NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kindan de Kindan ja Nai Chotto Kindan na Gikyōdai Rabukome wa Misui Ecchi kara Hajimaru Volume 1 Chapter 1

Bab 1Bima Sakti Sepanjang 50 Sentimeter


 

"...Kalian ini, kenapa bisa sampai jadi kayak begini... tanpa perlu kubilang pun, kalian ngerti, kan? Hah? Dasar monyet-monyet sialan."

 

""............Iya......""

 

Ruang tengah keluarga Amakawa dipenuhi oleh atmosfer yang berat dan menekan, kebalikan dari udara awal musim gugur yang menyejukkan.

 

Dari jarak hanya 50 sentimeter di sebelahku, terdengar suara adik perempuanku, persis di saat yang sama meski kami tidak merencanakannya. ...Meski adikku biasanya cerewet, diintimidasi sampai seperti ini tentu tidak menyisakan pilihan baginya selain mengangguk. Aku sendiri sama sekali tidak berani menoleh ke samping...... syukurlah, yang terdengar bukan suara sengau karena habis menangis, dan hal itu menjadi satu-satunya elemen yang membuatku lega.

 

Di salah satu sudut meja untuk empat orang, seperti biasa Ibu yang mengenakan kimono────Mikoto Amakawa, memegangi keningnya sambil bersandar di kursi. Lalu, tepat di hadapan kami, Ayah alias Suguru Amakawa, duduk di kursi dengan setelan jas rapi dan kacamata hitam andalannya, mencondongkan tubuhnya jauh ke depan.

 

...Keringat dingin terus mengucur.

Memang pada dasarnya Ayah sudah menyeramkan... tapi alasan kenapa aku dijajarkan bersama adikku dan diceramahi seperti ini terlalu jelas, sehingga membuat keningku semakin basah.

 

...Aneh banget. Padahal hawanya tidak mungkin panas.

 

Harusnya malah terasa dingin. Harusnya sekujur tubuhku merinding dipenuhi bulu kuduk yang berdiri, kan.

 

Habisnya sekarang ini adalah malam akhir musim panas yang mulai mendingin menjelang bulan Oktober... baik aku, maupun Shiori.

 

Kami disuruh duduk seiza berdampingan di atas lantai kayu dengan keadaan telanjang bulat.

 

Rasa sakit di lutut maupun kesemutan di tulang kering, bahkan rasa malu karena mempertontonkan tubuh telanjang kepada orang lain meskipun dia keluarga sedarah.

 

Sulit dipercaya, hal-hal itu sama sekali tak punya andil sekecil apa pun terhadap keringat lengket yang terus menempel ini, atau detak jantungku yang berdebar cepat bak lonceng sampai terasa sakit.

 

"...Kalian ngerti kan, apa yang baru aja mau kalian perbuat? Kenji,

Shiori."

 

"......!"

Berbeda denganku yang mati-matian menyembunyikan kepanikan────Suara datar yang sudah berputar penuh dan malah berubah menjadi ketenangan. Suara yang tak mengizinkan satu gerakan kecil pun ini, pastilah sebuah wujud dari sesuatu yang sudah jauh melampaui rasa amarah.




Apa yang baru saja mau diperbuat, ya............aku tahu. Iya, tentu saja, aku sangat tahu...

 

Dosa besar sampai-sampai disuruh duduk telanjang bulat di depan mata orang tua.

 

Aku tidak sebodoh itu sampai tidak bisa menyadari hal tersebut.

 

Aku bersama adikku... bersama Shiori yang sudah menjadi adikku selama lebih dari 10 tahun... di kamarku... dan kami...────

──............berniat... untuk... melakukan... hubungan... seks.......

 

────Mari kuakui dari prasyaratnya dulu. Aku menyukai adikku... tepatnya Shiori yang merupakan adik tiriku. Tentu saja sebagai keluarga, tapi aku juga sangat menyukainya sebagai seorang lawan jenis.

 

Rambut indahnya yang seolah putih transparan, panjang, berkilau, dan biasanya diikat berlapis-lapis dengan banyak pita. Sepasang mata besar yang bulat, dan sudut bibir yang sangat cocok saat tersenyum. Tubuh mungilnya yang bisa kuangkat dengan mudah, meski sudah tumbuh lebih tinggi dibandingkan saat pertama kali kami bertemu dua belas tahun lalu.

 

Setiap gerak-geriknya terasa sangat lucu, padahal ucapan dan tindakannya selalu memiliki pendirian yang tegas, dan dia selalu tersenyum riang setiap saat.

 

Sejak saat dia menjadi adikku, aku sudah bersumpah untuk selalu melindunginya.

