NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kindan de Kindan ja Nai Chotto Kindan na Gikyōdai Rabukome wa Misui Ecchi kara Hajimaru Volume 1 Chapter 2

Bab 2Rumor Orang-Orang Sepotong Kecepatan Lepas Ketiga


 

Aku tidak cukup tahu tentang sekolah lain yang memiliki kebebasan tradisi seperti SMA Negeri Byakudo.

 

Sudah setengah abad sejak para guru menyerah untuk mengendalikan kemandirian para murid... atau lebih tepatnya, penegasan diri yang egois dan semena-mena. Murid-murid bahkan tidak lagi merendahkan orang dewasa yang hanya bisa patuh dengan pasrah pada kebiasaan buruk yang sudah mendarah daging itu. Di luar jam pelajaran, para guru sama sekali tidak pernah masuk dalam pandangan mereka.

 

Justru karena itulah, organisasi yang menyatukan para murid sebagai pengganti jajaran guru────yaitu OSIS, diisi oleh orang-orang yang sangat lihai dan cakap.

 

Terutama kemampuan ketua periode sekarang yang sudah terbukti kualitasnya. Memang bikin kesal sih... tapi kalau bicara soal keahlian bekerja, bukankah dia jauh lebih hebat daripada wirausahawan di luar sana? Dalam hal kemampuan menyelesaikan segala masalah seketika, tidak ada seorang pun yang bisa menandingi orang ini.

 

Seorang siswi jenius sejati yang diakui oleh dirinya sendiri maupun orang lain. ...Di tengah makin dekatnya festival budaya, di mana para murid yang berkarakter terlalu kuat dan menonjol memperlihatkan segalanya dan menciptakan kekacauan yang luar biasa, dia tetap bisa mengatasi kekacauan itu walau harus merelakan hari Sabtu dan

Minggunya.

 

Memperbaiki stan-stan yang pemiliknya terlalu keras kepala.

 

Memberikan arahan yang tepat untuk drama yang karakternya terlalu pekat.

 

Melakukan negosiasi dengan memadukan cara tegas dan lembut untuk pertunjukan yang penuh keanehan.

 

...Meskipun posisiku hanya sekadar pelengkap di ujung meja, aku juga merupakan anggota OSIS. Biarpun tidak seberapa, aku ikut sibuk ke sana kemari untuk membantunya, dan hari ini pun aku kembali menikmati istirahat sejenak... makan siang setelah pekerjaan agak tenang, di ruang OSIS yang dipenuhi oleh loker dan meja panjang.

 

Di akhir musim panas yang siang harinya masih membuat tubuh lengket oleh keringat... aku meminum seteguk teh barley dingin yang kubawa di dalam botol minum──

 

"Ngomong-ngomong Ken-chan, kemarin malam, kamu gagal begituan sama Shi-chan, ya?"

 

"Gubuh────────uh, uk, uhm?!" *Uhuk, uhuk, uhuk, uhuk...!*

 

...Teh yang baru saja mau kutelan, hampir saja kusemprotkan keluar.

 

Aku menahannya di detik-detik terakhir lalu menelannya, kemudian terbatuk keras demi mengeluarkan beberapa tetes yang telanjur masuk ke saluran pernapasan.

 

Ugh, keringat dingin yang tidak mengenakkan... suara yang tiba-tiba, mendadak, dan tanpa aba-aba terdengar dari atas pangkuanku ini sudah lebih dari cukup untuk melumpuhkan seluruh sistem pernapasanku.

 

"Ken-chan, gak apa-apa? Uwah, bagian sekitar parumu sampai bergetar begitu. ...Uhehe, getaran yang enak... bikin ngantuk, nih....... Hwaaa..."

 

Sambil berkata begitu, orang itu────dengan santainya menjadikan

pahaku sebagai kursi lesehan.

 

Mengambil sesuka hati karaage dari kotak bekal di atas meja, lalu memasukkannya ke dalam mulut.

 

Sambil membuat suara kunyahan yang kenyal, dia mengesek-gesekkan pipinya ke dadaku... lalu menguap dengan sangat tenangnya. ...Dengan mata setengah terpejam yang tampak mengantuk, dia bersikap santai begitu, bocah ini...!

 

Padahal aku baru saja mati-matian mencegah dokumen yang menumpuk di atas dadanya yang membusung itu basah kuyup, yang bisa berujung harus ditulis ulang, jadi aku butuh sedikit pujian tahu────tapi daripada itu!

"Ugh... ka-kamu tiba-tiba ngomongin apaan sih, Rio. Jangan asal bicara yang aneh-aneh──"

 

"Bukan gitu tahu, Ken-chan."

 

Rio.

 

Rio Yumizuka.

 

Ketua OSIS jenius dan cakap yang dibanggakan oleh SMA Negeri Byakudo, sekaligus teman masa kecil aku dan Shiori────sambil menggoyangkan rambut merah mudanya yang berantakan, dan dengan dada sebesar kepalanya, dia menoleh ke arahku seolah sedang menabrak ketiakku lalu berbicara.

 

"Cerita tentang Ken-chan yang papasan sama Shi-chan yang telanjang di wastafel, terus dipeluk dan diminta buat begituan terus kamu mengangguk, lalu waktu lagi mesra-mesraan yang menjurus ke arah dewasa di kamar, ketahuan sama Suguru-chan yang masuk karena dengar suara, terus kalian berdua diceramahi sambil telanjang bulat, itu tahu."




"A... a-apa-apaan...!?"

 

Rio yang setengah memejamkan matanya dengan tatapan layu itu sama sekali tidak sedang mengindur. Dia tidak sedang bicara berdasarkan khayalan. Habisnya, ceritanya terlalu akurat dengan kenyataan. Kalau hal semacam ini bisa diceritakan cuma berbekal imajinasi, lebih baik dia berhenti jadi murid dan sekalian jadi penulis saja sekarang juga!

 

Tapi, tapi kenapa──

 

"K... kenapa... kenapa kamu bisa tahu hal kayak gitu──"

 

"Gak cuma Ketua doang kali, Senpai Monyet Sialan."

 

──Suara yang penuh dengan rasa benci dan hinaan itu membuat pandanganku refleks beralih ke arah depan agak menyamping.

 

Sambil menggigit dan mengulum kemasan minuman jeli keempat setelah menghabiskan tiga sebelumnya, orang itu menatap ke arahku dengan wajah tidak menyenangkan seperti biasanya. Rambut berwarna biru muda, sepasang mata merah menyala, dan wajah polos yang tertata rapi seperti boneka... Kalau cuma melihat bagian-bagiannya saja, dia adalah gadis cantik yang tidak kalah dari Rio... tapi matanya yang menatapku seolah sedang menghina muntahan, beserta ekspresi wajahnya, benar-benar merusak semuanya.

 

Sambil menopang dagu dan menghela napas────Fuyuru Koshino melanjutkan perkataannya dengan nada mencibir.

...Meskipun sudah jadi hal biasa... tapi anak ini tetap saja galak banget ke aku, ya? Seingatku aku tidak pernah melakukan sesuatu kepadanya────tapi.

 

Khusus kali ini, aku tidak bisa membiarkannya berlalu begitu saja.

 

"K-Kamu ini ya, Koshino────Lagian! Aku gak ada maksud menyerang Shiori... adikku, ya! Mungkin terdengar kayak alasan, tapi kami melakukannya atas dasar suka sama suka!! ...L-Lagian!! Kenapa dan kok bisa kalian semua... tahu detail kejadian kemarin malam──"

 

Di saat aku hendak menyatakan ketidakbersalahan dan kesucianku, lalu berniat melakukan sanggahan sebagai hak yang wajar.

 

────Sebuah pukulan kepalan tangan diayunkan ke bawah, hingga hampir mematahkan meja panjang tepat di tengah-tengah.

 

"...!? Ha-Haru...?"

 

"...Ayahmu itu bukannya mata pencahariannya buka jasa serabutan, ya."

 

Perlahan... sosoknya bangkit dari kursi bagaikan arwah penasaran.

 

Sambil menyeret rambut birunya dan tubuhnya yang tegap bagaikan mayat hidup────Wakil Ketua OSIS, Haruya Karasuma, berbicara dengan suara yang melengking.

 

...Memang benar, pekerjaan Ayah adalah penyedia jasa serabutan.

Wajahnya memang tipe yang bakal bikin anak kecil terkencing-kencing kalau melihatnya, tapi syukurlah reputasi pekerjaannya cukup bagus.

 

Memotong rumput halaman, mengangkut peralatan elektronik, membersihkan pipa saluran air, merenovasi rumah, sampai merawat lansia adalah keahliannya. Kalau dibutuhkan, dia bisa menghubungkan ke pihak profesional, atau menyelesaikan pekerjaan yang sulit bagi orang awam dengan harga yang cukup murah... Kami yang masih berstatus murid pun sudah berkali-kali dibantu olehnya dalam kegiatan OSIS.

 

Tapi, daripada pertanyaan atau konfirmasi seperti itu, hal yang jauh lebih menggangguku adalah.

 

Suara kleting, kleting yang terdengar dari tangannya seiring dengan gerakan membuka dan menutup.

 

............Benda yang jelas-jelas tidak dibutuhkan di tempat ini adalah... tang pemotong yang ada di tangannya itu, kan...?

 

"Kami juga ya, kalau ada masalah dalam hidup, kami bakal mengandalkan Ayahmu. Kalau begitu, otomatis kami jadi akrab dong.

Wajahnya memang seram, tapi Ayahmu itu orang baik, tahu."

 

"............"

 

"Terus ya, dari Ayahmu yang baik itu, ada 'permintaan' langsung yang dikirimkan ke anggota terpilih. Kenji, gara-gara kelakuan yang kamu perbuat, Ayahmu jadi cemas tahu... Dia minta kami mengawasi kamu supaya gak bermesraan sama adikmu di sekolah............ Kamu paham gak? Hah?"

 

"......"

 

Paham. Aku paham jalan pikirannya.

 

Ayah punya pekerjaan di siang hari, dan Ibu apalagi, sama sekali tidak bisa diandalkan. Karena itulah, wajar saja kalau Ayah cemas kalau aku dan Shiori melakukan hal yang tidak-tidak di sekolah (di tempat ini) yang berada di luar jangkauan orang tua.

 

Tapi, tapi... Daripada merasa heran dengan sifat Ayah yang terlalu cemas, ada hal yang jauh, jauh lebih penting!

 

Bagi aku yang tidak bisa bergerak gara-gara Rio yang duduk di pangkuanku, ada hal yang harus dikhawatirkan!

