NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Make Heroine ga Oosugiru Volume 9 Chapter 3

 Penerjemah: Flykitty

Proffreader: Flykitty


~Kekalahan Ketiga~ 

Malam Rahasia

Setelah libur berakhir.


Sambil memandangi seluruh tubuhku yang mengenakan seragam di cermin besar, aku mengenang kejadian beberapa hari lalu.


Aku menghabiskan satu malam bersama Yanami.


Yanami tetaplah Yanami seperti biasanya, tetapi fakta bahwa kami menghabiskan malam bersama tidak berubah. Memang tidak berubah, tetapi—


"...Tidak terjadi apa-apa, ya."


Tanpa sadar aku bergumam, lalu terdengar suara heran dari speaker ponselku.


"Maksudmu apa?"


"Ah, bukan apa-apa. Sampai mana tadi pembicaraan kita?"


Orang yang sedang berbicara denganku lewat ponsel di atas meja adalah Mizushima Koharu.


Sejak kejadian itu, entah mengapa dia terus menghubungiku dengan alasan ingin meminta maaf.


Sejujurnya ini sangat merepotkan, tetapi karena dia pacar temanku, aku juga tidak enak jika mengabaikannya.


"Terus ya, hari ini kan SMA Tsuwabuki juga upacara penutupan semester, kan? Setelah sekolah, aku ingin bertemu langsung untuk meminta maaf."


"Tak usah dipikirkan. Kami yang terlambat naik bus, jadi itu juga salah kami."


Sambil berkata begitu, aku mengencangkan dasiku di depan cermin.


"Terima kasih. Maaf ya, benar-benar."


Tidak perlu berterima kasih. Bahkan kalau bisa, aku lebih memilih tidak terlibat lagi dengannya.


"Benar, jangan dipikirkan lagi. Kalau begitu, aku dulu ya."


"Ngomong-ngomong, kemarin Hiro-kun bilang padaku—"


Eh, arah pembicaraannya berubah. Kalau lengah sedikit saja, orang ini pasti mulai bercerita entah pamer kemesraan atau mengeluh.


"Oh, begitu ya."


"Hiro-kun memang bilang dia juga salah, tapi kali ini meskipun aku dimarahi..."


"Eh, sudah waktunya sarapan, jadi sampai sini dulu..."


"Oh iya ya. Maaf. Kalau memang aku mengganggu, Nukumizu-kun boleh kok bilang terus terang."


Baiklah. Mulai lain kali aku akan setegas Yanami saat menolak.


"Yah, karena sudah terlanjur. Lagi pula kalau Sakurai-kun diajak bicara baik-baik, dia pasti mau mendengarkan."


"...Mungkin dia memang mau mendengarkan."


Koharu terdiam di seberang telepon.


...Gawat. Sepertinya pembicaraan ini tidak akan selesai. Apa aku buka lagi dasiku lalu mengikatnya ulang saja?


Saat sedang memikirkan hal itu, terdengar suara ketukan di pintu.


"Onii-sama, sarapan sudah siap."


"Oh, iya. Aku turun sekarang. Maaf ya, Koharu-san. Aku mau sarapan dulu. Oke, sampai nanti."


Aku mengakhiri panggilan begitu saja lalu membuka pintu. Di sana berdiri Kaju dengan wajah datar seperti topeng Noh.


"...Onii-sama, tadi sedang bicara dengan siapa?"


"Eh... sama Sakurai-kun. Kami sedang membicarakan soal perjalanan tempo hari."


Tanpa sadar aku berbohong. Kaju pun tersenyum manis.


"Begitu ya. Padahal menurut Kaju tadi terdengar suara perempuan."


"Sakurai-kun kalau lagi sehat suaranya memang mirip perempuan."


Sambil berkata begitu aku berjalan menuju lantai bawah, tetapi Kaju terus mengikuti tepat di belakangku.


"...Waktu menginap akhir pekan kemarin, Onii-sama bersama Sakurai-san, kan?"


"Iya. Kaju juga sempat bicara lewat telepon, kan?"


...Jangan-jangan dia tahu?


Malam itu aku bahkan tidak memakai kamera ponsel, dan riwayat pencarian internet juga sudah kuhapus.


Cerita yang kami siapkan juga sudah cocok. Seharusnya Kaju tidak mungkin tahu.


Saat aku selesai menuruni tangga dengan jantung berdebar, Kaju tiba-tiba bergumam,


"—Orang itu ternyata suaranya imut, ya."


Hah? "Orang itu" maksudnya siapa?


Aku refleks berhenti melangkah. Kaju melewatiku, lalu berputar menghadapku sambil tersenyum cerah.


"Ada apa? Nanti sarapannya keburu dingin, Onii-sama."



Pagi-pagi begini saja aku sudah capek....


Sambil mendorong sepedaku, aku memasuki gerbang SMA Tsuwabuki.


Karena ingin menghindari introgasi Kaju, aku berangkat lebih awal dari biasanya, sehingga jalan yang dipenuhi pepohonan masih sepi.


Saat berjalan sambil melamun melihat para murid yang sedang latihan pagi di lapangan, terdengar suara rem sepeda dari belakang.


"Nukumizu, selamat pagi!"


Yang menyapaku dengan semangat di pagi hari adalah Ayano Mitsuki. Ia turun dari sepedanya lalu berjalan di sampingku.


"Oh, pagi. Cepat sekali datang."


"Ada kelas tambahan pagi untuk siswa sukarela. Mumpung ada, bagaimana kalau kau ikut juga?"


"Masih ikut kelas tambahan bahkan di hari penutupan semester?"


Melihatku terkejut, Ayano mendorong kacamatanya hingga berkilat.


"Musim panas tahun ini aku ingin benar-benar serius. Demi bisa menyusul Chihaya, aku bahkan mendaftar kamp belajar di bimbel."


"Jangan bilang kau merahasiakannya dari Asagumo-san?"


"Iya. Aku ingin membuat Chihaya terkejut."


Begitu ya. Kurasa Asagumo-san memang bakal sangat terkejut.


Saat aku merasakan firasat akan muncul masalah, Ayano menoleh ke kanan dan kiri sebelum bertanya pelan.


"Aku dengar-dengar, kau pergi liburan sama Sakurai dan yang lain?"


Eh? Kok dia tahu?


Melihatku kaget, Ayano mengeluh dengan nada seolah-olah iri.


"Kalian bersenang-senang tanpa mengajakku, ya."


"Liburan itu sama sekali tidak seenak yang kau bayangkan. Serius."


Saat aku membalas, Ayano menatapku dengan ekspresi penuh arti.


"Ngomong-ngomong, belakangan ini bagaimana hubunganmu dengan Yanami-san?"


"Bagaimana maksudmu?"


Aku balik bertanya dengan polos, dan Ayano menyeringai.


"Sudahlah, jangan disembunyikan. Pasti ada sesuatu yang terjadi waktu liburan, kan?"


"Tidak ada—"


Memang tidak ada, tetapi aku juga tidak bisa bilang benar-benar tidak terjadi apa-apa.


Saat aku kebingungan menjelaskan situasi yang rumit ini, Ayano tiba-tiba memasang wajah serius.


"Aku memang punya banyak pendapat soal ini, tapi kalau itu pilihanmu, aku akan mendukungmu."


"Aku belum memilih apa pun."


Sial, rupanya orang yang merepotkan sudah tahu juga.


Katanya dia cuma mendengar rumor, tapi sebenarnya dia mendengarnya dari siapa...?


Entahlah. Kalau ternyata dari Asagumo-san, rasanya malah menyeramkan, jadi lebih baik aku tidak memikirkannya lagi.


Sambil setengah mendengarkan ocehan Ayano, aku mulai berpikir mungkin nanti aku harus mengajak Kaju pergi menjalani ritual pengusiran sial.



...Rasanya canggung untuk bertemu muka dengan Yanami.


Di kereta saat perjalanan pulang setelah semalam menginap di ryokan, Yanami luar biasa pendiam.


Tentu saja dia tetap makan dua kotak ekiben dan bahkan mengambil laukku, tetapi entah kenapa dia terasa menjaga jarak. Rasanya berbeda dari Yanami yang biasanya.


Dan sejak kami berpisah di Stasiun Toyohashi, kami sama sekali belum saling menghubungi, jadi suasananya terasa canggung.


Saat aku berjalan di koridor sambil terus memikirkannya, langkahku tiba-tiba terhenti.


──Ada sesuatu yang sedang mendekat.


Musik latar yang meriah, harum bunga yang terbawa angin, bahkan cahaya di sekitar terasa semakin terang.


Aku segera berbalik dan mengubah rute menuju kelas.


Kalau lewat koridor luar, seharusnya aku bisa sampai ke kelas tanpa bertemu dengannya. Namun saat menuju koridor luar, ujung tikungan di depanku mulai berkilauan.


Gawat, aku sudah dipotong jalannya!


Belum sempat melarikan diri, cahaya yang menyilaukan sudah menyelimutiku.


"Nukumizu-kun, selamat pagi!"


Yang menyapaku dengan ceria adalah idola sekolah, Himemiya Karen.


Dengan aura yang sama sekali tidak mengenal kata "menahan diri", dia melemparkan senyum kepadaku.


"Selamat pagi, Himemiya-san. Pagi-pagi sudah semangat sekali, ya."


Saat aku kewalahan menghadapi aura Himemiya di pagi hari, sebuah kedipan mata darinya menghantamku.


"Hehe, apa cuma aku yang bersemangat?"


"Eh... maksudnya apa?"


Orang ini sebenarnya sedang membicarakan apa?


Tanpa memedulikan kebingunganku, Himemiya-san semakin bersinar.


"Ya kan? Awalnya memang agak canggung, atau mungkin malu. Tapi perasaan itu cuma di awal kok. Kalau kamu mengingat momen sekarang ini, nanti saat hubungan mulai terasa membosankan..."


Serius deh, dia sedang membicarakan apa?


Sambil menyipitkan mata karena silau, aku mencoba menghentikan lajunya.


"Kurasa ada yang salah paham. Tidak ada sesuatu yang istimewa terjadi."


Malah sejak pagi aku sudah kelelahan.


Entah sadar atau tidak dengan perasaanku, Himemiya-san mencolek dadaku pelan.


"Aku tahu kok──menginap."


"Hah?! Kenapa? Kenapa Himemiya-san juga tahu?!"


Tidak, tunggu.


Di mata orang lain, seharusnya aku hanya menginap bersama Sakurai-kun. Mungkin Himemiya-san mendengar itu lalu salah paham ke arah yang romantis.


Di situasi seperti ini, tetap tenang adalah pilihan terbaik.


"Iya, memang aku pergi liburan bersama Sakurai-kun dan yang lainnya. Memangnya kenapa?"


"Anna juga ikut liburan itu, kan?"


Liburannya sendiri memang bukan rahasia. Kalau aku malah berbohong di sini, semuanya justru akan dicurigai.


"Tentu saja. Kami berlima pergi ke Takayama."


"Kalau begitu... kemarin siang, kenapa kalian berdua saja yang tiba di Stasiun Toyohashi?"


"Eh?! Jadi Himemiya-san melihatnya?!"


Aku tak sengaja meninggikan suara, dan seketika sekeliling kami kembali dipenuhi aroma bunga dan cahaya berkilauan.


"Jadi benar ya, Nukumizu-kun!"


"Bukan, bukan begitu! Maksudku... bukan seperti yang kamu pikirkan! Tidak terjadi apa-apa!"


"Tidak... terjadi apa-apa?"


Aku mengangguk secepat mungkin.


Perlahan-lahan cahaya yang memancar dari Himemiya-san mulai meredup.


Setelah lama menatap wajahku, akhirnya dia tampak percaya, lalu bahunya terkulai.


