NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kindan de Kindan ja Nai Chotto Kindan na Gikyōdai Rabukome wa Misui Ecchi kara Hajimaru Volume 1 Epilog + Afterword

Epilog Hasrat Cinta di Dasar Big Crunch


Jika sudah dibantu, dibalas dengan kebaikan.

 

Aku dibesarkan dengan ditanamkan tata cara manusia sejak zaman purba itu. Makanya pada tindakan ini sama sekali tak ada niat buruk, siasat, maupun maksud terselubung. Baik aku maupun Shiori, sangat wajar jika memilih pilihan ini.

 

"Kalian bertiga. Sekali lagi, soal Shiori, terima kasih sudah membantunya. Terima kasih banyak sudah menolong anak itu."

 

Hari Senin, seperti biasa di jam istirahat siang, kepada orang-orang yang berkumpul di ruang OSIS.

 

Aku yang masuk terlambat langsung menundukkan kepala dalam-dalam tepat setelah menutup pintu.

 

────Sebenarnya masih ada hal lain yang harus kuucapkan terima kasih. Pada akhirnya aku kemarin hari Minggu tak datang ke ruangan ini. Sama sekali tak melakukan pekerjaan sebagai pengurus OSIS.

 

Tentu saja, bukan sengaja membolos. Karena Rio kemarin lusa mengirimkan pesan, Besok gak usah datang gak apa-apa kok~, makanya aku menuruti kebaikannya. ...Sampai akhirnya bisa pasrah menuruti kebaikannya, kami sempat terlibat perdebatan sengit selama sekitar satu jam sih.

Teman masa kecil yang peka dan tahu seluruh situasinya ini.

 

Pasti memikirkan Shiori melebihi siapa pun.

 

Berkat hal itu...... Shiori tak tersiksa oleh trauma, dan hari ini bisa masuk sekolah dengan ceria. Cuma dengan hal itu saja aku sudah merasa gembira, dan yang terpenting, aku sangat berterima kasih.

 

Apakah aku bisa membalas kebaikan sebesar itu, jujur terasa sangat meragukan.

 

Kumasukkan tanganku ke dalam tas, merogoh benda yang paling keras dan besar, lalu mengeluarkannya dan menaruhnya di atas meja.

 

"H, Hei, hei Kenji! Itu kan──"

 

"......Kalau ucapan terima kasih bakal kubalas lewat pekerjaan, tapi kalau ini barang permintaan maaf. Silakan dimakan bareng-bareng."

 

Sambil melepas selotip yang melingkari pinggiran tutupnya, kuthunjukkan kaleng persegi itu ke mereka bertiga.

 

Koshino tersenyum menyeringai, Rio cuma berjalan dengan santai dan mengantuk dari kursi Ketua di belakang, sementara Haruya membelalakkan matanya secara berlebihan sampai bersandar ke belakang...... entah kenapa kelihatan agak lucu.

 

"Oleh-oleh wajib Galactica Land! Kaleng kue yang dirumorkan dibuat sama produsen kue mewah tertentu, yang harganya hampir sepuluh ribu yen per kaleng itu kan! ......T--tidak usah, tidak usah tidak usah aku tidak bisa menerimanya! Ini sih terlalu mewah! Aku kan cuma menghentikan cewek psiko itu sebentar di akhir saja tahu!?"

 

"Kamu tumben rendah hati ya...... dan kamu seperti biasa tak tahu malu ya, Koshino."

 

"Uwoh!? Fuyuru kamu jangan naik ke atas meja jangan duduk di sana jangan dimakan serakus itu dong!"

 

"Sudah-sudah Senpai Haru. Nih, aaa-nn♪"

 

"Agh!? ......Ngunyag-ngunyag......"

 

Dari posisi duduk bersila Koshino memajukan tubuhnya, menjejalkan kue yang diisi selai ke dalam mulut Haruya. ......Kalau cuma melihat ekspresi wajahnya sih penampilannya bagaikan Bunda Maria yang penuh kelembutan, tapi tindakannya kelewat liar ya...... Mau bagaimana lagi, Haruya yang bersikap manis sesuai rasa suka yang ditunjukkan Koshino tak bisa bilang apa-apa────sebagai gantinya Koshino yang merasa menang mengeluarkan tawa seperti penjahat kecil Kukuku.

 

"Buat ukuran Senpai ternyata peka juga ya. Daripada mengorbankan hari libur, justru mengorbankan hari masuk kerja demi membantu kencan Senpai yang seperti ini ternyata ada hasilnya juga ya."

