Bab IX
──Ini
adalah ingatan masa lalu.
Kisah dari masa yang teramat lampau, jauh
sebelum Xue menginjakkan kaki di Lily Garden.
---
"Xue-sama, apakah Anda baik-baik
saja?"
Saat masih kecil, Xue terus melakukan
perjalanan ke berbagai tempat bersama rombongan ras iblis.
Meski tidak memiliki sosok yang bisa
disebut sebagai orang tua, dia tidak merasa kesepian. Orang-orang dewasa itu
selalu berada di sisinya dan memperlakukannya dengan teramat santun. Ras iblis
memang tidak disambut dengan baik di mana pun mereka pergi, tetapi setiap hari
terasa menyenangkan layaknya petualangan di dalam sebuah cerita.
Namun, orang-orang dewasa itu tampaknya
memendam rasa cemas terhadap situasi mereka.
Biasanya, saat Xue sudah tertidur lelap.
Kadang karena tidak bisa tidur, dia terbangun dan memasang telinganya
rapat-rapat. Dia ingat betul suara-suara menegangkan milik mereka yang bergema
saat itu.
"Sampai kapan kita harus membawa
Xue-sama dalam perjalanan ini? Kita harus segera menemukan tempat di mana dia
bisa hidup dengan tenang."
"Mereka sangat gigih. Kita harus
mencari tempat yang benar-benar bisa menjamin keamanan Xue-sama."
"Apakah kamu pernah mendengar rumor
tentang keluarga Amaryllis? Meskipun mereka adalah bangsawan ras manusia,
kabarnya mereka bersedia menerima ras iblis seperti kita. Sebaiknya kita
menyelinap ke sana."
"Tapi
mereka itu ras manusia! Bagaimana jika suatu saat mereka mengkhianati
kita──"
Di siang hari, para ras iblis yang
terlihat sangat akrab itu akan mulai bertengkar mengenai urusan Xue begitu
malam tiba.
Xue membenci hal itu. Dia selalu
memejamkan mata sambil berdoa agar pertengkaran mereka bisa segera berakhir.
"Xue-sama,
apa pun yang terjadi, tolong jangan pernah katakan kepada siapa pun bahwa Anda
adalah ■■■■■■."
Tampaknya, keputusan akhirnya berhasil
disepakati di antara para ras iblis dewasa. Rombongan ras iblis itu segera
bergerak menuju ke wilayah kekuasaan keluarga Amaryllis.
Tepat sebelum memasuki wilayah tersebut.
Seorang wanita yang bertindak sebagai
pelayan sekaligus perwakilan dari rombongan ras iblis, berucap dengan nada
suara yang tidak biasa dan kaku.
Biasanya dia selalu memancarkan aura
lembut layaknya seorang kakak perempuan, tetapi khusus hari itu, dia merangkai
kata dengan ekspresi wajah yang teramat serius.
"Bahkan
kepala keluarga Amaryllis sekalipun tidak tahu bahwa Anda adalah ■■■■■■. Mohon
jangan pernah menggunakan kekuatan Anda. Kekuatan Xue-sama terlalu
mencolok."
"Aku tidak keberatan, tapi……
bagaimana dengan semuanya?"
"Kita akan berbohong sedikit untuk
bisa menyelinap masuk. Xue-sama cukup berpura-pura menjadi putri dari salah
satu keluarga ras iblis ternama. Kami akan bertindak sebagai pelayan Anda.
Dengan begitu, perannya tidak akan jauh berbeda dari kenyataan sehingga akan
lebih mudah dimainkan. Kami juga tidak akan mudah memperlihatkan celah. Namun,
jika hanya ada seorang anak kecil sendirian, ada kemungkinan mereka akan
meremehkan kita. Oleh karena itu."
"Oleh karena itu?"
"Meskipun
terkesan teramat lancang, saya berniat untuk berpura-pura menjadi ibu dari
Xue-sama. J-jika Anda tidak menyukainya, saya akan segera meminta orang lain
untuk menggantikan saya──"
"Tidak, aku justru merasa sangat
senang!"
Akibat rasa senang yang teramat sangat,
Xue bersorak gembira lalu melompat memeluknya.
Bisa bersama dengan wanita yang selalu
menyayanginya layaknya seorang adik perempuan sendiri, mutlak merupakan hal
yang paling membahagiakan baginya.
Meski lingkungan tempat tinggal mereka
sedikit berubah, hubungan yang hangat itu tetap terjaga.
---
"Xue, apakah kamu sudah mulai
terbiasa?"
Kepala keluarga Amaryllis ternyata adalah
seorang pria ras manusia yang berhati lembut.
Dia bahkan bisa dikategorikan sebagai
pihak paling bersahabat terhadap ras iblis di kalangan kaum bangsawan. Walau
memegang status sebagai ras manusia, dia bersedia mengundang ras iblis ke
wilayahnya dan membiarkan mereka semua menetap di sana. Meski tidak memiliki
uang yang berlimpah, tempat itu terasa damai dan benar-benar menjadi surga yang
aman bagi ras iblis.
"Ya, Ayah. Karena semuanya
memperlakukanku dengan sangat baik."
Sang kepala keluarga tersenyum simpul.
"Tapi maafkan aku ya, Xue. Kamu
pasti tidak suka kan harus memanggil orang sepertiku dengan sebutan Ayah."
"Tidak, aku……"
"Tidak apa-apa, katakan saja yang
sejujurnya. Hanya saja, aku mendengar bahwa kamu dan ibumu adalah ras iblis……
dan berharap bisa membangkitkan kembali klan kalian. Secara pribadi, aku juga
berharap ras iblis bisa bangkit kembali. Kondisi saat ini di mana ras iblis
menerima diskriminasi adalah urusan yang aneh. Namun demi kebangkitan itu, kita
harus mendatangi pesta kaum ras manusia demi mengumpulkan banyak
dukungan."
Sambil berucap demikian, sang kepala
keluarga berlagak konyol demi menghibur.
"Pada saat itulah, nama keluarga
Amaryllis dipastikan akan sangat berguna. Biar bagaimanapun, sebelum aku
mengambil alih kepemimpinan, keluarga ini merupakan sebuah klan ternama. Walau
saat ini hampir seluruh asetnya sudah habis terjual."
Melihat wujud sang kepala keluarga yang
seperti itu membuat dada Xue terasa berdenyut sakit.
Sebab, mereka diizinkan tinggal di tempat
ini murni karena sebuah kebohongan.
Namun jika dia menyuarakan kebenaran, Xue
dipastikan harus merelakan kehidupan yang hangat ini. Dia tidak boleh
membiarkan tempat yang telah didapatkan oleh semuanya dengan susah payah ini
berakhir hilang hanya karena keputusannya sendiri, alhasil dia selalu memilih
untuk terdiam.
Namun, kehidupan yang seperti itu mutlak
tidak bertahan lama.
"Xue-sama, segeralah melarikan
diri!"
Pelayan ras iblis yang biasanya bertindak
sebagai sosok ibu bergegas merangsek masuk ke dalam kediaman keluarga
Amaryllis.
Malam buta. Di kota tempat kedediaman
mereka berada, kobaran api sudah tersulut di berbagai tempat.
Para ras iblis berlarian panik, terus
menerima serangan dari ras manusia.
Penyebab kenapa situasi mengerikan ini
bisa sampai pecah bersumber dari sebuah rumor.
Bahwa
di kota ini, sosok ■■■■■■ sedang bersembunyi.
Sosok tersebut merupakan sebuah
keberadaan yang terkutuk, sekaligus sebuah pusaka emas yang sangat diinginkan
oleh sebagian orang hingga membuat mereka tergila-gila.
Di dalam kota, para petualang yang
diselimuti oleh nafsu keserakahan pribadi tampak mengamuk secara membabi buta.
Kemalangan mereka bertambah karena para
elit ras iblis yang biasanya bertugas menjaga kota sedang pergi melakukan
penugasan jarak jauh bersama dengan kepala keluarga Amaryllis. Dan fakta bahwa
rumor tersebut memang merupakan sebuah kenyataan.
"Xue-sama, Anda adalah harapan
terbesar kami! Bagai mana pun caranya, Anda wajib tetap bertahan hidup!"
Sambil membiarkan tangannya ditarik oleh
sang pelayan ras iblis, Xue berlari sekuat tenaga.
Namun, para petualang mutlak tidak akan
sudi membiarkan Xue dan yang lainnya lolos begitu saja.
"Hei, di sebelah sana juga
ada!"
Suara para petualang menghantam punggung
mereka, memaksa Xue dan yang lainnya untuk semakin mempercepat gerakan kaki dan
tangan mereka.
Namun tepat setelah itu, sebuah anak
panah melesat menusuk kaki sang pelayan. Genggaman tangannya dari Xue terlepas,
membuatnya tersandung lalu ambruk lemas ke atas permukaan tanah.
Xue berbalik dengan panik berniat untuk
kembali, tetapi teriakan sang pelayan menahan gerakannya.
"Tinggalkan
orang sepertiku lalu cepatlah lari! Jika Anda sampai tewas di tempat
ini──"
"Ahahaha, kamu tidak akan lari, kan?
Lagipula para ras iblis yang terhormat kan sangat berhati lembut."
Sosok yang mencengkeram leher sang
pelayan secara kasar ternyata adalah seorang biarawati jubah putih.
