NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Maou no Kyoushitsu- Nishuume Kyoushi wa Seito o Nido to Shinasenai Volume 1 Chapter 4

Bab IV


"……Jangan bercanda, keparat!"

 

Pelajaran teori sihir. Seharusnya begitu, tetapi entah mengapa, ini terjadi setelah mereka dipaksa berlari setengah mati mengitari lingkungan Lily Garden.

 

Di halaman sekolah, Isabella duduk di atas tanah sambil terengah-engah disertai luapan rasa dendam.

 

Rambut merah kebanggaannya yang diikat di belakang tampak lepek oleh keringat. Sambil terus menggunakan sihir penguat fisik, dia telah dipaksa berlari selama lima jam lebih.

 

"Gu-guru…… sialan itu……! Aku mutlak tidak akan pernah memaafkannya……!"

 

"Kamu tidak boleh bicara seperti itu."

 

Begitu Isabella spontan mencaci, Karina langsung menegurnya dengan lembut.

 

Tampaknya Isabella lah yang paling terakhir tiba di garis finis.

 

Teman-teman sekelasnya yang dia kira lambat juga terlihat teramat lelah, tetapi mereka sudah tiba lebih dulu di titik finis.

Bicara-bicara, Momo juga sudah tiba lebih awal, tetapi…… anak itu dipastikan tidak berlari melewati rute yang ditentukan. Dia pasti membolos di tengah jalan. Firasat sebagai teman masa kecil meyakininya akan hal itu.

 

Di antara semuanya, pengecualian terbesar tetaplah Karina.

 

Karena berasal dari kalangan rakyat jelata, dia hanya bisa masuk ke

Taman Ketujuh, tetapi dia memiliki bakat sihir yang jauh lebih masif daripada siapa pun.

 

Karena ceroboh, dia memang tidak becus mengendalikan sihir secara mendetail. Namun jika untuk sihir sederhana seperti penguat fisik, tidak ada satu pun orang yang sanggup menandinginya.

 

Saat terlibat bentrokan massal dengan Garden Pertama tempo hari, dia pasti menahan diri.

 

Kecuali terhadap orang jahat, dia memiliki kepribadian layaknya seorang pendeta yang sangat membenci tindakan melukai lawan.

 

Karina menyeka keringat sambil menyibak rambutnya dengan segar dan mengangkat sedikit seragam sekolahnya.

 

Perutnya yang terlihat sekilas tampak memiliki garis tipis yang samar, dan pusar kecilnya terlihat menggemaskan. Tubuh sehat yang sanggup membuat Isabella merasa iri meskipun sesama wanita.

Sangat bertolak belakang dari Isabella yang sadar kalau dirinya memiliki sedikit lemak di perut.

 

Sambil berpikir dengan bingung apakah dia harus berhenti makan camilan, Isabella terus terduduk di atas tanah, lalu Karina mengulurkan tangan ke arahnya.

 

"……Apa maksudmu?"

 

"Anu…… kalau kamu tidak sanggup berdiri, kupikir aku bisa membantumu."

 

"Tidak apa-apa, aku tidak butuh bantuan."

 

"Namun,"

 

"Sudah kubilang tidak apa-apa. Kalau aku menyerah hanya karena hal selevel ini, guru sialan itu pasti akan menertawakanku lagi."

 

Sambil memecut tubuhnya yang lelah, Isabella bangkit berdiri.

 

Karina mencoba mengatakan sesuatu, tetapi Isabella tidak mau mendengarkan dan langsung melangkah berjalan menuju gedung sekolah.

 

──Jika kamu bersedia mempercayaiku, aku akan membawamu menuju ke tempat yang tinggi.

Di tengah guyuran hujan lebat, Theo telah mengatakan hal itu kepada Isabella.

 

Jika ingin mengetahui artinya, dia harus menghadiri kelas dengan benar.

 

Namun, kenapa sekarang dia malah disuruh berlari terus-menerus?