Sambil berbicara tangannya tak berhenti, menguras kue-kue yang tersusun rapat di dalam kaleng ke dalam perutnya. ......Ini padahal jam istirahat siang, apa dia belum makan siang ya.

 

"Nn. Enak."

 

Kriuk, kriuk, sambil memperdengarkan suara kunyahan yang renyah, berjalan dengan santai.

 

Tubuh mungil Rio Yumizuka tanpa disadari sudah mendekat tepat di sampingku.

 

"Rio...... terima kasih ya, bukan cuma kemarin lusa tapi sampai kemarin juga──"

 

"Hop"

 

"U, U—woh!?"

 

────Perbedaan tinggi badan sekitar 20 cm.

 

Demi memangkas jarak itu hingga mendekati nol────Rio melompat secara vertikal, melingkarkan lengan kurusnya ke leherku.

 

Aku refleks menahan beban...... tapi biarpun bertubuh mungil, menopang anak cewek SMA cuma pakai leher rasanya lumayan menyiksa.

 

Sambil mendengar suara otot yang berderit, kutempelkan tanganku ke pinggang Rio yang tergantung lemas dan sama sekali tak berpertahanan.

 

"....... Ken-chan, geli tahu~"

 

"Mohon maaf ya...... leherku di sini sudah mencapai batasnya nih...!"

 

"Terus? Bagaimana?"

 

"......Bagaimana apanya...... kamu lagi menanyakan soal yang mana──"

 

"Soal pinggang empukku yang............ Kemarin lusa, setelah kamu kabur dari Sena Karasawa maupun dari kami────bagaimana hasilnya?"

 

"Mata seriusmu itu terlambat sekitar sepuluh detik tahu."

Karena dia sama sekali tak mau melepaskan leherku, mau tak mau kuangkat tubuh Rio sepenuhnya.

 

Biarpun bertubuh mungil, dia agak lebih besar sedikit daripada Shiori sih, soal tinggi badan. Tak kuucapkan di mulut tapi jujur saja berat, jadi...... seperti yang biasa dilakukan ke anak kecil, kulipat kedua tanganku dan meletakkannya di bawah bokongnya buat dijadikan dudukan. Lalu aku duduk di kursi lipat...... dengan begini yah, bisa mengulur waktu beberapa menit sampai tanganku kesemutan.

 

Ditanya hal yang wajar, dan menjawab adalah kewajiban, waktu buat membalas pertanyaan itu.

 

"Nn, makasih. Terus? Bagaimana hasilnya? ......Tak melakukan hal yang mencurigakan, kan? Bisa membusungkan dada dengan benar?"

 

Sambil menggesekkan pipinya ke dadaku, Rio menatap mataku seolah ingin mengintip ke dalam.

 

Kebohongan atau alasan tak bakal mempan padanya. Dari dulu memang begitu. Sudah tak terhitung berapa kali aku curiga kalau dia ini punya kemampuan membaca pikiran.

 

"......Ciuman, sudah kok. Cuma sekali."

 

Makanya.

 

Aku mengaku secara jujur dan polos.

 

────Seketika, wajah Haruya berubah merah kehitaman bagaikan

pemanas air instan, lalu menggebrak meja dengan kekuatan luar biasa. Begitu dahsyat hingga bukan cuma kaleng kue, bahkan Rio yang duduk di paha pun ikut terangkat sedikit.

 

"U—woh!?"

 

"Ciuman...... ciuman kamu bilang!? Brengsek kamu Kenji──"

 

"────Aneh...... banget ya, Senior Amakawa."

 

....... Kepalan tangan Haruya yang mengepal erat. Matanya yang seolah mau mengeluarkan air mata darah.

 

Yang melonggarkan, meredakan, dan menghentikannya────adalah

Koshino Fuyuru yang sedang duduk bersila di atas meja sambil melahap kue.

 

"....... Ko--shino......?"

 

"Fuyuru......!? Kamu, ke Kenji yang sangat kamu benci itu, panggilannya kok──"

 

"Monyet-monyet yang cuma seminggu lalu kalah sama nafsu daging dan hampir kawin itu, sekarang malah cuma menyelesaikannya pakai ciuman mulut doang. Hu~~mn............ Yah, buat ukuran monyet bukannya itu keputusan yang bijak? Buat Fuyuru sih, gara-gara tak bisa

memecat Senpai dari OSIS jadinya cuma buang-buang tenaga saja tahu."

 

"...................P--pertama-tama......"