Biarawati jubah putih itu mencekik leher
sang pelayan murni mengandalkan tenaga.
Melihat suara erangan udara yang
terengah-engah keluar dari mulut sang pelayan, sang biarawati justru
memperlihatkan seringai lebar.
"Sia-sia
saja mencoba menyembunyikannya. Karena aku sudah mengetahuinya. Bahwa kamu
adalah ■■■■■■."
"…………-"
"Bagi seorang penyihir, itu adalah
kekuatan yang sangat diinginkan hingga membuat mereka tergila-gila. Jika
berhasil diteliti, entah berapa besar nilai keuntungan yang bisa dilahirkan.
Jika kamu berani melarikan diri, kamu tahu sendiri kan apa akibatnya~?"
"Xue…… jan…… gan percaya…… cepat
la…… ri……"
"Ja-jangan……!"
Xue menggelengkan kepalanya secara
perlahan.
Dia tidak sanggup mempercayai realitas
yang tersaji tepat di hadapan matanya. Jika dia tidak menyerah, maka sang
pelayan akan tewas. Pelayan yang sejak dirinya masih kecil selalu menyayanginya
layaknya seorang adik perempuan sendiri.
Namun, meski dia memilih untuk menyerah,
mutlak tidak ada jaminan bahwa biarawati jubah putih itu akan melepaskan sang
pelayan.
Bagaimana bisa dia mempercayai wanita
yang telah membantai rekan-rekan ras iblisnya satu per satu dengan kejam ini.
──*Xue-sama,
saat harapan besar kita berhasil terwujud nanti, mohon pimpinlah kami.*
──*Anda
pasti akan menjadi sosok ■ yang teramat lembut dan luar biasa. Aku sudah tidak
sabar menantikan momen itu tiba.*
──*Aku
sangat menyayangkanmu, Xue-sama.*
Rentetan kata-kata dari sang pelayan
terus bangkit kembali di dalam kepalanya berulang kali.
Mengingat hal tersebut membuat Xue tidak
memiliki pilihan untuk tidak bertarung.
"Lepaskan dia."
Xue menegaskan hal itu dengan tegap, lalu
menyampaikan niat bertarungnya yang mutlak kepada para spirit di sekelilingnya.
Murni
hanya karena fakta bahwa dirinya adalah ■■■■■■, persiapan bagi serangan para
spirit langsung selesai dalam sekejap.
"Aku mutlak tidak akan pernah
membiarkan rekanku ditinggalkan! Lepaskan tanganmu darinya!"
Tepat di saat teriakan Xue bergema, sihir
langsung aktif tanpa jeda sedikit pun.
Permukaan tanah meninggi seiring dengan
tsunami es yang menyembur keluar, menelan sang biarawati jubah putih dalam
sekejap mata. Sang pelayan terjatuh ke atas tanah sambil terbatuk-batuk, tetapi
para petualang di sekitar tidak tinggal diam.
Mereka
kembali menjulurkan tangan demi menjadikannya sebagai sandera──
"Aku tidak akan membiarkannya!"
Murni hanya karena teriakan Xue yang
kembali bergema, pijakan kaki para petualang langsung membeku total.
Sihir tanpa rapalan mutlak. Sebuah
mahakarya dewa di dalam area yang tidak akan pernah bisa dicapai oleh penyihir
normal pada umumnya berhasil diselesaikan dengan mudah, Xue segera menarik
tangan sang pelayan untuk melarikan diri.
"Tidak apa-apa. Aku pastikan akan
menyelamatkan semuanya. Jadi, mari kita melarikan diri bersama dengan yang
lainnya."
"Xue-sama……"
Mendengar deklarasi kuat dari Xue membuat
sang pelayan mengulas sebuah senyuman simpul.
Benar.
Dia tidak akan membiarkan apa pun lenyap. Sebab Xue adalah ■■■■■■. Dia pasti
memiliki kekuatan yang memadai untuk menyelamatkan seluruh rekannya.
Jika
begitu kenyataannya, maka mengerahkan kekuatan tersebut secara penuh adalah
tugas milik Xue──
"──Memangnya,
kamu pikir aku akan membiarkan pemikiran selembek itu terjadi, hah?!"
Sebuah hantaman suara aneh menyerupai
gemuruh petir yang melintas. Suara itu terdengar sangat pendek dan tajam.
Saat berbalik ke arah belakang, tubuh
sang pelayan baru saja ditembus oleh sebuah sihir sebelum akhirnya ambruk lemas
ke tanah. Sebuah lubang besar tercipta di dadanya, dan darah segar langsung
menyembur keluar dalam jumlah masif. Sepasang mata milik sang pelayan terlanjur
kosong. Itu adalah sebuah kematian instan yang jelas.
"……………………Eh?"
Dia tidak paham maksudnya. Dia tidak
sanggup memahami realitas ini.
Di saat Xue menggerakkan kepalanya yang
kaku secara perlahan, sang biarawati jubah putih tampak berjalan mendekat ke
arah sini.
Sekitar dua puluh persen dari wajahnya
terlanjur tertutupi oleh es. Namun, langkah kakinya terlihat sangat mantap
secara pasti, mengindikasikan bahwa dia tidak menerima luka fatal.
"……Ke-kenapa bisa? Padahal aku sudah
menghentikanmu……!"
"Mana mungkin serangan selevel itu
bisa membuatku tidak bisa bergerak~ Tapi, serangan tadi terhitung efektif, lho.
Karena itu, aku akan memberikan sebuah hukuman untukmu. Hei, semuanya bawa
mereka ke sini~"
"…………Hah?"
Tepat setelah biarawati jubah putih itu
memberikan komando, para petualang menyeret jajaran ras iblis yang telah diikat
rapat.
Semuanya berada dalam kondisi babak
belur, dipenuhi oleh aliran darah segar hingga mengonfirmasi bagian tubuh yang
tidak terluka saja sudah menjadi urusan yang teramat sulit untuk dilakukan.
Di bawah langit malam. Bersamaan dengan
latar belakang kediaman yang hangus terbakar hebat, sang biarawati jubah putih
menyeringai kejam.
"Sebenarnya karena aku sudah menduga
hal seperti ini bisa saja terjadi, aku sudah mempersiapkannya, lho~ Xue-sama,
sebuah tontonan eksekusi yang diperuntukkan khusus saat kamu berniat untuk
melawan."
"……A-apa yang berniat kamu
lakukan?"
"Tentu saja hukuman~ Bagi anak nakal
yang berani melawan, sebuah hukuman mati terhitung sangat dibutuhkan,
kan?"
Para petualang menjatuhkan para ras iblis
ke atas tanah di bawah kaki mereka, lalu mengangkat pedang masing-masing dengan
tinggi.
Meskipun tidak ada satu patah kata pun
yang terucap, Xue sudah bisa memahami apa yang hendak dilakukan oleh wanita
itu.
"……Mo-mohon
hentikan! Mereka semua tidak ada hubungannya! Aku yang salah! Aku tidak peduli
apa yang akan terjadi pada diriku, jadi──"
"Jangan membuatku mengulang kalimat
yang sama berkali-kali, dasar iblis lamban. Bukankah sudah kukatakan kalau ini
adalah hukuman?"
"──Jadi,
Xue-sama. Semua ini terjadi murni karena kamu berani melawanku, tahu?"
Biarawati jubah putih itu menyunggingkan
senyuman simpul.
Pada detik berikutnya, seolah kalimat itu
menjadi aba-aba, pedang para petualang berayun turun secara serempak dan
menebas putus kepala para ras iblis di tempat.
Darah segar menyembur deras, membasahi
dan mewarnai wajah Xue secara bertubi-tubi dengan cairan yang hangat. Saat dia
menyeka wajah menggunakan tangan yang gemetaran, telapak tangannya telah
memerah pekat oleh darah.
"……Tidak."
Logikanya baru mulai mengejar realitas
yang tersaji.
Namun, mana mungkin dia bisa menerima
kenyataan yang seperti ini.
"……Tidak, tiiiidakkk,
TIDAAAKKKKK!"
Sebenarnya apa salah yang telah dilakukan
oleh Xue dan yang lainnya.
Mereka hanya hidup secara biasa. Lalu
kenapa mereka harus menerima nasib yang seperti ini.
Dia sudah tidak sudi lagi melihatnya.
Dunia yang teramat kejam ini.
Dilukai oleh orang lain, maupun melukai
orang lain, dia sudah membenci segalanya.
Jika
harus melihat dunia yang seperti ini──dia merasa lebih baik mengurung diri di
dalam "cangkang" selamanya.
"TIDAAAKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKK!"
Sambil meluapkan jeritan histeris, Xue
membuang segala hal dari dalam dirinya.
Benar-benar persis layaknya sebongkah
mayat hidup. Jangankan untuk melawan, untuk bertarung pun dia sudah tidak
memiliki kemampuan lagi.
Setelah peristiwa ini, Xue dibawa pergi
oleh biarawati jubah putih itu dan dipaksa menjalani hari-hari yang menyerupai
neraka.
Bagi wanita itu, masa-masa itu disebut
sebagai hari-hari penuh kasih sayang layaknya kepada adik sendiri. Namun
realitasnya, tubuh Xue terus diotak-atik setiap hari atas nama penelitian sihir
di dalam laboratorium milik biarawati jubah putih tersebut.