"...Begitu ya. Jadi memang tidak terjadi apa-apa."


"Sudah kubilang, itu cuma perjalanan biasa."


Orang ini benar-benar salah paham.


Yah, kalau kesalahpahamannya sudah hilang, itu sudah cukup.


Baiklah, karena cahaya Himemiya-san mulai menarik perhatian banyak orang, sebaiknya aku segera pergi dari sini.


"Kalau begitu aku ke kelas dulu."


"──Awalnya memang gugup, jadi kadang tidak berjalan lancar."


"Hah?"


Tunggu sebentar. Sekarang dia bicara apa lagi?


Saat aku mulai gelisah karena pandangan orang-orang di sekitar, Himemiya-san malah mendekat.


"Tenang saja! Anna bukan tipe yang mempermasalahkan hal seperti itu! Kalau perlu aku bisa membantu—"


"Bukannya bel masuk sudah berbunyi? Ayo cepat ke kelas!"


"Nukumizu-kun?! Tapi setidaknya jangan di dalam sekolah—"


Aku langsung menggenggam tangan Himemiya-san yang masih mengucapkan kalimat-kalimat misterius itu dan berjalan cepat.


...Sebenarnya kenapa semua orang bisa tahu kalau aku dan Yanami pulang berdua (atau semacam itu)?


Sambil mengutuk ketidakadilan yang terus menimpaku, aku menarik tangan Himemiya-san menuju kelas.



Suara nyaring jangkrik musim panas menggema di belakang gedung sekolah.


Di antara pepohonan yang masih basah oleh embun pagi, berdiri dua siswi.


Mereka adalah Asagumo Chihaya dari kelas 2-E dan Koikawa Tsukushi dari kelas A.


Asagumo membolak-balik buku catatan kecil yang dipegangnya, lalu mengembalikannya kepada Koikawa.


"Eh, sudah selesai?"


"Ya. Semuanya sudah aku hafal. Sekarang aku akan membacanya sekali lagi di dalam kepala."


Asagumo menutup mata, sementara dahinya berkilau sesaat.


"Begitu ya... Jadi belum ada bukti yang benar-benar memastikan bahwa Nukumizu-san dan Yanami-san berpacaran."


"Iya. Aku mendapatkannya langsung dari teman yang paling dekat dengan mereka berdua, jadi seharusnya benar."


Asagumo membuka matanya dan menatap Koikawa dengan saksama.


"Untuk berjaga-jaga aku ingin memastikan. Soal kejadian akhir pekan kemarin, kamu belum membocorkannya kepada Mitsuki-san maupun Himemiya-san, bukan?"


"Eee..."


Koikawa menggaruk pipinya sambil mengalihkan pandangan.


"...Koikawa-san?"


"Bukan begitu! Untuk mendapatkan informasi, kan aku juga harus membuka sedikit informasi. Tapi tenang saja, aku sudah menyuruh mereka merahasiakannya."


"...Yah, kalau mereka berdua sih seharusnya tidak masalah."


Asagumo mengangguk seolah puas.


Himemiya Karen adalah sahabat Yanami Anna. Dia pasti tidak akan melakukan sesuatu yang merugikan Anna.


Dan tentu saja Ayano Mitsuki juga tidak perlu dikhawatirkan. Kalaupun terjadi sesuatu, tinggal diselesaikan dengan paksa.


...Sejujurnya, Asagumo tidak menyangka hubungan kedua orang itu akan berkembang secepat ini.


Sampai perasaan Yakishio Lemon benar-benar mantap, dia sebenarnya ingin semuanya tetap menikmati keadaan nyaman seperti sekarang.


Namun, hal itu berada di luar kendalinya.


Nukumizu adalah orang yang pernah menolongnya sekaligus adik laki-laki yang menggemaskan. Sementara Yakishio Lemon adalah sahabatnya.


Dia tidak ingin melakukan sesuatu yang sembarangan terhadap keduanya.


"...Yah, semuanya akan berjalan sebagaimana mestinya."


Asagumo menghela napas panjang, meluapkan kekhawatirannya.


Koikawa memandangnya dengan cemas.


"Aku boleh kembali sekarang?"


"Ya. Terima kasih banyak. Nanti aku akan menyiapkan berita eksklusif yang istimewa."


"Aku mengandalkanmu soal itu. Berkatmu, akhir-akhir ini penjualan koran sekolah juga meningkat."


Koikawa membuat lingkaran dengan ibu jari dan telunjuknya sambil tersenyum lebar.


Saat itulah terdengar suara semak bergoyang. Seorang siswi keluar dari balik rimbunan semak.


"Lho, Koikawa? Lagi ngapain di situ?"


Siswi yang muncul sambil membawa kamera DSLR itu adalah Numata Ritsuko, teman sekelas Asagumo di kelas E.


Dibandingkan Koikawa yang bertubuh tinggi, Numata memiliki tubuh yang benar-benar biasa.


Pita seragamnya miring, bukan karena sengaja dibuat bergaya, tetapi lebih karena ceroboh dan berantakan.


"Oh, tadi aku sedang membahas koran sekolah dengan Asagumo-san. Kalau Numata sendiri, sedang memotret apa?"


"Tanaka-san bilang tadi dengar suara burung ekor panjang di sekitar sini. Jadi kupikir kalau pagi mungkin bisa menemukannya."


Dengan daun-daun masih menempel di rambutnya yang acak-acakan, dia mengusap lumpur di pipinya.


"Berhasil dipotret?"


"Berhasil kok──suaranya saja."


Mereka berdua saling berpandangan lalu tertawa terbahak-bahak.


Menurut Asagumo, Numata memang bukan gadis yang sangat feminin. Namun dia gadis yang mudah disukai, dan tampaknya juga cukup akrab dengan mantan ketua Klub Pengamat Burung.


Lalu Numata memandang Asagumo dengan ekspresi heran.


"Jadi Asagumo-san akrab sama Koikawa, ya?"


"Iya. Akhir-akhir ini aku sedang belajar tentang fotografi darinya. Benar, kan, Koikawa-san?"


"I-iya. Belakangan ini."


Tanpa menyadari senyum kaku Koikawa, Numata hanya tersenyum santai.


"Wah, bagus juga. Kalau begitu, saat liburan musim panas nanti mau ikut memotret bareng kami?"


"Kedengarannya menyenangkan. Tapi selama liburan musim panas aku sudah punya rencana belajar bersama pacarku."


Pamer kemesraan yang diucapkan dengan santai itu membuat Numata tertawa geli.


"Iya, iya. Selamat ya. Koikawa, soal pemusatan latihan musim panas, nanti kumpul sepulang sekolah."


"Siap. Aku kosongkan jadwalku."


Melihat punggung Numata yang pergi sambil melambaikan tangan, Asagumo memiringkan kepalanya.


"Numata-san dulu memang anggota Klub Pengamat Burung, bukan?"


"Iya. Tapi dia tidak ada hubungannya dengan 'yang itu', jadi percuma saja kalau mau mengancamnya."


"Astaga, aku tidak mungkin mengancam teman sekelasku, kok."



Menghadapi senyum Asagumo yang begitu cerah tanpa sedikit pun noda, Koikawa hanya mampu membalasnya dengan senyum kecut.



Aku duduk di bangkuku, membuka raporku pelan-pelan... lalu segera menutupnya lagi.


Gawat sekali. Selama setahun terakhir ini terlalu banyak hal yang terjadi, sampai-sampai aku hampir tidak belajar sama sekali....


Saat aku memegangi kepala, Ayano menyapaku.


"Ada apa, Nukumizu? Nilaimu jelek?"


"Ya, seperti yang kau lihat. Kalau kau sendiri bagaimana, Ayano?"


"Kurang lebih masih sama seperti sebelumnya."


Sambil tersenyum penuh percaya diri, dia menepuk bahuku.


"Kalau begitu, bagaimana kalau ikut kamp belajar bersamaku selama liburan musim panas? Empat belas jam belajar setiap hari."


"Aku tidak ikut. Jadi tolong jangan sodorkan brosur itu kepadaku."


Kenapa matanya berbinar seperti otaku yang baru mau berangkat ke Akihabara?


Saat aku berusaha menolak ajakan orang aneh itu, Sakurai-kun mengambil brosur tersebut.


"Hmm, kelihatannya cukup praktis. Kau ikut bersama Asagumo-san?"


"Bukan. Aku mau ikut diam-diam supaya Chihaya terkejut."


Sakurai-kun menatapku seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi aku hanya menggeleng pelan.


Mungkin Asagumo-san telah menghapus sesuatu yang berharga dari Ayano bersamaan dengan ingatannya.


"Hei, Nukumizu-kun—"


Baru saja Sakurai-kun membuka mulut, Amanatsu-sensei bertepuk tangan keras.


"Baik, semua sudah menerima rapor, kan? Ayo, sekarang duduk di tempat masing-masing."


Teman-teman sekelas pun kembali ke bangku mereka.


...Sebenarnya apa yang tadi ingin dikatakan Sakurai-kun?


Aku penasaran, tetapi Amanatsu-sensei sudah mulai berbicara.


"Mulai besok kalian libur musim panas. Kehidupan SMA kalian juga sudah hampir memasuki separuh akhirnya."


Beliau memandang wajah kami yang tampak santai satu per satu.


"Dengarkan baik-baik. Mulai semester dua, yang menunggu kalian hanyalah masa muda yang suram karena sibuk belajar menghadapi ujian masuk. Setidaknya begitulah yang kualami."


Bukankah itu cuma dendam pribadi, Sensei?


Melihat kami yang memandang dengan curiga, Amanatsu-sensei menepuk-nepuk papan tulis.


"Dengarkan! Liburan musim panas ini adalah liburan musim panas terakhir dalam hidup kalian! Liburan musim panas kelas tiga habis untuk kelas tambahan dan bimbel. Liburan mahasiswa juga tidak enak. Isinya cuma minum alkohol, kerja paruh waktu, atau ikut kuliah intensif yang sama sekali tidak diminati karena kekurangan SKS!"


Itu juga terdengar seperti pengalaman pribadi Sensei saja.


Tolong jangan menularkan sisi gelap dunia kepada kami, para siswa SMA yang masih polos.


"Jadi manfaatkan liburan musim panas ini sebaik-baiknya... eh, tunggu, bukan begitu maksudku. Maksudku, jangan berlebihan. Hei, Nukumizu, kau mengerti, kan?"


Kenapa aku yang dipanggil langsung?


Tolong hentikan, Amanatsu-sensei.


Saat aku menahan tatapan seluruh kelas, Amanatsu-sensei membanting buku absennya ke meja guru.


"Sudahlah. Pokoknya jangan bikin aku repot. Liburan musim panas... dimulai!"



Di tangga darurat gedung sekolah lama.


Aku bersandar pada pegangan tangga sambil memegang sekotak susu dan memandangi langit.


Langit biru yang begitu cerah.


Awan kumulus yang menjulang tinggi.


Musim semi telah berlalu menjadi kenangan samar, dan musim panas kini memenuhi langit.


Semester pertama ini dimulai dari keributan masuknya Shiratama Riko ke klub dan ancaman pembubaran sementara Klub Sastra, lalu berlanjut hingga aku terseret ke pemilihan OSIS.


Dan...Pengakuan cinta pertama dalam hidupku.


Tatapan serius Basori Tiara hari itu masih begitu jelas di ingatanku.


Saat aku mengenang beberapa bulan terakhir, Komari di sebelahku melirik tajam.


"A-ada apa? Lagi mikirin perempuan, ya?"


"Bukan. Memangnya kau menganggapku ini apa?"


"M-musuh perempuan."


Setelah berkata begitu, Komari kembali mengisap susu kotaknya.