 

Urat biru menonjol di keningku, bahkan tanpa cermin pun aku bisa mengetahuinya. Bisa kuketahui lewat rasa sakit.

 

Kalau cuma menghinaku sih aku sudah terbiasa jadi tak peduli...... tapi kalau Shiori sampai ikut terseret, rasanya aku tak bisa tetap tenang.

 

Tampaknya aku tak 'selembut' seperti yang dikatakan Shiori atau Rio.

"Lewat hinaan ke adik tiriku tadi, Koshino, tiket hari H yang kamu terbitkan secara ilegal dan gratis itu kuanggap lunas saja gak apa-apa, kan? Artinya aku bisa berhubungan denganmu tanpa ada hutang budi atau rasa bersalah lagi, kan......?"

 

"Silakan sesukamu~~. Lagian Senpai yang tunduk-tunduk gitu malah kelihatan jijik kok."

 

Sambil memasukkan kue-kue ke dalam perutnya secara berurutan, Koshino menyeringai memperlihatkan giginya dengan menyebalkan.

 

......Nishijo-san sih kelihatannya berhasil dibohongi, tapi kalau sampai ketahuan ini beneran tindakan kriminal (peretasan) yang gawat tahu....... Karena sudah ditolong aku jadi sulit komplain sih...... tapi terlepas dari Rio, tumben Haruya bisa membiarkannya. Beneran deh, anak ini juga seperti biasa bersikap manis ke Koshino──

 

"......Apa ya, perasaan...... kekalahan ini......?"

 

──Haruya yang seperti itu memegangi kepalanya sambil sempoyongan.

 

Dia terduduk lemas di tempat lalu bergumam tak jelas. ......Bagus deh kalau amarahnya sudah mereda...... tapi kali ini secara serius apa yang diucapkannya beneran tak dipahami maksudnya.

 

"Atau, rasa kesal ya......? Ugh...... Padahal belum melakukan hal intim, tapi rasanya seperti didahului menaiki tangga orang dewasa...... menyebalkan, bikin iri...... tapi tak ada alasan buat memukulnya!!"

"Senpai Senpai, Senpai Haru! Kalau mau memukul disini♪ Ada Fuyuru kok, kapan saja kosong lho♪ Tempat Fuyuru yang di sini juga kapan saja terbuka lho~♪"

 

Sangat mudah dipahami hingga tak ada celah buat salah paham, dorongan rasa suka Koshino itu diabaikan seperti biasa oleh Haruya.

 

Dan Koshino tak pernah menyerah.

 

Ya...... sampai bikin heran, ini beneran OSIS seperti biasa.

 

Agak tidak sopan sih tapi konyol banget, sampai-sampai bikin merasa tenang. Akhirnya aku bisa menyandarkan tubuhku sepenuhnya ke sandaran kursi.

 

"......Kalau begitu sih, yah, gak apa-apa deh~. Iya, lega-lega."

 

Sambil berkata begitu.

 

Mungkin tidak suka duduk di atas tanganku, Rio mengubah posisinya menenggelamkan bokongnya di celah paha lalu melingkarkan tangannya ke leherku────lalu menempelkan rambut pink-nya ke dadaku.

 

"......Rio?"

 

"Pokoknya"

 

Sambil tertawa gemetaran seolah menggelitik, Rio berbicara.

"Pokoknya...... sampai aku berada di usia di mana bisa menyiapkan hadiah kelahirannya sendiri, kalau kamu mau menunggu rasanya aku bakal senang~. Kamu tahu kan? Uang jajan di rumahku itu sedikit lho~"

 

"......Iya-iya, aku paham kok."

 

Pasrah menyandarkan tubuhnya ke arahku tanpa segan, Rio mulai mengeluarkan suara napas tidur seperti biasa.

 

────Beneran...... isinya orang-orang aneh semua, dan juga.

 

Ruang OSIS yang entah kenapa terasa sangat nyaman.

 

Jam istirahat siang sudah melewati pertengahan────cahaya matahari di awal musim gugur hari ini terasa sangat hangat.

 

 

Kalau ketemu lagi nanti, bakal kupukul wajahnya sampai berubah bentuk.

 

Di hari Minggu yang dipenuhi rasa menyayat hati dan kebahagiaan, aku

membuat keputusan tegas itu saat datang ke sekolah hari ini demi melampiaskan kekesalan atas penghinaan yang mendadak teringat kembali. Anehnya tanpa sempat berpapasan dengan cewek gatal (hyena) itu, jam istirahat siang tahu-tahu sudah dimulai.