Dan penderitaan itu terus berlanjut
hingga Xue berhasil meloloskan diri dari laboratorium akibat berbagai kebetulan
yang saling tumpang tindih.
◇
"Sensei, Sensei!"
Tepat di saat Theo akhirnya berhasil
menginjakkan kaki di gedung sekolah, kondisi sekitar telah berubah menjadi
pemandangan yang mengenaskan.
Berbagai sudut gedung sekolah tampak
hancur berantakan, dipenuhi oleh tubuh para petualang yang tidak sadarkan diri
serta bangkai monster yang terkapar di mana-mana.
Di tengah situasi itu, Karina berlari
mendekat. Di sampingnya tampak Isabella, Momo, dan Iris. Setidaknya mereka
berempat berada dalam kondisi aman tanpa adanya luka luar yang berarti.
Begitu berhasil mendekat ke sisi Theo,
Karina langsung melayangkan suara.
"Sensei…… akhirnya, akhirnya kami
menemukanmu. Tapi, situasinya benar-benar terlampau buruk. Kami memang berhasil
melindungi murid dari kelas lain dari terkaman para penyerang, tetapi setengah
dari jumlah mereka berhasil meloloskan diri. Keberadaan Xue dan Gardener-sensei
pun sama sekali tidak bisa ditemukan…… ada kemungkinan, Xue telah dibawa pergi
oleh mereka."
Karina menggigit bibirnya dengan kesal
seiring dengan untaian kalimat yang dilontarkannya.
Dia dipastikan sedang merasa bertanggung
jawab atas meletusnya situasi ini.
Namun seperti yang dikatakan oleh Karina,
pemandangan yang tertangkap oleh ruang penglihatan memang merupakan sebuah
tragedi yang buruk.
Gedung sekolah hancur lebur. Meski tidak
melihatnya secara langsung, jumlah korban luka dipastikan sangat banyak. Salah
satu murid bahkan hilang diculik tanpa diketahui keberadaannya. Ini merupakan
sebuah insiden besar yang terhitung langka di dalam sejarah Lily Garden.
Singkatnya,
jika ditarik kesimpulan──
"Sejauh ini tampaknya berjalan
lancar."
Tepat di saat Theo bergumam lirih
layaknya sedang berbicara pada diri sendiri, Karina langsung membelalakkan
matanya dengan lebar.
Perbatasan luar Lily Garden memang
diselimuti oleh sihir jebakan, tetapi untuk area dalam Lily Garden dia sengaja
melepas familiarnya.
Dan seluruh informasi tersebut berada di
dalam genggaman tangannya secara mutlak.
Fakta bahwa para petualang melancarkan
serangan pada hari kedua, serta keterlibatan Ophelia dengan organisasi tersebut
memang berada di luar perkiraan, tetapi sisa hal lainnya masih berada di dalam
batas prediksinya.
Murid di luar Taman Ketujuh mungkin
menerima banyak luka, tetapi fakta bahwa tidak ada korban jiwa merupakan sebuah
hasil pencapaian yang luar biasa.
Theo melangkahkan kakinya pergi sambil
menegaskan.
"Ikut aku, Karina, Isabella. Kita
akan mengejar para petualang itu sekarang juga."
"Mo-mohon tunggu sebentar! Di bagian
mana yang berjalan lancar?! Ada banyak orang yang terluka, lho!"
"Ya, aku tahu. Tapi jika Xue sampai
dibawa pergi sepenuhnya, situasi dipastikan akan menjadi semakin memburuk.
Cepat gerakkan kaki kalian terlebih dahulu."
"Hal itu memang benar, tapi……!"
Meskipun Karina berniat untuk
memprotesnya lebih jauh, dia akhirnya memilih untuk tidak merangkai kata lagi.
Di sisi lain, Isabella tampak
mengernyitkan alisnya.
"Sensei, apa kamu sebenarnya tahu
apa yang sedang terjadi?"
"Ophelia Gardener telah berkhianat.
Saat ini, dia dipastikan sedang berusaha meloloskan diri dari Celeste bersama
dengan Xue. Dalam kurun waktu beberapa jam ke depan, dia akan lenyap dari kota
ini. Sebelum hal itu terjadi, kita akan merebutnya kembali."
"Kamu bahkan sudah mengetahuinya
sampai sejauh itu……?"
Isabella membelalakkan matanya sedikit
karena terkejut.
Namun, tindakan ini mutlak bukan
merupakan urusan yang patut dipuji, melainkan sebuah hal yang pantas untuk
dicela.
Sebab, itu artinya Theo sengaja
membiarkan insiden ini pecah padahal dia mengetahui segalanya sejak awal.
Semua ini, dilakukan murni demi satu
orang murid bernama Xue.
◇
"Hei, ini berbeda dari informasi
yang kami terima, kan!"
Di dalam sebuah gubuk kayu tua, suara
bentakan dari para petualang terdengar bergema.
Gubuk itu tampaknya sudah tidak pernah
digunakan lagi selama bertahun-tahun. Lapisan debu yang tebal tampak memenuhi
permukaan lantai. Atapnya pun dipenuhi lubang, membuat kondisi lantainya
setengah lapuk akibat rembesan air hujan.
Kedua lengan dan kaki Xue tampak terikat
erat oleh tali. Namun, tidak ada peralatan khusus pengunci sihir yang terpasang
di tubuhnya.
Di dalam ruangan, kelompok petualang
tampak memasang posisi mengepung Ophelia.
Para petualang melayangkan tatapan tajam
ke arah Ophelia.
"Berdasarkan informasi dari
organisasi kalian, tidak seharusnya ada penyihir yang sanggup bertarung dengan
becus di Lily Garden! Tapi begitu dijalankan, apa-apaan ini! Pasukan monster
yang kalian kirimkan hancur lebur di tangan satu orang guru, dan rekan-rekan
kami justru ditumbangkan murni hanya oleh para murid!"
"Aku juga tidak tahu kalau
Proteus-sensei ternyata sanggup bertarung sampai sejauh itu, tahu~ Tapi
mengenai rekan kalian yang ditumbangkan oleh murid, bukankah itu karena kalian
sendiri yang terlalu sampah?"
Ophelia membalasnya dengan sebuah
senyuman yang memicu kekesalan.
"Lagipula karena target utama sudah
berhasil didapatkan, bukankah seharusnya kita lebih bersenang-senang? Asalkan
kita berhasil meloloskan diri dari tempat ini, imbalan yang sudah dijanjikan
dipastikan akan langsung kuberikan."
"Lalu bagaimana dengan rekan-rekan
kami yang tertinggal di Lily Garden!"
"Lupakan saja mereka. Dengar, ada
pepatah yang mengatakan kalau melihat masa depan itu jauh lebih baik daripada
melihat masa lalu, kan?"
"Kamu pikir kami akan menerima
alasan semacam itu!"
Para petualang melayangkan protes secara
bersahut-sahutan, tetapi Ophelia hanya sebatas mengangkat bahunya.
"Yah, jika kalian memang ingin pergi
menolong mereka silakan saja secara bebas, sih~ Tapi mana yang lebih penting?
Uang di masa depan, atau rekan kalian yang sulit untuk diselamatkan itu?"
"Hal itu, adalah……"
"Nah, sudah diputuskan, kan~ Kalau
begitu, mari kita segera pergi meninggalkan Celeste!"
Ophelia menepukkan kedua tangannya dalam
satu sentakan, lalu memalingkan wajahnya ke arah sini.
Namun begitu melihat ekspresi wajah Xue,
wajah Ophelia langsung berkerut secara tidak menyenangkan.
"Ada apa dengan ekspresi wajahmu
itu? Jangan-jakkan kamu berniat mengatakan kalau kamu tidak mau ikut
denganku~?"
"Tentu saja…… iya!"
Xue berteriak sekuat tenaga.
Namun, senyuman wanita itu mendadak
membeku seiring dengan ekspresi wajahnya yang berubah menjadi dingin.
"Yah, sewajarnya memang begitu ya~
Tapi, apa kamu berpikir kalau kamu memiliki hak untuk menolak?"
Ophelia menyunggingkan sebuah senyuman
distorsi.
"Atau, apakah sebaiknya aku
membuatmu mengingat kembali masa lalu saja?"
"-"
Dalam sekejap mata, Ophelia sudah
mendekat tepat di hadapannya sambil mengangkat tongkat khotbahnya
tinggi-tinggi.
Pemandangan kekerasan di masa lalu
seketika bangkit kembali di dalam kepala Xue.
Hanya karena hal itu saja. Murni hanya
karena hal itu, logika Xue langsung membeku hingga membuat dirinya tidak
sanggup merapalkan sihir sama sekali.
Pada detik berikutnya, hantaman tongkat
khotbah yang diayunkan oleh Ophelia langsung menghempaskan tubuh Xue ke atas
lantai. Dampak benturan membuat udara terdorong keluar dari paru-parunya,
memaksanya terengah-engah kritis demi mencari oksigen. Rasa sakit yang teramat
sangat membuatnya hampir meluapkan jeritan histeris.
"Xue-chan benar-benar sangat lembut
ya~ Padahal aku bertindak seperti ini, kamu tetap tidak bisa menyerangku."
Ophelia menjambak rambut berwarna es
milik Xue untuk mengangkat paksa wajah gadis itu.
