Bab V
──Ini
adalah ingatan masa lalu.
Itu terjadi saat dia baru mulai
mempelajari sihir di sekolah.
Di tempat latihan sihir keluarga Lumiere.
Di antara target sihir dan arena duel kuno yang tersedia, Isabella tampak
terkapar di atas tanah dengan tubuh penuh luka.
Penampilannya sama sekali tidak
mencerminkan seorang putri bangsawan.
Pakaiannya yang dihiasi ornamen mewah
tampak hangus terbakar di beberapa tempat. Kulitnya penuh dengan luka. Bahkan
ujung rambut merahnya yang menyala telah menjadi arang dan sebagian hilang.
Kondisi di mana mananya telah habis,
hingga dia tidak sanggup menggerakkan tubuhnya sendiri dengan becus.
Hal itu terjadi bukan hanya karena
latihan sihir, melainkan akibat hukuman dari ayahnya yang berkali-kali
melontarkan sihir api ke arahnya.
Di sekitar tempat latihan, beberapa
pelayan keluarga Lumiere tampak berjaga.
Namun, menyaksikan sosok Isabella yang
merangkak di atas tanah, tidak ada satu pun orang yang mengulurkan tangan untuk
menolong.
Malahan, dia merasa ada tawa cemoohan
yang bercampur di antara mereka.
Di tengah kesadaran Isabella yang
samar-samar, sang ayah menatap ke bawah ke arahnya dengan sepasang mata yang
dingin.
"……Padahal kamu adalah putriku, tapi
kenapa di usia sepuluh tahun masih belum bisa menggunakan sihir mudah seperti
ini? Apakah kamu benar-benar bersungguh-sungguh? Atau, karena kamu berteman
dengan orang aneh di sekolah sehingga tidak berlatih dengan becus?"
"……Eh?"
Hal yang dikeluarkan sang ayah dari balik
jubahnya adalah beberapa lembar surat.
Pengirimnya adalah Momo Sanctia. Sebuah
bukti korespondensi dengan Putri Ketujuh negara ini.
Meskipun situasinya seperti itu, sang
ayah justru mengembuskan napas panjang dengan pasrah.
"Membangun hubungan dengan keluarga
kerajaan memang bagus…… tapi kenapa harus dengan Putri Ketujuh. Kamu pasti
sudah mendengar rumor tentang dia, bukan? Apa gunanya berteman akrab
dengannya?"
"……Ini bukan soal guna atau tidak!
Bersama Momo rasanya sangat menyenangkan……!"
"Kamu yang tidak bisa menggunakan
sihir dengan becus tidak memiliki kebebasan seperti itu. Benda ini memang tidak
diperlukan."
Begitu kata-kata itu terlontar, sang ayah
langsung membakar surat-surat tersebut menggunakan sihir.
Wus, dalam sekejap
mata surat itu berubah menjadi kobaran api yang besar, lalu dijatuhkan ke atas
tanah.
Akibat hantaman kejutan yang teramat
besar, Isabella berteriak dengan seluruh tenaganya.
"Apa yang Ayah lakukan?!"
"Aku membakarnya karena tidak
berguna. Tapi…… jika kamu bisa mengendalikan sihir dengan baik, mungkin kamu
bisa menyelamatkan surat-surat ini."
Sang ayah menyunggingkan sebuah senyum
cemoohan.
Namun, Isabella tanpa ragu langsung
menjulurkan tangannya ke dalam kobaran api.
"Ah…… AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"
Panas──panas,
panas, panas! Mananya berada di ambang batas habis,
hingga dia tidak sanggup mengendalikan
sihir api dengan benar.
Meski begitu, dia tidak ingin kehilangan
surat-surat dari Momo.
Setelah Isabella dicamkan sebagai produk
gagal, Momo adalah teman pertama yang dimilikinya. Gadis-gadis yang dulu
menjadi temannya seluruhnya telah pergi menjauh. Namun, hanya Momo saja yang
bersedia menjadi temannya. Belakangan dia baru menyadari kalau
Momo juga bersedia berteman karena
dirinya kesepian, tetapi hal itu tidak menjadi masalah.
Sebab, bersikap rileks saat bersama Momo
adalah hal yang sama saja.
Kedua lengan Isabella tampak hangus
terbakar. Meski begitu, dia berusaha keras mengumpulkan surat-surat itu, lalu
memukulkannya ke atas tanah berkali-kali demi memadamkan api.
Menyaksikan sosok itu, sang ayah
melontarkan kalimat yang dingin secara ketus.
"Seleraku hilang. Aku berniat
mendidikmu untuk menjadi kuat…… tapi melihatmu menganggap penting benda semacam
itu."
"Sudah cukup. Aku kecewa kepadamu.
Kamu tidak diperlukan di dalam keluarga Lumiere."
Kalimat itulah perkataan terakhir yang
ditujukan sang ayah kepada Isabella.