 

Namun entah sejak kapan, hal itu bukan lagi sekadar kewajiban, melainkan berubah menjadi hasrat untuk 'ingin melindungi'.

 

...Meski begitu, kami adalah kakak adik. Walaupun sebatas tiri, Shiori

pasti akan merasa terganggu kalau seorang kakak mengarahkan perasaan seperti ini kepadanya. Karena itu, aku berniat untuk memendam cinta bertepuk sebelah tangan ini di dalam dada seumur hidup.

 

Padahal begitu, saat aku pergi ke wastafel untuk menggosok gigi... aku malah melihat tubuh telanjang Shiori yang baru selesai mandi.

 

............Bagaikan orang bodoh, pertahananku runtuh dengan begitu mudahnya.

 

"Haa... kalian ini benar-benar──"

 

"Shiori."

 

Sambil tetap menundukkan wajah, aku mengeser kakiku sedikit demi sedikit di atas lantai kayu.

 

Aku menoleh ke arah Shiori yang berada tepat di sebelahku, sambil berusaha agar tidak melihat tubuh telanjangnya.

...Padahal aku sudah tahu. Kalau aku melihatnya, aku tidak akan bisa menahannya. Aku akan kehilangan kendali.

 

────Saat masih SD dulu, aku menyadarinya ketika sedang berendam di bak mandi. Bahwa dada Shiori mulai sedikit menonjol. ...Aku ingat betul bagaimana rasa panas, rasa sakit, serta rasa malu dan bersalah yang jauh lebih besar daripada itu, membuatku mati-matian merapatkan kaki. Menggunakan segala macam cara dan taktik, aku membujuk Shiori yang merengek, dan entah bagaimana sejak keesokan harinya, dia menyerah untuk mandi bersama lagi.

 

Kami sempat bertengkar hebat dan dia menangis tersedu-sedu............tapi, aku adalah Onii-chan.

 

Aku tidak boleh melihat adikku dengan tatapan seperti itu. Dan membuat adikku... ketakutan, adalah hal yang mutlak tidak boleh dilakukan.

 

Sejak saat itu, selama hampir 10 tahun, aku selalu memastikan apakah

Shiori sedang tidak berada di kamar mandi atau wastafel sebelum aku masuk. Aku benar-benar menaruh perhatian luar biasa agar tidak melihat kulit Shiori.

 

Namun, aku kelelahan karena persiapan festival budaya akhir bulan depan, hingga tidak sengaja melalaikan pemeriksaan itu────tidak, ini cuma alasan. Aku... kalah oleh nafsu berahi seperti binatang. Sebagai Onii-chan... aku gagal.

 

"Eh? ...Onii, chan...?"

 

"...Maaf. Benar-benar maaf, aku sudah melakukan hal yang keterlaluan."

 

"..."

 

Terdengar suara helaan napas yang tertahan.

 

...Wajar saja, kan. Meminta maaf adalah tindakan yang egois. Setelah kalah oleh nafsu sendiri dan menodai harga diri seorang anak perempuan──

 

"...Walaupun sebatas tiri, kita ini kakak adik────Padahal aku ini Onii-chan, harusnya aku bisa menahan diri! ...Aku sedang khilaf, sampai membuatmu mengalami hal seburuk ini──"

 

"Onii-chan."

 

Tiba-tiba.

 

Sebuah bayangan yang disinari oleh lampu LED tampak menyelimuti diriku dengan luas────di saat aku menyadari hal itu.

 

"Kenapa!! Kenapa kamu harus minta maaf, sih!? ...Onii-chan bodoh!!"

 

Ya, Shiori berteriak seperti itu.

 

Dia memukul bagian belakang kepalaku dengan sekuat tenaga────dan di dalam tengkorak kepalaku, aku bisa merasakan dengan jelas otakku berguncang akibat terjepit di antara rasa sakit pada kening dan bagian yang dipukul tadi.

 

 

Orang sering bilang 'cinta pertama tidak akan terwujud'────tapi hal semacam itu bohong belaka.

 

Mari kupertegas. Aku ini payah dalam urusan percintaan. Badanku pendek, wajahku kekanak-kanakan, dan suaraku cempreng bising saja.

 

Dadaku juga kecil... maksudku, rata.

 

Aku tahu kalau diriku sendiri memang tidak berbakat dalam percintaan.

 

Sebaliknya, Onii-chan────Kenji Amakawa yang sangat kucintai, adalah sosok yang berbeda.

 

Bentuk wajahnya tampan dan proporsional, dan setiap kali dia mengarahkan senyumannya kepadaku, jantungku selalu berdebar kencang.

