Bab IV
"……Jangan bercanda, keparat!"
Pelajaran teori sihir. Seharusnya begitu,
tetapi entah mengapa, ini terjadi setelah mereka dipaksa berlari setengah mati
mengitari lingkungan Lily Garden.
Di halaman sekolah, Isabella duduk di
atas tanah sambil terengah-engah disertai luapan rasa dendam.
Rambut merah kebanggaannya yang diikat di
belakang tampak lepek oleh keringat. Sambil terus menggunakan sihir penguat
fisik, dia telah dipaksa berlari selama lima jam lebih.
"Gu-guru…… sialan itu……! Aku mutlak
tidak akan pernah memaafkannya……!"
"Kamu tidak boleh bicara seperti
itu."
Begitu Isabella spontan mencaci, Karina
langsung menegurnya dengan lembut.
Tampaknya Isabella lah yang paling
terakhir tiba di garis finis.
Teman-teman sekelasnya yang dia kira
lambat juga terlihat teramat lelah, tetapi mereka sudah tiba lebih dulu di
titik finis.
Bicara-bicara, Momo juga sudah tiba lebih
awal, tetapi…… anak itu dipastikan tidak berlari melewati rute yang ditentukan.
Dia pasti membolos di tengah jalan. Firasat sebagai teman masa kecil
meyakininya akan hal itu.
Di antara semuanya, pengecualian terbesar
tetaplah Karina.
Karena berasal dari kalangan rakyat
jelata, dia hanya bisa masuk ke
Taman Ketujuh, tetapi dia memiliki bakat
sihir yang jauh lebih masif daripada siapa pun.
Karena ceroboh, dia memang tidak becus
mengendalikan sihir secara mendetail. Namun jika untuk sihir sederhana seperti
penguat fisik, tidak ada satu pun orang yang sanggup menandinginya.
Saat terlibat bentrokan massal dengan
Garden Pertama tempo hari, dia pasti menahan diri.
Kecuali terhadap orang jahat, dia
memiliki kepribadian layaknya seorang pendeta yang sangat membenci tindakan
melukai lawan.
Karina menyeka keringat sambil menyibak
rambutnya dengan segar dan mengangkat sedikit seragam sekolahnya.
Perutnya yang terlihat sekilas tampak
memiliki garis tipis yang samar, dan pusar kecilnya terlihat menggemaskan.
Tubuh sehat yang sanggup membuat Isabella merasa iri meskipun sesama wanita.
Sangat bertolak belakang dari Isabella
yang sadar kalau dirinya memiliki sedikit lemak di perut.
Sambil berpikir dengan bingung apakah dia
harus berhenti makan camilan, Isabella terus terduduk di atas tanah, lalu
Karina mengulurkan tangan ke arahnya.
"……Apa maksudmu?"
"Anu…… kalau kamu tidak sanggup
berdiri, kupikir aku bisa membantumu."
"Tidak apa-apa, aku tidak butuh
bantuan."
"Namun,"
"Sudah kubilang tidak apa-apa. Kalau
aku menyerah hanya karena hal selevel ini, guru sialan itu pasti akan
menertawakanku lagi."
Sambil memecut tubuhnya yang lelah,
Isabella bangkit berdiri.
Karina mencoba mengatakan sesuatu, tetapi
Isabella tidak mau mendengarkan dan langsung melangkah berjalan menuju gedung
sekolah.
──Jika
kamu bersedia mempercayaiku, aku akan membawamu menuju ke tempat yang tinggi.
Di tengah guyuran hujan lebat, Theo telah
mengatakan hal itu kepada Isabella.
Jika ingin mengetahui artinya, dia harus
menghadiri kelas dengan benar.
Namun, kenapa sekarang dia malah disuruh
berlari terus-menerus?
Padahal Isabella harus menjadi kuat
secepat mungkin.
Ini semua salah guru sialan itu.
