〈Epilog〉
Hasrat Cinta di Dasar Big Crunch
Jika sudah dibantu, dibalas dengan
kebaikan.
Aku dibesarkan dengan ditanamkan tata
cara manusia sejak zaman purba itu. Makanya pada tindakan ini sama sekali tak
ada niat buruk, siasat, maupun maksud terselubung. Baik aku maupun Shiori,
sangat wajar jika memilih pilihan ini.
"Kalian bertiga. Sekali lagi, soal
Shiori, terima kasih sudah membantunya. Terima kasih banyak sudah menolong anak
itu."
Hari Senin, seperti biasa di jam
istirahat siang, kepada orang-orang yang berkumpul di ruang OSIS.
Aku yang masuk terlambat langsung
menundukkan kepala dalam-dalam tepat setelah menutup pintu.
────Sebenarnya
masih ada hal lain yang harus kuucapkan terima kasih. Pada akhirnya aku kemarin
hari Minggu tak datang ke ruangan ini. Sama sekali tak melakukan pekerjaan
sebagai pengurus OSIS.
Tentu
saja, bukan sengaja membolos. Karena Rio kemarin lusa mengirimkan pesan, 『Besok
gak usah datang gak apa-apa kok~』, makanya aku menuruti kebaikannya. ...Sampai
akhirnya bisa pasrah menuruti kebaikannya, kami sempat terlibat perdebatan
sengit selama sekitar satu jam sih.
Teman masa kecil yang peka dan tahu
seluruh situasinya ini.
Pasti memikirkan Shiori melebihi siapa
pun.
Berkat hal itu...... Shiori tak tersiksa
oleh trauma, dan hari ini bisa masuk sekolah dengan ceria. Cuma dengan hal itu
saja aku sudah merasa gembira, dan yang terpenting, aku sangat berterima kasih.
Apakah aku bisa membalas kebaikan sebesar
itu, jujur terasa sangat meragukan.
Kumasukkan tanganku ke dalam tas, merogoh
benda yang paling keras dan besar, lalu mengeluarkannya dan menaruhnya di atas
meja.
"H,
Hei, hei Kenji! Itu kan──"
"......Kalau ucapan terima kasih
bakal kubalas lewat pekerjaan, tapi kalau ini barang permintaan maaf. Silakan
dimakan bareng-bareng."
Sambil melepas selotip yang melingkari
pinggiran tutupnya, kuthunjukkan kaleng persegi itu ke mereka bertiga.
Koshino tersenyum menyeringai, Rio cuma
berjalan dengan santai dan mengantuk dari kursi Ketua di belakang, sementara
Haruya membelalakkan matanya secara berlebihan sampai bersandar ke
belakang...... entah kenapa kelihatan agak lucu.
"Oleh-oleh wajib Galactica Land!
Kaleng kue yang dirumorkan dibuat sama produsen kue mewah tertentu, yang
harganya hampir sepuluh ribu yen per kaleng itu kan! ......T--tidak usah, tidak
usah tidak usah aku tidak bisa menerimanya! Ini sih terlalu mewah! Aku kan cuma
menghentikan cewek psiko itu sebentar di akhir saja tahu!?"
"Kamu tumben rendah hati ya......
dan kamu seperti biasa tak tahu malu ya, Koshino."
"Uwoh!? Fuyuru kamu jangan naik ke
atas meja jangan duduk di sana jangan dimakan serakus itu dong!"
"Sudah-sudah Senpai Haru. Nih, aaa-nn♪"
"Agh!? ......Ngunyag-ngunyag......"
Dari
posisi duduk bersila Koshino memajukan tubuhnya, menjejalkan kue yang diisi
selai ke dalam mulut Haruya. ......Kalau cuma melihat ekspresi wajahnya sih
penampilannya bagaikan Bunda Maria yang penuh kelembutan, tapi tindakannya
kelewat liar ya...... Mau bagaimana lagi, Haruya yang bersikap manis sesuai
rasa suka yang ditunjukkan Koshino tak bisa bilang apa-apa────sebagai gantinya
Koshino yang merasa menang mengeluarkan tawa seperti penjahat kecil Kukuku.
"Buat ukuran Senpai ternyata peka
juga ya. Daripada mengorbankan hari libur, justru mengorbankan hari masuk kerja
demi membantu kencan Senpai yang seperti ini ternyata ada hasilnya juga
ya."
