NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kindan de Kindan ja Nai Chotto Kindan na Gikyōdai Rabukome wa Misui Ecchi kara Hajimaru Volume 1 Chapter 4

Bab 4Kereta Hasrat dan Dewi Penghukum


 

────────Seorang malaikat, ada di sana.

 

Shiori tidak pernah pergi keluar rumah selain untuk bolak-balik ke sekolah. Dia tidak bisa keluar.

 

Karena asal-usulnya yang bahkan ia sendiri benci itu, ada risiko kalau dia bisa saja diincar orang. Pada dasarnya menyuruhnya pergi ke sekolah saja sudah berbahaya... makanya Ayah selalu menyuruhnya untuk selalu menyalakan GPS di ponselnya. Ayah menasihatinya agar ponselnya selalu bisa dihubungi.

 

Aku yang bertugas sebagai perisai pun, mendapat perintah yang sama────agar jika seandainya sesuatu yang buruk terjadi dan Shiori diculik.

 

Agar aku dan Ayah bisa segera menyadarinya dan langsung bergegas menyelamatkannya.

 

Mungkin karena kondisinya yang memiliki batasan untuk keluar rumah itu... Shiori dari dulu tidak pernah peduli soal pakaian. Waktu SD saja, meskipun ukurannya sama sekali tidak pas, dia pergi ke sekolah pakai bajuku. Sejak masuk SMP, baju rumahannya pun selalu baju olahraga (jersey), dan biarpun aku menawarkan untuk membelikan baju, dia selalu menolaknya.

 

──"Asalkan menutupi kulit, pakai apa saja gak masalah, kan. Gak ada yang lihat ini."

 

──"Onii-chan, pakailah uangmu untuk dirimu sendiri sedikit."

 

──"...Kamu kan selalu menghabiskan hampir seluruh uang jajanmu buat ulang tahunku, tahu..."

 

Makanya... di butik tempat aku bergegas datang setelah mendengar pesan suaranya.

 

Saat aku melihat sosoknya itu────rasanya napasku, degup jantungku, bahkan jantungku sendiri, seolah berhenti.

 

...Cantik, banget.

 

Kakiku melangkah dengan sendirinya, seolah tersedot ke arahnya.

 

Padahal kakiku ini baru saja menyelesaikan lari jarak jauh dengan sekuat tenaga yang bahkan tidak pernah kulakukan di pelajaran olahraga, dan rasanya sudah kaku seperti kayu, tapi biarpun begitu.

 

Rasa tidak nyaman karena keringat yang mengalir, kontraksi paru-paru, hingga panasnya napasku, semuanya, benar-benar semuanya sudah tidak kupedulikan lagi. Aku cuma bisa terpaku melihat sosoknya yang begitu cantik, indah, dan imut itu membekas di retinaku hingga tak bisa lepas.

 

"Haah............ haah... haah..."

 

Aah, ya ampun, kenapa, ya. Sampai kapan pun napas dan degup jantungku tidak bisa tenang.

 

Malahan, makin aku mendekat. Makin aku melihat sosok agungnya dan pakaiannya itu di depan mata.

 

Jantungku berdegup kencang sampai rasanya sakit... ugh, aku ingin

menyentuhnya, ingin memeluknya──

 

"Haah, haah..., Shio, ri...!!"

 

Melihat Shiori yang melongo, membelalakkan matanya... dan menatapku, aku.

 

Ugh... aku gak bisa menahan diri... refleks, aku mengulurkan tanganku──

 

"────XXX"

 

Tiba-tiba.

 

Di saat aku mendengar suara itu────di, leherku, oh────────────

 

 

"Haah, haah, haah, haah...ha, haah, haah────, Shio, ri...!?"

 

────────Aku melihatnya, momen saat sorot matanya berubah.

 

"............Onii, chan...!"

 

...Jujur saja, aku sudah siap kalau nanti bakal dimarahi.

 

Karena aku melakukan hal berbahaya seperti pergi keluar tanpa Onii-chan, di sudut hatiku aku berpikir kalau aku mungkin bakal diceramahi. ...Tapi aku juga agak menantikannya, karena kurasa hal itu tidak buruk juga.

 

Tapi, tetap saja sedikit banyak aku merasa takut dimarahi.

 

Aku sempat merinding sesaat────meskipun rasa itu langsung tertutupi oleh getaran yang lain.

 

"Haah............ haah... haah..."

 

"... O, nii-chan... napasnya... matanya...!"

 

Keringatnya menetes-netes. Di dalam toko yang ber-AC ini, embusan napasnya yang terlalu panas itu terlihat sedikit memutih.

 

Onii-chan yang terus melangkah mendekat dalam diam sambil terengah-engah itu.

 

...Sedikit, cuma sedikit banget... terasa menakutkan. Habisnya matanya, tatapannya, berkilat-kilat buas bagaikan binatang... dan dia menatapku tajam.

 

Benar-benar seperti binatang buas karnivora yang kelaparan──

 

"............Ha? ...? ............!?"

 

──Takut. Takut, takut, takut... harusnya aku, takut.

 

Laki-laki yang mendekat dalam diam dengan napas memburu dan mata memerah... Aku tahu. Harusnya aku tahu. Ini menakutkan. Hal seperti ini, harusnya menakutkan.

 

Tapi............ ke, napa? Kenapa? Kenapa? Gak paham, gak paham!

 

Kenapa, aku────ujung bibirku malah berkedut naik begini?

 

............Kamu lihat, kan. Pakaianku yang seperti ini... baju vulgarku yang sangat memalukan bagaikan cewek gatal, yang hampir mirip telanjang ini... Kamu lihat itu, melihat itu, Onii-chan... napasmu jadi memburu, kan? Kamu melangkah mendekat dengan cepat dengan mata yang berkilat menakutkan, kan...?

 

Onii-chan────orang yang paling kucintai di dunia ini, yang sangat berharga bagiku, pacarku.

 

Cuma gara-gara melihatku............ dia, terangsang...? Padahal aku tidak telanjang bulat, biarpun seadanya tapi aku masih pakai baju lho...!?

 

Aah, kalau begitu... kalau seandainya benar begitu, kalau benar begitu!!

 

────Gak ada hal yang lebih bikin aku bahagia daripada ini...──

"...!!"

 

"..., I, Iruka-chan...!?"

 

Tapi.

 

Kalau dipikir-pikir lagi... bagi Iruka-chan yang tidak kenal Onii-chan, situasi ini pasti terlihat seperti keadaan darurat yang tidak wajar, kan.

 

Apalagi Iruka-chan itu tipe orang yang takut hanya dengan sekadar berhadapan dengan laki-laki.

 

Dengan berani, seolah hendak menghalangi jalan Onii-chan, dia berdiri menghadang di depanku.

 

Seluruh tubuhnya gemetar hebat sampai seperti mau roboh kapan saja.

 

"Ja..., jangan mendekat...!"

 

"I, Iruka-chan! Gak apa-apa kok, orang itu──"

 

Tepat saat aku hendak mengucapkan itu.

 

"────Lagi ngapain"

 

Suara yang jernih dan tegas seolah menebas segalanya itu bergema dengan tenang.

 

"Eh?"

 

"────"

 

...Bukan cuma Onii-chan yang dibutakan oleh nafsu. Aku juga baru menyadarinya sekarang.

 

Dari arah punggung Onii-chan, melompat seorang anak perempuan.

 

Anak perempuan yang mengunci leher Onii-chan dengan kedua kakinya bagaikan mencekiknya────Kak Rio.

 

"Lagi ngapain sih, Ken-chan────Hiaaa!!"

 

Seolah melemparkan tubuh Onii-chan yang bahkan belum sempat bereaksi kaget sama sekali.

 

Kak Rio memutar tubuhnya ke samping, melakukan putaran penuh────dan Onii-chan yang dijepit oleh kakinya pun dihempaskan ke lantai, lalu terpelanting begitu saja. Dia menabrak rak gantungan baju, dan barulah di sana daya luncurnya berhenti total.

 

Padahal dia baru saja memberikan hukuman yang sangat tidak masuk akal seperti biasanya.

 

"Nn~? ............Ehehe. Shi-chan, baju boyish zaman dulu memang cocok di kamu sih... tapi gaya seksi ternyata lumayan masuk juga, ya~ Biarpun gak cocok, tapi imut, lho~"

 

Sambil tersenyum tipis, Kak Rio mengatakan hal itu.

 

...Harus bereaksi dari mana dan bagaimana, sepertinya aku, Iruka-chan, bahkan Sena pun jadi bingung dan tersesat total dibuatnya.

 

 

────Aku tak bisa memahami dengan baik apa yang baru saja terjadi.

 

Padahal beberapa detik yang lalu, seorang dewi seharusnya masih menguasai seluruh pandanganku. Bagaikan serangga kecil yang tertarik pada lampu perangkap, aku mengulurkan tanganku ke arah cahaya yang menyilaukan itu────namun kejanggalan pertama yang kurasakan adalah saat leherku terbungkus oleh sesuatu yang kenyal dan lembut.

