NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Eroge no Utsu End kara Heroine-tachi o Kyuusai Shitara Volume 1 Chapter 1

Chapter 1

Heroine yang Bertingkah Seperti Anak Laki-laki Ingin Dilihat


"Hei, hei. Sakura, kamu punya kakak laki-laki, kan?"

"Un! Dia baik sekali, lho!"

Sakura Miyano, teman pertama yang kudapatkan setelah masuk SMA. Dia sangat ceria, dan berbeda denganku, dia sangat feminin.

Sepertinya dia punya kakak laki-laki yang sangat dia banggakan. Namanya Kaede Miyano.

Sakura sepertinya sangat menyayangi kakaknya dan selalu memamerkannya kapan pun ada kesempatan.

Suatu hari, saat aku sedang bermain di rumah Sakura, kakak yang sering dia bicarakan itu pulang.

"Terima kasih sudah selalu menjaga Sakura."

"Eh!? Aku tidak terlalu merepotkan, kok!?"

"……Iya! Aku menjaganya dengan baik!"

Kakaknya selalu bersikap lembut, dan dia selalu memperlakukanku sebagai seorang gadis, terlepas dari penampilanku yang seperti ini.

Aku sangat senang akan hal itu, sampai-sampai aku akan langsung datang ke rumahnya kapan pun aku punya waktu luang hanya untuk mengobrol dengan kakaknya.

Berbeda dengan anak-anak kekanak-kanakan di SMP yang tidak memperlakukanku layaknya seorang gadis, kakaknya yang juga senior itu terlihat sangat dewasa dan keren.

Aku berharap dia akan terus memperhatikanku selamanya, tapi……

"Eh, kali ini mau belajar ujian di rumah kami? Boleh saja sih…… tapi jangan mengeluh kalau berantakan, ya?"

"Yah, rumahku tahun ini ada Sakura dan teman-temannya. Sangat membantu. Nanti aku traktir sesuatu."

"…………Aku ingin makan es krim yang mahal."

Sebelum ujian tengah semester, aku sempat berpapasan dengan Kak Kaede saat pindah kelas.

Di samping Kak Kaede ada seseorang yang imut dan lembut, mereka terlihat sangat asyik mengobrol.

Dari cerita Sakura nanti, aku tahu kalau orang itu adalah teman masa kecilnya.

Dadanya juga besar, dia jauh lebih imut dariku.

Lagipula, ekspresi Kak Kaede saat bersamanya tampak lebih…… kekanak-kanakan dibandingkan saat mengobrol denganku.

Ternyata, Kak Kaede memang lebih menyukai gadis yang feminin dan punya dada besar dibandingkan aku.

Tidak ada yang mau melirik gadis kurus, berotot, dan berdada rata sepertiku.

Suatu hari saat aku mulai memikirkan hal-hal konyol seperti itu, aku sedang bersantai di kamar sambil melihat situs video.

Saat aku mencari video terkait atletik, berharap menemukan sesuatu yang bisa digunakan untuk latihan agar bisa melarikan diri dari kenyataan, aku menyadari bahwa ada sebuah video siswi SMA atletik yang memiliki jumlah tayangan sangat banyak.

Aku menontonnya karena penasaran apakah ada atlet yang hebat, tapi isinya tidak seberapa.

Aku penasaran kenapa jumlah tayangannya bisa sebanyak itu, lalu aku membuka kolom komentar.

Jujur saja, melihatnya tidak membuatku merasa nyaman.

Sebagian besar komentar tidak membahas isi pertandingan, melainkan membahas seragam yang dikenakan atlet tersebut, dan semuanya dipenuhi komentar mesum.

Meskipun begitu, meskipun isinya komentar-komentar menjijikkan, entah kenapa jantungku tidak berhenti berdebar. Tentu saja aku merasa jijik. Tapi lebih dari itu……

"Apa…… aku juga bisa membuat mereka bergairah sebagai seorang gadis……?"

Sejak saat itu, tindakanku sangat cepat.

Aku segera berganti pakaian olahraga, menutupi wajah dan lambang sekolah, lalu melakukan selfie.

 Aku tahu itu hal buruk dan aku harus berhenti, tapi keinginan untuk diakui sebagai seorang gadis membuatku nekat membuat akun anonim dan mengunggah selfie tersebut.

Awalnya tidak ada reaksi apa pun. Seharusnya aku berhenti di situ saja. Seharusnya aku segera menghapusnya.

Tapi, beberapa hari kemudian, ada reaksi pada unggahan itu.

Imut banget! Aku mau foto yang lebih berani lagi

………Sejak saat itu, aku tidak bisa berhenti.

Reaksinya terus bertambah. Semua orang memujiku imut, bergairah karena aku nakal, dan terus memintaku untuk melakukan lagi dan lagi.

Lalu saat memasuki bulan Juni. Akhirnya aku mencapai titik yang seharusnya tidak boleh kulangkahi.