Sang ayah membalikkan badannya lalu
melangkah pergi meninggalkan tempat latihan sihir.
Namun, perkataan ayahnya memang benar.
Dirinya harus menjadi kuat. Karena di
dunia ini, jika tidak memiliki kekuatan, tidak ada satu hal pun yang bisa
diperoleh.
Diakui sebagai anggota keluarga, hingga
melindungi hal-hal yang berharga, tidak ada satu pun yang mampu dilakukannya.
◇
Duel akhirnya diputuskan untuk digelar di
tempat latihan.
Saat melangkahkan kaki ke tempat latihan,
di atas kepala terbentang awan berwarna kelabu, dan hujan gerimis mulai turun.
Isabella mengenakan seragam sekolah
seperti biasanya.
Seragam sekolah Lily Garden merupakan
sebuah equipment yang memiliki pertahanan sihir secara semipermanen, yang dapat
digunakan
bahkan dalam pertempuran sihir.
"……-"
Saat menurunkan pandangan, di tangannya
terpasang sepasang sarung tangan hitam yang dihiasi renda.
Di balik sarung tangan ini, bekas luka
bakar pada masa itu masih tersisa.
Rasa sakit tampak berdenyut, membuat
Isabella menjadi kesal. Walau bekas lukanya kecil, itu adalah simbol dari
kelemahannya yang menunjukkan ketidakmampuannya sebagai seorang penyihir.
Dan, di tangannya tergenggam sebilah
pedang tongkat. Sebuah katalis
untuk mengaktifkan sihir.
Penyihir gaya lama memang lebih suka
menggunakan tongkat besar, tetapi tergantung pada kaum bangsawan, ada pula yang
menggunakan senjata seperti pedang atau tombak sebagai katalis. Asalkan
berbahan dasar material yang bisa dijadikan katalis, bentuk luarnya bebas
berupa apa saja.
Di sisi lain, Theo mengenakan jubah
penyihir hitam yang mengingatkan pada seorang pendeta.
Padahal pertempuran sihir akan segera
dimulai, tetapi dia justru menahan kantuk dengan menguap secara bosan, sama
sekali tidak memiliki semangat bertarung.
"Heeh…… apakah terhadap orang
selevelku kamu merasa tidak perlu bersungguh-sungguh?"
"Isabella-chan."
"Isabella, kamu tidak apa-apa?"
Mendengar suara dari arah samping membuat
pandangan matanya bergerak. Momo berdiri dengan ekspresi wajah yang seolah
ingin mengatakan sesuatu, dan Karina menatapnya dengan pandangan cemas.
Di tempat yang lebih jauh tampak
murid-murid Taman Ketujuh lainnya.
Dari arah gedung sekolah, murid-murid
dari kelas lain juga tampak melongokkan wajah karena penasaran.
Isabella menyunggingkan sebuah senyuman
tangguh.
"Yah, sejujurnya aku tidak berpikir
kalau aku bisa menang. Lawanku adalah genius sihir modern. Kalau aku bisa
menang, mulai besok aku bahkan sudah bisa menjadi seorang Penyihir
Istana."
"Padahal kamu sudah tahu sejauh itu,
tapi kenapa?"
"Meski begitu, tidak ada alasan
bagiku untuk dinilai secara sepihak padahal dia belum pernah melihat
kemampuanku sekalipun. Nah, lihat saja nanti. Aku pasti akan membalasnya
setidaknya dengan satu serangan."
Setelah melontarkan kalimat itu kepada
Karina, Isabella berhadapan langsung dengan Theo.
Jarak di antara mereka sekitar lima belas
hingga dua puluh langkah.
Sebuah jarak yang biasa digunakan dalam
latihan pertempuran sihir.
"Lalu, bagaimana peraturannya?"
"Siapa pun yang berhasil mendaratkan
sihir ke tubuh lawan, dialah pemenangnya. Selain hal itu, menghalalkan segala
cara juga boleh."
Dalam latihan pertempuran sihir yang
sebenarnya, jenis sihir yang bisa digunakan dibatasi.
Hal itu dilakukan agar tidak sampai
membunuh lawan secara tidak sengaja.
Namun, Isabella perlu membuat Theo
menyaksikan kemampuan sihir maksimal yang bisa digunakannya. Karena dia
berpikir bahwa jika Theo melihat sihir terkuatnya, guru itu mau tidak mau harus
mengakui sosok Isabella.
Oleh karena itu, dia sengaja tidak
menetapkan batasan maksimal.
Akan tetapi, bertolak belakang dari
perkiraannya, Theo justru menambahkan sebuah kondisi.
Ditambah lagi, kondisi itu berupa
pemberian batasan pada dirinya sendiri.
