〈Bab
3〉Bintang Raksasa Merah yang Penuh Kecemasan
♂
"Gak kerasa, lusa ya. Shiori bakal
menyambut ulang tahunnya yang ketujuh belas."
────Aku
tak tahu bagaimana dengan keluarga lain, tapi setidaknya keluarga Amakawa
jarang mengobrol saat waktu makan.
Bukan
karena kami tak akur. Malah, aku merasa hubungan orang tua dan anak di keluarga
ini tergolong sangat baik. Hanya saja, saat makan kita harus memusatkan
perhatian pada Makanan, tak boleh lupa bahwa kita sedang mengambil nyawa hal
yang kita makan────itu hanyalah sekadar kebijakan pendidikan di keluarga ini.
Makanya, di tengah-tengah aku yang sedang
melahap karaage bersama Shiori yang duduk sejajar di meja makan untuk empat
orang di ruang tengah.
Tepat
di saat Ayah yang duduk di hadapan kami tiba-tiba melontarkan hal
itu────keheningan langsung menyelimuti ruang tengah bertemakan warna
pencahayaan siang hari tersebut, sampai-sakit detik jam dinding terdengar
begitu keras.
"............Ayah...?"
"っ...
Ti-tiba-tiba ngomong apa sih, Ayah. ...Mau ngasih hadiah, ya?"
"15 menit dari Stasiun Byakudo naik
Jalur Kasasagi. Transit naik kereta bawah tanah di Stasiun Numabukuro selama 30
menit. Terus 6 menit naik Jalur Asaeda."
Klak, biarpun sudah
meletakkan sumpitnya, Ayah terus menderetkan
rentetan kata bagaikan mantra.
Ugh... Nama tempat, rute, dan perkiraan
waktu yang sangat kukenal.
Habisnya, hal itu baru saja terjadi.
Kami berdua baru saja mencari,
memastikan, dan menyusun rencananya lewat ponsel pintar di kamar Shiori.
...Sarana transportasi menuju Galactica
Land...!?
"Ke-kenapa...っ,
Ayah! Dari siapa Ayah mendengar──"
"Ayah katakan duluan ya, Kenji, juga
Shiori. Ayah gak ada niat buat
menjilat kembali ludah Ayah sendiri. Ayah
gak bakal melarang kalian pacaran ataupun menikah. Saling menyukailah sesuka
kalian.
Tapi────selama
kalian masih belum dewasa (bocah), Ayah punya kewajiban buat membersihkan
kekacauan kalian. Sebagai orang tua, itu adalah batas yang gak bisa
ditawar."
"Bicara
formalitas, pengantar, sama pidato kayak gitu sudah cukup! Ayah...っ,
tahu dari mana kalau aku mengajak Shiori ke Galactica Land, terus... Ayah mau
melakukan apa, hah?!"
...Menanyakan dari siapa dan dari mana
hal ini bocor cuma buang-buang waktu saja. Si kaku yang kelewat serius ini tak
bakal membocorkannya, dan lagipula dari awal aku sudah bisa menebaknya.
Makanya, yang paling krusial adalah.
Apa yang sedang direncanakan Ayah untuk
membersihkan kekacauan
kami yang bahkan belum kami perbuat itu.
"Jangan-jangan,
Ayah berniat melarang kami pergi, ya? ...Kalau sampai hal itu terjadi──"
"っ,
Kalau sampai begitu!! Biarpun Ayah adalah orang tua kami... aku gak bakal
memaafkannya tahu...!?"
Brak, meja makan
bergoyang menimbulkan suara keras. Sumpit yang
terlempar
maupun sup miso yang tumpah sama sekali tak menarik perhatiannya sedikit pun.
Meskipun warna cokelat muda yang meresap ke celah lantai dan di antara jari
kaki telanjangnya itu terasa panas────hal itu tak akan sanggup menandingi
bahkan sepersepuluh dari panasnya amarah Shiori yang ditahannya sekuat tenaga.
Grit, grit, pembuluh darah
menonjol di jari-jarinya yang ramping, membuat bekas garukan di meja.
Dengan wajah menahan diri sebelum
memamerkan taringnya, Shiori mendelik tajam ke arah Ayah.
"Onii-chan
itu...っ, selalu, selalu, tiap-tiap tahun! Kamu tahu kan
betapa berjuangnya dia demi ulang tahunku...っ,
Ayah juga tahu betul hal itu, kan!? Apa Ayah mau mengabaikan semua perasaan dan
usaha itu, hah!? Cuma gara-gara sekali saja kita hampir kelepasan! Apa Ayah
berniat menyuruh kami menahan diri biarpun cuma sekadar pergi bermain, begitu,
hah!? Jawab dong!? Ayah──"
"Hentikan, Shiori."
Tangan Shiori yang ramping, lembut, dan
berwarna putih transparan itu.
Tepat
sebelum kembali dihantamkan ke meja makan────suara tenang Ibu menghentikannya.
...Shiori tergolong cukup penurut dan
patuh pada Ibu... tapi sepertinya kali ini dia benar-benar tak bisa menahannya.
Sambil tetap menekuk bibirnya, tak biasanya dia melayangkan pandangan tajam ke
arah Ibu.
...Ibu sendiri menatapnya balik dengan
santai bagaikan sudah sangat terbiasa, sambil memegang mangkuk nasi penuh di
sebelah tangannya.
"Suguru-san kan sudah bilang 'Gak
bakal melarang'. Jangan ambil kesimpulan sendiri. ...Suguru-san juga, gak
langsung masuk ke inti masalah itu kebiasaan buruk, lho. Kalau gak mengunci
jalan keluar dulu, kamu gak bisa bicara, ya?"
"...I-Iya juga, ya. Shiori, apa yang
dibilang Mikoto-san itu benar. Ayah bukannya mau mengganggu hubungan asmara
kalian. Berkali-kali Ayah tegaskan, Ayah malah mendukung kalian."
"...っ...
Kalau gitu, kenapa tiba-tiba ngomongin hal kayak begini──"
"Waktu sama tempatnya agak kurang
tepat. Apa kalian sudah lupa sama apa yang kalian perbuat kemarin lusa?"
Kemarin lusa.
Hari
itu adalah────Aah, hari di mana aku dan Shiori hampir
melompati batas karena terbawa suasana.
────Tiba-tiba
diungkit kembali, wajahku seketika terasa sangat panas.
Tampaknya Shiori juga sama, dia mundur
dengan lemas, lalu lututnya tertekuk di kursi hingga jatuh terduduk di atas
dudukan kursi.
"Sepasang laki-laki dan perempuan
yang terbawa suasana di taman bermain lalu tak bisa menahan diri... hal kayak
begitu kan bukannya langka. Kenji, kamu yang ikut OSIS harusnya tahu betul hal
itu. Apalagi, persis di samping Stasiun Numabukuro ada kawasan hotel yang
terkenal. ...Biarkan kalian yang berstatus pelajar (bocah) dan hampir kelepasan
sekali melintasi rel (jalan buruk) yang sudah jelas polanya itu, melanggar
moralitas sebagai orang tua."
"っ...
Berarti Ayah... gak percaya sama aku dan Onii-chan...!?"
"Ini
bukan soal percaya atau gak percaya, Ayah lagi ngomongin soal kewajiban,
Shiori. Sebagai anak laki-laki dan anak perempuan, Ayah percaya sama kalian.
Tapi────Ayah bukannya orang tua yang begitu tidak bertanggung jawab sampai
menjadikan hal itu sebagai alasan buat melepas kalian ke medan ranjau. Sebagai
orang tua yang membesarkan kalian, Ayah harus mengambil tanggung jawab
minimal."
"っ............!"
Aah... Aah ya ampun, masalahnya Ayah
benar-benar cuma melontarkan hal-hal yang wajar. Setidaknya bagiku, tak ada
satu pun celah dalam argumennya barusan.
Pasangan
yang terbawa suasana di taman bermain lalu berlanjut begitu saja────memang hal
yang sering terjadi. Sebagai anggota OSIS, aku sudah berkali-kali menertibkan
murid-murid seperti itu. Apalagi kami berdua punya rekam jejak... sangat wajar
jika dilarang. Sangat wajar sekali.
"っ,
Tapi... tapi, biarpun begitu... ta-tapi──"
"────Bicaranya
sudah selesai belum. Ya ampun, orang tua kalau bicara suka bertele-tele banget,
sih."
Hal yang wajar, tepat, dan perkembangan
yang sangat alami............
Tapi.
Hal
itu sama sekali tak bisa dijadikan alasan untuk membuat adikku yang sedang
menunduk dan meneteskan air mata ini... dia, pacarku────wanita yang sudah
kuterima janji masa depannya.
Tak cukup untuk membuat wanita itu
menangis...!
"っ...
Onii, chan...っ?"
"Kejadian kemarin lusa memang
salahku. Aku juga paham kalau Ayah beneran memikirkan kami. Tapi ya, gara-gara
kejadian kemarin lusa itu, aku sudah membuat adik tiri, cewekku, pacarku
menanggung rasa malu yang sangat besar. Membayar hal itu adalah kewajiban
mutlak bagi seorang laki-laki, kan? Ayah yang menanamkan hal itu padaku, masa
iya berniat merebut kesempatan itu dariku, kan?"
" ...Bicara tinggi banget kamu ya,
Kenji."