"Aku tahu, kok. Kamu sebenarnya
masih takut untuk bertarung, kan? Hebat sekali ya~ kamu tetap mengingat janji
yang kita buat dulu. Karena kamu tahu betul kan apa akibatnya jika berani
melawanku~"
"Ja-jangan……"
"Ahahaha! Dengar, apa gunanya
mencoba melarikan diri? Seberapa jauh pun kamu berlari, semuanya akan menjadi
sia-sia saja~ Karena kamu tidak akan pernah bisa membalas serangan."
Sambil membiarkan pantatnya tetap
menyentuh lantai, Xue bergerak mundur demi mencoba melarikan diri.
Namun, tidak ada ruang untuk melarikan
diri di dalam ruangan yang sempit ini. Punggungnya langsung terbentur dinding
dalam sekejap. Sebuah situasi yang teramat kritis. Xue menjulurkan lengannya
berniat untuk melancarkan sihir ke arah Ophelia, mencoba melayangkan instruksi
kepada para spirit.
"……Ah."
Namun, tidak ada satu patah kata pun yang
kembali keluar dari mulutnya.
Murni hanya karena memikirkan niat untuk
menyerang saja sudah membuat kepalanya menjadi putih total dan tubuhnya
gemetaran.
Di saat yang sama, memori masa lalu
kembali bangkit di dalam kepala.
Setelah dibawa pergi oleh wanita ini
dulu, Xue kerap dipukuli murni karena berbagai alasan sepele.
Dia dipukuli karena wanita itu benci
melihatnya menangis. Dia dipukuli karena wanita itu tidak suka dengan gaya
bicaranya. Dia dipukuli murni karena suasana hati wanita itu sedang buruk. Saat
dia muntah akibat dipukuli, dia kembali dipukuli karena dianggap mengotori
ruangan.
Hingga akhirnya, meski lawannya bukan
wanita ini sekalipun, tubuhnya dipastikan akan langsung gemetaran murni hanya
karena memikirkan niat untuk melancarkan sihir serangan.
Menerima pukulan saja sudah terasa
teramat sakit, alhasil dia menjadi takut untuk membuat orang lain merasakan
rasa sakit yang sama.
Kutukan tersebut terlanjur mendekam erat
di seujung tubuhnya hingga saat ini.
"Kalau begitu, mari kita
pergi."
Ophelia menarik paksa tubuh Xue untuk
mengangkatnya.
Namun,
dia tidak memiliki kemampuan untuk melawan. Pada akhirnya dia hanya bisa pasrah
diseret begitu saja layaknya sebuah barang dagangan──
Tepat pada saat itu.
"───ッ!"
Hawa mana dalam jumlah masif mendadak
terasa. Sensasi merinding yang teramat mengerikan seketika menembus seujung
punggung.
Sesuatu akan segera terjadi. Dan hal itu
sudah merebak sangat dekat tanpa bisa dihindari lagi.
*Set!* Ophelia mendadak mengangkat
wajahnya seolah terpelanting. Senyuman yang menghiasi wajahnya tampak membeku
secara tidak wajar.
Sesaat kemudian, seberkas cahaya yang
teramat silau langsung menutupi seluruh ruang penglihatan bersamaan dengan
gaung suara gemuruh yang dahsyat.
◇
Waktu sedikit berputar mundur ke
belakang.
Saat mereka melangkah keluar dari Lily
Garden hari masih terhitung siang, tetapi sore hari telah menyambut ketika
kelompok Theo memasuki area hutan. Ditambah lagi dengan kondisi langit yang
mendung. Suasana hutan yang lebat terlanjur dipenuhi oleh kegelapan yang pekat
persis layaknya malam hari.
Saat ini, Theo sedang menyusir jejak para
petualang yang membawa pergi Xue bersama dengan Karina dan Isabella.
Lokasi keberadaan Ophelia berhasil
dipastikan karena dia sengaja melepas familiar untuk membuntutinya. Theo
melangkah menembus hutan secara lincah tanpa adanya keraguan sedikit pun.
"……Di sebelah sana ya."
Entah sudah seberapa jauh mereka
melangkah menerobos area hutan bagian dalam.
Begitu sampai di sebuah area tebing yang
memiliki sudut pandang luas, sebidang gubuk kayu tampak berdiri terisolasi di
titik yang dituju oleh pandangan mata Theo.
Gubuk tersebut berada di bawah posisi
dikepung oleh pasukan monster.
Tepat di saat Theo melayangkan instruksi
menggunakan tangan kepada Karina, Karina langsung menuruni tebing lalu
mendekati gubuk secara diam-seribu bahasa. Tugas Karina bertindak sebagai
penyerang bebas. Sebab hal itulah pembagian tugas yang sudah mereka sepakati
bersama sebelumnya.
Dan sosok yang ditugaskan untuk
melancarkan serangan pembuka tidak lain adalah.
"…………-"
Isabella sedang berdiri di atas tebing
bersamaan dengan ekspresi wajah yang dipenuhi oleh ketegangan.
Kondisinya terus seperti itu sejak dia
ditunjuk untuk memegang kendali atas serangan pembuka.
Hal itu terhitung wajar. Karena perintah
yang diberikan oleh Theo kepadanya mutlak bukan merupakan sebuah serangan
pembuka biasa.
Sambil terus memusatkan sepasang mata ke
arah gubuk bersamaan dengan ekspresi wajah yang serius, Isabella bergumam
lirih.
"Sensei…… apa kamu benar-benar
berpikir kalau aku sanggup melakukan hal semacam itu?"
Nada suara Isabella terdengar gemetaran.
Sambil terus menundukkan wajahnya, dia melanjutkan untaian kalimat yang lemah.
"……Aku
tahu kalau serangan kejutan itu terhitung efektif. Tapi, apa benar-benar tidak
apa-apa jika aku yang melakukannya? Perintah yang kamu berikan itu adalah sihir
tingkat tertinggi milik keluarga Lumiere, lho? Aku bahkan tidak pernah
mendengar kalau Ayah sekalipun pernah berhasil mengaktifkannya. Ditambah lagi
sebelumnya kamu melarangku menggunakan sihir tingkat tinggi, tapi kenapa
sekarang──"
"Bicara-bicara kamu hari ini
terkesan sangat cerewet ya. Bukankah kamu sudah berjanji untuk mematuhi segala
perintahku?"
"Tapi!"
Isabella mencoba memprotesnya. Theo
mengembuskan napas panjang lalu menegaskan.
"Aku memang melarangmu menggunakan
sihir tingkat tinggi. Tapi itu adalah ketentuan untuk saat ini. Suatu saat
nanti kamu pasti harus menghadapinya. Hari ini, aku hanya sebatas
memperlihatkan masa depan yang seharusnya kamu capai nanti."
"……Masa depan?"
"Lagi pula, kamu terlalu merendahkan
kemampuan dirimu sendiri. Memang benar ada banyak poin dari dirimu yang masih
belum memadai. Stamina fisikmu baru setara manusia normal, dan mana milikmu pun
terhitung tidak seberapa. Segalanya masih berada dalam kondisi mentah."
Theo mengutarakannya bersamaan dengan
nada suara yang dingin, tetapi untaian kalimat berikutnya terasa teramat lembut
hingga membuat dirinya sendiri terkejut.
"Tapi khusus untuk urusan kontrol
sihir, aku bersedia memberikan nilai yang memadai untukmu. Kudengar kamu sudah
mulai biasa menyelesaikan tugas harian memanfaatkan sihir…… normalnya, keahlian
itu tidak akan bisa dikuasai dalam kurun waktu sependek itu. Kamu tahu mana
milikmu tidak memadai, dan karena itulah kamu terus berusaha keras sejak saat
itu, kan?"
"──Aku
sendiri yang akan menjaminnya. Aku percaya kalau kamu pasti bisa melakukannya.
Jadi jangan ragu dan kerahkan seluruh kemampuanmu, Isabella Lumiere."
Theo mengarahkan sepasang matanya secara
lurus.
Menanggapi hal itu membuat pipi Isabella
seketika memerah padam. Sudut bibirnya bergerak-gerak secara tidak beraturan
akibat rasa senang yang melanda.
Hingga akhirnya, dia menepuk kedua
pipinya sendiri dalam satu sentakan demi memusatkan fokus kembali.
Secercah keraguan kini telah sirna secara
total dari sepasang mata Isabella. Dia memejamkan mata demi mengumpulkan fokus
konsentrasi. Theo yang berdiri di sampingnya berucap secara tenang.
"Kamu tidak perlu mencemaskan urusan
mana. Aku yang akan memberikan bantuan tepat di sampingmu. Hal yang sama juga
berlaku untuk urusan Xue. Ophelia dipastikan akan melindunginya sekuat tenaga.
Fokuskan seluruh pikiranmu murni pada rapalan dan kontrol sihir saja."
"……Ya, aku paham."
"Kalau begitu mulailah begitu
persiapannya selesai."
Tepat setelah Theo menyuarakannya,
Isabella menarik napas dalam-dalam layaknya sedang melakukan penyelarasan
napas.
Sambil memejamkan mata, Isabella menarik
napas dalam.
Ruang penglihatannya berubah menjadi
hitam pekat, membuat suara napasnya sendiri serta deru angin hutan terdengar
bergaung dengan sangat keras secara janggal.
Jika seorang diri, dia dipastikan akan
ragu bahkan murni hanya untuk mencobanya saja.