"Sebagai formalitas, anggap saja aku
hanya bisa menggunakan sihir menyerang sampai Rank kedelapan. Berhubung
posisiku sebagai seorang guru, aku tidak boleh sampai melukai muridku. Lalu,
walau kemungkinannya tidak sampai satu banding sepuluh ribu, jika kamu bisa
menang melawanku, aku tidak keberatan untuk menjadikanmu, Isabella, sebagai
murid berprestasi nomor satu untuk periode kali ini."
"……Kamu bisa bicara besar juga,
ya."
Justru karena yakin kalau hal itu tidak
mungkin terjadi, dia bisa menegaskannya seperti itu.
Sihir umumnya dibagi dari Rank pertama
hingga Rank kesembilan.
Sihir Rank kedelapan merupakan level
sihir yang dipelajari oleh para calon penyihir di masa-masa awal mereka.
Pernyataan bahwa dia hanya akan
menggunakan sihir menyerang selevel itu, sama saja dengan sebuah deklarasi
bahwa dia akan menerima seluruh sihir yang dilontarkan Isabella secara
mentah-mentah.
Sebab, sebagian besar sihir menyerang di
level Rank kedelapan memiliki daya hancur yang rendah serta kecepatan yang
lambat.
Meskipun lawannya adalah sang genius
sihir modern, jika sihir yang ditembakkannya dibatasi sampai level Rank
kedelapan, Isabella
memiliki rasa percaya diri untuk
menyerang secara sepihak.
"Isabella, kamu boleh memulainya
kapan saja sesuai dengan waktu pilihanmu. Begitu aku merasakan manamu bangkit,
aku juga akan
bergerak."
"Hah…… benar-benar tidak
menganggapku, ya? Kita lihat saja nanti, seberapa lama sikap santaimu itu bisa
bertahan!"
Sambil berteriak, Isabella memasang
posisi siaga dengan pedang
tongkatnya, lalu membangkitkan mana yang
tertidur di dalam tubuhnya.
Membakar api di dalam jantung,
mengalirkannya ke setiap ujung jari, sebuah bayangan proses sirkulasi.
Seluruh tubuhnya menjadi panas, dan
mananya mulai aktif bekerja.
──Sebagai
bentuk pengulangan, sihir dimanifestasikan melalui beberapa tahap.
Tahap
pertama──《Koneksi》 untuk terhubung dengan kekuatan Tuhan.
Tahap
kedua──《Perolehan》
untuk memasukkan formula sihir dari
Tuhan ke dalam otak penyihir.
Tahap
ketiga──《Pelepasan》
untuk memanifestasikan sihir dengan
cara menyalurkan mana ke dalam formula
sihir.
Rentetan sejarah sihir yang seperti itu
selalu diceritakan bersamaan dengan upaya mempersingkat waktu.
Pertama, pada sihir generasi pertama,
para penyihir melakukan ketiga tahap ini dengan cara mempersembahkan tarian
atau ritual kepada Tuhan.
Pada sihir generasi kedua, tarian dan
ritual disederhanakan menjadi mantra, dan mempercepat sihir dengan cara
mempersembahkan korban kepada Tuhan.
Pada
sihir generasi ketiga, dengan memasukkan 《Formula
Sihir》 ke dalam otak penyihir sejak awal, tahap pertama
dan tahap kedua berhasil disederhanakan.
Selama beberapa ratus tahun terakhir ini,
sihir generasi ketiga telah menjadi sebuah hal yang lumrah di dalam sejarah
sihir.
Namun, seorang penyihir telah
menghancurkan hal tersebut.
Melalui
teori sihir baru──sihir generasi keempat.
Metodenya terbilang sangat sederhana.
Jika otak seorang penyihir yang bertindak sebagai 'wadah' sanggup menyimpan
formula sihir, maka seorang penyihir berpikir apakah peralatan atau equipment
juga bisa dijadikan sebagai 'wadah' untuk menyimpan formula sihir tersebut.
Jika hal ini berhasil dilakukan, asalkan
memiliki peralatan tersebut beserta mana, siapa pun akan bisa mengaktifkan
sihir.
Dan, penyihir itu luar biasanya berhasil
mewujudkannya secara nyata.
Nama penyihir itu adalah Theo Proteus.
Sama
seperti keluarga Lumiere yang menyandang gelar 《Matahari》,
dia adalah penyihir yang dianugerahi gelar 《Wadah》.
Seorang akademisi yang berjalan di garis
terdepan ilmu sihir, yang bahkan dijuluki sebagai orang yang menduduki posisi
terdekat dengan asal mula sihir.
"《Koneksi
Mulai》"
Isabella mengobarkan mana miliknya, lalu
menyalurkannya ke seragam sekolah.
Mana tersebut muncul bagaikan sumbu
peledak, pola garis yang bersinar temaram mulai terukir di seragamnya.
Seragam sekolah Lily Garden bukan sekadar
pakaian biasa.