Waktu pun kembali berputar ke momen saat
Theo melontarkan
pernyataan tentang "peraturan".
Theo Proteus.
Jika dia adalah seorang penyihir, hampir
semua orang pasti mengenal namanya sebagai puncak tertinggi dari ilmu sihir
modern.
Ujung-ujungnya dia pasti akan dilepas
oleh sang guru suatu saat nanti. Karena itu, dia tidak peduli tentang
keberadaan guru.
Di saat Isabella memegang pemikiran
seperti itu, dia tetap saja penasaran terhadap pelajaran milik Theo.
Siapa tahu, dia benar-benar bisa
menguasai sihir tingkat Penyihir Istana.
Karena itulah dia menghadiri kelas
setelah insiden bentrokan dengan Garden Pertama dengan sedikit perasaan
berdebar…… namun kenyataannya justru seperti ini.
"Tu-tunggu sebentar!"
Tepat setelah Theo melontarkan pernyataan
tentang "peraturan", sosok
yang pertama kali menyuarakan keraguan
adalah Karina.
Karina bangkit berdiri sambil menunjukkan
ekspresi wajah yang dipenuhi rasa bingung.
"A-apa maksud dari hal itu……?
Mengenai hadiah dan hukuman yang Anda sebutkan."
"Mulai sekarang, aku akan memberikan
tugas kepada kalian setiap hari.
Setiap beberapa bulan sekali nilai
prestasi tersebut akan diakumulasikan. Aku berjanji akan memberikan hadiah bagi
mereka yang menempati peringkat pertama hingga periode berikutnya, dan
sebaliknya, memberikan hukuman bagi mereka yang berada di peringkat paling
bawah."
"Anu, hukuman itu, secara spesifik,
seperti apa……"
Sosok yang mengangkat tangannya dengan
ragu adalah Xue.
Karena merasa cemas, pandangan matanya
tampak bergerak ke sana kemari dengan gelisah.
"Singkatnya, hidup sebagai pelayan.
Kalian tinggal di asrama, kan? Kalau begitu, kalian harus mengerjakan seluruh
tugas rumah tangga di asrama, ditambah seluruh tugas harian yang kuperintahkan
secara terpisah. Tidak ada waktu luang selain waktu yang kutentukan sendiri.
Anggap saja seluruh waktu kalian berada di bawah pengawasanku."
"Hah?!"
Akibat deklarasi sewenang-wenang dari
Theo, Isabella spontan berteriak karena terperangah.
Saat melirik ke sekeliling, murid-murid
yang lain juga menunjukkan ekspresi wajah yang sama.
Namun, tanpa memedulikan hal itu, Theo
terus melanjutkan kalimatnya.
"Sebagai gantinya, aku akan
memberikan hak istimewa bagi mereka yang berhasil menempati peringkat pertama.
Selain bebas dari tugas rumah tangga dan tugas tambahan, aku akan mengabulkan
satu permintaan kalian. Namun, batasan dari permintaan tersebut adalah sesuatu
yang sanggup kuselesaikan dalam waktu dua puluh empat jam, serta bermula pada
premis tidak melukai orang lain."
Sambil berbicara, Theo mengeluarkan
selembar kartu dari balik jubah
sihir hitamnya.
Sebuah kartu hitam biasa yang tidak
memiliki keunikan apa pun.
Apakah benda itu yang menjadi bukti
kepemilikan hak tersebut?
Iris memiringkan kepalanya sambil
menyuarakan keraguan.
"Anu, aku rasa ini cukup menarik,
sih…… tapi bukankah hal itu berarti segalanya tergantung pada keputusan Sensei
sendiri? Kami kan tidak tahu batasan hal yang sanggup Sensei selesaikan."
"Tidak perlu cemas. Kartu ini telah
dipasangi sihir perjanjian. Mekanismenya akan dinilai dan dipaksakan secara
otomatis oleh sihir, bukan berdasarkan keputusan pribadiku."