Aku ingin kamu melepas pakaian dalammu

Aku ingin melihat payudaramu yang asli

Tunjukkan setengah wajahmu saja tidak apa-apa

Bahkan aku yang sudah mulai kehilangan akal sehat pun tidak bisa langsung memenuhi permintaan itu.

Jika aku melakukan itu, aku tidak akan bisa kembali lagi. Aku tahu itu benar-benar dilarang.

Saat aku sedang bimbang seperti itu, aku mendengar dari Sakura bahwa Kak Kaede lupa membawa kotak bekalnya.

Aku membujuk Sakura agar membiarkanku yang mengantarkannya saat istirahat siang.

Mungkin, jauh di lubuk hatiku, aku ingin Kak Kaede menghentikanku.

Mungkin jika itu Kak Kaede, dia bisa menyadari kegelisahanku.

Begitulah…… yang kuharapkan…………

Aku sampai di ruang kelas dan mengintip ke dalam.

Ada seorang pria dengan wajah yang sangat menyeramkan di dekat pintu, aku merasa sedikit takut, tapi aku mengumpulkan keberanian dan menerobos masuk ke dalam kelas.

"SENPAI! Aku datang menggantikan Sakura untuk mengantarkan bekal yang Senpai lupakan!"

Dengan ceria, layaknya diriku yang biasa, aku menyerahkan bekal itu kepada Kak Kaede.

"Terima kasih sudah repot-repot datang."

Kak Kaede tersenyum seperti biasanya saat berterima kasih padaku………… lalu…………

Dia segera menoleh ke arah teman masa kecilnya itu.

 

Jumat, 14 Juni.

Hari ini pun aku tetap berlatih di klub seperti biasa.

Turnamen musim panas sudah dekat, dan waktu untuk berlatih bersama para senior tidak banyak.

Aku sibuk, jadi aku belum mengunggah selfie lagi sejak permintaan hari itu.

"Hei, Sera. Bisa bicara sebentar?"

Saat latihan hari itu, aku dipanggil oleh seorang senior laki-laki.

"Iya!"

Senior itu membawaku ke ruang ganti laki-laki. Katanya ada konsultasi rahasia. Aku dibawa masuk ke dalam, ada apa gerangan…………

"Ini, kan Sera?"

"Eh………………"

Di ponsel yang ditunjukkan senior itu, terpampang foto selfie nakal yang kuunggah di hari aku menyerahkan segalanya pada Kak Kaede.

Di sana terlihat diriku dengan mulut yang terekspos, memperlihatkan tubuh bagian atasku yang telanjang tanpa busana.

"Itu………… bukan……"

"Tidak, tidak. Akun ini milik Sera, kan? Pakaian olahraganya juga punya sekolah kita, dan tidak akan bisa tertutupi hanya dengan menyembunyikan lambang sekolah. Lagipula, tahi lalat di dekat mulut itu sama persis."

"…………Iya…… sungguh……"

"Iya, iya. Kalau begitu, kalau bukan kamu, aku akan menyebarkannya ke grup anak laki-laki. Semua orang pasti akan tertarik melihat telanjang gadis yang mirip dengan Sera……"

"T…… tolong hentikan……"

"…………Kalau begitu, kamu paham, kan? Kamu saja bisa mengunggah selfie seperti ini ke internet. Pasti ada cara untuk memohon, bukan?"

Aku didesak ke dinding oleh senior itu, dan dia mendekatkan wajahnya.

Jangan, jangan, jangan.

Aku tidak ingin disentuh oleh orang lain selain Kak Kaede…… selain orang yang kusukai………… tolong hentikan…………

"Tenang saja. Tergantung usahamu, foto ini akan kuhapus."

Jangan………………

Tolong aku………… Kak Kaede………………

Akhirnya hari Jumat, 14 Juni tiba. Sepulang sekolah hari ini, Akari diancam oleh senior klubnya dan akan diperkosa.

Aku memang berhasil menemukan akun anonim milik Akari, tetapi sudah terlambat; selfie telanjang yang menjadi pemicu insiden itu sudah terunggah.

Namun, meskipun aku menemukannya lebih awal, mungkin aku tidak akan menghentikannya.

Lagipula, aku tidak tahu pada tahap apa pria itu menyadari identitas Akari.

Lagipula, dia hanyalah karakter figuran yang wajah dan namanya pun tidak aku tahu.

Jika aku mengancam Akari duluan dan menghentikan unggahan itu, pria itu mungkin akan tetap mengancamnya menggunakan foto yang sudah dia miliki sebelumnya.

Jika itu terjadi, waktu kejadiannya mungkin akan bergeser.

Meski Akari harus mengalami ketakutan, akan lebih mudah untuk menolongnya jika kejadiannya berlangsung sesuai alur game.

………Tetap saja, ini adalah event yang tidak masuk akal untuk pertama kalinya.

Aku tidak bisa menghentikan penciptaan akun anonim Akari yang menjadi akar masalah. Andaikan aku bisa melakukan itu, betapa mudahnya semuanya.

Waktu yang tepat untuk mencegah event Akari ini di dalam game adalah saat istirahat siang tanggal 10 Juni.

