NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kyoto Nadeshiko Kiyoko-san no Junjo Uraomote V1 Chapter 5

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Chapter 5

Kelas Sains Anak-Anak dan Teman-Teman Kelas 2-3

1


Dazai Taishi adalah satu dari sedikit teman yang dimiliki oleh Torame Kouya. Bukan, daripada disebut teman, mungkin ekspresi yang lebih tepat adalah sahabat karib.


Bagaimanapun juga, Torame Kouya sesekali memang sering menghabiskan waktu bersama Dazai Taishi, teman sekelas yang sudah dianggapnya sebagai salah satu jenis sahabat itu.


"Makan marshmallow yang dibakar pakai pemantik gas begini memang yang terbaik! Lihat, daya bakar super ini! Hahaha! Marsmallownya meleleh seperti longsor salju sambil berubah jadi gosong hitam!!"


Ruang laboratorium sains setelah jam pulang sekolah. Pada pintu yang tertutup rapat, tergantung sebuah papan bertuliskan 'Sedang Digunakan Oleh Klub Sains'.


Kouya, seorang anggota bayangan yang meminjamkan namanya ke dalam daftar klub demi formalitas pertemanan dengan Dazai Taishi—sang ketua sekaligus satu-satunya anggota aktif Klub Sains—hari ini tumben sekali mau menemani aktivitas klub sahabatnya itu.


Meski disebut aktivitas klub, hal yang mereka lakukan sebenarnya hanyalah membakar Marsmallow yang dibeli di minimarket terdekat menggunakan pemantik gas inventaris laboratorium, lalu memakannya begitu saja. Ini benar-benar sebuah pertemuan misterius.


"Ah, tahu begini tadi aku bawa kopi saja."


Kalau ada kopi, aku kan bisa memasukkan Marsmallow ini dan membuat Vienna Coffee, batin Kouya memikirkan menu dengan jalan pikiran seorang praktisi kedai kopi.


"Hmm, mantap (mandom)."


Sambil melontarkan jargon jadul yang tidak jelas maknanya itu, Taishi melahap Marsmallow yang bagian luarnya sudah mulai mengerak kecokelatan.


Marsmallow yang dipanggang dengan pas menggunakan pemantik gas itu meleleh dengan lumer di dalam mulut begitu digigit.


Tepat saat 2 pemuda SMA yang sehat ini sedang menikmati sensasi rasa bersalah akibat melakukan hal yang tidak semestinya, mendadak, pintu laboratorium sains dibuka paksa dengan kasar.


"Kurang ajar! Apa-apaan yang sedang kalian lakukan di sini, hah!"


Suara bentakan berat dari seorang pria paruh baya menggema di dalam laboratorium sains. Sosok yang membuka pintu lebar-lebar dengan penuh amarah itu tidak lain adalah Kepala Suku Kelas yang terkenal galak bagai iblis.



"Begitulah ceritanya, makanya saat ini esensi keberadaan Klub Sains dan anggarannya sedang dipertanyakan oleh pihak petinggi sekolah kita."


"Intinya, itu kan karena ulah kalian sendiri," ketus Hitoha Higuchi selaku ketua kelas, menanggapi Dazai Taishi yang sedang menceritakan kronologi kejadian dengan nada bicara yang sangat serius di dalam ruang kelas 2-3.


Tanggapan Hitoha sama sekali tidak salah. Aksi mereka membeli Marsmallow menggunakan dana anggaran klub lalu membakarnya di laboratorium tepergok oleh guru, sehingga masalah penyalahgunaan anggaran klub ini langsung diangkat dalam rapat staf pengajar. ——Ini benar-benar murni kesalahan mereka sendiri.


Sambil meranggas kesakitan, Taishi mengerang.


"Kalau dibiarkan begini, anggaran untuk Klub Sains bakal dihentikan total!"


"Makanya, aku bilang itu salah kalian sendiri, kan," balas Hitoha tetap dengan sikapnya yang sedingin es.


Di salah satu sudut ruang kelas setelah homeroom selesai. Di saat murid-murid lain sedang bersiap-siap untuk pulang, Dazai Taishi mengepalkan tangannya dan berargumen dengan berapi-api.


"Kalau anggaran dihentikan, Klub Sains kebanggaan kita ini akan berada dalam ancaman pembubaran!"


"Lalu, apa hubungannya denganku?"


"Dengarkan dulu, Hitoha-kun! Aku tidak bisa membiarkan garis keturunan dari tradisi Klub Sains yang diwariskan turun-temurun ini terputus begitu saja di generasiku. Demi kelangsungan klub, kita perlu menunjukkan kepada khalayak luas bahwa Klub Sains juga memberikan kontribusi yang besar bagi sekolah ini."


"......Torame-kun, tadinya aku mau berbaik hati mendengarkan keluh kesahnya karena kebetulan posisi duduk kami bersebelahan. Tapi karena arah pembicaraannya mulai mencurigakan, bolehkah aku pulang duluan sekarang?"


"Jangan lempar masalahnya kepadaku!"


Merasakan firasat buruk bahwa ia akan terseret ke dalam urusan yang merepotkan, Kouya menyambar tasnya dan berniat untuk segera angkat kaki dari tempat itu.


"Dengarkan penjelasanku dulu, wahai sahabatku!"


Grep! Taishi langsung mencengkeram pundak Kouya dengan kuat.


"Reputasi, kontribusi sosial, peningkatan kesadaran masyarakat...... hal yang dibutuhkan untuk memulihkan nama baik ini adalah menaikkan reputasi di mata warga sekitar melalui aktivitas bakti sosial ala Klub Sains. Dengan kata lain, kita akan mengadakan Kelas Sains Anak-Anak! Tapi! Acara berskala besar seperti kelas sains ini tidak akan bisa kupermanis dan kuelola seorang diri!!"


"......Bukankah selama ini kamu bangga karena personil Klub Sains itu praktis cuma kamu sendirian alias one-man army? Kamu kan selalu menyombongkan hal itu? Kalau begitu, jangan melibatkan orang lain, dong."


"Wahai sahabatku. Kamu harus memenuhi kewajibanmu sebagai anggota bayangan sekarang."


"............"


"Kenapa kamu malah memalingkan muka?"


"Tidak, maksudku, meskipun statusku cuma anak klub pulang-ke-rumah, bukan berarti aku punya banyak waktu luang juga......"


"Apakah kamu sudah melupakan rasa Marsmallow yang kamu makan waktu itu?"


"............"


"Lalu soal urusan Shizukuishi Kiyoko-kun waktu itu, bukankah kamu masih berutang budi padaku?"


