NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kindan de Kindan ja Nai Chotto Kindan na Gikyōdai Rabukome wa Misui Ecchi kara Hajimaru Volume 1 Prolog

Prolog Hari Jatuhnya Raksasa di Masa Kecil

 

"Maaf mendadak... tapi mulai sekarang, mereka adalah keluarga baru kita. ...Ayo beri salam, Kenji."

 

Saat itu musim panas yang bising oleh suara jangkrik, tak lama setelah aku merayakan ulang tahunku yang kelima.

 

Aku digiring ke bawah bayangan pohon agar terhindar dari teriknya sinar matahari yang menyengat. Di sanalah Ayah mengenalkan dua orang 'keluarga' baru kepadaku.

 

Seorang wanita yang tersenyum lembut mengenakan kimono merah muda, dan satu orang lagi.

 

Anak perempuan, masih kecil.

 

...Beberapa bulan yang lalu, kami baru saja kehilangan Ibu. Saat ingatan itu masih segar, aku sama sekali tidak punya waktu atau kesempatan untuk merasa kesal kepada Ayah karena memilih untuk menikah lagi, atau malah curiga kalau dia hanya mencemaskanku────aku tidak sempat memikirkan hal semacam itu.

 

Habisnya, anak perempuan yang bersembunyi di belakang sambil mencengkeram erat kaki wanita berkimono... Ibu baruku itu.

Bahkan di mata aku yang masih kecil pun, dia terlihat jelas sekali sedang ketakutan.

 

"...Salam kenal ya, Kenji-kun. Nama saya────hm?"

 

"? Kenji? Hei?"

 

Cara Ibu baru mengenalkan namanya (dengan dialek daerah) terdengar seperti bahasa planet lain bagi aku yang saat itu masih kecil.

 

Bukan berarti aku membencinya. Bukan juga karena aku ingin menjauh.

 

Ada hal yang jauh, jauh lebih penting daripada itu.

 

"..."

 

Melihat anak perempuan yang sangat kecil itu semakin gemetar ketakutan hanya karena aku mendekat.

 

Aku pun menekuk lutut, merendahkan posisiku, lalu bertanya.

 

"Hei. Kamu umur berapa? Lahir bulan apa?"

 

"...? ...."

 

Anak perempuan itu menggoyang-goyangkan rambut panjangnya yang berwarna krem dengan bingung, lalu menengadah menatap ibunya.

────Saat itu, aku tidak tahu nama, usia, ataupun hal lain tentang dirinya.

 

Namun, satu-satunya informasi awal... fakta bahwa mulai hari ini anak ini adalah keluargaku, menjadi satu-satunya hal yang menggerakkanku.

 

"............Empat, tahun...... Lahir bulan, sepuluh......"

 

"Oh, begitu. ────Kalo gitu, aku yang udah lima tahun berarti Onii-chan kamu, kan!"

 

Ayah dan mendiang Ibu selalu menanamkan hal ini kepadaku. Bahwa kasih sayang keluarga adalah hal yang penting.

 

Sebagai anak balita yang tergolong penurut, aku tersenyum sekuat tenaga dan mematuhi ajaran itu.

 

"Onii-chan tahu, kalau adik laki-laki atau adik perempuan lagi kesusahan, Onii-chan harus bantuin mereka. ...Kamu lagi kesusahan, kan? Kalo gitu, kamu boleh bersandar sama aku! Soalnya, kamu kan adik perempuan aku!"

 

Aku mengeraskan suara, merentangkan tangan, dan membusungkan dada dengan bangga────layaknya seorang kakak.

 

Aku merasa harus bersikap seperti itu. Bukan sekadar mempraktikkan apa yang diajarkan, tapi akulah yang berpikir bahwa aku memang harus melakukannya.

"................?"

 

Anak perempuan ini menatapku dengan mata yang sedikit berkaca-kaca dan wajah melongo... seolah-olah dia sama sekali tidak paham arti perkataanku.

 

Keluarga baru────adik perempuan baruku.

 

Sebagai Onii-chan, aku harus melindunginya────saat itu, aku bersumpah dengan sangat kuat di dalam hati.

 

 

Aku ingat betul kalau momen saat aku kabur bersama Ibu adalah di puncak musim panas yang sangat terik.

 

Di saat yang sama, pertemuan aku dengannya juga masih teringat jelas.

 

Kalau bisa, aku ingin menyalin ingatan itu, membakarnya ke Blu-ray,

lalu memutarnya sebagai film agar semua orang bisa menontonnya.

 

...Kalau boleh jujur, awalnya, ya cuma di awal saja sih, aku merasa sedikit, cuma sedikit sekali, agak takut.

 

Meskipun usia kami sama, tapi pertumbuhanku buruk dan badanku kecil.

 

Bagi aku yang saat itu, sosok Onii-chan yang bertubuh lebih besar dariku tidak lebih dari objek yang menakutkan.

 

Kalau menentang laki-laki yang bertubuh tinggi, aku tidak tahu apa yang akan diperbuatnya kepadaku────karena itulah, orang berkacamata hitam yang katanya 'Ayah' itu terasa menakutkan, dan bahkan kepada Onii-chan yang saat itu jauh lebih kecil daripada aku yang sekarang pun, aku dengan menyedihkannya merasa ketakutan.