 

Haruya yang berjalan mendekat dengan sempoyongan sambil memegang tang di salah satu tangannya.

 

Matanya yang redup dan hilang fokus itu────membuat keningku dipenuhi oleh keringat dingin...!

 

"...Aku paham situasinya, tapi... anu, Haru? ...Tang yang kamu pegang itu sebenarnya buat apa──"

 

"Aku memikirkannya tahu. Bagaimana caranya membuat sahabatku yang mencoba melangkah ke jenjang dewasa sendirian tanpa mengajak sahabatnya ini merasakan hal yang menyakitkan────Ahem. Bagaimana caranya melaksanakan permintaan dari Ayahmu yang sudah membantuku dengan sempurna."

 

"Gak bisa ngeles, gak bisa ngeles! Niat buruk dari isi hatimu yang sebenarnya kelihatan banget tuh, sahabat!!"

 

"Makanya aku berpikir. ────Benar juga, mending kupotong saja ti-titnya."

 

"Gak usah pakai santai kayak mau pergi ke Kyoto gitu dong──,──────────!?"

 

"Gak ada ampun buatmu, Sialan! Siniin ti-titmu biar kupotong!!"

 

Dengan tang di tangan kanan dan tekad bulat untuk membungkam perlawananku di tangan kiri, Haruya melompat dan menyerangku tanpa gerakan aba-aba.

 

Refleks kurentangkan kedua tanganku untuk mencengkeram

pergelangan tangannya.

 

Ugh... Gara-gara Rio ada di atas pangkuanku, aku bahkan tidak bisa berdiri dan tidak bisa menahan tumpuan dengan baik. Sedikit demi sedikit... ugh, aku kalah tenaga, dan tanganku... mau tidak mau... terdorong mundur...!

"Tunggu, tunggu, tunggu, tunggu dulu Haru!! Ini gak sesuai harapan! Ayahku juga pasti! Gak bakal berharap sampai sejauh ini, tahu!!"

 

"Diam kamu dasar cowok bajingan!! Lagian habis ini kamu pasti bakal bermesraan terus di sekolah, kan!? Ciuman di depan umum, saling raba bagian vital dari luar baju, terus gak tahan dan kelewatan batas di atap sekolah, kan!? Gak akan kuampuni, gak akan kuAMPUNI, gak akan KUAMPUNI, GAK AKAN KUAMPUNI... Cowok bermesraan harus mati, gak ada ampun──"

 

"Okey, berantemnya sampai di sini saja ya, Haru-chan."

 

────Suara itu terasa sangat tenang.

 

Bahkan bisa dibilang agak tidak cocok untuk bergema di ruangan yang penuh ketegangan ini. Benar-benar salah tempat. Ada sensasi aneh yang janggal, seperti tiba-tiba ada anak kucing yang muncul di medan perang yang penuh peluru berseliweran.

 

Tentu saja... anak kucing itu adalah kucing jadian-jadian yang tiba-tiba bisa mengincar nyawa orang.

 

"Haru-chan, iri hati itu gak keren tahu. Gak boleh melampiaskannya ke orang lain, itu kan aturan yang wajar, kan?"

 

...Sambil menopang dagu di atas lututnya dengan lemas────Rio Yumizuka.

 

Tanpa disadari, dia telah merebut tang yang seharusnya dipegang oleh

Haruya dengan mulus.

 

Lalu mengarahkan ujung tajamnya ke arah selangkangan Haruya.

 

"A... Ke-Ketua...!?"

 

"Soalnya ini cara paling cepat dan damai. Kalau sesama pengurus berantem, nanti malah mengganggu pekerjaan, kan. Masalah harus diselesaikan dengan cepat. Itulah aku. Terus? Mau bagaimana? Haru-chan. Mau kita bikin ti-titnya hilang? Atau... kamu mau melepaskan tanganmu dari Ken-chan?"

 

Sebuah ancaman yang dikemas seolah memberikan pilihan.

 

...Haruya yang melepaskan tangannya, mundur dengan wajah yang

terlihat makin pucat berkat warna rambutnya. ...Aku paham, takut, kan.

 

Aku yang sudah berteman selama 13 tahun dengan Rio saja bukannya tidak pernah membuat orang ini benar-benar marah, jadi aku paham betul. Pantas saja dia sampai bungkam.

 

Kekerasan dari sebuah kejeniusan yang membuat kita paham kalau kita tidak akan pernah bisa menang dengannya.

 

...Tapi, di saat yang sama.

 

"Ehehe. ────Haaah, tapi ya... akhirnya, ya."

Sambil melemparkan tang ke samping dan mengeluarkan suara lemas, orang ini.

 

Menyandarkan punggung dan kepalanya ke dadaku, meregangkan bahu

sampai berbunyi, dan membusungkan dadanya sambil menggeliat...

 

Sosoknya tidak lebih dari seorang gadis yang agak kurang waspada untuk usianya... yang terkadang membuatku bingung.

 

Bagaimana ya... rasanya seperti sedang merawat alien berbentuk hamster.

 

" ...Apaannya yang 'akhirnya', Ketua. Senpai bermata buas di sana itu baru saja menyerang adiknya, tahu? Kalau sudah tahu dari dulu kalau dia itu monyet yang suka melalukan hal kayak gitu, kenapa malah santai-santai bersandar di pangkuan buasnya gitu. Nanti malah dibikin hamil, lho?"

 

"Fuyuru-chan, dengarkan omongan orang baik-baik dong? Kan Ken-chan sudah bilang kalau mereka melakukannya atas dasar suka sama suka, kan? Yah, walau aku sempat berpikir mereka berdua kok lama banget bertindaknya────Padahal Ken-chan dari dulu suka banget sama Shi-chan, kan."

 

"────!!"

 

"Hup."

Refleks kurentangkan tangan, mencoba membungkam mulut Rio yang bersandar di tubuhku.

 

Tapi orang ini malah menghindar seolah punya mata di punggungnya!

 

Padahal dia ada di atas pangkuanku! Padahal jaraknya dekat banget!! Ini

sih pemborosan bakat namanya, skill menghindar macam apa itu!!

 

Sambil menghindar dengan lincah bagaikan kelopak bunga, Rio terus saja berbicara tanpa henti.

 

"O-Ohoi, hentikan Rio!! Kamu ngomong apaan sih──"

 

"Kalau dilihat dari luar, kelihatan jelas banget kok kalau Shi-chan juga

suka banget sama Ken-chan. Aku dari dulu selalu berpikir kapan sih kalian bakal jadian, sampai bikin gemas tahu. Ken-chan ini ya, waktu di TK dia mau menemani Shi-chan bermain gambar dan kerajinan tangan yang sebenarnya gak terlalu dia sukai, terus waktu masuk SD, demi menolong Shi-chan yang jadi sasaran perundungan, dia sendirian menghajar lima anak kelas atas sampai babak belur... Ah, terus terus benar juga! Waktu kelas tiga SD, dia bingung banget harus bagaimana menghadapi adiknya yang masih mau mandi bareng, terus dengan sangat serius bertanya padaku──"

 

"Hentikan, hentikan, hentikan, hentikan, hentikan, hentikan, hentikan, HENTIKANNN!!"

Tangan, tangan, tangan, tangan! Gerakan Rio yang terus menghindar tidak peduli berapa kali aku mengayunkan tangan benar-benar tidak terlihat seperti gerakan manusia lagi.

 

────Pada akhirnya, dia malah berhasil mencengkeram kedua tanganku, lalu Rio menguap dengan wajah bosan.

 

Ugh... Sebaliknya, orang ini punya kekurangan di bagian mana sih...?!

 

Padahal sudah jadi teman masa kecil selama belasan tahun, tapi aku sama sekali tidak tahu...!

 

" ...Fuhe. Mau bagaimana lagi ya, karena ini permohonan dari teman masa kecilku yang berharga, sampai di sini saja deh."

 

"Haa, haa, haa... Ka-kamu ini... maksudmu apa sih, Rio...!"

 

...Bagi aku, fakta bahwa kelakuanku kemarin tersebar ke kenalan saja sudah bikin malu setengah mati.

 

Ditambah lagi, hal-hal masa kecilku juga dibongkar... Maksudku, apa sejelas itu sih aku ini! Terus perasaan dari Shiori juga sejelas itu!? Sadar dong aku!! Rasa gundah gulana selama lebih dari 10 tahun ini jadi kelihatan bodoh banget, kan!!

 

"Ahaha, wajahmu merah banget────Kalau ditanya maksudku apa, benar juga ya............ Yah, anggap saja semacam pamer. Pamer soal teman masa kecil."

"...Pamer...?"

 

Sambil tertawa lepas tanpa ketegangan hingga memperlihatkan giginya,

Rio menjawab sambil melepaskan tanganku begitu saja.

 

Lalu sekali lagi, dia menjadikan dadaku sebagai bantal, merebahkan tubuhnya yang lembut seolah meluncur ke atas kasur. ...Baru kepikiran sekarang sih, tapi apa orang ini gak punya rasa kewaspadaan sama sekali, ya.

 

Mau seberapa pun aku sudah punya pacar dan berstatus teman masa kecil... aku ini bagaimanapun juga seorang laki-laki, tahu?

 

"Meskipun gagal, tapi kalau sudah sampai tahap di atas kasur, wajar dong kalau kepikiran? Sebagai orang yang terus memperhatikan hubungan cinta bertepuk sebelah tangan dari kalian berdua, aku mau tahu apa cinta kalian berdua sudah benar-benar terwujud. Terus, aku kan mau membusungkan dada sambil pamer kalau pasangan sejoli yang saling mencintai itu adalah teman masa kecil yang kubanggakan, kan?"

 

"............Seleramu ternyata buruk banget, ya."

 

"Nfufu, imutnya yang lagi menutupi rasa malu. ...Syukurlah ya, kalian berdua."

 

"................"

 

"Fu, fufu............ Suuu... Fyu, yaaa..."

 

...Astaga, bikin malu saja.

 

Padahal masih ada hal yang harus didiskusikan, tapi Rio yang mulai tertidur lelap sambil menjadikanku kasur... Suhu tubuhnya yang seperti anak kecil membuat wajahku terasa sangat panas sampai-santai aku mengira AC-nya sedang rusak.

 

Lalu, tepat di hadapan kami berdua.

 

"Sial, sialan...! Kenji sudah jatuh menjadi orang yang benar-benar

bermesraan...! Ugh... Kalau aku melukainya, anak perempuan yang saling mencintai dengannya juga bakal terluka!! Dilema macam apa ini...!!"