...Komari Chika.


Sejak naik ke kelas dua, lingkungan di sekitarnya juga berubah.


Komari yang dulu tidak pernah berbicara dengan siapa pun di kelas, sekarang mulai sering bersama duo 12K, yaitu Yanami dan Himemiya-san.


Memang kebanyakan dia hanya duduk diam, tetapi itu tetap kemajuan besar.


Aku sendiri juga jadi lebih sering bersama Ayano dan Sakurai-kun, sehingga kesempatan datang ke tangga darurat pun berkurang.


Kadang kalau jadwal kami tidak cocok, aku makan siang sendirian di sini.


Anehnya, pada saat seperti itu Komari juga sering ada di sini, seolah memang ada alur khusus bagi orang-orang yang makan sendirian.


"Ada apa? Kenapa terus melihatku?"


"Oh, cuma baru sadar susu yang kau minum hari ini varian 'Extra Rich'."


Begitu aku berkata santai, Komari menyeringai dengan sisa susu masih menempel di bibirnya.


"B-buat merayakan liburan musim panas. Jadi aku beli yang lebih mahal."


"Begitu ya.... Aku juga seharusnya beli yang itu."


Saat kami menikmati angin sepoi-sepoi, Komari menarik ujung bajuku.


"Ada apa, Komari?"


"H-hari ini... kau tidak bicara sama Yanami, kan?"


...Tajam sekali.


Pantas saja dia selalu menang dariku saat ujian.


Aku melepaskan sedotan susu dari mulutku lalu menjawab dengan wajah biasa saja.


"Begitu ya? Memang sering juga kami tidak mengobrol di kelas. Aku bahkan tidak menyadarinya."


Saat aku puas dengan jawaban yang menurutku sempurna, Komari memandangku seolah melihat sampah.


"A-apa ada sesuatu gara-gara perempuan dari sekolah lain tempo hari?"


"Guh!"


Aku tersedak.


Komari lalu menggosok pipiku dengan dasar kotak susunya.


"Bukan begitu. Ya... ada beberapa hal yang terjadi. Pokoknya cuma begitu."


"M-mati saja."


Saat kesalahpahaman baru hampir lahir, terdengar langkah kaki bersemangat dari bawah tangga.


"Oh, ternyata kalian memang di sini."


Sambil rok seragamnya berkibar, Yakishio muncul.


Dia bergantian melihatku dan Komari, lalu menyatukan kedua tangannya dengan wajah canggung.


"...Apa aku mengganggu?"


"Tidak."


"T-tidak!"


Jawaban kami berdua keluar bersamaan.


"Syukurlah."


Yakishio langsung menyandarkan tubuhnya ke punggung Komari.


"Yakishio, ada perlu apa ke sini?"


Aku bertanya seolah bukan orang yang juga sering datang ke sini.


Yakishio memainkan rambut Komari sambil menjawab.


"Hari ini klub libur. Aku cuma mau menghabiskan waktu sampai ketemu teman-teman atletikku."


Kalimat itu terasa familiar. Rasanya tahun lalu, tepat di hari penutupan semester juga, kami berkumpul di sini seperti ini.


Sore hari setahun yang lalu...masih ada satu orang lagi.


Seolah menjawab pikiranku, terdengar langkah kaki dari bawah tangga.


"Ketua memang selalu populer, ya."


Yang muncul adalah anggota OSIS sekaligus anggota baru Klub Sastra, Shiratama Riko. Kemunculannya yang tak terduga membuatku bingung.


Shiratama-san berdiri di sampingku, dengan Komari berada di tengah kami.


"Wah, anginnya enak sekali."


Dia sedikit membungkukkan badan sambil memandang ke kejauhan.


"Ada apa datang ke sini?"


"Entah kenapa saya merasa kalau datang ke sini pasti ada sesuatu yang menyenangkan. Dan ternyata benar."


Sambil menahan poni rambutnya dengan kedua tangan, Shiratama-san tersenyum.


Seperti biasa, dia tetap imut dan harum.


Yakishio meletakkan siku di bahuku lalu berbicara pada Shiratama.


"Tama-chan, sudah lama ya. Sehat?"


"Syukurlah sehat. Senpai, apa sekarang juga masih sering mandi di rumah Ketua?"


"Iya. Akhir-akhir ini panas sekali. Tama-chan juga mau ikut numpang mandi?"


"Boleh juga."


...Eh, boleh?


Bukan, tentu saja tidak boleh! Gadis seusianya tidak boleh sembarangan numpang mandi di rumah laki-laki.


"Tapi Kaju-chan bakal bilang apa ya? Menurut Ketua bagaimana?"


Sambil berkata begitu, dia menatapku dari bawah.


"Entahlah. Kaju sebenarnya agak pemalu... atau mungkin lebih konservatif."


Shiratama-san memiringkan kepala sambil tetap memegang poninya.


"Kalau begitu, bagaimana kalau kita semua mandi sambil memakai baju renang? Bak mandi di rumah Ketua juga cukup besar."


"Seru tuh! Pesta baju renang!"


Pesta baju renang... di kamar mandi rumahku?


Sungguh tidak pantas.


Walaupun…mandi memang seharusnya dilakukan tanpa mengenakan apa pun ya?


Kalau justru memakai baju renang di dalam kamar mandi, tingkat keterbukaannya malah lebih rendah dan lebih sehat.


Memang agak membuat penasaran, tetapi sebagai ketua Klub Sastra aku harus mengerem pembicaraan ini.


"Memangnya aku juga termasuk peserta?"


Begitu kata-kata itu keluar dari mulutku, suasana langsung hening.


Belum sempat menyesal, Yakishio dan Shiratama saling tersenyum nakal di kedua sisiku.


"Boleh dong! Nukkun juga pakai baju renang!"


"Ketua ternyata cukup berani juga ya. Kalau begitu saya tidak perlu sungkan lagi."


"Bukan begitu. Aku cuma penasaran, bukan serius."


Sepertinya aku memang sudah terlalu terpojok.


Aku pun meminta bantuan kepada Komari dengan tatapan memohon.


"P-pakai celana renang model boomerang saja... lalu mati."


Kejam sekali.


Sudah kubilang bukan begitu.


Aku sendiri juga tidak tahu apa yang bukan, tapi pokoknya mereka salah paham.


Sambil membiarkan keributan para gadis terus berlangsung, aku melirik ke arah tangga.


──Sepertinya tidak akan ada orang lain yang datang lagi.


Saat aku terus memandang ke sana, Komari menyikutku cukup keras.


"Y-Yanami tidak akan datang. Dia pergi karaoke sama Himemiya dan yang lain."


"Bukan berarti aku sedang menunggunya. Aku cuma berpikir kalau ada satu orang lagi datang, anggota Klub Sastra akan lengkap."


"Ya tetap saja itu Anna-chan. Nukkun, nyawamu berkurang lagi."


Saat Yakishio menatapku dengan mata setengah menyipit, Shiratama-san ikut menyela.


"Senpai, maksudnya apa itu? Kedengarannya menarik."


"Begini, waktu itu Nukkun di Nagoya—"


"Yang itu tidak usah diceritakan, kan?!"


Aku buru-buru memotong pembicaraan.


"Tidak boleh!"


"Tidak boleh."


"M-mati saja!"


Ketiga gadis itu langsung menyerangku bersamaan.


...Kenapa sampai hari terakhir semester pertama pun aku masih diperlakukan seperti ini?


Sambil menghela napas, aku mendongak ke langit musim panas. 


Langit biru yang membentang tanpa batas itu begitu mirip dengan langit yang kulihat setahun lalu.


Sambil memikirkan semua perubahan yang terjadi di sekelilingku, aku terus memandangi biru dan putihnya langit musim panas.



Malam itu, aku duduk di meja kamarku sambil memandangi jadwal liburan musim panas yang dibagikan sekolah.


──Di kalender itu, kata "kelas tambahan" berjejer memenuhi banyak hari.


Saat kelas satu aku tidak pernah ikut, tetapi belakangan ini memang benar bahwa belajar sendiri sudah tidak cukup untuk mengejar pelajaran.


"...Sudah waktunya mulai memikirkan ujian masuk juga."


Aku menyandarkan tubuh ke kursi dan menatap langit-langit.


Ayano memang belum pernah mengatakannya secara langsung, tetapi sepertinya dia menargetkan Universitas Tokyo.


Sementara itu, Sakurai-kun tampaknya ingin melanjutkan kuliah di dalam prefektur.


Yakishio mengincar jalur rekomendasi lewat atletik.


Sedangkan Komari belakangan ini selalu bertingkah mencurigakan, jadi pasti diam-diam sudah mulai mempersiapkan diri.


Kursiku berderit.


"...Kalau Yanami sendiri bagaimana, ya?"


Tanpa sadar kata-kata itu keluar dari mulutku.


Aku belum pernah membicarakan masa depannya dengan Yanami.


Hal-hal yang membentuk dirinya hanyalah makanan... dan cinta panjang yang tidak pernah terbalaskan.


Padahal kami sudah saling mengenal selama setahun, tetapi selain dua hal itu, aku hampir tidak tahu apa pun tentang Yanami.


Seolah memotong lamunanku, layar ponselku menyala, lalu nada dering berbunyi.


Aku mengangkat ponsel dan sedikit terkejut melihat nama yang muncul sebelum menekan tombol jawab.


"Halo, Nukumizu di sini."


"Maaf menghubungimu malam-malam begini. Apa Koharu menghubungimu?"


Suara yang terdengar adalah Hokobaru Hibari.


Sambil melihat jam di dinding, aku menjawab,


"Tidak, tidak ada. Memangnya terjadi sesuatu?"


"Sepertinya Koharu belum pulang ke rumah. Aku sudah menghubungi semua orang yang terpikir, tapi untuk berjaga-jaga aku juga ingin bertanya kepadamu."


Saat itu sudah lewat pukul sepuluh malam.


Kalau belum bisa dihubungi sampai jam segini, memang wajar kalau khawatir.


"Baik. Kalau ada kabar, aku akan segera menghubungi."


Setelah bertukar beberapa kata lagi, telepon pun ditutup.


Mendengar seseorang tidak bisa dihubungi sampai larut malam membuatku teringat pada pasangan Himemiya setahun yang lalu.


Otak Yanami yang rusak malam itu... sampai sekarang rasanya masih tetap rusak.


Tapi Koharu-san jelas tidak sedang bersama Sakurai-kun, jadi memang mengkhawatirkan....


Saat aku mencoba mengingat kemungkinan tempat tujuannya, pintu kamarku terbuka perlahan dan Kaju mengintip.


"Ada apa? Bahkan tidak mengetuk dulu."


"Onii-sama... ada tamu...."


Tamu? Untukku? Jam segini?


Melihat Kaju yang hanya terlihat bingung, aku menepuk-nepuk kepalanya lalu menuju pintu masuk.


...Entah kenapa aku punya firasat buruk. Perkembangan seperti ini sudah sering kubaca di novel ringan.


Mengabaikan tatapan penasaran kedua orang tuaku dari ruang tamu, aku berjalan menuju pintu.


Dan di sana berdiri sumber firasat burukku.


Siswi kelas dua SMA Ayame, Mizushima Koharu.


Dia membawa tas besar dan tersenyum canggung.


"...Aku datang."


Begitu ya....


Jadi benar-benar datang....


"Kelihatannya berat. Biar kubawakan tasmu. Masuk dulu saja, bagaimana kalau minum teh?"


Sambil menjerit dalam hati, aku menerima tas besar yang terasa sangat berat itu.



Dua hari telah berlalu sejak Mizushima Koharu tiba-tiba muncul di rumahku malam itu.


Kedatangannya benar-benar membuat keluarga Nukumizu geger.


