〈Bab
6〉Pertemuan di Jarak 14,4 Tahun Cahaya
♂
Menurut sebuah teori, menyukai makanan
pedas adalah ciri khas yang sering ditemukan pada orang yang sedang menanggung
stres.
"Ugh────Uhuk, uhuk-uhuk!? Ha, a, haah,
haah...!?"
Meskipun sudah dingin total, pizza
habanero yang tak kunjung mengurangi rasa sakit bagai duri ini kugigit kembali.
...Aah, memang cuma selera makan saja yang sama sekali tak pernah cocok dengan
adik tiri kesayanganku itu.
Keringat yang memenuhi keningku menetes
dari ujung hidung. Air mata yang makin asin menetes dari dagu.
Untuk mengalihkan perhatian, kuambil
ponsel pintar di tangan. ...Sudah lebih dari satu jam sejak Shiori pergi. Layar
yang masih belum menunjukkan notifikasi apa pun menusuk dadaku, membuatku
memasukkannya perlahan ke dalam saku.
Kriuk, kunyahan yang
kesekian kalinya.
Rasa
tajam bagaikan kilat memanaskan wajahku secara tak sehat, sampai-sampai
mematikan rasa hingga ke sumsum otak────
──『Onii-chan
yang cuma melihat cewek lain terus tuh...』
──『...benci......,
aku benci banget!!』
"Ugh............,
────Aah, benar, juga ya...... ya wajar saja. Sangat wajar kalau dia bilang
begitu......"
Rasa sakit yang menembus jantung untuk
kesekian puluh kalinya.
......Ini hukuman yang terlalu ringan.
Setiap kali mengingatnya, pendosa bernama diriku ini cuma melakukan hal yang
tak pantas kepada Shiori.
Soal
toilet Karasawa-san sih sampai batas tertentu mau bagaimana lagi────tapi di
rumah hantu, harusnya dari awal aku mengajak Shiori di sebelahku. Karasawa-san
harusnya disuruh menahannya dengan memegang ujung bajuku saja. Di roller
coaster harusnya aku bergandengan tangan dengannya dan menunjukkannya ke
petugas. Di cangkir putar harusnya aku merebut kemudinya.
Di komedi putar harusnya aku tak tamak
dan naik berjejer di sebelah satu sama lain. Soal pizza harusnya kutangkis saja
pakai tangan. Tisu kertas kan ada banyak di mana-mana.
Makanya.
────Makanya.
Hari ulang tahun Shiori yang cuma ada
sekali dalam setahun (hari spesial) ini, yang merusaknya adalah.
Kakak tiri, pacar, yang seharusnya
menjadi kekasihnya............ adalah diriku ini.
Kakak tiri terburuk. Pacar terendah.
Kekasih di tingkat paling dasar. Biarpun dibenci, tak ada alasan lain selain
menerimanya.
"........................────────────────Justru
karena itulah, kan"
────Kulipat
piring kertas, kumasukkan ke tempat sampah terdekat, lalu kuambil kembali
ponsel pintar. Kusepuk keringat yang mengganggu pakai lengan baju, lalu kutatap
aplikasi panggilan.
Bahwa aku adalah pasangan kencan yang
terburuk, terendah, dan berada di tingkat paling dasar, aku mengakuinya. Aku
merenungi kesalahanku dengan tulus dan sepenuh hati.
Justru karena itulah, deretan kegagalan
terburuk, terendah, dan paling dasar itu harus kubalas dan kuperbaiki oleh
diriku sendiri. Tak bisa menyerahkannya begitu saja ke Karasawa-san (orang
lain). Tak membereskan sendiri ketidakbecusan (perbuatan) sendiri itu tak masuk
akal. Sangat menyimpang dari rasa keadilan yang telah ditanamkan kepadaku.
Pertama-tama, dari mulutku sendiri,
dengan kata-kataku sendiri, aku harus meminta maaf kepada Shiori.
Biarpun
jadinya menyiram minyak ke dalam api tak masalah. Asalkan dia mau meluapkan
amarahnya padaku sampai terbakar habis tak masalah. Berteriak, memukul,
menendang, menggigit────kalau perasaannya sudah puas, kami tinggal bermain
bersama dengan menyenangkan lagi.
Cuma
itu cara pertanggungjawaban terbaik yang bisa kulakukan sekarang──
"Shiori......, ......”
──Kubulatkan
tekad, lalu kutekan tulisan 'Panggil'.
Apa dia sedang menangis...... atau
gara-gara dibiarkan selama ini, kali ini dia beneran marah besar. Kata-kata
'Benci banget' tadi, apa bukannya cuma gertakan melainkan jadi kenyataan, cuma
hal itu yang bikin aku takut.
Dengan
perasaan seolah berdoa, kutempelkan ponsel pintar ke telinga────tapi.
『Nomor yang Anda tuju berada di luar jangkauan
atau sedang tidak aktif』
"Eh......っ?"
Panggilan terputus dengan sendirinya,
menyisakan pengumuman yang tak terbiasa kudengar.
Mikir
apa ada yang salah, aku terburu-buru menekan tombol panggil lagi. Sekali lagi,
sekali lagi────padahal begitu, berapa kali pun kutelpon yang terdengar cuma
suara tanpa intonasi yang tak jelas
apakah itu mesin atau cewek.
"Ke--napa......?
Ugh...... a--apa yang, terjadi──"
Detak jantungku makin cepat. Napas
memburu bagai hiperventilasi.
......Skenario terburuk melintas di
benakku. Shiori adalah...... anak kandung dari Ibu, Mikoto Amakawa. Biarpun
sudah 12 tahun berlalu sejak kabur dari dunia yakuza, sampai sekarang pun,
rumah keluarga
Ibu...... alias, jika dibisikkan ke
telinga orang yang tahu, bakal gampang membekukan punggung, cucu paling bungsu
dari keluarga ketua yakuza.
Oleh karena itu, baik Ibu maupun Shiori
punya nilai sebagai sandera.
Ada arti untuk menculik, ada keuntungan
untuk merebut, ada hasil dari melakukan kekerasan...... perbuatan sampah yang
berpikir seperti itu, sebelum kabur ke keluarga Amakawa, seberapa tersiksanya
mereka.
────Makanya,
Ibu tak bisa pergi keluar rumah.
Shiori selalu kuawasi, dan dipastikan
agar GPS serta teleponnya bisa dihubungi kapan saja.
Apalagi di jam selonggar ini, di mana tak
ada tanda-tanda baterai habis, baterainya malah mati.
Cuma
bisa berpikir kalau sengaja dimatikan────tapi pasti bukan Shiori yang
melakukannya.
Di
mana dia? Lagi ngapain? Dalam situasi seperti apa dia? Apa dia terluka? Apa dia
dilukai lebih dari ini, lebih dari sekarang────"S, Shiori──"
"Haah,
haah, haah......! Ke--ketemu jugaaっ!! Sh--Shiori-chan punya......
Onii-san......!"
Kepada diriku yang menggebrak meja lalu
berdiri dengan kencang.
Suara anggun itu memanggilku sambil
terengah-engah kehabisan napas.
"K,
Kamu......, kenapa, bagaimana bisa, di sini──"
Di tempat yang kutatap setelah menoleh,
dia menghembuskan napas hosh-hosh seolah mau mati saat itu juga,
membungkukkan badannya 90 derajat.
......Wajahnya tak kelihatan sih, tapi
dari warna rambutnya yang khas aku langsung tahu.
Dia,
adalah────
"C--Cepat,
datanglahっ! Sh--Shiori-chan, ba--berbahaya......!!"
♀
"Haah......, haah...... haah,
haah....... haah,......!"
Aneh. Ganjil. Napasku tak bisa teratur
dengan baik. Tenggorokanku gemetaran, gigiku bergemeletak bersentuhan, dan
setiap kali menghirup napas, bagian tengah otakku terasa berdenyut sakit.