Pakaian ini tidak hanya dipasangi
proteksi sihir, melainkan seragam ini sendiri merupakan 'wadah' yang menyimpan
formula sihir.
Dengan kata lain, sihir generasi keempat.
Umumnya, semakin tinggi Rank dari formula
sihir, semakin besar pula kapasitas 'wadah' yang dibutuhkan untuk menyimpannya.
Dalam teori sihir generasi ketiga,
semakin besar formula sihir, penyihir harus bersusah payah menyimpannya di
dalam otak, tetapi dalam teori sihir generasi keempat, penyimpanan dapat
dilakukan dengan mudah.
"《Pelepasan
Formula Sihir──!"
Isabella menjulurkan lengannya,
menentukan arah sihir dengan ujung pedang tongkatnya.
Kemudian, dia memilih formula sihir
favorit dari yang tersimpan di seragamnya.
Sihir andalan keluarga Lumiere yang
secara turun-temurun mahir dalam sihir api dan cahaya.
Sihir Rank kelima: Flare Spear.
Sihir itu hanya bisa dilepaskan dalam
satu tembakan karena mananya
nyaris berada di batas kritis, tetapi
tepat di saat Isabella hendak melepaskannya.
──Dia
menyadari bahwa sosok Theo tidak ada di mana pun.
"……Hah?"
Dengan panik dia menggerakkan lehernya,
tetapi sosok Theo tidak berhasil ditemukan.
Padahal
dia ada di sana sampai sesaat yang lalu, sebenarnya ke mana──
"-!"
Sebuah hawa keberadaan yang mendekat
dengan cepat.
Di saat panca indera Isabella
menyadarinya, segalanya sudah terlambat.
Pandangannya jungkir balik, dan kepalanya
membentur tanah dengan keras. Rambut merah kebanggaannya lumatan lumpur, dan
tanah becek bahkan sampai masuk ke dalam mulutnya. Saat dia menyadarinya,
Isabella sudah terlambat dan hanya bisa menatap langit mendung yang diguyur
gerimis.
Setelah paham bahwa dirinya dijegal
hingga jatuh telentang, Isabella bergegas mencoba untuk bangkit berdiri.
Namun, lebih cepat dari gerakannya, ujung
tongkat Theo sudah ditumpukan tepat di atas kepalanya.
Jarak nyaris nol. Theo memang tidak
merapalkan sihir, tetapi pada
jarak seperti ini, bahkan jika dia hanya
bisa menggunakan sihir Rank kedelapan sekalipun, Isabella sudah kalah telak.
"……A-apa-apaan maksudmu ini?"
Isabella berucap dengan suara yang
gemetar.
Dia berniat mengajukan duel pertempuran
sihir.
Seharusnya, pertempuran sihir adalah
ajang saling melepaskan tembakan sihir. Di saat salah satu pihak menembak,
pihak lain akan menahannya dengan sihir pertahanan.
Meskipun demikian, hal itu memang bukan
sebuah peraturan tertulis.
Situasinya secara tak terelakkan akan
menjadi seperti itu.
Jika musuh mendekat, menghindar ataupun
bertahan dari sihir yang melesat dengan kecepatan tinggi akan menjadi sulit
dilakukan. Berbeda jika lawannya adalah seorang ahli pedang atau ksatria,
tetapi sesama penyihir seharusnya bertarung dengan cara seperti itu.
Padahal situasinya demikian, tetapi,
"Bukankah tadi katamu menghalalkan
segala cara diizinkan?"
Theo yang seharusnya merupakan seorang
akademisi, melontarkannya dengan nada suara yang dingin.
"Jaraknya sekitar dua puluh langkah.
Berbeda jika lawannya adalah penyihir berpengalaman, tapi lawanku hanyalah
seorang murid biasa.
Kalau begitu, tidak membiarkan musuh
menembakkan sihir adalah cara yang jauh lebih mudah."
"Hal
itu, adalah──"
Tepat seperti perkataan Theo.
Jika hal semacam itu memang bisa
diwujudkan, tidak ada satu pun yang salah dari tindakannya.
Namun, hal itu berarti Isabella bahkan
tidak diberikan kesempatan untuk melakukan pertempuran sihir.
"Lalu, apa yang akan kamu
lakukan?"
"Apa maksudmu?"
"Aku bahkan belum menembakkan sihir
ke arahmu, lho. Mau lanjut? Atau menyerah?"
"────"
Theo menyunggingkan sebuah senyum
cemoohan.
Kepribadian Isabella tidaklah cukup sabar
untuk tinggal diam menerima provokasi yang teramat jelas seperti itu.
"Tentu saja lanjut!"
Sambil meraung, Isabella kembali
mengambil jarak dua puluh langkah dari Theo.
Itu tadi karena aku lengah. Dia
meyakinkan dirinya sendiri sambil memasang kuda-kuda.
Dan begitu, waktu keputusasaan pun
dimulai.