 

...Begitu aku sadar, kubus tempat ganti baju (kamar pas) itu sudah berada jauh dariku.

 

Ugh... Seluruh tubuhku terasa ngilu...... rak gantungan baju yang menjadi sandaran punggungku sedikit penyok............ Oh, ya, masuk akal.

 

────Bocah keparat itu.

 

Si Rio itu... di tempat seperti ini dari segala tempat, bisa-bisanya dia melakukan teknik Headscissors Whip...!! Itu kan jurus gulat profesional yang butuh matras di bawahnya!! Kalau bukan aku yang sudah biasa menerimanya, pasti aku sudah mati tahu!!

 

"Sakiitt...────, Riiooo!! Ka--kamu, tiba-tiba ngapain sih──"

 

", Onii-chan!! K--kamu gak apa-apa!? Gak ada yang terluka, kan!?"

 

──Tiba-tiba... sosok yang melongok dari balik kotak berwarna cokelat tua itu.

 

"............!!"

 

Mau dilihat berapa kali, berapa detik, berapa jam pun, warnanya tak akan pudar.

 

Begitu mencolok, begitu membara, seolah-olah membakar habis otakku

yang sudah gosong ini dengan teliti.

 

Meskipun hanya menurunkan satu kaki ke lantai dan menyembunyikan separuh tubuhnya, daya hancurnya sangat luar biasa. Tulang selangkanya yang menonjol jelas, lengan atas yang dijepit kuncir rambut berkerut, perut yang teksturnya halus bagaikan kertas kualitas tinggi, dan pusar sensitif yang seolah menghisap. Kaki yang jika dielus saja bisa membuatnya mendesah dengan imut.

 

Kostum yang benar-benar menonjolkan kulit putihnya yang seputih salju itu.

 

Mataku, kesadaranku, semuanya, benar-benar semuanya tanpa tersisa, tertuju pada wujud agungnya itu──

 

"──────Sakit!?"

 

"Haaah... Bohong banget, kan~? Masa digituin doang belum sadar juga~? ...Haaah, Shi-chan, maaf ya, tapi bisa kamu cepat-cepat ganti bajumu lagi gak~? Kalau mau baju yang cocok... Hwaaaah... Nn, aku bakal pilihkan buatmu, kok~ Fuhehe, masa aku gak pernah memfantasikan baju kasualnya Shi-chan~ kalau Shi-chan pasti paham, kan~?"

 

"E, a, u, un..."

 

Klak, sebuah pulpen jatuh di antara kedua kakiku, dilempar dengan kecepatan yang tak bisa ditangkap mata.

Saat perhatianku teralihkan oleh pulpen itu, Shiori telah menutup tirai dengan suara Srak. ...Keningku yang berdenyut nyeri karena dilempar pulpen ini rasanya agak terlalu panas, padahal harusnya hal itu dilakukan untuk mendinginkannya (menghukumnya).

...Otak, ku............ sudah dingin, kok. Apalagi kalau sudah dihajar dua kali begini.

 

"...Maaf, Rio. Itu... ah, cuma alasan doang sih. Akal sehatku hilang. ...Aku bikin dia takut, ya... Shiori──"

 

"Aah............ Kalau soal itu sih kamu kayaknya gak perlu khawatir sama

sekali deh~"

 

────Meskipun dia berlari dengan kecepatan yang sama denganku, jarak yang sama denganku, dan dengan tubuh yang lebih kecil dariku.

 

Tanpa kehabisan napas sedikit pun, tanpa mengeluarkan keringat

setetes pun............ Rio menghela napas panjang dengan santai, lalu mengacak-acak rambut pink-nya hingga berantakan.

 

"Shi-chan malah kelihatan senang tahu, dan karena kalian pacaran, sisanya terserah kalian saja sih~............ Tapi gak boleh, Ken-chan. Meskipun aku yang memaksa memasukkanmu, kamu kan anggota OSIS~ Kalau sampai membuat murid yang gak bersalah ketakutan tanpa alasan, sebagai Ketua aku gak bisa membiarkannya, tahu~?"

 

Setelah mengatakan itu────Rio, si Rio itu, menundukkan kepalanya

dalam-dalam.

 

Melihat pemandangan mengejutkan itu, aku baru menyadarinya di sana. Padahal tubuhnya sama tingginya denganku, tapi aku sama sekali tak menyadarinya. Kepada siswi perempuan yang punya aura keberadaan sekuat itu hingga aku tak tahu bagaimana bisa aku sampai mengabaikannya────Rio membungkukkan badannya membentuk sudut tegak lurus dengan penuh hormat.

 

Siswi perempuan berambut hijau muda yang entah kenapa berdiri sambil merentangkan kedua tangannya di depan kamar pas itu.

 

Dia duduk terduduk dengan lemas sambil melipat kakinya... Matanya yang tertutup poni membulat penuh rasa heran, menatap ke arah Rio.

 

......Anak itu... jangan-jangan, dia yang ada di pesan suara Shiori.

Teman... Shiori...?

 

"Nishijo Iruka-chan, kan?"

 

"Pik...!? Ke--kenapa... orang kayak aku... namanya bisa...!?"

 

"Soalnya aku Ketua OSIS, jadi ingat wajah sama nama seluruh murid sekolah itu sudah jadi hal yang wajar tahu. ...Pengurus OSIS-ku sudah bikin repot, maaf ya. Sebagai atasan, aku minta maaf banget. Fuhee... kalau ada laki-laki gak dikenal mendadak berjalan mendekat dengan cepat, jelas takut lah ya~. ...Makasih ya, Shi-chan... Shiori-chan, sudah berusaha melindungi adik tiri Ken-chan. ...Kelihatannya Iruka-chan

anak yang jaaauh jauh lebih baik daripada yang dibilang di rumor ya~"

 

"............ A--anu, orang itu... kakaknya... Shiori-chan...!?"

 

"Dari awal Shiori-chan kan sudah bilang begitu~. Kamu gak dengar ya? Iruka-chaan."

 

Iruka-chan────gadis yang sepertinya bernama Iruka Nishijo itu menatap ke arahku hanya sesaat saja.

 

Kepada suara yang terkesan menjilat dan mengejek bagaikan permen karet yang menempel.

 

Bukan cuma Nishijo-san, Rio pun menolehkan wajahnya.

 

......Di depan kamar pas. Perempuan yang duduk di kursi persegi itu... punya wajah yang pernah kulihat. Kuncir dua warna pirang, senyum cengengesan, dan gigi taring yang khas meskipun dari jarak segini.

 

Meskipun seragamnya tidak acak-acakan, tapi setiap gerak-geriknya terasa sensual, wujud penampilan yang bikin laki-laki tidak bisa menahan ludah hanya dengan melihatnya saja────

 

"...Karasawa Sena, ya. Sejak mendengar pesan suara Shi-chan aku sudah punya firasat buruk sih... ternyata beneran kamu ya~. Ya ampun... Shi-chan juga punya hak buat memilih teman tahu."

 

"Hihihihi, apaan sih Ketua OSIS♪ Sama Iruka-chan panggilnya pakai '-chan', tapi ke aku cuma panggil nama doang? Menolak diskriminasi nih♪"

"Coba tengok dulu kelakuanmu sendiri baru ngomong begitu... Di ruang OSIS juga ada beberapa orang yang datang tahu~? Konsultasi gara-gara hubungan mereka kamu bikin putus lah~"

 

Melihat Rio yang menjatuhkan bahunya sambil menghela napas, si kuncir dua warna pirang yang menjilati kuku di lima jarinya itu masih bersikap santai banget────A--ah! Benar, aku ingat!! Pantas saja rasanya pernah lihat!!

 

Sena Karasawa... penjahat kelamin yang hobinya merebut laki-laki yang sudah punya pacar! Tahun lalu berkali-kali ada orang yang konsultasi minta dia dikeluarkan dari sekolah atau semacamnya............ Gak nyangka kalau dia temannya Shiori. ...Bagaimana bisa mereka berteman?

 

Sementara Nishijo-san yang satunya, biarpun tubuhnya tinggi tapi kelihatannya penakut banget... Meskipun aku gak berhak mengomentari orang lain, tapi lingkaran pertemanan yang kamu bangun aneh banget ya, Shiori.

 

"Palingan yang menyuruh Shi-chan pakai pakaian kayak begitu kamu juga, kan~? Soalnya pakaian yang hampir telanjang kayak begitu jelas bukan seleranya Shi-chan~. ...Apa kamu berniat merebut pacar temanmu tanpa pandang bulu juga? Apa kamu pikir Ken-chan kami sedangkal itu? ...Jangan-jangan, kamu meremehkannya?"

