〈Bab
5〉Argonaut yang Ditinggalkan Para Dewa
♀
"Maaf bikin nunggu~. Aduh maaf-maaf ya♪ Aku agak kesiangan nih, Shiori-chan♪"
"────────"
"Tu, tunggu dulu, tenang Shiori!
Kekerasan! Kekerasan gak boleh!"
Tanggal 4 Oktober. Hari Sabtu. Langit
cerah berawan, warna biru tanpa awan sedikit pun.
Suara yang bagaikan sampel warna sifat
sembrono dan tak bertata krama ini, membuat diriku tiga jam lalu yang
kegirangan melihat cuaca serba cerah begini rasanya sudah sangat kuno. Nada
suaranya yang cengengesan, berlawanan dengan kata-katanya, tak memperlihatkan
rasa bersalah sedikit pun.
Secara refleks, aku langsung melompat
untuk memukulnya.
Ugh... sudah berapa tahun ya tidak
dipeluk dan diangkat dari belakang sampai tak bisa bergerak begini sama
Onii-chan...... Bahkan setelah sandal yang kemarin dipilihkan Kak Rio jatuh
berdetak *klak-klok*, amarahku sama sekali tak kunjung mereda.
Melayang-layang, lengan gaun terusan
warna hijau muda milikku menari di udara. Ujung gaunku terinjak kakiku sendiri,
dan topi lebar warna putih milikku serasa mau terbang kapan saja. Ah ya ampun,
padahal baru saja dibelikan karena katanya cocok, tapi langsung berantakan
begini. Bikin kesal...... beneran, be--neran deh!! Bikin kesal!!
Dasar, si bodoh ini!! Situasi di mana aku
terpaksa harus mengandalkannya itulah yang bikin kesal!!
"Senaaa!!
Kenapa kamu...... bisa terlambat sampai 30 menit coba────Mmph!?"
"Aduh sakit...... Nah, mulutnya
ditutup dulu ya, Shiori. Di sini banyak orang, kan?"
Onii-chan yang menyusupkan tangannya ke
bawah ketiakku lalu membawanya ke mulutku, membungkamku bagaikan penutup mulut.
Melihat
Onii-chan yang menahan aksiku yang mengamuk dengan sigap begitu────Sena yang
memakai gaun dua potong dengan bagian dada dan pusar terekspos berani, apalagi
bawahannya celana pendek...... singkatnya, gaya cewek gatal yang kemarin
ditawarkannya padaku, cuma bisa tertawa terbahak-bahak.
......Hei, boleh kupukul gak ya? Boleh
kan? Malahan harusnya kupukul kan!?
Di sini ini pintu gerbang utama Galactica
Land, lho?
Mana ini akhir pekan, jadi ramai banget
sama rombongan keluarga dan pasangan...... Tahu gak sih! Di tanah cantik yang
digambari wajah karakter dengan besar ini! Cewek gatal begini! Cewek gak tahu
diri begini!! Mana boleh dibiarkan berdiri di sini kalau dilihat dari segi
etika!!
"Hihihi. Onii-san baik ba~~ngat♪"
Dengan santai dan tanpa rasa takut, dia
melompat-lompat kecil mendekat.
Mendekat,
dan karena kelewatan dekat────Mnyu, Sena menempel padaku. Bagian dadanya
yang sedikit lebih berisi daripada kepunyaan Iruka-chan, yang kelembutannya
bikin ragu apakah dia memakai pakaian dalam atau tidak itu, diusap-usapkannya
padaku.
............Mau memamerkan apa sih......
padahal ukurannya gak ada separuh dari kepunyaan Kak Rio......!
"Kemarin
aku juga sempat mikir sih...... tapi orang kayak Onii-san ini, akuu, agak suka
deh kayaknya──"
"Hahaha,
sebuah kehormatan kalau begitu. ────Tapi, Karasawa-san."
Srett, Onii-chan
merendahkan suaranya.
Tanpa mengubah ekspresinya yang tetap
tersenyum ramah, Onii-chan berbicara dengan tenang menggunakan suara yang
terkesan agak tegas.
"Bisa
terlambat begitu parah dari waktu janji itu bukan hal yang bagus, lho. ────Yah,
karena ini permintaan mendadak dari pihak kami, jadi kuanggap impas antara
permintaan tak masuk akal dan keterlambatanmu deh. ...Tapi ke depannya, lebih
baik kamu berhati-hati, ya? Keterlambatan itu bisa bikin rasa percaya hilang
dalam sekejap, tahu."
"............I~~ya. Ma~af ya♪"
"~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~Mmph!! Ugh,
Onii-chan...... aku gak bakal mengamuk, berteriak, atau menyerang lagi, jadi
turunkan aku! Sekarang juga!!"
"O-Oh... i-iya..."
Aku mendorong jari yang menggantikan
penutup mulut itu pakai lidahku, menghentikan perlawananku, lalu terkulai
lemas.
Sambil merapikan sandalku pakai kakinya,
Onii-chan menurunkanku tepat di atas sandal itu. ...Bagian kayak begitu, bagian
kayak begitu, bagian yang perhatian dan lembut secara alami kayak begitu tuh
sekarang! Tepat sekarang! Lagi di-lock-on tahu!! Sadar dong Onii-chan,
punya rasa krisis dikit!!
"A... Senaaa...!"
────Yah,
percuma juga mengharapkan hal itu dari Onii-chan yang selama 12 tahun tidak
menyadari perasaan sukaku.