 

"Ah, Haru-senpai  baik banget...! Gak apa-apa kok Senpai, Fuyuru suka banget sama Haru-senpai, aku mencintai Senpai kok! Tubuh, hati, kesucian, dan masa depan semuanya bakal kuserahkan ke Senpai kok!!"

 

...Haruya yang memukul lantai dengan kuat seolah hendak meneteskan air mata darah karena merasa sangat menyesal.

 

Dan Koshino yang menghiburnya sekalian menyatakan cinta, sambil membuat boneka jerami bertuliskan namaku dengan terampil menggunakan tangannya yang bebas.

 

............Aku sudah tahu dari dulu kalau sekolah ini diisi oleh murid-murid yang karakternya terlalu pekat dan aneh.

Tapi kenapa para pengurus OSIS yang bertugas menyatukan mereka malah jadi orang-orang yang paling pekat, aneh, egois, dan punya kepribadian paling kuat daripada siapa pun............ Aku sudah gak sanggup meresponsnya lagi...

 

Haaah, capeknya... Jam segini, Shiori lagi ngapain, ya............

 

 

"Yang di sana! Siswi berambut hijau muda yang tinggi! Berhenti!!"

 

────Cengkeraman yang terasa sekeras bunyi blag, terasa menghujat shoulder-ku. Jantung yang sudah bikin lengan kiriku gemetaran ini rasanya mau meledak, dan napas ketakutanku bikin perut terasa panas.

 

Suara wanita yang kurang kubiasai... Dengan ragu-ragu, Iruka-chan.

 

Nishijo Iruka-chan, memutar tubuh jangkungnya yang hampir dua meter itu secara perlahan.

 

────Bersama aku yang tangannya melingkar di leher Iruka-chan.

 

"... A-Ada... apa, ya...? E-Eto............ Bu... Guru..."

 

"Kamu Nishijo-san, kan? Kamu mau apain anak berambut putih itu?"

 

Di tengah-tengah koridor hijau pucat, tanpa memedulikan kehebohan di belakang.

Guru wanita muda berambut hitam kuncir kuda yang mengenakan setelan jas bisnis rapi, menunjuk ke arahku dengan tajam dan menginterogasi dengan nada bicara yang tegas.

 

...Iruka-chan cuma menyembunyikan matanya di balik rambut hijau muda, dan mulutnya menganga bagai ikan koki yang kehabisan oksigen.

 

Menunjuk ke arahku yang sedang digendong ala putri oleh Iruka-chan yang bahkan tak punya keberanian untuk kabur.

 

"A... e, eto... anu, itu──"

 

"Aku tahu rumormu. Makanya aku bertanya. Mau kamu apain anak itu?"

 

Tubuhnya gemetar hebat. Cengkeramannya makin kuat, tapi jari yang merengkuh maupun tangan yang mendekapku sama sekali tidak terasa sakit.

 

Iruka-chan tidak punya tenaga seperti itu. Menggendongku yang

bertubuh mungil saja sudah batas maksimalnya.

 

Melihat Iruka-chan yang melangkah mundur setengah langkah seperti kejang-kejang karena membeku, guru wanita itu sengaja menyudutkan dengan langkah kaki yang dibuat-buat sebanyak dua langkah.

 

"...Tunggu dulu, Bu Guru──"

 

"Haaah... Kamu pikir dengan berlindung di balik keberagaman, perbuatan burukmu bakal dimaklumi? Kalau pertanyaan semudah ini saja tidak bisa kamu jawab, dan kamu menyimpan perasaan mencurigakan pada anak itu, maka sebagai guru──"

 

"Hihihihihihi♪ Wah, rajin banget kerjanya♪ Bu Su-ba-ru~♪"

 

────Jujur saja.

 

Aku baru saja mau tersulut emosi oleh guru yang bicara sok tahu dari posisi tinggi ini. Iruka-chan mendekapku seolah aku ini obat penenang jiwanya... tapi kalau boleh jujur, aku ingin lepas dari lengan panjangnya ini, lalu menyemburkan badai caci maki ke guru bodoh itu.

 

Makanya... dia muncul dari balik punggung Iruka-chan.

 

Kemunculan si cewek genit berambut pirang kuncir dua yang tak pernah lepas dari senyum cengengesan ini, cukup menolongku.

 

", Ka-Kamu..., Karasawa Sena! Siswa bermasalah tingkat tinggi yang berkali-kali jadi bahan rapat guru────, A-Apa yang mau kamu dan Nishijo Iruka lakukan dengan bersekongkol begini──"

 

"Eeeh~? Sukanya tuduh-tuduh deh. Kalau Bu Guru tahu rumor tentang kami, harusnya bisa ketebak dong~?"

 

Tindakan nekat Sena yang mendekat tanpa ragu, terkesan lengket, dan sok akrab itu membuat sang guru gentar.

Sena berputar dengan gerakan tubuh yang ringan ke belakang sang guru, seolah mengunci jalan keluar setelah guru itu mundur satu langkah.

 

"Iruka-chan itu kan duduk di kursi panas kalau di kelas gara-gara rumor buruk yang cuma ada daun tanpa akar itu~? Aku juga merasa gak betah, terus gadis cantik berambut putih polos yang imut dan cute banget dalam dekapannya ini, Shiori-chan. Dia juga cenderung dijauhi gara-gara orang tuanya mantan yakuza, kan~? Hihi, bisa dibilang sesama orang yang dibenci, teman sesama yang tersingkirkan gitu deh♪ Tiga orang teman yang berkeliling mencari tempat tenang buat makan siang itu kan pemandangan yang biasa banget~?"

 

Sambil memijat bahu sang guru dan menjilat bibir di dekat telinganya, Sena berucap.

 

...Secara garis besar aku setuju, tapi ada dua poin yang harus diluruskan.

 

Pertama. Biasanya Iruka-chan tidak pernah memakai cara paksa yang tidak menerima penolakan seperti ini. ...Hari ini, karena ada alasan mendesak, aku cuma menemaninya saja.

 

Satu lagi────jangan samakan aku atau Iruka-chan dengan kamu, Sena.

 

Rumor Iruka-chan itu hoaks, dan rumorku itu prasangka... tapi kalau Sena sih gara-gara kelakuannya sendiri, kan.

 

", T-Tapi itu... bukan alasan yang membenarkan kamu diculik dari kelas──"

"────────Malam tiga kali. Nnn... Pagi dua kali, kali ya~?"

 

"────!?"

 

Sambil membenamkan hidungnya ke rambut hitam sang guru, Sena berbicara dengan bibir yang makin membasah.

 

...Seperti biasa, keahliannya jijik banget. Melihat mata sang guru membelalak karena tebakannya tepat sasaran, tapi tidak bisa kabur karena bahunya dicengkeram, untuk pertama kalinya aku merasa kasihan padanya. Yah, walau cuma seujung sendok teh sih.

 

"A... Apa-apaan──"

 

"Nafsuan banget ya Bu Guru Subaru, Bu Subaru Mana~♪ Ya habisnya sekolah ini banyak siswa bermasalah mulai dari aku, jadi stresnya menumpuk ya~? Rasa jengkelnya berubah jadi rasa pengen, terus kalau gak dilampiaskan di atas kasur gak bakal tahan, ya~? Wah, kasihan banget ya~ Teman pria yang harus melayani Bu Guru♪"

 

"────"

 

Tangan dan jari yang meluncur halus dari bahu bergerak dengan menggoda bagaikan tentakel gurita.

 

Mengunci pandangan sang guru yang sudah gemetaran.

 

"Hihihihihi... Kalau tiap pagi dan malam diminta terus-terusan tanpa henti, rasa capeknya gak bakal hilang, kan~? Hihihi. Hei, bagaimana kalau aku yang mengistirahatkan teman priamu itu──"

 

", Uwaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahh!!"

 

Aah, memalukan banget.

 

Padahal ke Iruka-chan sok berkuasa begitu, tapi begitu diancam Sena, langsung lari terbirit-birit. Sampai-sampai nekat melepaskan diri dari kuncian Sena walau cuma sebelah tangan.

 

Daripada kena masalah, mending jauhi anak aneh... Harusnya dari awal biarkan saja seperti guru-guru lainnya.

 

"Yah... Padahal kelihatannya lumayan lezat, sayang banget deh♪"

 

"...Aku makasih sih sudah ditolong, tapi Sena............ Gimana ya, gak ada cara lain apa?"

 

Melihat Sena yang menjilati tangan kirinya yang masih berbekas suhu tubuh sang guru seperti anak SD makan keripik kentang, aku menghela napas. Dekapan Iruka-chan masih tetap kuat, jadi aku tidak butuh lengan penyangga dan punya keleluasaan untuk memegang keningku.

 

Ya ampun... Meskipun teman sesama yang tersingkirkan, kenapa

teman-temanku.

 

Isinya orang-orang yang bikin pusing begini semua, sih.

 

"Malah terang-terangan bikin klaim kejahatan gitu... Nanti makin

dipandang sebelah mata, tahu? Biar kata para guru gak peduli... Keributan tadi juga dilihat banyak orang──"

 

"Hihihi♪ Khawatir ya~? Shiori-chan baik banget deh♪ Pantas saja, biar teman-teman (kami) gak terseret ke pembalasan dendam (kekerasan tanpa alasan) keluarga yakuza────Dia pakai alasan begitu, tapi sebenarnya cuma gak mau kita mengganggu perjalanan berangkat-pulang sekolah (kencan) sama Onii-chan tersayang (bodyguard)-nya aja kan~♪ Hihihihihi, baik banget, baik banget, baaaaeeekk banget♪"

 

Melihat Sena yang menari-nari kecil seperti penari balet sambil bicara begitu.

 

...Rasanya bodoh banget sudah mengkhawatirkannya walau cuma sedikit. Dia kira aku ikut dalam penculikan ini dengan perasaan seperti apa, coba. Helaan napas besarku tidak bisa berhenti............ Entah kenapa tiap kali aku menghela napas, dekapan Iruka-chan malah makin kencang.

 

"Bukan alasan tapi fakta, itu hal utama yang harus ditegaskan...... Haaah. Kamu bakal menepati janjimu, kan? Soal kemarin, waktu sama Onii-chan............ Kamu janji gak bakal menyebarkannya sembarangan kalau aku cerita. ...Sebagai bukti aku gak bakal kabur, aku mau ikut penculikan (sandiwara) ini, kan."

"Hihihi, ya tentu saja dong Shiori-chan♪"

 

Sambil menyeringai jahat, Sena makin mendekat.