 

"Uwah, seram banget sih Ketua OSIS♪ Hihihi, kamu sendiri aromanya kelihatan lezat sih────tapi aku juga lagi berjuang tahu. Aku lagi mati-matian berusaha biar buah yang masih mentah (pola cinta anak-anak) ini bisa matang. Kalau mereka gak mesra-mesraan dan pacaran sampai matang, kan gak ada kenikmatan pas direbut sebelum tidur~"

 

"Siapa yang kamu sebut anak-anak, dasar iblis mesum!!"

 

────Suara gesekan logam yang nyaring secara refleks membuatku ingin menutup telinga.

 

Namun gerakan tangan yang tidak perlu itu langsung kutahan karena sadar sekarang bukan saatnya buat melakukan hal itu──

 

"────!!"

 

"Lho? Shiori-chan gak ganti baju~? Apa kamu ketagihan pengen dilihatin pakai mata mesum sama Onii-san yang matanya berkilat penuh nafsu berahi~?"

 

"Shi-chan, cewek itu gak boleh memamerkan kulitnya terlalu banyak tahu~? Nanti masuk angin, lho~?"

 

"Baju ini susah dilepas tahu!! Kenapa bisa tersangkut begini sih!?"

 

──Rumbai-rumbainya tersangkut di lubang celana pendeknya, jadi dalam posisi membungkuk.

 

Pakaian dalam warna pink-nya────bahkan warna kemerahan samar dari celahnya────jadi terekspos.

 

Penampilan Shiori yang sangat tidak senonoh, yang hampir mirip telanjang bulat──

 

"Ugh, gak bisa terlepas... Kak Rio~, maaf ya tapi tolong bantuin lepasin──"

 

──Bagaimana cara melakukannya, ya. Bagaimana tubuhku bergerak, ya.

 

Padahal aku baru saja dikunci pakai teknik sama Rio, dihempaskan dengan keras ke lantai, dan seluruh tubuhku harusnya sakit sampai gak bisa bergerak. Padahal harusnya aku terduduk lemas dengan punggung menyandar di rak gantungan baju.

 

Tubuhku bergerak dengan sendirinya. Tubuhku berlari mengabaikan gravitasi.

 

Suara brol-brol terdengar samar-samar. Suara kancing jatuh mungkin terendam oleh suara langkah kaki.

 

"──Eh?"

 

"Shiori!!"

 

Tahu-tahu.

Aku... melepas baju seragamku dengan paksa, hingga memperlihatkan kaosku yang basah kuyup oleh keringat.

 

Seolah membungkusnya pakai selimut, aku menyelimutkan kain hitam itu ke bahu Shiori.

 

"... K--kenapa?, i--ini baju seragammu, sekarang kancingnya lepas semua... nanti dimarahi Ibu, lho? A--anu, itu............ Onii-chan...?"

 

"............ Udah, gak apa-apa... langsung balik ke kamar pas. Cepat ganti baju. Cepat, sekarang juga... ganti baju pakai seragam sekolahmu lagi...!"

 

"......,............ Kenapa...?"

 

────Aku sama sekali gak tahu dengan ekspresi wajah seperti apa kata-kata yang mengelus cuping telingaku itu diucapkan.

 

...Memang menyedihkan, tapi aku bahkan gak punya keleluasaan buat memperhatikannya.

 

Syukur-syukur, bahkan bagi aku yang mati-matian menatap lantai ini, aku bisa tahu kalau suaranya tidak mengandung rasa sedih. ...Meskipun suaranya terdengar agak basah secara aneh, sih.

 

"K, Ka--kalau ditanya kenapa... i--itu...!"

 

"...Maaf ya, Onii-chan. Aku jahat ya. ...Tapi aku pengen dengar. Boleh kasih tahu? Hei... kenapa kamu pengen aku ganti baju? Sampai-sampai menyelimutkan baju seragam yang basah kuyup sama keringat (aromanya tajam banget) ini buat menyembunyikannya... Kamu segitu gak mau lihat penampilanku yang sekarang?"

 

"N, Bu--bukan gitu──"

 

"Jangan palingkan matamu dong."

 

Wajahku yang refleks mendongak. Mataku. Pandanganku.

 

......Pipi Shiori yang memerah padam. Dan juga.

 

Tulang selangkanya yang menonjol lurus terlihat dari celah kerah, warna putihnya, kemulusannya.

 

Dipamerkan seperti ini kepadaku..., tapi disuruh jangan memalingkan mata, ini penyiksaan atau apa sih...!

 

"Kalau lagi bicara sama orang itu tatap matanya────Ayah kan sering bilang begitu. ...Hei, lihat mataku terus omongin. Onii-chan. Kenapa kamu pengen aku ganti baju sekarang juga?"

 

"........................................................................ Gara-gara kamu terlalu imut."

 

Aku mendorong tubuh Shiori yang terlalu ringan itu dengan pelan.

...Aah ya ampun beneran deh! Be--neran deh!! ......Kenapa sih aku gak pernah bisa menang kalau sama Shiori. Apa aku lagi diejek, atau lagi dimainin... kalau ditatap dengan senangnya secara tajam begitu.




Mana mungkin bisa kusembunyikan... perasaan yang sangat memalukan begini...!

 

"Soalnya kamu terlalu imut, terlalu memikat... sampai-sampai aku gak bisa menahan diri tahu!! ────Makanya tolonglah, jangan pernah pakaian kayak begitu lagi untuk kedua kalinya!! Jangan perlihatkan ke selain aku dan Rio, paham!?"

 

"────Ehehe, Onii-chan ini ada-ada saja. Aku kan bukan korbannya Sena tahu."

 

Puk, Shiori melompat mundur dan kembali ke kamar pas.

 

Dia menarik baju seragamku dari kiri dan kanan dengan erat, membenamkan wajahnya sampai ke hidung di balik kain hitam itu.

 

Dengan mata yang berkaca-kaca sayu, dia tertawa seolah sedang bernyanyi.

 

"...Aku dari dulu selalu setia sama Onii-chan seorang, tahu. Mau ganti haluan... sekarang sudah gak mungkin lagi."

 

...Tirai pun tertutup dengan tenang. Sosok Shiori menghilang dari pandangan umum.

 

"────Haaaah..................."

 

Napas lega memeras paru-paruku............ padahal begitu, rasa panas di jantungku sama sekali tak kunjung mendingin. Aku cuma bisa terduduk lemas sambil melipat lutut, menatap abu-abunya langit-langit dengan menyedihkan.

 

...Curang banget sih, anak itu. Terlalu imut (merangsang). Terlalu menggemaskan (memikat).

 

Makanya... makanya, makanya hal ini justru makin membikin! Makin membikin... cemas, tahu. Mana ada orang yang bakal membiarkan cewek secantik ini begitu saja. Selain aku, kalau ada orang lain yang menyukai Shiori, kalau sampai terjadi begitu... Aah sialan! Aku gak mau memikirkannya, gak mau memikirkannya, padahal──

 

"Mungkin ini cuma tebakanku saja sih~ tapi aku merasa kamu lagi mencemaskan hal yang sia-sia deh~ Ken-chan."

 

──Puk.

 

Pundakku ditepuk, dan aku baru menyadari kalau Rio sudah berjalan melangkah melewatiku.

 

Sambil menginjakkan kakinya tanpa ragu ke arah kamar pas tempat Shiori berada────dengan mata mengantuknya yang seperti biasa, Rio berbicara.

 

"Daripada punya waktu buat keringat dingin gara-gara hal yang gak beralasan~ mending kamu minta maaf ke Iruka-chan yang sudah kamu bikin ketakutan tuh~? Kalau enggak, pas lagi membantunya ganti baju nanti, kejadian di ruang OSIS tadi bakal kubongkar habis-habisan ke Shi-chan, lho~? Harga diri kan penting, ya~? Ya udah, titip ya~"

 

...Ancamannya yang kelewat nekat itu.

 

Sudah lebih dari cukup untuk membuat darahku tersedot surut hingga pucat pasi, dan memaksa lututku yang ngilu untuk menegak lurus.

 

 

Soal kelebihannya Onii-chan, aku bisa menceritakannya sebanyak apa pun. Aku bisa bercerita seharian penuh, dan biarpun lawanku menyerah aku bakal terus bercerita tanpa peduli, aku punya rasa percaya diri yang cukup untuk melakukan hal itu.

 

Sifatnya yang lembut.

 

Perhatiannya.

 

Kemampuannya yang sangat luar biasa sampai bisa menangani

permintaan tak masuk akal dari Kak Rio tanpa kesulitan.

 

Sifatnya yang jujur, gak bisa berbohong, sangat mudah ditebak, dan imut banget.

 

Gak terlalu kaku tapi punya respons yang bagus, serta sifat baiknya yang mau menemani permainan.

 

...Kalau diubah jadi kata-kata, kelebihan apa pun bakal terdengar pasaran. Pasti cuma aku yang sudah bersamanya selama lebih dari 10 tahun yang bisa memahami bukti kuat di balik ucapan itu, makanya fakta bahwa cuma aku seorang di dunia ini yang paham betul luar dalam soal kelebihan Onii-chan────sekarang ini membuatku merasa sangat, sangat-sangat bahagia.

