Bab VIII
"……Kali ini pun gagal, ya."
Lily Garden. Kamar UKS.
Theo bergumam lirih seraya menatap Xue
yang tengah terbaring tak sadarkan diri di atas tempat tidur.
Beberapa minggu telah berlalu sejak Theo
memulai pelajaran pertempuran sihir.
Kabar baiknya, sebagian besar murid Taman
Ketujuh telah beradaptasi dengan pelajaran tersebut.
Isabella, Karina, dan Iris memang belum
bisa memberikan luka fatal pada Theo, tetapi mereka kini sudah mampu
melancarkan serangan sekuat tenaga tanpa kehilangan niat bertarung. Bahkan
untuk kasus
Momo, meski dia langsung tumbang dalam
satu pukulan pada hari pertama, gadis itu sama sekali tidak memiliki keraguan
untuk melukai orang lain.
Masalahnya adalah Xue.
Selama beberapa minggu ini, Theo telah
menghujani Xue dengan berbagai macam sihir.
Bahkan sampai di tingkat yang mampu
membuat gadis itu merasakan ancaman kematian.
Akibatnya, sebagian area hutan sampai
hancur lebur tersapu oleh sihir milik Theo.
Namun, meski telah dihujani sihir
sedahsyat itu, Xue tidak pernah sekalipun membalas serangan Theo dengan sihir.
Gadis itu selalu bertahan total sampai akhir, hingga berujung kehilangan
kesadaran
setelah menerima sihir Theo.
"……Ternyata membuat seseorang bisa
bertarung tidak semudah itu."
Theo melangkah keluar meninggalkan kamar
ukur sembari menggumamkan kalimat tersebut tanpa sadar.
Dia sempat mengira Xue akan membalas
serangan jika disudutkan
hingga ke ambang kematian secara total,
tetapi pemikirannya ternyata terlalu naif.
Alasannya sudah jelas. Xue tidak begitu
memedulikan nyawanya sendiri.
Jika diingat kembali, pada Putaran
Pertama pun gadis itu tewas tanpa pernah melancarkan serangan sihir sampai
akhir hayatnya.
Kalau begitu, arah tindakan untuk membuat
Xue merasakan ancaman kematian adalah sebuah kekeliruan.
Namun, dia sama sekali tidak bisa
memikirkan rencana alternatif.
……Tidak, jika harus jujur, sebenarnya ada
satu rencana.
Akan
tetapi, metode yang satu itu benar-benar terlalu──
"A-anu…… mo-mohon…… tunggu
sebentar."
Sebuah suara lirih mendadak bergema.
Saat Theo berbalik, Xue rupanya telah
keluar dari kamar ukur dan berdiri di koridor.
Entah sejak kapan gadis itu terbangun.
Seragamnya tampak penuh kotoran akibat
latihan tadi. Wajahnya pun masih belepotan lumpur.
Meski
begitu, Xue membuka bibir merah mudanya dan berusaha menyuarakan sesuatu dengan
ekspresi wajah yang teramat serius──
"………………A-auh."
Begitu sepasang matanya bertemu dengan
Theo, dia langsung mematung.
Bibir Xue bergerak-gerak seperti hendak
merangkai kata.
Namun, tidak ada satu pun suara bermakna
yang keluar dari mulutnya.
Hanya saja, di momen seperti ini, Theo
hanya bisa memikirkan satu alasan mengapa Xue memanggilnya.
"Apakah kamu mendengar gumamanku
yang tadi?"
"………… (Mengangguk cepat)"
Xue menganggukkan kepalanya kuat-kuat
sebagai jawaban atas pertanyaan Theo.
Gumamannya yang tadi, tentu saja merujuk
pada kalimat "Ternyata membuat seseorang bisa bertarung tidak semudah
itu".
Theo mengutarakannya karena mengira Xue
masih tidak sadarkan diri, tetapi dia tidak menyangka gadis itu ternyata
mendengarnya.
Xue meluapkan suaranya secara ragu-madu
seolah sedang membaca situasi di sekitarnya dengan cemas.
"A-anu, aku tidak bermaksud untuk
menguping, kok. Tapi, saat aku terbangun, Sensei sedang mengatakan hal itu……
jadi, tidak sengaja terdengar."
"Begitu ya."
"A-anu,
Sensei──"
Xue mengangkat wajahnya, mengarahkan
sepasang mata bulatnya dari balik poni rambut.
Theo memperkirakan bahwa kalimat
berikutnya yang akan keluar dari mulut gadis itu adalah sebuah kecaman.
Mengenai mengapa dirinya memikirkan hal
yang bertolak belakang dengan keinginan sang murid.
Namun, kalimat yang dilontarkan oleh Xue
justru di luar dugaan.
"A-anu…… aku, ingin bisa
bertarung."
"Eh?"
Saat Theo secara refleks melemparkan
pandangan matanya, Xue tidak melarikan diri melainkan balas menatapnya secara
lurus.
"E-eh…… Sensei juga sudah tahu, kan?
Kalau aku ini seorang ras iblis.
Karena itu, sejak dulu aku selalu
diintimidasi."
Apakah karena teringat akan kejadian masa
lalu, warna darah seketika menyusut dari wajah Xue.
Meski begitu, Xue tidak menghentikan
kalimatnya dan terus bersusah payah merangkai kata.
"Tapi…… aku takut. Melukai lawan
takut, diriku sendiri terluka juga takut…… saat memikirkan hal itu lalu menjadi
takut, aku akhirnya tidak bisa melakukan apa-apa……"
"Tapi, sebenarnya aku benci kondisi
yang seperti itu. Aku benci diriku sendiri yang tidak berguna. Aku ingin bisa
bertarung."
"──Sensei.
Apakah aku, akan bisa bertarung?"
Entah seberapa besar keberanian yang
telah dikumpulkannya.
Xue tampak bermandikan keringat layaknya
orang yang baru saja berlari sekuat tenaga. Poni rambutnya menempel erat di
dahi, dan wajahnya memerah padam.
Meskipun demikian, secercah cahaya serius
yang bersemayam di sepasang matanya tetap tidak berubah.
……Ah.
Theo merasa dirinya mungkin telah menjadi
terlalu takabur.
Dia mengira sudah memahami segalanya
tentang para murid murni hanya berdasarkan pengetahuan dari Putaran Pertama.
Namun, ini adalah pertama kalinya dia
mendengar keinginan Xue yang sesungguhnya. Tidak disangka dia baru
mengetahuinya di Putaran Kedua, di saat dia sudah mempersiapkan mental untuk
menginjak-injak perasaan para murid demi kebaikan mereka sendiri.
"……Ya, kamu pasti akan bisa
bertarung. Asalkan kamu mempercayaiku."
Theo menegaskan hal itu tanpa sadar
bersamaan dengan nada suara yang lembut.
Seperti yang dipikirkannya tadi, rencana
untuk membuat Xue bisa bertarung sebenarnya sudah ada di kepala.
Namun, dia terlanjur berasumsi bahwa Xue
yang bermental lemah dan berhati lembut tidak akan sanggup melakukannya.
Tapi, itu hanyalah penilaian sepihak dari
Theo saja.
Padahal Xue sendiri sedang bersusah payah
berjuang demi bisa bertarung.
Jika begitu kenyataannya, maka tugas Theo
hanyalah mempercayai potensi sang murid lalu mendorongnya dari belakang.
Sebab hal itulah yang menjadi pekerjaan
bagi seorang guru.
"Ehehe. Aku malah mengatakan hal
yang memalukan…… ah. Sensei, anu, benda apa itu?"
Apakah karena merasa malu setelah
menumpahkan seluruh isi hatinya, Xue mengalihkan pembicaraan dengan menunjuk ke
arah luar jendela
sekolah.
Di luar gedung sekolah, jajaran staf
pengajar tampak sedang berjalan beriringan menuju ke gerbang sekolah Lily
Garden.
Dimulai dari Kepala Sekolah Anemone,
hampir seluruh guru di Lily
Garden tampak berkumpul di sana.
"Itu adalah pasukan bantuan untuk
perburuan monster. Atas permohonan dari kerajaan, mereka akan dikerahkan selama
tiga hari ke depan."
"……Apakah Sensei juga akan ikut
pergi?"
"Aku ditugaskan untuk menjaga
sekolah. Bersama dengan Gardener-sensei."
Bukannya melupakan hal tersebut, tetapi
hari ini memang merupakan hari keberangkatan para guru.
Seperti pemberitahuan sebelumnya,
kemunculan monster di wilayah sekitar sedang meningkat, sehingga pihak kerajaan
melayangkan permohonan bantuan untuk melakukan perburuan monster. Oleh karena
itu, Anemone menyeleksi jajaran staf pengajar untuk dibentuk menjadi pasukan
bantuan.
Dan hari keberangkatan pasukan bantuan
tersebut adalah hari ini.