Sambil berbicara tangannya tak berhenti,
menguras kue-kue yang tersusun rapat di dalam kaleng ke dalam perutnya.
......Ini padahal jam istirahat siang, apa dia belum makan siang ya.
"Nn. Enak."
Kriuk, kriuk, sambil
memperdengarkan suara kunyahan yang renyah, berjalan dengan santai.
Tubuh mungil Rio Yumizuka tanpa disadari
sudah mendekat tepat di sampingku.
"Rio......
terima kasih ya, bukan cuma kemarin lusa tapi sampai kemarin juga──"
"Hop"
"U, U—woh!?"
────Perbedaan
tinggi badan sekitar 20 cm.
Demi
memangkas jarak itu hingga mendekati nol────Rio melompat secara vertikal,
melingkarkan lengan kurusnya ke leherku.
Aku refleks menahan beban...... tapi
biarpun bertubuh mungil, menopang anak cewek SMA cuma pakai leher rasanya
lumayan menyiksa.
Sambil mendengar suara otot yang
berderit, kutempelkan tanganku ke pinggang Rio yang tergantung lemas dan sama
sekali tak berpertahanan.
"....... Ken-chan, geli tahu~"
"Mohon maaf ya...... leherku di sini
sudah mencapai batasnya nih...!"
"Terus? Bagaimana?"
"......Bagaimana
apanya...... kamu lagi menanyakan soal yang mana──"
"Soal
pinggang empukku yang............ Kemarin lusa, setelah kamu kabur dari Sena
Karasawa maupun dari kami────bagaimana hasilnya?"
"Mata seriusmu itu terlambat sekitar
sepuluh detik tahu."
Karena dia sama sekali tak mau melepaskan
leherku, mau tak mau kuangkat tubuh Rio sepenuhnya.
Biarpun bertubuh mungil, dia agak lebih
besar sedikit daripada Shiori sih, soal tinggi badan. Tak kuucapkan di mulut
tapi jujur saja berat, jadi...... seperti yang biasa dilakukan ke anak kecil,
kulipat kedua tanganku dan meletakkannya di bawah bokongnya buat dijadikan
dudukan. Lalu aku duduk di kursi lipat...... dengan begini yah, bisa mengulur
waktu beberapa menit sampai tanganku kesemutan.
Ditanya hal yang wajar, dan menjawab
adalah kewajiban, waktu buat membalas pertanyaan itu.
"Nn, makasih. Terus? Bagaimana
hasilnya? ......Tak melakukan hal yang mencurigakan, kan? Bisa membusungkan
dada dengan benar?"
Sambil menggesekkan pipinya ke dadaku,
Rio menatap mataku seolah ingin mengintip ke dalam.
Kebohongan atau alasan tak bakal mempan
padanya. Dari dulu memang begitu. Sudah tak terhitung berapa kali aku curiga
kalau dia ini punya kemampuan membaca pikiran.
"......Ciuman, sudah kok. Cuma
sekali."
Makanya.
Aku mengaku secara jujur dan polos.
────Seketika,
wajah Haruya berubah merah kehitaman bagaikan
pemanas air instan, lalu menggebrak meja
dengan kekuatan luar biasa. Begitu dahsyat hingga bukan cuma kaleng kue, bahkan
Rio yang duduk di paha pun ikut terangkat sedikit.
"U—woh!?"
"Ciuman......
ciuman kamu bilang!? Brengsek kamu Kenji──"
"────Aneh......
banget ya, Senior Amakawa."
....... Kepalan tangan Haruya yang
mengepal erat. Matanya yang seolah mau mengeluarkan air mata darah.
Yang
melonggarkan, meredakan, dan menghentikannya────adalah
Koshino Fuyuru yang sedang duduk bersila
di atas meja sambil melahap kue.
"....... Ko--shino......?"
"Fuyuru......!?
Kamu, ke Kenji yang sangat kamu benci itu, panggilannya kok──"
"Monyet-monyet yang cuma seminggu
lalu kalah sama nafsu daging dan hampir kawin itu, sekarang malah cuma
menyelesaikannya pakai ciuman mulut doang. Hu~~mn............ Yah, buat ukuran
monyet bukannya itu keputusan yang bijak? Buat Fuyuru sih, gara-gara tak bisa
memecat Senpai dari OSIS jadinya cuma
buang-buang tenaga saja tahu."
"...................P--pertama-tama......"
Urat biru menonjol di keningku, bahkan
tanpa cermin pun aku bisa mengetahuinya. Bisa kuketahui lewat rasa sakit.