Namun saat ini Theo sedang mendampinginya
tepat di sisi ruangan. Jika situasinya demikian, seberapa jauh pun tingkat
kesulitannya, Isabella pasti akan bisa melangkah maju.
Isabella membelalakkan matanya dengan
lebar.
Sepasang mata miliknya saat ini murni
hanya mencerminkan sosok gubuk yang menjadi titik berkumpulnya para petualang
yang menjadi target utamanya.
Kemudian, Isabella menggores lengannya
menggunakan bilah pedang tongkat, membiarkan darah segar menetes membasahi
permukaan tanah seraya merapalkan kalimatnya. Sebuah sihir yang mayoritas
penyihir bahkan tidak akan pernah sanggup menggapainya sepanjang hidup mereka.
"──Aku,
di tempat ini…… memohon kepada wujudmu!"
Tepat di saat Isabella memulai
rapalannya, pijakan kakinya bersinar terang seiring dengan terciptanya sebuah
lingkaran sihir. Cahaya kilatan petir menyembur keluar dari lingkaran sihir,
berkedip secara intens.
Ilmu sihir telah melintasi sejarah
panjang demi disempurnakan. Hasilnya adalah kemunculan sihir generasi keempat
yang membuat siapa pun bisa menggunakan sihir asalkan dibekali oleh kepemilikan
mana.
Kalau begitu, apakah ilmu sihir dari masa
kuno telah punah secara total? Jawabannya adalah mutlak tidak.
Memang frekuensi penggunaannya telah
menurun akibat tingkat kepraktisannya yang buruk, tetapi sihir dari masa kuno
tetap terus digunakan hingga saat ini.
Teori
sihir generasi kedua. Sebuah sihir yang aktif melalui kombinasi rapalan serta
penyerahan 《Kurban》 kepada dewa. Keunggulannya adalah daya rusak
yang teramat masif yang didapatkan berkat koneksi dengan dewa.
Dan untuk urusan kurban, darah penyihir
merupakan opsi yang paling lazim, dan syarat itu sudah diselesaikannya sejak
awal.
"……Aku, di tempat ini,
mempersembahkan kepada wujudmu!"
Tepat di saat Isabella melanjutkan
rapalannya, sebuah tekanan berat yang menyerupai pelipatan gravitasi bumi
mendadak datang menerjang. Tubuhnya berderak memicu rasa sakit yang hebat.
Sebab tubuh sekecil ini dipaksa menahan
seluruh bobot kekuatan dewa secara langsung.
Jika dia adalah penyihir biasa, dia
dipastikan sudah hancur lebur terkena dampak dari kekuatan ini.
Tulang-tulangnya
berderit hebat, memaksanya hampir meluapkan jeritan histeris. Dia tidak sanggup
mengendalikan kekuatan dewa yang terus turun menghujani dirinya. Isabella
memuntahkan darah segar dari mulutnya, secara refleks menjatuhkan lututnya ke
atas tanah akibat hampir hancur tertekan, namun──
"──Tenanglah,
Isabella."
Dalam sekejap, tekanan berat itu mendadak
menjadi ringan. Kekuatan dewa yang menghujani dirinya mendadak berada di bawah
kendali secara instan. Dan mengenai siapa sosok yang berhasil melakukannya,
Isabella tidak perlu bersusah payah melakukan konfirmasi lagi.
Saat menggerakkan pandangan matanya ke
arah samping, Theo ternyata sudah berdiri mendampinginya tepat di sisi ruangan.
Lengannya tampak menempel di punggung Isabella, melakukan intervensi langsung
terhadap formula sihir.
Sambil memamerkan keahlian luar biasa
yang mutlak tidak akan bisa ditiru oleh penyihir normal meski mereka
membalikkan tubuh sekalipun, Theo berucap bersamaan dengan nada suara yang
teramat tenang.
"Jangan menahan kekuatannya secara
langsung dari arah depan, Isabella. Coba kendalikan dengan menggunakan impresi
mengalirkan kekuatannya agar tetap tertahan di tempat ini."
Sambil berucap demikian, Theo terus
melakukan intervensi terhadap sihir demi memberikan contoh nyata. Kekuatan dewa
yang menghujani mereka dialirkan di sepanjang lingkaran sihir dengan menjadikan
tubuh mereka sebagai titik pusatnya, menciptakan sebuah lingkaran kilatan petir
seraya menyebarkan tekanan udara ke sekeliling.
……Luar biasa.
Sebuah keahlian tingkat tinggi yang
seharusnya baru bisa diselesaikan melalui kerja sama dari beberapa orang
penyihir sekaligus. Theo sanggup menyelesaikannya seorang diri, seraya
menyerahkan kendali kontrol kepada Isabella secara perlahan.
Isabella tentu tidak akan sanggup
melakukannya jika seorang diri, tetapi situasi berubah total berkat adanya
bantuan dari Theo. Secara perlahan, dia mulai mendominasi kekuatan masif yang
meluap di sekelilingnya. Begitu ruang penglihatannya dipenuhi oleh lingkaran
kilatan petir dan kekuatan telah memenuhi tempat ini secara mutlak, Isabella
kembali membuka mulutnya.
"Wahai wujud kuno yang berasal dari
asal mula! Dewa yang bertindak melindungi kami dari atas langit……!"
Masing-masing untaian kata merupakan
sebuah bait suci yang mengandung kekuatan dewa. Sambil merapalkannya seolah
sedang mengukirnya menggunakan seluruh fokus konsentrasi, Isabella mengarahkan
pedang tongkatnya ke arah gubuk yang menjadi target.
"Dengan menggunakan satu hantaman
bintang…… berikan kehancuran mutlak kepada musuhku!"
Apakah karena akhirnya menyadari aliran
hawa mana dalam jumlah masif yang membubung tinggi ke arah langit, Ophelia dan
para petualang bergegas melangkah keluar dari dalam gubuk.
Jika mereka dibekali sedikit waktu lagi,
semuanya dipastikan akan bisa meloloskan diri dari tempat ini.
Namun segalanya sudah terlambat. Sisanya,
mereka hanya bisa pasrah menerima hantaman kekuatan ini menggunakan tubuh
mereka sendiri.
Hal yang dirapalkan oleh Isabella
merupakan sebuah teknik sihir yang sejak masa kuno kerap dijuluki sebagai
'Hantaman Dewa'. Kontrol kekuatan dewanya terikat oleh tingkat kesulitan yang
teramat tinggi, sebuah sihir yang seharusnya baru bisa dikuasai oleh penyihir
hebat setelah menghabiskan waktu selama bertahun-tahun.
Isabella tidak menyadarinya, tetapi
keahlian ini merupakan secercah dari bakat orisinal yang bersemayam di dalam
dirinya sendiri. sebuah kontrol sihir tingkat tertinggi di dunia yang dalam
kurun waktu dua tahun ke depan akan membuat dirinya diakui sebagai seorang
pahlawan.
Meskipun berada dalam kondisi tidak
sempurna akibat adanya bantuan, Isabella sanggup menyusun dan melepaskannya
dalam percobaan pertama.
Satu
sihir yang menduduki peringkat atas di dalam sembilan klasifikasi rank sihir.
Nama dari teknik tersebut adalah sihir Rank kedua──
"《Stardust──"
"──Strike》!!!"
Tepat di saat kalimat itu dilontarkan
dari mulut Isabella, rentetan lingkaran sihir tampak tercipta saling tumpang
tindih di area langit di atas gubuk. Benar-benar persis menyerupai sebuah
menara raksasa yang menjulang tinggi menggapai langit.
Sesaat kemudian, sebuah hantaman kekuatan
dewa langsung diayunkan turun ke bawah bersamaan dengan suara gemuruh yang
dahsyat.
Dampak gelombang kejut seketika
menghancurkan lanskap pemandangan hutan secara total, persis layaknya gempa
bumi dan bencana puting beliung yang meletus secara serempak di satu titik.
Pepohonan yang tersentuh oleh kilauan
cahaya dewa langsung lenyap tak berbekas, dan permukaan tanah pun terhempas
hancur hingga ke akarnya. Embusan angin kencang ikut menerjang Isabella yang
bertindak sebagai pelepas sihir, memaksanya bergegas merunduk di atas tanah
secara panik.
Meskipun demikian, serangan itu tetap
tidak sanggup menangkap seluruh musuh secara serempak. Apakah karena berhasil
menghindar di saat-saat terakhir sebelum dampak Stardust Strike meletus,
Ophelia tampak merangkak keluar dari balik lanskap hutan yang hancur dalam
posisi mendekap tubuh Xue, lalu bergegas melarikan diri menuju ke area hutan
bagian dalam yang lebih jauh.
Di sisi lain, pasukan monster telah
hancur lebur secara total. Di kalangan petualang pun sudah tidak ada satu orang
pun yang tersisa dalam kondisi sanggup bertarung.
"Sudah cukup. Kerja bagus,
Isabella."
Theo melemparkan tatapan mata ke arah
sini sesaat, lalu memusatkan pandangannya ke arah depan tanpa mengubah ekspresi
wajahnya sedikit pun.
"Sisanya serahkan kepada Karina.
Karena kali ini merupakan area keahlian milik gadis itu."
---
"Ahahaha! Apakah orang-orang itu
sudah tidak waras?! Mereka sengaja melepaskan tembakan sihir meski kamu berada
di sana, lho!"