 

...Matanya yang berbinar aneh itu bikin risih dan cemas. Duh... Apa mata orang tua kacamata hitam itu sudah katarak atau gimana sih... Dari sekian banyak orang, kenapa harus ke Sena, ke Sena yang ini!

 

BISA-BISANYA melaporkan keadaanku dan Onii-chan ke dia buat jadi

pengawas!

 

Begitu bel pelajaran keempat selesai dan wanita rubah ini memberitahuku hal itu, aku refleks kabur tahu. Kenyataan kalau

Iruka-chan berhasil menangkapku itu benar-benar di luar dugaan.

 

Mungkin dia dihasut sama si bodoh Sena ini... Tapi, tapi, tapi!

 

Sebagai tempat curhat soal hubungan asmara, Karasawa Sena itu pilihan yang paling salah!

 

Habisnya, habisnya anak ini──

 

"Jujur ya~ Membongkar skandal Onii-san yang jadi pengurus OSIS terus dihukum dengan kasar gara-gara marahnya dia itu bukannya jelek, malah boleh banget sampai-sampai aku sudah basah dari sekarang tahu~............ Tapi secantik-cantiknya aku, aku gak punya keberanian buat berurusan sama Ayahmu yang mantan yakuza itu♪"

Sambil menggerakkan pinggulnya dan memegangi pipinya yang merona, Karasawa Sena ini.

 

Punya penyimpangan seksual yang beracun... Yaitu merebut pria yang sudah punya pacar.

 

Ugh... Jujur, kalau di sekolah aku pikir kita bisa melakukannya sembunyi-sembunyi. Tapi sekarang situasinya udah gak memungkinkan tahu! Dasar si bodoh penyuka tikung ini! Aku jadi harus mengawasinya supaya dia gak macam-macam ke Onii-chan! ...Lho? Kalau dipikir-pikir, apa rencana Ayah malah sukses besar, ya? ────Tapi buat lambungku sih ini kegagalan besar!! "La-gi-an~? Yang bilang pengen tahu ceritanya secara detail kan bukan aku~"

 

"Hah? Ngigo tuh kalau udah mati aja deh, Sena. Padahal kamu yang mengancam, menutup jalan kabur, sampai melibatkan Iruka-chan waktu aku protes gak mau cerita...... Lagipula selain penyimpangan kayak kamu, mana ada orang aneh yang mau dengar urusan ranjang orang lain────Wap?!"

 

"............M-Maaf, ya............ Shiori-chan......"

 

Aku kaget. Tiba-tiba, kekuatan dekapannya... Bukan. Sudutnya. Telapak tangan yang menyangga tubuhku ditekuk ke dalam.

 

Ke dada Iruka-chan yang tidak menonjol, tapi pas dengan postur tubuhnya.

Wajah dan tubuhku ditekan kuat-kuat............ Aroma manis yang agak asam dan bikin pusing. Aroma agak berkeringat dan lembap yang merangsang bagian dalam otakku... Jujur, buat aku yang harus menahan diri, ini beracun banget......

 

Tapi... Dengan mata yang berkaca-kaca sampai tidak bisa ditutupi poni.

 

Kalau ditatap seperti itu............ Mana bisa aku melepaskan diri, kan......

 

"A-Aku...... cemas...... Shiori-chan...... kena hal jahat, atau...... disakiti, gak............ Laki-laki itu...... kasar...... dan menakutkan......"

 

"............"

 

"............Sampai...... memanfaatkan Sena-chan............ Maaf, ya──"

 

"...Ya ampun. Beneran...... anak baik banget ya, Iruka-chan ini."

 

Aku jadi benci sama tanganku yang pendek ini. Karena tidak sampai, mau tidak mau aku melingkarkan sebelah tangan ke leher Iruka-chan lalu menegakkan tubuh. Dengan tangan yang terulur itu, aku mengusap-usap kepala Iruka-chan.

 

Uwah, panas banget. Rasa mau terbakar.

 

Dia sampai tidak bisa berkata-kata dan mulutnya cuma menganga lagi.

 

Ya ampun... Siapa sih yang tega menyebarkan rumor tidak bermutu tentang anak yang polos, jujur, dan baik begini.

 

Pengen rasanya kubikin mereka kapok────walau Iruka-chan pasti tidak menginginkannya.

 

"Padahal gak cocok, tapi aku merasa tenaganya kuat banget. ...Aku sempat cemas kalau kamu cuma dihasut Sena...... Tapi gak apa-apa kok. Kalau alasannya itu, aku bakal cerita dengan benar buat bikin kamu tenang. Aku bakal bikin kamu paham kalau Onii-chan-ku itu dapat nilai 100 sempurna sebagai pacar."

 

"... Shiori-cha──"

 

"Huraa~♪ Makasih ya, makin gak sabar deh♪ Bahan imajinasi malam ini sudah ketahuan nih♪"

 

...Cerita ke Iruka-chan sih tidak masalah. Sama sekali tidak masalah.

 

Tapi Sena yang tiba-tiba bertepuk tangan dan menari kecil merusak suasana ini, rasanya ingin kuminta seseorang buat merusak gendang telinganya deh...! Berani-beraninya menyatakan hal seperti itu terang-terangan, bikin suasana hati rusak saja.

 

Haaah... Yah, kelihatannya dia tidak berniat mencari masalah sama

Ayah, sih.

 

"Sena."

Buat jaga-jaga, demi kesehatan mentalku────aku harus menegaskannya.

 

"Mau kamu terangsang atau gimana pas dengar ceritanya, aku gak peduli ya...... Tapi kalau sampai kamu berani macam-macam ke Onii-chan────kamu tahu kan akibatnya?"

 

"... Hihihihi...♪ Takutnya, mata itu...... Bikin merinding ya~♪ Iya aku tahu kok, Shiori-chan ini cemasan banget sih~♪ Imutnya......♪"

 

...Meskipun mulutnya bilang 'tahu'.

 

Tapi begitu melihat kelakuannya yang mengulum jari sambil mengusap batas antara baju seragam dan roknya menggunakan tangan yang bebas...... Tingkat kepercayaanku langsung merosot tajam tahu. Beneran deh, ubah sifat mesummu itu.

 

"Haaah... Aku lapar nih, Iruka-chan, ayo pergi? Kalau perlu di tengah jalan si bodoh Sena ini kita tinggalkan saja."

 

"............Mungkin...... susah. Aku...... lambat, sih......"

 

"Lho~? Mana nih pemikiran kalau meninggalkan teman itu jahat?"

 

Dari awal kita kan memang tersingkirkan, tahu.

 

Makanya hari ini pun kita berjalan di koridor demi mencari area aman yang tidak ada gangguan. Ke tempat yang penuh ketenangan tanpa keributan, keramaian, gunjingan, maupun spekulasi────seperti biasa, kita melangkah (menyelamatkan diri) dengan perlahan.

 

 

"Hah? Konyol banget kamu, mana mungkin hal kayak gitu diizinkan."

 

Melihat Rio yang tanpa rasa segan menjadikan dadaku sebagai bantal,

Haruya mungkin berpikir tidak perlu sungkan lagi.

 

Sambil menopang dagu di meja, Haruya menepis-nepiskan tumpukan dokumen seperti kipas lalu berbicara. ...Jujur, aku sudah siap kalau bakal dikatakan begitu, dan Rio yang tidur nyenyak tanpa memedulikan suara bising maupun volume suara juga masih dalam perkiraanku.

 

Di kursi seberang, adik kelas dengan wajah yang lebih tidak menyenangkan dari biasanya melayangkan decakan lidah Cih!! yang bergema.

 

Kamu ini beneran...... Seberapa benci sih sama aku. Lama-lama aku bisa sakit hati, tahu?

 

"Ya ampun...... Akhirnya sudah masuk bulan Oktober, dan festival budaya bakal diadakan akhir bulan ini, tahu? Harusnya waktu pelajaran saja terasa berharga. Sabuk pengaman dilepas pas Sabtu-Minggu, begadang juga siap! Di tengah situasi begini, Kenji, mana mungkin cuma kamu doang yang bisa libur mendadak di hari Sabtu minggu ini (dekat banget lagi)."

"Ugh... So-Soal itu sih aku paham banget...... Tapi, khusus hari itu saja──"

 

"Yah, saya paham sih alasan kenapa Senpai pengen libur."

 

Puk.

 

Sambil meniup bekas kemasan jeli kelima yang sudah penyok────sambil mencibir dengan tatapan mata dan lidah yang tajam, Fuyuru Koshino menyudutkanku.

 

"Palingan hari Sabtu, hari libur, di rumah sepi cuma berdua tanpa orang tua, Senpai berniat melampiaskan hal mesum yang gagal semalam, kan? Haaa, jijik banget, jijik, jijik. Baunya bau sperma, jadi bisa gak jangan mendekat dalam radius 200 mil laut? Senpai Monyet Jantan."

 

"Hah!? Ka-Kamu, hei! Kenji, jangan-jangan kamu demi hal itu──"

 

"Bukan!! Hari Sabtu mau bagaimanapun Ibu ada di rumah kok────Lagian, masa iya setelah kejadian kemarin aku nekat merencanakan hal sejauh itu!! Yang ada aku beneran dibunuh Ayah!!"

 

Melihat Haruya yang panik dan kembali mengeluarkan tang, aku menyangkalnya dengan keras.

 

...Gak bakal lah. Hal kayak gitu sudah kuketetapkan buat ditahan kemarin. Sambil menahan gejolak perasaan.

 

Ya ampun... Koshino juga, kenapa sih bisa seagresif ini ke aku......

 

Seingatku aku tidak pernah melakukan sesuatu padanya......

 

"P-Pokoknya! Khusus hari Sabtu tanggal 4 Oktober nanti!! Izinkan aku libur dari tugas OSIS!! Nanti bakal kuganti berkali-kali lipat kok!! Tolonglah Haru!!"

 

"T-Tunggu...... Kamu nekat banget sih...... Sampai merapatkan tangan dan menundukkan kepala begitu, kamu kira kita ini dewa apa......"

 

"Haru-senpai. Mau saya ceritakan soal alkitab yang bilang kalau dewa itu lebih banyak membunuh manusia daripada iblis?"

 

"... Koshino, tolonglah. Kali ini saja loloskan aku. ......Nanti, apapun yang kamu minta bakal──"

 

"...................Aah, ngomong-ngomong, gitu ya..."

 

Mnyuk.

 

Sebuah gumpalan yang panas, lembut, tapi sangat membal, ditekan tepat di dadaku yang sedang merendah sampai sejajar dengan lantai────dan aku baru menyadarinya.