Kalau cuma menghinaku sih aku sudah
terbiasa jadi tak peduli...... tapi kalau Shiori sampai ikut terseret, rasanya
aku tak bisa tetap tenang.
Tampaknya aku tak 'selembut' seperti yang
dikatakan Shiori atau Rio.
"Lewat hinaan ke adik tiriku tadi,
Koshino, tiket hari H yang kamu terbitkan secara ilegal dan gratis itu kuanggap
lunas saja gak apa-apa, kan? Artinya aku bisa berhubungan denganmu tanpa ada
hutang budi atau rasa bersalah lagi, kan......?"
"Silakan sesukamu~~. Lagian Senpai
yang tunduk-tunduk gitu malah kelihatan jijik kok."
Sambil memasukkan kue-kue ke dalam
perutnya secara berurutan, Koshino menyeringai memperlihatkan giginya dengan
menyebalkan.
......Nishijo-san
sih kelihatannya berhasil dibohongi, tapi kalau sampai ketahuan ini beneran
tindakan kriminal (peretasan) yang gawat tahu....... Karena sudah ditolong aku
jadi sulit komplain sih...... tapi terlepas dari Rio, tumben Haruya bisa
membiarkannya. Beneran deh, anak ini juga seperti biasa bersikap manis ke
Koshino──
"......Apa ya, perasaan......
kekalahan ini......?"
──Haruya
yang seperti itu memegangi kepalanya sambil sempoyongan.
Dia terduduk lemas di tempat lalu
bergumam tak jelas. ......Bagus deh kalau amarahnya sudah mereda...... tapi
kali ini secara serius apa yang diucapkannya beneran tak dipahami maksudnya.
"Atau, rasa kesal ya......?
Ugh...... Padahal belum melakukan hal intim, tapi rasanya seperti didahului
menaiki tangga orang dewasa...... menyebalkan, bikin iri...... tapi tak ada
alasan buat memukulnya!!"
"Senpai
Senpai, Senpai Haru! Kalau mau memukul di・si・ni♪
Ada Fuyuru kok, kapan saja kosong lho♪ Tempat Fuyuru yang di sini juga kapan
saja terbuka lho~♪"
Sangat mudah dipahami hingga tak ada
celah buat salah paham, dorongan rasa suka Koshino itu diabaikan seperti biasa
oleh Haruya.
Dan Koshino tak pernah menyerah.
Ya...... sampai bikin heran, ini beneran
OSIS seperti biasa.
Agak tidak sopan sih tapi konyol banget,
sampai-sampai bikin merasa tenang. Akhirnya aku bisa menyandarkan tubuhku
sepenuhnya ke sandaran kursi.
"......Kalau begitu sih, yah, gak
apa-apa deh~. Iya, lega-lega."
Sambil berkata begitu.
Mungkin
tidak suka duduk di atas tanganku, Rio mengubah posisinya menenggelamkan
bokongnya di celah paha lalu melingkarkan tangannya ke leherku────lalu
menempelkan rambut pink-nya ke dadaku.
"......Rio?"
"Pokoknya"
Sambil tertawa gemetaran seolah
menggelitik, Rio berbicara.
"Pokoknya...... sampai aku berada di
usia di mana bisa menyiapkan hadiah kelahirannya sendiri, kalau kamu mau
menunggu rasanya aku bakal senang~. Kamu tahu kan? Uang jajan di rumahku itu
sedikit lho~"
"......Iya-iya, aku paham kok."
Pasrah menyandarkan tubuhnya ke arahku
tanpa segan, Rio mulai mengeluarkan suara napas tidur seperti biasa.
────Beneran......
isinya orang-orang aneh semua, dan juga.
Ruang OSIS yang entah kenapa terasa
sangat nyaman.
Jam
istirahat siang sudah melewati pertengahan────cahaya matahari di awal musim
gugur hari ini terasa sangat hangat.
♀
Kalau ketemu lagi nanti, bakal kupukul
wajahnya sampai berubah bentuk.
Di hari Minggu yang dipenuhi rasa
menyayat hati dan kebahagiaan, aku
membuat keputusan tegas itu saat datang
ke sekolah hari ini demi melampiaskan kekesalan atas penghinaan yang mendadak
teringat kembali. Anehnya tanpa sempat berpapasan dengan cewek gatal (hyena)
itu, jam istirahat siang tahu-tahu sudah dimulai.