 

"............"

Seperti biasa mendekat merayap, anehnya hari ini menggabungkan meja di sudut ruang kelas.

 

Saling berhadapan muka makan bekal bersama. Berlima seperti biasa.

 

Bersama Sena dan Iruka-chan. Itu sih tak apa-apa. Sampai di situ tak masalah. Bisa kupahami. Habisnya seperti biasa, kan.

 

Tapi.

 

"......Tunggu dulu, Sena-chan."

 

"............Guk......"

 

Sambil berbicara dan melahap telur gulung, Iruka-chan...... di tangan kirinya yang berlawanan dari sumpit.

 

......Bagaimana pun dilihatnya, dia memegang pegangan tali penuntun anjing.

 

Ujung dari tali warna merah pekat seperti darah itu────terpasang di leher Sena yang kurus tak berguna, sebuah kalung leher yang mencolok.

 

Kalung leher berduri yang biasa dipakai anjing bulldog di kartun-kartun gitu.

 

............

 

............Eh, posisi apa ini.

 

"......? Ada apa, Shiori-chan......?"

 

"Secara menyeluruh itu kalimatku tahu!? Eh...... itu, apa...... apa? Beneran apa!? ............Eh, itu...... permainan model gitu?"

 

"......Bukan kemauanku, kok......"

 

Tumben alisnya melengkung cemas, sambil menghela napas Iruka-chan memberi alasan.

 

......Enggak, ini menyiksa tahu? Cukup parah malah.

 

Habisnya coba lihat di sebelah? Tadi gara-gara dibilang 'Tunggu', si Sena perutnya berbunyi nyaring banget tapi dia sama sekali tak menyentuh bekal ayam goreng porsi besar yang didapatnya dari kantin lho?

 

Tangannya terus ditaruh di atas paha...... malah kelihatannya sudah mau menangis tuh?

 

"............Sena?"

 

"......Hi, hihi, hi...... se-sebenarnya itu──"

 

"Sena."

 

────Suara dingin menancap di gendang telinga.

 

Iruka-chan menarik tali penuntunnya hingga meja bergerak kencang. Sena yang tak punya pilihan selain menuruti kalung lehernya ditarik ke arah Iruka-chan, hingga wajah mereka berhadapan di jarak nol.

 

"Sa......kit, Iruka-chan, bagaimanapun kamu kelewatan responsnya──"

 

"Hei, Sena."

 

……Cuma mendengarkannya saja sudah membuatku merinding, suara dingin setara nol mutlak.

 

Iruka-chan yang biasanya bersikap ramah dan menggemaskan tidak ada di sini. Suaranya gelap dan dingin bagaikan laut dalam, yang terpenting terasa sangat menekan hingga membuatku merinding ketakutan. Bentuk matanya sih seperti biasa, tapi pupil yang mengintip dari balik poninya sama sekali tidak memancarkan cahaya, bahkan tatapan matanya terasah sangat tajam.

 

"I--iya────Ugh!"

 

"Bukan 'iya' dong, ya...? Hei... Sena kan anjing, kan? Mana boleh... anjing bicara pakai bahasa manusia...?"

 

"Ugh...!"

 

"...Jawabannya?"

 

"Guk... guk, guk, guk..."

 

"............Tuh kan bisa kalau dicoba.... Fufufu, anak pintar, anak

pintar..."

 

"Ugh...!"

 

Srekh, srekh, srekh, srekh.

 

Seolah membisikkan suaranya langsung ke telinga, dia menggaruk pangkal rambut di tengkuknya. Biarpun Iruka-chan tersenyum sangat lembut... tapi Sena yang diperlakukan pasrah begitu memerah padam pipinya, sambil memejamkan matanya rapat-rapat seolah sedang menahannya.

 

............Eh? Jadi gara-gara ini dia memberi alasan tadi? Dengan keadaan mengenaskan begini!?

 

Bahkan sampai membuat suara kursi bergesek dengan lantai, aku beneran mundur satu langkah. Mungkin ini pertama kalinya dalam hidup aku merasa sangat ilfil. Bahkan lebih ilfil daripada saat tahu kelainan seksual Sena waktu itu.

 

"............Ke--kenapa... bagaimana bisa kalian punya hubungan kayak

begitu...?"

 

"Ugh... mak--makanya bukan begitu, ini bukan kemauanku...! Ka--kasih aku kesempatan menjelaskan...!"