Aku, yang biarpun bagaimanapun adalah
temannya, bakal memberikan peringatan keras sekali lagi.
"...Ada
apa sih, Shiori-chan? Wajahmu seram tahu? Kalau pasang wajah kayak gitu, nanti
bisa dibenci Onii-san, lho──"
"Yang kuminta itu cuma sebatas
pengganti Ibu! Memastikan aku dan Onii-chan...... kalau-kalau, biarpun gak
mungkin terjadi! Tidak melewati batas, tugasmu cuma jadi pengawas! Cuma itu!!
......Aku tak pernah mengizinkanmu menilai kepantasan pacarku, ya...!"
"...Hihihihi♪ Aku paham kok"
Sama sekali bersikap acuh tak acuh,
seolah tak punya kesadaran sedikit pun kalau sedang dimarahi.
Sena sama sekali tak berhenti tertawa
cengengesan, berbicara sambil membuat bibirnya mengilap tanpa alasan.
"Tanpa
perlu dinilai pun────aku tahu kok kalau Onii-san itu kualitas super♪ Ma・ka・nya...
hihi, hihihihi... gak apa-apa kok♪ Kuantarkan kamu buat bermesraan, saling
pacaran dan saling terangsang, tenang saja aku gak apa-apa kok♪"
Berputar-putar bagaikan gasing.
Membuat pose peace di samping
matanya, mengacungkan jarinya persis seperti pose andalan idola, lalu
berbicara.
"Ma・la・han?
Kalau kalian memupuk cinta sampai lengket begitu, nanti pas kumakan di akhir
bakal makin lezat, kan♪ Hihihi♪ Akunya kan tinggal menahan keadaan kalian yang
mau meledak terus bilang 'gak boleh' kan? Sampai diberi kesempatan buat
persiapan begitu...... aku, jadi saaangat suka sama Shiori-chan♪"
"K,
Kamu ini ya──"
......Aku tahu ini tak masuk akal.
Tiba-tiba minta tolong, dan aku sadar kalau aku tak tahu diri.
Tapi... kalau secara terang-terangan
memberikan deklarasi kejahatan begini.
Aku tak cukup berhati besar untuk bisa
mendiamkannya saja!!
"Shiori!"
"──Eh,
wa, hyaaa!?"
────Tubuhku
yang mengepalkan tangan dan serasa mau memukulnya saat itu juga.
Lagi-lagi diangkat begitu saja.
......Kali ini bukan kuncian dari belakang.
Melingkarkan tangannya di tubuhku seolah
sedang memeluk boneka kain, dia memelukku erat.
Onii-chan yang berpenampilan biasa dengan
kaos kasual, jaket, dan celana jeans. Tapi.
Jantungnya terasa jauh lebih dekat
daripada saat memakai seragam sekolah. Detaknya lebih besar. Panasnya terasa
langsung.
────Otakku
rasanya mau mendidih, dan kata-kataku menghilang entah ke mana.
Bahkan untuk memikirkan ekspresi bodoh
Sena itu berasal dari emosi apa pun...... aku sudah tak punya keleluasaan
lagi......!
"O—Onii, chan...!?"
"......Wah-wah, bergairah banget♪"
"...Karasawa-san. Sekali lagi terima
kasih ya sudah mau menerima tugas pengawas ini. Tapi............ kalau kamu
datang dengan tujuan lain, turut berduka cita ya. Aku cuma bisa melihat Shiori
saja...... mau digoda atau dihasut pun aku tak akan terpengaruh. Mengeluarkan
tenaga buat usaha yang sia-sia kan sayang banget, ya? Mumpung ini dunia impian,
Galactica Land (tempat bermain mahal)
yang gak bisa dikunjungi dengan mudah oleh anak SMA (anak-anak) seperti kita.
Yang utama sih membuat Shiori bersenang-senang...... tapi kalau kamu juga ikut
bersenang-senang, aku bakal senang kok. Mumpung sudah di sini, kan."
"....!!"
Ugh... Panas, panas banget, padahal ini
bulan Oktober tapi seluruh tubuhku serasa terbakar panas.
Padahal ini situasi yang menyebalkan di
mana musuh diberi keringanan dan bahkan godaan penuh niat buruk dikirimkan
secara beruntun... padahal begitu.
Bicara cuma melihat aku saja lah......
hal yang begitu memalukan, bikin senang...... dan kata-kata yang sangat kusukai
itu, jangan diucapkan dong...! Padahal cuma dipeluk erat begini saja......
rasanya aku sudah mau matang mendidih.
"...Percaya
diri banget ya♪ Hihihi, apa akunya sama sekali gak ada daya tarik ya? Kalau
soal dada atau teknik, aku gak merasa bakal kalah dari Shiori-chan sih──"
"Kamu memang punya daya tarik kok.
Makanya komplain dari para cowok gak ada habisnya. ...Tapi"
Ah............ Barusan, grep.
Pelukannya makin kuat...... dan sesuatu
yang panas dan merinding lagi-lagi menjalar di punggungku.
"Aku menyukai Shiori. ...Apa alasan
menolakmu itu masih kurang bagimu?"
"......,
..............................Enak ya......"
Gumam Sena.
Rasanya aku mendengar dia bergumam dengan
suara yang sangat pelan sampai tak terdengar, tapi.
Aah gak boleh, sudah deh...... otakku
yang sudah mendidih matang ini tak bisa mencerna situasinya dengan baik.
"...? Karasawa-san?"