 

Padahal Isabella harus menjadi kuat secepat mungkin.

 

Ini semua salah guru sialan itu.

 

Waktu pun kembali berputar ke momen saat Theo melontarkan

pernyataan tentang "peraturan".

 

Theo Proteus.

 

Jika dia adalah seorang penyihir, hampir semua orang pasti mengenal namanya sebagai puncak tertinggi dari ilmu sihir modern.

 

Ujung-ujungnya dia pasti akan dilepas oleh sang guru suatu saat nanti. Karena itu, dia tidak peduli tentang keberadaan guru.

 

Di saat Isabella memegang pemikiran seperti itu, dia tetap saja penasaran terhadap pelajaran milik Theo.

 

Siapa tahu, dia benar-benar bisa menguasai sihir tingkat Penyihir Istana.

Karena itulah dia menghadiri kelas setelah insiden bentrokan dengan Garden Pertama dengan sedikit perasaan berdebar…… namun kenyataannya justru seperti ini.

 

"Tu-tunggu sebentar!"

 

Tepat setelah Theo melontarkan pernyataan tentang "peraturan", sosok

yang pertama kali menyuarakan keraguan adalah Karina.

 

Karina bangkit berdiri sambil menunjukkan ekspresi wajah yang dipenuhi rasa bingung.

 

"A-apa maksud dari hal itu……? Mengenai hadiah dan hukuman yang Anda sebutkan."

 

"Mulai sekarang, aku akan memberikan tugas kepada kalian setiap hari.

Setiap beberapa bulan sekali nilai prestasi tersebut akan diakumulasikan. Aku berjanji akan memberikan hadiah bagi mereka yang menempati peringkat pertama hingga periode berikutnya, dan sebaliknya, memberikan hukuman bagi mereka yang berada di peringkat paling bawah."

 

"Anu, hukuman itu, secara spesifik, seperti apa……"

 

Sosok yang mengangkat tangannya dengan ragu adalah Xue.

 

Karena merasa cemas, pandangan matanya tampak bergerak ke sana kemari dengan gelisah.

"Singkatnya, hidup sebagai pelayan. Kalian tinggal di asrama, kan? Kalau begitu, kalian harus mengerjakan seluruh tugas rumah tangga di asrama, ditambah seluruh tugas harian yang kuperintahkan secara terpisah. Tidak ada waktu luang selain waktu yang kutentukan sendiri. Anggap saja seluruh waktu kalian berada di bawah pengawasanku."

 

"Hah?!"

 

Akibat deklarasi sewenang-wenang dari Theo, Isabella spontan berteriak karena terperangah.

 

Saat melirik ke sekeliling, murid-murid yang lain juga menunjukkan ekspresi wajah yang sama.

 

Namun, tanpa memedulikan hal itu, Theo terus melanjutkan kalimatnya.

 

"Sebagai gantinya, aku akan memberikan hak istimewa bagi mereka yang berhasil menempati peringkat pertama. Selain bebas dari tugas rumah tangga dan tugas tambahan, aku akan mengabulkan satu permintaan kalian. Namun, batasan dari permintaan tersebut adalah sesuatu yang sanggup kuselesaikan dalam waktu dua puluh empat jam, serta bermula pada premis tidak melukai orang lain."

 

Sambil berbicara, Theo mengeluarkan selembar kartu dari balik jubah

sihir hitamnya.

 

Sebuah kartu hitam biasa yang tidak memiliki keunikan apa pun.

Apakah benda itu yang menjadi bukti kepemilikan hak tersebut?

 

Iris memiringkan kepalanya sambil menyuarakan keraguan.

 

"Anu, aku rasa ini cukup menarik, sih…… tapi bukankah hal itu berarti segalanya tergantung pada keputusan Sensei sendiri? Kami kan tidak tahu batasan hal yang sanggup Sensei selesaikan."

 

"Tidak perlu cemas. Kartu ini telah dipasangi sihir perjanjian. Mekanismenya akan dinilai dan dipaksakan secara otomatis oleh sihir, bukan berdasarkan keputusan pribadiku."