 

Di leherku yang sedang menunduk bagai orang berserah diri, tanpa disadari.

 

Lengan kurus dengan lengan baju yang kebesaran telah melingkar dengan erat.

 

"... Ri-Rio...!? Kamu, sudah bangun...!?"

 

"Ke-napa hal kayak gitu gak diomongin ke aku duluan sih, Ken-chan. Padahal aku pasti langsung bilang OK tanpa mikir dua kali, tahu."

 

Ugh, ya justru karena itulah!

 

Kalau aku minta ke kamu yang merupakan teman dekat sejak kecil sekaligus orang yang mengajakku masuk OSIS, permohonan liburanku pasti bakal langsung lolos dalam sekali tebas. Tapi itu... bakal bikin aku gak enak hati sama sahabatku Haruya dan adik kelas kita, Koshino, kan.

 

"...Buat sementara waktu, bisa tolong lepasin dulu gak, Ketua? Aku juga cowok, tahu... Kalau diginiin tanpa alasan jelas, aku yang repot sendiri...!"

 

"Eeeh? Padahal kamu sama sekali gak ngerespons, tahu. Padahal aku udah berusaha tumbuhin ini, padahal udah kukena-kenain, tahu."

 

Kutarik rambut pink-nya yang bahkan tidak dipedulikannya dari segi perawatan dasar apalagi gaya rambut, lalu secara perlahan kulepaskan tubuhnya yang bersuhu tinggi. ...Hei hentikan, jangan menepuk-nepuk selangkangan orang sembarangan.

 

Ya ampun, anak ini beneran gak ada sungkan-sungkannya... Lagian, uwah, meskipun udah kudesak mundur sampai cuma bisa menunggangi lututku, tapi rambutnya lengket banget kan. Apa kamu keramas dengan benar? Baunya juga tajam... Ini sih harus minta tolong Shiori lagi buat merawatnya. ...Makin susah saja rasanya buat libur.

 

Tapi, khusus hari itu. Hari itu saja mau bagaimanapun aku harus

merebut hari libur itu...!

 

"Cih, mesra banget kalian berdua. Terus? Apa Ketua tahu? Alasan Kenji rewel banget pengen libur hari Sabtu nanti."

 

"Iya. Belakangan ini... Hwaaaah... Nn, sibuk banget, jadi aku bener-bener lupa~ ────Hari Sabtu besok lusa, tanggal 4 Oktober itu, ulang tahunnya Shi-chan... adik perempuan Ken-chan, tahu~ Terus Ken-chan itu tiap-tiap tahun selalu ngasih kejutan hadiah buat Shi-chan pas ulang tahun~"

 

...Benar, hal itu sudah menjadi kebiasaan rutin tahunan yang mendarah daging.

 

Aku yang tidak punya tempat lain untuk menghabiskan uang, selalu mengerahkan seluruh kemampuanku hanya untuk acara ini setahun sekali. Bahkan jika celengan yang membengkak penuh harus menjadi kosong melompong, demi ukiran senyuman adik tiriku, Shiori, itu adalah harga yang murah. Nilai yang tidak bisa digantikan dengan uang, mungkin adalah ungkapan yang tepat untuk menggambarkan senyuman itu.

"Hadiah buat adik perempuan, ya... Ngomong-ngomong Ketua, tahu gak hadiah-hadiah yang pernah dikasih sejauh ini?"

 

"Soalnya Shi-chan selalu pamer dengan wajah bahagia sih~ jadi aku ingat betul~ Tahun lalu buffet kue di Hotel Diamond, kan~? Dua tahun lalu jalan-jalan sehari ke Kamakura, terus sebelum itu pernah ngasih kue cokelat mewah hasil undian penjualan, kan~"

 

" ...Tingkat keseriusannya luar biasa sampai bikin ilfil ringan nih... "

 

"Sejak tiga tahun lalu gaya sok-sokan jadi pacar sudah kelihatan transparan banget, jijik ya Senpai."

 

Jangan asal bicara sesuka hati kalian ya.

 

Mau bagaimana lagi, ini kan kesempatan emas untuk menyampaikan perasaan suka secara legal dan terselubung. Lagipula dulunya kupikir ini cinta bertepuk sebelah tangan, jadi wajar saja kalau aku jor-joran.

 

"Terus~? Ken-chan tahun ini mau ngasih apa? Pengen libur di hari H berarti tipe yang pergi ke suatu tempat, ya?"

 

"............Tiket penentuan tanggal Galactica Land...... buat dua orang......"

 

"Haaah!?"

 

Brak!! Haruya berdiri sambil memukul meja. ...Dia kelihatan sangat guncang sampai-sampai menjatuhkan tang yang masih dipegangnya.

Jarang-jarang nih.

 

"Ka-Kamu bilang Galactica Land!? Taman hiburan sangat populer yang katanya punya pendapatan tertinggi di antara taman hiburan se-dunia!? Tempat itu kan harganya naik terus belakangan ini, tiket satu harinya saja harusnya 12.000 yen per orang, dan itu buat dua orang...... Kamu yang sibuk di OSIS dan bantu pekerjaan Ayahmu kan gak punya waktu buat kerja sampingan!? Bagaimana caranya kamu memutar otak buat dapat biaya segitu!!"

 

"...Sejak tahun lalu, aku memangkas uang jajanku. ............Karena

semuanya sudah dibongkar, jadi ya begitulah alasannya. Tolonglah... khusus sehari besok lusa saja, izinkan aku libur...!!"

 

Aku menundukkan kepala ke celah tempat Rio berada, yang sudah menepi karena tahu situasi. Napas Rio yang panjang dan tenang saat menjadikan bahuku sebagai bantal alih-alih dadaku, berembus

mengenai cuping telingaku.

 

...Harusnya aku tidak melakukan hal semacam memohon belas kasihan begini, tapi memenangkan hari libur dengan kekuatanku sendiri adalah hal yang benar............ Tapi kalau situasi sudah sampai di tahap ini, mana ada kemewahan untuk memilih cara.

 

Meskipun kejadian kemarin baru saja terjadi────tidak, justru karena itulah!

Aku ingin Shiori tersenyum. Aku tidak mau lagi melihat wajahnya yang terus-terusan marah dan kelihatan seperti mau menangis setiap saat seperti itu.

 

Aku sudah bersumpah. Untuk berpacaran. Untuk menikah. Untuk berada di sisinya seumur hidup.

 

...Sebelum lidahku kering, aku tidak boleh melakukan hal menyedihkan

seperti tidak bisa memberikan hadiah ulang tahun yang layak. Tidak boleh sama sekali.

 

Makanya────setelah masuk OSIS selama lebih dari setahun. Ini adalah momen paling serius bagiku untuk menundukkan kepala.

 

" ...Uaaaaaaaa............ Ugh, sialan...! Aku... aku harus bagaimana...!?"

 

Tapi.

 

Mendengar erangan mirip pahlawan yang tubuhnya hampir diambil alih oleh kepribadian jahat, secara refleks aku mendongakkan wajah.

...Sesuai dugaan, di depanku Haruya sedang mengerang kesakitan sambil menggeliatkan tubuhnya.

 

"Ugh... Demi orang yang dicintai, usaha dan penghematan yang

dilakukan selama setahun... Dia beneran, anak ini beneran serius...!!

Tapi... tapiii!! Aku gak bisa memaafkan keberadaan cowok bermesraan, aku benci, benci banget...!! T-Tapi... lawannya adalah sahabat sendiri... lagipula kalau kutolak di sini, anak perempuan pihak sana juga bakal menangis... Aaaah!! Aku, aku harus bagaimanaaaaaa!?"

 

", Gak perlu bingung segala, Senpai!!"

 

...Rasanya otakku menolak untuk memahami apa yang sedang

diperlihatkan di depanku ini.

 

Koshino mendekap Haruya yang berguling-guling memegangi kepalanya dengan sangat lembut. ...Kalau cuma itu sih pemandangan yang menghangatkan hati, ya, kalau saja tidak menghitung Koshino yang melangkah seenaknya di atas meja.

 

"Fuyuru............"

 

"Tenang saja Senpai────Kalau Senpai ini kehilangan tiketnya, kita bisa menyuruhnya datang bekerja secara legal kok."

 

"Gak bakal hilang lah! ...Koshino, kamu pikir aku ini apa sih."

 

Aah, ternyata jiwanya tetap hitam pekat.

 

Wajah senyum penuh kasih sayangnya dalam sekejap berubah menjadi ekspresi iblis yang menghasut orang. Dan si Haruya itu malah terpesona dan tertawa lebar melihatnya. Hei, kenapa kalian malah saling berpegangan tangan dengan erat gitu.

"Dengar ya Koshino, terlalu meremehkanku itu sungguh disayangkan tahu? Ini hadiah buat adik tiri (pacar) paling berharga di dunia, mana mungkin hilang. Sudah kusimpan dengan sangat ketat."

 

"Senpai sendiri yang terlalu dangkal. Anda pikir Fuyuru cuma berharap pada kecerobohan orang lain?"

 

Sambil berbicara. Sambil menunjukku dengan jari tengah secara tidak sopan.

 

Koshino mencabut satu jepit rambut yang terpasang di tempat yang tidak mencolok... melutuskannya secara perlahan, lalu mengeluarkan gembok dari sakunya.

 

Dia memasukkan jepit rambut yang diluruskan itu ke lubang kunci... menguliknya... belasan detik kemudian.

 

"────Hasil yang diinginkan itu adalah sesuatu yang harus digapai

dengan tangan sendiri, itulah prinsip Fuyuru."

 

Klak, dia memperlihatkan gembok yang terbuka dengan mengeluarkan suara.

 

Dia membusungkan dadanya yang tipis, dan entah kenapa memasang wajah sok hebat.

 

"............Hei Rio. Ada calon kriminal di antara pengurus kita, apa tidak

apa-apa nih?"

"Bener tuh Fuyuru, membobol kunci terus masuk ke rumah orang dan merampasnya, mana boleh melakukan hal kayak gitu."

 

Ooh, Haruya yang kupikir sudah terhasut, ternyata mengeluarkan pendapat yang cukup wajar.

 

Biar-biar begitu dia tetap pengurus OSIS. Dia punya kapasitas yang cukup untuk menyatukan murid-murid yang berada di tingkat membikin mual karena terlalu bertingkah. Apalagi Haruya adalah Wakil Ketua OSIS. Tingkatannya beda denganku yang cuma urusan umum──

 

"Tiketnya kan bisa diterbitkan ulang, jadi kalau tidak meretas server

Galactica Land dan menghapus data tiketnya dulu, tidak ada artinya dong?"