Dari mode Ratu yang sudah sangat menyatu itu, dalam sekejap dia kembali jadi Iruka-chan yang santai seperti biasa.

 

Perubahan karakternya itu agak menakutkan sih... tapi jujur aku penasaran.

 

Lagipula Iruka-chan kan di pihak yang menggagalkan siasat Sena... bagi Sena dia itu pengganggu, kan? Tapi kenapa malah punya hubungan yang memainkan permainan model begini... bagaimana bisa jadi begini?

 

"Eto... Shiori-chan, apa kamu tahu kalau Sena itu... gak akur sama orang tuanya...?"

 

"...Maaf, baru dengar."

 

Tapi begitu dikatakan, aku bisa paham dan membatin 'Yah wajar saja sih'.

 

Dia itu cewek yang terus-terusan merebut pacar cewek lain cuma demi melihat wajah cewek-cewek itu terdistorsi oleh penghinaan. Masalah yang melibatkan orang tua pasti gampang membesar, dan tidak sulit dibayangkan kalau dia selalu bikin repot.

 

"...Terus, apa hubungannya hal itu sama situasi yang sekarang...?"

 

"...Kemarin lusa, si anjing pembangkang ini... melakukan hal buruk ke

Shiori-chan, kan... makanya ku-hubungi ayahnya Shiori-chan... terus dia kuserahkan... tapi ayahnya marah... lalu berniat memanggil orang tua si anjing... Sena..."

 

Aku tidak bakal memotong ucapannya.

 

Aku tidak bakal memotong ucapannya lho. Biarpun sesekali panggilannya mendadak rusak begitu, aku tak akan pernah memotong ucapannya.

 

"'Khusus hal itu tolong ampuni!!' gitu... sambil memohon dengan menyedihkan... makanya aku yang bertindak bertanggung jawab buat

memeliha... merawat Sena."

"...Terus gara-gara itu kalian menikmati permainan anjing begini?"

 

"Pe--pelatihan! ...Supaya dia... tak melakukan hal tidak berkeperikemanusiaan... lagi... supaya tak melukai orang lain lagi... makanya aku... melatihnya dengan ke--mengajarinya dengan tegas."

 

"............Oh, begitu ya, gitu ya~...... Semangat ya~..."

 

"Sh--Shiori-chan jangan menyerah dong!! Kali ini aku beneran bersujud minta maaf kok!! Soal keberadaan hak asasi manusiaku, tolong protes dengan lebih benar dong────Uwoh!?"

 

"Diam (stay). ...Sebelum aku bilang 'boleh'... dilarang bergerak, ya. Sena."

 

"Guh... guk...♪"

 

......Melihat Sena yang menaikkan sudut bibirnya dengan wajah seperti mau menangis lalu membeku total... aku jadi cemas.

 

Katanya bertanggung jawab memelihara, melatih, atau mengajarinya sih... tapi ini beneran jadi hukuman gak?

 

......Tumben-tumbennya dia makan siang di kelas, apa tujuannya buat dijadikan contoh dan dipamerkan, ya. Cowok-cowok yang pernah kena perangkap Sena bisa merasa puas, dan cewek-cewek yang pernah dilecehkan bisa beneran ilfil.

 

Kebencian dari cewek-cewek ke Iruka-chan yang merebut Sena mungkin bakal makin kuat sih.

 

Tapi hal itu juga sudah diperhitungkannya, kali ya.

 

......Baik banget, ya. Anak yang baik banget.

 

............Tak akan cukup ya, cuma pakai kata-kata pasaran begini saja.

 

"............Terima kasih, ya. Iruka-chan."

 

Tapi.

 

Aku tak punya ide bagus selain menyampaikan perasaanku secara jujur.

────Iruka-chan melongo membelalakkan matanya, lalu memiringkan kepalanya sedikit.

 

"............? Soal... apa...?"

 

"Soal kemarin lusa. ...Iruka-chan yang membawakan Onii-chan buatku, kan? ...Aku senang banget. Pas melihat wajah orang itu... aku merasa paling bahagia. Makanya, terima kasih."

 

Sambil berkata begitu, aku menundukkan kepalaku dalam-dalam hingga hampir menyentuh lutut.

 

────Saat menemukan Onii-chan yang dipandu oleh Iruka-chan dan bergegas datang ke tempatku.

 

Jantungku serasa mau meledak saking berdebar kencangnya.

 

Sampai-sampai aku lupa sama Kak Rio yang melumpuhkan Sena, maupun orang yang melepaskan borgolku, kesadaranku diwarnai penuh oleh Onii-chan seorang.