............Mungkin...... kalau Onii-chan
melakukannya dengan izin terlebih dahulu denganku, aku tak apa-apa. Malah aku
senang. Kalau dilakukan sampai terasa sakit, rasanya aku bisa lebih merasakan
kalau aku dicintai.
......Kalau khayalan seperti itu sih
sudah berkali-kali kubayangkan, tapi.
────Kenyataannya
diriku ini begitu, lemah...!
"Nmm~? Hihihi, ada apa~? Apa kamu
tak suka diikat~? Shiori-chaan. Kalau kamu tak kabur sih bakal kulepas......
tapi kalau sekarang kan kamu masih bakal kabur, kan~? Hihi, yah nantikan saja
ya. Bakal kubikin kamu tak punya niat buat kabur sekalian kok~"
Klek-klok, berkali-kali
memastikan dengan teliti apakah sudah terkunci atau belum.
Sena Karasawa menoleh sambil menjilat
bibirnya.
"......
Se—na...... apa, maksudmu......? I--Ini kejahatan, tahu!? Menyekapku begini,
mengikatku pakai rantai...... hal begini......──"
Cepat. Cepat. Napasku cepat.
Seolah
sudah disiapkan sebelumnya, rantai melingkari meja menyusui satu putaran penuh.
Borgol yang terhubung dengannya. Begitu kedua pergelangan tangan dimasukkan ke
sana, tubuh manusia terpaksa duduk di atas lantai yang mengkilap. Di atas meja
yang harusnya dipakai bayi buat berbaring, aku yang menaruh siku ke
depannya────pandanganku berkedip-kedip terang-gelap, dan kepalaku terasa sangat
sakit.
......Aku lengah.
Fakta bahwa orang pertama yang mengejarku
adalah cewek ini, pertama-tama membuatku merasa emosi. Baik secara terburu-buru
atau apa pun, fakta bahwa Onii-chan tak mengejarku rasanya seperti mengoleskan
garam ke luka, terasa berdenyut sakit.
Makanya.
──『P--Paham-paham!
Cuma minta maaf saja kan tak cukup ya...... Aku bakal menunjukkan
kesungguhanku!』
──『Mau
bersujud atau apa pun bakal kulakukan! Hukumlah aku sampai perasaan Shiori-chan
puas!』
──『Aah
tapi, kalau ada orang lihat nanti Shiori-chan yang dikira penjahat...... Ah!』
──『Kalau
di sini tak bakal ada yang lihat. Masuk-masuk! Cepat kita mulai kencannya lagi!』
............Bodoh, bodoh bodoh bodoh
bodoh! Kenapa logika asal-asalan yang bahkan tak bisa dibilang bujukan manis
seperti itu malah kuturuti!
Apa darah kelewatan naik ke kepala sampai
mendidih!?
Memang benar aku sangat emosi sama Sena
dari lubuk hati.
Tapi bukan berarti melampiaskan kekesalan
bisa membuat perasaanku lega. Rasa bersalah justru makin parah.
Padahal aku tahu...... tapi aku malah
masuk ke sini.
Ke dalam ruang menyusui yang ditempeli
kertas bertuliskan 'Rusak'.
"Hihihi, Shiori-chan, kamu terlalu marah gak
sih? Napasmu buru-buru banget lho~? Hiperventilasi juga...... Mau kututupi
mulutmu gak~? Karena gak ada saputangan jadi pakai dadaku sih♪"
"......? Ka--kamu...... bukannya,
tujuannya, Onii-chan......!?"
Sambil melepas tombol baju di dadanya
satu per satu, Sena mengucapkan hal yang mengerikan itu.
Aku tak tahan lagi, lalu bertanya kembali
padanya.
Kenapa, kenapa si keparat ini menyekapku?
Kenapa dia bersamaku?
Kenapa dia memamerkan pakaiannya? Dari
awal bajunya memang lebih mirip pakaian renang daripada baju biasa sih, tapi
makin lama makin mendekati pakaian dalam.
Kenapa.
Padahal, padahal si keparat ini, Sena
Karasawa ini.
Hobinya
merebut laki-laki orang lain────makanya dia dibenci sama cewek-cewek, kan──
"Hei, Shiori-chaan."
Tidak terlalu besar, tidak terlalu kecil.
Ukuran dada yang tampaknya pas untuk muat di tangan cowok, sambil memamerkan
separuh bagian atasnya plung, Sena berbicara dengan suara yang lengket.
"Cewek
itu ya~ menurutmu kapan memasang wajah paling imut? Saat mendesah paling imut,
mendesah paling imut, menangis paling imut, dan berantakan paling imut────kapan
ya~?"
"............?"
Apa...... apa yang kamu bicarakan?
Gak paham. Gak bisa mengerti. Habisnya,
habisnya yang suka cewek itu
Iruka-chan,
dan si keparat ini, Sena ini──
"Jawabannya
adalah~────pas lagi berantakan banget, tahu~ Shiori-chaan."
Suara nyanyian yang lengket bagaikan
merayap dari dasar rawa-rawa.
Bahkan hiperventilasi sampai terhenti,
ganti dengan rasa takut yang tak terlukiskan menjalar di punggungku.
"Cemburu,
amarah, kebencian, penghinaan...... di tengah-tengah emosi yang berantakan
gara-gara hal itu~ secara paksa, tanpa ampun, saat diolesi rasa nikmat yang tak
dikenal sampai basah kuyup────cewek bakal memamerkan wajah paling imutnya,
tahu...... Hihi, hihihihihi......!"
"────!"
Masa.
Masa cewek ini, Sena Karasawa ini.
Alasan
sebenarnya dia merebut laki-laki dari cewek-cewek lain itu──
"...... Gak, bisa dipercaya!! Aku
tahu kamu mesum sih, biarpun bukan penderita penyakit yang sama tapi kupikir
kita sesama penderita yang saling mengasihani!! Kamu sih......l, lebih rendah
dari mesum!! Ini bukan pemikiran manusia, bilang ini kelainan seksual saja
sudah kelewat tidak sopan!! Kamu ini manusia paling rendah tahu, kamu
tuh!!"
"......Hihi."
Srekh, srekh, seolah sedang
menggoda.
Tapi
secara pasti, Sena yang mendekat dengan langkah pelan bagaikan lembu untuk
memupuk rasa jijik────begitu dimaki olehku, bibirnya menyunggingkan senyum
melengkung.
Karena senang.
Saking senangnya, senangnya, senangnya,
senangnya sampai tak tahan lagi, dia tertawa dengan sangat mengerikan.
"A,
Apa...... apa yang lucu!? Jangan melakukan hal bodoh, ini, kekangan ini!!
Lepaskan!! Jangan mendekat!! Kembalikan aku ke tempat awal, ke tempat
Onii-chan──"
"Hihi, hihihihi...... Aah, bagus,
bagus banget Shiori-chaan...... Karena aku pengen reaksi kayak begitu makanya
hari ini aku berusaha sekuat tenaga tahu~?"
Mendekat merayap, hingga akhirnya Sena
sampai di kaki tempatku berada.
Bahkan
dalam keadaan kaitan depan bra-nya sudah dilepas────bersama napas panas dan
lengket yang aromanya tercium sampai ke sini, dia berbicara sambil berjongkok
pelan.
"Onii-san penjagaannya ketat banget
jadi kayaknya gak bisa sih...... tapi tak sia-sia aku jadi temanmu ya~. Aku
punya rencana buat melompati proses biasanya kok. Hubungan intim sama cowok
memang tak buruk sih...... tapi menodai cewek itu jauuh jauuuh lebih kusukai,
tahu...... Hihihi, bakal kunikmati sampai puas ya~ Saking menantikannya,
kemarin aku sampai susah tidur tahu~?"