 

"Hah...!! Bener juga!! Hebat banget Senpai, jenius!! Serahkan padaku, kalau perusahaan menengah ke bawah sekitar sini aku pernah membobolnya buat latihan!! Segera kuterjakan!!"

 

"Ooh! Kuserahkan padamu, Adik Kelas!!"

 

"Gak ada orang yang waras apa di OSIS ini!!"

 

Gak bisa! Dia beneran terhasut sampai ke akar-akarnya! Malah jatuh ke kegelapan lebih dalam daripada iblis!!

 

Apa-apaan OSIS ini... Tidak, sekali lagi apa-apaan OSIS ini!? Bukannya kelakuan, keanehan, ego, dan kepribadian mereka baru saja melompati berbagai batas!?

 

Tiga tahun lagi jangan-jangan ada wawancara yang datang terus bilang 'Kami sudah menduga suatu saat bakal begini...' kan!? Aku gak mau ya teman atau adik kelasku punya catatan kriminal biar bagaimanapun juga──

 

"Boleh kok, Ken-chan. Libur aja lusa."

 

", Haaah!?"

 

Yang merespons suara mengantuk Rio itu.

 

Bukan aku yang berada paling dekat, melainkan sahabat (sementara) yang sudah jatuh sepenuhnya ke jalan kejahatan.

 

"O-Ohoi Ketua! Boleh nih!? ............Mumpung lagi begini sekalian kubilang ya, ...Kamu itu suka kan sama Kenji!? Tentu saja aku tahu tahu!? ────Pria yang kamu sukai mau pergi kencan sama saingan cintamu, tahu!? Harusnya kamu adalah pihak yang paling menentang, kan!? Iya kan!?"

 

"...Ken-chan itu ya, dari dulu gak jago menyimpan rahasia tahu."

 

Memindahkan pantatnya dari kaki kanan ke kedua paha, dan memindahkan kepalanya dari bahu ke dadaku, dia bener-bener menjadikan orang sebagai kursi.

 

Sambil meraba-raba kedua pipiku tanpa melihat, Rio melanjutkan.

 

"Kelihatan jelas di wajahnya tahu, mau bagaimanapun. Tahun lalu, dua tahun lalu, dan jauh sebelum itu, Shi-chan selalu tahu kok. Kejutan tahun ini juga palingan sudah ketahuan. Kalau sampai batal gara-gara urusan OSIS, nanti aku disukai Shi-chan jadi berkurang, dan yang paling utama, kasihan Shi-chan-nya tahu."

 

"............"

 

...Haruya bungkam, tapi aku sendiri juga tidak bisa mengeluarkan kata-kata.

 

............Kenapa si gadis rambut pink ini selalu bisa menebak tepat di sasaran terus sih... Memang benar, pada akhirnya aku selalu gagal bikin kejutan! Semuanya selalu ketahuan entah kenapa!

 

Apa semudah itu kelihatan di wajahku, ya? Terus anak ini mau meraba pipiku sampai kapan coba. ...Bukannya mau bilang mengganggu sih, tapi rasanya geli tahu. Kedua tangannya terangkat, punggungnya menegak, dan dadanya yang membengkak seperti balon jadi makin tertekankan.

 

Kancing bajumu bisa terlepas tahu. Sudah berapa kali aku harus membetulkan seragam gara-gara ini? Kalau itu sih aku beneran gak mau ya?

 

"Pekerjaan bagian Ken-chan bakal aku selesaikan kok. Aku memang suka banget sama Ken-chan, tapi aku juga sama sukanya sama Shi-chan............ Aku gak mau kalau sampai dibenci. Beneran... gak mau. ............Gak boleh ya? Haru-chan, Fuyuru-chan."

 

"... Kalau kamu bilang sampai segitunya... kami gak berhak ikut campur lagi. ......Kenji!! Kalau kencanmu gagal, bakal kupukul kamu sampai tersisa efek sampingnya, ya!?"

 

...Mungkin lelah, aku mengusap-usap bahu Rio yang lengannya terkulai

lemas.

 

Mendengar deklarasi izin yang diucapkan setengah pasrah itu, aku menyunggingkan senyum lega yang agak menyedihkan.

 

 

"Hee~... Fuun, ho-ho hee~...♪"

 

────Jujur, hal seperti itu sudah menjadi makanan sehari-hari bagi

kami.

 

Kalau cuma sok suci dan menginterogasi saja sih masih mending. Yang paling mengganggu itu kalau menganggap pertemuan itu sendiri sebagai musibah, lalu berteriak histeris dengan wajah sok kasihan. Sudah tidak terhitung lagi berapa kali kami dipanggil secara tidak adil oleh guru dan diperlakukan sebagai pembuat masalah gara-gara hal itu.

 

Tiga orang anggota kelompok tersingkirkan dan aliansi tidak punya teman ini, makanya sudah menjadi hal biasa bagi kami untuk makan siang sembunyi-sembunyi di tempat sepi agar tidak diganggu sembarangan.

 

Gudang di ujung aula olahraga kedua yang jarang dibuka. Tempat yang dipenuhi tumpukan matras, peti lompat, dan keranjang berisi berbagai macam bola yang ditinggalkan berantakan itu, berkat adanya jendela kecil, meskipun agak remang-remang tapi bau debunya sangat minim.

 

Sena yang sudah menghabiskan roti manisnya dengan cepat, menunggangi peti lompat sambil menggoyangkannya ke depan dan ke belakang.

 

Senyum cengengesan Sena yang mencurigakan itu justru jauh lebih mengganggu.

 

"...Apaan sih, Sena. Padahal aku sudah membuang rasa malu dan cerita terpaksa...... Sekali lagi kubilang ya! Sia-sia saja kalau kamu berencana merebut Onii-chan, tahu? Kita ini sudah saling suka secara terselubung selama 10 tahun, tahu? Kamu pikir dia bakal tergoda sama cewek mesum yang tiba-tiba muncul?"

 

"Nnn~... Gimana, ya~...♪"

Matanya menatap dengan teliti.

 

...Tatapannya seolah menjilati seluruh tubuhku. Sena yang mengarahkan pandangan lengketnya itu, melihatku yang gemetaran karena risih di atas matras, senyumnya jadi makin lebar.

 

"Kalau didengar-dengar~"

 

Hup, begitu melompat turun dari peti lompat, Sena melangkah menuju keranjang berisi bola di seberang. ...Langkahnya begitu sempoyongan sampai-sampai aku curiga apa roti melon yang dimakannya tadi ada campuran alkoholnya. Sambil berputar-putar, dia mengarahkan pandangannya ke arah kami yang duduk di matras............ Senyum cengengesannya itu beneran bikin kesal tanpa alasan.

 

...Harusnya aku tidak cerita jujur semuanya cuma gara-gara dipaksa dengar oleh si kacamata hitam itu.

 

............Baru kepikiran sekarang, rasanya jadi malu sendiri. Dari tadi

Iruka-chan memelukku erat tanpa melepaskannya... Rasa panas yang sedikit naik ini, gak ketahuan, kan...?

 

"────Onii-san, kurang puas kan ya~"

 

Tiba-tiba.

 

Sena mengambil sebuah bola voli, Srr... jarinya mengelus permukaan bola itu.

Kata-kata Sena yang menjilat bola voli yang sudah dibersihkan debunya itu menarik perhatianku.

 

"... Ngomongin, apaan──"

 

"Ngomongin barangnya. Ya habisnya Shiori-chan kan sudah digapai dan disentuh seluruh tubuhnya pakai jari, terus sudah dapet ciuman lidah juga jadi pasti puas banget, kan~? Shiori-chan kan agak-agak kayak putri alami gitu ya, paling suka dirawat dan dilayani♪ Ta-pi~ Onii-san kan disuruh merawat kayak pelayan atau pembantu, tapi dirinya sendiri malah disuruh menahan dan gak dikasih jatah melampiaskannya, sampai sekarang masih tertahan (disuruh 'diam'), kan? Disiksa setengah

mati begitu, kasihan banget~...♪"

 

Srekh, srekh, srekh, Sena mengusap-usap bola voli yang mulus itu ke

pipinya. Mengusapnya dengan ujung jari, mengelusnya, merengkuhnya────────, Me, sum... Mesum mesum mesum mesum!!

 

"...Pemikiran paling menyedihkan...!"

 

"Mau menggonggong juga itu kan fakta~ ...Hihi, gi-ma-na ya? Kalau disenggol sedikit saja dadanya, apa bakal langsung meledak~? Kalau sampai begitu, Onii-san bakal jadi antek-antekku dong♪ Mau gak mau harus bungkam, ka-lye~...♪"

 

", Jangan bercanda ya Sena!! Sebelum hal kayak gitu terjadi, aku bakal duluan──"

"............Gak, boleh."

 

Grep.

 

Kekuatan dekapannya, rasa panasnya, sedikit mengencang. Di dekat telingaku, suara basah berbisik dengan sangat lemah dan ketakutan.

 

Bahu maupun tonjolan dadanya terasa lembut, rapuh, dan rentan.

 

...Makin disentuh makin terasa getaran kecilnya.

 

"Iruka, chan...?"

 

"............Gak boleh, Gak boleh, tahu...? Shiori, chan............ Mau seberapa, mau seberapa benar-benar... saling suka pun, tapi, tapi............ Gak boleh, tahu..."

 

Mendekap, kata itu terlalu kuat untuk menggambarkan betapa rapatnya penempelan ini. Dia menindihku dengan sangat lemah.

 

Iruka-chan merangkai kata-katanya dengan terputus-putus.

 

" ...Kalau lihat Sena-chan...... kamu paham, kan...? Apalagi, walau cuma tiri...... sama Onii-san...... sama laki-laki...... melakukan hal mesum...... kalau, kalau sampai,, kalau sampai──"

 

"────Aku paham kok, Iruka-chan."

 

Tetes, tetes, tetes. Air mata menetes deras.

 

Mati-matian menahannya, kepala yang membasahi rokku dengan tetesan air mata besar itu kuusap selembut mungkin. ...Karena kepalanya ada di bahuku, lengan kananku tidak bisa bergerak dengan baik sih.

 

Aku paham. ...Aku beneran paham kok. Itu gak boleh. Justru karena aku berteman dengan Iruka-chan yang dipermainkan hoaks, aku jadi makin paham.

