Penerjemah: Flykitty
Proffreader: Flykitty
~Kekalahan Pertama~
Senang Berkenalan, Aku Mizushima Koharu
...Seperti dugaanku, aku benar-benar sedang disalahpahami.
Begitu tiba di ruang klub, aku langsung disuruh duduk di kursi, sementara Yanami dan Komari berdiri tegak di depanku sambil menatapku dari atas.
"Baiklah, Nukumizu-kun. Kami akan mendengarkan alasanmu."
"M-Mati saja."
Kenapa aku yang malah dimarahi? Kalau dipikir-pikir memang ada hal yang terlintas di benakku, tapi apa sampai separah itu salahku?
Dan lagi, kenapa Komari yang bahkan tidak tahu apa yang terjadi ikut-ikutan memarahiku?
"Tunggu, Komari bahkan tidak tahu apa yang terjadi, kan? Setelah mendengar penjelasanku, mungkin saja dia malah berpihak padaku."
"K-Kalau itu kata-kata terakhirmu sebelum mati, akan kudengarkan."
Cukup sudah adu mulutnya. Aku berdeham sekali, lalu mulai berbicara dengan nada serius.
"Begini... waktu aku sedang jalan, ada siswi dari sekolah lain, jadi tanpa sengaja aku melihat ke arahnya."
"C-Cepat mati saja."
Cepat sekali dia mengambil keputusan. Aku mengangkat kedua tangan untuk menenangkannya.
"Dengarkan dulu sampai selesai. Sepertinya dia mengenalku, lalu dia meminta bertukar kontak, jadi aku cuma mengiyakan."
"Nukumizu-kun, kamu memang mengenal gadis itu?"
Yanami menyela.
"Tidak. Itu pertama kalinya kami bertemu. Aku bahkan belum pernah mendengar namanya."
Aku menyingkirkan poni rambutku lalu menyilangkan kaki.
"Jadi begitulah. Komari, sekarang putuskan."
"J-Jadi... kamu masih belum mati juga."
Mulutnya tetap saja pedas seperti biasa.
Yah, memang Komari selalu seperti ini. Kurasa sekarang Yanami juga sudah mengerti.
Saat aku melirik ke arahnya, Yanami masih menatapku dengan mata yang dingin.
"Meskipun menjabat sebagai ketua Klub Sastra, Nukumizu-kun malah menggoda siswi dari sekolah lain di lingkungan sekolah. Dosamu pantas dihukum mati berkali-kali."
"Bukan begitu. Justru dia yang lebih dulu menyapaku."
Kalau dipikir-pikir, bukankah itu lebih mirip aku yang didekati oleh perempuan? Berarti bukan salahku.
Saat aku sedang memikirkan bantahan berikutnya, Yanami tiba-tiba mengeluarkan ponselnya.
"Kalau begitu, kita minta adikmu yang menilai saja."
"Kenapa?! Jangan! Itu ide yang buruk!"
Aku buru-buru hendak berdiri, tetapi kedua bahuku langsung ditekan oleh Yanami dan Komari.
"Kalau memang tidak melakukan sesuatu yang mencurigakan, tidak masalah, kan?"
"A-Apa ada sesuatu... yang bakal jadi masalah... kalau dia tahu?"
Memang sih tidak ada, tapi aku benar-benar tidak ingin Kaju mengetahuinya.
Situasi ini gawat. Bagaimana caranya membuktikan kalau aku tidak bersalah...?
Saat keringat dingin mulai mengalir, terdengar bunyi notifikasi dari ponselku.
"Nukumizu-kun, silakan."
"A-ah... baik."
Di bawah tatapan tajam mereka berdua, aku mengeluarkan ponselku. Nama yang muncul di layar notifikasi adalah—Mizushima Koharu.
"Ooh, itu gadis yang tadi, ya? Agresif juga dia."
"B-Bukan begitu..."
Hm? Koharu? Bukankah pacar Sakurai-kun namanya memang begitu? Dan kalau tidak salah, dia bersekolah di... SMA Ayame.
"Gadis yang tadi itu pacarnya Sakurai-kun kan! Kalau begitu wajar saja dia mengenalku, kan?"
Hah... akhirnya kecurigaannya hilang juga.
Namun rasa lega itu hanya bertahan sesaat. Komari menatapku seolah-olah sedang melihat sampah.
"K-Kamu... menggoda pacar temanmu sendiri?"
"Aku tidak melakukan itu. Nih, isi pesannya juga cuma salam biasa."
Aku memperlihatkan layar ponsel kepada mereka berdua. Lalu Yanami bergumam pelan.
『──Bagaimana kalau kita minum teh bersama? Tapi jangan bilang-bilang Hiro-kun, ya.』
...Minum teh?
Kulihat lagi layar ponselku. Di sana memang ada pesan dari Koharu yang mengajakku pergi minum teh.
Haha... minum teh diam-diam tanpa sepengetahuan pacarnya, Sakurai-kun... begitu rupanya...
Aku memasang senyum kaku lalu mendongak menatap para gadis Klub Sastra.
"Ehm... bagaimana kalau kalian berdua ikut minum teh bersama juga?"
◇
Aku dan Yanami duduk di meja yang sama di kafe yang sama—tempat Yanami dulu ditolak.
Pada akhirnya, kami memang memutuskan untuk bertemu di sini. Sebagai tambahan, Komari kabur.
Yanami, yang sudah menghabiskan gelas kedua melon soda-nya, meletakkan gelasnya di meja dengan bunyi tak.
"Jadi, Nukumizu-kun ini gampang sekali ya diajak minum teh oleh cewek yang baru pertama kali ditemui."
"Kurasa pasti ada alasannya, kan? Maksudku, dia sampai bilang jangan beritahu Sakurai-kun."
Sambil menahan tekanan, aku menyeruput cola.
"Dengar ya. Cewek normal itu tidak akan diam-diam menemui cowok lain kalau sudah punya pacar."
"Bukannya Yanami-san sendiri belum pernah punya pacar?"
"...Apa hubungannya?"
Kurasa memang tidak terlalu berhubungan.
Melihat ekspresiku, Yanami menendang kakiku di bawah meja.
Koharu-san, cepatlah datang....
"Ngomong-ngomong, kamu tidak pesan makanan? Bukannya kamu suka kentang goreng seporsi besar?"
Berusaha mengubah topik untuk menyenangkan hatinya, Yanami menghela napas panjang.
"Dengar ya, bahkan dalam pertarungan ayam, serangan pertama itu yang paling penting. Harus menghantam lebih dulu."
Maksudnya apa? Apa dia lagi ingin makan ayam goreng?
Melihat wajahku yang bingung, Yanami melanjutkan penjelasannya.
"Di dunia cewek, kalau penampilanmu terlihat ada celah sedikit saja, orang lain bakal meremehkanmu. Masa saat pertama kali bertemu aku memperlihatkan bibir yang berminyak gara-gara makan kentang?"
Ternyata Yanami masih punya kesadaran seperti itu.
Saat aku masih merasa sedikit terkejut, Yanami bergumam pelan.
"...Namanya Mizushima, ya? Dia lumayan imut."
"Yah... mungkin."
Aku menjawab dengan aman sambil melirik keadaan Yanami.
Yanami memutar-mutar ujung rambutnya dengan jari sambil menatap gelas kosong di depannya.
Memang sih, Koharu-san terlihat seperti tipe cewek yang disukai banyak cowok. Mungkin seharusnya aku berkata, "Tapi kamu lebih imut," namun hiburan murahan seperti itu rasanya bukan ide bagus.
"Tapi setidaknya, soal volume rambut, Yanami-san tidak kalah."
"Bukan itu yang sedang kubicarakan."
Ya, memang bukan.
Saat suasana canggung hampir mencapai batasnya, seorang siswi berseragam SMA Ayame masuk ke dalam kafe.
Itu Mizushima Koharu, pacar Sakurai-kun.
Begitu melihatku, dia segera menghampiri meja kami.
"Maaf ya, aku terlambat."
Sambil merapikan rambutnya, Koharu-san duduk dan tersenyum manis.
Rambut panjangnya tampak lembut dan mengembang. Sebagian rambut di sisi kiri dan kanan diikat dengan pita lalu dibiarkan terurai ke bawah. Perumpamaan ini memang agak aneh, tapi dia benar-benar semanis kapas gula yang berubah menjadi manusia.
"Kami juga baru sampai kok. Hmm... minuman ambil sendiri dari drink bar tidak apa-apa, kan?"
"Iya, terima kasih. Aku ambil minum dulu."
Setelah kembali ke meja dengan segelas es teh, Koharu-san memandang Yanami dengan wajah penasaran.
"Eh... yang ini pacarmu?"
"Bukan!"
Kami langsung meluruskan kesalahpahaman itu secara bersamaan.
Seolah sudah menunggu kesempatan, Yanami langsung membuka percakapan.
"Kamu Mizushima-san, kan? Pacaran dengan Sakurai-kun, ya?"
Koharu-san menganggukkan kepala sambil rambut panjangnya bergoyang lembut.
"Iya. Aku sedang berpacaran dengan Hiro-kun... maksudku, Sakurai-kun. Maaf ya mengganggu hari libur kalian."
"Yah, aku juga sedang tidak ada kegiatan."