"Gak ada apa-apa kok♪ ............Okey deh.
Tugas pengawas kencan pertama Shiori-chan sama Onii-san, bakal kujalankan
dengan baik biarpun tubuhku tak berguna begini. Onii-san...... terlalu tangguh
buatku."
────Akhirnya
Sena menarik kembali wajah cengengesannya, tapi.
Alisnya yang melengkung membentuk angka
delapan, matanya yang menatapku masih menyimpan sedikit senyuman.
"Ta~pi
ya...... Shiori-chan yang sekarang lagi jadi gurita rebus ini lebih baik
cepat-cepat dibebaskan deh? Kalau begini terus, langkah pertama menikmati
kencan malah berakhir di ruang UKS lho...... Pokoknya, kita minum jus dulu buat
mendinginkan kepala yuk♪ Shi・o・ri・chan♪"
♂
Galactica Land terbagi menjadi enam area
besar, masing-masing memiliki penampilan luar, wahana, hingga area kuliner
dengan konsep yang sama sekali berbeda. Alasan kenapa tempat ini disebut
sebagai salah satu taman hiburan paling populer di dunia terletak pada
ketelitian pembuatan setiap areanya, di mana hanya dengan melangkah satu
langkah saja, kita secara harfiah akan dibawa ke dunia (area) yang berbeda.
Sensasi
luar biasa yang jauh dari kenyataan────itulah slogan dari Galactica Land. Dari
surga ini, pekerjaan, sekolah, kesulitan, kerepotan, penderitaan, hingga rasa
menahan diri semuanya telah disingkirkan.
Tanpa terkecuali, semua orang memasang
senyum, melupakan dunia nyata dan bersenang-senang.
────Kami
bertiga juga kalau bisa ingin ikut bersenang-senang dengan santai............
tapi.
"G—Gak bisa!! Tu--tu, toiletnya,
ramai lagi jadi gak bisa masuk!!"
"L, Lagi—!? Ini sudah yang keempat
lho!? Sekali-kali mengantre saja kenapa sih!!"
"Ja--jangan bicara keras-keras......
di perut, beneran ngerembet ke perut tahu......!"
...Karasawa-san yang meneteskan air mata,
merapatkan paha bagian dalamnya sambil gemetaran.
Dia berdiri bersandar pada lututku yang
terbuka tanpa pertahanan saat aku duduk di bangku sambil menghela napas.
Kepada Karasawa-san yang mati-matian
menahan rasa ingin buang air kecilnya...... Shiori menghentakkan kakinya ke
tanah sambil berteriak marah.
────Kenapa
sampai bisa jadi pemandangan neraka seperti ini.
Jujur
saja, kami bertiga kurang berhati-hati. Baik aku, maupun Karasawa-san.
...Awalnya kami bertiga masuk ke area kuliner dengan pemikiran untuk mengisi
perut dan minum dulu────namun setelah bingung memilih berbagai minuman yang
penuh orisinalitas, Karasawa-san malah minum sampai tiga gelas jus.
Tentu saja, cairan di dalam tubuhnya yang
mencari jalan keluar membuat kandung kemihnya membengkak.
──『Ugh......
Onii-san...... Shiori-chan...... m-maaf......』
──『Sudah,
gak tahan...... kencingku, mau bocor............!』
......Tampaknya dia sudah menahannya
lumayan lama, tapi wajahnya sangat merah hingga tak bisa dijelaskan hanya
dengan rasa malu saja.
Karena terpaksa, kami jadi harus berjalan
keliling berkeliaran mencari toilet yang kosong...... tapi seperti yang
diharapkan dari hari Sabtu.
Toilet yang berdiri rapat dengan interval
100 meter di mana-mana tampaknya penuh sesak, dan Karasawa-san setiap kali
gemetaran bagaikan anak rusa, lalu kembali dengan keadaan yang mengenaskan.
"M-Mau
bagaimana lagi, kan...... Ya ampun, ya ampun!! Padahal ruang menyusui sepi
banget, kenapa toilet malah penuh────Auw, g-gawat, suaraku sendiri saja rasanya
sudah, s-sangat menyiksa...!"
"......Haah.......
Mau bagaimana, lagi...... Shiori, lokasi toilet selanjutnya di peta ke arah
mana──"
"......Kenapa kamu gak ngompol saja
sekalian? Sena."
Shiori.
Dia melontarkan kalimat itu dengan suara
yang tak pernah kudengar sebelumnya, suara yang gelap, berat, rendah, dan
dingin, persis seperti
laut dalam.
"Hie...!?
C-Canda, kan......? Shiori-chan...... K-Kita kan, teman, kan......? M-Meskipun
kita ini cuma sesama kelompok tersingkir yang terpisah dari yang lain, tapi
setidaknya sedikit saja──"
"......Tuh di sana."
Sambil menunjuk semak-semak di balik
pagar menggunakan ibu jarinya.
Shiori menghela napas dengan sangat,
sangat dalam, ...lalu mengucapkannya seolah melontarkan kekesalan.
"Masuk saja ke semak-semak di sana
terus ngompol saja kan bisa................ Terus ketahuan petugas, dan
dikeluarkan secara paksa sekalian dari sini...!!"
"......
Sh-Shiori-chan, sejak kapan kamu jadi anak yang memikirkan hal menyeramkan
kayak begitu────Ah, tung, b-beneran gawat..............."
Getaran dari pantatnya yang gemetaran
sampai merambat ke arahku yang meminjamkan lutut.