"............"
Seperti biasa mendekat merayap, anehnya
hari ini menggabungkan meja di sudut ruang kelas.
Saling berhadapan muka makan bekal
bersama. Berlima seperti biasa.
Bersama Sena dan Iruka-chan. Itu sih tak
apa-apa. Sampai di situ tak masalah. Bisa kupahami. Habisnya seperti biasa,
kan.
Tapi.
"......Tunggu dulu, Sena-chan."
"............Guk......"
Sambil berbicara dan melahap telur
gulung, Iruka-chan...... di tangan kirinya yang berlawanan dari sumpit.
......Bagaimana pun dilihatnya, dia
memegang pegangan tali penuntun anjing.
Ujung
dari tali warna merah pekat seperti darah itu────terpasang di leher Sena yang
kurus tak berguna, sebuah kalung leher yang mencolok.
Kalung leher berduri yang biasa dipakai
anjing bulldog di kartun-kartun gitu.
............
............Eh, posisi apa ini.
"......? Ada apa,
Shiori-chan......?"
"Secara menyeluruh itu kalimatku
tahu!? Eh...... itu, apa...... apa? Beneran apa!? ............Eh, itu......
permainan model gitu?"
"......Bukan kemauanku,
kok......"
Tumben alisnya melengkung cemas, sambil
menghela napas Iruka-chan memberi alasan.
......Enggak, ini menyiksa tahu? Cukup
parah malah.
Habisnya coba lihat di sebelah? Tadi
gara-gara dibilang 'Tunggu', si Sena perutnya berbunyi nyaring banget tapi dia
sama sekali tak menyentuh bekal ayam goreng porsi besar yang didapatnya dari
kantin lho?
Tangannya terus ditaruh di atas
paha...... malah kelihatannya sudah mau menangis tuh?
"............Sena?"
"......Hi,
hihi, hi...... se-sebenarnya itu──"
"Sena."
────Suara
dingin menancap di gendang telinga.
Iruka-chan menarik tali penuntunnya
hingga meja bergerak kencang. Sena yang tak punya pilihan selain menuruti
kalung lehernya ditarik ke arah Iruka-chan, hingga wajah mereka berhadapan di
jarak nol.
"Sa......kit,
Iruka-chan, bagaimanapun kamu kelewatan responsnya──"
"Hei, Sena."
……Cuma mendengarkannya saja sudah
membuatku merinding, suara dingin setara nol mutlak.
Iruka-chan yang biasanya bersikap ramah
dan menggemaskan tidak ada di sini. Suaranya gelap dan dingin bagaikan laut
dalam, yang terpenting terasa sangat menekan hingga membuatku merinding
ketakutan. Bentuk matanya sih seperti biasa, tapi pupil yang mengintip dari
balik poninya sama sekali tidak memancarkan cahaya, bahkan tatapan matanya
terasah sangat tajam.
"I--iya────Ugh!"
"Bukan 'iya' dong, ya...? Hei...
Sena kan anjing, kan? Mana boleh... anjing bicara pakai bahasa
manusia...?"
"Ugh...!"
"...Jawabannya?"
"Guk... guk, guk, guk..."
"............Tuh kan bisa kalau
dicoba.... Fufufu, anak pintar, anak
pintar..."
"Ugh...!"
Srekh, srekh, srekh, srekh.
Seolah membisikkan suaranya langsung ke
telinga, dia menggaruk pangkal rambut di tengkuknya. Biarpun Iruka-chan
tersenyum sangat lembut... tapi Sena yang diperlakukan pasrah begitu memerah
padam pipinya, sambil memejamkan matanya rapat-rapat seolah sedang menahannya.
............Eh? Jadi gara-gara ini dia
memberi alasan tadi? Dengan keadaan mengenaskan begini!?
Bahkan sampai membuat suara kursi
bergesek dengan lantai, aku beneran mundur satu langkah. Mungkin ini pertama
kalinya dalam hidup aku merasa sangat ilfil. Bahkan lebih ilfil daripada saat
tahu kelainan seksual Sena waktu itu.
"............Ke--kenapa... bagaimana
bisa kalian punya hubungan kayak
begitu...?"
"Ugh... mak--makanya bukan begitu,
ini bukan kemauanku...! Ka--kasih aku kesempatan menjelaskan...!"
Dari mode Ratu yang sudah sangat menyatu
itu, dalam sekejap dia kembali jadi Iruka-chan yang santai seperti biasa.