 

Dadaku terasa panas, berdetak kencang sampai terasa sakit, dan serasa mau meledak kapan saja.

 

............Padahal begitu... aku disadarkan bahwa aku masih belum tahu apa-apa tentangnya.

 

"Maaf membuatmu menunggu, Shiori Ojou-sama────... Aah, k-kayak begini ya, Shiori?"

 

"───────────────────────!!?!!?!!?!!?!!?"

 

Kecrak, kecrak, kecrak, kecrak, kecrak, kecrak, kecrak, kecrak, kecrak, kecrak, kecrak!!

 

Gak pernah ada momen di mana aku sangat bersyukur ponsel pintar punya fitur foto beruntun melebihi saat ini. Sejak tirai kamar pas terbuka, hingga detik-detik saat dia menundukkan kepalanya dengan penuh hormat, tak ada satu pun yang terlewatkan oleh bergemanya suara jepretan kamera. Kapasitas memori tertekan dengan kecepatan yang luar biasa. Aku bisa merasakan ponselku yang sudah dipakai selama lima tahun ini mulai memanas.

Jas ekor burung (tuxedo) berwarna hitam pekat seolah memotong malam. Dasi merah yang menawan. Sarung tangan putih yang menempel pas di kulit. Sepatu kulit mengkilap tanpa cacat sedikit pun.

 

Ditambah lagi, saat kaca mata sebelah (monokle) yang kuminta dan kurayu untuk dipakainya itu berkilat memantulkan cahaya.

 

Ugh... cocok banget...!! Kalau ada pelayan pribadi kayak begini, semua Ojou-sama pasti bakal jatuh cinta tahu!! " ...S-Sebentar Shiori? Itu... difoto terus-terusan dalam diam begitu, jujur aku mulai merasa takut... Boleh kita selesai──"

 

"Gak boleh. Gak boleh tahu, gak boleh gak boleh. Tentu saja gak boleh banget, kamu ngomong apa sih, gak boleh tahu."

 

Perlahan, seolah berusaha tidak menentang permintaanku sebisa mungkin, Onii-chan berbicara sambil menatap ke atas.

 

...Orang ini gak sadar ya.

 

Hal itu justru... makin menggoda tahu. Aah ya ampun beneran deh ini, besok, besok kan kita kencan tahu!? Kamu paham gak!? Gak apa-apa nih!? Biarpun punya kantung mata pas keliling di taman bermain!!

 

Aku sih!! Sama sekali!! Gak keberatan kok!!

 

"Kamu kan sudah melihat penampilanku yang memalukan, vulgar, gak bermutu, dan sangat tidak sopan itu, tahu? Melihatnya lalu terangsang, sampai kehilangan akal dan lupa diri, kan Onii-chan! Kalau gitu... sedikit menuruti keegoisan pacarmu itu hal yang wajar, kan?"

 

"Ugh... a-aku paham kok... dan dicobain baju juga gak masalah sih... tapi

ya pakaian begini kan gak bisa dipakai sehari-hari. Mumpung Kak Rio bilang mau membiayai, harusnya pilih yang lebih praktis──"

 

"Gak apa-apa ini sangat praktis kok!! Udah Onii-chan penurut saja, jadilah boneka ganti bajuku tolong banget ya!! Lagian mumpung ini hadiah ulang tahun dari Kak Rio, kan! Kalau gak pilih baju bagus yang cocok buat kencan pertama kan sayang banget!"

 

"Bermanja sih boleh saja~ tapi jangan bersandar ke aku dong~?"

 

Suara yang manis bagaikan madu yang meleleh terdengar, membuatku refleks menoleh.

 

...Apa karena capek membantuku ganti baju ya, aku melihat Kak Rio sedang menguap. Mana entah kenapa... dia duduk di paha Iruka-chan, menjadikan dadanya sebagai bantal, lalu bersantai di sana.

 

Jangankan mata setengah terpejam, itu sih mata orang mengindigo. Kak

Rio, kamu beneran bangun gak nih? Bisa bayar di kasir gak?

 

"Hwaaaaa............ Nnyuu... Buat baju kencannya Ken-chan, aku memang

bilang mau membelikan sih~... tapi ya kalau satu setel jas ekor burung begini mah kemahalan~. Yang agak lebih terjangkau kan lebih ramah buat dompet~. ...Kalau membongkar tabungan sih bisa saja, tapi kan sekarang belum waktunya buat dipakai~. Harusnya kan, Hwaaaaah... Nnyuu..."

 

"A-Anu, itu... dari awal, baju itu... buat kencan... bukannya gak cocok, ya..."

 

"Muuu... aku tahu kok~. Cuma karena penasaran saja makanya kupakaikan. Gak usah dikhawatirkan Iruka-chan begitu juga, dari awal aku gak ada niat buat beneran membelinya kok."

 

"Kalau gitu aku beneran cuma jadi boneka ganti baju dong...... Haaah. Ya udah, boleh kulepas sekarang, Shiori? Ugh, lumayan... sesak ya, jas ekor burung ini."

 

"Ah, ah ah, tunggu, sebelum dilepas satu foto lagi!!"

 

Sambil menahan tirai yang hendak ditutupnya, aku berteriak sambil menyiapakan ponsel.

 

Aku juga gak ada niat buat menyuruh membelikannya kok.

 

Memamerkan Onii-chan dengan penampilan begini ke orang-orang yang gak dikenal itu tidak boleh banget.

 

Tapi... mumpung ada kesempatan──

 

"Wah-wah♪ Kelihatannya seru banget ya, Shi-o-ri-chaan♪"

 

────Cengkraman di bahuku, beban tidak menyenangkan itu beserta suara yang menempel.

 

...Aku bisa menahan decakan lidah itu beneran pencapaian yang luar biasa bagiku. Jangankan punya waktu buat melirik, ke oknum tak sopan yang mengelus-elus lengan atas seragamku tanpa ragu ini.

 

"...Mengganggu tahu. Sena. Bikin risih aja, cepat singkirkan tanganmu."

 

"Gak mau♪ ...Hihi, hihihihihi...♪"

 

Sena yang menempel sok akrab dan mengesekkan pipinya tepat di sebelahku.

 

Apa sih yang lucu... cengengesan terus sambil melihat wajahku.

 

"...Jangan mengintip dong, dasar mesum. Lenganmu juga mengganggu singkirkan. Aku gak bisa menekan tombol jepretnya──"

 

"Shiori-chan────yang kamu lakukan ini, sama kayak Iruka-chan yang tadi, ya♪"

 

"────"

 

...Begitu dikatakan.

 

Aku... tanpa sadar menjatuhkan ponselku. *Puk*, ponsel itu jatuh ke lantai, tapi aku tak bisa memfokuskan kesadaranku ke sana.

 

"Aneh juga ya. Alasan Iruka-chan mengambil foto kan Shiori-chan bisa menebaknya dengan wajar, kan? ...Hal itu kan gara-gara kamu sendiri melakukan hal yang sama, makanya kamu paham, kan~? Pas banget kayak sekarang ini, ya♪"

 

"............"

 

"...Hei, Karasawa-san."

 

Rasa malu meningkatkan suhu tubuhku tanpa batas, keringat kencang membasahi bagian dalam seragamku────namun angin sejuk yang membungkus, sedikit menghentikannya.

 

Onii-chan.

 

Dengan pakaian jas ekor burung bagai pelayan pribadi dan memakai kacamata sebelah, dia melangkah setengah jalan keluar dari kamar pas, menundukkan tubuhnya────lalu melayangkan pandangan tidak menyenangkan ke arah Sena.

 

Sama sekali tidak tergoda oleh Sena yang sudah punya rekam jejak menjebak banyak laki-laki.

 

"Ooh, jarak cinta mati... kayaknya bukan ya? Hihi, ada-ada saja Onii-san ini, wajahmu seram tahu?"

 

"Aah, maaf-maaf. Soalnya kalau adik tiri... pacar berhargaku diganggu, bawaannya suka emosi, sih. ...Aku gak tahu kalian lagi ngomongin apa, tapi mengganggu Shiori dan temannya tanpa alasan jelas itu bukannya agak kurang baik, ya?"

 

"....................Huuu, mmm..."

 

────Di luar dugaan.

 

Onii-chan yang membungkuk dan memajukan wajahnya, kini berada di posisi saling berhadapan mata dengan Sena. ...Jujur saja, kalau si bodoh

Sena ini tiba-tiba mencium Onii-chan di tempat ini, aku yang bercucuran keringat dingin bahkan sudah menyiapkan kepalan tanganku.

 

Padahal begitu, Sena malah menatap Onii-chan dengan tatapan heran, atau malah terlihat tidak puas.

 

Sambil memiringkan kepalanya melamun────tapi kalau saja tidak ada

rasa waspada ke Sena itu.

 

Aku mungkin bahkan tidak akan menyadari hembusan angin yang baru saja melewati sebelah tubuhku.