Cukup pilih opsi "Mau makan bareng?" saat dia mengantarkan bekal. Omong-omong, pilihan ini tidak muncul di putaran pertama.

Ini adalah pilihan yang muncul sejak putaran kedua dan merupakan kesempatan terakhir bagi protagonis untuk menahan Akari.

Untungnya, saat ini hanya pria itu yang memegang fotonya.

Namun, tuntutannya akan semakin meningkat, dan si brengsek itu, yang mulai salah mengira bahwa Akari adalah miliknya, akan mulai menyebarkan ceritanya ke anggota klub lainnya.

……Akari juga akan sedikit demi sedikit hancur.

Dia akan mulai merasakan kenikmatan karena dirangsang sebagai seorang gadis.

Mungkin itu caranya melarikan diri dari kenyataan.

Kejatuhan itu sungguh menyakitkan untuk dilihat.

Mau bagaimana lagi. Jika sudah begini, aku akan menggunakan kekuatanku sendiri.

Mungkin terlihat sedikit tidak keren, tapi buang saja harga diri seperti itu.

Lagi pula, aku bereinkarnasi menjadi pria dengan otot seperti ini.

Mari kita selesaikan dengan kekerasan luar biasa yang tidak dimiliki oleh protagonis.

"Hei, Sera. Bisa bicara sebentar?"

"Iya!"

 

Sepulang sekolah.

Aku menemukan Akari dibawa pergi oleh seorang siswa laki-laki ke arah ruang klub.

Aku memutuskan untuk mengikuti dari belakang dengan memberi jarak agar tidak ketahuan.

Begitulah, aku sampai di ruang klub atletik laki-laki.

Tidak ada waktu untuk menguping.

Jika dia melakukan sesuatu yang kejam, itu akan meninggalkan trauma seumur hidup.

Kemungkinan besar pintunya dikunci.

Ruang klub juga sepertinya cukup luas.

Dia tidak mungkin menyerang seseorang di dekat pintu begitu saja.

Kalau begitu…………!

"……Hyaaa!!"

Aku menendang pintu itu dengan sekuat tenaga dan berhasil mendobraknya.

"Apa…………!?"

"Eh…………"

Di dalam, ada si brengsek yang mencoba melepas pakaian Akari dan Akari yang sedang menangis.

………Melihatnya langsung sungguh menyakitkan. Aku merasakannya lebih dalam karena aku tahu perkembangan selanjutnya.

"A-apa yang kau lakukan! Tiba-tiba──"

Si brengsek itu mencoba berteriak dengan lantang ke arahku, tetapi aku segera meninju wajahnya tanpa ragu sedikit pun.

"Diam kau, berisik."

Karena melihat kejadian itu secara langsung, amarahku yang teringat bagaimana Akari diperlakukan dengan kejam di dalam game meluap, dan aku pun tidak sengaja melayangkan pukulan.

"A-apa…… yang kau lakukan…………"

Aku mencengkeram kerah pria yang kehilangan semangat bertarung dalam sekali pukul itu, menajamkan tatapanku sebentar, dan berbicara dengan suara berat.

"Jangan berani-berani menyentuh milik orang lain, kubunuh kau."

"Hii……"

Aku mengoperasikan ponselnya yang masih menyala dan membuka folder gambar.

Di dalamnya tersimpan selfie Akari, dan aku menghapus semuanya.

"………Oi. Sampai kapan kau mau diam di situ? Cepat kembali latihan!"

"…………A-ah, i-iya!"

Aku memanggil Akari yang sedang terpaku melihat kejadian itu.

Seseorang mungkin akan datang sewaktu-waktu.

Aku harus membuat Akari pergi sebelum itu terjadi.

Akari berlari keluar dari ruang klub secepat kelinci.

Aku memutuskan untuk menekankan padanya agar pria ini tidak berani mengganggu Akari lagi di masa depan.

"Coba saja melapor pada siapa pun. Aku sudah merekam semua percakapan kalian tadi. Terdengar sangat menyenangkan, ya? Apa semenyenangkan itu mengancam seorang junior perempuan?"

"To-tolong berhenti…… aku yang salah! Jadi……"

"…………Kalau begitu, jangan pernah berani menyentuh wanita itu lagi. Kau tahu apa yang akan terjadi jika kau melakukannya lagi, kan?"

"Ba-baik…… aku mengerti……"

Tentu saja rekaman itu bohong. Tidak mungkin aku bisa merekam dari balik pintu.

Tapi pria ini tidak mungkin bisa menilainya sekarang. Sudah jelas dia pasti lebih mementingkan keselamatan dirinya sendiri.

Aku meninggalkan pria yang sudah kehilangan nyali itu di ruang klub, dan aku pun segera pergi dari sana.

Aku berharap masalah ini terselesaikan untuk saat ini.

Meskipun aku menyelesaikannya dengan paksa…… aku tidak tahan melihat anak seceria dia menjadi redup.

Aku tidak tahu bagaimana tindakan ini akan memengaruhi skenario selanjutnya.