Sosok yang diseleksi oleh Anemone
mencakup sebagian besar dari jajaran staf pengajar. Sebaliknya, orang yang
ditugaskan untuk menjaga sekolah hanyalah Theo dan Ophelia saja. Dia
kemungkinan sengaja mengeluarkan mereka dari daftar seleksi demi mempertimbangkan
status mereka sebagai guru baru.
Momen di saat Anemone dan yang lainnya
benar-benar pergi adalah selama tiga hari mulai esok hari.
Namun, jika hanya dalam kurun waktu
sependek itu, absennya jajaran staf pengajar seharusnya tidak akan menimbulkan
masalah yang berarti.
Mungkin karena sekolah ini merupakan
tempat berkumpulnya putra-putri kaum bangsawan, murid yang memiliki perangai
buruk terbilang sedikit, sehingga kekacauan di dalam kelas tidak akan sampai
pecah.
Meskipun demikian, Theo tahu betul.
—Andai segalanya berjalan persis seperti
pada Putaran Pertama, insiden
tersebut seharusnya baru pecah pada hari
terakhir dari tiga hari masa
ekspedisi ini.
Dan jika memang ada kunci untuk
membangkitkan Xue, momen itulah waktu yang paling tepat.
◇
"……Informasi itu, kamu yakin benar,
kan?"
Celeste, sebuah kota tempat ilmu sihir
dan sejarah saling berbaur dengan selaras, lokasi di mana Lily Garden
didirikan.
Sebuah kedai di pinggiran kota tersebut
tampak dikuasai oleh puluhan petualang berandalan yang kasar.
Mungkin karena terdiri dari gabungan
beberapa party, para petualang itu duduk berkelompok yang masing-masing berisi
empat sampai lima orang. Mereka semua adalah tipe petualang yang biasanya tidak
pernah terlihat di Celeste. Akibat hawa tidak bersahabat yang pekat dari
mereka, para pelanggan setia kedai ini sudah lama kabur kocar-kacir.
Di tengah atmosfer tersebut, sosok
petualang bernama Vold maju mewakili yang lain untuk melayangkan keraguan.
Dia adalah seorang berandalan murahan.
Ciri khasnya yang paling mencolok tidak lain adalah bekas luka besar di
pipinya.
Saat ini Vold sedang didera rasa kesal.
Tidak, mungkin bukan hanya dirinya saja.
Setiap petualang yang berkumpul di tempat ini pasti sedang memendam kekesalan
yang sama.
Kota Celeste ini merupakan tempat di mana
perdagangan dari arah barat dan timur berkembang dengan sangat pesat, sehingga
para petualang kerap melintasi jalur ini demi menuju ke dungeon.
Namun, mereka yang berkumpul di sini
dipastikan adalah orang-orang yang bermimpi mendapat kekayaan instan di dungeon
tetapi berakhir menerima nasib sial. Jika bukan karena alasan itu, mana mungkin
mereka sudi bersusah payah berkumpul di kedai ini hanya karena diajak oleh
seorang pria mencurigakan yang mengiming-imingi "urusan yang menghasilkan
banyak uang".
Ditambah lagi, beberapa hari yang lalu
Vold baru saja kehilangan mangsa berupa gadis ras iblis.
Andai saja pria yang mengaku sebagai Theo
Proteus itu tidak mendadak muncul, dia dipastikan sudah meraup uang dalam
jumlah besar saat ini.
Sosok
yang sedang menghadapi para petualang berbahaya itu seorang diri adalah──
"Tentu saja benar. Jaringan
informasi milik organisasiku adalah yang terbaik."
Seorang
《Pria Misterius》
yang tubuhnya dibalut oleh jubah hitam.
Wajahnya sama sekali tidak terlihat
karena tertutup topeng. Suaranya pun tampaknya telah diubah menggunakan sihir
hingga memicu gaung suara yang bising dan mengusik telinga.
Meskipun dikelilingi oleh banyak
petualang, pria misterius itu sama sekali tidak menunjukkan rasa takut,
melainkan berbicara sambil menyunggingkan sebuah seringai lebar.
"Tepat seperti informasiku, mulai
besok selama tiga hari ke depan, seluruh guru dipastikan akan pergi
meninggalkan Lily Garden.
Tepatnya, memang akan ada beberapa guru
yang tetap tinggal untuk menjaga sekolah. Tapi, mereka semua hanyalah sampah
tingkat rendah.
Theo Proteus yang legendaris itu memang
ada di sana, tetapi ujung-ujungnya dia hanyalah seorang akademisi. Dia mutlak
tidak akan bisa menjadi lawan bagi kalian yang sudah terbiasa melintasi medan
pertempuran sesungguhnya."
Namun, apakah segalanya benar-benar akan
berjalan semulus itu?
Berdasarkan pengalamannya saat berhadapan
langsung dengan pria yang mengaku sebagai Theo Proteus waktu itu, Vold tampak
mengernyitkan alisnya.
Meskipun demikian, menghadapi petualang
dalam jumlah sebanyak ini dipastikan bukan urusan yang mudah bagi siapa pun.
Para petualang ini seluruhnya merupakan kelompok petualang profesional dalam
urusan bertarung. Dari segi kemampuan maupun jumlah, guru sekolah biasa mutlak
bukan merupakan sosok yang sepadan untuk menjadi lawan mereka.
"……Aku paham maksud
perkataanmu."
Petualang
yang lain menatap tajam ke arah sang 《Pria Misterius》
berjubah hitam dengan sepasang mata yang berkilat bengis.
Namun,
sang 《Pria Misterius》
hanya sebatas mengedikkan bahunya tanpa menunjukkan rasa ciut sedikit pun.
"Jika
sang 《Queen》 Anemone Blackwood tidak ada di tempat, maka
seketat apa pun mereka memperkuat sistem penjagaan, Lily Garden saat ini
dipastikan akan menjadi ladang perburuan yang paling emas bagi kami. Tapi,
kenapa kamu malah sengaja membocorkan hal ini kepada kami?"
"Organisasi kami baru saja didirikan
belakangan ini, sehingga kami agak
sedikit kekurangan sumber daya manusia.
Kami membutuhkan pihak yang bersedia diajak bekerja sama. Kalian tidak perlu
sungkan untuk meraup seluruh keuntungan yang berharga di sana. Hal yang
diinginkan oleh organisasi kami hanyalah orang-orang yang tercantum di dalam
daftar ini saja. Jika kalian berhasil menculik mereka untuk kami, kami bersedia
membelinya dengan harga berapa pun yang kalian tetapkan. Tentu saja, dari pihak
kami juga akan menurunkan beberapa pasukan bantuan."
Sang
《Pria Misterius》
mengibas-ngibaskan selembar kertas di tangan.
"……Meskipun terkesan sangat
mencurigakan, tapi baiklah. Urusan yang menghasilkan banyak uang pada dasarnya
memang selalu mirip seperti ini."
"Ahihihi, aku dipastikan tidak akan
membuatmu menyesal. Karena organisasi kami hanya memiliki uang yang
berlimpah."
"Kapan hari pengeksekusiannya?
Apakah tetap pada malam hari terakhir seperti yang dikatakan oleh organisasimu
sejak awal?"
Saat
petualang yang lain melayangkan pertanyaan tersebut, sang 《Pria
Misterius》 justru menggelengkan kepalanya di luar dugaan.
"Tidak, rencana itu
dibatalkan."
"Hah?"
"Entah kenapa aku memiliki firasat
buruk yang teramat sangat. Rasanya jika kita tetap bergerak sesuai rencana itu,
firasatku mendadak berteriak bahwa rencana kita akan berakhir gagal total.
Anehnya, intuisi milikku yang seperti ini sejak dahulu selalu terbukti tepat.
Oleh karena itu, hari pengeksekusiannya diganti."
"……Bagi kami waktu kapan pun tidak
menjadi masalah, tapi kapan
tepatnya rencana itu akan diganti?"
"Besok pagi, pada hari kedua."
Sang
《Pria Misterius》
memberikan pengumuman bersamaan dengan sebuah senyuman lebar yang memenuhi
wajahnya.
"Melancarkan serangan pada malam
hari itu sudah terlalu pasaran. Bagaimana jika kita menyelesaikan segalanya
pada pagi hari, lalu kita semua yang berada di sini bisa bersulang merayakannya
saat waktu makan malam tiba?"
Andai saja di tempat ini ada sosok yang
sanggup mengamati titik percabangan takdir dunia, dia dipastikan akan
menyuarakan keterkejutan yang teramat sangat.
Sebab
murni hanya karena keisengan sesaat dari sang 《Pria
Misterius》, jalur takdir dunia telah bergeser dengan sangat
mudah.
Dan dengan demikian, dunia mulai menapaki
jalur takdir yang berbeda dari jalur yang pernah dilaluinya pada masa lalu.
◇
"Isabella, sampai kapan kamu mau
menghabiskan waktu? Cepat selesaikan."