Sudah larut malam, lalu seorang gadis dengan masalah pribadi datang mencari putra sulung keluarga Nukumizu.


Ayah, Ibu, bahkan Kaju dibuat heboh.


Seperti yang kuduga, dia bertengkar dengan Sakurai-kun lalu kabur dari rumah. Karena sudah terlalu malam, malam itu dia menginap di rumah kami.


Dan hasil akhirnya adalah──


"Nukumizu-kun, ada pakaian yang mau dicuci? Sekalian kucuci ya."


"Ah... tidak usah."


Dia... masih tinggal di rumahku.


Kenapa dia belum pulang? Dan yang lebih penting, kenapa dia justru datang ke rumahku?


Harusnya masih ada tempat lain yang lebih masuk akal, seperti rumah temannya atau rumah Hokobaru-senpai.


"Oh ya, pakaian yang kemarin sudah kulipat. Tapi kaus kakimu ada yang kurang sebelah. Apa masih di kamarmu?"


Saat aku membuka pintu kamar karena kesiangan bangun, dia menyerahkan pakaian yang sudah dilipat rapi.


"Mungkin jatuh di belakang tempat tidur...."


"Kalau begitu nanti setelah sarapan, sekalian keluarkan bersama piyamamu ya."


Setelah berkata begitu, dia berjalan turun ke lantai bawah sambil membuat suara langkah sandal.


...Kenapa orang itu bisa beradaptasi secepat ini?


Masih mengantuk, aku turun ke ruang makan dan mulai mengambil sarapan yang sudah disiapkan Kaju.


"...Onii-sama, aku sudah mencapai batas kesabaranku."


Sambil meletakkan kopi dingin di depanku, Kaju berbicara dengan nada sungguh-sungguh.


"Eh... apa kalian bertengkar?"


Kaju menggeleng pelan.


"Aku merasa ada sesuatu dari Mizushima-san yang sama sekali tidak cocok denganku. Dan lagi, kenapa pacarnya Sakurai-san yang kabur dari rumah justru menginap di rumah kita?"


Mana kutahu.


Aku sendiri benar-benar tidak mengerti.


Entah kenapa Ayah dan Ibu malah sangat bersemangat dan berkata, 'Anggap saja rumah sendiri, tinggallah sesukamu.'


Akibatnya, Koharu-san sekarang benar-benar seperti istri yang tiba-tiba tinggal di rumah kami.


"Katanya sih bertengkar dengan Sakurai-kun...."


"Kalau bertengkar dengan pacar, bukan berarti harus kabur dari rumah, kan?"


Rambut panjang Kaju bergoyang saat dia mendekatiku.


Memang benar. Pertengkarannya dengan Sakurai-kun sama sekali tidak ada hubungannya dengan kabur dari rumah.


Artinya, alasan sebenarnya Koharu-san datang ke rumahku adalah──


"...Untuk membuat Sakurai-san cemburu."


Sambil menusukkan sepotong buah persik dengan garpu, Kaju langsung menyuapkannya ke mulutku.


"Onii-sama adalah pria paling luar biasa di dunia. Kalau pacarnya menginap di rumah pria seperti itu, bahkan Sakurai-san pun pasti tidak akan sanggup menahan rasa cemburu."


Begitu ya....


Nyam... Nyam...Persiknya enak.


Semakin bersemangat, Kaju menggenggam garpu sambil menatap lurus mataku.


"Artinya, dia memanfaatkan Onii-sama supaya pacarnya yang dingin itu cemburu! Dan setelah itu perkembangan berikutnya adalah──"


Glek. Aku menelan potongan persik.


"Perkembangan berikutnya?"


"Dia akan jatuh cinta kepada Onii-sama!"


"Tidak mungkin."


Sambil mengoleskan selai jeruk ke roti panggangku, aku menegur Kaju.


"Jangan mengatakan hal yang tidak sopan. Koharu-san dan Sakurai-kun itu...."


...


Memang hubungan mereka sedang tidak berjalan baik.


Kalau baik-baik saja, tentu Koharu-san tidak akan sengaja menginap di rumah teman pacarnya hanya karena bertengkar.


"Yah... pokoknya memang sedang ada masalah. Nanti juga dia bosan lalu pulang."


"‘Nanti’ itu kapan?!"


Siapa tahu. Karena sekarang sedang libur musim panas, paling buruk mungkin sampai akhir bulan depan....


Kaju mengguncang-guncang tubuhku sehingga aku jadi susah makan roti.


"Tolong minta Sakurai-san membujuknya agar pulang!"


"Tapi Koharu-san sama sekali tidak mau menerima telepon dari Sakurai-kun."


Lagi pula, aku juga tidak mau mereka bertengkar hebat di rumahku. Untuk sementara lebih baik melihat situasinya dulu.


Melihat sikapku yang tidak tegas, Kaju menghela napas.


"...Aku juga sudah berkonsultasi dengan Yanami-san, tapi sampai sekarang belum dibalas."


"Tunggu. Kau memberi tahu Yanami? Serius?"


Ini bukan saatnya santai makan roti.


Aku buru-buru mengambil ponsel. Di layar notifikasi sudah berjajar banyak pesan dari Yanami.


"Baik.... Akan kuurus."


"Kumohon ya, Onii-sama."


Saat itu pintu ruang tamu terbuka dan Koharu-san muncul.


"Kaju-chan, deterjennya habis. Ada yang baru?"


"Ah, iya. Aku ambilkan."


Lalu Kaju menoleh kepadaku.


"Kalau begitu, Onii-sama, aku serahkan padamu."


Melihat Kaju keluar dari ruang tamu, aku membuka pesan-pesan dari Yanami.


Aku tidak benar-benar mengerti isinya.


Tetapi satu hal yang jelas...dia sedang marah.


Dan dia lapar.


...Kalau begitu, aku memang harus menyelesaikan masalah ini.


Setelah menguatkan tekad, aku menggigit roti panggangku yang sudah benar-benar dingin.



Sekitar dua puluh menit naik kereta dari Stasiun Toyohashi.


Aku kini berdiri di depan Stasiun Oshimizu di Jalur Atsumi, Stasiun Toyohashi.


Jam digital menunjukkan pukul 10.25.


Lima menit lagi sebelum waktu janjian dengan Sakurai-kun.


Alasan aku datang ke sini sederhana. Atas permintaan Kaju dan Yanami, aku memutuskan berbicara langsung dengan Sakurai-kun.


Keluar dari bangunan stasiun yang kecil, hanya ada beberapa toko mungil berjajar.


Nyaris tak ada orang. Selain itu hanya ada tempat parkir mobil dan parkir sepeda. 


Meski merupakan stasiun terdekat menuju SMA Ayame, di luar jam berangkat sekolah tempat ini tampak sangat sepi.


Saat aku memperhatikan seekor burung putih yang berlari-lari kecil di tanah, sebuah sepeda melintas di sudut pandangku.


Sakurai-kun.


Setelah memarkir sepedanya, dia langsung membungkuk canggung di depanku.


"Maaf lagi kali ini. Benar-benar maaf."


"Sudahlah, tidak perlu meminta maaf berkali-kali. Lagi pula aku juga...."


...


Tidak. Kali ini aku memang sama sekali tidak bersalah.


Melihatku terdiam, Sakurai-kun kembali membungkuk.


"Maaf sudah membuatmu datang jauh-jauh. Padahal kalau sore, aku yang bisa datang ke sana."


"Nggak apa. Kebetulan aku juga sedang senggang. Lagi pula setelah ini kita akan ke SMA Ayame, kan?"


Sambil berjalan menuju SMA Ayame, kami mengobrol.


Begitu mendengar Sakurai-kun akan menemui OSIS sekolah itu, akulah yang menawarkan diri ikut bersamanya.


"Katanya nanti ada perkemahan gabungan SMP dan SMA, ya? Kaju juga ikut, jadi aku penasaran kegiatan apa saja yang dilakukan."


Begitulah alasan yang kuucapkan. Namun tujuan sebenarnya berbeda.


──Pacar Koharu-san ada di OSIS SMA Ayame.


Itulah informasi yang kudapat dari kakak Shiratama saat acara makan bersama. Tentu saja aku masih setengah tidak percaya.


Namun demi menjaga senyum Sakurai-kun...


Dan supaya tidak dimarahi Yanami...


Mau tak mau aku harus ikut mencampuri urusan ini.


Tanpa mengetahui isi pikiranku, Sakurai-kun tersenyum.


"Bagaimanapun juga aku senang kau ikut. Tadinya hari ini aku datang sendirian, jadi rasanya tidak enak kepada mereka."


"Kalau tidak salah, waktu itu pihak Ayame yang datang ke Tsuwabuki, ya?"


Sakurai-kun mengangguk.


"Iya. Waktu itu aku sedang berhalangan, jadi ini pertama kalinya aku bertemu mereka. Aku tidak sabar."


Orang ini benar-benar aneh. Bertemu orang yang belum dikenal malah membuatnya bersemangat.


Saat kami berjalan melewati kawasan perumahan dan ladang, tak lama kemudian bangunan sekolah terlihat di balik pagar sebelah kiri.


Ini pertama kalinya aku melihat SMA Ayame.


Bangunannya tua dan memberikan kesan bersejarah, mirip dengan SMA Tsuwabuki. Bangunan di samping gimnasium itu mungkin aula... atau gedung bela diri.


"Gerbang sebelah sini tertutup. Gerbang utamanya di mana ya?"


"Di sisi seberang. Aku tadi mengikuti jalan yang biasa kupakai dari rumah ke stasiun, jadi malah memutar."


Sakurai-kun tertawa malu.


Seperti biasa, senyumnya memang menggemaskan.


Saat kami berjalan memutari lapangan sekolah, Sakurai-kun akhirnya membuka mulut dengan ragu.


"...Koharu baik-baik saja?"


"Iya. Dia banyak membantu pekerjaan rumah. Kaju juga... yah, lama-lama mulai terbiasa."


"Berarti aku benar-benar sudah merepotkan kalian."


Kami saling memandang lalu tersenyum pahit.


"Masalah perjalanan kemarin juga melibatkan kami semua. Jadi... bisakah kau memaafkannya?"


"Aku tidak marah kepada Koharu. Lagi pula Nukumizu-kun sendiri hanya ikut terseret, kan?"


Sakurai-kun menghela napas pelan.


"Sejak awal memang aku yang terlalu tidak tegas. Aku bahkan tidak punya hak mengatakan apa pun."


Setelah berkata begitu, dia terdiam dengan wajah murung.


Melihat ekspresi itu, beberapa wajah lain terlintas di benakku.


...Menjalin hubungan dengan seseorang ternyata benar-benar merepotkan.



Hari keempat Koharu tinggal di rumah kami.


Saat aku sedang makan siang sendirian di meja makan, sebuah piring besar diletakkan di depanku.


"Sudah ditunggu! Hiyashi chuka spesial keluarga Mizushima!"


"Oh, terima kasih."


Aku mengucapkan terima kasih seadanya lalu mengambil sumpit.


Memasuki hari keempat, Koharu sudah benar-benar terbiasa dengan kehidupan keluarga Nukumizu.


Selain membantu membersihkan rumah dan mencuci pakaian, makan siang hari ini juga merupakan masakan buatannya.


Isi hiyashi chuka itu terdiri dari telur, ham, dan mentimun yang umum, ditambah tomat dan rumput laut—bahan yang biasanya tidak pernah ada di rumah kami. Di samping piring juga tersedia...


"Mustard dan mayones?"


"Iya. Di rumahku itu kombinasi yang biasa. Apa kamu kurang suka?"


Aku memang pernah mendengar kombinasi itu, tapi baru pertama kali mencobanya di rumah kami.