Ini sih...... Aah, Shiori beneran emosi,
ya.
Kasihan sih sama Karasawa-san...... tapi
ya wajar saja. Salahnya sendiri.
Padahal dia sudah bikin masalah dengan
datang terlambat parah dan bikin tidak senang. Ditambah lagi, secara
terang-terangan memberikan deklarasi kejahatan begitu...... Biarpun kami yang
minta tolong, wajar saja kalau Shiori sampai emosi begini, kan.
────Mau
bagaimana lagi.
"Shiori. Kalau begitu kasihan
Karasawa-san dong?"
"O,
Onii-chan! Tapi──"
"Aku
tahu kamu emosi, tapi kalau di sini kita buang-buang waktu, justru waktu buat
bersenang-senangnya jadi sayang banget, kan? Ini kan cuma masalah cepat-cepat
buang air saja────Maaf ya sebentar, Karasawa-san."
"Feh────Aeh,
eh?"
Jujur saja, menyisakan waktu lebih banyak
buat Karasawa-san justru hal
yang sangat disayangkan.
Makanya, aku pakai cara paksa.
Kusapu lutut yang gemetaran di depan
mataku pakai tangan kiri, lalu kuangkat dari tanah. Tangan kananku menyangga
punggungnya yang hampir jatuh, menggunakan waktu sampai sebelum terhempas buat
memperlambat jatuhnya.
Waktu
yang bisa kuluangkan cuma sampai di situ────kuangkat tubuhnya yang terkadang
kejang dan terasa sangat panas ini.
"O--Onii-san...? I-Ini...
m-menggendong, ala putri...!?"
"? Kenapa, wanita jahat yang sudah
menjebak banyak cowok masa baru begini saja sudah merasa malu? Hahaha, ternyata
kamu lumayan polos juga ya."
Entah karena kaget, atau karena guncangan
saat diangkat mengocok organ dalamnya yang penuh air.
Karasawa-san menaruh kedua kepalan
tangannya di celah dadanya yang terbuka lebar, sambil memerah padamkan
wajahnya. ...Caranya menggerakkan mulut seperti ikan mas koki itu, yah memang
sih, diakui cukup imut untuk mengusik rasa sadis cowok.
Sayangnya, waktu kecil aku sudah sering
menggendong Shiori. Jadi sudah terbiasa.
"Sip────Shiori.
Toilet terdekat selanjutnya ke arah mana? Kalau tak cepat-cepat, alih-alih
bermain kita malah tak bisa melakukan apa-apa,
ayo cepat pergi."
"............"
"? Shiori?"
"............a,
......A--arah sana...... Patung burung hantu, katanya, jadi penanda────Nih, ke
arah sini."
"Sip, paham. Bakal agak berguncang
sedikit, tahan ya? Karasawa-san."
"Feh!? A, hya, hyai!"
Aku mengekor Shiori yang mulai berlari
memimpin di depan. Sambil
berlari dengan cara mengurangi guncangan
pendaratan sebisa mungkin.
"............"
Barusan.
......Decakan lidah. Dan juga......
meskipun berusaha ditutupinya, aku bisa menyadarinya dengan jelas kalau
Shiori...... sedang melotot, tajam.
Ke aku? Atau ke Karasawa-san? ......Aku
tak tahu. Jarak kami terlalu dekat untuk bisa membedakannya. Cuma......
sepertinya aku sudah memaksa Shiori buat menahan diri lumayan banyak sejak
awal.
Malu-maluin
banget, padahal ini hari ulang tahunnya yang berharga────Urusan tak penting
begini harus cepat-cepat diselesaikan.
Kalau sudah selesai, ayo bersenang-senang
sepuasnya. Ayo bermain sepuasnya. ...Kan? Shiori.
♀
......Kenapa, bisa jadi begini ya.
『GUAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!』
"Higyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!?"
"Uwoh!?"
......Lorong yang remang-remang, agak
dingin, dipenuhi bau karat besi dan suara tetesan air yang terus-menerus.
Beberapa tempat diterangi warna hijau neon yang mengingatkan pada bahan kimia,
membuat tempat ini penuh dengan tengkorak yang tergeletak di mana-mana seolah
konsep rumah sakit terbengkalai ini bukan main-main.
Di lorong sempit yang cuma muat dilewati
dua orang berjejer.
Pajangan
berbentuk boneka dengan wajah melepuh seperti keloid melompat keluar dari dalam
drum bekas────suara sintetis yang keluar dari tenggorokannya membuat Sena kaget
secara berlebihan sampai terlihat seperti orang bodoh.
Enggak, kalau cuma sekadar kaget sih
masih mending. Inti dari rumah hantu kan memang begitu. Wahananya memang
didesain seperti itu.
Tapi masalahnya.
......Kenapa dia mengambil posisi di
sebelah Onii-chan............ lalu memeluk arm-nya dengan sok akrab begitu
sih...!
──『Maaf
bikin nunggu~♪ Ya ampun, keluar semua cairan yang kuminum tadi. Rasanya lega
banget♪』
......Setiap kali mengingatnya, dadaku
terasa sesak karena emosi. Ke arah aku dan Onii-chan yang sudah merapikan napas
di bangku, Sena kembali sambil bernyanyi dengan cengengesan dan melompat-lompat
kecil dengan centilnya.
......Aku juga cewek. Aku paham kalau di
toilet butuh waktu yang lumayan.
Tapi!