 

Dia lembut dan pandai perhatian, benar-benar seperti pangeran di dalam buku cerita.

Dia juga tipe orang yang sempurna dalam akademis maupun olahraga, dan caranya mengajari pelajaran jauh lebih pintar daripada guru mana pun.

 

Dia diandalkan oleh semua orang... bahkan di OSIS yang diikutinya sejak tahun lalu pun, hal itu tidak berubah. Dia bekerja dengan lembut, penuh perhatian, serta memanfaatkan otak dan tubuhnya... Meskipun mereka adalah teman masa kecil yang sudah saling memahami, terkadang aku merasa sedikit, ya cuma sedikit sekali, cemburu kepada

Kak Rio yang hanya mengajak Onii-chan masuk OSIS, karena dia bekerja sekeras itu.

 

............Sementara aku, aku ini pemarah, kekanak-kanakan, dan bahkan tidak punya keahlian yang bisa kubanggakan dengan dada rataku ini...

 

Benar-benar seperti versi terbalik dari 'Beauty and the Beast'.

 

Sejak hari itu, saat kami pertama kali bertemu di usiaku yang empat tahun sepuluh bulan.

 

Bukan sebagai kakak, melainkan sebagai lawan jenis, aku sangat mencintai Onii-chan.

 

Dengan keadaanku yang berantakan seperti ini, mana mungkin dia bisa menyukaiku... Berpikir begitu, aku sempat setengah menyerah.

 

────Makanya, tadi saat aku sedang mengeringkan rambut di wastafel.

Dengan wajah lelah yang tidak biasa dan tubuh membungkuk, Onii-chan masuk............dan aku berpikir kalau ini adalah kesempatan. Aku berpikir tidak ada waktu lain selain sekarang. Karena biasanya kalau aku sedang mandi, dia tidak akan sudi datang ke wastafel. ────Lagipula.

 

Melihat tubuh telanjangku yang tidak banyak berubah sejak zaman SD dulu.

 

Wajahnya langsung memerah padam────hal itu menjadi bahan bakar yang meluap agar aku segera berlari dan tidak melepaskan punggungnya yang hendak berbalik pergi. Rasanya sangat memalukan sampai membuat jantungku serasa mau meledak, tapi, daripada terbunuh oleh detak jantung, aku lebih takut kalau harus menanggung penyesalan.

 

Pengakuan cintaku yang membabi buta tadi bahkan membuatku samar-samar mengingat apa saja yang sudah kuucapkan.

 

Tapi... aku berhasil membuatnya menoleh. Dia mengangguk, dan aku bahkan bisa mendapatkan bibirnya di tempat itu juga. Karena aku bersin, aku merengek kalau selembar handuk saja tidak cukup, dia pun panik sambil menggelengkan kepala... tapi, tapi............pada akhirnya, dia menarik tanganku dengan erat.

 

Dia membawaku sampai ke kamar Onii-chan. Di sana, dia menciumku berkali-kali, berulang kali, lalu menyentuhku dengan lembut dan halus────Ah, ahaaa!

 

Betapa bahagianya aku! Saking bahagianya, aku sampai tidak bisa menahan suaraku!

 

Bahwa cinta pertamaku benar-benar telah terwujud! Rasa sorak-sorai meluap dari dalam diriku!

 

............Padahal begitu──

 

"Kenapa!! Kenapa kamu harus minta maaf, sih!? ...Onii-chan bodoh!!"

 

Melihat Onii-chan yang sengaja memalingkan wajah ke bawah sambil berbalik dan bersujud meminta maaf.

 

Secara refleks, aku langsung memukulnya dengan mengayunkan kepalan tanganku ke bawah.

 

Meskipun aku tahu betul kalau nanti aku akan menyesalinya, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak memukulnya.

 

"──Duh, ini kan sakit tahu, Shio-────────!!"

 

"Kenapa kamu malah nutup mata, sih!! Buka!! Buka mata kamu dan

lihat aku!! Singkirin tangan kamu ini, Onii-chan bodoh!!"

 

Padahal dia sudah mendongak setelah terpental seperti bola bekel.

 

Tindakannya yang spontan menutupi matanya itu juga membuatku kesal, jadi aku mencengkeram lengannya yang kokoh. Ugh... ah, kuat banget sih orang ini!! Padahal kalau pakai tenaga ototnya itu, dia bisa saja mendorongku ke kasur dengan kuat dan lanjut sampai akhir, dan aku sama sekali tidak keberatan kok!!

 

"Apa-apaan, sih!! Segitu gak maunya ya kamu lihat tubuhku!? Memangnya dada rata yang menyedihkan, kuntet, dan kayak anak kecil ini masih belum cukup buat kamu!? Kamu lebih suka yang dadanya besar kayak Kak Rio, ya!?"