"............"


Kouya langsung bungkam seribu bahasa karena titik kelemahannya diserang bertubi-tubi. 


Waktu Meika dan Kiyoko sempat bersitegang gara-gara urusan piket kebersihan dulu, Kouya memang benar-benar telah berutang budi kepada Taishi yang ikut membantu menengahi.


Sembari melirik Kouya yang sudah mati kutu, Taishi kembali berbalik menghadap Hitoha.


"Hitoha-kun, kamu juga."


"......Aku benar-benar tidak ada hubungannya dengan masalah ini, kan?"


Mendapat lemparan masalah yang tiba-tiba, Hitoha langsung mengalihkan pandangannya dengan canggung.


"Fufu." 


Taishi terkekeh sambil menaikkan posisi gagang kacamata di hidungnya.


"Bukankah sangat kejam dan tidak bertanggung jawab jika kamu pergi begitu saja setelah mendengar situasi kami? Padahal kita ini sedang berada di Asakusa, kota yang terkenal penuh dengan kehangatan dan rasa kepedulian terhadap sesama."


"Tidak, tidak, tidak. Memangnya kenapa juga aku harus ikut bertanggung jawab atas masalahmu, Dazai-kun!?"


"Bukankah kamu sendiri juga ikut mencampuri urusan Shizukuishi-kun dan Meika-kun waktu itu, padahal tidak ada yang memintamu, dan malah membuat suasananya jadi semakin kacau?"


"............!"


"Utang budi harus dibayar. Sebagai orang yang serius, kamu pasti berpikir demikian, kan?"


Mendengar ucapan menohok dari Taishi, Hitoha akhirnya mengembuskan napas pasrah tanda menyerah.


"......Baiklah, tidak ada pilihan lain. Aku akan membantu khusus untuk kali ini saja. Tapi, kalau bicara soal utang budi, bukankah sudah sewajarnya jika kita juga meminta dua orang yang menjadi pemicu masalah itu untuk ikut membantu?"


"Pemicu masalah... maksudmu Shizukuishi-kun dan Meika-kun, ya......"


Sambil menopang dagunya dengan tangan, Taishi sempat terdiam dan berpikir sejenak. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, Dazai Taishi menaruh hati kepada Shiga Meika secara sepihak. 


Setelah memikirkan berbagai rencana licik di dalam otaknya, sang ketua sekaligus anggota tunggal Klub Sains itu pun menyunggingkan senyum tipis di sudut bibirnya.


"Hmm. Itu ide yang sangat cemerlang. Bukankah itu adalah alasan yang paling sempurna agar aku bisa terus berada di dekat Meika-kun? Sembari menuntaskan misi utama demi kelangsungan Klub Sains, hasrat pribadiku untuk menyelesaikan misi agenda masa muda bersama Meika-kun juga bisa terpenuhi. Ini benar-benar sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui."


Begitulah ceritanya, sehingga Kiyoko dan Meika pada akhirnya terpaksa ikut terseret ke dalam acara bernama "Kelas Sains Anak-Anak"—sebuah acara yang mendadak diselenggarakan oleh sang ketua Klub Sains demi mendongkrak reputasi dan mencari muka di hadapan para guru.


Kiyoko dan Meika tampaknya memiliki kesadaran bersama bahwa pertengkaran mereka berdua dulu telah merepotkan Taishi, sehingga tanpa penolakan, mereka berdua menerima tawaran untuk membantu jalannya Kelas Sains Anak-Anak tersebut. Dan karena merasa agak khawatir dengan mereka berdua, pada akhirnya Kouya pun ikut turun tangan membantu operasional acara.


2


"Caranya sangat mudah. Kalian cukup menjalankan tugas dan tanggung jawab masing-masing di pos yang sudah ditentukan di dalam laboratorium sains ini. Tentu saja, pastikan kalian bisa menjelaskan logika dasar di balik eksperimennya, ya."


Ruang laboratorium sains setelah jam pulang sekolah. Di hadapan Kiyoko, Meika, Hitoha, dan Kouya, Taishi memberikan penjelasan dengan suara yang lantang setelah selesai menuliskan pembagian tugas masing-masing di papan tulis.


"Meika-kun, tugasmu adalah memasukkan bunga mawar ke dalam nitrogen cair!"


Tanpa menerima bantahan, Taishi langsung menjelaskan perannya.


"Shizukuishi-kun, tugasmu adalah mengejar anak-anak dengan balon yang sudah dialiri listrik statis!"


Tidak ada ruang untuk bernegosiasi dalam pembagian tugas ini.


"Hitoha-kun, tugasmu adalah memegang tabung reaksi sambil meminta lampu dimatikan, lalu meneriakkan kata 'Kemiluminesensi!' seperti sedang mengucapkan mantra sihir!"


Ia terus memaksakan pembagian tugas itu bertubi-tubi.


"Dan Kouya, tugasmu adalah mengajarkan cara menggunakan lampu alkohol kepada anak-anak zaman sekarang yang belum pernah menyentuhnya!"


Melihat Taishi yang baru saja selesai mengumumkan jatah tugas untuk semua orang, Kiyoko sedikit memiringkan kepalanya heran.


"Bukankah tugas Kouya-kun yang cuma menyalakan lampu alkohol itu rasanya terlalu gampang sendiri?"


Mendengar pertanyaan yang sangat wajar tersebut, Taishi langsung menurunkan pandangannya dengan ekspresi kecewa yang dibuat-buat.


"Ada sebuah ungkapan yang berbunyi: menempatkan orang yang tepat di tempat yang tepat. ——Dengan kata lain, tidak ada salahnya jika kalian menganggap pembagian tugas ini berbanding lurus dengan nilai pelajaran sains kalian masing-masing. Bagaimanapun juga, kita harus menjelaskan logika ilmiah di balik pertunjukan eksperimen ini kepada anak-anak dan orang tua yang datang berkunjung. Jadi, meminta sahabatku Kouya untuk menjelaskan tentang emisi cahaya kimiawi seperti tugas yang kuberikan kepada Hitoha-kun, jelas adalah hal yang mustahil."


"Kenapa kamu bisa tahu nilai pelajaran sains-ku, hah!?" protes Kouya dengan sengit.


——Meski begitu, ia tidak menolak tugas menjaga pos lampu alkohol tersebut. Jika ia diberikan pos yang mudah, maka ia akan menerimanya dengan senang hati. 