"Aku tanya berterus terang ya, Ayah.
Di mana titik kompromi yang sudah Ayah siapkan?"
────Sret, sudut bibir
Ayah terangkat ke atas.
Petunjuknya sudah ada. Hal yang
ditunjukkan Ibu tadi, yaitu Shiori yang 'mengambil kesimpulan sendiri'......
hal itu berarti, sejak awal Ayah tidak melarang kami untuk pergi bermain
(kencan).
Hanya saja, dia tak bisa melepaskan kami
begitu saja setelah kami sempat hilang kendali sekali.
Kalau
begitu sebaliknya, jika tali kekangnya bisa dipegang, kami boleh saja
pergi────secara berputar-putar, Ayah mengatakan hal itu.
"Syukurlah kamu ini anak laki-laki
yang cukup pintar biarpun bodoh, Kenji."
Sambil
berbicara, Ayah memasukkan tangannya tanpa ragu ke saku dalam jasnya────lalu
mengeluarkan selembar tiket yang tampak familier, tapi kelasnya beda jauh.
"っ...
Itu──"
"っ,
Tiket terusan Galactica Land!? Ke-kenapa... kenapa Ayah bisa punya yang kayak
begitu!? Padahal, padahal yang kayak begitu──"
"Minggu
lalu dapat dari pelanggan tetap. Katanya dia dapat dari dividen saham tapi
tempat yang dipenuhi anak muda bikin capek────Gak nyangka bisa berguna kayak
begini."
...Srr, keringat
lengket mengucur dari pelipis menuju pipiku.
Hanya ada satu kemungkinan yang
terlintas... Memang benar itu cara paling cepat buat memegang tali kekang,
tapi.
Tapi
kalau itu............ Bukannya hal itu────termasuk penanganan tandingan yang
paling buruk...!?
"Ayah... Jangan-jangan, masa iya
anak laki-laki dan anak perempuannya mau kencan di taman bermain... Ayah
berniat ikut...!?"
"Kenapa, ada masalah, kah? Apa ada
situasi yang bikin susah kalau Ayah
ikut? Hah?"
Bikin
susah dong────Maksudku aku gak mau tahu! Beneran gak mau banget!!
Ayah gak pernah ngaca apa!? Jas hitam
kayak baju duka, dasi hitam, tambah kacamata hitam! Perawakan raksasa hampir
dua meter, punggung tangan penuh pembuluh darah menonjol, dan otot kekar yang
kelihatan dari balik baju!
Didampingi Ayah yang penuh aura kekerasan
bagai yakuza begini...
Membayangkannya saja bikin merinding!
────Padahal
aku tak punya ide alternatif satu pun, sih.
Pokoknya
kalau yang itu aku gak mau, gak mau, gak mau banget! Ugh, makanya──
""っ,
Jangan bercan──""
"Suguru-san. Solusi bercanda kayak
begitu gak bakal aku izinkan, ya."
──Tanpa
direncanakan, tepat di saat aku dan Shiori hendak berteriak marah bersamaan.
Kruk, sambil
mengunyah karaage ekstra pedas berwarna merah membara.
Ibu melirik Ayah dari sudut matanya,
seolah bertindak menoleh saja terasa konyol baginya.
"──っ,
I-Ibu...っ!?"
"Mikoto-san...?
Kenapa, Mikoto-san, apa kamu mau menyuruhku membuang tanggung jawab sebagai
orang tua? Kalau soal itu, biarpun itu kamu, Mikoto-san──"
"Bukan begitu. Aku setuju sama
pendapat Suguru-san. Aku setuju tapi...
Suguru-san, apa kamu masih belum sadar
sama wajah penjahatmu itu? Lagian, diawasi sama orang kayak begini kasihan tahu
Kenji-san sama Shiori."
Mendengar kalimat yang seolah mewakilkan
perasaanku dan pastinya
perasaan Shiori juga.
Ayah sampai tak bisa membalas sepatah
kata pun, dia melipat tangan lalu menunduk. ...Tubuhnya agak gemetaran ya...
Apa dia kena mental kayak orang biasa? Muka tembok banget sih. Padahal baru dua
minggu lalu dia bikin anak kecil menangis di rumah klien, kan.
"っ,
Ta-Tapi Mikoto-san... Kalau gitu, siapa yang bakal mengawasi mereka, coba.
Biar-biar begini aku ini orang tua mereka, aku punya tanggung jawab buat
memastikan Kenji sama Shiori gak mengambil jalan yang salah──"
"Tega banget ya. Suguru-san mikir
kalau kamu membesarkan anak
sendirian?"
Klak, sambil
meletakkan mangkuk nasi yang ukurannya tiga kali lipat mangkuk teh beserta
sumpitnya, Ibu menghela napas.
...Aku bisa tahu kalau mata Ayah
membelalak biarpun terhalang kacamata hitam.
Habisnya, aku sendiri sampai tak percaya
sama telingaku, dan Shiori malah sampai menendang kursinya hingga roboh lalu
berdiri.
Saking
tak masuk akalnya────usulan tersebut.
"Aku saja yang pergi jadi pengawas.
Hal itu jauh lebih mendingan, kan? Kenji-san, Shiori."
"っ────"
"T-Tunggu... Ibu beneran,
nih!?"
Kali ini, giliranku yang refleks berdiri.
Giliranku yang menepuk meja hingga terasa sakit.
Ibu────Mikoto
Amakawa, mau keluar rumah?
Demi tak perlu melakukan hal itu, demi
menghindari situasi seperti itu,
Ibu sampai menikah dengan Ayah, kan...!?
"Mending
dipikirkan lagi deh!! Itu hari Sabtu di taman bermain yang super populer, lho!?
Ibu kira bakal ada berapa banyak orang di sana, hah!? っ...
Di antara orang-orang itu, bisa saja ada──"
"I-Iya
benar Ibu!! Yang kayak begitu pasti bahaya banget──"
"Gak mau, ah. Kalian berdua tertular
sifat protektifnya Suguru-san, ya?
...Gak usah khawatir."
Sambil membiarkan tepung karaage menempel
belepotan di sekitar mulutnya, Ibu berbicara.
Tampak lugu seperti anak kecil, polos,
tanpa dosa... lalu tertawa renyah bagai suara lonceng.
"Dari
dulu aku pengen mencoba pergi ke tempat yang namanya taman bermain.
Kelihatannya seru, ya. Lagipula... Kenji-san juga sudah cukup dewasa. Kalau
kalian berdua ikut, aku juga tenang. ────Lagipula, kalian berdua pasti gak mau
kan kalau kencan bareng Ayah kumisan pakai kacamata hitam ini? Aku rasa aku
jauh lebih mendingan daripada dia............ Gak boleh, ya? Kenji-san,
Shiori."
"っ...
, ............Shiori, sih..."
Ya memang sih, apa yang dikatakan Ibu ada
benarnya.
Setidaknya 100 kali lebih mendingan
daripada diikuti terus sama Ayah.
Tapi... kalau Ibu sampai ikut, bakal ada
masalah yang sama sekali
berbeda yang menyertainya.
Orang yang bersangkutan kelihatannya
santai-santai saja, sih... tapi
tetap saja.
"Shiori...
bagaimana menurutmu? Ibu──"
"Onii-chan."
──Shiori
yang melarikan diri ke tempat Ayah bersama Ibu.
Sambil menunduk, dia mencengkeram lengan
kiriku... lalu menjawab tanpa memberikan jawaban menggunakan suara yang
tertahan.
"Pinjam... tangannya. Kepalaku,
rasanya berantakan banget......
Makanya mau kubikin makin berantakan
sekalian...!"
"...Kayak begini cukup,
Shiori?"
Tak ada jawaban. Sebagai gantinya, Shiori
menekan bagian atas kepalanya ke telapak tangan yang kurentangkan.
Srekh, srekh. Srekh, srekh, srekh, srekh,
srekh.
Entah sejak kapan. Saat mengajarinya
belajar, atau saat ada hal yang tidak menyenangkan, Shiori selalu saja meminta
hal ini. Persis seperti anjing atau kucing yang menggosokkan tubuhnya ke tiang
listrik untuk menandai wilayah. Tindakan aneh mengusap-usap bagian samping
kepala, belakang kepala, bahkan dahi yang tertutup rambut menggunakan telapak
tanganku.
Setelah saling menyukai dan berpacaran,
aku baru memahaminya.
────Ini
adalah bentuk kiasan dari ucapan 'usap kepalaku' yang tak bisa diucapkannya
secara terang-terangan.
...Biarpun begitu, tindakannya yang tak
kunjung berhenti bahkan setelah rambutnya kusut dan menggumpal ini benar-benar
memakan waktu lama.
Bukan... sekadar panas gesekan saja.
Kepala Shiori terasa sangat panas bagaikan mendidih.
"Nn,
gugh, nnuuuuuuuuuuuuuuu............っ!!"
"Hei,
Shiori...? Kan masih ada waktu, kamu tidak perlu langsung mengambil keputusan
sekarang──"
"Gak
apa-apa!! Gak... gak apa-apa kok... Aku tahu ini gak apa-apa, tapi... tapi,
tapiii............っ!!"
...Melihat keadaannya yang seperti ini,
aku tak bisa tertawa melihat si pelaku pelapor.