──Apa-apaan
ini! Apa-apaan semua ini!
Berkali-kali dijatuhkan, dipaksa memakan
lumpur, dan setiap kali dia bangkit berdiri, Isabella terus meluapkan suara
dendam di dalam batinnya.
Dia sama sekali tidak memperkirakan
situasi akan menjadi seperti ini.
Tentu saja, dia tidak berpikir kalau dia
bisa menang melawan sang genius sihir modern.
Kemungkinan kemampuannya diejek karena
masih payah juga sudah masuk ke dalam perkiraannya.
Namun, situasi di mana dia bahkan tidak
diberikan kesempatan untuk menggunakan sihir sekalipun, sama sekali belum
pernah terlintas di benaknya.
──Apakah
itu berarti aku bahkan tidak memiliki kualifikasi untuk berdiri di arena
pertempuran sihir?
Dijatuhkan.
──Lalu
apa arti dari semua hal yang kulakukan selama ini?
Dijatuhkan.
──Apakah
keinginan untuk menjadi kuat itu sendiri merupakan sebuah
mimpi yang mustahil?
Dijatuhkan. Dijatuhkan. Dijatuhkan
dijatuhkan dijatuhkan dijatuhkan
dijatuhkan
dijatuhkan dijatuhkan dijatuhkan dijatuhkan dijatuhkan dijatuhkan dijatuhkan
dijatuhkan dijatuhkan dijatuhkan dijatuhkan──
Entah sudah berapa lama waktu berlalu.
Setiap kali dia mencoba menggunakan sihir
serangan besar yang paling dikuasainya, dia selalu dijatuhkan berkali-kali, dan
di saat dia bangkit berdiri secara setengah tidak sadar, suara Theo terdengar
di telinganya.
"Isabella,
apakah 《Kekuatan》 yang kamu inginkan benar-benar hanya sebatas
itu?"
"Mengeksekusi
sihir yang dahsyat dengan Rank tinggi. Kamu pasti sudah sangat paham bahwa 《Kekuatan》
yang selama ini diajarkan kepadamu bukanlah hal yang sebenarnya kamu inginkan,
kan?"
"Bukankah kamu menginginkan kekuatan
mutlak demi melindungi hal yang berharga, demi diakui oleh keluargamu?"
"Cepatlah terbangun dari mimpimu,
Isabella Lumiere. Buang harga diri
tidak bergunamu itu, dan pilihlah untuk
menang meskipun harus merangkak di atas tanah!"
"──Berisik
sekali kamu!!!"
Isabella berteriak sambil menampar kedua
pipinya sendiri dengan keras.
Rasa sakit yang berdenyut menjalar
menimbulkan rasa panas.
Namun, pikirannya menjadi tenang kembali.
Duel yang entah sudah keberapa puluh
kalinya akan segera dimulai kembali.
Saat melirik ke sekeliling, gerimis tipis
entah sejak kapan telah berubah menjadi hujan lebat, dan hanya tersisa para
murid Taman Ketujuh saja di tempat latihan.
Namun, justru karena itulah dia tidak
boleh hanya memperlihatkan sosok yang mengenaskan saja.
"-"
Isabella mengambil inisiatif lebih dulu
untuk mengobarkan mana miliknya.
Meskipun tidak ada satu pun sihir yang
berhasil diaktifkan, batas
fisiknya sudah hampir mencapai limit.
Mungkin karena merasakan pergerakan
mananya, sosok Theo kembali
menghilang.
Namun, jika dipikirkan dengan tenang,
mustahil sosok Theo benar-benar bisa menghilang secara harfiah.
Bukan berarti dia menggunakan sihir
perpindahan instan juga.
Jika menggunakan itu, rentang perbedaan
waktu sejak Theo menghilang hingga Isabella dijatuhkan tidak akan bisa
dijelaskan.
Pikirkan.
Apa sebenarnya yang sedang dilakukan oleh Theo. Pikirkan, pikirkan pikirkan
pikirkan──!
"──Ah."
Dan di sana.
Isabella menyadari suatu hal.
Permukaan tanah yang becek akibat air
hujan. Di atas tanah itu, jejak sepatu tampak terbentuk secara
bersahut-sahutan, mendekat ke arahnya dengan cepat.
Dengan
kata lain, dia bukan menghilangkan wujudnya──melainkan memanipulasi cahaya demi
mengelabui pandangan mata Isabella.
Sihir Rank kedelapan: Spectrum.
Sebuah sihir tingkat dasar yang diketahui
oleh siapa saja.
Namun, dia belum pernah melihat tingkat
akurasi yang setinggi ini.
Sebab jika target menggerakkan pandangan
matanya, pengguna harus menyesuaikan manipulasi cahayanya dengan gerakan
tersebut. Tingkat akurasi yang sampai terlihat benar-benar lenyap sempurna
adalah hal yang belum pernah didengarnya sekalipun.