────Menyanyikan
hal itu.
Sena memegangi gaun terusan milikku......
di bagian ujungnya.
"J, Je—jengkel!! Hentikan!!
Jijik!!"
Refleks
aku menghentakkan kakiku ke atas────tapi melakukan hal itu dalam posisi duduk,
gerakannya sangat monoton.
Dengan mudahnya Sena menahan kedua
kakiku, satu-satunya sarana perlawananku.
"Hihi, hihihi......"
"Gak mau...... gak mau, gak mau, gak
mau, gak mauu!! Jangan mendekat...... jangan mendekat dong!!"
Tanpa
perlu menyingkap gaun terusan milikku────begitu kedua kaki yang dipegangnya
diangkat, bajunya tersingkap dengan sendirinya, memamerkan kaki dan pakaian
dalamku.
Dilihat. Dilihat. Dilihat. Dilihat.
Gak mau, gak mau, jijik, jijik banget!
Rasa benci dan malu membuatku ingin mati saja sekarang juga. Daripada menerima
hinaan yang lebih dari ini, rasanya lebih mending menggigit lidah sendiri
sampai putus di tempat ini.
"Gak mau... hentikan, jangan
lihat...!"
"Hihihi! Celana dalam yang imut ya,
Shiori-chan. Jangan-jangan kamu berniat mengincarnya saat di pencerahan kencan?
...Bagian yang lebih dalam di dalam sini, bagian yang lembut dan manis ini...
apa Onii-san sudah menyentuhnya juga?"
"!!
Gak mau, gak mau gak mau gak mau gak mauu! Hentikan... tolong hentikan! Bagian
itu, bagian itu cuma buat Onii-chan seorang──"
"Umm,
aku tahu kok? ────Makanya, justru bikin makin menggoda, kan."
Benar-benar bagaikan ular yang memainkan
mangsanya.
Slurp, sambil menjilat bibirnya sendiri pakai
lidah────perlahan, sangat perlahan, Sena mendekatkan wajahnya ke bagian
terpenting milikku. Seolah menikmati diriku yang cuma bisa mengoceh seperti
mengindigo menolak dan tak mau.
Takut. Panasnya embusan napas yang terasa
dari balik kain ini. Suara hidung Sena yang menikmati aromaku sambil
menghirupnya. Sensasi lidahnya yang penuh dengan air liur mendekat tepat di
dekatku.
Gak mau. Gak mau. Pokoknya gak mau.
Takut.
Takut. Takut.
Takut.
Takut. Takut. Takut────takut takut takut takut takut takut takut takut takut
takut takut takut takut takut takut takut takut takut takut takut takut takut
takut takut takut takut takut takut takut takut takut!!
"T-Tolong......"
Aku tahu ini sia-sia.
Habisnya ini adalah ruang menyusui yang
rusak dan tak dipakai. Pintu kunci dari dalam, dan tempat ini kedap suara,
makanya Sena memilihnya sebagai tempat penyekapan. Jadi, berapapun aku
berteriak pilu dengan tenggorokan gemetaran dan mulut yang bahkan tak bisa
bernapas dengan benar ini, tak ada kemungkinan orang lain bakal mendengarnya.
Tapi, tak bisa.
Aku tak bisa menahannya. Bagai refleks
bersyarat, aku berteriak.
Biarpun
tahu tak akan sampai────dengan menyedihkan, aku ingin mengandalkannya.
"Tolong...... Tolong!! Onii-chan
tolong akuuuuuuuuuaaaargh!!"
"────Nn?"
Suaraku yang terisak, serak, dan
berantakan oleh air mata serta ingus itu, apakah benar-benar sampai?
────Klek-klok, kunci pintu
mengeluarkan suara aneh.
Dengan heran, Sena mengarahkan
pandangannya ke arah pintu.
♂
──『Kena...
perangkapnya... kata-kata... Ketua OSIS... waktu itu...』
──『Waktu...
sembunyi di kamar pas... juga... "Meresahkan banget" itu... cara
bicara yang... terlalu jauh』
──『Itu...
bukan seperti Sena-chan... baik pandangan orang... maupun cara bicaranya (sifat
aslinya)』
──『Makanya...
semalaman... aku bertanya... ke para korban Sena-chan』
──『Sena-chan...
menyerang... cewek yang sedang terluka... adalah hobi (sifat menyimpang)
aslinya』
──『Anak
itu... membuat cewek-cewek... berantakan...!』
"Haah! Haah! Haah! Haah!"
Sambil memegangi pinggangku yang sakit
tanpa peduli situasi, aku berlari. Berlari. Biarpun napasku terasa panas dan
membakar tenggorokanku, aku tak peduli. Biarpun di ujung pandanganku rombongan
keluarga dan pasangan menatap aneh, aku tak bisa memedulikannya.
Arah pandanganku tak lepas dari warna
hijau muda yang memimpin di depan.
Napasnya yang kini tinggal tersisa
sedikit, biarpun punggung seragamnya yang penuh kerutan itu makin membungkuk.
Kaki yang kejang tak kunjung berhenti,
aku terus mengejar Nishijo-san.
────Sambil
meratapi kebodohanku sendiri.
"Ugh...... ha--aah! Haah, haah......
Nishijo-san!"
Sudah berapa kali aku memanggilnya.
Padahal tenggorokanku rasanya mau robek karena sakit, tapi aku tak kapok buat
terus memanggilnya.
Aku tahu dia tak akan berhenti.
──『Di
ruang OSIS juga ada beberapa orang yang datang tahu~?』
──『Konsultasi
gara-gara hubungan mereka kamu bikin putus lah~』
Aah────ya
ampun, benar juga, padahal dari awal petunjuknya sudah ada, tapi diriku yang
bodoh ini tak menyadarinya dan bikin kesal.
Komplain 'dibuat putus (terpaksa
berpisah)' datang 'beberapa orang (biarpun gak banyak)', lewat pemilihan kata
yang aneh itu Nishijo-san bisa menyadarinya. Bahwa komplain ke Sena Karasawa
cuma datang dari pihak murid cowok saja...... padahal sebagai anggota OSIS,
fakta itu harusnya sudah kuketahui dari dulu.
Tapi aku tak menganggapnya aneh. Sama
sekali tak mencurigainya.
Padahal
cewek ini──
"Ugh────aah"
"Nishijo-san!!"
Tak ada jeritan. Dia tak punya tenaga
tersisa buat melakukan hal itu.
Batas antara area luar angkasa dan area
horor. Bahkan terhadap perbedaan tekstur lantai yang sedikit saja, Nishijo-san
tak bisa mengatasinya. Kakinya yang berlari terus-menerus selama lebih dari 10
menit tetap kejang biarpun dia sudah terjatuh, hingga berdiri secara normal
saja terasa sulit, hal itu gampang sekali terlihat.
"Ugh...... ha, a,
ah............!"
Padahal begitu.
Dia, Iruka Nishijo, masih.
Sambil menyeret kakinya yang tak mau menurut, dia berusaha merangkak maju.
"............Kenapa"
────Yang
melintas adalah kemungkinan terburuk.
Aah, rasanya mau muntah. Kenapa terburuk,
karena menyelimuti pemikiran seperti ini walau sesaat saja membuat alur
pikiranku terasa menyedihkan.
Rasa curiga menghentikan tangan yang
hendak kuulurkan. Membuat kata-kataku tersumbat.
......Kesungguhannya yang bahkan tak
menoleh ke arahku membuat jantungku berdetak tidak menyenangkan.
"Ha, a, haah, haah............
O--Onii-san......?"
"......Kenapa kamu segininya
bersungguh-sungguh? Nishijo-san."
Menegakkan tubuh bagian atas saja sudah
batas kemampuannya, sambil bernapas menggunakan bahunya, aku bertanya padanya.