 

Mau sekeras apa pun berteriak kalau ini cinta sejati, kalau sampai terjadi hal 'Seorang kakak menghamilkan adiknya'────potongan fakta itu tetaplah sebuah kebenaran. Mana ada orang yang bisa hidup tanpa rasa malu sambil menanggung label seperti itu di negara dengan budaya masyarakat desa yang kental ini... aku paham soal itu.

 

Aku paham... kok.

 

"Karena aku paham. Makanya... jangan menangis begitu──"

 

"Eeeh~? Tapi tapi tapi ya~? Apa Shiori-chan merasa cukup cuma dengan begitu saja~?"

 

...Sama sekali tidak peduli kalau dirinya lahir dan dibesar di negara kepulauan ini, si tidak tahu malu itu.

Sambil menekan-nekan dadanya yang cuma sedikit lebih besar dari Iruka-chan dari kiri dan kanan hingga membengkak, dia berbicara sambil mempermainkan bola seperti raket.

 

"Ka-lay-gak-sa-lah? Shiori-chan besok lusa ulang tahun, kan~? Padahal sudah sah jadi pacar, ini ulang tahun pertama, lho~? Dari zaman masih jadi Onii-chan biasa saja, pria yang sudah menyiapkan hadiah niat banget kayak buffet kue atau jalan-jalan sehari itu, mana mungkin gak menyiapkan hadiah spesial~♪ Misalnya kalau diundang ke tempat kayak begitu────kalau gak nunggangin barang yang sudah disajikan, rasanya agak gimana gitu~?"

 

"............Haaah."

 

Rasa kesalku sudah berputar tiga kali hingga berubah menjadi keheranan. Bahuku terkulai lemas, dan tanpa sadar helaan napas lolos dari mulutku.




Kalau seandainya di kelas cewek-cewek yang tersingkirkan itu bukan kami bertiga.

 

Iruka-chan sih tak tahu ya, tapi kalau Sena, pasti kami bahkan tidak akan berteman. Nilai-nilai kehidupan dan pandangan hidup kami terlalu berbeda.

 

Lagipula... mau bagaimanapun────kamu terlalu meremehkan Onii-chan, tahu.

 

"Jangan samakan korbanmu dengan Onii-chan-ku, Sena."

 

Sambil menaburkan bubuk habanero yang kubawa sendiri, aku mengunyah brokoli. ...Iruka-chan mengusap-usap bagian dadaku yang sama sekali tidak terasa hawa jahat, tapi aku tidak apa-apa kok? Aku kan suka pedas. Lambungku tidak rusak kok? Lagipula diusap dari luar baju juga tidak bakal sembuh, tahu?

 

" Sayangnya, Onii-chan itu tidak sama seperti monyet yang tenggelam dalam nafsu dan berpikir pakai bagian bawah tubuhnya. Malah sebaliknya, kamu tahu tidak betapa susahnya aku berjuang demi menjatuhkannya...────Lagipula hadiah darinya bukan hal yang tidak sehat seperti itu. Taman bermain impian tempat kita bisa bersenang-senang kembali ke masa kecil, paspor satu hari Galactica

Land... Fufu... Ah, bukannya baru sekarang, tapi sejak seminggu lalu aku sudah terus-terusan tidak sabar...!"

 

"...Kenapa isi hadiah yang belum kamu dapatkan saja sudah tahu, sih. Seram banget sih yang punya brother complex..."

 

Kenapa kamu malah ilfil, sih. Kamu pikir kamu punya hak buat begitu?

 

Dasar wanita pengganggu profesional.

 

Tentu saja aku tahu, dan wajar banget kalau aku tahu. Habisnya ini soal Onii-chan, tahu?

 

Kalau soal orang yang disukai, wajar saja kan kalau paham segalanya.

 

"Enak, ya."

 

Tiba-tiba.

 

Iruka-chan yang berguling di atas matras, menjadikan pahaku sebagai bantal, lalu mengusap-usap perutku lagi. ...Tidak, makanya aku bilang tidak apa-apa. Organ dalamku tidak rusak kok.

 

Khawatir banget sih anak ini............ Beneran anak yang baik.

 

"Aku, juga... sama Shiori-chan, ke taman bermain... ingin pergi............ Gak boleh?"

 

Mnyuk, mnyuk. Srekh, srekh.

 

Dia mencolek pinggangku, dan mengesekkan pipinya ke perutku...

Rasanya geli tahu. Kamu ini anjing ras besar yang lagi menandai wilayah apa? Padahal badannya lebih tinggi dari Onii-chan, tapi imutnya tidak tahan deh, ya ampun.

 

...Dia bukan anak jahat sih, dan aku suka dia sebagai teman, tapi ya.

 

" ...Kalau ditraktir Iruka-chan, aku boleh saja ikut? Tentu saja, makanan di dalam taman bermain juga semuanya, ya?"

 

"Ugh............ Jahat..."

 

Sambil membawa matanya yang masih sembap bekas menangis, Iruka-chan memanyunkan bibirnya.

 

Haaah... Benar-benar dua teman yang bertolak belakang, ya ampun.

 

Rasanya seperti mengurus anjing Golden Retriever dan ular habu secara

bersamaan.

 

*TL/Note: Ular Habu adalah ular berbisa khas Okinawa, Jepang. Di sini digunakan sebagai perumpamaan yang berlawanan dengan Golden Retriever: satu jinak dan bersahabat, satunya berbahaya dan galak

 

Sambil mengelus rambut hijau mudanya yang halus seperti kain saten,

aku beralih ke nasi putih yang tersisa di kotak bekal.

 

Aku menaburkan habanero dan lada lada sansho, lalu bersiap untuk menyudahi istirahat siang yang tersisa kurang dari 10 menit ini────Kencan taman bermain yang bikin dada berdebar dan jantung berdegup kencang cuma dengan membayangkannya saja ini, akhirnya tinggal besok lusa.

Agar bisa bersenang-senang dengan sekuat tenaga di hari H, aku harus mengisi ulang energiku dulu, kan.

 

 

"Ugh..., Shiori, agak kecepatan sih, tapi selamat ulang tahun, ya. Ini, hadiah ulang tahun buatmu."

 

"................"

 

Jangan pernah membiarkan Shiori Amakawa sendirian, biarpun itu di jalanan menuju sekolah────sejak hari aku diangkat menjadi kakaknya, itu adalah peraturan tidak tertulis yang tidak pernah kulanggar. Situasi, alasan, risiko, hingga rasa takut, semuanya sudah ditanamkan oleh Ayah padaku. Lagipula, bisa menjadi perisai untuk Shiori itu sendiri adalah sebuah kebanggaan bagiku.

 

Karena itulah hari ini pun, aku meminta izin menyelesaikannya lebih awal dari OSIS setelah jam sekolah, lalu pulang bersama Shiori.

 

Karena itulah fakta bahwa dia ada di rumah sudah sangat jelas... tapi di lantai dua rumah Amakawa, kamar kami berdua yang bersebelahan punya dinding yang cukup tebal hingga tidak ada suara yang bocor sedikit pun. Apakah dia ada di kamar, atau sedang menonton TV di ruang tengah────ketukan pintu untuk memastikan langsung

kehilangan tujuannya tepat setelah ketukan kedua selesai.

 

Dengan rambut yang terurai, dan mengenakan baju olahraga warna pink favoritnya sejak zaman SMP.

 

Shiori yang seolah menerbangkan gaunnya, membuka pintu seperti

hendak melompat keluar────tapi rasa kagetku cuma bertahan sesaat.

 

Meskipun agak sedikit memakan waktu untuk persiapannya.

 

Dua hari sebelum hari ulang tahunnya, hari Kamis tanggal 2 Oktober.

 

Aku berhasil menyerahkan benda itu kepada Shiori.

 

Kertas pembungkus yang terkesan agak berlebihan untuk sekadar menghias selembar kertas. Kertas bermotif bunga warna kuning dan oranye yang dilengkapi pita warna pink itu, diterima oleh Shiori seperti menerima ijazah kelulusan.

 

Dengan mata membulat dan mulut menganga polos──seolah sama

sekali tidak menduganya──

 

"Nn."

 

"Eh?"

 

──Tiba-tiba.

 

Di usiaku yang ke-17 ini, saat aku tersenyum puas dalam hati berpikir bahwa akhirnya kejutan ini berhasil────aku malah lengah di bagian kaki. Aku melayang karena rasa gembira dan pencapaian.

 

Sret, ujung baju rumahanku yang baru kuganti jadi lengan panjang, ditarik olehnya.

Hingga aku terseret sampai ke tengah kamar Shiori, tepat di atas karpet bulu bermotif Skandinavia yang empuk, dan pintu pun tertutup blek.

 

"............, ugh, Sh-Shiori? Kamu lagi, ngapain──"

 

"Duduk dong, Onii-chan. Di situ... yap, di kasur saja deh. Duduk di pinggirannya, ya?"

 

Ugh... Dia tidak sedang marah... sih, kayaknya. Mungkin.

 

Matanya tidak tajam. Nada suaranya juga tidak berapi-api. Malah matanya yang menatap dingin, lehernya yang miring, dan suaranya yang suhunya hampa itu... tidak terasa ada emosi, sehingga rasanya sedikit... menakutkan.

 

Kasur yang ditunjuknya sama persis dengan milikku. Rangka kayu, kasur busa empuk, dan selimut putih. Tapi... ugh, berada di tengah kamar yang terhimpit meja dan lemari pakaian saja sudah... ugh, rasanya aku mau mabuk oleh aroma manis seperti esens vanila.

 

Kalau sampai mendekat ke kasur yang menjadi tempat Shiori membenamkan tubuhnya setiap malam, tempat yang menjadi sumber dari aroma (bau tubuh) itu.

 

Ugh... Akal sehatku bisa meleleh, aku punya rasa percaya diri negatif seperti itu.

 

"A-Apa-apaan sih Shiori, g-gak boleh tahu, hal kayak begitu... Ka-Kemarin lusa! Kita baru saja dimarahi habis-habisan sama Ayah dan

Ibu, lagipula waktunya──"

 

"Sudah deh. Duduk saja."

 

...Kenapa ya, padahal perbedaan tinggi badan kami lebih dari 30 cm.

 

Tapi rasanya seperti sedang ditatap dari tempat yang sangat tinggi. Jari telunjuk yang diacungkannya terasa tajam seperti tombak.

 

Mundur karena gentar... dan tanpa sadar, seolah lututku dipaksa menekuk di rangka kayu kasur.

 

Bruk, pantatku mendarat di atas kasur──

 

"Bungkusnya rapi banget ya, padahal cuma selembar tiket taman bermain."

 

"............!"

 

──Srekh, srekh, srekh, dengan santainya.