 

Udara dingin menyergap sebaris keringat dingin. Kepalaku yang mendingin mengembalikan akal sehat, memaksaku untuk mendongakkan wajah.

 

────Iruka-chan.

 

Tanpa disadari, dia membawa Kak Rio yang sudah tertidur lelap, lalu merengkuhnya.

 

Aksi mereka berlari ke kamar pas di sebelah Onii-chan terlihat seperti gambar bayangan.

 

"──Aeh?"

 

"I-Iruka-chan? Tiba-tiba ada apa──"

 

"............ A-Arah, sa, na...!!"

 

Tangan dan ujung jari yang sedikit mencuat dari kamar pas yang tirainya tertutup rapat itu.

 

Bahkan suaranya ikut panik, gemetaran, dan membeku.

 

"Arah sana, di seberang............ anak, perempuan, kelas, kita...... malah, datang......!!"

 

Aku mengarahkan pandanganku ke arah yang ditunjuknya.

......Memang benar, ada wajah yang kukenal di sana. Dua orang siswi berjalan mengitari toko sambil mengobrol. ...Syukurlah, kelihatannya mereka masih belum menyadari keberadaan kami, sih.

 

────Iruka-chan itu, biarpun cewek tapi dia suka cewek.

 

Gara-gara hal itu rumor aneh disebarkan tentangnya...... hingga dia dijauhi oleh cewek-cewek. Dibenci. Ditolak. ...Dia sudah sering mengalami hal yang tidak menyenangkan. Makanya, wajar saja kalau dia bersembunyi.

 

Aku dan Sena juga sama saja dalam hal itu. Biarpun ada Onii-chan (OSIS) dan Kak Rio (beserta jajarannya) bersama kami, kalau sampai ketahuan bakal tetap merepotkan. Dituduh anak yakuza lah, cewek penikung lah, malas banget kalau sampai dilibatkan. Paling buruk, kalau mereka menjerit histeris berakting jadi korban, kita yang bakal kena repot dan malah diusir dari toko ini......

 

Ini benar-benar tidak elegan...... tapi mengikuti kearifan Iruka-chan adalah pilihan yang paling pintar.

 

"...? Nishijo-san, tiba-tiba kenapa──"

 

"Maaf ya Onii-chan. Sampai anak-anak itu pergi kita sembunyi sebentar────Ehh!?"

 

"G, Gaaah, gawat──"

 

──Proses di tengah-tengahnya sama sekali tidak bisa kukenali sedikit pun. Mana ada waktu buat memikirkannya.

 

Sena────Sena yang merangkul sampai ke leherku, ikut menyeret aku dan Onii-chan sambil meronta-ronta melangkah mundur.

 

"──U-wah!? Tung, Sena!?"

 

"Shiori-chan, Onii-san maaf ya!! Ini darurat, izinkan kami mengungsi!!"

 

Begitu dikatakannya, fakta bahwa kami bertiga mengurung diri di kamar pas yang sempit baru bisa kukenali............ setelah telingaku menangkap suara kasar tirai yang terhempas ke dinding karena kelewatan tenaga.

 

 

────Situasinya tidak bisa kutelan dengan baik.

 

"...!?"

 

"Tung, Sena!! Kamu ini sebenarnya lagi ngapain────Mmph!?"

 

"Maaf ya, tolong diam sebentar!! ... Kalau sampai berpapasan sama anak-anak itu bakal merepotkan tahu... Semoga mereka cepat pergi ke tempat lain deh..."

 

"Ugh...!?"

Kamar pas yang terang benderang dipenuhi lampu ini, porsinya terasa sangat menyiksa dan sangat sempit.

 

Bagaimanapun juga, dimasuki oleh tiga orang anak SMA saja sudah membikin tempat ini penuh sesak dan empet-empetan────Punggungku yang tertekan ke cermin

perlahan-lahan terasa sakit.

 

Meski begitu, permukaan cermin yang perlahan kehilangan rasa dinginnya dan mulai meniru suhu kulit manusia ini masih jauh lebih mendingan daripada dinding keras biasa.

 

Kalau cuma sekadar keras sih tidak masalah sama sekali...... masalahnya adalah hal yang bertolak belakang dari itu.

 

"K... Ka--kamu gak apa-apa, kan...? Shio--ri...!"

 

"........................"

 

Sena yang melangkah mundur dan melompat lalu mengurung kami di kamar pas ini.

 

Posisi tubuhnya hampir mirip duduk memeluk lutut... sambil menahan tirai dengan tangan kirinya, dia secara sembunyi-sembunyi membuka celah di antara ibu jari dan jari telunjuknya pakai tangan kanan buat mengintip situasi di luar.

 

Tapi, kakinya yang ditekuk membentuk segitiga itu menyita sebagian besar luas lantai kamar pas.

 

Shiori yang terdorong oleh punggung Sena berada dalam posisi menggantung yang tidak jelas, antara berdiri atau melayang.

 

Wajahnya ditekan dengan kuat ke dadaku.

 

"............!"

 

......Embusan napas dari hidungnya, napas panas yang seolah sanggup membakar itu menghembus ulu hatiku.

 

Rambutnya yang bergoyang-goyang mengelitik pinggang dan kakiku.

 

Ugh... Dari pusar kepala yang berada tepat di dekatku, aroma manis yang agak asam menyengat terpancar......!

 

G--Gak boleh, gak boleh, gak boleh, gak boleh! Di dalam ruang tertutup yang membikin pengap oleh suhu tubuh dan rasanya mau mabuk ini, kalau sampai terjerumus oleh aroma manis begini...... apalagi di sini ada orang luar seperti Sena......!

 

Kurentangkan tanganku, kuangkat, lalu kuurutkan punggung tanganku rapat-rapat ke cermin, memperlihatkannya bagaikan bukti janji.

 

Kupejamkan mataku, mati-matian memusatkan perhatian untuk menahan diri────────

"...Kamu mikir gak apa-apa, gitu? ......Onii-chan...!"

 

────Grep.

 

Punggungku melompat tanpa bisa dikendalikan. Sensasi seperti disengat alat kejut listrik membuatku melintasi rasa kejut yang begitu tajam hingga melupakan cara bernapas.

 

Padahal jari-jarinya yang kurus dan kecil itu sudah lewat.

 

Tapi rasanya masih panas dan berdenyut-denyut. Rasanya kesemutan.

 

Kalau tidak ditahan, suara desahan yang memalukan rasanya bakal terlepas keluar.

 

Shiori.

 

Di bagian dalam jas ekor burung, di sekitar dadaku, dia menyusupkan tangannya.

 

Gores... dia menggaruknya. Dengan lembut, seolah mengelusnya.

Bahkan terhadap rangsangan sehalus itu pun... ugh, aku......──

 

"S, Shio, ri..., he--hentikan...!"

 

"Gak mau. ...Dari tadi kan cuma aku doang yang sudah di batas kemampuan buat menahan diri... itu curang tahu. ...Lagipula"

 

Gores, gores, gores... gores, gores.

 

Ujung jari yang menyentuh dengan tempo cepat dan lambat secara bergantian itu membuat seluruh saraf tubuhku kejang satu per satu.

 

Membuka mata saja rasanya sulit, tapi begitu pandanganku berubah gelap, rasa nikmat justru makin kuat bergejolak di punggungku────Cuma, cuma gara-gara hal semacam ini saja.

 

Padahal ada orang lain, padahal ada pihak ketiga seperti Sena di sini.

 

Ugh, aku rasanya... sudah gak bisa... menahannya lagi...!

 

" ...Maaf ya. Aku... wajah Onii-chan yang mati-matian menahan diri itu............ rasanya aku sangat, menyukainya...!"

 

Srekh.

 

Dengan tekanan yang membikin punggung gemetaran, Shiori menggerakkan jarinya. Dari dada menuju tulang rusuk, lalu ke pinggang, dan mengelus lembut bagian dalam pangkal paha. Mengelusnya seolah mengusap ke atas.

 

Srekh, srekh, srekh, srekh...

 

────Dengan rasa perih yang begitu menyiksa, aku tahu benteng akal sehatku mulai retak.

 

"Ah............ Ehe, ehehehehe... Akhirnya kamu merespons juga..."

 

"... Shio, ri..., a--ada orang lain, tahu...? Cu--cukup...

he--hentikan──"

 

"Kamu mikir aku bisa menghentikannya? ...Tenang saja. Dia kan lagi fokus banget melihat ke luar..."

 

Srekh... baru disentuh begitu saja, sudah.

 

Ugh... rasanya sakit bagai mau meledak, panas... dan kejang yang memalukan tidak mau berhenti.

 

Gak boleh, beneran gak boleh. Kalau sekarang, kalau sekarang tangan itu, tangan itu digerakkan, kalau diusap seolah sedang memanjakanku.

 

Ugh... dengan mudahnya batasku bakal hancur lebur...!

 

"Hei... Onii-chan..."

 

Dengan wajah merona merah. Dengan suara basah. Dengan mata yang memerah mabuk.