Berjongkok. Tenggorokanku sakit.
Paru-paruku menyusut terlalu parah hingga dadaku ikut sakit. ......Aku ingin
berspekulasi kalau rasa sakit ini murni berasal dari organ dalamku.
Padahal begitu, kata-kata dari mulutku
tersembur keluar tanpa bisa dibendung. Rasa cemas. Rasa curiga. Perasaan iri
yang egois dan menyedihkan.
"......Aku
sudah dengar dari Shiori. Kamu ini...... disebari rumor aneh, dijauhi,
dibenci────padahal kamu begitu! Kamu malah mendatangi cewek-cewek yang
membencimu lalu bertanya langsung............ Pasti rasanya sakit, kan? Pasti
menyiksa, kan? Tapi kenapa, kenapa sampai di tahap ini kamu masih
bersungguh-sungguh? Kenapa...... buat menyelamatkan Shiori dari Sena Karasawa,
sampai sebegininya──"
"Karena aku... menyukainya."
Padahal napasnya sangat berantakan dan
terbata-bata.
Tapi kata-kata itu terlontar lurus dan
tajam bagaikan memukul sumsum otak.
────Terasa
sakit bagai ditusuk. Sampai-sampai kalau tidak menggigit gigi belakangku
rapat-rapat, aku tak akan sanggup menahannya.
"Aku juga...... menyukai
Shiori-chan. ......Bukan sebagai teman, atau rasa sayang biasa."
"......"
"Tapi────ini
salah interpretasi."
Tiba-tiba.
Nishijo-san yang berdiri dengan lemas
membungkukkan badannya, menaruh tangannya di lutut lalu berbicara.
Sambil memancarkan rasa panas yang
kering, tanpa bau, dan kosong padaku.
"Soal Shiori-chan...... aku menyukainya...... aku sangat menyukainya. Tapi............ Shiori-chan yang berpindah hati (berubah pikiran) padaku...... pasti aku...... tak bisa menyukainya."
"............Maksudmu──"
"Aku ingin dia bahagia. Justru
karena dia orang yang sangat kucintai."
────Aah,
benar-benar menyedihkan.
Kepada diriku yang tanpa disadari
berlutut di tanah, Nishijo-san mengulurkan tangannya dengan lemas. Babak belur,
dengan keadaan mengenaskan, napas tinggal tersisa sedikit, baru sekarang aku
menyadari kalau aku sedang diberi semangat oleh cewek seperti ini.
Ingin orang yang dicintai bahagia.
Hal itu...... padahal wajar, tapi karena
terlalu wajar sampai-sampai jadi titik butaku yang terabaikan.
"Shiori-chan itu...... kalau bukan
denganmu...... tak akan bahagia, Onii-san."
".............!"
"......Setidaknya, biarkan cinta
ini...... berakhir sebagai cinta yang layak buat ditolak. Soalnya aku......
sangat menyukai Shiori-chan...... yang bercerita tentangmu dengan
gembira."
Setelah mengatakan itu, Nishijo-san
tersenyum lembut.
Senyuman yang halus...... rapuh, dan
serasa mau hancur kapan saja.
Senyuman
di mana rambut basahnya tak bisa menutupi kantung mata maupun air
matanya────sudah lebih dari cukup sebagai bahan bakar bagiku.
"......Maaf. Dan juga, terima kasih
ya, Nishijo-san."
Tangan yang diulurkannya tak kuambil. Aku
tak bisa menambah hutang budi lagi pada saingan cinta yang begitu menyilaukan
ini.
Rasa curiga kubuang bersama butiran pasir
yang menempel di lutut.
Saat punggungku yang kaku gara-gara kerja
kantoran menegak lurus, napasku sudah mereda total.
Sudah
dikatakan sejauh ini, dipercaya, dan dititipi────mana bisa aku ragu-ragu
sekarang.
Shiori bakal kubikin bahagia. Gak bakal
kuserahkan ke siapa pun.
Apalagi ke cewek jahat yang menghasut
orang demi melampiaskan nafsunya sendiri, sama sekali gak bakal kuberikan.
"Onii-san............!"
"Melewati
area laut dalam dan area luar angkasa...... artinya kamu tahu kalau mereka gak
ada di dua tempat ini, kan? Kalau gitu, apa aku boleh menganggap kalau kamu
punya perkiraan mereka ada di mana? Kasih tahu aku. ......Nishijo-san, fisikmu
sudah di batas kemampuan, kan? Sisanya biar aku──"
"Itu────ah"
Deg, gemetaran seolah dialiri listrik
statis────Nishijo-san yang tak bisa menegakkan punggungnya yang membungkuk itu
merogoh saku roknya menggunakan tangan yang tadi diulurkan padaku. Yang
dikeluarkannya adalah ponsel pintar dalam casing polos.
Setelah menyapu layarnya pakai kedua
tangan, dia menghembuskan napas pelan.
"......Katanya sudah ketemu. Di
toilet area hutan, yang menyatu sama...... ruang menyusui. Jelas-jelas ada
kertas tempelan buatan tangan............
katanya sekarang mereka mau mendobrak
masuk."
"......?
Itu...... kontak dari siapa coba──"
"Rombongan tim lain. ......Kamu
punya teman-teman yang baik ya......
Onii-san."
Sambil meregangkan tubuh besarnya yang
porosnya tidak stabil, dia menghirup napas dalam-dalam.
Dengan suara yang tenang bagaikan helaan
napas, Nishijo-san berbicara.
"......?
Tiba-tiba ngomong apa──"
"Aku
kan orang yang dibenci...... jadi tak punya orang yang bisa diandalkan. Apalagi
padahal mereka sangat, sangat sibuk............ begitu kuceritakan soal niat
Sena-chan...... mereka bertiga, semuanya────ikut bersamaku......! *Tadaa*......
di tempat mereka langsung membeli tiket hari H...... padahal mahal banget......
tapi tanpa ragu. ......Onii-san...... ini berkat kebaikan dirimu."
".......
Tiga orang, maksudmu──"
"......Aku sudah agak istirahat. Ayo
pergi, Onii-san."
Meninggalkan diriku yang belum bisa
mencerna situasinya, Nishijo-san mulai berlari. Karena panik, refleks, dan
hanya mengandalkan refleks saja, aku mengejar punggung itu.
Tiga orang...... bukan, selain itu yang
tahu soal kami adalah.
Yang
mau menolongku dan Shiori, sisanya cuma──
"Kalau
tak cepat pergi────peran keren kita bakal direbut sama anggota OSIS, lho.
......Pahlawan yang menyelamatkan Shiori-chan...... harus Onii-san, kan."
♀
Klek, klek, klek... klek-klek!
"......Bising banget sih. Padahal
lagi di bagian seru...... Kalau diketuk dari
dalam apa bakal berhenti ya?"
Ruang menyusui yang remang-remang. Tepat
sebelum dilecehkan di tengah rasa jijik yang bikin mau muntah.
Berkali-kali, berkali-kali kuncinya
bergerak berulang. Menimbulkan suara logam.
......Sena tampaknya mengartikan hal itu
sebagai 'Ada yang mau membuka pintu'.
Tapi apa kunci tipe yang dikunci dari
dalam bisa dibunyikan secara tepat dari luar?
Kalau
bisa, hal itu artinya──bukan 'pintu', melainkan sedang berusaha membuka 'kunci'
kan──
────────KLAK!!, dengan
kencang, gagang pintu kecil itu berputar penuh.
"He? Eh...... ha, a......?"
"────Uwah,
beneran terbuka dong~......"
Suara
yang sangat biasa kudengar. Mau pagi, siang, atau malam────bahkan di waktu sore
hari dengan cahaya oranye menusuk seperti sekarang pun tak berubah, suara
mengantuk bercampur uapan.
