NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Make Heroine ga Oosugiru Volume 9 Intermission 2

 Penerjemah: Flykitty

Proffreader: Flykitty


Intermission

Dunia Milik Berdua

Di balik jalan setapak yang melewati ladang kubis, di sebuah sudut yang dikelilingi pepohonan, berdirilah sebuah gubuk kecil.


"Boleh masuk? Kakek bilang tempat ini berbahaya, jadi nggak boleh masuk."


Hiroto Sakurai, yang masih mengenakan tas di punggungnya, memegang pintu kayu itu, tetapi pintunya terkunci.


Saat ia menoleh, Hibari Hokobaru mengeluarkan sebuah kunci yang tergantung di lehernya dari balik kerah seragam pelaut musim dinginnya.


"Kakek sudah tidak memakainya lagi. Jadi aku merawatnya sedikit demi sedikit supaya masih bisa digunakan."


Tempat itu dulunya merupakan gubuk yang digunakan oleh kedua kakek mereka sebagai tempat beristirahat setelah bekerja di ladang. Dahulu, di dalamnya dipenuhi berbagai alat pertanian dan bermacam-macam barang.


Saat Hokobaru membuka pintu, aroma tanah dan debu langsung menyeruak keluar.


Di dalamnya terdapat bagian lantai yang sedikit lebih tinggi, dilapisi empat lembar tatami. Di atas tatami itu bertumpuk ensiklopedia-ensiklopedia tebal.


Sakurai melepas sepatunya dan naik ke atas tatami, lalu mengambil salah satu buku.


"Ini ensiklopedia yang dulu ada di rumah Kak Hayato, kan?"


"Iya. Ayah hampir membuangnya, jadi aku menyelamatkannya."


Sambil membuka jendela agar udara berganti, Hokobaru melihat Sakurai yang menatapnya dengan heran.


"Kenapa mau dibuang?"


"...Katanya sudah tidak diperlukan lagi."


Mendengar nada bicaranya, Sakurai memilih untuk tidak bertanya lebih jauh. Ia menyandarkan punggung ke dinding sambil membuka ensiklopedia itu.


"Aku paling suka jilid yang itu."


Hokobaru mengeluarkan selimut kecil dari tasnya lalu duduk di samping Sakurai.


Sambil membalik halaman-halaman yang dipenuhi foto, Sakurai mulai berbicara.


"...Hiba-nee."


"Ada apa?"


"Aku dengar ladangnya mau dijual. Benarkah?"


Hokobaru terdiam sesaat sebelum bertanya dengan suara pelan.


"Siapa yang bilang begitu?"


"Ayahku. Tapi katanya Paman menentangnya."


"Ah... Ayahku memang orang kuno. Katanya ladang harus dijaga oleh anak laki-laki tertua."


Sakurai mengangkat wajahnya dari buku. Sorot matanya dipenuhi kecemasan.


"Kakek sudah nggak akan mengurus ladang lagi, ya?"


"Pinggangnya cedera. Sebagian ladang dipakai Ayah, sisanya sedang dicarikan penyewa."


"Oh... jadi akan disewakan."


Melihat Sakurai yang tampak sedikit kecewa, Hokobaru terlihat agak terkejut.


"Lho? Hiroto memang berniat mewarisi ladang itu?"


"Nggak tahu juga. Tapi kalau aku menanam kubis, kira-kira Kakek bakal senang nggak ya?"


"Mungkin saja. Tapi menurutku, Kakek justru akan paling senang kalau Hiroto memilih jalan yang benar-benar kamu sukai."


Setelah mengatakannya dengan yakin, ia membalik halaman ensiklopedia.


"Kalau Kak Hayato? Dulu dia sering membantu Kakek, kan?"


"Iya... kalau Kakak..."


Hokobaru tersenyum kecil, seolah sedikit kesulitan mengatakannya.


"Kurasa... Kakak sudah tidak akan kembali ke sini lagi."


Nada suaranya membuat Sakurai menangkap sesuatu.


Setelah mencari-cari kata, ia bertanya dengan suara yang nyaris menghilang.


"...Hiba-nee nggak sedih?"


"Kakak pergi dari rumah demi mengejar mimpinya. Sebagai keluarga, tugas kita adalah mendukungnya."


Melihat mata Hokobaru yang berbinar penuh kekaguman, Sakurai tanpa sadar sedikit membungkukkan badannya ke depan.


"Berarti Hiba-nee juga punya mimpi."


"Nggak sehebat itu kok."


"Ceritain dong!"


Dengan malu-malu ia mengalihkan pandangan sebelum melanjutkan.


"Di dunia ini ada banyak negara... dan banyak sekali orang. Karena itu..."