Sambil berkata begitu, Yanami mengunyah bongkahan es dengan suara keras.
Gawat. Sebelum suasananya makin buruk, aku harus menyela.
"Kalau boleh tahu... kenapa hari ini kamu mengajakku minum teh?"
"Aku sudah sering dengar cerita tentang Nukumizu-kun dari Hiro-kun. Jadi aku ingin sekali bertemu."
Oh begitu. Jadi Sakurai-kun memang pernah membicarakanku pada pacarnya. Berarti dia benar-benar kehabisan bahan obrolan.
"Dia cerita apa tentang aku?"
"Katanya kamu orang yang sangat menarik. Dia bilang kalau aku bertemu langsung, pasti aku juga akan menyukaimu."
Sakurai-kun bilang begitu?
Saat diam-diam merasa senang, Koharu-san tersenyum lembut.
"Kurasa memang benar. Nukumizu-kun itu gampang sekali diajak bicara."
"Eh? Masa sih? Yah... memang kadang ada yang bilang begitu."
Entah kenapa Yanami menendangku lagi dari bawah meja.
Tolong hentikan.
Ekspresi Koharu-san berubah sedikit lebih serius, lalu ia memutar sedotannya di dalam gelas es teh.
"Hiro-kun di sekolah seperti apa sih?"
"Di kelas kami sering bersama, dan saat makan siang juga biasanya makan bareng."
"Iya, iya. Terus?"
"Ya... cuma itu."
Kalau dipaksakan, aku juga bisa bilang kalau dia populer di kalangan siswi kelas dua, bahkan siswi kelas satu dan tiga juga menyukainya. Tapi tentu saja aku tidak mungkin mengatakan itu.
Saat aku sedang bingung, Yanami ikut menimpali.
"Dia juga kerja keras di OSIS. Sepulang sekolah kelihatannya selalu sibuk."
"Oh begitu. Di Tsuwabuki memang anggota OSIS cuma tiga orang, kan? Hari ini Hiro-kun juga tidak ada."
"Jadi hari ini kamu datang karena urusan OSIS?"
Koharu-san mengangguk pelan.
"Iya. Aku juga anggota OSIS di SMA Ayame. Tahun ini sekolah kami dan Tsuwabuki menjadi panitia perkemahan gabungan OSIS se-Kota Toyohashi, jadi hari ini kami rapat."
Begitu ya. Kalau tidak salah, ini acara gabungan SMP dan SMA yang tahun lalu diikuti Kaju.
Semoga saja Tiara-san tidak kembali bersikap aneh saat melihat banyak cowok dari sekolah lain.
"Hiro-kun juga populer di Tsuwabuki, kan?"
"Eh... soal itu...."
Aku terdiam karena pertanyaan mendadak itu.
Melihat reaksiku, Koharu-san tertawa kecil.
"Maaf ya, pertanyaanku aneh. Soalnya dari dulu aku memang tahu kalau dia populer."
"...Kamu tetap khawatir?"
Saat kutanya begitu, Koharu-san menggeleng sambil tetap tersenyum.
"Tidak. Aku tidak khawatir dia selingkuh."
"Berarti kamu benar-benar mempercayainya ya."
Begitu aku mengucapkannya, senyum Koharu-san sedikit meredup.
"...Iya. Hiro-kun itu orangnya setia."
Mendengar gumamannya, aku dan Yanami saling berpandangan, sama-sama merasakan ada sesuatu di balik kata-kata itu.
Sambil menukar gelas cola-ku dengan gelas kosongnya seenaknya, Yanami membuka pembicaraan.
"Mizushima-san, soal hari ini...."
"Panggil saja Koharu. Semua orang juga memanggilku begitu."
Yanami mengangguk.
"Koharu-chan, sebenarnya kenapa kamu mengundang kami? Sebenarnya kamu tidak tertarik pada Nukumizu-kun, kan?"
Yanami... pilihlah kata-katamu sedikit.
Sambil tersenyum canggung, Koharu-san menatap kami berdua.
"Kalian kelihatannya orang baik, jadi aku akan jujur."
"Aku ingin kalian membantu memperbaiki hubunganku dengan Hiro-kun."
"...?"
Ucapan yang sama sekali tidak kami duga membuat suasana langsung hening.
Sambil seenaknya meminum cola-ku, Yanami memiringkan kepala kebingungan.
"Tapi bukannya kalian sudah pacaran?"
"Iya. Hiro-kun benar-benar sangat menyayangiku."
Koharu-san melirik sekeliling sebelum melanjutkan.
"Tapi sejak kami mulai pacaran waktu SD... hubungan kami hampir tidak berkembang sama sekali...."
Sampai di situ, Koharu-san menundukkan wajahnya dengan malu.
"Jadi... maksudmu, kamu ingin kami membantu agar hubunganmu dengan Sakurai-kun maju selangkah lagi?"
Dengan wajah merah padam, Koharu-san mengangguk pelan.
Begitu rupanya. Dia memang gadis yang lembut seperti ini. Mungkin sifatnya benar-benar pemalu.
Setelah menghabiskan cola-ku, Yanami mengangkat sebelah alisnya.
"Kalau begitu, tepatnya kamu ingin bagaimana?"
Memang, bagian itu harus dipastikan dulu.
Kalau cuma membantu mereka bergandengan tangan sambil berjalan-jalan di taman bunga, mungkin aku masih bisa membantu.
Koharu-san memainkan jemarinya dengan gugup, lalu berkata dengan suara pelan.
"Aku... ingin menciptakan fakta yang tak terbantahkan dengan Hiro-kun."
"..."
Istilah "fakta yang sudah terjadi" secara harfiah berarti "sesuatu yang sudah terjadi sehingga tidak bisa diubah lagi". Dalam konteks hubungan pria dan wanita, istilah itu biasanya mengacu pada hubungan yang telah melangkah sangat jauh sehingga tidak dapat dipungkiri lagi.
Sambil terus memainkan jari-jarinya karena malu, Koharu-san melanjutkan.
"Ibuku juga sering bertanya, 'Hubunganmu dengan Hiroto-kun bagaimana sekarang?' Rasanya orang-orang di sekitar kami juga sudah mendukung. Tinggal sedikit dorongan lagi... mungkin kalau ada suatu kesempatan, kami bisa melewati batas itu."
Dengan wajah merah merona, Koharu-san terus menggeliat malu.
Karena Yanami masih membeku akibat keterkejutan, aku memilih kata-kataku dengan hati-hati sebelum berbicara.
"Yah... kita semua sudah anak SMA. Kalau memang sama-sama setuju dan sudah mengambil langkah pencegahan yang cukup terhadap risikonya, lalu... ingin membuat fakta itu menjadi kenyataan... kurasa tidak masalah."
"Jadi... tetap perlu persetujuan Hiro-kun, ya?"
"Tentu saja perlu?!"
Walaupun dia pacar Sakurai-kun, aku tetap tidak bisa menahan diri untuk menyela.
Tidak boleh begini. Aku harus mengambil kembali kendali percakapan.
Aku menarik napas panjang.
"Kalau memang ingin membuat 'fakta yang tak terbantahkan' itu, sebenarnya apa yang ingin kau minta dari kami?"
"Begini, aku ingin kita pergi jalan-jalan sehari bersama."
"...Jalan-jalan?"
Dengan mata berbinar-binar, Koharu-san membungkukkan badan ke arah kami.
"Lalu, aku dan Hiro-kun sengaja akan ketinggalan kereta terakhir. Kalau begitu kami pasti terpaksa menginap, kan?"
"Kalau begitu... kenapa kami harus ikut?"
"Soalnya akhir-akhir ini Hiro-kun jadi lebih waspada dan tidak mau pergi jauh berdua denganku."
Jadi memang benar... persetujuan Sakurai-kun tidak pernah ada. Bagaimanapun juga, permintaan seperti ini jelas tidak bisa kami terima.
"Ehm... bukankah sebaiknya kalian membicarakan hal seperti ini berdua—"
Sebelum aku selesai bicara, Yanami menendang kakiku pelan.
"Kalian sudah pacaran sejak SD, kan?"
"Iya. Kami tetanggaan sejak kecil, lalu mulai pacaran saat kelas enam SD."
Setelah sedikit menenangkan diri, Koharu-san menyeruput es tehnya.
Yanami menopang dagunya dengan satu tangan sambil memandangi gelas kosong.
"Setidaknya kami bisa mendengarkan ceritamu."
"Yanami-san?!"
Kali ini dia menendang kakiku lebih keras daripada sebelumnya.
"Benarkah?! Tentu saja semua biayanya akan kutanggung."
"...Termasuk makan?"
"Tentu saja!"
Itu sebaiknya jangan dilakukan. Serius.
Sementara aku mulai cemas karena alasan yang berbeda, pembicaraan terus berlanjut.
"Kalau begitu, nanti setelah rencananya sudah pasti, akan kuhubungi kalian. Minggu depan bisa dikosongkan, ya?"
"Baiklah. Tapi..."
Yanami tiba-tiba berbicara dengan nada yang sangat serius.
"...Belum tentu ada hal baik yang menunggu setelah kalian melangkah lebih jauh."
Setelah beberapa saat hening, Koharu-san mengangguk dengan wajah muram.
Eh? Kenapa suasananya jadi seperti ini?