Perubahan karakternya itu agak menakutkan
sih... tapi jujur aku penasaran.
Lagipula Iruka-chan kan di pihak yang
menggagalkan siasat Sena... bagi Sena dia itu pengganggu, kan? Tapi kenapa
malah punya hubungan yang memainkan permainan model begini... bagaimana bisa
jadi begini?
"Eto... Shiori-chan, apa kamu tahu
kalau Sena itu... gak akur sama orang tuanya...?"
"...Maaf, baru dengar."
Tapi begitu dikatakan, aku bisa paham dan
membatin 'Yah wajar saja sih'.
Dia itu cewek yang terus-terusan merebut
pacar cewek lain cuma demi melihat wajah cewek-cewek itu terdistorsi oleh
penghinaan. Masalah yang melibatkan orang tua pasti gampang membesar, dan tidak
sulit dibayangkan kalau dia selalu bikin repot.
"...Terus, apa hubungannya hal itu
sama situasi yang sekarang...?"
"...Kemarin lusa, si anjing
pembangkang ini... melakukan hal buruk ke
Shiori-chan, kan... makanya ku-hubungi
ayahnya Shiori-chan... terus dia kuserahkan... tapi ayahnya marah... lalu
berniat memanggil orang tua si anjing... Sena..."
Aku tidak bakal memotong ucapannya.
Aku tidak bakal memotong ucapannya lho.
Biarpun sesekali panggilannya mendadak rusak begitu, aku tak akan pernah
memotong ucapannya.
"'Khusus hal itu tolong ampuni!!'
gitu... sambil memohon dengan menyedihkan... makanya aku yang bertindak
bertanggung jawab buat
memeliha... merawat Sena."
"...Terus gara-gara itu kalian
menikmati permainan anjing begini?"
"Pe--pelatihan! ...Supaya dia... tak
melakukan hal tidak berkeperikemanusiaan... lagi... supaya tak melukai orang
lain lagi... makanya aku... melatihnya dengan ke--mengajarinya dengan
tegas."
"............Oh, begitu ya, gitu
ya~...... Semangat ya~..."
"Sh--Shiori-chan
jangan menyerah dong!! Kali ini aku beneran bersujud minta maaf kok!! Soal
keberadaan hak asasi manusiaku, tolong protes dengan lebih benar
dong────Uwoh!?"
"Diam (stay). ...Sebelum aku bilang
'boleh'... dilarang bergerak, ya. Sena."
"Guh... guk...♪"
......Melihat Sena yang menaikkan sudut
bibirnya dengan wajah seperti mau menangis lalu membeku total... aku jadi
cemas.
Katanya bertanggung jawab memelihara,
melatih, atau mengajarinya sih... tapi ini beneran jadi hukuman gak?
......Tumben-tumbennya dia makan siang di
kelas, apa tujuannya buat dijadikan contoh dan dipamerkan, ya. Cowok-cowok yang
pernah kena perangkap Sena bisa merasa puas, dan cewek-cewek yang pernah
dilecehkan bisa beneran ilfil.
Kebencian dari cewek-cewek ke Iruka-chan
yang merebut Sena mungkin bakal makin kuat sih.
Tapi hal itu juga sudah
diperhitungkannya, kali ya.
......Baik banget, ya. Anak yang baik
banget.
............Tak akan cukup ya, cuma pakai
kata-kata pasaran begini saja.
"............Terima kasih, ya.
Iruka-chan."
Tapi.
Aku tak punya ide bagus selain
menyampaikan perasaanku secara jujur.
────Iruka-chan
melongo membelalakkan matanya, lalu memiringkan kepalanya sedikit.
"............? Soal... apa...?"
"Soal kemarin lusa. ...Iruka-chan
yang membawakan Onii-chan buatku, kan? ...Aku senang banget. Pas melihat wajah
orang itu... aku merasa paling bahagia. Makanya, terima kasih."
Sambil berkata begitu, aku menundukkan
kepalaku dalam-dalam hingga hampir menyentuh lutut.
────Saat
menemukan Onii-chan yang dipandu oleh Iruka-chan dan bergegas datang ke
tempatku.
Jantungku serasa mau meledak saking
berdebar kencangnya.
Sampai-sampai aku lupa sama Kak Rio yang
melumpuhkan Sena, maupun orang yang melepaskan borgolku, kesadaranku diwarnai
penuh oleh Onii-chan seorang.