Benar kata Taishi, tempatkan orang yang tepat di tempat yang tepat. Tolong jauhkan dirinya dari hal-hal rumit seperti menjelaskan proses eksitasi molekul pada emisi cahaya kimiawi.


"Sementara aku sendiri akan membuat vakum dan mendemonstrasikan fenomena superkonduktivitas. Jadi jika terjadi sesuatu, jangan sungkan untuk memanggilku," pungkas Taishi tanpa memberikan celah bagi yang lain untuk memprotes, lalu ia mulai memberikan panduan singkat secara individu mengenai materi eksperimen masing-masing.


3


——Hingga tibalah hari libur nasional di bulan Juli, tepat sesaat sebelum liburan musim panas dimulai.


Acara Kelas Sains Anak-Anak akhirnya resmi diselenggarakan.


"Haloo, semuanya lihat ke sini, ya! Sekarang Kami akan memasukkan bunga mawar ini ke dalam nitrogen cair, lho!"


"Ini namanya listrik statis, kedengaran kan suara pletak-pletoknya?"


"Kemiluminesensi adalah emisi cahaya kimiawi yang memanfaatkan kondisi tereksitasi dari zat pemendar. Dan jenis yang akan Kami tunjukkan kepada kalian hari ini disebut sebagai kemiluminesensi luminol, yaitu......"


Di samping Meika dan Kiyoko yang membawakan acara dengan cekatan dan penuh keceriaan, Hitoha menjelaskan detail eksperimen kepada anak-anak yang datang berkunjung dengan ekspresi yang sangat serius.


Meskipun diadakan secara mendadak dengan masa promosi yang sangat singkat, acara kelas sains ini ternyata terbilang cukup ramai dikunjungi. Di tengah kondisi lonjakan harga barang-barang akhir-akhir ini, kata 'Gratis' tampaknya memiliki daya tarik tersendiri yang mampu memikat minat banyak orang. Terlebih lagi jika itu adalah acara yang sarat akan edukasi seperti 'Kelas Sains'.


Para orang tua di lingkungan sekitar yang mengetahui adanya kelas sains untuk anak-anak di SMA terdekat, berbondong-bondong membawa anak-anak mereka yang masih kecil untuk mengisi waktu luang di acara gratisan ini.


"Onii-san, itu apa namanya?"


Dua orang anak laki-laki yang tampaknya masih duduk di bangku awal sekolah dasar berjalan menghampiri meja pos milik Kouya, tempat di mana lampu-lampu alkohol ditata.


"Ini namanya lampu alkohol. Karena anak-anak zaman sekarang katanya tidak tahu cara pakai lampu alkohol, biar aku ajarkan. Kalian tahu cara menyalakan korek api kayu?"


Kouya bertanya kepada anak-anak SD tersebut dengan nada yang agak sok tahu.


Meskipun nilai pelajaran sainsnya buruk, Kouya adalah tipe orang yang andal dalam urusan bertahan hidup di alam bebas seperti menyalakan api di luar ruangan.


“"Tidaaak tahu~"”


Kedua anak SD itu menggelengkan kepala secara serempak.


"Fufu," 


Kouya tersenyum bangga dan berujar, 


"Respons yang sudah sesuai prediksi. Aku yang penuh persiapan ini sudah melakukan riset sebelumnya tentang betapa tidak terampilnya anak SD zaman sekarang. Jadi, jawaban bahwa kalian tidak bisa menggesek korek api kayu sudah masuk dalam perkiraan. Karena sudah menduga hal seperti ini akan terjadi, Aku sudah menyiapkan korek gas pemantik (chakkaman) buat adik-adik yang tidak bisa pakai korek api kayu!"


Kouya mengeluarkan sebuah korek gas pemantik baru yang dibelinya di toko bangunan terdekat dan menunjukkannya kepada mereka.


Melihat aksi si penjaga pos lampu alkohol tersebut, kedua anak laki-laki itu saling berpandangan, lalu membalas dengan wajah polos:


“"Chakkaman itu apa?"”


Skenario ini benar-benar di luar prediksi Kouya.


"......Eh? Kalian tidak tahu apa itu korek pemantik gas?"


"Tidak tahu. Iya, kan?"


"Iya. Aku juga tidak tahu."


Mendengar percakapan kedua anak itu, Kouya mulai panik sendiri.


"Kalian pasti tidak bisa menyalakan api pakai batu, kan? Terus, korek api kayu tidak bisa pakai, korek pemantik gas juga tidak tahu. Kalau begini, kalian bahkan tidak akan bisa bikin kari di tempat berkemah, tahu. Memangnya kalian mau makan apa?"


"Onii-san bicara apa, sih. Kan ada kompor gas portabel."


"Lagipula, tinggal panggil Uber Eats saja ke tempat berkemah. Kata Papa, kita harus memanfaatkan barang-barang yang praktis demi memutar roda perekonomian."


Bocah-bocah tengil ini......


"Pamer gaya hidup berkecukupan secara terselubung dengan dalih terbiasa pakai Uber Eats sehari-hari begini, rasanya jauh lebih menjengkelkan dan bikin emosi daripada mendengar laporan kalau mereka dijemput pakai mobil Mercedes-Benz oleh kepala pelayan rumah......"


Saat Kouya sedang menggerutu dalam monolognya, salah satu anak menarik-narik kaus Kouya.


"Oh iya, Onii-san. Aku hampir lupa memberi tahu, tadi di sebelah sana......" 


Anak itu menunjuk ke arah meja di dekat jendela laboratorium sains.


Kouya mengernyitkan dahi. 


"Ada apa di sebelah sana?"


"Onee-san di sebelah sana sedang bertengkar. Apakah tidak apa-apa kalau dibiarkan saja?" lapor anak itu dengan niat baik.


Mendapat informasi tersebut, Kouya langsung tersentak.


"Hah!?"


4


——Waktu berputar mundur sedikit ke belakang.


Sesuai dugaan, pemicu adu mulut antara Kiyoko dan Meika sebenarnya adalah hal yang sepele.


Meika, yang tadinya sedang melakukan eksperimen pembekuan instan menggunakan nitrogen cair di sudut laboratorium sains, mendadak menganggur karena gelombang pengunjung tiba-tiba terhenti. Ia pun memanfaatkan kesempatan ini untuk beristirahat sejenak sambil mengembuskan napas lega. Namun tepat pada saat itu, tubuh Meika terdorong dari belakang oleh seorang anak yang sedang berlarian.


"Ups!"