Yah... yang menerima permintaannya kan Yanami, jadi aku tidak ada hubungannya, kan...?
Saat aku berdiri hendak mengambil isi ulang cola, Yanami mengangkat tangan.
"Oh, Nukumizu-kun. Tolong ambilkan aku teh rosehip. Koharu-chan bagaimana?"
"Aku juga sama."
"Baik... mengerti."
Kalau membantah sekarang hanya akan merepotkan.
Sambil melirik mereka yang sedang saling bertukar kontak, aku berjalan menuju tempat minuman.
...Sudah hampir setahun sejak pertama kali aku bertemu Yanami di restoran keluarga ini.
Hari itu, setelah melihat Yanami ditolak cintanya, aku merasa tidak enak lalu meninggalkan meja untuk mengambilkan minuman baginya.
Kalau tidak salah, waktu itu yang kubuatkan untuk Yanami adalah—
"Manajer! Padahal saya tidak melakukan apa-apa, tapi kucingnya rusak!"
Lamunanku buyar oleh suara yang sangat kukenal. Suara lantang seperti aktor panggung itu mustahil salah kudengar.
"...Hokobaru-senpai?"
Benar. Orang yang sedang mengenakan seragam restoran keluarga sambil mengelus robot pelayan berbentuk kucing itu adalah mantan ketua OSIS SMA Tsuwabuki, Hokobaru Hibari.
Begitu melihatku, ia menoleh sambil rambutnya bergoyang.
"Oh, Nukumizu-kun. Kebetulan sekali."
"Senpai, kenapa bekerja paruh waktu di sini?"
"Aku ingin belajar tentang kehidupan bermasyarakat, jadi aku memohon agar diizinkan bekerja di sini. Kau datang sendirian?"
"Ehm..."
Di kedua tanganku ada dua cangkir teh rosehip yang masih mengepul.
Mengikuti arah pandanganku, Hokobaru-senpai memasang wajah terkejut.
"...Koharu? Kenapa kalian bersama?"
Saat itu juga, seorang pegawai pria paruh baya berlari tergesa-gesa menghampiri.
"Hokobaru-kun! Rusak lagi ya?!"
"Iya. Wajah si Kucing berubah jadi mirip anjing, lalu muncul kode galat yang belum pernah kulihat."
"Biar aku yang urus di sini! Tolong kau ke dapur!"
Wajah sang manajer sudah pucat saat memeriksa robot kucing itu. Entah kenapa, melihat orang dewasa yang benar-benar sedang kewalahan terasa menyakitkan.
"Ehm... sepertinya sedang sibuk, jadi aku permisi dulu."
"Baik. Maaf ya. Kelanjutan pembicaraan kita lain kali saja."
...Kelanjutan pembicaraan?
Pembicaraan yang mana?
Saat hendak bertanya lagi, Hokobaru-senpai sudah lebih dulu menghilang ke arah dapur.
◇
Dalam perjalanan pulang, aku berjalan di bawah arcade Jalan Tokiwa dekat stasiun.
Aku datang untuk membeli biji kopi yang dititipkan Kaju.
—Soal Hokobaru-senpai melihat kami sedang berbicara diam-diam, aku belum menceritakannya kepada Yanami dan yang lain.
Bukan karena beliau menyuruhku merahasiakannya. Hanya saja, sikapnya tadi terasa sedikit mengganjal.
Yanami yang sama sekali tidak tahu apa-apa berjalan di sampingku sambil memakan ayam goreng minimarket dan melihat-lihat sekeliling.
"Hei, Nukumizu-kun. Mau beli apa?"
"Kaju menitip beli biji kopi."
Ngomong-ngomong... kenapa orang ini ikut denganku, ya?
Saat aku bertanya-tanya dalam hati, Yanami dengan bangga menggoyang-goyangkan ayam yang belum habis dimakannya.
"Nukumizu-kun, karena kita sedang membahas biji, akan kuberi satu pengetahuan kecil. Tahukah kamu kalau biji kopi dan biji kakao itu sebenarnya berbeda?"
"Iya, aku tahu."
Entah kenapa dia memasang wajah puas sambil melanjutkan.
"Dulu aku pernah mengira biji kakao itu cuma biji kopi yang dibuat manis."
"Yah, anak kecil memang sering punya pemikiran aneh."
"...Iya. Waktu aku masih kecil, lho? Bukan baru-baru ini."
Yanami, kenapa sampai segitunya membela diri?
Ngomong-ngomong, waktu kecil Kaju juga pernah bersikeras kalau kakak dan adik nanti akan menikah setelah dewasa.
Karena aku juga masih kecil saat itu, nyaris saja aku ikut mempercayainya.
Sambil mengenang masa lalu, aku hendak masuk ke kedai kopi Waltz di Jalan Tokiwa ketika seorang perempuan keluar dari dalam toko.
"Oh, Nukumizu-san. Sedang berbelanja?"
Yang keluar adalah ketua OSIS SMA Tsuwabuki, Basori Tiara.
Setelah melirik Yanami sekilas, ia berhenti di depanku.
"Ya, sedikit. Basori-san juga datang ke sini?"
"Iya. Membeli biji kopi. Semua ini berkat Nukumizu-san yang sudah banyak mengajariku."
Tiara-san tertawa kecil dengan wajah senang.
Aku hampir ikut tersenyum, tetapi merasakan tatapan Yanami sehingga segera menahan ekspresiku.
"...Nukumizu-kun, bagaimana dengan belanjanya?"
Seolah baru menyadari keberadaan Yanami, Tiara-san berucap pelan.
"Oh? Yanami-san juga ada rupanya. Kalian sedang berbelanja bersama?"
"Bukan. Dia cuma ikut-ikut saja."
Duk. Yanami menyenggol bahuku.
"Ya begitulah, ada sedikit urusan. Nukumizu-kun, kalau mau belanja cepat masuk saja."
"Tunggu, Yanami-san, jangan mendorong gitu."
Saat hampir terdorong masuk ke toko, Tiara-san memegang lenganku.
"Benar juga. Lain kali tolong ajak aku lagi ke kafe yang waktu itu ya."
"Eh? Oh... kalau ada kesempatan."
Kenapa membicarakan itu di depan Yanami?
Aku mencoba mengalihkan pembicaraan dan masuk ke toko, tetapi Yanami malah menggenggam lengan satuku lagi.
"...Nukumizu-kun, ternyata kamu melakukan hal seperti itu."
"Hah? Bukan, kami cuma pergi ke kafe bersama, tidak ada apa-apa..."
Saat aku gagap menjelaskan, Tiara-san terlihat terkejut.
"Oh? Yanami-san belum pernah diajak ke sana?"
"...!"
Yanami tersenyum kaku sambil mencengkeram lenganku lebih kuat.
Sakit.
"Y-Ya... aku juga tidak terlalu suka kopi, kan? Mungkin Nukumizu-kun jadi sungkan mengajakku. Benar, kan?"
Yanami-san... tolong jangan menatapku seperti itu.
Aku refleks mengalihkan pandangan.
Tiara-san justru tersenyum kepada Yanami.
"Aku juga dulu tidak suka kopi. Tapi Nukumizu-san tetap mengajakku. Di kafe langganannya, dia memilihkan menu selain kopi untukku."
"Wah... ternyata Nukumizu-kun baik sekali, ya. Wah..."
Di bawah tekanan Yanami, aku mulai gemetar.
Saat itu Tiara-san dengan lembut meletakkan tangannya di lenganku seolah mengkhawatirkanku.
"Jus anggurnya enak sekali. Aku ingin meminumnya lagi bersama."
"I-Iya. Semoga... anggurnya sudah dipanen...."
Bahkan menurutku sendiri jawabanku terdengar aneh.
Tiara-san tertawa pelan.
"Benar juga. Tempatnya dekat dari sini. Bagaimana kalau kita pergi mengecek apakah anggurnya sudah dipanen?"
"Ehm..."
Situasi macam apa ini sebenarnya?
Satu-satunya hal yang pasti adalah, tanpa melihat pun aku tahu Yanami sedang sangat kesal.
"...Nukumizu-kun, bukannya kita datang untuk belanja? Lagipula masih ada urusan soal Koharu-chan."
"Hah? Urusan Koharu-san? Aku juga ikut terseret ke dalamnya?"
Mendengar percakapan itu, Tiara-san bergumam pelan.
"...Koharu-san?"
"Ada apa, Basori-san?"
Saat aku bertanya balik, Tiara-san hanya tersenyum.
"Tidak, bukan apa-apa. Sepertinya kalian sedang sibuk, jadi aku pamit dulu."
"Baik. Sampai bertemu di sekolah ya."
"Iya. Sampai besok."
Sambil melambaikan tangan, Tiara-san berbalik pergi.
Aku tanpa sadar terus memandang punggungnya hingga Yanami menyenggol punggungku.
"Ayo. Bukannya mau beli biji kopi?"
"Oh... iya."
Saat aku memesan biji kopi di dalam toko dan menunggu pengemasan, Yanami berbicara sambil menatap ponselnya.
"Ngomong-ngomong, ada pesan dari Koharu-chan, lho. Kamu juga lihat, ya, Nukumizu-kun."
"Tunggu, aku belum bilang mau ikut serta."
Yanami mengangkat wajah dari ponselnya.