Sambil berada dalam kondisi lengan dan
kaki yang terikat rapat, Xue mendengarkan jeritan yang diluapkan oleh Ophelia.
Saat ini, Ophelia sedang memacu seekor
monster menembus area hutan bersamaan dengan kecepatan yang teramat gila demi
melarikan diri.
Baru sekitar sepuluh menit berlalu sejak
mereka berlari. Namun jarak mereka dari lokasi kejadian tadi terlanjur terpisah
sangat jauh. Kondisi Xue sendiri saat ini terus dibawa layaknya sebuah barang
bawaan saja.
Dampak serangan tadi menyisakan banyak
luka di tubuh sang monster. Meski begitu, makhluk tersebut tetap mematuhi
instruksi Ophelia secara setia. Walau darah segar tampak menyembur setiap kali
kaki dan tangannya digerakkan, monster itu terus memacu larinya sekuat tenaga
tanpa memedulikan nyawanya sendiri.
Namun, Ophelia justru tertawa
terbahak-bahak seolah sudah meyakini kemenangan mutlaknya.
"Tapi
sayang sekali ya~! Padahal tinggal selangkah lagi untuk bisa menangkapmu
kembali. Mustahil mengejar monster menggunakan kuda di dalam hutan yang
dipenuhi oleh area berbatu ini, dan kaki manusia pun mutlak tidak akan bisa
mengimbangi kecepatan lari monster! Nah, mari kita langsung pergi keluar dari
wilayah Celeste──"
Kalimat tersebut mutlak tidak sanggup
diselesaikan oleh Ophelia hingga akhir.
Alasannya
sederhana. ──Dari arah atas kepala mereka, seorang gadis mendadak melompat
turun sambil menyiapkan kepalan tinjunya sekuat tenaga.
"Haaaaahhhhhhh!"
Gadis itu melayangkan tinjunya bersamaan
dengan sebuah teriakan histeris.
Namun di saat bersamaan, Ophelia
tampaknya berhasil mendeteksi sesuatu lalu bergegas melompat turun meninggalkan
punggung monster.
Sesaat kemudian, kepalan tinju yang
kehilangan sasarannya itu bersarang telak menghantam tubuh sang monster.
*Bugh!* Tepat di saat satu pukulan
tersebut menembus tubuh sang monster, makhluk itu langsung terlempar jauh
bersamaan dengan gaung suara hantaman yang teramat dahsyat.
Tidak berhenti di situ, area yang menjadi
titik hantaman sang gadis mendadak amblas runtuh seiring dengan kabut debu
tanah yang membubung tinggi ke udara. Dampaknya tentu membuat Xue yang berada
di atas punggung monster ikut terlempar jatuh ke atas tanah.
Begitu kabut debu tanah sirna dari
pandangan, sosok yang menampakkan dirinya di tempat itu adalah seorang gadis
berambut pirang yang memancarkan aura layaknya seorang dewi perang. Karina
Rudbeckia sedang berdiri tegap sambil menyiapkan kuda-kuda kepalan tinjunya.
"Karina-san!"
"Xue, sekarang kamu sudah aman,
lho."
Mendengar Xue yang secara refleks
memanggil namanya membuat Karina mengulas sebuah senyuman simpul demi
menenangkan sang sahabat. Dia bergegas memotong tali pengikat yang melilit
tubuh Xue dengan cepat, lalu berdiri menghadang di depan Xue demi melindunginya.
"……Ngomong-ngomong, ternyata ada
satu orang yang menyusul ke sini ya~"
Setelah berhasil mendaratkan kakinya di
atas tanah, Ophelia bangkit berdiri secara perlahan.
"Karina Rudbeckia. Bakat orisinal
ilmu sihirmu sebenarnya menduduki tingkat kelas satu. Sayang sekali ya kamu
terlahir sebagai rakyat jelata~"
"Jika berkat hal itu saat ini aku
sanggup menyelamatkan sahabatku sendiri, maka hal itu mutlak bukan merupakan
sebuah masalah."
Menanggapi sindiran dari Ophelia
tersebut, Karina membalasnya bersamaan dengan sikap yang tegap. Sambil
mengamati area sekeliling secara waspada, Ophelia berucap.
"Tapi bagaimana caranya kamu bisa
mengetahui lokasi tempat ini~? Berdasarkan hasil penyelidikanku, keahlian
sihirmu seharusnya paling-paling hanya sebatas sihir Physical Enhance saja,
tapi…… ah, jadi guru itu ya."
Tampaknya berhasil memikirkan sebuah
jawaban membuat Ophelia menarik kesimpulan sendiri.
"Penyandang
gelar 《Genius Sihir Modern》
Theo Proteus, jika gurunya adalah pria itu maka hal selevel ini pasti bisa
diselesaikan dengan mudah ya~ Tampaknya dia sengaja melepas familiar miliknya
di berbagai tempat sejak awal.”
Untaian kata yang dilontarkan Ophelia
layaknya sebuah gumaman merupakan hal yang pertama kali didengar oleh Xue.
Namun sebelum Xue sempat memotong
pembicaraan, Ophelia memiringkan kepalanya.
"Tapi, Ludbeckia-san, apakah hanya
ada kamu sendiri?"
"……Apa maksudmu?"
"Maksudku, apakah orang yang
berhasil sampai ke tempat ini hanya kamu seorang."
Ophelia menyeringai lebar.
"Ahahaha! Benar juga ya~ Orang yang
sanggup mengejar ke sini murni dengan berlari dari tempat tadi hanya kamu yang
memiliki kemampuan fisik luar biasa~ Hantaman sihir yang tadi pun pasti milik
Proteus-sensei. Bukankah saat ini dia sedang terkapar lemas karena telah
menghabiskan seluruh tenaganya~?"
"…………"
Karina sama sekali tidak memberikan
jawaban.
Namun, sikap diamnya justru terkesan
mengiyakan dugaan tersebut.
Tampaknya menarik kesimpulan yang sama
membuat Ophelia tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya.
"Ahahaha! Apakah Proteus-sensei
sedang bercakap serius~? Mengirim satu orang murid yang bahkan tidak bisa
menggunakan sihir dengan becus demi menghadapiku? Dia pintar melucu ya~"
"──Kalau
begitu, Sensei tidak keberatan kan jika anak ini kubunuh saja."
Wajah Ophelia berkerut seiring dengan
amarah yang dipancarkannya secara terang-terangan.
Tepat setelah itu, Ophelia mengeluarkan
sebatang jarum dari balik baju biarawati jubah putihnya.
Jarum tersebut memancarkan kilauan merah
pekat yang janggal. Meski tidak tahu benda apa itu, secara insting bisa
disadari bahwa ada banyak formula sihir yang tertanam secara tumpang tinhdih di
dalamnya.
Sambil menusukkan jarum tersebut ke
lehernya sendiri, Ophelia mengumumkan.
"Bangkitlah,
wahai 《Raja Iblis dari Ras Demon Beast》."
"──《Awaken》."
Seketika, tubuh Ophelia berdenyut hebat.
Gelombang mana dalam jumlah masif
mendadak bertiup kencang, menggetarkan udara sekitar.
Xue maupun Karina sama sekali tidak
sanggup berdiri dan terpaksa merunduk di atas tanah.
Embusan angin kencang membuat pohon
raksasa bergoyang hebat, mematahkan ranting-rantingnya lalu menerbangkannya ke
sekeliling.
Wujud Ophelia kini sudah tidak menyisakan
bentuk manusia lagi.
Wujudnya benar-benar persis menyerupai
jajaran monster yang dipaksa masuk ke dalam satu tubuh manusia.
Sepasang tanduk tumbuh di kepalanya
layaknya sebuah mahkota, dan ujung rambutnya bergerak-gerak menyerupai ular.
Taring yang buas tampak terlihat dari mulutnya, dan sebatang ekor menjulur
keluar dari balik celah pakaian jubah putihnya.
"──────ッ"
Sensasi merinding yang teramat mengerikan
seketika menjalar di seujung punggung.
Para spirit di dalam hutan langsung
memekikkan peringatan secara serempak, seiring dengan logikanya yang ikut
menyadari bahaya tersebut.
Makhluk itu terlarang. Ini bukan lagi
urusan bisa menang atau tidak. Dia adalah sebuah keberadaan yang mutlak tidak
boleh dijadikan sebagai lawan bertarung.
"Apakah kalian tahu mengenai Raja
Iblis dari ras demon beast~?"
Sambil memancarkan gelombang mana yang
teramat dahsyat, Ophelia menyeringai kejam.
"Kalian
paham kan jika kusebut kekuatan itu? Ada beberapa kemampuan yang dimiliki oleh
Raja Iblis dari ras demon beast, tetapi yang paling lazim ada hai dua. Pertama
adalah kekuatan mengendalikan monster. Dan yang kedua adalah──"
"Xue, ayo pergi!"
Keputusan yang diambil oleh Karina
terbilang sangat cepat.
Sebelum Ophelia selesai merangkai
kalimatnya, Karina bergegas mendekap tubuh Xue lalu meloloskan diri dalam satu
sentakan memanfaatkan sihir Physical Enhance yang tampaknya sudah disiapkannya
sejak awal.
Suara hantaman angin kencang bergaung
keras di telinga seiring dengan lanskap pemandangan yang berputar dengan sangat
cepat.