Brak, tanpa ada celah
buat mengunci pintu lagi, pintu terbuka lebar.
────Seragam
yang biasa kulihat, rambut warna pink, muncul membelakangi cahaya......
tenggorokanku bergerak dengan sendirinya.
"K...... Ka, Kak Rio......!!"
"K,
K—Ketua OSIS......!? Kenapa bisa ada di sini...... lagian kuncinya kan──"
"────Cih.
Kenapa malah mundur sih Ketua OSIS."
Meskipun separuh tubuhnya tertutup oleh
Sena yang terpaku.
Rambut yang bergoyang berwarna abu-abu
kusam dan biru itu...... adalah warna yang pernah kulihat di pengumpulan
seluruh siswa.
Kalau tak salah, sama seperti Onii-chan
dan Kak Rio...... pengurus OSIS...!
"Kalau cewek warna-warni itu tak
membawa masalah merepotkan ke kita, Fuyuru juga tak ada niat memamerkan teknik
ini di tempat umum tahu. ......Nanti tolong tutup-tutupi dengan benar ya? Aku
gak mau punya rekam jejak kriminal. Nanti mengganggu masa depanku sama Senpai
Haru."
"Masa depanmu dari kemarin sudah
terganggu banyak tahu! Soal tiket tadi juga, begitu pulang kamu bakal
kuceramahi ya!?"
"Paham Senpai Haru! Mau ceramah
sambil telanjang bulat? Kaos kakinya biarkan terpasang gak!?"
"Bisa gak berhenti bikin aku
kelihatan kayak penjahat kelamin yang parah!?"
"Okey-okey
rombongan penghancur suasana serius cukup sampai di situ ya~────Nah."
────Sret, Sena melangkah
mundur satu langkah sambil menimbulkan suara.
......Ekspresi wajahnya tak kelihatan
jelas sih, tapi aku paham. Aku mengerti. Biarpun biasanya terlihat santai,
selalu mengantuk, dan mirip koala, tapi Kak Rio kalau beneran marah, itu
beneran menakutkan.
Komedi tidak jelas dari dua orang lainnya
(pihak cowok) pun terhenti...... aku juga tak bisa menghentikan keringat dingin
ini.
"............!"
"......Shi-chan.......
────Kamu rupanya melakukan tindakan yang lumayan kasar ya. Kelas 2-2, nomor
absen 15, Sena Karasawa."
"......Hi, hihi,
hihihihi......!"
Kak Rio, cewek tadi, dan suara cowok yang
tak kelihatan wujudnya, total tiga orang. Sebaliknya Sena cuma sendirian.
Jelas-jelas berada di posisi yang tak
menguntungkan...... tapi Sena malah
menggoyangkan bahunya sambil tertawa.
"......Kalau mau memberi alasan
bakal kudengarkan sih, apa ada pembelaan?"
"Ketua
OSIS...... Rio Yumizuka-chan...... hihi, baunya, baunya baunya, menusuk hidung
banget ya────kamu juga! Dari kemarin tuh! Kalau dibikin ternoda pasti bakal
sangat-sangat! Terlihat lezat!!"
Bahkan sampai situasinya jadi begini, dia
masih saja jujur sama nafsunya sendiri.
Sena mengeluarkan borgol cadangan dari
celana pendeknya, lalu menerjang ke arah Kak Rio.
────Jeritan
nafsu bagaikan binatang itu, apa dia beneran serius atau cuma jebakan buat
memicu kegoyahan saja. Pokoknya mau bagaimana pun, Sena berniat buat menerobos
Kak Rio dan yang lainnya.
......Hal kayak begitu, jelas-jeritan
tidak mungkin bisa dilakukan.
Bagi orang yang paham sedikit saja soal
kemampuan Kak Rio yang sebenarnya, hal itu sudah sangat jelas.
"────Ugh,
e-eh!?"
────────Aku
tak melihat dengan jelas apa yang terjadi.
Cuma begitu aku sadar, Sena sudah
dijatuhkan ke lantai, dan tangan kanannya dipasangi borgol miliknya sendiri. Di
atas punggungnya ada
Kak Rio yang bertubuh mungil duduk
santai, menginjak lengan kirinya, dan menarik lengan kanannya ke belakang
punggung secara perlahan.
"Sa-sakit,
sakit! K-kenapa... kamu ngapain──"
"Kamu pikir aku ini siapa? Aku ini
Ketua Eksekutif OSIS SMA Negeri
Byakudo, Rio Yumizuka tahu? Murid-murid
yang punya kebiasaan, ego, dan sifat buruk yang kuat seperti kamu ini harus
bisa kukendalikan...... Menguasai salah satu seni bela diri aneh itu kan mata
pelajaran wajib."
────Cuma
bisa melongo. Terpana adalah kata yang pas buat situasi ini.
Padahal sampai semenit yang lalu, Sena
adalah perwujudan rasa takut yang begitu luar biasa.
Tapi oleh Kak Rio, dia bisa dilumpuhkan
total dengan sangat mudahnya.
"Fuyuru-chan, lepaskan borgol
Shiori-chan. Kalau sudah dengar dari Haruya-chan, kamu paham kan? Anak ini
beneran gak bisa kalau diikat begitu. Makanya, cepat."
"Paham.
────Nih, aku bantu jadi jangan bergerak Adik Senpai."
Gadis berambut biru yang masuk ke ruang
menyusui melirik Sena yang masih meronta-ronta...... lalu memasukkan jepit
rambut yang ditekuk ke lubang borgol, mulai mengutak-atiknya.
"A... terima kasih..."
"Gak
usah terima kasih segala. Ini perintah Ketua. Haaah... tapi hasilnya malah
membikin aku memberikan bantuan besar ke Senpai itu...... ke Senpai dibenci
yang merebut Senpai Haru dari Fuyuru, bener-bener bikin kesal banget ya ya
ampun────nah, tangan kiri selesai. Selanjutnya tangan kanan ya."
"............?"
Aku tak terlalu paham arti dari
gumamannya...... tapi tubuhnya yang mungil tak kalah dari Kak Rio atau aku itu
melompat ke samping.
Sekali lagi, pintu masuk yang memancarkan
cahaya oranye menyilaukan mengambil alih pandanganku.
"Ugh...!"
Mataku sakit. Terasa berdenyut sakit
seperti membakar otak, tapi.
"────"
Meski begitu, aku tak bisa berpaling.
Habisnya, habisnya aku bisa melihatnya.
Meskipun cuma berupa siluet,
biarpun ada bayangan serupa yang berjejer
di sebelah.
Aku paham. Dia datang buatku...... sampai
kelenjar air mataku gemetaran panas tak mau berhenti, aku bisa meyakininya.
"────────────────────────Onii-chaaan!!"
"Ugh!?
Tunggu, jangan mendadak berlari gitu──"
Maaf, tapi aku sudah tak bisa mendengar
suaramu lagi.
Ketemu. Ketemu. Dia datang. Dia datang!
Onii-chan────Kenji
Amakawa!
Bahkan dari jauh pun aku bisa melihat
dengan jelas kalau dia datang buat menyelamatkanku.
"Ugh,
ta-tunggu! Tunggu dong! Shiori-cha────Gyau!?"
Suara Sena yang menyedihkan dan
menyebalkan seperti berusaha mengejar terdengar di telingaku.
Tapi hal itu tak peduli. Tak peduli, tak
peduli, tak peduli sama sekali!!
Pemandangan di depan mataku, enggak,
selain orang yang sangat kucintai itu semuanya tak peduli, kesadaranku seolah
menolak persepsi lain.
Dunia
luar yang akhirnya bisa kutinggali, berlawanan dengan cahayanya yang membakar,
terasa agak dingin────makanya, justru karena itulah.
Basah kuyup oleh keringat, terengah-engah
kehabisan napas...... membiarkan baju kencan berharga (hadiah dari Kak Rio) ini
penuh kerutan.