"Eh?! Kalau begitu, apakah aku bisa
menambah permintaannya menjadi seratus buah?!"
"Itu tidak mungkin. Sihir perjanjian
akan mengonsumsi manaku saat aktif. Menambah jumlah permintaan boleh saja, tapi
manaku tidak akan sanggup menahannya."
"Ternyata merepotkan juga ya~"
Iris mengernyitkan alisnya seolah sedang
kebingungan.
Namun, jika ada batasan mana pada
"hal yang sanggup diselesaikan oleh Theo", maka cakupan permintaan
yang bisa dikabulkan juga pasti akan sempit.
"Lalu semenjak awaaal~ apa yang akan
Sensei lakukan kalau Momo dan yang lainnya tidak mau mendengarkan?"
Sosok yang melontarkan pertanyaan itu
dengan nada manja tentu saja adalah Momo.
Dari sudut pandang Isabella pun, Momo
memang terbilang sering membolos dari kelas. Jika keberadaan murid seperti Momo
dibiarkan begitu saja, peraturan ini tidak akan bisa berjalan sejak awal.
Dan sialnya, meskipun payah, Momo
tetaplah seorang anggota keluarga kerajaan. Dia bukanlah pihak yang bisa
dihadapi dengan cara yang kasar.
Namun, menanggapi pertanyaan tersebut,
Theo hanya berucap secara datar tanpa ekspresi bersamaan dengan sepasang mata
yang menggelap.
"Tidak masalah. Aku pasti akan
membuat kalian patuh dengan menghalalkan segala cara. Jadi, hal semacam itu
tidak akan pernah terjadi."
Ketegangan seketika merayap di dalam
ruang kelas.
Dia tidak tahu seberapa jauh guru itu
bersungguh-sungguh, tetapi Momo yang biasanya egois pun langsung terdiam tanpa
berani melontarkan celotehan lagi.
"Nah, apakah pertanyaannya sudah
habis? Kalau begitu, mari kita mulai pelajarannya."
Di tengah atmosfer yang entah mengapa
terasa ganjil, Theo berbalik menghadap ke arah papan tulis.
Namun, di dalam hatinya, Isabella merasa
sedikit senang.
Peraturan itu memang datang secara
mendadak, dan sejujurnya dia belum bisa menilai apakah hal itu baik atau buruk.
Hanya saja, dia menyukai hal yang keras.
Karena dia masuk ke sekolah ini memang demi menjadi kuat.
Kira-kira pelajaran seperti apa yang akan
diberikan oleh guru ini?
Apakah sihir tingkat Rank ketiga yang
dikatakan wajib dikuasai oleh
Penyihir Istana? Ataukah sihir inheren
yang kabarnya diciptakan oleh
Theo sendiri? Atau mungkin teori sihir
yang baru?
Di saat Isabella sedang merasa berdebar
di dalam hatinya, Theo mulai menuliskan sesuatu di papan tulis.
Dia mengira guru itu akan menuliskan
kalimat yang panjang, tetapi sosok yang ditulis oleh Theo ternyata hanyalah dua
buah kata saja.
Keliling Taman.
"Pertama, berlarilah. Urusan itu
dibahas setelahnya. Mari kita lihat…… jaraknya dua setengah kali kompetisi lari
jarak super jauh, sekitar sepuluh putaran luar taman. Penggunaan sihir
diizinkan."
Dengan santai, Theo menyebutkan jarak
yang tidak masuk akal.
Terlambat satu ketukan untuk memahami
kata-kata itu, Isabella bergegas bangkit berdiri.
"Tu-tunggu sebentar! Tidak,
hentikan! Kamu bicara apa, sih?!"
"Apa, maksudnya?"
"Ke-kenapa tiba-tiba harus berlari?
Ini pelajaran sihir, kan! Lagi pula kalau berlari sejauh itu, kami tidak akan
sempat mengikuti pelajaran berikutnya. Kamu bukan guru pengampunya, kan?!"