Bukan berarti! Setelah menyuruh kami memilihkan toilet yang sepi, lalu membuat
kami yang sangat kelelahan ini menunggu lebih dari 10 menit itu bukannya
kelewatan tidak tahu diri, ya!? ────Mulut yang ingin berteriak begitu.
Langsung disumbat dan dihalangi oleh Sena
menggunakan tiket prioritas yang entah sejak kapan dipegangnya.
──『Aku
lihat ada yang membagikan jadi kuambil. Anggap saja sebagai barang permintaan
maaf, gimana?』
......Tentu saja, hal itu tidak bisa jadi
tiket pengampunan. Malahan, membayangkan dia sengaja pergi mengambil barang
seperti itu yang membuat kami menunggu lebih lama lagi, rasanya sarafku malah
makin terpicu dan jengkel.
Tapi.
Padahal begitu. Padahal begitu............. Pada, hal begitu──
──『Rumah
hantu, artinya tempat di mana kita bisa memeluk (bermesraan) secara legal.
Sekali ini kubiarkan deh♪』
──Diriku
ini benar-benar sangat gampang dibujuk, dan alangkah tidak panjangnya
keputusanku ini.
Bisikan yang bagaikan mantra di telingaku
itu membuat mataku silau.
Hari ulang tahun (kencan pertama) yang
sudah terbuang sia-sia selama 40 menit ini, setidaknya ingin kubalas lewat
kualitas kebersamaan. Biarpun tak bisa dipegang ala putri, tapi aku ingin
bergandengan tangan.
Aku ingin memeluknya. Biarpun bagi aku
yang bisa menonton film horor sambil tertawa ini terasa tidak wajar dan tak
cocok.
Tapi sekarang, diperlihatkan secara jelas
dari belakang sosok Sena yang memeluk anak laki-laki (Onii-chan) secara
legal............ emosi tidak legal (splatter) berputar-putar, merusak dadaku
dari dalam bagaikan pusaran air.
"......Lepaskan, Sena."
Suaraku sendiri yang tak pernah kudengar.
Suara serat otot dan tulang yang dihasilkan tangan kananku.
Kalau
di sampingku tak ada Onii-chan, aku sendiri tak tahu bakal melakukan apa ke
Sena────karena biarpun dasarnya dia punya niat buruk, diriku yang sempat
membuka hati karena menganggapnya mendukungku walau sedikit pun tak bisa
kumaafkan.
"Di sebelah Onii-chan...... kenapa,
kamu curi......! Apa kuncir dua yang panjangnya tak berguna itu mau kucabut
sampai ke akarnya......?"
"Maaf maaf maafkan aku tapi beneran
gak bisa serius gak bisa beneran gak boleh ampuni aku maafkan akuuu!!"
Suaraku yang punya rasa percaya diri
lebih menyeramkan daripada buatan mana pun, namun Sena bahkan tidak menoleh
saat menjawabnya.
Kuncir dua yang rencananya bakal kurobek
sampai putus itu dikibaskannya heboh...... seolah sedang menepis-nepiskan dan
menempelkan feromonnya ke Onii-chan orang lain, ke pacar orang lain......
sangat, sangat, tidak menyenangkan.
"...... Lagian kamu ini ya......!
Padahal kamu sendiri tak bisa masuk rumah hantu, ke--napa kamu malah mengambil
tiket prioritas coba......!? Apa mau dicukur botak pakai alat
cukur......!?"
"Izinkan aku memberi alasan aku
bakal mengaku dosa!! B--Beneran, beneran ini demi Shiori-chan tahu, aku datang
dengan niat bakal membiarkan Shiori-chan sama Onii-san mau pelukan atau
melakukan apa pun beneran seriusan!! Tapi......"
"Ta, pi, nya......!?"
"Aku baru tahu hari ini tepat di
saat ini kalau aku ternyata sama sekali tak tahan sama wahana model beginiuuu!!
Kenapa seram banget sih aku udah gak mau uwaaaaaannn!!"
Dia mengoceh, berteriak, dan pengakuan
dosanya yang menyedihkan justru makin memancing emosiku.
Ke lengan Onii-chan, ke lengan
Onii-chanku, dia menempelkan kulitnya
dengan lengket. Tonjolan penuhnya
berkali-kali tertekan penyok, dan perut rampingnya ditekankan ke jari-jarinya.
......Onii-chan, juga.
Sama sekali tidak melawan...... dan tidak
melepaskan diri dari cengkeramannya......
"C--Cepat cepat!! Onii-san cepat
keluar dari sini tempat begini gak boleh beneran gak boleh!! Ini bukan tempat
yang boleh dimasuki manusia tahu!! Sh--Shiori-chan juga cepat ke sini!! Gak
bisa ini sudah batas batas!! Nanti hal lain selain kencing yang tadi bisa
keluar dari selangkanganku tahu!!"
"Y--Ya ampun tunggu, tenang dulu
Karasawa-san. Di pintu masuk kan sudah dibilang sama petugas? Tidak boleh
terburu-buru atau berlari...... Hahaha......"
"Gak bisa, bukan saatnya ngomong
begituuu!! A--Aku, aku yakin kalau dikagetkan sekali lagi saja, kencingku
beneran bakal bocor tahu!? Kamu tak mau kan jalan bareng cewek yang menggambar
benua Eurasia di celana pendeknyaaa!!"
"Cih...... Jangan egois dong, Sena.
Terus, singkirkan badanmu dari sana. Kembalikan posisi di sebelah
Onii-chan."