Bahwa aku sangat mencintai orang itu.
Padahal
aku sudah memikirkannya ratusan kali────tapi saat itulah aku bisa menyadarinya
dengan paling jelas.
"...Hei, Shiori-chan."
Saat dipanggil.
Begitu aku mendongakkan wajah... ada
Iruka-chan yang tersenyum dengan bibir yang bergelombang.
"Iruka-chan...?"
"Aku, ya... sama Shiori-chan...
menyukaimu, lho. Sangat menyukaimu.
...Bukan... sebagai teman..."
"............"
"Tapi... Shiori-chan yang kusukai...
adalah Shiori-chan... yang sedang jatuh cinta... makanya, ya...
Shiori-chan."
......Aku tahu suaranya sedang ditahan.
Getaran halus di dasar suaranya tidak bisa disembunyikannya.
Meski begitu Iruka-chan sama sekali tidak
memperlihatkan air mata.
Dia tersenyum sekuat tenaga, lalu
memberikanku pemberkatan.
"Sama Onii-san yang sangat lembut,
lembut banget sampai bikin iri itu...
kamu harus... bahagia, ya."
......Terhadap pengakuan yang pasti
paling lembut dan paling menyayat
hati di dunia itu.
Aku mengangguk paling mantap di dunia,
membusungkan dada lalu membalasnya.
"Iya...! Iya! Aku pasti bakal
bahagia! Iruka-chan... terima kasih!"
Sambil mati-matian menahan rasa mau
menangis, aku yang menolak sahabatku ini.
Bakal terus memegang teguh bentuk cinta
yang kujanjikan di hari itu, aku sekali lagi berjanji dengan kuat di dalam
hati.
†
"────Maaf
Shiori! Bikin kamu menunggu!"
Kenji berlari menyusuri tangga menuju
pintu keluar tempat cahaya matahari terbenam warna merah membara menembus
masuk.
Shiori yang tidak membaca buku maupun
bermain ponsel pintar, melainkan cuma bersandar di pilar sambil menunggu,
langsung melepaskan punggungnya begitu mendengar suaranya. Selain beda kelas,
Kenji juga anggota OSIS yang sangat sibuk. Ini adalah pertemuan mereka setelah
sembilan jam berlalu sejak berangkat sekolah.
"...Ahaha, aku sama sekali tak
menunggu kok. Aku juga baru keluar dari kelas menuju ke sini kok."
Sambil berputar kecil, Shiori melangkah
mendekati Kenji.
Suaranya yang riang. Gerakan menari kecil
yang murni memperlihatkan kegembiraannya. Untuk menyembunyikan rasa bahagianya
saat bertemu kembali, dia bahkan belum terbiasa biarpun sudah 12 tahun berlalu.
"Hosh-hosh... maaf, ya. Tepat
sebelum festival budaya begini, waktu keluarku jadi makin lambat... nanti
kucoba bicarakan sama Rio supaya kamu boleh menunggu di ruang OSIS deh."
"Gak
usah sampai sebegininya juga gak apa-apa kok. ...Yah kalau memikirkan Ibu sih
aku paham kamu cemas, terlepas dari Ayah ya────Tapi, daripada itu."
Sambil membungkukkan badan merapikan
napasnya, di jarak yang
membuat Shiori bisa merasakan langsung
hembusan napas Kenji.
Shiori menggoyangkan helai rambut
putihnya yang panjang hingga menyentuh tanah, lalu memiringkan kepalanya
sedikit.
"Kamu sudah memberikan kue
oleh-olehnya ke Kak Rio dan yang
lainnya dengan benar? Porsinya Iruka-chan
sih sudah kuberikan sendiri."
"Iya, mereka senang kok. ...Tapi
sebelum aku sempat mencicipinya, semuanya sudah dihabiskan duluan. Hahaha,
sayang banget ya. Kalau
tahu begitu mending kumakan
sembunyi-sembunyi duluan."
"Ahahaha, boleh juga tuh. Yah,
besok-besok kalau pergi lagi ayo beli porsi buat kita berdua. Aku juga pengen
coba kok."
"Benar
juga ya. ............Ngomong-ngomong Shiori, itu... Karasawa-san, dia──"
"Aah.................... Pokoknya,
bahayanya sudah tidak ada kok. Iya, kayaknya sih urusannya sudah beres...
biarpun lewat bentuk yang sangat aneh sih..."
"?