 

"Eh?! Kalau begitu, apakah aku bisa menambah permintaannya menjadi seratus buah?!"

 

"Itu tidak mungkin. Sihir perjanjian akan mengonsumsi manaku saat aktif. Menambah jumlah permintaan boleh saja, tapi manaku tidak akan sanggup menahannya."

 

"Ternyata merepotkan juga ya~"

 

Iris mengernyitkan alisnya seolah sedang kebingungan.

 

Namun, jika ada batasan mana pada "hal yang sanggup diselesaikan oleh Theo", maka cakupan permintaan yang bisa dikabulkan juga pasti akan sempit.

 

"Lalu semenjak awaaal~ apa yang akan Sensei lakukan kalau Momo dan yang lainnya tidak mau mendengarkan?"

 

Sosok yang melontarkan pertanyaan itu dengan nada manja tentu saja adalah Momo.

 

Dari sudut pandang Isabella pun, Momo memang terbilang sering membolos dari kelas. Jika keberadaan murid seperti Momo dibiarkan begitu saja, peraturan ini tidak akan bisa berjalan sejak awal.

 

Dan sialnya, meskipun payah, Momo tetaplah seorang anggota keluarga kerajaan. Dia bukanlah pihak yang bisa dihadapi dengan cara yang kasar.

 

Namun, menanggapi pertanyaan tersebut, Theo hanya berucap secara datar tanpa ekspresi bersamaan dengan sepasang mata yang menggelap.

 

"Tidak masalah. Aku pasti akan membuat kalian patuh dengan menghalalkan segala cara. Jadi, hal semacam itu tidak akan pernah terjadi."

 

Ketegangan seketika merayap di dalam ruang kelas.

 

Dia tidak tahu seberapa jauh guru itu bersungguh-sungguh, tetapi Momo yang biasanya egois pun langsung terdiam tanpa berani melontarkan celotehan lagi.

 

"Nah, apakah pertanyaannya sudah habis? Kalau begitu, mari kita mulai pelajarannya."

 

Di tengah atmosfer yang entah mengapa terasa ganjil, Theo berbalik menghadap ke arah papan tulis.

 

Namun, di dalam hatinya, Isabella merasa sedikit senang.

 

Peraturan itu memang datang secara mendadak, dan sejujurnya dia belum bisa menilai apakah hal itu baik atau buruk.

 

Hanya saja, dia menyukai hal yang keras. Karena dia masuk ke sekolah ini memang demi menjadi kuat.

 

Kira-kira pelajaran seperti apa yang akan diberikan oleh guru ini?

 

Apakah sihir tingkat Rank ketiga yang dikatakan wajib dikuasai oleh

Penyihir Istana? Ataukah sihir inheren yang kabarnya diciptakan oleh

Theo sendiri? Atau mungkin teori sihir yang baru?

 

Di saat Isabella sedang merasa berdebar di dalam hatinya, Theo mulai menuliskan sesuatu di papan tulis.

 

Dia mengira guru itu akan menuliskan kalimat yang panjang, tetapi sosok yang ditulis oleh Theo ternyata hanyalah dua buah kata saja.

 

Keliling Taman.

"Pertama, berlarilah. Urusan itu dibahas setelahnya. Mari kita lihat…… jaraknya dua setengah kali kompetisi lari jarak super jauh, sekitar sepuluh putaran luar taman. Penggunaan sihir diizinkan."

 

Dengan santai, Theo menyebutkan jarak yang tidak masuk akal.

 

Terlambat satu ketukan untuk memahami kata-kata itu, Isabella bergegas bangkit berdiri.

 

"Tu-tunggu sebentar! Tidak, hentikan! Kamu bicara apa, sih?!"

 

"Apa, maksudnya?"

 

"Ke-kenapa tiba-tiba harus berlari? Ini pelajaran sihir, kan! Lagi pula kalau berlari sejauh itu, kami tidak akan sempat mengikuti pelajaran berikutnya. Kamu bukan guru pengampunya, kan?!"