Mungkin ada kemungkinan event lain akan terjadi.

"……Aku harus memikirkan langkah selanjutnya."

Sambil memperhatikan Akari yang kembali berlatih seolah tidak terjadi apa-apa, aku memutuskan untuk pulang hari ini.




Senin pagi, saat minggu baru dimulai.

Aku berjalan menuju kelas sambil memikirkan bagaimana caranya menangani masalah Akari, lalu kulihat dia sedang berdiri gelisah di depan kelas.

Sepertinya dia memang ada urusan dengan sang protagonis. Aku berniat melewatinya begitu saja, namun……

"A…… anu!"

Entah kenapa, justru aku yang dipanggil.

"……Ada apa?"

"Anu…… tentang kejadian tempo hari, aku ingin bicara……"

Akari berbicara sekuat tenaga meski terlihat ketakutan padaku.

Ya, biar bagaimana pun aku sudah menolongnya, wajahku memang terlalu sangar. Wajar saja kalau dia takut.

"Te, terima kasih banyak!"

Akari menundukkan kepala dengan penuh semangat meski tubuhnya gemetar.

Karena dia melakukannya tepat di tengah koridor, siswa-siswa di sekitar langsung memperhatikanku dengan penasaran.

"Cih…… kita pindah tempat."

"……I, iya."

Aku tidak mau membicarakan masalah hari itu di sini, jadi aku memutuskan untuk pindah ke tempat yang tidak terlalu mencolok.

"……Di sini saja sudah cukup, kan?"

Tempat yang kupilih adalah atap sekolah, yang juga merupakan tempat favorit Ibuse Reo untuk bolos.

Berkat reputasi buruk Reo, tidak ada seorang pun yang berani mendekat. Tempat yang sempurna untuk pembicaraan rahasia.

"Jadi…… apa ada masalah lagi setelah itu?"

"Iya…… senior itu tidak datang latihan di hari Sabtu dan Minggu…… dan dari anggota klub lain juga sepertinya tidak ada masalah……"

"……Syukurlah kalau begitu."

Itu salah satu elemen yang sempat kukekhawatirkan.

Kupikir mungkin akan ada semacam kekuatan paksaan atau semacamnya, tapi sepertinya tidak ada.

Artinya, semakin banyak Death Flag yang kupatahkan, semakin bahagia pula para heroin.

"………Ano, Senpai, boleh aku bertanya satu hal?"

"Silakan."

"Kenapa Senpai…… berada di tempat itu?"

Itu pertanyaan yang sulit dijawab.

Tidak mungkin aku bisa bilang kalau aku mengandalkan ingatan kehidupan masa laluku—mana mungkin dia percaya.

"……Aku memang sudah lama penasaran dengan klub atletik. Jadi, aku ingin melihat-lihat. Aku memutuskan untuk mampir saja ke ruang klub."

Ya, itu alasan yang cukup masuk akal untuk kebohongan dadakan. Terasa nyata.

"Lalu aku mendengar suara pembicaraan, dan sisanya seperti yang terjadi saat itu."

"Begitu ya……… kalau begitu, Senpai…… Senpai juga…… mendengar apa yang kami bicarakan, kan?"

"…………Kurasa begitu."

Akari terdiam mendengar jawabanku. Ternyata tujuan Akari adalah untuk memastikan fakta itu.

"…………Tolong, kumohon. Aku akan melakukan apa saja. Jadi, tolong jangan beritahu Kaede Senpai tentang hal itu……"

Demi agar fakta itu tidak tersebar, dia memberanikan diri untuk memohon padaku.

Padahal aku sudah menolongnya, tapi dia malah ketakutan seperti ini…… jujur, itu sedikit melukai perasaanku.

"Apa aku terlihat seperti pria yang akan melakukan hal seperti itu?"

"Ti, tidak…… tidak terlihat……"

Ya, kalau tidak terlihat, seharusnya kamu tidak perlu setakut itu. Seolah-olah aku yang memaksamu untuk mengatakannya saja.

"……Yah, karena wajahku memang terlihat seperti preman, mungkin sulit untuk mempercayaiku. Tapi percayalah, aku tidak akan menyebarkannya."

"Ta, tapi……"

Dari sudut pandang Akari, aku memang pasti terlihat menakutkan.

Sudah ditolong oleh pria yang penampilannya sangat mirip berandalan, dan tidak meminta imbalan apa pun…… mungkin aku perlu menawarkan sesuatu.

"Kalau begitu, bagaimana kalau kita bertukar kontak saja?"

"Eh…………"

"Aku sudah bersusah payah menolongmu, masa minta kontaknya saja tidak boleh?"

"Eto…………"

"……Kalau ada laki-laki yang mengganggumu lagi, segera hubungi aku. Aku akan segera datang."

Aku tersenyum selembut mungkin pada Akari yang sedang kebingungan.

Meskipun hanya percobaan, hal seperti itu sudah terjadi.

Aku ingin membuatnya merasa sedikit lebih tenang.