──Genius
keparat ini!
Isabella meraung di dalam hatinya.
Namun, asalkan teorinya sudah diketahui,
selalu ada cara yang bisa dilakukan.
Isabella secara tidak sadar memilih sihir
tersebut, lalu merapalkan namanya untuk dieksekusi.
Dan sihir itu bukanlah sihir serangan
besar yang selama ini terus dipilihnya secara keras kepala.
Sihir Rank kedelapan: Physical Enhance.
Sihir yang digunakannya saat berlari
selama dua minggu ini, aktif dengan teramat sangat lancar.
"──Haaaaahhhhhhh!"
Menuju ke arah Theo yang tidak tertangkap
oleh pandangan matanya namun dipastikan sedang mendekat, Isabella melayangkan
sebuah tendangan sekuat tenaga.
Dan tendangan itu mendarat menghantam
'sesuatu' bersamaan dengan sebuah benturan yang nyata.
Terlambat satu ketukan, tabir cahaya
tampak terkelupas, dan sosok Theo pun muncul kembali.
Tendangan Isabella berhasil ditahan oleh
sebelah lengan Theo.
Meski begitu, bagi Isabella, ini adalah
sebuah kemajuan.
"Jawaban yang benar."
Bersamaan dengan pujian singkat namun
pasti dari Theo, tubuh Isabella langsung ambruk lemas di tempat.
Sosok yang bergegas menahan tubuhnya
sebelum menyentuh tanah
adalah Theo.
Sambil menjadikan lengan Theo sebagai
tumpuan, Isabella berusaha sekuat tenaga untuk tetap berdiri.
Namun, batas tubuhnya memang sudah tiba.
Ketegangan yang selama ini
dipertahankannya seketika mengendur, dan rasa lelah yang teramat sangat
langsung menyerang tubuhnya saat itu juga.
"……Ini adalah salah satu sihir yang
paling berguna di medan perang. Jika kamu mengasahnya hingga ke tingkat
ekstrem, tidak banyak sihir lain yang memiliki tingkat kegunaan sebaik
ini."
"……Medan, perang……?"
Dia belum pernah mendengar cerita bahwa
Theo Proteus pernah berada
di medan perang.
Namun, dia segera berpikir bahwa itu
pasti hanya salah dengar saja.
Sebagai gantinya, entah mengapa tanpa
disadari kalimat seperti ini
terlontar begitu saja dari mulutnya.
"Lihatlah…… aku, hebat……
bukan……?"
Mungkin dia ingin mendapatkan pengakuan.
Setidaknya dari sang genius sihir modern.
Dari penyihir yang baru saja memperlihatkan teknik tingkat tinggi di
hadapannya.
Kesadaran Isabella hanya bertahan sampai
di titik ini.
Di beberapa detik terakhir sebelum
pingsan, dia merasa seperti mendengar sebuah kalimat, tetapi itu pasti hanya
ilusi pendengarannya saja.
Sebab, mana mungkin guru yang ketus dan
entah mengapa terkesan mengerikan itu mau mengatakan hal seperti itu.
Dengan nada suara yang teramat lembut.
"Benar, Isabella. Kamu hebat,
kok."
"──Sejak
dulu, aku sudah tahu tentang hal itu."
◇
Kamar UKS.
Theo selesai memindahkan Isabella yang
tak sadarkan diri ke atas tempat tidur.
Seragam sekolah Isabella untungnya
selamat berkat proteksi sihir yang terpasang, tetapi sarung tangan hitam
berhias renda miliknya berbeda.
Benda itu tampak robek karena duel tadi,
hingga bekas luka bakar di tangannya terlihat jelas.
Dokter jaga kebetulan sedang pergi. Mau
tidak mau, Theo merapalkan beberapa sihir pemulih tingkat dasar. Dia tentu
menahan diri. Luka itu dipastikan tidak akan meninggalkan efek samping.
Saat Theo memasukkan tangan ke dalam saku
jubah penyihir hitamnya,
jarinya menyentuh selembar kertas.
Surat. Terlebih lagi, isinya adalah
dokumen yang telah dipalsukan oleh Theo sendiri.
──*Kamu
pasti sudah tahu tentang insiden yang dipicu oleh ras iblis di ibu kota satu
minggu yang lalu, kan? Aku baru saja menerima surat…… dan paman pribadiku tewas
akibat insiden tersebut!*
Bentrokan massal itu adalah skenario yang
dirancang oleh Theo.
Bagi kebangkitan Isabella, hal pertama
yang terpenting adalah motivasi.
Oleh karena itu, Theo mempersiapkan
situasinya.
Bentrokan massal antara murid Garden
Pertama dan Taman Ketujuh sebenarnya juga terjadi pada Putaran Pertama.