Saat mencampurkan saus cuka-kecap dengan mustar dan mayones lalu menyantap mienya, rasa gurih yang lembut dan asamnya diikuti sensasi pedas yang segar.


Ternyata enak juga.


"Iya, enak. Jadi ada cara makan seperti ini juga ya."


"Syukurlah! Kalau begitu, aku juga makan ya!"


Koharu duduk di sampingku lalu mulai menyantap hiyashi chuka dengan lahap.


Cara ia menggunakan sumpit sangat rapi. Dengan ujung sumpitnya ia dengan cekatan mengambil telur iris tipis.


Tanpa sadar aku terpaku memperhatikannya sambil mengunyah mentimun renyah, sampai Koharu kembali bertanya.


"Ngomong-ngomong, di sekitar sini ada supermarket?"


"Hmm... yang dekat sih tidak ada. Biasanya kami belanja bahan makanan saat akhir pekan atau pergi ke daerah Sakana-machi."


Setelah menjawab, aku berpikir sejenak.


"Kalau toko ikan segar sih ada. Jalan kaki sekitar lima belas menit."


"Oh begitu ya. Lain kali aku masakkan hidangan ikan untukmu."


"Benarkah? Aku jadi menantikannya."


Setelah berkata begitu, aku langsung menyeruput mie hingga habis.


...Aku tak mungkin menceritakan ini pada Kaju.


Entah kenapa, suasananya mulai terasa seperti kehidupan pengantin baru, dan itu cukup menyenangkan.


Tunggu dulu.


Sebelum menyalahkanku, coba pikirkan baik-baik.


Seorang gadis imut yang nyaris tidak kukenal tiba-tiba datang tinggal di rumahku. Dia pandai mengurus rumah, ceria, sedang libur musim panas, dan orang tuaku juga mengizinkannya.


Bukankah itu situasi impian semua orang?


Aku bahkan punya setidaknya tiga light novel dengan cerita seperti itu. Jadi aku sama sekali tidak bersalah.


Saat sedang sibuk membela diri dalam hati, aku merasakan tatapan menusuk di pipiku.


Kaju mengintip dari balik meja dapur. Hanya kedua matanya yang terlihat, menatapku tanpa berkedip.


"Kaju, kamu tidak makan? Nanti mienya keburu lembek."


"...Nyaa."


Entah kenapa Kaju jadi seperti Komari.


Yah, gadis asing tiba-tiba menetap di rumahnya. Sebagai penghuni perempuan yang lebih dulu tinggal di sini, pasti ada banyak yang mengganggu pikirannya.


Sambil menyelipkan rambut panjangnya ke belakang telinga, Koharu bertanya.


"Ngomong-ngomong, Nukumizu-kun, nanti siang ada rencana? Mau menemaniku belanja bahan makan malam?"


"Hmm... soal makan malam..."


Aku menjawab dengan santai.


"Bagaimana kalau malam ini kita makan di luar saja?"


"Eh, boleh?"


"Sejak datang ke rumahku kamu terus sibuk membantu. Sesekali kamu juga harus beristirahat."


"Wah, senangnya. Terima kasih ya, Nukumizu-kun."


Koharu kembali melanjutkan usahanya menghabiskan hiyashi chuka sambil bersenandung riang.


"Orang yang biasa menipu ternyata sering kali lemah ketika justru menjadi pihak yang ditipu."


Seorang penjahat pernah mengatakan hal seperti itu.


Ternyata memang benar...


Sambil merasa lega, aku kembali menikmati hiyashi chuka. Namun tatapan yang kurasakan di pipi semakin tajam.


"...Kaju juga ingin ikut."


Dari seberang meja, Kaju kembali mengintip. Kali ini hanya separuh atas wajahnya yang terlihat.


"Mungkin pulangnya akan agak malam, jadi Kaju di rumah saja ya."


"......"


Kaju tetap diam dan terus menatapku.


Tingkahnya memang masih aneh. Tapi mungkin ada hari-hari ketika Kaju juga ingin menjadi seperti Komari.


Setelah menghabiskan hiyashi chuka, aku meneguk habis segelas teh gandum dingin.



Sore itu, aku dan Koharu berjalan beberapa menit dari Stasiun Toyohashi menuju sebuah kawasan pertokoan yang disebut Gedung Mizukami.


Tempat ini merupakan deretan bangunan tua yang dibangun di atas saluran air yang ditutup. Sebelum Festival Tsuwabuki, aku pernah datang ke sini bersama Yanami dan Komari.


Sambil mengenang saat itu, kami berhenti di depan restoran okonomiyaki yang menjadi tujuan kami.


Bangunannya sama tuanya dengan gedung-gedung di sekitarnya. Penampilannya memancarkan sejarah panjang sekaligus keyakinan bahwa makanannya pasti enak.


"Tempat yang ingin kamu datangi itu di sini?"


"Iya, sepertinya tempat ini."


"...Sepertinya?"


"Ah, tidak apa-apa. Ayo masuk."


Begitu melewati pintu, terlihat sebuah restoran kecil dengan meja konter dan sekitar tiga meja biasa.


Di depan konter terdapat panggangan besi besar, tempat koki memanggang pesanan pelanggan.


Kami duduk di salah satu meja sambil melihat-lihat interior yang terasa asing.


"Apa menu rekomendasinya?"


"Mungkin okonomiyaki dulu. Tapi negiyaki juga kelihatannya enak."


"Kalau begitu kita pesan dua-duanya lalu berbagi, ya."


Berbagi.


Entah kenapa, mendengar kata itu diucapkan oleh gadis selain Yanami membuatnya terdengar jauh lebih manis dan membuat jantungku sedikit berdebar.


Sambil menikmati okonomiyaki isi daging babi dan negiyaki isi cumi yang kami pesan, aku memandangi interior restoran yang sama tuanya dengan bagian luarnya.


Mungkin restoran ini sudah berdiri jauh sebelum aku lahir.


"Aku agak terkejut, lho. Nukumizu-kun yang mengajakku makan."


"Begitu ya?"


Koharu menopang pipinya dengan kedua tangan sambil tersenyum kepadaku.


"Soalnya kamu kelihatannya bukan tipe yang sering main dengan cewek."


"Memangnya aku pernah main dengan cewek?"


Aku spontan menyela. Koharu pun tertawa kecil.


Padahal percakapannya biasa saja. Namun entah kenapa terasa menyenangkan. Jadi beginilah rasanya mengobrol dengan gadis biasa...


...Ah, sekarang bukan waktunya melamun.


Sudah hampir waktunya.


Saat itu mata Koharu tiba-tiba membulat karena terkejut.


Aku mengikuti arah pandangannya dan menoleh.


Sepasang pria dan wanita baru saja masuk ke restoran.


Pria itu adalah Sakurai Hiroto. Begitu sampai di depan meja kami, ia menampilkan senyum ramah seperti biasanya.


"Kebetulan sekali ya, Koharu."


"...Iya, kebetulan sekali."


Koharu melirikku dengan tatapan seolah menyalahkanku.


Wanita yang bersamanya adalah Yanami Anna.


Baiklah.


Sekarang giliran Sakurai.



Koharu menusuk-nusuk okonomiyaki dengan sumpit sambil mengerucutkan bibir.


"Nukumizu-kun, kamu menipuku."


"Menipu sih... ya..."


Saat aku bingung menjawab, Sakurai duduk di sampingku.


"Aku yang meminta bantuan mereka berdua. Sekarang kita impas, ya."


Dengan senyum lembut dan nada bercanda yang sulit ditebak keseriusannya, ia berkata demikian.


Yanami menjatuhkan diri di kursi di samping Koharu, lalu mengangkat tangan ke arah konter.


"Permisi! Satu okonomiyaki spesial dan satu yakisoba babi, dua-duanya ukuran besar!"


Sekilas tindakannya memang seperti tidak peka suasana. Namun di restoran, setiap orang memang seharusnya memesan minimal satu hidangan.


Mungkin... Yanami hanya mengingatkan kami akan etika dasar yang mulai dilupakan di era media sosial ini.


Setelah cukup lama menunduk diam, Koharu akhirnya berbicara.


"...Aku sudah mendapat izin dari orang tuaku untuk menginap, dan orang tua Nukumizu-kun juga menerimaku dengan baik. Hiro-kun tidak ada hubungannya dengan itu, kan?"


Izin dari orang tuanya sebenarnya baru didapat setelah kejadian. Dan bukankah seharusnya aku juga yang dimintai izin?


Tolonglah, setidaknya mintalah izinku.


"Sayangnya aku tetap ada hubungannya."


"Kamu kabur dari rumah tepat setelah bertengkar denganku, lalu memilih pergi ke rumah Nukumizu-kun. Aku tidak sebodoh itu sampai tidak menganggapnya sebagai pesan yang ditujukan kepadaku."


Koharu membuka mulut, seolah hendak membantah.


Namun akhirnya ia hanya terdiam. Suasana menjadi berat.


Saat Sakurai hendak memecah keheningan, Yanami lebih dulu membuka suara.


"Hei, karena aku sudah dipanggil ke sini, biar aku ikut bicara."


Sambil seenaknya mengambil sebagian okonomiyaki untuk dibagi, Yanami menatap Sakurai.


"Mau terus menginterogasi soal kabur dari rumah juga tidak ada gunanya. Ini kan masalah kalian berdua. Bicarakan saja hal yang memang perlu dibicarakan."


Jarang-jarang Yanami berkata sesuatu yang masuk akal.


Sepertinya dia berniat bekerja sesuai porsi makanan yang dimakannya.


"Lagian kenapa kalian sampai bertengkar? Nih, Sakurai-kun, makan dulu."


Ia meletakkan sepotong okonomiyaki ke piring Sakurai, lalu langsung memasukkan sepotong lagi ke mulutnya sendiri.


Sambil tersenyum pahit, Sakurai mengambil sumpit.


"Sedikit karena perjalanan kemarin. Malah aku yang akhirnya dimarahi."


"Jangan bercanda terus. Aku sedang serius. Sebenarnya bagaimana kamu memikirkan hubungan kita ke depannya?"


...Ternyata situasinya jauh lebih serius daripada yang kukira.


Aku menenangkan diri dengan melihat Yanami yang tetap melahap okonomiyaki tanpa henti.


Nafsu makannya yang sama sekali tidak berubah terasa seteguh Pegunungan Hida.


Sakurai meletakkan sumpitnya lalu menatap Koharu dengan sungguh-sungguh.


"Mungkin selama ini aku memang belum cukup memprioritaskanmu."


"Tapi..."


Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.


"...Tolong tunggu aku sedikit lagi."


Keheningan kembali turun.


Koharu memainkan ujung jarinya dengan gelisah sebelum akhirnya bertanya dengan suara lirih.


"Selama aku menunggu... berarti tidak apa-apa kalau aku menghibur diri dengan pria lain?"


Pluk. Sepotong cumi jatuh dari sumpit Yanami.


Aku dan Yanami sama-sama memandang Sakurai. Namun ekspresinya tetap tidak berubah.


"Kalian pergi ke OSIS SMA Ayame, kan? Kalian juga bertemu Nirazawa?"


"Iya. Ketua Shinokuri juga menitip salam."


Koharu menggenggam kedua tangannya begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.


"...Nirazawa pasti mengatakan macam-macam, kan?"


"Yah, sedikit. Mungkin dia juga mengkhawatirkanmu."


Sakurai mencoba menjawab dengan santai. Namun suara Koharu makin lama makin keras.


"Hiro-kun benar-benar tidak keberatan?"


"Tidak keberatan soal apa?"


"Aku pergi bermain dengan laki-laki lain. Kamu tidak marah?"