Akibat kehilangan keseimbangan, lengan gadis itu tidak sengaja menyenggol gelas kimia (beaker) yang ada di atas meja. Pada detik berikutnya, gelas kimia tersebut jatuh bebas menuju lantai. Satu ketukan kemudian, suara prak! menggema nyaring saat gelas kimia itu menghantam lantai dan pecah berkeping-keping.


"............"


Meika menatap nanar serpihan gelas kimia yang pecah di dekat kakinya selama beberapa detik. Dengan ragu-ragu, ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Semua orang tampaknya sedang sibuk melayani pengunjung di pos masing-masing dan tidak ada yang memperhatikan dirinya.


"......Oke. Bagus, tidak ada yang melihat."


Meika memunguti serpihan gelas kimia itu dengan hati-hati, membungkusnya dengan tumpukan koran bekas, lalu membuangnya ke tempat sampah non-organik. Ia merasa tidak perlu melaporkan hal ini kepada Taishi ataupun guru pengawas. 


Merusak inventaris di laboratorium sains adalah hal yang lumrah terjadi, dan ia merasa tidak memiliki kewajiban mutlak untuk melapor. 


——Meika memutuskan kebijakan tersebut murni berdasarkan penilaian pribadinya sendiri. Namun, tepat setelah ia menutup penutup tempat sampah dan hendak kembali ke posnya, ia merasakan sebuah tatapan tajam yang membuatnya menghentikan langkah. 


Saat berbalik ke arah pandangan tersebut, matanya langsung bertatapan dengan Kiyoko di pos sebelah.


"......Tindakan seperti itu rasanya kurang elok, ya."


Shizukuishi Kiyoko berujar sambil mengernyitkan kedua alisnya. Dari sudut pandang Kiyoko, ia melontarkan kalimat tersebut demi kebaikan Meika sendiri. Namun, ucapan itu justru menyulut emosi Meika.


"Kalau mau protes, bicara saja yang jelas!"


"Aku tidak bermaksud memprotes. Ini adalah hal yang seharusnya disadari dan diperhatikan sendiri oleh Shiga-san."


"Kamu sedang menyindirku, kan?"


Meika melangkah lebar menghampiri Kiyoko, lalu menatap tajam gadis pindahan dari Kyoto tersebut.


Berbanding terbalik dengan Meika yang tampak emosional, Kiyoko yang wajahnya tetap datar tanpa ekspresi mencoba membantah dengan sopan.


"Sama sekali tidak."


"Pembohong."


"Kalau merasa ada hal yang salah, tinggal diperbaiki saja. Tidak ada gunanya melimpahkan kekesalanmu kepadaku."


"Memecahkan gelas kimia itu memang salahku. Mencoba menyembunyikannya juga salahku. Tapi, itu adalah masalah yang berbeda! Hal yang membuatku kesal adalah sikap dan ucapanmu yang meremehkanku itu!"


"Bukannya itu di luar konteks?"


"Benar, ini memang di luar konteks! Aku akan meminta maaf kepada Dazai dan guru karena sudah memecahkan gelas kimia dan mencoba menghilangkan barang bukti. Jadi, kamu juga harus minta maaf kepadaku karena sudah bicara sinis! Bukankah begitu cara main yang benar!?"


"Sinis bagaimana......? Memangnya kapan aku bicara sinis kepada Shiga-san? Tolong jangan asal menuduh seperti orang yang sengaja menabrakkan diri demi memeras uang (atariya), ya."


"Baru saja tadi! Kamu mengatakannya, kan!?"


"Bukannya itu cuma waham paranoia kamu saja? Kalau kamu tidak keberatan dengan rumah sakit di Kyoto, aku bisa merekomendasikan dokter yang bagus, lho. Khusus untuk bagian kepala."


Dengan gaya bicaranya yang lihai berkelit, Kiyoko justru semakin menyiramkan bensin ke dalam kobaran api. Hanya karena masalah ketidakserasian akibat memecahkan gelas kimia secara tidak sengaja, niat buruk di antara keduanya malah melebar ke arah yang sama sekali tidak terduga. 


Beberapa anak SD yang tadinya berada di pos milik Kiyoko langsung kabur melarikan diri karena tidak tahan dengan atmosfer mencekam di antara kedua gadis tersebut. Namun, tanpa memedulikan hal itu, Kiyoko dan Meika terus saling melempar tatapan tajam.


Meika menggerakkan dagunya, menunjuk ke arah pintu luar.


"Ayo ikut aku ke luar, anak pindahan! Biar kuajarkan kepadamu apa yang namanya sopan santun!"


"Aduh, menakutkan ya kalau berhadapan dengan orang yang temperamental begini."


"Mau dibenci olehmu pun sama sekali tidak ada pengaruhnya buatku!"


"Hebat sekali bicaranya. Kalau sikapmu terus begitu, orang yang kamu sukai bisa-bisa bakal kabur, lho."


"! Kamu ini benar-benar, ya!"


Wajah Meika seketika memerah padam mendengar ucapan Kiyoko.


Atmosfer di antara mereka benar-benar berada di titik terburuk dan paling kacau.


Tepat sesaat sebelum situasi satu sentuhan langsung meledak (isshoku sokuhatsu) antara gadis asal Kyoto dan gadis asli Tokyo ini berubah menjadi kobaran api yang kian membara,


"Apa-apaan yang sedang kalian lakukan! Maksudku, kalian bertengkar lagi, hah!?"


Suara pemuda ketiga mendadak menyela di antara kedua gadis tersebut. Torame Kouya datang berlari kencang setelah dibawa oleh anak SD yang melarikan diri tadi.


Melihat kedatangannya, kedua gadis yang sedang adu mulut itu langsung memasang wajah serba salah yang canggung, persis seperti seekor anjing yang ketahuan berbuat jahat.


"Kalian berdua ini selalu saja mengulangi pola yang sama tanpa kapok-kapoknya setiap saat! Cepat sudahi semua ini!!"


Tanpa menerima bantahan apa pun, Torame Kouya langsung melayangkan teguran keras yang menyambar bagai petir kepada dua orang gadis yang keras kepala tersebut.


5


"......Aku benar-benar sudah kelewatan kali ini."


Di dalam ruang persiapan laboratorium sains, Kiyoko mengembuskan napas panjang yang sarat akan penyesalan.


Pada pintu ruang persiapan, kini terpasang sebuah papan bertuliskan 'Sedang Istirahat'. Sementara itu di dalam laboratorium, acara Kelas Sains Anak-Anak masih terus berlangsung seperti sedia kala. Demi memisahkan Meika dan Kiyoko, Kouya sengaja menyeret Kiyoko masuk ke dalam ruang persiapan ini dengan dalih waktu istirahat. Di ruang laboratorium, Meika saat ini sedang ditemani oleh Taishi dan Hitoha.