"Kejam
banget Shiori-chaan!! Biarpun hubungan kita ini sesama orang tersingkir tapi
kan setidaknya kita teman──"
Tepat saat itu.
Seolah menyasar waktu yang pas, tepat di
sebelah Sena.
Dari
langit-langit yang berantakan────kepala manekin anatomi manusia dijatuhkan
dengan kencang.
『KYAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA!!』
"Hiaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!?!?!!??!??!??!??!??!??!?"
Mengeluarkan suara teriakan dan jeritan
yang jika digabungkan dua kali lipat lebih bising daripada suara tawa aneh itu.
Mengabaikan semua perintah, Sena berlari
dengan menyedihkan ke seberang belokan.
......Setelah berbelok 90 derajat ke
kiri, bagi Sena tempat itu tampaknya dipenuhi oleh hal-hal yang sangat
menyeramkan. Padahal dibatasi dinding, tapi proses teriakannya berubah menjadi
suara serak terdengar dengan sangat jelas............ bahkan suara tangisan
sesenggukan yang sampai sulit bernapas pun terdengar sangat cocok dengan
atmosfer rumah hantu ini.
Agak...... dia bilang 'Tolong' atau
semacamnya...... Kamu sendiri yang paling mirip hantu sekarang di tempat ini.
Petugas
yang jadi hantu pasti juga kebingungan tuh...... Haaah, merepotkan banget──
"Ya
ampun, mau bagaimana lagi ya──"
Tiba-tiba, Onii-chan.
Suara
langkah kakinya berubah menjadi langkah cepat, terdengar olehku──
"............"
"──,
......? Shiori?"
Tanpa disadari, secara refleks.
Ujung pakaian Onii-chan yang terburu-buru
mau menyusul ke tempat Sena berada, kugenggam...... dan menahannya.
"Ah............"
Mata kami saling bertemu. ......Onii-chan
beneran kelihatan bingung.
Sebaliknya aku...... sedang memasang mata
seperti apa ya. Tak pernah terbayangkan kalau ada momen di mana melihat cermin
terasa sangat menakutkan seperti ini.
......Aku, tak mau.
Aku tak ingin dia pergi.
Aku tak ingin dia terburu-buru hanya demi
menolong Sena. Aku tak ingin dia menguras tenaganya.
............Tapi.
"..................."
────Kenapa
kami bertiga bisa jadi teman sudah kujelaskan dengan benar.
Hubungan
sesama orang tersingkir...... kalau dibuang dari komunitas ini, kami tak punya
tempat tujuan lagi. Sena yang punya hubungan pertemanan sekritis itu,
membiarkannya ketakutan begitu saja hanya karena ingin memonopoli pacarku
sendiri────diriku yang sekarang ini benar-benar cewek yang buruk.
Egois,
cemburuan, serakah, dan tamak...... kalau aku jadi cewek seperti itu...... apa
orang ini────apa Onii-chan...... bakal tetap menyukai...... cewek seperti
aku......
Aku tak ingin dia pergi...... tapi aku
ingin memperlihatkan kebesaran hati dengan mengizinkannya pergi. Biarpun harus
membohongi diri sendiri, aku ingin Onii-chan tetap menyukaiku.
Aku merasa sangat takut...... kalau-kalau
keserakahan seperti itu terpancar di mataku.
"............Shiori."
Tapi.
Onii-chan
itu punya sifat yang tidak peka...... jadi dia tidak menyadari
perasaanku────dia tidak menyadarinya.
Dengan lembut, dia mengulurkan tangan
kirinya padaku.
"...Onii,
cha──"
"Nah,
ayo kita pergi bareng? ......Kalau Karasawa-san dibiarkan begitu terus, bisa
bikin repot pengunjung lain. Cepat-cepat kita ambil terus bawa keluar aja.
────Habis itu, kita naik roller coaster yang dari kemarin Shiori bilang pengen
naiki, ya."
............Senyuman yang cerah. Senyuman
yang sangat kusukai.
Tapi... sasaran dari senyuman itu,
rasanya sedikit bergeser dariku.
"...Ehm, ayo pergi......"
Kuat, kasar, tampak cowok banget, tapi
sedikit lembut dan hangat.
Kugenggam
tangan Onii-chan yang seperti itu, lalu berjalan cepat bersama-sama menyusuri
lorong────di tengah-tengah perjalanan itu.
Apakah aku sudah memasang senyuman dengan
benar?
Perasaan yang berantakan ini bahkan
melarang air mata keluar, hingga aku sendiri sudah tak tahu lagi seperti apa
raut wajahku sekarang.
♂
"Haf, haf-haf... nggleguk! Nmm~ enak banget ya pizza ini! Makanan di
taman bermain biasanya kan terkenal pakai bahan makanan beku, tapi ini rasanya
jauh lebih enak melebihi efek suasananya ya♪"
"...Gitu, ya. Ya bagus deh kalau
gitu......"
"..................."
Food court yang diterangi lampu terang
benderang ini terasa sangat mencolok di area yang mengusung tema laut dalam.
Banyaknya jumlah meja bulat dan kursi yang tersedia sanggup menampung kami
bertiga dengan santai tanpa terpengaruh oleh keramaian jam makan siang di hari
Sabtu.
Meski begitu.