"Aku percaya padamu. Lagi pula dia juga sudah punya pacar. Kami hanya berteman..."


"Itu tidak mungkin!"


Brak! Koharu menepuk meja lalu berdiri.


"Pacarmu pergi bertemu pria lain, dan kamu tetap tidak peduli?! Bagaimana kalau pria itu ternyata menyukaiku? Kamu benar-benar tidak merasakan apa-apa?!"


"Itu..."


Melihat Sakurai terdiam, Koharu menggigit bibirnya. Lalu kata-kata berikutnya mengubah seluruh suasana.


"...Berhentilah menemui Hibari."


Kata-kata itu menghantam Sakurai seperti paku yang ditancapkan ke dadanya.


Wajah Sakurai memucat seperti mayat sebelum akhirnya ia bersuara.


"Hiba-nee sudah bukan anggota OSIS lagi."


"Jadi..."


Ia menarik napas pelan.


"...Tolong biarkan aku terus mengawasinya sedikit lebih lama."


Mungkin hanya Sakurai dan Koharu yang memahami arti sebenarnya dari kalimat itu. Namun bahkan aku pun tahu betapa berat maknanya bagi mereka.


Setelah berdiri membisu beberapa saat, Koharu akhirnya berkata,


"...Sudahlah."


Hanya itu. Lalu ia meninggalkan restoran.


Perpisahan yang begitu sunyi membuatku hanya bisa terpaku.


Melihat Sakurai yang berdiri seperti kehilangan jiwanya, aku akhirnya bertanya,


"...Kamu tidak mengejarnya?"


Namun sebelum Sakurai menjawab, Yanami lebih dulu berbicara.


"Kalau dikejar, memangnya mau apa?"


"Ya... bicara supaya kesalahpahamannya..."


Kata-kataku menghilang di tengah jalan.


Mereka sudah berkali-kali berbicara. Saling melukai. Saling mengikis hati. Namun tetap bersama sampai sekarang.


Kalau sekarang dikejar lalu ditangkap...


Kesalahpahaman apa lagi yang sebenarnya bisa diluruskan?


Yanami menghabiskan potongan terakhir okonomiyakinya lalu mendorong piring kosong ke pinggir meja.


"Menurutku sih permintaan Koharu memang egois."


"Tapi kalau sudah pacaran, bukankah intinya adalah seberapa jauh kalian bisa menerima keegoisan pasangan?"


Yanami memutar sumpit sekali lalu menunjuk Sakurai.


"Kamu juga egois, Sakurai-kun."


"Kalau kalian sama-sama tidak mau mengalah, ya hasilnya bakal terus begini."


"Kalian akan baikan, lalu beberapa waktu kemudian mengulang hal yang sama."


"Kamu memang berniat terus begitu sampai salah satu akhirnya menyerah?"


Sakurai hanya menunduk tanpa kata.


Melihat itu, aku akhirnya menyela.


"Yanami-san, itu sudah keterlaluan."


Mungkin ia sendiri juga merasa begitu. Yanami pun berkata pelan,


"...Maaf. Tapi menurutku, sampai kamu benar-benar siap, lebih baik jangan menemuinya dulu. Untuk sementara, biarkan kami yang mencari Koharu."


Saat Yanami hendak berdiri, pelayan datang sambil kebingungan.


"Maaf sudah menunggu. Okonomiyaki spesial dan yakisoba babi ukuran besar..."


Yanami menerima hidangan itu....lalu duduk kembali.


"Pokoknya makan ini dulu."



Saat aku dan Yanami keluar dari restoran, Koharu sudah tidak terlihat di mana pun.


Di kawasan Gedung Mizukami yang mulai diselimuti senja, cahaya dari kafe dan toko-toko perlahan berganti menjadi lampu-lampu bar.


"Harusnya kita langsung mengejarnya tadi, kan?"


Yanami hanya mendengus mendengar protesku yang sangat masuk akal.


"Ya jelas tidak. Kalau sudah pesan makanan ya harus dimakan."


"Kamu pernah dengar istilah food loss, kan?"


"Pernah sih."


"Itu artinya apa?"


"Pokoknya... kalau menyisakan makanan nanti jadi kurus... begitu lah."


"Oh begitu."


...Kurasa itu salah.


Kami berkeliling mencari di sekitar sana, tetapi tanpa petunjuk mustahil menemukan Koharu.


Aku menurunkan ponsel dari telingaku sambil menatap langit yang kini sudah gelap.


"Adikmu bilang apa?"


"Katanya Koharu juga belum pulang ke rumah."


"Berarti mungkin dia masih ada di sekitar sini."


"Dia pergi tanpa membawa apa-apa, jadi seharusnya tidak mungkin pergi terlalu jauh."


Tas yang ditinggalkan Koharu di restoran masih berisi ponsel dan dompetnya. Dan yang membuka tas tanpa izin tentu saja Yanami. Jadi aku tidak bersalah.


"Ngomong-ngomong, kenapa kamu menganggap dia pasti akan kembali ke rumahmu?"


"Ya karena tanpa barang bawaan dia juga tidak mungkin langsung pulang ke rumahnya."


"Kalau jalan kaki butuh setengah hari."


Yanami terus menyenggol bahuku dengan kesal.


Aku membuka pesan yang baru masuk.


"...Sakurai bilang dia akan menunggu di depan restoran. Kalau kita menemukan Koharu, dia minta segera diberi kabar."


Karena memegang tas Koharu, ia memang tidak bisa meninggalkan tempat itu.


Saat perjalanan kemarin, Sakurai ditahan oleh tas Yanami karena ditipu. Kali ini, ia sendiri yang memilih menunggu sambil memegang tas Koharu.


...Seandainya saja hari itu Yanami tidak melakukan kesalahan ceroboh…


Bagaimana hubungan mereka sekarang?


Mungkin saja semuanya akan selesai karena terbawa suasana...


...Tidak. Kurasa tetap tidak akan begitu.


Melihat sifat Sakurai, kemungkinan besar ia hanya akan membujuk Koharu dengan lembut sampai pagi tiba tanpa terjadi apa-apa.


"...Kupikir Sakurai-kun akhirnya akan benar-benar mengambil keputusan lalu mengejarnya."


Yanami bergumam pelan.


"Tapi bukankah tadi yang menghentikannya justru kamu?"


Yanami menatapku tajam.


"Aku sudah mengatakan sebanyak itu. Dia juga sudah punya waktu untuk berpikir. Harusnya dia sudah memutuskan."


"Jadi kamu sengaja lebih memilih makan supaya dia punya waktu mengambil keputusan?"


"...Be... benar."


Yanami benar-benar buruk dalam berbohong.


"Tapi tiba-tiba disuruh berhenti menemui Hokobaru-senpai… Mana mungkin bisa langsung menjawab...Kalau kamu yang mengalaminya, Nukumizu-kun."


Yanami berhenti berjalan lalu menatap lampu jalan yang mulai menyala satu per satu.


"Kalau seseorang menyuruhmu berhenti menemuiku...Apa yang akan kamu lakukan?"


...Hah? 


Siapa yang akan mengatakan hal seperti itu?


Kaju mungkin.


Ya, kalau Kaju yang bilang, aku memang harus menurutinya.


"Ya tentu saja..."


Saat hendak menjawab, mataku menangkap wajah samping Yanami.


Di bawah cahaya lampu jalan, ekspresinya tampak muram. Bulu matanya yang panjang bergetar diterpa cahaya lampu mobil yang lewat. Entah kenapa dadaku terasa sesak.


Aku tidak bisa melanjutkan kata-kataku.


"...Tentu saja? Ya... maksudku…perkataan orang luar tidak perlu dipedulikan."


Aku menjawab dengan terbata-bata.


Entah kenapa Yanami kembali menyenggol bahuku.


"Hah? Kenapa?"


"Siapa tahu. Perpustakaan Machinaka belum kita cari, kan?"


Yanami kembali berjalan dengan langkah ringan.


...Entah kenapa aku jadi merasa takut.


Aku berjalan setengah langkah di belakangnya agar tidak dimarahi lagi.


Dengan nada santai, Yanami bertanya,


"Menurutmu... Sakurai-kun sebenarnya memang menyukai Hokobaru-senpai?"


"Itu..."


Pertanyaan yang selama ini kuhindari akhirnya muncul juga.


— Tatapan Hiroto Sakurai saat memandang Hibari Hokobaru.


— Tatapan Hibari Hokobaru saat memandang Hiroto Sakurai.


Di hadapan hubungan mereka yang seperti kakak dan adik itu, aku sengaja menutup mata terhadap keraguanku sendiri.


Namun Sakurai punya seorang kekasih.


Yaitu Koharu. Itu juga fakta.


Merasa Yanami sedang menunggu jawabanku, aku hanya memberikan jawaban yang biasa saja.


"Tapi Sakurai-kun punya pacar, yaitu Koharu."


"Meski sudah punya pacar, orang tetap bisa jatuh cinta, kan? Dan meskipun dia menyukai Hokobaru-senpai..."


Yanami menghentikan ucapannya.


— Meskipun menyukai Hokobaru-senpai, dia tetap bisa berpacaran dengan Mizushima Koharu.


Sebuah kenyataan yang terlalu jelas...


Justru karena itu sulit diucapkan. Kenyataan yang begitu menyedihkan dan tak berdaya.


Aku tidak percaya perasaan Sakurai kepada Koharu yang ia ungkapkan di pemandian terbuka dulu adalah kebohongan. Namun mereka bertiga sudah bersama sejak lama.


Mungkin...Terlalu lama.


"Nukumizu-kun, hati-hati langkahmu."


"Hah? Ah—"


Aku tersandung saat menaiki eskalator luar ruangan yang menuju perpustakaan.


Selama ini aku terus meyakinkan diri bahwa akhir dari semua keributan ini adalah saling memahami dan berdamai.


Namun, kalau terus mengikuti arus seperti ini...


Mungkinkah yang menunggu di ujung jalan bukanlah itu?


"...Nukumizu-kun, kamu tidak apa-apa? Wajahmu pucat."


Yanami menatapku dengan cemas dari ujung atas eskalator.


Aku memaksakan sebuah senyum.....lalu menggenggam erat pegangan eskalator.



Mizushima Koharu, yang mengenakan seragam SMP Sasayuri, berbaring telentang di atas tatami.


"Aku nggak ngerti! Hibari, ajarin dong!"


Hokobaru yang sedang duduk di meja belajar tersenyum kecut lalu bangkit dari kursinya.


Sepulang sekolah, mereka mengadakan sesi belajar di kamar Hokobaru. Meski begitu, Koharu sepenuhnya berada di pihak yang diajari. Hibari duduk di meja rendah tempat peralatan belajar Koharu berjajar, lalu menarik buku catatannya ke hadapan.


"Lho, hampir semuanya sudah kamu kerjakan dengan benar."


"Serius?"


Seketika Koharu bangkit sambil tersenyum lebar.

Hokobaru mengetuk-ngetukkan buku pelajaran.


"Nih, kamu cuma salah di bagian substitusinya."


"Wah, ternyata aku jenius!"


Hokobaru memandang Koharu yang kembali mengerjakan soal sambil bersenandung dengan ekspresi senang.


"Kalau materi kelas tiga SMP, kenapa tidak minta Hiroto saja yang mengajarimu?"


Mendengar usulan Hokobaru, Koharu menghela napas.


"Hiro-kun juga lagi sibuk ujian masuk, kan? Aku nggak mau ganggu dia."


"Kalau ganggu aku tidak apa-apa?"


Mendengar candaan itu, Koharu menggembungkan pipinya dengan sengaja.


"Kan ujian Hibari sudah selesai. Masa ngajarin adik imutmu sendiri nggak boleh?"


"Ya, memang benar. Adik kecilku memang imut."