 

Bahwa aku sangat mencintai orang itu.

 

Padahal aku sudah memikirkannya ratusan kali────tapi saat itulah aku bisa menyadarinya dengan paling jelas.

 

"...Hei, Shiori-chan."

 

Saat dipanggil.

 

Begitu aku mendongakkan wajah... ada Iruka-chan yang tersenyum dengan bibir yang bergelombang.

 

"Iruka-chan...?"

 

"Aku, ya... sama Shiori-chan... menyukaimu, lho. Sangat menyukaimu.

...Bukan... sebagai teman..."

 

"............"

 

"Tapi... Shiori-chan yang kusukai... adalah Shiori-chan... yang sedang jatuh cinta... makanya, ya... Shiori-chan."

 

......Aku tahu suaranya sedang ditahan. Getaran halus di dasar suaranya tidak bisa disembunyikannya.

 

Meski begitu Iruka-chan sama sekali tidak memperlihatkan air mata.

 

Dia tersenyum sekuat tenaga, lalu memberikanku pemberkatan.

 

"Sama Onii-san yang sangat lembut, lembut banget sampai bikin iri itu...

kamu harus... bahagia, ya."

 

......Terhadap pengakuan yang pasti paling lembut dan paling menyayat

hati di dunia itu.

Aku mengangguk paling mantap di dunia, membusungkan dada lalu membalasnya.

 

"Iya...! Iya! Aku pasti bakal bahagia! Iruka-chan... terima kasih!"

 

Sambil mati-matian menahan rasa mau menangis, aku yang menolak sahabatku ini.

 

Bakal terus memegang teguh bentuk cinta yang kujanjikan di hari itu, aku sekali lagi berjanji dengan kuat di dalam hati.

 

 

"────Maaf Shiori! Bikin kamu menunggu!"

 

Kenji berlari menyusuri tangga menuju pintu keluar tempat cahaya matahari terbenam warna merah membara menembus masuk.

 

Shiori yang tidak membaca buku maupun bermain ponsel pintar, melainkan cuma bersandar di pilar sambil menunggu, langsung melepaskan punggungnya begitu mendengar suaranya. Selain beda kelas, Kenji juga anggota OSIS yang sangat sibuk. Ini adalah pertemuan mereka setelah sembilan jam berlalu sejak berangkat sekolah.

 

"...Ahaha, aku sama sekali tak menunggu kok. Aku juga baru keluar dari kelas menuju ke sini kok."

 

Sambil berputar kecil, Shiori melangkah mendekati Kenji.

Suaranya yang riang. Gerakan menari kecil yang murni memperlihatkan kegembiraannya. Untuk menyembunyikan rasa bahagianya saat bertemu kembali, dia bahkan belum terbiasa biarpun sudah 12 tahun berlalu.

 

"Hosh-hosh... maaf, ya. Tepat sebelum festival budaya begini, waktu keluarku jadi makin lambat... nanti kucoba bicarakan sama Rio supaya kamu boleh menunggu di ruang OSIS deh."

 

"Gak usah sampai sebegininya juga gak apa-apa kok. ...Yah kalau memikirkan Ibu sih aku paham kamu cemas, terlepas dari Ayah ya────Tapi, daripada itu."

 

Sambil membungkukkan badan merapikan napasnya, di jarak yang

membuat Shiori bisa merasakan langsung hembusan napas Kenji.

 

Shiori menggoyangkan helai rambut putihnya yang panjang hingga menyentuh tanah, lalu memiringkan kepalanya sedikit.

 

"Kamu sudah memberikan kue oleh-olehnya ke Kak Rio dan yang

lainnya dengan benar? Porsinya Iruka-chan sih sudah kuberikan sendiri."

 

"Iya, mereka senang kok. ...Tapi sebelum aku sempat mencicipinya, semuanya sudah dihabiskan duluan. Hahaha, sayang banget ya. Kalau

tahu begitu mending kumakan sembunyi-sembunyi duluan."

 

"Ahahaha, boleh juga tuh. Yah, besok-besok kalau pergi lagi ayo beli porsi buat kita berdua. Aku juga pengen coba kok."

"Benar juga ya. ............Ngomong-ngomong Shiori, itu... Karasawa-san, dia──"

 

"Aah.................... Pokoknya, bahayanya sudah tidak ada kok. Iya, kayaknya sih urusannya sudah beres... biarpun lewat bentuk yang sangat aneh sih..."