Setelah kepala mereka mendingin, situasi saat ini beralih menjadi momen di mana kedua belah pihak yang terlibat dalam pertengkaran konyol tersebut mulai dirundung rasa penyesalan. Kemungkinan besar, Meika yang saat ini sedang ditenangkan oleh Taishi di luar sana juga merasakan hal yang sama.


Sambil mendengarkan riuh sorak-sorai anak-anak yang terdengar samar dari balik ruangan sebelah, Kiyoko menatap langit-langit dengan pandangan kosong.


"Aku agak benci pada diriku sendiri yang sekarang."


Embusan napas berat yang kesekian kalinya kembali terhirup ke dalam keheningan ruang persiapan laboratorium sains. 


Di balik selembar pintu yang membatasi ruangan tersebut, acara kelas sains masih terus berlanjut, menyisakan suara tawa riang dari anak-anak yang terdengar menggema.


"Kupikir, sejak aku masih kecil, aku sudah terlalu berlebihan dalam menjaga perasaan orang-orang dewasa di sekitarku. Jika aku mengatakan hal yang sejujurnya, itu hanya akan memicu konflik, makanya aku selalu menyembunyikan isi hatiku yang sebenarnya lewat kata-kata. Tapi, aku tidak se-fleksibel dan se-terampil Ayah, dan aku tidak bisa menyembunyikan perasaanku yang sesungguhnya. Karena itulah, aku akhirnya selalu berakhir berbenturan dengan orang-orang seperti Shiga-san."


Sembari melakukan analisis terhadap dirinya sendiri, Kiyoko menumpahkan keluh kesah mengenai latar belakang pertumbuhan yang membentuk kepribadiannya saat ini.


Gadis ini——gadis bernama Shizukuishi Kiyoko ini—memang sudah seperti ini sejak dulu. Meskipun ia berniat untuk bersikap fleksibel dan terampil, pada kenyataannya ia adalah seorang gadis yang hanya bisa menjalani hidup dengan cara yang kaku dan serba canggung.


Kouya menyandarkan tubuhnya ke dinding ruang persiapan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kiyoko-san, kenapa kamu hanya menegur Meika saja, sih?"


"Karena aku ingin dia menyadarinya atas inisiatif sendiri. Aku berniat menyampaikannya dengan cara yang baik, tapi aku malah gagal."


"Makanya aku bertanya, kenapa harus Meika?"


"......Aku hanya berpikir kalau aku ingin mendukung hubungan asmara kalian, kok."


"Hubungan asmara siapa?"


Kenapa pembicaraannya malah melenceng ke arah sana? batin Kouya sambil menatap dengan pandangan setengah jengkel.


"Hubungan asmara siapa lagi kalau bukan——"


Kiyoko mengalihkan pandangannya dengan gestur yang sedikit kebingungan. Ia merasa bimbang dan ragu di dalam hati, apakah ia harus mengutarakannya atau tidak.


Jika mereka berdua bisa menjadi sepasang kekasih yang serasi, mungkin dirinya juga bisa merelakan perasaannya dan beralih memberikan dukungan penuh.


Kiyoko menundukkan pandangannya.


Akibat bias cahaya matahari yang menembus masuk dari celah jendela, untaian bulu matanya yang lentik menciptakan bayangan tipis di atas pipinya yang putih bersih.


"......Kouya-kun dan Shiga-san. Mungkin sudut pandangku ini terkesan seperti seorang ibu mertua yang cerewet, sih. Tapi, aku ingin Shiga-san bisa menjadi sosok yang dapat kupercaya untuk dititipkan tanggung jawab menjaga Kouya-kun dengan tenang."


"......Sebentar, deh. Kiyoko-san, sepertinya kamu sudah salah paham besar, ya? Secara fundamental."


Sejak dulu, Kouya memang sudah menyadari adanya gelagat bahwa Kiyoko selalu salah paham mengenai hubungan antara dirinya dan Meika. Dan berlandaskan pada kesalahpahaman tersebut, gadis itu selalu menunjukkan perhatian dan kepedulian misterius yang tidak perlu.


"Kiyoko-san, apakah selama ini kamu mencoba untuk menjodohkan aku dan Meika?"


"............"


"Tepat sasaran, kan? Kamu tampaknya sudah salah paham besar. Kami berdua ini murni cuma tetangga dekat. Serius, kami benar-benar murni cuma teman masa kecil biasa, tahu."


Satu ketukan setelah kalimat Kouya berakhir, rasa kebingungan yang besar mulai menjalar di dalam diri Kiyoko.


"Tapi, saat Kouya-kun sedang bersama Shiga-san, kamu selalu terlihat sangat kasual dan tampil apa adanya......"


"Itu justru membuktikan kalau aku sama sekali tidak memiliki perasaan sadar sebagai lawan jenis terhadapnya, kan?"


"............Benarkah begitu?"


"Tentu saja."


Kouya menganggukkan kepalanya tegas.


Dihadapkan pada fakta mencengangkan yang berhasil membuka matanya, Kiyoko menjadi semakin dilanda kebingungan yang amat sangat.


"Eh? Kalau begitu, lalu apa yang harus kulakukan sekarang......? Jadi aku tidak perlu mendukung hubungan Shiga-san dan Kouya-kun? Dan aku sudah mengatakan hal yang tidak perlu sampai membuat Shiga-san membenciku begitu saja? Kalau begitu, mulai sekarang bagaimana cara yang benar bagiku untuk bersikap di depan Kouya-kun......? Apakah itu berarti, aku tidak perlu menyerah dan merelakan perasaanku terhadap Kouya-kun?"


Kiyoko bergumam seorang diri. Asumsi dasar yang selama ini menjadi panduan tindakannya seketika runtuh total.


Apakah itu berarti aku tidak perlu menahan diri atau merasa sungkan kepada Meika? Tapi pada akhirnya, kenyataan bahwa Kouya tidak mengingat janji itu tetap tidak berubah, dan——


——Tapi, aku tetap merasa kalau Shiga-san itu menyukai Kouya-kun.


Namun, andaikata hal itu benar dan Meika memang menaruh hati kepada Kouya, selama Kouya sendiri tidak memiliki perasaan khusus kepada Meika, maka tidak ada alasan bagi dirinya untuk mundur.


Jika demikian, lalu bagaimana dengan perasaannya sendiri? Bagaimana dengan perasaan Shizukuishi Kiyoko yang sesungguhnya?