 

Shiori yang mendongak menatapku bagaikan mendidih itu, mulutnya yang menganga lebar, lidahnya.

 

Tampak haus, basah dan lengket oleh air liur......

 

" ...Gak apa-apa kok... bakal kuterima semuanya..."

 

"... Gak boleh, Shiori... ta--tanganmu, cepat lepaskan tanganmu...!"

 

"Gak apa-apa. ...Melihatmu tersiksa begini... setidaknya bagi dong ke aku.... Aku... pengen punya Onii-chan..."

 

"............!!"

 

Srekh, srekh, srekh, srekh────Satu milimeter demi satu milimeter, jari-jarinya merayap. Seolah mengelus. Setiap kali melakukan itu, rasa panas yang melonjak dan dorongan emosi rasanya membakar otakku hingga berdenyut-denyut.

 

......Bujukan penuh pengabdian dari Shiori, bercampur dengan aroma tubuhnya yang manis, membuat daya pikirku lumpuh total.

 

Sensasi jarinya yang lembut dan kenyal.

 

Setiap kali merayapi bagian yang tegang dan menonjol itu, aku tahu akal sehatku meleleh.

 

Akal sehat yang tidak lagi mempertahankan bentuk aslinya seperti mentega itu, secara tanpa alasan menganggap perlawanan lenganku yang mati-matian menempel ke belakang sebagai hal yang sia-sia.

 

 

"────Ah"

"Haah, haah... Shio, ri... Shiori, Shiori, Shioriii...!!"

 

Kugenggam kain putihnya yang lembut seperti sutra tanpa ragu.

 

Oleh kehangatannya yang melampaui batas panas itu────aku makin terbakar emosi.

 

" ...Gak apa-apa kok. Onii-chan... bakal kubikin... semuanya..."

 

Sambil tetap menatapku dengan penuh kasih sayang biarpun aku sudah dikuasai oleh nafsu berahi yang hampir meledak.

 

Shiori memainkan releting jas ekor burung pakai lidahnya, lalu mengatupkannya dengan gigi.

 

Sret, sret, sret... Setiap kali direletingkan ke bawah dengan pelan seolah sedang menggoda.

 

Makin dekat kurasakan suhu napas Shiori────Aah.

 

Padahal... padahal belum melakuin apa-apa.

 

Su--sudah... gak sanggup... mungkin ini batasku────

 

"Okey selesai~. Cepat keluar kalian berdua~"

 

"Wah, kyaa!?"

────Pandanganku yang tadinya remang-remang dan gelap, mendadak kembali terang.

 

Rio membuka tirai secara paksa dari luar. Di saat yang sama, Sena yang sepertinya sedang memegang tirai, ikut tertarik keluar. Gedebuk, dia berguling-guling jatuh ke lantai.

 

......Padahal begitu, Shiori tetap menempel erat padaku tanpa ada niat buat melepaskan diri dan malah membeku.

 

............Jangan-jangan, Shiori... dari pertengahan tadi dia sengaja

menempel atas kemauannya sendiri?

 

Melihat Rio yang menatap kami sambil menguap, dia bercucuran keringat dingin sambil menatapnya tajam.

 

", Ka--Kak Rio...!"

 

"............Haaah. Berkat hubungan teman masa kecil, kali ini tak bakal kupermasalahkan deh, Shi-chan. Ken-chan juga. Syukur ya, sebelum keompolan."

 

Sambil berkata begitu────tanpa memedulikan pandangan orang, dia menguap lebar-lebar.

 

Rio menarik kerah baju Sena, menyeretnya perlahan............ lalu menatap kami bertiga dengan pandangan tajam yang dipenuhi oleh rasa heran.

......Kenapa sih semuanya bisa kebongkar.

 

Suara Shiori kan kecil banget tahu? Sena saja tidak memberikan reaksi apa-apa...... apalagi biarpun di sebelah, tapi dibatasi oleh dinding kamar pas, harusnya kan tidak kelihatan. Apa pendengarannya juga di tingkat jenius?

 

"Ken-chan."

 

────Deg, punggungku melompat. Bukan karena rasa nikmat atau kesenangan, melainkan karena rasa takut murni.

 

Rio yang menancapkan pandangan matanya dan tidak berniat mencabut tombak itu.

 

Dia menggerakkan dagunya────

 

"Cepat ganti baju, terus kunci aromanya. Kalau enggak...... kali ini

beneran bakal kuserang, lho?"

 

"────A--aku paham kok!! Ugh, m--maaf Shiori, keluar sebentar

dong!"

 

"Wawa, u--un, aku juga maaf ya──"

 

──Suara itu lagi-lagi terhalang dengan mudahnya oleh selembar kain tipis.

Sambil merasa sangat takut pada kejeniusan teman masa kecilku ini, kulepas kait bajuku. Kutuangkan celanaku. ...Melihat noda gelap yang meresap di celana bokserku, aku menghela napas merasa menyedihkan akan diriku sendiri.

 

............Dia mendekapku, menempel erat-erat... hanya karena hal itu saja.

 

Padahal aku sangat, sangat mencintainya sampai tak tahan rasanya... tapi sekali lagi, aku dibuat pucat pasi. Rasanya sangat menakutkan, bahkan Rio tak ada apa-apanya. Di dalam ruang tertutup tadi, tanpa sadar bahuku gemetaran saat mendekapnya.

 

Seandainya terjadi sesuatu, sampai aku bisa bertanggung

jawab────memangnya butuh berapa tahun lagi?

 

Berapa hari, berapa jam, berapa menit, berapa detik............ berapa lama aku dan Shiori harus menahan diri? Harus bersabar? Harus menahannya? ────Hal seperti itu, apa benar-benar bisa kami lakukan?

 

...Melihat milikku yang masih keras, panas, dan gemetaran tak kunjung reda ini... membuatku merinding ketakutan dengan arti yang berbeda.

 

Hal seperti itu, tak mungkin bisa, kan. Sama sekali tak terasa akan sanggup melakukannya.

 

Terhadap lawan kencan terbaik seperti Shiori yang begitu imut, menggemaskan, indah, murni, memikat, dan aromanya saja sudah sanggup membuat darah bergejolak.

 

Memangnya aku bisa, menahan diri.

 

Rapuhnya daya kendali diriku sendiri itulah yang terasa paling menakutkan dan menyedihkan melebihi apa pun bagiku.

 

 

......Di jalan pulang, aku dan Onii-chan tak bisa saling bertatap muka.

 

Padahal bulan begitu dingin dan terang, menyinari kawasan pemukiman warga jauh lebih terang daripada lampu jalan yang jarang-jarang............ namun rasa panas membara yang bergetar perih ini tak kunjung mendingin. Sambil memeluk kantong kertas dari toko baju dan mendekapnya erat-erat... padahal aku ingin menyamarkan detak jantungku walau cuma sedikit.

 

Ah ya ampun, embusan napasku saja terasa panas seperti kobaran api.

 

......Aku berkali-kali melirik Onii-chan yang berjalan di sebelahku. Aku

mencoba menyapanya. ...Aku ingin memberi sedikit alasan soal nasib akal sehatku yang menguap tadi.

 

Padahal begitu.

 

"O, Oni──" "A, Shio──"

 

────Saling mencintai dengan kekompakan yang terjalin erat, siapa sangka hal itu malah menjadi pengganggu.

 

Setelah tabrakan kata-kata terjadi secara beruntun sebanyak tiga kali, tanpa komando kami berdua memilih untuk berjalan dalam diam dengan langkah gontai. Habisnya tak akan ada selesainya. Mungkin...... kalau aku mengalah duluan, perdebatan sengit yang tak ada ujungnya bakal dimulai. Tapi sebaliknya kalau aku belakangan, aku harus marah-marah lagi.

 

Mana mungkin Onii-chan mau menyalahkanku.

 

Biar langit dan bumi terbalik pun, hal itu tak akan terjadi. ...Biarpun aku sendiri ingin memperingatkan diriku sendiri, sih.

 

Lagipula... rasanya terlalu panas. Rasa kegembiraan yang membakar hingga terasa sakit ini masih belum mereda.

 

Kalau tak masuk ke dalam lemari es freezer dan meringkuk di sana, aku tak akan bisa tenang. ...Setidaknya, kalau tak mandi air dingin dulu dan mendinginkan kepala secara harfiah... mungkin aku tak akan bisa bicara secara normal dengan Onii-chan.

 

......Diriku sendiri pun merasa, aku sudah kelewat nekat.

 

Kenyataan bahwa ada Sena di belakang pun, dari pertengahan tadi sudah tak kupedulikan lagi. Padahal aku tak tahu seberapa parah dia bakal mengejekku nanti, tapi akal sehatku sudah terbang melayang. Aku sudah tak bisa memikirkan dampaknya lagi. ...Persis seperti Onii-chan, saat matanya tertuju pada penampilanku yang seperti cewek gatal tadi.