"…………T…… i, iya!"

Mungkin dia berpikir kalau hanya bertukar kontak itu sudah cukup murah, Akari setuju dengan tampak sangat senang.

Selain itu, jika namaku ada di daftar kontaknya, itu juga bisa jadi alat ancaman yang ampuh.

Sesuatu seperti, "Aku kenal dengan Ibuse Reo, tahu!"

"……Terima kasih banyak."

Akari bergumam pelan sambil menatap ponselnya seolah itu adalah benda berharga.

Meski dia bilang dirinya tidak feminin, Akari adalah gadis yang luar biasa.

Wajahnya yang sekarang, yang terlihat tenang karena rasa cemasnya hilang, sangat lucu sampai-sampai aku ingin mengelus kepalanya.

"Apa akun anonimnya sudah dihapus?"

"……Iya. Sudah kuhapus."

"Jangan lakukan itu lagi…… lagipula, tanpa melakukan hal aneh seperti itu, kamu sudah cukup terlihat seperti gadis, dan sungguh, ka, kamu itu imut."

"I, imut…………!?"

Itu adalah gombalan spontan untuk meningkatkan rasa percaya diri Akari, tapi karena aku tidak terbiasa mengatakannya pada gadis, aku jadi tersendat karena malu di tengah kalimat.

Namun, mendengar ucapanku, telinga Akari memerah padam dan dia menunjukkan reaksi yang sangat lucu. Memang benar, dia itu imut.

"Ngomong-ngomong, kamu…… suka pada Miyano dari kelasku, kan?"

"Ti, tidak!? Mana mungkin aku……"

"Makanya, berhenti bilang 'mana mungkin aku'. Percaya dirilah. Kalau kamu maju terus, Miyano pun akan langsung jatuh cinta padamu."

"Be, benarkah begitu………?"

"Ya. Mana ada laki-laki yang tidak akan luluh kalau diserang oleh gadis seperti dirimu."

"Be, be, begitu…… ya……?"

Yang kurang dari Akari hanyalah kepercayaan diri sebagai seorang gadis.

Kalau aku terus memuji dan memuji, bahkan jika dia tidak berakhir dengan Kaede, dia tidak akan melakukan hal bodoh seperti itu lagi.

"Ehehe……… eto…… apa itu berlaku…… juga untuk orang seperti Senpai……?"

"…………Makanya sudah kubilang begitu, kan?? Miyano itu kan cuma laki-laki biasa."

"Bu, bukan itu maksudku!"

Akari berteriak keras dan berlari mendekat ke arahku.

Aku dibuat terkejut karena dia menatap wajahku dengan penuh semangat.

"A, anu………… eto…… yang ingin kukatakan adalah──"

"Akari!! Kamu tidak apa-apa!?"

Tepat saat Akari ingin menyampaikan sesuatu, pintu atap terbuka dan sang protagonis, Kaede Miyano, muncul dengan napas terengah-engah.

"Eh, eh?? Kenapa…… Senpai ada di sini……"

"Tadi aku ke kelas…… katanya kamu pergi entah ke mana dengan Ibuse…… jadi……!"

Ho. Ternyata dia berkeliling mencari Akari karena takut terjadi sesuatu padanya. Wah, gerakan yang sangat keren layaknya seorang protagonis. Aku jadi sedikit kagum.

"Jadi…… Akari…… apa dia melakukan sesuatu padamu!?"

"A, aku tidak apa-apa……"

"Sepertinya penjemputmu sudah datang. Kalau begitu, aku kembali ke kelas duluan, jangan sampai terlambat kalian berdua."

Aku memutuskan untuk segera pergi dari atap seolah-olah bertukar tempat dengan Kaede.

Tatapan pria itu sejak tadi terlalu menusuk.

Yah, dia cuma bisa melotot tanpa berani melakukan apa-apa.

Setelah ini, tinggal menunggu Akari menyampaikan perasaannya pada sang protagonis seperti saranku…… enak sekali jadi protagonis.

Bisa disukai gadis seperti ini. Beruntung sekali.

Foto yang dipegang pria itu juga sudah dihapus, dan Akari sudah menghapus akun anonimnya.

Ditambah lagi, dia sudah memegang senjata ancaman terbaik: kontak milik Ibuse Reo.

Sejauh ini, kurasa semuanya aman.

Masih ada sedikit jeda sebelum event heroin berikutnya.

Kali ini, aku akan berusaha sebisa mungkin untuk mencegah insidennya sebelum terjadi.

Keesokan harinya.

Saat aku menaiki kereta yang tiba di peron stasiun.

"…………A……"

Mungkin karena aku terbangun lebih awal hari ini dan menaiki kereta yang lebih cepat dari biasanya, aku tidak sengaja bertemu Akari di dalam kereta.

Sebelum aku sempat berpikir harus bagaimana, orang-orang mendorong dari belakang, dan sebelum sadar, gerbong sudah penuh sesak.

Aku dan Akari berada dalam posisi berhadapan dan saling merapat.

"……Maaf."