"I-iya, aku juga sudah paham!"
Lily Garden dibangun di atas lahan yang
diapit oleh hamparan hutan di sisi kanan dan kirinya, serta sebuah gunung kecil
yang menjulang tinggi tepat di area belakang sekolah.
Dua hari setelah keberangkatan Anemone
dan yang lainnya.
Theo sedang melangkah menyusuri gunung di
area belakang sekolah bersama dengan Isabella demi memeriksa sepanjang batas
luar wilayah Lily Garden.
Lereng gunung terbilang sangat curam,
sehingga jika seseorang sampai salah melangkahkan kaki satu kali saja, dia
rasanya akan langsung jatuh berguling ke dasar tebing. Tepat seperti
perkiraannya, saat Theo menengok ke arah belakang, Isabella berulang kali
terlihat hampir kehilangan keseimbangan di atas lereng gunung.
Saat ini, Theo sedang melakukan
pemeriksaan sihir yang dipasang di sepanjang batas luar wilayah Lily Garden
bersama dengan Isabella.
Sebab
jika jalurnya sama seperti pada Putaran Pertama, insiden itu seharusnya baru
akan pecah besok──yaitu pada hari terakhir masa ekspedisi para guru.
Insiden yang dimaksud adalah serangan
massal ke Lily Garden yang dilancarkan oleh para petualang.
Di antara para petualang, ada pihak yang
bertindak lurus, tetapi ada pula pihak yang perilakunya tidak berbeda jauh dari
seorang kriminal.
Untuk kasus kali ini, pihak yang
disebutkan belakangan telah dihasut oleh seseorang, lalu bergerak meluncurkan
serangan ke arah Lily Garden.
Meskipun demikian, Anemone tentu saja
sudah menyiapkan langkah antisipasi.
Sebagai ganti dari kepergian para guru
yang melakukan ekspedisi, jumlah prajurit penjaga telah ditambah berkat koneksi
hubungan yang dimiliki oleh Anemone.
Tingkat kewaspadaannya saat ini bahkan
tidak akan berlebihan jika disebut sebagai kondisi siaga satu. Sistemnya dibuat
seketat mungkin agar jika ada penyusup mencurigakan yang berani masuk dari mana
pun, prajurit penjaga dipastikan akan bisa langsung datang dengan cepat.
Namun, Theo tahu betul bahwa tindakan
tersebut tetap tidak akan sanggup menghentikan pecahnya insiden.
Justru karena itulah dia sengaja memasang
sihir di sepanjang batas luar wilayah Lily Garden agar bisa mendeteksi
keberadaan para penyerang dengan cepat.
"Isabella, berikutnya adalah lereng
gunung di sebelah sana."
"Sudah kubilang aku paham,
kan!"
Sambil memastikan sihir yang tertanam di
dalam permukaan tanah,
Theo melayangkan instruksinya kepada
Isabella yang berada di belakangnya.
Jumlah sihir yang ditanam oleh Theo di
sepanjang batas luar wilayah Lily Garden terbilang sangat melimpah ruah.
Karena proses pemeriksaan akan memakan
banyak waktu jika dikerjakan seorang diri, dia sengaja memanfaatkan keberadaan
Isabella untuk membantunya melakukan konfirmasi.
Dia menyembunyikan urusan mengenai
serangan petualang dari
Isabella, dan hanya memberitahunya bahwa
ini adalah aktivitas pemeriksaan keselamatan biasa.
Isabella juga menerima alasan tersebut
lalu bersedia membantu dengan terpaksa.
Namun, apakah aktivitas ini sudah
melewati batas toleransinya, tepat setelah menyelesaikan pemeriksaan sihir
Isabella mendadak berteriak histeris.
"Tindakanmu ini benar-benar
keterlaluan ya! Kamu pikir sudah berapa banyak sihir yang kupastikan sepanjang
satu jam ini! Jika kamu berasumsi aku akan menuruti segala perintahmu begitu
saja, kamu salah besar!"
"……Ada apa tiba-tiba?"
Ya, dia sebenarnya bisa memahami alasan
dari keluhan tersebut.
Jumlah sihir yang tertanam di dalam
permukaan tanah dengan mudah berada di atas angka ratusan.
Membungkukkan badan demi memastikan satu
per satu sihir tersebut memang menuntut usaha keras yang sangat besar.
Isabella membusungkan dadanya dengan sok
tahu sambil bersedekap dada.
"Berhubung kamu sepertinya salah
paham, aku akan menegaskannya kepadamu sekarang. Alasan kenapa aku mematuhimu
saat ini murni hanya karena kamu berjanji akan membuatku menjadi kuat, bukan
berarti aku mematuhimu dari lubuk hatiku yang terdalam, tahu!"
"……Begitu ya."
"Bukan berarti aku mematuhimu karena
kamu melayangkan sepasang mata dingin yang sampai membuatku merinding,
lho!"
"……Memangnya aku memasang tatapan
mata yang seperti itu?"
"Bukan berarti aku mematuhimu karena
berharap suatu saat nanti kamu akan menginjakku lagi seperti saat duel waktu
itu!"
"Jika kalimatmu begitu, artinya kamu
memang sudah berharap, kan."
"Mau bagaimana lagi!!! Mau tidur
atau terbangun sekalipun, aku hanya bisa mengingat kejadian pada waktu itu
saja! Sebenarnya apa yang terjadi dengan tubuhku ini! Tanggung jawab,
dong!!!"
Sambil memasang sepasang mata yang
berkaca-kaca, Isabella langsung mencengkeram tubuh Theo lalu
mengguncang-guncangnya ke arah depan dan belakang dengan kuat.
……Bagaimana ya, dia merasa dirinya
benar-benar telah melakukan urusan yang sangat brengsek kepada gadis ini.
Di saat yang sama, dia juga berpikir
bahwa segalanya mungkin sudah terlambat untuk ditolong.
Tepat pada saat itu.
"…………─?!"
Secara mendadak, sebuah suara benturan
yang teramat dahsyat bergema dari arah kejauhan.
Begitu mendengar suara itu, pikiran Theo
langsung beralih ke mode tempur.
Arah suaranya berasal dari gerbang
sekolah Lily Garden.
Tentu saja dia mengenali suara itu.
Sebab, itu adalah sihir peringatan yang
baru saja diperiksanya tadi.
Sihir peringatan mulai bergema
bersahut-sahutan di berbagai titik di perbatasan luar Lily Garden.
Namun, ini adalah peringatan yang
seharusnya baru bergema besok.
Fakta bahwa sihir itu berbunyi sekarang
berarti.
"……Terlalu cepat."
"? Sensei, ada apa?"
"Isabella,
cepat pergi ke gedung sekolah! Mereka────Merunduk!"
Merasakan niat membunuh yang kuat dari
arah belakang, Theo menekan kepala Isabella dan mengajaknya merunduk ke atas
tanah.
Sesaat kemudian, beberapa bayangan
melompati kepala mereka.
Saat Theo bangkit berdiri demi melindungi
Isabella, hal yang tertangkap oleh ruang penglihatannya adalah.
"……Monster, ya."
Tiga ekor monster sedang berdiri di
lereng gunung, mengarahkan tatapan tajam ke arah sini.
Wujud mereka berupa binatang berkaki
empat. Namun, teror tidak berhenti di situ.
Dari balik hutan, rentetan sepasang mata
mulai bermunculan seiring dengan menampakkan dirinya monster dalam jumlah
besar.
Apakah monster-monster ini dikerahkan
untuk membunuh Theo, atau sengaja dilepas agar para murid tidak bisa melarikan
diri dari Lily Garden, yang jelas jumlah ini sudah lebih dari cukup untuk
menahan pergerakan mereka.
Inilah alasan kenapa lini penjagaan yang
disiapkan Anemone tidak akan pernah memadai.
Biasanya, monster tidak akan pernah
muncul di sekitar Lily Garden.
Namun, meski telah mengalami Putaran
Pertama, Theo tetap tidak tahu metode apa yang digunakan oleh para petualang
itu hingga sanggup datang membawa monster di bawah perintah mereka.
"……Isabella, aku yang akan
menghadapi mereka. Manfaatkan celah itu untuk pergi ke gedung sekolah."
"Tapi,
jumlah mereka sebanyak ini──"
"Aku sendiri sudah cukup. Daripada
memikirkanku, pergilah menolong yang lain."
Theo menegaskan hal itu lalu menarik
pedang tongkatnya.
Sesuatu di luar rencana telah terjadi.
Meskipun masih berada di dalam batas
perkiraan, dia tidak akan sudi membiarkan rencananya diganggu lebih jauh lagi.
"Kalian, jangan harap bisa lolos
setelah mengganggu rencanaku."
Tepat setelah itu, Theo mulai mengobarkan
mana miliknya bersamaan dengan sebuah senyuman kejam.