Yang tampak sangat puas di depan pizza
ini...... sayangnya cuma
Karasawa-san seorang. Melirik dirinya
yang melahap pizza penuh keju dan krim itu, aku cuma bisa memegangi
kepala...... sementara Shiori malah melipat tangan seolah menolak untuk makan,
sambil menatap tajam pizza penuh habanero kesukaannya.
────Yah,
mau bagaimana lagi.
......Sepak terjang Karasawa-san ini
bukannya bertindak sebagai pengawas, tapi malah lebih mirip pengganggu.
Waktu
di roller coaster, dia menyuruh kami berbaris duluan dengan dalih, 『Kalau
kalian berbaris berdua duluan, pasti bisa duduk di barisan yang sama!』......
tapi hasilnya, aku malah duduk berdua bareng bapak-bapak yang gak kukenal.
Waktu di wahana cangkir putar,
Karasawa-san memutar kemudinya ugal-ugalan sampai sudah bukan di tingkat
menikmati lagi. Tak sampai muntah saja rasanya sudah syukur banget.
Waktu
di komedi putar, dia bilang 『Harusnya kereta kencana labu bisa dinaiki berdua
tahu!』 dan menyuruh kami mencarinya terus, tapi begitu
waktunya habis dan aku refleks naik ke kuda terdekat, entah kenapa Karasawa-san
malah memelukku dari belakang......
"Haaah............"
Ya memang sih, kami sendiri yang meminta
tolong padanya untuk menjadi pengawas demi meyakinkan Ayah dan Ibu. Kami yang
memaksakan tugas untuk mengawasi agar kami tak sampai melewati batas.
Tapi.
......Bahkan saat suasananya tak mengarah
ke sana pun dia tetap aktif
mengganggu,
anak ini............ Dia gak salah memahami isi permintaannya, kan? Kalau
begini kan namanya murni mengganggu 『
kencannya
itu sendiri』, kan?
"..................."
......Melihat
Shiori yang terus bungkam dan menatap pizzanya bagaikan melihat musuh bebuyutan
orang tuanya────akhirnya meskipun terlambat, aku mengambil keputusan. Aku
memantapkan hati. Aku bulatkan tekad.
Gak bisa dibiarkan kalau begini terus.
Kalau dirunut dari awal, hari ini,
tanggal 4 Oktober adalah hari ulang tahun Shiori. Alasan datang ke sini pun
adalah sebagai hadiah ulang tahunnya. Yang mendasari semua ini adalah
perasaanku yang ingin Shiori bersenang-senang.
Bagaimanapun juga...... tindakan
Karasawa-san ini sudah kelewat batas.
Sudah berlebihan. Lagipula kalau Shiori
tak bisa bersenang-senang, bukannya ini malah jadi tidak ada gunanya. Sama
sekali tak ada artinya.
Aku rasa aku sudah mengatakannya di pintu
masuk tadi sih............ tapi
mari kuucapkan sekali lagi dengan jelas.
Aku cuma ingin Shiori menghabiskan hari yang menyenangkan. Aku sama sekali tak
berniat menciptakan suasana mesum, jadi tolong gangguannya secukupnya saja.
Kalau dibicarakan baik-baik, Karasawa-san
rasanya bakal paham juga kok.
"......Anu, Karasawa-san. Boleh
bicara sebentar?"
"Nmm~? Ada apa Onii-san♪"
Sambil menjilat krim di samping bibirnya slurp,
Karasawa-san menjawab dengan suasana hati yang sangat baik.
......Bagus deh kalau kamu menikmati
tempat ini, ya ampun......
"Aah,
itu, kan? Tujuan awal kita hari ini kan──"
"Pizzanya
Onii-san kelihatan enak juga ya. Pizza kombinasi (mix pizza) ya? Hihihi, hei
hei Onii-san, minta satu do~~ng────maksudku kuminta ya~~♪"
"Ah,
tung──"
Sebotong pizza dirampas dari piring
kertas yang kubuka, membuat suaraku refleks keluar.
......Dia yang peka langsung menangkapnya
lalu tersenyum lebar.
"Hihihi......
Maaf ya Onii-san. Se・ba・gai・gan・ti・nya~────kamu boleh makan pizza krim kejuku lho~♪
Nih, aaa-nn♪"
"────Mmph!?"
"Ah♪ Ihhihi, kita kencan usap (piring)
indirect kiss deh~♪ Aku juga sudah digendong ala putri, hari ini kencanku
se~~nang banget tahu♪ Gimana-gimana Onii-san? Enak? Pizza lelehku yang sudah...
*hap*, kugigit sedikit ini~~♪"
......Saat ditanya, aku tak punya
kelonggaran buat langsung menjawab.
Mulutku sekarang penuh dengan rasa manis
dari pizza yang dijejalkan.
Kejunya juga masih sangat panas, kalau
tak menutupi mulutku, nanti malah kelihatan tidak sopan memperlihatkan proses
mengunyah.
Tapi bukan berarti bisa kubuang juga,
jadi aku mengunyahnya pelan-pelan. Menelannya sedikit demi sedikit.
............Suara-suara di sekitar
mendadak terhenti.
Karasawa-san tersenyum puas. Lalu dengan
lahapnya memakan pizza kombinasiku.
......Mungkin, keheningan itu. Keheningan
yang tak bisa berbaur dengan
kebisingan sekitar.
Telah
memberikan celah baginya untuk melontarkan hal itu────
"........................................................................
Pembohong."
Gumamnya.
Suara yang pelan, tinggi, dan nyaring
seperti genta itu terdengar membawa duri yang tajam bagaikan semak berduri.