"Tidak apa-apa."

Entah kenapa aku jadi merasa bersalah dan meminta maaf.

Namun, Akari tampaknya tidak mempermasalahkannya dan justru tersenyum riang.

Perjalanan ke stasiun terdekat dari sekolah memakan waktu sekitar tiga stasiun.

Aku harus bersabar menghadapi situasi canggung ini.

Sambil berpikir begitu, aku memalingkan wajah dari Akari dan mencoba untuk tidak memikirkannya sama sekali, ketika tiba-tiba ponsel di sakuku bergetar.

Situasi seperti ini membuatku tidak mungkin bisa memeriksanya, aku berniat mengabaikannya dulu, tapi tiba-tiba pinggangku dicolek oleh Akari.

Aku bingung kenapa dia tiba-tiba melakukan itu, saat melihat ke arahnya, Akari menutup mulutnya dengan ponsel dan memberikan tatapan seolah ingin bilang, "Apa kamu tidak mau melihatnya……?"

Aku menyerah pada tatapan matanya yang imut, dan memutuskan untuk memeriksa notifikasi tersebut.

Tampaknya itu adalah sebuah gambar, karena aku tidak bisa melihat isinya hanya dari notifikasi saja.

Apa-apaan ini……

"Puffttt!!!?"

Aku tidak sengaja menyemburkan napas setelah melihat gambar yang terbuka.

Penumpang di sekitar menatapku tajam sesaat, dan aku langsung meminta maaf berkali-kali.

Meskipun begitu…………!!

"Oi…… apa yang kau lakukan, hah……"

"………………"

Aku berbicara pada Akari dengan suara sepelan mungkin.

Tapi tidak ada jawaban, kali ini malah Akari yang memalingkan wajah dariku.

Namun, sudut bibir Akari tampak menahan senyum, jadi aku tahu ini bukan kesalahan atau ketidaksengajaan.

"Oi…………"

Setelah sampai di stasiun sekolah dan kami turun dari kereta, aku menunggu sampai tidak ada orang di sekitar sebelum menegurnya.

"Sudah kubilang, jangan lakukan hal seperti ini, kan?"

"…………Maaf."

Gambar yang dikirim Akari sangat simpel.

Itu adalah selfie Akari yang mengenakan seragam sekolah sambil mengangkat roknya, memperlihatkan pakaian dalamnya.

Akari yang aku tegur tampak sangat menyesal, namun entah kenapa dia terlihat senang.

"Lagipula…… kalau mau kirim foto begitu, kirim ke Miyano saja."

"…………Kalau aku kirim ke Senpai, nanti aku dianggap mesum. Lagipula…… dengan Senpai, rasanya agak canggung."

"……Memangnya apa lagi yang kamu lakukan kali ini?"

"Sebenarnya, setelah Ibuse Senpai pergi dari atap, aku sempat bicara dengan Kaede Senpai."

"Kamu benar-benar tidak diapa-apakan, kan!?"

Kaede Senpai sangat mengkhawatirkanku, aku sangat senang akan hal itu. Tapi……

"Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi…… jangan pernah mengikuti orang seperti dia lagi! Dia itu orang berbahaya!"

"……T, tidak, dia bukan orang seperti itu!"

Kaede Senpai terus menjelek-jelekkan Ibuse Senpai dan memberitahuku banyak sekali rumor tentangnya.

Tapi aku sama sekali tidak bisa mempercayai semua itu, dan saat kami terus berbicara, kami malah jadi bertengkar. Lalu……

"Kalau sampai terjadi sesuatu pada Akari, Sakura pasti sedih, tahu!!"

……Begitu katanya. Entah kenapa, kalimat itu sangat menggangguku.

"……!!"

"Aku…… tidak sengaja menampar Senpai."

"Kalian ini benar-benar………"

Rumor tentangku yang diceritakan sang protagonis mungkin sebagian besar benar adanya.

Aku memang orang yang sering berkelahi, punya reputasi buruk dengan perempuan, dan bahkan jarang masuk sekolah.

Tapi, masalahnya ada pada pemilihan kata sang protagonis.

Apa-apaan maksudnya "Sakura pasti sedih"?

Bukannya itu salah?

Kamu bodoh ya?

Apa kamu belum pernah main Galge?

Makanya kamu tidak bisa melindungi heroin-heroinmu, dasar siscon!

"……Aku sudah merasa sejak lama. Kaede Senpai tidak melihatku sebagai gadis, dia hanya melihatku sebagai teman dari adik perempuannya yang berharga."

"Bu, bukankah itu perasaanmu saja?"

Lihat, dia mulai depresi lagi!

Tolong hentikan, jangan memicu flag yang tidak aku ketahui!

Aku tidak bisa mengatasi sesuatu yang aku sendiri tidak tahu!

"………Ibuse Senpai memang benar-benar baik ya. Bisa menghibur diriku yang seperti ini."

"Sudah kubilang, berhenti menyebut dirimu 'yang seperti ini'."

"………Lalu, bagaimana kalau begini?"