Itu adalah tanda pertempuran dimulai.
◇
"Karina-san! Benda itu……!"
Ruang kelas Taman Ketujuh.
Tepat di saat melihat ke arah yang
ditunjuk oleh jemari Xue, Karina langsung meningkatkan kewaspadaan di seujung
tubuhnya.
Alasannya sederhana. Melalui jendela, dia
bisa melihat orang-orang bersenjata yang tidak dikenalnya serta monster
bermunculan satu per satu. Monster-monster itu menyerang pasukan penjaga, lalu
memanfaatkan celah tersebut bagi para orang bersenjata untuk menerobos masuk ke
dalam gedung sekolah.
Iris mengintip dari balik jendela dengan
suara yang gemetaran.
"I-ini, bukan merupakan bagian dari
latihan…… kan?"
"Tampaknya begitu. Ini sudah
kelewatan jika disebut latihan."
Dia tidak tahu siapa orang-orang
bersenjata itu.
Meski begitu, langkah kaki mereka
mengindikasikan bahwa mereka adalah para berandalan yang sudah terbiasa
bertarung.
Akibat kepergian Anemone bersama jajaran
staf pengajar untuk agenda penugasan jarak jauh, kelas Taman Ketujuh saat ini
juga sedang dalam masa belajar mandiri seperti kelas-kelas lainnya.
Namun, sebagian besar murid bahkan tidak
datang ke Lily Garden.
Sebab selama periode belajar mandiri
tanpa guru, kehadiran murid sepenuhnya diserahkan kepada kesadaran
masing-masing.
Meski begitu atas instruksi dari Theo,
seluruh murid Taman Ketujuh kecuali Isabella tetap berkumpul untuk belajar
mandiri di kelas.
Sebuah kondisi darurat yang jelas tidak
bisa mengandalkan bantuan orang dewasa.
Karina bergegas memutar otak sambil
bangkit berdiri, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling kelas.
"Iris-senpai, bersembunyilah bersama
Momo! Jika mereka adalah penculik, target utama mereka dipastikan adalah Momo!
Xue, ikut aku mencari Sensei!"
Momo adalah Putri Ketujuh dari Kerajaan
Sanctia.
Meskipun tujuan musuh belum dipastikan,
sosok paling penting di tempat ini tidak lain adalah Momo.
Namun, Momo justru menyahutnya dengan
nada suara yang malas.
"Aku senang sih karena dilindungi~
Tapi, bukankah ini sudah terlambat?"
"Terlambat?"
"Dengar, mereka sudah sampai,
lho?"
Tepat
pada saat Momo melontarkan kalimat itu──
Brak! Pintu ruang
kelas Taman Ketujuh hancur berantakan.
Rentetan berandalan bersenjata langsung
merangsek masuk ke dalam ruangan.
Di saat Karina berdiri menghadang demi
melindungi Xue dan Momo,
para berandalan itu menyeringai lebar.
" Jackpot! Ternyata Tuan Putri
benar-benar ada di sini……!"
"Hei! Di kelas ini ada ras iblis
juga!"
"Lalu, bukankah gadis dari keluarga
Lumiere juga seharusnya ada di sini? Lagi pula, penampilan murid yang lainnya
juga sepertinya laku dijual! Tempat ini benar-benar yang terbaik!"
Para berandalan bersenjata itu tertawa
terbahak-bahak.
Tingkat tatapan mata mereka yang seolah
sedang menilai barang dagangan memicu sensasi merinding di seujung tubuh
Karina.
Namun, entah bagaimana caranya informasi
mengenai mereka bisa sampai bocor. Ditambah lagi karena jumlah total musuh
tidak diketahui, dia tidak tahu apakah melakukan perlawanan di tempat ini
merupakan pilihan yang tepat atau tidak.
──Sebenarnya
apa yang harus kulakukan!
Karina menggigit bibirnya dengan kesal
akibat rasa tidak berdaya, tetapi mereka wajib menentukan keputusan sendiri.
Tetap diam melihat situasi tanpa
melakukan perlawanan, atau bertarung menggunakan tangan sendiri.
"Hei, kalian semua diam di
tempat."
Begitu melangkah masuk ke dalam kelas,
para berandalan bersenjata langsung menyuruh Karina dan yang lainnya duduk di
kursi masing-masing.
Mungkin agar mereka tidak bisa membalas
serangan. Jika berada dalam posisi duduk, gerakan awal mereka dipastikan akan
menjadi lebih lambat dibandingkan posisi berdiri.
Total ada empat orang berandalan
bersenjata.
Salah satu di antara mereka melangkah
dengan santai di atas podium kelas sambil menyunggingkan senyuman kotor.
"Jangan
coba-coba melawan. Jika kalian patuh, kami akan membiarkan kalian pulang dengan
selamat. Tapi, jika kalian berani bergerak selangkah saja dari sana──"
Berandalan itu mendadak mengarahkan ujung
belatungnya ke arah Karina.
Kemudian merapalkan nama sihirnya.
"《Pelepasan
Formula Sihir: Stinger》"
"-"
Tepat setelah seberkas cahaya berkilat di
hadapannya, sebuah kilatan melesat menyeka pipi Karina.
Sihir
Rank keenam:《Stinger》. Sebuah sihir tingkat menengah yang menembakkan
duri berkecepatan tinggi, sebuah sihir yang memadai untuk membunuh manusia.
Setelah tembakan Stinger menyeka pipi
Karina, sebuah hantaman suara yang menyerupai terciptanya lubang kecil bergema
di dinding belakang kelas. Darah segar tampak menetes dari pipinya, tetapi
Karina sama sekali tidak melontarkan jeritan sedikit pun.
Sebaliknya, suara helaan napas yang
tertahan terdengar dari dalam kelas.
Saat Karina menggerakkan pandangan
matanya, wajah Xue tampak memucat, sedangkan Iris mengedarkan pandangannya
dengan panik.
Momo sendiri tetap memperhatikan situasi
secara malas seperti biasanya.
Melihat Karina yang dinilainya telah ciut
membuat sang berandalan memperlebar senyumannya.
"Sekarang kalian paham, kan? Apa
akibatnya jika mencoba melawan kami."
"……Ya."
Karina mengangguk kecil.
Benda yang digenggam oleh berandalan itu
kemungkinan besar adalah peralatan sihir. Sebuah alat yang dibuat berdasarkan
teori sihir generasi keempat agar siapa pun bisa menggunakan sihir. Saat
mengamatinya kembali dengan seksama, ukiran formula sihir yang transparan
tampak terlihat di bilah belati tersebut.
"Hei, cepat hubungi yang lain
sebelum party lain menyadarinya! Target sudah didapatkan! Ini keuntungan mutlak
bagi kita!"
Atas instruksi dari salah satu
berandalan, salah satu anak buahnya bergegas melangkah keluar dari kelas Taman
Ketujuh dengan panik.
……Target? Tidak, sebelum itu, party?
Karina bergumam di dalam hati seraya
memutar otak.
Istilah party biasanya merujuk pada
kelompok petualang.
Mereka biasa menaklukkan dungeon dalam
kelompok kecil yang disebut party.
Jika begitu kenyataannya, maka para
berandalan ini adalah para petualang.
Ditambah lagi dengan kalimat
"sebelum menyadarinya". Meskipun dia tidak tahu berapa banyak party
petualang yang sedang menyerang Lily
Garden, tampaknya koordinasi di antara
mereka tidak berjalan dengan baik.
Jika situasinya demikian, peluang untuk
membalas serangan akan terbuka jika mereka berhasil meloloskan diri dari tempat
ini.
Para petualang tadi mengatakan bahwa
target mereka adalah kelompok
Karina. Meskipun dia tidak tahu secara
spesifik siapa murid yang dimaksud, mereka dipastikan akan mengejar jika
kelompok Karina melarikan diri. Tindakan itu akan menarik perhatian para
petualang, sekaligus membuka jalan untuk menyelamatkan murid lainnya.
Tetap diam tanpa perlawanan, atau
bertarung menggunakan tangan sendiri. Pilihan itu sudah ditentukan sejak awal.
Namun,
jika seorang diri──
Tiba-tiba.
"…………-"
Momo mendadak memberikan kode mata ke
arahnya.
Apakah gadis itu memiliki pemikiran yang
sama dengannya.
Tanpa rasa takut sedikit pun, Momo
mengangkat tangannya dengan malas.
"Hei, jika ingin menculikku, bisakah
hentikan ancaman ini? Tidak ada gunanya melakukan hal semacam ini."
"……Hah? Bicara apa kamu?"
"Maksudku, aku tidak akan melawan.
Murid tidak berguna sepertiku mana mungkin bisa menang. Lagi pula aku juga
benci rasa sakit. Jadi, ayo cepat bawa aku pergi?"
Nada suaranya terdengar ringan. Momo
memasang senyuman polos, tetapi sepasang matanya tidak memancarkan secercah
cahaya sedikit pun.