Maksudmu──"
"Ka--kalau sudah pulang baru
kuceritakan! Soalnya... kondisinya agak sensitif kalau diceritakan di tempat
umum..."
"Makin tidak paham maksudmu
apa!?"
"U—udah gak apa-apa kok! Nah,
kan?"
Kepada Kenji yang sama sekali tidak tahu
situasi aktual yang jauh lebih mengejutkan daripada perkataannya, Shiori
memutuskan untuk tidak menjelaskannya.
Tanpa meminta, merengek, atau
menginginkannya, dia mengulurkan tangan kanannya secara sangat alami.
"Ayo pulang, Onii-chan."
"...Benar juga. Ayo pulang."
Kenji pun sama, tanpa meminta atau
berniat menguasainya, dia menggenggam tangan itu seperti hal yang wajar.
Melingkarkan
dan menggenggam jari satu sama lain────mereka melintasi lapangan, lalu melewati
gerbang sekolah dengan perlahan.
"...Hei, Onii-chan."
────Tepat
saat memasuki kawasan pemukiman warga yang sepi orang lalu lalang, Shiori
melompat satu langkah ke depan. Tangan yang ditarik itu membuat pinggang Kenji
sedikit membungkuk.
Kenji terperanjat saat menyadari tatapan
mata yang tak bisa tersapu oleh cahaya matahari terbenam itu menancap padanya.
"...Shiori...?"
"Aku
tuh, ...sudah menolak Iruka-chan, lho. Padahal dia sudah berlari keliling
semalaman buat membongkar identitas Sena, membicarakannya sama Kak Rio dan yang
lainnya, lalu datang menolongku... sahabatku yang berharga. Perasaan itu...
kutolak. ────Padahal begitu, aku malah dibilang 'Bahagialah ya'."
"............"
"Agh,
jujur saja! Kalau di sekolah, aku sempat berpikir... kalau kita bisa melakukan
hal intim sembunyi-sembunyi. ......Makanya, waktu mendengar Ayah minta tolong
ke mereka berdua buat jadi pengawas............ aku merasa kesal tahu. Aku
emosi, gak bisa menerima. Sampai sekarang pun, masih sedikit............
tapi──"
"Kita ini dicintai banyak orang,
ya."
Jari Kenji menyapu air mata yang menetes
di pipi Shiori.
Shiori yang suaranya sudah basah oleh air
mata tersenyum cemas, lalu mengangguk kuat sekali.
"Rio, si Haruya juga begitu. Yah
biarpun di pihak kita ada satu orang yang boleh dikecualikan sih... tapi
tampaknya kita ini diharapkan oleh banyak orang supaya tidak menghilang. Lewat
kejadian kali ini, aku menyadarinya hingga meresap ke dalam hati."
"...Kelihatannya begitu. ...Jadi
bikin repot kan. Kita jadi makin...... tak bisa melakukan hal intim lagi."
"Nngh, ............benar juga,
ya..."
Hanya sesaat, getaran kecil skala satu
melintas di benak Kenji.
Mendengar suara adik tiri kesayangannya
(kekasihnya) yang menunduk dan menutupi wajahnya dengan bayangan.
Timbangan akal sehat yang selama ini
dipertahankannya lewat menahannya, menahannya, menahannya, menahannya,
menahannya di bawah sumpah, bergoyang kecil.
"............Shiori──"
"Tapi kan!"
Sebelum tangan kanan Kenji terulur buat
memeluk tubuh ramping itu dengan lembut.
Tubuh Shiori yang sangat ringan itu
menyerahkan seluruh dirinya tanpa pertahanan ke arah Kenji.
"Uwah!? Sh--Shiori?"
"Gak bisa melakukan hal intim pun,
aku bakal terus melihat, mendengar, bicara, memahami, dan saling bersentuhan
sama Onii-chan seperti sekarang! Kalau begitu kan! Pas saatnya bisa melakukan
hal intim nanti, kita bakal makin, makin, makin, makin! Makin saling menyukai
tahu!? Kita berdua! Hal itu... pasti paling hebat, kan!! Pastinya!!"
"............Beneran deh, aku gak
pernah bisa menang kalau sama Shiori."
──Bagi
Kenji, dia sendiri sudah tak tahu ini kali yang ke berapa.
Kepada gadis kecil, menggemaskan, kuat...
dan sedikit lemah di depan matanya ini.
Ini
sudah yang ke ratusan kali dia jatuh cinta lagi padanya────fakta bahwa dia tak
menghitungnya mungkin adalah kecerobohan seumur
hidupnya.