"……Hah?"

Di peron yang masih sepi, Akari menyentuh ujung roknya dan menatapku dengan senyum nakal.

"Aku…… imut tidak?"

"…………Ya jelas imut lah."

"Foto yang tadi. Senpai merasa bergairah?"

"……Ya, merasa. Kenapa memangnya?"

Kenapa aku harus ditanya hal seperti itu oleh gadis yang lebih muda? Malu sekali rasanya.

"Apa Senpai…… tidak ingin memastikannya?"

"A, i…… tunggu tunggu tunggu! Kamu tahu kita ini sedang di mana──"

Akari perlahan mengangkat roknya sedikit demi sedikit, dan akhirnya…………

"………………Oi."

"Ada apa? Aku kan pakai celana olahraga di dalamnya."

Di balik perlindungan roknya, bukanlah pakaian dalam merah seperti di gambar, melainkan celana olahraga biasa.

"Mungkin…… Senpai belum pernah melihat bagian dalam rok gadis ya? Sampai seheboh itu…… Senpai juga lucu ya."

"Dasar kau ini…………!"

Kenapa kamu harus benar-benar memakainya, dasar heroin eroge! Ya, untung saja dia memakainya, tapi tetap saja! Aaa, sial! Jantungku benar-benar mau copot!

"Ternyata rumor itu memang bohong ya. Kalau Senpai benar-benar punya reputasi buruk dengan wanita, tidak mungkin Senpai bisa gemetar hanya karena hal kecil seperti ini."

"Jangan keterlaluan kalau mau mengerjai orang, Sera……"

Kalau diingat-ingat, Akari di dalam game juga seperti ini kalau sudah masuk ke rutenya.

Terlihat polos tapi sebenarnya sangat penasaran, dan selalu menggoda protagonis.

Yah, dia saja berani melakukan hal senekat itu, berarti dia memang tidak benar-benar tidak tertarik.




"……Akhirnya kamu memanggilku dengan nama, ya."

"Hah? ……Ah, begitu ya?"

"Iya, begitulah. Aku tadi sangat cemas, tahu."

"…………Soal itu, aku minta maaf."

Tidak bisa. Karena selama ini aku tidak pernah bicara empat mata dengan gadis semanis ini, rasa senang dan malu membuatku tidak bisa mengeluarkan kata-kata.

Aku bahkan tidak sanggup menatap wajah Akari.

Padahal aku sudah banyak protes pada protagonis, tapi lihat diriku sekarang yang benar-benar payah.

"Sebagai hadiah untuk Senpai yang imut, ini untukmu."

"Sekarang apa lagi yang kamu lakukan………… Ugh……"

Sekali lagi aku dipanggil oleh Akari, dan setelah memantapkan hati untuk tidak goyah lagi apa pun yang terjadi, aku kembali menoleh ke arahnya.

"Kau…… itu……"

Akari mengangkat roknya dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya sedikit menurunkan celananya, memperlihatkan sepotong kain berwarna merah di baliknya.

"Aku masih belum bisa percaya diri. Jadi………… teruslah melihatku, dan terus puji aku imut sampai aku benar-benar bisa percaya diri."

Aku tidak tahu kenapa bisa jadi begini.

Apa karena aku memaksa mematahkan flag itu, atau jangan-jangan situasi saat ini adalah event baru untuk Akari?

Entahlah. Aku tidak tahu apa-apa, tapi…………

"Boleh, kan? Reo Senpai."

Satu hal yang pasti, sepertinya aku benar-benar salah mengambil pilihan jawaban.

Sejak saat itu, setiap pagi di jam yang sama, Akari mulai mengirimkan selfie pakaian dalamnya padaku.

Awalnya aku berniat mengabaikannya, tapi karena dia nekat menerobos masuk ke dalam kelas di hari yang sama, aku memutuskan untuk memberikan reaksi sekadarnya.

Suatu hari di jam istirahat siang.

Karena aku hampir tidak punya tempat untuk bersantai di kelas, aku menghabiskan waktu istirahat di atap sekolah.

Saat aku sedang makan siang sendirian sambil memikirkan langkah ke depan, pintu atap terbuka dengan kencang.

"Ah, ketemu! Senpai!"

"……Ada apa?"

Gadis yang datang ke atap, tempat yang tidak didatangi siapa pun, adalah Akari.

Dia langsung duduk di sampingku dan mengeluarkan kotak bekal dari tasnya.

"Boleh aku duduk di sini!?"

"……Terserah."

"Ihihi…… terima kasih banyak!"

Aku tidak ingin menolaknya lalu berakhir dengan hal aneh lagi, dan sejujurnya, aku juga merasa kesepian jika harus makan sendirian, jadi aku memutuskan untuk mengabulkan permintaan Akari.

"Makan siang di atap seperti mimpi! Saat SMP aku tidak bisa masuk ke sini…… ditambah lagi atapnya sepi! Ini semua juga berkat Senpai!"

"……Iya, iya, syukurlah."