Meskipun
begitu, dia tetap mengulurkan tangannya padaku dengan gembira────sosokmu yang
seperti itu benar-benar sangat kurindukan.
"────Onii-chaaan!!"
"────Shiori!!"
Ugh...... padahal waktu terpisah saat di
sekolah jauh lebih lama.
Tapi
suara itu. Tangan yang menggenggam tanganku. Wajah yang seperti mau menangis,
enggak, wajah yang dari tadi sudah sembap karena menangis itu────alangkah
besarnya rasa tenang yang diberikannya padaku.
Aah...... kaki yang berlari pun jadi tak
bertenaga.
Kalau
begini terus, aku serasa mau roboh dari lutut────karena aku percaya kamu bakal
menangkapku.
"Onii-san!"
Tangan kami bersentuhan. Ditarik
mendekat. Tindakan yang agak paksa itu terasa sangat membahagiakan jika
dilakukan oleh orang ini.
Kenyataan
bahwa aku mendengar suara Iruka-chan────baru kusadari jauh setelahnya.
Habisnya──
"Cepat, pergi ke tempat itu!
......Tolong lakukan ya. Balikan...!"
"......Maaf
ya Nishijo-san, kuserahkan padamu! ────Maaf ya Shiori!!"
"Feh?"
Sambil berkata begitu.
Onii-chan menarik tanganku dengan sangat
kuat seolah mau lepas.
────Karena
dia memeluk tubuh mungilku seperti anak kecil menggunakan kedua tangannya.
"Kamu
mau ke mana Ken-chan! Shiori-chan juga────Uwah!?"
"K, Kak Rio......
Iruka-chan......!?"
"Ayo
pergi! ────Hari ulang tahun Shiori kan belum selesai?"
────Tanpa
paham alasannya aku mengangguk...... tapi jujur saja, kata-kata tak masuk ke
telingaku.
Diangkat
ala putri────keegoisanku yang cemburu dengan menyedihkan itu diwujudkannya
dengan begitu gampang.
Wajahku terasa panas. Serasa mau
terbakar. Dadaku sakit. Serasa mau pecah. Perut bagian bawahku bergetar tak mau
berhenti. Rasanya begitu menyiksa sampai serasa mau mati.
Maafkan aku. Maafkan aku. Bahkan
pemikiran bahwa aku harus meminta maaf seperti itu pun tertutupi oleh detak
jantung.
Ucapan 'Benci banget' itu bohong. Bohong
besar. Bohong yang jauh lebih merah daripada matahari terbenam.
Aku
memang────sangat, sangat menyukai dirimu (Kenji Amakawa) sampai tak ada obatnya
lagi.
†
Percakapan (perhatian berlebihan) itu
adalah hal yang dirahasiakan rapat-rapat dari Shiori.
──『Sekarang......
tiga orang anggota OSIS sedang menuju ke tempat Shiori-chan buat menolongnya』
──『Aah,
mau menundukkan kepala berapa kali pun rasanya gak bakal cukup rasa terima
kasih ini...... terima kasih banyak, tapi──』
──『Ketua
OSIS pasti...... gak bakal mengizinkan, kan. Kelanjutan kencan kalian』
──『──Hasilnya
kan kamu membawa Sena Karasawa...... dia pasti mau mengambil tanggung jawab
atas hal itu』
──『............Kamu
mau, gak......? Kencan...... sama Shiori-chan』
──『Tentu
saja mau! Aku...... bahkan belum sempat merayakan ulang tahun Shiori sama
sekali......!』
──『......Gitu
ya. Kalau gitu bakal kukasih tahu. Tempat spesial yang gak bakal diganggu sama
siapa pun』
──『Ugh,
t-tempat kayak begitu──』
──『Iya.
......Tapi rahasia dari Shiori-chan ya. Bilang kalau ini ide dariku』
──『Soal
tempat kencan dikasih tahu sama cewek lain tuh...... secara cewek kan hukumnya
gak boleh』
"Haah, haah, haah, haah...!"
"Fuu, haah, fuu, fuu...!"
Detak jantung dua orang yang duduk
berhadapan itu, biarpun alasannya berbeda tapi sama-sama berdegup kencang
hingga menimbulkan rasa sakit yang menyiksa dada.
────Di
salah satu sudut area masa depan Galactica Land, terdapat
bianglala yang membanggakan ukurannya
sebagai yang terbesar ketiga di Jepang.
Di tengah banyaknya wahana unik, orang
yang sengaja meluangkan waktu buat naik wahana biasa seperti ini adalah spesies
langka, makanya Kenji dan Shiori bisa langsung naik ke gondola dengan mulus
tanpa waktu tunggu begitu sampai.
Satu
putaran memakan waktu sekitar 15 menit────tapi 3 menit di antaranya sudah
terbuang cuma buat merapikan napas yang terengah-engah.
Melihat napasnya yang perlahan mulai
tenang, Kenji menegakkan tubuhnya pelan-pelan. Mungkin karena menyandarkan
punggungnya ke kursi, otot punggungnya terasa ngilu dan sakit.
Tapi daripada rasa sakit yang kecil
begitu.
Perhatiannya justru tertuju pada gadis di
depan matanya yang masih mengulang napas dangkal.
"......Gak apa-apa,
Shiori......?"
"......Onii-chan......"
────Nyes, rasa sakit
fiktif berjalan seolah ada pasak yang menancap di dadanya.
Adik tiri, ceweknya, kekasihnya yang
duduk berhadapan dengannya itu, seluruh keberadaannya tersinari oleh matahari
terbenam dengan sangat jelas. Pipi yang merona, dada yang bergerak
menyelaraskan napas, hingga tangan kecil yang terlipat di antara kedua kakinya.
Bahkan air mata yang menumpuk di ujung
matanya hingga memantulkan cahaya matahari.
"Ugh────Maaf!!
Beneran...... beneran maaf!! Maafkan aku, Shiori!!"
Tak sanggup menahannya, Kenji menundukkan
kepalanya seolah melarikan diri.
Dia memejamkan matanya rapat-rapat,
membenamkan dirinya ke dalam kegelapan. Pandangan yang hilang membuat
pendengarannya makin tajam, menyadari napas dangkal Shiori jadi makin cepat.
"......Onii-chan......?"
"......Sitiasinya
sudah kudengar dari Nishijo-san. ────Ini salahku. Aku!
Padahal...... padahal ini hari ulang
tahunmu...... tapi aku malah mengabaikan Shiori yang jadi pemeran utamanya.
Ujung-ujungnya bikin kamu mengalami hal menakutkan...... bikin Shiori
sedih...... bikin
marah, bikin menderita...... dan bikin
kamu menangis......!!"
"............"
"......Beneran,
beneran maaf──"
"Onii-chan."
Suara itu, begitu mengherankan bagaimana
dia bisa mengucapkannya tanpa ada keraguan.
Tampak basah, lembap, meninggi, dan
serak.
────Makanya
tanpa sadar Kenji mendongakkan wajahnya. Sikap sebagai kakak yang sudah
tertanam selama 12 tahun membuatnya melakukan hal itu secara sangat alami.
Dan
lagi──
"......Shiori......?"
"............Bodoh."
Bahkan suhu napas mereka bersentuhan
karena jaraknya yang begitu dekat, Shiori mendekat.
Menggumamkan
satu kata itu────lalu duduk di atas salah satu paha Kenji.
"Bodoh......
bodoh, bodoh, bodoh bodoh bodoh bodoh────Onii-chan bodoh......!"
Menggunakan kepalan tangan kecilnya,
secara lemah namun berkali-kali.
Tanpa peduli lengan gaun terusan yang
bergoyang maupun celana kekasihnya (kakak tiri) basah oleh air mata yang
menetes.