傷Namun, meski jarak mereka sudah terpisah jauh
dari Ophelia, suara wanita itu tetap terdengar dengan sangat jelas.
"Jangan melarikan diri di saat orang
sedang berbicara, dong~ Tapi, ini mungkin momen yang pas. Karena aku memang
berniat memperlihatkannya kepada kalian setelah ini."
"──Nah,
wahai anak-anakku yang manis. Tangkaplah mereka berdua!"
Tepat setelah pengumuman itu dilontarkan
bersamaan dengan senyuman yang bejat.
Perut Ophelia mendadak robek terbuka.
Sebuah kegelapan menyerupai bentuk bulan sabit tercipta di perutnya, dan sosok
yang bermunculan dari dalam perut tersebut adalah jajaran monster berusia muda.
Mereka menyembur keluar layaknya tsunami lalu menginjakkan kaki di atas tanah,
wujud monster muda itu perlahan membesar dalam sekejap mata.
Xue hanya sebatas mengetahuinya dari
literatur saja, tetapi hal ini dipastikan tidak salah lagi.
Inilah
kemampuan kedua dari Raja Iblis dari ras demon beast yang hendak diucapkan oleh
Ophelia tadi. Sumber penyebab kenapa dunia dipenuhi oleh monster. 《Monster
Womb》. Sebuah kemampuan orisinal untuk melahirkan
monster dari ketiadaan.
"-. Gggrrr!"
Karina memacu larinya sekuat tenaga,
tetapi meloloskan diri dari kejaran monster dalam jumlah tak terhitung
merupakan urusan yang mustahil.
Kaki Karina terlilit hingga tubuhnya
terguling hebat di atas permukaan tanah, membuat Xue terlempar keluar dari
dalam dekapan lengannya. Tubuh Xue terguling di atas tanah hingga kepalanya
terbentur berulang kali, membuat ruang penglihatan berputar hebat memicu rasa
sakit.
"……Ah."
Saat dia mengangkat wajahnya bersamaan
dengan suara yang terengah-engah, kepala Karina sudah berada di bawah injakan
kaki Ophelia.
Karina terlihat berusaha melawan sekuat
tenaga, tetapi seluruh tubuhnya ditahan rapat oleh monster hingga dia tidak
bisa bergerak sedikit pun.
"Xue, cepat lari!"
Meskipun demikian, Karina tetap berteriak
sekuat tenaga.
Alih-alih mempriorstaskan keselamatan
dirinya sendiri, dia justru mendesak Xue untuk segera melarikan diri.
Pemandangan itu benar-benar persis
menyerupai tragedi serangan massal yang pernah dialami oleh Xue pada masa lalu.
"Tinggalkan aku! Aku pasti bisa
mengatasi situasi ini! Ayo! Cepat!"
"Kamu tidak akan lari, kan~"
Sambil menimpali kalimat tersebut,
Ophelia menginjak kepala Karina semakin keras.
"Kamu masih ingat kan apa akibatnya
jika berani melawan? Kemari, tundukkan kepalamu meminta maaf lalu menyerahlah,
maka aku akan melepaskan anak ini. Karena sejak awal target utamaku adalah
Xue-chan, lho."
"Cepat lari……! Jangan dengarkan
perkataannya……!"
Suara dari kedua orang tersebut terlontar
ke arah Xue secara serempak.
Secara tidak sadar, kedua kakinya
langsung gemetaran hebat.
Akibat dari pilihan yang diambilnya
sendiri, Karina saat ini sedang berada di ambang kematian.
Melarikan diri merupakan urusan yang
mudah bagi Xue. Namun jika dia melakukannya, Karina dipastikan akan langsung
dibunuh.
Lalu bagaimana jika dia memilih untuk
menyerah. Namun, mutlak tidak ada jaminan bahwa Ophelia akan menepati janjinya.
Dia tidak tahu apakah wanita itu benar-benar akan melepaskan Karina atau tidak.
Dan jika dia memilih bertarung, apa yang
akan terjadi.
Ada banyak pilihan yang tersedia. Namun,
tindakan yang bisa diambil oleh Xue hanya ada satu.
"……Ma-maaf…… aku…… tidak akan lari……
tolong…… lepaskan dia."
Xue menempelkan kepalanya ke atas tanah.
Dalam posisi tanpa pertahanan sedikit
pun, Xue memohon di bawah kaki Ophelia.
Xue Amaryllis tidak bisa bertarung.
Sebab sejak masa yang teramat lampau,
hatinya sudah terlanjur hancur total.
Karena itulah Xue memilih untuk berhenti
melihat dunia. Dia memilih untuk mengurung diri di dalam cangkang.
Jika tidak melihat apa pun, jika tidak
merasakan apa pun, maka hal itu sama saja dengan 'tidak merasakan sakit'.
Oleh karena itu, Xue memilih untuk tidak
bertarung lalu menundukkan kepalanya.
"To-tolong, bawa aku pergi……
lepaskan Karina-san."
"Bicara…… apa kamu……!"
"Ahahaha! Ahahaha! Hahaha!"
Mendengar pilihan yang diambil oleh Xue
membuat Ophelia tertawa terbahak-bahak secara histeris.
"Luar biasa, kamu benar-benar sangat
lembut ya! Aku sampai terharu melihat pengorbanan milik Xue-chan! Kalau begitu,
aku akan melepaskan Ludbeckia-san!"
Ophelia menjauhkan kakinya dari kepala
Karina. Kemudian memerintahkan monster untuk membebaskannya.
Xue mengangkat wajahnya secara perlahan.
Urusannya
berhasil tersampaikan. Karina akan selamat. Mengonfirmasi fakta tersebut
membuat sudut bibirnya secara tidak sadar mengulas senyuman simpul──
"──Memangnya,
kamu pikir aku akan berkata seperti itu, dasar booooodoh!"
*Jlep!*
Pada awalnya, dia tidak menyadari bahwa
itu adalah suara dari tubuh Karina yang tertusuk.
Seekor ular mendadak melesat keluar dari
balik jubah putih Ophelia, menusuk punggung Karina layaknya sebilah pedang.
Tubuh Karina gemetaran hebat sebelum akhirnya ambruk lemas ke tanah tanpa
sempat meluapkan suara.
Sasaat kemudian, darah segar dalam jumlah
masif mengalir deras membasahi tubuh Karina.
Xue hanya bisa memandang peristiwa
tersebut diam seribu bahasa bersamaan dengan pikiran yang linglung.
Logikanya
tidak sanggup mengejar realitas. Padahal barusan, wanita itu bilang akan
menyelamatkannya──
"Benar-benar, Xue-chan adalah anak
yang malang ya. Padahal jika dipikirkan sedikit saja, kamu pasti tahu kalau aku
tidak akan mungkin melepaskannya."
Ophelia menyunggingkan senyuman distorsi
sambil menatap ke bawah ke arah sini.
Sambil memasang ekspresi wajah yang
kejam, dia menginjak kepala Xue dengan keras.
"Nah, sekarang kamu sudah ingat
kembali kejadian masa lalu, kan~? Jangan pernah berpikir untuk mencoba
melarikan diri lagi dariku~!"
*Ulek!* Ophelia menekan kepala Xue ke
atas tanah menggunakan kakinya secara bertubi-tubi.
Alasan kenapa Ophelia menyerang Karina,
kemungkinan besar murni hanya didasari oleh urusan sepele semacam itu saja.
Namun murni karena alasan sekonyol itu,
Karina saat ini sedang bergerak menuju ke arah kematian yang nyata.
"……Mo-mohon, hentikan."
Untaian kata meluap dari mulutnya
bersamaan dengan suara yang terengah-engah.
"Hentikan…… akhiri……
segalanya……"
Itulah satu-satunya permohonan terakhir
yang tersisa di dalam diri.
Dia sudah tidak sudi merasakan rasa sakit
lagi. Jika begitu kenyataannya, dia hanya ingin segalanya segera diakhiri saja.
Tepat pada saat Xue menyuarakannya.
Secara mendadak, sebuah suara bergema
dari arah sampingnya.
Sebuah suara guru yang teramat biasa
didengarnya, sebuah suara yang seharusnya tidak mungkin berada di tempat
seperti ini.
"──Xue,
apakah permohonan yang kamu inginkan benar-benar hanya sebatas hal itu
saja?"
………………Eh?
Xue mengedarkan pandangan ke sekeliling
bersamaan dengan wajah yang teramat lelah.
Namun, sosok wujudnya tetap tidak bisa
ditemukan di mana pun.
Saat menurunkan pandangan matanya secara
perlahan, seekor tikus tampak berada tepat di dekat lengannya.
"Apakah kamu benar-benar ingin
mengakhiri segalanya? Apakah kamu benar-benar tidak ingin melihat apa pun lagi.
Apakah kamu benar-benar tidak keberatan untuk terus merunduk lemas di tempat
seperti ini selamanya?"
Xue berhalusinasi melihat sosok Theo.
Sosok guru yang sedang menatap ke bawah
ke arah sini bersamaan dengan sepasang mata yang dingin.
"Tentu saja tidak, kan. Dengar,
bukankah sebelumnya kamu sudah mengatakannya kepadaku. Bahwa kamu ingin bisa
bertarung. Bahwa kamu ingin mengubah dirimu sendiri yang tidak berguna ini.
Bukankah hal itu merupakan keinginanmu yang sesungguhnya?"
Sebut saja. Itulah keinginan milik Xue.