 

"Itu tidak masalah. Guru pengampu pelajaran berikutnya juga aku.

Lebih tepatnya, mulai sekarang seluruh pelajaran kalian akan kuambil alih."

 

"……Hah? A-apa yang kamu katakan?"

 

"Mereka menyerahkannya kepadaku dengan senang hati, kok."

 

"Bu-bukan itu maksudku! Eh, tapi kan ada lisensi mengajar?!"

 

Pekerjaan mengajar diatur oleh sistem lisensi. Guru yang mengampu berbeda-beda di setiap mata pelajaran.

 

Oleh karena itu, seharusnya mustahil bagi satu orang guru untuk mengampu seluruh mata pelajaran.

 

Isabella mendengar bahwa Theo adalah guru teori sihir.

 

Memang ada rumor kalau dia mendadak diminta mengajar, bukan karena sejak awal berniat menjadi guru.

 

Jika sesuai rumor, lisensi yang dimilikinya seharusnya hanya untuk teori sihir saja.

 

Namun tepat setelah itu, hal yang dikatakan Theo benar-benar mengejutkan.

 

"Itu juga tidak masalah. Aku sudah mengambil semua lisensinya kemarin."

 

"…………Hah? Apa?"

 

"Tepatnya baru penerbitan sementara. Beruntung sekali Kepala Sekolah

termasuk dalam komite sertifikasi. Begitu aku menyelesaikan ujian lisensi yang belum dipublikasikan untuk tahun ini di hadapannya, dia langsung menyetujuinya dengan senang hati. Minggu depan lisensi resminya pasti terbit secara khusus."

 

"…………"

 

"Ada pertanyaan lain?"

 

Level mereka benar-benar terlalu jauh berbeda.

 

Dia tahu kalau orang ini adalah seorang 'genius'. Hanya saja, dia tidak menyangka akan sampai sejauh ini.

 

Pipi Isabella spontan berkedut menegang.

 

Namun, karena sudah terlanjur bangkit berdiri, dia tidak boleh kalah di sini.

 

Isabella memberanikan diri sambil berkata.

 

"Meski begitu, kenapa kami harus berlari! Kami datang ke sini untuk menguasai sihir!"

 

Ya. Lily Garden adalah lembaga pendidikan penyihir wanita.

 

Mereka bersekolah di sini demi menjadi seorang penyihir.

 

Mereka tidak datang ke sini untuk menjadi atlet lari jarak jauh.

 

Namun, Theo tetap mengatakannya dengan nada suara yang dingin.

 

"Karena ini adalah masalah yang lebih mendasar sebelum kalian menguasai sihir. Dalam kondisi kalian yang sekarang, tidak ada gunanya meskipun kalian menguasai sihir. Pelajaran teori memang akan tetap dilanjutkan sebagian, tapi yang utama adalah membentuk fisik terlebih dahulu. Namun, jika kamu tetap tidak mau mendengarkan perkataanku"

 

"Ka-kalau tidak mau mendengarkan, lalu kenapa?!"

 

"Protes saja sesuai dengan Peraturan."

 

Peraturan. Aturan mutlak di dalam ruang kelas ini yang ditunjukkan

oleh Theo beberapa saat yang lalu.

 

Dengan kata lain, dia menyuruh Isabella untuk menjadi murid  berprestasi nomor satu dan membuat Theo meninjau kembali isi pelajarannya.

 

"Lagi pula, boleh saja kamu terus membantah…… tapi bagaimana kalau kamu melihat fisikmu sendiri terlebih dahulu?"

 

"A-apa maksudmu?"

 

Saat Isabella memasang ekspresi wajah yang bingung, Theo menatap ke arah tubuh Isabella.

 

Mungkin hanya prasangka buruknya saja, tetapi secara spesifik, tatapan itu tertuju pada area sekitar perut tempat sedikit lemak menumpuk yang dikhawatirkan oleh Isabella.