 

"B-Bukan, bukan begitu masalahnya...!! Pokoknya lepasin dulu tanganmu, Shiori!!"

 

"Itu jatah kata-kataku tahu, Onii-chan!! Rasain nih... rasain! Rasain! Rasain!!"

 

Mau seberapa besar pun tenaga yang kukeluarkan, lengan Onii-chan sama sekali tidak bergerak. Aku bisa merasakan tekadnya yang

sangat-sangat kuat untuk sama sekali tidak melihat ketelanjanganku.

 

Menyebalkan. Saking menyebalkannya, rasanya aku ingin menendangnya sekarang juga.

 

Saat aku melirik sedikit ke bagian bawah tubuhnya... barang yang harusnya masuk ke dalam diriku malah disembunyikan dengan rapi di antara kedua kakinya!

 

Aku tahu kalau dia itu titisan dewa perhatian, tapi kekerasan prinsip kesuciannya apa setara dengan patung batu raksasa!!

"──Lagian!! Apa-apaan sih kata 'khilaf' itu!! Waktu Onii-chan datang ke wastafel, yang nahan dan memeluk erat sambil merengek minta di-S-I-T-U kan aku sendiri tahu!! Lagipula waktu itu Onii-chan sempat nolak sekali, kan!! Tetap saja yang merayu dengan paksa dan memaksakan kehendak itu kan aku, iya kan!? Gak ada satu pun kesalahan Onii-chan, gak ada satu pun hal yang perlu kamu mintai maaf!! ──Atau jangan-jangan, apa!?"

 

────Seperti derau badai di televisi, sebuah pikiran buruk melintas dengan menimbulkan suara di kepalaku.

 

Demi mengusir suara berisik yang mengganggu itu, aku mengeraskan suaraku dengan lebih kuat lagi.

 

"Kenyataan bahwa kamu minta maaf... berarti perkataanmu kalau kamu

'suka sama Shiori', dan semua hal yang kamu lakuin tadi, semuanya, semuanya, semuanya, semuanya!! Itu bohong, ya!? Cuma sekadar perhatian yang kayak biasanya!? Kamu cuma kasihan melihat aku yang memohon-mohon, lalu kamu cuma berbuat lembut kepadaku──"

 

"Gak mungkin kayak begitu, kan!!"

 

Grep.

 

Onii-chan menyingkirkan lengan yang menutupi matanya bersamaan dengan tanganku, lalu dia menatap lurus ke mataku dan berbicara. Dia berteriak.

 

Dengan wajah ketat seperti orang marah... dia membentakku.

 

"Itu bukan kebohongan! Aku benar-benar serius melihatmu sebagai seorang wanita! Aku suka sama Shiori. Aku sayang banget sama kamu!

Kalau saja kita bukan kakak adik tiri, aku sudah lama ingin menikahimu, aku selalu berpikir begitu! Ini bukan sekadar bualan untuk menenangkanmu sesaat! Ini sungguhan!! Aku suka sama kamu, Shiori!!"

 

"...Kalau gitu, kenapa... kenapa kamu malah minta maaf segala────heya?"

 

Tiba-tiba, sebuah lengan menjulur────tubuhku ditarik dengan erat seperti magnet.

 

...Aku didekap... ujung jari, lengan, bagian dada, semuanya, benar-benar semuanya.

 

Tubuh Onii-chan... padahal kekar dan keras, tapi rasanya sangat hangat. Jantungku berdebar kencang.

 

...Ah. Dada... melewati bidang dadanya yang tebal, aku bisa merasakan detak nadinya yang berdegup kencang. ............Rasanya bodoh sekali karena sempat merasa cemas sesaat. Orang yang taat norma seperti

Onii-chan, orang yang waras... biasanya tidak mungkin bisa terangsang oleh perempuan kuntet seperti aku, kan.

 

Makanya... Onii-chan juga benar-benar.

 

Terhadap aku............dia menyukaiku... aku senang sekali...!

 

"...Onii, chan..."

 

"Maaf, ya... aku sudah membuatmu cemas. Lagipula... di musim seperti ini, kamu telanjang bulat... pasti dingin, kan? Bahumu sampai sebutir ini kedinginan............ Hal yang mengundang situasi seperti sekarang ini adalah karena aku sebagai kakak tidak bisa menginjak rem. Karena hal itu, sekarang Shiori sampai harus menanggung rasa malu... membuat kulitmu terekspos, membuatmu menerima hukuman, sampai membiarkanmu mengalami hal seperti ini. Aku merasa sangat bersalah akan hal itu. ...Kalau aku membuatmu cemas, aku minta maaf sekali lagi. Ma──"

 

"G-Gak apa-apa kok... semua perasaanmu sudah tersampaikan dengan jelas..."