Hal yang dilakukan Theo hanyalah
mempercepat terjadinya peristiwa tersebut. Dia mengirimkan surat palsu kepada
murid perempuan yang membenci ras iblis, lalu memicu perselisihan antara Garden
Pertama dan Taman Ketujuh.
Hasilnya adalah tepat seperti yang
tersaji saat ini.
Dia sebenarnya sudah menyiapkan rencana
lain, tetapi fakta bahwa
strategi ini berhasil dalam beberapa
langkah awal murni merupakan sebuah keberuntungan semata.
Sisanya, dia hanya perlu mengambil
kembali surat itu demi menghilangkan barang bukti.
Benda itulah surat yang kini berada di
tangan Theo.
Sambil melangkah keluar dari kamar ukur,
Theo membakar habis surat itu menggunakan sihir.
Tepat setelah itu. Sebuah suara
memanggilnya dari arah belakang.
"Se-sensei…… tu-tunggu dulu."
Saat berbalik, Isabella tampak sedang
berusaha bangkit dari tempat tidur.
Gadis itu mengedarkan pandangannya ke
sekeliling seolah sedang
berusaha memahami situasi. Begitu
menyadari sarung tangan hitamnya telah terlepas dan bekas luka bakar di
tangannya terekspos, dia bergegas menyembunyikannya dengan panik karena malu.
Isabella
merona merah lalu memelotot tajam demi mengelabui rasa malunya──namun, dia
menggelengkan kepala untuk mengubah ekspresi wajahnya, lalu bergumam lirih.
"……Aku, pingsan ya."
"Benar."
"……Apakah arah yang kutuju selama
ini salah?"
"Ya, benar."
Theo menegaskannya dengan mutlak.
Karena mendengar jawaban yang teramat
lugas, Isabella menggigit bibirnya dengan ekspresi bersalah.
Di luar jendela, hujan telah reda,
digantikan pancaran sinar mentari senja yang menyelinap masuk dari sela-sela
awan.
Kamar ukur pun seketika diwarnai oleh
sapuan warna jingga.
Sambil menangkap pemandangan tersebut di
dalam ruang penglihatannya, Theo berkata.
"Isabella, kamu itu hebat. Saat ini
kamu memang mungkin seorang murid buangan. Tapi, jika kamu terus berjuang
seperti ini, masalah kapasitas mana milikmu cepat atau lambat pasti akan
teratasi, dan satu tahun kemudian kamu pasti bisa menjadi penyihir yang
melampaui Penyihir Istana."
"Hal itu…… bukankah sebuah
pencapaian yang hebat?"
"Ya. Tapi, jika hanya sebatas itu,
kamu akan tewas."
"……Tewas?"
"Artinya, kamu akan menjadi penyihir
yang tidak berguna di dalam pertempuran."
Di sekitar Kerajaan Sanctia, peperangan
sudah lama tidak pernah pecah.
Oleh karena itu, bahkan di tingkat
Penyihir Istana sekalipun, keahlian yang berfokus khusus pada pertempuran
cenderung dipandang sebelah
mata.
Dibandingkan hal itu, menguasai sihir
yang mencolok, dahsyat, dan terlihat indah justru jauh lebih dinilai tinggi.
Sebagai contoh, sihir-sihir dengan Rank
tinggi.
Pada Putaran Pertama, karena
mempertimbangkan keinginan Isabella,
Theo mengajarinya dengan cara
mengembangkan kelebihan yang dimiliki gadis itu.
Hasilnya, Isabella tumbuh menjadi sosok
yang melampaui Penyihir Istana.
Namun, hal itu mutlak bukan berarti dia
kuat dalam pertempuran.
Dia mungkin berguna sebagai artileri
tetap yang sanggup melepaskan tembakan sihir yang dahsyat. Di dalam peperangan
yang seharusnya terjadi di masa depan pun, dia mungkin berhasil mendapatkan
penilaian yang sampai membuatnya dipuji sebagai 'pahlawan'.
Namun, hal itu hanya bertahan sampai
tepat setelah peperangan dimulai.
Menghadapi kawanan Chimera yang
terus-menerus mendesak tanpa henti, Isabella berulang kali dipaksa untuk
berpindah tempat, hingga batas fisiknya tiba dengan cepat. Dan dia akhirnya
terbunuh. Begitulah cerita yang didengar oleh Theo.
Oleh karena itu, dia perlu mengubah pola
pikir Isabella secepat mungkin.
Meski begitu, Isabella bukanlah tipe
orang yang mau mendengarkan perkataan orang lain secara patut.
Dia ingat betul betapa dirinya harus
bersusah payah dan meluangkan banyak waktu demi memenangkan kepercayaan gadis
itu pada Putaran Pertama.
Namun, sekarang dia tidak memiliki
kemewahan waktu seperti itu. Jika peperangan akan pecah di masa depan yang
tidak jauh dari sekarang, dia ingin menghabiskan waktu fokus untuk latihan.