"Itu tidak masalah. Guru pengampu
pelajaran berikutnya juga aku.
Lebih tepatnya, mulai sekarang seluruh
pelajaran kalian akan kuambil alih."
"……Hah? A-apa yang kamu
katakan?"
"Mereka menyerahkannya kepadaku
dengan senang hati, kok."
"Bu-bukan itu maksudku! Eh, tapi kan
ada lisensi mengajar?!"
Pekerjaan mengajar diatur oleh sistem
lisensi. Guru yang mengampu berbeda-beda di setiap mata pelajaran.
Oleh karena itu, seharusnya mustahil bagi
satu orang guru untuk mengampu seluruh mata pelajaran.
Isabella mendengar bahwa Theo adalah guru
teori sihir.
Memang ada rumor kalau dia mendadak
diminta mengajar, bukan karena sejak awal berniat menjadi guru.
Jika sesuai rumor, lisensi yang
dimilikinya seharusnya hanya untuk teori sihir saja.
Namun tepat setelah itu, hal yang
dikatakan Theo benar-benar mengejutkan.
"Itu juga tidak masalah. Aku sudah
mengambil semua lisensinya kemarin."
"…………Hah? Apa?"
"Tepatnya baru penerbitan sementara.
Beruntung sekali Kepala Sekolah
termasuk dalam komite sertifikasi. Begitu
aku menyelesaikan ujian lisensi yang belum dipublikasikan untuk tahun ini di
hadapannya, dia langsung menyetujuinya dengan senang hati. Minggu depan lisensi
resminya pasti terbit secara khusus."
"…………"
"Ada pertanyaan lain?"
Level mereka benar-benar terlalu jauh
berbeda.
Dia tahu kalau orang ini adalah seorang
'genius'. Hanya saja, dia tidak menyangka akan sampai sejauh ini.
Pipi Isabella spontan berkedut menegang.
Namun, karena sudah terlanjur bangkit
berdiri, dia tidak boleh kalah di sini.
Isabella memberanikan diri sambil
berkata.
"Meski begitu, kenapa kami harus
berlari! Kami datang ke sini untuk menguasai sihir!"
Ya. Lily Garden adalah lembaga pendidikan
penyihir wanita.
Mereka bersekolah di sini demi menjadi
seorang penyihir.
Mereka tidak datang ke sini untuk menjadi
atlet lari jarak jauh.
Namun, Theo tetap mengatakannya dengan
nada suara yang dingin.
"Karena ini adalah masalah yang
lebih mendasar sebelum kalian menguasai sihir. Dalam kondisi kalian yang
sekarang, tidak ada gunanya meskipun kalian menguasai sihir. Pelajaran teori
memang akan tetap dilanjutkan sebagian, tapi yang utama adalah membentuk fisik
terlebih dahulu. Namun, jika kamu tetap tidak mau mendengarkan
perkataanku"
"Ka-kalau tidak mau mendengarkan,
lalu kenapa?!"
"Protes
saja sesuai dengan 《Peraturan》."
Peraturan. Aturan mutlak di dalam ruang
kelas ini yang ditunjukkan
oleh Theo beberapa saat yang lalu.
Dengan kata lain, dia menyuruh Isabella
untuk menjadi murid berprestasi nomor
satu dan membuat Theo meninjau kembali isi pelajarannya.
"Lagi pula, boleh saja kamu terus
membantah…… tapi bagaimana kalau kamu melihat fisikmu sendiri terlebih
dahulu?"
"A-apa maksudmu?"
Saat Isabella memasang ekspresi wajah
yang bingung, Theo menatap ke arah tubuh Isabella.
Mungkin hanya prasangka buruknya saja,
tetapi secara spesifik, tatapan itu tertuju pada area sekitar perut tempat
sedikit lemak menumpuk yang dikhawatirkan oleh Isabella.