Theo menyunggingkan senyum cemoohan di sebelah sudut bibirnya.

 

(Setidaknya dari sudut pandang Isabella)

 

Dan kalimat yang dilontarkannya terdengar seperti ini. (Setidaknya dari sudut pandang Isabella)

 

"──Urus dulu tubuhmu (perutmu) itu, Isabella Lumiere."

 

Akan kubunuh.

 

Hal yang dirasakan Isabella terhadap Theo adalah niat membunuh yang murni.

 

Di dalam benaknya, entah sudah berapa kali dia menusukkan pisau ke arah guru sialan itu.

 

Namun kenyataannya, guru sialan itu justru menilai lembar jawaban dengan santai sambil melihat pemandangan para murid perempuan berlari. Dia pasti juga sedang mengakumulasikan nilai prestasi yang berkaitan dengan Peraturan. Entah karena menggunakan sihir atau bukan, beberapa pena yang melayang tampak bergerak secara bersamaan.

 

Walau dilakukan dengan santai, itu adalah sihir tingkat kesulitan tinggi.

 

Menyadari fakta tersebut membuat Isabella menjadi semakin kesal.

 

Meskipun sebagian besar pelajaran diubah menjadi latihan berlari, bukan berarti pelajaran yang lain ditiadakan. Setelah latihan berlari selesai, setiap hari Isabella dan yang lainnya dijejali berbagai pengetahuan termasuk sejarah dan geografi.

 

Tentu saja, sosok yang mengajarkan mata pelajaran itu juga Theo.

 

Padahal dia memiliki waktu yang lebih sedikit daripada dirinya sendiri, tetapi dia sanggup menyelesaikan semuanya dengan santai.

 

Selain itu, fakta bahwa tidak ada hasil di bidang sihir meskipun telah berlari setiap hari juga menjadi salah satu penyebab kemarahannya.

 

Sejak awal, dia bahkan tidak pernah mendengar kalau pembentukan fisik itu diperlukan untuk sihir.

 

Kenyataannya, para peneliti dan penyihir ternama seluruhnya adalah orang-orang lanjut usia yang tampaknya tidak akan sanggup berlari lebih baik dari mereka.

 

Efek yang muncul paling-paling hanya lingkar perut Isabella yang sedikit membaik.

 

Saat pertama kali mengukurnya, dia spontan mengepalkan tangan sambil berteriak kegirangan. Namun karena stres menghadapi guru sialan itu, dia langsung makan dengan rakus dan berat badannya kembali seperti semula. ……Camilan, mengerikan.

Dan begitu kehidupan yang seperti itu memasuki minggu kedua pada suatu hari.

 

Di atas podium ruang kelas, Theo mengumumkannya dengan nada suara yang datar seperti biasanya.

 

"Hari ini latihan berlari selesai."

 

Mendengar kalimat itu, Isabella mengembuskan napas lega sambil menyunggingkan senyuman.

 

……Akhirnya latihan sihir dimulai, ya.

 

Kehidupan berlari terus-menerus belakangan ini akhirnya berakhir. Hal itu saja sudah membuatnya senang.

 

Kira-kira latihan sihir apa yang akan diberikan?

 

Pada saat seperti ini, dia akan dengan senang hati menerimanya meskipun itu adalah materi sihir yang tidak dikuasainya──

 

Di saat dia berpikir demikian, Theo justru melontarkan kalimat yang mengejutkan.

 

"Sebagai gantinya, mulai hari ini adalah latihan berlari di dalam hutan. Jaraknya sama seperti sebelumnya, tetapi medannya buruk dan ini akan menjadi latihan yang lebih praktis. Bersiaplah dengan matang."

 

"Tu-tunggu sebentar!"

 

Hal ini benar-benar tidak bisa dibiarkan begitu saja. Isabella bangkit berdiri sambil menggebrak meja.

 

"Isabella."

 

"Kamu diam saja."