Benar-benar persis seperti seseorang yang
sudah sejak lama membuang harapan atas hidupnya sendiri.
Namun, hal itu justru membuat para
petualang kebingungan karena tidak tahu apakah kalimat tersebut bisa dipercaya
atau tidak.
Meski
begitu karena menilai ini sebagai kesempatan emas, salah satu dari mereka
melangkah ragu mendekati Momo──
Bagi Karina, celah selevel itu sudah
lebih dari cukup.
"────-!"
Karina menendang meja di hadapannya
hingga melesat hancur.
Para petualang tidak sempat merespons
terjangan meja yang mendadak tersebut. Di saat mereka sibuk menghalau serpihan
meja menggunakan lengan, Karina sudah mengepalkan tinjunya mendekati salah satu
petualang.
"Haaaaahhhhhhh!"
Bersamaan dengan teriakan yang dipenuhi
fokus konsentrasi, Karina melayangkan tinjunya hingga membuat tubuh sang
petualang tertekuk lalu tumbang ke tanah.
Dengan ini tersisa dua orang lagi. Karina
berbalik memasang kuda-kuda, tetapi gerakannya mendadak terhenti sesaat.
Sebab tanpa disadarinya, Momo telah
mengeluarkan sebilah pisau lalu menusukkannya tepat di leher petualang lainnya.
Apakah benda itu memang selalu dibawanya setiap saat. Darah segar tampak
menyembur dari mulut sang petualang sebelum tubuhnya ambruk menimpa Momo.
Sama seperti Karina yang memanfaatkan
perhatian petualang terhadap
Momo untuk menyerang, Momo pun
memanfaatkan celah di saat perhatian petualang teralih akibat serangan Karina.
"Yah, kalimat yang tadi itu hanya
berlaku 'jika kalian lebih kuat dariku', sih."
Sebuah pemandangan yang kejam.
Meskipun demikian, Momo tetap mengulas
senyuman polos yang manis sambil menyeka cipratan darah di wajahnya menggunakan
tangan.
Namun dengan ini, tersisa satu orang
lagi. Yang terakhir adalah petualang yang memegang peralatan sihir.
"He-hei, jangan bercanda kalian!
Kalian tahu sendiri kan bagaimana daya rusak sihir ini!"
Petualang itu kembali menyiapkan
belatinya, lalu mengarahkan ujung bilahnya ke arah Momo.
Karina secara refleks berniat melindungi
Momo, tetapi gerakan Momo jauh lebih cepat. Momo menggunakan tubuh petualang
yang baru saja
ditumbangkannya tadi sebagai tameng.
"──《Pelepasan
Formula Sihir: Stinger》!"
"GYAAAAAHHHHHHHHHHH!"
"Kejam sekali~ Tidak disangka kamu
malah menghabisi rekanmu sendiri. Aku sampai terkejut."
"-.
Bicara apa kamu! Bukankah kamu yang menjadikannya tameng──"
"Tolong diamlah."
Tepat setelah itu, Karina melayangkan
sebuah tendangan ke arah petualang terakhir.
Tubuhnya terlempar keluar dari dalam
kelas, menghancurkan pintu ruangan, lalu menghantam dinding koridor gedung
sekolah dengan keras.
Napasnya terengah-engah kritis. Namun
karena tampaknya belum kehilangan kesadaran secara total, petualang itu terus
bergumam lirih di tengah kondisinya yang linglung.
"Bagaimana…… bisa. Orang-orang
seperti ini…… tidak ada di dalam informasi. Bukankah seharusnya…… ancaman sihir
saja sudah cukup."
Itu adalah kalimat terakhirnya sebelum
kehilangan kesadaran secara total.
Karina bergumam pelan.
"……Jika ini terjadi pada awal musim
semi lalu, mungkin dugaannya memang tepat."
Namun sepanjang beberapa minggu ini,
kelompok Karina terus dipaksa melakukan pertempuran sihir melawan Theo.
Dilukai oleh orang lain, dan melukai
orang lain, merupakan urusan yang sedikit demi sedikit telah mulai biasa mereka
lakukan.
Berkat hasil latihan tersebut, Karina
sanggup bersikap jauh lebih tenang dari perkiraannya sendiri.
"……Xue, maukah kamu mengobati orang
yang ditusuk oleh Momo tadi? Setidaknya sampai di tingkat dia tidak bisa
bergerak saja."
"Ya. Aku akan langsung
menyembuhkannya."
Begitu selesai mengangguk, Xue langsung
merapalkan sihir pemulihnya kepada korban.
Dengan ini tidak akan ada satu pun orang
yang tewas.
"Karina-chan terlalu lembek ya~
Padahal menurutku tidak apa-apa jika dia mati. Tatapan matanya menjijikkan,
sih."
"……Aku akan menggunakan kekuatan
demi melindungi seseorang, tetapi tidak sampai membunuhnya. Karena aku
mempelajari sihir murni demi menyelamatkan orang lain."
Itulah prinsip hidup milik Karina.
Sihir seharusnya merupakan sebuah ilmu
untuk menyelamatkan orang lain. Mutlak bukan merupakan sebuah senjata untuk
membunuh sesama manusia.
Karena itulah, dia terus memendam rasa
janggal terhadap ajaran dari Theo.
Tiba-tiba.
"Semuanya! Apakah kalian baik-baik
saja?!"
Sosok
yang berlari dari seberang koridor tidak lain adalah guru perempuan yang
berpenampilan menyerupai biarawati jubah putih──Ophelia.
Tangannya menggenggam sebilah tongkat
khotbah. Tampaknya benda itu digunakan sebagai senjata minimal untuk melindungi
diri.
Sambil memasang sepasang mata yang
berputar panik, Ophelia berbicara dengan terengah-engah.
"Se-secara mendadak, setelah
monster-monster datang menyerang, para petualang menyeramkan juga ikut muncul.
Saya langsung bergegas melarikan diri ke sini, tapi sebenarnya apa yang sedang
terjadi?!"
"Mohon tenanglah, Sensei……
ngomong-ngomong bagaimana dengan monster dan petualang yang berada di
belakangmu?"
"Ah, itu saya yang menumbangkannya.
Walau saat melakukannya saya sedang panik total."
Di sepanjang koridor yang dilalui oleh
Ophelia tadi, beberapa monster dan petualang tampak terkapar tidak sadarkan
diri.
Meskipun terlihat panik, dia tetaplah
seorang guru. Kemampuan bertarungnya terhitung memadai.
Ophelia membelalakkan matanya, lalu
mengangguk kuat-kuat.
"Ta-tapi, benar juga ya. Karena
satu-satunya orang dewasa di sini hanyalah saya, maka saya harus bisa bersikap
tangguh……"
"Apakah Gardener-sensei tahu berapa
jumlah petualang dan monster yang ada di sini?"
"Ini hanya sebatas perkiraan
berdasarkan jumlah yang saya lihat sepanjang melarikan diri ke sini, sih……
total petualang ada sekitar dua puluh orang. Sedangkan monster berkisar seratus
ekor."
"Monster sampai seratus
ekor……?"
Karina mengernyitkan alisnya seraya
mengulangi kalimat tersebut.
Sebab sepanjang penglihatannya dari
jendela kelas, dia merasa jumlah pasukan musuh tidak akan sebanyak itu.
Melihat ekspresi wajah Karina membuat
Ophelia bergegas menambahkan penjelasannya.
"Ah, tapi sejak tadi entah kenapa
monster-monster itu bergerak menuju ke arah gunung belakang, sehingga saat ini
jumlah mereka di dalam gedung sekolah sepertinya hampir tidak ada."
Itu adalah kabar baik. Meskipun alasan
kenapa monster bergerak menuju ke gunung belakang masih menjadi misteri,
kecemasan mereka dipastikan akan berkurang jika lawan yang tersisa hanya
sebatas para petualang saja.
Dan hal yang harus dilakukan oleh Karina
setelah ini juga sudah ditentukan.
"……Maafkan aku. Aku mungkin akan
membawa kalian ke dalam situasi yang berbahaya, tapi maukah kalian ikut
denganku? Ini semua demi melindungi kelas-kelas lainnya."
"Momo tidak keberatan sih~ tapi apa
yang mau kamu lakukan?"
"Aku juga tidak apa-apa!"
"Anu, aku memang takut... tapi kalau
demi melindungi semua orang, mau bagaimana lagi! Aku akan menunjukkan kemampuan
asliku!"
Iris membusungkan dada, mencoba berlagak
tegap.
Saat pandangan beralih ke Ophelia, sang
guru tampak mengangguk kuat-kuat.
"……Terima kasih banyak."
Meski tanpa penjelasan apa pun, mereka
semua bersedia menerimanya.
Setelah mengutarakan rasa terima kasih,
Karina mulai menjelaskan rencananya secara singkat.