Karena itu, dia mematahkan harga diri
gadis itu.
Secara total. Demi menyampaikan bahwa
jalan yang ditempuhnya adalah salah.
"Jika dibiarkan seperti ini pun,
kamu pasti akan tumbuh menjadi seorang penyihir yang hebat. Tapi, apakah kamu
puas hanya dengan hal itu? Apakah menguasai sihir yang tidak berguna adalah
sosok yang sebenarnya ingin kamu tuju? Menjadi penyihir yang memiliki kekuatan
mutlak demi melindungi hal yang berharga. Bukankah sosok itulah yang sebenarnya
kamu inginkan?"
Mendengar kata-kata Theo tersebut.
Isabella menundukkan wajahnya dalam-dalam.
"……Kalau begitu, aku harus
bagaimana."
Dia bergumam lirih, lalu tertawa dengan
nada mencemooh diri sendiri.
"Aku ingin menjadi kuat. Agar bisa
melindungi hal yang berharga. Demi tujuan itu, aku bahkan sampai memasang
gengsi dan berpura-pura bersikap tangguh. Padahal hal itu sama sekali tidak ada
artinya, ya."
Isabella menunjukkan ekspresi wajah yang
tampak teramat lesu.
"Aku sudah paham kalau arah yang
kutuju selama ini adalah salah. Tapi, aku harus bagaimana. Hanya cara ini saja
yang kuketahui."
"Bukankah sudah kukatakan sejak
awal. Percayalah padaku."
"──Eh."
Isabella mengangkat wajahnya.
Sebaliknya, Theo balas menatapnya secara
lurus.
Sambil menyunggingkan sebuah senyuman
tangguh.
"Percayalah padaku. Isabella, kamu
memiliki bakat. Karena itu jangan menetapkan kondisi di mana kamu hanya sebatas
bisa menggunakan sihir yang kuat sebagai tujuanmu. Berharaplah untuk menjadi
sosok keberadaan mutlak yang sanggup memanfaatkan hal itu di dalam
pertempuran."
"Akan kuucapkan sekali lagi. Aku
pasti akan membawamu menuju ke tempat yang tinggi. Tempat yang teramat tinggi
di mana dirimu yang apa adanya akan diakui oleh siapa pun tanpa perlu memasang
gengsi lagi."
"──Karena
itu percayalah padaku, dan patuhilah aku, Isabella Lumiere."
Sambil berbicara, Theo menggenggam tangan
Isabella.
Tangan
miliknya yang memiliki bekas luka bakar──namun tetap merupakan tangan yang
cantik apa adanya.
Dia sadar betul bahwa ini adalah metode
yang paling brengsek.
Mematahkan hati sang murid, merampas
pilihan mereka, lalu mendorong mereka untuk bangkit kembali.
Sebuah metode yang mutlak tidak akan
pernah bisa diambil oleh Theo pada Putaran Pertama dahulu.
Kenyatannya, ekspresi wajah Isabella
tampak berubah-ubah dengan cepat.
Pada awalnya, dia merona merah dengan
sepasang mata yang seolah
tampak terbuai.
Berikutnya, dia bergegas menggelengkan
kepalanya lalu mengerucutkan bibirnya dengan ketus.
Pada akhirnya, sambil memasang wajah yang
memerah padam, Isabella membalas genggaman tangan Theo secara ragu-madu.
"……A-aku paham. Anu…… kalau kamu
sampai berbicara sejauh itu, aku akan mempercayaimu. Tapi kalau aku sampai
tidak bisa mencapai tempat yang tinggi, aku tidak akan memaafkanmu."
"Karena itu, anu…… mohon bantuannya
untuk ke depan, Sensei."
Isabella berucap sambil memelotot ketus
seolah-olah sedang berusaha keras untuk bersikap tangguh.
Namun, kedua pipinya memerah padam.
Benar-benar persis seperti seekor anak kucing yang sedang bersusah payah
menegakkan bulu-bulunya.
Theo tersenyum licik di dalam hatinya.
Dia
tidak menyangka segalanya akan berjalan sejalan dengan perkiraannya seperti
ini. Jika dia terus melanjutkan rencana ini dengan pola yang sama, dia
dipastikan akan bisa mengubah jalan hidup dan menyelamatkan seluruh anggota
Taman Ketujuh──
Namun, urusannya tidak sebatas berakhir
di sana.
"……Ngo-ngomong-ngomong,"
Sambil memainkan ujung rambut merahnya
dengan jari secara berputar-putar, Isabella mendadak membuka mulutnya.
Pandangan matanya terlempar ke arah lain.
Tidak hanya kedua pipinya saja, bahkan bagian tepi telinganya pun tampak
memerah padam.
"……Ka-kapan simulasi pertempuran
berikutnya akan digelar?"



Post a Comment