"Kan dia itu pacarnya Sakurai-kun?"
"Ya, sih."
Yanami menghela napas.
"Dengar, menyuruh pacar yang sudah berpacaran sejak SD mengatakan hal seperti itu itu enggak biasa, lho."
"Meski begitu, tetap saja kita ikut campur itu kurang tepat."
"Selama ini kan kamu juga selalu ikut campur urusan orang lain. Aku juga repot mengurusmu, tahu?"
Kalau dibilang begitu, aku jadi lemas. Tapi selama ini aku lebih seperti terseret tanpa sengaja, atau terasa seperti urusan orang lain.
Berada di pihak yang menimbulkan masalah, rasanya agak berbeda, atau malah terasa janggal.
"Nukumizu-kun kan berteman dengan Sakurai-kun. Coba pedulikan dia sedikit."
"Tapi—"
Saat aku termenung, Yanami menyeringai dengan ekspresi jahil.
"Lagipula, kan bisa liburan gratis? Di mana ya, Hokkaido kelihatannya enak nih—"
……Jadi itu maksud sebenarnya?
Tapi aku ingin menghindari Sakurai-kun terlibat masalah. Lagi pula, jika sampai melakukan hal seperti mengadu dan berujung pada perpisahan mereka, aku tidak tega melihatnya.
"Mohon tunggu. Waltz Blend, giling sedang, 200 gram."
"Ah, ya. Terima kasih."
Setelah menerima biji kopi dan keluar toko, Yanami berjalan di sampingku.
"Ngomong-ngomong, soal kafe yang dibicarakan Basori-san tadi—"
"Eh, apa?"
Ketika aku bertanya balik dengan pikiran melayang, Yanami menghela napas kesal.
"……Tidak apa-apa. Soal Koharu-chan, pikirkan baik-baik, ya."
"Ah, iya. Mengerti."
Sambil berjalan di bawah atap lengkung, aku mengingat kembali percakapan dengan Tiara-san tadi.
Reaksi Tiara-san saat mendengar nama Koharu-san agak aneh rasanya—dia bilang "sampai besok", jadi mungkin aku coba bicara di sekolah.
"Tunggu, besok kan hari Minggu?"
"Iya? Tenanglah, Nukumizu-kun."
……Kalau begitu mungkin Tiara-san salah ucap.
Aku mengangguk seenaknya pada Yanami yang terus berbicara, lalu melewati atap lengkung itu.
◇
Aku meletakkan tas beratku di lantai, lalu merapikan sepatu yang kulepas di depan pintu masuk.
Padahal aku cuma pergi mengambil buku-buku yang akan dibuang, tapi entah kenapa malah terjadi macam-macam....
"Selamat datang di rumah, Onii-sama."
"Aku pulang, Kaju."
Seperti biasanya, Kaju akan berlari menghampiriku dengan ceria—namun kali ini tidak.
Dengan kompres penurun demam menempel di dahinya, Kaju berjalan tertatih menyusuri lorong.
"Ada apa, Kaju? Badanmu nggak enak?"
Aku buru-buru menghampirinya. Kaju langsung menyandarkan tubuhnya ke dadaku.
"Aku terlalu semangat belajar sejak pagi, jadi kepalaku terasa pusing."
"Kamu nggak demam? Aku buatkan teh ya, jadi istirahat dulu saja."
"Baik. Hehe, Onii-sama."
Kaju mengulurkan kedua tangannya kepadaku.
"Kenapa? Minta digendong?"
Ya ampun. Sudah kelas tiga SMP, tapi isi kepalanya masih seperti anak kecil. Kalau sedang masuk angin atau tubuhnya kurang enak, Kaju memang selalu jadi manja begini. Aku pun menggendongnya menuju ruang keluarga.
Kaju yang melingkarkan kedua lengannya di leherku sambil menarik napas dalam perlahan menyipitkan matanya.
"...Onii-sama, ada bau perempuan yang tidak kukenal."
"Hah?"
Kalau perempuan yang tidak kukenal hari ini... mungkin Koharu-san?
"Hari ini aku ke perpustakaan sekolah, lalu sempat mampir ke restoran keluarga juga. Mungkin baunya menempel dari sana."
Aku menjawab asal untuk mengelak, tetapi Kaju malah memeluk leherku lebih erat dengan wajah tidak puas.
"Uu... Kaju juga ingin minum teh bersama Onii-sama."
"Iya, iya. Lain kali kita pergi bareng."
Aku menurunkannya ke sofa ruang keluarga, lalu menuju dapur.
Baiklah, mungkin kubuatkan wedang jahe. Seingatku masih ada madu dari Higashi Mikawa.
Sambil mengingat langkah-langkah membuatnya dan menuangkan air ke dalam ketel, ponsel di sakuku berbunyi.
Saat kulihat layarnya, tertulis nama "Tiara-san."
Ada apa lagi ya? Jangan-jangan masalah lagi.
Aku melirik keadaan Kaju sebelum menekan tombol jawab.
"Halo, ada apa?"
"Maaf, apa sekarang kamu ada waktu sebentar untuk bicara?"
Dari tempatku berdiri, tubuh Kaju tertutup sandaran sofa sehingga tak terlihat.
"Iya, tidak apa-apa."
"Tadi aku sempat mendengar nama Mizushima Koharu. Aku jadi penasaran apakah terjadi sesuatu dengannya."
"Oh, dia cuma minta tolong sedikit—"
...Eh, boleh diceritakan nggak ya?
Walaupun berkaitan dengan Sakurai-kun, rasanya kurang pantas membocorkan masalah pasangan orang.
"Yah... kami cuma mengobrol santai soal pacarnya, Sakurai-kun—"
"Pacarnya Sakurai-kun itu Mizushima-san?!"
Teriakan Tiara membuatku spontan menjauhkan ponsel dari telinga.
"Jadi Basori-san belum tahu?"
"Memang sih dia memanggil Sakurai-kun dengan nama panggilan... ternyata mereka memang berpacaran...."
Aku kembali melirik ke arah sofa, lalu meletakkan ketel di atas kompor.
"Katanya mereka sudah saling kenal sejak lama. Memangnya kenapa?"
Entah kenapa Tiara terdiam. Ketika ketel mulai bersiul pelan, akhirnya suaranya kembali terdengar dari ponsel.
"...Ini pembicaraan yang agak rumit. Besok, bisakah kita bertemu langsung?"
"Besok? Yah... aku sih tidak ada rencana."
Pengakuan Tiara masih menggantung sampai sekarang. Apa tidak masalah kalau aku begitu saja pergi menemuinya?
Tapi ini bukan kencan... jadi harusnya tidak apa-apa kan?
Saat tanpa sadar mengalihkan pandangan, kulihat Kaju mengintip dari balik sandaran sofa. Hanya bagian atas wajahnya yang terlihat, dan ia menatapku tanpa berkedip.
"Eh... bagaimana kalau kita lanjut lewat LINE saja nanti. Ya, sisanya kita bicarakan belakangan."
Aku mengakhiri percakapan seadanya lalu memasukkan kembali ponsel ke saku.
"...Onii-sama, ada apa?"
"Nggak, tidak ada apa-apa kok."
Aku berbohong ringan sambil mematikan kompor.
Saat itu, entah kenapa dahinya yang tertutup kompres penurun demam tampak seolah berkilau—...mungkin cuma perasaanku saja.
◇
Keesokan harinya, hari Minggu.
Aku sendirian berada di dalam sebuah ruang karaoke.
Tempat yang ditentukan Tiara sebagai lokasi bertemu adalah karaoke dekat stasiun. Tempat yang sama ketika musim dingin tahun lalu ia pernah memanggilku ke sini.
Sambil mendengarkan lagu yang terdengar dari ruangan sebelah sebagai musik latar, aku menyeruput cola dari minuman bebas.
Kupikir kami hanya akan bertemu untuk mengobrol, jadi aku langsung mengiyakan. Tapi... jangan-jangan ini sebenarnya kencan?
Ah, tapi teman juga biasa pergi karaoke bersama. Aku terlalu banyak berpikir. Iya, ini bukan kencan.
Saat aku gelisah sambil membenarkan poni, seseorang mengintip ke dalam ruangan melalui kaca pintu.
Rambut yang tertata rapi dan wajah kecil itu—Tiara.
Begitu mata kami bertemu, ia menghela napas lega lalu masuk ke ruangan.
"Syukurlah. Tadi aku sempat khawatir kalau yang ada di dalam ternyata orang lain."
"Aku juga kepikiran, bagaimana kalau yang masuk ternyata orang lain."
"Itu maksudnya apa?"
Tiara tertawa sambil duduk di sampingku.
...Eh? Bukankah biasanya teman tidak langsung duduk sedekat ini?
Ditambah lagi ada aroma parfum yang terasa dewasa, dan gaun cokelat bergaya elegan yang dikenakannya mengeluarkan suara kain yang lembut setiap kali ia bergerak.
"Jadi... tadi katanya ada yang ingin dibicarakan...."
Aku masih gugup karena suasananya berbeda dari biasanya, ketika Tiara menyerahkan remote karaoke kepadaku.
"Lho, langsung ke urusan ya? Mumpung sudah di sini, bagaimana kalau kita menyanyi dulu?"
"Kita nyanyi?"
"Ya iyalah. Ini kan karaoke."