Sambil tertawa, Hokobaru berdiri lalu kembali duduk di kursinya.


Melihat punggungnya, Koharu tiba-tiba bertanya dengan nada yang terdengar lebih dewasa.


"Hei... akhir-akhir ini Hiro-kun pernah datang ke kamar ini?"


Hening sesaat. Seolah tak terjadi apa-apa, Hokobaru membalik halaman kamus.


"...Entahlah. Mungkin dia pernah mampir sekalian saat ada urusan."


"Begitu ya. Soalnya kalian kan sepupu."


Koharu diam-diam memasukkan sehelai rambut yang disembunyikannya di telapak tangan ke dalam saku.


Rambut yang pendek dan halus itu berbeda dengan milik Hokobaru maupun dirinya sendiri—rambut milik Sakurai.


"...Hei, sekolah di Tsuwabuki itu menyenangkan?"


Mendengar pertanyaan mendadak itu, Hokobaru menoleh dari balik bahunya.


"Ya... ada banyak orang yang menarik di sana. Kurasa tempat itu cocok untukku."


"Begitu ya..."


Hanya itu yang diucapkan Koharu, lalu ia berpura-pura kembali belajar.


Sekolah tujuan Koharu adalah SMA Ayame. Sementara sekolah tujuan Sakurai adalah SMA Tsuwabuki. Setelah lulus SMP, jalan mereka akan berbeda.


Tentu saja, hal itu sudah ia ketahui sejak lama. Namun meski begitu, Koharu tetap tak mampu mengalihkan pandangannya dari punggung Hokobaru yang tegap dan anggun.



Mizushima Koharu juga tidak ada di Perpustakaan Machinaka. Setelah kami menyusuri seluruh lantai gedung Kalmia di stasiun, waktu sudah melewati pukul delapan malam.


Kami keluar ke area concourse Stasiun Toyohashi dan hanya bisa berdiri kebingungan sambil memandangi orang-orang yang bergegas pulang.


"Yanami-san, sudah malam. Kita sebaiknya pulang."


"Bus terakhir masih ada kok. Kita cari sedikit lagi. Lagian..."


Yanami memainkan rambutnya dengan wajah canggung.


"Entah kenapa aku juga merasa ikut bertanggung jawab. Mungkin tadi aku memang harus memaksa Sakurai mengejarnya. Walaupun sekarang sudah terlambat sih."


Memang terlambat sekali untuk membahasnya sekarang. Tapi menyalahkan Yanami juga sudah tidak ada gunanya.


Kalau ada seorang siswa SMA berkeliaran tanpa membawa uang maupun ponsel, kemungkinan besar dia tidak akan pergi terlalu jauh dari pusat kota.


Dari jalan depan stasiun, pilihannya hanya menuju daerah Matsuba di utara atau ke arah balai kota.


Saat aku melamun memandangi etalase di depan, mataku menangkap sebuah replika chikuwa protein berukuran raksasa.


Chikuwa...


"...Bagaimana kalau di Stasiun Nishi?"


"Stasiun Nishi? Di sana kan nggak ada apa-apa."


Kasar sekali. Bukankah orang bijak pernah bilang, bahkan "tidak ada apa-apa" juga adalah sesuatu.


"Kalau dia nggak mau ketemu orang, Stasiun Nishi justru tempat terbaik. Selain Yamasa Chikuwa, isinya hampir cuma bar dan tempat minum. Kecil kemungkinan bertemu kenalan."


Mungkin karena terkesan dengan ide cemerlangku, Yanami menempelkan jari di dagunya sambil berpikir.


"...Gyoza."


"Hah?"


Mata Yanami langsung berbinar.


"Nukumizu-kun, di sekitar Stasiun Nishi ada beberapa restoran gyoza yang terkenal enak."


"Oh ya? Cerita yang nggak ada hubungannya bisa diceritain nanti saja."


Meski aku menanggapinya dengan dingin, Yanami tetap melanjutkan dengan wajah penuh kebanggaan.


"Di Stasiun Nishi ada restoran khusus gyoza dan restoran masakan Tionghoa. Ditambah satu restoran spesialis yang agak jauh, ketiganya disebut 'Segitiga Gyoza Stasiun Nishi'—setidaknya menurutku."


"Begitu ya. Cerita yang bagus. Boleh kita akhiri topik ini sekarang?"


Saat tiba di Stasiun Nishi pada malam hari, yang terlihat kebanyakan hanyalah penumpang Shinkansen yang naik ke mobil penjemput. Selain mereka, hanya beberapa orang mabuk yang berjalan sempoyongan.


"Daerah sini agak berbahaya buat siswi SMA. Aku cari sendirian saja. Yanami-san kembali ke Kalmia saja."


Belum sempat aku selesai bicara, Yanami sudah menatapku sambil menyeringai.


"Oho... jadi kamu mengkhawatirkanku ya? Oho..."


"Bukan begitu. Maksudku, sebagai ketua Klub Sastra. Keselamatan anggota kan tanggung jawab ketua."


"Iya, iya. Kalau begitu aku keliling minimarket di jalan besar saja. Gimana?"


"Kalau begitu sih tidak apa-apa..."


Entah kenapa suasana hati Yanami tampak sangat baik saat berjalan menuju jalan raya. Apa dia berniat berburu makanan minimarket?


Yah, sekarang kami berpencar, jadi pencarian pasti lebih efisien. Lagi pula Yanami sering sekali mampir ke mana-mana, terus terang saja dia cukup menghambat pencarian.


Baiklah, pertama-tama aku menuju jalan yang lebih sepi.


Setelah melewati sebuah restoran masakan Tionghoa bercat merah dan membelok di tikungan dekat hotel bisnis, aku berjalan tanpa sadar.


Tak lama kemudian, tempat parkir sepeda milik kota muncul di depan mata.


Daerah ini memang sangat sepi saat malam hari. Bahkan untuk orang yang ingin menghindari keramaian, tempat ini terasa terlalu sunyi.


Saat hendak berbalik, aku melihat tiga orang di ujung jalan.


Dua di antaranya tampak seperti pegawai kantoran yang sedang mabuk.


Dan satu lagi adalah seorang gadis muda berambut panjang—Koharu-san.


Sepertinya mereka sedang berbicara. Apa aku sebaiknya ikut campur? Pemandangan dua orang mabuk bersama seorang siswi SMA jelas tidak terlihat baik.


Aku mendekat dengan hati-hati, lalu menyapa mereka dengan lebih hati-hati lagi.


"Permisi... maaf mengganggu saat kalian sedang mengobrol."


Ketiganya langsung menoleh ke arahku.


Aku menelan ludah.


"Itu... dia adalah teman yang datang bersamaku... jadi... bolehkah aku membawanya pergi?"


Begitu aku selesai mengucapkannya dengan terbata-bata, kedua pegawai kantoran itu tertawa.


"Pacarnya ya?"


"B-bukan..."


"Jangan ditinggal sendirian di tempat begini ya. Nanti diganggu orang mabuk."


"Kayak kita, mungkin?"


Mereka kembali tertawa.


Astaga, ribetnya hampir setara Yanami. Saat aku hanya bisa terdiam, mereka menepuk bahuku lalu pergi.


"Semangat ya, anak muda!"


"Semoga kalian bahagia, ya!"


"Ah... iya, terima kasih."


...Apa kalau Yanami mabuk nanti jadinya seperti mereka?


Memikirkan itu membuatku sedikit putus asa.


Saat aku masih melamun, Koharu-san menatapku dengan wajah heran.


"Nukumizu-kun, kenapa kamu ada di sini?"


"Kami mencarimu. Ngomong-ngomong, siapa mereka tadi?"


"Mereka tiba-tiba ngajak ngobrol... Aku lagi bosan, jadi kuladenin."


Setelah berkata begitu, ia menundukkan wajah dengan canggung.


Benar juga. Anak zaman sekarang pasti bosan kalau tidak ada ponsel. Saat aku mengangguk sendiri, Koharu-san mulai berjalan meninggalkanku.


Sambil mengirim pesan kepada Yanami bahwa aku sudah menemukan Koharu-san, aku segera mengejarnya.


"Hei, mau ke mana?"


Koharu-san tetap berjalan tanpa menjawab.


Dia masih menyesuaikan langkahnya dengan langkahku di belakang, jadi sepertinya dia tidak berniat kabur dariku.


Sambil berjalan melewati kawasan perumahan yang sunyi, aku bertanya pelan.


"Kalau boleh tahu... kita sedang menuju ke mana?"


"Maaf ya. Kalau aku merepotkan, kamu boleh pulang kok."


"Yah... aku juga nggak bisa begitu saja pulang. Sakurai juga mengkhawatirkanmu."


Begitu mendengar nama kekasihnya, langkah Koharu-san langsung terhenti.


Saat aku hendak memanggilnya, ia kembali berjalan.


Sebenarnya dia mau ke mana?


Atau memang hanya berjalan tanpa tujuan?


Aku sempat berpikir untuk memanggil Sakurai, tetapi Koharu-san kembali berhenti.


...Sepertinya sudah waktunya. Sudah malam juga. Untuk hari ini, sebaiknya kubawa dia ke rumahku dulu.


"Koharu-san, sudah malam. Ayo kita kembali ke rumah."


Sambil mendekatinya, aku mengajaknya bicara. Namun Koharu-san tiba-tiba menggenggam pergelangan tanganku. 


Lalu, sambil tetap menundukkan wajah, ia berbisik pelan.


"...Kamu pilih yang mana?”


...Yang mana? Maksudnya yang mana? Jangan-jangan aku sedang berada di tengah-tengah segitiga gyoza atau semacamnya...?


Saat melihat ke sekeliling, tempat kami berdiri ternyata berada di antara dua bangunan dari sebuah fasilitas tertentu yang saling berhadapan.


Bangunan tinggi yang dihiasi lampu-lampu warna-warni itu bukan hotel bisnis, melainkan... sebuah tempat penginapan dan tempat beristirahat yang terutama digunakan oleh pasangan pria dan wanita untuk memadu kasih.


"T-tunggu... Kamu tahu tempat ini apa?!"


"...Iya."


Masih menggenggam pergelangan tanganku, Koharu-san mengangguk dengan malu-malu.


Begitu ya. Syukurlah. Kalau Koharu-san juga tahu kalau ini hotel, berarti—


"Eh, tidak, tidak, tidak! Aku tidak akan memilih salah satunya! Kenapa jadi begini?!"


"...Kurasa aku sudah tidak apa-apa lagi."


"Hah?"


Di wajahnya tampak campuran rasa pasrah, kelegaan... dan ketidakberdayaan seolah sedang berusaha berpegangan pada sesuatu.


Senyumnya yang seakan bisa runtuh kapan saja menusuk hatiku.


"Aku sudah berusaha sekuat tenaga, tapi sekarang sudah cukup. Nukumizu-kun sudah bersikap baik kepadaku. Jadi..."


"Tapi bukan berarti harus begini..."


Kalau bukan begini, lalu apa yang seharusnya dilakukan?


Sakurai-kun memang sangat menyayangi Koharu-san sebagai pacarnya. Namun di bagian terdalam hatinya, masih ada Hokobaru Hibari.


Dan... Koharu-san juga mengetahui hal itu.


"Ini juga pertama kalinya aku datang ke tempat seperti ini, jadi aku tidak begitu mengerti..."


Tangan Koharu-san yang menggenggam pergelangan tanganku bergetar halus.


...Aku tidak bisa menerima ajakan ini. Tapi aku juga tidak bisa begitu saja meninggalkannya.


Saat aku hendak membuka mulut tanpa berpikir panjang—


"Hei! Kalian berdua sedang apa?!"