Shiori yang menarik lenganku, jongkok,
namun tetap menggelengkan kepalanya tanpa henti... seberapa besarkah rasa
gundah gulana yang sedang menyiksanya.
Bagaimanapun juga, aku yang terus berada
di area aman tidak akan bisa memahaminya secara utuh.
"...................っ,
Jangan salah paham ya────Ibu."
Setelah berpikir, bergulat, dan kalut
selama tiga menit penuh... Shiori yang telah mengubah rambut halusnya yang
berharga menjadi rambut ikal yang berantakan itu.
Berbicara dengan suara berat seolah
menahan emosinya. Dia mengucapkannya. Seakan-akan.
Dirinya sendiri yang bangkit berdiri
dengan gemetaran bagaikan anak rusa itulah yang sedang ditenangkannya.
"っ...
Onii-chan yang bakal pergi kencan besok lusa... adalah milikku, milikku yang
merupakan pacarnya!! Dia adalah ksatria (night) milikku seorang!! Bukan...
bodyguard Ibu atau semacamnya...────Hanya itu, cuma hal itu yang harus!! ...Ibu
pahami, ya..."
"...Lho Shiori, kamu cemburu sama
Ibu? Fufu, kamu tumbuh jadi anak gadis yang imut banget ya, Ibu jadi ikut
bangga. Kan, kamu juga mikir begitu kan? Suguru-san."
"っ,
Jangan bercanda dong!! Ah ya ampun, ya ampun, ya ampun!!"
Hentakan kaki yang begitu kuat hingga
pasti akan mendatangkan komplain jika tempat ini adalah apartemen. Bahkan hal
itu pun terlihat imut di mata orang tua yang kelewat penyayang ini, hingga Ibu
tertawa renyah. Ujung jari yang ditempelkan di bibir bahkan tak disadarinya
telah menyentuh tepung karaage, saking asyiknya dia tertawa. Tertawa.
Tertawa dengan gembira.
"................"
Meski begitu.
Aku dan Ayah yang melipat tangan dan
bungkam, kemungkinan besar merasakan hal yang sama. Ibu itu kalau sudah
memutuskan sesuatu punya sifat keras kepala, dia tak akan menarik kembali
perkataannya.
...Yah, anggap saja tugasku bertambah
satu.
Membawa Mikoto Amakawa pergi keluar.
Kepada oknum yang telah menyulut bom
super besar itu... aku harus menyampaikan sepatah kata protes padanya.
Bagaimanapun juga, aku sendiri tak bisa tinggal diam.
Dua hari sebelum kencan pertama setelah
resmi berpacaran.
Dia telah membuat Shiori memasang wajah
masam seperti ini............ Si
oknum juga pasti tak menginginkannya,
tapi bagaimanapun juga.
Baik
aku, Shiori, Ayah, dan bahkan mungkin Ibu────kami semua menanggung hal yang
tidak diinginkan ini.
♀
"Aduhduduh~ itu sih bener-bener
musibah ya, Shiori-chan."
Di hari-hari belakangan ini di mana suara
langkah festival budaya makin terdengar jelas, tempat kami yang tersingkirkan
dari hal wajar itu.
Gudang olahraga yang biasanya kami pakai,
bagian pintunya dihalangi
oleh klub drama atau semacamnya.
Kelas-kelas kosong juga semuanya terpakai, sehingga bagi kami kelompok yang
tersingkirkan ini, tak ada lagi ruang evakuasi untuk makan siang selain di
bawah tangga sebelah ruang guru.
Tidak ada orang sih bagus, tapi tempat
ini lebih gelap dan dingin dari biasanya.
Di tempat yang seolah memadatkan dan
menumpuk rasa dingin dari awal musim gugur itu, Sena berbicara sambil
menjatuhkan bahunya lebih lemas daripada aku yang melampiaskan kekesalan.
Sambil mengunyah roti yakisoba dengan
lebih buas dari biasanya.
"Padahal kencan pertama yang
dinanti-nanti, tapi malah didampingi
Ibu... kalau aku sih gak bakal sanggup.
Gak bakal tahan. Membayangkannya saja bikin merinding. Iruka-chan juga mikir
gitu, kan?"
"Nn............ yah, umm... mungkin
gak mau......? ......Gak terlalu paham, sih......"
"Haaah... Jujur, dari lubuk hati
paling dalam aku kasihan banget sama kamu, Shiori-chan. Baru pertama kali dalam
hidupku merasa sekasihan ini sama orang lain."
"................"
Terhadap Sena yang menghela napas
bagaikan sampel warna
kemurungan sambil menggelengkan kepala.
Ada banyak hal yang ingin kukatakan.
...Terlalu banyak sampai-sampai mirip seperti membersihkan kamar yang sangat
kotor, aku bahkan tak
tahu harus memulainya dari mana.
Matanya yang tak biasanya terkulai,
beserta kerutan di antara alisnya yang terukir dalam.
Membuat 'rasa kasihan' Sena terkesan
punya tingkat kepercayaan yang sangat mengganggu.
"......Pokoknya."
Sambil memasukkan siomay beku yang
ditaburi bubuk Pepper X ke dalam mulut.
Salah satu dari tumpukan pendapat yang
menyumbat di tenggorokan
kulemparkan begitu saja. ...Mau dari mana
saja tak masalah, kalau sampah tak dibuang ke luar dulu, sampai kapan pun tak
akan selesai
dirapikan.
"Sama cewek-cewek yang pacarnya
pernah kamu tikung sebelum ini, mending kamu merasa kasihan, merasa bersalah,
atau merasa ingin potong leher buat minta maaf, hal-hal kayak begitu lebih
perlu kamu pikirkan. Sena."
"Nn-mana ada waktu buat memikirkan
orang lain gitu, dear friend~"
Sena yang memanyunkan bibirnya dengan
wajah penuh ketidakpuasan.
Bahkan menarik perhatian Iruka-chan yang
biasanya cuma menempel padaku saja, khusus untuk hari ini. ...Iya juga sih, tak
heran.
Bagaimanapun juga Sena hari ini kelihatan
tak seperti biasanya.
Meskipun Iruka-chan menempel erat di
sebelahku, dari tadi dia bahkan tak punya keleluasaan buat menggerakkan
sumpitnya. Dia sampai lupa mengusap pipi atau merengkuh bahuku buat mengusir
bosan, dan cuma menatap.
Dengan mata bulatnya yang tersamar di
balik poni, dia terus menatap Sena.
......Hal itu malah membuatku agak tak
senang... yah... aku tahu aku
egois, sih.
"Kalau Ibu sampai ikut pergi bareng,
hal kayak begitu kan bukan kencan namanya! Padahal ini kencan pertama setelah
pacaran, apalagi kencan ulang tahun, masa iya jadinya kayak begitu!?
Shiori-chan!!"
"......Gak
bagus, kok. ......Mana mungkin bagus, kan...... Sebenarnya,っ,
sebenarnya! ......Aku pengennya cuma berdua sama Onii-chan. ......Tentu
saja lebih bagus begitu, kan."
Tanpa sadar, perasaan jujur yang tak
berniat kuucapkan malah terlepas dari mulut.
────Demi
menutupinya, aku melahap nasi yang memerah oleh kapsaisin.
......Aku pengen pegangan tangan, tahu.
Kalau bisa aku pengen menempel erat-erat dengannya. Seperti Kak Rio, aku pengen
manja dengan jujur, minta digendong, dan semacamnya. Kalau cuma segitu,
aku pikir aku masih bisa menahannya
sampai malam.
Tapi... kalau Ibu ikut bersama kami, hal
seperti itu pun rasanya bakal sulit.
Kalau dipikir-pikir begitu, mau tak mau
perasaanku jadi
depresi────tapi,
tapi.
"Tapi... perginya bareng Ibu juga,
sedikit............ cuma sedikit banget!
......Ada rasa senang juga, tahu.
Setidaknya jauh lebih mendingan daripada si kacamata hitam kumisan itu...
lagipula."
Dua puluh persen perasaan jujur, tujuh
puluh persen rasa pemberontakan terhadap teguran wajar dari Sena.
......Dan sepuluh persen argumen
pembenaran diri untuk meyakinkan
diriku sendiri, itulah alasan
kekanak-kanakan yang keluar dari mulutku.
"────Kan
sudah pernah kubilang. Ibu di rumahku itu, gak bisa pergi keluar..."
"............Aah. Yah memang sih,
ya. Bahkan buat kamu (Shiori-chan) sendiri pun, kan......"
"Eh......"
"A-Ahaha... tunggu, jangan
memalingkan mata dong! Jangan dianggap terlalu berat gitu!, k-kalau dibilang
pertama kali...... aku, Onii-chan, dan Ibu pergi keluar rumah bareng-bareng
itu, ini memang pertama kalinya, tahu. Hal itu............ sedikit, cuma
sedikit banget, bikin senang juga... itu jujur kok."
......Meminta orang lain memahami situasi
rumit khusus di rumah kami itu memang hal yang tak mungkin, ya. Iruka-chan dan
Sena sampai memiringkan kepala mereka.
Lagipula... aku sendiri juga tak terlalu
paham. Sama perasaanku sendiri.
Kencan pertama berdua sama Onii-chan...
kenyataan bahwa Ibu mengganggu hal itu memang menyebalkan, itu jujur.