Theo menyunggingkan senyum cemoohan di
sebelah sudut bibirnya.
(Setidaknya dari sudut pandang Isabella)
Dan kalimat yang dilontarkannya terdengar
seperti ini. (Setidaknya dari sudut pandang Isabella)
"──Urus
dulu tubuhmu (perutmu) itu, Isabella Lumiere."
Akan kubunuh.
Hal yang dirasakan Isabella terhadap Theo
adalah niat membunuh yang murni.
Di dalam benaknya, entah sudah berapa
kali dia menusukkan pisau ke arah guru sialan itu.
Namun
kenyataannya, guru sialan itu justru menilai lembar jawaban dengan santai
sambil melihat pemandangan para murid perempuan berlari. Dia pasti juga sedang
mengakumulasikan nilai prestasi yang berkaitan dengan 《Peraturan》.
Entah karena menggunakan sihir atau bukan, beberapa pena yang melayang tampak
bergerak secara bersamaan.
Walau dilakukan dengan santai, itu adalah
sihir tingkat kesulitan tinggi.
Menyadari fakta tersebut membuat Isabella
menjadi semakin kesal.
Meskipun sebagian besar pelajaran diubah
menjadi latihan berlari, bukan berarti pelajaran yang lain ditiadakan. Setelah
latihan berlari selesai, setiap hari Isabella dan yang lainnya dijejali
berbagai pengetahuan termasuk sejarah dan geografi.
Tentu saja, sosok yang mengajarkan mata
pelajaran itu juga Theo.
Padahal dia memiliki waktu yang lebih
sedikit daripada dirinya sendiri, tetapi dia sanggup menyelesaikan semuanya
dengan santai.
Selain itu, fakta bahwa tidak ada hasil
di bidang sihir meskipun telah berlari setiap hari juga menjadi salah satu
penyebab kemarahannya.
Sejak awal, dia bahkan tidak pernah
mendengar kalau pembentukan fisik itu diperlukan untuk sihir.
Kenyataannya, para peneliti dan penyihir
ternama seluruhnya adalah orang-orang lanjut usia yang tampaknya tidak akan
sanggup berlari lebih baik dari mereka.
Efek yang muncul paling-paling hanya
lingkar perut Isabella yang sedikit membaik.
Saat pertama kali mengukurnya, dia
spontan mengepalkan tangan sambil berteriak kegirangan. Namun karena stres
menghadapi guru sialan itu, dia langsung makan dengan rakus dan berat badannya
kembali seperti semula. ……Camilan, mengerikan.
Dan begitu kehidupan yang seperti itu
memasuki minggu kedua pada suatu hari.
Di atas podium ruang kelas, Theo
mengumumkannya dengan nada suara yang datar seperti biasanya.
"Hari ini latihan berlari
selesai."
Mendengar kalimat itu, Isabella
mengembuskan napas lega sambil menyunggingkan senyuman.
……Akhirnya latihan sihir dimulai, ya.
Kehidupan berlari terus-menerus
belakangan ini akhirnya berakhir. Hal itu saja sudah membuatnya senang.
Kira-kira latihan sihir apa yang akan
diberikan?
Pada
saat seperti ini, dia akan dengan senang hati menerimanya meskipun itu adalah
materi sihir yang tidak dikuasainya──
Di saat dia berpikir demikian, Theo
justru melontarkan kalimat yang mengejutkan.
"Sebagai gantinya, mulai hari ini
adalah latihan berlari di dalam hutan. Jaraknya sama seperti sebelumnya, tetapi
medannya buruk dan ini akan menjadi latihan yang lebih praktis. Bersiaplah
dengan matang."
"Tu-tunggu sebentar!"
Hal ini benar-benar tidak bisa dibiarkan
begitu saja. Isabella bangkit berdiri sambil menggebrak meja.
"Isabella."
"Kamu diam saja."