Memang benar sih, tapi tidak kusangka Tiara yang akan mengatakannya.
Saat mengenang musim dingin tahun lalu, Tiara mulai mengoperasikan remote dengan jari-jarinya yang ramping.
"Mau nyanyi yang ini? Lagu dari 'Giri Giri Out na Onna-tachi'."
"Eh? Hari ini boleh nyanyi lagu anime?"
"Memangnya kenapa?"
"Soalnya lagu anime itu—"
Ah, tidak ada masalah apa-apa.
Di sini tidak ada gadis yang anti lagu anime.
Tak lama kemudian, intro lagu pembuka musim pertama "Giri Giri Out na Onna-tachi" mulai diputar.
Aku menerima mikrofon dan mulai bernyanyi, tapi karena Tiara mendengarkan dari samping, rasanya agak memalukan. Saat lagu mendekati bagian reff, Tiara mengambil mikrofon kedua.
Eh... jangan-jangan ini...
"Tak peduli penampilan, tak peduli caranya, aturan baru datang belakangan—"
Saat mata kami bertemu ketika aku bernyanyi, Tiara membalas tatapanku dengan senyum jahil.
"Giri giri!"
Dia memberikan seruan penyemangat!
Tiara ikut menjawab, dan semangatku langsung naik.
"Tak bisa terus tetap cantik, teruslah melaju sampai mati, Giri Giri Girls!"
"Giri Giri Out!"
Sambil bernyanyi, Tiara mengulurkan telapak tangannya kepadaku. Aku sempat ragu sesaat sebelum akhirnya menepukkan telapak tanganku ke telapak tangannya.
Ya. Itu pose Chikapyon dan Nonoka di bagian reff lagu pembuka.
Begitu memasuki bagian instrumental, Tiara tertawa kecil sambil menurunkan mikrofonnya.
"Hehe, Nukumizu-san ternyata jago juga bernyanyi."
"Eh, benarkah? Hehehe...."
Entah kenapa, barusan aku merasa diriku sangat memalukan.
Menyelesaikan lagu itu sampai akhir, kami berdua menatap layar remote karaoke.
"Hei, masih ada lagu lainnya kan. Ada lagu penutup, lalu—"
"Opening dan ending musim kedua, ya. Kamu bisa nyanyiin?"
"Bisa. Ayo kita nyanyikan semuanya."
Saat Tiara mengulurkan tangan untuk mengambil remote, ia berdeham pelan.
"Tapi sebelum itu, aku ke toilet sebentar untuk merapikan riasan."
"Oh, baik. Aku tunggu."
Setelah Tiara keluar dari ruangan, aku mengembuskan napas lega.
Entah kenapa aku malah benar-benar menikmatinya. Yah, kami kan teman. Karaoke sambil bersenang-senang seperti ini memang hal yang biasa.
Iya, biasa. Biasa... kah?
....
............Tidak, ini jelas kencan. Benar-benar kencan.
Belum lama ini aku berkencan dengan Yakishio ke Akuarium Takeshima. Ini terasa seperti kejadian yang sejenis.
Sambil meminum cola yang sudah kehilangan gelembungnya, aku berusaha menenangkan diri.
Duet lagu anime dengan seorang gadis jelas menyenangkan. Memang menyenangkan, tapi aku tidak boleh terbawa suasana. Aku dan Tiara hanyalah teman.
Jangan terbawa suasana. Ya, aku tidak akan terbawa suasana—
....
............Tapi, memangnya kenapa kalau aku terbawa suasana?
Coba kupikirkan lagi. Pertama, aku tidak punya pacar.
Lawan bicaraku menyukaiku, dan aku sendiri juga memiliki rasa suka serta kedekatan sebagai sesama manusia kepadanya.
Sebagai lawan jenis pun dia sangat menarik, dan yang terpenting—Aku senang saat bersamanya.
Kalau aku terbawa suasana... memangnya apa masalahnya?
Saat pikiranku terus berputar, layar ponsel yang ada di atas meja tiba-tiba menyala.
Begitu melihat nama Yanami di notifikasi, tanpa sadar aku menoleh ke arah pintu, tetapi tak ada tanda-tanda orang di sana.
...Aku terlalu banyak berpikir. Mana mungkin Yanami ada di sini. Dengan perasaan entah kenapa gugup, aku membuka pesan yang masuk.
『Di antara buku yang kamu kasih kemarin, novel ringanmu ikut terbawa lho.』
Ah, jadi buku yang kucari ternyata ada di Yanami.
Aku membalas agar ia membawanya ke sekolah besok, lalu membalikkan ponselku di atas meja.
...Hmm, tadi aku sedang memikirkan apa, ya?
Terlepas dari Yanami, selama aku dan Tiara belum benar-benar berpacaran, kami seharusnya tidak bermesraan lebih dari yang diperlukan tanpa memberikan jawaban yang jelas. Tapi... kalau aku memang terbawa suasana—
Sebelum sempat merapikan pikiranku, Tiara sudah kembali.
Ia meletakkan segelas teh oolong di meja, lalu kembali duduk di sampingku.
"Maaf membuatmu menunggu. Nah, ayo kita lanjut bernyanyi."
"Tunggu sebentar. Boleh kita selesaikan urusan yang ingin dibicarakan dulu?"
Melihat sikapku, wajah Tiara langsung berubah serius.
"Ya, benar juga. Karena tadi terlalu senang, aku jadi ikut terbawa suasana."
Ia menyesap sedikit teh oolong, lalu merapatkan kedua lututnya dan menghadap ke arahku.
"Kalau begitu, aku langsung saja. Nukumizu-san, sebenarnya hubunganmu dengan Mizushima-san itu apa?"
"Eh... lebih seperti berdiskusi soal Sakurai-kun... atau bertukar informasi, begitu."
Saat aku menjawab dengan samar, Tiara menatap lurus ke mataku.
"Hanya itu?"
"Iya, hanya itu."
Setelah beberapa saat menatapku, Tiara akhirnya mengendurkan ekspresinya.
"Kalau begitu aku lega. Soalnya aku mendengar rumor yang aneh dari teman di SMA Ayame."
Eh? Jadi Tiara punya teman di sekolah lain? Ah, bukan itu yang penting.
"Rumor tentang Koharu-san?"
Tiara mengangguk pelan.
"Katanya... di OSIS SMA Ayame ada seorang siswi yang agak terlalu bebas terhadap lawan jenis."
"Terlalu bebas...?"
Apa maksudnya? Suka memungut penghapus orang, mungkin?
"Orang itu Koharu-san?"
"Itu hanya rumor."
Melihatku terdiam berpikir, Tiara menatapku dengan wajah khawatir.
"Makanya kemarin, saat tahu kamu mengenalnya, aku..."
"Kamu mengkhawatirkanku?"
Tiara menggeleng kecil.
"... Aku sedikit cemburu."
Sesaat jantungku berdetak lebih cepat.
"B-benarkah?"
"Tapi syukurlah. Ternyata bukan dia yang sedang mendekatimu."
Melihat senyum malunya, aku ikut merasa malu hingga memalingkan wajah.
"Aku ini tidak sepopuler itu kok."
"Oh? Kalau begitu justru menguntungkan buatku. Saingannya jadi berkurang."
Tiara mengatakannya dengan nada bercanda.
"Tapi kenapa pembicaraan ini tidak lewat telepon saja?"
Mendengar pertanyaanku yang polos, Tiara menjulurkan lidah dengan wajah canggung.
"Baiklah, aku mengaku saja. Aku memang ingin bertemu denganmu."
"E-eh... begitu ya..."
...Jangan terbawa suasana, diriku.
Tapi ternyata Koharu-san punya rumor seburuk itu. Apa dia benar-benar cocok menjadi pacarnya Sakurai-kun?
Meski begitu, aku juga tidak tahu keadaan di sekolah lain. Kurasa lebih baik aku tidak ikut campur lebih jauh....
Namun, sambil menyanyikan lagu ending musim pertama "Giri Giri Out na Onna-tachi" bersama Tiara, aku teringat sesuatu.
—Ada seseorang yang sepertinya sangat mengetahui keadaan SMA Ayame.
◇
Keesokan harinya, Senin, saat jam istirahat.
Aku berada di lantai tempat kelas-kelas siswa tahun pertama.
Aku hanya mengenal satu siswa kelas satu, jadi tentu saja tujuanku hanya satu.
Saat mengintip diam-diam ke dalam kelas 1-F, orang yang kucari ada di sana.
—Riko Shiratama, anggota klub sastra kelas satu.
Ia sedang duduk di kursinya sambil mengobrol riang dengan teman-teman sekelas yang mengelilinginya.
Melihat teman-teman kelas 1-F tetap menerima dirinya dengan hangat meski ia punya "catatan kriminal", membuatku benar-benar kagum.
...Tapi kenapa yang mengelilinginya hampir semuanya siswa laki-laki?
Sebagian besar anak laki-laki di kelas berkumpul di sekelilingnya, sementara para siswi hanya mengamati dari kejauhan.
Ah, Shiratama-san baru saja memungut penghapus seseorang.
Saat seorang siswi berjalan mendekati pintu kelas, aku memberanikan diri memanggilnya.
"Permisi, boleh minta tolong sebentar?"
"Iya, ada apa?"