Namun, Ibu yang itu.
Kenyataan bahwa dia mau pergi keluar
bersamaku itu bikin senang... biarpun menyebalkan, itu juga jujur.
Ah ya ampun! ......Punya dua perasaan di
dalam hati, pasti situasi seperti inilah yang dimaksud. Kalau Kak Rio pasti
bisa langsung menyelesaikannya dalam sekejap... tapi rasanya tak tega kalau
harus mengandalkan orang sibuk itu di saat seperti ini.
Lagipula────dia
juga mungkin salah satu biang kerok yang
menciptakan dilema ganda ini.
"......Dermawan banget ya,
Shiori-chan."
Tiba-tiba.
Sambil menelan potongan terakhir roti
yakisoba dan memasukkan bungkus berbekas saus yang diremasnya ke dalam saku,
Sena menghela napas.
"Baik banget, baik banget, baik
banget............ Padahal rencana akunya itu, Shiori-chan yang baik banget
kayak begitu bakal memperlihatkan kesenjangan sifat dengan bersenang-senang
seperti anak kecil! Terus Onii-san yang makin jatuh cinta bakal kutikung dan
kumakan dengan lezat di saat yang tepat!! Tapi rencana itu malah jadi sia-sia,
tahu!? Harusnya kamu lebih marah dong!! Bilang kalau Ibumu itu mengganggu!
Kalau gak gitu, akunya yang kasihan, kan!?"
────Sena
yang membelalakkan matanya lalu menoleh ke arahku.
Aku... menanggupinya dengan wajah seperti
apa ya. Untung saja di tempat ini tak ada cermin.
"......Haaah.
Bener-bener deh ya──"
Mungkin saja... ini adalah cara Sena
untuk menyemangatiku. Dengan melontarkan kata-kata yang lebih jahat dariku, dia
berusaha membalikkan perasaanku dari negatif menjadi positif lewat rasa
perlawanan............ Biarpun andaikan benar begitu, caranya terlalu
berputar-putar.
Pasti alasannya memang hal paling rendah
seperti yang baru saja diucapkannya tadi, sih.
"──Mau
kamu blak-blakan bilang gitu juga, kalau Ibu yang ikut, aku merasa masih agak
OK kok."
Tapi, diriku yang polos ini bagaimanapun
tak bisa memikirkan cara
untuk menghindari ajakan itu.
Aku tak bisa menahan diri untuk tak
mengayunkan pemukul (sanggahan) pada bola (makian) yang melayang tepat di
tengah area umpan.
Sambil berbaring di paha Iruka-chan yang
terlipat dan menatap Sena ke atas, aku menunjuknya dengan lurus. Seperti
deklarasi pukulan home run.
"Seperti yang kubilang tadi, ini
jauh lebih mendingan daripada diikuti si
kacamata
hitam kumisan itu............ Lagipula, aku merasa kasihan tahu. Ibu itu kan
masih muda dan cantik, tapi gara-gara gak bisa keluar rumah, gak ada orang lain
selain keluarga yang memuji penampilannya... Padahal dia selalu pakai kimono
yang cantik, tapi yang melihat cuma aku, Onii-chan, sama si kacamata hitam
kumisan saja──"
"......Selalu, pakai
kimono......?"
Grep.
Tubuh Iruka-chan gemetaran, hal itu makin
terasa jelas karena aku
menjadikannya kasur.
"Nn?
Aah, iya. Ibu di rumahku itu, tiap pagi memasang kimono sendiri──"
"A-ah,
Bukan, di situnya......────Sena, chan......ah!"
"Nn? Nnn... Aah, hal yang itu
ya."
......Ditatap oleh Iruka-chan yang tak
biasanya telihat serius dan seperti terdesak.
Sena yang sedang menjilati sisa saus di
jarinya, tak biasanya menjatuhkan bahunya dengan lesu lalu menanggapi.
"Tapi
ya, bukannya sudah terlambat? Di saat seorang ibu ikut pergi bareng, sebagai
kencan hal itu sudah hancur lebur, paling buruk dari yang terburuk──"
"Biarpun, begitu......!!"
"............Haaaaah. Makanya aku
tuh paling gak bergairah sama Iruka-chan."
Helaan napas. Helaan napas yang sedalam
Palung Mariana membuat udara di bawah tangga terasa hangat kuku.
Aku yang sama sekali tak paham apa yang
sedang dibicarakan mereka berdua.
Cuma bisa menunggu sambil berbaring saat
Sena merangkak mendekat.
"Shiori-chan. Aku bakal kasih hadiah
ulang tahun, jadi sepulang sekolah ikut aku sebentar ya. ......Aah, tenang saja
tenang. Gak usah khawatir, kalau cuma kroco yang bahkan gak bisa mengukur
tingkat bahaya Iruka-chan terus malah mengajak berantem, bisa kusepaktakraw
kok? Dendam orang-orang ke aku itu bukan sembarangan, tahu."
"............Ha,っ,
haah!? T-Tiba-tiba ngomong apa────Auw?!"
Mendengar usulan aneh itu, aku refleks
mau bangun... tapi malah
menabrak dada Iruka-chan dan membal
kembali. ...Kawat, bagian kawat yang keras menancap tepat di pelipisku... sakit
tahu...
Ugh... Pergi keluar sepulang sekolah?
Bersama orang selain Onii-chan, ke tempat selain jalan pulang sekolah?
Hal
kayak begitu gak boleh, gak boleh, gak boleh, terlalu berbahaya! Soal bahayanya
egoisme (kekerasan tanpa alasan) orang-orang yakuza (urusan orang tua) itu kan
sudah kubilang dari dulu! Pengawalan dari Iruka-chan (yang cuma menang tinggi)
dan Sena (cewek dan cewek mesum), hal seperti itu terlalu tak meyakinkan...
Kalau, kalau terjadi sesuatu──
"Shiori-chan, waktu buffet kue tahun
lalu, terus waktu jalan-jalan ke Kamakura dua tahun lalu, kamu perginya pakai
seragam sekolah, kan?"
──Padahal.
Sambil menopang dagu di lantai, dengan
wajah yang saaaaaangat bosan, Sena menunjukku.
Kata-katanya itu terlalu, sangat-sangat
menancap di inti masalah.
Aku... tak bisa menyanggahnya.
"Shiori-chan
yang selalu pakai seragam, pergi keluar bersama Ibu yang selalu pakai
kimono────meskipun ditemani pacar, tahu? Selama pasangannya itu adalah
Onii-san...... hal itu bahkan bukan lagi kencan terburuk yang hancur. Itu cuma
sekadar jalan-jalan keluarga────Apa kamu puas cuma dengan begitu?
Shiori-chan."
♂
"Rio. Kamu kan orangnya? Yang
melaporkan isi hadiah buat Shiori ke Ayah."
"................"
Festival budaya tinggal tiga minggu lagi,
dan persiapan akhirnya memasuki tahap akhir.
Baik aku, Rio, Haru, maupun Koshino, tak
punya waktu buat menghadiri
pelajaran.
Sekitar tujuh jam setelah sampai di sekolah, kami bahkan tak bisa makan siang
dengan layak dan fokus bekerja────hingga saat bel pulang sekolah berbunyi,
akhirnya pertanda selesai mulai terlihat.
Katanya konsentrasi manusia itu paling
banyak cuma bertahan sekitar lima jam.
Kami yang sudah melampaui batas manusia
sejak tadi, langsung kehilangan tenaga begitu mendengar suara Rio melempar
dokumen.
Haru meleleh ke arah meja, sementara
Koshino menyandarkan
tubuhnya ke sandaran kursi agar tak
membuat komputer di depannya salah tekan.
Dan Rio sendiri pun.
Seperti biasa dia menjadikan pangkuanku
sebagai kursi, melempar dokumen yang diperiksanya beserta pulpen merah ke meja,
lalu menyandarkan punggungnya tanpa ragu.
Di tulang rusukku, terasa tulang
belikatnya yang lembut. Suhu tubuhnya yang panas bagai bola api mirip seperti
orang yang hampir tertidur.
────Aku
berpikir cuma ada celah waktu ini.
Saat otaknya yang kelelahan tak bisa
mengeluarkan elakan maupun alasan. Saat si jenius mirip AI ini jatuh menjadi
manusia biasa.
Agar Rio tak kabur walau ada kemungkinan
satu dibanding sejuta, aku melingkarkan tanganku di sekitar perutnya lalu
menginterogasinya.
......Tiga detik keheningan. Kelihatannya
dia tak sedang tidur, jadi boleh kuanggap sebagai pembenaran, kan. Ya ampun...
sesuai dugaan, dasar sialan.
"Haaah... Yang menghasutmu, apa kamu
orangnya, Koshino?"
"Hah? Apaan sih Senpai Raja Nafsu,
mau mengajak berantem? Kalau
mau berantem ayo kuterima kok, khusus
Fuyuru saja yang boleh pakai senjata."
"...Kemarin lusa, Rio itu gembira
karena aku dan Shiori bisa saling menyukai. Tepatnya saat jam istirahat
siang."
Sambil tetap menatap langit-langit...
bahkan tak jelas apakah matanya terbuka atau tidak, aku tak se-orang baik itu
sampai melayani provokasi
Koshino satu per satu. Lagipula aku tak
akan berantem melawan adik kelas cewek.