 

Ah, astaga, benar-benar deh!! ──Aku suka, suka, suka, sayang banget sama kamu!!

 

Bahkan di saat seperti ini pun, kamu masih memikirkan aku yang merupakan dalang dari rayuan ini... padahal kamu sendiri juga sedang berada di tengah-tengah diceramahi. ...Kekuatan dekapannya semakin mengerat. Sedikit sesak, sih... tapi rasa sesak napas ini, tekanan di bahu, kekuatan jari yang merengkuhku, bahkan rasa perih dari kuku yang

menusuk pun semuanya, semuanya, semuanya.

 

Terasa begitu penuh kasih, panas, meleleh... dan lidahku yang penuh hasrat, mulai basah kembali──

 

"...Maaf ya kalau mengganggu momen mesra kalian, tapi bisa kita sudahi sekarang? Shiori, Kenji-san."

 

────Plak...! Sebuah suara yang tajam menggema di ruang tengah.

 

Suara itu sudah sangat familier, dan justru karena itulah suara itu sudah lebih dari cukup untuk menarik kesadaran kami kembali ke realitas... suara kipas lipat milik Ibu yang dibuka dengan sentakan.

 

"──I-Ibu──" "──Ibu──"

 

"...Bukannya Ibu mau bilang kalau hal ini boleh dilakukan. Tapi ya, Ibu rasa Suguru-san juga punya andil kesalahan karena tidak segera masuk ke inti masalah sejak tadi."

 

Ibu berbicara dengan nada setengah mendesah kepada aku dan Onii-chan yang terburu-buru berbalik menghadapnya.

 

Dan sebuah helaan napas yang luar biasa besar seolah menghapus ucapan Ibu tersebut.

 

...kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Ayah yang duduk tepat di hadapan kami.

 

"...Kek kata Mikoto-san, ya. Pokoknya kalian berdua, dengerin baik-baik omongan Ayah."

 

Begitu dikatakan... tanpa tahu siapa yang memulai duluan, kami

melepaskan dekapan dan membetulkan posisi kembali ke duduk seiza.

 

...Ayah itu dulunya anggota garis depan yakuza. Katanya dia keluar saat

menikah dengan ibu kandungku, tapi sifatnya yang selalu cepat, tegas, dan blak-blakan itu memang mencerminkan kapten pasukan garis depan banget.

 

Karena Ayah yang seperti itu menunjukkan sikap yang tidak biasanya plin-plan,

 

aku jadi sedikit... penasaran. Sampai-sampai rela melepaskan kehangatan tubuh adik perempuanku yang paling kucintai.

 

"E-itu... Ayah──"

 

"Kenji, Shiori. ...Ayah sama Ibu gak bermaksud menyalahkan fakta kalau kalian saling mencintai atau pengen jadi suami istri, kok."

 

"............?!"

 

Eh... be-benarkah begitu...?

 

Enggak, habisnya, karena aku sudah lancang menyentuh adikku, aku pikir aku bakal dimarahi habis-habisan karena tidak punya harga diri sebagai laki-laki... ya tentu saja, tindakan asusila itu sendiri pastinya dilarang, tapi... tapi!

 

"...B-Boleh, nih...? T-Tapi, walaupun sebatas tiri, kita ini kakak adik, kan?! Padahal begitu──"

 

"Kakak adik kan cuma tiri. Gak ada hubungan darah juga. Kalau kalian bilang saling suka, Ayah gak bakal nentang, dan kalau di masa depan kalian berniat menikah, Ayah juga bakal siapin persiapan yang sepantasnya."

 

"............!!"

 

Seandainya sedang memakai baju, aku pasti sudah mengangkat kedua tangan sambil berteriak kegirangan dan melompat berdiri. Aku pasti sudah menggenggam erat tangan Shiori di sebelahku untuk membagikan rasa berdebar yang bergejolak di dalam dada ini.

 

Aku pikir tidak boleh. Aku pikir tidak akan dimaafkan.

 

Mau seberapa suka pun, karena kami kakak adik────tapi ternyata, boleh. Boleh. Boleh banget!

 

Aku boleh menyukai Shiori! Hal ini dimaafkan!!

 

"K-Kalau gitu, ber-berarti──"

 

"Tapi, Ayah gak izinin kalian buat begituan. Inti ceramahnya tuh di situ, dasar monyet-monyet bloon."

 

Skakmat.