Kelihatannya dia orang yang baik. Aku merasa sedikit lega dan melanjutkan.
"Eh... bisa tolong panggilkan Shiratama-san?"
"...Cih."
Dia malah mendecakkan lidah.
Dipanggil oleh siswi itu, Shiratama-san melihat ke arahku dan langsung berdiri dengan wajah berseri-seri. Sesampainya di depanku, ia menjepit dasiku dengan kedua tangannya.
"Kazuhiko-san, ada apa?"
"Kalau memanggilku begitu agak..."
"Benar juga. Di sekolah harus memanggil Anda Ketua Klub, ya."
Itu juga tidak sepenuhnya benar, tapi sekarang bukan waktunya membahas itu.
Menahan rasa canggung, aku merendahkan suara.
"Shiratama-san, apa sekarang kamu punya waktu sebentar?"
"Tentu saja. Bicara di sini juga tidak apa-apa."
Kulihat seluruh murid kelas 1-F sedang memperhatikan kami.
"...Eh, bagaimana kalau kita pindah tempat saja."
Aku buru-buru meninggalkan tempat itu seperti sedang melarikan diri, dan Shiratama-san langsung berjalan rapat di sampingku.
Dekat sekali.
"Eh, tung—"
Saat aku mencoba menghindar, ia dengan gesit malah mendekatkan tubuhnya.
Perlahan-lahan aku didesaknya ke arah jendela, hingga akhirnya jalanku benar-benar tertutup. Rasanya seperti tikus yang sedang dipermainkan seekor kucing.
Punggungku menyentuh dinginnya kaca jendela.
Di depanku ada sepasang mata besar milik Shiratama-san.
"Ketua Klub, sebenarnya Anda ingin membicarakan apa?"
"Eh... aku jadi tidak bisa bergerak...."
"Iya. Saya mengurung Anda supaya tidak bisa kabur."
Begitu ya... jadi aku sedang dikurung....
Kalau begitu ya sudah, mau bagaimana lagi....mengabaikan tatapan orang-orang di sekitar, aku mulai berbicara.
"Begini... ada sesuatu yang ingin kutanyakan pada kakakmu...."
Benar. Kakak Riko, yaitu Minori Tanaka, bekerja di SMA Negeri Ayame.
Sejujurnya aku tidak ingin berurusan dengannya lagi, tapi sayang sekali kalau kesempatan seperti ini kulewatkan.
"Mau bertanya pada Kakak? Memangnya ada apa?"
Saat Shiratama-san semakin mendekat, aroma manis samar-samar tercium.
"Beberapa waktu lalu anggota OSIS dari SMA Ayame datang ke sini, kan? Aku ingin bertanya sedikit soal itu...."
"Maksud Anda Mizushima-san?"
Eh? Kok dia langsung tahu?
Melihat ekspresiku yang terkejut, Shiratama-san dengan usil menyentuh ujung hidungku menggunakan jarinya.
"Seperti yang saya duga, Ketua Klub memang musuh semua perempuan. Masa di depan pacar sendiri malah ingin bertanya soal gadis lain."
"Bukan begitu. Kami memang tidak berpacaran, kan?"
"Saya tidak keberatan kok. Justru sisi seperti itu dari Ketua Klub tidak saya benci."
Setelah berpikir beberapa saat, Shiratama-san tiba-tiba menggenggam tanganku.
"Saya punya ide bagus. Ketua Klub, ayo kita berkencan."
"Kencan?"
Aku hanya bisa mengulang kata itu dengan bodoh.
Melihat reaksiku, Shiratama-san tersenyum ceria.
"Minggu ini sepulang sekolah saya akan makan bersama Kakak. Bagaimana kalau Ketua Klub ikut juga?"
Makan bersama Kakak Riko. Berarti aku harus kembali mengalami suasana menegangkan itu. Tapi... demi melindungi Sakurai-kun, tidak ada pilihan lain.
Aku menarik napas panjang, menguatkan tekad, lalu mengangguk mantap.
◇
Dua hari kemudian, sepulang sekolah, aku berada di sebuah restoran Italia di Kota Toyohashi.
Restoran ini merupakan restoran tua yang berasal dari Toyohashi, dan sekarang sudah memiliki puluhan cabang di seluruh Jepang.
Di restoran utama inilah aku harus menahan tekanan dari Kakak Shiratama yang duduk di depanku dan Shiratama Riko yang duduk di sampingku.
"Hmm. Belakangan ini Nukumizu-kun sudah tidak datang main ke rumah lagi, ya."
Sambil memasukkan buah zaitun dari hidangan pembuka ke mulutnya, Kakak Shiratama bergantian menatapku dan Shiratama dengan senyum penuh arti.
"Kak, anak SMA zaman sekarang sibuk, tahu. Iya kan, Kazuhiko-san?"
"Hah? Ah, iya... benar juga... haha."
Aku mengunyah sesuatu yang ternyata okra yang dimasak dengan cara yang sangat elegan dan rasanya enak.
Karena ingin menghindari percakapan, aku kebanyakan makan hidangan pembuka sampai perutku sudah hampir penuh.
Di restoran ini, setiap pasta sudah termasuk prasmanan hidangan pembuka dan pencuci mulut. Bagi orang yang makannya sedikit seperti aku dan Shiratama, itu saja sudah cukup membuat kenyang. Kalau Yanami datang, mungkin lebih baik dia langsung dilarang masuk.
Saat pasta kami dihidangkan, perutku sudah benar-benar mencapai batasnya. Aku hanya bisa melahap pasta rekomendasi Shiratama yang bernama "Bawang Putih dan Bacon Gaya Iblis" tanpa berpikir apa-apa.
"Nih, Kazuhiko-san. Udangnya enak, lho."
Shiratama menusuk fritter udang dengan garpunya lalu menyodorkannya ke depan mulutku.
"Hah? Nggak usah, aku sudah kenyang..."
"Nih, aah."
"A-ah..."
Di bawah tatapan Kakak Shiratama, aku memasukkan udang itu ke mulut.
Balutan tepung fritternya berpadu dengan saus krim mentaiko sehingga rasanya luar biasa lezat. Tekstur udangnya juga sangat kenyal. Meski begitu, perutku sudah benar-benar penuh.
Sambil mengerahkan seluruh kekuatan "Yanami dalam pikiranku" untuk menghabiskan pasta, Kakak Shiratama menggulung pasta saus basil di garpunya lalu bertanya,
"Kalian berdua sering pergi kencan?"
"Ya... lumayanlah."
Aku menjawab seadanya.
Kakak Shiratama menatapku lurus.
"Wah enak ya. Belakangan ini kamu mengajak Riko ke mana saja?"
Eh? Aku sama sekali tidak pernah mengajaknya ke mana-mana.
Saat aku terdiam, Shiratama juga menatapku dengan wajah seolah menikmati situasi ini.
"Kazuhiko-san, akhir-akhir ini Anda mengajak saya ke mana?"
Kenapa bahkan Shiratama ikut menjadi musuhku?
Sebenarnya aku ingin mengeluh, tapi karena dia terlalu imut, aku tidak punya pilihan selain memaafkannya. Dunia memang keras.
"Ehm... ke taman... atau jalanan... ya semacam jalan-jalan begitu."
Baiklah, berhasil lolos.
Saat aku menghela napas lega, kakak-beradik Shiratama menatapku dengan senyum bak iblis.
"Oh begitu ya. Nukumizu-kun, kamu harus lebih memperhatikan Riko, tahu?"
"Iya. Boleh kok lebih sering memperhatikanku."
"Ehm... iya. Akan kuusahakan."
Kenapa aku sampai diinterogasi sekeluarga oleh adik kelas yang bahkan belum berpacaran denganku?
Jangan-jangan... sebenarnya kami memang berpacaran, hanya aku saja yang tidak tahu?
Saat sedang memikirkan kemungkinan itu, Kakak Shiratama berdiri.
"Kalau sudah paham, bagus. Aku ambil pencuci mulut dulu ya."
Baru saja aku merasa lega, saat berpapasan denganku ia berbisik di telingaku.
"...Kalau mau, kuberi tahu jam saat orang tuaku sedang tidak ada di rumah."
"Eh?! T-tidak perlu!"
Aku buru-buru menjawab.
Kakak Shiratama tertawa sambil meninggalkan meja.
Saat aku akhirnya mengendurkan ketegangan, Shiratama menggeser kursinya mendekat.
"Emangnya Kakak bilang apa tadi?"
"Nggak... cuma sedikit menggodaku saja."
Aku menjawab dengan gelisah.
Shiratama lalu memasang ekspresi sedikit lebih serius.
"Ketua Klub, apa Anda tidak ingin bertanya tentang Mizushima-san?"
Benar juga. Tujuan utama hari ini sebenarnya adalah mencari informasi tentang gadis itu. Namun karena terus ditekan oleh Kakak Shiratama, aku sama sekali belum sempat membicarakannya.
"Ehm... kurasa hari ini tidak usah dulu. Kakakmu agak menyeramkan soalnya."
Tanpa sengaja aku keceplosan.
Shiratama terkikik.
"Benarkah? Kakakku tidak menyeramkan kok."
"Ah masa? Bukannya kamu sendiri juga tidak berkutik kalau menghadapi kakakmu?"