"Muu…… oh iya, Senpai! Bagaimana dengan selfie hari ini! Aku cukup percaya diri dengan yang satu ini, lho!"

Aku bingung harus menjawab apa karena tidak terbiasa bicara dengan gadis tipe seperti ini, jadi aku hanya memberikan jawaban dingin.

Namun, Akari terus mendesakku tanpa henti, menanyakan pendapatku tentang fotonya hari ini.

"…………Yah, tidak buruk, kan?"

"Ehehe…… apa mungkin Senpai sudah menggunakannya? Aku tidak keberatan, kok! Bahkan kalau Senpai mau, aku bisa kirim yang lebih ekstrem lagi……"

"……Oi."

Aku mencengkeram kepala Akari yang mulai bicara semakin berbahaya, lalu memberikan sedikit tekanan.

Apa dia belum kapok setelah dibuat kesakitan sebelumnya, dasar bocah mesum ini?

"Aww, aww! Ma, maafkan aku!"

"Jangan katakan hal seperti itu dengan mudah pada laki-laki. Belum tentu aku bisa menolongmu lagi di lain waktu."

"…………Uhehe."

"……Kenapa kau tertawa?"

"Tidak apa-apa? Aku cuma merasa Senpai memang baik hati…… aduh!? Kenapa dikuatkan cengkeramannya!?"

"Itu karena kau bicara sembarangan."

Pria mana yang disebut baik hati saat sedang menjambak rambut seorang gadis?

Melihatnya yang begitu mudah terpengaruh membuatku tidak bisa berhenti mengkhawatirkan masa depannya.

Sambil memberi hukuman pada Akari, aku memutuskan untuk memikirkan satu hal.

Itu tentang Kaede Miyano.

Kira-kira bagaimana perasaannya terhadap Akari sekarang?

Dilihat dari deskripsi di dalam game, seharusnya dia sadar kalau Akari menyukainya…… tapi untuk saat ini, rute sepertinya mengarah pada Noa, jadi mungkin dia tidak akan membalas perasaan Akari.

Meskipun begitu, Kaede tetap tidak suka melihat aku dan Akari berinteraksi.

Saat Akari menerobos kelas beberapa hari lalu, dia juga menatapku dengan wajah yang sangat menyeramkan.

Yah, aku mengerti rasa khawatirnya. Seandainya aku di posisi Kaede, aku pun pasti akan merasa sangat cemas.

Tapi kalau begitu, seharusnya ada hal lain yang bisa dia lakukan.

Aku pikir dia seharusnya mendekat dengan tulus seolah mengira ada rahasia yang dipegang, dan jika dia bisa melakukan itu, aku akan dengan senang hati menyerahkan Akari padanya.

Namun, dia tidak melakukannya. Saat dia datang ke tempat di mana aku dan Akari sedang bicara pun sama saja, dia hanya melemparkan tatapan jijik padaku.

Begitu juga terhadap Akari, dia hanya melarang-larang.

Dia tidak mendengar pendapat Akari dan hanya memaksakan kehendaknya sendiri.

Meskipun sudah sedikit tersirat dari deskripsi permainan di putaran pertama, kemungkinan besar esensi dari sosok Kaede Miyano adalah……

"……Senpai? Ada apa?"

"Hm? Ah, maaf. Aku sedang melamun."

Suara Akari yang terdengar cemas membawaku kembali ke kenyataan.

Tanpa sadar genggamanku melonggar, dan saat aku hendak menarik tanganku yang tadinya hanya bertengger di kepala Akari, dia justru menggerakkan kepalanya mengikuti arah tanganku.

"……Ada apa?"

"Aku hanya ingin menikmatinya sampai akhir."

"…………Aku tidak akan melakukannya lagi."

"Eh!? Kenapa begitu!?"

Begitulah, entah kenapa aku malah berakhir menghabiskan jam istirahat bersama Akari, heroin boku-ko yang entah sejak kapan jadi sangat manja padaku.

Hari-hari pun berlalu.

Suatu hari, sesaat setelah aku menyelesaikan jam istirahat yang ramai bersama Akari dan hendak kembali ke kelas, aku dipanggil oleh seorang siswi.

"Tunggu."

"………Apa?"

Sosok siswi itu adalah ketua OSIS yang juga salah satu heroin, Shiori Fujita.

Aku hanya pernah bicara sekali dan setelah itu tidak pernah terlibat lagi. Pertemuan yang sudah lama.

"Aku punya urusan denganmu."

"Aku tidak punya waktu."

"Begitu ya. Kalau begitu nanti sepulang sekolah. Datanglah ke ruang OSIS."

"………Baik, baik."

Tidak ada gunanya menekan Shiori.

Lebih baik menuruti perkataannya agar tidak merepotkan.

Lagi pula, aku juga punya urusan dengan Shiori. Kebetulan sekali kalau bisa dibicarakan di sini.

Karena event berikutnya adalah…………

Kamis, 27 Juni.

Nama event: "Keyakinan yang Hancur. Keadilan yang Terperosok."

Heroin target: Shiori Fujita



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close