Melarikan diri berlima. Pilihan itu pasti
menjadi jalan yang paling mudah.
Namun, Karina tidak akan sudi memilih
jalan itu demi prinsip yang dipegangnya.
◇
"Kepada para penyusup! Aku Karina
Rudbeckia dari Taman Ketujuh!"
"Kami sudah tahu apa tujuan kalian!
Seluruh murid Taman Ketujuh sekarang ada di gedung sekolah terpisah! Kami tidak
akan lari atau bersembunyi! Jika ingin memenuhi tujuan kalian, datanglah ke
sini!"
Gedung utama Lily Garden.
Suara gadis yang diperkeras dengan sihir
bergema di seisi gedung.
Mendengar suara itu membuat para
petualang tidak bisa lagi bersikap tenang. Mereka bergegas saling mendahului
menuju ke gedung sekolah terpisah. Jika sampai didahului oleh party lain,
imbalan luar biasa dari pria misterius itu akan hangus menjadi nol.
"Bagaimana dengan kita?"
"Kalian pergilah juga. Aku mau
bersenang-senang sebentar di sini."
Setelah memberikan instruksi kepada anak
buah partynya, Vold melangkah santai di koridor gedung utama.
Seorang berandalan murahan dengan bekas
luka besar di pipi. Dia adalah pemimpin dari party tersebut.
Vold mengayunkan pedangnya, membunuh para
pasukan penjaga satu per satu seraya menjelajahi sekolah.
Berkat monster yang mengacaukan isi
sekolah hingga sesaat lalu, sebagian besar pasukan penjaga sudah terluka.
Membunuh mereka terasa sangat mudah.
Entah bagaimana mekanismenya, tetapi
monster-monster itu sama sekali tidak menyerang kelompok Vold.
Kata pria misterius itu, "Di tempat
kami ada orang yang bisa menjinakkan monster bawahannya." Jika itu bukan
kebohongan, maka kekuatan itu benar-benar luar biasa.
Sebab,
kemampuan mengendalikan monster adalah kekuatan milik 《Raja
Iblis dari Ras Demon Beast》 itu sendiri.
……Mana mungkin.
Vold tertawa dalam hati, lalu membuang
jauh-jauh pikiran itu.
Kekuatan Raja Iblis dari ras demon beast
itu terlalu mustahil.
Hal seperti itu hanya ada di dalam
dongeng, tidak mungkin benar-benar nyata.
"Hahaha! Tempat ini benar-benar
surga! Aku bebas berburu sesukanya!"
Vold mengancam para murid di setiap kelas
yang ditemuinya demi merampas barang berharga mereka.
Lily Garden adalah sekolah tempat
berkumpulnya putra-putri kaum bangsawan. Meski tidak mendapat imbalan dari pria
berkacamata tunggal itu, merampas barang berharga milik mereka sudah menjadi
hasil yang lumayan.
Namun, jumlah murid di sini terbilang
jarang. Tampaknya ada banyak murid yang meliburkan diri hari ini.
"H-hentikan! Valeria Rosenfeld tidak
akan membiarkan kebiadaban ini lebih jauh lagi!"
Tepat pada saat itu.
Sebuah suara yang menghentikan langkah
Vold bergema di koridor sekolah.
Saat memalingkan kepala, seorang gadis
berambut pirang dengan wajah
cerdas tampak berdiri sambil mengarahkan
tongkatnya ke arah Vold.
Namun, bibirnya memucat dan kedua
lututnya gemetaran.
Keluarga Rosenfeld adalah silsilah
bangsawan ternama yang melahirkan banyak penyihir hebat.
Gadis ini pun kemungkinan besar juga sama
hebatnya. Gadis pirang itu mengobarkan mana dengan cepat untuk merapalkan
sihir.
Kecepatannya terbilang tinggi dan lancar,
sesuatu yang jarang terlihat di kalangan petualang.
Namun, dia terlalu kekurangan pengalaman
bertempur.
"Bodoh sekali! Menggunakan sihir di
jarak sependek ini sama saja dengan bunuh diri!"
"──KYAAAAAHHHHHHHHHHH!"
Vold melayangkan satu tebasan pedang.
Lebih cepat daripada sihir sang gadis pirang, darah segar langsung menyembur
dari lengannya.
Itu hanya sebatas luka sayatan ringan di
sebelah lengan. Meski begitu, sang gadis pirang langsung memegangi lengannya
sambil menangis histeris dan berguling-guling kesakitan di atas lantai koridor.
Dia terlalu tidak terbiasa dengan pertempuran sesungguhnya hingga tidak
memiliki ketahanan terhadap rasa sakit.
Merasa kesal, Vold menjambak rambut
pirangnya lalu mengangkat paksa wajah sang gadis.
Gadis itu meneriakkan sesuatu, tetapi
semuanya hanya memicu rasa tidak nyaman.
"Diam! Aku sudah menahan diri, lho.
Atau kamu mau menjadi lawan bagi para monster?"
"Tidak…… tidak……!"
"Hahaha! Ekspresi wajahmu bagus
juga! Harus begitu, dong!"
Wajah sang gadis pirang sudah berantakan
oleh air mata.
Dia menggelengkan kepala dan menggerakkan
kaki serta tangannya secara panik, tetapi sama sekali tidak ada tenaga yang
keluar. Setiap kali dia berontak, seragamnya menjadi berantakan, mengekspos
bagian dada dan pahanya.
Kulit yang segar tanpa luka sedikit pun,
khas milik putri kaum bangsawan.
Pemandangan itu memicu nafsu bejat Vold
hingga dia menjilat bibirnya sendiri.
"Heh! Aku kira masih bocah, ternyata
kamu punya aset yang bagus juga!"
"Jangan…… jangan……!"
Tampaknya memahami maksud perkataan Vold
membuat sang gadis
merontak semakin hebat.
Namun, mana mungkin dia bisa menang
melawan tenaga Vold. Saat lehernya dicekik, sang gadis langsung membelalakkan
mata dan terengah-engah kritis mencari udara. Begitu lengan dan kaki sang gadis
kehilangan tenaga lalu terkulai lemas, Vold melemparkannya begitu saja ke atas
lantai.
"Heh,
dari tadi harusnya begitu! Tenang saja, aku hanya mau bermain sebentar. Jika
kamu diam, ini akan cepat selesai────ah?"
Di sana.
Merasakan sebuah hawa keberadaan di arah
belakang membuat Vold berbalik.
Sosok yang berdiri di seberang koridor
adalah seorang gadis berambut merah menyala.
Dan di Lily Garden ini, rambut merah
merujuk pada putri dari salah satu kaum bangsawan.
Sebab pria misterius itu sudah memberikan
informasi awal mengenai hal tersebut.
"Heh, mangsa datang bertubi-tubi!
Rambut merah itu, keluarga Lumiere ya!"
Keluarga Lumiere dari Empat Bangsawan
Besar. Jika berhasil menculik putrinya lalu meminta uang tebusan, uang dalam
jumlah luar biasa dipastikan akan jatuh ke tangan. Jumlah yang memadai untuk
digunakan bermain seumur hidup tanpa masalah.
Ditambah lagi, meski lawannya berasal
dari keluarga Lumiere yang memiliki bakat sihir mendominasi, dia tetaplah
seorang murid tanpa pengalaman bertempur sesungguhnya.
Tidak mungkin bisa menjadi lawan bagi
dirinya yang selalu menghabiskan hari di dalam pertempuran.
"Hahaha! Aku akan menjadikanmu lawan
pertamaku, Lumiere!"
"……Bisakah jangan memanggil namaku
dengan santai? Itu membuatku tidak nyaman."
"Heh, kita lihat saja sampai kapan
sikap angkuhmu itu bisa bertahan!"
Tepat setelah berteriak, Vold langsung
menerjang ke arah sang gadis berambut merah.
Gadis berambut merah menarik pedang
tongkatnya untuk balas menyerang, tetapi menahan teknik pedang milik Vold
tampaknya sudah menjadi batas maksimal baginya. Dia hampir tidak melancarkan
serangan sama sekali, dan satu-satunya pukulan yang dilayangkannya pun dapat
dipatahkan dengan mudah.
"Hahaha! Ringan sekali! Sebenarnya
apa yang diajarkan oleh guru di sekolah ini?! Mereka pasti hanya mengajarkan
sihir tidak berguna, kan? Kamu terlalu lemah untuk menjadi lawanku!"
Sambil berteriak, Vold memulai serangan
bertubi-tubi.
Dia
menebaskan pedangnya dengan kecepatan tinggi. Gadis berambut merah itu bersusah
payah mengimbanginya, tetapi sudah jelas dia akan segera memperlihatkan celah
akibat tidak terbiasa dengan pertempuran sesungguhnya. Vold mengayunkan
pedangnya berulang kali murni mengandalkan tenaga──
"──Barusan,
kamu menghina Sensei, ya."