Ia tidak ingin menganggap remeh dan melenyapkan begitu saja perasaan yang telah ia pendam dan pupuk sendirian selama 10 tahun ini.


——Itulah isi hati dan kejujuran seorang Shizukuishi Kiyoko yang tidak bisa dipungkiri.


Meski begitu, apa yang harus ia lakukan mulai sekarang......?


Di samping gadis asal Kyoto yang tengah terjebak di dalam labirin pikirannya sendiri, Kouya melirik sekilas ke arah bola dunia yang tergeletak sembarangan di dekatnya, lalu memutuskan untuk menyelesaikan fakta yang ada di depan mata terlebih dahulu.


"Kiyoko-san, untuk saat ini, pergilah dan minta maaf kepada Meika."


"............"


"Kamu merasa sudah bicara kelewatan, kan? Kupikir, Meika juga pasti merasakan hal yang sama."


"Kenapa Kouya-kun bisa tahu hal seerti itu?"


"......Aku sudah berteman lama dengannya."


"............"


Kiyoko mengangkat wajahnya, lalu menatap lekat-lekat ke arah Kouya. Mata mereka saling bertatapan.


Pada detik berikutnya, entah mengapa Kiyoko justru terkekeh dan tertawa kecil.


"Jangan begitu, dong. Baru saja bilang kalau kalian cuma teman masa kecil biasa, tapi ucapanmu itu malah membuatku cemburu, tahu."


Kiyoko tertawa dengan nada setengah bercanda. Kouya mengernyitkan dahi.


"......Apa maksudnya itu?"


"Ya arti yang sebenarnya. Kamu baru saja memamerkan sosok Kouya-kun yang tidak kuketahui, yang sudah menghabiskan waktu bersama Shiga-san di masa yang tidak kupahami. Wajar kan kalau aku sedikit cemburu."


"............"


Kouya kehilangan kata-kata karena tidak tahu harus memberikan jawaban seperti apa.


Tidak, lagipula, gadis ini memang tipe orang yang ahli dalam berbicara untuk mengelabui dan membingungkan lawan bicaranya. Mungkin lebih baik ia tidak perlu menanggapinya dengan terlalu serius.


Kouya tidak bisa memberikan jawaban.

Kiyoko pun masih dilingkupi keraguan.


Keheningan sesaat kembali menyelimuti ruang persiapan laboratorium sains. Waktu yang terasa canggung dan sulit digambarkan terus bergulir, di bawah tatapan tajam dari deretan manekin anatomi tubuh manusia yang mengerikan dengan bagian dalam organ yang terekspos, yang ditata sembarangan di dalam ruangan itu.


Tik, tok, tik, tok. Suara detak jarum jam dinding yang terus menghitung waktu menggema di tengah kesunyian yang senyap.


Setelah sempat ragu-ragu sejenak, Kiyoko akhirnya memantapkan hati dan bangkit berdiri.


"————Mau bagaimana lagi, ya. Aku akan pergi menemui Shiga-san."


Sebelum Kouya sempat memberikan respons, Kiyoko sudah membuka pintu ruang persiapan. Pada saat yang bersamaan, tampaknya ada orang lain yang juga hendak membuka pintu tersebut dari arah luar.


"Ah."


Dua orang yang mencoba membuka pintu secara bersamaan itu pun langsung saling berpapasan tepat pada detik ketika daun pintu terbuka.

Shiga Meika sedang berdiri tepat di depan pintu. Waktu yang benar-benar sangat kebetulan.


“"..............."”


Keheningan yang canggung kembali menyelimuti atmosfer di antara mereka. Salah satu dari mereka harus membuka suara terlebih dahulu. Namun, tidak ada yang mau menjadi pihak pertama yang mengalah.


Jika memungkinkan, mereka ingin pihak lawan yang memulai pembicaraan terlebih dahulu. Adu urat saraf dan saling gengsi yang aneh pun terjadi di antara kedua gadis tersebut.


Tepat di saat Kouya sedang merasa bimbang apakah ia harus turun tangan untuk menengahi atau tidak, Meika menarik napas dalam-dalam. Gadis asal kawasan pinggiran kota itu akhirnya membuka suara terlebih dahulu.


"Ada hal yang ingin kamu sampaikan kepadaku, kan?" tanya Meika dengan nada bicara yang menantang dan seolah sedang mengintimidasi.


Kiyoko sedikit memiringkan kepalanya.


"Benar, tapi bukankah Shiga-san juga merasakan hal yang sama?"


"Memang benar. Tapi kamu duluan yang bicara."


"Silakan Shiga-san duluan saja."


"............"

"............"


Keheningan kembali jatuh di antara Kiyoko dan Meika.


10 detik berlalu. 20 detik berlalu.


"Aaaah, sudah, cukup!"


Meika menjadi pihak pertama yang mencapai batas kesabarannya.


"Sudahlah. Biar aku duluan yang bicara."


"Makanya dari tadi aku sudah mempersilakanmu."


"......Kamu ini benar-benar tipe orang yang selalu memancing emosiku di setiap ucapan, ya," gerutu Meika sambil berbalik menghadap penuh ke arah Kiyoko.


"Aku minta maaf karena sudah bicara kelewatan."


"Itu adalah kalimat yang seharusnya kuucapkan," balas Kiyoko, sebelum akhirnya menambahkan satu kalimat ekstra yang tidak perlu, "Tapi, kalau dirunut dari awal, yang salah itu sebenarnya Shiga-san, lho."


"Iya, aku tahu. Itu salahku. Masalah gelas kimia itu murni adalah kesalahanku. Tapi, kamu juga sudah menantangku berkelahi dengan kalimat sinis yang sama sekali tidak perlu diucapkan."


"Aku tidak membantahnya."


"Bantah, dong!"


"Apakah kamu ingin aku membantahnya?"


"Sepertinya tidak juga, sih."


"Aku sudah menduga kamu akan menjawab begitu."


"............"

"............"


Setelah mereka berdua saling menatap lekat-lekat satu sama lain, Meika akhirnya mengembuskan napas panjang.


"Haaah..."


"Aku rasa aku mulai paham sekarang."


"?"


"Shizukuishi-san, jadi kamu itu tipe 'orang yang seperti itu', ya."


Shiga Meika menyimpulkan sendiri situasinya secara sepihak, lalu merentangkan kedua tangannya lebar-lebar untuk melemaskan tubuhnya yang sempat tegang.


