngapain?"

"Mau ngapain gimana, malam Minggu mah udah pasti 'itu', kan~"

"""NAH BENER BANGET!"""

Salah satu cowok yang datang belakangan menirukan gerakan menenggak minuman dalam sekali teguk, dan semuanya pun langsung pura-pura setuju.

Sudah pasti itu bukan minuman boba.

...Tapi, aku benar-benar ogah kalau harus ikut campur urusan itu.

Mungkin terdengar wajar, tapi aku memang belum pernah minum alkohol.

Aku nggak mau minum alkohol di depan orang lain tanpa tahu apa yang bakal terjadi pada diriku setelah meminumnya.

Bukan karena takut ngerepotin orang atau semacamnya, tapi aku benci menunjukkan celah kelemahanku.

Tujuan mereka yang datang berbondong-bondong untuk memburuku sebagai mangsa ini pasti sudah jelas: menyeretku ke dalam komunitas mereka, mencekokiku dengan alkohol sampai mabuk, dan setelah itu mereka bebas melakukan apa saja.

Bagi mereka, itu mungkin trik paling jitu untuk meluluhkan gadis seusia kami yang masih punya rasa malu. Tapi,

"Kalau gitu, kita mampir minimarket dulu terus langsung ke rumah Masa, yuk~ Shigure-chan ikutan, kan?"

Buat kasusku kali ini, aku memang udah niat gitu dari awal, tahu.

Jadi ngapain juga aku harus repot-repot ngelewatin proses yang cuma bikin sel-sel otak mati sia-sia?

...Aku udah nyelesain event yang cukup buat nge-bikin alasan logis kenapa aku bisa suka sama Aizawa.

Sudah saatnya.

Mending aku langsung bawa kabur Aizawa sendirian aja.

Kalau aku yang ngajak duluan, dia pasti nggak bakal nolak karena proses yang sia-sia itu jadi bisa di-skip.

Berpikir demikian, aku pun membalikkan badanku menghadap Aizawa.

"Anu, Aizawa-sa──eh,"

Tepat pada detik itu.

Saat aku menoleh dan tak sengaja melihat pemandangan taman di bawah jembatan dari ekor mataku,

Aku merasa seperti disambar petir; kejutan yang luar biasa kuat menghantamku.

Seketika pandanganku goyah,

Jantungku berdegup kencang tak karuan bak lonceng gila.

Keringat bercucuran dari sekujur tubuhku seolah aku sedang berada di sauna, tapi anehnya tubuhku menggigil kedinginan dari dalam.

M-Mual...

Refleks aku menutup mulutku dengan tangan.

Rasanya seluruh isi perutku diputarbalikkan.

Sesuatu yang puluhan kali lebih pekat dari asam lambung mendidih bergejolak di dasar perutku.

Rasanya benda itu mau melompat keluar dari mulutku kapan saja.

Tapi,

Kenapa, ini...

Kenapa aku, bisa sampai, kayak gini────, kh!

"Hm? Ada apa? Ayo Shigure-chan, kita jalan bareng! Kita kan udah temenan sekarang?"

"........................"

"Shigure-chan? Kamu lagi lihatin apa, sih?"

"...Maaf. Sepertinya aku kurang enak badan, jadi aku pulang duluan, ya."

"Eeeh! Padahal Shigure-nyan tadi masih seger bugar, lho!"

"Iya bener tuh~ si gadis high score. Nggak asyik banget, ah~"

"Tenang aja, kok~ Minumannya nggak bakal sekeras itu, kok."

"Iya, iya, padahal malamnya baru mau mulai seru-serunya~"

"──Udah woi, jangan dipaksa."

Aizawa lah yang menegur teman-temannya yang masih enggan melepaskanku.

"Wajahnya emang pucet banget, jangan maksa dong. ...Tapi kalau emang kamu sakit banget, naik kereta juga pasti repot, kan, Shigure-chan? Aku tahu tempat buat istirahat tenang di dekat sini, kita istirahat di sana aja, ya?"

Sambil berkata begitu, Aizawa merangkulkan tangannya ke pundakku.

Jadi kalau rencananya gagal, dia mau main paksa, gitu?

...Aku ini sama sekali nggak peduli sama yang namanya cinta atau romansa.

Menurutku itu adalah hal paling nggak penting dan menjijikkan di dunia ini.

Makanya, tentu saja aku nggak peduli soal kesucianku.

Toh ujung-ujungnya juga bakal dibuang ke entah siapa nanti.

Jadi, buatku nggak masalah sama sekali siapa pun pasangannya.

Bahkan kalau cowok itu terkenal punya track record terburuk soal cewek sekalipun.

Awalnya aku mikir begitu.

TAPI SEKARANG──

Hembusan napas cowok ini yang mengenai rambutku,

Jari cowok ini yang menyentuh tubuhku,

Nafsu rendah cowok ini yang diarahkan pada tubuhku,

Segala hal tentang cowok ini, ────BENAR-BENAR MENJIJIKKAN SAMPAI AKU NGGAK TAHAN LAGI!

"Ayo kita ke sana, nggak apa-apa kok. Aku bakal ngerawat kamu dengan lembut, ya."

"............Kan udah kubilang... mau PULANG."

"Eh? Apa? Nggak denger, nih."

Tangan yang merangkul pundakku mencengkeram semakin kuat.

Kukunya sampai menancap.

Sebuah deklarasi kalau dia nggak bakal melepaskanku.

Tepat pada detik itu, tubuhku bergerak sendiri.

Aku langsung berjongkok untuk melepaskan cengkeraman tangannya, lalu memutar tubuhku dari posisi itu.

Melancarkan tendangan mendatar yang menyapu kakinya hingga nyaris menyentuh tanah!

Tubuh Aizawa pun seketika ambruk ke tanah.

Bertukar posisi, aku mengangkat lutut dan mengayunkan tumitku tinggi-tinggi.

Sesaat setelah dia jatuh telentang, aku menjatuhkan tumitku tepat di sebelah wajahnya!

Heels sandalku patah karena tak mampu menahan benturan kuat di tanah, tepat di sebelah wajah Aizawa.

Aku langsung membentak Aizawa yang masih ternganga kaget akibat serangan dadakanku.

"KAN UDAH KUBILANG MAU PULAAANG!!!!"

Dan mereka, sama sekali tak berani mengejarku.

× × ×

Suasana seketika membeku akibat bentakan keras Shigure.

Suasana itu baru mencair setelah punggungnya yang menjauh mulai terlihat mengecil.

Di tengah hiruk pikuk pegawai kantoran yang pulang kerja dan siswa bimbingan belajar di depan stasiun, teman-teman Aizawa langsung mengerumuni Aizawa yang terkapar.

"O-Oi, oi, kamu nggak apa-apa, Ai?"

"Serem banget, gila! Cewek apaan tuh, tiba-tiba meledak gitu aja! Katanya anak orang kaya kalem!"

"Terus gimana dong, Aizawa? Mau kita kejar sekarang?"

"Oh? Mau diculik, nih? Diculik beneran, nih?!"

Namun, Aizawa justru menggelengkan kepalanya.

"Nggak, biarin aja. Lagian dari awal feeling-ku emang udah agak aneh, sih. ...Terus,"

"Terus apa?"

"Entah kenapa... rasanya lumayan......... enak."

"""Tentu saja."""



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close