 

......Tapi, habisnya............ aroma keringat yang agak asam, bercampur dengan aroma Onii-chan yang pekat, lembut, dan menenangkan... saat diciumkan obat perangsang (aroma) seperti itu, mana mungkin bisa tetap tenang. Sekarang pun... aku tak punya rasa percaya diri kalau aku sudah bisa tenang dengan benar.

 

Mandi shower, makan malam,............ setelah menyelesaikan semuanya.

 

Tanpa memberinya kesempatan untuk meminta maaf, aku akan meminta maaf duluan, mengaku dosa, dan memohon pengampunan atas nafsu berahiku.

 

......Padahal ini adalah sehari sebelum kencan pertama kami, tapi malah

harus melakukan hal seperti apa coba────aku sempat merasa heran.

 

Tapi.

 

"...Aku pula──"

 

Gantungan kunci di dalam saku. Gagang pintu yang berputar Klak. Pintu yang terbuka dengan mudah.

Semuanya, benar-benar semuanya seperti biasa. Seolah sedang mengawalku, Onii-chan membukakan pintu rumah────tepat di saat itu.

 

Dari seberang koridor terdengar suara gaduh yang nyaring

Brak-brak... suara tumpukan piring yang pecah.

 

"────Hei, hei Mikoto-san! Sadarlah! Mikoto-san!!"

 

"I, I—Ibu...!?"

 

"H--hei! Ada apa Ayah!? Ibu!!"

 

Kecepatan tindakan yang tak biasa terjadi. Tanpa mengunci pintu, tanpa melepas sepatu, aku dan Onii-chan sama-sama berubah pucat pasi dalam sekejap, lalu berlari menyusuri koridor. Mendorong pintu yang rasanya sangat tak cukup untuk menahan suara pecahan tadi, kami melompat masuk ke ruang tengah.

 

Ugh... aroma sedap ikan bakar. Uap nasi yang baru matang terpancar dari penanak nasi yang terbiar terbuka. Sup miso yang masih di atas kompor mendidih dan berbuih-buih.

 

Tepat di depan mata dapur.

 

Ibu yang mengenakan kimono hijau muda dan memakai celemek dengan rapi.

......Tergeletak di antara pecahan piring yang hancur berkeping-keping────dan Ayah yang mengenakan setelan jas memangkas tubuh bagian atasnya untuk membantunya bangun.

 

"Haah... haah, haah, haah, haah...haa, ha..., haah, haah...!"

 

Wajah Ibu jauh, jauh lebih biru daripada wajahku atau Onii-chan. Pucat pasi.

 

Keringat dingin memenuhi keningnya, matanya terpejam dan wajahnya meringis kesakitan. Napasnya tak teratur, cepat, dan saat berusaha menahannya malah makin menyiksa────aku tahu. Aku sudah berkali-kali mengalaminya.

 

Itu hiperventilasi.

 

Bahkan sampai pingsan begini............ ternyata dia memang memaksakan diri. Dia ketakutan.

 

Soal rencananya ikut di hari ulang tahunku besok. Di kencan pertama kami setelah berpacaran dengan Onii-chan.

 

......Demi membawaku kabur dari dunia yakuza dengan cara menikah dengan Ayah.

 

Sejak saat itu, bagi Ibu yang tak pernah keluar rumah selama 12 tahun.

 

Dunia luar, apalagi taman bermain, terasa sangat menakutkan hingga dia tak tahan lagi...!

 

"Ah, Kenji, Shiori...! Hei kalian berdua! Punya saputangan gak!? Kalau gak ada, di dalam dapur ada kantong plastik, kan!? Ambilkan! ...

Mikoto-san, gak apa-apa kok, tenanglah... kamu boleh merasa tenang. Di sini gak ada siapa-siapa. Gak ada musuh. Aku bakal melindungimu dengan benar──"

 

"A--Ayah! Pakai saputanganku saja! ............Hei, Onii-chan."

 

"Iya. ............Anu, Ibu──"

 

"Ha, a... haah, haah, haah..., jangan... khawatir... Shiori... Kenji-san..."

 

────Dadaku terasa sakit bagai ditusuk.

 

Kenapa...? Aku tahu, aku tahu rasanya tahu? Rasa sakit, tersiksa, dan sesak saat menjadi seperti itu, semuanya, benar-benar semuanya────rasa takut yang sanggup membuat jadi seperti itu pun, aku semuanya.

 

Padahal aku paham, tapi... aku tak paham. Tak paham, tak paham!

 

Kenapa, kenapa Ibu bisa seperti itu.

 

Kenapa dia bisa tersenyum manis seolah cuma sekadar sedikit kerepotan saja?

"...I--bu..."

 

"Haah, haah... cuma... kaki... agak lemas saja... fufu... besok... kencan pertama... Shiori sama Kenji-san, kan...? ... Aku harus... bertindak sebagai orang tua dengan benar──"

 

"Jangan paksakan diri dong...! Mana mungkin kami membiarkanmu pergi!! Padahal ketakutan sampai jadi seperti ini!! Mana tega kami membawa Ibu pergi ke luar!! , Ayah!! Kalau sudah begini, sama Ayah saja tak masalah!! Gantikan pendampingnya!! Asalkan ada pengawas yang ikut, Ayah dan Ibu bakal puas, kan!? Kalau begitu──"

 

"────, Gak boleh...!!"

 

Mendengar suara yang seperti diperas itu.

 

Onii-chan yang berteriak secara membabi buta pun...... terdiam bagaikan tertekan.

 

"Aku juga..., orang tuanya Shiori dan Kenji-san...! Haah, haah... Melahirkan, membesarkan, membimbing... tanggung jawab seperti itu... tak boleh dibuang begitu saja............ Kalau begitu... aku tak bisa membusungkan dada sebagai orang tua...!"

 

"A............ Ayah. Besok, tuh..."

 

"...Ayah dapat pekerjaan besar yang makan waktu seharian. Ayah gak bisa menggantikan. ...Tapi."

"Aku paham."

 

────Berjongkok. Mengarahkan saputangan yang dari tadi ada di dalam saku ke mulut Ibu, menahan napasnya yang terlalu cepat.

 

......Aku sangat mencintai Onii-chan yang sudah bersama sejak usia empat tahun.

 

Tapi yang bersama sejak usia empat tahun bukan cuma Onii-chan seorang.

 

Kunci untuk meniru tindakan terburu-buru (Ayah) yang sekilas terlihat

seperti tindakan tegas setelah dipertimbangkan matang-matang itu

cuma satu────jangan menyangkal ide yang terlintas saat itu juga.

 

"Haah... haah... Shiori... kamu mau... apa..."

 

"Aku sama Onii-chan bakal cari orang yang bisa menggantikan Ibu lalu

minta tolong ke mereka. Orang yang bakal mengawasi kami supaya tak terjadi kesalahan sedikit pun. ...Bakal kucoba minta tolong ke teman. ────Onii-chan juga gak apa-apa, kan?"

 

"────Gak boleh...!"

 

Ya, mulutnya memang membantah begitu.

 

Namun Ibu yang napasnya begitu kencang dan cepat hingga membuat dadanya yang terikat kimono naik turun tak bisa berhenti... bahkan orang yang tak punya pengetahuan medis seperti aku pun paham. Mana mungkin bisa membawanya pergi keluar.

Padahal begitu, alasan kenapa dia tak berhenti membantah adalah.

 

......Karena Ibu... benar-benar seorang... orang tua, kan...?

 

"Orang lain…, ha, aah, Uhuk, uhuk, uhuk...! Haah, haah.... tak boleh merepotkan orang lain gara-gara urusan internal (aku) seperti ini──"

 

"Hal kayak begitu! Sejak Ayah minta tolong ke Rio dan yang lainnya buat jadi pengawas saja sudah terlambat tahu!, Ayah! Bawa Ibu ke kamar tidur!! Shiori kamu ikut juga! Beres-beresnya biar aku yang kerjakan!"

 

"U--un! Ayah, hati-hati sama pecahan piringnya!"

 

"Hup────Maaf ya, Mikoto-san. Kali ini, argumen mereka yang lebih masuk akal."

 

"H, Ha, aah.... Tu--turunkan, Suguru-san... Aku gak apa-apa──"

 

"Kalau bohong, besok gak bakal kubelikan oleh-oleh lho!"

 

Digendong oleh Ayah ala putri────Ibu yang dinaikkan ke tangga bersama aku yang memimpin di depan.

 

......Meskipun begitu, dia tetap terus bergumam bagaikan mengindur.

 

Kalau ini...... kalau tindakan sampai sejauh ini yang dinamakan orang tua.

 

............Memang benar hal ini masih terlalu berat bagiku... dadaku menjeritkan rasa sakit dengan tenang.

 

 

...Ya, memang sih, aku tahu situasi keluargamu

 

Jarum detik jam dinding di kamarku terdengar sangat bising dan tak bisa diabaikan.

 

Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam... bagi anak SMA, ini adalah area yang agak tak sopan untuk menelpon teman. Meski begitu, aku sangat berterima kasih pada Haruya yang mengangkat telepon sebelum dering ketiga.