"……Ah?"
"Sebenarnya tidak masalah, sih. Aku
sendiri juga memiliki hal yang tidak kusukai darinya…… tapi, aku sedikit
berubah pikiran."
Secara mendadak, gadis berambut merah
meluncurkan satu tusukan yang teramat kuat.
Vold bergegas menahannya menggunakan
bilah pedang, tetapi tenaga yang luar biasa dahsyat membuat seujung tubuhnya
mati rasa hingga terhuyung mundur. Sebuah tenaga kuat yang tidak masuk akal
dari lengan sekurus itu. Alasan dari hal itu hanya ada satu. Sihir Physical
Enhance.
Gadis berambut merah mulai bergumam
layaknya sedang berbicara pada diri sendiri.
"Karena belum pernah bertarung
dengan orang selain Sensei, aku sengaja menerima seranganmu demi mengukur
kemampuan kalian…… tapi jujur, kalian sama sekali tidak ada apa-apanya."
"Apa?!"
"Kamu tidak dengar? Aku bilang kamu
tidak ada apa-apanya."
"Kalau begitu, katakan hal itu
setelah berhasil mendaratkan satu pukulan padaku! Penyihir sepertimu sudah
sering kubunuh! Jangan berlagak tangguh hanya karena berhasil menahan
seranganku sedikit!"
Vold meraung lalu melayangkan satu
tebasan pedang.
Namun pada detik berikutnya, Vold
langsung terperangah melihat pemandangan di hadapannya.
Sebab wujud sang gadis berambut merah
perlahan-lahan menghilang.
Begitu wujudnya sirna secara total, Vold
kehilangan jejak sang gadis sepenuhnya.
Namun, teror tidak berhenti di situ.
Tepat setelah itu, rasa sakit yang hebat
menjalar di lengan Vold seiring dengan darah segar yang menyembur.
Tepat di saat menyadari bahwa sang gadis
berambut merah sedang mengayunkan pedang dalam kondisi tidak terlihat, Vold
langsung menjerit histeris akibat rasa takut yang teramat sangat.
Di tengah kondisi Vold yang demikian,
sebuah suara dingin menyentuh gendang telinganya.
"Sebenarnya sihir ini baru akan
kutunjukkan pertama kali kepada Sensei nanti, tapi khusus untukmu, aku akan
memperlihatkannya sekarang."
"B-benda apa kamu sebenarnya! Kenapa
orang sepertimu bisa ada di sini!"
Informasinya salah.
Berdasarkan informasi awal, para murid
Lily Garden seharusnya adalah jajaran putri manja yang belum pernah melihat
darah sekalipun.
Meskipun ketentuannya demikian, sosok di
hadapannya saat ini mutlak tidak ada bedanya jika dibandingkan dengan petualang
yang menghabiskan hari di dalam pertempuran.
Vold panik lalu mengayunkan pedangnya
secara membabi buta, tetapi serangannya sama sekali tidak ada yang bersarang.
Sebagai gantinya, rentetan tebasan pedang
yang tidak terlihat datang menerjang secara bertubi-tubi. Karena tidak sanggup
menghindari seluruh serangan tersebut, tubuh Vold dipenuhi oleh luka. Tidak
sampai puluhan detik berlalu, pertempuran selesai dengan mudah.
Dalam posisi terduduki oleh sang gadis
berambut merah, ujung bilah pedang tongkat tampak menempel tepat di leher Vold.
Sebuah situasi di mana jika pedang
tongkat ditekan sedikit saja, dia akan langsung tewas.
Sambil gemetaran cemas, Vold memasang
senyuman kaku.
"……A-aku yang salah, Gadis. Aku
berjanji tidak akan berbuat jahat lagi, jadi ampuni aku."
"…………"
"……Kamu mau membunuhku? Ka-kamu
tidak akan melakukannya, kan? Aku tahu kok, para putri bangsawan itu semuanya
berhati lembut."
"…………"
"……Ma-mau membunuhku? Kamu, apa kamu
tahu apa arti dari membunuh seseorang!"
Vold berteriak seolah sedang linglung.
Akibat rasa takut, dia tidak sanggup
melihat wajah sang gadis berambut merah.
Sepasang mata milik gadis itu terlanjur
dingin. Benar-benar persis seperti sedang melihat seekor serangga tidak
berharga.
Ujung bilah pedang tongkat mulai merobek
kulit lehernya. Darah merembes keluar, memicu rasa sakit di leher. Dia berusaha
merontak sekuat tenaga, tetapi tenaganya tidak sanggup menandingi kekuatan sang
gadis yang telah memasang sihir Physical Enhance di seujung tubuhnya.
Dan kesadaran Vold hanya bertahan sampai
di tingkat itu saja.
◇
"……Dia sudah pingsan sebelum sempat
kubunuh, ya."
Isabella menjauhkan ujung bilah pedang
tongkat dari leher sang pria, lalu bangkit berdiri secara tenang.
Pria yang menjadi lawannya bertarung
hingga sesaat lalu tampak
pingsan dengan mulut berbusa.
Apakah karena berhadapan langsung dengan
kematian, dia tidak sanggup mempertahankan kesadarannya.
"……Lagipula, ternyata aku tidak
merasakan apa-apa, ya."
Jika dia menekan pedang tongkatnya
sedikit saja lagi, petualang ini dipastikan akan langsung tewas.
Meski memahami fakta tersebut, hati
Isabella tidak mengalami gejolak yang berarti. Lengan dan kakinya tidak
gemetaran dan bisa digerakkan dengan normal.
Ini semua pasti berkat hasil dari
pelajaran kelas milik Theo.
Isabella perlahan-lahan sedang mendekati
sosok penyihir yang sanggup membunuh manusia.
Namun, meski memahami hal itu, dia tidak
berniat untuk menentang Theo.
Mempercayai Theo. Sebab hal itulah jalan
hidup yang telah dipilih oleh Isabella.
"Kamu tidak apa-apa?"
"…………Hi-hiii!"
Saat
dia mengajak berbicara gadis pirang yang duduk lemas di atas lantai
koridor──Valeria Rosenfeld, gadis itu hanya bisa meluapkan suara yang gemetaran
bersamaan dengan wajah yang memucat.
Dia adalah murid dari Garden Pertama,
pihak yang sempat berselisih dengannya mengenai urusan Xue pada masa lalu.
Seragamnya berantakan dan sebelah
lengannya terluka. Namun itu bukan luka fatal.
Kalau begitu tidak ada masalah. Di saat
Isabella menarik kesimpulan demikian di dalam hati, Valeria mengangkat jarinya
yang gemetaran lalu menunjuk ke arah pria yang pingsan dengan mulut berbusa.
"Ka-kamu, me-membunuhnya?"
"……Hah? Orang ini? Tentu saja
tidak."
"Ka-kamu berniat membunuhku
berikutnya?!"
"…………Hah?"
Isabella mengernyitkan alis karena
pasrah.
Kalimat mereka sama sekali tidak
nyambung. Apakah gadis ini sedang linglung.
Atau
jika diartikan secara positif──Valeria mungkin bertanya apakah Isabella akan
membunuhnya sebagai bentuk balas dendam atas perselisihan mereka pada masa
lalu.
Jika begitu kenyataannya,
"……Bisa saja hal itu terjadi,
lho."
"Hi-hiii!"
"Coba saja cari masalah dengan kami
lagi nanti. Aku pastikan kamu akan menerima nasib yang sama seperti orang
ini."
Ancaman yang dilontarkan oleh Isabella
membuat Valeria mengangguk
kuat-kuat secara tidak wajar.
Dengan ini dia dipastikan tidak akan
berani mencari masalah yang tidak
mendasar lagi nanti.
Lagi pula, saat ini dia sudah tidak
memedulikan tindakan usil dari Valeria lagi.
Apakah karena dia sudah memiliki
keyakinan bahwa dirinya 'bisa membunuh' Valeria jika mau.
Sebuah ketenangan yang aneh menguasai
seujung tubuhnya, membuat tindakan usil Valeria pada masa lalu terkesan sebagai
urusan yang sepele saja.
"……Aduh,
ini bukan waktunya melakukan hal seperti ini. Aku harus segera menyusul yang
lain──"
"Isabella, apa yang sedang kamu
lakukan di sini!"
Tepat di saat dia berniat menuju ke ruang
kelas Taman Ketujuh, sebuah suara mendadak menyapanya dari seberang koridor.
Sosok yang berlari mendekat dari seberang
koridor adalah Karina, Momo, dan Iris.
"Ada apa dengan kalian? Lagi pula
bukankah seharusnya kalian ada di gedung sekolah terpisah?"
"Itu hanya kebohongan. Selagi
memusatkan perhatian mereka ke gedung sekolah terpisah, aku berniat
menumbangkan para petualang satu per satu. Saat ini prosesnya sedang berjalan,
tapi……"
"Hahaha, aku juga sedang beraksi
dengan sangat hebat, lho!"