 

"? Maksudmu──"

 

"Ka--kalau sudah pulang baru kuceritakan! Soalnya... kondisinya agak sensitif kalau diceritakan di tempat umum..."

 

"Makin tidak paham maksudmu apa!?"

 

"U—udah gak apa-apa kok! Nah, kan?"

Kepada Kenji yang sama sekali tidak tahu situasi aktual yang jauh lebih mengejutkan daripada perkataannya, Shiori memutuskan untuk tidak menjelaskannya.

 

Tanpa meminta, merengek, atau menginginkannya, dia mengulurkan tangan kanannya secara sangat alami.

 

"Ayo pulang, Onii-chan."

 

"...Benar juga. Ayo pulang."

 

Kenji pun sama, tanpa meminta atau berniat menguasainya, dia menggenggam tangan itu seperti hal yang wajar.

Melingkarkan dan menggenggam jari satu sama lain────mereka melintasi lapangan, lalu melewati gerbang sekolah dengan perlahan.

 

"...Hei, Onii-chan."

 

────Tepat saat memasuki kawasan pemukiman warga yang sepi orang lalu lalang, Shiori melompat satu langkah ke depan. Tangan yang ditarik itu membuat pinggang Kenji sedikit membungkuk.

 

Kenji terperanjat saat menyadari tatapan mata yang tak bisa tersapu oleh cahaya matahari terbenam itu menancap padanya.

 

"...Shiori...?"

 

"Aku tuh, ...sudah menolak Iruka-chan, lho. Padahal dia sudah berlari keliling semalaman buat membongkar identitas Sena, membicarakannya sama Kak Rio dan yang lainnya, lalu datang menolongku... sahabatku yang berharga. Perasaan itu... kutolak. ────Padahal begitu, aku malah dibilang 'Bahagialah ya'."

 

"............"

 

 

"Agh, jujur saja! Kalau di sekolah, aku sempat berpikir... kalau kita bisa melakukan hal intim sembunyi-sembunyi. ......Makanya, waktu mendengar Ayah minta tolong ke mereka berdua buat jadi pengawas............ aku merasa kesal tahu. Aku emosi, gak bisa menerima. Sampai sekarang pun, masih sedikit............ tapi──"

"Kita ini dicintai banyak orang, ya."

 

Jari Kenji menyapu air mata yang menetes di pipi Shiori.

 

Shiori yang suaranya sudah basah oleh air mata tersenyum cemas, lalu mengangguk kuat sekali.

 

"Rio, si Haruya juga begitu. Yah biarpun di pihak kita ada satu orang yang boleh dikecualikan sih... tapi tampaknya kita ini diharapkan oleh banyak orang supaya tidak menghilang. Lewat kejadian kali ini, aku menyadarinya hingga meresap ke dalam hati."

 

"...Kelihatannya begitu. ...Jadi bikin repot kan. Kita jadi makin...... tak bisa melakukan hal intim lagi."

 

"Nngh, ............benar juga, ya..."

 

Hanya sesaat, getaran kecil skala satu melintas di benak Kenji.

 

Mendengar suara adik tiri kesayangannya (kekasihnya) yang menunduk dan menutupi wajahnya dengan bayangan.

 

Timbangan akal sehat yang selama ini dipertahankannya lewat menahannya, menahannya, menahannya, menahannya, menahannya di bawah sumpah, bergoyang kecil.

 

"............Shiori──"

 

"Tapi kan!"

 

Sebelum tangan kanan Kenji terulur buat memeluk tubuh ramping itu dengan lembut.

 

Tubuh Shiori yang sangat ringan itu menyerahkan seluruh dirinya tanpa pertahanan ke arah Kenji.

 

"Uwah!? Sh--Shiori?"

 

"Gak bisa melakukan hal intim pun, aku bakal terus melihat, mendengar, bicara, memahami, dan saling bersentuhan sama Onii-chan seperti sekarang! Kalau begitu kan! Pas saatnya bisa melakukan hal intim nanti, kita bakal makin, makin, makin, makin! Makin saling menyukai tahu!? Kita berdua! Hal itu... pasti paling hebat, kan!! Pastinya!!"

 

"............Beneran deh, aku gak pernah bisa menang kalau sama Shiori."

 

──Bagi Kenji, dia sendiri sudah tak tahu ini kali yang ke berapa.

Kepada gadis kecil, menggemaskan, kuat... dan sedikit lemah di depan matanya ini.