 

...Padahal aku adalah dalang utama dari benih kecemasan dan kekhawatiran ini, sih.

 

Ibu... jangan menanggung tanggung jawab sampai bertindak setengah gila begitu dong.... Karena tak bisa bertindak kasar, aku dan Ayah bekerja sama untuk menidurkannya sampai hampir pingsan... hingga akhirnya jadi jam segini.

 

Aku memang banyak dibantu Ayahmu, tapi Ibumu juga sangat menjunjung tinggi kewajiban ya. Seperti yang diharapkan dari mantan yakuza. Ya ampun... Kenji, dia mirip banget sama kamu tahu

 

"...Jangan bercanda. Kalau aku sejunjung tinggi itu sama rasa keadilan, aku tak bakal lancang menelponmu malam-malam begini. ...Aku tahu kamu punya pekerjaan yang dibawa pulang, dan tahu kalau ini tak masuk akal, tapi──"

 

Sayangnya, sesuai dugaanmu. Besok kami tak punya kelonggaran seperti itu

 

Jawaban yang sudah kuduga kembali terdengar... mengurungkan helaan napas yang tak berhak kuatur, aku malah mengacak-acak rambutku hingga kulit kepalaku berdarah.

 

────Mikoto Amakawa (Ibu), dulunya adalah putri tunggal dari ketua kelompok yakuza terkenal.

 

Gara-gara asal-usulnya itu, dia sering mengalami hal-hal buruk dalam perebutan kekuasaan maupun konflik. ...Ayah sama sekali tak mau membuka mulut, tapi di usiaku yang sekarang, tak sulit untuk membayangkannya.

 

Alasan kenapa dia sampai repot-repot menikah dengan Ayah yang sudah keluar dari dunia yakuza pun.

 

Adalah untuk mengumumkan bahwa dia sudah tak ada hubungan lagi dengan kelompok dan menjadi orang biasa────tapi, meskipun begitu.

12 tahun sejak menikah lagi... Ibu tak pernah pergi keluar rumah.

 

Hubungan kita memang sudah cukup lama dan dekat, tapi khusus kali ini waktunya buruk banget. Tepat sebelum festival budaya, kalau dua orang pengurus OSIS lepas dari pekerjaan (garis depan) itu gawat. Kalau cuma Sabtu-Minggu ditiadakan sih masih masuk akal, tapi kalau begadang terus-terusan... kasihan Ketua sama cewek kayak Fuyuru

 

Senpai Haru!? Barusan Senpai Haru memikirkan Fuyuru ya!?

────Boleh gak Fuyuru mimisan gara-gara terharu!?

 

Kalau bisa dikendalikan sendiri tolong hentikan ya. ...Cuma

mengingatkan, jangan panggil Ketua, ya? Si rambut pink itu bisa-bisa langsung mengangguk setuju tanpa mikir karena merasa nanti tinggal dia sendiri yang menyelesaikan semuanya. Biarpun teman masa kecil, tapi kalau minta tolong sampai sejauh itu, kamu sendiri juga tak bakal mau, kan?

 

"...Tepat sasaran sampai aku tak bisa berkata-kata, tapi dari awal aku memang tak berniat menghubunginya kok. Jam segini dia sudah tidur."

 

Si jenius loli dada besar itu, sehari tidur berapa jam sih...

 

Aku ingin mengangguk setuju pada rasa herannya────tapi, harus bagaimana ya.

Shiori memang bisa mendapat teman dengan melompati batasan 'anak mantan yakuza'... tapi aku, ditambah dengan pekerjaan OSIS yang membikin hampir tak pernah ada di kelas, jujur saja aku bahkan cuma samar-samar mengingat wajah teman sekelas. Kapan terakhir kali aku bicara dengan teman sekelas saja aku tak ingat.

 

Kalau anggota OSIS semuanya tak bisa, tak ada pilihan lain lagi──

 

Ya ampun, bener-bener tak bisa diandalkan ya, Senior Amakawa ini

 

──Tiba-tiba.

 

Suara menyebalkan yang terkesan sangat santai terdengar dari gagang telepon, membuatku refleks menegakkan punggung.

 

Katanya orang yang tenggelam bakal menggapai jerami sekalipun.

 

Kalau mengabaikan sikapnya padaku saja, tak ada jerami yang lebih

tebal, kokoh, dan bisa diandalkan melebihi Fuyuru Koshino.

 

"A, Koshino, kamu ada ide──"

 

Ya mau bagaimana lagi............ Khusus kali ini, kalau gak bawa oleh-oleh bakal kumaafkan kok♪

 

Akunya yang berharap memang bodoh!! Ngigo tuh pas tidur dong dasar adik kelas bloon!!

Sebelum sempat diucapkan............ begitu sadar, aku sudah melempar ponsel pintar ke kasur. Saat kuambil kembali, panggilannya sudah dimatikan.

 

......Si Koshino itu, dari awal sudah menyusun rencana buat menyudahi pembicaraan ya.... Ya ampun, bener-bener jerami yang sangat kuat dan tebal sampai bikin heran. Tapi sikap manisnya cuma ke Haruya doang sih.

 

"............Haaaah............ harus bagaimana, ya......"

 

Bruk, aku menghempaskan diri ke kasur, menghembuskan helaan

napas ke arah langit-langit.

 

......Paling buruk, besok pagi-pagi sekali aku harus menundukkan kepala ke Rio, ya. Nanti Haruya pasti bakal marah besar sampai bikin ilfil, dan

Koshino mungkin bakal hampir membunuhku... tapi apa aku bisa menawarkan kalau semua tumpukan pekerjaan bakal kukerjakan sendiri.

 

Kalau kutangani tanpa tidur dan istirahat selama sekitar lima hari di luar mengantar-jemput Shiori, perhitungannya sih bukannya tak bisa selesai...

 

Tapi gak boleh, kali ya.

 

Paling cuma Koshino doang yang bakal setuju sambil angkat tangan. Rio dan Haruya pasti bakal menolak, dan kalau aku nekat melakukannya sembunyi-sembunyi, mereka bakal datang membantu sesuka hati, atau malah memukulku sampai pingsan buat memaksa tidur.

 

Tapi............ kalau begitu harus bagaimana lagi?

 

"Harus, bagaimana......──"

Seolah mencari jerami yang bisa digapai di udara.

Melayang-layang, tanganku terulur tanpa tujuan ke arah langit-langit putih, cuma karena tak bisa bergeming────saat itu.

 

"────────Onii-chan!!"

 

Tanpa aba-aba. Pintu terbuka dengan kencang────refleks membuatku melompat bangun.

 

Sosok dengan baju olahraga yang sudah biasa kulihat. Sambil membiarkan pipinya basah oleh keringat yang bukan karena panas maupun olahraga, Shiori melompat masuk ke kamar.

 

Seolah memamerkan bukti kuat, dia mengacungkan layar ponsel pintarnya.

 

......Nama yang tertera di layar panggilan itu adalah.

 

"S, Shiori...!?"

 

"M--maaf! Itu... a--awalnya kan!? Aku beneran, beneran menelpon Iruka-chan tahu!? Soalnya cuma bisa mengandalkan Iruka-chan, makanya kutelpon berkali-kali!! Tapi padahal berdering terus, Iruka-chan tak mau mengangkatnya... padahal biasanya sekali dering langsung diangkat, ada apa ya────b--bukan itu!!"

 

......Mohon maaf, tapi penyesalan yang sangat kupahami itu membuat Shiori panik tanpa alasan.

 

Habisnya, padahal baru saja sah jadi pacar, tapi kencan pertama malah butuh pendamping saja sudah bikin kesal setengah mati.

 

Ditambah lagi nama itu, terlalu tak cocok untuk situasi seperti ini.

 

"......Karena terpaksa, bener-bener terpaksa! Calon cadangan yang tak diharapkan, malahan aku pikir lebih baik kalau ditolak jadi kupikir cuma buat jaga-jaga dengan berat hati dan terpaksa kucoba telpon──"

 

Eeh~? Cara bicaramu kasar banget ya, Shiori-chan♪

 

......Suara lengket yang sudah sangat terbiasa kudengar dari interaksi beberapa jam lalu.

 

Sambil menghembuskan napas panas di antara helaan napasnya, wanita itu──

 

Hafuu... Hihihi, aku paham detailnya kok, Shiori-chan sama Onii-san♪ Intinya kan, kencan pertama kalian besok kalau kelihatan bakal menjurus ke hal mesum tinggal kuganggu dengan sekuat tenaga, kan~? Serahkan padaku ya, merusak hubungan asmara orang lain itu keahlianku kok♪

 

──Orang yang diwaspadai dan ditandai oleh OSIS, Sena Karasawa.

Bahkan tanpa suara pun bisa diketahui kalau dia sedang menjilat bibirnya, dengan suara yang basah, memerah, dan sangat menggoda...... dia memberi kepastian yang paling buruk.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close