"Karena Momo sudah berjuang keras di
awal tadi, sekarang Momo hanya sebatas menonton saja~"
Iris membusungkan dada dengan wajah
bangga, sedangkan Momo menjatuhkan pundaknya secara lemas karena lelah.
Sambil mengamati area sekeliling koridor,
Karina berucap.
"Untuk saat ini hampir tidak ada
korban dari kalangan murid. Meski hari ini adalah jadwal belajar mandiri,
tampaknya ada banyak murid yang meliburkan diri. Ini adalah sebuah
keberuntungan di tengah kemalangan."
Akibat agenda penugasan jarak jauh milik
Anemone, para murid meliburkan diri selama tiga hari periode belajar mandiri.
Murid yang rajin tampaknya justru menjadi
pihak yang dirugikan.
"Lalu, Isabella. Sebenarnya di mana
keberadaan Sensei?"
"Sensei sedang menghadapi monster di
gunung belakang."
"……Begitu ya. Jadi itu alasan kenapa
monster-monster menghilang menuju ke arah gunung belakang. Kalau begitu kita
tidak bisa mengharapkan bantuan darinya."
Apakah monster-monster itu bergerak aktif
murni demi membunuh Theo.
Setidaknya karena monster tidak kunjung
kembali ke sini, Theo dipastikan masih tetap hidup.
"Aku akan membantu kalian. Kita
hanya perlu menumbangkan sisa orang-orang ini, kan?"
"Ya, mohon bantuannya."
Isabella ikut berlari menyelaraskan
gerakan Karina yang mulai melesat di sepanjang koridor.
Hanya saja, hal yang mengusik
perhatiannya adalah tujuan dari musuh.
Sejak deklarasi Karina tadi, para
berandalan terus mengincar Taman
Ketujuh. Artinya target utama mereka
dipastikan berada di dalam
Taman Ketujuh, tetapi dia tidak tahu
siapa murid yang sedang diincar.
Jika
berpikir secara normal, targetnya pasti adalah Putri Ketujuh, Momo──
Tiba-tiba di sana.
Isabella menanyakan suatu hal yang
mengusik pikirannya.
"……Ngomong-ngomong, Xue di
mana?"
Hanya wujud Xue yang tidak kelihatan.
Mendengar pertanyaan Isabella, Karina
memasang ekspresi serius.
"Maaf, aku terpisah dengan Xue saat
menumbangkan para petualang satu per satu. Sekarang dia seharusnya bergerak
bersama Gardener-sensei. Jadi, mari kita bergabung dengan Xue terlebih
dahulu."
◇
"Amaryllis-san, lewat sini!"
Hutan di sekitar wilayah Lily Garden.
Mengikuti arahan Ophelia, Xue berlari
menembus hutan.
Dari arah belakang, monster terus
mengejar.
Padahal sebagian besar monster seharusnya
menghilang ke arah gunung, tetapi entah kenapa mereka justru muncul di belakang
Xue.
Akibatnya, mereka terdorong menjauh dari
gedung sekolah dan terpaksa melarikan diri ke dalam hutan.
"《Pelepasan
Formula Sihir: Slash》!"
Sihir yang dilepaskan Ophelia memicu
kemunculan tebasan secara mendadak, membelah monster itu menjadi dua. Monster
yang mengejar kini telah lenyap.
Di titik itu, stamina fisik Ophelia
tampaknya telah mencapai batas. Dia duduk lemas sambil terengah-engah.
"Sensei, tidak apa-apa?"
"……Ya, tidak apa-apa. Tapi aku
sedikit lelah. Boleh aku istirahat di sini?"
"Ya. Mari istirahat."
Xue menarik tangan Ophelia, membawa sang
guru bersembunyi di bawah bayang-bayang pepohonan yang ditunjuknya.
Dia ingin menggunakan sihir pemulih,
tetapi Ophelia tidak sedang terluka.
Penyebabnya murni karena kekurangan mana.
Napas sang guru terlihat memburu kesakitan.
Ophelia menyipitkan mata menatap langit
dari balik sela-sela ranting pohon yang ditembus cahaya mentari.
"……Sudah lama aku tidak berlari
sejauh ini. Padahal dulu aku sering melakukannya."
"Benarkah?"
"Ya. Setelah wilayah keluarga
Gardener lenyap dan aku menumpang di rumah kerabat…… aku tidak tahan lalu
berkelana ke berbagai tempat.
Saat itu, aku hanya bisa berlari.
Terkadang, aku juga menghabiskan waktu bersama para ras iblis."
"……Bersama ras iblis?"
Ini pertama kalinya Xue mendengar hal
itu.
Tentu saja dia tidak begitu mengetahui
masa lalu Ophelia. Namun bagi seorang ras manusia, memiliki pengalaman tinggal
bersama ras iblis merupakan sebuah rekam jejak yang langka.
"Ya, apa kamu tidak ingat? Aku juga
pernah bersamamu dulu, lho, Amaryllis-san."
"……Eh?"
"Seharusnya aku mengatakannya lebih
awal. Tapi rasanya memalukan jika hanya aku yang ingat. Karena sekarang kita
sudah berada di luar
Garden dan hanya berdua saja, akhirnya
aku bisa mengatakannya."
Di saat Xue meluapkan suara yang
terperangah, Ophelia mengulas senyuman polos yang malu-malu.
Namun sepanjang hidup Xue, jumlah wanita
ras manusia yang pernah menghabiskan waktu bersamanya tidaklah banyak, dan dia
mengingat semuanya. Sosok Ophelia dipastikan tidak ada di dalam ingatan
tersebut.
Deg, jantungnya
seketika berdegup kencang. Entah mengapa, sebuah firasat buruk yang teramat
sangat melanda dirinya.
Insting
Xue──bahkan para spirit yang mengitari hutan pun mulai membunyikan lonceng
peringatan.
Para spirit dalam jumlah tak terhitung
yang biasanya selalu meminjamkan kekuatan lebih cepat sebelum Xue sempat
merangkai kata.
Ophelia menyunggingkan senyuman yang
janggal.
"Kamu masih belum paham?"
"Ma-maaf.
Aku sama sekali tidak ingat──"
"Mungkin karena wajahku sedikit
berubah dari yang dulu ya. Bagaimana kalau begini?"
Ophelia menyentuh wajahnya sendiri.
Tepat di bagian yang disentuh oleh tangan
Ophelia, kulit wajahnya perlahan runtuh berjatuhan. Tampaknya dia mengenakan
sihir penyamaran. Kulit baru yang muncul di baliknya berwarna kelabu layaknya
bekas luka radang dingin yang parah. Sekitar dua puluh persen dari wajahnya
tampak dipenuhi noda belang tersebut.
Dan,
"──Sekarang
kamu sudah ingat? Ini luka yang kamu berikan padaku, lho."
Wajah maupun nada suara Ophelia telah
berubah total.
Pakaiannya memang masih berupa baju
biarawati jubah putih. Namun, kulitnya retak-retak dan sepasang matanya
mengingatkan pada sosok ular.
Sensasi merinding seketika menjalar di
seujung tubuh Xue.
Di saat yang sama, masa lalu yang
mengerikan kembali berputar di dalam kepala. Nada suara itu mutlak tidak akan
pernah dilupakannya.
"Ka-kamu adalah……!"
"Ahahaha, akhirnya kamu mengingatku?
Sudah lama tidak berjumpa ya, Xue-chan. Karena kamu sama sekali tidak
menyadarinya, aku hampir saja merajuk, lho."
Ophelia tersenyum simpul.
"Semuanya, semuanya sengaja kuatur
demi bisa menculikmu. Mengubah tubuhku sendiri agar bisa mendapatkan kekuatan
mengendalikan monster, semuanya kulakukan demi dirimu. Aku sangat senang karena
akhirnya bisa mengaku padamu."
Seiring dengan untaian kalimat yang
dilontarkan Ophelia bersamaan dengan ekspresi wajah yang mabuk kepayang,
monster-monster mulai bermunculan dari berbagai sudut hutan.
Alasan kenapa Xue dan Ophelia dikejar
monster hingga terpaksa melarikan diri dari gedung sekolah menuju ke hutan,
seluruhnya berada di dalam genggaman tangan wanita itu. Dialah pihak yang
menggunakan monster demi menggiring Xue sampai ke tempat ini.
"Ah, sepertinya aku harus
memperkenalkan diri terlebih dahulu. Karena dulu aku belum sempat
memberitahukan namaku dengan becus kepadamu."
"──Namaku
Ophelia, Kursi Kelima dari Gereja Ortodoks, sang 【Matai】.
Mari kita kembalikan kehidupan masa lalu yang teramat menyenangkan itu. Aku
berjanji akan menyayangimu lagi layaknya seorang adik perempuan sendiri, lho?”



Post a Comment