 

Suara Ayah yang berat dan penuh tekanan bergema, seolah menenggelamkan kembali hatiku yang sempat melayang.

 

"Suguru-san. Bahasanya."

 

"Ugh............ Kasih tahu ya, Ayah ngomong begini bukan karena mau jahat. Tertarik sama hubungan seksual itu hal yang wajar buat anak seusia kalian. Pengen memeluk orang yang disukai, pengen dipeluk sama orang itu. Ayah gak bakal menyangkal hasrat itu."

 

"............"

 

Begitu mendengar hal itu langsung dari mulut Ayah,

 

...aku jadi teringat lagi. Shiori-ku yang sangat lucu di kamarku kemarin, saat dia memamerkan tubuh telanjangnya tanpa pertahanan, mendesah manja setiap kali ujung jari atau bibirku menyentuhnya... dan merengek meminta lebih, lebih lagi.

 

Ugh............ Gak boleh, gak boleh, jangan diingat-ingat lagi, jangan sampai bereaksi.

 

Bisa-bisa aku dibentak lebih parah lagi karena memikirkan hal mesum di tengah ceramah Ayah...!

 

"...Ayah gak menyangkal kalau hubungan seksual itu rasanya enak banget, dan itu salah satu bentuk komunikasi terbaik dengan orang yang kita dambakan. Ayah gak ada di posisi buat bisa menyangkal hal itu.

────Tapi, bocah kayak kalian itu gampang banget melupakan arti dan peran asli dari seks."

 

"...Arti asli...?"

 

"Ya jelas buat bikin anaklah, bodoh."

 

────Ketegangan mendadak menyengat seketika, membuat punggungku menegak lurus.

 

Bukan dengan nada bicara yang kuat. Sifatnya malah seperti menasihati, menjelaskan secara perlahan dan mendalam. Namun... daripada sekadar dibentak-bentak, kata-kata itu justru terasa jauh lebih berat membebani otakku.

 

Ugh... bi-bikin... anak.

 

Benar, juga... hal seperti itu sudah dipelajari di pelajaran olahraga dan kesehatan sejak SMP. Tapi hal itu benar-benar luput dari kepalaku────Begitu aku menyadarinya, seketika rasa merinding menjalar ke sekujur punggungku.

"Kalau laki-laki dan perempuan bersanggama, ya bakal jadi anak. Itu kebenaran yang gak berubah sejak zaman mitologi, kan. ...Jujur ya, kalau kalian berdua sudah bekerja dan jadi orang dewasa, Ayah gak bakal protes. Malah sambil bercanda mungkin Ayah sudah siapin rumah baru buat kalian. ────Tapi kalian itu masih berstatus pelajar. Dua bocah anak SMA belum mandiri yang belum legal, gak punya penghasilan, tapi setelah saling menuntut malah dianugerahi anak, kalau jadi kayak begitu mau bagaimana? Mau numpang hidup total sama orang tua? ...Apa kalian pernah membayangkan bagaimana perasaan anak itu sendiri kalau dibesarkan dengan keadaan berantakan begitu? Hah?"

 

"......"

 

Argumen yang sangat tepat, sampai aku tidak bisa berkutik sedikit pun.

 

...Begitu tahu kalau Shiori yang sejak dulu sangat kucintai ternyata juga menyukaiku, aku langsung melayang tinggi. Aku benar-benar sudah telanjur kegirangan. Menumpuk tubuh menuruti nafsu... tanpa memikirkan kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi di depan sana sedikit pun.

 

...Ternyata, aku memang gagal sebagai Onii-chan. Harusnya aku menghentikannya dengan benar. Harusnya aku menahan diri.

 

Sangat wajar kalau Ayah dan Ibu memarahi kami seperti ini.

 

"...Tapi,"

Di sebelahku, terdengar suara yang gemetar halus.

 

...Entah kenapa aku tahu apa yang ingin dia ucapkan.

 

Anak perempuan yang sudah sejak lama menyukai orang seperti aku ini... pasti tahu, kan. Hal seperti ini. Bahkan mungkin, dia sudah menyiapkan mental dan persiapannya────tapi tetap saja──

 

"Tunggu dulu dong, Ayah! Aku──"

 

"Gak boleh, Shiori."

 

Aku mengacungkan tangan perlahan, menghentikan Shiori yang angkat

bicara tepat di sebelahku.

 

Wajahnya memang tidak kelihatan, tapi aku bisa merasakan dengan jelas pandangan tajamnya yang seperti mau menangis itu menusuk-nusuk pinggangku.