Ia terus berbicara, seolah mencurahkan isi hatinya.


"Aku ingin melihat semuanya dengan mataku sendiri. Dan kalau bisa, aku ingin bekerja sebagai penghubung antara Jepang dan negara-negara lain."


"Bagus sekali."


Itu hanyalah pujian yang polos, tanpa dibuat-buat. Namun bagi Hokobaru, kata-kata itu terasa sangat membahagiakan.


"Itu cuma mimpi anak-anak."


Sebagai usaha menyembunyikan rasa malunya, ia berkata begitu. Namun Sakurai menjawab dengan suara yang tenang, jauh lebih dewasa daripada penampilannya.


"Tapi suatu hari nanti kita pasti jadi orang dewasa."


Suatu hari nanti akan menjadi dewasa.


Artinya... sekarang mereka masih anak-anak.


Karena penampilannya, Hokobaru sering diperlakukan seperti orang dewasa oleh orang-orang di sekitarnya.


Karena itulah, diperlakukan sebagai anak-anak seperti sekarang justru terasa nyaman baginya.


Mereka terus membalik-balik ensiklopedia. Tak lama kemudian, dari kejauhan terdengar suara seorang gadis.


Itu suara Mizushima Koharu, teman masa kecil mereka.

Sepertinya ia sedang mencari Sakurai.


"...Belakangan ini, kalau aku sama Hiba-nee berdua, Koharu suka marah. Katanya kami mengucilkannya."


"Oh? Jadi dia sedang cemburu. Mungkin dia menyukaimu."


"Bukan begitu."


Hokobaru tertawa pelan. Sakurai pun memalingkan wajah sambil pura-pura kesal.


"Mau pergi?"


"Soalnya kalau nggak pergi, nanti aku dimarahin."


Saat Sakurai hendak berdiri, Hokobaru menggenggam tangannya.


"...Hiba-nee?"


"Kalau begitu hari ini aku jadi kaki tanganmu. Kita dimarahi bersama saja."


Ada sesuatu yang berbeda dari biasanya pada diri Hokobaru. Sakurai pun sesaat terdiam karena merasa tertekan oleh suasana itu.


Saat itu...Sakurai bersin kecil.


"Kedinginan ya?"


"Nggak apa-apa. Aku tutup jendelanya dulu."


Ketika Sakurai menutup jendela, Hokobaru menepuk-nepuk pahanya.


"Nanti masuk angin. Duduk di pangkuanku saja."


"Malu ah. Kayak anak kecil."


"Kita memang masih anak-anak, kan? Ayo, sini."


"...Iya."


Sakurai pun duduk tepat di sampingnya dengan sedikit ragu.


Hokobaru lalu membentangkan selimut kecil itu seperti syal, menyelimuti bahu mereka berdua. Mereka saling merapatkan bahu sambil melihat buku yang sama.


"...Peta ini agak beda sama yang di sekolah ya."


"Iya. Waktu buku ini dibuat, daerah ini masih merupakan satu negara. Tapi sekarang sudah terpecah dan saling bertikai."


"Memang pernah perang?"


"Kurang lebih begitu. Tapi kalau ditelusuri lebih jauh ke masa lalu, dulu semuanya merupakan bagian dari sebuah negara besar yang sekarang sudah tidak ada."


Jari-jari panjang Hokobaru membalik halaman berikutnya.


"Apa yang menjadi awal semuanya, dan apa yang sebenarnya harus dilindungi... ada kalanya tak seorang pun tahu jawabannya."


"Yang Hiba-nee bilang susah dimengerti."


Mendengar komentar itu, Hokobaru tertawa kecil.


"Aku sendiri juga tidak tahu sebenarnya sedang mengatakan apa. Karena itu, aku juga ingin seperti Kakak..."


Sambil terus berbicara, rambut mereka yang semakin mendekat perlahan saling bersentuhan dan bercampur.


Tanpa disadari, Sakurai terus menatap wajah Hokobaru yang berbicara dengan penuh semangat.


"...Ada apa? Apa ada sesuatu di wajahku?"


"N-nggak ada apa-apa."


Berlawanan dengan ucapannya yang ragu-ragu, Sakurai diam-diam menyandarkan sebagian berat tubuhnya pada Hokobaru.


Hokobaru menerimanya dengan lembut. Lalu ia sendiri ikut sedikit menyandarkan tubuhnya kepada Sakurai.


Mereka sudah berhenti membaca buku. 


Mereka hanya tetap seperti itu, merasakan kehangatan tubuh dan berat badan satu sama lain.


Tanpa mengetahui apa yang harus dilakukan.....agar tempat yang mereka miliki bersama ini tetap bisa dipertahankan.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close