 

Suara Karina langsung terdengar untuk menengahi, tetapi Isabella bergegas membungkamnya.

 

Tatapan mata dari teman-teman sekelasnya seketika tertuju ke arahnya, tetapi Isabella tidak memedulikannya sama sekali.

 

"Aku benar-benar tidak bisa paham. Kami sudah tidak mempelajari sihir selama satu minggu lebih! Bukankah kamu bilang akan mengajarkan sihir kepada kami?!"

 

"Karena itulah, hal itu──"

 

"Ini bentuk intimidasi, kan?!"

 

Begitu Isabella melontarkannya dengan jelas, Theo tampak mengernyitkan alisnya.

 

Tanpa memedulikan sikap Theo tersebut, Isabella terus melanjutkan kalimatnya.

"Kamu pasti kesal karena aku keluar dari kelasmu saat pertama kali, kan! Makanya kamu membalas dendam dengan memaksa kami berlari

terus-menerus!"

 

Isabella memperkirakan alasan Theo memerintahkan latihan berlari adalah karena hal itu.

 

Namun, Theo sendiri justru mengerjapkan matanya dengan ekspresi yang benar-benar tampak heran.

 

Karena mengira Theo akan marah dengan wajah yang memerah padam, Isabella justru memasang ekspresi wajah yang curiga.

 

"……Ada apa?"

 

"Tidak. Apakah kamu benar-benar mengira kalau aku memedulikan hal selevel itu? Isabella, ternyata kamu orang yang cukup sensitif, ya."

 

"Apa…… kalau begitu, kenapa kami terus dipaksa berlari?!"

 

"Demi menjadi kuat."

 

Jawaban Theo singkat.

 

Namun mengenai poin itu, hal tersebut sama persis dengan

Isabella──justru karena itulah dia tidak bisa memahaminya.

 

"Kalau begitu, ajarkan sihir! Hanya dengan hal itu kami bisa menjadi kuat!"

 

"……Isabella, sihir seperti apa yang kamu maksud?"

 

"Sihir tingkat Rank tinggi! Pokoknya, aku ingin menguasai sihir yang kuat!"

 

Menguasai sihir yang dahsyat dan kuat seperti ayahnya.

 

Sebab hal itulah bentuk Kekuatan yang selama ini diajarkan kepada Isabella.

 

Namun, jawaban Theo tetap tidak berubah.

 

"Sia-sia saja. Tidak ada gunanya sama sekali meskipun kamu menguasai sihir yang kuat. Kondisi kalian yang sekarang belum sampai ke ranah itu."

 

"Hah──apa yang kamu bicarakan? Kamu bahkan belum pernah melihat kami menggunakan sihir sekalipun!"

 

"Aku tahu seberapa jauh kemampuan kalian dalam menggunakan sihir."

 

Selama dua minggu ini, hal yang diperintahkan Theo hanyalah latihan berlari.

 

Setidaknya, Isabella belum pernah menggunakan sihir sekalipun di hadapan Theo.

 

Bahkan saat insiden bentrokan massal waktu itu, Theo baru muncul setelah segalanya berakhir.

 

Padahal situasinya seperti itu, tetapi Theo justru menegaskan kalau dia mengetahuinya, hal itu membuat Isabella tidak bisa memaafkannya.

 

Sebab hal itu terasa seolah-olah usaha keras Isabella selama ini ikut diinjak-injak dengan anggapan "levelmu itu rendah".

 

"Bertarunglah denganku."

 

Tanpa disadari, Isabella melontarkan tantangan tersebut.

 

"Akan kuperlihatkan langsung seberapa jauh aku bisa menggunakan sihir."

 

Pada saat ini, emosi Isabella sudah meluap ke kepala.

 

Karena itulah, dia tidak bisa menyadari.

 

Bahwa Theo sedang menyunggingkan sebuah senyuman di sebelah sudut bibirnya.

 

Senyuman yang seolah-olah telah menantikan momen ini tiba.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close