Karena itulah ini bahkan bukan sebuah
tuduhan. Cuma sekadar... protes. Ketidakpuasan.
"Begitu masuk jam pulang sekolah,
kamu tiba-tiba ikut campur soal pembungkus hadiahnya. ...Rio itu bukan tipe
orang yang melakukan hal tanpa arti. Dia juga bukan orang bodoh yang tak bisa
menyadari masalah secara langsung. Mengulur waktu untuk mengangkat masalah itu
kemungkinan besar karena ada orang yang memberi tahu masalahnya, lalu dia butuh
waktu buat mencari solusinya. ......Orang yang bisa memikirkan 'kemungkinan
terburuk (masalah)' yang tak dipikirkan Rio lalu menghasutnya............ cuma
Koshino kamu saja kan, yang beneran benci sama aku."
"............Padahal cuma monyet,
tapi otaknya jalan juga ya. Bener-bener...... bikin kesal......"
......'Kemungkinan terburuk (kehamilan
Shiori)'...... bagi Rio maupun
Haru, mencapai pemikiran itu adalah hal
yang mudah. Mengabaikan Rio, Haru saja pasti bakal mati kesal kalau
membayangkannya... tapi biarpun begitu, jika dua orang ini cuma sekadar
terlintas pemikiran itu, mereka tak akan membocorkannya ke Ayah.
Karena
dua orang ini bisa membusungkan dada dan bilang 'terus kenapa?'────sebaliknya.
Justru
karena bisa membusungkan dada dan menyudutkan itulah, aku tahu Koshino adalah
biang keroknya──
"Asal
Senpai tahu ya, soal Ayah yang ikut campur ke kencan ulang tahun di taman
bermain itu, Fuyuru gak berhak disalahkan ya. Yang punya ide itu Ketua. Fuyuru
cuma beri tahu Ketua dengan baik-baik saja. Percintaan Senpai Monyet Jantan
itu──"
"......Ke-kenapa?"
──Pelan-pelan,
Rio yang memiringkan kepalanya bagaikan jam rusak.
Melingkarkan tangannya di leherku,
mendongakkan wajahnya, lalu bertanya dengan sangat heran.
"......Sama sekali gak terlintas di
pikiranku. Bahwa ada orang yang...... gak suka melihat Ken-chan dan Shi-chan
bersatu dengan mesra...... gak pernah terlintas sama sekali. Bahkan sampai
sekarang...... setelah diberi tahu Fuyuru-chan pun, aku masih...... gak bisa
paham. ............Aku takut, tahu. ......Coba bayangkan sedikit dong.
Bagaimana kalau akunya yang ditinggalkan, coba......"
Perlahan, tangannya terlepas bagaikan
kelopak bunga yang gugur, lalu ditumpukkan di atas tanganku.
Kata-kata yang diucapkannya sambil
menunduk sedikit demi sedikit itu...... tak secerdas biasanya.
Hal ini makin menegaskan kembali bahwa si
cewek jenius ini bukanlah
AI sungguhan, melainkan manusia berdaging
dan berdarah.
"Ken-chan
sih yah, umm...... tipe yang bisa menahan diri...... tapi kalau Shi-chan pasti
susah, kan...... Sudah berkali-kali kan, kita menertibkan...... pasangan bodoh
yang memutuskan kencan di hotel esek-esek pakai seragam. Kalau ditekan sama
Shi-chan...... Ken-chan juga pasti gak bakal tahan────lagipula memang ada rekam
jejak pernah gak tahan, kan......"
"っ............"
Dia melirik sedikit, menatapku dengan
mata seperti anak anjing yang
dibuang, lalu segera memalingkan
pandangan beserta lehernya.
“...padahal, aku masih... belum bisa...
paham. ............Aku takut, tahu. ......Coba bayangkan sedikit dong.
Bagaimana kalau akunya yang ditinggalkan, coba......"
Perlahan, tangannya terlepas bagaikan
kelopak bunga yang gugur, lalu ditumpukkan di atas tanganku.
Kata-kata yang diucapkannya sambil
menunduk sedikit demi sedikit itu...... tak secerdas biasanya.
Hal ini makin menegaskan kembali bahwa si
cewek jenius ini bukanlah
AI sungguh, melainkan manusia berdaging
dan berdarah.
"Ken-chan
sih yah, umm...... tipe yang bisa menahan diri...... tapi kalau Shi-chan pasti
susah, kan...... Sudah berkali-kali kan, kita menertibkan...... pasangan bodoh
yang memutuskan kencan di hotel esek-esek pakai seragam. Kalau ditekan sama
Shi-chan...... Ken-chan juga pasti gak bakal tahan────lagipula memang ada rekam
jejak pernah gak tahan, kan......"
*TL/Note: Gw baru sadar kalau rawnya
juga mengulang kalimat yg sama wkwkwk
"っ............"
Dia melirik sedikit, menatapku dengan
mata seperti anak anjing yang dibuang, lalu segera memalingkan pandangan
beserta lehernya.
...Melihat posisiku yang sedang
menginterogasinya, justru akulah yang kelihatan seperti penjahat. Maksudku,
kenyataannya aku memang cuma mau melampiaskan kekesalan saja, jadi tidak salah
juga sih.
Hanya saja, ada satu hal.
Apapun yang terjadi, ada rasa tidak puas
yang ingin kutumpahkan dariku.
"Makanya......
ini tindakan...... pencegahan. ......Merusak kencan...... pertama kalian
memang...... rasanya gak enak sih...... tapi kalau kemungkinan terburuk......
tidak dihancurkan dulu...... aku cemas. Ugh, yah, aku bukannya tidak paham
kalau kamu tidak suka didampingi Suguru-chan sih...... tapi itu kan......
gara-gara kelakuan kalian sendiri, jadi──"
"Ibu yang bakal ikut."
────Satu
kalimat itu efeknya luar biasa ampuh.
Rio menoleh ke arahku dengan gerakan
seolah hendak mengibaskan tanganku. Dadanya yang bergoyang tak mampu melawan
inersia, menyapu udara hingga memukul pinggangku dengan cukup keras
sampai-sampai aku mengira kait bra-nya lepas. Bahkan Haruya yang tadi berpura-pura
tidak peduli, mendadak membelalakkan matanya karena kaget lalu berdiri, sampai
membuat kursi lipatnya terjatuh menimbulkan suara nyaring.
Satu-satunya yang gerakannya lambat di
tempat ini.
Hanyalah
Koshino, si murid kelas satu yang tidak tahu situasi rumah keluarga Amakawa──
"っ,
Ken-chan............ Barusan, kamu bilang apa......っ!?"
"......Yang bakal ikut ke Galactica
Land itu bukan Ayah. Tapi Ibu, yang merasa kasihan melihat ada orang
mencurigakan penuh aura yakuza menguntit kencan kalian, makanya beliau yang
mengajukan diri buat menggantikan."
"................!?"
"────Hah.
Bukannya bagus ya, Senpai Monyet Sialan."
Mungkin karena tidak bisa melihat mata
Rio yang membelalak, Koshino berkicau dengan suara cengengesan.
Meskipun kata-kata makian itu sudah
melewati batas toleransi yang bisa kuabaikan...... tapi ada pria yang berlari
secepat angin, lebih cepat dariku. Makanya, kubiarkan saja dia bicara.
Lagipula kalau dia sampai melontarkan
makian...... khusus buat masalah ini, wajar saja kalau dia begitu.
"Kencan
pertama sama adik tiri yang gagal diajak berhubungan intim, tapi malah diawasi
sama ibu sendiri, hukuman yang cocok banget buat Senpai Monyet yang delapan
puluh persen otaknya cuma diisi sama nafsu berahi────Mmph!?"
"Sekarang
kamu diam dulu Fuyuru! Maaf ya Kenji!! Aku mau keluar dulu menghirup udara
segar sama Fuyuru────Bisa kamu selesaikan dalam waktu sepuluh menit, kan!? Kita
masih ada pekerjaan, tahu!?"
"Mmmph-mmph!?"
Koshino yang mulutnya dibungkap lalu
diapit di bawah ketiak...... diculik oleh Haruya dan menghilang dari ruang OSIS
bagaikan angin puyuh.
Mampu menggunakan kakinya untuk menutup
pintu...... dia beneran sahabat yang sangat bisa diandalkan. Tak sia-sia dia
mau mengajakku bicara tanpa rasa takut, padahal orang tuaku mantan yakuza dan
aku cuma sering digunjingkan oleh orang-orang di sekitarku.
"...Kamu juga paham, kan. Ibu
itu...... Mikoto Amakawa, dulunya adalah putri tunggal dari seorang ketua
kelompok yakuza terkenal. Bagi kelompok itu sendiri, beliau punya nilai sebagai
sandera. Begitu pula dengan Shiori yang merupakan putrinya. ......Meskipun
sudah dua belas tahun berlalu sejak beliau kabur ke tempat Ayah (menikah lagi),
kita tidak bisa menjamin kalau tidak ada sampah (orang bodoh) yang
mengincarnya. Makanya, kita bahkan tidak pernah membiarkan Shiori pergi keluar
sendirian, kan?"
Di ruang OSIS yang kini cuma tersisa aku
dan Rio dalam jarak nol sentimeter, aku melanjutkan bicaraku. Seolah hendak
memberi pukulan susulan kepada Rio yang sudah terkulai lesu, menunduk, dan
murung.