 

"Kenapa sih, Onii-chan! Onii-chan... jangan-jangan, sama aku sudah gak──"

 

"Bukan begitu. Apa yang dibilang Ayah itu cuma hal yang benar. ...Kalau boleh jujur, aku juga pengen banget, pengen bangeeet melakuinnya... tapi dengan keadaan kita yang sekarang, kita gak bakal bisa tanggung jawab kalau sampai dititipkan kehidupan baru. ...Aku gak mau jadi orang tua yang sejak awal gak punya harga diri kayak begitu."

 

"............"

 

"Tapi............ entah bagaimana, aku bersyukur kejadian kali ini sampai terjadi. Soalnya, kita jadi bisa saling tahu perasaan masing-masing, kan? Shiori."

 

Kembali menoleh ke samping, aku tersenyum lebar.

 

Mungkin Ayah bakal geleng-geleng kepala melihatku... tapi aku benar-benar bahagia. Sungguhan. Mengetahui kalau cinta bertepuk sebelah tangan ini, perasaan cinta yang aku pikir tidak boleh terwujud ini, ternyata boleh diakui oleh Shiori maupun oleh siapa pun.

 

Karena itu────sambil mati-matian menahan sudut bibirku agar tidak terangkat karena tidak mau dikira sedang terpesona melihat ketelanjangannya, aku mengusap kepala Shiori.

 

Rambut putihnya yang lembut bak benang sutra justru terasa seperti sedang meraba tanganku dengan begitu rakus.

 

Rasanya geli, membuatku malah semakin ingin tersenyum.

 

"Meskipun jadinya kayak begini... tapi sekali lagi. Aku suka sama kamu, Shiori. Sayang banget. ...Aku pengen kamu pacaran sama aku dengan tujuan untuk menikah. Aku pasti... bakal bikin kamu bahagia. Janji. ...Ya, walaupun buat urusan yang bercinta itu harus ditahan dulu untuk sementara waktu, sih."

Demi menenangkan dirinya yang masih menunduk, tanganku yang mengusap terus mengalir hingga ke arah pipinya.

 

...Bahkan hanya dengan sentuhan seperti ini pun... menahan rasa sakit yang melonjak di bagian bawah benar-benar menjadi hal yang sangat menyiksaku.

 

 

"...Ya, walaupun buat urusan yang mantap-mantap harus ditahan dulu untuk sementara waktu, sih."

 

────────Rasanya aku ingin memukulnya sekarang juga.

 

Rasanya aku ingin mengamuk, menangis histeris, memeluknya sambil memukulnya bertubi-tubi, lalu berteriak histeris seperti orang gila────aku berpikir begitu. Berpikir begitu. Berpikir, berpikir, berpikir, dan terus berpikir begitu.

 

...Tapi aku berusaha sekuat tenaga menahan semua hal itu.

 

'Aku suka sama kamu'? Aku sudah tahu. Aku juga sayang banget sama kamu. 'Aku pengen kamu pacaran sama aku dengan tujuan untuk menikah'? Ya pastilah. Itu kan hal yang selalu kuimpikan sejak dulu.

 

'Bakal bikin kamu bahagia'? Jangan bicara yang aneh-aneh deh. Asalkan bisa bersama Onii-chan, aku pasti akan selalu bahagia.

 

Daripada pengakuan cinta yang sudah sangat jelas seperti itu, dia tidak tahu seberapa besar tangan yang mengusap lembut rambutku dan jari yang memainkan pipiku ini membuat jantungku terasa sakit. Terdengar suara perut bagian bawahku yang bergejolak, dan rasa manis dari embusan napas ini membuat diriku sendiri serasa mau muntah.

 

Onii-chan pasti tidak akan membuka kedua paha yang dirapatkannya itu.

 

Tapi aku juga sama saja────aku benar-benar tidak mau kalau sampai aroma hangat (cairan) ini disadari olehnya.

 

Padahal baru disentuh begini saja sudah begini............tapi 'urusan yang mantap-mantap harus ditahan dulu'?

 

Gak mau. Aku benar-benar menentang keras dan mutlak gak mau. Aku ingin seluruh tubuhku, bahkan sampai ke bagian dalam, disentuh oleh Onii-chan tanpa terkecuali sekarang juga────makanya, makanya!

 

Makanya... biarpun aku ingin mengamuk dan menangis histeris, aku harus menahannya.

 

Habisnya... kalau aku bersikap seperti anak kecil begitu, orang ini bakal kembali menjadi 'kakak'. Padahal sudah susah payah bisa jadi pacar, tapi aku malah tetap dianggap sebagai adik perempuan yang harus dilindungi, dan Onii-chan yang bertindak sebagai kakak tidak akan mau mendekapku. Tidak akan mau menyerangku. Tidak akan mau melihatku sebagai objek yang seperti itu.