Saat kubalas dengan bercanda, Shiratama berbisik di telingaku yang satunya—kebalikan dari tempat kakaknya tadi berbisik.
"...Kalau begitu, serahkan saja pada pacar Ketua Klub yang imut ini."
"Kamu punya cara yang bagus?"
Shiratama tersenyum bagaikan malaikat.
"Bahkan Kakak yang menakutkan itu punya satu kelemahan."
...Kelemahan?
Sebelum sempat bertanya lagi, Kakak Shiratama kembali sambil membawa sepiring pencuci mulut.
"Aduh, aku kebanyakan ambil lagi. Hari ini tart beri kelihatannya enak."
"Kak."
Begitu kakaknya duduk, Shiratama langsung membuka pembicaraan.
"Beberapa waktu lalu ada anggota OSIS dari SMA Ayame datang ke Tsuwabuki."
"Oh iya. Kalau tidak salah tahun ini perkemahan gabungan OSIS memang giliran sekolah kita dan Tsuwabuki, kan?"
"Iya. Terus aku jadi berteman dengan seseorang bernama Mizushima-san."
Mendadak garpu Kakak Shiratama berhenti.
"Oh... begitu? Lalu?"
"Terus, Mizushima-san mengajakku ikut acara pergaulan."
"...Acara pergaulan?"
Nada suaranya jelas penuh kewaspadaan.
Shiratama tersenyum ceria.
"Katanya itu acara untuk berkenalan dengan orang-orang dari berbagai sekolah tanpa memandang usia maupun jenis kelamin. Aku jadi tertarik..."
Shiratama melirik sekilas ke arahku.
"Tapi Kazuhiko-san cemburu karena nanti ada laki-laki juga yang datang. Dia terlalu khawatir, ya."
"Hei, acara itu kapan dan di mana?"
"Kurang tahu sih. Katanya nanti kenalan penyelenggaranya yang akan menjemput pakai mobil. Tempatnya di ruang sewa yang menghadap laut. Kedengarannya indah sekali."
Ting. Garpu di tangan Kakak Shiratama jatuh.
Tidak heran dia panik. Bukankah acara seperti itu terdengar sangat mencurigakan? Apa benar aman?
Sementara aku memperhatikan dengan cemas, Kakak Shiratama tiba-tiba membungkukkan badan ke depan.
"Dengar ya, Riko. Menurut Kakak sebaiknya kamu jangan ikut dulu. Kita juga tidak tahu orang-orang seperti apa yang akan datang. Bisa saja kamu berada dalam bahaya."
"Tapi Mizushima-san itu anggota OSIS SMA Ayame, lho. Kakak terlalu khawatir."
Tapi di OSIS sekolah kami saja ada mantan pelaku pelanggaran, tahu?
Kakak Shiratama masih tampak gelisah. Ia melihat sekeliling sebelum merendahkan suaranya.
"Begini... soal Mizushima-san. Ini rahasia ya, tapi dia itu agak... bebas, atau bagaimana ya. Pokoknya dia sudah terbiasa menghadapi laki-laki. Jadi menurut Kakak, hal seperti itu masih terlalu cepat buat Riko."
── Bebas.
Belum lama ini aku merasa pernah mendengar kata itu di suatu tempat.
Shiratama hanya memiringkan kepala dengan manis seolah tidak terlalu memikirkannya.
"Tapi Koharu-san kan sedang berpacaran dengan seseorang dari OSIS sekolah kami. Kalau sudah punya pacar, rasanya dia tidak mungkin pergi ke tempat untuk bermain-main dengan laki-laki lain."
"Hah? Gadis itu punya pacar di Tsuwabuki?!"
Kakak Shiratama kembali terkejut.
Shiratama mengangguk.
"Senior Wakil Ketua OSIS. Orangnya baik sekali dan sangat keren."
Sambil bersenandung kecil, Shiratama menggulung pasta mentaiko di garpunya.
Menggantikan Kakak Shiratama yang kehilangan kata-kata, aku pun berbicara.
"Soal acara pergaulan tadi, menurutku sebaiknya dipikirkan lagi—"
"Kazuhiko-san. Nih, aah."
Hap. Karena dia terlalu imut, tanpa sadar aku langsung memakannya.
Bukan itu masalahnya! Acara itu jelas mencurigakan!
Saat aku hendak menghentikannya, Shiratama mengedipkan mata kepadaku diam-diam agar kakaknya tidak melihat.
Eh? Jangan-jangan... acara pergaulan itu... bohong?
Shiratama mengedipkan mata sekali lagi, lalu kembali menghadap kakaknya.
"Kak, dari tadi kenapa sih?"
── Benar.
Satu-satunya kelemahan Kakak Shiratama adalah... bagaimanapun juga dia seorang siscon, kakak yang sangat menyayangi adiknya.
Kakak Shiratama yang tadi tampak bingung akhirnya menarik napas dalam-dalam lalu meluruskan punggungnya.
"Dengar ya. Bagaimanapun juga Kakak tetap berpikir kamu jangan ikut acara itu. Menghabiskan waktu bersama laki-laki yang baru pertama kali bertemu jelas masih terlalu cepat buat Riko."
"Kenapa? Mizushima-san sangat setia pada pacarnya, kok. Rasanya dia tidak mungkin pergi ke tempat berbahaya."
"Ehm... mungkin memang dia punya pacar di Tsuwabuki, tapi soal setia atau tidak itu..."
Kakak Shiratama berkali-kali membuka lalu menutup mulutnya.
Akhirnya, seolah sudah menyerah, ia pun berkata,
"Karena gadis itu... juga punya pacar di SMA Ayame?"
◇
Keesokan harinya saat jam istirahat siang, aku menghela napas sambil menatap roti kari yang belum habis kumakan di ruang kelas.
"Nukumizu, ada apa? Lagi ada masalah?"
Ayano menghentikan tangannya yang sedang makan bekal dan menatapku dengan khawatir.
"Iya... akhir-akhir ini nafsu makanku agak hilang."
Sakurai-kun sedang dipermainkan oleh dua perempuan sekaligus—setidaknya mungkin begitu.
Aku tak sanggup terus memandang Sakurai-kun yang sedang menikmati bekal buatannya sendiri, sehingga tanpa sadar mengalihkan pandangan.
Aku tidak tahu seberapa jauh cerita Kakak Shiratama bisa dipercaya, tetapi bukankah ada pepatah, tak ada asap kalau tak ada api? Meski begitu, aku juga tak mungkin mengatakan hal seperti itu langsung kepada orang yang bersangkutan....
Sakurai-kun meletakkan sepotong lobak rebus di tutup kotak bekalnya, lalu menyodorkannya ke atas meja.
"Nukumizu-kun memang makannya sedikit. Nih, yang ini mudah dicerna."
"Makasih. Ehm, aku pinjam sumpitmu—"
Saat hendak meminjam sumpit, Ayano malah menjepit potongan lobak itu dengan sumpitnya sendiri lalu menyodorkannya ke depan mulutku.
"Nih, buka mulut."
Entah kenapa, untuk dua hari berturut-turut aku kembali mengalami ritual "aah".
Aku bisa merasakan tatapan Komari dari seberang kelas, tetapi tentu saja aku memutuskan untuk mengabaikannya.
Saat sedang menolak "aah" tambahan dari Ayano, Sakurai-kun mulai berbicara dengan nada khawatir.
"Ngomong-ngomong, Hiba-nee mulai kerja paruh waktu."
"Di saat seperti ini? Bukannya anak kelas tiga lagi sibuk persiapan ujian masuk? Apa tidak apa-apa?"
Menanggapi pertanyaan Ayano yang masuk akal itu, Sakurai-kun mengangguk kecil.
"Katanya dia ingin belajar tentang kehidupan bermasyarakat sejak sekarang."
Jadi kerja paruh waktu di restoran keluarga, ya.
Sambil diam-diam mendoakan keselamatan robot kucing pelayan restoran, aku meneguk susu.
"Dia berencana kuliah di Tokyo nanti. Jadi katanya, setidaknya dia ingin bisa mengurus dirinya sendiri."
"Padahal bisa saja mulai setelah ujian selesai. Serius sekali, ya."
Aku juga sependapat dengan Ayano.
Tapi bagaimanapun juga dia adalah Hokobaru Hibari. Pasti ada cara berpikir yang tidak bisa dipahami orang biasa.
Sambil memandangi acar kubis yang dijepit sumpitnya, Sakurai-kun bergumam,
"...Soalnya Hiba-nee punya impian untuk masa depannya."
Ekspresi samping wajahnya terlihat begitu kesepian hingga aku tak mampu mengatakan apa pun, dan hanya menggigit roti kariku.
◇
—Ada ungkapan, berpura-pura tidak melihat.
Sekilas ungkapan itu terdengar negatif, tetapi jangan sampai kita terpengaruh oleh kesan tersebut. Pada dasarnya, itu adalah cara damai untuk menyelesaikan masalah tanpa memperkeruh keadaan.
Dengan kata lain, strategiku adalah menjaga jarak dari rencana Koharu-san dan membiarkan semuanya berlalu begitu saja secara samar-samar.
Demi Sakurai-kun, sebaiknya rumor-rumor kelam tentang Koharu-san kusimpan rapat-rapat di dalam hati....
Sambil meyakinkan diri sendiri, aku membuka pintu depan rumah.