────Jujur
saja, ini adalah masalah yang sebenarnya bisa diatasi dengan cara apa pun.
Lagipula ini cuma perpanjangan dari rutinitas kami biasanya.
Hanya saja, sebagian dari kesadaranku
(kewaspadaanku) terpaksa harus terbagi untuk menjaga Ibu.
......Hanya
gara-gara kata 'saja' itu, aku merasa sangat tidak puas────Aah, makanya hal
ini.
Cuma sekadar melampiaskan kekesalan saja.
Mana melampiaskannya
dengan cara yang sangat memalukan pula.
............Tapi.
"...Hei, Rio. Kalau kamu, bukannya
kamu bisa memikirkan cara yang lebih baik? Kamu kan bisa bergerak supaya
situasinya tidak sampai membuat Ibu turun tangan sendiri, kan? ......Atau, aku
saja yang terlalu tinggi menilaimu?"
"................"
Dengan menggeliat, Rio menggerakkan
pantatnya yang lembut dan
gampang berubah bentuk untuk duduk
kembali di atas pangkuanku.
......Sambil membungkukkan punggung,
membuatnya membulat...... ekspresi wajahnya yang murung kelihatan sangat jelas.
"................Maaf."
Setelah keheningan yang berat dan sangat
panjang menyela.
Di dalam suaranya yang bergumam itu......
Ckit, rasa sakit seperti ada
jarum yang menyusup mendadak menjalar di
jantungku.
"っ...
Rio──"
"Aku terlalu percaya diri.
Haaah...... begitu ya, Mikoto-chan............ Maksudku ini cuma alasan sih,
tapi aku kan gak terlalu kenal sama Mikoto-chan...... jadi aku gak bisa membaca
jalannya. Maaf ya buat Ken-chan sama Shi-chan, tapi dalam perhitunganku,
harusnya Suguru-chan yang bakal jadi pengawas...... terus dengan begitu,
semuanya bakal beres. Bahkan kemungkinan terburuk satu dibanding sejuta yang
gak bakal terjadi pun, harusnya bisa dihancurkan pakai cara itu.
............Maaf ya. Aku............ salah langkah...... Sampai-sampai membikin
Ken-chan...... mengeluarkan sindiran yang gak cocok buatmu begini......"
"............"
......Aku dan Rio sudah berteman sejak
kami berdua masih berusia empat tahun.
Rio yang merupakan profesional dalam
menyelesaikan masalah, sanggup mengeluarkan solusi bagaikan AI, namun bukan
berarti aku atau Shiori tidak pernah melihatnya melakukan kesalahan. Hanya saja
frekuensinya semakin berkurang seiring kami tumbuh dewasa. Sejenius apa pun
dia, kalau salah ya bakal salah juga.
Makanya...... Aah ya ampun, kalau
dipikir-pikir lagi aku memang menyebalkan.
Semua ini benar-benar cuma pelampiasan
kekesalan yang picik.
Perasaan tidak puas dan egois gara-gara
kencan pertama yang dinanti-nanti malah dibebani tugas tambahan, padahal
mungkin saja itu cuma kekhawatiran berlebihan.
Lagipula Shiori maupun Ibu sudah dua
belas tahun berlalu sejak kabur dari dunia yakuza.
Harusnya hal seperti ini sudah jadi
kekhawatiran yang tak beralasan dari dulu. Tapi...... justru karena pernah ada
korban nyata, mau bagaimanapun rasa cemas itu tidak bisa diusap begitu saja.
Makanya............ kalau dia
meremehkanku saja, rasanya bakal jauh lebih tenang sedikit.
Tapi
kalau dia malah jadi sangat murung, menundukkan kepala, dan meminta maaf
begini...... aku jadi gak bisa bilang apa-apa lagi, kan──
"────Hup."
"Ugh, eh?"
────Bahwa
sensasi itu, adalah apa yang disebut dengan 'sensasi melayang'.
Aku
baru bisa memahaminya────beberapa detik setelah tubuhku terhempas keras ke
lantai bersama dengan kursi lipat tanpa sempat memasang posisi pasrah sedikit
pun.
Aku
baru menyadari kalau Rio────Rio yang tadi tampak lesu di atas pangkuanku.
Ternyata melompat ke belakang sambil
menendang lantai, lalu menghempaskanku ke belakang............ Klak.
Setelah aku terjatuh terlentang bersama
kursi hingga membentuk posisi tidur bertingkat, Rio merangkak menindihku dari
atas.
Tepatnya setelah gendang telingaku
menangkap suara tombol seragamnya yang dilepas menggunakan sebelah tangan.
"Sa,
kit......!? Ri, Rio! Kamu, lagi ngapain──"
"Gara-gara cara penyelesaianku
salah...... aku jadi bikin beban buat
Ken-chan. Bikin Shi-chan cemas. Bikin
repot Mikoto-chan juga.
────Sampai-sampai
membikin Ken-chan, Ken-chan yang lembut itu...... menumpukkan rasa jengkelnya
ke aku. Ini masalah besar, tahu."
Ucapnya.
Berlawanan dengan nada bicaranya yang
terputus-putus, tangannya
bergerak dengan sangat cekatan.
Dia melepas baju seragam pelautnya pakai
sebelah tangan lalu
melemparnya
begitu saja────Refleks, aku menutup mataku pakai lengan──
"Gak boleh, tahu."
──Klek, terdengar suara
persendian yang kaku gara-gara pekerjaan dokumen memecahkan gelembung udara.
Setelah melepas bajunya......, Rio yang
kini cuma mengenakan pakaian dalam hingga dadanya yang sebesar wajahnya itu
cuma terhalang
selembar kain.
Sambil menekan kedua lenganku ke lantai
menggunakan sebelah tangan, menguncinya rapat-rapat.
Dengan tangan kirinya yang bebas, dia
secara paksa mencoba membuka kelopak mataku srekh, srekh.
Mau
dipejamkan sekuat tenaga pun, mau memalingkan pandangan pun...... mau tidak
mau, hal itu langsung masuk ke dalam jarak pandangku. Tonjolan penuh,
membengkak lembut, berwarna oranye pucat yang bergelimang────, Pa, dahal gak
boleh, kan......!!
Mau bagaimanapun, mata yang
terpeja--terbuka ini... tergiur oleh benda yang menggantung itu...!! "Ugh,
hah, le--lepasin... lepasin, Rio...!"
"...Matamu gak bisa lepas tuh~?
Fuhehe... habisnya dada Shi-chan kecil banget sih~. ...Nah, kalau diginiin
jadinya lebih... enak, kan~?"
"────!?"
Rio.
Rio yang selalu, selalu menempel seperti
hewan kecil, yang tidak punya kewaspadaan sama sekali ini, punya dua bukit di
dadanya yang sangat besar, tak sebanding dengan tinggi badannya.
Mnyuuu... ditekankan ke
wajahku, ke pipiku...!
Ugh... aroma manis bercampur asam... aku
tahu otakku mulai terbakar.
Biarpun terlambat menahan napas, rasanya
sudah terlambat, punggungku gemetaran karena sensasi luar biasa ini...! Kakiku
yang posisinya lebih tinggi berkali-kali menendang meja, tapi aku cuma bisa
merasakannya lewat sensasi saja. Suaranya entah kenapa tidak terdengar.
Sama
sekali, tidak ada yang────selain suara manis Rio, tak ada yang bisa
kudengar...!
"Fuhehe... napasmu, fuhehe... geli,
ya... Nn, dari aromanya aku tahu, Ken-chan. Sejak hari kamu gagal melakukan itu
sama Shi-chan... kamu terus menahannya, kan? ...Harus dilampiaskan, tahu...
Kalau sekarang, di sini kamu tumpahkan semuanya... dengan begitu, selesai.
Suguru-chan, Mikoto-chan... jadi gak perlu cemas lagi, kan... Boleh kok...
nafsu berahimu itu, kamu tumpahkan ke aku."
────Jangan
bercanda, dong.
Kalau begitu nanti jadinya selingkuh,
kan... atau, hargai sedikit tubuhmu sendiri, atau pokoknya singkirkan
tubuhmu... Padahal banyak hal yang ingin dan harus kuucapkan, harusnya begitu!
"Ugh... jangan, dong... bergerak.
Bergesek, panas... malah akunya yang...
jadi gak bisa, menahan diri..."
Berkeringat, lembap, lengket.
Padahal begitu, sensasi menempelnya sama
sekali tidak menimbulkan rasa jijik, rasa panas yang membungkus dengan lembut
ini, aromanya... mulai merusak daya pikirku.......
"Ugh,
ku, fuu............ hei~? Biarkan aku minta maaf, ya? ...Gak apa-apa. Ini cuma
cara egoisku buat menghapus kesalahanku────Bukan salah Ken-chan, kok. Nafsu
berahi (rasa bahaya) Ken-chan... bakal kuhapus pakai tubuhku............
Soalnya ini cara penyelesaian yang paling cepat, kan──"
Ugh... anak ini... dia beneran, nih...!?
Aah, aah ya ampun, ya ampun, ya ampun!!
Hentikan, hentikan dong!!
Jangan bereaksi!! Otak, jangan sampai
mendidih!! Jangan perlihatkan sikap yang gak punya prinsip kayak begitu! Kamu
gak punya rasa malu apa!!