Di
saat itu────dia sudah mencapai batas kemampuannya sejak tadi.
"....?"
"Pembohong, pembohong, pembohong,
pembohong! Onii-chan
itu────,
pembohong besar!!"
Mungkin dia sudah tak punya kapasitas
lagi untuk memedulikan saus pizza yang menempel. Sambil ikut menghempaskan
pizza dan piring kertasnya, Shiori menggebrak meja dengan sangat kuat hingga
menimbulkan suara bergemuruh lalu berdiri.
Wajahnya. Raut mukanya.
"Pembohong...... padahal kamu sudah
bilang cuma melihat aku saja!! Tapi dari tadi, dari tadi dari tadi dari tadi!
Dari tadi kamu cuma melayani Sena terus kan!! Tadi juga, tadi juga, tadi tadi
tadi dan sekarang semuanya semuanyaa!!"
Sambil menutupi mulutnya, emosi yang tak
sanggup ditahan biarpun aku mati-matian berusaha mengunyah dengan cepat itu.
Tampak basah.
Gara-gara tetesan air mata yang terus
menetes bercocoran dari matanya, wajah Shiori jadi basah kuyup.
Padahal jelas-jelas dia sedang marah,
emosi berat, dan matanya menajam.
Tapi
seolah meratapi hal itu juga────air matanya tak mau berhenti.
"Keterlambatan juga kamu maafkan
begitu saja! Waktu di toilet dipeluk ala putri! Di rumah hantu nempel-nempel
melulu! Di roller coaster juga gampang banget dimanfaatkan! Di cangkir putar
cuma dimarahi sedikit!
Di komedi putar malah dinaiki
bareng-bareng!! Pizza juga dibagi... pakai ciuman tidak langsung...a, padahal
sama aku! Tak pernah dilakukan, padahal kamu tahu kalau tak bisa melakukan hal
itu!! Kenapa, kenapa kamu cuma memedulikan Sena terus!? Hari ini kan kencan
sama aku, kan!? Ini kan kencan paling berharga yang ingin kita jadikan kenangan
setelah tahu kita saling menyukai, kan!! Tapi... padahal begitu!!"
"N... Nggleguk! Sh--Shio──"
"Gak mau tahu!! Bodoh, Onii-chan
bodoh!! Onii-chan yang...,
Onii-chan yang cuma melihat cewek lain
terus tuh............ benci......, aku benci banget!!"
Berteriak dengan volume suara yang
sanggup menyapu bersih seluruh lagu latar taman hiburan.
Sambil
memperlihatkan wajah menangisnya, Shiori berlari────helai rambut putihnya
beserta tubuh kecilnya seketika menghilang di balik kerumunan orang.
Aku yang berdiri, mengulurkan tangan,
bahkan tak punya celah untuk
mengejarnya
karena terlalu tertekan────
"S,
Shiori──"
"Tunggu, Onii-san."
──Meski
begitu, Karasawa-san menahan tanganku saat aku menendang kursi untuk
mengejarnya walau sudah terlambat────Seketika darah membumbung ke kepalaku.
"K,
Karasawa-san!! Sudah cukup, kan!? Pengganggu lebih dari ini──"
"Bukan bukan! ......Aku memang
kelewatan, aku sadar kok. Maaf ya, Onii-san."
Sambil berkata begitu, dia bertindak
sangat jantan.
Berdiri
lalu menundukkan kepalanya────membuatku yang tadinya mau berlari malah berdiri
terpaku dengan menyedihkan karena tertekan oleh keseriusannya.
"...Aku gak tahu batasan ya. Gak
nyangka Shiori-chan bakal semarah itu............ Kalau Onii-san pergi
sekarang, itu cuma bakal menyiram minyak ke dalam api. Lagipula setelah bicara
begitu, Shiori-chan juga gak bakal bisa ditarik mundur dengan gampang,
kan."
──『Onii-chan
yang cuma melihat cewek lain terus tuh...』
──『...benci......,
aku benci banget!!』
"...Tapi,
terus aku harus bagaimana──"
"Onii-san tunggu di sini saja.
......Pertama-tama, biar aku yang pergi minta maaf. Lagian penyebabnya kan aku.
......Yah paling tidak aku bakal dipukul, ditendang, atau dimaki-maki sih, tapi
ya mau bagaimana lagi. Kalau dia sudah agak tenang sedikit, ucapan benci ke
Onii-san tadi juga pasti ada kelonggaran buat ditarik kembali kok. Lagipula
kata-kata kayak gitu kan cuma kelepasan keluar saja, murni bohong belaka. Hihi,
lagian kalau sampai dingin kan sayang banget. Sambil nunggu, makan saja sisa
pizzanya ya~♪"
Ucapnya────padahal
dalam hati dia pasti sudah bersiap-siap, tapi dia tetap bersikap bercanda
hingga akhir.
Karasawa-san berlari kecil ke arah tempat
Shiori berlari pergi tadi.
"............"
Aku yang ditinggalkan sendirian.
Dihadapkan
dengan jumlah pizza yang tak mungkin sanggup kuhabiskan────aku berlutut lemas,
lalu tertumpuk ke arah meja.
"............Benci, ya......"
......Bukan.
Yang beneran tak sanggup kuhabiskan, dan
tak sanggup kucerna itu.
Mungkin
adalah rasa marah dari lubuk hati Shiori yang paling dalam────yang baru pertama
kali dilontarkannya kepadaku sepanjang hidupku.



Post a Comment