"...Aku bakal makin menyukai Shiori
melebihi yang sekarang ya. Hahaha, kalau begitu sih jantungku bisa-bisa tak
sanggup menahannya terus pingsan nih."
"Agh... O—Onii-chan juga sama saja
tahu!? Ya ampun, ya ampun!!"
Dengan mulut mana dia mengatakannya,
Shiori melontarkan
keluhannya ke arah kakak tirinya yang
tidak peka dan tidak sadar diri ini.
Gadis itu pun tak tahu sudah berapa ratus
kali dibuat knockout
olehnya. Selama perasaan cinta ini terus
berlanjut, dia bersyukur pertandingan ini terus berlanjut, dan hari ini pun dia
melemparkan handuknya lagi.
Perlahan,
sangat perlahan────matahari terbenam sebentar lagi.
Warna merah pekat yang memancar itu
seolah-olah merasa malu di hadapan perasaan cinta mereka berdua, hingga tanpa
sadar ingin bersembunyi.
Suatu sore di hari Tanabata yang cerah.
Saat memandangi langit biru yang sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda bakal
hujan, tiba-tiba aku berpikir.
『Tahun ini Orihime dan Hikoboshi bisa bertemu
dengan selamat, ya.
Enaknya~』
『......Ngomong-ngomong mereka berdua itu,
gara-gara keasyikan bermain sempat dibikin ngamuk sekali sama Raja Langit, tapi
biarpun begitu tetap tak kapok dan bermain terus makanya bisa jadi begitu ya』
『Hebat juga ya sempat dimaafkan sekali......
Gimana cara minta maafnya coba──』
『Kalau mereka sampai bersujud telanjang bulat kan
lucu ya』
Makanya dari situ (?) sekali lagi halo
semuanya. Namaku Tomoka Hiiro.
Bercampur di antara kerumunan orang
sambil membungkukkan badan, memikirkan berbagai hal. Begitulah caraku ingin
hidup di tahun ke-19 kepenulisanku saat berusia 16 tahun ini. Akhir-akhir ini
aku baru menyadari kelezatan kuah savarin.
Terima kasih banyak telah membaca karya
ini. Berawal dari ide spontan seperti di awal tadi, isi maupun judul karya ini
terus berubah berkali-kali hingga jatuh bangun, sampai akhirnya bisa sampai ke
tangan para pembaca sekalian, dari lubuk hati yang paling dalam aku merasa
sangat gembira. Dan jika boleh berharap, kalau karya ini bisa memberikan
sedikit kesegaran dalam hidup orang-orang yang membacanya, tak ada kebahagiaan
yang melebihi hal itu.
Menurut pendapat pribadiku, membaca buku
itu adalah sebuah 'kelonggaran'. Bahkan kalau boleh jujur, itu adalah sebuah
'kesia-siaan'.
Tanpa membaca buku pun manusia tetap bisa
hidup. Masih bisa tertawa gembira. Tak ada satu pun hal yang membikin repot.
Meskipun begitu, tetap ada orang-orang
yang meluangkan waktu (hidup) mereka untuk tenggelam dalam membaca buku
(kelonggaran).
Berkat dukungan dari orang-orang seperti
itulah, orang seperti aku yang 'ingin menulis, menulis, dan terus menulis
cerita' bisa terus bertahan hidup. Setelah memikirkan berbagai hal, pada
akhirnya cuma rasa terima kasih yang bisa keluar, kenyataan bahwa karya ini
dibaca dan membuat orang bersenang-senang dengan ceritaku adalah kebahagiaan
yang sangat langka. Terima kasih banyak.
Kepada para pembaca sekalian, terima
kasih juga kepada orang-orang yang telah mendukung keberuntungan hingga cerita
ini bisa tersampaikan.
Kepada Kei Sazane-sensei, Koushi
Tachibana-sensei, Hitsujitarou-sensei yang telah memungut karya ini di Fantasia
Grand Prize ke-38, serta seluruh pihak yang terlibat dalam proses seleksi.
Terima kasih banyak.
Terima kasih besar juga kepada editor
penanggung jawab O-shi, dan Catto-sensei yang telah menggambar ilustrasi yang
terlalu indah ini.
────Kalau
begitu, sampai jumpa lagi. Semoga Putri Kaguya masih belum pulang ke bulan.
Hiiro Tomoka



Post a Comment