Saat tanpa sengaja menunduk, aku melihat sepasang sepatu wanita yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Cara menatanya yang rapi membuatku yakin itu bukan milik Yanami. Karena berupa sepatu kulit, jelas juga bukan milik Yakishio. Dilihat dari ukurannya, bukan milik Komari ataupun Shiratama-san....
Tertarik oleh suara percakapan dari dalam rumah, aku membuka pintu ruang keluarga.
"Aku pula—"
Begitu pintu terbuka, yang kulihat adalah kobaran api di dapur dan Kaju yang berdiri membeku di sampingnya.
Dari wajan yang dipegang Hokobaru-senpai menyembur kobaran api berwarna kuning.
Mengabaikan banyaknya informasi yang harus kuproses, aku langsung berlari mendekat dan menutup wajan itu dengan tutupnya.
"Senpai tidak apa-apa?!"
"A-ah, terima kasih, Nukumizu-kun...."
Dengan wajah pucat, Hokobaru-senpai memaksakan sebuah senyum. Bahkan orang seperti dirinya pun tampaknya tidak bisa menyembunyikan kepanikan kali ini.
"Kaju, sebenarnya apa yang terjadi? Jangan-jangan dia sedang melakukan flambé?"
Kaju menggeleng sambil gemetar.
"T-tidak. Beliau cuma sedang membuat telur mata sapi di wajan."
Kalau begitu, kenapa bisa muncul api sebesar itu?
Saat kubuka tutup wajannya, di dalamnya masih ada telur yang bahkan belum matang sempurna, dengan kuning telur yang masih bergoyang.
Hokobaru-senpai menghela napas, lalu kembali mengangkat wajannya.
"Maaf sudah membuat keributan. Kalau begitu, aku lanjutkan—"
"Tunggu dulu!!"
Dengan kerja sama kakak-adik yang solid, aku dan Kaju akhirnya berhasil menghentikan Hokobaru-senpai.
◇
"Silakan diminum dulu."
Tempat berpindah ke kamarku. Aku menyodorkan segelas teh barley kepada Hokobaru-senpai yang sedang tampak murung.
Duduk lesu di atas bantal, Hokobaru-senpai memegang gelas itu dengan kedua tangannya.
"Memalukan sekali. Bahkan membuat satu telur mata sapi pun aku tidak bisa."
"Tidak juga. Api setinggi itu tidak mudah dibuat orang, kok."
Apa sebenarnya kekuatan Hokobaru-senpai itu? Kalau bisa dimanfaatkan, mungkin masalah energi dunia bisa teratasi.
"Bagaimanapun juga, syukurlah Kaju-kun tidak terluka. Mulai sekarang aku akan berlatih memasak tanpa menggunakan api."
"Ya, menurutku itu memang lebih baik."
Aku duduk berhadapan dengannya, dipisahkan oleh meja rendah, lalu mengamati raut wajahnya.
Di kamar hanya ada kami berdua. Senpai meminum teh barleynya dengan wajah serius.
"Ehm... sampai datang jauh-jauh ke rumah kami, apakah ada sesuatu yang ingin senpai bicarakan?"
Tak tahan dengan keheningan, akhirnya aku membuka percakapan.
Hokobaru-senpai meletakkan gelasnya di atas meja.
"Ya. Sebenarnya aku ingin meminta bantuanmu. Maukah kau mendengarkannya?"
"Tentu! Silakan katakan apa pun kepada Kaju!"
Dari belakang bahuku, Kaju tiba-tiba menyembulkan tubuhnya dengan penuh semangat.
"Kaju, sejak kapan kamu ada di sini?"
"Hanya Onii-sama saja yang tidak sadar. Kaju selalu ada di sini."
"Begitu ya. Kalau memang selalu ada, ya sudah."
Aku memasukkan kedua tangan ke bawah ketiaknya lalu mengangkatnya.
"Baiklah, Kaju. Sekarang main di luar dulu, ya."
"Nyaa~."
Setelah mengusir Kaju keluar kamar, aku menundukkan kepala kepada Hokobaru-senpai.
"Maaf, Kaju memang selalu seperti itu."
"Kalian akur sekali sebagai kakak beradik ya."
Akhirnya senyum kembali muncul di wajah Hokobaru-senpai.
"Dia memang masih seperti anak kecil. Kalau terus begini juga merepotkan."
"Tidak apa-apa, bukan? Aku juga punya kakak laki-laki, tetapi sejak dia meninggalkan rumah, kami jadi jarang sekali berhubungan."
Hokobaru-senpai menunggu sampai aku kembali duduk sebelum melanjutkan.
"Beberapa waktu lalu kau bersama Koharu di restoran itu, bukan? Sejak kapan kalian saling mengenal?"
"Hari itu Mizushima-san datang ke Tsuwabuki untuk urusan OSIS, lalu dia yang lebih dulu mengajakku bicara."
"Oh? Jadi Koharu yang mendekatimu."
Tatapan Hokobaru-senpai menjadi semakin tajam, membuatku tanpa sadar mengalihkan pandangan.
"Ehm... sebenarnya lebih seperti konsultasi soal suatu masalah..."
Saat aku menjawab dengan ragu-ragu, senpai tersenyum pahit.
"Tentang Hiroto, bukan? Melihat hubungan mereka berdua, terkadang bahkan aku sendiri merasa gemas."
"Ya... kurang lebih begitu."
Aku meneguk sedikit teh barley untuk menyembunyikan rasa canggung.
Dilihat dari sikap Hokobaru-senpai, sepertinya hubungannya dengan Sakurai-kun memang bukan hubungan yang rumit...?
"Senpai benar-benar mengkhawatirkan mereka berdua, ya?"
"Ya. Kami bertiga selalu bersama sejak kecil. Di lingkungan tempat tinggal kami, hanya kami bertiga yang seusianya, jadi hubungan kami sudah seperti keluarga."
Ia berbicara dengan nada lugas seperti biasanya.
"Sejak mereka mulai berpacaran, aku merasa sudah berusaha menjaga jarak dengan Hiroto. Namun setelah tahun lalu Hiroto masuk ke Tsuwabuki, suasananya sedikit berubah."
—Sakurai-kun memang sudah aktif di OSIS sejak kelas satu.
Artinya, setiap sepulang sekolah ia hampir selalu bersama Hokobaru-senpai.
"Kami memang berbeda sekolah, tetapi aku dan Hiroto berada di OSIS yang sama. Wajar kalau Koharu merasa cemas. Kurasa dia masuk OSIS SMA Ayame juga karena ingin tetap memiliki hubungan dengan Hiroto, meski hanya sedikit."
Pacarnya yang sejak kecil selalu bersamanya kini bersekolah di SMA lain. Sementara teman perempuan yang sejak kecil juga selalu bersamanya justru menghabiskan masa SMA bersama sang pacar.
Bahkan dari sudut pandangku pun, kedua orang itu terlihat memiliki hubungan yang sangat dekat.
Aku bisa benar-benar memahami perasaan Koharu-san.
"Bahkan aku sendiri bisa melihat kalau akhir-akhir ini hubungan mereka agak canggung. Koharu mendatangimu juga karena urusan Hiroto, bukan?"
"Benar, sih..."
Tapi soal menciptakan kesan seolah-olah hubungan mereka sudah lebih jauh... sebaiknya tidak usah kuceritakan. Semua orang pasti punya hal yang tidak ingin diketahui orang yang dikenalnya. Aku sendiri juga punya lima atau enam rahasia yang tidak ingin diketahui Kaju.
"Hiroto juga sudah lama berpacaran dengannya. Sudah waktunya dia membuat Koharu merasa tenang."
"Betul. Kurasa mereka memang harus bicara baik-baik—"
"Ya. Misalnya pergi ke pemandian air panas berdua. Hubungan mereka pasti akan semakin erat."
"Hah?"
...Entah kenapa, rasanya Koharu-san dan Hokobaru-senpai memiliki cara berpikir yang sama di dasarnya.
"Tapi... mereka masih anak SMA, kan? Bukankah pergi ke pemandian air panas berdua terlalu dewasa?"
"Mereka tidak akan selamanya menjadi anak-anak. Bibi Takako bahkan sudah mengandung anak keduanya saat seusiaku."
Bukankah itu contoh yang terlalu ekstrem?
Dan memangnya siapa Bibi Takako itu?
"Memang setiap orang punya rencana hidup masing-masing, tapi..."
"Hiroto adalah kekasih sahabat sekaligus teman masa kecilku. Tidak bisa kupungkiri kalau selama ini aku terlalu bergantung pada hubungan itu."
Seolah telah memantapkan tekadnya, Hokobaru-senpai berkata,
"—Setelah lulus nanti, aku akan meninggalkan Toyohashi. Dan setelah itu... aku tidak akan kembali lagi."
Nada bicaranya tegas, seolah sedang menegaskan kembali tekadnya kepada dirinya sendiri.
Aku terdiam mendengar ketegasan itu.
Hokobaru-senpai lalu menundukkan kepalanya kepadaku.
"Itulah sebabnya, sebelum saat itu tiba, aku ingin menghilangkan semua penyesalan yang masih tersisa. Jika memang itu yang Koharu inginkan... maukah kau membantu mewujudkannya?"





Post a Comment