 

Ini sudah yang ke ratusan kali dia jatuh cinta lagi padanya────fakta bahwa dia tak menghitungnya mungkin adalah kecerobohan seumur

hidupnya.

"...Aku bakal makin menyukai Shiori melebihi yang sekarang ya. Hahaha, kalau begitu sih jantungku bisa-bisa tak sanggup menahannya terus pingsan nih."

 

"Agh... O—Onii-chan juga sama saja tahu!? Ya ampun, ya ampun!!"

 

Dengan mulut mana dia mengatakannya, Shiori melontarkan

keluhannya ke arah kakak tirinya yang tidak peka dan tidak sadar diri ini.

 

Gadis itu pun tak tahu sudah berapa ratus kali dibuat knockout

olehnya. Selama perasaan cinta ini terus berlanjut, dia bersyukur pertandingan ini terus berlanjut, dan hari ini pun dia melemparkan handuknya lagi.

 

Perlahan, sangat perlahan────matahari terbenam sebentar lagi.

 

Warna merah pekat yang memancar itu seolah-olah merasa malu di hadapan perasaan cinta mereka berdua, hingga tanpa sadar ingin bersembunyi.

Kata Penutup


Suatu sore di hari Tanabata yang cerah. Saat memandangi langit biru yang sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda bakal hujan, tiba-tiba aku berpikir.

 

Tahun ini Orihime dan Hikoboshi bisa bertemu dengan selamat, ya.

Enaknya~

 

......Ngomong-ngomong mereka berdua itu, gara-gara keasyikan bermain sempat dibikin ngamuk sekali sama Raja Langit, tapi biarpun begitu tetap tak kapok dan bermain terus makanya bisa jadi begitu ya

 

Hebat juga ya sempat dimaafkan sekali...... Gimana cara minta maafnya coba──

 

Kalau mereka sampai bersujud telanjang bulat kan lucu ya

 

Makanya dari situ (?) sekali lagi halo semuanya. Namaku Tomoka Hiiro.

 

Bercampur di antara kerumunan orang sambil membungkukkan badan, memikirkan berbagai hal. Begitulah caraku ingin hidup di tahun ke-19 kepenulisanku saat berusia 16 tahun ini. Akhir-akhir ini aku baru menyadari kelezatan kuah savarin.

 

Terima kasih banyak telah membaca karya ini. Berawal dari ide spontan seperti di awal tadi, isi maupun judul karya ini terus berubah berkali-kali hingga jatuh bangun, sampai akhirnya bisa sampai ke tangan para pembaca sekalian, dari lubuk hati yang paling dalam aku merasa sangat gembira. Dan jika boleh berharap, kalau karya ini bisa memberikan sedikit kesegaran dalam hidup orang-orang yang membacanya, tak ada kebahagiaan yang melebihi hal itu.

 

Menurut pendapat pribadiku, membaca buku itu adalah sebuah 'kelonggaran'. Bahkan kalau boleh jujur, itu adalah sebuah 'kesia-siaan'.

 

Tanpa membaca buku pun manusia tetap bisa hidup. Masih bisa tertawa gembira. Tak ada satu pun hal yang membikin repot.

 

Meskipun begitu, tetap ada orang-orang yang meluangkan waktu (hidup) mereka untuk tenggelam dalam membaca buku (kelonggaran).

 

Berkat dukungan dari orang-orang seperti itulah, orang seperti aku yang 'ingin menulis, menulis, dan terus menulis cerita' bisa terus bertahan hidup. Setelah memikirkan berbagai hal, pada akhirnya cuma rasa terima kasih yang bisa keluar, kenyataan bahwa karya ini dibaca dan membuat orang bersenang-senang dengan ceritaku adalah kebahagiaan yang sangat langka. Terima kasih banyak.

 

Kepada para pembaca sekalian, terima kasih juga kepada orang-orang yang telah mendukung keberuntungan hingga cerita ini bisa tersampaikan.

 

Kepada Kei Sazane-sensei, Koushi Tachibana-sensei, Hitsujitarou-sensei yang telah memungut karya ini di Fantasia Grand Prize ke-38, serta seluruh pihak yang terlibat dalam proses seleksi. Terima kasih banyak.

 

Terima kasih besar juga kepada editor penanggung jawab O-shi, dan Catto-sensei yang telah menggambar ilustrasi yang terlalu indah ini.

 

────Kalau begitu, sampai jumpa lagi. Semoga Putri Kaguya masih belum pulang ke bulan.

 

Hiiro Tomoka



Previous Chapter | ToC 

Post a Comment

Post a Comment

close