Shiori memukul-mukul dada Kenji. Memukul,
memukul...... dan mengayunkan tinjunya dengan lemah.
"Ugh............"
Kekerasan kecil itu sama sekali tak cukup
buat memberikan rasa sakit pada Kenji.
Meskipun begitu, Shiori tak bisa kalau
tak melakukannya. Dia tak bisa kalau tak menyalahkan kebodohan dan kepolosan
kakak tirinya, cowoknya, kekasihnya itu.
Kenji pun cuma bisa menerimanya dalam
diam. Dia tak tahu cara lain buat dimaafkan. Malahan dia berpikir kalau Shiori
mau memukulnya sampai puas pun tak masalah.
Padahal
begitu────kemungkinan terburuk yaitu 'Tak akan dimaafkan' selalu tak bisa
diusapnya.
"............!"
Begitu memejamkan matanya rapat-rapat,
ingatan di pertengahan musim panas 12 tahun lalu membayang kembali.
Kenji
berjanji saat melihat Shiori yang ketakutan. Di saat mereka bahkan belum tahu
nama satu sama lain, dia berjanji bakal melindungi gadis yang jadi adiknya ini.
Bakal melindunginya tanpa gagal. Bakal melindunginya dari bencana atau
kejahatan apa pun────tapi.
Kenyataannya bagaimana. Dia sama sekali
tak bisa membaca niat pendampingnya, hingga membuat Shiori terluka, menderita,
dan dihina.
Biarpun dialihkan rasa sayangnya, dia tak
bisa komplain apa-apa dan berusaha menerimanya.
Tapi di saat yang sama, timbul rasa takut
kalau dia tak mau hal itu terjadi, benar-benar tak mau, dua perasaan itu
bercampur di dalam diri Kenji.
"......Maaf, maaf...... maafkan aku
ya...... Shiori......"
Bersamaan dengan kata-kata penyesalan
itu, Kenji menyelipkan kedua tangannya ke dalam rambut putih Shiori dengan
lembut.
Rasa
hangat yang lembut dan kata-kata bercampur suara tangisan────membuat Shiori
refleks menghentikan tinjunya.
"............Ugh"
"Padahal
aku sudah memutuskan...... kalau aku pasti bakal melindungi Shiori...... tak
bakal membiarkanmu terluka............ tapi aku, akunya malah──"
"Ugh────Onii-chan."
Dengan lembut, sangat lembut, penuh
kehati-hatian seolah sedang memegang soufflé yang baru matang.
Kenji yang terlalu fokus mengelus rambut
Shiori, secara bodoh tak bisa menghentikan aksi nekat itu.
Tubuh Shiori yang mungil dan ramping,
tapi tetap saja.
Memiliki kelembutan, rasa hangat, dan
aroma yang pas sesuai usianya, menempel memeluknya dengan erat.
Persis────seperti
malam itu saat mereka mencoba menyatukan kulit untuk pertama kalinya.
"──Ugh,
Shio, ri......!?"
"............Sama sekali tidak
paham...... kamu gak mengerti!! Onii-chan itu sama sekali...... dari malam
kemarin itu, selalu, selaalu gak paham...... sama sekali gak paham!!"
Kenji yang refleks membungkukkan tubuh
bagian atasnya, dan Shiori
yang menatapnya ke atas seolah sedang
melotot.
Wajah
mereka berdua akhirnya berhadapan────napas manis yang berlawanan dengan suara
marahnya mengusik rongga hidung Kenji.
"............?
M--maaf Shiori...... aku gak paham maksudmu──"
"Ugh...... soal Sena itu aku juga
ada salahnya tahu. Padahal teman tapi
aku
gak menyadari kelainan seksualnya itu. ......Sampai gampang dimanfaatkan terus
disekap begitu juga kesalahanku kok──"
"Ugh,
bukan, itu salah Shiori! Aku...... aku yang kena perangkap wanita itu──"
"Itu!! Yang kayak begitu itu lho!!
Kamu gak paham!?"
"Eh......?"
Shiori mengacak-acak rambut putihnya yang
dirawat lebih teliti dari
biasanya.
Dia paham. Mau secara refleks, kebiasaan,
kebetulan, atau ketidaksengajaan, alasan kenapa kakak tirinya melakukan hal
itu.
Lagipula ini cinta bertepuk sebelah
tangan selama 12 tahun. Soal Kenji, tak ada hal yang tak diketahui oleh Shiori.
Di tengah jalan menuju ke sini, saat
digendong ala putri tadi.
Melihat matanya yang sembap karena
menangis saja, dia sudah.
────Apa
yang dipikirkan oleh pria baik hati bernama Kenji Amakawa ini, semuanya sudah
terbaca jelas olehnya.
"......Curang tahu...... Onii-chan
itu curang dari dulu!! Semuanya...... semuanya dibebani sendirian!! Kamu gak
pernah, gak mau membikin aku jadi orang jahat......!! Ugh...... padahal aku!!
Kalau sama Onii-chan aku pengen semuanya, semuanya ditanggung bareng-bareng
tahu!!"
Di
hari pertama mereka saling memeluk────Kenji beralasan kalau dirinya sedang
khilaf.
Saat Ibu bilang mau ikut kencan, Kenji
mencoba menanggung beban itu sendirian.
Sekarang pun, bahkan untuk kesalahan
Sena, dia menanggung semuanya seolah itu adalah salahnya sendiri.
"......!"
Hal itu curang namanya.
Kenji
akhirnya menyadari, bahwa itu adalah tindakan egois yang ingin memonopoli
semuanya────bahwa itu adalah sebuah tuduhan.
"......Shiori......
tapi──"
"Gak ada tapi-tapi!! ............Ayo
barengan, ayo terus bareng-bareng. Baik saat tertawa, bersenang-senang......
maupun saat menderita seperti hari
ini────baik
saat jadi tidak bahagia, maupun saat jadi bahagia.
......Jangan menderita sendirian sesukamu
dong. Bahkan saat menderita
pun kalau tidak barengan...... aku gak
mau....... ......Aku sudah bilang sejelas ini...... makanya tolonglah, pahami
dong......!"
Sambil membenamkan wajahnya tanpa
pertahanan ke dada Kenji, Shiori
berbicara seolah memohon.
Suara hidung karena terisak. Air mata
yang membasahi kemeja. Ke arah Shiori yang meremas bajunya hingga berkerut dan
menggoyangkan bahunya.
"............Baik saat susah (jadi
tidak bahagia), maupun saat senang (jadi bahagia), ya......"
Kenji────akhirnya
melingkarkan tangannya dengan sangat, sangat erat.
Hangat. Lembut. Padahal terasa rentan
seolah mau patah dan hancur, namun tubuh itu menerima pelukan lengannya secara
fleksibel, menyalurkan napas hingga detak jantungnya yang berdesir halus.
Padahal terhalang berlapis-lapis pakaian,
tapi sensasinya terasa jauh lebih jelas daripada saat kulit bersentuhan
langsung. Baik rasa panas maupun kelenturan dari jari-jari yang menyusup di
sepanjang tulang rusuknya. Maupun aroma manis yang agak sedikit asam yang
memenuhi
paru-paru setiap kali bernapas hingga
membakar sumsum otak.
Desir, desir, desir, desir.
Sambil berbagi suhu tubuh satu sama lain,
dan mendengar napas yang
memburu secara alami terlepas dari mulut.
Dia paham betul kalau desakan napas itu
bukanlah hasil dari berlari kencang.
Kedua tangan yang melingkar di
punggungnya terasa lembap...... bagaikan baru selesai mandi.
────Seseorang
pernah berkata. Cinta itu bukanlah saling mendoakan kebahagiaan bersama.
Melainkan nama dari kelapangan hati untuk menerima keputusan untuk menjadi
tidak bahagia bersama-sama.