 

Melihat Shiori yang menggoyangkan tiket dengan ujung jarinya sambil melangkah mendekat puk, puk... tanpa sadar aku menelan ludah.

 

Kenapa dia bisa tahu (kebongkar) isinya────pertanyaan dan rasa kaget semacam itu terpaksa kutelan bulat-bulat.

 

"Padahal kalau Onii-chan, supaya bisa menikmati makan-makan di dalam Galactica Land, harusnya memangkas pengeluaran bagian lain sampai irit banget, kan? Kertas kado, pita, selotip... Biarpun semuanya beli di toko serba seratus yen, harusnya habis sekitar 500 yen (setara satu porsi churros), kan............ Hei."

 

"!"

 

Sst, lewat baju tidur murahanku, pahaku diusap olehnya.

 

Rasanya geli, panas, dan seketika punggungku gemetaran────tapi, lebih dari itu.

 

Jantungku berdegup kencang sampai serasa mau melompat keluar dari mulut... sebaliknya, aku bisa merasakan suhu wajahku menurun. Kalau melihat cermin, pasti wajahku sedang pucat pasi, hal itu sangat mudah kubayangkan.

 

Kenapa tahun ini dia bisa tahu lagi isi hadiahnya, coba.

Bahkan pengalihan topik yang begitu terang-terangan itu────Puk, tubuh Shiori yang bersandar tanpa rasa waspada langsung membungkamku. ............Di atas lututku, rasa panas berkumpul... mengikis habis daya pikirku.

 

...Berbeda dengan Rio yang lembut dan berubah bentuk mengikuti bentuk kaki.

 

Sentuhan ini punya elastisitas yang pas, rasanya seperti ada kantong kompres air panas berbentuk bola yang ditaruh di atas lutut, sensasi seperti itu yang ada di lutut, di paha, jadi... hanya berada di dekatnya saja sudah membuatku sangat kesulitan untuk menahannya.

 

"Onii-chan────Siapa yang mengajarimu buat membungkus tiketnya jadi cantik begini?"

 

Srekh, srekh, srekh, srekh.

 

Tangan Shiori yang duduk di atas lututku menyentuh pipiku.

 

Mengusapnya. Menariknya, menekan, mempermainkannya... persis seperti Rio.

 

"Ugh, i-itu, sih..."

 

"Gak bisa jawab? Hei... Onii-chan yang adalah pacarku?"

 

────Semuanya sudah terbongkar. Tepat di saat aku menyadarinya, kali ini jantungku benar-benar berdegup kencang bagai mau meledak.

 

Ugh... Si Rio itu... ugh, iya memang ini lempar tanggung jawab. Tapi!

 

Kemarin, setelah dia menyetujui liburku di ruang OSIS! Sebelum mengantar Shiori pulang ke rumah sebentar, tepat setelah aku mengucapkan terima kasih!

 

──"Ken-chan... tiketnya, masa mau kamu kasih polos gitu saja...?"

Gara-gara dia bilang begitu! Tapi aku kan tidak punya selera seni seperti itu!

 

Makanya... aku Minta petunjuk dari Rio, lalu mati-matian membuatnya.

 

Sambil merobek berkali-kali kertas kadonya, tadi setelah pulang sekolah akhirnya aku berhasil menyelesaikannya. Sambil berharap dengan berdebar-debar, apakah Shiori akan bahagia melihatnya.

 

Tapi, tapi tapi ah... benar juga ya, benar, kalau dipikir pakai akal sehat ya

memang wajar begitu.

 

Hadiah buat pacar (diri sendiri), mau seberapa pun teman masa kecilnya, kalau ada cewek lain yang ikut campur... ya jelaslah bakal marah. Wajar saja kalau mau menginterogasi.

 

Ugh... Rasa bersalah yang terlambat ini membuat keringat dingin mengucur deras. Napasku jadi terengah-engah dan berat, malah rasanya aku ingin leherku dicekik saja oleh tangan Shiori yang kuku tipisnya sedang menggaruk-garuk pelan di pipiku.

 

Ah ya ampun, aku ini benar-benar... Onii-chan yang gagal... pacar yang gagal...

 

"────Pfft, ahaha! Uwah jantungmu berdegup kencang banget... Seperti biasa, penakut dan pengecut di bagian yang aneh-aneh... Nhehe, imutnya ya, Onii-chan♪"

 

"──Eh?"

 

Mendengar suara Shiori yang nada suaranya naik, aku refleks menunduk.

 

...Tanpa disadari, Shiori yang bersandar santai, menempelkan telinganya tepat di atas jantungku. Sambil memeluk erat tiket yang dibungkus gara-gara terhasut Rio itu di dadanya.

 

...Tubuhnya gemetaran karena geli sambil tertawa kecil............ Dia tertawa? Bahkan sampai bersenandung?

 

"Shio, ri...? Itu... bukannya kamu... marah...?"

 

"Eeng-eng? Ehehe, aku tidak marah kok?"

 

Sambil mengesek-gesekkan pipinya ke dadaku dan mendongak, Shiori.

Melihatku yang dipenuhi keringat yang hampir menetes ini... bibirnya makin tersenyum makin geli.

 

"Lagian yang mau repot-repot ikut campur begini paling cuma Kak Rio doang. Aku tidak curiga kamu selingkuh kok, jadi kamu bisa tenang soal itu. ...Yah? Tapi kalau hadiah ulang tahun dari Kak Rio terus dibilang 'bungkusnya yang ini lho~', mungkin aku bakal sedikit kesal sih."

 

"............Haaaah... Kalau gitu, kenapa kamu melakukan hal kayak begini...──"

 

"Habisnya. ...Mumpung kita ini pacaran, sepasang kekasih tahu?"

 

Srekh, srekh. Srekh, srekh.

 

Shiori menggerakkan lehernya dengan lebar, mengesekkan pipinya yang lembut bagai marshmallow. Gerakan yang bikin cemas apakah bakal jadi smore gara-gara gesekan itu, ikut menggerakkan pantatnya yang berada di antara celah pahaku... menyisakan sensasi lengket yang membekas seolah enggan berpisah, lalu dengan cepat menghadirkan kembali rasa panas.

 

Ugh... Saat Rio yang naik ke atas pangkuanku, rasanya seperti sedang

mengurus anjing atau kucing.

 

Tapi kalau pacar... kalau Shiori, rasa panas, aroma, dan gejolaknya bisa berbeda sejauh ini...!

 

"──Ugh, Shio, ri... cu, kup...!"

 

"────Okey deh."

 

Selesai, seolah-olah dia memahami seluruh pikiran dan emosiku.

 

Dengan lincah dia turun dari lututku, lalu Shiori tersenyum lebar hingga memperlihatkan giginya.

 

Rasa angin malam yang berembus dari jendela membuat kedua pahaku terasa makin dingin, seolah sedang mengejekku.

 

"...Shio, ri...?"

 

"... Kamu agak paham tidak? Kemarin lusa, Onii-chan gampang banget menyetujuinya, kan."

 

Dia mendekat, lalu berbicara dengan nada seperti menginterogasi────padahal.

 

Kulitnya yang bagai porselen putih itu memerah bagai mendidih.

 

Embusan napasnya pun terasa panas dan manis, Shiori dengan jahatnya memejamkan sebelah matanya lalu menasihatiku.

 

"Urusan yang mantap-mantap yang sudah ditunggu-tunggu malah ditahan dulu itu... rasanya semenyebalkan itu, bikin gundah gulana, dan bikin geregetan tahu. Kalau ditanya 'kenapa', ya ini pembalasannya!"

Setelah berkata begitu, begitu dia menjauh, Shiori menarik bagian bawah mata kanannya lalu menjulurkan lidahnya Eeeeeh.

 

...Imut, banget.

 

Sisa aromanya saja rasanya bisa membikin mabuk, sisa panasnya saja rasanya bisa membakar, sentuhan kulit dan jarinya saja membuat punggungku gemetaran.

 

Ugh... Si... malaikat kecil yang merupakan adik tiri sekaligus pacarku ini...!

 

Aku memegangi kepalaku. Berusaha keras mengalihkan pikiran dari bagian bawah tubuhku yang gemetaran sampai terasa sakit. ...Untung saja aku pakai baju olahraga rumahan yang tidak ada seksi-seksinya sama sekali. Kalau pakai seragam, aku tidak punya rasa percaya diri bisa menahannya. Aku benar-benar bersyukur dari dalam hati karena Shiori tidak peduli soal pakaian.

 

...Padahal aku juga... sudah sangat menahan diri, tahu...!

 

Tentu saja, aku merasa bersalah karena sudah mensia-siakan keberanian yang telah dikerahkannya... tapi penyiksaan ini sungguh keterlaluan.

 

Siksaan neraka mungkin masih jauh lebih mendingan.

 

Untuk menanggungnya sendiri dan membereskannya secara terpaksa...

rasa panas ini.

Sangat sulit dilupakan, dan sangat sulit digantikan──

 

"Onii-chan."

 

──Padahal harusnya begitu.

 

Padahal karena kejang yang hampir meledak ini, gesekan baju saja terasa sakit... tapi begitu dipanggil dan aku mendongak.

 

Dengan indahnya, dia menggoyangkan rambut putihnya bagaikan gaun pengantin.

 

Mengangkat tiket untuk menutupi mulutnya, rasa malu seujung sendok teh itu mengunci pandanganku.

 

"Besok lusa... gak sabar ya. Ehehehe... Aku gak bakal jahat lagi kok. Ayo kita nikmati bersama-sama. Aku kan belum pernah pergi ke Galactica Land."

 

"............, ...Ah, benar juga. Ayo kita bersenang-senang bersama,

Shiori."

 

"Um!!"

 

Dengan senyum merekah, pipi yang merona merah, dan mengangguk berkali-kali dengan gembira, sosoknya itu.

Terlihat sangat imut, penuh kasih... hingga nafsu rendah maupun omelan tidak penting seperti 'lagian kenapa kamu bisa tahu isinya' semuanya tersucikan dan menjadi tidak penting lagi.

 

Besok lusa adalah hari ulang tahun Shiori.

 

Asalkan Shiori bisa tersenyum... aku sudah puas dengan itu.

 

Jika aku bisa melihat senyuman yang lebih indah daripada sekarang.

 

...Rasanya tidak masalah kalau harus mati, tanpa sadar aku malah berpikir begitu.

 

Padahal, hanya belasan menit setelah ini.

 

Aku sama sekali tidak menyangka kalau saat itu aku bakal terbakar oleh amarah yang benar-benar bisa membunuh orang.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close