Sesosok orang berlari menghampiri secepat peluru dan menyela di antara kami.


"Yanami-san?!"


Benar. Orang yang datang dengan wajah semarah iblis itu adalah Yanami. Tubuhnya gemetar karena marah saat menatap tajam wajah Koharu-san.


"Koharu-chan! Apa yang sebenarnya ingin kamu lakukan pada Nukumizu-kun?!"


"Hah? Maksudnya?"


Seolah ditanya sesuatu yang aneh, Koharu-san hanya memiringkan kepalanya sedikit.


"Aku sedang berpikir mau masuk hotel yang mana bersama Nukumizu-kun."


"...!"


Tatapan penuh niat membunuh langsung beralih kepadaku.


"Tidak, tidak, tidak! Aku sudah menolak! Maksudku, itu cuma terbawa suasana waktu bicara, kan? Kamu tidak serius, kan?"


"Aku serius kok."


Koharu-san, kumohon ikuti alur pembicaraannya.


Saat keringat dingin mengalir deras, Koharu-san memandang Yanami dengan heran.


"Cuma memastikan saja, Yanami-san tidak sedang berpacaran dengan Nukumizu-kun, kan?"


"Memang tidak!"


Melihat Yanami semakin memanas, Koharu-san tersenyum seolah merasa lega.


"Kalau begitu, tidak masalah kan kalau aku masuk hotel bersama Nukumizu-kun?"


"...!"


Yanami kehilangan kata-kata.


Tidak, tunggu. Kenapa justru mereka berdua yang bertengkar?


Saat aku hanya bisa panik, Koharu-san menarik tanganku dengan kuat.


"Kalau begitu, ayo masuk."


Hei, jangan masuk—tunggu, Koharu-san ternyata kuat juga?!


Detik berikutnya, Yanami dengan paksa melepaskan tangan Koharu-san dari tanganku, lalu berkata,


"Karena Nukumizu-kun itu milikku?!"


............Eh?


Saat kami semua membeku, Yanami tampaknya akhirnya sadar kembali.


Ia mengangkat kedua telapak tangannya ke arah kami sambil menggeleng-geleng.


"Tunggu, bukan begitu. Maksudku bukan seperti itu. Kalian paham, kan?"


"Ehm... Nukumizu-kun?"


Koharu-san yang kebingungan dengan perkembangan tak terduga itu menatapku, meminta penjelasan.


Baiklah, sekarang giliranku. Sebagai satu-satunya orang yang masih waras di sini, aku berkewajiban menyimpulkan keadaan.


"Ya, iya. Aku paham kok, Yanami-san."


Benar, memang bukan begitu.


Aku bukan milik Yanami, dan tentu saja hubungan kami bukan seperti itu.


"Sebagai ketua Klub Sastra, memang tidak boleh membuat masalah seperti ini. Nanti kalau klubnya dibekukan sementara lagi bakal repot."


"Hah?"


Entah kenapa Yanami menatapku dengan tatapan yang sangat mengerikan.


Apa ya? Apa ada yang kurang dari ucapanku?


"Ehm... Lagi pula, aku senang Yanami-san begitu mengkhawatirkan Klub Sastra."


"Hah?"


Entah kenapa bukan hanya Yanami, bahkan Koharu-san juga menatapku seolah melihat monster.


Ehm... Apa aku baru saja mengatakan sesuatu yang salah?


Saat aku benar-benar bingung, tiba-tiba Koharu-san menggenggam tangan Yanami.


"Aku benar-benar tidak percaya dengan ini! Yanami-san, kamu sungguh tidak apa-apa?"


"Tentu saja tidak! Memang tidak baik! Tapi maksudnya bukan seperti itu!"


Yanami juga membalas menggenggam tangan Koharu-san.


Tunggu. Kenapa mereka tiba-tiba akur?


Apa aku kehilangan ingatan selama dua jam?


Meski kepalaku benar-benar kacau, tidak baik jika tiga orang—dua perempuan dan satu laki-laki—terus membuat keributan di tempat seperti ini.


Bahkan orang-orang sudah mulai berkerumun. Kami harus segera pergi dari sini...


"Yah, sepertinya keadaan sudah berhasil ditenangkan. Bagaimana kalau kita pindah tempat saja?"


Begitu aku berkata, entah kenapa mereka berdua menatapku tajam. Lalu, bersamaan mereka berkata,


"Itu dia masalahmu, Nukumizu-kun!"


Dengan harmoni yang sangat kompak, mereka berdua sukses mengomeliku.



Sekitar belasan menit setelah melarikan diri dari kekacauan itu, kami berada di sebuah restoran keluarga.


Ngomong-ngomong, Yanami sebenarnya ingin masuk ke restoran kepiting di seberang jalan, tapi mana mungkin aku punya uang sebanyak itu.


Setelah selesai melaporkan seluruh kejadian kepada Sakurai-kun, aku menyendok kudzu manju sambil mengamati Yanami dan Koharu-san.


Pasangan "sahabat karib dadakan" itu sedang asyik membicarakan keburukan Sakurai-kun dan—entah kenapa—aku.


"Ya, begitulah. Cowok itu selalu merasa cukup kalau cuma minta maaf. Mereka terlalu memanjakan diri."


Hap. Sambil berkata begitu, Yanami memasukkan pancake bertingkatnya ke mulut dengan lahap.


"Iya, benar banget! Mereka pasti mikir, 'Toh dia bakal balik lagi.' Padahal aku juga sering didekati orang lain. Kalau nggak menghargai aku, ya jangan salahkan kalau nanti aku berpaling!"


Koharu-san menghabiskan chocolate sundae-nya sekaligus, lalu menaruh gelasnya di meja dengan bunyi keras.


Kemudian mereka berdua menatapku tajam.


"Nukumizu-kun, kamu dengerin nggak sih?!"


Entah kenapa mereka malah menyeretku ke dalam pembicaraan. Rasanya dua kali lebih mengerikan dari biasanya.


"Ehm... kalau soal Sakurai-kun, nanti aku yang akan bicara dengannya. Jadi tenang saja..."


Duk!


Yanami menusukkan garpunya sekuat tenaga ke pancake.


"Kenapa tiba-tiba jadi ngomongin Sakurai-kun?!"


Eh, bukan ya?


Lalu sebenarnya sedang membicarakan apa? Tolong bahas yang tidak ada hubungannya denganku di tempat lain.


"Maksudku, mereka harus lebih menghargai. Aku paham kalau merasa 'asal bisa tetap di sisinya saja sudah cukup'. Itu memang hubungan yang ideal. Tapi bunga yang namanya perempuan itu, kalau hati mereka tidak diberi nutrisi, lama-lama akan layu, tahu?"


Begitu ya.


...Aku sama sekali tidak paham. 


Jadi maksudnya kalorinya kurang?


"Ehm... mau pesan nasi?"


"Nggak usah."


Benar juga. Pancake memang tidak cocok dimakan dengan nasi.


Saat aku mengangguk mengerti, Koharu-san melemparkan pesawat kertas yang dibuat dari tisu kepadaku. Tolong hentikan.


"Nukumizu-kun. Perempuan itu kalau tidak dijaga, hatinya bisa cepat berpindah ke orang lain. Paham?"


"Iya..."


Aku menjawab asal-asalan.


Kali ini Yanami melemparkan burung bangau origami dari tisu ke arahku. Hebat juga dia.


"Koharu-chan, kamu paham juga ya. Tapi kita kan bukan hubungan seperti itu."


Setelah menghabiskan chocolate sundae-nya, Koharu-san menunjukku dengan sendok panjangnya.


"Nukumizu-kun, kamu tidak apa-apa membiarkan Yanami-san mengatakan hal-hal seperti itu?"


"Eh? Maksudku... aku membiarkan Yanami-san bertindak sesuai keinginannya sendiri..."


"Nukumizu-kun, diam saja!"


Hah...ini sudah keterlaluan tidak adilnya.


Acara menggunjing mereka sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Saat seorang pelayan lewat, Yanami dan Koharu-san sama-sama mengangkat tangan.


"Satu Amaou Tree Sundae, ya!"


Suara mereka yang kompak menjadi tanda dimulainya ronde kedua.


Sepertinya malam ini bakal pulang sangat larut...


Sambil membulatkan tekad, aku hendak menghabiskan sisa kudzu manju-ku, tetapi tiba-tiba dua buah sendok muncul di hadapanku dan langsung menyambar kudzu manju itu.



Di perjalanan pulang dari halte trem menuju rumah.


Waktu sudah mulai memasuki larut malam, dan kawasan permukiman terasa sunyi senyap.


Angin malam yang masih menyisakan hangatnya siang membuat keringat di tengkukku terasa lengket.


"Jadi kemalaman ya."


Kata Koharu-san sambil berjalan ringan di jalanan malam.


"Iya."


Aku menjawab singkat, lalu memperlambat langkah agar seirama dengannya.


Saat mendongak ke langit, cahaya bulan begitu terang hingga tak satupun bintang terlihat.


Aku iseng melihat ponsel.


Di layar notifikasi, sekali lagi muncul nama Yanami.


Sejak kami berpisah di depan stasiun, setiap satu menit sekali Yanami terus mengirim pesan LINE kepadaku.


Aku membalas asal dengan stiker, lalu memasukkan kembali ponsel ke saku.


"Dia benar-benar mengkhawatirkanmu ya."


Koharu-san tersenyum geli.


"Bukan aku. Yang dia khawatirkan itu Koharu-san."


"Yanami-san... mengkhawatirkanku?"


Ia tampak sungguh-sungguh heran.


Melihat ekspresi itu, tanpa sadar aku keceplosan.


"Soalnya tadi kita hampir masuk hotel berdua—"


Aku buru-buru menutup mulut.


Koharu-san menatapku dengan mata penuh godaan.


"Jadi Nukumizu-kun benar-benar mau masuk ya."


"Nggak juga."


Tolonglah, serius. Di kota Toyohashi ini, kita tidak pernah tahu siapa yang sedang menguping pembicaraan.


Melihatku yang mulai panik, Koharu-san mendekatkan bahunya kepadaku lalu berbisik pelan di dekat telingaku.


"...Kalau begitu, mulai sekarang saja kita menghilang berdua?"


"H-hei, jangan bercanda begitu."


Aku menunggu ia menambahkan kata, "Bercanda."

Namun kata itu tidak pernah keluar.


Sebagai gantinya, keluar kata-kata yang terasa tak terduga, sekaligus memang sudah kuduga akan diucapkannya.


"...Aku sudah tahu. Kalau Hiro-kun menyukai Hibari."


Nada suaranya terdengar seolah sedang mengenang sebuah kenangan yang sangat indah.


"Sudah sejak lama sekali. Dan kurasa Hibari juga begitu."


Ia menghentikan ucapannya, lalu tiba-tiba menatapku.


"Itulah kenapa... aku merebut Hiro-kun darinya."


"...Eh?"


Sebelum aku sempat memastikan apakah itu hanya candaan atau sungguhan, ia kembali mengalihkan pandangannya.


"Itulah sebabnya... sekarang aku sedang menerima hukumanku."


Aku tidak tahu harus menjawab apa. Yang bisa kulakukan hanyalah terus melangkah. Mungkin sejak awal ia memang tidak membutuhkan jawabanku.


"Aku harus membereskan semuanya dengan benar..."


Tubuh Koharu-san bergoyang pelan seiring langkahnya, sementara kata-katanya larut ke dalam udara malam musim panas.


Aku merasakan sesuatu dalam ucapannya. Seolah ia telah melepaskan semua beban di hatinya, namun pada saat yang sama juga terasa begitu rapuh.


Entah kenapa...


Aku tiba-tiba sangat ingin mendengar suara seseorang yang tidak berada di sini.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close