Sampai maut memisahkan kita.
Membagi
suka, duka, derita, dan bahagia────sebuah kalimat janji (kata sumpah) yang
bahkan melampaui ungkapan cinta (lamaran).
────Yang
memulainya terlebih dahulu adalah Kenji.
"......Hei...... Shiori......"
"......?"
Perlahan, seolah menunjukkan kalau tidak
ada niat menolak.
Kenji
melepaskan tubuhnya────padahal begitu, dia merengutkan wajahnya seolah merasa
sayang...... tidak.
Sambil gemetaran seperti mau menangis
saat itu juga, dia berbicara sambil menghembuskan napas yang mendidih.
"......Maaf,
Shiori...... aku────ingin memiliki dirimu.......!"
"......!"
Menahannya.
Menahannya,
menahannya, menahannya, menahannya────meski begitu kata-kata yang gemetaran itu
tetap meluap keluar.
Shiori sedikit membelalakkan matanya.
Karena jelas bahwa hal itu bukanlah
kata-kata yang cuma berarti pelukan biasa.
"......Onii-chan"
"......Maaf, aku paham. Aku paham
kalau hal itu tidak boleh dilakukan! Tapi............ aku pengen. Pengen
melakukan hal intim. Pengen menyentuh. Pengen ciuman. Pengen mendengar suara
Shiori. Pengen melihat penampilarmu yang berantakan karena tidak bisa
menahannya. Semuanya, aku pengen melihat semuanya tentang Shiori. Pengen tahu.
Pengen menikmati. Pengen terhubung...... sama Shiori. Pengen jadi......
satu......!"
"............Aha...... ternyata kita
beneran cocok banget, ya."
Terhadap pengakuan hasrat yang sangat
jujur dan tanpa ada yang disembunyikan itu.
Shiori────merekahkan
wajahnya dengan ekspresi yang tampak sedih namun gembira.
"Sama kok, Onii-chan. Aku juga......
pengen melakukan hal intim sama Onii-chan."
"Shiori......"
"Pengen menyentuh. Pengen ciuman.
Pengen mendengar suara Onii-chan. Pengen melihat wajah Onii-chan yang
mencintaiku dengan lembut. Semuanya, aku pengen melihat semuanya tentang
Onii-chan. Pengen tahu. Pengen menikmati. Pengen terhubung...... sama Onii-chan.
Pengen jadi satu...... terus bikin kamu merasa enak. Aku pengen kamu...... cuma
melihat aku saja......"
"............"
"............"
"............Haha"
"............Aha"
Hal itu.
Bukan dari salah satu pihak, padahal
begitu sama sekali tidak ada presisi yang bergeser.
Justru
karena pemikiran mereka berdua sama────makanya kata-kata itu terloncat keluar
secara bersamaan.
""Kalau
begitu────ayo kita tahan bareng-bareng!""
Celana yang membengkak hingga terasa
sakit. Celana dalam yang basah hingga bernoda.
Emosi
yang cukup untuk membuat hal itu terjadi────mereka berdua
memutuskan untuk menahannya sambil
menekan perasaan itu.
"Ahaha, ternyata. Pemikiran kita
beneran sama, ya."
Sambil mati-matian menahan rasa panas di
pipinya yang merah padam dan kelenjar air mata yang seperti mau menangis,
Shiori tertawa.
"Haha, benar juga ya. ......Setelah
disadarkan sejauh itu."
Sambil mati-matian menahan tubuhnya yang
serasa mau bergerak dan kehangatan yang tersisa di lengannya, Kenji berbicara.
────Kalau
Kenji dan Shiori terburu-buru melewati batas. Kalau mereka kalah oleh impuls
dan tenggelam dalam hasrat, hingga seandainya terjadi kehamilan...... paling
buruk, mereka tidak akan bisa tinggal di kota ini lagi.
Karena
tidak mau hal itu terjadi, makanya dia membocorkan soal kencan itu ke
Suguru────Rio tidak menyangkal tuduhan itu. Haruya juga tidak menyatakan
keberatan. Fuyuru malah menghasutnya.
Tindakan pengkhianatan terhadap teman
yang menyusun siasat karena tidak ingin berpisah itu.
Apakah luka seperti itu bakal sembuh
suatu hari nanti hanya dengan berada berdua saja?
Apakah mereka bisa menjadi cukup tidak
tahu malu, tebal muka, dan naif sampai bisa memaafkannya suatu saat nanti?
............Setidaknya bagi Kenji dan
Shiori.
Mereka
tidak berpikir begitu────makanya mereka memilih untuk menahannya.
Meskipun ini adalah jalan yang sangat,
sangat, sangat, sangat dicintai, dan oleh karena itu sangat, sangat, sangat,
sangat menyiksa.
Karena mereka sudah memutuskan untuk
berjalan bersama, menahannya bersama, dan menderita bersama.
"......Berapa lama, ya......? Kalau
sampai lulus SMA, sekitar satu setengah tahun?"
"Entahlah......
setidaknya Ayah kayaknya gak bakal mengizinkan kalau belum bisa mandiri......
kalau dipikir-pikir harus kuliah dulu baru kerja, mending patokannya enam tahun
lebih──"
"......Lama, ya. ......Menyiksa,
ya...... Onii-chan."
"Iya...... Haha, kita langsung
menderita barengan berdua, ya.
......Bagaimana menurutmu?"
"......Kalau Onii-chan?"
"............Sangat menyiksa......
tapi sedikit bahagia."
"......Aha. Sama dong......"
────Gedebuk, gondola
bergoyang agak kuat sedikit.
Saat
mereka berdua melihat ke luar jendela────posisinya pas berada di puncak
bianglala. Tersinari oleh matahari terbenam, area taman bermain yang diwarnai
warna senja bisa terlihat jelas, hutan, istana naga, gedung tua yang
menyeramkan, semuanya terpancar dengan indahnya seolah menutupi kenangan buruk
di sana.
"Onii-chan. Satu saja...... boleh
aku minta hal egois? ......Anggap saja sebagai hadiah ulang tahun."
Shiori yang menggoyangkan pinggangnya
dengan malu-malu berbicara dengan segan.
Tidak ada pilihan menolak bagi Kenji.
Tanpa perlu memberi alasan pun, dia tidak pernah menolak permintaan imut dari
Shiori sepanjang hidupnya.
Cuma kali ini agak sedikit.
Setidaknya sudah melompati batasan kata
'Imut'.
"......Ci, um...... setidaknya
ciuman saja, ciuman saja sekali, sekali saja! Beneran...... lebih dari itu
bakal aku tahan, makanya......!!"
"......Jangan masukkan lidahmu, ya?
......Nanti aku gak bisa menahannya lagi."
────Sambil
diawasi oleh matahari terbenam yang dikalahkan oleh suhu tubuh pelukan mereka
yang menyilaukan namun sama sekali tidak panas, keduanya saling menyatukan
bibir mereka.
......Ini bukanlah ciuman pertama mereka.
Di hari saat mereka mencoba
melewati batas dulu, mereka sudah
berkali-kali saling menyatukan lidah.
Membuat
punggung gemetaran.────Jika dibandingkan dengan itu, ciuman yang cuma sekadar
menumpukkan bibir ini sama saja seperti permainan anak-anak. Ciuman polos dan
tingkat dasar (di saat seperti ini) yang biasa dilakukan oleh anak SD
sekalipun.
Padahal begitu, mereka berdua sama sekali
tidak bisa mengikis rasa canggung yang aneh itu.
Secara mati-matian, sungguh-sungguh,
seolah ingin mengingat bentuk, suhu, hingga kelembutan satu sama lain tanpa
tersisa.
Selama
enam menit tersisa hingga gondola turun ke tanah────tidak ada satu pun dari
mereka yang mencoba melepaskan bibirnya.



Post a Comment