Suara Karina langsung terdengar untuk
menengahi, tetapi Isabella bergegas membungkamnya.
Tatapan mata dari teman-teman sekelasnya
seketika tertuju ke arahnya, tetapi Isabella tidak memedulikannya sama sekali.
"Aku benar-benar tidak bisa paham.
Kami sudah tidak mempelajari sihir selama satu minggu lebih! Bukankah kamu
bilang akan mengajarkan sihir kepada kami?!"
"Karena
itulah, hal itu──"
"Ini bentuk intimidasi, kan?!"
Begitu Isabella melontarkannya dengan
jelas, Theo tampak mengernyitkan alisnya.
Tanpa memedulikan sikap Theo tersebut,
Isabella terus melanjutkan kalimatnya.
"Kamu pasti kesal karena aku keluar
dari kelasmu saat pertama kali, kan! Makanya kamu membalas dendam dengan
memaksa kami berlari
terus-menerus!"
Isabella memperkirakan alasan Theo
memerintahkan latihan berlari adalah karena hal itu.
Namun, Theo sendiri justru mengerjapkan
matanya dengan ekspresi yang benar-benar tampak heran.
Karena mengira Theo akan marah dengan
wajah yang memerah padam, Isabella justru memasang ekspresi wajah yang curiga.
"……Ada apa?"
"Tidak. Apakah kamu benar-benar
mengira kalau aku memedulikan hal selevel itu? Isabella, ternyata kamu orang
yang cukup sensitif, ya."
"Apa…… kalau begitu, kenapa kami
terus dipaksa berlari?!"
"Demi menjadi kuat."
Jawaban Theo singkat.
Namun mengenai poin itu, hal tersebut
sama persis dengan
Isabella──justru
karena itulah dia tidak bisa memahaminya.
"Kalau begitu, ajarkan sihir! Hanya
dengan hal itu kami bisa menjadi kuat!"
"……Isabella, sihir seperti apa yang
kamu maksud?"
"Sihir tingkat Rank tinggi!
Pokoknya, aku ingin menguasai sihir yang kuat!"
Menguasai sihir yang dahsyat dan kuat
seperti ayahnya.
Sebab
hal itulah bentuk 《Kekuatan》 yang selama ini diajarkan kepada Isabella.
Namun, jawaban Theo tetap tidak berubah.
"Sia-sia saja. Tidak ada gunanya
sama sekali meskipun kamu menguasai sihir yang kuat. Kondisi kalian yang
sekarang belum sampai ke ranah itu."
"Hah──apa
yang kamu bicarakan? Kamu bahkan belum pernah melihat kami menggunakan sihir
sekalipun!"
"Aku tahu seberapa jauh kemampuan
kalian dalam menggunakan sihir."
Selama dua minggu ini, hal yang
diperintahkan Theo hanyalah latihan berlari.
Setidaknya, Isabella belum pernah
menggunakan sihir sekalipun di hadapan Theo.
Bahkan saat insiden bentrokan massal
waktu itu, Theo baru muncul setelah segalanya berakhir.
Padahal situasinya seperti itu, tetapi
Theo justru menegaskan kalau dia mengetahuinya, hal itu membuat Isabella tidak
bisa memaafkannya.
Sebab hal itu terasa seolah-olah usaha
keras Isabella selama ini ikut diinjak-injak dengan anggapan "levelmu itu
rendah".
"Bertarunglah denganku."
Tanpa disadari, Isabella melontarkan
tantangan tersebut.
"Akan kuperlihatkan langsung
seberapa jauh aku bisa menggunakan sihir."
Pada saat ini, emosi Isabella sudah
meluap ke kepala.
Karena itulah, dia tidak bisa menyadari.
Bahwa Theo sedang menyunggingkan sebuah
senyuman di sebelah sudut bibirnya.
Senyuman yang seolah-olah telah
menantikan momen ini tiba.



Post a Comment