"Ah, konyol sekali. Harusnya aku menyadarinya lebih cepat. Aku baru sadar kalau marah-marah kepada wanita sepertimu—yang ibaratnya seperti mendorong dinding kasur busa—hanya akan membuang-buang energiku saja. Jadi, mulai sekarang, apa pun yang kamu katakan, aku akan mengabaikan hal-hal yang memancing emosi sesukaku. Mohon kerja samanya, ya."


Shiga Meika mengumumkannya dengan gaya yang dibuat-buat.


"Bukankah begitu malah lebih bagus? Kalau kamu butuh perhatian dariku, bilang saja, ya."


Sambil memasang senyum di wajahnya, Kiyoko ikut menyahut.


——Apakah situasi ini bisa dibilang mereka sudah berdamai atau belum?


Kouya tidak mampu memahami gejolak perasaan yang samar di antara kedua gadis tersebut. Namun yang pasti, Kiyoko dan Meika kemudian berjalan beriringan bersama untuk kembali ke ruang Kelas Sains Anak-Anak.


Setelah itu, Kouya yang ditinggal seorang diri di ruang persiapan laboratorium mulai perlahan-lahan dihantam oleh realitas yang ada.


Dengan kata lain, fakta yang baru saja terungkap adalah: sampai detik ini, Kiyoko salah paham dan mengira bahwa dirinya dan Meika saling menyukai, dan selama ini secara diam-diam Kiyoko selalu memberikan dukungan agar dirinya bisa jadian dengan Meika.


"Jadi begitu, ya... Selama ini aku dijodohkan dan didukung secara sepihak oleh Kiyoko-san......"


Niat baik Kiyoko yang murni itu, entah mengapa justru memicu rasa hampa yang mendalam di dalam diri pemuda itu.


Ternyata di matanya, aku ini cuma sosok yang seperti itu, batinnya.


Artinya, bagi Kiyoko, Kouya adalah orang yang tidak masalah jika harus berpasangan dengan gadis lain (teman masa kecilnya). Kiyoko berniat untuk memberikan restu dan selamat jika Kouya berpacaran dengan gadis selain dirinya. Mengucapkan selamat dengan tulus dari lubuk hatinya yang paling dalam.


"Entah kenapa, kalau dipikir-pikir begitu, rasanya agak menyebalkan."


Kouya tidak bisa menjelaskan secara spesifik apa penyebabnya dan di mana letak ketidaksenangannya, tetapi yang jelas, rasanya benar-benar menyebalkan.


——Ya. Ini kemungkinan besar adalah masalah perasaan.


6


Meskipun setelah melalui berbagai hal gadis asal Kyoto, Shizukuishi Kiyoko, dan gadis pinggiran kota Asakusa, Shiga Meika, akhirnya bisa berdamai, bukan berarti keduanya bisa langsung saling memahami satu sama lain secara mendalam.


Pada akhirnya, tabiat mereka berdua tetap sama saja seperti sebelum-sebelumnya.


"Shiga-san, bisa tolong ambilkan paku tekan (oshipin) di meja guru? Poster slogan hak asasi manusianya agak terkelupas, nih."


Suasana di dalam kelas 2-3 tepat setelah jam perwalian selesai.


Kiyoko yang menyadari ada mading yang hampir lepas meminta bantuan kepada Meika yang kebetulan berada di dekatnya. Namun, Meika justru mengernyitkan dahi dengan ketus.


"Paku tekan? Apaan itu?"


"Eh? Paku tekan ya paku tekan, kan? Itu lho, nama alat tulis yang ada jarumnya dengan bagian atas berbentuk cakram datar untuk menempelkan kertas."


Kiyoko menjawab dengan heran, tidak mengerti kenapa Meika harus menanyakan hal seremeh itu kembali.


Sambil tetap menyatukan kedua alisnya, Meika membalas,


"Di sini tidak ada yang menyebut benda itu dengan nama paku tekan, tahu."


"Lalu, kalian menyebutnya apa?"


"Ya paku payung (gabyou), lah! Memangnya ada sebutan lain?"


"Makanya aku bilang namanya paku tekan, karena cara pakainya ditekan untuk menempelkan sesuatu."


"Paku payung! Pokoknya paku payung!"


"Karena ditekan untuk menahan kertas, jadi namanya paku tekan, kan?"


"Mana aku tahu kalau kamu pakai bahasa daerah begitu!"


"......Apakah paku tekan itu termasuk bahasa daerah? Aku baru tahu, lho."


Kiyoko tampak terperangah setelah faktanya ditunjukkan langsung.


Haaah... Meika mengembuskan napas panjang yang sengaja dibuat-buat.


"Kamu ini sama sekali tidak ada niat untuk memperbaiki istilah-istilahmu yang tidak berlaku di daerah Kanto sini, ya. Kemarin-kemarin kamu juga menyebutnya sepatu atas (uwagutsu)."


"Eh? Sepatu atas ya sepatu atas, kan. Kalau yang itu, memangnya di sini disebut apa lagi?"


"Sepatu dalam ruangan (uwabaki)!"


Meika meninggikan suaranya sambil mengentakkan kaki yang mengenakan sepatu khusus area dalam gedung sekolah tersebut. Kiyoko memasang ekspresi wajah yang tampak tidak bisa menerima alasan itu.


"Tapi itu kan jenis sepatu. Karena itu sepatu yang dipakai di area atas (dalam ruangan), bukankah lebih benar kalau disebut sepatu atas?"


"Di daerah sini menyebutnya sepatu dalam ruangan! Kamu ini... tidak tahu peribahasa 'di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung', ya?"


"Tentu saja aku tahu."


"Karena sekarang kamu ada di Asakusa, ikuti aturan mainku, dong."


"Kenapa harus begitu? Aku akan tetap berjalan di jalanku sendiri. Tapi, kalau Shiga-san bisa menunjukkan perilaku yang bisa dijadikan panutan, mungkin aku juga bisa mempelajari adat istiadat kota Tokyo ini."


"————Kamu ini benar-benar suka bicara sinis, ya!!"


"Mungkin ini sudah bawaan lahir, ya."


Kouya memperhatikan dari kejauhan dengan pandangan setengah jengkel ke arah Kiyoko yang dengan lihai terus berkelit mengelabui lawan bicaranya, serta Meika yang tampak sudah hampir kehabisan kesabaran menghadapi gadis itu.


Meskipun mereka berdua masih seperti biasa, atmosfernya tidak lagi menunjukkan permusuhan yang seserius dulu, sehingga Kouya merasa tidak ada urgensi lagi baginya untuk maju menengahi.


"Wahai sahabatku."