Aku... aku itu! Suka sama Shiori, suka
sama adik tiri itu!
Tapi reaksi kayak laki-laki gatal gak
pandang bulu begini... ke teman
masa kecil yang berharga!
Menyedihkan,
memalukan, gak ada harga dirinya────Padahal begitu, padahal begitu!
Kenapa,
ke--napa...っ!!
────────Bzzz,
bzzz, bzzz, bzzz.......
"............? Ken-chan, maaf ya
kurogoh saku celanamu."
"っ!
Pu--haah...っ, haah, haah, haah...!"
Biarpun menyedihkan untuk ukuran
laki-laki karena dihempaskan ke lantai, tapi entah ini nasib baik atau buruk,
hal ini membawa keberuntungan. Getaran ponsel di dalam saku celana yang
bersentuhan dengan lantai dan kursi lipat, bergema dengan sangat keras hingga
terdengar mengganggu.
Rio yang melepaskan tangannya dari lengan
dan mataku.
Bahkan membiarkan ponsel yang diambil
dari baju seragamku begitu saja, lalu dia menutupi matanya sendiri yang
terlambat dilakukannya.
Dia menutupi mulutnya seperti sedang
menggigit lengan baju, lalu
memenuhi paru-parunya dengan aroma kain
yang hambar.
Aah,
padahal biarpun begitu────Sial, sialan, sialan, sialan!!
Kuusap pipiku sampai terasa sakit. Seolah
hendak menutupi seluruh suhu tubuh maupun sisa aromanya.
Benar-benar anak ini, si Rio ini!! Kalau
soal kepekaan perasaan orang!!
Dia beneran tidak peka banget!!
"っ────Ri--Rio!!
Ka--kamu, kamu...っ, apa-apaan yang kamu lakukan──"
"Hei, Ken-chan."
Setelah bernapas puluhan kali, tapi waktu
untuk memperlambat detak jantung yang berdegup kencang terasa sangat berharga.
Dalam keadaan tegang sampai terasa sakit,
aku mencoba mengeraskan suaraku hingga melampaui hal itu. Melontarkan makian,
mengecam tindakannya, ...aku mati-matian ingin membunyikan palu sidang yang
menyatakan diriku tidak bersalah.
Namun────keinginan
mati-matian yang egois itu.
Tepat di saat lengan kanan yang menutupi
matanya digeser perlahan, seketika langsung sirna tak berbekas.
"Ini... Shi-chan, gak apa-apa
ya...?"
Pandanganku yang dipaksa terbuka, tidak
lagi memperlihatkan dada Rio yang luar biasa besar itu.
Tepat di hadapanku, layar ponsel
pintarku.
Layar
pesan suara terpampang di sana────lalu jari Rio yang kurus dan kecil menekan
tulisan putar.
......Suara
yang mengalir bercampur derau sinyal itu adalah──
『Halo Onii-chan? Eetto... ini aku lagi mau pergi
ke toko baju di gedung stasiun sebentar sama teman────Wa, wawa!? Tunggu,
ja--jangan ditarik dong Sena!! Iruka-chan juga jangan ikut-ikutan dong────Ah』
──Rekaman
suara yang bahkan tidak sampai 10 detik itu.
Cukup untuk membuat otakku yang tadinya
mendidih, membeku dari ujung ke ujung, menjadi dingin, sadar, dan pucat pasi.
Hal
itu benar-benar sangat cukup────hingga aku secara refleks menegakkan tubuhku.
♀
"────Haah!!
Haah, haah, haah...っ, susah banget dipakainya!! Ah ya ampun, ini
sudah baju yang ke berapa coba!? Capek banget!!"
......Di salah satu sudut gedung stasiun
besar yang berjarak 20 menit jalan kaki dari sekolah. Di tengah keramaian orang
yang bikin pusing, cuma toko ini saja yang terasa sangat tenang. Bukannya sepi
sih... tapi secara atmosfer, mungkin tempat ini agak sulit didekati. Di
bangunan bergaya geometris seperti di komik SF, keberadaan toko berpenampilan
antik dan elegan ini memang terasa mencolok, bahkan aku pun
memahaminya.
Di dalam toko yang berjajar pilar-pilar
berwarna cokelat tua. Di atas lantai ubin yang mengkilap berjajar rak gantungan
baju, dan dari dinding menempel banyak sekali pakaian. Saking cantiknya, sampai
tidak bisa membedakan mana barang dagangan dan mana pajangan.
Kipas angin berbilah panjang berputar
dengan bersuara di langit-langit, memancarkan cahaya lembut ke bawah.
Pencahayaan yang agak sedikit kurang terang itu mungkin makin memperkuat aura
tempat rahasia di toko ini, aura yang seolah menolak pengunjung baru.
Sena yang melangkah masuk dengan
terbiasa, disusul oleh Iruka-chan.
Aku terdorong mengekor di belakang mereka
berdua.
Sudah
berapa puluh menit berlalu sejak masuk ke toko baju──katanya
disebut
'butik'──ini, ya.
"C--Cukup
dong... kasih aku istirahat sebentar...っ,
haus tahu, lapar,
capek
berdiri, pengen duduk!! L--Lagian... *Haaah, haaah*... gara-gara terbawa
suasana aku sampai memakainya, tapi... baju kayak begini tuh──"
"Fwaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa............っ!!"
......Seolah menyapu habis keluhan,
tangisan, bahkan pandangan mataku
yang samar.
Iruka-chan.
Sejak pertama kali bertemu di kelas satu,
seingatku sekarang adalah momen di mana Iruka-chan paling bersemangat.
Mengeluarkan
helaan napas kagum yang membuatku ingin bertanya di mana dia menyembunyikan
kapasitas paru-parunya────lalu membuat suara jepretan kamera ponsel bergema
nyaring di seluruh toko.
Dengan kelincahan yang sulit dibayangkan
dari tubuhnya yang tinggi jangkung.
Dia terus membidikku yang membuka tirai
kamar pas, Kecrak, kecrak, kecrak, kecrak, mengambil foto beruntun dari
segala sudut atas, bawah, kiri, dan kanan.
Ya ampun, cuma dalam kurun waktu puluhan
menit ini saja, sudah berapa ribu foto yang diambilnya. Sama sekali tidak bisa
kubayangkan.
"Imutnya...っ!
Imut, imut banget Shiori-chan...っ! Pinggang, biarkan pinggangmu bungkuk begitu
saja gak apa-apa, sini, pandangannya ke sini, coba kasih tatapan yang lebih...
kayak lagi meremehkan begitu! Tangannya juga, sebelah biarkan tetap di lutut...
tangan kananっ, acungkan jari telunjukmu, arahkan ke aku...
tatap ke atas...!!"
"E--Eto, be--begini...?"
"Hauuuh!! A--ah, bagus, muka yang
itu bagus... tapi kalau bisa, kalau bisa sedikit lagi... aku pengen ekspresi
wajah yang lebih memandang rendah, dingin, dan mengejek...!!"
"Permintaannya detail banget!!
Haaah... hei Sena. Apa benar ini aturan di toko ba... di butik? Apa memang
gayanya begini?"
"................"
Hei, kamu mengabaikanku Sena.
Padahal kamu biang kerok yang mengajakku
ke sini...... baju yang kupakai sekarang ini juga palingan kamu bawa sesuai
selera kamu sendiri, kan. Orang aneh yang jalan-jalan di luar pakai pakaian
tidak senonoh kayak begini, seingatku cuma Sena doang tahu.
Aku melirik sedikit ke cermin di
belakang. ...Melihat sosok yang terpantul dengan jumlah kulit yang banyak
terekspos itu, tanpa sadar punggungku membungkuk.
Kerah dan lengan bajunya tidak tahu
ketinggalan di mana, atasan warna putih yang cuma menutupi sampai batas dada
ini dipenuhi rumbai-rumbai padahal ukurannya serba kurang, sampai-sampai
perutku kelihatan. Celana pendek kain jeans yang berantakan (katanya sih model damaged
processing) ini, biarpun dipakai sama aku yang kuntet begini, daging
pantatku tetap tertekan sampai rasanya sakit dan kesemutan.
Kaos kaki tinggi warna hitam yang
menempel di kaki maupun kuncir rambut yang secara misterius terpasang di lengan
atas pun tidak bisa menutupi penampilanku yang kelewat terbuka dan vulgar bagai
cewek mesum ini.
...Kenapa sih, setelah menyuruh orang
pakai baju kayak begini...... di bagian paling dalam toko yang berjajar kamar
pas berbentuk kubus ini, di atas bantal persegi yang ditaruh beberapa buah.
Si rambut pirang ini dari tadi cuma duduk
diam saja di sana, ya.
"......Ya
ampun. Padahal menurutku ini sama sekali gak cocok buatku, aku mau pakai yang
selanjutnya saja ah? Jumlahnya sebanyak ini... gak tahu deh bakal makan waktu
berapa jam lagi──"
"Eeh!? ......Padahal...... cocok,
lho......"
"Biarpun
cocok aku gak bakal senang!! M--Maksudku Iruka-chan, hentikan dong──"
"Haaah... Iruka-chan, stop sebentar.
Jepretan kameramu beneran kelewatan tuh."