Padahal tidak bisa menahan diri, tapi aku harus menahannya.

Ini sebuah kontradiksi. Dua hal yang saling bertentangan. Jantungku yang terjepit di antara keduanya terasa sesak dan sangat sakit.

 

"............U-um..."

 

Mati-matian menekan hasrat, entah bagaimana aku berhasil

mengangguk kecil. Ini adalah pencapaian luar biasa. Aku ingin memuji kekuatan menahan diri dan kemampuan aktingku ini, lalu mendirikan sebuah patung perunggu untuk merayakannya.

 

...Apa yang dikatakan Ayah memang ada benarnya juga────tapi.

 

Aku juga tidak sebodoh itu. Demi mencegah situasi seperti itu terjadi, aku sudah menyiapkan rencana yang matang.

 

"............"

 

────Tapi, itu bukan sekarang. Nanti saja kubilang. Bakal kubongkar.

Begitu waktu kembali ke kamar nanti, aku akan memberi tahu Onii-chan yang kamarnya bersebelahan tentang adanya tindakan pencegahan ini.

 

...Fufu, aku tahu kok. Bagaimanapun juga, Onii-chan itu tergolong cukup manja kepadaku. Buktinya hari ini, aku sudah punya rekam jejak berhasil meruntuhkan pertahanannya sekali. Tubuhku yang terasa panas sampai menyiksa ini pasti bisa menjadi bahan baku terbaik untuk memicu nafsu berahi Onii-chan!

Bakal kulakukan. Pasti bakal kulakukan. Bakal kuminta dia melakukannya! Gak peduli seberapa marahnya dia nanti!

 

Malam ini! Aku! Bersama Onii-chan! Bakal melangsungkan! Urusan mantap-mantap pertama yang kami dambakan────

 

"Fufufu. Kenji-san, pilihan yang sangat bijak ya. Soalnya yang namanya

KB itu gak ada yang mutlak seratus persen, kan."

 

────Otakku yang tadinya memanas bagai mendidih.

 

Seketika langsung membeku oleh suara yang............bergema renyah bagai suara lonceng itu.

 

"I... Ibu...?"

 

"Mau pakai kondom ataupun sudah memastikan siklus menstruasi, kalau emang masanya jadi ya bakal tetap jadi, kan. Mau seberapa banyak pun surat dispensasi yang kalian siapkan, pada akhirnya gak ada hal yang lebih efektif daripada kata 'ditahan dulu', ya.

Kenji-san────Shiori────kalian berdua harus bener-bener paham, ya?"

 

IBUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUU

UUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUU!!!!!!!!!

 

Ke-kenapa, kok bisa... jangan-jangan, jangan-jangan sudah ketahuan?!

Kenapa bisa menebak dengan begitu tepat sih, apa Ibu itu punya indra keenam atau gimana?!

 

"Aku paham kok, Ibu. Iya, kan? Shiori."

 

"......U-um...!"

 

Perasaan kesal yang bergejolak di dalam dada terpaksa kutahan dengan mengatupkan gerahamku kuat-kuat. Menahan diri.

 

Ah, di balik tanganmu yang sedang mengusap pipiku ini, kamu gak tahu kan seberapa besar perasaan yang sedang kukoyak-koyak. ...Aku ingin... kamu memahaminya............tapi biarpun paham, orang ini pasti akan tetap memilih jalan yang lurus. Habisnya dia dibesarkan dengan cara seperti itu sih... aku juga begitu, sih.

 

Begitu sekali memutuskan, Onii-chan pasti bakal benar-benar menahan dirinya.

 

────Tapi, kalau soal itu, aku juga sama saja.

 

"Aku paham, kok. ...Onii, chan............!"

 

Aku sudah memutuskannya. Habisnya sudah terwujud, kan. Kalau begitu... wajar saja kan kalau hasratku jadi meluap-luap.

 

Mata Ibu, ditambah telinga tajam Ayah... yang menjadi musuh terbesar bagiku adalah kenyataan bahwa pacarku ini adalah Onii-chan, benar-benar, beeenar-benar tidak habis pikir. Tapi, tapi!

 

Mana mau aku mengakhirinya sampai di sini saja. Menuntaskan rasa

berdebar ini sendirian sekarang benar-benar sama sekali tidak memuaskan!

 

Untuk saat ini barulah sebatas pipi dengan tangan ini.

 

Namun tekad (hasrat) untuk meminta disentuh lebih banyak lagi, terus membengkak tanpa batas setiap kali kepala dan pipiku diusap olehnya.



Prolog | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close