Dia membenci dirinya yang tidak bisa
bertarung. Dia membenci dirinya yang tidak bisa melakukan apa pun.
Dia ingin mengubah dirinya yang seperti
itu.
"……Tapi, bagi diriku…… hal itu
mustahil."
Sebab saat ini pun, dia hanya bisa diam
menyaksikan Karina yang bergerak menuju kematian tepat di hadapan matanya.
Tanpa bertarung, hanya bisa pasrah
memohon.
Mana
mungkin sosok Xue yang seperti ini bisa bertarung──
"Lalu apakah karena hal itu kamu
memilih untuk menyerah? Mengurung diri di dalam cangkang lagi?"
"Kamu pasti sudah paham betul kalau
hal itu bukan merupakan sebuah solusi, kan. Seberapa jauh pun kamu mengurung
diri di dalam cangkang, pihak luar akan tetap terus mengusikmu. Selama kamu
masih hidup, pilihan untuk tidak bertarung itu mutlak tidak akan pernah ada,
lho."
"Kalau begitu, kamu pasti sudah tahu
kan apa yang harus dilakukan setelah ini?"
"Merebutnya kembali. Hancurkan
mereka. Demi mendapatkan masa depan yang kamu inginkan, bertarunglah secara
total!"
"Cepat bangun dari mimpimu,
Xue=Amaryllis! Sampai kapan kamu berniat terus merunduk lemas di tempat seperti
ini!"
"…………………………Ah."
Sambil meluapkan suara seolah sedang
membuang rasa pasrahnya terhadap dunia, Xue bangkit berdiri.
Tepat di hadapannya, Ophelia tampak
membelalakkan matanya dengan lebar karena terkejut.
Mungkin karena adanya intervensi dari
sihir tertentu, 'suara' tadi kemungkinan besar tidak terdengar oleh Ophelia.
Namun, Xue sudah tidak memedulikan urusan
semacam itu lagi. Murni hanya 'suara' milik Theo saja yang kini menjadi pilar
penyokong bagi seujung tubuh Xue.
Sebenarnya sejak kapan? Kenapa harus di
momen seperti ini?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu kini
murni hanya menjadi urusan sepele bagi Xue. Sambil berpegang teguh pada
"suara" serta "kata-kata" milik Theo, Xue mengangkat
wajahnya.
Hal yang dikatakan Theo memang merupakan
sebuah kebenaran nyata. Dunia nyata berada di tempat itu. Seberapa jauh pun dia
berpura-pura tidak melihatnya, dunia yang teramat kejam tetap tersaji nyata
tepat di hadapan matanya.
Jika begitu kenyataannya, maka mengurung
diri di dalam cangkang mutlak tidak akan menjadi sebuah solusi.
──Bertarunglah!
Insting Xue berteriak kuat.
Sosok wujud Ophelia di hadapannya
mendadak terlihat tumpang tindih dengan jajaran orang-orang yang pernah
menindas dirinya selama ini. Kepada wanita itu, kepada mereka semua, Xue
menumpahkan seluruh isi hatinya.
"Mati saja."
Jika kalian terus menindas diriku.
Jika kalian terus menghalangi jalanku.
Jika kalian berani menginjak-injak hal
berharga milikku.
"──Semuanya,
semuanya, mati sajaaaa!!!"
Seketika, sebuah badai kekuatan yang
teramat dahsyat berembus kencang dari seujung tubuh Xue.
Butiran air dalam jumlah tak terhitung
mendadak tercipta di udara. Detik berikutnya wujud butiran air itu berubah
menjadi es, memicu terciptanya sebuah amukan badai.
Seolah
menyelaraskan gerakan tersebut, suara para spirit mulai menyentuh gendang
telinganya. ──"Kami akan meminjamkan kekuatan, lho!" "Aroma
tubuhnya sama seperti Sang Raja!" "Katakan saja apa yang kamu
inginkan!"
"Terima kasih banyak. Kalau begitu,
cepat pinjamkan kekuatan kalian kepadaku."
Sejak masih kecil, Xue memang sudah bisa
mendengarkan suara dari para spirit. Para spirit akan membaca keinginan yang
bersemayam di dalam hati Xue lalu mengaktifkan sihir secara sepihak.
Itulah fakta yang sebenarnya dari sihir
tanpa rapalan mutlak.
Namun, Xue sendiri hampir tidak pernah
menyahut suara mereka secara sadar sebelumnya. Sebab dia terlanjur takut jika
kekuatan tersebut justru akan melukai banyak orang nanti.
Meski begitu, saat ini dia sudah tidak
memiliki alasan untuk ragu lagi. Untuk pertama kalinya, Xue mengerahkan
kekuatan tersebut bersamaan dengan adanya niat buruk. Sebuah kekuatan yang
ditakuti oleh banyak orang, dan terkadang sampai dijuluki sebagai sebuah pusaka
emas.
Xue adalah keturunan sedarah dari Raja
Spirit.
Keturunan sedarah dari eksistensi paling
buruk yang telah membantai ras manusia dalam jumlah terbesar. Sekaligus klan
raja yang memegang tampuk kepemimpinan atas para spirit.
Itulah identitas asli yang dimiliki oleh
Xue.
"Aku akan membunuh wanita itu sampai
mati! Mohon pinjamkan kekuatan kalian kepadaku!"
"Berani sekali kamu menyuarakannya
di hadapanku, haaaahhhh!!!"
Mendengar deklarasi dari Xue membuat
amarah Ophelia meledak hebat. Sambil melayangkan perintah kepada monster,
Ophelia ikut melepaskan sihir dari dirinya sendiri.
Sebuah sihir yang dirangkai berdasarkan
teori sihir generasi keempat. Sebuah teknologi buatan Theo agar ras manusia
sanggup meluncurkan tembakan sihir dalam kecepatan tertinggi.
Meskipun demikian.
"《Pelepasan
Formula Sihir: Ma──"
"《Pelepasan
Formula Sihir: Ice Breath》"
Secara perhitungan pasti, Ophelia
seharusnya merupakan pihak yang lebih cepat dalam merapalkan sihir. Baik pola
pengobaran mana maupun proses pelepasan formula, seluruh keahlian yang dimiliki
Ophelia berada di tingkat yang jauh lebih unggul.
Namun secara hasil nyata, sihir milik Xue
justru berhasil termanifestasi lebih cepat. Itulah keunggulan mutlak yang
dimiliki oleh sihir spirit.
Manusia bagaimanapun juga wajib menyusun
formula sihir murni seorang diri. Namun, Xue sanggup meminjam kekuatan dari
para spirit. Secara mutlak, tingkat kecepatan pelepasan sihir dipastikan akan
dimenangkan oleh sihir spirit.
Tepat di hadapan telapak tangan yang
diulurkan oleh Xue, hawa dingin yang teramat mengerikan seketika memusat rapat.
Dalam sekejap.
──*Wusss!*
Energi hawa dingin langsung melesat membelah udara secara dahsyat.
Sambil menghancurkan pepohonan hutan
serta mengeruk permukaan tanah, kilatan cahaya itu melesat menghilang ke arah
kekosongan udara. Tembakan tersebut hanya sebatas menyeka bagian samping tubuh
Ophelia dan tidak bersarang secara telak.
Namun murni hanya karena dampak dari sisa
energinya saja, sebelah pipi Ophelia langsung tertutupi oleh es, jajaran
monster yang mendekat membeku total, dan lanskap pemandangan hutan seketika
berubah menjadi dunia perak yang membeku.
Tidak berhenti di situ, pijakan kaki
Ophelia pun ikut membeku rapat di atas permukaan tanah.
"Kakiku……-!"
Ophelia berusaha keras menarik kakinya
yang tertanam di dalam es sekuat tenaga. Namun celah waktu tersebut merupakan
sebuah celah yang teramat fatal jika dilakukan di hadapan Xue yang sekarang.
Tampaknya menyadari sesuatu membuat
Ophelia bergegas mengangkat wajahnya secara panik. Pada saat itu, Xue sudah
mengaktifkan sihir berikutnya seraya memusatkan energi hawa dingin di
tangannya.
Bersamaan dengan sebuah senyuman distorsi
yang sakit, Xue memberikan deklarasi.
"Mulai sekarang, aku tidak akan
pernah membiarkan siapa pun menyentuh sahabatku lagi. Orang-orang yang berani
melakukan hal semacam itu."
"──Semuanya,
semuanya, akan kubunuh sampai mati!"
Ice Breath jarak nol.
Sambil melayangkan panggilan kepada
seluruh spirit yang ada, Xue menghantamkan satu serangan terbesar tepat di
hadapan mata Ophelia.
Dia merasa Ophelia sempat menyuarakan
sesuatu yang menyerupai kalimat memohon ampun, tetapi dia tidak memiliki niat
untuk menghentikan sihirnya.
Energi hawa dingin dilepaskan secara
masif, mewarnai seluruh ruang penglihatan menjadi putih total. Bersamaan dengan
gaung suara gemuruh dahsyat yang menyerupai gempa bumi, lanskap pemandangan
tepat di hadapannya langsung terhempas hancur.
Begitu atmosfer kesunyian kembali
menguasai tempat tersebut, sosok wujud Ophelia sudah lenyap tanpa menyisakan
bekas sedikit pun.
Previous Chapter | ToC | Next Chapter



Post a Comment