Tiba-tiba... suara Sena yang kudengar
setelah setidaknya 10 menit berlalu ini, terdengar sangat lesu dan murung,
tidak seperti biasanya.
Helaan napas panjang, kepalanya yang
menunduk, teguran yang wajar itu...... semuanya, benar-benar semuanya di luar
dugaan. Tampaknya
Iruka-chan juga sama, dia menghentikan
suara kamera yang bergema menempel di telinga.
Wajah Sena yang memegangi keningnya.
...Gak kelihatan jelas sih... tapi dia
lagi bingung? Matanya kelihatan lebih tajam dari biasanya......
"────Aku
mau memastikan sekali lagi ya, Shiori-chan, Iruka-chan."
"U, U--un..."
"............"
"Alasan
kita datang ke butik ini... adalah memberi hadiah 'baju perang yang cocok buat
kencan pertama' ke Shiori-chan, supaya kencan pacaran besok sama Onii-san bisa
lepas dari kesan 'jalan-jalan keluarga'────benar begitu, kan?"
Iruka-chan mengangguk pelan.
...Begitu dibilang hadiah ulang tahun,
aku jadi tidak enak hati buat menolaknya. Tahun lalu aku lupa memberitahu hari
ulang tahunku, terus setelahnya Iruka-chan menangis sesenggukan sampai bikin
ilfil.
"Terus,
ya. Jujur saja aku berniat memilihkan baju yang cocok buat Shiori-chan, supaya
Onii-san yang adalah pacar kamu itu jadi makin jatuh cinta────terus dari situ
aku mau menggoda dan menjatuhkannya, makanya aku bersemangat banget memilih
baju yang disukai laki-laki."
"Iya. Aku hargai kejujuranmu itu
sih, lagian sudah kebongkar juga jadi ya sudahlah. Tapi bisa tidak usahanya
menutupi niat buruk itu diteruskan sedikit? Masa aku harus terima hadiah yang
dipenuhi niat mesum begitu?"
"Kita kan patungan sama Iruka-chan,
jadi bersikap rasional dong. Cuma ya............ Shiori-chan, baju yang disukai
laki-laki itu sama sekali gak ada yang cocok di kamu, ya."
────Kalau.
Di tempat ini.
Tanpa memakai sepatu dan berdiri di
lantai, tidak ada Iruka-chan yang memegang lengan kurusku yang putih pucat ini.
Aku pasti sudah menuruti pembuluh darah
biruku yang berkedut ini buat menjatuhkan tinjuku ke kepala Sena.
"っ...
Maksudmu perkataan yang mengajak berantem itu adalah hadiah
ulang
tahun darimu, Sena...っ!!"
"T--Tunggu...! Gak apa-apa......
Beneran...... cocok dan imut, kok? Shiori-chan."
"Makanya
biarpun cocok aku gak mau pakai baju kayak Sena (cewek mesum) begini!! Lagian
sama sekali gak imut──"
"Bagian itulah masalahnya~"
Tiba-tiba Sena berdiri.
Tanpa
suara Sena mendekat────lalu dengan terbiasa menyambar ponsel dari tangan
Iruka-chan dengan mulus.
......Dengan wajah cengengesan dan mata
setengah terpejam yang sudah
sangat familier.
"Ah,
Se--Sena-cha──"
"Fum-fum...... Ya kan, dilihat dari
foto saja sudah kelihatan. Shiori-chan itu dasarnya memang pendek, gak punya
dada, bentuk tubuhnya juga lurus datar, jadi gak ada bagian yang bisa
ditonjolkan. Ditambah lagi kulatmu kelewat putih, jadi kalau nekat memamerkan
kulit malah kelihatan gak sehat, tahu~..."
"......Itu kan akibat kamu cuma
pernah lihat laki-laki yang cuma ngincer tubuh doang?"
────Aku
tahu kamu memikirkanku dan bingung buat pilih baju, sih.
Tapi kalau diomongin terang-terangan
begitu, bikin kesal tahu. Kamu tahu kan. Aku ini pemarah.
"Lagian!
Onii-chan itu gak peduli soal tubuh atau semacamnya! Dia bilang sudah
menyukaiku dari dulu tahu! Tanpa kostum yang memamerkan kesan cewek mesum
begini pun, pakai baju biasa...... enggak, dia pasti bakal bilang cocok pakai
baju apa saja! Maksudku, umumnya kalau sama orang yang disukai kan memang bakal
begitu! Iya, kan! Iruka-chanっ!!"
"っ,
U--un... Aku juga mikir be──"
"Gara-gara
mikir gitu makanya pendapat Iruka-chan gak bisa diandalkan────makanya kamu
sampai mengambil foto sebanyak ini,
kan."
Sambil berkata begitu.
Sena mengarahkan ponsel Iruka-chan tepat
ke depan mataku.
...Itu adalah folder foto, tapi bukan
layar yang memuat deretan gambar.
Kalau digeser ke kanan dari sana, layar
album bakal muncul...... di bawah ikon album tambahan yang dibuat, terdapat
deretan tulisan
'Untuk Dipakai'.
............Untuk dipakai?
"Ah,
aah! G--gak boleh, gak boleh, gak bolehっ,
ja--jangan dilihat──"
"...................Hei,
Iruka-chan."
Bukan 'jangan dilihat' dong. Ini kan foto
aku semua.
Lagipula... begitu ditekan, aku jadi
paham kenapa dia cerewet banget menyuruhku berpose secara gigih.
Komposisinya, posisinya, ekspresinya,
bahkan bentuk jarinya pun semuanya...... foto-foto yang memperlihatkan
seolah-olah aku sedang memaksa (menyukai sifat menyimpang) Iruka-chan (atau
cuma
kelihatan begitu), ada ratusan lembar
foto berjajar di sana.
"Foto-foto ini...... mau dipakai
buat anu apa, ya?"
"っ............
B--baju yang cocok...... yang mana...... buat membandingkan, kok......"
"Hee──"
Jarang-jarang nih. Matanya sampai melirik
ke mana-mana saat memberi alasan.
Sudah
kubilang, kan? Menurutku lebih baik jujur saja. ...Makanya──
"──Kalau
kamu jujur, kubiarkan tersisa satu lembar foto. Tapi kalau bohong, sekarang
juga kuhapus semuanya."
"Ah...
I--itu, sih──"
"Okey,
tiga~ dua~ sa──"
"──BAHAN
COLI...!!"
"...Ooh? Bahan...?"
"................"
Mau memalingkan mata juga sia-sia tahu.
Tangan yang tadi memegang arm-ku, sekarang ganti aku yang memegangnya dari arah
sini. Gak bakal kulepas. Gak bakal kubiarkan kabur.
Kutatap
ke atas, kuawasi────karena aku bakal terus menatapmu.
"............Bu--buat
dipajang, di, dinding...... trus, kalau malam...... pengen kulihat sebentar,
gitu──"
"Sena.
Cara hapus semua foto, kalau gak salah yang di kanan atas──"
"Jangaaaan!!"
Tanpa bisa melepaskan tanganku,
Iruka-chan berusaha merebut kembali ponselnya pakai tangan kiri.
......Menyedihkan memang, tapi karena
gerakannya lambat, menghindarnya gampang banget. Perbedaan jangkauan tangan pun
kalau sudah sedekat ini malah Iruka-chan yang rugi.
"Mo--mohon...... mohon banget......!
Sekali ini saja...... cuma aku doang kok yang pakai......!"
"Dipakai buat hal begitu aja aku
udah gak mau tahu!! Ya ampun Sena!! Sifat mesummu sampai menular ke Iruka-chan,
tahu!? Tolong tahan diri dikit dong keberadaanmu itu!!"
"Nyasar
ke aku itu parah banget tahu────Nn, ugh?"
"Bisa
gak sih!! Jangan Palingkan mata barengan sama wajahmu segala!! Hentikan
Iruka-chan dong, anak ini udah menangis sesenggukan tahu!? Masa membiarkan
teman sendiri terus kamu malah lihat ke mana────"
Tiba-tiba.
Di saat aku mengarahkan pandangan ke arah
yang dilihat Sena.
────Waktu
seolah-olah berhenti seketika.
"Haah,
haah, haah, haah...っ, haah, haah────っ,
Shio, ri...っ!?"
......Warna pilar, kilauan ubin, hingga
deretan pakaian yang dipajang.
Semuanya berubah menjadi hitam putih.
Butik yang padahal anggun dan tenang, sekaligus punya koleksi lengkap yang
megah ini, seketika kehilangan warnanya.
Tubuhku tak bisa bergerak. Aku bahkan tak
bisa merespons saat ponsel di tanganku ditarik begitu saja.
Mataku tak bisa berpaling. Kesadaranku
tak bisa dialihkan.
Habisnya──
"............Onii, chan...?"
Onii-chan.
Pacarku...... Kenji Amakawa.
Sambil menyapu keringat yang mengucur
deras pakai lengan seragamnya, dia melotot ke arahku.
......Menatap tajam pakaian memalukan
bagai cewek gatal yang kupakai ini.
"────"
Pandangannya yang menusuk itu. Langkah
kakinya yang mendekat dalam diam.
Begitu panas dan lurus, hingga membuatku
lupa cara bernapas.
────────Padahal
nanti malam aku tak boleh begadang, tapi dadaku mendadak berdebar dan terasa
perih.



Post a Comment