Tangan Kouya yang sedang mengemas barang-barang bawaannya terhenti. Ia yang sejak tadi melamun sambil mendengarkan perdebatan kedua gadis itu, seketika tersentak sadar saat sebuah suara tiba-tiba memanggil namanya dari arah belakang.


"Taishi......"


Sembari menenteng tasnya, sang ketua sekaligus anggota tunggal Klub Sains yang gemar membuat kehebohan, Dazai Taishi, berjalan menghampiri meja tempat duduk Kouya.


"Aku ingin berterima kasih karena kamu sudah membantuku di acara Kelas Sains Anak-Anak kemarin. Berkat bantuanmu, reputasi kita di mata para guru maupun orang tua di lingkungan sekitar sangat bagus. Sepertinya Klub Sains masih bisa terselamatkan dari pembubaran."


"Syukurlah kalau begitu."


"Sebagai pengganti ucapan terima kasih, terimalah ini."


Taishi melemparkan benda yang ada di tangannya ke arah Kouya.


"? Jimat?"


Kouya melihat benda yang berhasil ditangkapnya itu sambil memiringkan kepala heran. Benda itu adalah sebuah jimat berbentuk bulat dengan gambar kucing pembawa keberuntungan (maneki-neko).


"Itu jimat dari Kuil Imado," ujar Taishi dengan nada bangga.


Jika bicara tentang Kuil Imado, itu adalah salah satu kuil yang sangat terkenal di Asakusa. Kuil tersebut memuja dewa Izanagi no Mikoto dan dewi Izanami no Mikoto. Karena memuja pasangan dewa-dewi, kuil ini sangat tersohor sebagai tempat untuk memohon jodoh (enmusubi).


Jika itu adalah jimat dari kuil semacam itu, artinya——


"Maksudmu, ini jimat untuk enteng jodoh atau keberhasilan cinta (ren'ai jouju)?"


Sambil memegang jimat bergambar kucing tersebut, Kouya memutar otaknya. Taishi menyunggingkan senyum tipis di sudut bibirnya dan terkekeh sinis.


"Tepat sekali. Itu hadiah sebagai tanda terima kasih karena sudah membantuku. Sebenarnya aku membelinya untuk diriku sendiri, tapi jimat keberhasilan cinta bukanlah sesuatu yang pantas untuk kumiliki."


"Karena tidak ilmiah?"


"Bukan," bantah Taishi seketika sambil mengibas-ngibaskan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri.


"Sains dan keyakinan spiritual tidak selalu saling bertolak belakang. Sains modern tidak serta-merta bisa menyangkal keberadaan Tuhan."


"Ah, begitu ya."


Merasakan firasat bahwa sahabatnya ini akan mulai berpidato panjang lebar, Kouya menanggapi dengan nada tidak berminat agar pembicaraannya cepat berlalu.


"Kalau memegang jimat ini, dewa akan memberikan jodoh yang baik (ryouen), kan?"


"Tentu saja. Konsepnya memang dibuat seperti itu."


"Lalu kenapa malah diberikan kepadaku? Ini kan punyamu."


"Aku bilang kan karena aku tidak membutuhkannya, makanya kuberikan kepadamu, wahai sahabatku. ——Coba dengarkan, ya? Katakanlah jika kita berasumsi bahwa takdir pasanganku adalah Meika-kun."


"Bukankah asumsi dasar dari metode deduksimu itu saja sudah aneh?"


"Sama sekali tidak aneh. Dengarkan dulu. Jika kita berasumsi bahwa takdir pasanganku adalah Meika-kun, maka aku sudah bertemu dengannya saat ini. Ini adalah sebuah fakta."


"Terserah apa katamu saja, Taishi-sensei."


"Artinya, bisa dibilang kami sudah terikat oleh tali jodoh."


"......Benarkah begitu?"


"Tentu saja benar! Di saat tali jodoh itu sudah terikat, memohon-mohon lagi kepada Dewa Jodoh untuk diberikan jodoh yang baik, jelas merupakan tindakan yang tidak sopan terhadap hubungan jodoh yang baik antara aku dan Meika-kun yang sebenarnya sudah terbentuk ini!"


"Belum terbentuk, tahu."


"Oleh karena itu, aku melepaskan jimat jodoh ini."


"Dengarkan dulu perkataan orang, dong."


"Inilah kesimpulannya, wahai sahabatku!"


"......Terserahlah dengan teori misteriusmu yang seolah masuk akal padahal sama sekali tidak itu. Tapi kenapa harus diserahkan kepadaku?"


"Kan sudah kubilang, ini sebagai hadiah terima kasih untuk yang kemarin."


"Jangan mengelak dari tanggung jawab hadiah terima kasih cuma dengan selembar jimat bekas pakai begini, dong!"


"Aku bisa tahu! Bahwa kamu saat ini sedang mendambakan sosok belahan jiwa takdirmu yang belum sempat kamu temui!!"


"Kamu cuma mencocok-cocokkan alasan buat mengelak pakai barang bekas murah begini......" gerutu Kouya dengan pandangan setengah jengkel.


Intinya, karena pelit dan enggan mentraktir sekotak jus sebagai hadiah tanda terima kasih karena sudah dibantu, Taishi akhirnya memaksakan jimat yang tidak diperlukannya ini kepada Kouya.


"Jangan melakukan tindakan tidak sopan kepada para dewa dengan mengembalikan jimat itu, ya, Kouya. ——Hadiah terima kasih untuk yang kemarin sudah resmi kuserahkan, ya. Sampai jumpa, sahabatku!"


Tanpa memedulikan protes dari Kouya, Taishi langsung menyambar tasnya dan melangkah pergi keluar dari ruang kelas dengan langkah yang gagah.


Kouya yang ditinggal sendirian, menatap lekat-lekat jimat yang ada di atas telapak tangannya selama beberapa saat.


"Enteng jodoh, ya......"


Untuk saat ini, jimat tersebut memiliki atribut yang sama sekali tidak ingin ia mintakan bantuannya kepada dewa.


————Torame Kouya, 16 tahun. Ia bukan orang yang taat beragama, tetapi ia juga bukan orang yang tidak tahu adat sampai berani menantang kuadrat dewa.


Singkatnya, pemuda ini adalah pemilik kepribadian yang cukup tahu sopan santun, setidaknya ia tidak akan melakukan tindakan sekonyol membuang jimat yang sudah diterimanya ke dalam tempat sampah.


Untuk sementara, Kouya akhirnya memasukkan jimat keberhasilan cinta pemberian paksa dari sahabat karibnya itu ke dalam saku celananya.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close