 

Bahkan saat ditanya soal umur, aku sempat curiga kalau itu akan dijadikan alasan untuk merundungku............meski memalukan untuk diakui, aku sempat mencurigainya────padahal tidak mungkin dia melakukan hal seperti itu.

 

...Makanya.

 

──"────Kalo gitu, aku yang udah lima tahun berarti Onii-chan kamu, kan!"

 

──"...Kamu lagi kesusahan, kan? Kalo gitu, kamu boleh bersandar sama aku!"

 

──"Soalnya, kamu kan adik perempuan aku!"

 

Mendengar perkataan dia yang berbicara sambil membusungkan dada seperti itu, aku selalu terkejut... dan kurasa, aku juga tidak terlalu paham maknanya. Kata-katanya tersangkut di filter otakku, sehingga tidak bisa langsung terhubung dengan pemahaman.

"................?"

 

Tapi, saat aku menatapnya dengan bengong────tiba-tiba, aku menyadarinya.

 

...Dia gemetar. Onii-chan, meski sedikit, tapi dia pasti sedang gemetar.

 

Kalau dipikirkan sekarang sih wajar saja. Tiba-tiba diberi tahu kalau punya keluarga baru, lalu dipertemukan dengan kami yang sama sekali tidak dikenalnya, mana mungkin dia tidak merasa cemas. Terlebih lagi dia hanyalah bocah berusia lima tahun saat itu... pasti ada rasa canggung dengan orang asing, tapi dia berusaha mati-matian menahannya.

 

Demi berakting menjadi kakak yang bisa diandalkan, dia menyembunyikan getaran tubuhnya.

 

"......"

 

"Ah, i-iya ya, bener juga. Aku belum sebutin nama ya, maaf. Nama aku Kenji. Amakawa Kenji. Nama kamu siapa? Adik manis."

 

...Aku melihat keringat yang berbeda dari sekadar karena hawa panas.

 

Lesung pipi di senyumannya tampak tegang.

 

Aku tahu. Aku bisa merasakannya. Orang ini juga merasa cemas. Dia

juga takut. ...Sama seperti aku.

Padahal begitu... hanya karena merasa dirinya adalah seorang kakak, dia berusaha mati-matian menerima aku... adik tiri yang sama sekali belum dikenalnya. Tanpa menghilangkan senyuman di wajahnya, dia terus merentangkan tangan, bersiap untuk merengkuhku.

 

............Ah-ah, aku payah banget sih...... di bagian inilah aku selalu berpikir begitu.

 

"────Uaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahh!!"

 

Laki-laki itu menakutkan. Aku sudah dipaksa mempelajari dan menanamkan hal itu sampai muak. Aku selalu ketakutan, gemetar, dan setiap saat hanya bisa mendekap Ibu dengan napas yang memburu.

 

Selama empat tahun sepuluh bulan yang seperti itu. Di sepanjang hidupku, ini adalah pertama kalinya aku disentuh oleh laki-laki yang begitu lembut────hingga akhirnya, aku menangis. Keburukan perasaanku saat itu membuatku tidak tahu kalau tangisan pertama dalam hidupku itu disebut dengan 'rasa lega'...... Aku tidak tahu bagaimana cara mengatasi emosi yang tidak kukenal ini.

 

Padahal tidak menakutkan, tapi aku tidak paham situasinya, jadi aku merasa takut.

 

"Eh, d-kamu gak apa-apa? ...G-Gak apa-apa kok! Gak usah takut, gak usah takut ya. Cup cup."

 

"Uwaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaann!! Hiks, egh, uwaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahh!!"

 

Aku tahu kalau ini tidak menakutkan, dan aku tahu kalau semua akan baik-baik saja. Semuanya, karena kamulah yang mengajarkannya kepadaku.

 

Sebuah neraka dunia yang menyesakkan di mana aku tidak boleh menangis bahkan saat ingin menangis────kamu telah menghancurkan semua itu untukku.

 

Aku pun menangis. Seperti anak kecil────well, saat itu aku memang masih anak-anak sih.

 

"...Gak apa-apa kok, adik manis. Dari semua hal yang menakutkan, Onii-chan bakal lindungin kamu. ...Soalnya, aku kan Onii-chan kamu."

 

Bukan, bukan, aku inginnya bukan begitu. Aku ingin kamu tidak menjadi kakakku.

 

Aku boleh bermanja, boleh bersandar, boleh menangis kepadamu.

 

Menyadari aku telah mendapatkan seorang kakak laki-laki lembut yang memaafkan segala hal tentangku... sejujurnya, itu membuatku sangat bahagia, tapi.

 

──"I-bu...... menikah itu, apa artinya......?"

──"Hmm? Fufu, benar juga ya...... Mungkin sebuah janji untuk berjalan menuju masa depan bersama orang yang disukai."

 

......Kenyataan bahwa aku, Shiori Amakawa, harus menjadi 'adik perempuan' (sekadar keluarga) dari kamu, Kenji Amakawa.

 

Kenyataan bahwa aku tidak bisa menjadi pasangan yang berjalan bersama menuju masa depan (lewat pernikahan)────membuatku merasa sangat teramat sesak dan menyesal, karena itulah............sampai tiba saatnya aku pingsan karena lelah menangis, air mataku sama sekali tidak mau mengering.



Illustrasi | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close